Anda di halaman 1dari 37

Runtuhnya Orde Lama

Dibawah ini adalah sebab-sebab runtuhnya Orde Lama sebagai


berikut :
1. Terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965.
2. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa
Gerakan 30 September 1965 ditambah adanya konflik di angkatan
darat yang sudah berlangsung lama.
3. Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai
600% sedangkan upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan
kenaikan harga bahan bakar menyebabkan timbulnya keresahan
masyarakat.
4. Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa
pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat melakukan
demonstrasi menuntut agar PKI berserta Organisasi Masanya
dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili.
5. Kesatuan aksi (KAMI,KAPI,KAPPI,KASI,dsb) yang ada di masyarakat
bergabung membentuk Kesatuan Aksi berupa Front Pancasila yang
selanjutnya lebih dikenal dengan Angkatan 66 untuk menghacurkan
tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.
6. Kesatuan Aksi Front Pancasila pada 10 Januari 1966 di depan gedung
DPR-GR mengajukan tuntutanTRITURA(Tri Tuntutan Rakyat) yang
berisi :
a. Pembubaran PKI berserta Organisasi Massanya
b. Pembersihan Kabinet Dwikora
c. Penurunan Harga-harga barang.
7. Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan
Pembentukan Kabinet Seratus Menteri tidak juga memuaskan rakyat
sebab rakyat menganggap di kabinet tersebut duduk tokoh-tokoh yang
terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
8. Wibawa dan kekuasaan presiden Soekarno semakin menurun setelah
upaya untuk mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa
Gerakan 30 September 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah
dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa(Mahmilub).
9. Sidang Paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah
yang sedang bergejolak tak juga berhasil. Maka Presiden mengeluarkan
Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang ditujukan bagi

Letjen Soeharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk


mengatasi keadaan negara yang semakin kacau dan sulit dikendalikan.
Setelah turunnya presiden Soekarno dari tumpuk kepresidenan maka berakhirlah
orde lama. Kepemimpinan disahkan kepada jendral soeharto mulai memegang
kendali. Pemerintahan dan menanamkan era kepemimpinanya sebagai orde baru
konsefrasi penyelenggaraan sistem pemerintahan dan kehidupan demokrasi
menitikberatkan pada aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang
pembangunan Nasional.untuk mencapai titik-titik tersebut dilakukanlah upaya
pembenahan sistem keanekaragaman dan format politik yang pada prinsipnya
mempunyai sejumlah sisi yang menonjol, yaitu:
a. adanya konsep Dwifungsi ABRI
b. pengutamaan golongan karya
c. manifikasi kekuasaan di tangan eksekutif
d. diteruskannya system pengangkatan dalam lembaga-lembaga pendidikan
pejabat
e. kejaksaan depolitisan khususnya masyarakat pedesaan melalui konsep
masca mengembang (flating mass)
f. karal kehidupan pers
Konsep dwifungsi ABRI pada masa itu secara inplisit sebelumnya sudah
ditempatkan oleh kepala staf angkatan darat.mayjen A.H.NASUTION tahun 1958
yaitu dengan konsep jalan tengah prinsipnya menegaskan bahwa peran tentara
tidak terbatas pada tugas profesional militer belaka melainkan juga mempunyai
tugas-tugas di bidang sosial politik dengan konsep seperti inilah dimungkinkan dan
bhakan menjadi semacam KEWAJIBAN JIKALAU MILITER BERPARTISIPASI DI BIDANG
POLITIK PENERAPAN, konjungsi ini menurut penafsiran militer dan penguasa orde
baru memperoleh landasan yuridi konstitusional di dalam pasal 2 ayat 1 UUD 1945
yang menegaskan majelis permusyawaratan rakyat.

Lahirnya Orde Baru


Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di
Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era
pemerintahan Soekarno.Salah satu penyebab yang melatarbelakangi runtuhnya
orde lama dan lahirnya orde baruadalah keadaan keamanan dalam negeri yang
tidak kondusif pada masa Orde Lama. Terlebih lagi karena adanya peristiwa
pemberontakan G30S/PKI. Hal ini menyebabkan presiden Soekarno memberikan

mandat kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan pengamanan diIndonesia


melalui surat perintah sebelas maret atau Supersemar. Orde Baru hadir dengan
semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada
masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam
jangka waktu tersebut,ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini
terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu,
kesenjangan antara rakyat yang kaya danmiskin juga semakin melebar.

Kronologis lahirnya orde baru


a. 30 September 1965 Terjadinya pemberontakan G30S PKI.
b. 11 Maret 1966 Letjen Soeharto menerima Supersemar dari presiden
Soekarno untuk melakukan pengamanan.
c. 12 Maret 1966 Dengan memegang Supersemar, Soeharto
mengumumkan pembubaran PKI danmenyatakannya sebagai
organisasi terlarang.
d. 22 Februari 1967 Soeharto menerima penyerahan kekuasaan
pemerintahan dari presiden Soekarno.
e. 7 Maret 1967 Melalui sidang istimewa MPRS, Soeharto ditunjukan
sebagai pejabat presiden sampaiterpilihnya presiden oleh MPR hasil
pemilu.
f. 12 Maret 1967 Jenderal Soeharto dilantik menjadi presiden Indonesia
kedua sekaligus menjadi masaawal mula lahirnya era orde
baruSebagai masa yang menandai sebuah masa baru setelah
pemberontakan PKI tahun 1965.

Upaya lahirnya Orde Baru


a) Setelah dikelurkan Supersemar maka mulailah dilakukan penataan
pada kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila
dan UUD 1945. Penataan dilakukan di dalam lingkungan lembaga
tertinggi negara dan pemerintahan.
b) Dikeluarkannya Supersemar berdampak semakin besarnya
kepercayaan rakyat kepada pemerintah karena Soeharto berhasil
memulihkan keamanan dan membubarkan PKI.
c) Munculnya konflik dualisme kepemimpinan nasional di Indonesia. Hal
ini disebabkan karena saat itu Soekarno masih berkuasa sebagai
presiden sementara Soeharto menjadi pelaksana pemerintahan.
d) Konflik Dualisme inilah yang membawa Soeharto mencapai puncak
kekuasaannya karena akhirnya Soekarno mengundurkan diri dan
menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto.
e) Pada tanggal 23 Februari 1967, MPRS menyelenggarakan sidang
istimewa untuk mengukuhkan pengunduran diri Presiden Soekarno dan

mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden RI. Dengan Tap MPRS


No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan pemerintahan negara dan
menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Soekarno .
f) 12 Maret 1967 Jendral Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden
Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan
Orde Lama dan dimulainya kekuasaan Orde Baru.
g) Pada Sidang Umum bulan Maret 1968 MPRS mengangkat Jendral
Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Kekuasan soekarno beralih ke Soeharto ditandai dengan keluarnya Surat
Perintah SebelasMaret (SUPERSEMAR) 1966. Setelah dikeluarkan Supersemar
maka mulailah dilakukan penataan pada kehidupan berbangsa dan
bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Penataan dilakukan di
dalam lingkungan lembaga tertinggi negara dan pemerintahan.
Dikeluarkannya Supersemar berdampak semakin besarnya kepercayaan
rakya kepada pemerintah karena Soeharto berhasil memulihkan keamanan
dan membubarkan PKI. Padatanggal 23 Februari 1967, MPRS
menyelenggarakan sidang istimewa untuk mengukuhkan pengunduran diri
Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden RI.
Dengan Tap MPRS No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan pemerintahan
negara dan menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Soekarno. 12 Maret
1967 Jendral Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia.
Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan dimulainya
kekuasaan Orde Baru.

