Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KEPANITERAAN PROSTODONSIA

GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


UJUNG BEBAS AKRILIK

Bramita Beta Arnanda


10/299220/KG/8683
Pembimbing :
drg. Sri Budi Barunawati, M. Kes, Sp. Pros

BAGIAN PROSTODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. PENDAHULUAN
Ilmu prostodonsia adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari
cara penggantian gigi yang hilang dengan suatu gigi tiruan. Berdasarkan jumlah
gigi hilang yang akan diganti dengan gigi tiruan, gigi tiruan dikelompokkan
menjadi tiga macam, yaitu:
a) Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
b) Gigi Tiruan Sebagian Cekat
c) Gigi Tiruan Lengkap
Gigi Tiruan Sebagian (GTS) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu
atau lebih gigi, tetapi tidak semua gigi asli, yang hilang dari satu atau dua
lengkung gigi serta dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Gigi tiruan sebagian
mendapat dukungan dari gigi asli yang masih tinggal, mukosa mulut, atau
dukungan kombinasi dari mukosa dan gigi.
Gigi tiruan sebagian sangat diperlukan mengingat akibat yang ditimbulkan
karena hilangnya satu gigi atau lebih dalam jangka waktu lama. Beberapa akibat
yang dapat ditimbulkan bila gigi yang hilang tidak dibuat GTS:
1. Migrasi dan rotasi (drifting and tilting)
Hal ini disebabkan karena gigi tidak lagi menempati posisi yang normal
untuk menerima beban yang terjadi pada saat pengunyahan, maka akan
mengakibatkan kerusakan struktur jaringan periodontal.
2. Erupsi yang berlebih (over eruption)
Bila gigi sudah tidak punya antagonis lagi, maka akan terjadi erupsi
berlebih. Erupsi berlebih dapat terjadi tanpa atau disertai pertumbuhan tulang
alveolar. Bila hal ini disertai pertumbuhan tulang alveolar. Bila disertai
pertumbuhan tulang alveolar, maka struktur periodontal akan mengalami
kemunduran sehingga gigi mulai ekstruksi.
3. Penurunan efesiensi kunyah
4. Gangguan pada sendi TMJ
Hal ini disebabkan pengunyahan yang buruk, atau karena hubungan
maksilo mandibula yang terlalu lama.

5. Beban berlebihan pada jaringan mulut


Bila penderita sudah kehilangan sebagian gigi aslinya, maka gigi yang
masih ada akan menerima tekanan mastikasi yang lebih besar sehingga terjadi
pembebanan berlebihan.
6. Kelainan bicara
Kehilangan gigi depan atas dan bawah sering kali menyebabkan kelainan
bicara, karena gigi khususnya gigi depan termasuk organ fonetik.
7. Memburuknya penampilan
Menjadi buruknya penampilan karena hilangnya gigi depan akan
mengurangi daya tarik seseorang, apalagi dari segi pandang manusia modern.
8. Terganggunya kebersihan mulut
Adanya ruang interproksimal merupakan predisposisi terbentuknya plak,
debris makanan yang akan terkalsifikasi menjadi kalkulus. Hal ini dapat
menyebabkan resiko karies meningkat.
9. Atrisi
Adanya beban yang berlebihan dapat menyebabkan atrisi pada gigigigi
tersebut sehingga lambat laun akan mengurangi dimensi vertikal seseorang.
10. Efek terhadap jaringan lunak mulut
Bila ada gigi yang hilang, ruang yang ditinggalkannya akan ditempati
jaringan lunak pipi dan lidah. Jika berlangsung lama, hal ini akan
menyebabkan kesukaran adaptasi terhadap geligi tiruan yang akan dibuat dan
geligi tiruan akan dirasakan sebagai benda asing yang mengganggu.
Adapun tujuan dari dibuatkan gigi tiruan sebagian adalah memperbaiki
fungsi mastikasi, memulihkan fungsi estetik, meningkatkan fungsi fonetik, serta
mempertahankan jaringan mulut agar tetap sehat serta memperbaiki oklusi, serta
mencegah migrasi.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian gigi tiruan sebagian (GTS) menurut Osborne (1959), adalah
gigi tiruan yang menganti gigi asli yang hilang sebagian dan dapat dilepas oleh
pasien. Menurut Mc. Craken (1973), GTS adalah suatu restorasi prostetik yang
mengganti gigi asli yang hilang dan bagian lain rahang yang tidak bergigi
sebagian, mendapat dukungan terutama dari jaringan dibawahnya dan sebagian
dari gigi asli yang masih tinggal akan menjadi gigi pegangan.
Indikasi perawatan GTS menurut Gunadi et al. (1991) adalah :
1.

