Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita dialami oleh semua
ibu yang merasakan kehamilan karena merupakan episode dramatis terhadap
kondisi biologis. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan
adalah kodrat yang harus dilalui tetapi sebagian lagi menggapnya, sebagai
peristiwa yang menetukan kebidupan selanjutnya.
Perubahan fisik dan emosional yang komplek, memerlukan adaptasi
terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik
antara keinginan prokreasi kebanggan yang ditumbuhkan dari norma-nomra social
kultur dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus
berbagai reaksi psikologis mulai dari reaksi emosional emosional ringan hingga
ke tingkat gangguan jiwa yang berat.
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam mengahadapi aktivitas
dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama
setelah melahirkan, baik tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri
dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau
sindroma yang oleh para peneliti dan klinisi disebut post-partum blues.
Post-partum blues (PPB) atau serig juga disebut maternity blues atau baby
blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering
tampak dalam minggu petama setelh persalinan dan ditandai dengan gejala-gejala
seperti: reaksi deprsi/sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas),
cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri , gangguan tidur
dan gangguan nafsu makan . Gejala-gejala ini muncul setelah persalinan dan pada
umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa
hari . Namun pada beberapa kasus gejala-gejala tersebut terus bertahan dan baru
menghilang setelah beberapa hari. Minggu atau bulan kemudian bahkan dapat
berkembang menjadi keadaan yang lebih berat. Untuk itu, kami disini akan
mencoba membahas mengenai Post Partum Blues yang bertujuan memberikan
wawasan kepada perawat serta masyarakat luas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Post Partum Blues
Post Partum Blues adalah keadaan depresi ringan dan sepintas yang
umumnya terjadi dalam minggu pertama atau lebih sesudah melahirkan ( Marshal,
2004). Menurut Jan Riordan dan Kathleen (2001), mendefinisikan bahwa
postpartum bluse adalah kesedihan postpartum: tangisan perubahan suasana hati
yang mana lebih sering terjadi pada anak pertama dan bersifat sementara pada
minggu pertama dan kedua. Dapat juga diartikan keadaan depresi secara fisik
maupun psikis pada ibu yang dapat terjadi setelah beberapa hari kelahiran sampai
kira-kira sebelum kemudian. Sedangkan Linda (2004), mendefinisikan postpartum
bluse adalah periode pendek kelabilan emosi sementara yang ditandai dengan
mudah menangis, iritabilitas, rasa letih, mudah marah, cemas dan sedih biasanya
terjadi menjelang akhir minggu postpartum pertama.
2.2 Penyebab Post Partum Bluse
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini
belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya
postpartum blues, antara lain:
1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen,
progesteron, prolaktin dan estradiol. Penurunan kadar estrogen setelah
melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum
karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine
oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin
dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian
depresi.
2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
4. Latar belakang psikososial ibu, seperti; tingkat pendidikan, status
perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan
kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial
dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami
menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman
memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah
tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah)

5.
6.

7.

selama ibu menjalani masa kehamilannya atau timbul permasalahan,


misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri
maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orang tua dan
mertua, problem dengan si sulung.
Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.
Namun ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa Post partum
blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau
kekurangan gizi. Antara 8% sampai 12% wanita tidak dapat
menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan
sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih
mungkin mengembangkan depresi post partum jika mereka terisolasi
secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa
kehidupan yang menakan.
Ada juga yang berpendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini
disebabkan oleh beberapa factor dari dalam dan luar individu. Penelitian
dari Dirksen dan De Jonge Andriaansen (1985) menunjukkan bahwa
depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bagi perkembangan
anak di kemudian hari. De Jonge Andriaansen juga meneliti beberapa
teknologi medis (penggunaan alat-alat obstetrical) dalam pertolongan
melahirkan dapat memicu depresi postpartum blues ini. Misalnya saja
pada pembedahan caesar, penggunaan tang, tusuk punggung, episiotomi
dan sebagainya. Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca
melahirkan juga dapat dianggap pemicu.

