Anda di halaman 1dari 93

1

Laporan Kerja Praktek


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semakin pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada
saat ini, tuntutan metode pengajaran, pendidikan dan materi yang disampaikan
juga harus ditingkatkan, agar dapat terciptakan keseimbangan diantaranya. Oleh
karena itu, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) sebagai salah satu
lembaga pendidikan menetapkan kurikulum yang fleksibel dan mampu
mengakomodasikan perkembangan yang ada. Salah satunya adalah dengan adanya
mata kuliah Kerja Praktek dengan beban 1 SKS yang dilakukan di
perusahaanperusahaan. Kerja Praktek ini dilakukan berkelompok (maksimal dua
orang) selama satu bulan atau sesuai ketentuan dari perusahaan yang ditempati
Kerja Praktek. Oleh

karena itu, perguruan tinggi

selalu mewajibkan

mahasiswanya untuk menempuh mata kuliah Kerja Praktek dimana kegiatan ini
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi S1 Jurusan Teknik
Elektro Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Dengan adanya Kerja Praktek
inilah, mahasiswa dituntut untuk dapat melihat sendiri bagaimana seluk beluk di
dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan
dan teknologi saja, namun yang lebih penting adalah mahasiswa dapat memiliki
ketrampilan serta mampu untuk menerapkan ilmu yang dimilikinya. Karena tidak
menutup kemungkinan bahwa teori atau pengetahuan yang diperoleh di
perkuliahan berbeda dengan yang dihadapi di lapangan.
Menjelang berlakunya sistem globalisasi internasional pada awal tahun
2000, bisnis telekomunikasi sangat pesat di dunia tidak terkecuali di tanah air. Di
Indonesia, hal ini ditandai dengan hancurnya mitos monopoli dalam bisnis
telekomunikasi. Berbagai perusahaan bermunculan dan ikut berperan aktif dalam
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
1

Laporan Kerja Praktek


menyediakan berbagai sarana telekomunikasi menuju kehandalan sistem dan
layanan yang prima. Tak pelak lagi kalau saat ini semua perusahaan
telekomunikasi berbenah diri untuk memperoleh keunggulan di era persaingan
bebas. Tidak ketinggalan pula PT Triyasa Geokomunindo yang selalu berbenah
diri untuk menyediakan sistem dan layanan telekomunikasi terbaik bagi
masyarakat.
PT. Triyasa Geokomunindo, adalah perusahaan yang diselenggarakan dan
berada di bawah hukum Republik Indonesia. Triyasa Geokomunindo didirikan
dan berkantor pusat di wilayah Jakarta. Triyasa Geokomunindo adalah perusahaan
yang bergerak di bidang Telekomunikasi, pengalaman kami menjadi mitra
kompeten dalam pengelolaan proyek Telekomunikasi. Kami juga mendukung
industri Telekomunikasi dalam penyediaan situs menara baru dan pemeliharaan
infrastruktur. Triyasa Geokomunindo dipimpin oleh manajemen yang memiliki
keahlian yang luas di lapangan, dan mengelola tim profesional lokal yang
memiliki pengalaman praktis serta peralatan yang dibutuhkan. Triyasa
Geokomunindo berupaya untuk terus berinovasi melalui pemanfaatan teknologi
terbaru dalam industri Telekomunikasi guna meningkatkan kualitas solusi-solusi
layanan dan memastikan konsistensi kepuasan pelanggan dengan menggunakan
standarisasi telekomunikasi.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini, antara lain
sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi persyaratan jenjang kurikulum S-1 pada Jurusan Teknik
Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Adhi Tama
Surabaya.
2. Menerapkan ilmu teoritis yang didapat dibangku perkuliahan kedalam
praktek yang sesungguhnya.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek


3. Mendapatkan pengalaman tentang kerja teknis di lapangan yang
sesungguhnya, sehingga didapatkan gambaran yang sama tentang berbagai
hal mengenai dunia kerja yang aplikatif.
4. Mahasiswa dapat mengetahui pemanfaatan teknologi terbaru dalam
industri Telekomunikasi guna meningkatkan kualitas solusi-solusi layanan
dan memastikan konsistensi kepuasan pelanggan dengan menggunakan
standarisasi telekomunikasi.
5. Mahasiswa dapat mengetahui sistem kontrol pada mesin-mesin produksi
yang canggih dengan hasil lebih bagus dan lebih efisien dalam hal
mencetak label.
1.3 Pembatasan Masalah
Karena luasnya permasalahan. penulis membatasi permasalahan penulisan
laporan ini hanya berupa tinjauan secara garis besar tentang dasar-dasar sistem
proteksi dan sistem grounding untuk mendukung menara telekomunikasi yang ada
di Tretek - Pare - Kediri.
1.4 Metodologi Pengumpulan Data
Dalam persiapan awal pengumpulan data ini terdapat hal- hal yang perlu
diperhatikan diantaranya :
a. Mengambil obyek gambaran singkat dari materi yang akan diambil
b. Penentuan batasan masalah.
c. Bersifat aktif dan obyektif dalam pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penyusunan laporan
kerja praktek ini, maka teknik pengumpulan data yang dipakai adalah :
1.4.1 Penelitian Lapangan
Yakni penelitan dengan jalan melakukan pengamatan secara
langsung di lapangan, ini berhubungan dengan pengumpulan data pada
perusahaan yang akan dijadikan obyek kerja praktek yaitu :
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek

Interview : yaitu metode dimana penulis melakukan wawancara dan


diskusi dengan pembimbing kerja praktek maupun operator mesin
produksi di lapangan guna memperoleh penjelasan tentang data-data
yang di butuhkan. Pelaksanaan metode ini dengan mengadakan dialog
baik secara langsung maupun tidak langsung.

Observasi : Yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan beberapa


pengamatan langsung pada obyek yang akan diteliti.

1.4.2 Studi Kepustakaan


Merupakan metode penelitian yang dilakukan dengan cara
membaca dan mempelajari buku-buku serta literatur yang berhubungan
dengan materi yang akan diambil sebagai data untuk laporan kerja
praktek.
1.4.3 Pengolahan Data
Dalam pengolahan data diambil dari bahan-bahan yang didapat
selama melaksanakan kerja praktek dan referensi dari buku-buku
perpustakaan dan website yang berhubungan dengan tujuan materi.
Kemudian digabungkan menjadi satu bagian dari laporan kerja praktek,
yang nantinya akan dijadikan sebagai syarat untuk kelulusan di ITATS.

1.5 Metodologi Penulisan


BAB I

Pendahuluan
Berisikan tentang gambaran umum Iatar belakang penulisan
maksud dan tujuan penulisan. pembatasan masalah, idenifikasi
permasalahan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek


BAB II

Profil Perusahaan
Berisikan

tentang

latar

belakang

perusahaan,struktur

organisasi,logo,visi dan misi,tujuan.


BAB III

Landasan Teori
Berisikan tentang dasar-dasar teori sistem kelistrikan pada tower
secara umum, komponen komponen instalasi listrik serta
beberapa parameter yang mempengaruhinya.

BAB IV

Pembahasan
Berisikan tentang perbandingan teori dengan hal-hal yang
ditemukan di lapangan, Pemahaman terhadap keterbatasan dari
pembahasan yang dilakukan sehingga dapat memberikan saran

BAB V

Penutup
Membahas tentang kesimpulan dan saran.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek


BAB II
PROFIL PERUSAHAAN PT. TRIYASA GEOKOMUNINDO
2.1 Profil PT. Triyasa Geokomunindo
PT. Triyasa Geokomunindo, adalah perusahaan yang diselenggarakan dan
berada di bawah hukum Republik Indonesia. Triyasa Geokomunindo didirikan
dan berkantor pusat di wilayah Jakarta. Triyasa Geokomunindo adalah perusahaan
yang bergerak di bidang Telekomunikasi, pengalaman kami menjadi mitra
kompeten dalam pengelolaan proyek Telekomunikasi. Kami juga mendukung
industri Telekomunikasi dalam penyediaan situs menara baru dan pemeliharaan
infrastruktur. Triyasa Geokomunindo dipimpin oleh manajemen yang memiliki
keahlian yang luas di lapangan, dan mengelola tim profesional lokal yang
memiliki pengalaman praktis serta peralatan yang dibutuhkan. Triyasa
Geokomunindo berupaya untuk terus berinovasi melalui pemanfaatan teknologi
terbaru dalam industri Telekomunikasi guna meningkatkan kualitas solusi-solusi
layanan dan memastikan konsistensi kepuasan pelanggan dengan menggunakan
standarisasi telekomunikasi.
Pada tanggal 20 November 2005, sebagai langkah penting untuk menjadi
penyedia jaringan dan jasa telekomunikasi terpadu berfokus seluler, Triyasa
Geokomunindo melakukan konsolidasi semua bisnis telekomunikasi, yaitu dengan
penggabungan PT. Smart Telekom . Perusahaan menjadi Full Network Service
Provider (FNSP). Untuk menyelaraskan kepentingan karyawan dengan pemegang
saham, Triyasa Geokomunindo meluncurkan program kepemilikan saham atau
ESOP (Employee Stock Option Program) dalam 2 tahap sepanjang tahun 2005
dan 2006 yang diambil dari saham portepel sebanyak 5%. Program ESOP ini
terbuka bagi seluruh Komisaris, Direksi, dan karyawan tetap Triyasa
Geokomunindo serta anak-anak perusahaannya. Komposisi saham per 31
Desember 2006 (setelah periode penebusan ESOP tutup) menjadi 14,29% milik
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek


Triyasa Geokomunindo, 40,81% milik STT, 3 orang Direktur memiliki masingmasing 0,01%, dan lainnya (kepemilikan dibawah 5%) sebesar 44,89%.
Meningkatnya kepercayaan publik yang tercermin dari harga saham PT. Triyasa
Geokomunindo yang naik diantisipasi oleh manajemen dengan mengeluarkan
kebijakan untuk memecah sahamnya (stock split) pada tanggal 8 Maret 2007
melalui RUB Triyasa Geokomunindo hingga pada bulan Juni 2008, Smart
Telekom membeli saham PT. Triyasa Geokomunindo dan menjadi pemegang
saham mayoritas dari PT. Triyasa Geokomunindo. Smart Telekom telah menjadi
kontribusi terbesar dalam hal jumlah pelanggan ke Triyasa Geokomunindo dan
salah satu alat untuk mencapai visi untuk menjadi penyedia layanan terbaik. Tepat
pada bulan Februari 2009, PT. Triyasa Geokomunindo merubah identitas
perusahaan dengan mengganti Logo serta Visi dan Misinya. Perubahan ini
merupakan refleksi visi PT. Triyasa Geokomunindo menjadi perusahaan
telekomunikasi di Indonesia yang menyediakan layanan telekomunikasi
terintegrasi bagi pelanggan ritel dan korporat.
2.2 Kedudukan dan Struktur Organisasi PT. Triyasa Geokomunindo
2.2.1 Kedudukan PT. Triyasa Geokomunindo
Tata Kelola Perusahaan
Penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik ('Good
Corporate Governance') merupakan syarat penting bagi tercapainya tujuan
Perusahaan. Triyasa Geokomunindo senantiasa berupaya maksimal untuk
menjalankan kegiatan bisnis secara bertanggungjawab agar dapat memberikan
manfaat berkelanjutan bagi para pemegang saham dan para stakeholder. Terkait
dengan hal tersebut, Triyasa Geokomunindo berkomitmen untuk menerapkan
prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik menuju standar tertinggi.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek


Kegiatan tata kelola perusahaan dilandasi oleh lima prinsip utama yaitu
Transparansi, Akuntabilitas, Pertanggungjawaban, Independensi dan Kesetaraan.
Kantor Pelayanan Triyasa Geokomunindo
Triyasa Geokomunindo yang bergerak dalam bidang telekomunikasi dan
informasi di Indonesia memberikan kemudahan bagi para pelanggannya untuk
pertanyaan seputar telekomunikasi, pengaduan, panduan berlangganan, dll
langsung di tempat. Triyasa Geokomunindo menyediakan kantor pelayanan
Triyasa Geokomunindo yang sudah banyak tersedia di wilayah Indonesia. Triyasa
Geokomunindo tersebar di berbagai regional di seluruh Indonesia, seperti regional
Jabodetabek & Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Partner perusahaan :
-

PT Smart Telecom

PT Tower Bersama Group

2.2.2 Struktur Organisasi PT. Triyasa Geokomunindo


Struktur organisasi adalah kerangka yang menunjukkan segenap pekerjaan
untuk mencapai tujuan organisasi, hubungan antara fungsi-fungsi tersebut, serta
tugas dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi PT. TRIYASA
GEOKOMUNINDO, seperti pada gambar berikut :

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Laporan Kerja Praktek

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. Triyasa Geokomunindo.


