Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT : GANGGUAN PENYESUAIAN (F43.2)


LAPORAN KASUS : GANGGUAN CAMPURAN
ANXIETAS DEPRESI (F41.2)

Oleh:
Muh. Ilham Hidayat
110 207 102
Pembimbing:
dr. Nur Asyik
Supervisor:
Dr. Theodorus Singara, Sp.KJ (K)
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Muh. Ilham Hidayat

NIM

: 110 207 102

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Universitas Muslim Indonesia

Judul Referat

: Gangguan Penyesuaian (F43.2)

Laporan Kasus : Gangguan Campuran Anxietas Depresi (F41.2)


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Mei 2014

Pembimbing

Koas

dr. Nur Asyik

Muh. Ilham Hidayat

Supervisor

Dr. Theodorus Singara, Sp.KJ (K)

DAFTAR ISI

Lembar pengesahan

.....................................................................................i

Daftar Isi

.....................................................................................ii

I.Pendahuluan
.....................................................................................1
II.
Prevalensi
.....................................................................................1
III.
Etiopatomekanisme .....................................................................................2
IV.
Gejala dan Tanda .....................................................................................3
V.
Diagnosis
.....................................................................................5
VI.
Penatalaksanaan
.....................................................................................6
VII. Prognosis
.....................................................................................8
VIII. Prevensi dan Rehabilitasi ............................................................................8
Daftar Pustaka

.....................................................................................10

GANGGUAN PENYESUAIAN (F43.2)


(Muh. Ilham Hidayat, Nur Asyik, Theodorus Singara)

I.

PENDAHULUAN
Gangguan penyesuaian merupakan gangguan non-psikotik terkait stres yang
berlangsung singkat. Ketidaknyamanan, penderitaan, kekacauan pasien signifikan,
dan konsekuensinya (misalnya potensi bunuh diri) sangat penting.1
Gangguan penyesuaian (Adjustment disorder) merupakan gangguan jiwa
yang paling sering dijumpai pada pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit untuk
penyakit medik ataupun operasi, namun jarang ada penelitiannya.2
Gangguan penyesuaian didefinisikan sebagai gejala-gejala emosional atau
perilaku yang bermakna secara klinis dan terjadi sebagai respon terhadap satu atau
lebih stresor yang nyata.2
Gejala-gejala timbul dalam tiga bulan terjadinya stresor dan menghilang
dalam waktu 6 (enam) bulan setelah tak ada stresor.2
Gangguan ini dapat dijumpai pada semua usia dan lebih sering pada
remaja.2
Prevalensi diperkirakan 2 8% dari populasi umum. Suatu penelitian di
Amerika, mendapatkan 5 20% pasien dewasa yang berobat di poliklinik jiwa
menderita gangguan penyesuaian, sedangkan 70% anak yang dirawat di klinik
jiwa menderita gangguan penyesuaian. Pada rumah sakit umum prevalensinya
bisa mencapai 20% dengan penyakit fisik merupakan stresor primer pada 70%
kasus.2,3
Pada orang dewasa, perempuan dengan gangguan penyesuaian jumlahnya
dua kali daripada laki-laki. Berbeda dengan pada anak dan remaja, baik pada
perempuan maupun laki-laki, prevalensi gangguan tersebut adalah sama.2

II.

PREVALENSI
Menurut DSM-IV-TR, prevalensi gangguan ini diperkirakan dari 2 sampai 8

persen dari populasi umum. Perempuan didiagnosis dengan gangguan ini dua kali
daripada laki-laki, dan perempuan secara pribadi umumnya sangat dipresentasikan
sebagai yang paling rentan berisiko. Pada anak-anak dan remaja, laki-laki dan
perempuan secara seimbang didiagnosis dengan gangguan penyesuaian.

