Anda di halaman 1dari 6

POLIMERISASI KONDENSASI

LINDA TRIVANA
G44080075

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

memiliki densitas 1,261, titik lebur 18,2C dan

PENDAHULUAN
Polimer merupakan molekul besar yang

titik didih 290 C (Hart 1983).

terbentuk dari unit-unit berulang sederhana.


Nama ini diturunkan dari bahasa Yunani poly,
yang berarti banyak dan mer, yang berarti
Gambar 1 Struktur gliserol

bagian. Makromolekul merupakan istilah


yang sinonim dengan polimer. Polimer sintesis
dari molekul-molekul sederhana yang disebut
monomer (Stevens 2007). Proses penyusunan

Reaksi esterifikasi anhidrida ftalat dengan


monogliserida merupakan reaksi kondensasi
membentuk polimer dengan rantai linier
(Malcolm 2001).

atau pembentukan polimer disebut dengan


polimerisasi. Proses polimerisasi terbagi atas
dua macam, yaitu polimerisasi adisi dan
polimerisasi kondensasi.
Polimerisasi

adisi

adalah

monomer-

monomer yang mengandung ikatan rangkap dua


saling bergabung, satu monomer masuk ke
monomer yang lain, membentuk rantai panjang.
Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi
adisi mengandung semua atom dari monomer
awal.

Polimerisasi

pembentukan

kondensasi

polimer

dari

adalah

Gambar 2 Reaksi esterifikasi antara asam

monomer-

anhidrida ftalat dan monogliserida

monomernya dengan menghasilkan molekul

BAHAN DAN METODE

H2O. Reaksi polimerisasi kondensasi, setiap


monomer

harus

mempunyai

dua

gugus

fungsional sehingga dapat menambahkan pada


tiap ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini


adalah neraca analitik, gelas piala, hot plate,
batang pengaduk, gelas ukur 100 ml, kaca arloji

(Hart 2003).
Gliserol ialah suatu trihidroksi alkohol yang
terdiri atas 3 atom karbon. Jadi tiap atom karbon
mempunyai gugus OH. Satu molekul gliserol
dapat mengikat satu, dua, tiga molekul asam
lemak dalam bentuk ester,
monogliserida,

Bahan dan Alat

digliserida

yang disebut

dan

trigliserida.

Gliserol merupakan cairan tidak berwarna, tidak


berbau, cairan kental dengan rasa yang manis,

atau alumunium foil, mortar, thermometer, dan


pipet mohr. Bahan-bahan yang digunakan pada
percobaan ini adalah gliserol, asam ftalat
anhidrida,

bensin,

aseton,

minyak

tanah,

alcohol, toluene, NaOH 10%, KHSO4 padat,


lakmus, fenolftalein, dan asetil klorida.
Metode Percobaan
Pembuatan polimer A dilakukan dengan 2.5
gram gliserol dan 3.75 gram asam ftalat

anhidrida ditimbang di dalam gelas piala 100

HASIL DAN PEMBAHASAN

ml. campuran kedua bahan tersebut diaduk

Polimerisasi kondensasi merupakan suatu

sampai merata dan dipanaskan perlahan-lahan

proses

sampai suhu 150-175C di atas hot plate.

monomer-monomer

Supaya

dan

molekul air. Proses polimerisasi kondensasi

kehangusan hasil, maka gelas piala ditutup

pada percobaan ini membentuk polimer A dan

dengan alumunium foil. Selanjutnya, tutup gelas

polimer B dengan jumlah gliserol dan asam

piala dibuka dan dibiarkan air yang terjadi

ftalat

menguap. Pemanasan dilanjutkan sampai suhu

Polimer A menggunakan 2.5 gram gliserol dan

200-250C dan bentuk akhir berupa gumpalan

3.75 gram asam ftalat anhidrida, sedangkan

dengan volume besar. Gelas piala tersebut

polimer B sebanyak 2.5 gram gliserol dan 5

didinginkan dan dipindahkan polimer ke dalam

asam ftalat anhidrida.

tidak

terjadi

dekomposisi

mortar untuk ditumbuk sampai halus.


Pembuatan

polimer

sama

pembentukan

anhidrida

Proses

suatu

polimer

dengan

yang

menghasilkan

digunakan

polimerisasi

dari

berbeda.

kondensasi

ini

seperti

menghasilkan polimer berbentuk gumpalan

pembuatan polimer A tetapi menggunakan 2.5

dengan volume yang besar dan struktur yang

gram gliserol dan 5 asam ftalat anhidrida. Jika

keras

kondensasi pertama

Pemanasan

sudah lengkap,

maka

pemanasan dihentikan.

dan

berwarna
pada

kuning

percobaan

ini

transparan.
bertujuan

menghilangkan molekul air yang terbentuk

Pengujian polimer dengan uji kelarutan

akibat

reaksi

kondensasi

ini.

