Anda di halaman 1dari 22

KASUS

Audit atas Pelatihan Karyawan di PT INDOJEWEL


PT Indojewel (perusahaan ilustrasi) mengundang Tn. Kris Palguna dari KAP &
Management Consultant Rawiatmaja & Partner, untuk melakukan audit atas program
pelatihan karyawan yang telah dilakukan perusahaan. Hal ini dilatarbelakangi hasil diskusi
anggota direksi yang menyimpulkan bahwa terjadi banyak kegagaln produk dan pemborosan
dalam proses produksi yang menjadi pemicu kenaikan harga pokok produksi tanpa
peningkatan kualitas terhadap produk yang dihasilkan. Dari hasil penelusuran, kesalahan
manusia merupakan penyebab terbesar terjadinya kegagalan produk tersebut. Akibat
permasalahan ini selama dua tahun terakhir, laba kotor mengalami penurunan yang sangat
berarti. Pada operasional tahun 2007 perusahaan mencapai penjualan sebesar Rp. 9 triliun
dengan margin bruto 17, 5%. Sedangkan berdasarkan laporan bagian penjualan, pada
semester pertama tahun 2008 perusahaan baru membukukan penjualan Rp. 3,5 triliun dengan
margin bruto di bawah 10%. Berdasarkan laporan HRD, pelatihan telah dilakukan sesuai
dengan permintaan dari berbagai departemen dengan anggaran yang telah disetujui oleh
direktur keuangan.
Berikut ini adalah perbincangan selama pertemuan pertama Kris Palguna dengan para
direksi PT Indojewel, yang dipimpin oleh Direktur Utama, Tn, Kevin Suparno.
"Dalam dua tahun ini, kita memang sulit mempertahankan tingkat margin karena
terjadinya kenaikan harga pokok produksi. Harga pokok produksi kita naik rata-rata 12, 5%
dalam 2 tahun terakhir. Dengan input yang sama, kita menghasilkan produk dalam volume
yang lebih kecil dari tahun sebelumnya. Saya memperkirakan banyak terjadi pemborosan
dalam proses produksi," jelas Tn. Cecep Mulyadi, Direktur Akuntansi dan Keuangan.
"Berdasarkan data yang saya peroleh dari bagian penjualan dan bagian gudang, dua
tahun terakhir ini kita menghadapi tingkat pengembalian barang yang cukup tinggi karena
produk tidak sesuai dengan harapan pelanggan. Hal ini berakibat pula semakin turunnya
pesanan dari gerai-gerai yang merupakan ujung tombak penjualan kita," ujar Nn. Sandra
Gultom, Direktur Pemasaran menimpali apa yang disampaikan oleh Tn. Cecep.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada proses produksi?" "Apakah bahan baku kita
mengalami penurunan kualitas?" Dengan sedikit mengerutkan dahinya, Tn. Kevin meminta
penjelasan kepada Direktur Produksi, Tn. Steve Handayana.
"Sejauh ini uji kualitas bahan baku menunjukan hasil yang bagus. Tidak ada masalah
dengan bahan baku kita, karena pembudidayaan mutiara telah tertangani dengan baik." Tn.
Steve mengawali penjelasannya. "Memang dengan penggunaan mesin baru ini banyak bahan
yang terbuang karena rusak dalam proses dan banyak juga produk yang harus dikerjakan
ulang karena tidak sesuai dengan standar yang telah kita tetapkan," Tn. Steve menambahkan.

