Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MIKOLOGI

PEMBUATAN MEDIA PDA (POTATO DEXTROSE AGAR)

Oleh :
Jurusan Analis Kesehatan Semester V
Disampaikan kepada :
Dosen Pengampu Mata Kuliah Praktikum Mikologi

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
DIII JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di alam terdapat banyak cendawan dimana cendawan tersebut memiliki kemampuan


untuk berkembang dan memperbanyak diri. Selain di alam, cendawan juga dapat kita
kembangbiakkan dengan menggunakan media buatan agar tetap hidup sebagai koloni
tunggal. Cendawan yang berperan sebagai koloni tunggal tersebut dapat dimanfaatkan secara
lebih dibandingkan cendawan yang terdapat di alam.
Cendawan (jamur) termasuk dalam phylum tallophyta. Sebagian besar hidup sebagai
saprophytis dan sebagian kecil sebagai parasit pada tumbuhan, hewan,dan manusia. Fungi
mempunyai dinding sel dan inti yang jelas. Dapat berupa sel tunggal misalnya ragi atau
terdiri atas banyak sel. Ada yang terdiri atas banyak sel, bentuknya memanjang berupa
filament yang disebut hype. Hype ini ada yang berseptum ada yang tidak. Bila hype ini terus
tumbuh dan bercabang-cabang, terbentuklah tumbuhan yang disebut miselium. Miselium
yang menonjol dari permukaan substrat disebut miselium aerial, miselium yang menembus
kedalam substrat dan yang mengabsorpsi zat makanan disebut miselium vegetatif.
Sebelum melakukan pengamatan terhadap jamur di laboratorium, telebih dahulu kita
harus menumbuhkan atau membiakan jamur tersebut. Mikroorganisme dapat berkembang
biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh
manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah
dimengerti jenis-jenis nutrisi yang diisyaratkan oleh jamur dan juga macam lingkungan fisik
yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Mikroorganisme dapat
ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang
digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus
sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa
mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya
mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan
mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa
medium ditambahkan darah atau antibiotik.
Setiap media memiliki fungsi yang spesifik untuk menumbuhkan jenis mikroba
tertentu saja, tidak semua mikroba dapat ditumbuhkan dalam suatu media, karena ada pula
kandungan zat penghambat dalam media, sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan
pemeriksaan yang akan dilakukan.
Pengembangbiakan cendawan dilakukan dengan menanamkannya pada suatu media
tertentu. Media tersebut dapat berupa media alami, semi alami (semi sintetik) maupun sintetik
tergantung karakteristik cendawannya. Secara umum, cendawan dapat tumbuh dan
berkembang pada suatu media yang memiliki kandungan nutrisi cukup sesuai kebutuhannya

dengan kisaran pH antara 5-6. Setiap media yang telah dibuat tidak selalu dapat
menumbuhkan cendawan meskipun media tersebut mengandung nutrisi yang cukup dan
memiliki pH antara 5-6 karena tiap cendawan membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda.
Selain itu, ada juga cendawan yang tidak dapat tumbuh dalam media buatan.
Potato dextrose agar merupakan salah satu media yang baik di gunakan untuk
membiakkan suatu mikroorganisme cendawan/fungi. Potato dextrose agar merupakan paduan
yang sesuai untuk menumbuhkan biakan terutama fungi. (Winda, 2009)
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka praktikum yang berjudul Pembuatan
Media PDA (Potato Dextrose Agar) ini sangat diperlukan untuk meningkatkan keterampilan
mahasiswa dalam pembuatan media yang akan digunakan sebagai media dasar dalam
pemeriksaan-pemeriksaan mikologi selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah prosedur pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA)?
1.2.2 Apa sajakah fungsi dan karakteristik dari media Potato Dextrose Agar (PDA)?
1.2.3 Apa sajakah hal-hal kritis yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media
Potato Dextrose Agar (PDA)?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui prosedur pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA).
1.3.2 Untuk mengetahui fungsi dan karakteristik dari media Potato Dextrose Agar
1.3.3

(PDA).
Untuk mengetahui hal-hal kritis yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media
Potato Dextrose Agar (PDA).