2.3 Etiologi
Banyak faktor diduga berperan pada sindrom ini, antara lain adalah:
1. Faktor hormonal
Perubahan kadar estrogen, progesterone, prolactin, dan estriol serta tiroid
yang terlalu rendah atau tinggi. Perubbahan yang terjadi selama kehamilan
khussusnya peningkatan hormone dapat menimbulkan tingkat kecemasan
yang semakin berarti menurut teori Anderson (1994). Rasa khawatir
menerima peran baru menjadi krisis situasi yang terjadi. Penurunan
hormone secara drastic yang terjadi setelah melahirkan, dapat mengganggu
ekadaan emosional terutama gangguan mood. Menurut Robson (1999,
dalam Bobak 2000) menyatakan faktor utama untuk kecemasan tersebut
terjadi dikarenakan perubahan sebagian besar hormone-hormon yang
merupakan adaptasi pada masa setelah persalinan.

2. Faktor demografi (umur)


Umur ibu sangat mempengaruhi perkembangan bayi mereka.seperti umur
kurang dari 20 tahun, lebih banyak memiliki dampak psikologis yang
merugikan akibat kemungkinan efek jangka panjang pada pendidikan dan
karir masa depan, implikasi finansial tentang perawatan anak perawatan
anak dan gangguan psikologis (iMeichen dan Hudson dalam Handerson,
2006).
3. Jumlah kehamilan dan melahirkan
Kehamilan dianggap sebagai krisis emosi oleh beberapa ahli. Pengalaman
traumatic selama hamil dan melahirkan dapat berpengaruh terhadap
terjadinya post partum blues. Teori Sherwen (1999) yang menyebutkan
bahwa proses persalinan, lamanya persalinan hingga komplikasi yang
dialami setelah persalinan dapat mempengaruhi psikologis ibu, dimana
semakin besar trauma psikis yang muncul
4. Latar belakang wanita yang bersangkutan (tingkat pendidikan dan
pekerjaan)
Ihsan,(2003 dalam Henderson,2006) mengatakan pendidikan sebagai
dasarusaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensipotensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai
di dalam masyarakat dan kebudayaan.
5. Riwayat gangguan jiwa sebelumnya.
6. Social ekonomi serta ketidakadekuatan dukungan social dari
lingkungannya
Dukungan selama masa kehamilan dan persalinan dapat diberikan oleh
pasangan, teman dan secara khusus diberikan oleh tenaga kesehatan
(Handerson,2006)
7. Kelelahan pasca bersalin
8. Rasa memiliki bayi yang terklalu dalam sehingga takut yang berlebihan
akan kehilangan bayinya
9. Masalah kecemburuan dari anak yang terdahulunya.
10. Ketidaksiapan terhadap perubahan peran yang terjadi pada wanita tersebut.
11. Stress yang dialami oleh wanita itu sendiri misalnyakarena belum bisa
menyusui bayinya, rasa bosan terhadap rutinitas barunya.
2.4 Pathofisiologi

Periode pasca
melahirkan

Penurunan kadar
hormone esteregen,
progesterone, estriol

Supresi aktifitas
enzim monoamine
oksidase

Menginaktivasi
noreadrenalin dan
serotonin

Peningkatan
emosional
(labilitas)

Luka bekas
jahitan/episiotomi/trauma
jalan lahir

Keadaan
psikososial

Ketidaknyaman
Kehamilan yang
tidak diinginkan
dan ekonomi
rendah

an fisik

Nyeri

Ansieta
s

Gangguan
pemenuhan
istirahat tidur :

