Anda di halaman 1dari 11

A.

Endapan Primer
Endapan primer adalah endapan yang pembentukannya berasosiasi langsung dengan
pembentukan magam. Pembentukan bijih primer secara garis besar dapat diklasifikasikan
menjadi lima jenis endapan, yaitu : Fase Magmatik Cair, Fase Pegmatitik, Fase
Pneumatolitik, Fase Hidrothermal, Fase Vulkanik. Dari kelima jenis fase endapan di atas akan
menghasilkan sifat-sifat endapan yang berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan:
(1) Kristalisasi magmanya
(2) arak endapan mineral dengan asal magma
(a) intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
(b) peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
(c) crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
(d) apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
(e) tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku
(3) Bagaimana cara pengendapan terjadi
(a) terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
(b) terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
(c) metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada dengan larutan
pembawa bijih
(4) Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan
(5) Waktu terbentuknya endapan
(a) syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan
(b) epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan
1. FASE MAGMATIK CAIR (LIQUID MAGMATIC PHASE)
Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral
terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational
settling (Gambar 1). Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah kromit,
titamagnetit, dan petlandit

Gambar 1.
Skematik proses differensiasi magma pada fase magmatik cair (After
Buchanan,1981)
Keterangan untuk Gambar 1 :
1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H 2O),
karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada saat
magma naik kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti
buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsurunsur yang lebih volatile seperti sodium dan potasium.
2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material
dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat.
Proses diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang
lain. Walaupun demikian, proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma
diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana
magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari
dinding reservoar.

3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung


untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsurunsur sodium dan potasium.
4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium
dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah
reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal
badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan
mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan
diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang lebih ringan.
5. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari
dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan
magma atau secara sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi
magma. Jika batuan dinding kaya akan sodium, potasium dan silikon, magma akan
berubah menjadu komposisi granitik. Jika batuan dinding kaya akan kalsium,
magnesium dan besi, magma akan berubah menjadi berkomposisi gabroik.
6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi
magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoirl Jika bagian
sebelah dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana
mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang
lebih ringan.

Gambar 2.
Sketsa zona mineralisasi pada komplek pegmatit di San
Gabriel Mountains, California (After Buchanan,1981)
Fase magmatik cair ini dapat dibagi atas :
a) Magmatik Awal (Early Magmatic).
Deposit magmatik awal dihasilkan dari pembekuan magma langsung yang disebut
orthotectic dan orthomagmatic. Deposit ini terbentuk oleh (1) kristalisasi langsung tanpa
konsentrasi, (2) segregasi kristal yang terbentuk lebih dahulu, dan (3) injeksi material padat
ke tempat lain oleh difrensiasi. Mineral bijih mengkristal lebih dulu dibanding batuan silikat
dan sebagian kemudian terpisah karena difrensiasi kristalisasi.

(1) Diseminasi (Dissemination)


Proses kristalisasi magma untuk pertama kali, terjadi relatif pada kedalaman besar,
menghasilkan batuan beku granular. Kristal mineral (termasuk mineral bijih dalam bentuk
fenokris) yang terbentuk dalam proses ini tidak terkonsentrasi, tapi tersebar merata
(disseminated) di dalam tubuh batuan beku intrusive, bisa berbentuk dike, pipa atau massa

