Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PAPER

disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu

REALITA KURANG BERMANFAATNYA SISTEM MANAJEMEN


MUTU ISO 9001:2000 PADA PERUSAHAAN
Dosen Pengampu : Bpk M. Agus Salim ST, MT

Disusun oleh:
Pratama Chaerul Umam
(1103010006)

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan mutu produk/jasa serta
kepuasan pelanggan semakin besar karena terbukanya perdagangan bebas dalam
era globalisasi. Oleh karena itu perusahaan berusaha memenangkan persaingan
dengan mening- katkan mutu produk/jasa, sehingga dapat memberikan kepuasan
pelanggan. Untuk meningkatkan mutu produk/jasa perusahaan harus menerapkan
sistem manajemen mutu. ISO 9000 merupakan salah satu standar sistem
manajemen mutu yang diakui dunia internasional dan bersifat global untuk
berbagai bidang usaha.
Selain dapat meningkatkan kemampuan bersaing, masih banyak manfaat
dari perolehan sertifikasi ISO 9000 yang telah diteliti dan dipublikasikan. Adapun
pengelompokan motivasi, pendorong dan manfaat untuk mendapatkan sertifikasi
ISO telah ditabulasi dan dibahas. Para peneliti merekomendasikan keuntungan
mendapatkan sertifikasi ISO antara lain memperoleh reputasi yang lebih baik,
tingkat kesadaran akan perlunya menjaga kualitas, prosedur dan tanggung jawab
menjadi lebih jelas dan terdokumentasi dengan lebih baik, menghilangkan
pekerjaan yang tidak perlu, lebih mudah untuk ditelusuri dan dilakukan audit,
pelayanan kepada pelanggan lebih baik, meningkatkan kepuasan pelanggan serta
karyawan, melakukan peningkatan yang berkesinam- bungan, meningkatkan
keuntungan, kesempatan untuk melakukan ekspansi dan seterusnya.
Sekalipun banyak manfaat dari memperoleh sertifikasi

ISO,

tapi

penerapannya pun memiliki banyak kendala baik dalam proses maupun setelah
proses sertifikasi. Masalah utama dalam masa penerapan adalah proses
pengecekan dokumen yang terlalu banyak sehingga tidak dapat dikelola dengan
baik, serta mendapatkan komitmen dari pihak mana- jemen dan juga para
karyawan.
Sertifikasi ISO dapat diperoleh oleh berbagai jenis perusahaan, termasuk
perusahaan jasa konstruksi. Penelitian ini memfokuskan pada perusahaan
kontraktor yang telah mendapatkan ISO 9000 di wilayah Surabaya dan Gresik.
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui alasan, perbedaan antara
harapan dan realita, kepuasan, dan hambatan
menerapkan ISO

perusahaan

yang

sudah

9000.

BAB II
LANDASAN TEORI
ISO 9000 merupakan suatu kumpulan standar manajemen mutu dan standar
proses, bukan stan- dar produk. ISO 9000:2000 terdiri dari beberapa bagian yang memuat
tentang sistem manajemen mutu, diantaranya ISO 9001:2000 dan ISO 9004:2000.
ISO 9001:2000 berisikan persyaratan standar yang digunakan untuk mengukur
kemampuan organi- sasi dalam memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan yang
sesuai. ISO 9004:2000 berisikan pedoman standar yang menyediakan acuan dalam
peningkatan berkelanjutan sistem manajemen mutu untuk memberikan keuntungan pada
semua pihak, termasuk kepuasan pelanggan.
Dalam ISO 9001:2000 terdapat delapan prinsip sistem manajemen mutu yang
dijadikan sebagai acuan kerangka kerja yang membimbing organisasi menuju peningkatan
kerja. Kedelapan prinsip sistem manajemen mutu yang terdapat dalam ISO
9001:2000, adalah :
1. Fokus pelanggan
Pelanggan merupakan bagian yang sangat penting bagi organisasi, oleh
sebab itu manajemen organisasi harus benar-benar memahami, memenuhi
kebutuhan pelanggan saat ini dan yang akan datang bahkan melebihi harapan
pelanggan.
2. Kepemimpinan
Pemimpin sangat penting dalam menciptakan kesatuan arah dan tujuan organisasi,
menciptakan dan mempertahankan lingkungan internal sehingga personel terlibat
secara penuh untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Keterlibatan personel
Keterlibatan personel secara penuh pada semua tingkatan organisasi sangat
penting sehingga kemampuan personel dapat digunakan untuk kepentingan
organisasi.
4. Pendekatan proses
Pendekatan proses sangat penting untuk men- capai hasil yang diinginkan agar
lebih efisien, dengan mengelola aktivitas dan sumber-sumber daya yang berkaitan
sebagai suatu proses. Proses merupakan integrasi yang berurutan dari personel,
material, metode, mesin, dan peralatan, dalam suatu lingkungan untuk menghasilkan keluaran yang memiliki nilai tambah bagi pelanggan.
5. Pendekatan sistem terhadap manajemen Pengidentifikasian, pemahaman dan
pengelolaan proses-proses yang saling berkaitan sebagai suatu sistem yang
mendukung efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuantujuannya.
6. Peningkatan berkesinambungan