Ketidaksiapan
perubahan
peran

Ketidakefektif
an koping

Puncak dari post partum blues ini 3-5 hari setelah melahirkan dan
berlangsung dari beberapa hari sampai 2 minggu. Oleh karena begitu umum maka
diharapkan tidak dianggap sebagai penyakit. Pada periode pasca melahirkan
terjadi perubahan hormonal yaitu perubahan kadar estrogen, progesterone,
prolaktin, serta estriol yang terlalu rendah sehingga menginaktivasi noreadrenalin
dan serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi. Selain itu,
pascamelahirkan juga menimbulkan rasa nyeri akibat dari luka jahit, bengkak
payudara, episiotomy atau trauma jalan lahir. Hal ini juga dapat menyebabkan
gangguan pemenuhan kebutuhan tidur : insomnia. Latar belakang psikososial ibu
misalnya kehamilan yang tidak diinginkan, tingkat ekonomi yang rendah serta
tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan ketidaksiapan peran sebagai ibu
sehingga menimbulkan stress.
2.5 Manifestasi Klinis

Menurut Vanden Berg (dalam Cunning Ham dkk, 1995),


menyatakan bahwa keluhan dan gejala post partum blues tidak
berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya.
Hal senada juga diungkapakan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa
gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita hamper
sama dengan gejala depresi pada umumnya. Gejala post partum
blues biasanya muncul pada hari ke 3 atau 6 setelah melahirkan.
Gejala yang timbul diantaranya:
1.
2.
3.
4.
5.

Mudah menangis tanpa sebab


Reaksi depresi/sedih/disforia
Merasa tertekan dan tidak bahagia
Mengalami perubahan perasaan (labil)
Merasa gelisah, cemas, terlalu sensitive, dan mudah
tersinggung (iritabilitas)
6. Kesepian
7. Khawatir mengenai sang bayi
8. Penurunan gairah seks
9. Perasaan negative pada bayi yang dilahirkan
10.
Adanya perasaan untuk membenci diri sendiri,
perasaan bersalah, individu merasa tidak berguna
11.
Tidak mau makan dan perubahan drastis pada berat
badan
12.
Gangguan tidur (insomnia)
13.
Tidak mau bicara
14.
Sakit kepala sering
15.
Kurang percaya diri terhadap kemampuan menjadi
seorang ibu

2.5 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk post partum blues menurut
Marshall (2004), antara lain:
a. Membicarakan rasa tertekan dengan orang yang memiliki
ketrampilan mendengar (sahabat)
b. Meluangkan waktu berbicara dengan pasangan. Diskusikan
perubahan-perubahan yang terjadi, dukungan suami
memang paling penting
c. Membiarkan teman dan keluarga membantu merawat anak
untuk mengerjakan pekerjaan rumah

d. Mencari waktu melakukan hobi, misalnya, membaca,


membuat kerajinan tangan, berendam dalam air hangat,
meditasi, atau hal lain yang membuat rileks dan nikmat
e. Untuk mengatasi kelelahan dan depresi, perlu cukup
istirahat, sebaiknya bisa tidur 8 jam sehari, usahakan tidur
saat bayi terlelap
f. Menggerakkan badan, jalan kaki keliling sekitar rumah pun
sudah cukup. Peningkatan metabolisme dan pergantian
suasana dapat membuat perasaan lebih nyaman
g. Mengkonsumsi makanan seimbang yang bergizi dan
berserat seperti gandum, beras merah atau jagung, buah,
sayuran sertakan daging atau ikan. Jauhi kopi, alcohol dan
gula
h. Mengungkapkan perasaan di buku harian. Menulis adalah
salah satu cara mengungkapkan emosi
i. Memiliki bayi adalah perubahan besar dalam hidup,
menghadapi dengan waktu, penyesuaian terhadap
perubahan akan dapat dilalui
Penatalaksanaan dapat dibagi untuk ibunya, hubungan ibuanak dan anaknya. Misalnya: relaksasi, berupa latihan relaksasi
sederhana atau berbagai ragam bentuk relaksasi, seperti
rekreasi, olahraga , renang, senam, dan sebagainya.
Menghilangkan pikiran-pikiran negative yang mempengaruhi,
pemecahan masalah atau problem solving yaitu mengarahkan
atau memberi alternative pemecahan terhadap masalah yang
tengah dialami, komunikasi dengan suami dan anggota keluarga
yang lain.
Untuk memperbaiki hubungan ibu-anak dapat dilakukan
berbagai upaya, misal menganjurkan ibu untuk sesering mungkin
merawat bayinya (selama 2 atau 3 jam hanya berdua dengan
bayi ditempat yang nyaman dan sunyi disertai iringan alunan
music atau bagi yang muslim bisa menggunakan murottal AlQuran. Diusahakan sesering mungkin terjadi kontak mata antara
ibu dengan bayinya sambal menyusui ataupun memberi susu
dari botol. Menyediakan tempat istirahat yang nyaman bagi bayi
dan dirinya sendiri, karena bayi istirahat. Ibu bisa memeluk bayi
dan berbicara dengannya dengan lembut, kontak antara kulit

