Anda di halaman 1dari 104

AsKep GADAR ASMATIKUS

ASMATIKUS
PENGERTIAN
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial
yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi
spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang
dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M.
Black : 1996).
Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten,
reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif
terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang
tidak berespons terhadap terapi konvensional. Serangan dapat
berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas, penggunaan
tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi,
peningkatan blok adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat
menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh
hipersensitivitas terhadap penisilin.
Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic
berupa seranganasam berat kemudian bertambah berat yang
refrakter bila serangan 1 2 jam pemberian obat untuk serangan
asma akut seperti adrenalin subkutan, aminofilin intravena, atau
antagonis2 tidak ada perbaikan atau malah memburuk.
PATOFISIOLOGI
Karakteristik dasar dari asma ( konstriksi otot polos
bronchial, pembengkakan mukosa bronchial, dan pengentalan
sekresi ) mengurangi diameter bronchial dan nyata pada status
asmatikus. Abnormalitas ventilasi perfusi yang mengakibatkan

hipoksemia dan respirasi alkalosis pada awalnya, diikuti oleh


respiratori asidosis.
Terhadap penurunan PaO2 dan respirasi alkalosis dengan
penurunan PaCO2 dan peningkatan pH. Dengan meningkatnya
keparahan status asmatikus, PaCO2 meningkat dan pH turun,
mencerminkan respirasi asidosis.
MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik status asmatikus adalah sama dengan
manifestasi
yang
terdapat
pada
asma
hebat

pernapasan labored, perpanjangan ekshalasi, perbesaran vena


leher, mengi. Namun, lamanya mengi tidak mengindikasikan
keparahan serangan. Dengan makin besarnya obstruksi, mengi
dapat hilang, yang sering kali menjadi pertanda bahaya gagal
pernapasan.
Mengenal suatu serangan suatu asma akut pada dasarnya
sangat mudah. Dengan pemeriksaan klinis saja diagnosis sudah
dapat ditegakkan, yaitu dengan adanya sesak napas mendadak
disertai bising mengi yang terdengar diseluruh lapangan paru.
Namun yang sangat penting dalam upaya penganggulangannya
adalah menentukan derajat serangan terutama menentukan
apakah asam tersebut termasuk dalam serangan asma yang berat.
Asma akut berat yang mengancam jiwa terutama terjadi
pada penderita usia pertengahan atau lanjut, menderita asma
yang lama sekitar 10 tahun, pernah mengalami serangan asma
akut berat sebelumnya dan menggunakan terapi steroid jangka
panjang. Asma akut berat yang potensial mengancam jiwa,
mempuyai tanda dan gejala sebagai berikut.
a. Bising mengi dan sesak napas berat sehingga tidak mampu
menyelesaikan satu kalimat dengan sekali napas, atau kesulitan
dalam bergerak.

b. Frekuensi napas lebih dari 25 x / menit


c. Denyut nadi lebih dari 110x/menit
d. Arus puncak ekspirasi ( APE ) kurang dari 50 % nilai dugaan
atau nilai tertinggi yang pernah dicapai atau kurang dari 120
lt/menit
e. Penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Pulsus
paradoksus, lebih dari 10 mmHg.
EVALUASI DIAGNOSTIC
1. Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat dalam
mengkaji obstruksi jalan napas akut. Fungsi paru yang rendah
mengakibatkan dan menyimpangkan gas darah ( respirasi
asidosis ), mungkin menandakan bahwa pasien menjadi lelah
dan akan membutuhkan ventilasi mekanis, adalah criteria lain
yang menandakan kebutuhan akan perawatan di rumah sakit.
Meskipun kebanyakan pasien tidak membutuhkan ventilasi
mekanis, tindakan ini digunakan bila pasien dalam keadaan
gagal napas atau pada mereka yang kelelahan dan yang terlalu
letih oleh upaya bernapas atau mereka yang kondisinya tidak
berespons terhadap pengobatan awal.
2. Pemeriksaan gas darah arteri
dilakukan jika pasien tidak mampu melakukan maneuver fungsi
pernapasan karena obstruksi berat atau keletihan, atau bila
pasien tidak berespon terhadap tindakan. Respirasi alkalosis
( CO2 rendah ) adalah temuan yang paling umum pada pasien
asmatik. Peningkatan PCO2 ( ke kadar normal atau kadar yang
menandakan respirasi asidosis ) seringkali merupakan tanda
bahaya serangan gagal napas. Adanya hipoksia berat, PaO 2 < 60
mmHg serta nilai pH darah rendah.
3. Arus puncak ekspirasi

APE mudah diperiksa dengan alat yang sederhana, flowmeter


dan merupakan data yang objektif dalam menentukan derajat
beratnya penyakit. Dinyatakan dalam presentase dari nilai
dungaan atau nilai tertinggi yang pernah dicapai. Apabila kedua
nilai itu tidak diketahui dilihat nilai mutlak saat pemeriksaan.
4. Pemeriksaan foto thoraks
Pemeriksaan ini terutama dilakukan untuk melihat hal hal
yang ikut memperburuk atau komplikasi asma akut yang perlu
juga mendapat penangan seperti atelektasis, pneumonia, dan
pneumothoraks. Pada serangan asma berat gambaran radiologis
thoraks memperlihatkan suatu hiperlusensi, pelebaran ruang
interkostal dan diagfragma yang meurun. Semua gambaran ini
akan hilang seiring dengan hilangnya serangan asma tersebut.
5. Elektrokardiografi
Tanda tanda abnormalitas sementara dan refersible setelah
terjadi perbaikanklinis adalah gelombang P meninggi ( P
pulmonal ), takikardi dengan atau tanpa aritmea
supraventrikuler, tanda tanda hipertrofi ventrikel kanan dan
defiasi aksis ke kanan.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit
memperlihatkan keadaan obstruktif jalan napas yang berat.
Perhatian khusus harus diberikan dalam perawatan, sedapat
mungkin dirawat oleh dokter dan perawat yang berpengalaman.
Pemantauan dilakukan secara tepat berpedoman secara klinis, uji
faal paru ( APE ) untuk dapat menilai respon pengobatan apakah
membaik atau justru memburuk. Perburukan mungkin saja
terjadi oleh karena konstriksi bronkus yang lebih hebat lagi
maupun sebagai akibat terjadinya komplikasiseperti infeksi,
pneumothoraks, pneumomediastinum yang sudah tentu

memerlukan pengobatan lainnya. Efek samping obat yang


berbahaya dapat terjadi pada pemberian drips aminofilin. Dokter
yang merawat harus mampu dengan akurat menentukan kapan
penderita meski dikirim ke unit perawatan intensif.
Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan,
setelah dikirim dari UGD dilakukan penatalaksaanan sebagai
berikut.
1) Pemberian terapi oksigen dilanjutkan
Terapi oksigen dilakukan megnatasi dispena, sianosis,
danhipoksemia. Oksigen aliran rendah yang dilembabkan baik
dengan masker Venturi atau kateter hidung diberikan. Aliran
oksigen yang diberikan didasarkan pada nilai nilai gas darah.
PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg. Pemberian
sedative merupakan kontraindikasi. Jika tidak terdapat respons
terhadap pengobatan berulang, dibutuhkan perawatan di rumah
sakit.
2) Agonis 2
Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap
jam, kemudian dapat diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila
sudah ada perbaikan yang jelas. Sebagian alternative lain dapat
diberikan dalam bentuk inhalasi dengan nebuhaler / volumatic
atau secara injeksi. Bila terjadi perburukan, diberikan drips
salbutamol atau terbutalin.
3)

Aminofilin
Diberikan melalui infuse / drip dengan dosis 0,5 0,9 mg/kg BB
/ jam. Pemberian per drip didahului dengan pemberian secara
bolus apabila belum diberikan. Dosis drip aminofilin
direndahkan pada penderita dengan penyakit hati, gagal jantung,
atau bila penderita menggunakan simetidin, siprofloksasin atau
eritromisin. Dosis tinggi diberikan pada perokok. Gejala toksik

pemberian aminofilin perlu diperhatikan. Bila terjadi mual,


muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi
konfulsi, aritmia jantung drip aminofilin segera dihentikan
karena terjadi gejala toksik yang berbahaya.
4)

Kortikosteroid
Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2 8 jam
tergantung beratnya keadaan serta kecepatan respon. Preparat
pilihan adalah hidrokortison 200 400 mg dengan dosis
keseluruhan 1 4 gr / 24 jam. Sediaan yang lain dapat juga
diberikan sebagai alternative adalah triamsiolon 40 80 mg,
dexamethason / betamethason 5 10 mg. bila tidak tersedia
kortikosteroid intravena dapat diberikan kortikosteroid per oral
yaitu predmison atau predmisolon 30 60 mg/ hari.

5)

Antikolonergik
Iptropium bromide dapt diberikan baik sendiri maupun dalam
kombinasi dengan agonis 2 secara inhalasi nebulisasi terutama
penambahan penambahan ini tidak diperlukan bila pemberian
agonis 2 sudah memberikan hasil yang baik.

6) Pengobatan lainnya
a) Hidrasi dan keseimbangan elektrolit
Dehidrasi hendaknya dinilai secara klinis, perlu juga
pemeriksaan elektrolit serum, dan penilaian adanya asidosis
metabolic. Ringer laktat dapat diberikan sebagai terapi awal
untuk dehidrasi dan pada keadaan asidosis metabolic diberikan
Natrium Bikarbonat.
b) Mukolitik dan ekpetorans
Walaupun manfaatnya diragukan pada penderita dengan
obstruksi jalan berat ekspektorans seperti obat batuk hitam dan

gliseril guaikolat dapat diberikan, demikian juga mukolitik


bromeksin maupun N-asetilsistein.
c) Fisioterapi dada
Drainase postural, fibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi
lainnya hanya dilakukan pada penderita hipersekresi mucus
sebagai penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
d) Antibiotic
Diberikan kalau jelas ada tanda tanda infeksi seperti demam,
sputum purulent dengan neutrofil leukositosis.
e) Sedasi dan antihistamin
Obat obat sedative merupakan indikasi kontra, kecuali di
ruang perawatan intensif. Sedangkan antihistamin tidak terbukti
bermanfaat dalam pengobatan asma akut berat malahan dapat
menyebabkan pengeringan dahak yang mengakibatkan
sumbatan bronkus.
Penatalaksanaan lanjutan
Setelah diberikan terapi intensif awal, dilakukan monitor
yang ketat terhadap respon pengobatan dengan menilai
parameter klinis seperti sesak napas, bising mengi, frekuensi
napas, frekuensi nadi, retraksi otot bantu napas. APE,
fotothoraks, AGD, kadar serum aminofilin, kadar kalium dan
gula darah diperiksa sebagai dasar tindakan selanjutnya.
Indikasi perawatan intensif
Penderita yang tidak menunjukkan respon terhadap terapi
intensif yangdiberikan perlu dipikirkan apakah penderita akan
dikirim ke unit perawatan intensif. Adapun penderita yang
memerlukan perawatan intensif yaitu
a. Terdapat tanda- tanda kelelahan
b. Gelisah, bingung, kesadaran menurun
c. Terjadi henti napas ( PaO2 < 40 mmHg atau PaCO2 > 45
mmHg ) sesudah pemberian oksigen.

Penatalaksanaan lanjutan diruangan


Pada penderita yang telah menunjukkan respon yang baik
terhadap pengobatan, terapi intensif dilanjutkan paling sedikit 2
hari. Pada 2 5 hari pertama semua pengobatan intravena
diganti, diberikan steroid oral dan aminofilin oral serta agonis
2 dengan inhaler dosis terukur 6 8 x/ hari atau preparat oral 3
4 x/hari. Pada hari 5 10, steroid oral ( predmison,
predmisolon ) diturunkan, obat agonis 2 dan aminofilin
diteruskan.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanda tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa
turgor kulit. Masukan cairan penting untuk melawan dehidrasi,
mengencerkan sekresi, dan untuk memudahkan ekspektorasi.
Cairan intravena diberikan sesuai dengan yang diharuskan,
hingga 3 sampai 4 L/hari, kecuali bila ada kontraindikasi.
Pemantauan terhadap pasien oleh perawat secara terus
menerus, penting dilakukan dalam 12 sampai 24 jam pertama,
atau sampai status asmatikus dapat diatasi. Energy pasien harus
dihemat dan ruangan harus tenang serta bebas dari iritan
pernapasan, termasuk bunga, asap, tembakau, parfum, atau bau
bahan pembersih. Bantal nonalergik harus digunakan.
PENYULUHAN PASIEN
Penatalaksanaan lepas rawat
Sebagai patokan, penderita dapat dipulangkan bila :
a. Tidak ada sesak waktu istirahat
b. Bising mengi tidak ada atau minimal
c. Retraksi otot bantu napas minimal
d. Tidur sudah normal
e. APE > 70 % dari nilai normal atau nilai terbaik

Selama minggu pertama penderita dipulangkan, diberikan


pengobatan yang sama dengan hari hari terakhir perawatan di
rumah sakit. Yang terpenting adalah mengenai penggunaan
steroid. Penurunan dosis steroid 5 mg / hari baru dilakukan pada
minggu kedua pasca perawatan. Pada penderita asma kronik
yang tergantung steroid penurunan steroid dilakukan sampai
dosis rendah yang masih ditoleransi penderita, sebaiknya
diberikan dosis tunggal di pagi hari setiap hari atau selang hari.
Kalau memungkinkan lebih baik diberikan steroid aerosol.
Mendidik pasien merupakan bagian penting dari perawatan
jika kekambuhan dan perwatan ulang dipertahankan minimal.
Pasien diinstruksikan untuk dengan segera melaporkan tanda
tanda dan gejala gejala yang menyulitka, seperti bangun saat
malam hari dengan serangan akut, tidak mendapatkan peredaan
komplit dari penggunaan inhaler, atau mengalami infeksi
pernapasan. Bronkodilator mungkin diperlukan sepanjang
waktu. Obat obat tertentu ( yaitu teofilin dan kortikosteroid )
dapat ditambahkan atau dosisnya dinaikkan ketika terjadi
serangan asmatik. Hidrasi adekuat harus dipertahankan di rumah
untuk menjaga sekresi agar tidak mengental. Pasien harus
diingatkan bahwa infeksi harus dihindari karena infeksi dapat
mencetuskan serangan.
Aktivitas
perawatan
diri
tertentu
meningkatkan
penggagalan serangan hebat dan memberikan suatu kemadirian.
Jika diresepkan teofilin oral kerja lama, instruksi yang cermat
diberikan tentang bahaya penggunaan yang berlebihan.
Adrenergic 2-selektif, seperti metaproterenol atau albuterol,
mungkin juga diresepkan untuk pemberian mandiri dengan
inhaler genggam dosis terukur. Bila bronkodilator ini tidak
berhasil, kortikosteroid ( kerja cepat, dosis besar ), biasanya
prednisone, diresepkan. Intruksi tentang penggunaan obat obat

ini juga diberikan dan pasien disarankan untuk mencari


perawatan tindak lanjut sesuai kebutuhan.