Gangguan ini dapat terjadi pada berbagai umur, tapi paling sering didiagnosis
pada remaja. Di antara remaja dari salah satu jenis kelamin, umumnya stres
adalah masalah di sekolah, penolakan dan perceraian orang tua, dan
penyalahgunaan zat. Di antara orang dewasa, pemicu stres adalah masalah
pernikahan, perceraian, pindah pada lingkungan yang baru, dan masalah
keuangan.4
Gangguan penyesuaian merupakan diagnosis gangguan jiwa yang paling
umum untuk gangguan pasien yang dirawat di rumah sakit dan dengan masalah
bedah. Dalam suatu penelitian, 5 persen dari orang yang terdaftar di rumah sakit
lebih dari 3 tahun diklasifikasikan sebagai penyandang gangguan penyesuaian. Di
atas 50 persen dari orang dengan masalah kesehatan spesifik atau dengan stresor
telah didiagnosis dengan gangguan penyesuaian. Selanjutnya, 10 sampai 30
persen kesehatan mental pasien rawat jalan dan di atas 12 persen pasien rawat
inap yang diarahkan untuk konsultasi kesehatan mental telah didiagnosis dengan
gangguan penyesuaian.4
III.

ETIOPATOMEKANISME
Gangguan penyesuaian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stresor.

Walaupun adanya stresor merupakan komponen esensial dari gangguan


penyesuaian, namun stres adalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan
berkembangnya, jenis dan luasnya psikopatologi. Hingga sekarang, etiologi belum
pasti dan dapat dibagi atas beberapa faktor sebagai berikut:2,5
1. Genetik
Pada seseorang dengan temperamen yang tinggi dan atau ansietas cenderung
lebih bereaksi terhadap suatu peristiwa yang memicu terjadinya stres dan
kemudian dapat terjadi gangguan penyesuaian. Ada penelitian mendapatkan
bahwa berbagai peristiwa kehidupan dan stresor ada korelasi pada anak kembar,
dan pada kembar monozigotik konkordans lebih tinggi dibandingkan dengan
dizigotik.
2. Biologik
Kerentanan yang besar dengan riwayat penyakit medis yang serius atau
disabilitas.
3. Psikososial

Kerentanan yang besar pada individu yang kehilangan orang tua pada masa
bayi atau mereka yang ada pengalaman buruk dengan ibu, kemampuan
mentoleransi frustasi dalam hidup individu dewasa berhubungan dengan kepuasan
dari kebutuhan dasar hidup masa bayi.
Ada faktor intrinsik penting yang memodulasi dampak dari peristiwa
menyedihkan. Perkembangan kognitif dan emosional dan pra-stres diri dan tingkat
dukungan psikososial semuanya memediasi reaksi anak stres. Karena anak-anak
sering menghubungkan peristiwa yang tidak terkait sebagai fenomena sebab dan
akibat, mereka mungkin merasa bersalah dan tertekan atas kejadian yang tidak
terkendali bahwa mereka tidak menyebabkannya.5
Pada umumnya individu dengan gangguan ini dapat mengalami resolusi
gejala-gejala atau di lain pihak justru berkembang menjadi penyakit yang lebih
berat. Yang akut adalah apabila gangguan dialami selama kurang dari 6 bulan dan
yang kronik bila gangguan ada selama 6 (enam) bulan atau lebih. Pasien
kebanyakan akan kembali berfungsi sebagai semula dalam kurun waktu 3 bulan.
Ada pula yang kemudian menderita gangguan mood dan gangguan yang
berhubungan dengan zat. Para remaja membutuhkan waktu pulih lebih lama
daripada orang dewasa.2
IV.

GEJALA DAN TANDA


DSM-IV-TR menyatakan bahwa gejala-gejala gangguan penyesuaian timbul

dalam 3 (tiga) bulan awitan stresor dan memenuhi sekurang-kurangnya kriteria


berikut:2
1. Penderitaan yang berlebih dibandingkan dengan yang diharapkan dari
respom terhadap stresor.
2. Hendaya yang bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau akademik.
Adapun gejala-gejala yang tidak perlu timbul segera setelah adanya stresor,
dapat dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan setelah stresor. Demikian pula gejalagejala tidak segera mereda setelah stresor berhenti. Apabila stresor berlanjut,
gangguan pun dapat menetap selama hidup.2
Ada 6 tipe gangguan penyesuaian dengan gejala-gejala yang predominan:2
a. Dengan afek depresif
Manifestasi yang menonjol adalah gejala-gejala afek depresif, putus
harapan, mudah menangis.
b. Dengan ansietas