Peningkatan berkesinambungan akan meningkatkan kinerja organisasi secara


keseluruhan

dan

berkesinambungan

harus

menjadi

merupakan

komitmen

suatu

proses

perusahaan.

Peningkatan

berkesinambungan

untuk

meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi dalam memenuhi kebijakan dan


mencapai tujuan organisasi.
7. Pendekatan faktual dalam pengambilan keputusan
Keputusan yang efektif harus berdasarkan analisis data dan informasi yang faktual,
sehingga masalah-masalah mutu dapat terselesaikan secara efektif dan efisien.
Keputusan yang diambil harus ditujukan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan
efektivitas implementasi sistem manajemen mutu.
8. Hubungan pemasok yang saling menguntung- kan
Organisasi dan pemasok-pemasoknya saling tergantung dan hubungan yang saling
menguntungkan akan meningkatkan kemampuan bersama dalam menciptakan
nilai tambah bagi pelanggan.
Langkah-Langkah Dalam Menerapkan ISO 9001:2000
Berikut ini dapat dilihat langkah-langkah yang diperlukan dalam menerapkan ISO
9001:2000 (Gaspersz, 2001) :
Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini meliputi persiapan pembentukan tim pengembangan mutu dan
pelatihan dasar untuk memahami sistem manajemen mutu sesuai standar.
Tahap Pengembangan
Tahap pengembangan ini melibatkan aktivitas industi atau perusahaan, meninjau semua
dokumentasi yang ada dan mengembangkan sistem mutu dalam organisasi. Pelatihan
yang lebih detil lagi mungkin diperlukan untuk pelatihan karyawan dalam kunci-kunci
pengembangan mutu. Jika industi atau perusahaan berskala cukup besar, bisa
dipertimbangkan untuk menggunakan konsultan eksternal untuk membantu
mempersiapkan sistem manajemen mutu.
Tahap Implementasi
Sistem manajemen mutu yang telah dikembangkan perlu diimplementasikan dalam proyek
yang sebenarnya untuk selanjutnya dikaji dalam tahap berikutnya.
Tahap Audit
Audit sistem manajemen mutu dilaksanakan setelah implementasi berjalan untuk jangka
waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari audit sistem manajemen mutu adalah untuk
memastikan apakah semua operasional dalam organisasi sudah berjalan sesuai dengan
prosedur.
Tahap Sertifikasi
Tahap ini meliputi sertifikasi oleh Badan Sertifikasi yang terakreditasi. Setelah melalui
tahap ini, industi atau perusahaan resmi sebagai pemegang sertifikat ISO.

BAB III
PEMBAHASAN
Saat menilai Sistem Manajemen Mutu, terdapat 4 hal mendasar yang hendaknya
dipertanyakan berkaitan dengan tiap proses yang dinilai :
1) Apakah proses itu diidentifikasi dan ditetapkan secara tepat?
2) Apakah tanggung jawab ditetapkan?
3) Apakah prosedur diterapkan dan dipelihara?
4) Apakah proses tersebut efektif dalam mencapai hasil yang dikehendaki?
Jawaban terhadap seluruh pertanyaan di atas dapat menentukan hasil evaluasi.
Evaluasi suatu Sistem Manajemen Mutu dapat beragam dalam lingkup dan mencakup
suatu rentang kegiatan, seperti mengaudit (auditing), meninjau Sistem Manajemen Mutu
(reviewing), dan penilaian sendiri (self-assessment). (Lihat ISO 9000:2005 Quality
management systems Fundamentals and vocabulary 2.8.1 Evaluating processes
within the quality management system).
Tujuan audit mutu (internal maupun eksternal) dalam implementasi ISO 9001:2008
adalah