KAJIAN KEPERAWATAN KRITIS


AIRWAY
Pengkajian:
Pada pasien dengan status asmatikus ditemukan adanya
penumpukan sputum pada jalan nafas. Hal ini menyebabkan
penyumbatan jalan napas sehingga status asmatikus ini
memperlihatkan kondisi pasien yang sesak karena kebutuhan
akan oksigen semakin sedikit yang dapat diperoleh.
Diagnose keperawatan :
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d penumpukan sputum
Intervensi :
a. Amankan pasien ke tempat yang aman
R/ lokasi yang luas memungkinkan sirkulasi udara yang lebih
banyak untuk pasien
b. Kaji tingkat kesadaran pasien
R/ dengan melihat, mendengar, dan merasakan dapat dilakukan
untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien
c. Segera minta pertolongan
R/ bantuan segera dari rumah sakit memungkinkan pertolongan
yang lebih intensif
d. Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga ke mulut
pasien
R/ mengetahui tingkat pernapasan pasien dan mengetahui
adanya penumpukan sekret
e. Berikan teknik membuka jalan napas dengan cara
memiringkan pasien setengah telungkup dan membuka
mulutnya

R/ memudahkan untuk mengeluarkan sputum pada jalan napas


BREATHING
Pengkajian :
Adanya sumbatan pada jalan napas pasien menyebabkan
bertambahnya usaha napas pasien untuk memperoleh oksigen
yang diperlukan oleh tubuh. Namun pada status asmatikus
pasien mengalami nafas lemah hingga adanya henti napas.
Sehingga ini memungkinkan bahwa usaha ventilasi pasien tidak
efektif. Disamping itu adanya bising mengi dan sesak napas
berat sehingga pasien tidak mampu menyelesaikan satu kalimat
dengan sekali napas, atau kesulitan dalam bergerak. Pada
pengkajian ini dapat diperoleh frekuensi napas lebih dari 25 x /
menit. Pantau adanya mengi.
Diagnose keperawatan :
Ketidakefektifan pola napas b/d penurunan kemampuan
bernapas
Intervensi :
a. Kaji usaha dan frekuensi napas pasien
R/ mengetahui tingkat usaha napas pasien
b. Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga pada
hidung pasien serta pipi ke mulut pasien
R/ mengetahui masih adanya usaha napas pasien
c. Pantau ekspansi dada pasien
R/ mengetahui masih adanya pengembangan dada pasien
CIRCULATION
Pengkajian :
Pada kasus status asmatikus ini adanya usaha yang kuat untuk
memperoleh oksgien maka jantung berkontraksi kuat untuk
memenuhi kebutuhan tersebut hal ini ditandai dengan adanya
peningkatan denyut nadi lebih dari 110 x/menit. Terjadi pula
penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Pulsus

paradoksus, lebih dari 10 mmHg. Arus puncak ekspirasi ( APE )


kurang dari 50 % nilai dugaan atau nilai tertinggi yang pernah
dicapai atau kurang dari 120 lt/menit. Adanya kekurangan
oksigen ini dapat menyebabkan sianosis yang dikaji pada tahap
circulation ini.
Diagnose Keperawatan :
perubahan perfusi jaringan perifer b/d kekurangan oksigen
Intervensi :
pantau tanda tanda vital ( nadi, warna kulit ) dengan
menyentuh nadi jugularis
R/ mengetahui masih adanya denyut nadi yang teraba
DISABILITY
Pengkajian :
Pada tahap pengkajian ini diperoleh hasil bahwa pasien dengan
status asmatikus mengalami penurunan kesadaran. Disamping
itu pasien yang masih dapat berespon hanya dapat mengeluarkan
kalimat yang terbata bata dan tidak mampu menyelesaikan
satu kalimat akibat usaha napas yang dilakukannya sehingga
dapat menimbulkan kelelahan . Namun pada penurunan
kesadaran semua motorik sensorik pasien unrespon.
EXPOSURE
Pengkajian :
Setelah tindakan pemantauan airway, breathing, circulation,
disability, dan exposure dilakukan, maka tindakan selanjutnya
yakni transportasi ke rumah sakit untuk mendapatkan
pertolongan yang lebih intesif.

PENGERTIAN
Suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam
sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada
pengobatan yang lazim.
Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat

kematian, oleh karena itu :


Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan
diutamakan terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran
pernapasan.
Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktorfaktor yang merangsang timbulnya serangan ( debu, serbuk,
makanan tertentu, infeksi saluran napas, stress emosi, obat-obatan
tertentu seperti aspirin, dan lain-lain)

PATHOFISIOLOGI
Pencetus serangan (alergen, emosi/stress, obat-obatan, infeksi)
Kontraksi otot polos
Edema mukusa
Hipersekresi
Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi)
Hipoventilasi
distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru
Gangguan difusi gas di alveoli
Hipoxemia
Hiperkarpia
TANDA DAN GEJALA
Objektif :
Sesak napas yang berat dengan ekspirasi disertai wheesing
Dapat disertai batuk dengan sputum kental, sukar dikeluarkan
Bernapas dengan menggunakan otot-otot tambahan
Sianosis, takikardi, gelisah, pulsus paradoksus
Fase ekspirium memanjang disertai wheesing (di apeks dan hilus)
Subyektif :
Klien merasa sukar bernapas, sesak, dan anoreksia
Psikososial :
Klien cemas, takut, dan mudah tersinggung
Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya
Hasil Pemeriksaan
Spirometri : Peningkatan FEV, atau FVC sebanyak 20 %

Pemeriksaan Radiologi : Pada umumnya normal. Dilakukan tindakan


bila ada indikasi patologi di paru, misalnya: Pneumothorak,
atelektasis, Dll.
Analisa Gas darah : Hipoxemia, Hiperkapnia, Asidosis Respiratorik.
Pemeriksaan Sputum :
Adanya eosinofil
Kristal charcot Leyden
Spiral Churschmann
Miselium Asoergilus Fumigulus
Pemeriksaan darah : Jumlah eosinofil meningkat.
PENATALAKSANAAN
Prinsip-prinsip penatalaksanaan status asmatikus
1. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus
diperhatikan :
Saatnya serangan
Obat-obatan yang telah diberikan (macam obatnya dan dosisnya)
2. Pemberian obat bronchodilator
3. Penilaian terhadap perbaikan serangan
4. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid
5. Setelah serangan mereda :
Cari faktor penyebab
Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya
OBAT-OBATAN
1. Bronchodilator
Tidak digunakan alat-alat bronchodilator secara oral, tetapi dipakai
secara inhalasi atau parenteral. Jika sebelumnya telah digunakan
obat golongan simpatomimetik, maka sebaiknya diberikan aminofilin
secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan, demikian
sebaliknya, bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin
oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara
aerosol atau parenteral.
Obat-obat bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif
terhadap adreno reseptor (Orsiprendlin, Salbutamol, Terbutalin,
Ispenturin, Fenoterol ) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja
lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non

selektif (Adrenalin, Efedrin, Isoprendlin)


Obat-obat Bronkhodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan
efek samping sistemik lebih kecil. Baik digunakan untuk sesak nafas
berat pada anak-anak dan dewasa. Mula-mua diberikan 2 sedotan
dari suatu metered aerosol defire ( Afulpen metered aerosol ). Jika
menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam, jika tidak ada
perbaikan sampai 10 - 15 menit berikan aminofilin intrvena.
Obat-obat Bronkhodilatator Simpatomimetik memberi efek samping
takhikardi, penggunaan perentral pada orang tua harus hati-hati,
berbahaya pada penyakit hipertensi, kardiovaskuler dan
serebrovaskuler. Pada dewasa dicoba dengan 0,3 ml larutan
epineprin 1 : 1000 secara subkutan. Anak-anak 0.01mg / kg BB
subkutan (1mg per mil ) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2 - 3 x
tergantung kebutuhan.
Pemberian Aminophilin secara intrvena dosis awal 5 - 6 mg/kg BB
dewasa/anak-anak, disuntikan perlahan-lahan dalam 5 - 10 menit.
untuk dosis penunjang 0,9 mg/kg BB/jam secara infus. Efek samping
TD menurun bila tidak perlahan-lahan.
2. Kortikosteroid
Jika pemberian obat-obat bronkhodilatator tidak menunjukkan
perbaikan, dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid . 200 mg
hidrokortison atau dengan dosis 3 - 4 mg/kg BB intravena sebagai
dosis permulaan dapat diulang 2 - 4 jam secara parenteral sampai
serangan akut terkontrol, dengan diikuti pemberian 30 - 60 mg
prednison atau dengan dosis 1 - 2 mg/kg BB/hari secara oral dalam
dosis terbagi, kemudian dosis dikurangi secara bertahap.
3. Pemberian Oksigen
Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan
dialirkan melalui air untuk memberi kelembaban. Obat Ekspektoran
seperti Gliserolguayakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki
dehidrasi, maka intik cairan peroral dan infus harus cukup, sesuai
dengan prinsip rehidrasi, antibiotik diberikan bila ada infeksi.
Prioritas masalah Keperawatan :
1. Mempertahankan jalan nafas
2. Mengkaji untuk fasilitas pertukaran gas/ gangguan pertukaran gas

3. Meningkatkan intik nutrisi


4. Mencegah komplikasi, kondisi progresif yang lambat
5. Berikan imformasi tentang proses penyakit
6. Cemas
Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul :
1. Gangguan jalan nafas sehubungan dengan Brokhospasme,
peningkatan produksi sekret ( sekret yang tertahan, kental) ,
menurunnya energi/fatique.
2. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan kurangnya suplai
oksigin (obstruksi jalan nafas karena sekret, bronkhospasme, air
trapping) obstruksi alveoli.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan
dyspnea, fatique, efek samping obat-obatan, produksi sputum,
anoreksia, nausea/vomiting.
4. Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan primer (penurunan aktifitas, cilia, statis sekret) tidak
adekuatnya kekebalan (destruksi jaringan, proses penyakit kronik,
malnutrisi).
5. Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) , kondisi kesehatan,
pengobatan, kurang imformasi.

6. Mekanisme koping yang tidak efektif sehubungan dengan cemas

KONSEP PENYAKIT
1.

STATUS ASMATIKUS

a.

Definisi
Status asmatikus adalah salah satu kedaruratan medis karena serangan
asma akut yang refraktori, keadaan ini tidak berespon terhadap terapi
dengan -adrenergik atau teofilin intravena.

b. Etiologi
1)

Faktor genetik

2)

Faktor lingkungan

3)

Bahan alergen

4)

Infeksi saluran nafas (terutama virus)

5)

Polusi udara

6)

Faktor makanan
Faktor pencetus biasanya:

1)

alergen

2)

fisik

3)

bahan kimia

4)

infeksi

5)

faktor mekanik

6)

faktor psikis

c.

Manifestasi Klinis

1)

Pasien menunjukkan gambaran dramatis ansietas akut, usaha bernafas


dengan keras, takikardia, dan berkeringat.

2)
3)
4)

Penyimpangan fungsi paru menyebabkan hipoventilasi alveolar dengan


hipoksemia lanjut, hiperkapnia, dan asidemia.
Peningkatan PCO2 adalah indikasi objektif pertama.
Dehidrasi, batuk kronis, nafas pendek, mengii, obstruksi jalan nafas,
hiperinflasi dan hipoksemia skunder terhadap ketidakcocokan
ventilasi/perfusi dan penyimpangan pertukaran gas.

d. Patofisiologi
Asma

Pohon bronkial hiperaktif

Bronkospasme

Penyempitan jalan nafas

Peningkatan kerja
pernafasan

Peningkatan kebutuhan O2
tak tampak

Peningkatan kehilangan air


sebagai

penguapan ekshalasi

Takikardia

Penurunan

Takipnea

Plak

masukan oral

mukosa

Gelisa
h

Atelektasis

Hipoksemia
(Hudak & Gallo, 1997: 567)

e.

Penatalaksanaan

1)

Terapi O2, koreksi dehidrasi, koreksi nutrisi.

2)

Terapi farmakologi: bronkodilator, metilksantin, amin simpatomimetik, dan


kortikosteroid.

2.

PNEUMONIA

a.

Definisi
Pneumonia adalah peradangan dimana terdapat konsolidasi yang
disebabkan pengisisan rongga alveoli oleh eksudat.

b. Macam macam pneumonia, etiologi, manifestasi klinis dan


farmakoterapi:

Ti
pe
Sindrom
a tipikal

Etiologi

Faktor resiko

Tanda dan
gejala

Strekokus
pneumonia,
tanpa
penyulit.

Penyakit sickle
sel,
hipogamaglobuli
nemia, multiple
myeloma.