2.2.3 Job Description PT. Triyasa Geokomunindo
Untuk mencapai tujuan perusahaan maka diperlukan suatu organisasi yang
baik. Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara bagian dalam
suatu perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi maka para karyawan dapat
mengetahui dengan jelas tugas, wewenang, dan tanggung jawab mereka sehingga
dapat terjadi kerja sama yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Dibawah ini merupakan tugas-tugas dari struktur organisasi PT. Triyasa
Geokomunindo :
1. Direktur Utama, tugasnya adalah jabatan yang ditunjuk dan memberi
laporan kepada dewan direksi Board Of Director (BOD) dan Memimpin
seluruh dewan atau komite eksekutif menawarkan visi dan imajinasi di

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

10

Laporan Kerja Praktek


tingkat tertinggi, dan selain itu mempunyai tugas memimpin juga
mengkoordinasikan semua kegiatan di PT. Triyasa Geokomunindo.
2. Wakil Direktur Utama, tugasnya adalah membantu direktur utama dalam
menangani perusahaan, dan melaksankan tugas-tugas yang diberikan
Direktur Utama.
3. Direktur Jabotabek & Corporate Sales, tugasnya adalah bertugas
mengkoordinasikan perusahaan-perusahaan penjualan dibawah naungan
PT. Triyasa Geokomunindo.
4. Direktur Regional Sales, bertugas memimpin dan mengawasi daerahdaerah penjualan produk-produk PT. Triyasa Geokomunindo.
5. Direktur Marketing, tugasnya adalah merencanakan, mengontrol, dan
mengkordinir proses penjualan dan pemasaran bersama S, dan M
supervisior (S) untuk mencapai target penjualan dan mengembangkan
pasar secara efektif dan efisien.
6. Direktur Information Technology, tugasnya adalah menyelenggarakan
perumusan kebijakan teknologi informasi dan melaksanakan penglolaan
infrastruktur Hardware, meliputi server, komputer dan perangkat
pendukungnnya.
7. Direktur Network, tugasnya melakukan jaringan-jaringan pada sinyal, dan
memetakan kebutuhan sekarang juga yang akan datang, terutama
hubungan dengan Material Management proses sehingga hubungan ini
akan mempengaruhi jaringan terutama pada permasalahan stock barang
pada saat terjadi kerusakan.
8. Direktur Finance, tugasnya adalah Merencanakan dan mengendalikan
sumber-sumber pendapatan serta pembelanjaan dan kekayaan perusahaan
serta mengendalikan program dan pendapatan pengeluaran keuangan
perusahaan.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

11

Laporan Kerja Praktek


9. Direktur Corporate Service, bertugas sebagai penanggung jawab dalam
memberikan informasi kepada masyarakat yang berhubungan dengan
kegiatan perusahaan.
10. Group Head, bertugas melakukan evaluasi, penelaahan dan analisa atas
semua kegiatan di lingkungan Perseroan dan mengkoordinasikan
aktivitasnya dengan Komite internal.
2.2.4 Aspek Kegiatan PT. Triyasa Geokomunindo
Triyasa Geokomunindo meyakini bahwa sinergi yang terbentuk dari
perpaduan aspek- aspek bisnis, masyarakat dan lingkungan dapat membentuk
suatu kekuatan untuk bergerak maju dalam menjawab tantangan pasar dan
industri. Kekuatan ini akan menjadi modal utama untuk mencapai pertumbuhan
usaha dan nilai Perusahaan yang berkelanjutan.
PT. Triyasa Geokomunindo bergerak dalam bidang perusahaan yang
bergerak di bidang Telekomunikasi, pengalaman kami menjadi mitra kompeten
dalam pengelolaan proyek Telekomunikasi. Triyasa Geokomunindo juga
mendukung industri Telekomunikasi dalam penyediaan situs menara baru dan
pemeliharaan infrastruktur. Triyasa Geokomunindo dipimpin oleh manajemen
yang memiliki keahlian yang luas di lapangan, dan mengelola tim profesional
lokal yang memiliki pengalaman praktis serta peralatan yang dibutuhkan. Triyasa
Geokomunindo berupaya untuk terus berinovasi melalui pemanfaatan teknologi
terbaru dalam industri Telekomunikasi guna meningkatkan kualitas solusi-solusi
layanan dan memastikan konsistensi kepuasan pelanggan dengan menggunakan
standarisasi telekomunikasi.
Adapun produk dan jasa yang lainnya, antara lain:
Pengembangan

aset

di

sektor

Telekomunikasi,

Telekomunikasi,

Infrastruktur Listrik dan Bidang Telekomunikasi Piagam Pembangunan.


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

12

Laporan Kerja Praktek


Triyasa Geokomunindo yang bergerak dalam bidang telekomunikasi dan
informasi di Indonesia memberikan kemudahan bagi para pelanggannya untuk
pertanyaan seputar telekomunikasi, pengaduan, panduan berlangganan, dll
langsung di tempat. Triyasa Geokomunindo menyediakan kantor pelayanan
Triyasa Geokomunindo yang sudah banyak tersedia di wilayah Indonesia. Triyasa
Geokomunindo tersebar di berbagai regional di seluruh Indonesia, seperti regional
Jabodetabek & Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sebagai bentuk komitmen Triyasa Geokomunindo dalam meningkatkan
kesejahteraan hidup masyarakat, Triyasa Geokomunindo telah melaksanakan
berbagai progam yang kami harapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat
Indonesia untuk menjadi lebih baik. Corporate Social Responsibility yang kami
lakukan tidak terbatas hanya pada pengembangan dan peningkatan kualitas
masyarakat pada umumnya, namun juga menyangkut tata kelola perusahaan yang
baik

(Good

Corporate

Governance).

Kepedulian

terhadap

pelanggan,

pengembangan Sumber Daya Manusia, mengembangkan Green Environment


serta memberikan dukungan dalam pengembangan komunitas dan lingkungan
sosial. Setiap fungsi yang ada, saling melengkapi demi tercapainya CSR yang
mampu memenuhi tujuan Triyasa Geokomunindo dalam menerapkan ISO di
perusahaan.
Penerapan CSR Triyasa Geokomunindo mencakup 5 inisiatif, yang
dilakukan secara berkesinambungan yaitu:
1. Organizational Governance
Penerapan tata kelola Perusahaan terbaik termasuk mematuhi regulasi d
ketentuan yang berlaku, berlandaskan 5 prinsip: transparansi, akuntabili
pertanggungjawaban, interpendensi dan kesetaraan.
2. Consumer Issues
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

13

Laporan Kerja Praktek


Menyediakan dan mengembangkan produk dan jasa yang memberikan
manfaat luas bagi pemakainya, layanan yang transparan d terpercaya.
3. Labor Practices
Mengembangkan

hubungan

yang

saling

menguntungkan

antara

Perusahaan dan karyawan serta pengembangan sistem, organisasi dan


fasilitas pendukung sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi Perusahaan.
4. Environment
Mengembangkan budaya Peduli lingkungan termasuk upaya-upaya nyata
untuk mengurangi penggunaan emisi karbon dalam kegiatan perusahaan.
5. Community Involvement
Ikut mengembangkan kualitas hidup komunitas dalam hal kualitas
pendidikan sekolah dan olahraga, kualitas kesehatan, serta ikut serta dalam
mendukung

kegiatan

sosial

komunitas

termasuk

bantuan

saat

bencana/musibah.
2.3 Logo, Visi dan Misi PT. Triyasa Geokomunindo
2.3.1 Logo PT. TRIYASA GEOKOMUNINDO
Pada tahun 2009, PT Triyasa Geokomunindo merubah identitas dengan
mengganti logo seperti pada gambar, visi serta misinya. Perubahan ini merupakan
refleksi visi Triyasa Geokomunindo menjadi perusahaan telekomunikasi di
Indonesia yang menyediakan situs menara baru dan pemeliharaan infrastruktur
terintegrasi bagi pelanggan ritel/korporat. Harapan penggantian identitas ini agar
lebih mensosialisasikan pelayanan jasa yang terdapat di Triyasa Geokomunindo
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

14

Laporan Kerja Praktek


ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan tentunya dapat membawa bangsa
Indonesia menuju babak baru dalam dunia

telekomunikasi yang lebih baik.

Identitas korporat baru Triyasa Geokomunindo terdiri dari kombinasi teks


Triyasa Geokomunindo dengan simbol Pohon yang mencerminkan teknologi
yang tinggi, bersahabat, serta dinamis dan modern.
Techno Trees adalah sebutan logo Triyasa Geokomunindo baru yang
tercipta dari pohon

yang mencerminkan usaha dan fokus bisnis Triyasa

Geokomunindo saat ini, yaitu di Indonesia dalam bidang teknologi dan pelayanan
bagi masyarakat, serta pentingnya kerjasama yang kokoh diantara ketiga elemen
tersebut.

Gambar 2.2 Logo Triyasa Geokomunindo Baru (Techno Trees).


2.3.2 Visi
1. Menjadi penyedia layanan terbaik bagi Operator dan Provider Menara
Telekomunikasi, dengan Optimalisasi Sumber Daya yang ada sehingga
memuaskan bagi semua Stakeholder.
2. Menawarkan produk, layanan, dan solusi informasi dan komunikasi yang
lengkap dan berkualitas.
3. Berada pada Top-Of-Mind pelanggan dalam menyediakan produk,
layanan, dan solusi informasi dan komunikasi.
4. Menyediakan produk dan layanan yang dapat meningkatkan kualitas hidup
dari masyarakat yang dilayani.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

15

Laporan Kerja Praktek


2.3.3 Misi
1. Menciptakan semangat untuk meraih kepuasan pelanggan, layanan terbaik,
solusi yang inovatif dan hubungan kemitraan yang dibangun atas dasar
kesempurnaan.
2. Membangun fasilitas jaringan yang kuat untuk klien, namun tetap fleksibel
melalui penerapan manajemen yang berkesinambungan dengan informasi
intelijen mengenai perkembangan terakhir di bidang Telekomunikasi dan
Infrastruktur, dalam kaitannya dengan kepentingan bisnis.
3. Menerapkan budaya terbaik untuk lingkungan kerja yang sehat, melalui
kepemimpinan yang bijaksana.
4. Mengembangkan kemitraan dengan pihak Stakeholders terkait secara
nasional sehingga mendukung layanan komunikasi nirkabel dimanapun
sesuai kebutuhan pelanggan.
5. Bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai team yang dipersatukan oleh
nilai-nilai untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari dalam semua hal yang
kami kerjakan.
6. Mendorong dan menghargai karyawan untuk meraih pertumbuhan diri dan
standar kinerja terbaik.
2.3.4 Motto PT Triyasa Geokomunindo
Untuk menambah semangat kerja seluruh warga usahanya, PT Triyasa
Geokomunindo mempunyai motto yang dipegang teguh, yaitu
a. Success Through Team Work (Sukses Melalui Kerja Tim)
Artinya adalah keberhasilan yang dicapai melalui kerjasama
seluruh pihak yang terkait yaitu kelompok tingkat Direksi, Divisi, Bagian
serta Instansi Pemerintah dan Swasta, juga tak kalah penting fungsi
pelanggan atau pemakai jasa telekomunikasi.
b. The Future Is Here (Masa Depan Ada Disini)
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

16

Laporan Kerja Praktek


Motto ini menggambarkan semangat Triyasa Geokomunindo untuk
membuat masa depan dunia teknologi yang lebih. Dalam kaitan kerjasama
diantara pihak-pihak terkait, senantiasa ditekankan dalam setiap kegiatan
perusahaan. Selain motto, Triyasa Geokomunindo juga punya tekad
pelayanan, yaitu:
We Care More (Kami Lebih Peduli)
Hal ini adalah tekad pelayanan Triyasa Geokomunindo
dalam upaya menghadapi persaingan yang tajam. Dengan tekad ini,
Triyasa

Geokomunindo

kegiatan/kebutuhan

bertekad

pelanggan,

memenuhi

senantiasa

segala

mengupayakan

peningkatan mutu jasa dan pelayanan serta memacu diri menjadi


yang terbaik di bidang telekomunikasi.
2.4 Tujuan, Strategi dan Fungsi PT. Triyasa Geokomunindo
2.4.1 Tujuan Pokok PT. Triyasa Geokomunindo
Tujuan PT. Triyasa Geokomunindo berdasarkan Anggaran Dasar, yaitu :
1. Membangun,

mengembangkan,

dan

mengusahakan

pelayanan

telekomunikasi dalam rangka meningkatkan hubungan dari dalam dan luar


negeri.
Tujuan ini mencakup :
a. Peningkatan hubungan telekomunikasi internasional sehingga
mampu menunjang sektor-sektor lainnya seperti perdagangan,
industri, hubungan internasional, dan yang lainnya.
b. Bekerjasama dengan PT Tower Bersama Group meningkatkan
pelayanan yang merata ke seluruh pelosok dan tempat dimana
dibutuhkan.
2. Memberikan sumbangan bagi perekonomian negara pada umumnya dan
peningkatan penerimaan negara pada khususnya, berpartisipasi aktif dalam
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

17

Laporan Kerja Praktek


menunjang

dan

melaksanakan

program

pemerintah

di

bidang

pembangunan nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka PT. Triyasa


Geokomunindo menjalankan usaha di bidang jasa yang meliputi :
a. Penyedia jasa Telekomunikasi Umum
b. Perencanaan Jaringan
c. Akuisisi Lahan dan Perijinan
d. Design Infrastruktur dan Konstruksi
e. Konsultasi Telekomunikasi
f. Penyediaan dan Pemanfaatan Layanan Multimedia melalui
Peralatan Telekomunikasi
g. Instalasi Jaringan dan Manajemen Proyek untuk Menara
Telekomunikasi
h. Pengoperasian dan Pemeliharaan Site selama masa kontrak
Infrastruktur
3. Usaha-usaha lainnya yang secara langsung menunjang penyelenggaraan
Pengembangan

aset

di

sektor

Telekomunikasi,

Telekomunikasi,

Infrastruktur Listrik dan Bidang Telekomunikasi Piagam Pembangunan.


