Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses perubahan masyarakat pada intinya adalah perubahan
norma-norma dalam masyarakat. Karena perubahan norma dan
proses

perubahan

norma

baru

merupakan

inti

dari

usaha

mempertahankan kesatuan hidup berkelompok, dengan sendirinya


proses perubahan masyarakat menjadi proses disintegrasi dalam
banyak bidang, sehingga demi kemajuan harus diusahakan adanya
re-integrasi yaitu penampungan kembali dalam suatu kehidupan
masyarakat yang lebih cocok dengan kebutuhan baru masyarakat
dimana norma-norma yang lebih cocok ini akan merupakan ikatan
dari masyarakat yang baru atau lebih luas. Inti perubahan
masyarakat dan perkembangan yang telah disebutkan yaitu demi
kemajuan anggota masyarakat yang bersangkutan, menemukan
penyesuaian diri bagi anggota masyarakat. Akan tetapi penyesuaian
saja tidak cukup, menguasai keadaan baru adalah lebih penting
untuk menghindari kekacaun dalam masyarakat, sabagai akibat
perubahan tersebut.
Seiring dengan perubahan sosial tersebut akan berdampak
terhadap kebudayaan di suatu daerah. Seiring dengan kemajuan
jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang
teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini
sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi
dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan
budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih
untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern
daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang

sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang


sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.
Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya
kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala
aspek kehidupan yang berada di dalalmnya.
B. Batasan Masalah
Beradasarkan latar belakang di atas, penulis mencoba memberi
batas masalah yakni Pengaruh Perubahan Sosial Budaya
terhadap Pembangunan Desa
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus bahasan maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagi berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial-budaya?
2. Apa dampak perubahan sosial budaya terhadap prilaku
masyarakat?
3. Apa peran masyarakat dalam Pembangunan desa?
D. Tujuan dan Mamfaat Penulisan Makalah
1. Tujuan Penulisan Makalah
Sesuai dengan fokus bahasan di atas maka tujuan penulisan ini
adalah

untuk

mengetahui

apa

yang

dimaksud

dengan

perubahan sosial budaya, dampaknya serta peran masyarakat


dalam pembangunan desa
2. Mamfaat Penulisan Makalah
Diharapkan dengan adanya penulisan makalah ini kita dapat
dijadikan bahan refrensi bagi hal-hal yang berkaitan dengan
perubahan sosial budaya maupun pada pembangunan desa.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi


pada kehidupan sosial masyarakat. Perubahan sosial merupakan
salah satu kajian ilmu sosiologi. Perubahan sosial mencakup
perubahan pada norma-norma sosial, nilai-nilai sosial, interaksi
sosial,

pola-pola

perilaku,

organisasi

sosial,

lembaga

kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat, susunan kekuasaan,


dan wewenang. Karena luasnya bidang-bidang perubahan sosial
tersebut, maka diperlukan suatu pengertian perubahan sosial yang
mampu mencakup seluruh bidang tersebut. berikut adalah beberapa
pengertian perubahan sosial menurut para ahli sosiologi.
1. Prof. Selo Soemardjan
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi
pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat
yang mempengaruhi sistem sosialnya.
2. Robert M.I Lawang
Perubahan sosial adalah proses ketika dalam suatu sistem
sosial terdapat perbedaan-perbedaan yang dapat diukur yang
terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu.
3. Gillin dan Gillin (John Luwis Gillin dan John Philip Gillin)
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai
suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya
perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi
penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuanpenemuan baru dalam masyarakat.

4. Emile Durkheim
Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor
ekologis

dan

demografis,

yang

mengubah

kehidupan

masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas


mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat
oleh solidaritas organistik.
5. William F. Ogburn
Ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsurunsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial,
yang

ditekankan

adalah

pengaruh

besar

unsur-unsur

kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.


6. Bruce J. Cohen
Perubahan sosial adalah perubahan struktur sosial dalam
organisasi sosial sehingga syarat dalam perubahan itu adalah
sistem sosial, perubahan hidup dalam nilai sosial dan budaya
masyarakat.
7. Robert Morrison Mac Iver
Perubahan sosial adalah perubahan dalam bidang hubungan
sosial

atau

perubahan

terhadap

keseimbangan

dalam

hubungan sosial tersebut.


