Anda di halaman 1dari 6

BABI I

PENDAHULUAN
1.1 TUJUAN
1.
Tujuan Instruksional Umum
- Mahasiswa mengetahui langkah-langkah dan cara pembuatan preparat
2.
-

jaringan dengan metode paraffin.


Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa dapat melakukan pembuatan parafin.
Mahasiswa dapat melakukan fiksasi,dehidrasi,clearing dan embedding.

2.1 METODE
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode parafin.
3.1 PRINSIP
Pembuatan preparat permanen yang menggunakan parafin sebagai media
embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron - 8 mikron.
Dengan melakukan fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding,
penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan.
4.1 DASAR TEORI
4.1.1 Histopatologi
Histopatologi adalah cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi
jaringan dalam hubungannya dengan penyakit. Histopatologi sangat penting
dalam kaitannya dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan dalam
penentuan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang
diduga terganggu. Histopatologi dapat dilakukan dengan mengambil sampel
jaringan atau dengan mengamati jaringan setelah kematian terjadi. Dengan
membandingkan kondisi jaringan sehat terhadap jaringan sampel dapat diketahui
apakah suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak (Anonim,
2008).
Aplikasi histopatologi merupakan suatu cara membuat preparat dengan
menipiskan sel jaringan dari organ-organ tubuh. Untuk itu jaringan halus dapat
ditanam pada parafin dengan pembekuan, selanjutnya jaringan dipotong. Prasyarat
untuk mendapatkan histopatologi dan histokimia yang tepat dapat diperoleh
dengan mengamati preparat dibawah mikroskop elektron. Preparat dari histopat

mempunyai tanda spesifik yang terlihat dari jaringan sel dan struktur jaringan
akibat serangan patogenisitas. Menurut Suntoro (1983), histopatologi jaringan
bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya mikroorganisme yang bersifat
patogen dalam jaringan hewan atau manusia. Histopatologi juga bermanfaat untuk
membedakan luka akibat racun atau bakteri dengan struktur normal.Teknik
histopatologi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk melihat perubahan
metobolisme dari perubahan jaringan yang terjadi.
4.1.2

Tahap Tahap Pembuatan Blok Parafin

Metode parafin adalah suatu metode pembuatan preparat dengan


melakukan penanaman jaringan di dalam blok parafin untuk menghasilkan
preparat jaringan dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron-8 mikron.
Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada menggunakan metode beku
atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 mikron.
Preparat parafin ini dilakukan penyelubungan karena jaringan merupakan bahan
yang lunak. (Tjiptrosoepomo, 1993).Langkah-langkah penting dalam metode ini
antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan
(section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan. (Botanika 2008).
1. Fiksasi
Fiksasi bertujuan agar jaringan mati secepatnya sehingga tidak terjadi
perubahan pasca mati (autolisis post mortem) sehingga struktur jaringan sampel
dapat dipertahankan seperti saat udang masih hidup. Fiksasi dilakukan pada
larutan FAA (formalin, alcohol, asam acetat glacial) selama lebih kurang 24
jam.Tujuan fiksasi adalah mematikan (penghentian proses-proses hidup secara
tiba-tiba dan kekal (permanen) serta mengawetkan semua isi sel dalam ukuran
serta posisi semula dalam sel atau hamper sama dengan pada waktu masih hidup .
Akan tetapi bila ditangani secara kasar, bahan akan rusak sebelum dimasukkan ke
dalam larutan pengawet (Suryana,2009).
2. Dehidrasi
Tahap ini bertujuan menarik air dari jaringan tumbuhan agar kemudian
dapat dikenakan larutan yang dapat bercampur atau larut dalam parafin yang
digunakan sebagai alat dimana bahan akan ditanam. Dehidrasi seringkali
dilakukan dengan seri alcohol-xylol atau alkohol TBA. Bahan kimia untuk

