Anda di halaman 1dari 14

Kolangitis et causa Koledokolitiasis

Debora Semeia Takaliuang


102011304
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email : deboratakaliuang@ymail.com
Pendahuluan
Penyakit saluran empedu mengenai cukup banyak orang di dunia. Lebih dari 95%
penyakit saluran empedu diakibatkan kolelitiasis (batu empedu). Prevalensi batu empedu lebih
rendah dari kejadian sebenarnya, karena sekitar 90% tetap asimtomatik. Batu terjadi pada pria
7% dan 15% pada wanita. berusia antara 18-65 tahun. Penderita wanita lebih banyak dengan
perbandingan 3:1 pada usia < 40 tahun, yang menjadi seimbang pada manula.1
Batu empedu umumnya ditemukan di dalam kandung empedu, dan dikenal sebagai
kolelitiasis, tetapi batu tersebut dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran
empedu menjadi koledokolitiasis. Umumnya pasien dengan batu empedu jarang mempunyai
keluhan, namun sekali batu empedu mulai menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik
maka resiko untuk mengalami komplikasi akan terus meningkat.2
Batu empedu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu, yang terdiri dari
kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, fosfolipid (lesitin), dan
elektrolit. Menurut gambaran makroskopiknya terbagi atas tiga golongan yaitu: (1) batu
kolesterol, (2) batu kalsium bilirubinat atau batu pigmen coklat, (3) batu pigmen hitam.2
Anamnesis
Berisi lamanya gejala berlangsung, ada dan sifat nyeri abdomen, demam atau gejala
peradangan lainnya, perubahan selera makan, berat badan, dan kebiasaan buang air besar.
Perhatian juga jika ada riwayat penggunaan alkohol, riwayat pengobatan juga harus dicermati,
obat-obatan tertentu menyebabkan baik kolestatis, seperti anabolik steroid dan klorpromazin.

Pruritus seringkali dikaitkan dengan kolestatis kronik berasal baik dari obstruksi
ekstrahepatik ataupun penyakit kolestatik hati seperti kolangitis. Sebaliknya tinja yang akolis
lebih sering terjadi pada pasien obstruksi kandung empedu ekstrahepatik akibat tumor,
koledokolitiasis, atau secara sekunder akibat kelainan kandung empedu kongenital seperti
peradangan kista koledokus.3
Pada anamnesis penderita kolangitis dapat ditemukan adanya keluhan demam, ikterus,
dan sakit pada perut kanan atas. Beberapa penderita hanya mengalami dingin dan demam dengan
gejala perut yang minimal. Ikterus atau perubahan warna kuning pada kulit dan mata didapatkan
pada sekitar 80% penderita.2,3
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan apa-apa karena batu saluran empedu tidak
menimbulkan gejala dalam fase tenang. Jika sampe terjadi kolangitis, maka pada pemerisaan
fisik ditemukan warna kekuningan pada kulit atau mata adalah penanda penting secara fisik pada
penyumbatan di empedu. Kekuningan atau warna tanah liat pada tinja juga dapat menaikkan
kecurigaan pada koledokolitiasis atau pankreatitis.1,2
Jika gejala tersebut dibarengi dengan demam dan menggigil, dapat dipertimbangkan juga
diagnosis kolangitis. Pada kolangitis ditemukan nyeri abdomen, demam tinggi/mengigil, ikterus
obstruktif (trias Charcoat), nyeri tekan hebat pada kuadran kanan atas.1,2
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis koledokolitiasis biasanya melibatkan diagnosis banding ikterus. Bilirubin
serum biasanya kurang dari 10 mg persen dan bisa berfluktuasi. Peningkatan kadar alkali
pospatase khas yang melebihi proporsi enzim hati menggambarkan kolestasis ekstrahepatik yang
berlawanan dari kolestatis intrahepatik. Tes penyaring mencakup ultranografi dan tomografi
dikomputerisasi untuk mendeteksi batu empedu yang ada bersamaan di dalam vesika biliaris
dan/atau dilatasi duktus intrahepatik dan ekstrahepatik.4
Walapupun kadang-kadang diagnosis batu duktus koledokus bisa didapat oleh penyajian
klinis, namun banyak ahli bedah percaya bahwa diagnosis prabedah obyektif, penting untuk
menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Ini dapat dicapai dengan kolangiografi retrogad
2