bayi dan ibu dapat menurunkan tingkat ketegangan atau


kecemasan pada ibu maupun pada bayi. Demikian elusan dan
pemijatan ringan oleh ibu akan membantu memperbaiki
emosional ibu, agar gangguan tidak terjadi.
Melibatkan anggota keluarga yang lain dalam merawat
bayi, missal nenek atau mertua bila ada. Ajak bayi keluar rumah
untuk menghirup udara bersih dan segar. Udara yang bersih dan
segar untuk memperbaiki moodnya. Bila timbul perasaan
negative seperti kesepian, marah, frustasi atau lelah, ibu bisa
meninggalkan bayi untuk sementara waktu, minta orang lain
yang dipercaya untuk menjaga sementara waktu. Bergabung
dengan ibu-ibu baru untuk bertukar pengalaman dan menambah
pengetahuan bisa juga menjadi cara untuk ibu yang mengalami
post partum blues.
2.6 Komplikasi
Post partum blues dapat meningkat pada tahap selanjutnya yang
dinamakan depresi post partum dengan karakteristik biasa terjadi mimpi buruk
lebih sering, phobia yang terus menerus dan irasional dan dapat berlanjut pada
post partum psikosis dimana sudah terjadi pada tahap yang mengancam jiwa baik
si ibu dan bayi.
Post partum psikosis, dalam kondisi seperti in terjadi tekanan jiwa yang
sangat berat karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh
gangguan kejiwaanya setiap pasca melahirkan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA POST PARTUM BLUES
3.1 Pengkajian
Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak ( 2004 )
dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru.
Pengkajiannya meliputi ;
1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat,
medical record dan lain-lain
2. Dampak pengalaman melahirkan
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk
memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku
mereka saat hamil dalam upaya retrospeksi diri (Konrad, 1987).
Selama hamil, ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu
rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka, hal-hal yang
mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari
yang diharapkan (misalnya ; induksi, anestesi epidural, kelahiran
sesar), orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai
yang telah direncanakan sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua
tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi
adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
3. Citra diri ibu

Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri, citra tubuh,


dan seksualitas ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan
tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan
adaptasinya dalam menjadi orang tua. Konsep diri dan citra tubuh
ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya. Perasaan-perasaan
yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah
melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua
baru. Ibu yang baru melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai
hubungan seksual karena takut merasa nyeri atau takut bahwa
hubungan seksual akan mengganggu penyembuhan jaringan
perineum.
4. Interaksi Orang tua Bayi
Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi
evaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua
terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku
maladatif. Baik ibu maupun ayah menunjukkan kedua jenis perilaku
maupun saat ini kebanyakan riset hanya berfokus pada ibu. Banyak
orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua sampai
akhirnya keterampilan mereka membaik. Kualitas keibuan atau
kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan
perlindungan anak. Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau
tidaknya kualitas ini, terlihat segera setelah ibu melahirkan, saat
orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses
untuk menegakkan hubungan mereka.
5. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif
Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis
orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan
keterbatasan kemampuan mereka, respon social yang tidak matur,
dan ketidakberdayaannya. Orang tua menunjukkan perilaku yang
adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran bayinya
dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama
anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui
ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian
menenangkan bayinya, dan ketika mereka dapat membaca gerakan
bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi. Perilaku maladaptif
terlihat ketika respon orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan
bayinya. Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fisik
dengan anak mereka. Bayi bayi ini cenderung akan dapat
diperlakukan kasar. Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat
anaknya. Tugas merawat anak seperti memandikan atau mengganti