Pokok-pokok masa Orde Baru


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pemerintahan yang diktator tetapi aman dan damai


Tindak korupsi merajalela
Tidak ada kebebasan berpendapat
Pancasila terkesan menjadi ideologi tertutup
Pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat
Ikut sertanya militer dalam pemerintahan
Adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara orang kaya dan
orang miskin

Kebijakan pada masa Orde Baru :


a. Indonesia didaftarkan lagi menjadi anggota PBB pada bulan
september 1966
b. Adanya perbaikan ekonomi dan pembangunan

c.
d.
e.
f.
g.

Pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran


Dilaksanakannya kebijakan transmigrasi dan keluarga berencana
Adanya gerakan memerangi buta huruf
Dilakukannya swasembada pangan
Munculnya gerakan Wajib Belajar dan gerakan Nasional Orang Tua
Asuh

Dibukanya kesempatan investor asing untuk menanamkan modal di


Indonesia Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik
Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam
negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.
Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan
Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September
1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan
kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan
PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966,
tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.

Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan


utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang
didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat.
DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali
dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana.
Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat.
Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap
tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang
pembangunan antara pusat dandaerah.Soeharto merestrukturisasi politik
dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainyastabilitas politik pada satu
sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan
Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional,
Soehartomampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik
yang tinggi.
Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa
Indonesia. Setiap hari mediamassa seperti radio dan televisi
mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa".Salah satu cara
yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi

daridaerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar
Jawa, terutama keKalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun
dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya
marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap
penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah.Pada
pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi
Asia disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga
minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh,
inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para
demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran
diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto
mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya
untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden,
B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

Penataan Kehidupan Politik


SUPERSEMAR tahun 1966 merupakan dasar legalitas dimulainya
pemerintahan Orde Baru di Indonesia. Orde Baru merupakan tatanan seluruh
kehidupan rakyat, bangsa, dan Negara, yang diletakan pada kemurnian
pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945.Melalui ketetapan MPRS No.
XIII/MPRS/1966, Letjen Soeharto ditugaskan oleh MPRS untuk membentuk
Kabinet Ampera. Dalam cabinet baru tersebut Soekarno tetap sebagai
presiden dan sekaligus menjabat sebagai pimpinan cabinet.

Penataan Politik Dalam Negeri


Pembentukan Kabinet Pembangunan
1) Dwi Darma Kabinet Ampera (menciptakan stabilitas politik dan stabilitas
ekonomi sebagai persyaratan untuk melaksanakan pembangunan nasional)
2) Catur Karya Kabinet Ampera meliputi;

a) Memperbaiki kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan


pangan.
b) Melaksanakan Pemilihan Umum dalam batas waktu yang ditetapkan,
yaitu 5 Juli 1968.
c) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif demi kepentingan
nasional.
d) Melanjutkan perjuangan anti imprealisme dan kolonialisme dalam
segala bentuk dan manifestasinya.
3) Panca Krida (tugas Kabinet Pembangunan), yang meliputi;
a) Menciptakan stabilitas politik dan ekononi.
b) Menyusun dan melaksanakan Pemilihan Umum.
c) Mengikis habis sisa-sisa G30SPKI.
d) Membersihkan aparatur Negara di pusat dan daerah dari pengaruh PKI.

Pembubaran PKI dan Organisasi massanya


1) Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan
Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966.
2) Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
3) Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang
dianggap terlibat dalam G30SPKI.

Penyederhanaan Partai Politik


1) PPP yang merupakan gabungan dari NU, Parmusi, PSII, dan PERTI.
2) PDI yang merupakan gabungan dari PNI, Partai AKtolik, Partai Murba,
IKPI, dan Parkindo.
3) Golongan Karya.

Pemilihan Umum
Pemerintah Orde Baru berkehendak menyusun sistem ketatanegaraan
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah Orde Baru bertekat
menegakkan demokrasi Pancasila. Salah satu wujud demokrasi adalah
Pemilu. Melalui pemilu rakyat diharapkan dapat merasakan hak
demokrasinya, yaitu memilih atau dipilih sebagi wakil-wakil yang di percaya
untuk duduk dalam lembaga permusyawaratan/perwakilan. Wakil-wakil itu
senantiasa harus membawa suara hati nurani rakyat yang telah memilihnya

agar keinginan mereka terpenuhi.Semula asas pemilu di Indonesia adalah


LUBER artinya LANGSUNG,UMUM, BEBAS DAN RAHASIA. Tetapi semasa
Reformasi asas pemilu ditambah dengan istilah JURDIL artinya JUJUR dan
ADIL.
Secara berturut-turut, pemilu yang telah diselenggarakan di Indonesia
semasa Orde Baru adalah :
1. 3 JULI 1971, dengan diikuti oleh 10 kontestan yaitu : GOLKAR
mendapat 236 kursi,NU mendapat 58 kursi, PARMUSI mendapat 24
kursi, PNI mendapat 20 kursi, PSII mendapat 10 kursi, PARKINDO
(Partai Kristen Indonesia) mendapat 7 kursi, PARTAI KATOLIK
mendapat 3 kursi, PERTI mendapat 2 kursi, sedangkan Partai
MURBA dan IPKIA TIDAK MEMPEROLEH KURSI.
2. 2 MEI 1977, diikuti oleh tiga partai sebab partai yang programnya
sama digabung
Menjadi satu partai. Partai tersebut adalah :
GOLKAR MENDAPAT 232 KURSI, Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) fusi dari NU, PSII, PARMUSI dan PERTI mendapat 99 kursi dan
Partai Demokrasi Indonesia (PDI) fusi dari PNI, PARKINDO, PARTAI
KATOLIK, MURBA dan IPKI mendapat 29 kursi.
3. 4 MEI 1982, PPP mendapat 94 kursi, GOLKAR mendapat 246 kursi,
PDI mendapat 24 kuirsi.
4. 4. 23 APRIL 1987, PPP mendapat 61 kursi, GOLKAR mendapat 292
kursi,PDI mendapat 40 kursi.
5. 9 JULI 1992, PPP mendapat 62 kursi, Golkar mendapat 281 kursi, PDI
mendapat 57.
6. 9 MEI 1997, PPP mendapat 89 kursi, Golkar mendapat 325 kursi, PDI
mendapat 11.