8. Roucek dan Warren
Perubahan sosial sebagai perubahan dalam proses sosial atau
dalam struktur masyarakat.
9. Kingsley Davis

Perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi


dalam struktur dan fungsi masyarakat.
10. Max Weber
Perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam
masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsurunsur.

11. Samuel Koening


Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang
terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut
terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.
12. Robert H. Lauer
Perubahan sosial sebagai perubahan dalam segi fenomena
sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat
individual hingga tingkat dunia.
13. Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi
Perubahan

sosial

merupakan

suatu

proses

perubahan,

modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam


pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola
perilaku

kelompok

masyarakat,

hubungan-hubungan

sosial ekonomi, serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat,


baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmateri.
14. W. Kornblum

Perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya


masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama.
15. Pasurdi Suparlan
Perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur sosial dan
pola-pola hubungan sosial yang mencakup sistem status,
hubungan keluarga, sistem politikdan kekuasaan, maupun
penduduk.
16. Atkinson dan Brooten
Definisi perubahan merupakan kegiatan atau proses yang
membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan
sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan
perubahan pola perilaku individu atau institusi. Ada empat
tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan,
sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok.

17. Wilbert E. Moore


Perubahan

sosial

merupakan

evolusi

rektilinier

yang

sederhana dimana fungsi waktu berbanding lurus dengan


perubahan peradaban. Ia mempercayai bahwa perubahan
dapat ditentukan oleh waktu kapan perubahan itu terjadi.
18. Hans Garth dan C. Wright Mills
Perubahan sosial adalah apapun yang terjadi dalam kurun
waktu tertentu terhadap peran, lembaga, atau tatanan yang
meliputi hubungan sosial.

.
B. Pengertian Pembangunan Desa
Pembangunan desa adalah konsep normatif, ia menentukan
pilihan-pilihan tujuan untuk mencapai apa yang disebut Gandhi
sebagai realisasi potensi manusia. Michael Todaro (1977:62)
menyimpulkan bahwa pembangunan adalah proses multidimensi
yang mencakup perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial,
sikap-sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional. Menurut Katz
(dalam Riggs, 1971 : 110) menegaskan bahwa pembangunan adalah
major societal change from one state of national being to another,
more valued, state, yang berarti perubahan besar-besaran suatu
bangsa dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik.
Siagian (1984 : 2-3) mengemukakan bahwa pembangunan
sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan
perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu
bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
pembinaan bangsa (Nation Building). Sehubungan dengan pendapat
tersebut disimpulkan bahwa pembangunan adalah usaha yang
diselenggarakan secara sadar guna menciptakan perubahan dan
pertumbuhan di segala bidang, dalam rangka mencapai tujuan
negara dan bangsa.
Pada umumnya pembangunan desa bersifat komprehensif dan
dijadikan bagian integral pembangunan nasional. Dalam hubungan
ini, pembangunan desa dipandang sebagai metode dalam rangka
mencapai tujuan nasional.
Walaupun

dikatakan

bahwa

pembangunan

masyarakat

dijadikan bagian integral pembangunan nasional, hal itu tidak berarti


pembangunan masyarakat merupakan tanggung jawab dan tugas
pemerintah sepenuhnya. Jadi pembangunan masyarakat dipandang
sebagai metode penyelenggaraan proyek spesifik, tidak sematamata sebagai bagian program nasional melainkan berdasarkan hak,

kesempatan, atau kewenangan masyarakat yang bersangkutan


untuk mengurus dirinya sendiri, sesuai dengan kemampuan sumbersumber setempat.
Mengenai pembangunan desa, R. Agustoha Kuswata (1985 :
26)

mengemukakan

pendapatnya

bahwa

yang

dimaksud

pembangunan desa adalah :


