Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

ISOLASI SENYAWA AKTIF CURCUMIN PADA KUNYIT


(Curcuma domestika)

OLEH :
KELOMPOK II B
Ni Made Meirina Dwitarini

(0608505039)

Ni Komang Wetriani

(0608505053)

Made Novianita

(0608505065)

Nyoman Angling Topan

(0608505070)

I GA. A. Kusuma Wardani

(0608505072)

Ana Fitria

(0608505077)

I Wayan Ardika Wirawan

(0608505078)

Ni Nyoman Sri Nalendra Dewi

(0608505079)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2009

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Habitat dan Pertelaan
Habitat
Tumbuh dan ditanam di Asia Selatan, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia, dan
Filipina. Tumbuh dengan baik di tanah yang baik tata pengairannya, curah hujan
yang cukup banyak 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di tempat yang
sedikit kenaungan, tetapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar dan baik
menghendaki tempat yang terbuka. Tanah ringan seperti tanah lempung berpasir,
baik untuk pertumbuhan rimpang (Anonim a, 1977).
Pertelaan
Terna dengan batang berwarna semu hijau atau keunguan, rimpang terbentuk
dengan sempurna, bercabang-cabang, berwarna jingga. Setiap tanaman berdaun 3
sampai 8 helai, panjang tangkai daun beserta pelepah daun sampai 70 cm, tanpa
lidah-lidah, berambut halus jarang-jarang, helaian daun berbentuk lanset lebar, ujung
daun lancip berekor, keseluruhannya berwarna hijau atau hanya bagian atas dekat
tulang utama berwarna agak keunguan, panjang 28 cm sampai 85 cm, lebar 10
sampai 25 cm. Perbungaan terminal, gagang berambut, bersisik, panjang gagang 16
cm sampai 40 cm; tenda bunga, panjang 10 cm sampai 19 cm, lebar 5 cm sampai 10
cm; daun kelopak berambut, berbentuk lanset, panjang 4 cm sampai 8 cm, lebar 2
cm sampai 3,5 cm, daun kelopak yang paling bawah berwarna hijau, bentuk bundar
telur, makin keatas mkain menyempit serta memanjang, warna semu putih atau
keunguan, kelopak berbentuk tabung, panjang 9 mm sampai 13 mm, bergigi 3 dan
tipis seperti selaput; tajuk bagian bawah berbentuk tabung, panjang lebih kurang 20
mm, berwarna krem, bagian dalam tabung berambut; tajuk bagian ujung berbelahbelah, warna putih atau merah jambu, panjang 10 mm sampai 15 mm, lebar 11 mm
sampai 14 mm; bibir berbentuk bundar telur, panjang 16 mm sampai 20 mm, lebar
15 mm sampai 18 mm, warna jingga atau kuning keemasan dengan pinggir
berwarna coklat dan ditengahnya berwarna kemerahan (Anonim a, 1977).

I.2. Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisi (divisio)

: Spermatophyta

Anak divisi (sub-divisio)

: Angiospermae

Kelas (class)

: Monocotyledoneae

Bangsa (ordo)

: Zingiberales

Suku (family)

: Zingiberaceae

Marga (genus)

: Curcuma

Jenis (spesies)

: Curcuma domestica Val.


(Van Steenis, 2005)

I.3. Determinasi
1b ...........................(Angiospermae)
16a .........................(Monocotyledonae)
17b 36b 82a 83b 104a 105a 106a 107a..(Zingiberaceae)
(Thornners, 1981)
1a 2b 6b 7a. (Curcuma)
1a 2b 3a..(Curcuma domestica Val.)
(Beacker, 1965 )

I.4. Kandungan dan Kegunaan


Kandungan
Kandungan utama didalam rimpang kunyit

terdiri dari minyak atsiri,

curcuminoid, resin, oleoresin, desmetoksicurcumin, dan bidesmetoksicurcumin,


damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi. Kandungan kimia minyak
atsiri kunyit terdiri dari artumeron, dan - tumeron, tumerol, -atlanton, kariofilen, linalol, 1,8 sineol. Kandungan utama dari curcuminoid adalah curcumin
yang berwarna kuning. Kandungan curcumin di dalam kunyit berkisar 3 4%.
Kunyit mengandung curcumin dengan kadar 3 - 4%, terdiri dari curcumin I 94%,
curcumin II 6% dan curcumin III 0,3% (Anonim d, 2008).

Struktur kimia curcumin


Kegunaan
Curcumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari
tanaman Zingiberaceae, khususnya kunyit. Yang telah dimanfaatkan dalam industri
farmasi, makanan, parfum, dan lain-lain. Ada banyak data dan literatur yang
menunjukkan bahwa kunyit berpotensi besar dalam aktifitas farmakologi yaitu anti
imflamatori, anti imunodefisiensi, anti virus (virus flu burung), anti bakteri, anti
jamur, anti oksidan, anti karsinogenik dan anti infeksi dan rematik. Selain sebagai
bahan baku obat dapat juga dipakai sebagai bumbu dapur dan zat pewarna alami.
Rimpangnya sangat bermanfaat sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah,
obat cacing, obat asma, penambah darah, mengobati sakit perut, penyakit hati,
karminatif, stimulan, gatal-gatal, gigitan serangga, diare, dan rematik (Anonim d,
2008).

BAB II
MIKROSKOPIK

2.1 Pemerian Simplisia


Bau khas aromatik; rasa agak pahit, agak pedas, lama kelamaan menimbulkan
rasa tebal (Anonim a, 1977).
2.2 Mikroskopi
Epidermis: Satu lapis sel, pipih berbentuk poligonal, dinding sel menggabus.
Rambut penutup: Berbentuk kerucut, lurus atau agak bengkok, panjang 250 m
sampai 890 m, dinding tebal. Hipodermis: terdiri dari beberapa lapis sel terentang
tangensial, dinding sel menggabus. Periderm: Terdiri dari 6 lapis sampai 9 lapis sel
berbentuk segi panjang, dinding menggabus. Korteks dan silinder pusat:
Parenkimatik, terdiri dari sel-sel besar, penuh berisi pati. Butir pati: Tunggal, bentuk
lonjong atau bulat telur dengan satu ujung mempunyai tonjolan atau berbentuk bulat
sampai hampir segitiga dengan satu sisi membulat; lamela kurang jelas; hilus kurang
jelasterdapat pada tonjolan di ujung butir; panjang 10 m sampai 60 m, umumnya
20 m sampai 40 m, lebar 10 m sampai 28 m, umumnya 14 m sampai 20 m.
Sel sekresi: Banyak tersebar, bentuk bulat atau lonjong berisi minyak berwarna
kuning jingga yang sebagian mendamar dan berwarna coklat kekuningan; pada
penambahan besi (III) klorida LP warna menjadi lebih tua. Berkas pembuluh:
Kolateral, tersebar tidak beraturan pada korteks dan pada silinder pusat, berkas
pembuluh di bawah endodermis tersusun dalam lingkaran, kadang-kadang berkas
pembuluh dikelilingi sel parenkim yang tersusun menjari; pembuluh kayu umumny
terdiri dari pembuluh tangga dan pembuluh jala, lebar 20 m sampai 80 m, tidak
berlignin. Endodermis : Terdiri dari satu lapis sel terentang tangensial, dinding radial
menebal, tidak terdapat pati.
Serbuk: Warna kuning sampai kuning jingga. Fragmen pengenal adalah butir
pati; gumpalan tidak beraturan zat berwarna kuning sampai kuning coklat, parenkim
dengan sel sekresi; fragmen pembuluh tangga dan pembuluh jala; fragmen rambut
penutup warna kuning; tidak terdapat serabut (Anonim a, 1977).