Peran Ganda (Dwi Fungsi) ABRI


Guna menciptakan stabilitas politik maka pemerintah menempatkan
peran ganda bagi ABRI yaitu sebagai peran hankam dan sosial. Sehingga
peran ABRI dikenal dengan Dwifungsi ABRI. Peran ini dilandasi dengan
adanya pemikiran bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara.
Kedudukan TNI dan Polri dalam pemerintahan adalah sama di lembaga
MPR/DPR dan DPRD mereka mendapat jatah kursi dengan pengangkatan.
Pertimbangan pengangkatannya didasarkan pada fungsi stabilisator dan
dinamisator.

Pemasyarakatan P4
Pada tanggal 12 April 1976, Presiden Soeharto mengemukakan gagasan
mengenai pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila yaitu
gagasan Ekaprasetia Pancakarsa. Gagasan tersebut selanjutnya ditetapkan
sebagai Ketetapan MPR dalam sidang umum tahun 1978 mengenai
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau biasa dikenal
sebagai P4. Guna mendukung program Orde baru yaitu Pelaksanaan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen maka sejak tahun
1978 diselenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada semua lapisan
masyarakat.
Tujuan dari penataran P4 adalah membentuk pemahaman yang sama
mengenai demokrasi Pancasila sehingga dengan pemahaman yang sama
diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara.
Melalui penegasan tersebut maka opini rakyat akan mengarah pada
dukungan yang kuat terhadap pemerintah Orde Baru. Pelaksanaan Penataran
P4 tersebut menunjukkan bahwa Pancasila telah dimanfaatkan oleh
pemerintahan Orde Baru. Hal ini tampak dengan adanya himbauan
pemerintah pada tahun 1985 kepada semua organisasi untuk menjadikan
Pancasila sebagai asas tunggal. Penataran P4 merupakan suatu bentuk
indoktrinasi ideologi sehingga Pancasila menjadi bagian dari sistem
kepribadian, sistem budaya, dan sistem sosial masyarakat Indonesia.

Penataan Politik Luar Negeri

a. Kembalinya menjadi Anggota PBB (tanggal 28


Desember)
Pada tanggal 28 September 1966 Indonesia kembali menjadi anggota
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan untuk kembali menjadi
anggota PBB dikarenakan pemerintah sadar bahwa banyak manfaat yang
diperoleh Indonesia selama menjadi anggota pada tahun 1955-1964.
Kembalinya Indonesia menjadi anggota PBB disambut baik oleh negaranegara Asia lainnya bahkan oleh PBB sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan
dipilihnya Adam Malik sebagai Ketua Majelis Umum PBB untuk masa siding
tahun 1974. Dan Indonesia juga memulihkanhubungan dengan sejumlah

negara seperti India, Thailand, Australia, dan negara-negara lainnya yang


sempat renggang akibat politik konfrontasi Orde Lama.

b.

Normalisasi Hubungan dengan Negara Lain

1. Pemulihan Hubungan dengan Singapura (tanggal 12 Juni 1960)


Dengan perantaraan Dubes Pakistan untuk Myanmar, Habibur
Rachman, hubungan Indonesia dengan Singapura berhasil dipulihkan
kembali.Pada tanggal 2 Juni 1966 pemerintah Indonesia menyampaikan
nota pengakuan atas Republik Singapura kepada Perdana Menteri Lee
Kuan Yew.Dan pemerintah Singapura menyampaikan nota jawaban
kesediaan untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan Indonesia.
2. Pemulihan Hubungan dengan Malaysia (29 Mei-1 Juni 1966) dengan
Perjanjian Bangkok:
I. Rakyat Sabah diberi kesempatan menegaskan kembali
keputusan yang telah mereka ambil mengenai kedudukan
mereka dalam Federasi Malaysia.
II.
Pemerintahan kedua belah pihak menyetujui pemulihan
hubungan diplomatic.
III. Tindakan permusuhan antara kedua belah pihak akan dihebtikan.
Dan pada tanggal 11 Agustus 1966 penandatangan persetujuan
pemulihan hubungan Indonesia-Malaysia ditandatangani di Jakarta oleh
Adam Malik (Indonesia) dan Tun Abdul Razak (Malaysia).
3. Pembekuan Hubungan dengan RRT (tanggal 1 Oktober 1967)
Pada tanggal 1 Oktober 1967 Pemerintantah Republik Indonesia
membekukan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok
(RRT). Keputusan tersebut dilakukan karena RRT telah mencampuri urusan
dalam negeri Indonesia dengan cara memberikan bantuan kepada G 30 S
PKI baik untuk persiapan, pelaksanaan, maupun sesudah terjadinya
pemberontakan tersebut.
Selain itu pemerintah Indonesia merasa kecewa dengan tindakan teror
yang dilakukan orang-orang Cina terhadap gedung, harta, dan anggotaanggota Keduataan Besar Republik Indonesia di Peking. Pemerintah RRT
juga telah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh G 30 S PKI di luar
negeri, serta secara terang-terangan menyokong bangkitnya kembali PKI.
Melalui media massanya RRT telah melakukan kampanye menyerang Orde
Baru. Dan pada 30 Oktober 1967 Pemerintah Indonesia secara resmi
menutup Kedutaan Besar di Peking

Dampak Kebijakan Politik Pemerintahan


Orde Baru
Dampak Positif Kebijakan Politik Orde Baru
a. Pemerintahan mampu membngun pondasi yang kuat bagi kekuatan
lembaga kepresiden yang membuat semakin kuatnya peran Negara
dalam masyarakat.
b. Situasi keamanan pada masa Orde Baru realtif stabil dan terjaga
dengan baik, karena pemerintah mampu mengatasi semua tindakan
dan sikap yang bertentangan dengan Pancasila.
c. Peleburan parpol yang dilakukan pemerintah, telah memberikan
kemudahan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian parpol.

Dampak Negatif Kebijakan Politik Orde Baru


a. Terbentuknya pemerintahan Orde Baru yang otoriter, dominatif, dan
sentralistik.
b. Otoritarianisme merambah segenap aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara termasuk kehidupan politik yang sangat
merugikan rakyat.
c. Pemerintahan Orde Baru gagal memberikan pelajaran berdemokrasi
yang baik dan benar kepada rakyat.