endoskopi atau transhepatik perkutis. Teknik ini (1) menyingkirkan keganasan periampula atau
saluran empedu sebagai penyebab ikterus obstruktif; (2) mendiagnosis kolangitis sklerotikans,
(3) mencegah kelambatan waktu kolangiografi intraoperatif dan (4) menghasilkan radiograf yang
lebih unggul dibandingkan yang dapat pada pembedahan.4
Dengan pendekatan ini, ahli bedah dapat mencegah penemuan tumor atau kelainan
peradangan atau kongenital dalam eksplorasi yang dimana ahli bedahnya belum siap atau tidak
cakap untuk menghadapinya waktu itu.4
Pemeriksaan Laboratorium
Peningkatan enzim hati yang menunjukkan kolestatis (gamma glutamin transferase dan
alkali fosfatase). Kemudian dapat pula dijumpai peningkatan enzim pankreas (amilase dan
lipase) apabila batu menyumbat duktus koledokus dan duktus pankreatikus. Serta dapat pula
ditemukan adanya peningkatan bilirubin serum.2
Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi adalah jenis pemeriksaan tersering digunakan untuk mengidentifikasi batu
empedu. Dilatasi duktus biliaris (intrahepatik atau ekstrahepatik) meningkatkan kemungkinan
batu pada duktus biliaris komunis (common bile duct [CBD]) walaupun ultrasonografi
transabdominal jarang bisa membuktikan atau menyingkirkan ini (30-40% pasien dengan batu
pada CBD memiliki hasil USG yang normal ).1,2
USG endoskopik memiliki sensitivitas lebih besar namun lebih invasif dan lebih jarang
tersedia. USG mempunyai spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi untuk deteksi batu kandung
empedu dan pelebaran saluran empedu intra maupun ekstra hepatik, namun sensitifitas untuk
batu koledokus hanya 50%. Tidak terlihatnya batu koledokus di USG tidak menyingkirkan
koledokolitiasis.1,2
ERCP (endoscopic retrogade cholangio-pancreatography) memberikan pencitraan pasti
dari cabang bilier dan juga kesempatan untuk menghilangkan obstruksi bilier dengan melakukan
sfingterektomi endoskopik dan pengangkatan batu CBD. ERCP merupakan pemeriksaan terbaik
untuk mendeteksi batu saluran empedu. Pada ERCP, kanul dimasukkan ke dalam duktus

koledokus dan duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus
tersebut. Indikasi utama ERCP adalah ikterus obstruktif.1,2,4

Gambar 1. Kolangiogram.4
PTC (percutaneous transhepatic cholangiography) adalah pemeriksaan pendekatan
alternatif dalam mendapatkan visualisasi langsung dari cabang bilier. MRCP atau magnetic
resonance kolangiopankreatografi adalah dengan perbaikan pada magnetic resonance imaging,
pemeriksaan ini semakin banyak tersedia sebagai alternatif selain ERCP dalam memperlihatkan
cabang bilier.1
MRCP merupakan teknik pencitraan menggunakan gama magnet tanpa zat kontras,
instrumen, dan radiasi ion. Pada MRCP, saluran empedu akan terlihat terang karena intensitas
sinyal yang tinggi, sedangkan batu saluran empedu akan terlihat dengan intensitas sinyal rendah
yang dikelilingi empedu yang intensitasnya tinggi. Maka metode ini sangat cocok untuk
mendeteksi batu saluran empedu.1