berbentuk stok. Ukuran depositnya sangat besar dibandingkan jenis deposit lainnya. Contoh
deposit adalah pipa intan Afrika Selatan yang tersebar merata dalam batuan kimberlite dan
korundum yang tersebar dalam nephelin syenite di Ontario.
(2) Segregasi (Segregation)
Segregasi magmatik awal adalah konsentrasi pertama yang menghasilkan unsur-unsur
berharga dari magma, terbentuk karena difrensiasi kristalisasi akibat gaya gravitasi. Karena
kristalisasi tersebut, sebagian material menjadi lebih berat dari larutan sehingga material
tersebut terendapkan dan terakumulasi pada bagian bawah dapur magma. Bentuk deposit
mineral jenis ini biasanya lenticular dan berukuran kecil. Kadang juga ditemukan dalam
bentuk layer dalam batuan induk. Contoh depositnya adalah deposit kromit Bushveld Igneous
Complex (BIC) di Afrika Selatan.
(3) Injeksi (Injections)
Beberapa deposit bijih magmatik terbentuk dalam grup ini. Mineral bijih terbentuk
karena difrensiasi kristalisasi lebih dulu atau bersamaan dengan dengan mineral batuan silikat
yang berasosiasi dengan mineral bijih tersebut. Mineral-mineral yang terbentuk tidak
terakumulasi pada tempatnya terendap, tapi di-injeksi-kan dan terkonsentrasi pada batuan
samping. Contoh deposit seperti ini adalah dike titanoferous magnetit di Cumberland, dan
pipa platinum di Afrika selatan.
b) Magmatik Akhir (Late magmatic).
Deposit magmatik akhir terdiri atas deposit mineral bijih yang mengkristal dari
magma residual setelah pembentukan batuan silikat sebagai bagian akhir dari proses
magmatik. Gejala yang sering diperlihatkan berupa pembentukan mineral-mineral kemudian
yang memotong endapan magmatik awal, dicirikan oleh adanya reaction rim pada sekeliling
mineral yang telah terbentuk. Deposit yang terbentuk berasal dari proses difrensiasi
kristalisasi, akumulasi gravitatif dari heavy residual liquid, dan pemisahan liqud sulfide
droplets (yang disebut liquid immiscibility), dan berbagai bentuk difrensiasi lainnya.
Perbedaan nyata antara proses magmatik awal dan akhir adalah deposit magmatik awal
terbentuk pada tempat dimana tubuh intrusi batuan beku (magma) terbentuk dan setelah
akumulasi mineral bijih membeku, tidak ada lagi perpindahan tempat. Sedang pada deposit
magmatik akhir, kadang-kadang akumulasi tersebut masih berpindah dan diendapkan pada
batuan samping.
(1) Gravitative Liquid Accumulation
(a) Residual Liquid Segregation
Pemisahan yang terjadi di dalam dapur magma oleh proses difrensiasi kristalisasi sudah
terjadi mulai dari tahap awal sampai konsolidasi akhir. Karena mineral-mineral mafik
mengkristal lebih dulu, maka magma residu yang lebih bersifat felsik menjadi sangat kaya
akan silika, alkali, dan air. Kristal yang terbentuk pertama cenderung akan bergerak ke dasar
dapur magma karena berat jenisnya lebih besar dari liquid residu-nya. Deposit mineral pada

tipe ini terbentuk karena adanya proses difrensiasi kristalisasi dan akumulasi magma residual.
Contoh endapannya adalah deposit Titanomagnetik di Bushveld.
(b) Residual Liquid Injection
Liquid residual yang banyak mengandung logam yang terakumulasi di dalam dapur
magma, sebelum terkonsolidasi, bisa mengalami pergerakan dan diinjeksikan ke tempat lain
yang tekanannya lebih rendah (karena adanya tekanan dari batuan induk atau tekanan dari
dalam magmanya sendiri) membentuk mineral-mineral berikutnya secara terkonsentrasi
(Residual Liqud Injection).
(2) Residual Liquid Pegmatitic Injection
Pembentukan pegmatitik dihasilkan dari injeksi fluida magmatik yang mengandung
bahan-bahan mineral pembentuk batuan yang masih tersisa, air, karbondioksida, konsentrasi
rare elements, mineralizers, dan logam. Beberapa deposit pegmatite memiliki deposit mineral
berharga dan layak untuk dieksploitasi. Tubuh pegmatitik biasanya berupa intrusi dike atau
intrusi irregular. Pegmatit yang memiliki nilai ekonomi umumnya berasosiasi dengan batuan
beku felsik seperti granit dan diorit. Deposit pegmatite dicirikan oleh dominasi kuarsa,
feldspar, dan mika; mineral tersebut membentuk zonasi dari dinding (wall) ke inti (core)
injeksi. Feldspar dan mika dominan pada bagian dinding hingga intermediet, kuarsa dominan
pada bagian inti. Kristal-kristal besar pada zona inti dihasilkan dari fluiditas magma yang
sangat tinggi (viskositas rendah) memungkinkan ion-ion dapat bergerak lebih cepat untuk
membentuk muka kristal. Deposit logam yang cukup penting adalah tantalium, niobium, tin,
tungsten, molybdenum, dan uranium. Disamping itu, terdapat pula deposit mineral industri
seperti feldspar, mika, kuarsa, korondum, kriolit, gemstone, rare earth, dan mineral-mineral
yang mengandung beryllium, lithium, cesium, dan rubidium.
(3) Immiscible Liquid
(a) Immiscible Liquid Segregation
Pada tahap ini, terjadi penetrasi larutan magma yang tersisa dan kemudian membentuk
mineral-mineral berikutnya secara terkonsentrasi (Immiscible Liquid Separation &
Acumulation). Skinner & Peck menemukan suatu larutan immiscible sulfide melt pada tahap
akhir pendinginan lava Hawai yang jenuh akan sulfide sulfur pada temperatur 1065oC.
Sulfide-rich phases terdiri atas dua, yang pertama immiscible sulfide-rich liquid dan yang
kedua adalah copper-rich pyrrhotite solid solution. Sulfide-rich liquid terdiri atas kombinasi
pyrrhotite, chalcopyrite, dan magnetite. Larutan tersebut mengandung oksigen yang cukup
banyak, yang menurunkan permukaan sulfide liquidus. Skinner & Peck menyimpulkan
bahwa pada
Fase pertama yang mengkristal adalah copper-nickel-rich pyrrhotite solid solution. Jadi
fase pertama kristalisasi immiscible sulfide liquid dapat mengkonsentrasikan copper dan
nickel yang dapat menghasilkan suatu ore bodies yang komersial. Vogt dalam Jensen &
Bateman, 1981, melihat bahwa iron-nickel-copper sulfides larut sekitar 6 atau 7 persen dalam
magma mafik dan selama pendinginan larutan tersebut memisahkan diri sebagai immiscible
sulfide drops, yang kemudian terakumulasi pada dasar dapur magma dan membentuk liquid