2.4.2 Strategi PT. Triyasa Geokomunindo
Selama dua dekade terakhir perusahaan dihadapkan pada keharusan untuk
berhadapan dengan sejumlah ketentuan baru. Perusahaan dituntut cepat tanggap
terhadap persaingan dan perubahan pasar. Upaya menjadi terunggul dalam
industri melalui peningkatan kompetensi menjadi keniscayaan yang tak dapat
dielakkan bila masih ingin tetap eksis. Manajer dituntut untuk dapat memilih dan
memilah berbagai konsepsi strategi yang ditawarkan. Suatu konsepsi yang setelah
diimplementasikan memberi hasil optimal pada suatu masa, harus dikaji ulang
ketika konteks persaingan berubah. Sebagai contoh, konsepsi Strategic
Positioning pernah menjadi acuan utama bagi kalangan bisnis menjadi kurang
relevan ketika pasar berubah dinamis dan teknologi memungkinkan pesaing untuk
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

18

Laporan Kerja Praktek


meniru keunggulan yang dimiliki. Keunggulan menjadi bersifat sementara, dan
resiko menghilang menjadi lebih besar. Sementara itu, regulasi cenderung
menghilangkan hambatan persaingan, dan semakin banyak perusahaan yang
berusaha keras menjadi ramping dan lebih cekatan. Hasilnya, pasar global tak
terelakkan dan kompetisi pada setiap lini industri sangat kuat (hypercompetition).
Selain ancaman dari luar yang disebabkan perubahan teknologi, preferensi
pasar dan perilaku persaingan, ancaman terbesar justru berasal dari lingkungan
internal perusahaan. Akar persoalan, menurut Porter terletak pada kegagalan
manajer membedakan antara strategi dan efektivitas operasional. Upaya
menghasilkan produktivitas, kualitas, dan daya tanggap telah menelorkan
perangkat dan teknik manajemen yang terkenal seperti: TQM, benchmarking,
time-based

competition,

outsourcing,

partnering,

reengineering,

change

management, dan lain sebagainya. Namun demikian, meskipun semuanya itu


berdampak pada peningkatan kinerja secara dramatis, banyak perusahaan yang
tidak mampu mengubah kinerja unggul tadi menjadi kemampuan menghasilkan
laba yang menjamin kelangsungan hidup (sustainable profitability). Lambat laun
manajer terjebak pada mengutak atik teknik manajemen saja, sementara mereka
justru tidak memperhatikan strategi. Teknik teknik manajemen diperlukan untuk
memperbaiki efektivitas operasional, tetapi hal ini tidak mencukupi, masih
diperlukan strategi guna meraih keunggulan dalam jangka panjang.
Seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi, yang didalamnya
dituntut adanya pertukaran informasi yang semakin cepat antar daerah dan negara,
membuat peranan telekomunikasi menjadi sangat penting. Telekomunikasi
sebagai wahana bagi pertukaran informasi akan semakin memperhatikan aspek
kualitas jasa. Selain itu perkembangan di bidang dunia informasi saat ini begitu
cepat, baik dilihat dari isi maupun teknologi yang digunakan untuk
menyampaikan informasi. Masyarakat dunia informasi menyadari hal tersebut
sehingga mereka berupaya keras menciptakan infrastruktur yang mampu
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

19

Laporan Kerja Praktek


menyalurkan informasi secara cepat, artinya mereka sangat membutuhkan
jaringan

telekomunikasi

yang

memiliki

kualifikasi

sebagai

information

superhighway.
Perusahaan dapat mengungguli pesaing pesaingnya hanya jika mampu
menjadikan dirinya berbeda melalui: memberikan value kepada pelanggan lebih
besar dari yang dapat dilakukan pesaing, dan menciptakan comparable value
dengan biaya yang lebih rendah. Langkah pertama memberi peluang kepada
perusahaan untuk menentukan harga lebih tinggi, sementara tindakan kedua
menghasilkan efisiensi. Kedua aktivitas di atas, secara umum menggambarkan
strategi dasar dalam mengelola berbagai aktivitas internal perusahaan agar selalu
lebih baik dari pesaing. Hal ini berbeda dengan konsep strategic positioning, yang
dimaknai sebagai melakukan berbagai aktivitas yang berbeda dari pesaing, atau
melakukan aktivitas yang sama dengan cara yang berbeda. Guna mengetahui
seberapa maksimum perusahaan mengelola operasionalnya secara efektif dalam
menghasilkan produk dan atau jasa menggunakan teknologi, ketrampilan, teknik
manajemen, dan input lainya Porter menawarkan konsep Productivity Frontier,
yakni situasi yang menunjukkan praktek terbaik (state of best practice).
Hal tersebut di atas telah menimbulkan suatu kondisi persaingan yang sangat ketat
di antara perusahaan-perusahaan telekomunikasi, yang tingkat persaingannya
tidak lagi domestik, tetapi bersifat internasional. Sehingga untuk dapat
memenangkan persaingan tersebut, tentu diperlukan suatu strategi yang tepat dan
penerapan

yang baik.

Dalam

hal

ini, mencoba menganalisis

Triyasa

Geokomunindo sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang


menyediakan jasa telekomunikasi internasional, sebagai bahan studi. Dengan
pertimbangan, Triyasa Geokomunindo dikenal sebagai perusahaan yang
mempunyai kinerja yang cukup baik.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

20

Laporan Kerja Praktek


2.5 Jasa-jasa Pelayanan PT. Triyasa Geokomunindo
2.5.1 Layanan - Solusi Inovatif
Solusi

yang

ditawarkan

mencerminkan

pemahaman

Triyasa

Geokomunindo atas kebutuhan pelanggan serta komitmen dalam memenuhi


kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Mulai dari kemudahan komunikasi telepon,
hingga akses internet tanpa batas, tempat dan waktu. Triyasa Geokomunindo
senantiasa berupaya mengembangkan solusi inovatif yang dirancang untuk
melebihi ekspektasi para pelanggan. Layanan bagi Triyasa Geokomunindo
merupakan jenis layanan yang memberikan kontribusi paling besar, yakni hingga
mencapai 75% dari seluruh penerimaan pada tahun 2008.
2.5.2 Nilai-nilai pada PT. Triyasa Geokomunindo
Proses penggabungan usaha penyediaan situs menara baru dan
pemeliharaan infrastruktur ke dalam Triyasa Geokomunindo di tahun 2003
memberikan tantangan untuk dapat menggabungkan dua organisasi yang memiliki
budaya dan kebijakan perusahaan yang berbeda-beda. Untuk itu, Triyasa
Geokomunindo telah memformulasikan dan mengkomunikasikan nilai-nilai
perusahaan baru untuk mendukung pencapaian visi dan misi perseroan.
Dengan melibatkan seluruh karyawan Perseroan, Triyasa Geokomunindo
telah menetapkan nilai-nilai perusahaan yang baru, Insan Gemilang yang
merangkum nilai-nilai Integritas, kerjasama, Keunggulan, kemitraan, dan fokus
pada pelanggan. Insan Gemilang menjelaskan budaya perusahaan yang harus
dibangun untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Nilai-nilai Insan
Gemilang menjadi tuntutan sekaligus patokan tatanan perilaku keseharian PT
Triyasa Geokomunindo.
1. Integritas
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

21

Laporan Kerja Praktek


Itikad untuk melakukan pekerjaan dengan menjunjung tinggi etika bagi
kepentingan

perusahaan,

pemegang

saham.

karyawan,

pelanggan,

pemerintah dan masyarakat serta bertindak berdasarkan kebijakan dan


pedoman.
2. Kerjasama
Berdasarkan komitmen, kepercayaan, keterbukaan, saling membantu dan
menghargai serta berpartisipasi aktif dalam memberikan kontribusi dan
dukungan bagi kepentingan perusahaan.
3. Keunggulan
Terwujud dalam nilai dan usaha untuk melebihi standar yang diharapkan
dengan cara terus menerus mengembangkan kemampuan.
4. Kemitraan
Dibangun dengan pihak-pihak yang terkait atas dasar saling membutuhkan
dan saling percaya untuk kepentingan bersama.
5. Fokus pada pelanggan
Baik internal maupun eksternal dengan jalan memahami dan memenuhi
kebutuhan melebihi yang diharapkan merupakan keutamaan serius Triyasa
Geokomunindo.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

22

Laporan Kerja Praktek


BAB III
TEORI KELISTRIKAN

3. Sistem Kelistrikan
3.1 Pengertian Sistem Kelistrikan
Instalasi listrik atau instalasi tenaga listrik dapat diartikan sebagai suatu
cara penempatan dan pemasangan penyalur tenaga listrik untuk semua peralatan
yang memerlukan tenaga listrik untuk pengoperasiannya dan bagian ini langsung
berada dalam daerah kegiatan konsumen.
Suatu instalasi tenaga listrik terdiri dari bebrapa bagian:

Penyediaan tenaga listrik


Sistem pembagian
Saluran tenaga listrik
Pengaman
Pentanahan

Penempatan dan pemasangan instalasi listrik terikat pada peraturan,khususnya di


Republik Indonesia,peraturan mengenai instalasi listrik tertulis dalam Peraturan
Umum Instalasi Listik (PUIL 1987).Tujuan dari peraturan-peraturan ini adalah :

Pengamanan manusia dan barang.

Penyediaan daya listrik yang aman dan efisien.

Dalam memilih kelengkapan instalasi listrik perlu diperhatikan:

Kesesuaian dengan maksud pemasangan dan penggunaannya.

Kekuatan dan keawetannya,termasuk bagian yang lain untuk melindungi


perlengkapan yang lain.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

23

Laporan Kerja Praktek

Keadaan dan resistansi isolasinya.

Pengaruh suhu baik keadaan normal maupun keadaan yang tidak normal.

Keamanan pabrik serta isinya terhadap kebakaran akibat listrik.

Suatu perancangan instalasi listrik tegangan rendah harus mengutamakan


penggunaan gawai proteksi untuk gangguan-gangguan:

Beban lebih
Hubung pendek
Gangguan isolasi

Untuk perencanaan instalasi sebuah intalasi kelistrikan ada standarisasainy


yaitu menggunakan Persyaratan Umum Instalasi Listrik Indonesia (PUIL
2000),dalam perencanaan instalasi listrik memerlukan gambar sebagai berikut :

1. Gambar situasi yang menunjukan dengan jelas letak gedung atau bangunan
tempat instalasi tersebut akan dipasang dan rancangan penyambungan
dengan sumber tenaga listrik.
2. Gambar instalasi,yang meliputi:
o Rancangan tata letak yang menunjukan dengan jelas letak
perlengkapan

listrik

(pelayanannya),seperti

beserta
titik

sarana

lampu,kotak

kendalinya

kontak,sakelar,motor

listrik,PHB (Panel Hubung Bagi) dan lain-lainnya.


o Rancangan

hubungan

perlengkapan

listrik

dengan

gawai

pengendalinya seperti hubungan lampu dengan sakelarnya,motor


dengan pengasutnya (cara startnya),dan dengan gawai pengatur
kecepatannya,yang merupakan bagian dari sirkit akhir atau cabang
sirkit akhir.
3. Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dan PHB (Panel
Hubung Bagi)yang bersangkutan,ataupun pemberian tanda dan keterangan
yang jelas mengenai hubungan tersebut.
4. Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik.
5. Diagaram instalasi garis tunggal,meliputi:
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

24

Laporan Kerja Praktek


o Diagram PHB (Panel Hubung Bagi) lengkap dengan keterangan
mengenai ukuran dan besaran pengenal komponennya.
o Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan
pembagiannya.
o Sistem pembumian
o Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai.
6. Gambar rinci,yang meliputi:
o Perkiraan ukuran fisik PHB (Panel Hubung Bagi).
o Cara pemasangan perlengkapan listrik.
o Cara pemasangan kabel
o Cara kerja instalasi kendali.
7. Perhitungan teknis bila dianggap perlu,yang meliputi antara lain:
o Susut tegangan.
o Perbaikan faktor daya.
o Beban terpasang dan kebutuhan maksimum.
o Arus hubung pendek dan daya hubung pendek.
o Tingkat penerangan.
8. Tabel bahan instalasi,yang meliputi:
o Jumlah dan jenis kabel,penghantar dan perlengkapan.
o Jumlah dan jenis perlengkapan pembantu.
o Jumlah dan jenis PHB (Panel Hubung Bagi).
o Jumlah dan jenis luminer lampu.
9. Uraian teknis,yang meliputi:
o Ketentuan mengenai sistem proteksi.
o Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara
pemasangannya.
o Cara pengujian.
o Jadwal waktu pelaksanaan.
10. Perkiraan Biaya.
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

25

Laporan Kerja Praktek


3.2 Transformator
3.2.1 Pengertian Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
mengubah enegi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian ke
rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan
prinsip-prinsip induksi elekromagnet.Pada umunya transformator terdiri dari
sebuah inti yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan,yaitu kumparan
primer dan kumparan sekunder.Rasio perubahan tegangan akan tergantung dari
rasio jumlah lilitan pada kedua kumparan itu.Biasanya kumparan terbuat dari
kawat tembaga yang dibelit diseputar kakiinti transformator.

Gambar 3.1 Konstruksi Dasar Transformator


Transformator digunakan secara luas,baik dalam bidang tenaga listrik
maupun

elektronika.Penggunaanya

dalam

bidang

sistem

tenaga

listrik

memungkinkah dipilihnya tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap


keperluan,misalnya kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman daya listrik
jarak jauh.Dalam bidang elektronika,transformator digunakan antara lain,untuk
menghambat arus searah sambil tetap melakukan arus bolak-balik antara
rangkaian.
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

26

Laporan Kerja Praktek


Berdasarkan frekuensi,transformator dapat kelompokan sebagai berikut:
1. Frekuensi daya,50 Hz 60Hz
2. Frekuensi pendengaran,50 Hz 20 KHz
3. Frekuensi radio,diatas 30 KHz
Bila dalam bidang tenaga listrik,pemakaian transformator dikelompokan menjadi:
1. Tranformator daya
2. Tranformator Distribusi
3. Transformator pengukuran,yang terdiri dari transformator arus (CT) dan
transformator tegangan (PT).
Sedangkan berdasarkan cara melilitkan kumparan pada inti,transformator dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1. Tipe inti.Pada tipe ini terdapat dua kaki,dan masing-masing kaki dibelit
oleh satu kumparan.
2. Tipe cangkang.Tipe ini mempunyai tiga buah kaki,dan hanya kaki yang
tengah-tengah dibelit oleh kedua kumparan.Kedua kumparan saling
tergabung secara agnetic melalui inti.Kumparan-kumparan itu tidak
tergabung secara elektrik.Bagian datar dari inti dinamakn pemikul.