Gambar 1. Lokasi Batu Empedu.2


Working Diagnosis
Koledokolitiasis
Koledokolitiasis adalah terdapatnya batu empedu di dalam saluran empedu yaitu di
duktus koledokus komunis (CBD). Koledokolotiasis terbagi dua tipe yaitu primer dan sekunder.
Koledokolitiasis primer adalah batu empedu yang terbentuk di dalam saluran empedu sedangkan
koledokolitiasis sekunder merupakan batu kandung empedu yang bermigrasi masuk ke duktus
koledokus melalui duktus sistikus. Koledokolitiasis primer lebih banyak ditemukan di Asia,
sedangkan di negara barat banyak koledokolitiasis sekunder.2
Sepuluh sampai 15 persen yang menjalani kolesistektomi batu empedu akan mempunyai
batu dalam duktus koledokus juga. Sebaliknya hampir semua pasien koledokolitiasis menderita
batu empedu bersamaan dalam vesika biliaris. Insiden koledokolitiasis pada waktu
kolesistektomi meningkat bersama usia, sekitar 3% diantara usia 20 dan 40 tahun serta
meningkat ke 25 persen diantara usia 60 dan 80 tahun.4
Batu duktus koledokus diklasifikasikan sebagai primer dan sekunder. Yang terahir jauh
lebih lazim dan mencapai duktus koledokus dengan bermigrasi melalui duktus sistikus setelah
terbentuk dalam vesika biliaris. Batu primer terbentuk di dalam batang saluran empedu
intrahepatik dan ekstrahepatik.4

Batu duktus koledokus bisa berjalan asimtomatik ke dalam duodenum atau bisa tetap di
dalam batang saluran empedu selama beberapa bulan atau tahun tanpa menyebabkan gejala.
Tetapi koledokolitiasis sering merupakan sumber masalah yang sangat serius karena kompliaksi
mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam jiwa. Batu duktus koledokus disertai dengan
bakterobiliia dalam lebih dari 75 persen pasien serta dengan adanya obstruksi saluran empedu,
dapat timbul kolangitis akuta.4
Episode parah kolangitis akuta dapat menyebabkan abses hati . Migrasi batu empedu
kecil melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum di antara duktus koledokus distal dan
duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. Tersangkutnya batu empedu
dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif. Obstruksi saluran empedu subklinis kronika
berahir dengan sirosis bilier sekunder.4
Keseriusan penyajian klinis ditemukan oleh derajat dan lama obstruksi saluran empedu
serta luas infeksi sekunder. Walaupun koledokolitiasis sering asimptomatik, sewaktu gejala
timbul sering kolik empedu koledokolitiasis tak dapat dibedakan dari kolesistolitiasis. Tetapi
demam yang memuncak, kedinginan, dan ikterus menggambarkan adanya batu duktus koledokus
dan kolangitis akuta. Ikterus khas sepintas dan episodik. Umumnya koledokolitiasis tidak
menyebabkan obstruksi lengkap.4
Kolangitis
Kolangitis

dan

koledokolitiasis

sering

terjadi

berdampingan.

Koledokolitiasis

didefinisikan sebagai adanya batu pada saluran empedu yang berbeda dari kolelitiasis.
Koledokolitiasis mungkin asimptomatik atau menyebabkan gejala akibat (1) obstruksi, (2)
pankreatitis, (3) kolangitis, (4) abses hati, (5) sirosis bilier sekunder, (6) kolesistitis batu akut.
Kolangitis adalah kata yang dipakai untuk infeksi bakteri pada saluran empedu. Kolangitis dapat
disebabkan semua lesi yang menyebabkan obstruksi aliran empedu, dan yang tersering adalah
koledokolitiasis.5
Kausa yang jarang adalah akibat pemakaian kateter atau stent (alat yang mencegah
obsturksi), tumor, pankreatitis akut, striktur jinak, dan meskipun jarang jamur, virus, atau parasit.
Bakteri kemungkinan besar masuk saluran empedu melalui sfingter Oddi; infeksi saluran
empedu intrahepatik disebut kolangitis ascenden. Bakterinya biasanya adalah aerob usus negatif6