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penulisan laporan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis serta pembaca dalam bidang mikologi.
1.4.2 Manfaat Praktis
a.
Mahasiswa mengetahui teknik pembuatan media dan reagensia yag diperlukan
b.

dalam pemeriksaan sampel secara bakteriologis.


Mahasiswa dapat membuat media dan reagensia yang digunakan dalam
pemeriksaan bakteriologis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Mikologi dan Jamur
a. Mikologi
Mikologi berasal dari bahasa Yunani myces yang berarti jamur dan logos yang berarti
ilmu. Menurut Alexopulus istilah mikologi kurang tepat. Istilah yang tepat adalah
mycetology, karena myces berdasarkan tata bahasa Yunani adalah myceto. Pada tahun 1729,
seorang ahli botani Italia bernama Pier Antonio Micheli menerbitkan hasil penelitian

mengenai fungi dalam NOVA PLANTARUM GENERA dan dia dianggap orang pertama
yang meletakkan sains Mikologi (Alexopolus et al.,1996).
Mikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang jamur
(fungi) - banyak orang juga menyebut cendawan. Kajian dalam mikologi antara lain meliputi
taksonomi jamur, fisiologi jamur, bioteknologi jamur, dan budidaya jamur (mushroom
culture).
Seiring perkembangan zaman Mikologi terbagi menjadi beberapa cabang misalnya:
Mikologi pangan, mikologi industri, mikologi pertanian, mikologi kesehatan
b. Jamur
Jamur merupakan organisme uniseluler atau multiseluler, dengan dinding sel
mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil. Jamur multiseluler tersusun atas rangkaian
sel-sel yang membentuk benang dengan atau tanpa sekat melintang, disebut hifa. Hifa dapat
berfungsi sebagai : penyerap makanan yang dilakukan oleh miselium (Kumpulan Hifa ).
Dengan alat reproduksi, misalnya sporangium dan konidium Reproduksi jamur uniseluler
secara : aseksual membentuk tunas, atau membentuk spora. Sedangkan seksual dengan
membentuk spora askus / askuspora. Reproduksi jamur multiseluler secara aseksual dengan
cara fragmentasi menghasilkan spora aseksual. Sedangkan reproduksi seksual dengan
peleburan inti jantan dan betina, akhirnya membentuk spora askus atau spora
basidium.Beberapa jenis Jamur hidup secara heterotrof dengan jalan menguraikan sampah
organic ( saprofit ), ada juga yang mengambil senyawa organic dari tubuh mahkluk hidup
lainnya (parasit ), ataupun hidup bersama dengan organisme lain (simbiosis). Dalam
klasifikasi, kingdom Fungi dikelompokkan menjadi beberapa divisi yaitu : Zygomycota,
Ascomycota, Basidiomycota dan Deuteromycota berdasarkan struktur tubuh dan cara
reproduksinya.
Jamur memiliki Ciri Khas yaitu merupakan organisme berbentuk talus, memiliki inti
sejati (eukaryote), memiliki dinding kaku berasal dari kitin atau selulosa, tidak memiliki zat
hijau daun dan bersifat kosmopolit.
Ada tiga jenis jamur yang dikenal dalam bidang kesehatan yaitu Jamur
Patogen (menimbulkan penyakit pada manusia), jamur Saproba (tidak menimbulkan penyakit
pada manusi) dan jamur Opportunis. Jamur opportunis berada antara jamur pathogen dan
jamur saproba. Jamur opportunis dapat menimbulkan penyakit walaupun dia tergolong pada
jamur saproba. Jamur opportunis akan menimbulkan penyakit apa bila ada factor pendukung.

Jamur ada yang uniseluler (disebut khamir, ragi atau yeast) terpisah satu-satu atau
memanjang/ berangkaian menyerupai benang "pseudohypae" dan ada yang multiseluler yang
membentuk benang(filament) dinamai kapang.
Koloni kapang mudah dibedakan dengan koloni khamir dan bakteri. Karena kapang
umumnya tumbuh berupa benang-benang halus sementara khamir atau bakteri tampak berupa
bulatan kental dengan permukaan licin, gelap atau kasar. Untuk membedakan koloni bakteri
atau khamir perlu dilakukan pengamatan dengan mikroskop.
Sifat sifat Jamur dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri koloni yang tumbuh pada
media dan ciri-ciri lainnya misalnya.