sulfide segregation. Dalam hal ini segregasi tersebut akan menyerupai akumulasi molten
copper (matte) yang terkumpul pada bagian bawah tungku peleburan.
Sulfida-sulfida akan tetap dalam bentuk liquid hingga semua silikat mengkristal;
karenanya sulfida-sulfida tersebut melakukan penetrasi dan merusak silikat yang terbentuk
lebih dulu dan kemudian mengkristal disekitarnya. Jadi sulfida adalah mineral pyrogenic
yang mengkristal paling akhir, dan karena sulfida-sulfida tersebut melakukan penetrasi dan
merusak silikat yang terbentuk sebelumnya, kadan mereka dinterpretasikan sebagai
hidrotermal.
(c) Immiscible Liquid Injection
Jika fraksi yang kaya akan sulfida telah terakumulasi (seperti dijelaskan diatas)
dankemudian mengalami gangguan sebelum terkonsolidasi, fraksi tersebut akan mendesak ke
dinding dapur magma membentuk celah atau membentuk daerah breksiasi pada batuan
samping dan akhirnya terkonsolidasi membentuk immiscible liquid injection, Setelah prosesproses di atas terjadi (Early Magmatic Process dan Late Magmatic Process) jika magma
asalnya banyak mengandung unsur volatile, maka unsureunsur volatile tersebut bersama
larutan sisa, disebut larutan magma sisa (rest magma) akan membentuk jebakan transisi ke
pegmatitit-pneumatolitis. Apabila pembentukan deposit pegmatitit-pneumatolitis sudah
berakhir, maka larutan sisa magmanya akan sangat encer, karena tekanan gasnya sudah
menurun dengan cepat. Larutan terakhir ini akan membentuk jebakan hidrotermal
2. FASE PEGMATITIK (PEGMATITIC PHASE)
Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat
kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang
mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan
stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan
temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan
dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat, Besilikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur
jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire,
beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal). Sifat endapan pegmatitik
a) Seperti dike
b) Kristal-kristalnya (pseudomorf) berukuran sangat besar, hal ini disebabkan,
(1) Pada waktu magma membeku magma banyak mengandung uap yang mengandung unsure
silica.
(2) Kristalisasi yang lamban.
c) Bersifat asam, berasal dari magma asam ( 98% asam)
d) Mineral-mineralnya kwarsa, orthoklas dan mika.
3. FASE PNEUMATOLITIK (PNEUMATOLITIK PHASE)
Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam
lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontak-metamorfisme,
karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda.

Mineral kontak ini terbentuk bila uap panas dengan temperatur tinggi dari
magma mengalami kontak dengan batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang
terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO 3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit,
tremolit, topaz, aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.
Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi batuan beku
intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking (pemanggangan)
dan hardening (pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang berhubungan
dengan penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa batuan pada umumnya
akan ter-rekristalisasi, terubah (altered), dan tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan
oleh panas dan fluida-fluida yang memencar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh karena
itu endapan ini tergolong pada metamorfisme kontak. Proses pneomatolitis ini lebih
menekankan peranan temperatur dari aktivitas uap air. Pirometamorfisme menekankan hanya
pada pengaruh temperatur sedangkan pirometasomatisme pada reaksi penggantian
(replacement), dan metamorfisme kontak pada sekitar kontak. Letak terjadinya proses
umumnya di kedalaman bumi, pada lingkungan tekanan dan temperatur tinggi.

