Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting sangat penting dalam
mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan
cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui
ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non-elektrolit, serta mengekskresi
kelebihannya sebagai kemih.
Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstra
sel dalam batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh
filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
Ginjal dilalui oleh sekitar 1.200 ml darah per menit, suatu volume yang sama dengan
20 sampai 25 persen curah jantung (5.000 ml per menit). Lebih 90% darah yang masuk ke
ginjal berada pada korteks, sedangkan sisanya dialirkan ke medulla.
Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic non-communicable diseases)
terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik,
sudah menggantikan penyakit menular (communicable diseases) sebagai masalah
kesehatan masyarakat utama.
Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler sehingga
dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami
komplikasi yang lebih parah seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan
penyakit pembuluh darah perifer.
Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang memerlukan terapi
pengganti yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit ginjal kronik biasanya desertai
berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran napas, penyakit
saluran cerna, kelainan di tulang dan otot serta anemia.
Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan
pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal
kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah
menunjukkan bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi,
dapat dicegah atau dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu,
upaya yang harus dilaksanakan adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif

terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor risiko
untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal ginjal kronik.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien gagal ginjal kronik
b. Mampu membuat analisa data pada pasien gagal ginjal kronik
c. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
d. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
e. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
f. Mampu membuat evaluasi pada pasien gagal ginjal kronik

BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT GINJAL KRONIK
A. Pengertian

Penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease - CKD) adalah masalah kesehatan
yang tumbuh dengan cepat (Black, 2009).
Gagal ginjal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara
bertahap (Doenges, 1999; 626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan
lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai.
Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap
sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001;
1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812).
Gagal Ginjal Kronik (CRF) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi
ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal
untuk

mempertahankan

metabolisme

dan

keseimbangan

cairan

dan

elektrolit,

menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) ( KMB, Vol 2
hal 1448).
B. Klasifikasi GGK atau CKD (Cronic Kidney Disease) :
1. Stadium 1, bila kadar gula tidak terkontrol, maka glukosa akan dikeluarkan lewat
ginjal secara berlebihan. Keadaan ini membuat ginjal hipertrofi dan hiperfiltrasi.
Pasien akan mengalami poliuria. Perubahan ini diyakini dapat menyebabkan
glomerulusklerosis fokal, terdiri dari penebalan difus matriks mesangeal dengan
bahan eosinofilik disertai penebalan membran basalin kapiler.
2. Stadium 2, insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood
Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
3. Stadium 3, glomerulus dan tubulus sudah mengalami beberapa kerusakan. Tanda khas
stadium ini adalah mikroalbuminuria yang menetap, dan terjadi hipertensi.
4. Stadium 4, ditandai dengan proteinuria dan penurunan GFR. Retinopati dan hipertensi
hampir selalu ditemui.

5. Stadium 5, adalah stadium akhir, ditandai dengan peningkatan BUN dan kreatinin
plasma disebabkan oleh penurunan GFR yang cepat.
C. Etiologi
a. Glomerulonefritis
Istilah glomerulonefritis digunakan untuk berbagai penyakit ginjal yang
etiologinya tidak jelas, akan tetapi secara umum memberikan gambaran histopatologi
tertentu pada glomerulus (Markum, 1998). Berdasarkan sumber terjadinya kelainan,
glomerulonefritis dibedakan primer dan sekunder. Glomerulonefritis primer apabila
penyakit dasarnya berasal dari ginjal sendiri sedangkan glomerulonefritis sekunder
apabila kelainan ginjal terjadi akibat penyakit sistemik lain seperti diabetes melitus,
lupus eritematosus sistemik (LES), mieloma multipel, atau amiloidosis (Prodjosudjadi,
2006).
Gambaran klinik glomerulonefritis mungkin tanpa keluhan dan ditemukan secara
kebetulan dari pemeriksaan urin rutin atau keluhan ringan atau keadaan darurat medik
yang harus memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis (Sukandar, 2006).
b. Diabetes Melitus
Menurut American Diabetes Association (2003) dalam Soegondo (2005) diabetes
melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduaduanya.
Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini
dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan.
Gejalanya sangat bervariasi. Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan
sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi
lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang menurun. Gejala
tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut
pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya (Waspadji, 1996).
c. Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihipertensi. Berdasarkan penyebabnya,
hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer
yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik, dan hipertensi sekunder atau disebut juga
hipertensi renal.