Onset
mendadak
dingin,
menggigil,
demam (39400C), nyeri
dada pleuritis,
batuk produktif,
sputum hijau
dan purulen dan
mungkin
mengandung
bercak
darahberkarat,
hidung
kemerahan,
retraksi
interkostal,peng
gunaan otot
aksesorius,

Strekokus
pneumonia,d
engan
penyulit
(empyema
penyebaran
infeksi).

Farmakotera
pi

Obat terpilih:
Penisilin G
procain, IM
aqueous
cystalline
penisilin G, IV
penisilin V.
Obat efektif
lainnya:
eritromisin,
klindamisisn,
cephalosprin,
penisilin
laintrimetropin
dan
sulfametoksazol.

timbul sianosis.
Sindrom
a atipikal

Haemophilus
influenzae.
Stafilokokus
aureus.

Usia tua, COPD,


influenza
terakhir.

Penisilin G,
ampisil.
Obat efektif
lainnya;kloramfe
nikol
(cefamandole,
trimetroprim,
sulfametoksazol,
nafsilin).

Obat
terpilih;eritromisi
sn.

Penyebab
umum:
Mycoplasma
pneumonia,
virus
patogen.

Penyebab tak
umum:
Legionella
pneumophilia.

pneumocystic
carinii.

Anak-anak,
dewasa muda.

ISN terbaru
influenza.

Onset bertahap
dlm 3-5 hari,
malaise, nyeri
kepala, nyeri
tenggorokan,
batuk kering,
nyeri dad karena
batuk.

Seperti di atas
ditambah nyeri
abdomen, diare,
suhu >400C,
distres
pernafasan.

Gagal ginjal,
hiponatremia,
hipofosfatemia,
kreatinin

Obat efektif
lainnya:
tetrasiklin.

Obat terpilih:
eritromisin.
Obat efektif
lainnya:rifampisi
n, gentamisin.

Trimetroprim,
pentamidine.

Transplantasi
ginjal,penyakit
otoimun,defisit
imunologi,debilit
as.

Sindrom
a
aspirasi

Aspirasi: basil
gram negatif,
klebsiela,
pseudomona
s, serratia,
enteribacter,
escherichia
proteus, basil
gram positif.
Stafilokokus,
aspirasi asam
lambung.

Alkoholisme
debilitas,
perawatan
(misal infeksi
nosokomial),
gangguan
kesadaran.

fosfokinase/onse
t bertahap
dengan
peningkatan
dispneu, batuk
kering, takipneu,
hipoksemia,
rontgen:gambar
an interstitial
diffus.

Anaerob
campuran:mulan
ya onset
perlahan,
demam rendah,
batuk, sputum
produksi/bau
busuk, foto
dada:jaringan
interstitial yang
terkena
tergantung
bagian parunya.
Infeksi gram
positif/negatif.

Gambaran klinik
mungkin sama
dengan
pneumonia
klasik, distres
respirasi
mendadak,
dispneu berat,
sianosis, batuk,

Terapi antibiotika
tergantung pada
penyebab
infeksi.

hipoksemia,
diikuti tandatanda infeksi
skunder.
Hematog Aspirasi zat
en
inert: air,
barium,
bahan
makanan.
Terjadi bila
kuman
patogen
menyebar ke
paru-paru
melalui aliran
darah;
stafilokokus,
E.coli,
anaerob
enterik.

Kateter
intravena yang
infeksi,
endokarditis,
penyalahgunaan
obat, abses intra
abdomen,
pyonefrosis,
empyema
kandung kemih.

Gejala pulmonal
timbul minimal
jika
dibandingkan
gejala
septikemia,
batuk non
produktif dan
nyeri pleuritik
sama seperti
pada emboli
paru merupakan
keluhan
tersering.

Obat terpilih:
nafcilin
IV,ampisiln IV +
gentamisisn/tobr
amisin,
klindamisin IV, +
gentamisisn/tobr
amisin.

c.

Patofisiologi
Asma

Pohon bronkial hiperaktif

Bronkospasme

Penyempitan jalan nafas


Resiko kekurangan
volume cairan
Peningkatan kerja pernafasan

Peningkatan kebutuhan
O2

Peningkatan kehilangan air tak tampak


s

ebagai penguapan ekshalasi


Bakteri/virus/zat alergen
Takikardia

nan masukan oral

Penuru

Takipnea

Plak mukosa

Gelisah
telektasis

Hipoksemia
Aspirasi dari sekret yang berasal dari
orofaring
Kerusakan pertukaran gas
Inhalasi butiran-butiran dahak halus (droplet)

Saluran darah dari sumber infeksi yangberada diluar paru (hematogen)

Kuman masuk ke alveoli

Perubahan nutrisi:kurang

dari kebutuhan tubuh

Reaksi radang meluas : Kohn dan sal.nafas ke parenkhim


paru.

Perubahan kenyamanan:
Nyeri

dada pleuritik dan demam

Proses konsolidasi memenuhi satu segmen satu


lobus.

Intolerans aktifitas

Jaringan paru padat hepatisasi

d. Penatalaksanaan
1)

Koreksi kelainan yang mendasari.

2)

Tirah baring.

3)

Obat-obat simptomatis seperti: parasetamol (pada hipereksia), morfin


(pada nyeri hebat).

4)
5)

Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan batuan infus, dekstrose


5%,normal salin atau RL.
Pemilihan obat-obat anti infeksi: tergantung kuman penyebab.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1.

PENGKAJIAN

a.

Riwayat atau adanya faktor resiko:

1)

penyakit paru obstruktif menahun (PPOM).

2)

Perokok berat.

3)

Imobilisasi fisik lama.

4)

Pemberian makanan melalui selang secara terus-menerus.

5)

Obat-obatan imunosupresif (kemoterapi,kortikosteroid), mengisap.

6)

Penyakit yang melemahkan (AIDS, kanker).

7)

Menghirup atau aspirasi zat iritasn.

8)

Terpapar polusi udara terus-menerus.

9)

Terpasang selang endotrakeal atau trakeostomi.

10) Penurunan tingkat kesadaran (stupor, letargi, pra-koma, koma).

b.

Pemeriksaan fisik, tergantung agen penyebab:

1)

Demam tinggi dan menggigil (awitan mungkin tiba-tiba dan berbahaya).

2)

Nyeri dada pleuritik.

3)

Takipnea dan takikardia.

4)

Rales.

5)

Pada awalnya batuk tidak produktif tapi selanjutnya akan berkembnag


menjadi batuk produktif dengan mukus purulen kekuning-kuningan,

kehijau-hijauan, kecoklatan atau kemerahan dan seirngakli berbau


busuk.Dispnea
6)

Kelemahan danmalaise.

7)

Kulit berwarna keabu-abuan atau sianosis

8)

Keringat hilang timbul sesuai penurunan atau peningaktan demam

9)

Periode sakit kepala selama 24-48 jam, mialgia, malaise, diikuti dengan
demam, disosiasi nadi dan suhu (nadi relatif lambat pada demam tinggi.
Normalnya nadi meningkat jika suhu mengingkat). Hal tersebut merupakan
tanda klasik pada pneumonia legionella, viral dan mikoplasma.

c.

Cari sumber infeksi saluran pernafasan atas (ISPA: luka tenggorok,


kongesti nasal, bersin, demam ringan).

d.

Pemeriksaan diagnostik:

1)

JDL menunjukkan peningkatan sel darah putih, pada pneumonia karena


pneumokokus, legionella, klebsiella, stafilokokus dan hemophylus influenza
dan akan normal pada pasien dengan pneumonia viral dan pneumonia
mikoplasma.

2)

Sinar X menunjukkan konsolidasi lobar pada psien dnegan pneumonia


pneumokokus, legionella, klebsiella dan pneumonia hemophylus influenza.
Pada pneumonia mikoplasma, viral dan stafilokokus akan terlihat infiltrat
kemerahan.

3)

Kultur spuutm menunjukkan adanya bakteri tapi pada pneumonia viral


negatif.

4)

Kultur darah akan positif jika pneumonia didapat dari penularan


hematogen (staphylokokus aureus).

5)

Pewarnaan gram positif jika infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif
atau gram positif.

6)

Aglutinin dingin dan fiksasi komplemen dilakukan untuk pemeriksaan


viral.

7)

Analisa gas darah arteri menunjukkan hipoksemia (PaO2 kurang dari 80


mmHg) dan kemungkinan hipokapnia (PaCO2 kurang dari 35 mmHg).

8)

Pemeriksaan fungsi paru-paru menunjukkan penurunan kapasitas vital


kuat (KVK).

9)

Bronkoskopi.

e.

Kaji respons emosional terhadap kondisinya.

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a.

Kerusakan pertukaran gas b/d pneumonia.

b. Resiko kekurangan volume cairan b/d demam, diaforesis dan masukan


oral sekunder terhadap proses pneumonia.
c.

Intolerans aktifitas b/d kerusakan pertukaran gas sekunder terhadap


pneumonia.

d. Perubahan kenyamanan: nyeri dada pleuritik dan demam b/d pneumonia.


e.

Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan


metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap
demam.

3.

RENCANA INTERVENSI

a.

Kerusakan pertukaran gas b/d pneumonia.

Batasan karakteristik: batuk produktif menetap,nafas cepat, sesak nafas, rales,


analisa gas darah menunjukkan hasil tidak normal, warna kulit sianosis
atau keabua-abuan, bunyi nafas tidak normal, pemeriksaan fungsi paru,
volume tidal rendah.
Hasil pasien (kolaboratif): mendemostrasikan perbaikan ventilasi.
Kriteria evaluasi: bunyi nafas jelas, analisa gas darah dalam batas-batas normal,
frekuensi nafas 12-24 per menit, frekuensi nadi 60-100 kali/menit, tidak ada
batuk, meningkatnya volume inspirasi pada spirometer insentif.

Intervensi

Rasional

Pantau:status
Mengidentifikasi kemajuan atau
pernafasan @ 8 jam,
penyimpangan dari hasil yang
tanda vital@4 jam, hasil diharapkan.
analisa gas darah, foto
rontgen, pemeriksaan
fungsi paru-paru.
Berikan ekspektoran
sesuai dnegan anjuran
dan evaluasi
keefektifannya.
Doorng pasien untuk
minum minimal 2-3 liter
cairan per hari.

Lkaukan penghisapan
jika pasien menderita
kongesti paru tetapi
refleks batuk tidak baik
atau terjadi penurunan
kesadaran.

Ekspektoran membantu
mengencerkan sekresi sehingga
sekresi dapat keluar pada sat
batuk.
Membantu mengeluarkan
sekresi. Cairan juga untuk
membnatu mengalirkan obatobatan di dalam tubuh.
Penghisapan membersihkan
jalan nafas.

Doorng pasien untuk


berhenti merokok.
Nikotin dapat menyebabkan
Pertahankan posisi
penyempitan.
fowler atau semi fowler.

Posisi tegak lurus memungkinkan


Berikan oksigen
tambahan sesuai dnegna ekspansi paru lebih penuh dengan
cara menurunkan tekanan
anjuran, sesuaikan

kecepatan aliran dengan


hasil analisa gas darah.

abdomen pada diagfragma.


Pemberian oksigen tambhan
dapat menurunkan kerja
pernafasan dengan menyediakan
lebih bnayak oksigen untuk dikirim
ke sel, walaupun konsentrasi
oksigen yang lebih tinggi dapat
dilairkan mellaui masker oksigen,
namun hal tersebut seringkali
mencetuskan perasaan terancam
bagi pasien, khususnya pada
pasien dnegan distres pernafasan.

Ikuit prosedur
pencegahan secara
umum atau pencegahan Mencegah penyebaran penyakit.
khusus (menggunakan
masker untuk
penceghaan penularan
melalui pernafasan,
menggunakna sarung
tangan bila menangani
sekresi tubuh/darah).
Pertahankan kontrol
nyeri yang adekuat, jika
pasien secara verbal
menyatakan sakit pada
pleura (nyeri pleuritik)
khususnya sebelum
Pasien cenderung melakukan
latihan tarik nafas dalam. ekspnasi toraks terbatas untuk
mengontrol nyeri pleuritik.
Doorng paisen untuk
Ekspansi toraks yang terbatas
melakukan nafas dalam
dapat menunjang terjadinya
tiap 2 jam seklai dengan
hipoventilasi dan atelektasis.
menggunakan
spirometer insentif dan

catat perkembangannya.
Nafas dalam dapat
mengembangkan alveolus dan
mencegah atelektasis. Spirometer
insentif dapat membantu
meningkatkan nafa sdalam dan
memungkinkan ukuran yang
objektif terhadap kemajuan pasien.

b.

Resiko kekurangan volume cairan b/d demam, diaforesis dan masukan


oral sekunder terhadap proses pneumonia.

Batasan karakteristik: menyatakan haus, hipernatremia, mukosa membran


kering, urine kental, turgor buruk, berta badan berkurang tiap hari,
frekuensi nadi lemah, tekanan darah menurun.
Hasil pasien: mendemonstarsikan perbaikan status cairan dan elektrolit.
Kriteria evaluasi: haluaran urine lebih besar dari 30 ml/jam, berta jenis urine
1,005-1,025, natrium serum dalam batas normal, mukosa membran
lembab, turgor kulit baik, tidak ada penurunan berta badan, tidak mengeluh
kehausan.
Intervensi

Rasional

Pantau: masukan dan Mengidentifikasi kemajuan atau


haluaran setiap 8 jam,
penyimpangan dari sasaran yang
timbang BB tiap hari,
diharapkan.
hasil pemeriksaan
analisa urine dan
elektrolit serum, kondisi
kulit dan mukosa
membran tiap hari.
Berikan terapi intravena
sesuai dnegna anjuran

dan berikan dosis

Selama fase akut, paisen sering

pemeliharaan dan
tindakan-tindakan
pencegahan.

terlalu lemah dan sesak, unutk


meminum cairan per oral secara
adekuat dan untuk
mempertahankan hidrasi yang
adekuat. Jika ada demam maka
kebuuthna cairan akan meningkat,
karena jika demam kehilangan
cairan akan meningkat, sebab:
keringat yang berlebihan, yang
terjadi jika demam membaik;
meningkatnya penguapan yang
terjadi karena vasodilatasi perifer,
hal tersebut terjadi sebagai
mekanisme kompensasi yang
digunakan oleh tubuh untuk
mengeluarkan panas.