Gambar 1. Penampang melintang rimpang kunyit. 1 = rambut penutup, 2 =


epidermis, 3 = hipodermis, 4 = periderm, 5 = parenkim korteks, 6 = sel sekresi, 7 =
berkas pengangkut, 8 = butir pati, 9 = endodermis, 10 = parenkim silinder pusat.

Gambar 2. Serbuk rimpang kunyit. 1 = periderm, 2 = butir pati (diperbesar). 3 =


rambut penutup, 4 = parenkim berisi butir pati, 5 = pembuluh kayu dengan
penebalan tangga dan jala (diperbesar), 6 = parenkim dengan sel sekresi.

(Anonim a, 1977)
2.3 Makroskopi
Kepingan : Ringan, rapuh, warna kuning jingga, kuning jingga kemerahan
sampai kuning jingga kecoklatan ; bentuk hampir bulat sampai bulat panjang,
kadang-kadang bercabang ; lebar 0,5 cm sampai 3 cm, panjang 2 cm sampai 6 cm,
tebal 1 mm sampai 5 mm ; umumnya melengkung tidak beraturan, kadang-kadang
terdapat pangkal upih daun dan pangkal akar, batas korteks dan silinder pusat
kadang-kadang jelas. Bekas patahan : Agak rata, berdebu, warna kuning jingga
sampai coklat kemerahan (Anonim a, 1977).

Gambar 3. Serbuk kunyit secara makroskopik

BAB III
ISOLASI SENYAWA AKTIF

Tujuan umum :
Maksud dan tujuan pembuatan laporan ini secara umum adalah untuk
mengetahui cara mengisolasi serta memahami metode pengujian yang digunakan
pada senyawa aktif curcumin yang terkandung dalam Curcuma domestica Val.
3.1 Penentuan Kadar Air Simplisia
Tujuan : menentukan kadar air simplisia Curcuma domestika dengan destilasi
azeotrop.
Alat dan Bahan
Alat :

Seperangkat alat destilasi azeotrop


Timbangan
Corong pisah
Gelas ukur
Gelas beker
Hot plate
Pipet tetes
Tisu

Bahan :

Simplisia Curcuma domestika


Toluene
Air suling
Kertas aluminium foil
Kertas perkamen

Prosedur Percobaan :
1. Pembuatan toluene jenuh air.

Sejumlah toluene dimasukkan kedalam corong pisah, ditambahkan air


secukupnya, dikocok sampai terbentuk 2 fase. Fase yang ditampung adalah fase
bagian atas karena berat jenis toluene lebih kecil daripada berat jenis air. Hasil
yang diperoleh diukur dengan gelas ukur. Bila belum mencapai 100 ml, maka
langkah ini diulangi hingga diperoleh toluene jenuh air sebanyak 100 ml.
2. Penentuan Kadar Air
Sebanyak 1 gram serbuk curcumin ditimbang, dan dimasukkan kedalam labu
ukur, ditambahkan 100 ml toluene jenuh air. Alat yang digunakan dirangkai
dengan baik dan benar. Bagian dalam labu pendingin dicuci dengan toluene
jenuh air. Kemudian labu dipanaskan dengan suhu 550
Setelah toluene mendidih, disuling dengan kecepatan

selama 30 menit.

2 tetes per detik. Tabung

penerima dibiarkan sampai dingin. Setelah sisa dan toluene memisah sempurna,
volume air dibaca dan dihitung kadar air dalam %
Skema Percobaan :
1. Pembuatan Toluene jenuh air
Sejumlah toluene dimasukkan kedalam corong pisah, ditambahkan air
secukupnya, dikocok sampai terbentuk 2 fase.

Ditampung fase bagian atas


Hasil yang diperoleh diukur dengan gelas ukur.

Bila belum mencapai 100 ml, maka langkah ini diulangi hingga diperoleh
toluene jenuh air sebanyak 100 ml.

2. Penentuan Kadar Air


Sebanyak 1 gram serbuk curcumin ditimbang, dimasukkan kedalam labu ukur

ditambahkan 100 ml toluene jenuh air.


Alat yang digunakan dirangkai dengan baik dan benar.
Bagian dalam labu pendingin dicuci dengan toluene jenuh air.

Labu dipanaskan dengan suhu 550

selama 30 menit.

Setelah toluene mendidih, disuling dengan kecepatan

2 tetes per detik.

Tabung penerima dibiarkan sampai dingin.


Setelah air dan toluene memisah sempurna, volume air dibaca dan
dihitung kadar air dalam %

3.2 Penetapan Susut Pengeringan Simplisia


Tujuan : Menetapkan susut pengeringan simplisia
Alat dan Bahan
Alat :

Botol timbang
Timbangan
Oven
Desikator

Bahan :

Serbuk Simplisia Curcuma domestica


Kertas perkamen

Prosedur Percobaan :
Pertama-tama botol timbang kosong ditara. Kemudian botol timbang
kosong dipanaskan pada oven dengan suhu 105C selama 30 menit dalam

10

keadaan sumbat ditutup. Botol timbang kosong dimasukkan dalam desikator


hingga mencapai suhu kamar. Selanjutnya, 2 gram simplisia (serbuk kunyit)
ditimbang lalu dimasukkan ke dalam botol, goyangkan hingga rata. Botol
timbang beserta isinya ditimbang dimasukkan ke dalam oven 105C selama 30
menit dengan posisi sumbat dibuka (sumbat juga dimasukkan ke dalam oven).
Kemudian dimasukkan desikator hingga mencapai suhu kamar, lalu ditimbang.
Botol timbang dimasukkan kembali ke dalam oven 105C selama 30 menit
dalam keadaan sumbat dibuka, lalu dimasukkan kembali ke dalam desikator
hingga mencapai suhu kamar. Percobaan dapat dihentikan apabila berat telah
relatif konstan.
Skema Percobaan :
Botol timbang kosong ditara, diperoleh 43,951 g.

Botol timbang kosong dimasukkan ke dalam oven pada suhu 1050C selama
30 menit sumbat ditutup

Dimasukkan kedalam desikator hingga mencapai suhu kamar

Serbuk kunyit ditimbang sebanyak 2 gram lalu dimasukkan ke dalam botol timbang
dan ditimbang beserta isinya diperoleh 45,937 gram.
Botol timbang dimasukkan kedalam oven selama 30 menit pada suhu 1050C dalam
keadaan sumbat terbuka

Masukkan kedalam desikator hingga dingin ditimbang diperoleh 45,706 gram

Botol timbang dimasukkan kedalam oven selama 30 menit pada suhu 1050C dalam keadaan
sumbat terbuka

11

Masukkan kedalam desikator hingga dingin ditimbang diperoleh 45,693 gram

Botol timbang dimasukkan kedalam oven selama 30 menit pada suhu 1050C dalam keadaan
sumbat terbuka
Masukkan kedalam desikator hingga dingin ditimbang diperoleh 45,692 gram (berat
relatif konstan sehingga percobaan dapat dihentikan)
3.3 Ekstraksi
Tujuan : penyarian simplisia untuk memperoleh ekstrak
Alat dan Bahan
Alat :

Seperangkat alat refluks


Timbangan
Gelas ukur
Gelas beker
Hot plate
Penangas air
Cawan porselen
Pipet tetes
Tisu

Bahan :

Simplisia Curcuma domestika


Etanol 70%
Air suling
Kertas aluminium foil
Kertas perkamen

Prosedur percobaan :
1. Prosedur maserasi
Sebanyak 5 gram serbuk simplisia Curcuma domestica Val. Dimasukkan ke
dalam gelas beaker, kemudian ditambahkan etanol 70% sebanyak 7,5 kali
bobot serbuk simplisia. Diaduk hingga homogen, kemudian ditutup dengan
aluminium foil. Dibiarkan termaserasi selama 4 hari dalam gelas beaker
tertutup dengan pengadukan setiap hari. Setelah 4 hari, maserat disaring dari

12

ampasnya. Maserat tersebut diendapkan lagi selama 3 hari. Maserat


dimasukkan ke dalam cawan porselen yang telah ditimbang, kemudian
diuapkan di atas penangas air hingga diperoleh ekstrak kental.