dehidrasi mempunyai sifat antara lain; mengeluarkan air dari jaringan,


menggantikan dan digantikan oleh bahan penjernih (clearing), tidak mengubah
sifat sediaan yang telah difiksasi. Proses ini dimulai dengan perendaman pada
larutan alkohol bertingkat dengan konsentrasi mulai dari 40%, 60%, 80%, 95%,
dan 100% . Digunakan alkohol bertingkat tersebut agar jaringan kandungan airnya
dapat keluar sedikit demi sedikit hingga pada konsentrasi 100% pengeluaran
airnya pun maksimal (Suryana,2009).
3. Clearing
Adalah tahapan setelah dehidrasi ini disebut juga pembeningan atau
penjernihan, karena dengan proses tersebut menyebabkan bahan menjadi bening
atau jernih. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan bahan kimia dehidrasi
sehingga contoh sampel menjadi transparan. Bahan clearing ini mempunyai sifat
mampu menggantikan mengantikan bahan kimia dehidrasi, mampu melarutkan
parafin. Bahan yang dipergunakan adalah xylol. Xilol berfungsi untuk
menjernihkan (clearing) jaringan dari alkohol (dealkoholisasi), zat antara yang
dapat larut dalam alkohol sekaligus dalam parafin (Suryana,2009).
4. Impregnasi
Teknis histologi ini untuk menyusupkan paraffin ke dalam jaringan sampel
untuk menggantikan xylol yang telah hilang, sehingga sampel tidak rusak waktu
pemotongan dengan mikrotom. Impregnasi, yaitu campuran paraffin dan xylol
diganti dengan paraffin murni yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan
xylolnya secara maksimum serta untuk merekatkan jaringan.( Anonim,1997)
5. Embedding (Penanaman)
Pada tahapan ini harus disediakan cetakan untuk memblok parafin yang
akan ditanami oleh sampel preparat. Setelah clearing jaringan diambil dan
ditempatkan pada paraffin mold dengan posisi sesuai tujuan pemeriksaan
kemudian ditambahkan paraffin cair dan ditutup dengan cassete embedding.
Selanjutnya dibekukan dan siap dipotong. Sebelum dipotong dilakukan proses
trimming. Sampel yang sudah diiris pada bagian yang mengalami perubahan
dimasukkan kedalam cassete embedding yang sudah diberi label dengan
menggunakan pensil. Hal ini bertujuan agar jaringan dapat dengan mudah
terpotong tanpa merusak jaringan akar tersebut (Suryana,2009).

5.1 ALAT DAN BAHAN


1. ALAT

gelas ukur

pinset

botol fiksatif

Pensil

Cassette

Beaker glass

Mesin pemanas

Sendok

2. BAHAN

larutan FAA (Formalin, Asam acetat glacial, Alkohol)

alkohol 40%, 60%, 70%, 80%, 95%, 100%

larutan xilol

parafin cair dan parafin padat

aquades dan kertas blok

6.1 CARA KERJA


1. Menyediakan semua alat-alat yang akan digunakan di laboratorium
dan membuat larutan-larutan yang diperlukan.
2. Memotong sampel jaringan.
3. Melakukan fiksasi ; memakai larutan Formalin-Aceto-Alkohol (FAA)
yaitu
- alkohol 70 %
- asam asetat glacial
- formalin
4. Merendam jaringan bersama dengan larutan FAA
5. Melakukan pencucian dan Dehidrasi yaitu membuang larutan fiksasi
berturut-turut

dan

menggantinya

dengan

menggunakan

alkhol

bertingkat yaitu 40%,60%, 80%, 95%, 100% dengan interval waktu 30


menit.
6. Dealkoholisasi

yaitu

membuang

alkohol

berturut-turut

dan

menggantinya dengan campuran alkohol-xylol 3 : 1, campuran

alkohol-xylol 1 : 1, campuran alkohol-xylol 1 : 3, xylol I, xylol II


dengan interval waktu 30 menit.
7. Kemudian mencairkan paraffin yang akan digunakan, setelah cair
dimasukkan ke dalam botol kaca yang berisi jaringan dengan xylol
dengan perbandingan paraffin : xylol yaitu 9 : 1, yang diletakkan
selama15 menit diudara bebas dan 15 menit di dalam oven.
8. Melakukan infiltrasi yaitu mengeluarkan botol yang berisi xylolparafin dari oven lalu membuang campuran xylol-parafin dan
menggantinya dengan parafin murni. Kemudian dibiarkan diudara
terbuka selama 15 menit dan di dalam oven selama 15 menit
berikutnya
9. Dituangkan paraffin dan dibiarkan membeku selama beberapa menit.
Jaringan siap dipotong.
7.1 Data Hasil Pengamatan
Gambar blok parafin