pakaian, dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Orang tua


tidak mampu membedakan cara berespon terhadap tanda yang
disampaikan oleh bayi, seperti rasa lapar, lelah keinginan untuk
berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata.
Tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai
anak yang sehat dan gembira.
6. Struktur dan fungsi keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post
partum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga.
Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat
dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya, ibunya dengan
keluarga lain, dan anak-anak lain. Perawat dapat membantu
meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji
kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan
membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah
tersebut sebelum keluar dari rumah sakit.
Sedangkan Pengkajian Dasar data klien menurut Marilynn E. Doenges
( 2001 ) Adalah :
a. Aktivitas / istirahat Insomnia mungkin teramati.
b. Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
c. Integritas Ego
Peka rangsang, takut/menangis (" Post partum blues " sering
terlihat kira-kira 3 hari setelah kelahiran).
d. Eliminasi
Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5.
e. Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan mungkin hari
hari ke-3.
f. Nyeri/ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3
sampai ke-5 pascapartum.
g. Seksualitas
Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran,
menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhia rubra berlanjut
sampai hari ke-2- 3, berlanjut menjadi lokhia serosa dengan aliran
tergantung pada posisi (misalnya ; rekumben versus ambulasi
berdiri) dan aktivitas (misalnya ; menyusui). Payudara : Produksi
kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur, biasanya pada
hari ke-3; mungkin lebih dini, tergantung kapan menyusui dimulai.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan pada pasien postpartum blues diantaranya
adalah :
a. Ansietas b/d ketidaknyamanan fisik
b.Nyeri akut/ketidaknyamanan b/d trauma mekanis, luka bekas
jahitan/episiotomi
c. Ketidaksiapan perubahan peran menjadi orang tua b/d kehamilan yang
tidak diinginkan, ekonomi rendah.
d. ketidakefektifan koping individu b/d perubahan emosional yang tidak
stabil pada ibu
e. Gangguan pola tidur b/d nyeri/ketidaknyamanan, proses persalinan
dan kelahiran melelahkan.
3.3 Rencana Keperawatan
a) Ansietas b/d ketidaknyamanan fisik
Tujuan : mengurangi/menghilangkan kecemasan pada ibu post
partum
Intervensi Keperawatan :
1) Dorong klien untuk mengungkapkan kecemasannya
Rasional : mengidentifikasi penyebab kecemasan
2) Dorong klien untuk mengkomunikasikan permasalahannya yang
ingin disampaikan
Rasional : untuk mengetahui masalah penyebab kecemasan dan
proses problem solving
3) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam)
Rasional : untuk membuat klien tenang
4) Ajarkan teknik distraksi (nonton TV, olahraga ringan, bercerita,dll)
Rasional : untuk mengalihkan kecemasannya
b) Nyeri akut/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, luka
bekas jahitan, episiotomy.
Tujuan : Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk
mengatasi
ketidaknyamanan.
Intervensi Keperawatan :
1) Tentukan adanya, lokasi, dan sifat ketidaknyamanan.
Rasional : Mengidentifikasi kebutuhan kebutuhan khusus dan
intervensi yang tepat.
2) Inspeksi perbaikan perineum dan epiostomi.