Skema Percobaan :

5 g serbuk simplisia

Dimasukkan ke dalam gelas beaker, Ditambahkan


42,43 ml etanol 70%

Diaduk hingga homogen, ditutup dengan aluminium


foil
Maserasi selama 4 hari, dengan pengadukan setiap hari

Maserat disaring dari ampas, kemudian diendapkan 3


hari

Maserat dimasukkan ke dalam cawan porselen yang


telah ditimbang
yang
Diuapkan di atas penangas air

2. Prosedur sokletasiDiperoleh kental


Serbuk kunyit ditimbang sebanyak 5 gram, dibungkus dengan kertas
saring berbentuk tabung.150 ml etanol 70%(cairan penyari)diisikan pada
labu.kemudian alat sokletasi dipasang dengan baik Cairan penyari
dipanaskan diatas suhu 70oC hingga mendidih Uap cairan penyari naik
keatas melalui pipa samping kemudian diembunkan kembali oleh
pendingin tegak lalu cairan (embun) turun ke tabung yang berisi
simplisia Aliran air penyari dibiarkan hingga tiga kali sirkulasi. Ekstrak

13

cair yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselen.


Ekstrak diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yaitu sebanyak
1,83 gram
Skema metode sokletasi
Serbuk kunyit ditimbang sebanyak 5 gram, dibungkus dengan kertas saring
berbentuk tabung
150 ml etanol 70% (cairan penyari) diisikan pada labu
Alat sokletasi dipasang dengan baik
Cairan penyari dipanaskan diatas suhu 70oC hingga mendidih
Uap cairan penyari naik keatas melalui pipa samping kemudian diembunkan kembali
oleh pendingin tegak lalu cairan (embun) turun ke tabung yang berisi simplisia
Aliran air penyari dibiarkan hingga tiga kali sirkulasi
Ekstrak cair yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselen
Ekstrak diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yaitu sebanyak 1,83 gram

3.3 Kromatografi
Tujuan :
a. Memisahkan campuran senyawa berdasarkan afinitas terhadap fase
gerak dan fase diam.
b. Melalui KLT untuk mengidentifikasi senyawa curcumin berdasarkan
perbandingan nilai Rf
Alat dan Bahan
1. Kromatografi kolom
Alat :

14

Kolom
Gelas beker
Gelas ukur
Corong
Botol vial
Pipet tetes
Tisu
Kertas perkamen

Bahan :

Silika Gel
Benzen
Etanol 96%
Kloroform
Air suling
Gelas wool
Ekstrak curcumin
Aluminium foil

Prosedur Kerja :
Prosedur Percobaan pembuatan kolom kromatografi :
Pertama-tama dibuat eluen dengan campuran Kloroform : Benzena :
Etanol 96% dengan perbandingan 45 : 45 : 10 sebanyak yang diperlukan pada
gelas beaker. Selanjutnya, kolom dipasang (tegakkan kolom) pada tiang
penyangga. Setelah kolom dipasang, eluen dimasukkan secukupnya untuk
memasukkan glass wool ke dalam kolom sampai dasar kolom. Glass wool
dipotong sesuai ukuran diameter kolom. Kemudian silica gel kering ditimbang,
yang diukur dari jumlah silica yang diperlukan pada kolom setinggi 20 cm.
Buat bubur silica gel, silica gel kering dicampur dengan sisa eluen pada beaker
glass. Bubur silica gel dimasukkan ke dalam kolom dengan pipet tetes melalui
dinding kolom secara hati-hati agar tidak terdapat gelembung udara. Kolom
didiamkan sampai kerapatan silica gel yang kompak, perhatikan jangan sampai
kolom kering dengan cara menambahkan eluen. Setelah kerapatan silica gel
kompak, kolom siap digunakan.
Skema Percobaan pembuatan kolom kromatografi :

15

Buat eluen campuran kloroform : benzena : etanol 96% dengan


perbandingan 45:45:10 sebanyak yang diperlukan

Pasang kolom dengan posisi tegak lalu dimasukkan eluen secukupnya


untuk memasukkan glasswool ke dalam kolom sampai dasar kolom

Timbang silika gel yang diukur dari jumlah silika gel pada
kolom sepanjang 20 cm sebanyak 32,483 g.

Buat bubur silika gel dengan mencampur sisa eluen dengan silika gel

Masukkan ke dalam kolom dengan menggunakan pipet tetes melalui


dinding kolom

Kolom siap digunakan

Prosedur Percobaan Pengisian cuplikan ke dalam kolom :


Ekstrak kental curcumin dilarutkan dalam etanol 70% hingga larut. Larutan
ekstrak dimasukkan ke dalam kolom dengan pipet tetes melalui dinding kolom
dengan cara memutar. Setelah semua volum larutan terserap, dinding kolom dibilas
dengan mengalirkan pelarut perlahan dengan memutar

Skema percobaan pengisian cuplikan ke dalam kolom :


Ekstrak kental dilarutkan dalam etanol 70%

Larutan ekstrak dimasukkan ke dalam kolom


melalui dinding kolom

16

Dinding kolom dibilas dengan


mengalirkan pelarut

Prosedur Pengembangan kromatogram dan penampungan eluat


Eluen dialirkan dengan kecepatan penetesan 130 tetes per menit. Fraksi
ditampung sebanyak 5 ml pada botol vial, sampai diperoleh 10 fraksi dalam botol
vial. Masing-masing fraksi diuapkan, hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental
dimasukkan kembali ke dalam botol.

Eluen dialirkan dengan kecepatan penetesan


130 tetes per menit

Fraksi ditampung sebanyak 5 ml pada


botol vial, sampai diperoleh 10 fraksi

Fraksi diuapkan hingga diperoleh ekstrak


kental. Ekstrak dimasukkan dalam vial

Analisis Fraksi dengan Kromatogrofi Lapis Tipis (KLT)


Fraksi yang telah diuapkan selanjutnya ditotolkan pada ujung salah satu plat,
kira-kira 1 cm dari ujung plat dengan menggunakan pipet kapiler. Fraksi yang
digunakan adalah fraksi vial 1,3,5, 7 dan 9. Diusahakan totolan dibuat sekecil
mungkin. Kemudian plat dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan
(Benzena : Kloroform : Alkohol 96 % dengan perbandingan 45 : 45 : 10). Plat
dibiarkan terelusi oleh fase gerak hingga mencapai batas akhir tanda pada KLT
(Perhatikan totolan tidak boleh sampai terendam dalam fase gerak). Selanjutnya plat
dikeluarkan dan dikeringkan dengan hair dryer. Penampakan noda diamati dibawah
sinar UV 366 nm. Positif kurkumin ditunjukkan dengan hasil fluoresensi berwarna
kuning.