Penataan Kehidupan Ekonomi


Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi
Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai
peninggalan pemerintah Orde Lama, pemerintah Orde Baru melakukan
langkah-langkah:

Memperbaharui kebijakan ekonomi, keuangan, dan


pembangunan. Kebijakan ini didasari oleh Ketetapan MPRS No.
XXIII/MPRS/1966.
MPRS mengeluarkan garis program pembangunan, yakni
program penyelamatan, program stabilisasi dan rehabilitasi.
Program pemerintah diarahkan pada upaya penyelamatan
ekonomi nasional, terutama stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Yang
dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi
agar harga barang-barang tidak melonjak terus. Dan rehabilitasi
ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi.
Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi
berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke
arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Langkah-langkah yang diambil Kabinet Ampera yang mengacu pada
Ketetapan MPRS tersebut adalah:
Mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang
menyebabkan kemacetan. Adapun yang menyebabkan terjadinya
kemacetan ekonomi tersebut adalah:
1) Rendahnya penerimaan negara.
2) Tinggi dan tidak efisiennya pengeluaran negara.
3) Terlalu banyak dan tidak efisiennya ekspansi kredit bank.
4) Terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri.
5) Penggunaan devisa bagi impor yang sering kurang
berorientasi pada kebutuhan prasarana.
Debirokrasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian
Berorientasi pada kepentingan produsen kecil

Untuk melaksanakan langkah-langkah penyelamatan tersebut, maka


pemerintah Orde Baru menempuh cara-cara :
Mengadakan operasi pajak
Melaksanakan sistem pemungutan pajak baru, baik bagi
pendapatan perorangan maupun kekayaan dengan cara
menghitung pajak sendiri dan menghitung pajak orang.
Menghemat pengeluaran pemerintah (pengeluaran konsumtif
dan rutin), serta menghapuskan subsidi bagi perusahaan Negara.
Membatasi kredit bank dan menghapuskan kredit impor.

Program stabilsasi ini dilakukan dengan cara membentung laju


inflasi. Dan pemerintah Orde Baru berhasil membendung laju inflasi
pada akhir tahun 1967-1968, tetapi harga bahan kebutuhan pokok naik
melonjak. Sesudah dibentuk Kabinet Pembangunan pada bulan Juli
1968, pemerintah mengalihkan kebijakan ekonominya pada
pengendalian yang ketat terhadap gerak harga barang khususnya
sandang, pangan, dan kurs valuta asing. Sejak saat itu ekonomi
nasional relatif stabil, sebab kenaikan harga bahan-bahan pokok dan
valuta asing sejak tahun 1969 dapat dikendalikan pemerintah.
Program rehabilitasi dilakukan dengan berusaha memulihkan
kemampuan berproduksi. Selama sepuluh tahun terakhir masa
pemerintahan Orde Lama, Indonesia mengalami kelumpuhan dan
kerusakan pada prasarana social dan ekonomi. Lembaga perkreditan
desa, gerakan koperasi, dan perbankan disalahgunakan dan dijadikan
alat kekuasaan oleh golongan dan kelompok kepentingan tertentu.
Dampaknya lembaga (negara) tidak dapat melaksanakan fungsinya
sebagai penyusun perbaikan tata kehidupan rakyat.

Kerjasama Luar Negeri


Pertemuan Tokyo
Selain mewariskan keadaan ekonomi yang sangat parah,
pemerintahan Orde Lama juga mewariskan utang luar negeri yang
sangat besar yakni mencapai 2,2-2,7 miliar, sehingga pemerintah Orde
Baru meminta negara-negara kreditor untuk dapat menunda
pembayaran kembali utang Indonesia. Pada tanggal 19-20 September
1966 pemerintah Indonesia mengadakan perundingan dengan negaranegara kreditor di Tokyo.
Pemerintah Indonesia akan melakukan usaha bahwa devisa ekspor
yang diperoleh Indonesia akan digunakan untuk membayar utang yang
selanjutnya akan dipakai untuk mengimpor bahan-bahan baku. Hal ini
mendapat tanggapan baik dari negara-negara kreditor.
Perundinganpun dilanjutkan di Paris, Perancis dan dicapai kesepakatan
sebagai berikut
1. Pembayaran hutang pokok dilaksanakan selama 30 tahun,
dari tahun 1970 sampai dengan 1999.
2. Pembayaran dilaksanakan secara angsuran, dengan angsuran
tahunan yang sama besarnya.

3. Selama waktu pengangsuran tidak dikenakan bunga.


4. Pembayaran hutang dilaksanakan atas dasar prinsip
nondiskriminatif, baik terhadap negara kreditor maupun
terhadap sifat atau tujuan kredit.

Pertemuan Amsterdam
Pada tanggal 23-24 Februari 1967 diadakan perundingan di
Amsterdam, Belanda yang bertujuan membicarakan kebutuhan
Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan pemberian
bantuan dengan syarat lunas, yang selanjutnya dikenal dengan IGGI
(Intergovernmental Group for Indonesia).
Pemerintah Indonesia mengambil langkah tersebut untuk
memenuhi kebutuhannya guna pelaksanaan program-program
stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi serta persiapan-persiapan
pembangunan.
Di samping mengusahakan bantuan luar negeri tersebut,
pemerintah juga berusaha dan telah berhasil mengadakan
penangguhan serta memperingan syarat-syarat pembayaran kembali
(rescheduling) hutang-hutang peninggalan Orde Lama. Melalui
pertemuan tersebut pemerintah Indonesia berhasil mengusahakan
bantuan luar negeri.

Pembangunan Nasional
Trilogi Pembangunan

Setelah berhasil memulihkan kondisi politik bangsa Indonesia, maka


langkah selanjutnya yang ditempuh pemerintah Orde Baru adalah
melaksanakan pembangunan nasional. Pembangunan nasional yang
diupayakan pemerintah waktu itu direalisasikan melalui Pembangunan
Jangka pendek dan Pembangunan Jangka Panjang.
Pembangunan Jangka Pendek dirancang melalui Pembangunan Lima
Tahun (Pelita). Setiap Pelita memiliki misi pembangunan dalam rangka
mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sedangkan
Pembangunan Jangka Panjang mencakup periode 25-30 tahun.
Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang
berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan
masyarakat, bangsa, dan Negara. Pembangunan nasional dilaksanakan

dalam upaya mewujudkan tujuan nasional yang tertulis dalam


pembukaan UUD 1945 yaitu:
1. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah Indonesia
2. Meningkatkan kesejahteraan umum
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social
Pelaksanaan Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pemerintah
Orde Baru berpedoman pada Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur
Pemerataan. Inti dari kedua pedoman tersebut adalah kesejahteraan
bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi
yang stabil. Isi Trilogi Pembangunan adalah :
1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada
terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Dan Delapan Jalur Pemerataan yang dicanangkan pemerintah Orde
Baru adalah:
1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat khususnya
pangan, sandang dan perumahan.
2. Pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan dan pelayanan
kesehatan
3. Pemerataan pembagian pendapatan.
4. Pemerataan kesempatan kerja
5. Pemerataan kesempatan berusaha
6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan,
khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah Tanah
Air
8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Pelaksanaan Pembangunan Nasional