1. Pembangunan yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk rakyat
yang dalam penyelenggaraannya harus secara menyeluruh,
terpadu dan terkoordinasikan.
2. Pembangunan desa adalah multi sektoral dan merupakan
perpaduan daripada program-program sektoral, regional dan
inpres dengan kebutuhan esensial masyarakat.
3. Pembangunan desa merupakan usaha pemerataan dan
penyebaran pembangunan keseluruh desa-desa baik pedesaan
maupun perkotaan.
Dalam hal yang sama mengenai pembangunan desa, Ndraha
(1982 : 17) berpendapat bahwa: "Pembangunan desa adalah
pembangunan yang sepanjang prosesnya masyarakat desa yang
bersangkutan diharapkan berpartisipasi aktif dan dikelola ditingkat
desa".
Sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teoriteori pembangunan dikelompokkan atas tiga, yaitu; kelompok Teori
Modernisasi, kelompok Teori Ketergantungan, dan kelompok Teori
Pasca-Ketergantungan.
Dalam Teori Modernisasi, teori Harrod-Domar melihat masalah
pembangunan pada dasarnya adalah masalah kekurangan modal.
Berbeda dengan teori Rostow, yang melihat pembangunan sebagai
proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari
masyarakat terbelakang ke masyarakat maju.

Rostow membagi proses pembangunan menjadi lima tahap,


yaitu; masyarakat tradisional, prakondisi untuk lepas landas, lepas
landas, menuju ke dewasaan, dan zaman konsumsi massal yang
tinggi.
Teori Modernisasi mendapat kritikan dari Teori Ketergantungan.
Andre Gunder Frank melihat hubungan dengan negara metropolis
selalu berakibat negatif bagi negara satelit. Berbeda dengan
pandangan Dos Santos, yang melihat ketergantungan negara satelit
hanya merupakan bayangan dari negara metropolis. Artinya,
perkembangan negara satelit tergantung dari perkembangan negara
metropolis yang menjadi induknya. Demikian sebaliknya, krisis
negara metropolis, negara satelitnya pun kejangkitan krisis.
Adapun bentuk ketergantungan terdiri atas tiga; ketergantungan
kolonial, ketergantungan finasial-industrial, dan ketergantungan
teknologis-industrial.
Selanjutnya, Teori ketergantungan mendapat kritik, misalnya
dari Teori Artikulasi dan Teori Sistem Dunia. Kedua teori ini
merupakan dua teori baru dalam kelompok teori-teori pembangunan,
khususnya dalam kelompok Teori Pasca-Ketergantungan. Teori
Artikulasi menekankan pada konsep formasi sosial yang dikaitkan
dengan konsep cara produksi. Adapun Teori Sistem Dunia melihat
bahwa dinamika perkembangan dari suatu negara sangat ditentukan
oleh sistem dunia.

C. Alur Pikir

Perubahan Sosial-Budaya

Dampak Buruk

Dampak Baik

Mempengaruhi
Pembangunan Desa

BAB III
PEMBAHASAN
A. Perubahan Sosial Budaya Di Masyarakat
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya
struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan
sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa
dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan
hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan

10

perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia


sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu hari, perubahan itu
berproses, lalu ada pula hal yang mempengaruhi perubahan itu,
Proses

perubahan

perubahan

dan

sosial

merupakan

serangkaian

penyesuaian-penyesuaian

yang

jalannya

dilalui

dalam

perkembangan masyarakat. Ada dua bentuk proses perubahan yaitu


individual proses dan kolektif proses.
Proses Perubahan Sosial Budaya dalam Masyarakat;
1. Proses Perubahan Sosial Melalui Evolusi Sosial (social
evolution).
Evolusi artinya perubahan secara berlahan-lahan, sedikitsedikit, dari yang sederhana sampai pada tingkat yang
kesempurnaan,

sehingga

memakan

waktu

yang

lama.Misalnya, evolusi flora dan fauna memakan waktu


jutaan

tahun

lamanya.

Sejarah

kemanusiaan,

kemasyarakatan, dan kebudayaan manusia pun akan


memakan waktu yang cukup lama, yaitu dimulai dari
tingkat mausia purba, manusia prasejarah, manusia
sejarah kuno, manusia abad pertengahan, sampai dengan
manusia abad globalisasi seperti dewasa ini. Perubahan
secara

evolusi

terjadi

karena

adanya

usaha-usaha

masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhankebutuhan dan kondisi-kondisi baru yang muncul sejalan
dengan perkembangan masyarakat.Evolusi social budaya
melalui tingkatan-tingakatan.
Contoh :
Pada
masyarakat
sederhana

pembagian

kerja

berdasarkan jenis kelamin. Akan tetapi lama kelamaan


sejalam dengan perkembangan masyarakat, pembagian
kerja semakin kompleks berdasarkan keahlian, umur dan
lain-lain.