17

Skema Analisis fraksi kurkumin dengan KLT


Fraksi yang diuapkan ditotolkan pada ujung salah satu plat yang telah diuapkan
( kira-kira 1 cm dari tepi bawah plat) menggunakan pipet kapiler. Fraksi yang
digunakan adalah 1,3,5,7,9
Totolan dibuat sekecil mungkin dan dikeringkan
Plat dimasukkan ke dalam chamber yang sudah berisi larutan pengembang
( Kloroform : benzena : alkohol 96% ) dengan perbandingan 45 :45 : 10 kira-kira 1
cm dan sudah dijenuhkan
Plat dibiarkan kontak dengan fase gerak ( perhatikan totolan tidak boleh terendam
pada fase gerak)
Chamber ditutup dan dibiarkan mengelusi sampai kira-kira 1 cm dibawah tepi atas
plat, lalu plat diangkat dari chamber dan dikeringkan
Penampakan noda dilakukan dengan melihat dibawah sinar UV 366 dan akan terlihat
fluoresensi kuning yang menunjukkan ekstrak positif kurkumin

3.4.2 Kolom G3
Alat :

Kolom G3
Corong Buchner
Timbangan
Mortir
Gelas ukur
Gelas beker
Pipet tetes
Botol vial

Bahan :

Ekstrak kental kunyit


Silika gel
Kertas perkamen
Kertas saring

18

Ether
Etanol 70%
Aluminium foil
Tisu

Prosedur percobaan Kromatografi Kolom G3


Corong Buchner disiapkan dan dilapisi dengan kertas saring pada bagian
dasar corong. Bagian bawah corong dihubungkan ke erlenmeyer vakum dengan
penutup karet. Bagian atas corong ditutup dengan aluminium foil dan akan dibuka
bila dilanjutkan dengan praktikum selanjutnya. Kemudian adsorben berupa silika gel
dimasukkan ke dalam kolom G3 setinggi 2,5 cm. Selanjutnya, ekstrak kurkumin dan
silica gel dicampur dalam mortir dengan perbandingan 1 : 1, lalu digerus hingga
diperoleh campuran padatan yang homogen. Kertas saring dipotong sesuai dengan
ukuran diameter corong dan diletakkan pada permukaan silika gel yang ada dalam
corong G3. Campuran padatan ekstrak kurkumin dan silica gel ditempatkan di
bagian atas kertas saring pada kolom dan diratakan permukaannya dengan mengetuk
dinding kolom menggunakan jari. Kemudian pada permukaan atas kolom G3
dilapisi lagi dengan kertas saring yang dipotong sesuai ukuran kolom G3.
Selanjutnya dilakukan pengelusian menggunakan campuran eter dan etanol 70%
dalam perbandingan tertentu sesuai dengan tabel :
No. Ekstrak

Volume Campuran

Volume Eter

Volume Etanol

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

(mL)
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15

(mL)
15
14
13
12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

70%
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

19

Untuk menampung eluat digunakan tabung reaksi yang disangga dengan gabus
dilapisi aluminium foil dan ditampung ke dalam labu hisap. Eluen ditambahkan
secara perlahan ke dalam kolom vakum G3 sambil alat vakum dihidupkan. Biarkan
terelusi hingga eluennya habis terhisap sampai kolom kering. Keluarkan tabung
reaksi yang berisi eluat dari labu hisap. Eluat kemudian ditampung dalam botol vial
dan dibungkus dengan aluminium foil dan dilabeli. Ulangi percobaan di atas dengan
menggunakan campuran eluat sesuai perbandingan pada tabel. Setelah semua fraksi
terpisahkan, pelarutnya diuapkan dengan menggunakan penangas air sampai
diperoleh fraksi yang siap digunakan untuk analisis KLT.
Skema Percobaan Kromatografi Kolom G3 :
Corong disiapkan dan dilapisi dengan kertas saring pada bagian dasar corong
Bagian bawah corong dihubungkan ke erlenmeyer vakum dengan penutup karet
Bagian atas corong ditutup dengan aluminium foil
Adsorben berupa silika gel dimasukkan ke dalam kolom G3 setinggi 2,5 cm
Ekstrak kurkumin dan silica gel dicampur dalam mortir dengan perbandingan 1 : 1,
lalu digerus hingga diperoleh campuran padatan yang homogen
Letakkan kertas saring pada permukaan silika gel yang ada dalam corong G3.
Campuran padatan ekstrak kurkumin dan silica gel ditempatkan di bagian atas
kertas saring pada kolom dan diratakan permukaannya dengan mengetuk dinding
kolom menggunakan jari
Permukaan atas kolom G3 dilapisi lagi dengan kertas saring
Lakukan pengelusian menggunakan campuran eter dan etanol 70% dalam
perbandingan tertentu sesuai dengan tabel
Untuk menampung eluat digunakan tabung reaksi yang disangga dengan gabus
dilapisi aluminium foil dan ditampung ke dalam labu hisap

20

Biarkan terelusi hingga eluennya habis terhisap sampai kolom kering


Keluarkan tabung reaksi yang berisi eluat dari labu hisap. Eluat kemudian
ditampung dalam botol vial dan dibungkus dengan aluminium foil dan dilabeli
Ulangi percobaan di atas dengan menggunakan campuran eluat sesuai
perbandingan pada tabel
Setelah semua fraksi terpisahkan, pelarutnya diuapkan dengan menggunakan
penangas air sampai diperoleh fraksi yang siap digunakan untuk analisis KLT.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Kadar air Curcuma domestica = 7,5%
b. Susut pengeringan Curcuma domestica = 0,245 g
c. Bobot ekstrak kental Curcuma domestica dari maserasi = 2,298g
% rendemen yang diperoleh = 10,44%
d. Bobot ekstrak kental Curcuma domestica dari sokletasi = 1,83 g
e. KLT fraksi hasil dari kromatografi kolom basah

Faktor retensi (Rf)


1. Fraksi I

: 0; 0 ;0

2. Fraksi II

: 0,60; 0,68; 0,79

3. Fraksi III

: 0,58; 0,68; 0,78

4. Fraksi IV

: 0,58; 0,68; 0,78

5. Fraksi V

: 0,59; 0,68; 0,78

Warna spot dilihat dengan sinar UV 366 nm :


1. Fraksi I
: kuning
2. Fraksi II
: kuning
3. Fraksi III
: kuning
4. Fraksi IV
: kuning
5. Fraksi V
: kuning
f. KLT fraksi hasil dari kromatografi kolom G3
Faktor retensi (Rf)

21

1. Fraksi I

: 0,45; 0,51; 0,57; 0,63; 0,72; 0,79

2. Fraksi II

: 0,41; 0,47; 0,54; 0,61; 0,68; 0,78

3. Fraksi III

: 0,34; 0,44

4. Fraksi IV

: 0,44

5. Fraksi V

: 0,48

6. Fraksi VI

: 0,51

Warna spot dilihat dengan sinar UV 366 nm :