Seperti telah disebutkan di muka bahwa Pembangunan nasional
direalisasikan melalui Pembangunan Jangka Pendek dan Pembangunan
Jangka Panjang. Dan Pembangunan Jangka Pendek dirancang melalui

program Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Selama masa Orde Baru,


pemerintah telah melaksanakan enam Pelita yaitu:
Pelita I
Pelita I dilaksanakan mulai 1 April 1969 sampai 31 Maret 1974, dan
menjadi landasan awal pembangunan masa Orde Baru. Tujuan Pelita I
adalah meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan
dasar-dasar bagi pembangunan tahap berikutnya. Sasarannya adalah
pangan, sandang, perbaikan prasarana perumahan rakyat, perluasan
lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Titik beratnya adalah
pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar
keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang
pertanian, karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari
hasil pertanian.
Pelita II
Pelita II mulai berjalan sejak tanggal 1 April 1974 sampai 31 Maret
1979. Sasaran utama Pelita II ini adalah tersedianya pangan, sandang,
perumahan, sarana prasarana, mensejahterakan rakyat, dan
memperluas kesempatan kerja. Pelaksanaan Pelita II dipandang cukup
berhasil. Pada awal pemerintahan Orde Baru inflasi mencapai 60% dan
pada akhir Pelita I inflasi berhasil ditekan menjadi 47%. Dan pada
tahun keempat Pelita II inflasi turun menjadi 9,5%.
Pelita III
Pelita III dilaksanakan pada tanggal 1 April 1979 sampai 31 Maret
1984. Pelaksanaan Pelita III masih berpedoman pada Trilogi
Pembangunan, dengan titik berat pembangunan adalah pemerataan
yang dikenal dengan Delapan Jalur Pemerataan.
Pelita IV
Pelita IV dilaksanakan tanggal 1 April 1984 sampai 31 Maret 1989.
Titik berat Pelita IV ini adalah sektor pertanian untuk menuju
swasembada pangan, dan meningkatkan industri yang dapat
menghasilkan mesin industri sendiri. Dan di tengah berlangsung
pembangunan pada Pelita IV ini yaitu awal tahun 1980 terjadi resesi.
Untuk mempertahankan kelangsungan pembangunan ekonomi,
pemerintah mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal. Dan
pembangunan nasional dapat berlangsung terus.
Pelita V

Pelita V dimulai 1 April 1989 sampai 31 Maret 1994. Pada Pelita ini
pembangunan ditekankan pada sector pertanian dan industri. Pada
masa itu kondisi ekonomi Indonesia berada pada posisi yang baik,
dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,8% per tahun. Posisi
perdagangan luar negeri memperlihatkan gambaran yang
menggembirakan. Peningkatan ekspor lebih baik dibanding
sebelumnya.
Pelita VI
Pelita VI dimulai 1 April 1994 sampai 31 Maret 1999. Program
pembangunan pada Pelita VI ini ditekankan pada sektor ekonomi yang
berkaitan dengan industri dan pertanian, serta peningkatan kualitas
sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Sektor ekonomi
dipandang sebagai penggerak pembangunan. Namun pada periode ini
terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara
termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam
negeri yang mengganggu perekonomian telah menyebabkan proses
pembangunan terhambat, dan juga menyebabkan runtuhnya
pemerintahan Orde Baru.

Warga Tionghoa

Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun


1967, warga keturunan tionghua dianggap sebagai warga negara asing
di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang
secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka.
Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan
pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini
diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari
komunitas pengobatan tradisional karena pelarangan sama sekali
akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa
ditulis dengan bahasa Mandarin.
Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung
Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa
Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak
dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.
Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit
adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa
Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam

hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja
juga di sana.Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama
Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah.
Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang
populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan
rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh
komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa
kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu
bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang
sangat mengharamkan perdagangan dilakukan.Orang Tionghoa
dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk
menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.

Konflik Perpecahan Pasca


Orde Baru
Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan
bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi
mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu
cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan
transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali
dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor
Timur, dan Irian Jaya.
Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini
adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan
kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak
mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program
transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di
berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.
Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka
antara lain dalam bentuk konflik Ambon dan konflik Madura-Dayak di
Kalimantan. Sementara itu gejolak di Papua yang dipicu oleh rasa
diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan

sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para


transmigran.

Krisis finansial Asia


Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan
ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai
kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan
komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh.Rupiah jatuh, inflasi
meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat.
Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa,
meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan
massa yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998,
tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh.Soeharto
kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi
presiden ketiga Indonesia.

Pasca-Orde Baru
Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat
dikatakan sebagai tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian
digantikan "Era Reformasi".Masih adanya tokoh-tokoh penting pada
masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini
sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih
belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi
sering disebut sebagai "Era Pasca Orde Baru".
Meski diliputi oleh kerusuhan etnis dan lepasnya Timor Timur,
transformasi dari Orde Baru ke Era Reformasi berjalan relatif lancar
dibandingkan negara lain seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.Hal ini tak
lepas dari peran Habibie yang berhasil meletakkan pondasi baru yang
terbukti lebih kokoh dan kuat menghadapi perubahan zaman.

A.Kelebihan Orde Baru

Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya
AS $70 dan pada 1996 telah mencapai lebih -dari AS $1.000
Sukses transmigrasi
Sukses KB
Sukses memerangi buta huruf
Sukses swasembada pangan
Pengangguran minimum
Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
Sukses Gerakan Wajib Belajar
Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
Sukses keamanan dalam negeri
Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam
negeri

B. Kekurangan Orde Baru


Merajalelanya korupsi, kolusi, nepotisme
Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan
pembangunanantara pusat dan -daerah, sebagian disebabkan karena
kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat
Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan
pembangunan,terutama di Aceh dan -Papua
Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran
yang memperolehtunjangan pemerintah yang -cukup besar pada tahuntahun pertamanya
Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak
merata bagi si kayadan si miskin)
Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama
masyarakat Tionghoa)
Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan
majalah yang dibredel
Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain
dengan program"Penembakan Misterius"

Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke


pemerintah/presiden selanjutnya)
Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal
Bapak Senang, hal ini kesalahan -paling fatal Orde Baru karena tanpa
birokrasi yang efektif negara pasti hancur.
Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibut berpolitik
sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah.

Soeharto
Kebijakan Presiden Soeharto

Bidang politik
Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30
tahun, Soeharto telah banyak memengaruhi sejarah
Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari
Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika
Serikat memberantas paham komunisme dan
melarang pembentukan partai komunis.
Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27
(saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya
bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor
Leste Independente /partai yang berhaluan sosialiskomunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka.[Mei 2008] Hal ini
telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.[Mei 2008]
Sistem otoriter yang dijalankan Soeharto dalam masa pemerintahannya
membuatnya populer dengan sebutan "Bapak", yang pada jangka
panjangnya menyebabkan pengambilan keputusan-keputusan di DPR kala itu
disebut secara konotatif oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem "ABS"
atau "Asal Bapak Senang".

Bidang kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai
kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk
memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan

penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari


kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.