11

2. Proses Perubahan Sosial Melalui Mobilitas Sosial (social


mobility).
Mobilitas sosial (gerakan social) ialah keinginan akan
perubahan diorganisasi. Sebab dari gerakan sosial ini
ialah penyesuaian diri dengan keadaan (ekologi) karena
didorong oleh keinginan manusia akan hidup dalam
keadaan

yang

lebih

baik,

serta

kemanfaatan

dari

pemenuhan-pemenuhan baru. Pada umumnya gerakan


sosial atau mobilitas sosial ini terbentuk apabila ada
konsep yang jelas, terlebih apabila konsep ini mempunyai
strategi yang jelas pula. Suatu gerakan akan berakhir
apabila suatu ide oleh para pengikutnya dirasakan telah
terwujudkan atau bila keadaan telah berubah kembali.
3. Proses Perubahan Sosial Melalui Revolusi Sosial (social
revolution)
Pada umumnya

revolusi

ditandai

oleh

adanya

ketidakpuasan dari golongan tertentu, dan biasanya


didahului

oleh

tersebarnya

suatu

idea

baru.

Saat

pecahnya suatu revolusi ditandai oleh adanya terror


suatu coup detat. Dilihat dari seggi sosialnya suatu
revolusi pecah apabila dalam suatu masyarakat factor
disorganisasi lebih besar daripada factor reorganisasi atau
bila faktof-faktor adaptif lebih kecil daripada factor non
adaptif.
B. Dampak Perubahan Sosial Budaya Terhadap Masyarakat
1. Dampak Baik Perubahan Sosial Budaya Terhadap Masyarakat.
1. Semakin rekatnya integrasi dalam masyarakat. Hal ini
terjadi apabila masyarakat bijaksana dalam menyikapi
perubahan yang ada. Dengan sikap bijaksana perubahan
sosial tidak menimbulkan konflik.

12

2. Dapat

mengadopsi

unsurunsur

kebudayaan

dari

masyarakat luar, sebagai sumber penambahan kekayaan


budaya suatu masyarakat. Unsur unsur budaya yang
diadopsi adalah unsure budaya yang mudah diterima oleh
masyarakat. Unsur budaya tersebut mempunyai ciri ciri
berikut ini.
Unsur budaya kebendaan, misalnya teknologi atau
peralatan

yang

bermanfaat

bagi

kehidupan

masyarakat.
Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar,

misalnya : radio, TV, internet, komputer, dan lain lain.


Unsur unsur yang dengan mudah disesuaikan
dengan

keadaan

masyarakat

yang

menerima.

Misalnya, alat penggilingan padi dengan teknis yang


sederhana dan harga yang murah mudah diterima
oleh masyarakat Indonesia agraris.
3. Dapat merubah pandangan masyarakat yang kurang
sesuai

dengan

perkembangan

zaman.

Dampak

ini

khususnya dirasakan manusia oleh masyarakat yang


primitive dan terisolir.
4. Terjadinya modernisasi di berbagai bidang. Dengan
modernisasi

dapat

meningkatkan

taraf

kehidupan

masyarakat diberbagai bidang, yaitu sosial, budaya,


ekonomi, politik, dan lain-lain
2. Dampak

Buruk

Perubahan

Sosial

Budaya

Terhadap

Masyarakat.
1. Terjadinya ketertinggalan budaya (cultural lag)
Cultural lag yaitu suatu keadaan dimana terjadi unsur
unsur

kebudayaan

tertentu

yang

tertinggal

perkembangannya di tengah berbagai kemajuan unsur


kebudayaan yang lain. Cultural lag terjadi karena laju
pertumbuhan kebuayaan yang tidak sama pada suatu
masyarakat. Agar tidak terjadi ketertinggalan budaya maka