Koloni ragi
Ciri-ciri : basah, kental, tidak memiliki miselium,berkembang biak secara seksual
(Askosfora) dan aseksual (blastosfora). Contoh: Saccharomyces sp, Blastomyces
dermatis

Koloni menyerupai ragi


Ciri-ciri : basah, kental, memiliki peseudomiselium, tidak memiliki askospora,
berkembang biak secara aseksual dengan tunas dan blatosfora. Contoh : Candida
albicans

Koloni berfilamen
Ciri-ciri: Makroskopis tampak berbentuk seperti beludru, wool, kapas, dan katun.
Sementara secara mikroskopis penuh miselium berwarna Contoh: Aspergillus sp

Sifat Hifa/Miselium
Warna:

Putih

kuning

sampai

jingga

(penicillium)

hijau,

biru,

sampai

hitam( aspergillus); putih, abu- abu, sampai coklat (Sporothicum asbencty)

Septasi
Hifa bersepta (memiliki sekat). Contoh : Aspergillus
Hifa tidak bersepta atau di sebut juga "seonitic hifa" (tidak bersekat).
Contoh: Rhizopus sp

Percabangan
Membentuk sudut tajam (Aspergillus), dan membentuk sudut tegak lurus
(Psycomycetes)

Sifat spora
Jenis : seksual dan aseksual
Bentuk : bulat, lonjong, bulan sabit,

Warna : -Putih sampai kuning : Penicillium


- Hijau sampai biru : Aspergillus
- Coklat sampai hitam :homodendrum
Ukuran : - Kecil (mikroskopis) :uniseluler
- Besar (makroskopis) : kadang-kadang berseptum
2.2 Tinjauan Umum tentang Media
Sebelum melakukan pengamatan terhadap jamur di laboratorium, telebih dahulu kita
harus menumbuhkan atau membiakan jamur tersebut. Mikroorganisme dapat berkembang
biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh
manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media.
Medium pertumbuhan (disingkat medium) adalah tempat untuk menumbuhkan
mikroba. Mikroba memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi dan untuk bahan
pembangun sel, untuk sintesa protoplasma dan bagian-bagian sel lain. Setiap mikroba
mempunyai sifat fisiologi tertentu, sehingga memerlukan nutrisi tertentu pula. Setiap unsur
nutrisi mempunyai peran tersendiri dalam fisiologi sel. Unsur tersebut diberikan ke dalam
medium sebagai kation garam anorganik yang jumlahnya berbeda-beda tergantung pada
keperluannya. Beberapa golongan mikroba misalnya diatomae dan alga tertentu memerlukan
silika (Si) yang biasanya diberikan dalam bentuk silikat untuk menyusun dinding sel. Fungsi
dan kebutuhan natrium (Na) untuk beberapa jasad belum diketahui jumlahnya. Natrium
dalam kadar yang agak tinggi diperlukan oleh bakteri tertentu yang hidup di laut, algae hijau
biru, dan bakteri fotosintetik. Natrium tersebut tidak dapat digantikan oleh kation monovalen
yang lain (Sumarsih, 2003).
Jasad hidup dapat menggunakan makanannya dalam bentuk padat maupun cair
(larutan). Jasad yang dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat tergolong tipe
holozoik, sedangkan yang menggunakan makanan dalam bentuk cair tergolong tipe holofitik.
Jasad holofitik dapat pula menggunakan makanan dalam bentuk padat, tetapi makanan
tersebut harus dicernakan lebih dulu di luar sel dengan pertolongan enzim ekstra seluler.
Pencernaan di luar sel ini dikenal sebagai extracorporeal digestion.
Pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh faktor media tumbuh dan nutrisi untuk
pertumbuhannya. Media tumbuh yang baik dan sesuai dengan sifat dan fisiologis dari
mikroba tersebut akan menghasilkan biakan mikroba yang baik. Begitu pula dengan nutrisi
untuk perkembangan mikroba tersebut, apabila diberikan nutrisi yang cukup dan memadai