Hilangnya satu gigi atau lebih.

2.

Diastema

3.

Keadaan yang baik dari gigi yang masih tinggal.

4.

Keadaan prosessus alveolaris yang masih baik.

5.

Kesehatan umum pasien baik.

Tujuan pembuatan GTS menurut Gunadi et al. (1991) adalah:


1.

Mengembalikan fungsi pengunyahan/mastikasi

2.

Mengembalikan fungsi keindahan atau estetik

3.

Mengembalikan fungsi bicara atau fonetik

4.

Membantu mempertahankan gigi yang masih tinggal

5.

Memperbaiki oklusi

6.

Meningkatkan distribusi beban kunyah

Macam macam GTS :


1.

Menurut jaringan pendukungnya :


a.

tooth supported : dukungannya berupa gigi asli

b.

mucosa supported : dukungannya berupa mukosa ujung bebas

c.

mucosa and tooth supported : dukungannya berupa mukosa ujung


bebas dan gigi asli

2.

Menurut saat pemasangannya :


a.

immediet protesa : segera dipasang setelah pencabutan

b.

conventional protesa : tidak segera dipasang setelah pencabutan

3.

Menurut bahan dipakai :


a.

Frame atau metal protesa

b.

Akrilik protesa

c.

Vulcanite protesa

4.

Menurut ada / tidaknya sayap bagian bukal :


a.

Open face, dibuat tanpa gusi tiruan di bagian labial

b.

Close face, dibuat dengan gusi tiruan di bagian labial

Klasifikasi gigi tiruan sebagian berdasarkan letak dari daerah yang tidak bergigi
menurut Kennedy, cit. Soelarko R. M. Dan Wachijaati H., (1980) yaitu :
1. Klas I
Mempunyai daerah tanpa gigi yang terletak di bagian posterior dari gigi
yang tertinggal pada kedua belah sisi (bilateral Free end).
2. Klas II
Mempunyai daerah tanpa gigi yang terletak di bagian posterior dari gigi
yang tertinggal tetapi hanya pada satu sisi saja (unilateral free end).
3. Klas III
Daerah yang tidak bergigi terletak di antara gigi yang masih ada di bagian
posterior.
4. Klas IV
Daerah yang tidak bergigi terletak di bagian anterior dan melewati garis
median.
Klasifikasi gigi tiruan sebagian berdasarkan letak dari daerah yang tidak bergigi
menurut Applegate-Kennedy, cit. Gunadi et al. (1995) yaitu :
1. Klas I
Mempunyai daerah tanpa gigi yang terletak di bagian posterior dari gigi
yang tertinggal pada kedua belah sisi (bilateral Free end).
2. Klas II
Mempunyai daerah tanpa gigi yang terletak di bagian posterior dari gigi
yang tertinggal tetapi hanya pada satu sisi saja (unilateral free end).

3. Klas III
Keadaan tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi
mampu memberi dukungan kepada protesa secara keseluruhan.
4. Klas IV
Daerah yang tidak bergigi terletak di bagian anterior dan melewati garis
median.
5. Klas V
Daerah tak bergigi paradental di mana gigi asli anterior tidak dapat dipakai
sebagai gigi penahan atau tak mampu menahan daya kunyah
6. Klas VI
Daerah tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangga asli dapat
dipakai sebagai penahan.
Klasifikasi gigi tiruan sebagian berdasarkan letak klamer menurut Miller
ditentukan sebagai berikut :
1.

Klas I
Menggunakan dua buah klamer dimana klamer-klamer tersebut lurus
berhadapan dan tegak lurus median line.