13

masyarakat dibiasakan untuk berpikir ilmiah dan rasional


terutama pada masyarakat yang sedang berkembang.
2. Terjadinya disorganisasi sosial
Disorganisasi sosial adalah suatu keadaan di mana tidak
ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan.
Disorganisasi dapat diketahui, dari suatu organisasi dapat
berfungsi dengan baik atau tidak. Perwujudan disorganisasi
yang nyata adalah timbulnya masalah sosial.
Apabila disorganisasi sosial dibiarkan akan mengakibatkan
terjadinyi disintegrasi sosial. Disintegrasi sosial ditandai
dengan gejala gejala awa berikut ini:
1) Tidak adanya persamaan pandangan antara anggota
masyarakat mengenai tujuan yang semula dijadikan
pegangan bersama.
2) Nilai-nilai dan norma - norma masyarakat tidak lagi
berfungsi dengan baikKaren adanya perubahan pada
lembaga-lembaga masyarakat.
3) Terjadinya pertentangan antara norma-norma dalam
masyarakat.
4) Sanksi yang diberikan pada pelanggar norma tidak
dilakukan secara konsekuen.
5) Terjadinya proses-proses sosial

yang

dissosiatif,

misalnya konflik sosia kompetisi, dan kontravensi


3. Menurunnya rasa solidaritas sosial, tenggng rasa, gotong royong,
toleransi, dan lain-lain.
4. Munculnya berbagai demonstrasi, kenakalan remaja, meningkatkan
angka kriminalitas dan pergolakan di berbagai daerah.
C. Peran Masyarakat Dalam Pembangunan Desa
Apabila kita cermati keadaan yang terjadi di sekitar lingkungan
kita, masyarakat kecil atau masyarakat kelas bawah ternyata
bukanlah masyarakat yang secara keseluruhan hanya mampu
menggantungkan kehidupannya pada pihak lain, dalam hal ini
terutama pada pemerintah. Mereka juga bukan seluruhnya dapat

14

dikatakan akan menjadi beban pembangunan bangsa. Kenapa bisa


dikatakan seperti itu, bukan lain karena diantara mereka juga pada
dasarnya

tumbuh

semangat

untuk

mandiri

dan

lepas

dari

ketergantungan pada pihak lain.


Kasus di Jakarta menunjukkan, ternyata partisipasi masyarakat
terhadap perekonomian cukup berarti bagi kelangsungan roda
pertumbuhan ekonomi, minimal mengurangi beban yang seharusnya
menjadi tanggungan pemerintah. Dalam kasus ini, Biro Pusat
Statistik (BPS) DKI Jakarta menghitung, ternyata pedagang kaki lima
Jakarta menyetor pungutan liar sebesar Rp 53,4 milyar/tahun,
dengan omzet Rp 42,3 milyar/hari!. Dari aset dan omzet yang ada,
ternyata sektor ini tidak begitu miskin, artinya angka yang dihasilkan
oleh mereka ternyata juga cukup besar.
Jadi dalam kasus tadi, sikap para pedagang kaki lima ternyata
menunjukkan bahwa mereka mampu eksis di tengah gelombang
terpaan krisis ekonomi yang terjadi. Jelas sikap kewirausahaan
semacam itu akan cukup signifikan bagi peningkatan kemampuan
masyarakat secara keseluruhan. Sedangkan di beberapa kota
lainnya, kita bisa menyaksikan, betapa di jalan-jalan utama kota tadi,
kini telah tumbuh pusat-pusat ekonomi informal yang juga ternyata
mampu

membantu

menaikan

pendapatan

ekonomi

warga

masyarakat serta diyakini kedepannya akan berimplikasi pada


peingkatan kehidupan dan kesejahteraan para pedagang yang ada
di sana.
Makanya tidak seluruhnya benar ungkapan yang mengatakan
bahwa penyebab keterpurukan ekonomi bangsa ini adalah karena
adanya ketidakmampuan untuk menumbuhkan modal (capital). Dari
segi ekonomi, modal adalah memang salah satu kekuatan
pertumbuhan ekonomi. Namun tanpa dibarengi dengan kekuatan
untuk berusaha dengan keras, tetap saja akan kurang signifikan
dengan peningkatan produktivitas. Sebagaimana para pedagang
kaki lima tadi, dengan modal terbatas, akhinya mereka tetap mampu