Bidang pendidikan
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar
yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak
Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar
dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga anak-anak
dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan
menjadi Wajib Belajar 9 tahun.

Kejatuhan Presiden
Soeharto
Pada 1997, menurut Bank Dunia,
20 sampai 30% dari dana
pengembangan Indonesia telah
disalahgunakan selama bertahuntahun. Krisis finansial Asia pada tahun
yang sama tidak membawa hal bagus
bagi pemerintahan Presiden Soeharto
ketika ia dipaksa untuk meminta
pinjaman, yang juga berarti
pemeriksaan menyeluruh dan
mendetail dari IMF.
Meskipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai
Presiden pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya,
Soeharto tetap memastikan ia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh
kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan, tekanan
politik dan militer, serta berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR RI,
Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari
perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan
dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie.

Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya,


telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran
HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto. Namun,
Michel Camdesus, Direktur IMF mengakui bahwa apa yang dilakukan IMF di
Indonesia tidak lain sebagai katalisator jatuhnya Pemerintahan Soeharto.
Sebagaimana dikutif New York Times, Camdesus menyatakan we created
the conditions that obliged President Soeharto Left his job
Di Credentials Room, Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara,
Jakarta, Presiden Soeharto membacakan pidato yang terakhir kali, demikian:

Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat

perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk


mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan
bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi
tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan
secara tertib, damai, dan konstitusional.
Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta
kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana
pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet
Pembangunan VII. Namun, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite
Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan
yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.
Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaikbaiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite
Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi
tidak diperlukan lagi.
Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat
sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan
pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan
ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan
pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya,
saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai
Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21
Mei 1998.

Pernyataan saya berhenti dari


jabatan sebagai Presiden RI saya
sampaikan di hadapan saudara-saudara
pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan
MPR pada kesempatan silaturahmi.
Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil
Presiden RI, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang
akan melanjutkan sisa waktu jabatan
Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.
Atas bantuan dan dukungan rakyat
selama saya memimpin negara dan
bangsa Indonesia ini saya ucapkan
terima kasih dan minta maaf bila ada
kesalahan dan kekurangankekurangannya semoga bangsa
Indonesia tetap jaya dengan Pancasila
dan UUD 1945.
Mulai hari ini pula Kabinet
Pembangunan VII demisioner dan kepada
para menteri saya ucapkan terima kasih.
Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan
pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan
pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara
wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden
di hadapan Mahkamah Agung RI.

Sesaat kemudian, Presiden Soeharto menyerahkan pucuk pimpinan


negeri kepada Prof. Dr. Ing. BJ Habibie. Setelah melaksanakan sumpah
jabatan, akhirnya BJ Habibie resmi memangku jabatan presiden ke-3 RI.
Ucapan selamat datang mulai dari mantan Presiden Soeharto, pimpinan dan
wakil-wakil pimpinan MPR/DPR, para menteri serta siapa saja yang turut
dalam pengucapan sumpah jabatan presiden ketika itu.

Tak berselang terlalu lama, Menteri Pertahanan Keamanan merangkap


Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto membacakan pernyataan sikap,
demikian:

pertama, memahami situasi yang berkembang dan aspirasi


masyarakat, ABRI mendukung dan menyambut baik permintaan
berhenti Bapak Soeharto sebagai Presiden RI serta berdasarkan
konstutusi mendukung Wakil Presiden Bapak BJ Habibie sebagai
Presiden RI.

Kedua, ABRI yang tetap kompak dan satu berharap dan


mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menerima
kehendak pribadi Presiden Soeharto tersebut yang telah sesuai
dengan konstitusi, yakni Pasal 8 UUD 1945.

Ketiga, dalam hal ini, ABRI akan tetap berperan aktif guna
mencegah penyimpangan dan hal-hal lain yang dapat
mengancam keutuhan bangsa.

Keempat, menjunjung tinggi nilai luhur budaya bangsa, ABRI


akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan
Presiden/Mandataris MPR termasuk Bapak Soeharto beserta
keluarganya. Kelima, ABRI mengajak semua pihak agar bersikap
tenang, mencegah terjadinya kerusuhan dan tindak kekerasan
yang akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri.


Bacharuddin
Jusuf
Habibie
Pada era pemerintahannya
yang singkat ia berhasil
memberikan landasan kokoh
bagi Indonesia, pada eranya
dilahirkan UU Anti Monopoli
atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling
penting adalah UU otonomi daerah.
Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi yang
diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di
era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi
daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni
Soviet dan Yugoslavia.
Pengangkatan B.J. Habibie sebagai Presiden menimbulkan berbagai
macam kontroversi bagi masyarakat Indonesia. Pihak yang pro
menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional. Hal itu sesuai
dengan ketentuan pasal 8 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "bila
Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya
dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis
waktunya".
Sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa pengangkatan B.J.
Habibie dianggap tidak konstitusional. Hal ini bertentangan dengan
ketentuan pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "sebelum
presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah
atau janji di depan MPR atau DPR".

Langkah-langkah yang dilakukan BJ Habibie :

bidang politik

Memberi kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya


sehingga banyak bermunculan partai-partai politik baru yakni
sebanyak 48 partai politik

Membebaskan narapidana politik (napol) seperti Sri Bintang


Pamungkas (mantan anggota DPR yang masuk penjara karena
mengkritik Presiden Soeharto) dan Muchtar Pakpahan (pemimpin
buruh yang dijatuhi hukuman karena dituduh memicu kerusuhan di
Medan tahun 1994)

Mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen

Membentuk tiga undang-undang yang demokratis yaitu :


1. UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik
2. UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu
3. UU No. 4 tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR

Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang


mencerminkan jawaban dari tuntutan reformasi yaitu :
1. Tap MPR No. VIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap No.
IV/MPR/1983 tentangReferendum
2. Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No.
II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai azas tunggal
3. Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No.
V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandat dari MPR untuk
memiliki hak-hak dan Kebijakan di luar batas perundang-undangan

4. Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan masa jabatan


Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.

12 Ketetapan MPR antara lain :


1) Tap MPR No. X/MPR/1998, tentang pokok-pokok reformasi
pembangunan dalam rangka penyelematan dan normalisasi
kehidupan nasional sebagai haluan negara
2) Tap MPR No. XI/MPR/1998, tentang penyelenggaraan negara yang
bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme
3) Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang pembatasan masa jabatan
presiden dan wakil presiden Republik Indonesia
4) Tap MPR No. XV/MPR/1998, tentang penyelenggaraan Otonomi
daerah
5) Tap MPR No. XVI/MPR/1998, tentang politik ekonomi dalam rangka
demokrasi ekonomi
6) Tap MPR No. XVII/MPR/1998, tentang Hak Asasi Manusia (HAM)
7) Tap MPR No. VII/MPR/1998, tentang perubahan dan tambahan atas
Tap MPR No. I/MPR/1998 tentang peraturan tata tertib MPR
8) Tap MPR No. XIV/MPR/1998, tentang Pemilihan Umum
9) Tap MPR No. III/V/MPR/1998, tentang referendum
10) Tap MPR No. IX/MPR/1998, tentang GBHN
11) Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pemberian tugas dan
wewenang khusus kepada Presiden/mandataris MPR dalam rangka
menyukseskan dan pengamanan pembangunan nasional sebagai
pengamalan Pancasila
12) Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)

Bidang Ekonomi
ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar
antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Namun pada akhir
pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR,
nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang
tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu,
ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih
fokus mengurusi perekonomian.

Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia,


BJ Habibie melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui
pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset Negara
2. Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah
3. Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp.
10.000,00
4. Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang
luar negeri
5. Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
6. Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat
7. Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Kejatuhan
Presiden
Bacharuddin
Jusuf Habibie
Menurut pihak oposisi, salah
satu kesalahan terbesar yang ia
lakukan saat menjabat sebagai Presiden ialah memperbolehkan
diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Ia
mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu
mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih
merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa
kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal 30
Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh
sebagian warga negara Indonesia, namun di sisi lain membersihkan nama
Indonesia yang sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor
Timur.
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar
belakang Habibie semakin giat menjatuhkannya. Upaya ini akhirnya
berhasil saat Sidang Umum 1999, ia memutuskan untuk tidak

mencalonkan diri lagi setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak


oleh MPR.

Abdurrahman Wahid
( Gus Dur)
Pada tanggal 20 Oktober 1999,
MPR berhasil memilih Presiden
Republik Indonesia yang ke-4 yaitu
KH. Abdurrahman Wahid dengan
wakilnya Megawati Soekarnoputri.
Pada masa pemerintahan Gus Dur,
ada beberapa persoalan yang
dihadapi yang merupakan warisan
dari pemerintahan Orde Baru
yaitu :
1. Masalah praktik KKN yang
belum terselesaikan
2. Pemulihan ekonomi
3. Masalah BPPN
4. Kinerja BUMN
5. Pengendalian Inflasi
6. Mempertahankan kurs rupiah
7. Masalah jejaring pengamanan sosial ( JPS)
8. Masalah disintegrasi dan konflik antarumat beragama
9. hukum dan penegakan Hak asasi manusia (HAM)
Pembaharuan yang dilakukan pada masa Pemerintahan Gus Dur adalah :

Membentuk Kabinet Kerja


Untuk mendukung tugas dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari,
Gus Dur membentuk kabinet kerja yang diberi nama Kabinet Persatuan
Nasional yang anggotanya diambil dari perwakilan masing-masing partai
politik yang dilantik pada tanggal b28 Oktober 1999. Di dalam Kabinet
Persatuan Nasional terdapat dua departemen yang dihapuskan, yaitu
Departemen Sosial dan Departemen Penerangan.

Bidang Ekonomi
Untuk mengatasi krisis moneter dan memperbaiki ekonomi Indonesia,
dibentuk Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang bertugas untuk
memecahkan perbaikan ekonomi Indonesia yang belum pulih dari krisis
ekonomi yang berkepanjangan. Dewan Ekonomi nasional diketuai oleh
Prof. Dr. Emil Salim, wakilnya Subiyakto Tjakrawerdaya dan sekretarisnya
Dr. Sri Mulyani Indraswari.

Bidang Budaya dan Sosial


Untuk mengatasi masalah disintegrasi dan konflik antarumat
beragama, Gus Dur memberikan kebebasan dalam kehidupan
bermasyarakat dan beragama. Hak itu dibuktikan dengan adanya
beberapa keputusan presiden yang dikeluarkan, yaitu :
a) Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 mengenai Pemulihan Hak Sipil
Penganut Agama Konghucu. Etnis Cina yang selama Orde Baru
dibatasi, maka dengan adanya Keppres No. 6 dapat memiliki
kebebasan dalam menganut agama maupun menggelar budayanya
secara terbuka seperti misalnya pertunjukan Barongsai.
b) Menetapkan Tahun Baru Cina (IMLEK) sebagai hari besar agama,
sehingga menjadi hari libur nasional.
Disamping pembaharuan-pembaharuan di atas, Gus Dur juga
mengeluarkan berbagai kebijakan yang dinilai Kontroversial dengan MPR
dan DPR, yang dianggap berjalan sendiri, tanpa mau menaati aturan
ketatanegaraan, melainkan diselesaikan sendiri berdasarkan pendapat
kerabat dekatnya, bukan menurut aturan konstitusi negara. Kebijakankebijakan yang menimbulkan kontroversial dari berbagai kalangan yaitu :
1) Pencopotan Kapolri Jenderal Polisi Roesmanhadi yang dianggap
Orde Baru.
2) Pencopotan Kapuspen Hankam Mayjen TNI Sudradjat, yang
dilatarbelakangi oleh adanya pernyataan bahwa Presiden bukan
merupakan Panglima Tinggi.
3) Pencopotan Wiranto sebagai Menkopolkam, yang dilatarbelakangi
oleh hubungan yang tidak harmonis dengan Gus Dur.
4) Mengeluarkan pengumuman tentang menteri Kabinet
Pembangunan Nasional yang terlibat KKN sehingga mempengaruhi
kinerja kabinet menjadi merosot.
5) Gus Dur menyetujui nama Irian Jaya berubah menjadi Papua dan
mengizinkan pengibaran bendera Bintang Kejora.

Kejatuhan Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Puncak jatuhnya Gus dur dari kursi kepresidenan ditandai oleh adanya
Skandal Brunei Gate dan Bulog Gate
yang menyebabkan ia terlibat dalam
kasus korupsi, maka pada tanggal 1
Februari 2006 DPR-RI mengeluarkan
memorandum yang pertama
sedangkan memorandum yang kedua
dikeluarkan pada tanggal 30 Aril 2001.
Gus Dur menanggapi memorandum
tersebut dengan mengeluarkan
maklumat atau yang biasa disebut
Dekrit Presiden yang berisi antara lain :
1) Membekukan MPR / DPR-RI
2) Mengembalikan kedaulatan di
tangan rakyat dan mengambil
tindakan serta menyusun badan
yang diperlukan untuk pemilu dalam waktu satu tahun.
3) Membubarkan Partai Golkar karena dianggap warisan orde baru
Dalam kenyataan, Dekrit tersebut tidk dapat dilaksanakan karena
dianggap bertentangan dengan konstitusi dan tidak memiliki kekuaran
hokum, maka MPR segera mengadakan Sidang Istimewa pada tanggal 23
Juli 2001 dan Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Presiden RI
menggantikan Gus Dur berdasarkan Tap MPR No. 3 tahun 2001 dengan
wakilnya Hamzah Haz.