2. Klas II
Menggunakan dua buah klamer yang letaknya saling berhadapan dan
membentuk garis diagonal serta melewati median line.
3. Klas III
Menggunakan tiga buah klamer yang letaknya sedemikian rupa sehingga
apabila klamer-klamer itu dihubungkan dengan suatu garis, merupakan suatu
segitiga yang terletak di tengah gigi tiruan.
4.

Klas IV
Menggunakan empat buah klamer yang letaknya sedemikian rupa sehingga
apabila klamer-klamer itu dihubungkan dengan suatu garis lurus, merupakan
suatu segi empat yang terletak di tengah gigi tiruan.
Menurut Austin dan Lidge (1957), gigi tiruan mempunyai beberapa

komponen. Komponen GTS bahan akrilik antara lain :


1. Basis

Suatu bagian GTS yang terbuat dari akrilik untuk mendukung gigi tiruan dan
memindahkan tekanan oklusal ke jaringan di bawahnya.
2. Cangkolan atau klamer
Bagian GTS yang terletak di abutment dan terbuat dari kawat tahan karat.
Fungsi dari klamer yaitu mencegah pergerakan gigi tiruan ke arah oklusal dan
mencegah tekanan oklusal yang berlebihan pada jaringan di bawahnya.
Retainer ada dua macam yaitu:
a. Retainer langsung (direct retainer), yaitu bagian dari gigi tiruan yang
menahan terlepasnya GTS secara langsung, berupa lengan retentive;
b. Retainer tidak langsung (indirect retainer), yaitu bagian dari gigi tiruan
yang menahan GTS secara tidak langsung, berupa lengan pengimbang,
sandaran/rest (bagian dari cangkolan yang bersandar pada bidang
oklusal atau incisal gigi pegangan yang memberikan dukungan vertikal
terhadap gigi tiruan).
3. Gigi pengganti
Bagian GTS yang mengganti gigi yang hilang.
Faktor faktor yang perlu diperhatikan menentukan desain GTS adalah sebagai
berikut :
1.

Retensi
Daya perlawanan terhadap lepasnya protesa atau gigi tiruan. Faktor
pemberi retensi antara lain kualitas klamer, oclusal rest, kontur, landasan
denture, oklusi, adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension.

2.

Stabilisasi
Perlawanan atas ketahanan terhadap pemindahan tempat. Stagnasi
ditentukan oleh tiga titik sandaran yang harus meliputi luas permukaan yang
sebesar besarnya agar beban yang diterima protesa setiap unit bisa sekecil.

3.

Estetika
Dalam prostodonsia, yang berhubungan dengan permukaan GTS adalah :
a. Penempatan klamer harus sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dalam
posisi bagaimanapun.

b. Gigi tiruan harus tampak asli dan pantas untuk tiap tiap pasien meliputi
warna dan inklinasi gigi.
c. Gambaran counturing harus sesuai dengan keadaan pasien.
d. Perlekatan gigi diatas ridge.
Syarat-syarat pemilihan gigi abutmen yang digunakan sebagai pegangan klamer
adalah :
1. Gigi pilar harus cukup kuat.
a. Akarnya panjang
b. Masuk kedalam prosesus alveolaris dalam dan tidak longgar
c. Makin banyak akar makin kuat
d. Gigi pilar tidak boleh goyang
e. Tidak ada kelainan jaringan periodontal pada gigi penyangga.
2. Bentuk mahkota sedapat mungkin sesuai dengan macam klamer yang
digunakan.
3. Kedudukan gigi tersebut hendaknya tegak lurus dengan prosesus alveolaris,
gigi yang letaknya rotasi atau berputar tidak baik untuk pilar.
4. Gigi tersebut masih vital atau tidak mengalami perawatan.
5. Bila memerlukan dua klamer atau lebih maka hendaknya dipilihkan gigi yang
letaknya sejajar.
Keuntungan GTS lepasan adalah :
1.

Pasien dapat memakai dan melepas sendiri sehingga mudah dan cepat
dalam membersihkannya.

2.

Mudah dipreparasi bila ada kerusakan.