d. Ginjal polikistik
Kista adalah suatu rongga yang berdinding epitel dan berisi cairan atau material yang
semisolid. Polikistik berarti banyak kista. Pada keadaan ini dapat ditemukan kista-kista
yang tersebar di kedua ginjal, baik di korteks maupun di medula. Selain oleh karena
kelainan genetik, kista dapat disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit. Jadi ginjal
polikistik merupakan kelainan genetik yang paling sering didapatkan. Nama lain yang lebih
dahulu dipakai adalah penyakit ginjal polikistik dewasa (adult polycystic kidney disease),
oleh karena sebagian besar baru bermanifestasi pada usia di atas 30 tahun. Ternyata
kelainan ini dapat ditemukan pada fetus, bayi dan anak kecil, sehingga istilah dominan
autosomal lebih tepat dipakai daripada istilah penyakit ginjal polikistik dewasa

D. Manifestasi Klinis
1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan
berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak
nafas baik waktu ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis
mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
E. Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan
tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron
yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi
walaupun dalam keadaan penurunan GFR/daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan
ginjal untuk berfungsi sampai dari nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut
menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai
poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien
menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi
ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin
clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi
setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin
berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).

F. KOMPLIKASI
1.
Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan
masukan diet berlebih.
2.

Perikarditis : Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah


uremik dan dialisis yang tidak adekuat.

3.

Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem reninangiotensin-aldosteron.

4.

Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah


merah.

5.

Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum
rendah, metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar aluminium.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Laboratorium darah
b. Pemeriksaan Urin Warna
2. Pemeriksaan USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal,
anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostate
3. Pemeriksaan Radiologi
CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang,
foto polos abdomen
H. Pencegahan
1. Pencegahan Primer
a. Modifikasi gaya hidup
Pola hidup memegang peranan penting dalam menentukan derajat kesehatan
seseorang. Mengatur pola makan rendah lemak dan mengurangi garam, minum air
yang cukup (disarankan 10 gelas atau dua liter per hari), berolahraga secara teratur
dan mengatur berat badan ideal, hidup dengan santai merupakan upaya yang dapat
dilakukan untuk menjaga fungsi organ tubuh untuk dapat bekerja maksimal.
b. Hindari pemakaian obat-obat atau zat-zat yang bersifat nefrotoksik tanpa
sepengetahuan dokter, misalnya obat pereda nyeri yang dijual bebas dan
mengandung ibuprofen maupun obat-obatan herbal yang belum jelas kandungannya.

2. Pencegahan Sekunder
a. Penegakan diagnosa secara tepat
Pengelolaan terhadap penyakit ginjal yang efektif hanya dapat dimungkinkan
apabila diagnosisnya benar. Pemeriksaan fisis yang diteliti dan pemilahan maupun
interpretasi pemeriksaan laboratorium yang tepat amat membantu penegakan
diagnosis dan pengelolaannya. Ginjal mempunyai kaitan yang erat dengan fungsi
organ-organ lain dan demikian pula sebaliknya, oleh karena itu haruslah penderita
dihadapi secara utuh bukan hanya ginjalnya saja, baik pada pengambilan anamnesis
maupun pada pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan lainnya.
b. Penatalaksanaan medik yang adekuat
Pada penderita gagal ginjal, penatalaksanaan medik bergantung pada proses
penyakit. Tujuannya untuk memelihara keseimbangan kadar normal kimia dalam
tubuh, mencegah komplikasi, memperbaiki jaringan, serta meredakan atau
memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif. Tindakan yang dilakukan
diantaranya:

Penyuluhan kepada pasien atau keluarga


Pengaturan diet protein, kalium, natrium
Pengaturan makanan dan minuman menjadi sangat penting bagi penderita
gagal ginjal. Bila ginjal mengalami gangguan, zat-zat sisa metabolisme
dan cairan tubuh yang berlebihan akan menumpuk dalam darah karena
tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal. Konsumsi protein terlalu banyak dapat
memperburuk kondisi kerusakan ginjal karena hasil metabolismenya yang
paling berbahaya, urea, menumpuk didalam darah sehingga terjadi
peningkatan Blood Urea Nitrogen (BUN).

3.Pencegahan Tersier
a. Cuci darah
b. Transplantasi ginjal
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT GINJAL KRONIK
A. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara
holistic. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pada kasus ini
akan dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh :

a. Ginjal (Renal)
Kemungkinan Data yang diperoleh :
Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)
Anuria (100 cc / 24 Jam
Infeksi (WBCs , Bacterimia)
Sediment urine mengandung : RBCs ,
b. Riwayat sakitnya dahulu.
Sejak kapan muncul keluhan
Berapa lama terjadinya hipertensi
Riwayat kebiasaan, alkohol, kopi, obat-obatan, jamu
Waktu kapan terjadinya pinggang
c. Penanganan selama ada gejala
Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan
Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan
Penggunaan koping mekanisme bila sakit
d.

Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja.

e.

Pemeriksaan fisik
Peningkatan vena jugularis
Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
Anemia dan kelainan jantung
Hiperpigmentasi pada kulit
Pernapasan
Mulut dan bibir kering
Adanya kejang-kejang
Gangguan kesadaran
Pembesaran ginjal
Adanya neuropati perifer
Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan sebelumnya. Berapa lama klien sakit,

bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa, bagaimana cara minum obatnya apakah
teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
a. Aktifitas / istirahat
Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise. Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau
somnolen). Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
b. Sirkulasi
Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada (angina)
Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak
tangan. Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang jarang
pada penyakit tahap akhir. Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning. Kecenderungan
perdarahan
c. Integritas Ego :
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan. Menolak,
ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.

d. Eliminasi :
Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut)
Abdomen kembung, diare, atau konstipasi Perubahan warna urine, contoh kuning
pekat, merah, coklat, oliguria.
e. Makanan / cairan
Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan (malnutrisi).
Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut
(pernapasan amonia)
f. Penggunaan diuretic
Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir) Perubahan turgor
kulit/kelembaban. Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.
g. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur. Kram otot / kejang, syndrome kaki gelisah,
rasa terbakar pada telapak kaki, kesemutan dan kelemahan, khususnya
ekstremiras bawah. Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat
kesadaran, stupor. Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang. Rambut tipis, kuku
rapuh dan tipis.
h. Nyeri / kenyamanan
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki. Perilaku berhati-hati/ distraksi,
gelisah.
i. Pernapasan
Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman. Batuk dengan sputum
encer (edema paru).
j. Keamanan
Kulit gatal ada / berulangnya infeksi, Pruritis, Demam (sepsis, dehidrasi),
normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien yang mengalami
suhu tubuh lebih rendah dari normal. Ptekie, area ekimosis pada kulit, Fraktur
tulang, keterbatasan gerak sendi
k. Seksualitas :
Penurunan libido, amenorea, infertilitas, Interaksi social, Kesulitan menentukan
kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya
dalam keluarga.
l. Penyuluhan / Pembelajaran:
Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis
heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi. Riwayat terpejan pada toksin, contoh
obat, racun lingkungan. Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.
B. Diagnosa Keperawatan

1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluan urin, retensi cairan dan natrium.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan yang
inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).
3. Intoleransi aktivitas b.d keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk sampah

dan

prosedur dialysis
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b.d kurangnya informasi
kesehatan.
5. Risiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh primer, tindakan invasive

C. Rencana Keperawatan
No.

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil


(NOC)

Intervensi
(NIC)

1. Kelebihan volume Setelah dilakukan askep ..... jam Fluit manajemen:


1. Monitor status hidrasi
cairan b.d.
pasien mengalami keseimbangan
(kelembaban membran
mekanisme
cairan dan elektrolit.
mukosa, nadi adekuat)
pengaturan
Kriteria hasil:
2. Monitor tnada vital
melemah
- Bebas dari edema anasarka, 3. Monitor adanya indikasi
efusi
- Suara paru bersih
Tanda vital dalam batas normal

overload/retraksi
4. Kaji daerah edema jika ada
Fluit monitoring:
1. Monitor intake/output cairan
2. Monitor serum albumin dan
protein total
3. Monitor RR, HR
4. Monitor turgor kulit dan
adanya kehausan
5. Monitor warna, kualitas dan

5.

Ketidakseimbang

BJ urine
Setelah dilakukan askep .. jam Manajemen Nutrisi

an nutrisi kurang

klien menunjukan status nutrisi

dari kebutuhan

adekuat dibuktikan dengan BB

tubuh

stabil tidak terjadi mal nutrisi,


tingkat energi adekuat, masukan
nutrisi adekuat

1. kaji pola makan klien


2. Kaji adanya alergi makanan.
3. Kaji makanan yang disukai
oleh klien.
4. Kolaborasi dg ahli gizi untuk
penyediaan

nutrisi

terpilih

sesuai

dengan

klien.
5. Anjurkan

kebutuhan

klien

untuk

meningkatkan
nutrisinya.
6. Yakinkan

asupan
diet

dikonsumsi

yang

mengandung

cukup serat untuk mencegah


konstipasi.
7. Berikan informasi
kebutuhan

tentang

nutrisi

dan

pentingnya bagi tubuh klien


Monitor Nutrisi
1. Monitor BB setiap hari jika
memungkinkan.
2. Monitor
respon
terhadap

klien

situasi

yang

mengharuskan klien makan.


3. Monitor lingkungan selama
makan.
4. jadwalkan pengobatan dan
tindakan

tidak

bersamaan

dengan waktu klien makan.