maka pertumbuhan dan perkembangan mikroba akan baik juga. Agar mikroba dapat tumbuh
dengan baik dalam suatu medium, maka harus dipenuhi syaratsyarat antara lain:
1. Medium harus megandung semua nurtisi yang mudah digunakan oleh mikroba.
2. Medium harus mempunyai tekanan osmose , tegangan permukaan, dan pH yang
sesuai.
3. Medium tidak mengandung zat zat penghambat.
4. Medium harus steril. (Singleton dan Sainsbury, 2006)
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran
zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit
untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat
mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media
pertumbuhannya.

Bahan-bahan media pertumbuhan

1. Bahan dasar

air (H2O) sebagai pelarut


agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi

oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 450C.


Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam
amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis

mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar.


Silica gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai
pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi
mikroorganisme autotrof obligat.

2. Nutrisi atau zat makanan


Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu
berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur
pelikan/trace element.
Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik
sesuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik
antara lain dari karbohidrat, lemak, protein dan asam organik.
Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain.
Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea.
Vitamin-vitamin.

3. Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan tujuan
tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator perubahan
pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk
menghambat pertumbuhan mikroba nontarget/kontaminan.
4. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media
Agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat
dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang
pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika
dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diasuk
dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama
dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
Peptone, peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot,
liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan kedelai. Komposisinya tergantung
pada bahan asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.
Meat extract. Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa,
plasenta dan daging sapi.
Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alkohol.
Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin (B complex).
Karbohidrat. Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino
dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunkan dalam amilum,
glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol, dll. Konsentrasi yang ditambahkan
untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.

Macam-Macam Media Pertumbuhan

1. Medium berdasarkan sifat fisik


Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin
media menjadi padat.
Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4%sehingga
menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semisolid dibuat dengan
tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak
mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh
pada media NfB (Nitrogen freeBromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin

hijau kebiruan dibawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat
dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi
oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen
meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata
diseluruh media.
Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB
(Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
2. Medium berdasarkan komposisi
Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan
takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti,
misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak
kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail
tentang komposisi senyawa penyusunnya.
Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat
diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya
Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
3. Medium berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba,
misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga
media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang
pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium
yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan
menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4%
untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.
Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk
pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum,
kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri
yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk

berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood


Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.
Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur.
Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu
mikroba. Contohnya adalah Kosers Citrate medium, yang digunakan untuk menguji
kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba.
Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia.
Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar
karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple
Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna,
ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.
2.3 Media Potato Detrose Agar (PDA)
Potato dextrose agar merupakan salah satu media yang baik digunakan untuk
membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungsi, bakteri, maupun sel
mahluk hidup. Media PDA merupakan jenis media biakan dan memiliki bentuk/ konsistensi
padat (solid). Potato dextrose agar merupakan paduan yang sesuai untuk menumbuhkan
biakan (Winda, 2009).
Media potato dextrose agar (PDA) berfungsi sebagai media kapang (jamur) dan
khamir. Selain itu PDA digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel
atau produk makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu
terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang
dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Komposisinya PDA berupa
kentang (4 g/L (berasal dari 200 gr kentang)), dektrose (15 g/L) dan aquades 1L.
Secara lebih rinci karakteristik media PDA terdiri dari :
a. Komposisi Media PDA (Potato Dextrose Agar)
-

Potato extract

: 40,0 gram

Dextrose

: 20,0 gram

Agar

: 15,0 gram
Gambar 1. Bubuk Media PDA

b. Fungsi dari Komposisi Media PDA (Potato Dextrose Agar)


-

Potato extract
Potato extract atau ekstrak kentang merupakan sumber karbohidrat atau makanan
bagi biakan pada media PDA (Potato Dextrose Agar).

Dextrose
Dextrose atau gugusan gula baik itu monosakarida maupun polisakarida
merupakan penambah nutrisi bagi biakan pada media PDA (Potato Dextrose
Agar).