Megawati

Soekarnoputri
Presiden Megawati Soekarno Puteri dilantik menjadi Presiden RI pada
tanggal 23 Juli 2001, yang merupakan presiden pertama wanita di
Indonesia. Ia merupakan presiden pertama peletak dasar ke arah
kehidupan demokrasi. Pembaharuan yang dilakukan sebagian besar di
bidang ekonomi dan politik, sebab pada pemerintahannya, masalah yang
dihadapi kebanyakan merupakan warisan pemerintahan Orde Baru yaitu
masalah krisis ekonomi dan penegakan hukum.
Ada beberapa perubahan yang dilakukan Megawati yaitu :

Bidang Ekonomi
Untuk mengatasi masalah ekonomi yang tidak stabil, ada beberapa
kebijakan yang dikeluarkan Megawati yaitu :
1) Untuk mengatasi utang luar negeri sebesar 150,80 milyar US$ yang
merupakan warisan Orde baru, dikeluarkan kebijakan yang berupa
penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar, sehingga
hutang luar negeri dapat berkurang US$ 34,66 milyar.

2) Untuk mengatasi krisis moneter, Megawati berhasil menaikkan


pendapatan per kapita sebesar US$ 930.
3) Kurs mata uang rupiah dapat diturunkan menjadi Rp 8.500,00.
4) Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menekan nilai
inflasi, dikeluarkan kebijakan yang berupa privatisasi terhadap
BUMN dengan melakukan penjualan saham Indosat sehingga
hutang luar negeri dapat berkurang.
5) Memperbaiki kinerja ekspor, sehingga ekspor di Indonesia dapat
ditingkatkan.
6) Untuk mengatasi korupsi, dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK).

Bidang Politik

1) Mengadakan pemilu yang bersifat demokratis yang dilaksanakan tahun


2004 dan melalui dua periode yaitu :
a) Periode pertama untuk memilih anggota legislatif secara langsung.
b) Periode kedua untuk memilih presiden dan wakil presiden secara
langsung.
Pemilu tahun 2004 merupakan pemilu pertama yang dilaksanakan secara
langsung artinya rakyat langsung memilih pilihannya.
2) Pemerintahan Megawati berakhir setelah hasil pemilu 2004 menempatkan
pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai pemenang.
Hal ini merupakan babak baru pemerintahan di Indonesia dimana
Presiden dan Wakil Presiden terpilih dipilih langsung oleh rakyat.

Susilo Bambang
Yudhoyono
Kebijakan-kebijakan SBY selama 2 Periode
terakhir

Profesionalisasi Jabatan
Guru
Pada masa periode pertama, DPR RI telah
mengesahkan Undang-Undang No. 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Untuk

menindaklanjutinya, SBY mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun


2008. Kedua regulasi ini bisa dipandang sebagai momen bersejarah bagi
perjalanan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam merubah wajah profesi
guru di Indonesia. Guru tidak lagi dipandang sebagai jabatan yang asal jadi
dan asal comot, tetapi kepadanya harus tersedia kualifikasi dan kompetensi
yang memadai guna melaksanakan proses pembelajaran yang mendidik.
Guru pun berbondong-bondong melanjutkan studi hingga jenjang S1/D4,
baik yang dibiayai pemerintah maupun secara sukarela.

Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Selama 10 tahun menjabat sebagai Presiden, kita mencatat 3


perkembangan kurikulum di Indonesia. Pada tahun 2004 lahir gagasan
Kurikulum Berbasis Kompetensi yang kemudian dikukuhkan melalui
Kurikulum 2006 tentang KTSP. Pada tahun pelajaran 2013-2014 mulai
diberlakukan Kurikulum 2013 secara terbatas dan memasuki tahun pelajaran
2014-2015, diberlakukan secara menyeluruh di setiap jenjang satuan
pendidikan dasar dan menengah.
Berkaitan dengan kebijakan kurikulum 2013 ini, ada sedikit yang
mengganjal pemikiran saya. Dalam pemahaman saya, kebijakan kurikulum
adalah kebijakan yang sangat strategis, melibatkan banyak orang, biaya dan
sumber daya lainnya.

Standarisasi Pendidikan Indonesia


Pada tanggal 16 Mei 2005, SBY mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah
ini juga bisa dipandang sebagai tonggak penting dalam rangka menata dan
menjamin mutu pendidikan nasional, yang didalamnya mencakup 8 standar
pendidikan.
Berangkat dari Peraturan inilah upaya pergerakan mutu pendidikan di
Indonesia dijalankan dan sekolah-sekolah pun menyusun anggaran dan
menyelenggarakan pendidikan dengan mengacu kepada upaya pemenuhan
8 standar pendidikan ini.

Pemenuhan Anggaran Pendidikan 20% dalam


APBN.
Memenuhi amanat UU No UU 20/2003 dan Putusan MK Nomor 13/PUUVI/2008, Dimulai pada APBN 2009, Pemerintah SBY menganggarkan
anggaran pendidikan sebesar 20% dari total anggaran. Pemenuhan amanat
konstitusi yang satu ini tentu merupakan bentuk komitmen pemerintah
untuk memajukan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari persoalan dana dan biaya.
Dengan anggaran yang memadai diharapkan bisa berkorelasi dengan mutu
pendidikan, serta tidak terlalu banyak membebani masyarakat. Dari sini,
lahir kebijakan BOS Pendidikan, Program Bidikmisi dan berbagai bantuan
pendanaan dan finansial lainnya, baik yang ditujukan kepada orang-perorang
maupun institusi pendidikan.

Penataan pengelolaan dan penyelenggaraan


Pendidikan
Setelah PP No. 17 tahun 2010 mendapat penolakan dari Mahkamah
Konstitusi, pemerintah selanjutnya menerbitkan kembali PP No. 66 Tahun
2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Peraturan ini
memberikan rambu-rambu bagaimana seharusnya pendidikan dikelola dan
diselenggarakan, khususnya pada tingkat satuan pendidikan. Penerapan
konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah menjadi sebuah
keniscayaan dalam era sekarang ini.
Kendati demikian, harus diakui dalam implementasinya masih perlu terus
ditingkatkan terutama berkaitan dengan upaya penguatan kemampuan
manajerial dan leadership para kepala sekolah di setiap satuan pendidikan.

Peningkatan Kesejahteran Guru


Dengan lahirnya PP No. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru
dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan
Profesor, maka kepastian hukum tentang pemberian tunjangan profesi bagi

guru menjadi jelas, yang pada waktu itu sempat beredar isu bahwa
pemberian tunjangan profesi akan dihentikan.
Walaupun belakangan ini juga sempat muncul
lagi berbagai pertanyaan di kalangan guru
tentang nasib dan keberadaan tunjangan
profesi ini, dikaitkan dengan UU No. 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara
Di antara berbagai kebijakan pendidikan
yang dikeluarkan selama pemerintahan SBY,
barangkali kebijakan yang disebut terakhir
inilah yang paling diharapkan dan ditunggutunggu oleh para guru di Indonesia.