guna

mengevaluasi

organisasi/perusahaan

terhadap

sejauh

mana

kepatuhan

persyaratan-persyaratan

atau

pelanggan,

pemenuhan
termasuk

pemenuhan terhadap persyaratan dalam standar ISO 9001:2008 itu sendiri. Di samping itu
juga untuk menilai efektivitas proses dalam perusahaan seperti yang disebutkan dalam
ISO 9000:2005 di atas.
Evaluasi efektivitas proses Sistem Manajemen Mutu sangat penting dilakukan
untuk mengukur sejauh mana proses proses tersebut mampu mencapai hasil yang
diinginkan. Evaluasi ini juga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan proses
proses tersebut sebagai titik awal perbaikan berkelanjutan. Sayangnya evaluasi efektivitas
proses pada umumnya masih sering dilewatkan oleh auditor (internal maupun eksternal).
Kebanyakan auditor tetap bertahan pada pemeriksaan kesesuaian sebagai fokus utama.
Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal:
a) Auditor tidak tahu bagaimana mengevaluasi efektivitas proses.
b) Audit efektivitas proses dianggap terlalu sulit.
c) Audit efektivitas proses dianggap terlalu subyektif.
d) Audit efektivitas proses sebetulnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, terutama
setelah ukuran kinerja mendapat penekanan yang cukup banyak pada standar ISO
9001:2008 sehingga organisasi tak asing lagi dengan parameter parameter
kinerja proses. Audit efektivitas juga bisa dilakukan secara lebih objektif bila auditor
mendasarkan temuan temuannya pada fakta dan data yang ditemui dilapangan.

Ada 3 kondisi yang perlu disikapi dengan cara berbeda oleh auditor dalam
mengevaluasi efektivitas proses.
A. Bila Sasaran Kinerja sudah Ditetapkan
Pada kondisi proses seperti ini, yang perlu dilakukan auditor adalah:
Memeriksa apakah parameter sasaran kinerja atau gabungan dari sasaran
kinerja sejalan dengan persyaratan dan harapan pelanggan, tidak bias dan juga
sejalan dengan sasaran perusahaan. Misalnya, waktu mengaudit aktivitas shipping,
auditor menemukan bahwa hanya satu sasaran yang ditetapkan: Peningkatan Jumlah
pengiriman perbulan. Sasaran tersebut, paling tidak sebagian darinya, tentunya
dibiaskan dengan kinerja bagian Sales. Terlebih lagi, sasaran yang hanya satu
tersebut tentu tidak sejalan dengan harapan pelanggan, yang tentunya mengharapkan
kesesesuaian jenis barang yang dikirim dan tidak terjadi kerusakan selama
pengiriman. Auditor dapat menerbitkan laporan ketidaksesuaian untuk kasus seperti
ini.
Memeriksa apakah auditee mempunyai data data yang dapat digunakan untuk
memantau apakah sasaran tercapai atau tidak. Bila tidak, auditor dapat menerbitkan
laporan ketidaksesuain. Alasannya tentu logis, kriteria yang tidak dipantau apakah
dipenuhi atau tidak adalah kriteria kinerja yang sia sia.
Memeriksa apakah sasaran tercapai atau tidak. Bila tidak, auditor harus
menggali lebih jauh apakah auditee menindaklanjutinya dengan tindakan yang
diperlukan untuk perbaikan. Auditor dapat menerbitkan sebuah temuan bila tindakan
tidak dilakukan.
B. Sasaran Kinerja Proses Tidak Ditetapkan Tetapi Kinerja Proses Dipantau
Contoh dari kasus ini, misalnya waktu mengaudit proses warehousing, auditor tidak
menemukan adanya sasaran untuk inventory record accuracy, tetapi parameter
tersebut diukur secara berkelanjutan dan tercatat. Sama seperti kondisi nomor 1,
auditor perlu memeriksa apakah parameter atau gabungan dari beberapa parameter
tidak bias, sesuai dengan harapan pelanggan dan juga sesuai dengan harapan
perusahaan.
Auditor lalu memeriksa trend data kinerja dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, bila
auditor menemukan bahwa tingkat akurasi catatan persediaan menurun secara
berkelanjutan dalam 6 bulan terakhir dan tidak ada tindakan perbaikan dari auditee,
maka auditor dapat mengeluarkan sebuah laporan ketidaksesuaian.
C. Kinerja Proses Tidak Dipantau (Ada ataupun Tidak Sasaran Kinerja)
Mengacu pada klausul 8.2.3 ISO 9001 tentang pengukuran proses, kondisi
dimana suatu proses tidak dipantau efektivitasnya adalah sebuah penyimpangan.