Agar
Agar merupakan bahan media/tempat tumbuh bagi biakan yang baik, karena
mengandung cukup air.

c. Fungsi Media PDA (Potato Dextrose Agar) di Mikrobiologi


Dalam mikrobiologi media PDA (Potato Dextrose Agar) digunakan untuk
menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk
enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA
mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak
kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi
kurang baik untuk pertumbuhan bakteri.
2.4 Antibiotik
Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti = lawan, bios = hidup.
Adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat
menghambat

pertumbuhan

atau

membasmi

mikroba

jenis

lain,

sedangkan

toksisitasnya(racun) terhadap manusia relatif kecil.


Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris Dr.Alexander Flemming yaitu
antibiotik Penisilin pada tahun 1982 di London. Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan
digunakan dalam terapi pada tahun 1941 oleh Dr. Florey. Kemudian banyak zat dengan
khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain diseluruh dunia, namun
toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat. Antibiotik juga dapat
dibuat secara sintetis, atau semi sintetis.

Aktivitas antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat (mg) kecuali yang
belum sempurna pemurniannya dan terdiri dari campuran beberapa macam zat, atau karena
belum diketahui struktur kimianya, aktivitasnya dinyatakan dalam satuan internasional =
Internasional Unit (IU).
Mekanisme kerja Antibiotik adalah sebagai berikut.
1. Menghambat sintesa dinding sel.
2. Menghambat sintesa membrane sel.
3. Mengahmbat sintesa protein sel.
4. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA).
Antibiotik dapat digolongkan berdasarkan aktivitasnya, seperti :
1. Zat-zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum)
Zat aktif yang berkhasiat hanya pada satu jenis atau beberapa jenis bakteri saja (bakteri
gram positif saja atau bakteri gram negative saja).
2. Zat-zat dengan aktrivitas luas (broad spektrum)
Zat aktif yang berkhasiat untuk semua jenis bakteri, mau yang gram negative ataupun
gram positif.
Penggolongan antibiotik secara umum meliputi:
1. Golongan Penisilin

6. Golongan Makrolida

2. Golongan Sefalosporin

7. Golongan Rifampicin & Asam Ausidat

3. Golongan Aminoglikosida

8. Golongan Lain-lain

4. Golongan Kloramfenikol

9. Golongan Polipeptida

5. Golongan Tetrasiklin
BAB III
METODE PRATIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.1.1 Waktu
Pratikum dilaksankan pada Rabu, 17 September 2014
3.1.2 Tempat
Pelaksanaan praktikum mikologi ini, dilaksanakan di Laboratorium Virologi
Jurusan Analis Kesehatan Politekik Kesehatan Denpasar.
3.2 Metode Praktikum

Metode yang digunakan adalah pembuatan media secara langsung berdasarkan prinsip
penimbangan, pelarutan dan sterilisasi.
3.3 Alat Bahan & Reagen
a. Alat-alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Timbangan analitik
Gelas Arloji
Kertas timbang
Beaker glass
Pengaduk
Gelas ukur
Erlenmeyer
Pemanas listrik
Penyangga kaki tiga

10. Penahan
11. Pipet Pasteur
12. Petridisk steril
13. Auotoclave
14. Api spiritus
15. Incubator
16. Pipet ukur
17. Mortar dan pastle

b. Bahan
1. Media PDA (Potato Dextrose Agar) (Oxoid-CM0139)
2. Antibiotik Chlorampenicol 500 mg
3. Aquadest
4. Kertas pH/pH meter
5. NaOH 0,01 N
6. HCl 0,01 N
7. Kapas berlemak
8. Tissue
9. Aluminium foil
10. Benang pulung