Adanya gejala-gejala gelisah, khawatir, cemas dan tidak tenang. Pada anakanak ada ketakutan berpisah dari orang tua, menolak untuk tidur sendiri dan
masuk sekolah.
c. Dengan campuran ansietas dan afek depresi
d. Dengan gangguan tingkah laku
Mencakup gangguan tingkah laku seperti membolos, mencuri, mengebut,
berperilaku merusak, seks yang tidak wajar dan tidak pada tempatnya.
Mereka dapat melanggar hak-hak azasi orang lain, melakukan pelanggaran
aturan dan hukum tanpa penyesalan.
e. Dengan campuran gangguan emosi dan tingkah laku:
Mencakup gabungan antara perubahan tingkah laku dan perasaan depresi
dan ansietas.
f. YTT (Yang tak Tergolongkan)
g. Mencakup mereka yang kurang dapat beradaptasi terhadap stres dan gejalagejala yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori spesifik di
atas. Misalnya respon terhadap diagnosis penyakit fisik dengan mengingkari
dan adanya ketidakpatuhan berobat dan atau menjauh dari kontak sosial.
Beberapa studi mendapatkan bahwa gejala-gejala depresi paling sering
ditemukan. Data menunjukkan bahwa 76% dari pasien gangguan penyesuaian
menderita depresi.2
Gejala fisik lebih sering terdapat pada anak-anak dan usia lanjut. Keluhan
lain dapat berupa insomnia, juga suicide (bunuh diri).2
V.

DIAGNOSIS
Diagnosis dibuat berdasarkan suatu evaluasi pskiatrik yang komprehensif

dengan wawancara.2
Dengan mengetahui sejarah pasien yang lengkap, termasuk identifikasi dari
stresor sebagai pencetus gangguan penyesuaian dan mengevaluasi respon terhadap
stresor.2
Kriteria diagnostik menurut DSM-IV-TR2
A. Perkembangan gejala-gejala emosional dan tingkah laku sebagai respon
terhadap suatu stresor atau lebih: stresor yang terjadi di dalam waktu 3
bulan awitan.
B. Gejala-gejala atau tingkah laku bermakna secara klinis ditandai oleh salah
satu dari hal berikut:
1) Penderitaan yang jelas melebihi apa yang diharapkan dari pemaparan
stresor.
4

2) Hendaya yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau


akademik.
C. Gangguan tersebut berhubungan dengan stres dan tidak memenuhi kriteria
untuk gangguan Aksis I spesifik lain, serta tidak semata-mata suatu
eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II yang telah ada sebelumnya.
D. Gejala-gejala tidak mencerminkan kondisi berkabung.
E. Jika stresor (dan konsekuensinya) telah berhenti, gejala-gejala tidak
menetap selama lebih dari 6 bulan lagi.
Sebutkan (dalam penulisan diagnosis) jika:
Akut : jika gangguan berlangsung kurang dari 6 (enam) bulan.
Kronis : jika gangguan berlangsung selama 6 (enam) bulan atau lebih.
Gangguan penyesuaian dituliskan berdasarkan subtipe, yang ditentukan
menurut gejala-gejala yang predominan. Stresor spesifik dapat dituliskan
pada aksis IV.
Jadi, setelah penulisan gangguan penyesuaian, harus dituliskan: dengan
suasana perasaan (mood) depresi; dengan Ansietas; Dengan campuran anxietas
dan depresi; Dengan gangguan tingkah laku; dengan campuran gangguan emosi
dan tingkah laku; yang terakhir yaitu yang tidak ditentukan.2
Menurut ICD 10, awitan gangguan penyesuaian dalam 1 (satu) bulan setelah
terjadinya peristiwa yang merupakan stresor atau perubahan dalam hidup, dan
lamanya gejala-gejala biasanya tidak melebihi 6 (enam) bulan, kecuali dalam
kasus reaksi depresi berkepanjangan. Gangguan penyesuaian dikelompokkan
bersama kategori Reaksi Stres Akut dan Gangguan Stres Pasca Trauma.2
VI.