Tipe Cangkang

Tipe inti

Gambar 3.2 Klasifikasi transformator berdasarkan lilitan kumparan.


3.2.2 Hubungan Lilitan Transformator Tiga Phasa
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

27

Laporan Kerja Praktek


Pada umumnya dikenal tiga cara untuk menyambung lilitan pada
transformator tiga phasa untuk masing-masing sisi,yaitu :
Hubungan bintang atau Y
Hubungan delta atau D
Hubungan zigzag atau Z
Pada bagian ini penulis hanya akan membahas dua jenis hubungan lilitan saja
yang umumnya dijumpai pada transformator tiga phasa.
Hubungan Bintang atau Y
Arus pada transformator tiga phasa dengan kumparan yang dihubungkan
secara bintang yaitu,Ia,Ib,dan Ic,masing-masing mempunyai beda phasa sebesar
120.

Gambar 3.3 Rangkaian Hubungan Bintang


Untuk beban seimbang berlaku hubungan :
In = Ia + Ib + Ic = 0
Vab = Van + Vbn = Van Vbn
Vbc = Vbn Vcn
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

28

Laporan Kerja Praktek


Dari gambar diatas diketahui bahwa untuk hubungan bintang berlaku :
Vab = 3 an,atau Vl = 3 p
Ip = IL

Hubungan Delta atau D.


Tegangan pada transformator tiga phasa dengan kumparan yang
dihubungkan secara delta,yaitu Vab, Vbc,dan Vca,masing-masing mempunyai
beda phasa sebesar 120

Gambar 3.4 Rangkaian Hubungan Delta


Untuk beban yang seimbang berlaku hubungan:
Ia = Iab Ica
Ib = Ibc Iab
Ic = Ica Ibc
Dari vektor diagram pada gambar diatas diketahui arus Ia (arus jala-jala) adalah
3

(arus phasa).Tegangan jala-jala dalam hubungan delta sama dengan

tegangan phasanya.
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

29

Laporan Kerja Praktek


Besarnya daya dalam hubungan delta adalah:
VpIp = 3Vl

= 3VL IL

3.3 Panel
3.3.1 Pengertian Panel
Panel atau kombinasi panel-panel adalah bentuk dari perlengkapan hubung
bagi pada tempat pelayanannya,terbuat dari bahan konduktif atau tidak konduktof
yang dipasang pada suatu rangka yang dilengkapi dengan perlengkapan listrik
seperti sakelar,kabel,dan rel.perlengkapan hubung bagi yang dibatasi dan dibagibagi dengan baik menjadi petak-petak yang terduduk mendatar dan tegak
dianggap sebagai suatu panel hubung bagi (PHB).
Terdapat tiga tingkatan (level)pada panel dalam mendistribusikan tenaga
listrik,main distribution level,sub distribution level dan load level.
Untuk menempatkan panel pada lokasinya dan persyaratan lainnya perlu
memperhatikan aturan aturan yang terdapat didalam PUIL 2000.
3.3.2 Main Distribution Panel (MDP)
MDP menghubungkan langsung antara sumber tenaga listrik dengan sub
Distribution Panel (SDP).Digunakan terutama sekali untuk :
Safety disconnection
Coupling busbar sections
Proteksi Busbar
Selectivity vis-a-vis upstream protection equipment
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

30

Laporan Kerja Praktek


Dilengkapi terutama sekali dengan :
Pemutus Sirkit dan pemutus sirkit tidak otomatis
Tipe pemutus sirkit
Fuses
3.3.3 Sub Distribution Panel (SDP)Digunakan untuk :
Safety disconnection
Switching beban listrik,system lampu dan motor
Proteksi kabel,jaringan listrik dan beban
Proteksi

cadangan

dan

selectivity

vis-a-vis

upstream

dan

downstream protection equipment


Proteksi terhadap tegangan lebih
Kontrol,metering dan pengukuran dilengkapi dengan:
Mouded Case Circuit Breaker (MCCB)
Miniature Circuit Breaker (MCB)
Sekering
Peralatan tambahan untuk ontrol,metering dan pengukuran.
3.3.4 Panel Distribusi Beban
Panel ini hamir sama dengan SDP,yang membedakannya adalah
kapasitasnya yang lebih kecil dari SDP.Digunakan untuk :
Proteksi manusia dan barang
Proteksi beban listrik
Proteksi kabel dan jaringan listrik
Proteksi tegangan lebih
Safety disconnection
Monitoring dan signaling
Kontrol
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

31

Laporan Kerja Praktek


Metering dan Pengukuran,Dilengkapi dengan:
Pemutus sirkit
Switch-disconnection dan sekering switch-disconnection
Gawai proteksi arus sisa
Miniature Circuit Breaker (MCB)
Sistem sekering
Earth leakage monitors
Time switches
Pealatan mekanik,elektromekanik dan elektronik pendukung lainnya.
3.3.5 Lokasi PHB Utama (Panel Hubung Bagi)
Panel Hubung Bagi (PHB) utama harus dipasang dilokasi yang cocok,yang
kering dan ventilasi yang cukup,kecuali bila Panel Hubung Bagi (PHB) dilindungi
terhadap lembab,dan ditempatkan sedemikian hungga Panel Hubung Bagi (PHB)
dan pencapaiannya tidak terhalang oleh bagian atau isi gedung atau bagian lainnya
dalam gedung.Lokasi yang dilarang untuk Panel Hubung Bagi utama adalah
tinggi diatas tanah,lantai atau platform (>1,2m),di dekat endon air atau di dekat
dapur listrik,dalam lemari penyimpanan,di dekat pancuran mandi,di dekat kolam
renang,spa atau sauna,di tangga yang terisolasi dari kebakaran,lorong jalan dan
lereng,di dekat gulungan selang kebakaran,dan didekat dengan sprinkler
kebakaran otomatis.
3.3.6 Pemasangan Sakelar Masuk Pada Panel Hubung Bagi.
Pada sisi penghantar masuk dari Panel Hubung Bagi yang berdiri sendiri
harus dipasang setidak-tidaknya satu sakelar,sedangkan pada setiap penghantar
keluar setidak-tidaknya dipasang satu proteksi arus.sakelar masuk untuk
memutuskan aliran suplai Panel Hubung Bagi tegangan rendah harus mempunyai
batas kemampuan minimum 10 A,dan arus minimum sama besar dengan arus
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

32

Laporan Kerja Praktek


nominal penghantar masuk tersebut.Penjelasanya dapat dilihat pada gambar
sebagai berikut :

Gambar 3.5 Pemasangan sakelar masuk 1

Gambar 3.6 Pemasangan sakelar masuk 2


Pemasangan sakelar yang dimaksud seperti pada penjelasan sebelumnya
tidak diperlukan:

Jika Panel Hubung Bagi mendapat suplai dari saluran keluar suatu Panel
Hubung Bagi lain,yang pada saluran keluarnya dipasang sakelar yang

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

33

Laporan Kerja Praktek


mudah dicapai dan Panel Hubung Bagi itu terletak dalam ruang yang sama
seperti jarak antara keduanya tidak lebih dari 5 m.

Jika

dengan

cara

tertentu

dapat

dilaksanakan

pemutusan

dan

penyambungan suplai ke Panel Hubung Bagi tersebut melalui suatu


sakelar pembantu yang harus dipasang pada tempat yang mudah dicapai.

Jika sakelar itu duganti dengan pemisah,asalkan pada setiap sirkit keluar
dipasang sakelar keluar.

Penjelasanya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar 3.7 Pemasangan Tidak Diperlukan Sakelar Masuk 1

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

34

Laporan Kerja Praktek

Gambar 3.8 Pemasangan Tidak Diperlukan Sakelar Masuk 2


3.3.7 Pemasangan Sakelar Keluar Pada Panel Hubung Bagi

Pada sirkit keluar Panel Hubung Bagi harus dipasang sakelar keluar jika
sirkit tersebut : Mensuplai tiga buah atai lebih panel Hubung Bagi yang
lain.

Dihubungkan ke tiga buah atau lebih motor/perlengkapan listrik lain yang


mana hal ini tidak berlaku jika motor atau perlemgkapan listrik tersebut
dayanya masing-masing lebih kecil atau sama dengan 1,k kW dan letaknya
dalam ruangan yang sama,kecuali untuk tegangan menengah.

Dihubungkan ke tiga buah atau lebih kotak-kontak yang masing-masing


mempunyai arus nominal lebih dari 16 A.

Mempunyai arus niminal 100 A atau lebih.

Penjelasannya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

35

Laporan Kerja Praktek

Gambar 3.9 Pemasangan Sakelar Keluar 1

Gambar 3.10 Pemasangan Sakelar Keluar 2


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

36

Laporan Kerja Praktek


3.3.8 Pengelompokan Perlengkapan Sirkit Pada Panel Hubung Bagi
Pada Panel Hubung Bagi yang mempunyai banyak sirkit keluar phasa
tunggal,dan phasa tiga,baik untuk instalasi tenaga maupun untuk instalasi
penerangan,gawai proteksi,sakelar,dan terminal yang serupa harus dikelompokan
sehingga :

Tiap kelompok melayani sebanyak banyaknya enam buah sirkit.

Kelompokan perlengkapan instalasi tenaga terpisah dari kelompok


perlengkapan penerangan.

Kelompok perlengkapan phasa tunggal,phasa dua,dan phasa tiga


merupakan kelompok sendiri-sendiri yang terpisah.

3.4 Alat Pengukur Dan Pembatas (APP)


APP adalah alat pengukur dan pembatas dalam hal ini adalah kWH meter
yang berfungsi sebagai pengukur dan MCB pembatas daya PLN ke beban.
3.5 Kode IP (International Protection)
3.5.1 Pengertian Kode IP
Kode IP adalah system kode untuk menunjukan tingkat proteksi yang
diberikan oleh selungkup dari sentuh langsung ke bagian yang berbahaya,dari
masuknya benda asing padat,dari masuknya air,dan untuk memberikan informasi
tambahan dalam hubungannya dengan proteksi tersebut.
Susunan Kode IP

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

37

Laporan Kerja Praktek

Jika angka karateristik tidak dipersyaratkan untuk ditentukan,maka dapat


diganti dengan huruf Xatau XX jika kedua angka dihilangkan tanpa
pergantian,dan jika digunakan lebih dari satu suplemen maka harus diterapkan
urutan abjad.
Jika suatu selungkup memberikan tingkat proteksi yang berbeda untuk
susunan pemasangan yang berbeda,maka tingkat proteksi yang relevan harus
ditunjukan oleh pabrikan dalam buku instruksi yang berkaitan dengan masingmasing susunan pemasangan.
3.5.2 Contoh Penggunaan Kode IP
Contoh berikut ini adalah untuk menjelaskan penggunaan dan susunan kode IP
dalam PUIL 2000 :
a) IPXXB :
Angka pertama diganti huruf X : tidak ada persyaratan untuk
proteksi dari masuknya benda asing padat.
Angka kedua diganti huruf X : tidak ada persyaratan untuk proteksi
dari masuknya air.
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

38

Laporan Kerja Praktek


Huruf B : dipersyaratkan proteksi manusia dari sentuh langsung
dengan jari ke bagian berbahaya.
b) IP2X :
Angka pertama (angka 2) :dipersyaratkan proteksi dari masuknya
benda asing padat dengan diameter 12,5 mm dan proteksi manusia dari
sentuh langsung dengan jari ke bagian berbahaya.

Angka kedua diganti huruf X : tidak ada persyaratan untuk proteksi


dari masuknya air.
3.6 Komponen- komponen Instalasi listrik.
Instalasi

listrik

mempunyai

berbagai

macam

komponen

penyusunnya,antara lain sakelar sirkit listrik,relay,busbar,kabel dan lain-lain.


3.6.1 Sakelar Sirkit Listrik
Yang dimaksud dengan sakelar sirkit listrik disini adalah penghubung
sirkit listrik ada yang mempunyai fungsi sebagai pengaman seperti CB,fuse atau
sebagai sakelar penghubung dan pemutus biasa.
Fungsi sakelar sirkit listrik antara lain :
1. Proteksi,melindungi sirkit dari :
Gangguan beban lebih (overload).
Gangguan hubung pendek (short circuit),yang akan berdampak buruk
pada umur teknis kabel dan beban listrik.
Mengisolir gangguan dari sirkit,untuk mencegah akibat akibat yang
membahayakan manusia dan perlengkapan listrik.
2. Isolasi,memisahkan sirkit atau gawai listrik dari instalasi listriknya untuk
menjamin keamanan operasi.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

39

Laporan Kerja Praktek


3. Kontrol,agar pengguna dapat melakukan aksi-aksi operasi pada saat :

Kondisi normal (saat beban normal,tanpa arus lebih),untuk


menghidupmatikan sebagian atau seluruh instalasi,berfungsi
fungsional.
Pada saat-saat genting (walaupun tanpa beban),untuk mematikan
segera sebagian atau seluruh instalasi,disebut sebagai penghentian
darurat (emergency stop).

Sekering (fuse).
Sekering dapat diartikan sebagai satu bagian peralatan proteksi arus lebih
yang mana bagian pengaman arus lebihnya dapat dipanaskan dan terpisah oleh
arus lebih yang melaluinya.Fungsi fungsi dasar yang harus dimiliki oleh
sekering adalah proteksi dari beban lebih dan hubung pendek.