1. Fraksi I
: kuning kebiruan, kuning, kuning kebiruan, orange,
hijau, orange
: kuning kebiruan, kuning, kuning kebiruan, orange,

2. Fraksi II
3.
4.
5.
6.

biru, orange
: kuning kebiruan, kuning
: biru
: kuning kebiruan
: biru muda

Fraksi III
Fraksi IV
Fraksi V
Fraksi VI

4.2 Perhitungan
4.2.1 Penentuan Kadar Air Curcuma domestica
Diketahui : volume air yang tertampung pada tabung penerima = 7,5 ml;
volume toluen jenuh = 200 ml; berat zat = 1 gr.
Ditanya : kadar air = ...
Jawab :
7,5ml
Kadar air =

100ml 7,5%
1gr

4.2.2 Pembuatan Pelarut untuk Maserasi


Diketahui : bobot serbuk curcumin = 5 g; bj alkohol = 0,8 g/ml
Ditanya : volume pelarut yang diperlukan = 46,4 ml
Jawab :
Bobot pelarut yang diperlukan = 5 g x 7,5 = 37,5 g

22

Volume pelarut etanol 70 % yang diperlukan =


= 42,43 ml
4.2.3 Penentuan Bobot Ekstrak Kental Maserasi dan % Rendemen
Diketahui :
bobot total = 51,478 gram ; bobot cawan = 50,956 gram
Ditanya : bobot ekstrak kental =
% Rendemen = ...
Jawab:
Bobot ekstrak kental = bobot total bobot cawan
= 51,478 gram - 50,956 gram
= 0,522 g
% Rendemen =

x 100 %

= 10,44 %
4.2.3 Pembuatan Ekstrak Dengan Metode Sokletasi
Berat ekstrak = (Berat cawan porselin + ekstrak kental ) - Berat
cawan porselin kosong
= 52,786 g -50,956 g
= 1,83 g
% rendemen = berat ekstrak kental

x100 %

berat serbuk curcumin


1,83g

= 5 g x100%
= 36,6%
4.2.4 Pembuatan Eluen pada Kromatografi Kolom
Diketahui : perbandingan campuran pelarut kloroform:benzene:etanol 96%
= 45:45:10; volume campurn pelarut = 220 ml.
Ditanya : volume masing masing pelarut =.ml
Jawab :

23

Volume kloroform =
Volume benzena =

45
220ml 99ml
100

45
220ml 99ml
100

Volume etanol 96% =

10
220ml 22ml
100

4.2.5 Pembuatan Eluen pada KLT


Diketahui : perbandingan campurn pelarut kloroform:benzene:etanol 96%
= 45:45:10; volume campurn pelarut = 50 ml.
Ditanya : volume masing masing pelarut =.ml
Jawab :
Volume kloroform =
Volume benzena =

45
50ml 22,5ml
100

45
50ml 22,5ml
100

Volume etanol 96% =

10
50ml 5ml
100

4.2.6 Perhitungan Harga Rf KLT Kolom Basah


a. Fraksi III
1. Rf spot 1 =

5,4
0,60
9

2. Rf spot 2=

6,1
0,68
9

3. Rf spot 3=

7,1
0,79
9

b. Fraksi V
1. Rf spot 1 =

5,2
0,58
9

2. Rf spot 2=

6,1
0,68
9

3. Rf spot 3=

7,0
0,78
9

24

c. Fraksi VII
1. Rf spot 1 =

5,2
0,58
9

2. Rf spot 2=

6,1
0,68
9

3. Rf spot 3=

7,0
0,78
9

d. Fraksi IX
1. Rf spot 1 =

5,3
0,59
9

2. Rf spot 2=

6,1
0,68
9

3. Rf spot 3=

7,0
0,78
9

4.2.7 Perhitungan Harga Rf KLT Kolom G3


i.

Fraksi I
1. Rf spot 1 =
2. Rf spot 2=

5,1
0,51
10

3. Rf spot 3=

5,7
0,57
10

4. Rf spot 4 =

ii.

4,5
0,45
10

6,3
0,63
10

5. Rf spot 5=

7, 2
0,72
10

6. Rf spot 6=

7,9
0,79
10

Fraksi II
1. Rf spot 1 =

4,1
0,41
10

25

2. Rf spot 2=

4,7
0,47
10

3. Rf spot 3=

5,4
0,54
10

4. Rf spot 4 =

6,1
0,61
10

5. Rf spot 5=

6,8
0,68
10

6. Rf spot 6=

7,8
0,78
10

iii.

Fraksi III
1. Rf spot 1 =
2. Rf spot 2=

iv.

3,9
0,39
10

4,4
0,44
10

Fraksi IV
1. Rf spot 1 =

v.

4,4
0,44
10

Fraksi V
1. Rf spot 1 =

vi.

4,8
0,48
10

Fraksi VI
1. Rf spot 1 =

5,1
0,51
10

4.3 Pembahasan
4.3.1 Penetapan Kadar Air Simplisia
Pada praktikum penetapan kadar air ini digunakan metode azeotrop, karena
sebagian besar senyawa berupa senyawa hidrat atau mengandung air dalam bentuk
terserap (Anonim c, 1995). Pada metode ini digunakan toluena jenuh air agar
toluene tidak menyerap air yang terkandung dalam simplisia Curcuma domestica.
Proses pembuatan toluena jenuh air dilakukan

dengan

cara mencampurkan

26

sejumlah toluena dan air ke dalam corong pisah sambil dilakukan pengocokan
sampai terbentuk dua fase. Fase yang ditampung adalah fase bagian atas karena
berat jenis toluena lebih kecil daripada berat jenis air. Menurut Farmakope Indonesia
Edisi IV (1995), bahwa berat jenis toluena adalah 0,860 gram/ml sedangkan berat
jenis air adalah 1,000 gram/ml. Kemudian toluena jenuh air yang diperoleh diukur
dengan gelas ukur. Apabila belum mencapai volume yang dibutuhkan 100 ml, maka
langkah ini diulang sampai diperoleh toluena jenuh air sebanyak 100 ml. Serbuk
simplisia Curcuma domestica sebanyak 1 gram ditimbang dan dimasukkan ke dalam
labu, kemudian ditambahkan 100 ml toluena jenuh air. Sementara itu alat destilasi
azeotrop dirangkai. Bagian dalam labu pendingin dicuci dengan toluena jenuh air.
Bagian labu pendingin dicuci dengan toluena dengan tujuan agar toluena tidak
mengandung senyawa lain. Labu dipanaskan dpada suhu 550 o C selama 30 menit.
Diketahui titik didih air adalah 100oC sedangkan titik didih toluena adalah 109o-111
o

C. Sehingga pada saat suhu mencapai 550o C air akan menguap lebih cepat

dibandingkan dengan toluena. Toluena mendidih, disuling dengan kecepatan kurang


lebih 2 tetes per detik. Kemudian tabung penerima dibiarkan sampai dingin. Setelah
air dan toluena memisah sempurna dibaca volume air dan dihitung kadar air dalam
persen.
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kadar air adalah lebih dari 7,5 ml.
Batas pengukuran maksimum volume air pada alat destilasi azeotrop adalah 7,5 ml
sehingga tidak dilanjutkan kembali karena telah dapat dipastikan bahwa kadar air
Curcuma domestica lebih dari 7,5 ml. Dari hasil perhitungan diperoleh volume air
dalam 1 gram serbuk simplisia Curcuma domestica adalah 7,5%. Karena batas
maksimum volume air yang diukur dengan menggunakan azeotrop adalah 7,5 ml,
dimungkinkan bahwa kadar air pada simplisia Curcuma domestica sebanyak 1 gram
adalah lebih dari 7,5 %. Pada literature disebutkan bahwa batas kadar air simplisia
Curcuma domestica sebesar 10%. Namun dari hasil percobaan yang telah dilakukan
belum dapat dipastikan apakah kadar air dalam simplisia lebih besar dari kadar air
yang ditetapkan pada literatur (Anonim b, 1993).
4.3.2 Penetapan Susut Pengeringan Simplista
Pada praktikum isolasi flavonoid curcumin dari Curcuma domestica,
dilakukan uji susut pengeringan simplisia. Prosedur ini digunakan untuk menetapkan