3.4 Cara Kerja


1. Semua Alat Pelindung Diri digunakan dengan baik, benar, dan lengkap.
2. Disiapkan semua alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan
3. Dipastikan semua alat dan bahan dalam keadaan siap digunakan.
4. Ditimbang serbuk media PDA (Potato Dextrose Agar) sebanyak 7,8 gram.
5. Dipindahkan serbuk media PDA (Potato Dextrose Agar) ke beaker glass, lalu
ditambahkan aquadest dengan volume 200 ml, dipindahkan ke Erlenmeyer.
6. Dihomegenkan larutan dengan bantuan pemanasan dan pengadukan.
7. Pelarutan tidak boleh dilakukan sampai mendidih(pelarutan harus sempurna
sehingga tidak ada kristal yang bersisa.
8. Dicek pH larutan sesuai petunjuk media (pH = 5,6 0,2) pada suhu 25oC
9. Diperhatikan pengecekan suhu larutan saat pengecekan pH media.
10. Ditambah NaOH 0,01 N jika pH larutan kurang basa dan ditambahkan HCl 0,01
N ika pH larutan kurang asam.
11. Disterilisasi 121oC (1 atm); 15 menit
12. Dikeluarkan larutan dari autoclave, saat suhu rendah (20oC) dan tekanan telah
turun (dilihat indikator autoclave).
13. Dibiarkan larutan hingga suhu

50oC

lalu

ditambahkan

antibiotik

chlorampenicol 500mg (sebelumnya antibiotik chlorampenicol 500mg telah


dilarutkan dengan 10 mL aquadest, dan tiap 100 mL PDA = 1 mL suspensi
chlorampenicol).
14. Dihomogenkan larutan yang telah ditambahkan antibiotik chlorampenicol (dapat
dibantu pemanasan, suhu 70oC).
15. Dituang ke petridisk steril yang telah disediakan.
16. Dibiarkan media pada petridisk membeku dengan sempurna.
17. Dimasukkan media ke incubator (37oC), 24 jam untuk uji kualitas media,
dengan posisi petridisk steril terbalik.
18. Disimpan pada suhu 4oC 8oC untuk menyimpan media.

Perhitungan Penimbangan Bubuk Media


1. Penimbangan Media PDA
Diketahui : V1 = 1000 mL; V2 = 200 mL

W1 = 39 gram
Ditanya : W2 = ..?
Jawab
:

1000 mL 200 mL
=
39 gram
W2

W 2=

M2

7800 mLgram
1000 mL
= 7,8 gram

Jadi, bubuk media PDA yang ditimbang adalah 7,8 gram

2. Volume antibiotik yang ditambahkan pada 200 mL larutan media


Ketentuan : 100mL PDA = 1 mL antibiotic
100 mL
200 mL
=

1 mL
Vantibiotik 2

200 mL .1mL
100mL

Vantibiotik 2=

Vantibiotik 2=2 mL

Jadi , volume antibiotik yang ditambahkan pada media yaitu 2 mL

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENGAMATAN


a. Gambar Hasil Pengamatan

KETERANGAN
Serbuk media PDA yang telah

GAMBAR

ditimbang sebanyak 7,8 gram


ditambahkan aquadest sebanyak
200 ml untuk melarutkan bubuk
media. Kemudian dihomogenkan.

Media PDA dipanaskan dengan


kompor listrik untuk melarutkan
serbuk-serbuk media. Pemanasan
tidak boleh sampai mendidih.

Media PDA ditambahkan


antibiotik chlorampenicol
sebanyak 2 ml (perbandingan

media: antibiotic= 100 ml: 1 ml).


Setelah sebelumnya media
disterilisasi dengan autoclave pada
suhu 121 C (1 atm)
15 menit.

Media yang telah disterilisasi dan


ditambah antibiotic . Dituang ke
dalam petridisk, kemudian
dibiarkan membeku. Disimpan

pada suhu 4-8 C untuk


menyimpan media. Media
disimpan dalam posisi terbalik.

4.2 PEMBAHASAN

a. Pembuatan Media Potato Detrose Agar (PDA)

Dari pratikum yang telah dilaksanakan telah pada hari Rabu, 17

September 2014, dibuat media Potato Detrose Agar (PDA). Pembuatan media PDA
pada praktikum ini menggunakan bubuk media sintetis merk OXOID dengan prinsip
pembuatan melalui melalui tahapan penimbangan, pelarutan dan terakhir sterilisasi.

Dalam praktikum ini dilakukan pembuatan media PDA (Potato Dextrose

Agar). Media PDA berfungsi untuk membiakan dan menumbuhkan jamur. Dalam
pembuatan media PDA ada beberapa tahap antara lain sebagai berikut.