Gambar 3.11 Fuse Trip Curve


Sakelar (Switch)
Fungsi dasar yang harus dimiliki adalah sebagai control,sedang fungsi
tambahannya adalah sebagai isolasi dan proteksi gangguan isolasi yang
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

40

Laporan Kerja Praktek


dimungkinkan sakelar dengan mekanisme pembuka otomatis dan penambahan
gawai arus sisa.
Sakelar - Sekering
Fungsi-fungsi dasar yang harus dimiliki adalah sebagai proteksi dari beban
lebih

dan

hubung

pendek,isolasi

dan

kontrol.Sedangkan

untuk

fungsi

tambahannya adalah proteksi dari gangguan isolasi yang dimungkinkan dengan


sakelar dengan pembuka otomatis dan penambahan gawai arus sisa.
Kontaktor
Fungsi dasar yang harus dimiliki adalah sebagai control.Sedangkan fungsi
tambahannya adalah sebagai isolasi.
Pemutus Sirkit
Pemutus sirkit adalah suatu alat yang didesain untuk membuka dan
menutup suatu sirkit dengan alat-alat yang tidak otomatis,dan untuk membuka
sirkit secara otomatis pada arus beban lebih yang ditentukan ketika diterapkan
dengan baik didalam rating pemutusannya tanpa merusak dirinya sendiri.
Fungsi-fungsi dasar yang harus dimiliki oleh pemutus sirkit adalah
proteksi dari beban lebih dan hubung pendek,dan control.Sedangkan fungsi-fungsi
tambahannya adalah sebagai isolasi dan proteksi dari gannguan isolasi yang
dimungkinkan dengan penambahan gawai arus sisa.
Untuk mencari nilai dari pemutus sirkit yang ajkan dipakai,dapat
ditentukan dengan mencari nilai arus nominal yang mengalir dan arus hubung
pendek.Untuk arus hubung pendek dapat mengikuti penjelasan pada sub diatas
sedangkan untuk arus nominalnya dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

Untuk arus satu phasa :

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

41

Laporan Kerja Praktek

I=

Untuk arus tiga phasa :

I=

.
. .
Dimana :
I = Arus nominal (Ampere)
V = Pada arus suatu phasa adalah tegangan line-netral (volit)
V = Pada arus tiga phasa adalah tegangan line-line (volt)
P = Daya (watt).
Cos = Faktor Daya : 0,8 = 0,9

3.6.2 Relay

Relay adalah suatu alat yang mana membuat suatu pengukuran atau
menerima sebuah sinyal yang mana karena sinyal itu untuk operasi atau untuk
efek operasi dari peralatan lainnya.Relay proteksi adalah suatu alat yang mana
menjawab pada kondisi tak normal dalam system tenaga listrik untuk
mengoperasikan pemutus sirkit agar memutuskan bagian yang bermasalah dari
system dengan gangguan minimum dari suplai.
3.6.3 Busbar
Busbar merupakan penghantar listrik yang disusun untuk menerima arus
dari satu atau lebuh sirkit incoming,mengumpulkannya dan kemudian
menghantarkan atau mendistribusikan arus listrik yang sama tersebut kepada satu
atau lebih outgoing.Busbar bias terbuat dari tembaga atau aluminium dengan
bentuk persegi panjang.
Berdasarkan standar PUIL 2000,pemberian warna pada busbar,yaitu :

Busbar untuk phasa R berwarna merah.

Busbar untuk phasa S berwarna kuning.

Busbar untuk warna T berwarna hitam.

Busbar untuk warna netral (N) berwarna biru.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

42

Laporan Kerja Praktek


Untuk mendapatkan ukuran busbar yang sesuai ditentukan berdasarkan
arus yang mengalir pada busbar tersebut dan harus sesuai dengan standart yang
ditetapkan dalam PUIL 2000,yaitu arus busbar harus 1,5 kali arus nominalnya.

Arus listrik nominal yang mengalir dapat dicari dengan


menggunakan rumus :
I=

. .

Maka arus busbarnya :


Ibusbar = 1,5 x I No min at

Hasil yang didapat disesuaikan dengan table Kemampuan Hantaran Arus


(KHA)dari penghantar tembaga.

Tabel 3.1 Pembebanan Penghantar Untuk Tembaga Penampang Persegi Arus

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

43

Laporan Kerja Praktek


Bolak-Balik.

3.6.4 Kabel
Kabel memegang peranan yang penting dalam instalasi listrik,karena kabel
dipakai sebagai penghantar arus listrik mulai dari sumber tenaga listrik sampai ke
beban listrik terpasang.Selain sebagai penghantar arus listrik,kabel juga harus
memiliki kemampuan sebagai isolator bagi kabel itu sendiri mengingat arus listrik
yang melaluinya dapat membahayakan mahluk hidup.Sebagai bhan penghantar
umtuk kabel listrik digunakan tembaga atau aluminium dengan luas penampang
hantaran kabel dengan penghantar tembaga atau aluminium yang dibakukan dapat
dilihat pada table.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

44

Laporan Kerja Praktek


Pada Republik Indonesia,kabel berurat banyak yang dibuat,menggunakan
dua system kode untuk warna uratnya,yaitu system I dengan urat berwarna
majemuk hijau-kuning,dan system O tanpa urat hijau kuning.
Warna majemuk hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk hantaran
pengaman.Warna biru hanya boleh dipakai untuk hantaran netral,kecuali pada
instalasi tanpa hantaran netral atau kawat tengah tapi tidak untuk hantaran
pengaman.Warna-warna hitam,kuning dan merah disediakan untuk hantaran phasa
warna-warna ini tidak boleh digunakan untuk hantaran pengaman atau hantaran
netral.
Beberapa criteria yang juga harus diperhatikan dalam pemilihan kabel
instalasi listrik,yaitu :

Electrical,yang meliputi ukuran konduktor,kekuatan listrik,tahanan


isolasi,konstanta dielektrik dan factor daya.

Suhu,menyesuaikan dengan suhu lingkungan dan kondisi saat


kelebihan beban,pengembangan dan tahanan thermal.

Mekanik,yang

meliputi

kekerasan

dan

fleksibilitas,mempertimbangkan ketahanan terhadap kehancuran


dan kelembaban.

Kimiawi,yang

meliputi

stabilitas

dari

bahan

terhadap

api,ozon,oli,cahaya matahari dan bahan kimia.


Dalam perencanaan instalasi listrik ini,jenis kabel yang akan
digunakan adalah kabel instalasi dan kabel tanah.
Kabel Instalasi
1. Kabel Instalasi Terselubung.
Dalam penerapannya pada perencanaan instalasi listrik ini,jenis kabel
instalasi terselubung yang digunakan adalah NYM,NYM memiliki
penghantar tembaga polos berisolasi PVC.
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

45

Laporan Kerja Praktek


Dalam penggunaan NYM berlaku ketentuan-ketentuan berikut ini :

NYM boleh dipasang langsung menempel pada plesteran atau kayu


atau ditahan langsung dalam plesteran,juga diruang lembab atau
basah,di tempat kerja atau gudang dengan bahaya kebakaran atau
ledakan.

NYM juga boleh dipasang langsung pada bagian-bagian lain dari


bangunan,konstruksi,rangka

dan

sebagainya,asalkan

cara

pemasangannya tidak merusak selubung luar kabelnya.


Konstruksi NYM dan kemampuan hantar arus NYM tercantum dalam
table ,dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3.2 Kemampuan Hantar Arus NYM

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

46

Laporan Kerja Praktek

Kabel Tanah
Dalam perencanaan instalasi listrik ini jenis kabel tanah yang digunakan
adalah NYY.Pada prinsipnya susunan NYM.Hanya tebal isolasi dan selubang
luarnya,serta jenis kompon PVC yang digunakan,berbeda.Warna selubang luarnya
hitam.Untuk kabel tegangan rendah,tegangan nominalnya 0.6/1kV,dimana 0.6 kV
adalah tegangan nominal terhadap tanah dan 1 kV adalah tegangan nominal antar
penghantar.Uratnya berjumlah satu sampai dengan lima.Luas penampang
penghantarnya dapat mencapai 240mm atau lebih.
Dalam pemasangan kabel tanah,perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
:

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

47

Laporan Kerja Praktek


1. Kabel tanah yang dipasang dalam tanah harus dilindungi terhadap
kemungkinan terjadinya gangguan mekanis dan kimiawi.
2. Perlindungan terhadap gangguan mekanis pada umumnya dapat diatasi
dengan cara :
Minimum 80 cm dibawah permukaan tanah pada jalan yang dilalui
kendaraan.
Minimum 60 cm dibawah permukaan tanah pada jalan yang tidak
dilalui kendaraan.
Kabel harus dipasang didalam pasir atau tanah yang lembut yang
bebas dari babatuan.Lapisan pasir atau tanah lembut harus
sekurang-kurangnya 5 cm di sekeliling kabel.
Sebagai pelindung tambahan diatas timbunan pasir atau tanah
lembut dapat dipasang beton,batu,atau bata pelindung.
Konstruksi NYY dan kemampuan hantar arus NYY tercantum dalam table
.sebagai berikut :
Tabel 3.3 Kemampuan Hantar Arus NYY

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

48

Laporan Kerja Praktek

Selain hal-hal yang disebutkan sebelumnya,untuk memilih kabel juga


harus diperhatikan besarnya arus yang mengalir pada hantaran itu,yang dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

Arus bolak-balik phasa tiga:


I=

. .

Arus Bolak-balik phasa satu :


I=

.
Arus Kabel :
Ik = Inominal . Faktor Pengaman

Dimana :
Inominal = Arus nominal ()
Ik
= Arus kabel ()
= Daya (watt)

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

49

Laporan Kerja Praktek


V
= Tegangan antar phasa (volt)
Cos = Faktor daya (0,8-0,9)
Safety factor = 1,7
Untuk menentukan besarnya ukuran kabel netral,dapat menggunakan
rumus dibawah ini :
N = 1 2P
Dimana :
N = ukuran kabel netral (

P = Ukuran kabel phasa (

3.6.5 Stop Kontak


Stop kontak berguna untuk menghubungkan instalasi listrik dengan alatalat listrik yang dapat dipindah-pindahkan.
Beberapa ketentuan dalam memasang stop kontak adalah sebagai berikut :

Stop kontak dinding satu phasa harus dipasang sedemikian rupa sehingga
kontak netralnya berada diselah kanan.
Stop kontak dinding yang dipasang kurang dari 1,25m dari atas lantai
harus dilengkapi dengan tutp.
Stop kontak harus dipasang dengan hantaran pengaman.
Pada satu stop kontak hanya boleh dihubungkan satu kabel yang dapat
dipindah-pindahkan.

Kemampuan stop kontak harus sekurang-kurangnya sesuai dengan daya alat yang
dihubungkan padanya,tetapi tidak boleh kurang dari 5A.
3.7 Struktur Diskriminasi Tenaga Listrik

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

50

Laporan Kerja Praktek


3.7.1 Pengertian Struktur Diskriminasi Tenaga Listrik
Dalam perencanaan instalasi tenaga listrik perlu juga diperhatikan struktur
diskriminasi tenaga listrik.Diskriminasi merupakan koordinasi antara karateristik
operasi pemutus sirkit-pemutus sirkit yang dipasang secara seri sehingga bila
terjadi gangguan disisi bawah hanya pemutus sirkit yang terpasang persis diatas
gangguan yang terjadi akan trip.Diskriminasi diperlukan karena masing-masing
level

instalasi

distribusi

tenaga

listrik

membutuhkan

tingkat

keselamatan,keamanan dan ketersediaan yang khusus dan juga merupakan factor


kunci untuk kontinuitas suplai.Pembagian struktur diskriminasi tenaga listrik
untuk masing-masing level dapat dilihat seperti pada gambar berikut :

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

51

Laporan Kerja Praktek


Gambar 3.12 Sistem Diskriminasi Tenaga Listrik
Diskriminasi dapat berupa diskriminasi parsial atau diskriminasi total.Hal
ini dapat terjadi karena pada diskriminasi mengenal adanya nilai arus yang
dikenal dengan limit diskriminasi (Is).Bila arus gangguan (Isc) terjadi pada titik
D2 dipasang,maka hanya D2 yang akan trip bila Isc tidak melebihi Is.Ini
dinamakan diskriminasi total.Bila Isc melebihi Is maka D2 dan DI akan trip.Ini
dinamakan diskriminasi parsial.
3.8 Sistem Cascading
Kaskading membuat pemutus sirkit yang dipasang di sisi bawah
ditingkatkan kapasitas pemutusannya.Pemutus sirkit dengan limitasi akan
membantu pemutus sirkit yang dipasang di sisi bawahnya dengan membatasi arus
hubung pendek.Kaskading memungkinkan penggunaan pemutus sirkit dengan
kapasitas pemutusan yang lebih rendah dari arus hubung pendek.
Daerah aplikasi kaskading :

Terhadap semua gawai yang dipasng pada sisi bawah dari pada
pemutus sirkit.
Dpat diperluas ke beberapa gawai yang berdekatan,walaupun bila
digunakan pada panel hubung bagi yang berbeda.