15

eksis. Dengan mereka eksis, minimal mereka akan mampu


memenuhi kebutuhan-kebuuhan dasar kehidupan keluarganya.
Diharapkan dari peningkatan tersebut, akan meningkatkan pula
kesejahteraan keluarga mereka. Dengan begitu, pemerintah tinggal
mendorong semangat berwirausaha ini menjadi semangat kolektif
yang terus pula dikembangkan menjadi lebih luas lewat pembinaanpembinaan

kelompok

usaha-kelompok

usaha

yang

ada

di

masyarakat, atau paling tidak memberikan arahan-arahan bagi


pengembangan usaha mereka secara personal.
Adapun, kalau kita jabarkan secara singkat dan sederhana,
peran apa saja yang dilakukan masyarakat dalam berpartisipasi
dalam peningkatan pembangunan daerah adalah, diantarnya :
1. Peran di Bidang Pendidikan
Pendidikan adalah permasalahan besar yang menyangkut
nasib dan masa depan bangsa dan negara. Karena itu, tuntutan
reformasi politik, ekonomi, sosial, hak azasi manusia, sistem
pemerintahan dan agraria tidak akan membuahkan hasil yang
baik tanpa reformasi sistem pendidikan. Krisis multidimensi
yang melanda negara dan bangsa Indonesia dewasa ini, tidak
hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, sosial dan politik,
melainkan juga oleh krisis pada sistem pendidikan nasional.
Upaya pemerintah memberikan bantuan darurat dalam
bentuk materi baik melalui program jaring pengaman sosial
maupun melalui proyek Padat Karya ternyata belum mampu
memberdayakan masyarakat miskin secara maksimal. Tentu
saja masyarakat lapisan bawah sangat memerlukan bantuan
semacam ini. Akan tetapi, fakta-fakta di lapangan menunjukkan
bahwa upaya tersebut masih sarat dengan korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Bantuan yang seharusnya menjadi porsi dan hak
masyarakat lapisan bawah justru sebaliknya kadangkala
dinikmati mereka yang tidak berhak.

16

Pola partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan


seharusnya memang bukan pola yang bersifat top-down
intervention yang

terkadang

mengandung

nuansa

kurang

menjunjung tinggi aspirasi dan potensi masyarakat untuk


melakukan kegiatan swadaya. Akan tetapi yang relatif lebih
sesuai dengan masyarakat lapisan bawah terutama yang
tinggal

di

desa

adalah

pola

pemberdayaan

yang

sifatnya bottom-up intervention yang di dalamnya ada nuansa


penghargaan dan pengakuan bahwa masyarakat lapisan
bawah memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhannya,
memecahkan permasalahannya, serta mampu melakukan
usaha-usaha

pendidikan

dengan

prinsip

swadaya

dan

kebersamaan. Bagaimana peran partisipasi masyarakat dalam


bidang pendidikan formal dan nonformal untuk melahirkan SDM
yang berkualitas tentu saja menjadi pekerjaan rumah semua
pihak.
Masalahnya

adalah

bagaimana

pemerintah

menjadi

motivator dan akselerator yang baik bagi tumbuhnya lembagalembaga

pendidikan

milik

masyarakat

sehingga

mampu

menjadi daya dukung pembangunan SDM yang berkualitas.


Pada tataran ini pula, pemerintah harus mendorong secara
maksimal agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas
pendidikan yang lebih baik, yang didalamnya terdapat tujuan
mulia

untuk

mengubah

perilaku

masyarakat,

yaitu

pengetahuan, sikap, dan keterampilan menjadi seorang insan


yang utama .
2. Peran di Bidang Ekonomi
Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani dan
buruh. Ironisnya, sejumlah besar petani kita, bekerja dan hidup
di atas lahan yang bukan milik mereka sendiri. Mereka yang
merasa memiliki lahan pun kadangkala tanpa hak kepemilikan
yang resmi. Legalisasi serta sertifikasi tanah yang ada baru

17

mencakup sebagian kecil dari lahan yang diolah para petani. Di


tengah kondisi itu, pemerintah belum mengupayakan perbaikan
maksimal nasib para petani. Wajarlah ketika akhirnya di Jawa
Tengah

para

petani

yang

kecewa

kepada

pemerintah

membakar gabah yang merupakan hasil panen dari kerja keras


dan banting tulang mereka selama ini.
3. Peran di Bidang Politik
Pada dataran konseptual, banyak pihak yang menyangka
bahwa politik pada dasarnya adalah hal yang hanya berurusan
dengan

kekuasaan.

Padahal

secara

substansial,

politik

sebenarnya menyangkut juga kehidupan manusia secara luas.