3.

Harganya relatif murah jika dibandingkan dengan GTC.


Untuk mendapatkan GTS yang baik dalam memenuhi fungsinya maka

pengetahuan yang dimiliki operator harus memadai disamping itu perlu kerjasama
yang baik dengan pasien. Jika pasien sadar akan arti pentingnya GTS maka hal ini
akan sangat mendukung keberhasilan dari perawatan tersebut.
Pada akhirnya pembuatan GTS sangat tergantung pada peran serta pasien
untuk mau dan dapat beradaptasi dalam pemakaiannya. Prinsip pembuatan desain
geligi tiruan dikenal 4 tahap yaitu:

Tahap 1 : menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (sadel)


Tahap 2 : menentukan macam dukungan dari setiap sadel
Tahap 3 : menentukan macam penahan
Tahap 4 : menentukan macam konektor

C. LAPORAN KASUS
A. Identifikasi
Nama

: Sri Suseniwati

Umur

: 58 th

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Gemawang RT 01 RW 43, Sinduadi, Mlati, Sleman


Yogyakarta

No. Kartu

: 146696

B. Anamnesa
1.

Pemeriksaan Subyektif
Motivasi : Pasien datang ke klinik atas keinginan sendiri untuk
dibuatkan gigi tiruan.
CC

: Pasien ingin dibuatkan gigi tiruan rahang atas dan bawah


karena sudah kehilangan beberapa giginya.

PI

: Kesulitan mengunyah

PDH

: Sudah pernah mencabutkan dan menambal gigi ke dokter


gigi.

PMH

: menderita tekanan darah tinggi, tidak ada riwayat alergi,


sedang mengkonsumsi obat antihipertensi, tidak pernah rawat
inap di rumah sakit

FH

2.

Pemeriksaan Obyektif
a. Umum :
-

Jasmani : sehat, t.a.k

Rohani : kooperatif dan komunikatif

b. Lokal :
EO : Bentuk muka

IO :

: lonjong, simetris.

Profil

: cembung

Bibir

: sedang

Inn

: tidak teraba

Mukosa

: normal, t.a.k

Gingiva

: normal, t.a.k

Lidah

: normal, t.a.k

Palatum

: U, normal, t.a.k

Torus palatinus

: tidak ada

Keadaan gigi geligi

Jumlah : 14 gigi yang terdiri dari RA (6 gigi), RB (8 gigi)

Warna : putih kekuningan

Bentuk : normal
Frenulum labialis

: Normal

Frenulum lingualis

: Normal

Frenulum bukalis

: Normal

Alveolus RA dan RB : normal


Oral hygiene : baik
c. Formula gigi geligi
X8X7X6 5X4X3 2 1
X8X7X6 5 4 3 2 1

1 2 3X4X5X6 X7X8
1 2 3 X4 X5 X6 X7 X8

Keterangan : X : telah dicabut


T : tumpatan

d. Klasifikasi :
RA : Klasifikasi Kennedy Kelas I modifikasi 2
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas I Modifikasi 1A1P
RB : Klasifikasi Kennedy Kelas I
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas I
C. PROSEDUR KERJA DAN TAHAPAN PERAWATAN

a. Persiapan di Dalam Mulut / Mouth Preparation


Merupakan persiapan-persiapan di dalam mulut sebelum dibuatkan
gigi tiruan sebagian, meliputi :
1. Perawatan bedah / surgical treatment, misalnya pencabutan gigi yang
tidak mungkin dipertahankan
2. Perawatan periodontal / periodontal treatment, misalnya pemeriksaan
gigi, gusi, dan tulang pendukungnya
3. Perawatan konservasi / konservatif treatment, misalnya restorasi gigi
yang karies
b. Perawatan
KUNJUNGAN I
(Membuat studi model RA dan RB)
Sendok cetak

: perforated stock tray No.2

Bahan cetak

: alginat

Cara mencetak : mukostatik


Studi model ini dipergunakan untuk mempelajari :
1. Letak gigi abutment
2. Letak klamer
3. Jumlah gigi yang hilang
4. Perluasan basis protesa
Cara Pencetakan
Sebelum mencetak, sendok cetak dicobakan ke dalam rongga mulut pasien.
1. Pencetakan Rahang Atas :

a.