Standar instalasi (IEC 60364 atau PUIL 2000)menetapkan bahwa gawai sisi atas
harus memiliki kapasitas pemutusan tertinggi Icu lebih tinggi atau sama dengan
arus hubung pendek yang akan ditanggung pada titik instalasinya.Untuk sisi
bawah pemutus sirkit,kapasitas pemutusan tertinggi Icu dibantu untuk
ditingkatkan kapasitas pemutusannya dengan koordinasi kaskading
3.9 Sistem Grounding (Pentanahan)
3.9.1 Pengertian Umum
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

52

Laporan Kerja Praktek


Salah satu factor utama dalam setiap usaha pengamanan rangkaian listrik
adalah pentanahan,Yang dimaksud dengan pentanahan adalah suatu usaha untuk
mengadakan hubungan dengan tanah (bumi) menggunakan penghantar dan
elektroda tanah.Pentanahan yang baik pada substation sangat penting untuk
keamanan

dan

keandalan

operasional

system

tenaga.Apabila

suatu

pengamanan/perlindungan yang baik akan dilaksanakan,maka harus ada system


pentanahan yang dirancang dengan baik dan benar.Agar system pentanahan dapat
bekerja

efektif,harus

memnuhi

persyratan-persyaratan

sebagai

berikut

(Pabla,A.S.p.154):

Membuat jalur impedansi rendah ketanah untuk pengamanan personil dan


peralatan dengan meggunakan rangkaian efektif.
Sistem pentanahan dapat melawan dan menyebarkan gangguan berulang
dan arus akibat surja hubung (surge currents).
Menggunakan bahan korosi terhadap berbagai kondisi kimiawi tanah
untuk meyakinkan kontinuitas penampilannya sepanjang umur peralatan
yang dilindungi.
Menggunakan system mekanik yang kuat namun harus dapat menyalurkan
arus gangguan dengan baik.

Secara umum system pentanahan dibagi atas dua bagian yaitu pentanahan
system dan pentanahan peralatan.Pentanahan system adalah pengadaan
hubungan dengan tanah untuk suatu titik penghantar arus dari suatu
system.Pada umumnya titik tersebut adalah titik netral dari mesin-mesin listrik
arus putar seperti generator,motor dan transformator.Sedangkan pentanahan
peralatan adalah pengadaan hubungan dengan tanah untuk bagian-bagian yang
tidak membawa arus dari system.Bagian-bagian ini adalah semua logam yang
dekat dengan system yang membawa arus.Pentanahan jenis ini berfungsi
sebagai pengaman terhadap kemungkinan kebocoran arus dari suatu system.
3.9.2 Fungsi Pentanahan

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

53

Laporan Kerja Praktek


Pentanahan berfungsi untuk menghubungkan bagian dari peralatan yang
seharusnya tidak dialiri arus listrik dengan suatu massa yang besar.Hal ini
untuk memastikan jika terjadi gangguan maka peralatan yang ditanahkan tidak
akan mempunyai tegangan yang lebih besar dari tegangan pentanahan
3.9.3 Pentanahan Peralatan
Pentanahan peralatan ialah pentanahan bagian dari peralatan yang pada
kerja normal tidak dialiri arus.Adapun tujuan pentanahan peralatan antara lain
sebagai berikut (Hutauruk.T S.p.125):

Untuk membatasi tegangan antara bagian-bagianperalatan yang tidak


dilalui arus dan antara bagian-bagian peralatan dengan tanah sampai
pada suatu harga yang aman (tidak membahayakan)untuk semua
kondisi operasi normal atau tidak normal.
Untuk memperoleh impedansi yang kecil/rendah dari jalan balik arus
hubung singkat ke tanah.

3.9.4 Pentanahan Sistem Tenaga Listrik


Sampai

kira-kira

tahun

1910,system-sistem

tenaga

listrik

tidak

diketanahkan.Hal ini dapat dimengerti karena pada waktu itu system-sistem


tenaga listrik masih kecil,biasanya masih kurang dari 5 Ampere dan dapat padam
sendiri.Tetapi system-sistem tenaga listrik ini makin lama makin besar,baik
panjangnya maupun tegangannya.Dengan demikian jika ada gangguan maka arus
yang timbul semakin besar serta munculnya gejala-gejala busur tanah atau arcing
grounds.Gejala ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan transient
overvoltage yang tinggi dan dapat merusak peralatan.
Oleh karena itu mulai tahun 1910-an titik netral dari system-sistem tenaga
listrik itu diketanahkan melalui tahanan atau reaktansi.Pentanahan system tenaga
listrik adalah pengadaan hubungan dengan tanah untuk suatu titik penghantar arus
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

54

Laporan Kerja Praktek


dari suatu system.Pada umumnya titik tersebut adalah titik netral dari mesinmesin listrik arus putar seperti generator,motor dan transformator
3.9.5 Jenis Pembumian Sistem
Sistem TN (Sistem Pembumian Netral Pengaman)
Sistem tenaga listrik TN mempunyai satu titik yang dibumikan
langsung.Bagian Konduktif Terbuka (BKT) instalasi dihubungkan ke titik tersebut
oleh penghantar proteksi.
Ada tiga jenis system TN sesuai dengan susunan penghantar netral dan
penghantar proteksi yaitu sebagai berikut:
1. Sistem TN-S : Dimana digunakan penghantar proteksi terpisah diseluruh
system

Gambar 3.13 Sistem TN-S


2. Sistem TN-C-S : Dimana fungsi netral dan fungsi proteksi tergabung
dalam penghantar tunggal disebagian system.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

55

Laporan Kerja Praktek

Gambar 3.14 Sistem TN-C-S


3. Sistem TN-C : Dimana fungsi netral dan fungsi proteksi tergabung dalam
penghantar tunggal diseluruh system

Ganbar 3.15 Sistem TN-C


Penjelasan lambing :

Gambar 3.16 Penjelasan Lambang


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

56

Laporan Kerja Praktek


Sistem TT (Sistem Pembumian Pengaman)
Sistem tenaga listrik TT mempunyai satu titk yang dibumikan
langsung.Bagian Konduktif Terbuka (BKT)instalasi dihubungkan ke electrode
bumi yang secara listrik terpisah dari electrode bumi system tenaga listrik.

Gambar 3.17 Sistem TT


Sistem IT (Sistem Penghantar Pengaman)
Sistem tenaga listrik IT mempunyai semua bagian aktif yang diisolasi dari
bumi,atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedans.Bagian
Konduktif Terbuka (BKT) instalasi listrik dibumikan secara independent atau
secara kolektif atau ke pembumian system.

Gambar 3.18 Sistem IT


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

57

Laporan Kerja Praktek


3.9.6 Jenis Elektroda Bumi
Elektroda bumi berdasarkan jenisnya dapat dibagi sebagai berikut :
1) Elektrode pita,ialah electrode yang dibuat dari penghantar berbentuk pita
atau berpenampang bulat,atau penghantar pilin yang pada umumnya
ditanam secara diangkal,Elektrode ini dapat ditanam sebagai pita
lurus,radial,melingkar,jala-jala atau kombinasi dari bentuk tersebut.

Gambar 3.19 Cara Pemasangan Elektrode Pita


2) Elektrode batang ialah electrode dari pipa besi,baja profil,atau
batamg logam lainnya yang dipancangkan kedalam tanah.
3) Elektrode pelat,ialah electrode dari bahan logam utuh atau
berlubang.Pada umumnya elektride palat ditanam secara dalam.
4) Elektrode lainnya yaitu jaringan pipa air minum dari logam dan
selubung logam kabel yang tidak diisolasi yang langsung ditanam
dalam tanah,besi tulang beton atau konstruksi baja bawah tanah
lainnya.
3.9.7 Luas Penampang Penghantar Proteksi
Luas penampang penghantar proteksi tidak boleh kurang dari nilai yang
tercantum dalam table.Jika penerapan table menghasilkan ukuran yang tidak
standar,maka dipergunakan penghantar yang mempunyai luas penampang standar
terdekat.
Tabel 3.4 Luas Penampang Minimum Penghantar Proteksi

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

58

Laporan Kerja Praktek

Nilai dalam table hanya berlaju jika penghantar proteksi dibuat dari bahan
yang sama dengan penghantar phasa.Jika bahannya tidak sama,maka luas
penampang yang mempunyai konduktans yang ekivalen dengan hasil dari table.

3.10 Arester (Penangkap Petir)


3.10.1 Pendahuluan
Di alam sekitar kita petir terjadi pada awan yang mulai membesar menuju
awan badai.Petir terlihat sebagai lompatan bunga api raksasa yang karena begitu
besarnya maka ketika melesat menyebabkan badan awan menjadi terang
benderang.Suara guruh yang terdengar ketika terjadi petir disebabkan oleh
gesekan antara muatan dari awan yang berkecepatan dan berenergi tinggi dengan
udara disekitarnya.Gesekan menyebabkan temperature udara pada lintasan yang
dilalui menjadi tinggi dalam waktu yang sangat cepat,sehingga udara
mengembang dengan cepat dan molekulnya saling bertabrakan menyebabkan
bunyi keras.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

59

Laporan Kerja Praktek


3.10.2 Parameter dan Karateristik Gelombang Surja Petir
Parameter dan karateristik surja petir terdiri atas besar arus dan tegangan
petir,kecepatan pembangkit serta bentuk gelombang petir tersebut.
3.10.3 Akibat yang Ditimbulkan oleh Sambaran Petir
Petir bias menimbulkan bermacam-macam gangguan yang tidak hanya
membahayakan peralatan namun juga bias mengancam keselamatan jiwa manusia
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Gangguan pada Jaringan dan Instalasi Listrik
Gangguan jenis ini dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu sambaran petir
mengenai kawat tanah dan sambaran petir mengenai kawat fasa.
Sambaran petir langsung mengenai kawat tanah dapat mengakibatkan hal-hal
sebagai berikut:

Terputusnya kawat tanah.


Arus yang besar menyebabkan panas yang tinggi pada kawat tanah yang
dapat melampui kekuatan kawat untuk menahannya.

Naiknya potensial kawat tanah yang diikuti oleh blackflashover ke kawat


fasa.Pada saat terjadi sambaran pada kawat tanah,dengan cepat
potensialnya main mencapai nilai yang cukup tinggi sehingga dapat
mengakibatkan lompatan muatan listrik ke kawat fasa di dekatnya.

Naiknya potensial pentanaahan menaara transmisi yang menyebabkan


bahaya tagangan langkah.
Pada saat petir menyambar permukaan tanah,sejumlah arus petir
dilepaskan ke bumi.Jika seorang berdiri didekat titik di mana terjadi
sambaran,timbul beda potensial antara kakinya.Beda potensial ini akan
mengakibatkan arus mengalir melewati kaki dan mengalir kke

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

60

Laporan Kerja Praktek


badan.Meskipun kecil,tetapi arus ini jika mengenai organ vital seperti
otak,jantung dan paru paru akan mengakibatkan kematian.
Jika dikenal ada tegangan langkah,ada juga tegangan yang disebut
tegangan sentuh yang terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang
dialiri arus.Pada peralatan yang tidak ditanahkan arus tersebut akan
mengalir lewat tubuh orang itu.Sambaran langsung menenuhi kawat fasa
mengakibatkan kenaikan tegangan tinggi pada kawat fasa.Kenaikan
tegangan yang cukup

tinggi ini dapat menyebabkan pecahnya

isolator,kerusakan trafo tenaga,dan pecahnya arrester.


Gangguan Petir pada Peralatan Elektronika dan Listrik
Sambaran petir pada suatu struktur bangunan maupun saluran transmisi
data mengakibatkan kerusakan pada peralatan elektronika,peralatan control,dan
telekomunikasi berdasarkan jenis sambarannya dibedakan menjadi kerusakan
akibat sambaran langsung dan kerusakan akibat sambaran tidak langsung.

Kerusakan akibat sambaran langsung


Kerusakan ini terjadi karena sambaran petir mengenai suatu struktur
bangunan dan merusak bangunan tersebut sekaligus peralatan elektronika yang
ada di dalamnya.Kerusakan yang diakibatkan dapat berupa kebakaran
gedung,keretakan

pada

dinding

bangunan,kebakaran

pada

peralatan

elektronik,control telekomunikasi,jaringan data dan sebagainya.


Kerusakan akibat sambaran tidak langsung
Kerusakan jenis ini terjadi karena petir menyambar suatu titik lokasi
misalnya pada suatu menara transmisi atau menara telekomunikasi kemudian
terjadi hambatan secara induksi melalui kabel aliran listrik,kabel telekomunikasi
atau peralatan lain yang bersifat konduktif sampai jarak tertentu yang tanpa
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

61

Laporan Kerja Praktek


disadari telah merusak peralatan elektronik yang jaraknya jauh dari lokasi
sambaran semula.
Mekanisme induksi karena secara tidak langsung sambaran petir menyebabkan
kenaikan potensial pada peralatan elektronika dijelaskan sebagai berikut :

Kopling Resistif
Ketika permukaan bangunan terkena sambaran petir,arus yang
mengalir ke dalam tanah mengakibatkan tegangan yang bias
mencapai ribuan volt diantara tegangan suplai 220 V,jaringan data
dan pentanahan.Hal ini menyebabkan sebagian arus mengalir pada
bagian penghantar luar misalnya kabel yang terhubung dengan
bangunan dan terus menuju ke pembumian.

Gambar 3.20 Kopling Resistif

Kopling Induksi.
Arus petir mengalir dalam suatu penghantar akan menghasilkan
medan

magnet.Medan

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

magnet

akan

berhubungan

dengan

62

Laporan Kerja Praktek


penghantar lainnya sehingga meyebabkan terjadinya loop tegangan
dengan nilai tegangan yang cukup tinggi.

Gambar 3.21 Kopling Konduksi

Kopling Kapasitif.
Saluran petir dekat sambaran petir dapat menyebabkan medan
kapasitif yang tinggi pada peralatan penghantar seperti suatu
kapasitor

yang

sangat

besar

dengan

udara

sebagai

dielektriknya.Melalui cara ini terjadi kenaikan tegangan tinggi


pada kabel meskipun bangunan tidak terkena sambaran.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

63

Laporan Kerja Praktek

Gambar 3.22 Kopling Kapasitif.