Secara logis, adalah sia sia untuk membuat pengaturan pengaturan proses tanpa
melakukan pemantauan apakah proses efektif atau tidak efektif. Auditor dapat
menerbitkan sebuah laporan ketidaksesuaian untuk kasus seperti ini.
Disamping itu, auditor juga perlu menggali fakta tentang efektivitas proses lebih
jauh untuk membuktikan apakah proses tersebut sebenarnya efektif (tetapi tidak
dipantau) atau proses tersebut memang tidak efektif. Fakta pendukung ini akan
menjadi masukan yang penting bagi pihak manajemen untuk memperoleh gambaran
tentang tingkat masalah yang dihadapi.
Untuk itu, auditor perlu melakukan beberapa langkah berikut:
1. Menetapkan pernyataan tentang tujuan dari proses yang diaudit.
Efektivitas adalah kemampuan dari proses dalam mencapai tujuannya. Maka logis
sekali untuk mengukur efektivitas dengan terlebih dahulu memahami tujuan dari proses.
Contoh-contoh tujuan proses:
a) Proses tindakan koreksi: mencegah terulangnya masalah.
b) Proses pegendalian catatan: manjamin catatan terpelihara dan mudah ditemukan
saat diperlukan.
Pernyataan tujuan harus dibuat sesederhana mungkin dan menekan kemungkinan adanya
perbedaan persepsi antara auditor dan penanggung jawab proses atau auditee.
2. Menetapkan pernyataan efektivitas proses.
Pernyataan efektivitas proses adalah turunan langsung dari tujuan proses. Misalnya:
a) Proses tindakan koreksi dianggap efektif bila masalah masalah tidak terjadi
berulang ulang.
b) Pengendalian catatan dianggap efektif bila catatan mudah ditemukan dan tidak
rusak.
3. Melakukan observasi dan evaluasi.
Atas dasar pernyataan efektivitas proses, auditor melakukan pengamatan dan
mengevaluasinya untuk memperoleh data tentang efektivitas proses. Misalnya, untuk
proses tindakan koreksi efektif atau tidak, auditor dapat melihat usulan tindakan koreksi
dalam 6 bulan terakhir dan menganalisanya untuk mendapatkan data berapa persen
usulan tindakan koreksi yang berulang lebih dari 2 kali? Berapa persen usulan tindakan
koreksi yang berulang 2 kali? Data ini akan menjadi data pendukung dari laporan
ketidaksesuaian yang diterbitkan. Data ini tidak perlu dijadikan dasar untuk menentukan
apakah suatu proses dikatakan efektif atau tidak efektif yang memerlukan professional
judgement

dan

potensial

subyektif.

Cukup

dijadikan

ketidaksesuaian tidak dipantaunya efektivitas proses.