Gram, misalnya E-coli, Klebsiella, Clostridium, Bacteroides, atau Enterobacter, dan streptokokus
grup D.5
Kolangitis biasanya bermanifestasi sebagai demam, menggigil, nyeri abdomen, dan
ikterus, disertai peradangan akut dinding saluran empedu dan masuknya neutrofil ke dalam
lumen. Gejala yang hilang timbul mengisyaratkan serangan obstruksi parsial. Bentuk terparah
kolangitis adalah kolangitis supuratif karena terdapatnya empedu purulen yang mengisi dan
meregangkan saluran empedu.5
Diagnosis Banding
Kolesistitis Akut
Peradangan kandung empedu dapat bersifat akut, kronik, atau proses akut yang timbul
pada keadaan kronik. Sebanyak 75% orang yang memiliki batu empedu tidak memperlihatkan
gejala. Sebagian besar gejala timbul bila batu menyumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi
karena batu yang kecil melewati ke dalam duktus koledokus. Peradangan ini hampir selalu
berkaitan dengan batu empedu. Pendertia batu empedu sering memiliki gejala kolesistitis akut
atau kronis.5
Bentuk akut ditandai dengan nyeri hebat mendadak di epigastrium atau abdomen
kuadaran kanan atas; nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan. Penderita dapat
berkeringat banyak atau berjalan mondar mandir atau berguling ke kanan dan ke kiri di atas
tempat tidur. Nausea dan muntah sering terjadi. Kolesistitis batu akut adalah peradangan akut
kandung empedu yang 90%-nya dipicu oleh obstruksi leher atau duktus sistikus. Hal ini
merupakan komplikasi tersering batu empedu dan alasan utama dilakukannya kolesistektomi
darurat.5
Serangan kolesistitis akut berawal dari nyeri epigastrium atau kuadaran kanan atas yang
bersifat progresif, sering disertai demam ringan, anoreksia, takikardi, berkeringat, mual, muntah.
Sebagian besar pasien tidak ikterik; adanya hiperbilirubinemia mengisyaratkan obstruksi duktus
biliaris komunis. Terjadi leukositosis ringan sampai sedang dan mungkin disertai oleh
peningkatan ringan kadar alkali fosfatase serum.5

Kolesistitis Kronik
Dapat merupakan sekuele dari serangan berulang kali kolesistitis akut ringan sampe
berat, tetapi pada banyak kasus, penyakit ini timbul tanpa serangan sebelumnya. Tidak memiliki
gambaran klinis mencolok seperti pada bentuk akut. Kolesistitis kronik ini biasanya ditandai
dengan serangan berulang nyeri epigastrium atau kuadaran kanan atas yang menetap seperti
kolik. Keluhan sering mual, muntah dan intoleransi terhadap makanan berlemak.5
Gejala kolesistitis kronis mirip dengan gejala kolesisitis akut, tetapi beratnya nyeri dan
tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien sering memiliki riwayat dispepsia, intoleransi lemak, nyeri
ulu hati, atau flatulen yang berlangsung lama. Setelah terbentuk, batu empedu dapat berdiam
tenang dalam kandung empedu dan tidak menimbulkan masalah, atau dapat menyebabkan
timbulnya komplikasi.5
Etiologi
Penyebab koledokolitiasis sama seperti kolelitiasis. Batu pada koledokolitiasis dapat
berasal dari batu di kandung empedu yang bermigrasi dan menyumbat di duktus koledokus, atau
dapat juga berasal dari pembentukan batu di duktus koledokus itu sendiri. Batu empedu sering
ditemukan di AS, yaitu mengenai 20% penduduk dewasa. Setiap tahunnya, beberapa ratus ribu
orang yang menderita penyakit ini mengalami pembedahan saluran empedu.5
Batu empedu jarang terjadi pada usia dua dekade pertama. Namun wanita yang meminum
obat kontrasepsi oral atau yang hamil akan lebih beresiko menderita batu empedu, bahkan pada
usia remaja dan usia 20-an. Faktor ras dan familial tampaknya berkaitan dengan semakin
tingginya insiden terbentukknya batu empedu.5
Batu empedu hampir selalu dibentuk di kandung empedu dan jarang dibentuk pada
bagian saluran empedu lain. Etiologi batu empedu masih belum diketahui sepenuhnya; akan
tetapi, tampaknya faktor predisposisi terpenting adalah gangguan metabolisme yang
menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, stasis empedu, dan infeksi kandung
empedu.5
Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam
pembentukkan batu empedu. Status empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan
8

supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan unsur tertentu. Gangguan
kontraksi kandung empedu, atau spasme spingter Oddi, atau keduanya dapat menyebabkan
terjadinya statis.5
Faktor hormonal (terutama selama kehamilan) dapat dikaitkan dengan perlambatan
pengosongan kandung empedu dan menyebaban tingginya insidensi dalam kelompok ini. Infeksi
bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukkan batu. Mukus meningkatkan
viskositas empedu, dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi. Akan
tetapi, infeksi mungkin lebih sering timbul sebagai akibat terbentuknya batu empedu,
dibandingkan sebagai penyebab terbentuknya batu empedu.5
Patogenesis
Batu yang berada di duktus koledokus atau koledokoloitiasis dapat dibentuk di duktus
tersebut sejak dari awal atau karena migrasi dari kandung empedu. Batu yang dibentuk sejak
awal di duktus koledokus disebut koledokolitiasis primer. Proporsinya tidak lebih dari 5%.
Sebanyak 95% kasus koledokolitiasis terjadi karena migrasi dari kandung empedu yang disebut
koledokolitiasis sekunder.6

Gambar 2. Kandung Empedu dan Duktus-duktusnya.7

Pasien dengan batu empedu di duktus koledokus bila tidak segera ditangani beresiko
mengalami infeksi ulang disebut kolangitis. Dalam keadaan demikian pasien mengeluh demam,
menggigil, mata kuning, dan nyeri perut kanan atas. Penyebab infeksi atau kolangitis terutama
Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas. Pada kondisi demikian, apabila tidak ditangani dapat
berakibat kematian.6
Gejala Klinik
Perjalanan penyakit koledokolitiasis sangat bervariasi dan sulit diramalkan yaitu mulai
dari tanpa gejala sampai dengan timbulnya ikterus obstruktif yang nyata. Gejala koledokolitiasis
mirip seperti kolelitiasis seperti kolik bilier, mual, muntah, namun pada koledokolitiasis disertai
ikterus, BAK kuning pekat, BAB berwarna dempul. Gejala pada kolangitis antara lain: nyeri
abdomen, demam tinggi/ menggigil, ikterus obstruktif (trias Charcoat), nyeri tekan hebat pada
kuadaran kanan atas.1,2,7
Penatalaksanaan
Batu saluran empedu selalu menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus
dikeluarkan baik melalui operasi terbuka maupun melalui suatu prosedur yang disebut
endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Pada ERCP, suatu endoskopi
dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung, dan ke duodenum. Zat kontras radioopak
masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter Oddi.2
Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang
menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus dan dikeluarkan bersama tinja. ERCP dan
sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita
yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman
dibandingkan operasi terbuka.2
Komplikasi yang mungkin segera terjadi adalah perdarahan, pankreatitis akut, dan
perforasi atau infeksi saluran empedu. Pada 2-6% penderita, saluran dapat menciut kembali dam
batu empedu dapat timbul kembali. Pada tatalaksana batu saluran empedu yang sempit dan sulit,
diperlukan beberapa prosedur endoskopik tambahan sesudah sfingterotomi seperti pemecahan