Rasional : Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan


perineal dan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi /
intervensi lanjut.
3) Berikan kompres es pada perineum, khususnya selama 24 jam
pertama setelah kelahiran.
Rasional : Memberi anestesia lokal, meningkatkan
vasokonstriksi, dan mengurangi edema dan vasodilatasi.
4) Berikan kompres panas lembab (misalnya ; rendam duduk / bak
mandi)
Rasional : Meningkatkan sirkulasi pada perineum, meningkatkan
oksigenasi dan nutrisi pada jaringan, menurunkan edema dan
meningkatkan penyembuhan.
5) Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan
episiotomy.
Rasional : Penggunaan pengencangan gluteal saat duduk
menurunkan stres dan tekanan langsung pada perineum.
6) Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik 30-60 menit sebelum
menyusui.
Rasional : Memberikan kenyamanan, khususnya selama laktasi,
bila afterpain paling hebat karena pelepasan oksitosin.
c) Ketidaksiapan perubahan peran menjadi orang tua berhubungan
dengan kehamilan yang tidak diinginkan, ekonomi rendah.
Tujuan : Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi
orang tua, mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis,
secara aktif mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan
tepat, mengidentifikasi sumber-sumber.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji kekuatan, kelemahan, usia, status perkawinan, ketersediaan
sumber pendukung dan latar belakang budaya.
Rasional : Mengidentifikasi faktor faktor risiko potensial dan
sumber-sumber pendukung, yang mempengaruhi kemampuan
klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang
tua.
2) Perhatikan respons klien/pasangan terhadap kelahiran dan peran
menjadi orang tua.
Rasional : Kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif
untuk menjadi orang tua mungkin dipengaruhi oleh reaksi ayah
dengan kuat.

3) Evaluasi sifat dari menjadi orangtua secara emosi dan fisik yang
pernah dialami klien/pengalaman selama kanak-kanak.
Rasional : Peran menjadi orang tua dipelajari, dan individu
memakai peran orang tua mereka sendiri menjadi model peran.
4) Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalinan,
adanya komplikasi, dan peran pasangan pada persalinan.
Rasional : Persalinan lama dan sulit, dapat secara sementara
menurunkan energi fisik dan emosional yang perlu untuk
mempelajari peran menjadi ibu dan dapat secara negatif
mempengaruhi menyusui.
5) Evaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian
komplikasi pranatal, intranatal, atau pascapartal.
Rasional : Kejadian seperti persalinan praterm, hemoragi, infeksi,
atau adanya komplikasi ibu dapat mempengaruhi kondisi
psikologis klien.
6) Evaluasi kondisi bayi ; komunikasikan dengan staf perawatan
sesuai indikasi.
Rasional : Ibu sering mengalami kesedihan karena mendapati
bayinya tidak seperti bayi yang diharapkan.
7) Pantau dan dokumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi.
Rasional : Beberapa ibu atau ayah mengalami kasih sayang
bermakna pada pertama kali ; selanjutnya, mereka dikenalkan
pada bayi secara bertahap.
8) Anjurkan pasangan/sibling untuk mengunjungi dan menggendong
bayi dan berpartisipasi terhadap aktifitas perawatan bayi sesuai
izin.
Rasional : Membantu meningkatkan ikatan dan mencegah
perasaan putus asa.
9) Kolaborasi dalam merujuk untuk konseling bila keluarga beresiko
tinggi terhadap masalah menjadi orang tua atau bila ikatan positif
diantara klien/pasangan dan bayi tidak terjadi.
Rasional : Perilaku menjadi orang tua yang negatif dan
ketidakefektifan koping memerlukan perbaikan melalui
konseling, pemeliharaan atau bahkan psikoterapi yang lama.
d) Ketidakefektifan koping individu b/d perubahan emosional yang tidak
stabil pada ibu