"Apakah kerusakan ini terjadi karena mesin yang tidak siap?" Tanya Tn. Kevin
dengan sedikit penasaran.
"Hasil diskusi saya dengan beberapa operator, banyak yang mengatakan sangat sulit
mengoperasikan mesin baru ini dan sebagian lagi menyatakan mereka tertekan dengan
banyaknya produk yang rusak. Padahal dari hasil pengamatan saya, tidak ada masalah dengan
kondisi mesin," sambung Steve menambahkan temuannya.
"Pelatihan saya kira sudah kita lakukan sesuai dengan permintaan bagian produksi
dan telah sesuai dengan anggaran yang disetujui direktur keuangan, dan kalau kita hubungkan
dengan kesejahteraan karyawan, saya kira tidak mungkin, karena baru beberapa bulan ini
perusahaan meningkatkan gaji karyawan sampai 250% dari UMK yang ditetapkan
pemerintah." Tn. Syam Nugroho, Manajer SDM menambahkan.
Dari informasi awal ini, Tn. Kris Palguna membuat rencana audit termasuk
anggarannya yang akan disampaikan kepada Tn. Kevin untuk mendapatkan persetujuan
pelaksanaannya. Rencana audit meliputi jadwal pelaksanaan dan jangka waktu audit, ruang
lingkup audit, audit personalia, serta fee yang harus dibayar oleh perusahaan untuk
pelaksanaan audit tersebut. Pihak perusahaan menyetujui rencana tersebut dan tahapan audit
dimulai.
Dari audit pendahuluan, auditor menemukan beberapa informasi umum penting yang
berkaitan dengan objek audit sebagai berikut:
1. PT. Indojewel bergerak di bidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan emas.
Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam
rencana bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari pasar dalam negeri. Desain
produk sudah cukup dikenal di pasar, merupakan hasil pengembangan dari bagian litbang
perusahaan yang dipimpin oleh tenaga ahli dibidangnya.
2. Perusahaan mempekerjakan 1.500 karyawan tetap dak sekitar 750 karyawan kontrak yang
dipekerjakan terutama sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning
service di seluruh divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari
UMK yang ditetapkan pemerintah
3. Perusahaan menerapkan teknologi maju dalam produksi perhiasan dengan investasi
sebesar Rp. 1,75 triliun untuk membeli peranti keras dan Rp. 500 miliar untuk membeli
peranti lunak termasuk sistem informasi, yang mengintegrasikan seluruh divisi ke dalam
satu rangkaian operasi dan sistem pelaporan
4. Pelatihan karyawan bersifat situasional, sesuai dengan permintaan manajer lini dan sesuai
dengan anggaran yang tersedia

Dari hasil audit pendahuluan ini auditor merumuskan beberapa tujuan audit sementara
sebagai berikut:
1. Tingkat kegagalan produksi disebabkan oleh kurang terampilnya karyawan dalam
mengoperasikan mesin baru
2. Program pelatihan karyawan yang dilaksanakan perusahaan belum mampu meningkatkan
keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
Pengembangan kriteria awal kemudian dilakukan auditor bersama Direktur Utama
dan Manajer SDM. Dari pertemuan tersebut dirumuskan beberapa kriteria awal yang akan
digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi program pelatihan di perusahaan ini,
sebagai berikut:
1. Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan
disosialisasikan ke seluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk :
a. Meningkatkan keterampilan karyawan
b. Menurunkan kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5 %
c. Menurunkan pemborosan penggunaan sumber daya
d. Menurunkan kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan
kebanggaan karyawan terhadap pekerjaannya
2. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik bersama
dengan penyusunan anggaran perusahaan
3. Program pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan
pelatihan sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi :
a. Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga mampu
berkontribusi maksimal kepada perusahaan
b. Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan yang
tepat
c. Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk mendapatkan
umpan balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya
d. Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam
mengelola program pelatihan dan pengembangan
4. Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai
5. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi sebagai
umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan
Dari hasil review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen, auditor
telah mencata beberapa temuan penting sebagai berikut:
1. Kemitraan antara departemen SDM dan manajemen lini dalam pengelolaan SDM berjalan
dengan baik dan dipimpin oleh suatu pedoman yang disepakati penerapannya.
2. Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan keterampilan karyawan dalam
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
3. Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan.