Makanya dalam kehidupan praktis, kita menjumpai istilah politik
ekonomi, politik pendidikan serta istilah politik lain yang
dihubungkan dengan persoalan yang terjadi. Namun begitu,
dalam konteks pembicaraan politik saat ini, kita akan
memfokuskan pada dua hal pembahasan.
Pertama, politik yang kita maknai sebagai wahana (arena)
perjuangan

tempat

elemen

dalam

masyarakat

bersaing

mendapat porsi dalam kekuasaan yang ada dalam bentuk


institusi

legislatif

dan

eksekutif

yang

adadi

berbagai

tingkatan. Kedua, ketika masalah pertama tadi telah dilampaui,


maka keadaannya menjadi bergeser ke dalam manajemen
kekuasaan tersebut. Secara substansi harusnya kekuasaan
mampu memberikan jawaban kepada publik, akan diarahkan
kemana kekuasaan yang telah diraih.
Secara ideal, siapapun yang pada akhirnya berkuasa
secara syah sekaligus secara legal formal aturan demokrasi
bisa terpenuhi harusnya mengarahkan kekuasaan yang ada
pada

pencapaian

sebesar-besarnya

bagi

pengurusan

kepentingan masyarakat. Secara spsifik berarti memperbesar


legitimasi dan fokus awal (yang ada pada kelompok atau
elemen pendukung awal; bisa berupa satu partai atau

18

gabungan) untuk sanggup melintasi tujuan bersama yang lebih


baik, yakni menuju masyarakat berkualitas yang dalam
kehidupannya

tercipta

keadilan,

kemakmuran,

dan

kesejahteraan. Masyarakat yang dalam hidupnya pula tercipta


rasa aman, damai sentausa, tanpa takut pada tekanan atau
intimidasi pihak lain.
Untuk mewujudkan hal yang seperti di atas, pada
dasarnya di masyarakat sendiri sebenarnya telah terbangun
sendi-sendi kehidupan yang mengarah ke sana. Di tengah
masyarakat pula, kita saksikan ada banyak tokoh masyarakat,
baik yang berlatar belakang tokoh agama (kyai, ulama atau
ustadz), tokoh sosial, aparat pemerintahan maupun para
pemimpin informal lainnya yang selalu saja akan segera sigap
membantu

penyelesaian

masalah

begitu

terjadi

kesalahpahaman atau persoalan-persoalan lain yang terjadi di


tengah masyarakat. Potensi inilah yang secara khusus harus
kita

syukuri,

mengingat

perselisihan

pandangan

atau

perbedaan politik seperti apapun yang terjadi di masyarakat


kita, akan segera selesai ketika para tokoh masyarakat sedera
ikut serta membantu penyelesaian masalah yang terjadi.
4. Peran di Bidang Sosial Budaya
Karya sastra dan kesenian yang tumbuh di tengah
masyarakat ternyata kadangkala mampu membuat banyak
orang terpengaruh, baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Pengaruh ini, baik sebatas visi dan pandangan hidup
atau malah pada perilaku keseharian. Dengan begitu kesan
yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah produk kesenian
haruslah mampu terkontrol. Artinya, seni dan produk berkesian
secara ideal seyogianya berada dalam koridor tatanan normatif
yang mampu menjembatani kebebasan berekspresi dan etika
yang berlaku di tengah masyarakat. Ini haruslah dilakukan,
mengingat Indonesia adalah negara yang secara nyata

19

menjadikan dasar-dasar kehidupan masyarakatnya berada di


atas landasan moral dan spiritual yang baik. Jika tidak terjadi
keseimbangan seperti itu, maka dikhawatirkan akan terjadi
polemik

berkepanjangan

sebagaimana

pada

tanpa

beberapa

penyelesaian.
waktu

yang

Ini

terjadi

lalu,

yang

dimungkinkan karena berbedanya cara pandang terhadap seni


dan produk kesenian yang ada di tengah masyarakat.
5. Peran di Bidang Mental Spiritual (Keagamaan)
Untuk

meningkatkan

kehidupan

keberagamaan

masyarakat, diperlukan sistem yang tepat, terpadu dan


sistemik. Untuk membangun hal tersebut, tentu saja pemerintah
tidak bisa berdiri sendiri, diperlukan peran masyarakat yang
lebih luas. Pendidikan agama yang selama ini berjalan tentu
saja tidak akan memadai untuk sekedar memahamkan orang.
Dan memang, pendidikan agama bukanlah segalagalanya,