Pengaruh

polimer A dan polimer B dalam berbagai

penambahan asam ftalat anhidrida dimana

pelarut, yaitu air, bensin, aseton, minyak tanah,

jumlah asam ftalat anhidrida yang lebih banyak

alkohol, dan toluena dengan 0.1 gram polimer

digunakan pada polimer B adalah pengaruh

dalam 2.5 ml pelarut.

kepolaran pada polimer ini. Semakin banyak

Pengujian polimer dengan cara penyabunan

asam ftalat anhidrida yang digunakan pada

polimer dilakukan dengan 2.5 gram polimer (A

struktur penyusunannya maka polimer akan

dan B) dimasukkan ke dalam labu didih dan

semakin bersifat polar dan kepolaran ini juga

1.25 ml NaOH 10% serta jangan lupa batu

berhubungan dengan kelarutan polimer pada

didih dimasukkan ke dalam labu didih tersebut,

beberapa pelarut (air, bensin, toluena, alkohol,

kemudian

minyak tanah, dan aseton) (Malcolm 2001).

dipanaskan

(reflux)

sampai

penyabunan selesai. Uji dilakukan dengan


memakai kertas lakmus dan fenolftaleinn, dan
uji bau (uji akrolein), yaitu KHSO4 padat
dimasukkan ke dalam 2.5 ml hasil penyabunan,
dipanaskan dan bau zat yang terbentuk dicium.

Tabel 1 Uji kelarutan polimer kondensasi


Pelarut
polimer A
polimer B
Air
Bensin
Aseton
++
++
Minyak tanah
Metanol
+
Toluena
-

Keterangan:

dapat terlihat setelah proses penyabunan diuji

(-)

: tidak larut

dengan kertas lakmus merah, terjadi perubahan

(+)

: larut

warna dari merah menjadi biru dan diuji dengan

Uji kelarutan dari polimer-polimer yang

menggunakan fenolftalein yang menghasilkan

terbentuk terhadap berbagai pelarut dapat dilihat

warna merah muda. Hal ini membuktikan bahwa

pada Tabel 1. Pada tabel 1 dapat diketahui

telah terjadi reaksi penyabunan pada senyawa

bahwa

polimer ini, sehingga menyebabkan indikator PP

polimer

A dan

polimer

hasil

polimerisasi kondensasi ini larut dalam pelarut

menghasilkan

aseton, sedangkan tidak larut pada pelarut lain.

menunjukan larutan hasil penyabunan tersebut

Polimer B juga sedikit larut dalam metanol. Hal

bersifat basa (Bruice 1995).

ini membuktikan bahwa sifat dari polimer yang


terbentuk adalah sedikit polar (semi polar)
sehingga polimer tersebut dapat larut dalam
pelarut yang bersifat semi polar seperti aseton.
Polimer B memiliki sifat polar yang lebih
tinggi dibandingkan dengan polimer A karena
penambahan asam ftalat anhidrida pada polimer
B lebih banyak sehingga menambah sifat
kepolaran polimer, maka polimer B dapat juga

Pelarut polar seperti air, polimer A dan polimer


B tidak dapat larut karena polimer A dan B
bersifat semi polar. Pelarut nonpolar seperti
bensin, minyak tanah, dan toluena, polimer ini

merah

muda

yang

Tabel 3 Hasil uji bau polimer kondensasi


Polimer
Bau
polimer A
detergen
polimer B
asam
Pada uji bau didapatkan hasil bau dari
polimer tersebut setelah penambahan KHSO4
adalah tercium bau deterjen pada polimer A dan
bau asam pada polimer B. Hasil samping dari
proses penyabunan adalah terbentuknya sabun.

SIMPULAN

sedikit larut dalam metanol yang sifat kepolaran


metanol (semi polar) lebih rendah daripada air.

warna

Hasil polimerisasi kondensasi berupa polimer


berbentuk gumpalan padat yang keras dan
berwarna kuning transparan. Uji kelarutan
polimer A dan polimer B yang diketahui kedua
polimer ini bersifat semi polar maka dapat larut
pada pelarut yang semi polar seperti aseton dan

pun tidak larut.

untuk polimer B juga larut sedikit dalam


Tabel 2 Hasil uji sifat polimer kondensasi

metanol karena pengaruh penambahan asam

Indikator

polimer A

polimer B

Sifat

ftalat anhidrida dalam jumlah yang lebih banyak

PP

Merah

Merah

Basa

Lakmus
merah

Biru

Biru

Basa

dilakukan dengan kertas lakmus merah dan PP

Hasil uji penyabunan dapat dilihat pada tabel

menunjukkan hasil penyabunan tersebut bersifat

2. Hasil dari proses penyabunan menunjukkan

basa dan uji bau pada polimer A tercium bau

bahwa polimer ini dapat disabunkan dengan

deterjen dan polimer B tercium bau asam.

daripada polimer A dapat menaikan kepolaran


polimer

menggunakan basa (NaOH 10 %). Pada hasil

tersebut.

Uji

penyabunan

yang

DAFTAR PUSTAKA
Bruice PY. 1995. Organic Chemistry. London:
Prentice-Hall, Inc.
Hart H. 1983. Kimia Organik Suatu Kuliah
Singkat. Erlangga. Jakarta.
Hart H. 2003. Kimia Organik, Suatu Kuliah
Singkat. Jakarta: Erlangga.

Malcolm PS. 2001. Polymer Chemistry: An


Introduction.

Penerjemah:

Lis

Sopyan.

Jakarta: PT Pradnya Paramitha.


Stevens MP. 2001. Kimia Polimer Edisi 1.
Penerjemah: Iis Sopyan. Jakarta: Pradnya
Paramita.

LAMPIRAN

(a)

(b)

Gambar 3 Polimer kondensasi (a) polimer A dan (b) polimer B

Gambar 4 Hasil uji kelarutan polimer A dalam berbagai macam pelarut

Gambar 5 Hasil uji kelarutan polimer B dalam berbagai macam pelarut