4. Program pelatihan disusun berdasarkan permintaan dari departemen yang membutuhkan


pelatihan tersebut dan disesuaikan dengan besarnya anggaran yang disetujui oleh Direktur
Akuntansi dan Keuangan.
5. Belum tersedia suatu sistem review dan pelaporan yang terdokumentasi tentang penilaian
efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.
Berdasarkan hasil review dan pengujian sistem pengendalian manajemen ini didukung
dengan sikap kooperatif dari berbagai lapisan manajemen, auditor merasa yakin bahwa datadata yang dibutuhkan dalam audit untuk mendukung tujuan audit dapat diperoleh secara
akurat dan memadai tanpa pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh manajemen dan
tujuan audit sementara yang telah dirumuskan dapat dilanjutkan menjadi tujuan audit yang
sesungguhnya. Langkah berikutnya adalah audit lanjutan.
Dari audit lanjutan, diperoleh beberapa temuan penting sebagai berikut:
1. Mesin baru yang digunakan perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya, tetapi
untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakan sesuai dengan standar
manual tersebut perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikannya di lokasi
mesin tersebut dioperasikan. Sementara pelatihan yang telah dilakukan adalah pelatihan
klasikal di kelas untuk memahami petunjuk (manual) tersebut. Konfirmasi kepada
manajer SDM diperoleh informasi tidak tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan
sampai pada praktik lapangan.
2. Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan menentukan program pelatihan
berdasarkan permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa
melalui suatu identifikasi untuk menetukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibtuhkan
karyawan.
3. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun dari
laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan didasarkan
pada laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai Rp. 650,75 miliar.
4. Terjadi penurunan produk gagal menjadi 18% dibandingkan sebesar 20% tahun lalu.
5. Tidak ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal, sehingga tidak ada
dokumen/catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang
telah dilakukan.
6. Dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan
tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:
a. Sebesar 35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan
kebutuhannya untuk meningkatkan keterampilan
b. Sebesar 12,5% peserta menjawab metode pelatihan sesuai dengan materi pelatihan
yang diberikan
c. Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti
pelatihan
d. Sebesar 80% peserta menjawab waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup waktu
bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut.

7. Sebanyak 40% kegagalan produksi terjadi pada proses produksi, 35% pada proses
pengepakan dan 25% dalam proses penggudangan dari keseluruhan biaya kegagalan
produk yang terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp. 825,25 juta
8. Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5% dari
total penjualan Rp. 7,5 triliun.
Instruksi :
1. Sebagai auditor, Anda diminta untuk mengelompokkan temuan audit tersebut di atas ke
dalam kelompok kondisi, kriteria, penyebab dan akibat.
2. Buat laporan audit atas pelatihan karyawan ini, lengkapi kesimpulan audit anda dengan
temuan audit yang mendukung kesimpulan tersebut dan rumuskan rekomendasi yang
anda berikan kepada PT. Indojewel sebagai alternatif perbaikan pengelolaan program
pelatihan karyawan di masa depan.

1. DAFTAR RINGKASAN TEMUAN AUDIT

No.
1

Kondisi
Penurunan produk
menjadi 18%

gagal

Rencana
pelatihan
baru
dibuat setelah ada bagian
yang membutuhkan pelatihan

Program pelatihan disusun


berdasarkan permintaan dari
departemen
yang
membutuhkan
pelatihan
tersebut dan disesuaikan
dengan besarnya anggaran
yang disetujui oleh Direktur
Akuntansi dan Keuangan.

Kriteria
Tujuan pelatihan dan pengembangan
karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan
disosialisasikan keseluruh manajer lini.
Tujuan pelatihan adalah untuk:
a. meningkatkan keterampilan karyawan.
b. Menurunkan kegagalan produk sampai
pada tingkat 2,5 %
c. Menurunkan pemborosan penggunaan
sumber daya.
d. Menurunkan kecelakaan kerja
karyawan serta meningkatkan motivasi
kerja dan kebanggan karyawan
terhadap pekerjaan.
Rencana pelatihan dan pengembangan
karyawan harus disusun secara periodik
bersama dengan penyusunan anggaran
perusahaan.
Program pelatihan dirumuskan berdasarkan
hasil identifakasi terhadap kebutuhan
pelatihan sebelum program ditetapkan,
identifikasi meliputi:
a. Penentuan jenis dan bentuk
keterampilan yang dibutuhkan
karyawan sehingga mampu
berkontribusi maksimal kepada

Penyebab
Kurang
terampilnya
karyawan
dalam
mengoperasikan
mesin
baru (Sebesar 80% peserta
menjawab waktu pelatihan
terlalu singkat dan tidak
cukup waktu bagi mereka
untuk memahami materi
yang diberikan dalam
pelatihan tersebut).