27

jumlah semua jenis bahan yang mudah menguap dan hilang pada kondisi tertentu
( Anonim c, 1995 ).
Prosedur ini diawali dengan penaraan botol timbang dangkal bersumbat kaca
dan dimasukkan ke oven pada suhu 1050C selama 30 menit dalam keadaan tertutup.
Botol timbang dan sejumlah bahan yang telah dimasukkan ke dalam oven selama 30
menit dengan sumbat terbuka, perlu dimasukkan ke dalam desikator dengan tujuan
agar suhunya mencapai suhu kamar sebelum ditimbang ( Anonim c, 1995 ).
Botol timbang yang telah ditara memiliki berat 43,951 g, setelah dimasukkan
sampel curcumin sebanyak 2 g diperoleh berat 45,937 g. Dilakukan proses
pengeringan simplisia sebanyak tiga kali hal ini karena pada penimbangan yang
ketiga berat penimbangan yang diperoleh relatif konstan, pada proses pertama
diperoleh berat 45,706 g, proses kedua diperoleh berat 45,693 g dan proses ketiga
diperoleh berat 45,692 g. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa simplisia
mengalami penyusutan sebanyak 0,245 g.
4.3.3 Ekstraksi Senyawa Aktif pada Curcuma domestica
4.3.3.1 Maserasi
Maserasi merupakan salah satu cara ekstraksi yang paling sederhana. Proses
ini dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama
waktu tertentu. Pada praktikum ini, proses maserasi dilakukan dengan merendam
serbuk curcumin, dengan etanol 70% v/v sebagai cairan penyarinya. Pemilihan
etanol 70 % v/v sebagai cairan penyari karena karena curcumin larut dalam etanol
70%. Selain itu etanol 70% memiliki beberapa keunggulan diantaranya cukup stabil
secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah
terbakardan tidak mempengaruhi zat aktif dari curcumin.
Proses perendaman dilakukan selalam 4 hari dengan pengadukan setiap
harinya. Tujuan dari dilakukannya pengadukan adalah untuk mengoptimalkan proses
ekstraksi. Selama proses perendaman, cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif curcumin. Zat aktif akan
larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel
dengan di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Proses ini berulang
sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

28

Setelah 4 hari, maserat kasar disaring dengan kertas saring. Penyaringan ini
bertujuan untuk memisahkan serbuk curcumin dengan cairan penyari yang telah
melarutkan zat aktif. Kemudian maserat diendapkan kembali selama 3 hari. Hasil
maserasi kemudian diuapkan hingga diperoleh esktrak kental.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rendemen ekstrak hasil maserasi curcumin
sebesar 10,44%. Persen rendemen yang dihasilkan ini relatif rendah. Kemungkinan
hal ini disebabkan karena larutan ekstrak telah mencapai titik jenuh mengingat
proses maserasi cukup lama. Adapun proses maserasi dilakukan selama 4
hari.Semakin lama waktu ektraksi semakin tinggi rendemen yang dihasilkan samapi
batas 6 jam karena kesempatan bersentuhan antara bahan dan pelarut semakin besar
dan lewat dari 6 jam rendemen ekstrak menurun kemungkinan hal ini terjadi karena
larutan sudah mencapai titik jenuh (Suryandari, 1981). Demikian halnya dengan
kehalusan bahan, semakin halus bahan yang digunakan semakin tinggi rendemen
yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena permukaan bahan semakin luas sehingga
memperbesar terjadinya kontak antara partikel serbuk curcumin dengan pelarut.
4.3.3.2 Sokletasi
Metode sokletasi dalam proses ekstraksi ini memiliki beberapa keuntungan
seperti, siklus pelarut berlangsung secara kontinyu sehingga pelarut yang digunakan
lebih sedikit dan menghasilkan ekstrak curcumin yang optimum karena pelarutnya
mengalir

dan

mengalami

kejenuhan

sehingga

hasil

penyariannya

lebih

optimum(Stahl, 1985). Hal ini yang menyebabkan hasil ekstrak dari sokletasi lebih
banyak dibandingkan dengan maserasi. Metode ini dapat digunakan pada jumlah
sampel dan waktu yang singkat. Zat yang akan diekstrak merupakan suatu zat tahan
panas sehingga metode ini dipandang sebagai metode yang tepat.
Percobaan ini diawali dengan penyiapan serbuk Curcuma domestica
sebanyak 5 gram. Sebelum dimasukkan ke dalam perangkat sokhlet, serbuk
dibungkus dengan kertas saring. Dalam pembungkusan diusahakan agar tidak terjadi
kebocoran, sehingga tidak ada serbuk yang keluar dan mengganggu proses isolasi.
Pelarut yang digunakan pada ekstraksi ini adalah etanol 70% dimana pelarut
ini mempunyai dua kutub yang berbeda saling berdekatan CH 3 dan OH. Dengan
pelarut ini diharapkan semua senyawa terekstrak (Gandjar, 2007).
Selama proses ekstraksi tersebut terjadi 3 kali sirkulasi, dimana pada setiap
sirkulasi pelarut yang menguap akan turun kembali menyari sampel dan hal ini

29

berlangsung secara kontinyu. Pada akhir proses sokhletasi diperoleh ekstrak cair.
Ekstrak cair yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselen.
Selanjutnya ekstrak diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental. Setelah ditimbang
berat yang diperoleh adalah 1,83 gram. Sehingga diperoleh persen rendemen 36,6 %.
4.3.4 Isolasi Senyawa Aktif
Isolasi senyawa aktif curcumin dilakukan dengan 2 metode yaitu
kromatografi kolom biasa cara basah dan kromatografi cair vakum.
4.3.4.1 Kromatografi Kolom Basah
Pada pembuatan kolom kromatografi dengan cara basah, menggunakan eluen
dengan campuran Kloroform : Benzena : Etanol 96% dengan perbandingan 45 : 45 :
10. Benzene adalah pelarut yang tingkat kepolarannya terendah dalam campuran ini
sedangkan etanol bersifat paling polar. Tujuan mengkombinasikan pelarut adalah
untuk mengisolasi senyawa-senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak kental
kunyit, baik yang bersifat polar maupun non polar.
Adsorben yang digunakan adalah silica gel yang bersifat polar, karena kolom
dibuat dengan cara basah maka silica gel dilarutkan terlebih dahulu dengan eluennya
hingga menjadi bubur adsorben. Selanjutnya, kolom diisi dengan eluen secukupnya
untuk memudahkan dalam memasukkan glass wool ke dasar kolom. Glass wool
berfungsi untuk menopang absorben. Bubur silica gel dimasukkan ke dalam kolom
secara hati-hati melalui dinding kolom sehingga adsorben jatuh perlahan. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya gelembung udara, karena adanya
gelembung udara dapat merusak kolom yang akan mempengaruhi hasil pemisahan.
Semakin panjang kolom, maka efisiensi pemisahan akan semakin besar. Ini berarti,
kemampuan untuk memisahkan komponen komponen dalam suatu campuran akan
lebih baik. Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-O-Si dan silanol (Si-OH).
Gugus silanol bersifat sedikit asam dan polar karena mampu membentuk ikatan
hidrogen dengan solut-solut yang agak polar sampai sangat polar (Gandjar dkk,
2007). Kolom didiamkan selama 7 hari untuk mendapatkan kolom yang kompak dan
dapat menghasilkan pemisahan yang baik. Dilakukan penambahan eluen yang cukup
agar kolom tidak kering.