Berikan caran per oral


sekurang-kurangnya tiap
2 jam sekali. Dorong
pasien untuk minum
cairan yang bening dan
mengandung kalori.

Lapor dokter jika ada


tanda-tanda kekurangan
cairan menetap atau
bertambah berat.

c.

Cairan membantu distribusi obatobatan dalam tubuh, serta


membantu menurunkan demam.
Cairan bening membnatu
mencairkan mukus, kalori
mambantu mennaggulangi
kehilangan BB.
Ini merupakan tanda-tanda
kebuuthan cairan yang meningkat
atau mulai timbulnya komplikasi.

Intolerans aktifitas b/d kerusakan pertukaran gas sekunder terhadap


pneumonia.

Batasan karakteristik: menyatakan sesak nafas dan lelah dengan aktifitas


minimal, diafoersis, takipnea dan takikardia pada katifitas minimal.
Hasil pasien: mendemonstrasikan peningkatan toleransi terhadap aktifitas.
Kriteria evaluasi: pasien dapat melakukan AKS, dapat berjalan lenih jauh tanpa
mengalami nafas cepat, sesak nafas dan kelelahan.
Intervensi
Monitor frekuensi nadi
dan frekuensi nafas
sebelum dan sesudah
aktifitas.

Rasional
Menidentifikasi kemajuan atau
penyimpangan dari sasarn yang
diharapkan.

Tunda aktifitas jika


Gejala-gejala tersebut
frekuensi nadi dan
merupakan tanda adanya
frekuensi nafas
meningkat secara cepat intoleransi aktifitas. Komsumsi
oksigen meningkat jika aktifitas
dan apsien mengeluh
meningkat, daya tahan dapat lebih
sesak nafas dan
lama, jika ada waktu istirahat
kelelahan, tingkatkan
katifitas secara bertahap diantara aktifitas.
untuk meningkatkan
toleransi.
Bnatu paisen dalam
melaksanakan AKS
sesuai dnegan
kebutuhannya. Beri
pasien istirahat tanpa
diganggu diantara
berbagai aktfiitas.

Menyimpan energi.

Pertahankan terapi
oksigen selama aktifitas,
Aktifitas fisik meningkatkan
lakukan tindakan
kebuuthan oksigen dan sistem
pencegahan terhadap

komplikasi akibat
imobilisasi, jika paisen
dianjurkan tirah baring
lama.

tubnuh akan berusaha


menyesuaikannya. Keseluruhan
sistem berlangsung dalam tempo
yang lebih lambat saat tidak ada
aktifitas fisik (tirah baring).
Tindakan perawatan yang spesifik
Konsul dokter jika sesak dapat memininmalkan komplikasi
dari imobilisasi.
nafas tetap ada atau
bertambah berat saat
Hal tersebut dapat merupakan
istirahat.
tanda awal dari komplikasi
khususnya gagal nafas.

d.

Perubahan kenyamanan: nyeri dada pleuritik dan demam b/d pneumonia.

Batasan karakteristik: mengatakan nyeri dada pada saat bernafas atau batuk,
auskultasi pleural rub, foto rontgen dada menunjukkan adanya pleuritis,
suhu di atas 37C, diaforesis intermitten, leukosit di atas 10.000/mm3, kultur
sputum positif.
Haisl pasien: mendemonstrasikan bebas dari ketdaknyamanan.
Kriteria evaluasi: menyangkal nyeri dada pleuritik, ekspresi wajah rilkes, suhu
tubuh 37C, kultur sputum negatif, dan kadar leukosit antara 5.00010.000/mm3.
Intervensi

Rasional

Pantau: suhu @ 4jam, Mengidentifikasi kemajuan atau


hasil pemeriksaan SDP, penyimpanagn dari sasaran yang
hasil kultur sputum.
diharapkan.

Berikan analgetik
sesuai dnegan anjuran
Analgetik membantu mengontrol
untuk mengatasi nyeri
nyeri dengan memblok jalan
pleuritik jika perlu dan
evaluasi keefektifannya. rangsnag nyeri. Nyeri dada
pleuritik yang berat seringkali
Konsul dokter jika
memerlukan anlgetik narkotik
analgesik tidak efektif
dalam mnegontrol nyeri. utnuk dapat mengontrol nyeri
dengan efektif. Nyeri yang tidak
dapat diatasi dnegan analgesik
memerlukan penyelidikan lebih

Berikan antibiotika
lanjut dan merupakan tanda awal
sesuai dnegan anjuran
adanya komplikasi.
dan evaluasi
Antibiotika diperlukan untuk
keefektifannya. Tinjau
kembali semua obatmengatasi infeksi, efek terapeutik
obatan yang diberikan.
maksimum yang efektif dapat
Untuk menghindari efek
dicapai jika kadar obta yang ada
merugikan akibat
dalam darah konsisten dan dapat
interaksi obat, jadwalkan dipertahankan. Resiko akibat

pemberian obat dalam


kadar darah yang
konsisiten.

interaksi obat-obatan yang


diberikan menongkat dnegan
adanya farmakoterapi multiple.
Efek samping akibat interaksi satu
obat dengan yang lainnya dapat
mengurangi keefektifan
pengobatan salah satu obat atau
kedua-duanya.

Konsultasi dokter jika


demam dan reaksi yang
Tanda-tanda tersebut merupakan
tidak diinginkan
gejala keracunan antibiotika dan
(kemerahan,gangguan
pengobatan tersebut harus
saluran pencernaan,
dihentikan.
menurunnya jumlah
urine, menurunnya fungsi
pendengaran,
meningkatnya
kelelahan).

Berikan tindakan
untuk memebrikan rasa
nyaman seperti
mengelap bagian
punggung pasien,
Tindakan tersebut akan
mengganti alat tenun
meningkatkan relaksasi. Pelembab
yang kering setelah
membantu mencegah kekeringan
diaforesis, memberi
dan pecah-pecah di mulut dan
minum hangat,
bibir.
lingkungan yang tenang
dnegan cahaya yang
redup dan sedatif ringan
jika dianjurkan serta
memberikan pelembab
pada kulit dan bibir.

Lakukan tindakan-

tindakan untuk
mengurangi demam
seperti: mandi air dingin,
selimut yang tidak terlalu
tebal (mempertahankan
selimut cukup untuk
Mandi dnegan air dingin dan
mencegah
selimut yang tidak terlalu tebal
kedinginan/menggigil),
memungkinkan terjadinya
beri antipiretik yang
pelepasan panas secara konduksi
diresepkan, tingkatkan
dan evaporasi (penguapan).
masukan cairan.
Antipiretika dapat megontrol
demam dengan mempengaruhi
pusat pengatur suhu di
hipotalamus. Cairan dapat

Konsul dokter jika


membantu mencegah dehidrasi
nyeri dan demam tetap
karena mneingkatnya
ada atau makin
metabolisme. Menggigil
memburuk.
menandakan tubuh memerlukan
panas lebih banyak.

e.

Hal etrsebut merupakan tanda


berkembangnya komplikasi.

Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan


metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap
demam.

Batasan karakteristik: mengatakan anoreksia, makan kurang 40% dari yang


seharusnya, penurunan BB dan mengeluh lemah.
Hasil pasien (kolaboratif): mendemonstrasikan masukan makanan yang adekuat
untuk memnuhi kebuuthan dan metabolisme tubuh.
Kriteria evaluasi: peningkatan masukan makanan, tidak ada penurunan BB lebih
lanjut, menyatakan perasaan sejahtera.

Intervensi

Rasional

Pantau: persentase
Mengidentifikasi kemajuan atau
jumlah makanan yang
penyimpanagn dari sasaran yang
dikomsumsi setiap kali
diharapkan.
makan, timbang BB tipa
hari, hasil pemeriksaan
protein total, albumin dan
osmolalitas.
Berikan perawatan
mulut tiap 4 jam jika
spuutm berbau busuk.
Pertahankan kesegaran Bau yang tidak menyenangkan
dapat mempengaruhi nafsu
ruangan.
makan.
Rujuk kepada ahli diet
untuk membantu memilih
makanan yang dapat
memenuhi kebutuhan
nutrisi selama sakit
Ahli diet ialah spesialisasi dalam
panas.
hal nutrisi yang dapat membantu
paisen memilih makanan yang
Dorong pasien untuk
memenuhi kebutuhan kalori dan
mengkomsumsi
kebutuhan nutrisi sesuai dnegna
makanan tinggi kalori
keadaan sakitnya, usia, tinggi dan
tinggi protein.
Bbnya.
Peningkatan suhu tubuh
meningkatkan metabolisme,
Berikan makanan
dnegna porsi sedikit tapi masukan protein yang adekuat,
vitamin, mineral dan kalori untuk
sering yang mudah
dikunyah jika ada sesak aktifitas anabolik dan sintesis
antibodi.
nafas berat.
Makanan porsi sedikit tapi sering

memerlukan lebih sedikit energi.

DAFTAR PUSTAKA

1.
Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal
Bedah Jilid I, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
2.
Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu
Pendekatan Proses Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis,
USA.
3.
Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik
Volume I,Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
4.
Jan Tambayonmg (2000), Patofisiologi Unutk Keperawatan, Penerbit
Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
5.
Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan:
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
6.
Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
PenyakitEdisi 4 Buku 2, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta
7.
Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9,
Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN TN. IK. DENGAN PNEUMONIA + STATUS


ASMATIKUS
DI RUANG PENYAKIT PARU LAKI RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA
TANGGAL 4 7 FEBRUARI 2002

(1) PENGKAJIAN
Pengakajian dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2002 pada pukul 10.00
WIB.

1. Identitas
Nama

: Tn. Ik.

Tgl MRS

: 31 1 -

Umur

: 78 tahun

Register

Diagnose

2002

Jenis kelamin
: Laki-laki
Pneumonia + Status asmatikus
Suku Bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiunan pegawai PJKA

Pendidikan

: SMP

Alamat

:Jl.Dinoyo III/7 surabaya

Keluhan utama
sebelumnya

: sesak nafas.
:

Klien datang dengan keluhan sesak nafas hilang timbul


sejak 2 bulan yll dan sesak meningkat sejak 5 hari yll. Sesak
dirasakan bila habis berjalan jauh. Riwayat asma (+) sejak lk.
10 tahun yll. Keluhan istirahat tidur sulit, klien dapat tidur
dengan berbaring pada 2 bantal. Batuk (+), dahak (+) putih
kental. Sebelum dirawat di Ruang Paru Laki, klien dirawat di
ruang interne karena gastritis yang diderita kambuh, setelah
dinyatakan sembuh dari gastritis, sesak klien bertambah parah
dan mulai batu-batuk berdahak sehingga klien dipindah rawat
ke ruang Paru Laki.
Upaya yang telah dilakukan : Berobat ke klinik
swasta tidak ada perubahan.
Therapi/operasi yang pernah dilakukan
hernia 3 kali dinyatakan sembuh.

: Operasi

II Riwayat Keperawatan
2.1 Riwayat penyakit sebelumnya: Sesak sejak 10
tahun yll hilang timbul, HT (-), DM (-), gastritis (+).
2.2 Riwayat penyakit sekarang
: Saat
pengkajian, kleuhan sesak masih ada, nyeri dada (-), pusing
(+), mual muntah (-)
2.3 Riwayat kesehatan keluarga
: Riwayat
penyakit yang sama pada keluarga tidak ada, HT (-), DM (-).
Genogram:

Keterangan:

= laki-laki
tinggal dalam satu rumah.

= meninggal

= perempuan

= klien Tn. Ik

2.4 Keadaan kesehatan lingkungan


: Menurut keluarga,
lingkunagn rumah cukup bersih karena kebiasaan keluarga dan
masyarakat sekitar membersihkan rumah dan lingkunagn sekitar setiap
minggu sekali.
2.5 Riwayat kesehatan lainnya

: taa

2.6 Alat bantu yang dipakai


Gigi palsu

: ya

Kaca mata

:--

Pendengaran :taa
Lain-lain

:taa

III. Observasi dan Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan umum
lemah.
2. Tanda vital
x/mnt.

: sadar CM, terbaring di tt, kondisi umum terlihat


:S: 36,8 0C, N: 80 x/mnt, TD: 110/70 mmHg, RR: 24

3. Body System
3.1 Pernafasan
Hidung

: sekret (+), terpasang O2 2 lt/mnt.

Trachea

: taa

Dada

- Bentuk

: simetris

- Gerakan

: simetris, nyeri dada (-).

Suara nafas dan lokasi

: mengii (+), krekels minimal.


ronchi kasar (minimal) hampir di

sebagian besar lapang paru.


Jenis nafas

: hidung

Batuk

: ya, sering

Sputum

: Ya , putih kental

Cyanosis

: taa

Frekwensi nafas

: 24 x/mnt.

3.2 Kardiovaskuler
Nyeri dada

: taa

Pusing

: ++ bila berubah posisi ke duduk.

Kram kaki

:--

Sakit kepala

: --

Palpitasi
Clubing finger

: -:--

Suara jantung

: S1 S2 tunggal.

Edema

: taa

Kapilari refill

: 2 dtk.

Lainnya

: --

3.3 Persarafan
Kesadaran

: CM

GCS

: E4V5M6

Kepala dan wajah

: dbn

Mata

: anemis (-), sianosis (-).

Sklera

: putih

Konjunctiva

: merah muda.

Pupil

: isokor

Leher

: DVJ (-).