3.10.4 Kebutuhan Bangunan akan Perlindungan terhadap Samabaran Petir


Suatu instalasi proteksi petir harus dapat melindungi semua bagian dari
suatu bangunan,termasuk manusia dan peralatan yang ada didalamnya terhadap
bahaya dan kerusakan akibat sambaran petir.Berikut ini akan dibahas cara
penentuan besarnya kebutuhan bangunan akan proteksi petir menggunakan
beberapa standar yaitu Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir,Nasional Fire
Protection Association 780,International Electrotecnical Commision 1024 1 -1.

Kebutuhan Bangunan akan Perlindungan terhadap Sambaran Petir


Berdasarkan Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir.
Jenis bangunan yang perlu diberi penangkal petir dikelompokan menjadi :

Bangunan bangunan tinggi seperti gedung bertingkat,menara dan


cerobong pabrik.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

64

Laporan Kerja Praktek

Bangunan bangunan penyimpanan bahan yang mudah terbakar atau


meledak

misalnya

pabrik

amunisi,gudang

bahan

peledak,gudang

penyimpanan cairan,atau gas yang mudah terbakar.

Bangunan bangunan untuk kepentingan umum misalnya gedung


pertunjukan,gedung sekolah,stasiun dan sebagainya.

Bangunan bangunan yang mempunyai fungsi khusu dan nilai estetika


yang perlu dilindungi misalnya museum,gedung yang menyimpan arsip
arsip Negara,dan sebagainya.
Besarnya kebutuhan suatu bangunan akan suatu instalasi proyeksi petir
ditentukan oleh besarnya kemungkinan kerusakan serta bahaya yang
terjadi jika bamgunan tersebut tersambar petir.Berdasarkan Peraturan
Umum Instalasi Penangkal Petir besarnya kebutuhan tersebut ditentukan
berdasarkan penjumlahan indeks indeks tertentu yang mewakili keadaan
bangunan disuatu lokasi dan dituliskan sebagai :
R=A+B+CD+E
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai indeks
semakin besar pula resiko ( R ) yang ditanggung suatu bangunan sehingga
semakin besar kebutuhan bangunan akan system proteksi petir.Indeks
indeks perkiraan bahaya petir ditunjukan dalam table-tabel berikut ini.

Tabel 3.5 Bahaya Berdasarkan Jenis Bangunan

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

65

Laporan Kerja Praktek

Dengan memperhatikan keadaan ditempat yang hendak dicari tingkat resikonya


dan kemudian menjumlahkan indeks indeks tersebut diperoleh suatu perkiraan
bahaya yang ditanggung bangunan dan tingkat pengaman yang harus diterapkan
Tabel 3.6 Perkiraan Bahaya Sambaran Petir Berdasarkan PUIPP

Kebutuhan Bangunan akan Perlindungan terhadap Sambaran Petir


Untuk keperluan perhitungan yang lebih terperinci digunakan standar IEC 1024-11,berdasarkan standar ini,pemilihan tingkat proteksi yang memadai untuk suatu system
proteksi petir didasarkan pada frekwensi sambaran petir langsung setempat (Nd ) yang
diperkirakan ke struktur yang diproteksi dan frekwensi sambaran petir tahunan setempat (

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

66

Laporan Kerja Praktek


Nc ) yang diperbolehkan.Kerapatan kilat petir ke tanah atau kerapat sambaran petir ke
tanah rata-rata tahunan di daerah tempat suatu struktur berada dinyatakan sebagai :
Ng = 0,04.IKL/Km/tahun
Dimana IKL adalah Isokeramic level di daerah tempat struktur yang akan diproteksi.
Nd = Ng . Ae . 10/tahun
Dimana Ae adalah area cukupan dari struktur (m) yaitu daerah permukaan tanah yang
dianggap sebagai struktur yang mempunyai frekwensi sambaran langsung tahunan.Daerah
yang diprioteksi adalah daerah di sekitar struktur sejauh 3h dimana h adalah tinggi struktur
yang diproteksi.
Contoh penentuan Ae ditunjukan sebagai berikut :

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

67

Laporan Kerja Praktek

Gambar 3.23 Penentuan Area Cakupan Struktur (Ae)


Pengambilan keputusan perlu atau tidaknya memasang system proteksi petir pada
bangunan berdasarkan perhitungan Nd dan Nc dilakukan sebagai berikut:
1. Jika Nd < Nc tidak perlu system proteksi petir.
2. Jika Nd > Nc diperlakukan system proteksi dengan efisiensi:
E > 1-Nc/Nd
3.10.5 Sistem Proteksi terhadap sambaran petir
Berdasarkan International Electrotechnical Commision TC 81,system proteksi
yang sempurna harus terdiri dari 3 bagian yaitu proteksi eksternal,proteksi internal.
Proteksi Eksternal
Yang disebut proteksi eksternal adalah instalasi dan alat-alat diluar struktur untuk
menagkap dan menghantarkan arus petir ke system pembumian.Dengan kata lain,proteksi

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

68

Laporan Kerja Praktek


eksternal berfungsi sebagai ujung tombak penangkap muatan listrik dan arus petir di tempat
tertinggi.
1. Terminasi udara (air termination)
Terminasi udara adalah bagian system proteksi petir eksternal yang di
khususkan untuk menangkap sambaran petir,berupa elektroda logam,yang
dipasang secara tegak maupun mendatar .Penangkap petir ditempatkan dengan
sedemikian rupa sehingga mampu menangkap semua petir yang mengenainya
tanpa mengenai bagian yang dilindungi.
Finial adalah penangkap petir berupa batang pendek yang dipasang pada
bangunan atap datar khususnya yang menggunakan instalasi penangkal petir
sangkar Faraday (Faraday cage).Finial yang dipasang pada penghantar mendatar
harus mempunyai jarak maksimum antara 2 finial yang berdekatan sebesar 5 meter
dengan tinggi finial minimum 0,2 meter.Penghantar-penghantar mendatar harus
dipasang sepanjang tepi,sudut sudut dan bagian runcing dari tepi atap.Bila pada
atap terdapat bagian yang menonjol,bagian yang menonjol tersebut harus
dilindungi dengan penghantar mendatar atau dilengkapi dengan penangkal petir
batang pendek.
Pada perancang system terminasi udara ada 3 metode yang digunakan
untuk menentukan penempatan terminasi udara sekaligus untuk mengetahui
daerah proteksi.
Metode tersebut adalah :
Metode Jala
Metode ini digunakan untuk keperluan perlindungan pemukulan
yang datar karena bias melindungi seluruh permukaan bangunan. Daerah
diproteksi adalah keseluruhan daerah yang ada didalam jala-jala.Permukaan
samping pada struktur yang tingginya lebih dari radius bola bergulir,yang

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

69

Laporan Kerja Praktek


sesuai dengan tingkat proteksi yang dipilih harus dilengkapi system
terminasi udara.
Dimensi jala pada system terminasi udara tidak boleh lebih dari
harga yang sesuai dengan tingkat proteksi yang dipilh.Ukuran jala sesuai
tingkat proteksi yang dipilih tersebut dapat dilihat pada 2.18.Pada umumnya
digunakan ketentuan bahwa ukuran jala (mesh) adalah 5 sampai 20
meter.Penghantar terminasi udara harus dipasang khususnya pada tepi
atap,garis hubungan atap atau pada menara di atap.Penghantar terminasi
udara harus menggunakan lintasan sependek mungkin dan langsung menuju
ke system terminasi pembumian supaya induktansinya bias sekecil
mingkin.Tinggi batang penangkap petir (rods) yang digunakan antara 2-3
meter.Selain batang terminasi udara yang mendatar,juga digunakan finial
dengan tinggi minimum 0,2 meter dan jarak finial tidak lebih dari 5 meter.
3.11 Armatur Dan Lampu
Armatur adalah luminair tanpa lampu.Luminair adalah unit penerangan
lengkap,terdiri atas satu lampu atau lebih dengan bagian yang dirancang untuk
mendistribusikan cahaya,dan menempatkan,melindungi,serta menghubungkan
lampu ke suplai daya.
Lampu adalah salah satu sumber cahaya yang menggunakan energy listrik
untuk pengoperasiannya.
Lampu
Sumber-sumber cahaya modern dapat dibagi atas dua kelompok utama
berikut ini :
A. Pemancar Suhu
Saat ini satu-satunya pemancar suhu listrik yang masih dipergunakan ialah
lampu pijar.Cahaya lampu pijar dibangkitkan dengan mengalirkan arus
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

70

Laporan Kerja Praktek


listrik dalam suatu kawat halus.Dalam kawat ini energy listrik diubah
menjadi panas dan cahaya.

Gambar 3.24 Lampu Pijar


B. Lampu Tabung Gas
Lampu-lampu tabung gas terdiri dari tabung berbagai bentuk yang diisi
dengan gas dan uap logam.Kalau tabungnya dalam keadaan
dingin,logamnya berada dalam bentuk titik-titik logam atau dalam bentuk
padat.Pada masing-masing ujung tabung terdapat sebuah electrode dengan
bentuk tergantung pada tabung.

Gambar 3.25 Lampu Tabung Gas


Pada perencanaan instalasi listrik pada pabrik coklat ini,armature yang
dipakai adalah armature yang cocok untuk kegiatan industry/pabrik yaitu yang
mempunyai :

Sifat penerangannya untuk penerangan langsung.


Penggunaannya untuk penerangan industry/pabrik dan penerangan dalam.
Cara pemasangannya adalah armature langit-langit.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

71

Laporan Kerja Praktek


Berdasarkan beberapa criteria diatas maka armature yang cocok adalah armatur
palung,dan berdasarkan armature yang dipakai maka lampu yang dipakai adalah
lampu tabung flouresen yang dipasarkan oleh Philips dengan kode TL.
3.12 Air Conditioner (AC)
3.12.1 Kenyamanan Ruangan
Kenyamanan temperature menurut ASHRAE (The American Society of
Heating,Refrigerating,and Air Conditioner Engineers)adalah 21 C (70F) 29,5 C
(85 F).di Indonesia juga terdapat standart umum yang digunakan untuk
menentukan temperature yang nyaman,yang digunakan dalam suatu ruangan.Di
Indonesia standar ini dikeluarkan oleh SNI (Standar Nasional Indonesia)yaitu
sebesar:25C 1 C dengan kelembaban relative 60%10%.
3.12.2 Kenyamanan Kelembaban
Studi mengenai kesehatan manyatakan bahwa control kelembaban
merupakan salah satu factor yang penting dalam penggunaan AC.Control
kelembaban ini digunakan untuk menjaga kelembaban relative AC disuatu
ruangan pada suatu level tertentu.Kelembaban adalah istilah yang digunakan
menunjukan presentasi kadar uap airdi udara.Kelembaban udara ini bergantung
pada temperature udara.Udara yang panas atau mengandung uap air lebih banyak
dari pada udara dingin.Kelembaban udara mempengaruhi rata-rata penguapan dari
tubuh manusia.
Kelembaban relative/relative humidity (rh) ratio atau perbandingan dari
jumlah uap air di udara dengan jumlah uap air yang paling baik pada temperature
sama.Kelembaban relative dimana manusia merasa nyaman adalah 30% - 70 %
dari jumlah total uap air di udara.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

72

Laporan Kerja Praktek


Dalam menentukan standar kenyamanan,pada umumnya system pendingin
menggunakan Pschyrometer Chart ini memberikan gambaran tentang kondisi
temperature dan kelembaban relative dimana manusia merasa nyaman.
3.12.3 Standar Kenyaman
Menurut ASHRAE,kondisi kenyamanan ruangan yang sehat adalah
sebagai berikut:
Ducting atau saluran udara,berfungsi untuk mengalirkan ke udara ke
tempat yang dikehendaki pengaturan suhunya secara terprogram.
Pipa kondesat,berfungsi mengalirkan kondensasi dari evaporator secara
gravitasi kearah pembuangan yang direncanakan.
Humidistas,berfungsi untuk mengatur kelembaban udara.
SAD (Supply Air Different),merupakan kisi-kisi tempat udara keluar dari
mesin atau duct dan memasuki ruangan yang akan diatur suhunya.
RAF (Return Air Grille),merupakan kisi-kisi tempat udara ruang kembali
terhisap ke unit AC untuk diambil panasnya
3.12.4 Klasifikasi Dari Sistem Pendingin
Klasifikasi AC Berdasarkan Penggunaannya
a. Ac yang digunakan untuk kenyamanan dalam suatu ruangan.Tujuan
system ini adalah untuk menciptakan kondisi atmosfer yang stabil untuk
kesehatan manusia,kenyamanan dan efisiensi.Sistem AC ini digunakan
dirumah,kantor,sekolah dan lain sebagainya.
b. AC yang digunakan dalam Industri.Tujuan dari system ini adalah
mengontrol kondisi atmosfer secara tepat untuk penelitian dan operasi
pabrik.Sistem ini digunakan dalam industry computer,pabrik
permen,proses photo,dan lain sebagainya.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

73

Laporan Kerja Praktek


Klasifikasi AC Berdasarkan Jenis Mesinnya
a. AC Window
Ac jenis ini merupakan pendingin yang relative murah untuk
kapasitas
kecil,mudah
digunakan,dan
mudah
pemasangannya.Kelembaban dari AC ini adalah penggunaannya
yang
cenderung
menimbulkan
kebisingan
di
dalam
ruangan.Pendingin jenis ini cocok digunakan untuk ruangan kecil.
b. Sistem Split
Sistem ini telah banyak berkembang dan dipakai secara
meluas.Keuntungan dari system split ini antara lain:

Biaya yang dikeluarkan relative murah.

Sistem ini tidak menimbulkan kebisingan didalam ruangan.