data

pendukung

untuk

REALITA KURANG BERMANFAATNYA SISTEM ISO 9001

REALITA 1
Survey yang dilakukan oleh Engineering Quality Forum di UK menyatakan bahwa
lebih dari 68% perusahaan yang telah ISO 9001 kurang merasakan manfaat dari
penerapan ISO 9001.
Survey lain yang dilakukan oleh SGS pada tahun 2001 terhadap 220 perusahaan,
menyatakan bahwa perbaikan pada dokumen merupakan manfaat no 1, sedangkan
peningkatan kualitas menempati urutan ke 5 (??) dan peningkatan kepuasan pelanggan
menempati urutan ke 6 (??). Padahal ISO 9001 merupakan sistem manajemen mutu
(bukan sistem manajemen arsip !!), dimana tujuan akhir dari ISO 9001 adalah
meningkatkan kualitas produk / jasa dan kepuasan pelanggan.
Kondisi tersebut diatas terjadi karena perusahaan terlalu fokus pada pembuatan
dokumen (prosedur, instruksi kerja, form, dll) seolah-olah program ISO 9001 adalah
program membuat prosedur, instruksi kerja, form, dll. Pelaksanaan Internal Audit juga
difokuskan pada pengecekan kesesuaian (compliance) terhadap prosedur, kelengkapan
form.
Untuk bisa merasakan manfaat dari penerapan ISO 9001, maka perusahaan harus
merubah cara pengelolaan ISO 9001 dari fokus pada pembuatan dokumen menjadi fokus
pada pencapaian performa, artinya sistem manajemen mutu (ISO 9001) dinyatakan efektif
jika performa perusahaan meningkat dari waktu ke waktu
Ilustrasi :
ISO 9001, 7.4.1. Perusahaan harus mengevaluasi dan memilih supplier
berdasarkan kemampuannya untuk mensupply produk sesuai dengan persyaratan
perusahaan. Kriteria pemilihan, evaluasi, dan evaluasi ulang / re-evaluasi harus
ditetapkan.
Sistem pada purchasing PT ABC adalah melakukan seleksi berdasarkan
questionaire / angket yang dikirimkan ke supplier. Jika nilai hasil survey < 6, maka supplier
tidak boleh digunakan, jika hasil survey > 6, maka supplier boleh digunakan. Pembelian
dilakukan sesuai sistem, proses pembelian hanya dilakukan kepada supplier yang nilainya
> 6.

Berdasarkan input dari produksi, sering terjadi stop line, yang disebabkan oleh

material dari supplier yang datangnya terlambat.

Hal ini mengindikasikan adanya

kelemahan pada proses purchasing. Sistem PT ABC compliance tapi tidak efektif
(performa tidak bagus)

REALITA 2
Banyak faktor yang mengakibatkan ISO 9001 tidak bisa dirasakan manfaatnya, antara
lain sebagai berikut :
Kurangnya komitmen dari Top Manajemen, atau
Kesalahan dalam mendifinisikan customer atau menetapkan quality objectives, atau
Sumber daya yang kurang memadai, termasuk motivasi dari karyawan yang
rendah, atau
Karena perusahaan menerapkan ISO 9001 hanya untuk mendapatkan sertifikatnya
saja, atau
Prosedur pada ISO 9001 dibuat terlalu birokratis sehingga ISO 9001 dirasakan
sebagai hambatan, akibatnya orang malah antipati dengan ISO 9001, atau
Sudah merasa puas dengan prosedur yang ada, dan merasa ISO 9001-nya sudah
benar karena telah lulus audit dari badan sertifikasi, atau
Karena faktor-faktor lain
Akan tetapi, pada umumnya perusahaan yang kurang / tidak merasakan manfaat ISO
9001, mempunyai ciri-ciri diantaranya :

Paradigma mengenai ISO 9001 adalah "ISO 9001 mengurusi dokumen (prosedur,
instruksi kerja, dll)". Akhirnya muncul istilah "Tulis apa yang kamu kerjakan dan

kerjakan apa yang kamu tulis" (istilah yang sebenarnya salah !!)
Fokus penerapan ISO 9001 adalah pembuatan prosedur
Perusahaan merasakan dengan adanya ISO 9001, dokumen menjadi banyak,

proses jadi birokrasi


Fokus audit adalah kesesuaian terhadap prosedur (fokus pada audit dokumen,
ketidaklengkapan dokumen, dll)

Sistem Manajemen Mutu diterapkan sebagai sistem yang terpisah dari sistem
sehari-hari, misalnya:

Perusahaan membuat kebijakan mutu, dibuat oleh ISO 9001 officer, ditanda tangani
oleh Presiden Direktur (untuk memenuhi persyaratan ISO 9001). Terkadang
perusahaan mempunyai kebijakan lain, yang sehari-hari digunakan dan datang dari
Top Management, tetapi tidak diakui sebagai bagian dari ISO 9001.
Perusahaan mempunyai quality objectives (persyaratan ISO 9001), melakukan
evaluasi sistem manajemen mutu, termasuk quality objectives setiap 6 bulan sekali
(karena diaudit ISO 9001 6 bulan sekali ??), tapi quality objectives terpisah dari
bisnis plan perusahaan.
ISO 9001 tidak meliputi semua sistem di perusahaan, hanya meliputi
apa saja yang diminta oleh ISO 9001 (khawatir akan menjadi masalah ketika diaudit
??). Akhirnya masih ada sistem (yang sehari-hari dilakukan) berada diluar sistem ISO
9001. Yang lebih buruk lagi, sistem sehari-hari berbeda dengan ISO 9001, dokumen untuk
ISO 9001 baru disiapkan beberapa saat sebelum audit sertifikasi / surveillance.
Untuk bisa merasakan manfaat ISO 9001 secara financial mudah sekali !!
Jadikan ISO 9001 (sistem) sebagai alat untuk mencapai performa perusahaan !!
Contoh sederhana :