tetapi

ia

lebih

sebagai

stimulan

untuk

mengembangkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang


hakiki. Kita semua mengetahui bahwa dinamika pendidikan
yang terjadi berjalan sangat cepat, sementara perbaikan sistem
yang bisa dilakukan terbatas dan butuh waktu yang tidak
sedikit. Dinamika ini pula kadangkala tidak bisa direspon
sesegera mungkin secara cepat. Oleh karena itu, kerjasama
mutlak diperlukan oleh semua pihak. Tidaklah cukup kalau
hanya dilakukan kerja-kerja yang sifatnya parsial. Maka
dibutuhkan upaya pendidikan agama secara terpadu untuk
menutupi kebutuhan ini.
6. Peran di Bidang Keamanan, Ketertiban dan Keindahan
Orang barat seringkali mengatakan Indonesia is a violent
country. Itulah kata-kata penyunting Freek Colombijn dan J.
Thomas Lindblad ketika memberi pengantar sebuah buku yang
berjudul Roots of Violence in Indonesia (menelusuri akar-akar

20

kekerasan

di

Indonesia).

Mereka

dalam

buku

tersebut

mengatakan bahwa geneologi kekerasan itu sendiri ternyata


berakar cukup kuat di Indonesia. Terutama sejak jatuhnya rezim
orde baru. Kekerasan menurut mereka seperti menjadi ritualitas
masyarakat

Indonesia

yang

diproduksi

dan

direproduksi

kembali. Kekerasan bulan Mei, Situbondo, Sambas, Ketapang,


Sampit, Maluku, dan seterusnya, cukup jelas menunjukkan
bahwa Indonesia menurut mereka adalah violent country.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu
meberikan

hasil

sesuai

dengan

masyarakat

di

pedesaan.

apa

yang

Pembangunan

diharapkan

yang

oleh

dilakukan

di

masyarakat desa akan menimbulkan dampak social dan budaya bagi


masyarakat.

Pendapat

ini

pada

berlandaskan

pada

asumsi

pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial dan budaya).


Selain itu masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari unsureunsur pokok pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan
birokrasi.
Tekhnologi

dan

birokrasi

merupakan

perangkat

canggih

pembangunan namun dilain sisi perangkat tersebut berhadapan


dengan masyarakat pedesaan yang masih tradisional dengan segala
kekhasannya. Apalagi jika unsur-unsur pokok tersebut langsung
diterapkan tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, agama
dan lain-lain, maka jangan harap pembangunan akan berhasil. Pihak
birokrasi akan sangat memerlukan usaha yang sangat ekstra jika
pola kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran dan tidak
berlandaskan pada kebutuhan masyarakat khususnya di pedesaan.

21

B. SARAN
Pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan untuk
memperkuat

fondasi

perekonimian

pengentasan

kemiskinan

dan

negara,

mempercepat

pengurangan

kesenjangan

perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial,


desa sebagai basis perubahan.

[1]

Dalam realisasinya, pembangunan

pedesaan memungkinkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi


digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi tempat yang
menarik

sebagai

tempat

penghidupan. [1] Infrastruktur

desa,

tinggal
seperti

dan
irigasi,

mencari
sarana

dan

prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan, kesehatan


dan sarana- sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan
sehingga memungkinkan desa maju dan berkembang

DAFTA PUSTAKA

22

Adisasmita, Rahardjo (2006). Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan.


Yogyakarta: Graha Ilmu.
A

Helmy

Faishal

Zaini.

artikel/Pembangunan_Pedesaan.pdf

"Pembangunan Pedesaan". Diakses 14 Mei 2014.


Daldjoeni, N dan A. Suyitno (2004). Pedesaan, Lingkungan dan
Pembangunan. Bandung: PT. Alumni.
Hulme, David & M. Turner (1990). Sociology of Development: Theories,
Policies and Practices. Hertfordshire: Harvester Whearsheaf
http://himasio-unsyiah.blogspot.com/2011/11/pengaruh-perubahan-sosialterhadap.htmlKartasasmita, Ginanjar. 1995.
Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial : Perspektif Klasik,
Modern, Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta: Rajawali Press.
Korten, David C. (1984). Pembangunan yang Memihak Rakyat. Jakarta:
Lembaga Studi Pembangunan.
.

23