Reflek fisiologis

: dbn

Reflek patologis

: taa

Pendengaran

: dbn

Penciuman

: dbn

Pengecapan

: dbn

Penglihatan

: dbn

Perabaan

: dbn

Lainnya

: --

3.4 Perkemihan Eliminasi Urine


Produksi urine
mandi diantar keluarga.

: 600 800 cc /hari, klien Bak/bab di kamar

Warna urine

: kuning pekat.

Gangguan saat kencing

: taa.

Lainnya

: --

3.5 Pencernaan - Eliminasi Alvi


Mulut
: bersih, gigi sdh tidak lengkap (klien pakai gigi
palsu), mukosa bibir lembab.
Tenggorokan

: sakit menelan (-).

Abdomen

: distensi (-), peristaltik usus baik.

Rectum

: dbn

Bab

: --

Obat pencahar : --

Lavement

: --

Lain-lain

: --

3.6 Tulang Otot Integumen


Kemampuan pergerakan sendi: 5

Extremitas

- Atas

: pergerakan baik, kekuatan otot baik.

- Bawah

: pergerakan baik, kekuatan otot baik.

- Tulang belakang

:dbn

Kulit:
- Warna kulit

:sawo matang, kulit keriput.

- Akral

:hangat, oedem (--)

- Turgor

: baik

3.7 Sistem Endokrin


Terapi hormon

: --

Karakteristik seks sekunder: dbn


Riwayat pertumbuhan dan perkembnagan fisik: taa

3.8 Sistem Hematopoietik


Diagnosis penyakit hematopoietik yang lalu: -Type darah: O

3.9 Reproduksi
Laki laki: klien menduda setelah ditinggal meninggal oleh istri 2 tahun yll, fungsi
seksual tidak dikaji.

4.0 Psikososial
Konsep diri: -Citra diri:
-

Tanggapan tentang tubuh: taa

Bagian tubuh yang disukai: taa

Bagian tubuh yang tidak disukai: taa

Persepsi thd kehilangan bagian tubuh: taa

Lainnya, sebutkan: taa


Identitas:

Status klien dalam keluarga: ayah, seorang kakek, kepala rumah tangga

Kepuasan klien thd status dan posisi dlm keluarga: puas

Kepuasan klie thd jenis kelamin: puas

Lainnya, sebutkan: taa


Peran:

tanggapan klien thd perannya: cukup puas.


Kemampuan/kesanggupan klien melaksanakan perannya: sanggup
melaksanakan peran.
Kepuasan klien melaksanakan perannya: puas.
Ideal diri/harapan:

harapan klien thd:


= Tubuh: suapaya cepat sembuh.

= Posisi (dlm pekerjaan): taa


= Status dlm keluarga: taa

= Tugas/pekerjaan:taa.
-

Harapan klien thd lingkungan: taa


Harapan klien thd penyakit yg diderita: penyakitnya dapat segera
disembuhkan.
Harga diri:

Tanggapan klien thd harga dirinya: taa

Lainnya, sebutkan: taa


Sosial/interaksi:

Hubungan dengan klien: ayah dan mertua.

Dukungan keluarga: baik

Dukungan kelompok/teman/masyarakat: baik

Reaksi saat interaksi: kooperatif, komunikasi lancar dan jelas.

Konflik yang terjadi terhadap: taa

3.11 Spiritual:
-

Konsep tentang penguasa kehidupan: Allah SWT.

Sumber kekuatan/harapan saat sakit: Allah SWT, tenaga dokter dan


perawat serta dukungan keluarga.

Ritual agama yg berarti/diharapkan saat ini: dapat melaksanakan sholat


dengan baik (selama dirawat klien sholat di TT).

Sarana/peralatan/orang yg diperlukan dlm melaksanakan ritual agama


yg diharapkan saat ini: taa

Upaya kesehatan yang bertentangan dgn keyakinan agama: taa

Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dlm menghadapi


situasi sakit saat ini: sangat yakin Tuhan akan membantu kesembuhan.

Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan: sangat


yakin.

Persepsi thd penyebab penyakit: .

Pemeriksaan penunjang:
1.

Tanggal 31 1- 2002

a.

Pemeriksaan DL:

1)

Hb: 13,3 g/dl; leko: 21,7x 109 g/dl; trombo: 181x109g/dl; PCV: 0,39.

b.

Pemeriksaan radiologi:
Terdapat gambaran infiltrat pada bagian lobus bawah paru kanan.

c.

Pemeriksaan AGD:
PH: 7,342; PCO2: 44,0 mmHg; PO2: 71,2 mmHg; HCO3: 23,3mmol/l; BE: 2,4 mmol/l dengan O2 saturasi: 93,4%.
Kesimpulan:asidosis respiratorik dengan kompensasi.

2.

Tanggal 1 2 - 2002

a.

Pemeriksaan sedimen urine:


Protein urine (-), glukosa hijau, bilirubin (-), urobilin (-), sel darah merah: 01/lp; sel darah putih: 1-2 /lp; sel epitel: 1-2/lp.

b. Pemeriksaan sputum: basil tahan asam, BTA (-).

Terapi:
Tanggal 4 Februari 2002:

Diet TKTP, O2 2lt/mnt, IFVD RL:D5% (1:1) + Aminopilin 1 amp 14 tts/mnt;


Cefo. inj 3x1 gr; ciprofloxacin 2x500 mg; nebulizer: bisolvon 20 tts +
ventolin 1 amp tiap 8 jam.

Analisa Data:
Data
S: Klien
mengeluh nafas
rterasa sesak,
badan lemah,
sesak dirasa
terutama pada
malam hari dan
bila klien
berubah posisi.
O: S: 36,8; N: 80;
RR: 24; TD:
110/70, nafas
klien tampak
tersengalsengal, batuk
(+), sputum (+)
putih kental,
ronchi kasar
(+), krekels
minimal, mengii
(+).leko: 21,7x
109 g/dl,
pemeriksaan
radiologi:Terdap
at gambaran
infiltrat pada
bagian lobus
bawah paru
kanan, AGD:
asidosis

Etiologi
Pneumonia

Patofisiologi
Proses
peradangan pada
parenkhim paru

Meluas hingga
satu lobus

Terjadi
pemadatan/konsoli
dasi paru

Penurunan
pengembangan
paru

Suplay O2
menurun, demand
O2 meningkat

Masalah
Kerusakan
pertukaran
gas

respiratorik
dengan
kompensasi

Usaha untuk
meningkatkan RR

Sesak nafas
S:Klien mengeluh
sesak bila
berubah posisi,
sesak dirasa
berkurang
dalam posisi
setengah
duduk, klein
mengatakan
sulit berjalan
sendiri ke
kamar mandi.
O: TD: 110/70;
RR:24; N: 80,
nafas terlihat
tersengalsengal, KU
tampak lemah.

Ketidakseimban
gan suplay O2
dengan
kebutuhan
tubuh.

Proses
peradangan paru

Suplay O2 tidak
seimbang dnegan
demand

Usaha
peningkatan nafas

Sesak, nafas
tersengal-sengal.

Perfusi jaringan
menurun

Defisit
pemenuhan A
DL

Metabolisme
menurun

Kelemahan
fisik

Defisit pemenuhan
ADL.
S: Klien mengluh
sesak nafas,
sesak dirasa
bila klien
berubah posisi,
badan tersaa
lemah.
O: TD: 110/70;
RR: 24; N: 80,
nafas klien
tampak
tersengalsengal,
keadaan umum
tampak lemah,
ronchi (+),
mengi (+),
krekels
minimal, leko:
21,7x
109 g/dl,Pemeri
ksaan
radiologi:Terdap
at gambaran
infiltrat pada

Ketidakseimban
gan suplay O2
dengan
demand.

Proses
peradangan pada
parenkhim paru

Meluas hingga
satu lobus

Terjadi
pemadatan/konsoli
dasi paru

Penurunan
pengembangan
paru

Resiko
gangguan
perfusi
jaringan

bagian lobus
bawah paru
kanan, AGD:
asidosis
respiratorik
dengan
kompensasi

Suplay O2
menurun, demand
O2 meningkat

Usaha untuk
meningkatkan RR

Sesak nafas

O2 jaringan
menurun

Perfusi jaringan
menurun

Rumusan Diagnosa Keperawatan Berdasarkan prioritas


1.

Kerusakan pertukaran gas b/d pneumonia.


Data penunjang:

S: Klien mengeluh nafas rterasa sesak, badan lemah, sesak dirasa terutama
pada malam hari dan bila klien berubah posisi.
O: S: 36,8; N: 80; RR: 24; TD: 110/70, nafas klien tampak tersengal-sengal,
batuk, sputum (+) putih kental, ronchi kasar (+), krekels minimal, mengii
(+).leko: 21,7x 109 g/dl, pemeriksaan radiologi:Terdapat gambaran infiltrat

pada bagian lobus bawah paru kanan, AGD: asidosis respiratorik dengan
kompensasi
Tujuan jangka pendek: klien dapat mengontrol sesak dan memilih alternatif
mengurangi sesak.
Tujuan jangka penjang: Setelah diberikan askep selama 3 hari, sesak
berkurang.
Kriterai hasil: Klien mengatakan sesak berkurang, klien tidak tersengalsengal, N: 60-80 x/mnt; RR: 16-20 x/mnt; batuk berkurang, sputum
berkurang, pemeriksaan AGD membaik ke normal, suara-suara nafa
stambahan (ronchi, krekels, mengi) berkurang.
Rencana intervensi:
a.

Pantau:status pernafasan @ 8 jam, tanda vital@4 jam, hasil analisa gas


darah, foto rontgen, pemeriksaan fungsi paru-paru.

b. Berikan ekspektoran sesuai dnegan anjuran dan evaluasi keefektifannya.


c.

Doorng pasien untuk minum minimal 2-3 liter cairan per hari.

d. Lkaukan penghisapan jika pasien menderita kongesti paru tetapi refleks


batuk tidak baik atau terjadi penurunan kesadaran.
e.

Doorng pasien untuk berhenti merokok.

f.

Pertahankan posisi fowler atau semi fowler.

g. Berikan oksigen tambahan sesuai dnegna anjuran, sesuaikan kecepatan


aliran dengan hasil analisa gas darah.
h.

Ikuit prosedur pencegahan secara umum atau pencegahan khusus


(menggunakan masker untuk penceghaan penularan melalui pernafasan,
menggunakna sarung tangan bila menangani sekresi tubuh/darah).

i.

Pertahankan kontrol nyeri yang adekuat, jika pasien secara verbal


menyatakan sakit pada pleura (nyeri pleuritik) khususnya sebelum latihan
tarik nafas dalam.
j. Doorng paisen untuk melakukan nafas dalam tiap 2 jam seklai dengan
menggunakan spirometer

2.

Resiko gangguan perfusi jaringan b/d ketidakseimbangan suplay O2


dengan demand.
Data penunjang:

S: Klien mengluh sesak nafas, sesak dirasa bila klien berubah posisi, badan
tersaa lemah.
O: TD: 110/70; RR: 24; N: 80, nafas klien tampak tersengal-sengal, keadaan
umum tampak lemah, ronchi (+), mengi (+), krekels minimal, leko: 21,7x
109 g/dl, Pemeriksaan radiologi:Terdapat gambaran infiltrat pada bagian
lobus bawah paru kanan, AGD: asidosis respiratorik dengan kompensasi
Tujuan jangka pendek: kebutuhan O2 klien terpenuhi.
Tujuan jangka panjang: setelah diberikan askep selama 3 hari, Gangguan
perfusi jaringan tidak terjadi.
Kriteria hasil: N: 60-80 x/mnt; RR: 16-20 x/mnt, akral hangat dan kering,
klien tidak sesak, sura nafa stambahan (-), oedem (-).
Rencana intervensi:
a.

Monitor adanya perubahan vital sign yang tiba-tiba, gangguan mental


kontinu (letargi, pinsan).

b. Observasi adanya pucat, sianosis, kulit dingin/lembab, catat kekuatan


nadi perifer.
c.

Dorong latihan kaki pasif/aktf.

d. Kaji adanya tanda Homan (nyeri pada betis).


e.

Pantau pernafasan.

f.

Pantau intake output dalam 24 jam.

3.

Defisit pemenuhan ADL b/d ketidakseimbangan suplay O2 dengan


demand.

Data penunjang:

S:Klien mengeluh sesak bila berubah posisi, sesak dirasa berkurang dalam
posisi setengah duduk, klein mengatakan sulit berjalan sendiri ke kamar
mandi.
O: TD: 110/70; RR:24; N: 80, nafas terlihat tersengal-sengal, KU tampak
lemah.
Tujuan jnagka pendek: kebuthhan ADL klien trepenuhi (makan, minum,
mandi, berpakaian, eleminasi).
Tujuan jangka penjang: setelah diberikan askep selama 3 hari, tidak terjadi
gangguan pemenuhan ADL yang berdampak terhadap defisit perawatan
diri.
Kriteria hasil: Kebutuhan klien dapat dipenuhi secara mandiri, sesak
berkurang, klien merasa nyaman.
Rencana intervensi:
a. Monitor frekuensi nadi dan frekuensi nafas sebelum dan sesudah aktifitas.
b. Tunda aktifitas jika frekuensi nadi dan frekuensi nafas meningkat secara
cepat dan apsien mengeluh sesak nafas dan kelelahan, tingkatkan aktifitas
secara bertahap untuk meningkatkan toleransi.
c. Bnatu paisen dalam melaksanakan AKS sesuai dnegan kebutuhannya. Beri
pasien istirahat tanpa diganggu diantara berbagai aktfiitas.
d. Pertahankan terapi oksigen selama aktifitas, lakukan tindakan pencegahan
terhadap komplikasi akibat imobilisasi, jika paisen dianjurkan tirah baring
lama.
e. Konsul dokter jika sesak nafas tetap ada atau bertambah berat saat
istirahat.

Implementasi keperawatan:
Dilaksanakan mulai tgl 4 s/d 7 Februari 2002.
Tgl/jam

No
Dx.