Akibat
Pengembalian produk oleh
pelanggan yang terjadi
selama tahun 2008 sebesar
7,5% dari total penjualan
Rp. 7,5 triliun.

Perusahaan tidak memiliki Kurangnya


kesiapan
rencana pelatihan perodik. karyawan/peserta pelatihan
pada
program
yang
diadakan.
menetukan
program Minimnya
kemampuan
kebutuhan
yang
pelatihan
berdasarkan dan
seharusnya
diperoleh
oleh
permintaan manajer lini
karyawan/peserta
yang harus terealisasi
pelatihan.
dalam waktu singkat tanpa
melalui suatu identifikasi
untuk
menentukan
pelatihan
apa
yang

perusahaan.
b. Melakukan penilaian secara periodik
untuk mengidentifikasi topik pelatihan
yang tepat.
c. Melakukan penilaian terhadap
pelatihan yang telah dilakukan untuk
mendapatkan umpun balik bagi
perbaikan pelatihan berikutnya.
d. Melakukan benchmarking pada
industri yang sama yang lebih berhasil
dalam mengelola program pelatihan
dan pengembangan.
Mesin baru yang digunakan Pengelolaan pelatihan karyawan harus
perusahaan telah dilengkapi didukung anggaran yang memadai.
manual
penggunaannya,
tetapi
untuk
memahami
manual tersebut dan mampu
menggunakan sesuai dengan
standar manual tersebut perlu
dilakukan pelatihan intensif,
dengan mempraktikannya di
lokasi
mesin
tersebut
dioperasikan.
Sementara
pelatihan
yang
telah
dilakukan adalah pelatihan
klasikal di kelas untuk
memahami petunjuk (manual)
tersebut. Konfirmasi kepada

sesungguhnya dibutuhkan
karyawan.

Perusahaan
hanya
menganggarkan
biaya
pelatihan sebesar 0,25%
selama satu tahun dari laba
bersih setelah pajak tahun
sebelumnya. Untuk tahun
2008
biaya
pelatihan
didasarkan
pada
laba
bersih setelah pajak tahun
2007 yang mencapai Rp.
650,75 miliar.

Dari hasil kuesioner yang


disebarkan
kepada
karyawan
yang
telah
mengikuti pelatihan tahun
2008 diperoleh temuan
sebagai berikut:

Sebesar 35% dari


peserta menjawab
bahwa
materi
pelatihan
sesuai
dengan
kebutuhannya
untuk
meningkatkan
keterampilan.

manajer SDM diperoleh


informasi
tidak
tersedia
cukup
dana
untuk
melanjutkan pelatihan sampai
pada praktik lapangan.

Belum tersedia suatu sistem


review dan pelaporan yang
terdokumentasi
tentang
penilaian efektivitas dan

Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi


untuk menyediakan informasi sebagai umpan
balik dalam meningkatkan kualitas proses dan
produk yang dihasilkan.

Tidak
ada
keberhasilan
secara formal

Sebesar
12,5%
peserta menjawab
metode pelatihan
sesuai
dengan
materi
pelatihan
yang diberikan.

Hanya sebesar 35%


menjawab
keterampilannya
meningkat setelah
mengikuti
pelatihan.

Sebesar
80%
peserta menjawab
waktu
pelatihan
terlalu singkat dan
tidak cukup waktu
bagi mereka untuk
memahami materi
yang
diberikan
dalam
pelatihan
tersebut.

penilaian sehingga
tidak
ada
pelatihan dokumen/catatan yang bisa
dipertanggungjawabkan
atas
penilaian
hasil

efisiensi
pelatihan.

pelaksanaan

pelatihan
dilakukan.

yang

telah

2. LAPORAN AUDIT ATAS PELATIHAN


KARYAWAN

Medan, 07 Oktober 2013


No
Lampiran
Perihal

: 013/KAP/X/2013
: 3 Eksemplar
: Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth. Direktur PT. Indojewel
Di Medan
Kami telah melakukan audit atas pelatihan karyawan pada PT Indojewel untuk
periode tahun 2007/2008. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat
atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidak
memberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup
Pelatihan Karyawan PT Indojewel. Audit tersebut dimaksudkan untuk menilai
ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektifitas (hasil guna), Pelatihan
Karyawan yang dilakukan dan memberikan saran perbaikan atas kelemahan kegiatan
tersebut yang ditemukan selama audit, sehingga diharapkan di masa yang akan datang
dapat dicapai perbaikan atas kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi
dengan lebih ekonomis, efisien, dan lebih efektif dalam mencapai tujuannya.
Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi :
Bab I : Informasi Latar Belakang
Bab II : Kesimpulan Audit yang Didukung dengan Temuan Audit
Bab III : Rekomendasi
Bab IV : Ruang Lingkup Audit
Dalam melaksanakan audit kami telah memperoleh banyak bantuan, dukungan,
dan kerja sama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan
dengan pelaksanaan audit ini. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih atas kerja
sama yang telah terjalin dengan baik ini.
Kantor Akuntan Publik
Rawiatmaja dan Rekan

Dr. Kris Palguna, S.E., M.M., Ak., BAP.

BAB I

INFORMASI LATAR BELAKANG

PT Indojewel (selanjutnya disebut "Perusahaan") berlokasi di Jl. CR No.7 Medan, didirikan


tanggal 13 April 1990 oleh para pendiri yang terdiri atas:
1. Dr. Kevin Suparno
2. Dr. Cecep Mulyadi
3. Sandra Gultom
4. Dr. Steve Handayana
PT. Indojewel bergerak dibidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan emas.
Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintgrasi dalam rencana
bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari pasar dalam negeri.
Perusahaan mempekerjakan 1.500 karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontrak yang
dipekerjakan terutama sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan cleaning service
diseluruh divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari UMK yang
ditetapkan pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologi maju dalam produksi perhiasan dengan investasi sebesar
Rp. 1,75 triliun untuk membeli peranti keras dan Rp. 500 miliar untuk membeli peranti lunak
termasuk sistem informasi, yang mengintegrasikan seluruh divisi ke dalam satu rangkaian
operasi dan sistem pelaporan.
Perusahaan karyawan yang dilakukan PT. Indojewel bersifat situasional, sesuai dengan
permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Susunan direksi perusahaan adalah sebagai berikut:
Direktur Utama

: Dr. Kevin Suparno

Direktur Akuntansi dan Keuangan

: Dr. Cecep Mulyadi

Direktur Pemasaran

: Dr. Steve Handayana

Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk :


1. Menilai kinerja pelatihan keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
perusahaan.
2. Menilai ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas Pelatihan Karyawan yang dilakukan
perusahaan
3. Memberikan berbagai saran pebaikan atas kelemahan Pelatihan Karyawan yang
ditemukan.
BAB II

KESIMPULAN AUDIT

Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
Kondisi:
1. Penurunan produk gagal menjadi 18%
2. Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan.
3. Program pelatihan disusun berdasarkan permintaan dari departemen yang
membutuhkan pelatihan tersebut dan disesuaikan dengan besarnya anggaran yang
disetujui oleh Direktur Akuntansi dan Keuangan.
4. Mesin baru yang digunakan perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya,
tetapi untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakan sesuai dengan
standar manual tersebut perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikannya
di lokasi mesin tersebut dioperasikan. Sementara pelatihan yang telah dilakukan
adalah pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk (manual) tersebut.
Konfirmasi kepada manajer SDM diperoleh informasi tidak tersedia cukup dana untuk
melanjutkan pelatihan sampai pada praktik lapangan.
5. Belum tersedia suatu sistem review dan pelaporan yang terdokumentasi tentang
penilaian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.

Kriteria:
1. Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan
disosialisasikan ke seluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk
a. Meningkatkan keterampilan karyawan
b. Menurunkan kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5

c. Menurunkan pemborosan penggunaan sumber daya


d. Menurunkan kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan
kebanggaan karyawan terhadap pekerjaannya
2. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik
bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan
3. Program pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan
pelatihan sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi :

a. Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga


mampu berkontribusi maksimal kepada perusahaan
b. Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan yang
tepat
c. Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk mendapatkan
umpan balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya
d.

Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam
mengelola program pelatihan dan pengembangan

4. Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai


5. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi sebagai
umpan balik dalam meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.
Penyebab:
1. Kurang terampilnya karyawan dalam mengoperasikan mesin baru (Sebesar 80%
peserta menjawab waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup waktu bagi mereka
untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut).
2. Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan perodik.
3. menetukan program pelatihan berdasarkan permintaan manajer lini yang harus
terealisasi dalam waktu singkat tanpa melalui suatu identifikasi untuk menentukan
pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan karyawan.
4. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun
dari laba bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan
didasarkan pada laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai Rp. 650,75
miliar.
5. Tidak ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal
Akibat:
1. Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5%
dari total penjualan Rp. 7,5 triliun.
2. Kurangnya kesiapan karyawan/peserta pelatihan pada program yang diadakan.
3. Minimnya kemampuan dan
karyawan/peserta pelatihan.

kebutuhan

yang

seharusnya

diperoleh

oleh

4. Dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti

pelatihan tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:

Sebesar 35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan
kebutuhannya untuk meningkatkan keterampilan.

Sebesar 12,5% peserta menjawab metode pelatihan sesuai dengan materi


pelatihan yang diberikan.

Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti


pelatihan.

Sebesar 80% peserta menjawab waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak
cukup waktu bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam
pelatihan tersebut.

5. tidak ada dokumen/catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil


pelatihan yang telah dilakukan.

Pejabat yang bertanggung jawab:


Direktur Akuntansi dan Keuangan
Direktur Pemasaran
Direktur Produksi

3. DAFTAR RINGKASAN TEMUAN AUDIT

No.
1

Kondisi
Penurunan produk
menjadi 18%

gagal

Rencana
pelatihan
baru
dibuat setelah ada bagian
yang membutuhkan pelatihan

Program pelatihan disusun


berdasarkan permintaan dari
departemen
yang
membutuhkan
pelatihan
tersebut dan disesuaikan
dengan besarnya anggaran
yang disetujui oleh Direktur

Kriteria
Tujuan pelatihan dan pengembangan
karyawan harus dirumuskan dengan jelas dan
disosialisasikan keseluruh manajer lini.
Tujuan pelatihan adalah untuk:
e. meningkatkan keterampilan karyawan.
f. Menurunkan kegagalan produk sampai
pada tingkat 2,5 %
g. Menurunkan pemborosan penggunaan
sumber daya.
h. Menurunkan kecelakaan kerja
karyawan serta meningkatkan motivasi
kerja dan kebanggan karyawan
terhadap pekerjaan.
Rencana pelatihan dan pengembangan
karyawan harus disusun secara periodik
bersama dengan penyusunan anggaran
perusahaan.
Program pelatihan dirumuskan berdasarkan
hasil identifakasi terhadap kebutuhan
pelatihan sebelum program ditetapkan,
identifikasi meliputi:
e. Penentuan jenis dan bentuk
keterampilan yang dibutuhkan
karyawan sehingga mampu

Penyebab
Kurang
terampilnya
karyawan
dalam
mengoperasikan
mesin
baru (Sebesar 80% peserta
menjawab waktu pelatihan
terlalu singkat dan tidak
cukup waktu bagi mereka
untuk memahami materi
yang diberikan dalam
pelatihan tersebut).

Akibat
Pengembalian produk oleh
pelanggan yang terjadi
selama tahun 2008 sebesar
7,5% dari total penjualan
Rp. 7,5 triliun.

Perusahaan tidak memiliki Kurangnya


kesiapan
rencana pelatihan perodik. karyawan/peserta pelatihan
pada
program
yang
diadakan.
menetukan
program Minimnya kemampuan
pelatihan
berdasarkan dan kebutuhan yang
permintaan manajer lini seharusnya diperoleh oleh
karyawan/peserta
yang harus terealisasi
pelatihan.
dalam waktu singkat tanpa
melalui suatu identifikasi
untuk
menentukan

Akuntansi dan Keuangan.

berkontribusi maksimal kepada


perusahaan.
f. Melakukan penilaian secara periodik
untuk mengidentifikasi topik pelatihan
yang tepat.
g. Melakukan penilaian terhadap
pelatihan yang telah dilakukan untuk
mendapatkan umpun balik bagi
perbaikan pelatihan berikutnya.
h. Melakukan benchmarking pada
industri yang sama yang lebih berhasil
dalam mengelola program pelatihan
dan pengembangan.
Mesin baru yang digunakan Pengelolaan pelatihan karyawan harus
perusahaan telah dilengkapi didukung anggaran yang memadai.
manual
penggunaannya,
tetapi
untuk
memahami
manual tersebut dan mampu
menggunakan sesuai dengan
standar manual tersebut perlu
dilakukan pelatihan intensif,
dengan mempraktikannya di
lokasi
mesin
tersebut
dioperasikan.
Sementara
pelatihan
yang
telah
dilakukan adalah pelatihan
klasikal di kelas untuk
memahami petunjuk (manual)

pelatihan
apa
yang
sesungguhnya dibutuhkan
karyawan.

Perusahaan
hanya
menganggarkan
biaya
pelatihan sebesar 0,25%
selama satu tahun dari laba
bersih setelah pajak tahun
sebelumnya. Untuk tahun
2008
biaya
pelatihan
didasarkan
pada
laba
bersih setelah pajak tahun
2007 yang mencapai Rp.
650,75 miliar.

Dari hasil kuesioner yang


disebarkan
kepada
karyawan
yang
telah
mengikuti pelatihan tahun
2008 diperoleh temuan
sebagai berikut:

Sebesar 35% dari


peserta menjawab
bahwa
materi
pelatihan
sesuai
dengan
kebutuhannya
untuk
meningkatkan

tersebut. Konfirmasi kepada


manajer SDM diperoleh
informasi
tidak
tersedia
cukup
dana
untuk
melanjutkan pelatihan sampai
pada praktik lapangan.

Belum tersedia suatu sistem Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi


review dan pelaporan yang untuk menyediakan informasi sebagai umpan

keterampilan.

Tidak
ada
keberhasilan

Sebesar
12,5%
peserta menjawab
metode pelatihan
sesuai
dengan
materi
pelatihan
yang diberikan.

Hanya sebesar 35%


menjawab
keterampilannya
meningkat setelah
mengikuti
pelatihan.

Sebesar
80%
peserta menjawab
waktu
pelatihan
terlalu singkat dan
tidak cukup waktu
bagi mereka untuk
memahami materi
yang
diberikan
dalam
pelatihan
tersebut.

penilaian sehingga
tidak
ada
pelatihan dokumen/catatan yang bisa

terdokumentasi
tentang balik dalam meningkatkan kualitas proses dan
penilaian efektivitas dan produk yang dihasilkan.
efisiensi
pelaksanaan
pelatihan.

secara formal

dipertanggungjawabkan
atas
penilaian
hasil
pelatihan
yang
telah
dilakukan.

BAB III
REKOMENDASI
Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian
manajemen di masa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi ..yaitu:
1. Kelemahan yang terjadi karenakegagalan produksi disebabkan oleh kurang

terampilnya karyawan dalam mengoperasikan mesin baru.


2. Kelemahan yang terjadi karena Program pelatihan karyawan yang dilaksanakan
perusahaan belum mampu meningkatkan keterampilan karyawan dalam
mengoperasikan mesin baru.

Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau
langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.

Rekomendasi:
1. Perusahaan harus memberikan anggaran yang memadai untuk program pelatihan
karyawan agar program tersebut terlaksana hingga tuntas sehingga peningkatan
keterampilan karyawan atas pengoperasian mesin baru sesuai dengan yang diharapkan
2. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik
bersama dengan penyusunan anggaran perusahaan
3. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi sebagai umpan balik atas peningkatan
kualitas dan produk yang dihasilkan supaya terjadi penurunan yang signifikan atas
kegagalan produk dan pengembalian produk oleh pelanggan

Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada manajemen,
tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi akibat yang
lebih buruk pada prusahaan di masa yang akan datang.

BAB IV

RUANG LINGKUP AUDIT

Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah
Pelatihan Karyawan PT Indojewel untuk periode tahun 2007/2008 Audit kami mencakup
program pelatihan karyawan yang telah dilakukan perusahaan.