5. Monitor
adanya
mual
muntah.
6. Monitor

adanya

gangguan

dalam proses mastikasi/input


makanan

misalnya

perdarahan, bengkak dsb.


7. Monitor intake nutrisi dan
6.

Intoleransi

kalori.
Setelah dilakukan askep ... jam NIC: Toleransi aktivitas

aktivitas B.d

Klien dapat menoleransi aktivitas 1. Tentukan penyebab

ketidakseimbang & melakukan ADL dgn baik

intoleransi aktivitas &

an suplai &

Kriteria Hasil:

tentukan apakah penyebab

kebutuhan O2

dari fisik, psikis/motivasi

Berpartisipasi dalam aktivitas

fisik dgn TD, HR, RR yang


-

sesuai
Warna kulit

normal,hangat&kering
Memverbalisasikan
pentingnya aktivitas secara

bertahap
Mengekspresikan pengertian
pentingnya keseimbangan

latihan & istirahat


toleransi aktivitas

2. Kaji kesesuaian
aktivitas&istirahat klien
sehari-hari
3. aktivitas secara bertahap,
biarkan klien berpartisipasi
dapat perubahan posisi,
berpindah&perawatan diri
4. Pastikan klien mengubah
posisi secara bertahap.
Monitor gejala intoleransi
aktivitas
5. Ketika membantu klien
berdiri, observasi gejala
intoleransi spt mual, pucat,
pusing, gangguan
kesadaran&tanda vita
6. Lakukan latihan ROM jika
klien tidak dapat menoleransi

7.

Kurang

Setelah dilakukan askep jam

aktivitas
Pendidikan : proses penyakit

pengetahuan

Pengetahuan klien / keluarga

1. Kaji pengetahuan klien

tentang penyakit

meningkat dg KH:
Pasien mampu:
- Menjelaskan kembali

tentang penyakitnya
2. Jelaskan tentang proses

dan
pengobatannya
b.d. kurangnya

sumber informasi

penjelasan yang diberikan


Mengenal kebutuhan
perawatan dan pengobatan

tanpa cemas
Klien / keluarga kooperatif
saat dilakukan tindakan

penyakit (tanda dan gejala),


identifikasi kemungkinan
penyebab.
3. Jelaskan kondisi klien
4. Jelaskan tentang program
pengobatan dan alternatif
pengobatan
5. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
digunakan untuk mencegah
komplikasi
6. Diskusikan tentang terapi dan
pilihannya
7. Eksplorasi kemungkinan

sumber yang bisa digunakan/


mendukung
8. instruksikan kapan harus ke
pelayanan
9. Tanyakan kembali
pengetahuan klien tentang
penyakit, prosedur perawatan
8.

Resiko infeksi
b/d tindakan
invasive,
penurunan daya
tahan tubuh
primer

dan pengobatan
Setelah dilakukan askep ... jam Kontrol infeksi
1. Ajarkan tehnik mencuci
risiko infeksi terkontrol dg KH:
tangan
- Bebas
dari
tanda-tanda
2. Ajarkan tanda-tanda infeksi
infeksi
3. Laporkan dokter segera bila
- Angka leukosit normal
ada tanda infeksi
- Pasien mengatakan tahu
4. Batasi pengunjung
tentang tanda-tanda dan 5. Cuci tangan sebelum dan
gejala infeksi

sesudah merawat pasien


6. Tingkatkan masukan gizi
yang cukup
7. Anjurkan istirahat cukup
8. Pastikan penanganan aseptic
daerah IV
9. Berikan PEN-KES tentang
risk infeksi
Proteksi infeksi:
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi
2. Pantau hasil laboratorium
3. Amati faktor-faktor yang bisa
meningkatkan infeksi

PENUTUP
BAB IV
A. Kesimpulan
Gagal ginjal kronik merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang
berlangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama dan menetap, yang
mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (Toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat
memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit.

Toksik uremik adalah bahan yang dituduh sebagai penyebab sindrom klinik uremia.
Toksik uremik yang telah diterima adalah : H2O, Na, K, H, P anorganik dan PTH Renin.
Sedangkan yang belum diterima adalah : BUN, Kreatinin, asam Urat, Guanidin, midlle
molecule dan sebagainya.
Pada umumnya CRF tidak reversibel lagi, dimana ginjal kehilangan kemampuan
untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan diet makanan
dan minuman untuk orang normal.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Black, Joice M dan Jane Hokanson Hawks. 2009. Keperawatan Medikal Bedah :
Managemen Klinis untuk Hasil yang Diharapkan. Edisi 8. Jakarta : Elsevier
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid
3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC