Anda di halaman 1dari 11

PENGEREMAN DINAMIK

PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

Disusun Oleh:
Nama : ABDULBAHAR
KELAS : LT 3A
NIM

: 3.31.08.0.01

PROGAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN
Motor induksi tiga fasa adalah salah satu jenis motor listrik yang banyak dipakai
di industri. Dibandingkan dengan jenis motor listrik , karena : harga relatif murah,
konstruksi sederhana dan perawatannya lebih mudah. Pada industri motor induksi
digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk mengoperasikan peralatan
peralatan yang bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh peralatan
industri, maka pengoperasian motor induksi diatur dalam berbagai bentuk pengontrolan.
Beberapa bentuk pengaturan yang sering dilakukan terhadap motor induksi di industri
antara lain, pengasutan arus star, pengaturan dua arah putaran, pengaturan kecepatan dan
pengereman.
Pada saat operasi motor induksi dihentikan, putaran motor tidak langsung berhenti
karena masih ada sisa energi putar yang terdapat pada poros. Penghentian putaran motor
induksi dipengaruhi oleh beban yang dilayani, kecepatan putaran dan daya motor.
Semakin besar beban motor maka kemungkinan motor untuk berhenti lebih cepat
dibandingkan tanpa beban. Semakin cepat putaran motor maka kemungkinannya untuk
berhenti lebih lama dibandingkan putaran lambat. Semakin besar daya motor maka
kemungkinannya semakin lama pula, karena torsi yang dihasilkan lebih besar.
Pengereman putaran motor induksi juga dapat dilakukan secara dinamik dengan
cara menginjeksikan arus searah pada kumparan stator. Dengan menginjeksikan arus
searah pada kumparan stator maka akan timbul medan magnetik yang berputar melawan
putaran rotor,sehingga menimbulkan pengereman.
Pengereman secara dinamis menghasil-kan pengereman yang halus dan tidak ada
hentakan sehingga hampir tidak menimbulkan kerugian mekanis. Dalam pengereman
dinamis, lama waktu pengereman ditentukan oleh nilai arus searah yang diinjeksikan
kedalam kumparan stator, waktu penginjeksian dan kapasitas beban motor.

BAB II
DASAR TEORI
2.1.

Motor Induksi Tiga Fasa


Pada motor induksi arus rotor bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi
merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat perbedaan relatif antara putaran rotor
dengan medan putar yang dihasilkan oleh stator.
Arus yang mengalir pada setiap kumparan fasa stator akan menghasilkan medan
magnet yang arahnya ditentukan dengan kaedah tangan kanan. Medan magnet ini akan
berputar sesuai dengan arah resultan fluksi magnet yang timbul. Secara keselu-ruhan dapat
diperoleh bahwa dalam waktu 1 siklus dari tegangan masukan akan diperoleh medan
magnet yang berputar pada stator 1 kali putaran. pula. Kecepatan putar medan magnet
stator ditentukan oleh frekuensi masukan dan jumlah kutub stator motor tersebut. Sesuai
dengan rumus dibawah ini.
ns = 120 f
P
dengan:
ns = kecepatan putar medan stator (rpm)
f = frekuensi tegangan masukkan (Hz)
P = jumlah kutub motor

2.2.

Konstruksi Motor Induksi Tiga Fasa


Motor induksi 3 fasa mempunyai dua bagian utama : stator yang tetap dan rotor
yang berputar. Rotor terpisah dari stator dengan celah udara yang kecil dengan jarak
antara 0,4 mm sampai 4 mm, tergantung pada daya motor.

Stator
Stator adalah bagian motor yang diam (tidak berputar), stator ini terbuat dari

lapisan-lapisan pelat baja yang beralur yang didukung dalam rangka stator yang terbuat
dari besi tuang atau pelat-pelat yang dipabrikasi. Lilitan-lilitannya sama halnya dengan
lilitan stator dari generator sinkron yang diletakkan dalam alur stator yang terpisah 120
derajat listrik antara fasa yang satu dengan fasa lainnya (untuk motor 3 fasa). Belitan
fasanya bisa juga dihubungkan secara bintang atau delta. Untuk lebih jelasnya mengenai
konstruksi stator dapat dilihat pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Stator motor induksi tiga-fasa

Rotor
Rotor yaitu bagian yang berputar dari motor. Rotor disusun oleh campuran
lapisan-lapisan. Ada bertumpuk-tumpuk lapisan untuk membentuk celah-celah rotor yang
menghasilkan jarak pada lilitan rotor. Motor induksi menggunakan dua tipe lilitan rotor :
a). Lilitan tiga-fasa yang terbuat dari kabel yang terisolasi b). Lilitan sangkar bajing.
Jenis-jenis lilitan meningkatkan dua kelas utama pada motor : motor induksi
sangkar bajing dan motor induksi rotor belitan.

a). Motor induksi rotor sangkar bajing (gambar 2.4) terdiri dari batang tembaga yang
yang lebih panjang daripada rotor, yang mana ditarik kedalam slot.

Gambar 2.4 Rotor sangkar bajing yang terdapat pada motor induksi tiga fasa

2.3.

Pengereman pada motor


Pengereman secara elektrik dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara:

Dinamis

Plugging

Elektromekanis

Beban Listrik

Pengereman secara Dinamis


Pengereman yang dilakukan dengan melepaskan jangkar yang berputar dari
sumber tegangan dan memasangkan tahanan pada terminal jangkar. Oleh karena itu
kita dapat berbicara tentang waktu mekanis T konstan dalam banyak cara yang sama

kita berbicara tentang konstanta waktu listrik sebuah kapasitor yang dibuang ke
dalam sebuah resistor. Pada dasarnya, T adalah waktu yang diperlukan untuk
kecepatan motor jatuh ke 36,8 persen dari nilai awalnya. Namun, jauh lebih mudah
untuk menggambar kurva kecepatan-waktu dengan mendefinisikan konstanta waktu
baru T o yang merupakan waktu untuk kecepatan dapat berkurang menjadi 50 persen
dari nilai aslinya. Ada hubungan matematis langsung antara konvensional konstanta
waktu T dan setengah konstanta waktu T O Buku ini diberikan oleh
T o = 0,693 T
Kita dapat membuktikan bahwa waktu mekanis ini konstan diberikan oleh

di mana
T o = time for the motor speed to fall to one-half its previous value [s] T o

waktu untuk kecepatan motor jatuh ke satu-setengah dari nilai sebelumnya [s]
J = moment of inertia of the rotating parts, referred to the motor shaft [kgm] J
= momen inersia dari bagian yang berputar, yang disebut poros motor [kg m]
n 1 = initial speed of the motor when braking starts [r/min] n 1

= awal laju

pengereman motor saat mulai [r / min]


P 1 = initial power delivered by the motor to the braking resistor [W] P 1

= awal

daya yang dikirim oleh motor ke pengereman resistor [W]


131.5 = a constant [exact value = (30/p) 2 log e 2] 131,5 = konstan [exact value =
(30 / p) 2 log e 2]
0.693 = a constant [exact value = log e 2] 0,693 = konstan [exact value = log e 2]

Persamaan ini didasarkan pada asumsi bahwa efek pengereman sepenuhnya karena
energi pengereman didisipasi di resistor. In general, the motor is subjected to an
extra braking torque due to windage and friction, and so the braking time will be less

than that given by Eq. Secara umum, motor dikenakan tambahan akibat torsi
pengereman windage dan gesekan, sehingga waktu pengereman akan lebih kecil dari
yang diberikan oleh Persamaan. 5.9. 5.9.

Pengereman secara Plugging


Kita bisa menghentikan motor bahkan lebih cepat dengan menggunakan metode
yang disebut plugging. Ini terdiri dari tiba-tiba membalikkan arus angker dengan
membalik terminal sumber (Gambar 5.19a).

Gambar 5.18 Kecepatan kurva terhadap waktu untuk berbagai metode


pengereman.

Di bawah kondisi motor normal, angker arus / 1 diberikan oleh

I 1 = (E s - E o) IR

di mana R o adalah resistansi armature. Jika kita tiba-tiba membalik terminal sumber
tegangan netto yang bekerja pada sirkuit angker menjadi (E

+E

s).

Yang disebut

counter-ggl E o dari angker tidak lagi bertentangan dengan apa-apa tetapi sebenarnya
menambah tegangan suplai E

s.

Bersih ini tegangan akan menghasilkan arus balik

yang sangat besar, mungkin 50 kali lebih besar daripada beban penuh arus armature.
Arus ini akan memulai suatu busur sekitar komutator, menghancurkan segmen, kuas,
dan mendukung, bahkan sebelum baris pemutus sirkuit bisa terbuka.

Gambar A Amature terhubung ke sumber dc E s.

Figure 5.19b Plugging. Gambar B Menghubungkan.


Untuk mencegah suatu hal yang tidak diinginkan, kita harus membatasi arus balik
dengan memperkenalkan sebuah resistor R dalam seri dengan rangkaian pembalikan
(Gambar 5.19b). As in dynamic braking, the resistor is designed to limit the initial
braking current I

to about twice full-load current. Seperti dalam pengereman

dinamis, resistor dirancang untuk membatasi pengereman awal arus I

2 sampai

sekitar

dua kali arus beban penuh. With this plugging circuit, a reverse torque is developed
even when the armature has come to a stop.
Dengan memasukkan rangkaian, torsi reverse dikembangkan bahkan ketika angker
telah datang berhenti. In effect, at zero speed, E o = 0, but I 2 = E s /R, which is about
one-half its initial value. Akibatnya, pada kecepatan nol, E o = 0, tapi aku 2 = E s / R,
yaitu sekitar satu setengah nilai awalnya. As soon as the motor stops, we must
immediately open the armature circuit, otherwise it will begin to run in reverse.
Begitu motor berhenti, kita harus segera membuka sirkuit angker, selain itu akan
mulai berjalan secara terbalik. Circuit interruption is usually controlled by an
automatic null-speed device mounted on the motor shaft. Sirkuit gangguan biasanya
dikontrol oleh sebuah null-kecepatan otomatis perangkat terpasang pada poros motor.
The curves of Fig.Lekuk Gambar. 5.18 enable us to compare plugging and dynamic
braking for the same initial braking current. 5,18 memungkinkan kita untuk
membandingkan pengereman plugging dan dinamis untuk pengereman awal yang
sama saat ini. Note that plugging stops the motor completely after an interval 2 T o .
Perhatikan bahwa memasukkan motor benar-benar berhenti setelah selang waktu 2 T
o.

On the other hand, if dynamic braking is used, the speed is still 25 percent of its

original value at this time. Di sisi lain, jika pengereman dinamis digunakan,
kecepatan masih 25 persen dari nilai aslinya pada saat ini. Nevertheless, the
comparative simplicity of dynamic braking renders it more popular in most
applications. Meskipun demikian, kesederhanaan komparatif pengereman dinamis
menjadikan lebih populer di sebagian besar aplikasi.

Pengereman Elektromekanis
Pada mesin Crane sistim pengereman yang paling sesuai adalah sistim pengereman
Elektromekanis. Pada saat motor berputar maka tegangan elektromekanis bekerja
membuka drum. Apabila tegangan elektromekanis hilang maka drum akan dicengkeram
oleh sepatu rem. Kondisi ini akan aman terhadap saat tegangan hilang maka proses
pengereman bekerja.

Pengereman Beban Listrik

Pengerem beban listrik adalah alat yang sederhana dan kuat yang terdiri dari rotor
besi yang dipasang didalam perangkat medan diam. Perangkat medan terdiri dari
struktur kumparan dan besi yang dirancang sedemikian rupa sehingga ketika arus
searah mengalir pada kumparan, mengubah kutub-kutub magnet yang dihasilkan pada
besi, yaitu kutub utara dekat dengan kutub selatan dan selanjutnya. Ketika besi rotor
bergerak melewati kutub stator, medan berubah-ubah dibangkitkan, menyebabkan arus
eddy mengalir pada rotor.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Waktu berhenti motor dengan beban lebih cepat dibandingkan dengan tanpa

beban baik dengan pengereman maupun tanpa pengereman.


Waktu berhenti motor pada hubung segitiga lebih cepat dibandingkan hubungan

bintang.
Arus yang mengalir pada hubungan bintang lebih kecil daripada hubungan

segitiga dengan tegangan yang sama.


Jika beban semakin besar maka waktu yang dibutuhkan untuk pengereman lebih
cepat.

DAFTAR PUSTAKA

http://staff.ui.ac.id/internal/040603019/material/DCMotorPaperandQA.pdf
http://repository.unand.ac.id/177/1/25%2D34_Mudi_Yuhendri.pdf
http://student.eepis-its.edu/~irwan/materi%20elin%202/BAB1-EI2-Motor%20_kontrol.pdf
http://eprints.undip.ac.id/231/1/1_aw_facta.pdf
djwardana.blogspot.com/.../mengamati-dan-menanggulangi-masalah_28.html Fizgerald, Kingsley, Umans, Mesin - Mesin Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1997.