10

batu dengan litotripsi mekanik, litotropsi laser, electro-hydarulic shcok wave lothitripsy, atau
ESWL. 2
Bila usaha pemecahan batu dengan cara di atas gagal, maka dapat dilakukan pemasangan
stent bilier perendoskopik di sepanjang batu yang terjepit. Stent bilier dapat dipasang dalam
saluran empedu sepanjang batu yang besar atau terjepit yang sulit dihancurkan dengan tujuan
drainase empedu.2
Tatalaksana medis koledokolitiasis adalah penderita harus dipuasakan dan dirawat jika
menunjukkan gejala kolangitis akut. Apabila ada distensi perut, dipasang pipa lambung.
Dilakukan koreksi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, penanganan syok, pemberian
antibiotik sistemik, dan pemberian vitamin K sistemik kalau ada koagulopati. Biasanya keadaan
umum dapat diperbaiki dalam waktu 24-48 jam.8
Tatalaksana endoskopi apabila setelah tindakan diatas keadaan umum tidak membaik atau
kondisi penderita malah semakin buruk, dapat dilakukan sfingterotomi endoskopik untuk
mengalirkan empedu dan nanah dan membersihkan duktus koledokus dari batu. Kadang
dipasang pipa nasolabier.8
Cara ini berhasil melalui sfingterotomi sfingter Odi di papila Vateri, yang memungkinkan
batu keluar secara spontan atau melalui kateter. Indikasi lain dari sfingterotomi endoskopik
adalah adanya riwayat kolesistektomi. Apabila batu di duktus koledokus besar, yaitu berdiameter
lebih dari 2 cm, sfingterotomi endoskopik mungkin tidak dapat mengeluarkan batu ini. Pada
penderita ini dianjurkan litotripsi lebih dahulu untuk mengeluarkan batu duktus koledokus secara
mekanik melalui papila vateri dengan alat ultrasonik atau laser. Umumnya penghancuran ini
bersama-sama atau dilengkapi dengan endoskopik dan sfingterotomi.8
Penyaliran bilier transhepatik perkutan (percutaneus tranhepatic biliar drainase= PTBD)
biasanya bersifat darurat dan sementara sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi sepsis pada
kolangitis berat, atau mengurangi ikterus berat pada obstruksi saluran empedu distal karena
keganasan. Pada pasien dengan pipa T pada saluran empedu dapat dimasukkan koledoskop dari
luar untuk membantu mengambil batu intrahepatik.8

11

Koledoktomi. Sambil memperbaiki keadaan umum serta mengatasi infeksi kolangitis,


diagnosis dipertajam. Biasanya USG ditemukan kolesistolitiasis disertai koledokolitiasis. Kalau
pada kandung empedu tidak ditemukan batu, atau pernah dilakukan kolesistektomi, tetapi di
dalam duktus koledokus ditemukan batu apalagi bila batu ditemukan di saluran intrahepatik,
perlu dicurigai batu primer saluran empedu.8
Pemeriksaan endoskopik (ERCP) dapat membantu menegakkan diagnosis sekaligus dapat
dilakukan sfingeterotomi sebagai terapi definitif atau terapi sementara. Pada waktu laparotomi
untuk kolesistektomi, perlu ditentukan apakah akan dilakukan koledokotomi dengan tujuan
eksplorasi saluran emepdu. Kolangiografi intraoperatif tidak selalu dilakukan pada penderita
yang dicurigai mendertia koledokolitiasis karena prosedur ini memakan waktu. Tindakan ini
hanya dilakukan atas indikasi yang selektif.8
Indikasi membuka duktus koledokus adalah jelas jika ada kolangitis, teraba batu atau ada
batu pada foto. Indikasi relatif ialah ikterus dengan pelebaran duktus koledokus. Untuk
menentukan indikasi absolut dilakukan kolangiogram sewaktu pembedahan. Sewaktu melakukan
eksplorasi saluran empedu, semua batu, lumpur, debris harus dibersihkan, sebaiknya dengan
bantuan koledoskop. Kalau ada striktur sfingter Oddi, harus dilakukan dilatasi dengan sonde
khusus.8
Komplikasi
Sirosis bilier sekunder adalah kelainan pada hati yang ditandai dengan obstruksi saluran
empedu dengan atau tanpa infeksi, melibatkan inflamasi peritoneal dengan fibrosis yang
progresif. Salah satu penyebabnya adalah koledokolitiasis. Pada tahap awal, sirosis bilier
sekunder mungkin tidak menunjukkan gejala klinis. Gejala muncul ketika sejumlah besar
empedu terhambat dan menumpuk di saluran empedu. Gejala awal yang umum timbul adalah
gatal kulit, lemas (fatigue), jaundice.2
Abses hati piogenik merupakan 75% dari semua abses hati. Abses ini pada anak dan
dewasa muda terjadi akibat komplikasi apendisitis, dan pada orangtua sebagai komplikasi
penyakti saluran empedu seperti kolangitis. Infeksi saluran empedu menyebabkan kolangitis
yang menimbulkan kolangiolitis dengan akibat abses multipel.8

12

Bakteremia dan sepsis gram negatif. Bakteremia adalah terdapatnya bakteri dalam aliran
darah (25-40%). Komplikasi bakteremia pada kolangitis dapat terjadi oleh karena etiologi utama
penyebab terjadinya kolangitis adalah infeksi bakteri. Demam merupakan keluhan utama sekitar
10-15%.8
Dapat pula terjadi kerusakan duktus empedu akibat tindakan kolesistektomi atau pada
eksplorasi duktus empedu yang tidak sesuai anatominya. Kesalahn yang sangat fatal adalah tidak
mengetahui transeksi atau ligasi pada duktus. Peradarahn juga dapat terjadi. Arteri hepatik dan
arteri sistikus serta vaskularisasi hepar lainnya dapat mengalami trauma dan perdarahan saat
melakukan operasi.8
Prognosis
Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat sering karena komplikasi
mekanik berupa sirosis bilier sekunder dan infeksi berat yang terjadi berupa kolangitis akut.2
Kesimpulan
Batu empedu umumnya ditemukan di dalam kandung empedu, dan dikenal sebagai
kolelitiasis, tetapi batu tersebut dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran
empedu menjadi koledokolitiasis. Umumnya pasien dengan batu empedu jarang mempunyai
keluhan, namun sekali batu empedu mulai menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik
maka resiko untuk mengalami komplikasi akan terus meningkat.
Pasien dengan batu empedu di duktus koledokus bila tidak segera ditangani beresiko
mengalami infeksi uang disebut kolangitis. Dalam keadaan demikian pasien mengeluh demam,
menggigil, mata kuning, dan nyeri perut kanan atas. Penyebab infeksi atau kolangitis terutama
Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas. Pada kondisi demikian, apabila tidak ditangani dapat
berakibat kematian.
Batu saluran empedu selalu menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus
dikeluarkan baik melalui operasi terbuka maupun melalui suatu prosedur yang disebut
endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Koledokolitiasis sering menimbulkan
masalah yang sangat sering karena komplikasi mekanik berupa sirosis bilier sekunder dan infeksi
berat yang terjadi berupa kolangitis akut
13

Daftar Pustaka
1. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2006. h. 121.
2. Ndraha S. Bahan ajar gastroenterohepatologi. Jakarta: Biro Publikasi FK UKRIDA;
2013. h. 187-201.
3. Isselbacher, Braundwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Prinsip-prinsip ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2008. h. 268.
4. Sabiston DC. Buku ajar bedah. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2011. h. 134.
5. Kumar V, Abbas AL, Fausto N. Dasar patologi penyakit. Edisi ke-7. Jakarta: EGC; 2010.
h. 954-6.
6. Cahyono JBSB. Batu empedu. Yogyakarta: Kanisius; 2009. h. 50-1.
7. Watson R . Anatomi dan fisiologi. Jakarta: EGC; 2002. h. 352.
8. Jong WD, Sjamsuhidajat. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2003. h. 77678.

14