Tujuan : Mengungkapkan ansietas dan respon emosional,


mengidentifikasi kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi,
mencari sumber-sumber yang tepat sesuai kebuuhan.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji respon emosional klien selama pranatal dan dan periode
intrapartum dan persepsi klien tentang penampilannya selama
persalinan.
Rasional : Terhadap hubungan langsung antara penerimaan yang
positif akan peran feminin dan keunikan fungsi feminin serta
adaptasi yang positif terhadap kelahiran anak, menjadi ibu, dan
menyusui.
2) Anjurkan diskusi oleh klien / pasangan tentang persepsi
pengalaman kelahiran.
Rasional : Membantu klien / pasangan bekerja melalui proses dan
memperjelas realitas dari pengalaman fantasi.
3) Kaji terhadap gejala depresi yang fana (" perasaan sedih "
pascapartum) pada hari ke-2 sampai ke-3 pascapartum
(misalnya ; ansietas, menangis, kesedihan, konsentrasi yang
buruk, dan depresi ringan atau berat).
Rasional : Sebanyak 80 % ibu ibu mengalami depresi
sementara atau perasaan emosi kecewa setelah melahirkan.
4) Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien, latar belakang
budaya, sistem pendukung, dan rencana untuk bantuan domestik
pada saat pulang.
Rasional : Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk
mengatasi stres.
5) Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk
membantu klien mempelajari peran baru dan strategi untuk
koping terhadap bayi baru lahir.
Rasional : Keterampilan menjadi ibu / orang tua bukan secara
insting tetapi harus dipelajari.
6) Anjurkan pengungkapan rasa bersalah, kegagalan pribadi, atau
keragu raguan tentang kemampuan menjadi orang tua
Rasional : Membantu pasangan mengevaluasi kekuatan dan area
masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap
bantuan profesional yang tepat.
7) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok
pendukungan menjadi orang tua, pelayanan sosial, kelompok
komunitas, atau pelayanan perawat berkunjung.

Rasional : Kira kira 40 % wanita dengan depresi pascapartum


ringan mempunyai gejala gejala yang menetap sampai 1 tahun
dan dapat memerlukan evaluasi lanjut.
e) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan,
proses persalinan
Tujuan : Mengidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi
perubahan yang diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota
keluarga baru, melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan istirahat.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat.
Rasional : Persalinan atau kelahiran yang lam dan sulit,
khususnya bila ini terjadi malam, meningkatkan tingkat
kelelahan.
2) Kaji factor-faktor, bila ada yang mempengaruhi istirahat.
Rasional : Membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi
dan menurunkan rangsang.
3) Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setdlah
kembali ke rumah.
Rasional : Rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur
dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk
memenuhi kebutuhan tubuh.
4) Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada
suplai ASI.
Rasional : Kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis,
suplai ASI, dan penurunan refleks secara psikologis.
5) Kaji lingkungan rumah, bantuan dirumah, dan adanya sibling dan
anggota keluarga lain.
Rasional : Multipara dengan anak di rumah memerlukan tidur
lebih banyak dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur
dan memenuhi kebutuhannya.
3.4 Implementasi
Menurut Doenges (2000) implementasi adalah perawat
mengimplementasikan intervensi-intervensi yang terdapat dalam rencana
perawatan. Menurut Allen (1998) komponen dalam tahap implementasi
meliputi tindakan keperawatann mandiri, kolaboratif, dokumentasi, dan
respon pasien terhadap asuhan keperawatan.
3.5 Evaluasi
Evaluasi didasarkan pada kemajuan pasien dalam mencapai hasil
akhir yang ditetapkan yaitu meliputi ; kesejahteraan fisik ibu dan bayi
akan dipertahankan. Ibu dan keluarga akan mengembangkan koping

yang efektif. Setiap anggota keluarga akan melanjutkan pertumbuhan


dan perkembangan yang sehat. Perawat dapat yakin bahwa perawatan
berlangsung efektif jika kesejahteraan fisik ibu dan bayi dapat
dipertahankan, ibu dan keluarganya dapat mengatasi masalahnya secara
efektif, dan setiap anggota keluarga dapat meneruskan pola pertumbuhan
dan perkembangan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, V. N. L. & Sunarsih, T. 2012. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas.
Jakarta: Salemba Medika.
Rukiyah, A. Y. & Yulianti, L. 2010. Asuhan Kebidanan 4 (Patologi).
Jakarta:TIM.
Widarawati. 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang
Post Partum Blues Dengan Kejadian Post Partum Blues Di
Puskesmas Kecamatan Cilandak Jakarta, (Online),
(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1keperawatan09/207314041/
bab2.pdf), diakses tanggal 28 Oktober 2014.