Penimbangan, penimbangan bubuk media harus tepat agar konsentrasi

media yang terlarut dalam aquadest dalam jumlah yang tepat dan media dapat memadat
dengan baik. Dimana pada praktikum kali ini bubuk media digunakan bubuk media
PDA merk OXOID dan ditimbang sebanyak 7,8 g.

Pelarutan, media yang telah tadi dilarutkan dengan 200 ml auadest yang

ditakar secara tepat menggunakan gelas ukur. Media dilarutkan dengan bantuan
pemanasan dan pengadukan, pemanasan diperluka supaya agar yang terkandung pada
media dapat mengembang dan pada akhirnya nanti dapat memadat, pemanasan tidak
boleh sampai mendidih agar nutrisi-nutrisi media tidak pecah dan rusak. Pemanasan
yang sempurna di tandai dengan terlarunya semua serbuk dan tidak ada sisa kristal.
Adapun perubahan warna ang terlihat saat pemanasan adalah dari warna kuning keruh
berubah menjadi kuning bening. PH larutan di ukur, pH yang sesuai dengan
rekomendasi yang tertera pada etiket yang diberikan oleh pabrikan untuk media PDA
adalah 5,6 0,2 pada suhu 25C. Jika pH kurang asam maka ditambahkan larutan asam
yaitu HCL 0,01 N dan jika media kurang basa maka di tambahkan larutan basa NaOH

0,01 N. dalam praktikum kali ini tidak terjadi penyimpangan pH pada media yang
dibuat sehingga penambahan larutan asam maupun basa tidak dilakukan.

Erlenmeyer kemudian di tutup dengan kapas berlemak agar saat

sterilisasi berlangsung media tidak menguap keluar dan untuk mengindari kontaminasi
dari luar. Media disterilisasi dengan autoklaf selama 15 menit dengan susu 121C.
setelah sterilisasi media di tambahkan dengan antibiotic chlorampenicol dengan
perbandingan 100 ml PDA = 1 ml suspensi antibiotik dan penambahan ini di lakukan
saat suhu media kira-kira 50C, agar fungsi antibiotik tidak terhambat. Karena dibuat
media PDA dengan volume 200 ml maka antibiotik yang diperlukan adalah 2 ml.
Fungsi dari penambaha antibiotik adalah untuk menghambat pertumbuhan bakteri agar
jamur dapat tumbuh dengan baik, karena tujuan dari pembuatan media PDA ini sendiri
adalah untuk menumbuhkan jamur, sehingga kemungkinan ikut tumbuhnya bakteri pada
media diminimalisir dengan penambahan antibiotik ini. Media kemudian di tuang pada
petridisk dengan volume 15- 25 ml dengan ketebalan media pada petridisk kira-kira 0.5
cm. Ditunggu media agar mengeras atau memadat sempurna dan terakhir simpan media
pada suhu 4C-8C pada posisi petridisk terbalik untuk menghindari tetesan-tetesan
embun dari uap air ke media yang dapat mengontaminasi media.

b. Fungsi dan Karakteristik Media Potato Dextrose Agar (PDA)


Media Potato Dextrose Agar (PDA) memiliki fungsi secara umum untuk

menjadi media pertumbuhan atau pembiakan mikroorganisme jenis jamur. Karakteristik


media PDA ini sendiri dapat dilihat dari jenis, konsistensi, warna, sifat media, dan pH,
serta ciri khusus lainnya.

Berdasarkan jenis wadah tempat dibentuknya media PDA termasuk

media plate, dimana media ini memiliki kosistensi padat, dan secara visual memiliki
warna kuning tipis. Media PDA bersifat selektif untuk menumbuhkan jamursepeti ragi.
Media ini memiliki pH sedikit asam dimana media PDA ini stabil digunakan pada pH
5,6 0,2 pada suhu ruang 250C. Media PDA memiliki karakteristik khusus
dibandingkan media lainnya dari segi ahan penyusunnya, dimana dalam pembuatan
media PDA ini diberikan bahan tambahan bahan berupa antibiotik sebagai bahan
antibakteri, sehingga jamur yang hendak ditumbuhkan dapat tumbuh dengan baik di
dalam mdia tanpa adanya gangguan dari bakteri.
c. Nilai Kritis Pembuatan Media

Nilai-nilai kritis dalam pembuatan madia ini antara lain :


1. Penimbangan bubuk media harus sesuai dengan volume yang akan dibuat, maka
dari itu dapat dibantu dengan perhitungan.
2. Pelarutan media jangan sampai mendidih karena dapat merusak komposisi media,
khususnya kandungan gula (laktosa), merubah pH media, dan membuat media
susah memadat.
3. Pengecekan pH media harus pada suhu 25 C agar tidak merusak indikator pH yang
digunakan.
4. Proses sterilisasi harus tepat suhu, waktu dan tekanan pada autoklaf agar media
yang dibuat terhindar dari kerusakan dan kontaminasi yang tidak diinginkan.
5. Proses pengerjaan harus cepat dan tepat, khususnya saat media akan dituang ke
petridisk, agar media tidak memadat sebelum dipindahkan ke petridisk.
6. Penuangan media ke petri disk harus pada kondisi steril yaitu melalui proses
fiksasi.
7. Sebelum diinkubasi atau disimpan dpastikan media sudah memadat terlebih dahulu,
karena proses inkubasi maupun penyimpanan media akan dilakukan dalam posisi
petridisk terbalik.
8. Media diinkubasi selama 24 jam, dengan posisi petridisk terbalik, untuk
menyediakan sirkulasi udara yang baik untuk pertumbuhan bakteri, dan agar uap air
yang berkondensasi menjadi tetesan air tidak jatuh ke permukaan media dan
menyebabkan kontaminasi.
9. Media yang sudah jadi harus disimpan pada lemari pendingin pada suhu 2 0-80C
dalam posisi petridisk terbalik untuk menjaga kualitas media tetap baik sebelum
digunakan.
10. Setiap tahapan pembuatan media PDA ini perlu diperhatikan benar sterilitas saat
bekerja, agar kemungkinan terjadinya kontaminasi bakteri pada media dapat
dihindari. Sehinga jamur yang akan dikultur pada media ini nantinya dapt tumbuh
sempurna tanpa gangguan mikroorganisme lain seperti bakteri.

BAB V
PENUTUP

5.1 SIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Media PDA (Potato Dextrose Agar ) dapat dibuat seara langsung dengan
berdasarkan pada prinsip penimbangan yang tepat, pelarutan, serta sterilisasi.
dalam pembuatan media PDA juga menggunakan bahan tambahan yaitu
antibiotik sebagai antibakteri. Dalam praktikum ini dibuat 200 ml larutan
media PDA dengan melarutkan 7,8 g bubuk media PDA merk OXOID.
2. Media PDA (Potato Dextrose Agar ) merupakan media berkonsistensi padat
berwarna kuning pias (kuning tipis). Media ini bersifat selektif

yang

digunakan untuk media kultur atau pembiakan jenis-jenis jamur.


3. Nilai kritis yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media PDA ini antara
lain penimbangan, pelarutan, pengecekan pH, proses sterilisasi, proses
pengerjaan harus steril, penuangan media ke petridisk, proses inkubasi, dan
penyimpanan media yang telah jadi.

5.2 SARAN

Dalam pembuatan media dan reagensia untuk pemeriksaan mikrobiologi


hendaknya prinsip pembuatan dan suasana aseptis tetap diperhatikan. Selain itu jenis
media yang dibuat harus disesuakan dengan jenis pemeriksaan yang dilakukan agar
sesuai dengan fungsi dari media itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Kawuri, R., Y. Ramona dan I. B. G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum


Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Biologi F. MIPA UNUD : Bukit Jimbaran

Pelczar, M.J. dan Chan, E. C. S., 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1.


Jakarta:UI Press

Singleton dan Sainsbury, 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular


Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons Inc. Sussex, England.

Sumarsih, S., 2003. Mikrobiologi Dasar. Universitas Pembangunan Nasional


Veteran, Yogyakarta.

Supardi, dan Sukamto. 1999. Mikrobiologi Dalam Pengolahan Dan Keamanan


Produk Pangan. Bandung : Penerbit Alumni.