Pasien duduk dengan posisi sedemikian rupa sehingga kepala dan

punggung terletak pada satu garis lurus, dataran oklusal sejajar lantai.
Mulut pasien setinggi siku operator.
b. Operator berdiri di belakang samping kanan pasien.
c. Sendok cetak rahang atas yang berisis adonan alginat dimasukkan
kemulut pasien dengan menempelkan bagian posterior lebih dahulu lalu
sedikit demi sedikit ke arah amterior sampai seluruh gigi terbenam alginat.
Selanjutnya pasien diinstruksikan mengucapkan U lalu dilakukan muscle
triming di bagian bukal dan labial.
d. Setelah alginat setting, sendok cetak dilepas.
2. Pencetakan Rahang Bawah :
a. Sama seperti pada rahang atas, tetapi posisi operator di sebelah kanan
depan.
b. Lidah diangkat keatas.
Setelah selesai pencetakan, hasil cetakan diisi stone gips lalu diboxing.
KUNJUNGAN II
(Membuat desain gigi tiruan sebagian lepasan )
Tahap-Tahap Pembuatan Desain :
TAH AP I
Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (sadel)
RA : Klasifikasi Kennedy Kelas III Modifikasi 1
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas III Modifikasi 1P
RB : Klasifikasi Kennedy Kelas II Modifikasi 2
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas II Modifikasi 2P
T A H A P II
Menentukan macam dukungan dari setiap sadel
Dukungan yang dipilih dari kasus ini adalah:
RA: dukungan kombinasi karena gigi 13, 18, 25 dan 27 masih kuat.
RB: dukungan kombinasi karena gigi 35, 38, dan 47 masih kuat
T A H A P III

Menentukan jenis penahan:


Rahang atas:
RA : Klasifikasi Kennedy Kelas III Modifikasi 1
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas III Modifikasi 1P
Indikasi Protesa adalah gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral.
RB : Klasifikasi Kennedy Kelas II Modifikasi 2
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas II Modifikasi 2P
Indikasi Protesa adalah gigi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain
bilateral dan perluasan basis distal.
T A H A P IV
Menentukan jenis konektor berupa plat akrilik yang melekat pada mukosa mulut
dan berfungsi untuk memindahkan tekanan oklusal ke jaringan di bawahnya.
Gambar desain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik pada RA

Keterangan:
1. Cengkeram C
2. Plat dasar akrilik
3. Anasir gigi
4. Bukal flange

Gambar desain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik pada RB

Keterangan:
1. Cengkeram C
2. Plat dasar akrilik
3. Anasir gigi
4. Bukal flange
KUNJUNGAN III
( Membuat model Kerja RA dan RB )
Tahap Klinis
1.

Membuat model kerja


Alat dan bahan sama seperti pada model studi.

2.

Membuat gigitan sentrik

Fungsi : untuk mendapatkan hubungan yang tepat antara gigi geligi RA


dan RB sesuai sentrik oklusi

Cara

: dua lapis malam merah dibuat tapal kuda, ukuran disesuaikan

dengan lengkung gigi pasien. Malam dilunakkan dan pasien disuruh


menggigit malam tersebut.
Tahap laboratoris
3.

Memasang model kerja pada artikulator

4.

Pembuatan klamer

5.

Pemasangan gigi pengganti

6.

Model malam

7.

Flasking

8.

Boiling out

9.

Packing

10.

Processing

11.

Deflasking

12.