30

Selanjutnya dilakukan pemisahan dengan menggunakan kolom yang telah


siap digunakan. Ekstrak kental dilarutkan

dahulu dengan etanol 70% untuk

mempermudah memasukkan ekstrak kental ke dalam kolom. Cuplikan dimasukkan


melalui pinggiran kolom memutar secara perlahan agar tidak merusak kolom.
Setelah

cuplikan

mencapai

permukaan

kolom,

dilakukan

pengembangan

kromatogram dengan mengalirkan eluen melalui dinding kolom. Teknik pengelusian


yang digunakan yaitu cara isokratik dimana campuran pelarut yang digunakan untuk
keseluruhan pengerjaan kromatografi sama. Cuplikan akan terpartisi diantara fase
diam dan fase geraknya karena perbedaan migrasi antara komponen-komponen
akibat perbedaan distribusi pada dua fase yang tidak saling bercampur. Masingmasing komponen dalam campuran mengalami adsorpsi dan desorpsi pada fase
diam dan karenanya mengalami perlambatan dengan tingkat berbeda-beda sesuai
dengan daya ikat masing-masing terhadap/kolom.
Penampungan eluat dikerjakan secara manual karena fraksi yang diperoleh
merupakan larutan berwarna. Fraksi ditampung dalam sepuluh botol vial dengan
volume masing-masing vial sebanyak 5 ml, dengan kecepatan penetesan eluat 130
tetes per menit.
4.3.4.2 Kromatografi Cair Vakum
Perbandingan hasil tidak dapat dilakukan dengan kolom G3 karena
menggunakan pelarut yang berbeda. Isolasi senyawa aktif dengan kromatografi
kolom cair vakum, menggunakan pelarut eter-etanol 70%. Eter bersifat non polar
sedangkan etanol bersifat polar. Percobaan dimulai dengan mengelusi ekstrak kental
dengan menggunakan pelarut yang paling nonpolar sampai dengan pelarut yang
polar. Hal ini dilakukan karena jika dipakai pelarut polar terlebih dahulu, senyawa
nonpolar bisa ikut terekstrak sehingga ketika ekstraksi selanjutnya yang
menggunakan pelarut nonpolar

hanya diperoleh senyawa nonpolar sisa. Untuk

fraksi pertama digunakan pelarut eter-etanol 70% dengan perbandingan 15:0 yang
diharapkan mampu untuk mengelusi senyawa senyawa nonpolar. Pada fraksi
kedua digunakan pelarut eter-etanol 70% dengan perbandingan 14:1 dan pada fraksi
ketiga digunakan pelarut eter-etanol 70% dengan perbandingan 13:2. Demikian
seterusnya sehingga pada fraksi terakhir digunakan pelarut eter-etanol 70% dengan
perbandingan 0:15 untuk melarutkan senyawa yang polar. Dengan cara seperti ini
diharapakan semua senyawa baik yang polar maupun yang non polar dapat terelusi.

31

Kolom G3 diisi dengan silica gel yang sebelumnya telah dilapisi kertas
saring pada dasar kolom G3. Pelapisan dengan kertas saring bertujuan agar silika
gel yang ditambahkan tidak bocor ke dalam isap. Pelapisan kertas saring di bagian
permukaan adsorben sebelum penambahan cuplikan bertujuan agar lapisan adsorben
dan lapisan cuplikan tidak bercampur. Pelapisan kertas saring di bagian permukaan
cuplikan kembali dilakukan untuk menghindari kerusakan setempat pada kolom
akibat penuangan pelarut yang berulang (Stahl, 1985). Pompa vakum dihubungkan
ke bagian labu hisap untuk menghisap kolom hingga kering. Pengelusian dilakukan
dengan menuangkan campuran pelarut yang non polar (fraksi I) ke permukaan
kolom, kemudian dilanjutkan dengan campuran pelarut yang kepolarannya semakin
meningkat yaitu dari fraksi II sampai fraksi XI. Senyawa-senyawa yang bersifat non
polar akan lebih mudah larut pada campuran pelarut yang non polar, sedangkan
senyawa-senyawa yang bersifat polar akan lebih mudah larut pada campuran pelarut
yang polar (Beaker, 1965). Pada percobaan diperoleh 16 fraksi dengan tingkat
kepolaran yang berbeda. Fraksi-fraksi tersebut kemudian akan dianalisis lebih lanjut
dengan penggunaan KLT. Pada kromatografi lapis tipis, fraksi fraksi hasil dari
metode kolom basah dan G3 tidak dapat dibandingkan meskipun nantinya saat
proses elusi KLT menggunakan pelarut yang sama.
Keuntungan penggunaan metode vakum cair dibanding kromatografi kolom
basah lebih praktis dan efisien serta memiliki kelebihan elusi yang cepat dan bebas
dari gas gas luar (udara luar) karena bantuan pompa vakum. Berbeda dengan
kolom G3, metode kolom basah cenderung kompleks, dan membutuhkan waktu
yang lama untuk melakukan proses elusi ( Stahl, 1985).
4.3.5 Identifikasi Senyawa Curcumin
4.3.5.1 Kromatografi Lapis Tipis
Masing-masing fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom biasa cara
basah diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang akan digunakan untuk KLT.
Pada teknik kromatografi lapis tipis fase diamnya berupa lapisan tipis adsorben yang
dilekatkan pada permukaan penyangga datar. Fase gerak yang digunakan adalah
campuran pelarut Benzena : Kloroform : Alkohol 96 % dengan perbandingan 45 : 45
: 10. Selanjutnya, dilakukan penjenuhan chamber yang bertujuan agar tekanan dalam
chamber sama sehingga jalannya sampel tersebut lurus, untuk memperkecil
penguapan pelarut dan menghasilkan bercak yang lebih bundar dan lebih baik