Implementasi

Evaluasi

Memperkenalkan

Klien dan keluarga

4-2-2002

08.00

08.30

08.45

09.00
10.00

diri pada klien dan


keluarga.

Memberi obat per


inhalasi: Ventolin 1
amp dan bisolvon 20
tts.

Memberi inj: Cefo 1

TD: 110/70; S: 36,8; N: 80;


RR: 24, kesadran CM, KU
lemah.
Obat sudah masuk, sesak
dirasa berkurang, sekret
(+) banyak, putih kental.
Reaksi alergi (-).

gr

Klien tidur, nafas reguler.

Mengobservais
klien.

Infus sudah terpasang.

Memasang cairan
cipro 500 mg.

Memberi penjelasan
kepada klien dan
keluarga tentang;

10.10

11.00

Mengukur vital sign.

kooperatif.

Klien dan keluarga


mengatakan mengerti dan
berjajnji untuk
melaksankan anjuran
petugas.

Meningkatkan
intake minum hangat
unutk mengencerkan
dahak.
Menghabiskan
asupan makanan yang
diberikan dari dapur.
Merubah jam tidur
bila memungkinkan.
Perlunya
membatasi
pengunjung.
12.30

Membantu klien Bab Bab 1x, konsistensi


lembek, lendir (-), Bak lk

dan bak.

200 cc.

Merapikan meja, tt
dan lingkungan
apsien.

Meja, tt dan lingkungan


klien rapi dan bersih.

5-2-2002
07.30

08.30
08.45
09.00

09.15
09.30

14.00

Ma hbs porsi, mi 200 cc,


mual (-).

Membantu klien
ma/mi.

Memberi obat
inhalasi: bisolvon 20
tts + ventolin 1 amp.

Memberi obnat inj:


cefo 1 gr.

Reaksi alergi (-), obat


sudah masuk.

Memasang Cipro
infusion 500 mg.

Cipro sudah masuk.

Membantu makan
siang.

12.30

13.30

Mengukur vital sign.

TD: 120/70; RR; 24; N: 76;


S: 36,4.

Membantu klien bak.

Sesak dirasa berkurang,


RR: 24 x/mnt.

Ma hbs porsi, mi 150 cc.


Bak kuning jernih, 200 cc.

Klien tennag, gelisah (-),


Mengobservasi klien. sesak (-).

6-2-2002
14.30

15.00
15.30

Mengobservasi
klien.
Mnegukur vital sign
Memberi obat
inhalasi: bisolvon 20
tts + ventolin 1 amp.

Klien sedang duduk di tt,


sesak (-).
TD: 110/70; RR: 24; S:
36,2; N: 84.
Obta sudah masuk, sesak

Memberi inj: cefo 1


gr.

Menjelaskan
Reaksi alergi (-).
pentingnya lingkungan
yang tenang bagi
Kleuarga maklum.
klien.

Membatasi
pengunjung yang
besuk.

16.00
16,30

17.00

18.00
19.00

19.30

Membantu klien
berpakaian.

Memasang cairan
infus D5% + 1 amp
Aminopilin 14 tts/mnt.

Membantu klien
Bak.

(-), sputum (+) putih kental.

Pengunjung maklum.

Klien rapi.
Infus netes lancar 14
tts/mnt.

Bak kuning jernih, 150 cc.

7-2-2002
07.30

08.00

Menanaykan
keadaan istirahat tidur
klien semalam.

Klien mnegatkan sulit tidur


karena sesak sering timbul
malam hari.

Membantu klien
ma/mi

Ma hbs 2/3 porsi, ditambah


1 buah pisang, mi 200 cc.
Meja, tt, lingkungan klien
rapi dan bersih.

08.15

Membersihkan
meja, tt dan
lingkungan pasien.

Memberi penjelasan
tentang pentingnya

08.30

Klien mau mnegikuti


petunjuk petugas.

melatih nafas dalam


dan menggerakgerakkan kaki
sesering mungkin.
08.45

09.00

09.15

Melatih klien nafas


dalam dan batuk yang
efektif.

Memberi obat
inhalasi: bisolvon 20
tts + ventolin 1 amp.
Member inj: cefo 1
gr.

10.00

Membantu klien
merubah posisi.

11.00

Membantu klien
Bak.

Mengobservais
klien.

12.00

Klien aktif mencoba


melatih perawatan nafas
yang diajarkan petugas.
Obat sudah masuk, sesak
dirasa berkurang, klien
melepas O2 yang dipakai.
Reaksi alergi (-).
Posisi semi fowler tinggi.

Bak kuning jernih, 200 cc.


Klien tidur, gelisah (-),
sesak (-), ronchi minimal,
menggi (+), krekels
minimal, sputum (++)
banyak putih kental.

Evaluasi keperawatan:
Diagnosa keperawatan

Evaluasi

Tanggal 7-2-2002, pk. 11.00S: Klien mengatakan sesak berkurang,


WIB.
nafas sudah tidak tersengal-sengal lagi,
malam sudah dapat tidur dengan baik,
1. Kerusakan pertukaran
bila berubah posisi tidak tersaa sesak
gas b/d pneumonia.
lagi.
O: S: 36,2; RR: 20; N: 84; TD: 110/70

Data penunjang:

mmHg. Klien tampak tenag, duduk di


tepi tt sambil mneggoyang-goyangkan
kaki, batuk (+) sudah agak berkurang,
sputum berkurang lk 25 cc, ronchi
menurun, krekels minimal, mengi (+/-).

S: Klien mengeluh nafas


rterasa sesak, badan lemah,
sesak dirasa terutama pada
malam hari dan bila klien
berubah posisi.
A: masalah teratasi.

O: S: 36,8; N: 80; RR: 24; TD:P: pertahankan status umum klien.


110/70, nafas klien tampak
tersengal-sengal, batuk,
sputum (+) putih kental,
ronchi kasar (+), krekels
minimal, mengii (+).leko:
21,7x 109 g/dl, pemeriksaan
radiologi:Terdapat gambaran
infiltrat pada bagian lobus
bawah paru kanan, AGD:
asidosis
Tanggal 7-2-2002, pk. 11.30 S: Klien mengatkan sesaknya sudah
WIB.
berkurang, batuk menurun, dahak juga
sudah berkurang, klien mnegatkan
2. Resiko gangguan perfusi makan habis 2/3 porsi ditambah 1 buah
jaringan b/d
pisang.
ketidakseimbangan suplay
O2 dengan demand.
O: TD: 110/70 ; N: 84; RR; 20; S: 36,2,
ronchi minimal, krekels minimal, mengi
Data penunjang:
(+/-), akral hangat dan kering, sianosis
S: Klien mengluh sesak nafas, (-). Oedem (-).
sesak dirasa bila klien
A: Masalh teratasi
berubah posisi, badan tersaa
lemah.
P: Pertahankan agar gangguan perfusi
jaringan tidak terjadi.
O: TD: 110/70; RR: 24; N: 80,
nafas klien tampak tersengalsengal, keadaan umum
tampak lemah, ronchi (+),
mengi (+), krekels minimal,
leko: 21,7x
109 g/dl, Pemeriksaan

radiologi:Terdapat gambaran
infiltrat pada bagian lobus
bawah paru kanan, AGD:
asidosis respiratorik dengan
kompensasi
Tanggal 7-2-2002, pk. 10.00 S: Klien mengatakan sudah dapat ke
WIB.
kamar sendiri dengan jalan kaki, pusing
(-), sesak dirasa berkurang.
3. Defisit pemenuhan ADL
b/d ketidakseimbangan
O: TD: 110/70; RR; 20; N: 84; klien dapat
suplay O2 dengan demand. ma/mi sendiri tanpa dibantu, klien dapat
ke kamar mandi sendiri tanpa dipapah,
Data penunjang:
nafas tersengal (-), pucat (-).
S:Klien mengeluh sesak bila A: Masalh teratasi
berubah posisi, sesak dirasa
berkurang dalam posisi
P: Pertahankan status umum klien sampai
setengah duduk, klein
pasien pulang.
mengatakan sulit berjalan
sendiri ke kamar mandi.
O: TD: 110/70; RR:24; N: 80,
nafas terlihat tersengalsengal, KU tampak lemah.

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Meskipun asma sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, para
ahli belum sepakat mengenai definisi penyakit ini. Definisi asma

yang saat ini umumnya disetujui oleh para ahli adalah


merupakan penyakit paru dengan karakteristik:
1. Obstruksi saluran nafas yang reversible
2. Inflamasi saluran nafas
3. Peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai
rangsangan.
Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala- gejala asma
seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Diduga baik obsrtuksi
maupun peningkatan respon terhadap rangsangan didasari oleh
inflamsai saluran nafas.
Prevalansi asma dipengaruhi banyak factor antara lain jenis
kelamin. Umur klien, keturunan, serta lingkungan. Pada masa
anak- anak ditemukan prevalansi 1,5 : 1, tetapi menjelang
dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa
menopause perempuan lebih banyak dari laki- laki. Di Indonesia
prevalensi asma tikus berkisar antara 5 sampai 7%.
1. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Diharapkan mahasiswa/i mampu memahami penyakit asma dan
penatalaksanaannya dalam keperawatan gawat darurat.
1. Tujuan khusus
Diharapkan mahasiswa/i dapat mengetahui tentang:
1. Anatomi fisisiologi sistem pernapasan

2. Pengertian asmatikus
3. Etiologi penyakit asma
4. Patofisiologi
5. Manifestasi klinis
6. Komplikasi
7. Pemeriksaan diagnostic
8. Penatalaksanaan
9. Asuhan keperawatan
1. Ruang lingkup penulisan
Makalah ini membahas mengenai konsep dasar penyakit asma
meliputi anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asma
tikus, etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis,
komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan
keperawatan serta dalam penanganan penyakit asma dalam
keperawatan gawat darurat.
1. Metode penulisan
Makalah ini disusun menggunakan metode studi pustaka yaitu
dengan membaca dan menuliskan kembali pendapat, penjelasan/
uraian maupun hasil penelitian dari pustaka- pustaka yang kami
pilih sebagai referensi yang berhubungan dengan meteri yang
akan dibahas.
1. Sistematika penulisan

Makalah ini disusun secara sistematis, yang terdiri dari tiga bab;
Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan
penulisan, teknik penulisan, ruang lingkup penulisan dan
sistematika penulisan; BAB II tinjauan teoritis yang terdiri dari
anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asmatikus,
etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis,
komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan
keperawatan dalam penanganan kegawat daruratan; BAB III
penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. Konsep Dasar
1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan
Organ-organ pernafasan terdiri dari :
1. Hidung / Nasal
Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2
lubang
( kavum nasi ), dipisahkan oleh sekat hidung
( septum nasi ). Didalamn ya terdapat bulu-bulu yang berguna
untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang masuk
ke dalam lubang hidung. Lapisan-lapisan lubang hidung yaitu :
1. lapisan luar dinding terdiri dari lapisan kulit
2. lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan
3. lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat
(konka nasali/karang hidung) yang berjumlah 3 buah yaitu

konka nasalis inferior, konka nasalis media, dan konka


nasalis superior.
Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba
lakrimalis. Fungsi hidung yaitu sebagai saluran pernafasan,
penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu
hidung, menghangatkan udara pernafasan yang dilakukan oleh
mukosa, membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama
udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput
lendir ( mukosa ).
1. Tekak / Faring
Faring merupakan persimpangan antara jalan pernafasan dengan
pencernaan, yang terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang
rongga hidung atau mulut sebelah depan ruas tulang leher.
Hubungan faring dengan organ-organ lain : ke atas berhubungan
dengan rongga hidung, ke depan berhubungan dengan rongga
mulut. Rongga faring terdiri dari dalam tiga bagian : sebelah
atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring,
bagian tengah yang sama tingginya dengan ismus fausium
disebut orofaring, bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.
1. Pangkal / Tenggorok
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan
suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra
servikalis dan masuk kedalam trakea di bawahnya.
1. Batang tenggorok / Trakea
Merupakan lanjutan dari faring yang dibentuk oleh 16 s/d 20
cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk

seperti kuku kuda (huruf C), sebelah dalam diliputi oleh


selaput lendir yang berbulu getar disebut sel bersilia, hanya
bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan di belakang
terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel
berselia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang
masuk bersama-sama dengan udara pernafasan, yang
memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan yang disebut
karina.
1. Cabang tenggorok / Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada
ketinggian vertebra torakalis ke IV dan ke V. Mempunyai
struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang
sama. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada
bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan,
terdiri dari 9-11 cincin mempunyai 2 cabang.
1. Paru paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar
terdiri dari gelembung-gelembung udara (alveoli). Gelembunggelembung alveoli terdiri dari: sel-sel epitel dan endotel. Pada
lapisan ini terjadi pertukaran darah, O2 masuk kedalam darah
dan CO2 dikeluarkan dari darah. Empat proses yang
berhubungan dengan pernafasan pulmoner: ventilasi pulmoner,
gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan
udara luar; arus darah melalui paru-paru, darah mengandung
oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari tubuh
masuk ke paru-paru; distribusi arus udara dan arus darah
sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai

untuk semua bagian; difusi gas yang menembus membran


alveoli dan kapiler karbondioksida lebih mudah berdifusi dari
pada oksigen (Syaifuddin, 1997, hal. 87-93).
1. Pengertian
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh
spasme akut otot polos bronkeolus. (Corwin. 2001. hal, 430).
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas
sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau
pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (Ngastyah.
1997. hal, 66).
Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang
terjadi karena spasme bronkus yang disebabkan oleh berbagai
penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo.
1997. hal, 565).
Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang
tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner &
suddart. 2001. hal 614).
Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkeolus
berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat
dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).
Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan
keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta
adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal,
566).
1. Etiologi