Fininshing dan Polishing

KUNJUNGAN IV
( INSERSI)

Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTS lepasan dalam mulut pasien, yang perlu
diperhatikan antara lain: retensi, stabilisasi, oklusi, keluar masuknya protesa
sejajar as gigi atau dengan arah vertikal, dan kenyamanan pasien.
a. path of insertion and path of removement.
Hambatan pada permukaan gigi atau jaringan yang dijumpai pada
saat pemasangan dan pengeluaran gigi tiruan dapat dihilangkan dengan
cara pengasahan gigi tiruan (hanya pada bagian yang perlu saja).
b. Retensi
Yaitu kemampuan bertahan terhadap pelepasan yang merupakan
kemampuan GTS untuk melawan gaya pemindah yang cenderung
memindahkan ke arah oklusal. Retensi ini merupakan satu cara untuk
memberi kekencangan kepada GTS di dalam mulut. Pengecekan dilakukan
dengan menggerakkan mukosa dan bibir, jika protesa lepas, maka retensi
harus diperbaiki. Diperiksa indirect retainer pada lengan klamer dan direct
retainer pada tepi plat protesa yang menempel pada cingulum gigi asli.
c. Stabilisasi
Yaitu perlawanan atau ketahanan GTS terhadap gaya yang
menyebabkan perpindahan tempat atau gaya horizontal. Stabilisasi terlihat
dalam keadaan berfungsi, misal pada mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi
gigi tiruan dengan cara menekan bagian depan dan belakang gigi tiruan
secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergerakan pada
saat tes ini.
d. Oklusi
Pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral dan
anteroposterior. Dilakukan pengecekan terhadap balancing side, working
side serta ada tidaknya premature kontak. Caranya dengan memakai kertas
artikulasi yang diletakkan di antara gigi atas dan bawah, kemudian pasien
diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikualsi
diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal
terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila
terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka dilakukan

pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective


grinding. Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik
oklusi.
Setelah GTS dipakai, hal hal yang perlu disampaikan adalah :
1.

GTS diinstruksikan agar dipakai terus menerus supaya beradaptasi

2.

Diberi petunjuk cara pemakaian dan pelepasan GTS

3.

Jika tidak dipakai supaya direndam dalam air dingin yang bersih
supaya tidak berubah ukurannya

4.

Jangan dipakai untuk makan makanan yang keras dan lengket

5.

Kebersihan GTS supaya dijaga

6.

Apabila timbul rasa sakit setelah pemasangan GTS, pasien harap


segera kontrol

7.

Kontrol satu minggu setelah insersi

KUNJUNGAN V
( KONTROL)
Kontrol dilakukan untuk mengoreksi adanya kesalahan yang mungkin terjadi
setelah pemakaian GTS, dengan cara :
1.

2.

Pemeriksaan subyektif
-

apakah terdapat keluhan berkaitan dengan GTS ?

apakah fungsi bicara terganggu ?


Pemeriksaan obyektif

Komplikasi setelah pemakaian GTS dapat berupa :


a. Rasa sakit akibat tepi GTS yang tajam maupun karena bagian yang tertekan
b. Terdapat suara akibat sentrik oklusi yang tinggi sehingga menimbulkan
suara pada bagian oklusal
c. Retensi yang kurang menyebabkan GTS tidak stabil
d. Muntah akibat plat yang terletak terlalu ke posterior
e. Kesukaran berbicara akibat overjet terlalu besar sehingga retensi kurang
g. Kesukaran dalam mengunyah akibat oklusi yang tidak seimbang

h. Gigi tiruan goyang : perlu diperiksa oklusinya dengan kertas artikulating


paper
i. Saliva berlebihan : adanya stimulasi pada glandula salivarius karena gigi
tiruan, namun dapat hilang setelah beradaptasi
V. DISKUSI
Pada kasus ini, pasien kehilangan gigi-gigi 14, 15, 16, 17, dan 26 untuk
rahang atas, sedangkan untuk rahang bawah pasien kehilangan gigi-gigi 36, 37,
dan 48. Pembuatan GTS ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi pengunyahan
dan fungsi estetik.
Berdasarkan gigi yang hilang maka kasus ini termasuk Klasifikasi
Kennedy Kelas III Modifikasi 1 untuk rahang atas dan merupakan indikasi gigi
tiruan sebagian lepasan dukungan kombinasi gigi dan mukosa dengan desain
bilateral. Sedangkan kasus pada rahang bawah termasuk Klasifikasi Kennedy
Kelas II Modifikasi 2 dan merupakan indikasi gigi tiruan sebagian lepasan
dukungan kombinasi gigi dan mukosa dengan desain bilateral dan perluasan basis
distal.
Tahap - tahap yang perlu diperhatikan dalam membuat disain gigi tiruan
sebagian lepasan adalah :
1.T ahap I
Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (sadel)
RA : Klasifikasi Kennedy Kelas III Modifikasi 1
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas III Modifikasi 1P
Indikasi Protesa adalah gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral.
RB : Klasifikasi Kennedy Kelas II Modifikasi 2
Klasifikasi Applegate-Kennedy Kelas II Modifikasi 2P
Indikasi Protesa adalah gigi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain
bilateral dan perluasan basis distal.
2.T ahap II
Menentukan macam dukungan dari setiap sadel
Dukungan yang dipilih dari kasus ini adalah:
RA: dukungan kombinasi karena gigi 14, 15, 16, 17, dan 26 masih kuat.