32

(Beaker, 1965). Dari 10 fraksi yang diperoleh, yang ditotolkan pada plat KLT adalah
fraksi nomor 1, 3, 5, 7, 9. Ekstrak ditotolkan pada ujung salah satu plat (kira-kira 1
cm dari ujung plat) dengan menggunakan pipet mikro. Totolan dibuat sekecil
mungkin agar spot yang dihasilkan tidak besar/luas, tidak berekor atau tailing,
karena hal ini akan menghasilkan pemisahan yang kurang sempurna (Beaker, 1985).
Dan hasil totolan pada plat KLT dikeringkan dengan diangin-anginkan sebelum
dikembangkan dengan eluen juga untuk menghindari diameter totolan yang besar.
Plat KLT tidak boleh disentuh langsung dengan jari-jari tangan karena keringat
dapat menyebabkan kekacauan pada kromatogram (menggangu analisis). Selajutnya,
plat KLT diletakkan pada chamber kromatografi yang telah dijenuhan. Kemudian
solven akan melewati spot sampel dan membawa komponen-komponen sampel
melalui fase diam. Garis terakhir yang dicapai oleh pelarut terdepan saat proses
pengembangan dihentikan disebut tepi depan pelarut. Proses pergerakan fase gerak
yang menghasilkan pemisahan pemisahan disebut pengembangan. Pada praktikum
ini digunakan metode pengembangan ascending development. Plat KLT ditata secara
vertical sedemikian rupa sehingga ujung bagian bawahnya terendam dalam solven
pada dasar chamber dan jangan sampai merendam titik spot sampel. Solven naik
pada kertas plat karena adanya aksi kapiler.
Kromatografi lapis tipis dilakukan untuk identifikasi adanya senyawa
curcumin pada masing-masing fraksi yang didapat dari kromatografi dengan metode
kolom basah dan kolom cair vakum. Dari kromatografi kolom basah didapatkan 10
fraksi sedangkan dari kromatografi cair vakum didapatkan 16 fraksi.
Adapun pendeteksian noda hasil dari KLT ini dilakukan secara fisika yaitu
dengan cara meradiasi plat KLT dengan sinar UV dengan panjang gelombang 366
nm. Digunakannya metode ini karena senyawa curcumin merupakan senyawa yang
dapat berfluoresensi pada plat KLT. Hasil yang di dapat yaitu semua spot
berfluoresensi kuning yang menunjukkan positif adanya senyawa curcumin.
Dari 5 fraksi yang digunakan untuk KLT terdapat 1 fraksi yang tidak
menghasilkan noda yaitu fraksi nomor 1, karena curcumin bersifat cukup polar
maka akan tertahan kuat ke dalam adsorben silika gel ini, akibatnya curcumin tidak
berada dalam fraksi awal. Hal ini dapat dilihat dari warna fraksi 1 yang paling muda
dibandingkan fraksi yang lain. Pada fraksi 3 diperoleh 3 spot dengan nilai Rf
masing-masing yaitu 0,60, 0,68, 0,79. Pada fraksi 5 diperoleh 3 spot dengan nilai Rf

33

masing-masing 0,58, 0,68, 0,78. Pada fraksi 7 diperoleh 3 spot dengan nilai Rf
masing-masing 0,58, 0,68, 0,78. Pada fraksi 9 juga diperoleh 3 spot dengan nilai Rf
masing-masing 0,59, 0,68, 0,78. Dengan membandingkan harga Rf yang dihasilkan
dari masing-masing fraksi, dapat dilihat bahwa komponen yang terkandung pada
masing-masing fraksi adalah sama. Harga Rf senyawa curcumin standar diperoleh
dari literatur sebesar 0,4-0,45 (Stahl). Harga Rf dari masing-masing spot yang
diperoleh dari percobaan tidak sesuai dengan harga Rf curcumin standar, hal ini
disebabkan karena fase gerak yang digunakan berbeda, kondisi percobaan yang
berbeda, misalnya isolasi dengan pelarut yang berbeda sebelum dielusi. Harga Rf
spot yang diperoleh dari percobaan melebihi harga Rf senyawa standar curcumin.
Hal ini menunjukan adanya senyawa curcumol (0,52-0,53; 0,57-0,60; 0,62-0,66;
0,71-0,74), dl turmerone (0,800,85), dan ar-curcumone (0,87 0,90),

(Anonim

b,1993).
Pengerjaan kromatografi lapis tipis dari fraksi kolom G3, sama dengan KLT
dari fraksi kolom basah. Adapun harga Rf dari masing-masing spot yaitu: pada fraksi
1 yang dihasilkan 0,45 ; 051 ; 0,57; 0,63 ; 0,72; 0,79. Fraksi 2 diperoleh 0,41; 0,47;
0,54; 0,61; 0,68; 0,78. Fraksi 3 diperoleh 0,39; 0,44. Fraksi 4 diperoleh 0,44. Fraksi
5 diperoleh 0,48. Fraksi 6 diperoleh 0,51. Dilihat dari harga Rf senyawa standar
curcumin, spot 1 pada fraksi 1, spot 1 pada fraksi 2, spot 2 fraksi 3, dan spot 1 fraksi
4 masuk dalam rentang harga Rf senyawa standar curcumin. Dilihat dari hasil KLT
fraksi yang dihasilkan pada metode kolom basah dan vakum cair, diperoleh hasil
pemisahan yang lebih pada kromatografi vakum cair. Fraksi yang diperoleh dari
metode vakum cair mengandung senyawa curucumin yang dapat dilihat dari harga
Rf spotnya, sedangkan pada fraksi yang diperoleh dengan metode pemisahan kolom
basah tidak ada satupun spot yang menunjukkan harga Rf yang termasuk senyawa
standar curcumin. Hal ini disebabkan karena kromatografi vakum cair menggunakan
eluen dengan tingkat kepolaran yang berbeda (perbandingan pelarut bervariasi),
sehingga senyawa yang terekstrak lebih banyak. Disamping itu, prinsip kerja
kromatografi cair vakum berbeda dengan kolom basah, dimana pada kromatografi
G3 tardapat vakum yang akan menyebabkan hasil pemisahan menjadi lebih baik
(Stahl, 1985).

34

BAB V
KESIMPULAN
1. Susut pengeringan serbuk Curcuma domestica yaitu sebesar 0,245 gram.
2. Kadar air Curcuma domestica sebesar 7,5%.
3. Ekstraksi dengan metode sokhletasi menghasilkan ekstrak kental yang lebih
banyak daripada dengan metode maserasi karena proses sokhletasi
berlangsung secara kontinyu.
4. Pemisahan dengan menggunakan kromatagrafi kolom G3 menghasilkan
pemisahan yang lebih baik daripada kromatografi kolom biasa.
5. Harga Rf pada kromatografi kolom biasa dengan cara basah tidak masuk
pada rentang harga Rf senyawa standar curcumin (Rf 0,400,45), tetapi
masuk pada rentang harga Rf senyawa curcumol, turmerone, ar-curcumone.
6. Harga Rf dari fraksi kromatografi G3 berada pada rentang harga Rf senyawa
standar curcumin, sehingga dapat dikatakan fraksi hasil pemisahan G3
mengandung senyawa curcumin.

35

DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta : Departemen Kesehatan
RI.
Anonim b. 1993. Standard of Asean Herbal Medicine Volume 1. Jakarta : Asean
Countries
Anonim c. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
RI.
Anonim d. 2008. Curcumin.
Available at : http://www.fao.org/ag/agn/jecfaadditives/specs/Monograph1/Additive-140.pdf
Opened at : Thursday, 20th November 2008
Beacker, C.A. and R.C. Bakhuizen van den Brink. 1965. Flora of Java Volume II.
Nedherland : Noordhoff Groningen N.V.P.
Dalimartha, Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan dan Obat Indonesia. Indonesia :
Trubus Agrowidya.
Gandjar, I.G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Sthal, Ergon. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. ITB.
Bandung.
Suryandari, S. 1981. Pengambilan Oleoresin Jahe dengan cara Solvent Extraction.
BBIHP. Bogor.
Van Steenis, C.G.G.L. 2005. Flora. Cetakan ke-10. Jakarta : PT Pradnya Paramitha.

36

37