Menurut Mansjoer. 2003 hal 461 faktor pencetus dari asma


adalah allergen, infeksi (terutama saluran nafas bagian atas)
iritan, cuaca, kegiatan jasmani, refluks esophagus dan psikis.
Sedaangkan status asmatikus itu sendiri menurud Brunner &
Suddart 2002 hal 614, disebabkan oleh infeksi, asietas,
penggunaan tranguilizer berlebihan, penggunaan nebulizer
berlebihan, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic dan iritan
non spesifik serta hipersensitifitas terhadap penicillin.
1. Patofisiologi
Allergen masuk ke dalam tubuh

Merangsang sel plasma

Ig E

Sejumlah mediator (histamine, neokotrien, factor pengaktifasi


platelet, bradikinin dll)

Permeabilitas kapiler meningkat

Produksi mucus meningkat (pembengkakan mukosa bronchial


dan pengentalan sekresi)


Diameter bronchial menurun

Abnormalitas ventilasi perfusi

Hipoksemia dan respirasi alkalosis

Respirasi asidosis
(Brunner & Suddart. 2002. hal 614).
1. Manifestasi klinis
Menurut Brunner & Suddart. 2002.hal 614.
1. Asma hebat
2. Perpanjangan ekhalansi
3. Pembesaran vena leher
4. Mengi
Menurut Hudak & gallo 1997. hal 566 adalah:
1. Asietas akut
2. Usaha bernapas dengan keras
3. Takikardi

4. Berkeringat
Menurut Corwin 2001. hal 431. adalah:
1. Dipsnea berat
2. Retraksi dada
3. Napas cupin hidung
4. Whizzing
5. Pernapasan dangkal dan cepat
1. Komplikasi
Komplikasi dari status asmatikus adalah gagal nafas ( Brunner
& Suddart. 2002. hal, 614).
1. Pemeriksaan diagnostic
2. Pemeriksaan fungsi paru: digunakan untuk mengkaji
obstruksi jalan nafas akut
3. Pemeriksaan gas darah arteri: dilakukan jika klien tidak
mampu melakukan manufer fungsi pernapasan, karena
obstruksi berat atau keletihan atau jika klien tidak berespon
terhadap tindakan
4. Respirasi alkalosis( CO2 rendah) adalah temuan yang
palibg umum pada pasien asmatikus dan peninglatan PCO2)
ke kadar normal atau kadar yang menandakan respirasi
asidosis) sering kali merupakan tanda bahaya serangan
gagal nafas

5. Lakukan fototoraks
6. Lakukan pemeriksaan EKG
1. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keperawatan:
1. Berikan posisi fowler/ semi powler serta longgarkan
pakaian klien.
2. Buka saluran pernafasan dengan mengekstensikan leher.
3. Tanda- tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa
turgor kulit.
4. Masukan cairan penting untuk melawan dehidrasi.
5. Mengencerkan sekresi dan untuk memudahkan
ekspekturasi hingga 3 sampai 4 liter per hari kecuali jika
ada kontra indikasi.
6. Pemantauan terhadap pasien oleh perawat secara terusmenerus penting dilakukan dalam 12 sampai 24 jam
pertama, atau sampai status asmatikus dapat diatasi.
7. Enegi pasien harus dihemat dan ruangan harus tenang serta
bebas dari iritan pernapasan, termasuk bunga, asap
tembakau, perfume, atau bau bahan pembersih.
8. Bantal non alergik harus digunakan.
9. Berikan pendidikan kesehatan pada pasien berupa instruksi
untuk dengan segera melaporkan tanda dan gejala yang
menyulitkan seperti bangun saat malam hari dengan

serangan akut, tidak mendapatkan peredaan komplit dari


penggunaan inhaler atau mengalami infeksi pernapasan.
Penatalaksanaan medik:
1. Dalam lingkungan kedaruratan pasien mula- mula diobati
dengan agonis beta (misalnya metapropanol, terbutalin, dan
albuteron) dan kortikosteroid.
2. Pasien juga membutuhkan oksigen supplemental dan cairan
intravena untuk dehidrasi.
3. Terafi oksigen dilaksanakan untuk mengatasi dipsnea,
sianosis, dan hipoksemia.
4. Aliran oksigen yang diberikan harus didasarkan pada nilai
gas darah. PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg.
5. Pemberian sedative merupakan kontra indikasi jika tidak
mendapat respon dari pengobatan berulang, dibutuhkan
perawatan dirumah sakit.
1. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian khusus:
Kaji ABCDE terlebih dahulu pada pasien yang mengalami
kegawat daruratan
Pengkajian lengkap Head to toe hanya dilakukan jika masalah
ABC telah tertangani only after.
1. Airway

Tanyakan pada pasien bagaimana keadaannya?


1. Breathing
1)

Minta pasien untuk bernafas dan batuk

2)

Observasi pergerakan dada

3)

Observasi kedalaman dan kecepatan nafas

4)

Catat pengunaan otot-otot bantu pernafasan

5)

auskultasi
1. Circulation

1)

Kaji warna kulit / temperature / capilary reffil

2)

Pulse (kecepatan, kekuatan dan irama)

Pengkajian umum:
Dapatkan riwayat:
Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic, riwayat
pasien tentang disfungsi pernafasan sebelumnya; bukti terbaru
penularan terhadap infeksi, allergen atau iritan lain, trauma.
Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru.
Observasi pernafasan terhadap:
Frekuensi: cepat ( takipnea ), normal atau lambat
Kedalaman: kedalaman normal, terlalu dangkal ( hipopnea ),
terlalu dalam (hiperpnea), biasanya diperkirakan dari amplitude
torakal dan pegembangan abdomen.

Kemudahan: kurang upaya, sulit (dispnea), ortopnea,


dihubungkan dengan retraksi enterkosta dan atau substrenal
(inspirasi tenggelam dari jaringan lunak dalam hubungannya
dengan kartilaginosa dan tulang toraks), pulsus paradoksus
(tekanan darah turun dengan inspirasi dan menigkat karena
ekspirasi), pernafasan cuping hidung dan mengi.
Pernafasan sulit: kontinu, intermiten menjadi makin buruk dan
menetap, awitan tiba- tiba pada saat istirahat atau kerja,
dihubungkan dengan mengi, menggorok, dihubungkan dengan
nyeri.
Irama: variasi dalam frekuesi dan kedalaman pernafasan.
Observasi dalam adanya:
Bukti infeksi: peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe
serfikal, membrane mukosa terinflamasi, dan rabas purulen dari
hidung, telinga atau paru- paru (sputum).
Mengi (wheezing): ekspirasi atau inspirasi, nada tinggi atau
musical, memanjang, secara lambat progresif atau tiba- tiba,
berhubungan dengan pernafasan sulit
Sianosis: perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang
tubuh sera wajah, derajat, durasi, berhubungan dengan
aktivitas).
Nyeri dada: perhatikan lokasi dan situasi; terlokalisir atau
menyebar, pernafasan cepat, dangkal atau menggorok.
1. Diagnosa keperawatanan

1)
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
penumpukan sekresi mucusa pada jalan nafas
2)
Pola nafas tidak efektif berhubugan dengan spasme otot
bronkus
3)
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan
1. Intervensi keperawatan
Diagnosa 1 dan 2
1. Berikan klien posisi fowler atau semifowler
Rasional: posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernafasan.
1. lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi
Rasional: pembersihan jalan nafas secara mekanik pada klien
akan membantu dalam pengeluaran sekret
1. berikan cairan atau minuman hangat (kecuali ada kontra
indikasi)
Rasional: cairan khususnya air hangat memobilisasi dan
mengeluarkan sekret
1. kolaborasi dalam pemberian nebulizer sesuai indikasi
Rasional: memudahkan pengenceran dan pengeluaran sekret.
Diagnosa 3

1. Kaji tingkat toleransi klien


2. Bantu klien dalam beraktivitas
3. Berikan periode istirahat yang cukup
1. Evaluasi keperawatan
1. Bersihan jalan nafas adekuat
2. Pola nafas kembali efektif
3. Pasien mempertahankan tingkat energi yang adekuat
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang
terjadi karena spasme brongkus yang disebabkan oleh berbagai
penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo.
1997. hal, 565).
Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang
tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner &
suddart. 2001. hal 614).
Statatus asmatikus adalah keadaan spsme bronkeolus
berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat
dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).
Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan
keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta

adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal,


566).
Dalam penanganan keperawatan gawat darurat status asmatikus
dapat disesuaikan dengan etiologi atau factor pencetusnya.
1. SARAN
Diharapkan setelah mempelajari makalah seminar asuhan
keperawatan gawat darurat pada gangguan sistem pernafasan:
status asmatikus pembaca khususnya mahasiswa/ I akademi
keperawatan sintang dapat mengerti dan mampu
mengaplikasikan asuhan keperawatan sesuai rencana
keperawatan secara komprehensif.
About these ads

Askep Asmatikus
A. Pengertian
Status Asmatikus adalah suatu keadaan dimana
penyakit asma yang tidak dapat ditangani dengan
pengobatan
biasa,
melainkan
harus
dengan
menggunakan alat, seperti Bronkodilator.
Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari
bronkial
yang
dikarakteristikan
oleh
periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan
nafas). (Polaski : 1996).
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif (bersifat
menghambat, menyumbat) intermiten (terjadi berkala
setelah interval tertentu), reversibel dimana trakea dan
bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi
tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui
bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas
obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai
dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan
respon
trakea
dan
bronkus
terhadap
berbagai
rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.
B.

Etiologi

Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel


yang disebabkan oleh :

1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi


penyempitan jalan nafas.
2) Pembengkakan membran bronkus.
3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.
C. Patofisiologi

Pencetus serangan (alergen, emosi/stress, obat-obatan,


infeksi).
Kontraksi otot polos.
Edema (penimbunan cairan yang berlebih didalam
jaringan) mukusa.

Hipersekresi (sekresi yang berlebih).

Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi).

Hipoventilasi
dangkal).

distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah


paru

(keadaan

nafas

yang

lambat

dan

Gangguan difusi gas di alveoli


Hipoxemia (keadaan kadar oksigen yang menurun
dalam darah).
Hiperkarpia
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2
faktor yaitu alergi dan psikologis, kedua faktor tersebut
dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos,
meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus
dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya
produksi
mukus
jalan
nafas,
sehingga
terjadi

penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di


terminal oleh berbagai macam sebab maka akan
menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi
(hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata
dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di
tingkat alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan
pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi tertentu,
selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik
seperti eksim, dermatitis (radang kulit), demam tinggi
dan klien dengan riwayat asma. Sebaliknya pada klien
dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan
adanya faktor-faktor pencetus yang tidak jelas, faktor
yang spesifik seperti flu, latihan fisik, dan emosi (stress)
dapat memacu serangan asma.
Mediator kimia
Patofisiologi: WOC

Bronkokonstriksi, Edema Mukosa, Sekresi Berlebihan


Penyumbatan jalan nafas

Ventilasi tidak seragam


Hiperinflasi

atelektasis
Kelenturan berkurang
Ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi

Hipoventilasi alveolar
asidosis
Surfaktan berkurang
Kerja pernapasan bertambah
Pco2
Vasokonstriksi pulmonal
Po2

a.

Manifestasi klinis
Manifestasi klinik pada pasien asmatikus adalah batuk,
dyspnoe (sesak nafas), dan wheezing (terengah-engah).
Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada,
pada penderita yang sedang bebas serangan tidak
ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu serangan
tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisa, duduk
dengan tangan menyangga ke depan serta tampak otototot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
1) Tingkat I :

a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik


dan fungsi paru.
b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah
maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
2) Tingkat II :
a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi
paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan
nafas (batuk, sesak nafas, wheezing).
b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3) Tingkat III :
a) Tanpa keluhan.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan
adanya obstruksi jalan nafas.
c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan
mudah diserang kembali.
4) Tingkat IV :
a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas
berbunyi wheezing.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tandatanda obstruksi jalan nafas.
5) Tingkat V :
a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis
berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrakter
(tak beraksi) sementara terhadap pengobatan yang lazim
dipakai.
b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi
jalan nafas yang reversibel.

b.

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang seperti :
a. Spirometri (pengukuran kapasitas udara paru) :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
b. Tes provokasi :
1). Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
2). Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat
tes spirometri.
3). Tes provokasi bronkial seperti :
Tes provokasi histamin (suatu senyawa amin depressor
yang didapat dengan dekarboksilasi histidin), metakolin,
alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi (keadaan nafas
yang cepat) dengan udara dingin dan inhalasi
(penghirupan) dengan aqua destilata.

4). Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E


(kependekan immunoglobulin, protein penting dalam
mekanisme imunologis) yang spesifik dalam tubuh.
c. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik
dalam serum.
d. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada
normal.
e. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
f. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
g. Pemeriksaan sputum.
c.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma


adalah
pneumotoraks,
atelektasis,
gagal
nafas,
bronchitis.
d.

Terapi/Pengobatan

1. Bronchodilator Tidak digunakan alat-alat bronchodilator


secara oral, tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral.
Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan
simpatomimetik
(obat
yang
efeknya
serupa
perangsangan saraf ortosimpatik), maka sebaiknya
diberikan aminofilin secara parenteral sebab mekanisme
yang berlainan, demikian sebaliknya, bila sebelumnya
telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka
sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik
secara aerosol atau parenteral. Obat-obat bronchodilator
golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap
adreno reseptor (Orsiprendlin, Salbutamol, Terbutalin,
Ispenturin, Fenoterol ) mempunyai sifat lebih efektif dan
masa kerja lebih lama serta efek samping kecil
dibandingkan dengan bentuk non selektif (Adrenalin,
Efedrin, Isoprendlin). Obat-obat Bronkhodilator serta
aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik
lebih kecil. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada
anak-anak dan dewasa. Mula-mula diberikan 2 sedotan
dari suatu metered aerosol defire ( Afulpen metered
aerosol ). Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap
4 jam, jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit
berikan aminofilin intrvena. Obat-obat Bronkhodilatator
Simpatomimetik memberi efek samping takhikardi,
penggunaan perentral pada orang tua harus hati-hati,
berbahaya pada penyakit hipertensi, kardiovaskuler dan
serebrovaskuler. Pada dewasa dicoba dengan 0,3 ml
larutan epineprin 1 : 1000 secara subkutan. Anak-anak
0.01mg / kg BB subkutan (1mg per mil ) dapat diulang

tiap 30 menit untuk 2 - 3 x tergantung kebutuhan.