PENATALAKSANAAN
a. Psikoterapi:1,2,3
Adalah pilihan utama; intervensi ini dapat dengan psikoterapi psikodinamik,
kognitif, perilaku, suportif, konseling. Secara individual ada kesempatan
untuk mengeksplorasi makna stresor bagi pasien sehingga trauma masa
kecil dapat diselesaikan dan akan membantu memperbaiki distorsi kognitif,
perlu memberikan dukungan yang cukup, terutama pertolongan praktis
seperti bantuan pengasuhan anak, dukungan keuangan, pekerjaan, dan
kontak dengan kelompok dukungan tertentu agar adaptasi bisa maksimal,
berbagai alternatif untuk mengatasi (coping) dan empati.
Ventilasi atau verbalisasi perasaan dapat berguna dalam mencegah perilaku
maladaptif seperti isolasi sosial, perilaku destruktif, atau bunuh diri.
5

Adakalanya setelah melewati psikoterapi yang berhasil, pasien sembuh


menjadi orang yang lebih kuat dibandingkan premorbid.
Terapis perlu memperhatikan kemungkinan timbulnya keuntungan sekunder
yang dapat menyulitkan terapi. Adapun peran sakit dari orang normal dapat
diartikan sebagai kesempatan terbebas dari tanggung jawab misalnya dari
segi hukum, petugas berwenang atau sekolah.
Perhatian terapis, empati dan pengertian yang merupakan syarat suksesnya
terapi dapat merupakan reward bagi pasien sehingga gejala semakin kuat.
Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan sebelum melakukan psikoterapi
yang intensif, karena apabila pasien telah merasakan keuntungan sekunder,
terapi selanjutnya akan sulit.
Terapi kelompok bermanfaat bagi kelompok pasien yang mengalami
peristiwa yang sama misalnya para pensiunan, atau pasien yang mengalami
dialisis karena kegagalan fungsi ginjal. Terapi lainnya dapat berupa terapi
keluarga, biofeedback, teknik relaksasi, hipnosis.
Intervensi krisis, suatu terapi singkat bertujuan untuk membantu pasien
mengatasi situasi dengan cepat secara suportif, sugestif, reassurance,
manipulasi lingkungan dan hospitalisasi bila diperlukan.
Usaha yang harus dilakukan untuk membantu pasien dan keluarga mereka
memahami bahwa gangguan penyesuaian terjadi ketika stresor psikologis
menantang kemampuan individu untuk mengatasinya. Stresor bisa apa saja
di mana penting bagi pasien.
Setiap individu bereaksi berbeda terhadap situasi, tergantung tingkat
kepentingan dan intensitas peristiwa, kepribadian dan temperamen, usia, dan
kesejahteraan orang. Dengan demikian, gangguan penyesuaian bisa terjadi
akibat satu peristiwa atau mungkin akibat dari serangkaian peristiwa yang
menguras sumber daya individu. Pasien harus didorong untuk mengakui
kepentingan keperibadian dari peristiwa stres.
Pasien dan keluarga harus diyakinkan bahwa efek emosional dan fisik dari
peristiwa stres bersifat alami, sering merupakan reaksi yang sembuh sendiri.
Gejala terkait stres biasanya berlangsung hanya beberapa hari atau pekan.
Pasien umumnya berharap untuk kembali ke tingkat fungsi sebelumnya.
Bahkan jika gejala awal mereka parah. Pasien harus didorong untuk