RB: dukungan kombinasi karena gigi 36, 37, dan 48 masih kuat
3.T ahap III
Menentukan jenis penahan:
Rahang atas:
Direct retainer: Gigi 14 diberi cengkeram C
Gigi 15 diberi cengkeram C
Gigi 16 diberi cengkeram C
Gigi 17 diberi cengkeram C
Gigi 26 diberi cengkeram C
Indirect retainer: berupa plat akrilik setinggi cingulum pada gigi anterior.
Rahang bawah:
Direct retainer : Gigi 36 diberi cengkeram C
Gigi 37 diberi cengkeram C
Gigi 48 diberi cengkeram C
Indirect retainer : berupa plat akrilik setinggi cingulum pada gigi anterior
Klamer C dipilih karena bentuknya sederhana dan mudah dibuat,
memberikan retensi dan stabilisasi yang cukup. Berdasarkan letak klamer, gigi
tiruan sebagian lepasan akrilik ini termasuk kelas IV klasifikasi Miller untuk RA
dan kelas III klasifikasi Miller untuk RB.
4.T ahap IV
Menentukan jenis konektor berupa plat akrilik yang melekat pada mukosa mulut
dan berfungsi untuk memindahkan tekanan oklusal ke jariingan di bawahnya.
5.Gigi Pengganti
Ukuran gigi pengganti disesuaikan dengan ruang yang tersedia dan warna gigi
harus sesuai dengan gigi aslinya.
Dalam membuat gigi tiruan sebagian lepasan perlu mempertimbangkan :
a) Retensi
b) Stabilisasi
c) Oklusi
d) Estetis
e) Kenyamanan pemakaian

VI. PROGNOSA
Diperkirakan hasil perawatan baik karena :
1.

Jaringan pendukung baik

2.

kesehatan umum baik

3.

motivasi pasien baik

4.

pasien kooperatif
VII. KESIMPULAN
Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan untuk pasien yang kehilangan

giginya adalah tindakan rehabilitatif yang dapat mengembalikan fungsi mastikasi,


fungsi bicara dan fungsi estetis sehingga dapat mempertahankan kesehatan
jaringan mulut dan mencegah akibat buruk dari hilangnya gigi asli jika tidak
dibuatkan gigi tiruan. Untuk mendapatkan gigi tiruan sebagian lepasan yang baik
diperlukan perencanaan pembuatan yang baik dan benar. Keberhasilan gigi tiruan
sebagian lepasan ditentukan oleh kerjasama yang baik antara operator dan pasien.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Applegate, 1959, Essentials of Removable Partial Denture Prosthesis, 2nd ed.,
W.B. Saunders Co. Philadelphia, London.
Gunadi, H. A., Margo, A., Burhan, L. K., 1995, Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan, Jilid I, Hipokrates, Jakarta.
Gunadi, H. A., Margo, A., Burhan, L. K., 1995, Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan, Jilid II, Hipokrates, Jakarta.
Henderson, D., McGivney, G. P., Castleberry, D. J., 1985, McCrackens
Removable Partial Prosthodontics, C. V. Mosby Company, St Louis.
Soelarko, R. M., Wachijati, H., 1980, Diklat Prostodonsia Gigi Tiruan sebagian
Lepasan, FKG Universitas Padjajaran, Bandung.