Kita (Sentral Sistem) pernah melakukan perbaikan sistem logistik di client melalui

program ISO 9001 di perusahaan. Yang menjadi kendala pada perusahaan tersebut
adalah masalah inventory termasuk dead stok yang tinggi, mengakibatkan kerugian yang
cukup besar. Setelah kita pelajari, ternyata dead stok terjadi, diantaranya karena :
Sistem planning yang kurang baik
Sistem pengontrolan stok
Beberapa faktor lain target inventory dan dead stok, kemudian kita jadikan sebagai
quality objectives, dan kita buat sistem / prosedur planning, prosedur sistem kontrol
stok, dan beberapa prosedur lainnya. Hasilnya, kita bisa melakukan saving nyata
hingga kurang lebih Rp 180 juta dalam waktu 5 bulan. Ditambah lagi working capital
perusahaaan menjadi lebih kecil, karena level stok menjadi turun hingga 30 %.
Kita (Sentral Sistem) juga pernah punya program untuk menurunkan angka
customer claim, reject internal, dan program-program lainnya. Tentu saja untuk
mendapatkan manfaat seperti itu tidak semudah teori, misalnya buat prosedur, jalankan
prosedur, lalu target tercapai. Jika yang membuat prosedur kurang mengetahui kelemahan
sistem, maka prosedur yang dibuat hanya bersifat general (menulis aktual sistem
sekarang), akibatnya tidak bisa membantu perusahaan mencapai target yang diinginkan.

Untuk

program

improvement

yang

kami

(Sentral

Sistem)

lakukan,

kami

juga

menghabiskan waktu konsultasi jauh lebih banyak dari sekadar konsultasi ISO 9001 biasa,
karena kami harus melakukan analisa secara mendetil, kelemahan sistem, kemudian
perbaiki kelemahan tersebut dan membakukannya ke dalam sistem kerja (prosedur).
Terkadang walaupun sistem telah diperbaiki, target masih belum tercapai. Hal ini mengindikasikan masih adanya kelemahan dari sistem, kemudian sistem kami perbaiki lagi.
Intinya supaya ISO 9001 bisa dirasakan manfaatnya : fokus pada performa,
performa yang tidak baik merupakan sinyal adanya kelemahan pada sistem.
Lakukan analisa dan perbaiki sistem.
Jika kita menjalankan ISO 9001 fokus pada dokumen, sudah puas dengan
kelengkapan dokumen dan dijalankan dengan konsisten, dan lulus audit sertifikasi, maka
kemungkinan besar ISO 9001 tidak akan bisa dirasakan manfaatnya secara nyata. Sistem
Manajemen Mutu dikatakan sudah baik, hanya jika performa / target / quality objectives
perusahaan bisa tercapai dari waktu ke waktu.

REALITA 3

Pada prinsipnya, standard bisa dikelompokkan menjadi 2 :

Standard sistem manajemen (untuk mutu : ISO 9001, untuk lingkungan ISO 14001,

dst)
Standard produk, berisi spesifikasi produk yang harus diikuti
ISO 9001 adalah standard sistem manajemen, bukan standard produk. Untuk
standard produk, pengujian dilakukan terhadap produk. Sedangkan untuk ISO
9001, pengujian dilakukan terhadap sistem manajemen mutu, bukan pada proses
uji produk. Oleh karena itu logo ISO 9001 tidak boleh dicantumkan pada produk
(karena memang bukan standard produk).
Banyak yang berpikiran negatif mengenai ISO 9001, ada yang bilang politik

dagang, ada yang bilang hanya diperlukan untuk export atau jika ada customer yang
menuntut, jika tidak export tidak perlu ISO 9001, dll. Pikiran negatif tentang ISO 9001
muncul, karena:

Beberapa perusahaan mempunyai kebijakan bahwa suppliernya harus ISO 9001,


sehingga ISO 9001 terkesan sebagai hambatan dagang. Padahal tuntutan supplier
untuk ISO 9001 bertujuan untuk mendapatkan supplier yang mampu secara
konsisten mengirim produk yang bermutu (supplier yang mempunyai sistem
manajemen mutu yang baik, akan bisa menghasilkan produk secara konsisten

baik).
Masih banyak perusahaan yang sudah ISO 9001, tapi performanya masih

berantakan.
Beberapa perusahaan yang pada awalnya mengharapkan banyak dari ISO 9001,
ternyata setelah mendapatkan ISO 9001 tidak merasakan manfaat seperti yang

dibayangkan sebelumnya.
Ditambah lagi adanya perusahaan yang ISO 9001-nya sekedar untuk mendapatkan
sertifikat. Akibatnya penerapannya hanya berjalan sebelum diaudit, dll.
Sebenarnya ISO 9001 jika diterapkan dengan baik, sangat bermanfaat. ISO 9001

mengharuskan :

Perusahaan mempunyai kebijakan mutu


Perusahaan mempunyai sasaran mutu
Perusahaan harus mempunyai strategi untuk mencapai sasaran mutu
Tugas dan tanggung jawab harus jelas
Standard proses harus jelas, sehingga ketika terjadi pergantian orang, konsistensi
mutu bisa tetap terjamin. Coba pelajari konsep franchising (misalnya Kentucky,
Hoka-Hoka Bento, dll). Kokinya beda-beda tapi rasa masakannya bisa sama
disetiap cabang. Hal tersebut bisa terjadi karena ada standard yang baku dan
diikuti oleh semua karyawan. Bandingkan dengan beberapa franchising lokal, yang
tidak mempunyai standard baku. Rasanya bisa berbeda antar cabang. Bahkan
dicabang yang sama-pun terkadang rasanya suka tidak konsisten, dll.
Terlepas apakah perusahaan tersebut mau disertifikasi atau tidak, sebenarnya jika

kaidah-kaidah dalam ISO 9001 diterapkan, seharusnya perusahaan bisa menjadi lebih
baik.
Permasalahan di ISO 9001 karena ISO 9001 hanya berisi aturan, sedangkan
penerapannya (how to) diserahkan ke masing-masing perusahaan. Aturan yang bagus,
belum tentu penerapannya juga bagus. Misalnya aturan kalau naik motor harus pakai
helm, aturannya bagus, tapi penerapannya tidak bagus. Orang pakai helm untuk
menghindari polisi. Demikian juga penerapan di ISO 9001. ISO 9001 mengharuskan
perusahaan untuk mempunyai sasaran mutu. Ada perusahaan yang mempunyai sasaran

mutu yang mudah (rata-rata claim 2 / bulan, kemudian target dibuat 2), ada juga yang
mempunyai target yang lebih tinggi. Secara peraturan, ISO 9001 "mempunyai sasaran
mutu", peraturan tersebut terpenuhi tapi dengan kualitas yang berbeda.

BAB IV
KESIMPULAN
Jadi apa yang salah pada ISO 9001 ?? Kenapa justru lebih banyak perusahaan
(68%) yang kurang merasakan manfaat ISO 9001 daripada perusahaan yang merasakan
manfaat ISO 9001 ? Apakah anda termasuk perusahaan yang merasakan manfaatnya
atau termasuk perusahaan yang tidak merasakan manfaatnya ?
Menurut kami (SSPM), salah satu penyebabnya adalah : Kelemahan pada saat
meng-intepreatasi-kan persyaratan ISO 9001. ISO 9001 hanya berisi persyaratan, tidak
menjelaskan cara menerapkan persyaratan tersebut, karena masing-masing perusahaan
mempunyai sistem atau strategi yang berbeda. Pada saat meng-intepretasi-kan
persyaratan ISO 9001,

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
1. Supranto, J., Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan, Rineka Cipta, Jakarta, 199
2. http://www.bikasolusi.co.id/evaluasi-efektivitas-proses-melalui-audit-mutu-iso-9001/
3. http://www.sentral-sistem.com/artikel-quality22-ISO-Efektifitas-Sistem-ManajemenMutu.html
4. https://ephino.wordpress.com/2008/02/26/68-perusahaan-gagal-merasakan-manfaatiso-90012000/
5. http://tripconsultant.blogspot.com/2010/03/nah-secara-umum-kita-sudahmendapatkan.html
6. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/iso-international-organization-for.html