Gambar 3. Contoh endapan Igneous Metamorfism berupa endapan iron rich fluids di
Granite Mount, Utah (Dari Park, 1975 p 285).

Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida sederhana dan
oksida misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa molibdenit. Sedikit endapan
jenis ini yang betul-betul tanpa adanya besi, pada umumnya akan banyak sekali berisi pirit
atau bahkan magnetit dan hematit. Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis ini (SingkepIndonesia).
- See more at: http://beni-punya.blogspot.com/2014/02/ganesa-bahangalian.html#sthash.KdC2HCqi.dpuf

B. Endapan Sekunder
Jika mineral-mineral primer telah terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar
(superficial processes) disebut dengan endapan sekunder (supergen).
Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu :
sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau sekunder),
erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam cekungan (supergene), dari
biokimia akibat bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batubara, dan minyak bumi,
serta dari magma dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).
1. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil
Pelapukan Permukaan dan Transportasi
Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan
mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material
lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang baru
dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi mekanis, dispersi kimia mencoba
mengenal secara kimia penyebab suatu dispersi.
Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder.
Dispersi geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam kerak bumi, meliputi
proses penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa memperhatikan
bagaimana tubuh bijih terbentuk. Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang
terjadi di permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh
proses yang biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi, dan
pengendapan. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan
akhirnya diendapkan pada suatu tempat. Mobilitas unsur sangat mempengaruhi dispersi.
Unsur dengan mobilitas yang rendah cenderung berada dekat dengan tubuh bijihnya,
sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas tinggi cenderung relatif jauh dari tubuh bijihnya.
Selain itu juga tergantung dari sifat kimianya Eh dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam
kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi sedangkan dalam kondisi basa akan
mempunyai mobilitas rendah.
Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan
lateritik. Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari udara atau air

permukaan. Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai batas air tanah. Akibat proses oksidasi
ini, beberapa mineral tertentu akan larut dan terbawa meresap ke bawah permukaan tanah,
kemudian terendapkan (pada zona reduksi). Bagian permukaan yang tidak larut, akan jadi
berongga, berwarna kuning kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan
ini adalah endapan nikel laterit.
2. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik
Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan
dari residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar
butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au,
kasiterit, magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb.
Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi
menjadi :
1. Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih
primer. Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material mengalami
pelapukan setelah pencucian. Sebagai contoh endapan platina di Urals.
2. Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di sungai
bergerak kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang berat akan
bergerak ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau kecepatan aliran
menurun, seperti di sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb. Contoh endapan tipe ini
adalah Sn di Bangka dan Belitung. Au-plaser di California.
3. Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul
pantai dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum di sini adalah ilmenit,
magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.
4. Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami pembatuan
dan kadang-kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini adalah Proterozoikum
Witwatersand, Afrika Selatan, merupakan daerah emas terbesar di dunia, produksinya lebih
1/3 dunia. Emas dan uranium terjadi dalam beberapa lapisan konglomerat. Mineralisasi
menyebar sepanjang 250 km. Tambang terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini
dimungkinkan karena gradien geotermis disana sekitar 10 per 130 meter.
3. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia
a. Lingkungan Darat
Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat
oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut red beds. Kalau konsentrasi elemen
logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi
memungkinkan terjadi konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian
(leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang kemudian mengisi antar butir sedimen

klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh penukaran kation antara Fe dan mineral lempung
atau akibat penyerapan oleh mineral lempung itu sendiri.
b. Lingkungan Laut
Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat
yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi
dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Sebagai
contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam yang
berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus (terutama Fe dan Mn)
seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan atau
dari sistem hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan
dan terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat
tergantung perbedaanpotensial reduksi (Eh).
Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid
membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang simetris
disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang terus menerus,
oolit tersebut akan stabil di dasar laut dimana tertanam dalam material lempungan karbonatan
yang mengandung beberapa besi yang bagus. Di dasar laut mungkin oolit tersebut reworked.
Dengan hasil keadaan tersebut bijih besi dan mangan sebagai contoh ferromanganese nodules
yang sekarang ini menutupi daerah luas lautan.