mengidentifikasi kerabat, teman, dan sumber daya masyarakat yang dapat


memberikan dukungan selama periode akut.
b. Farmakoterapi2,6
Medikasi dengan obat-obatan harus diberikan untuk waktu yang singkat,
tergantung dari tipe gangguan penyesuaian, dapat diberikan pengobatan
efektif.
Pemberian antiansietas berguna untuk pasien dengan kecemasan, tetapi
hindarilah ketergantungan obat seperti benzodiazepine.
Antidepresi dapat diberikan bila dijumpai adanya depresi, misalnya SSRI.
Antidepresan sangat efektif dalam pengobatan depresi dalam perawatan
primer dan dapat menjadi terapi yang efektif dan efisien untuk gangguan
penyesuaian dengan mood depresif.
Bila ada psikosis dapat diberikan antipsikotika.
Perlu diketahui bahwa intervensi farmakologik adalah sebagai augment
psikoterapi dan bukan sebagai terapi primer.
VII.

PROGNOSIS
Dengan terapi yang efektif, prognosis pada umumnya adalah baik.

Kebanyakan pasien kembali ke fungsi semula dalam waktu 3 (tiga) bulan.1


Ada gangguan penyesuaian yang berlangsung sementara dan dapat sembuh
sendiri atau setelah mendapat terapi.2
Remaja membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih kembali dibandingkan
dengan orang dewasa. Terdapat penelitian follow-up setelah 5 tahun mendapatkan
71% pasien dewasa dan 40 % remaja sembuh tanpa gejala residual, 21% dewasa
dan 45% remaja berkembang menjadi gangguan depresi mayor, gangguan
kecemasa atau alkoholisme.2,7
Pada remaja prognosis kurang baik, karena 43% menderita Gangguan
Skizofrenia

dengan

Gangguan

Skizoafektif,

Depresi

Mayor.

Gangguan

Penyalahgunaan zat, serta Gangguan kepribadian. Adapun risiko bunuh diri cukup
tinggi.2
VIII. PREVENSI DAN REHABILITASI
Sampai sekarang prevensi terhadap timbulnya gangguan penyesuaian belum
banyak diketahui. Pada banyak kasus, prevensi terhadap stresor sebagai pencetus
gangguan penyesuaian adalah jarang.2

Suatu strategi prevensi yang dapat berguna pada banyak pasien adalah
pembelajaran proaktif tentang mengatur stres hidup yang biasanya dan
memaksimalkan kemampuan mengatasi problem tidak dalam kritis. Terapi yang
sesuai dapat mencegah berbagai gangguan mental yang serius seperti
penyalahgunaan zat, gangguan depresi mayor, bunuh diri.2

DAFTAR PUSTAKA
1. Frank J. Adjusment Disorder (Updated on 2014 Februari 3). Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/2192631-overview
2. Kandou JE. Gangguan Penyesuaian. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G,
Buku Ajar Psikiatri, ed. ke-2. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2013. Hal. 317
321.
3. Maramis WF, Maramis AA. Gangguan Penyesuaian. Dalam: Maramis WF,
Maramis AA, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, ed. ke-2. Surabaya: Pusat
Penerbitan dan Percetakan AUP. 2009. Hal. 322.
4. Sadock BJ, Sadock VA. Adjustment Disorders. In: Sadock BJ, Sadock VA,
Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences / Clinical
Psychiatry, 10th Ed. New York : Lippincott Williams & Wilkins. 2007. Pp.
787 790.
5. Stubbe D. Adjustment Disorder. In: Stubbe D, Child and Adolescent
Psychiatry : A Practical Guide, 1st Ed. New Haven : Lippincott William &
Wilkins. 2007. Pp. 160 161.
6. Hameed U, Schwartz TL, Malhotra Kamna, et al. Antidepressant Treatment
in the Primary Care Office : Outcomes for Adjusment Disorder Versus
Major Depression.
7. Kupfer DJ, Horner MS, Brent DA, et al. Anxiety and Stress-Related

Disorders. In: Kupfer DJ, Horner MS, Brent DA, et al, Oxford American
Handbook of Psychiatry, 1st Ed. New York : Oxford University Press. 2008.
Pp. 426 428.