Pemberian Aminophilin secara intrvena dosis awal 5 - 6
mg/kg BB dewasa/anak-anak, disuntikan perlahan-lahan
dalam 5 - 10 menit. untuk dosis penunjang 0,9 mg/kg
BB/jam secara infus. Efek samping TD menurun bila tidak
perlahan-lahan.
2. Kortikosteroid Jika pemberian obat-obat bronkhodilator
tidak menunjukkan perbaikan, dilanjutkan dengan
pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison atau
dengan dosis 3-4 mg/kg BB intravena sebagai dosis
permulaan dapat diulang 2-4 jam secara parenteral
sampai serangan akut terkontrol, dengan diikuti
pemberian 30-60 mg prednison atau dengan dosis 1-2
mg/kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi, kemudian
dosis dikurangi secara bertahap.
3. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan
kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui
air untuk memberi kelembaban. Obat Ekspektoran seperti
Gliserolguayakolat
dapat
juga
digunakan
untuk
memperbaiki dehidrasi, maka intik cairan peroral dan
infus harus cukup, sesuai dengan prinsip rehidrasi,
antibiotik diberikan bila ada infeksi.
a.

Asuhan Keperawatan Asmatikus

i.

Pengkajian
a. Identitas klien
1). Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan,
alergi debu, udara dingin
- Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit
paru
sebelumnya.
- Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/

faktor
-

Kaji riwayat pekerjaan pasien.

lingkungan.

2). Riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas,


keringat dingin.
3). Riwayat keluarga: riwayat keturunan
4). Status mental : lemas, takut, gelisah
5). Pernapasan
- Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap
aktivitas
atau
latihan.
- Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang
ditempat
tidur.
- Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya:
meninggikan
bahu,
melebarkan hidung.
- Adanya bunyi napas mengi.
- Adanya batuk berulang.
6). Gastro intestinal : adanya mual, muntah.
7). Pola aktivitas : kelemahan tubuh, cepat lelah
ii.

Pemeriksaan Fisik

Dada:
1). Contour, Confek, tidak ada defresi sternum
2). Diameter antero posterior lebih besar dari diameter
transversal
3). Keabnormalan struktur Thorax
4). Contour dada simetris
5). Kulit Thorax ; Hangat, kering, pucat atau tidak,
distribusi warna merata

6). RR dan ritme selama satu menit.


Palpasi :
1). Temperatur kulit
2). Premitus : fibrasi dada
3). Pengembangan dada
4). Krepitasi (bunyi seperti gesekan rambut dengan jari)
5). Massa
6). Edema (penimbunan cairan yang berlebih didalam
jaringan).
Auskultasi:
1). Vesikuler
2). Broncho vesikuler
3). Hyper ventilasi
4). Rochi
5). Wheezing
6). Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat
terjadinya.
iii. Diagnosa Keperawatan
N
O

DIAGN
OSA

1. Tidak
efektifny
a
bersihan
jalan

TUJUAN
Jalan
nafas
kembali
efektif.

KRITERIA
HASIL

INTERVENSI

RASIONAL

Sesak
1. Auskultasi 1. Beberapa
berkurang, bunyi nafas, derajat spasme
batuk
catat adanya bronkus terjadi
berkurang, bunyi nafas, dengan
klien dapat misalnya
: obstruksi jalan

nafas
berhubu
ngan
dengan
akumula
si
mukus.

mengeluar wheezing,
nafas.
Bunyi
kan
ronkhi.
nafas
redup
sputum,
dengan
wheezing
ekspirasi mengi
berkurang/
(empysema),
hilang, vital
tak ada fungsi
dalam
nafas
(asma
batas
berat).
normal
2. Kaji / pantau2. Takipnea
keadaan
biasanya
ada
umum baik. frekuensi
pernafasan
pada beberapa
catat
rasio derajat
dan
inspirasi dan dapat
ekspirasi.
ditemukan
pada
penerimaan
selama
strest/adanya
proses
infeksi
akut.
Pernafasan
dapat
melambat dan
frekuensi
ekspirasi
memanjang
dibanding
inspirasi.
3. Kaji pasien3. Peninggian
untuk
posisi kepala
tidak
yang
aman, mempermudah
misalnya
: fungsi
peninggian
pernafasan

kepala tidak dengan


duduk
pada menggunakan
sandaran
gravitasi.
4. Observasi 4. batuk
dapat
karakteristik
menetap tetapi
batuk,
tidak
efektif,
menetap,
khususnya
batuk pendek, pada
klien
basah. Bantu lansia,
sakit
tindakan
akut/kelemahan
untuk
.
keefektipan
memperbaiki
upaya batuk.
5. Berikan
hangat.

2. Tidak
efektifny
a
pola
nafas
berhubu
ngan
dengan
penurun
an
ekspansi
paru.

Pola
nafas
kembali
efektif.

air5. penggunaan
cairan hangat
dapat
menurunkan
spasme
bronkus.

Pola nafas1. Kaji


1. kecepatan
efektif,
frekuensi
biasanya
bunyi nafas kedalaman
mencapai
normal
pernafasan
kedalaman
atau
dan ekspansi pernafasan
bersih, TTV dada.
Catat bervariasi
dalam
upaya
tergantung
batas
pernafasan
derajat
gagal
normal,
termasuk
nafas. Expansi
batuk
penggunaan
dada terbatas
berkurang, otot
bantu yang
ekspansi
pernafasan / berhubungan

paru
pelebaran
mengemba nasal.
ng.
2.

dengan
atelektasis dan
atau nyeri dada

Auskultasi2. ronki
dan
bunyi
nafas wheezing
dan
catat menyertai
adanya bunyi obstruksi jalan
nafas seperti nafas
/
krekels,
kegagalan
wheezing.
pernafasan.

3.
Tinggikan3. duduk tinggi
kepala
dan memungkinkan
bantu
ekspansi paru
mengubah
dan
posisi.
memudahkan
pernafasan.
4.
Observasi4. Kongesti
pola
batuk alveolar
dan karakter mengakibatkan
sekret.
batuk
sering/iritasi.
5.
5. dapat
Dorong/bantu meningkatkan/
pasien dalam banyaknya
nafas
dan sputum dimana
latihan batuk. gangguan
ventilasi
dan
ditambah
ketidak nyaman
upaya
bernafas.

3. Ganggu
an
nutrisi
kurang
dari
kebutuh
an
tubuh
berhubu
ngan
dengan
intake
yang
tidak
adekuat.

Kebutuh
an
nutrisi
dapat
terpenu
hi.

Keadaan
1. Kaji status1. menentukan
umum baik, nutrisi
klien dan membantu
mukosa
(tekstur kulit, dalam
bibir
rambut,
intervensi
lembab,
konjungtiva). selanjutnya.
nafsu
2.
Jelaskan2. peningkatan
makan
pada
klien pengetahuan
baik,
tentang
klien
dapat
tekstur
menaikan
kulit baik, pentingnya
nutrisi
bagi partisipasi bagi
klien
klien
dalam
menghabis tubuh.
asuhan
kan
porsi
keperawatan.
makan
yang
3.
Timbang3. Penurunan
disediakan, berat badan berat
badan
bising usus dan
tinggi yang signifikan
6-12
badan.
merupakan
kali/menit,
indikator
berat
kurangnya
badan
nutrisi.
dalam
4. Anjurkan
4.air
hangat
batas
klien minum dapat
normal.
air
hangat mengurangi
saat makan.
mual.
5.Anjurkan
5. memenuhi
klien makan kebutuhan
sedikit-sedikit nutrisi klien.
tapi sering

4. Intolera Klien
KU
klien 1.
Evaluasi1. menetapkan
nsi
dapat
baik, badan respons
kebutuhan/kem
aktivitas melakuk tidak
pasien
ampuan pasien

berhubu
ngan
dengan
kelemah
an fisik.

an
aktivitas
seharihari
secara
mandiri.

lemas,
klien dapat
beraktivitas
secara
mandiri,
kekuatan
otot terasa
pada skala
sedang

terhadap
aktivitas.
Catat laporan
dyspnea
peningkatan
kelemahan/ke
lelahan
dan
perubahan
tanda
vital
selama
dan
setelah
aktivitas.

dan
memudahkan
pilihan
intervensi.

2.
Jelaskan2. Tirah baring
pentingnya
dipertahankan
istirahat
selama
fase
dalam
akut
untuk
rencana
menurunkan
pengobatan
kebutuhan
dan perlunya metabolik,
keseimbanga menghemat
n
aktivitas energi
untuk
dan istirahat. penyembuhan.
3. Bantu pasien3.pasien mungkin
memilih posisi nyaman
nyaman
dengan kepala
untuk
tinggi
atau
istirahat dan menunduk
atau tidur.
kedepan meja
atau bantal.
4.
Bantu
aktivitas
4. meminimalkan
keperawatan kelelahan dan
diri
yang membantu

diperlukan.
Berikan
kemajuan
peningkatan
aktivitas
selama
fase
penyembuhan

keseimbangan
suplai
dan
kebutuhan
oksigen.

5.
Berikan5.menurunkan
lingkungan
stress dan
tenang
dan rangsangan
batasi
berlebihan
pengunjung
meningkatkan
selama
fase istirahat.
akut
sesuai
indikasi.
5. Kurangn
ya
pengeta
huan
tentang
proses
penyakit
nya
berhubu
ngan
dengan
kurangn
ya
informas
i

Pengeta
huan
klien
tentang
proses
penyakit
menjadi
bertamb
ah.

Mencari
tentang
proses
penyakit :

1. Diskusikan1. informasi
aspek ketidak dapat
nyamanan
manaikkan
dari penyakit, koping
dan
lamanya
membantu
Klien
penyembuhan menurunkan
mengerti
, dan harapan ansietas
dan
tentang
kesembuhan. masalah
definisi
berlebihan.
asma
2.
Berikan2. kelemahan
Klien
informasi
dan
depresi
mengerti
dalam bentuk dapat
tentang
tertulis
dan mempengaruhi
penyebab
verbal.
kemampuan
dan
untuk
pencegaha
mangasimilasi
n dari asma
informasi atau

mengikuti
program medik.
3.
Tekankan3. selama awal
pentingnya
6-8
minggu
melanjutkan
setelah pulang,
batuk efektif pasien beresiko
atau
latihan besar
untuk
pernafasan.
kambuh
dari
penyakitnya.
4. Identifikasi4. upaya
tanda
atau evaluasi
dan
gejala
yang intervensi tepat
memerlukan
waktu
dapat
pelaporan
mencegah
Klien pemberi
meminimalkan
mengerti
perawatan
komplikasi.
komplikasi
kesehatan.
dari asma
5.
Buat5. menaikan
langkah untuk pertahanan
meningkatkan alamiah
atau
kesehatan
imunitas,
umum
dan membatasi
kesejahteraan terpajan pada
, misalnya : patogen.
istirahat dan
aktivitas
seimbang,
diet baik.
N
O
1.

DIAGNOSA

INTERVENSI

Tidak efektifnya Atur

IMPLEMENT
ASI

posisi Mengatur

EVALUASI

S: klien

bersihan jalan
nafas
berhubungan
dengan
akumulasi
mukus.

klien
fowler

semi posisi
klien mengatakan
semi fowler
jalan
nafas
kembali efektif.
Berikan terapi Memberikan
oksigen
terapi oksigen
O: Klien tidak
sesak nafas
Anjurkan
Menganjurkan
istirahat yang istirahat yangA:
masalah
cukup
cukup
teratasi
P:Intervensi
diberhentikan

2.

Tidak efektifnya
pola
nafas
berhubungan
dengan
penurunan
ekspansi paru.

Atur
klien
fowler

posisi Mengatur
S: klien
semi posisi
klien mengatakan
semi fowler
pola
nafas
kembali efektif
Berikan terapi Memberikan
oksigen
terapi oksigenO: klien tidak
sesak nafas
Anjurkan
Menganjurkan
istirahat yang istirahat yangA: masalah
cukup
cukup
teratasi
P:
Intervensi
diberhentikan

3.

Gangguan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
adekuat.

Anjurkan klien MenganjurkanS: Klien


minum
air klien minum mengatakan
hangat
saat air
hangat kebutuhan
makan
saat makan
nutrisi
terpenuhi
Anjurkan klien Menganjurkan
makan sedikit klien makan
O: klien
tidak
demi sedikit sedikit demi kekurangan
tapi sering
sedikit
tapi nutrisi
sering
A: Masalah

teratasi
P: Intervensi
diberhentikan
4.

5.

Intoleransi
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
fisik.

Kurangnya
pengetahuan
tentang proses
penyakitnya
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi

Anjurkan
Menganjurkan
S: Klien
istirahat yang istirahat yang mengatakan
cukup
cukup
dapat
melakukan
Anjurkan
Menganjurkan
aktifitas.
minum
air minum
air
yang banyak yang banyak.O:
klien
tidak
mengalami
kelemahan
fisik

Anjurkan
untuk
lebih
banyak
membaca
Koran
atau
buku-buku
lain atau juga
dengan
browsing
internet

A:

masalah
teratasi

P:

intervensi
diberhentikan

MenganjurkanS:
klien
untuk
lebih mengatakan
banyak
pengetahuan
membaca
tentang proses
Koran
atau penyakit
buku-buku
menjadi
lain atau juga bertambah.
dengan
O: klien tidak
browsing
kekurangan
internet.
informasi
A:
masalah
teratasi
P:

intervensi

diberhentikan.