AC split memberikan kenyamanan ruangan yang sama


dengan AC window.
Untuk penggunaan system split di mal,perkantoran,plaza
dan gudang,penggunaan unit ini compressor doletakan di
atap untuk mengurangi kebisingan diluar ruangan.Cara lain
yang dapat digunakan antara lain dengan memasang banyak
unit

compressor

dengan

kemampuan

kecil

untuk

mendinginkan ruangan secara spesifik.


c. AC Split Duct
Sistem AC ini sama dengan AC split,namun untuk mengalirkan
udara

dingin

dibantu

dengan

system

ducting,sehingga

jangkauannya dapat lebih luas dan merata


d. AC Sentral Air Dingin Berpendingin Air.
Air dingin pada system ini dialirkan ke AHU (Air Handing
Unit),ducting dan fan coil unit.Mesin pendingin air diletakkan di
tempat terbuka.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

74

Laporan Kerja Praktek

BAB IV
SISTEM KELISTRIKAN PADA
TOWER SMART
4.1.Pendahuluan
Tower telekomunikasi milik smart tell ini berada di Semampir
,mempunyai daya 13,2 Kw dan mempunyai ketinggian 42 meter,tower ini
melayani kebutuhan telekomunikasi berbasis CDMA.

Tower ini mempunyai beberapa peralatan yang ada dalam shelter dan dua
panel yang berada didalam shelter dan diluar shelter,dimana panel yang berada di
luar shelter adalah panel untuk KwH meter dan yang didalam untuk menghandle
beban yang ada di dalam shelter.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

75

Laporan Kerja Praktek


Gambar 4.1 Tower Telekomunikasi milik Smart Tell

4.2. Rincian Peralatan pada Tower Telekomunikasi Smart Tell


Ada beberapa peralatan yang terdapat pada tower telekomunikasi milik
Smart Tell antara lain :

Bagian luar shelter


o Lampu Mercuri 2 buah
o Lampu OBL 1 buah

Bagian dalam shelter


o Lampu TL 6 buah
o AC 2 buah
o DC van 1 buah
o ZTE rectifier 1 buah
o ZTE base transceiver station 1 buah
o Alarm

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

76

Laporan Kerja Praktek

Gambar 4.2 Sistem kelistrikan pada BTS.


4.3. Panel pada Tower Telekomunikasi Smart Tell
Tower ini mempunyai bebrapa peralatan yang ada didalam shelter dan dua
buah panel yang berada didalam shelter dan diluar shelter,dimana panel yang
berada diluar shelter adalah panel untuk KwH meter dan yang didalam untuk
manghandle beban yang ada didalam shelter.

Peralatan yang dihandle oleh panel bagian luar


o Lampu Mercuri 2 buah
o Lampu OBL 1 buah
o Switch untuk genset
o Arester
o Kwh-Meter

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

77

Laporan Kerja Praktek

Gambar 4.3 Panel Bagian Luar shelter.

Peralatan yang di handle oleh panel bagian dalam


o Lampu TL 6 buah
o AC 2 buah
o ZTE rectifier 1 buah
o ZTE base transceiver station 1 buah
o Spare
o Outlate
o FAP
o AC control

Untuk outlet dan FAP pengaman terpasang pada panel tetapi masih belum
terhubung dengan beban,sedangkan AC control digunakan untuk menyalakan AC
secara bergantian melalui timer dengan suhu sebagai sensornya

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

78

Laporan Kerja Praktek

Gambar 4.4 Panel Bagian Dalam Shelter.

4.4. Pengukuran Pada Peralatan Yang terdapat Pada Shelter


Pada tugas akhir ini telah dilakukan pengukuran untuk nantinya dapat
dibandingkan dengan perhitungan manual dan software,adapun pengukuran yang
dilakukan meliputi Daya (Watt),Tegangan (Volt),Arus (Ampere) dengan
menggunakan alat-alat pengukuran seperti watt meter,tang ampere,voltmeter.
Pada Praktek Industri kali ini juga dilakukan pencatatan name plate dan
pengukuran jarak peralatan.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

79

Laporan Kerja Praktek

Gambar 4.5 Alat alat Pengukuran.


Berikut adalah table yang dibuat dari hasil pengukuran,diantara table
table tersebut terdapat bagian-bagian yang kosong,hal ini dikarenakan panel
disusun dengan sangat rapi sehingga alat ukur tidak dapat menjangkaunya karena
tempatnya yang terlalu sempit.

Tabel 4.1 Pengukuran Tegangan

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

80

Laporan Kerja Praktek

Tabel 4.2 Pengukuran Daya.


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

81

Laporan Kerja Praktek

Tabel 4.3 Name plate dan Peralatan


Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

82

Laporan Kerja Praktek

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

83

Laporan Kerja Praktek


Tabel 4.4 Pengukuran Pada Peralatan.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

84

Laporan Kerja Praktek

Tabel 4.5 Jarak Pada Peralatan

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

85

Laporan Kerja Praktek

Tabel 4.6 Pengukuran Arus.

4.5 Presentase Pengukuran dan Name Plate Beban Terpasang


Peralatan yang terdapat pada tower Smart Telecom saat ini belum
terpasang seluruhnya sehingga perlu dilakukan pengukuran secara langsung
dilokasi untuk mengetahui berapa persentase antara pengukuran dan name plat
beban yang terpasang

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

86

Laporan Kerja Praktek

Tabel 4.7 Presentase Pengukuran dan Name Plate Beban Terpasang

Tabel 4.8 Presentase Pengukuran dan Name Plate Beban Terpasang(sambungan)

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

87

Laporan Kerja Praktek


Setelah mengetahui rating breaker dan arus short circuit pada table 4.2 dan
4.3 maka kita dapat menentukan spesifikasi breaker yang sesuai dengan rating
tersebut.Untuk kapasitas kA pada breaker yang terkecil adalah 4 ka.
4.6 Grounding.
Pada tower telekomunikasi milik Smart Telecom grounding yang
digunakan menggunakan system T-N,dimana netral dan grounding peralatan
dijadikan satu dalam sebuah grounding bar baru kemudian ditanam dalam
tanah,sedangkan untuk pembumian menggunakan system parallel dimana semua
peralatan yang akan dibumikan seperti : peralatan pada tower,internal grounding
bar,external grounding bar,dan lain-lain dihubungkan secara parallel dengan
kabel,hal ini cukup efektif karena dengan mempararlelkan grounding tersebut
maka arus akan lebuh kecil sehingga dapat melewati elektroda pembumian
dengan mudah terutama untuk arus yang mempunyai kapasitas cukup besar
seperti petir.
4.7 Base Transceiver Station (BTS)

BTS adalah tempat dari radio transceiver yang menangani radio link
protokol dengan mobil station,untuk perangkat pada BTS terdiri dari antena
pemancar,antena penerima dan pemroses sinyal untuk interface.Pada umumnya
alat-alat tersebut menggunakan supply DC yang bekerja pada range -43,2V
sampai -55,2 V.Alat-alat tersebut dijalankan melalui server sesuai dengan
provider masing-masing misalnya : nokia=telkomsel,siemens-indosat dan lainlain.
BTS membutuhkan suplly listrik dari PLN untuk menjalankan peralatanperalatan yang dibutuhkan seperti komputer,pembagian ditribusi jaringan,dan
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

88

Laporan Kerja Praktek


peralatan umum lainnya seperti AC,lampu,system emergency.Semuanya itu diatur
dalam sebuah rumah yang bisa disebut shelter.Pada shelter tersebut dilengkapi
oleh genset untuk mengantisipasi jika terjadi pemadaman listrik dari PLN.Tower
yang terdapat gensetnya biasanya adalah main tower (Tower Utama) sebagai
pusat yang mengcover tower-tower disekitarnya.Jadi main tower tersebut tidak
boleh mati karena akan membuat jaringan didaerah tersebut mati total.Untuk
suplly listrik pada tower utama 23-26 KVA sedangakan untuk yang bukan
tower utama 13=16 KVA.

Desain kelistrikan yang sudah ada sekarang diragukan keefisiennya karena

itu perlu dikaji dan dihitung ulang,dimulai dengan pembuatan atau mendesain
suatu instalasi yang efisien baik secara teknis dan materi.Mulai dari penarikan
kabel dari trafo tiang (diharapkan tidak terlalu jauh karena bias menimbulkan drop
tegangan),penentuan panel listrik,penentuan kabel serta grounding (pentanahan)
selain itu instalasi harus diperhatikan juga tata letak peralatannya agar
memudahkan untuk maintenance.
Untuk pengaman terhadap samabaran petir kita harus memperhatikan
pemilihan arrester(karena BTS bekerja tidak pada tegangan yang tinggi seperti
transmission

line

atau

SUTT

jadi

dapat

dipilih

sesuai),pemasangannya,isolasi kabel dan pentanahannya.


Prinsip Kerja Tower Adalah Sebagai Berikut:

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

arrester

yang

89

Laporan Kerja Praktek

4.8 Penangkal Petir


Berdasarkan Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir besarnya kebutuhan
tersebut ditentukan berdasarkan penjumlahan indeks-indeks tertentu yang mewakili
keadaan bangunan disuatu lokasi dan dituliskan sebagai :
R = A + B +C + D + E (rumus 2.17)
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai indeks semakin besar pula
resiko ( R ) yang ditanggung suatu bangunan sehingga semakin besar kebutuhan bangunan
akan system proteksi petir.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

90

Laporan Kerja Praktek


R = 2 + 1 + 6 + 0 +7 = 16 (lihat table 10 14)maka proteksi petir untuk bangunan
tower ini sangat mutlak dilakukan.
Sedangkan untuk amalisa jarak antara instalasi penangkal petir dengan bendabenda logam yang berada disekitarnya adalah : D

R, Pada tower milik smart tell

didekatnya terdapat tiang lampu taman setinggi 10 meter dengan jarak 0,5 meter.

Jadi dapat dilihat bahwa antara tower dan lampu taman dapat terjadi bahaya denyar

(flash over)sedangkan dengan shelter relative aman karena jaraknya 4 meter

4.8.1 Pemilihan Arester


Dalam memilih arrester yang sesuai untuk suatu keperluan tertentu,bebrapa factor harus
diperhatikan yaitu :
Kebutuhan perlindungan : hal ini berhubungan dengan kekuatan isolasi
dari alat yang harus dilindungi dan karakter implus dari arrester
Tegangan system : adalah tegangan maksimum yang mungkin timbul
pada jepitan arrester
Arus hubung singkat : ini hanya diperlukan pada arrester jenis expulsi
Jenis arrester : apakah arrester jenis gardu,jenis saluran atau jenis distribusi
Faktor kondisi luar : apakah normal atau tidak normal (2000 meter atau
lebih diatas permukaan laut)
Faktor ekonomi : factor ekonomi ialah perbandingan antara ongkos
pemeliharaan dan kerusakan bila tidak ada arrester,atau jika terdapat
arrester tapi dengan mutu yang rendah

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

91

Laporan Kerja Praktek


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan Saran
1. PT. Triyasa Geokomunindo yang terletak di Jln.Krukan Timur-Surabaya
merupakan stasiun transmisi yang dimiliki PT. Smart Telecom ini memerlukan
perencanaan yang matang untuk menghasilkan suatu sistem jaringan
telekomunikasi internasional yang handal dalam berbagai aspek yang perlu
dipertimbangkan dalam perencanaan untuk mendukung terciptanya kualitas
pelayanan.
2. Aspek-aspek implementasi jaringan sistem intemasional di PT. Triyasa
Geokomunindo Surabaya tentunya tidak terlepas dari dukungan tiga faktor yaitu
: Perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan perangkat manusia
(brainware). Dimana ketiga faktor tersebut harus memerlukan sistem manajemen
yang terpadu agar menghasilkan mutu layanan yang handal.
3. Rutinitas monitoring beberapa perangkat yang modern di PT. Triyasa
Geokomunindo Surabaya khususnya sistem pengaman harus selalu dalam
perencanaan yang matang dan tetap mengedepankan kerjasama yang solid,
profesionalisme dan disiplin yang kuat.
5.2 Saran
1. Jarak antara tower dan lampu taman terlalu dekat sehingga dapat
menimbulkan bahaya denyar,sedangkan jarak antara tower dan peralatan
dalam shelter relative aman karena jaraknya 4 meter

2. Hasil cetakan agar lebih ditingkatkan lagi supaya kebutuhan Customer


akan tetap terjaga dengan baik.
3. Peningkatan mutu kerja, keselamatan dan kesehatan kerja. Sehingga dapat
tercapai kinerja yang optimal. Dengan pengadaan pelatihan maupun
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

92

Laporan Kerja Praktek


kursus bagi para pegawai, yang berhubungan dengan peningkatan SDM
dan optimalisasi kinerja.
4. Dengan semakin berkembangnya dunia teknologi maka sistem control
pada pemancar harus tetap update supaya perusahaan tidak tertinggal oleh
pesaing lainnya dalam bidang teknologi.
5. Bagi para siswa/i dan mahasiswa/i yang melaksanakan program magang
kerja atau PKL, hendaknya dapat memanfaatkan waktu semaksimal
mungkin untuk dapat menyerap ilmu yang ada.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

93

Laporan Kerja Praktek

DAFTAR PUSTAKA
1. Alvarion.Lightning Protection.
2. Berahim, Hamzah, 1991, Pengantar Tenaga Listrik, Andi Offset
Yogyakarta.
3. Harowitz, Paul dan Hill, Winfield, 1987, Seni dan Desain
Elektronika,Volume 2 (terjemahan), PT. Elex Media Komputindo,
Gramedia Ground. Jakarta.
4. Herman Halomon Sinaga, dkk.Model Arrester SiC Menggunakan Model
Arrester
5. Hutauruk, 1987, Pengetanahan Netral Sistem Tenaga & Pengetanahan
Peralatan, Penerbit Erlangga.
6. NASA.Lightning Map.
7. Zoro, Reynaldo, 2008, Power Engineering Research Group, Institute of
Technology Bandung.

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya