Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Jaringan distribusi adalah bagian dari sistem tenaga lsitrik yang paling dekat dengan
pelanggan. Ditinjau dari volume fisiknya jaringan distribusi pada umumnya lebih panjang
dibandingkan dengan jaringan transmisi dan jumlah gangguannya (sekian kali per 100 km
pertahun) juga paling tinggi dibandingkan jumlah gangguan pada saluran saluran
transmisi. Jaringan distribusi terdiri dari jaringan distribusi tegangan menengah (JTM) dan
jaringan distribusi tegangan rendah (JTR). Jaringan distribusi tegangan menengah
mempunyai tegangan antara 3 kV sampai 20 kV. Pada saat ini PLN hanya mengembangkan
jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV. Jaringan distribusi tegangan menengah
sebagian besar berupa saluran udara tegangan menengah dan kabel tanah. Sebagian besar
gangguan pada SUTM disebabkan oleh sentuhan pohon, karena saluran ini banyak berada di
dalam kota yang memiliki bangunan-bangunan tinggi dan pohon-pohon yang lebih tinggi
dari tiang saluran udara tegangan menengah. Hal inilah yang menyebabkan saluran udara
tegangan menengah yang ada di dalam kota banyak terlindung terhadap sambaran petir
tetapi banyak diganggu oleh sentuhan pohon.
Pada saat terjadi gangguan ketidak normalan pada sistem tenaga listrik, misalnya adanya
arus lebih, tegangan lebih, dan sebagainya, maka perlu diambil suatu tindakan untuk
mengatasi kondisi gangguan tersebut. Jika dibiarkan, gangguan itu akan meluas keseluruh
sistem sehingga bisa merusakkan semua peralatan system tenaga listrik yang ada. Untuk
mencegah dan menghindari gangguan, maka ada sistem proteksi yang dipasang pada saluran
distribusi.

Sistem proteksi disebut juga sebagai alat pengaman adalah suatu alat yang

berfungsi melindungi atau mengamankan suatu sistem penyaluran tenaga listrik dengan cara
membatasi tegangan lebih (over voltage) atau arus lebih (over current) yang mengalir pada
sistem tersebut, dan mengalirkannya ke tanah (ground). Dengan demikian alat pengaman
harus dapat menahan tegangan sistem agar kontinuitas pelayanan ke pusat beban (load
center) tidak terganggu hingga waktu yang tidak terbatas. Dan harus dapat melakukan atau
mengalirkan arus lebih dengan tidak merusak alat pengaman dan peralatan jaringan yang
lain.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan proteksi dan apa saja fungsi proteksi tersebut pada sistem
saluran distribusi ?
2. Bagaimana persyaratan kualitas pada sistem proteksi saluran distribusi ?
3. Apa saja peralatan proteksi sistem proteksi saluran distribusi ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui pengertian dan fungsi proteksi yang digunakan pada system saluran
distribusi.
2. Untuk mengetahui persyaratan kualitas pada sistem proteksi saluran distribusi, sehingga
bisa memperhatikan mutu dan kualitas alat pengaman.
3. Untuk mengetahui peralatan proteksi yang dipasang pada saluran distribusi.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI PROTEKSI
2.1.1 Pengertian Proteksi
Sistem pengaman tenaga listrik merupakan sistem pengaman pada peralatan peralatan yang terpasang pada sistem tenaga listrik, seperti generator, bus bar,
transformator, saluran udara tegangan tinggi, saluran kabel bawah tanah, dan lain
sebagainya terhadap kondisi ab-normal operasi sistem tenaga listrik tersebut.
Fungsi Proteksi
Sistem proteksi itu bermanfaat untuk:

2.1.2
1

Menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan akibat


gangguan (kondisi abnormal operasi sistem). Semakin cepat reaksi perangkat
proteksi yang digunakan maka akan semakin sedikit pengaruh gangguan kepada
kemungkinan kerusakan alat.

Cepat melokalisir luas daerah yang mengalami gangguan, menjadi sekecil


mungkin.

Dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada


konsumen dan juga mutu listrik yang baik.

4
2.2

Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

PERSYARATAN KUALITAS SISTEM PROTEKSI SALURAN DISTRIBUSI


Ada beberapa persyaratan yang sangat perlu diperhatikan dalam suatu perencanaan
sistem proteksi yang efektif, yaitu:

a Selektivitas dan Diskriminasi


Efektivitas suatu sistem proteksi dapat dilihat dari kesanggupan sistem dalam mengisolir
bagian yang mengalami gangguan saja.
b

Stabilitas
Sifat yang tetap inoperatif apabila gangguan-gangguan terjadi diluar zona yang
melindungi (gangguan luar).

Kecepatan Operasi

Sifat ini lebih jelas, semakin lama arus gangguan terus mengalir, semakin besar
kemungkinan kerusakan pada peralatan. Hal yang paling penting adalah perlunya
membuka bagian-bagian yang terganggu sebelum generator-generator yang dihubungkan
sinkron kehilangan sinkronisasi dengan sistem. Waktu pembebasan gangguan yang tipikal
dalam sistem-sistem tegangan tinggi adalah 140 ms. Dimana dimasa mendatang waktu ini
hendak dipersingkat menjadi 80 ms sehingga memerlukan relai dengan kecepatan yang
sangat tinggi (very high speed relaying).
d

Sensitivitas (kepekaan)
Yaitu besarnya arus gangguan agar alat bekerja. Harga ini dapat dinyatakan dengan
besarnya arus dalam jaringan aktual (arus primer) atau sebagai prosentase dari arus
sekunder (trafo arus).

Pertimbangan ekonomis
Dalam sistem distribusi aspek ekonomis hampir mengatasi aspek teknis, oleh karena
jumlah feeder, trafo dan sebagainya yang begitu banyak, asal saja persyaratan keamanan
yang pokok dipenuhi. Dalam suatu sistem transmisi justru aspek teknis yang penting.
Proteksi relatif mahal, namun demikian pula sistem atau peralatan yang dilindungi dan
jaminan terhadap kelangsungan peralatan sistem adalah vital.

Realiabilitas (keandalan)
Sifat ini jelas, penyebab utama dari outage rangkaian adalah tidak bekerjanya proteksi
sebagaimana mestinya (mal operation).

Proteksi Pendukung
Proteksi pendukung (back up) merupakan susunan yang sepenuhnya terpisah dan yang
bekerja untuk mengeluarkan bagian yang terganggu apabila proteksi utama tidak bekerja
(fail). Sistem pendukung ini sedapat mungkin indenpenden seperti halnya proteksi utama,
memiliki trafo-trafo dan rele-rele tersendiri. Seringkali hanya triping CB dan trafo -trafo
tegangan yang dimiliki bersama oleh keduanya. Tiap-tiap sistem proteksi utama
melindungi suatu area atau zona sistem daya tertentu. Ada kemungkinan suatu daerah
kecil diantara zona -zona yang berdekatan misalnya antara trafo-trafo arus dan circuit
breaker-circuit breaker tidak dilindungi.

2.3

PERALATAN SISTEM PROTEKSI SALURAN DISTRIBUSI

2.3.1

Switch
a Pengertian dan Fungsi
Switch adalah peralatan listrik yang berfungsi untuk memisahkan bagianbagian saluran jaringan tegangan menengah (JTM) dan juga digunakan untuk
menyalurkan daya. Alat pengaman ini biasanya dipasang di sekitar gardu
distribusi (ujung jaringan tegangan menengah).
Gambar dan Karakteristik

Karakteristiknya switch yang terpenting dalam pemakaianya :


-

Tahan terhadap tegangan rated 50 c/s yang tidak

boleh dilampaui.
Batas termis dimana

kemampuan

untuk

mengalirkan arus surja dalam waktu yang lama


atau terjadi berulang ulang.

Gambar 1. Switch
2.3.2 Disconnecting Switch
a

Pengertian dan Fungsi


Disconnecting Switch adalah peralatan proteksi pada saluran distribusi atau
disebut sebagai sakelar pemisah (PMS) yang berfungsi mengisolasikan peralatan
listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang bertegangan. PMS ini boleh
dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tidak berbeban. PMS adalah
suatu saklar yang digunakan untuk memisahkan atau menghubungkan bagianbagian yang bertegangan satu sama lain tanpa beban. Pada saat penyulangan
mengalami masalah, maka pemisah ini akan bekerja untuk memindahkan
penyulang tersebut ke rel lain, agar penyulang tersebut tetap teraliri arus listrik.
PMS ini ada yang bergerak secara otomatis dan manual.
b. Gambar dan Karakteristik

1
2

Karakteristiknya PMS yang terpenting dalam pemakaianya :


PMS tidak boleh dioperasikan dalam keadaan berbeban.
PMS digunakan pada rangkaian arusnya rendah ( 5 A)
3 Saklar pemisah (SP) tidak dapat ditutup sebelum pemutus daya (PD) terkunci
pada posisi terbuka.

Saklar pembumian (SB) dapat ditutup hanya pada saat saklar pemisah terkunci

pada posisi terbuka dan tidak ada busur api.


Saklar pemisah dapat ditutup hanya saat pemutus daya dan saklar pembumian

dalam keadaan terbuka.


Pemutus daya hanya dapat ditutup setelah semua saklar pmisah terkunci dalam
posisi tertutup atau dalam posisi terbuka.

Gambar 2. Disconnecting Switch


2.3.3
a

Load Break Switch


Pengertian dan Fungsi
Saklar pemutus

beban

(LSB)

digunakan

untuk

memutuskan

dan

memisahkan jaringan dari saluran utama. Saklar pemutus beban dibedakan atas
dua jenis, yaitu saklar dengan kontak di udara dan kontak di dalam minyak. Pada
perkembangannya saklar pemutus udara disempurnakan menjadi saklar pemutus
b

beban (Load Break Switch).


Gambar dan Karakteristik
Karakteristiknya LBS dalam pemakaianya :
1 Dapat digunakan sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban
2
3

nominal.
Tidak dapat memutuskan jaringan dengan sendirinya pada waktu ada gangguan

listrik.
Dibuka dan ditutup hanya untuk memanipulasi.

Gambar 3. Load and Break Switch


2.3.4

Circuit Breaker
a Pengertian dan Fungsinya
Circuit Breaker atau juga disebut sebagai saklar pemutus tenaga (PMT)
adalah suatu peralatan pemutus rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik,
yang mampu untuk membuka dan menutup rangkaian listrik pada semua kondisi,
termasuk arus hubung singkat, sesuai dengan ratingnya. Juga pada kondisi
tegangan yang normal ataupun tidak normal.berfungsi untuk menghubungkan dan
memutuskan rangkaian pada saat berbeban (pada kondisi arus beban normal atau
pada saat terjadi arus gangguan). Pada waktu menghubungkan atau memutus
beban, akan terjadi tegangan recovery yaitu suatu fenomena tegangan lebih dan
busur api, oleh karena itu sakelar pemutus dilengkapi dengan media peredam
busur api tersebut, seperti media udara dan gas SF6.
b Gambar dan Karakteristiknya
Karakteristiknya PMT yang terpenting dalam pemakaianya :
1 Mampu meyalurkan arus maksimum sistem secara terus menerus.
2 Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban maupun
terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus tenaga itu
3

sendiri.
Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi agar arus
hubung singkat tidak sampai merusak peralatan sistem, membuat sistem

kehilangan kestabilan, dan merusak pemutus tenaga itu sendiri.


Pemasangan PMT mempunyai batas ketinggian maksimum 1000 meter diatas
permukaan laut.

Gambar 4. Circuit Breaker


2.3.5

Automatic Circuit Recloser


a. Pengertian dan Fungsi
Automatic Circuit Recloser atau disebut juga sebagai Penutup Balik
Otomatis (PBO) adalah Alat perlindungan arus lebih berfungsi untuk memutuskan

saluran secara otomatis ketika terjadi gangguan dan akan segera menutup kembali
beberapa waktu kemudian sesuai dengan setting waktunya. Biasanya alat ini
disetting untuk dua kali bekerja, yaitu dua kali pemutusan dan dua kali
penyambungan . Apabila kerja recloser tidak kembali menutup, maka terjadi
gangguan permanen.
b. Gambar dan Karakteristik
Karakteristik PBO yang terpenting dalam pemakaianya :
1 Penggunaan sebagai pengaman saluran udara tegangan menengah dari arus
hubung singkat di jaringan dan terpasang setelah PMT out going penyulang 20
2

KV.
Maksimum dalam mengamankan jaringan 20 KV dari gangguna yang luas atau
memperkecil radius pemadaman akibat gangguan.

Gambar 5. Automatic Circuit Recloser


2.3.6

Automatic Line Sectionalizer


a. Pengertian dan Fungsi
Automatic Line Sectionalizer atau yang disebut saklar seksi otomatis (SSO)
adalah Pengaman cadangan dari CB atau bekerja tidak sendirian merupakan
sebuah alat pemutus beban yg secara otomatis dapat dibebankan, seksi-seksi yang
tergantung dari suatu sistem distribusi atau dapat melokalisasi gangguan pada seksi
yang terganggu, sehingga sistem yang tidak mengalami gangguan tetap mendapat
energi listrik. Sectionalizer adalah alat pengaman yang bekerja secara otomatis
memisahkan bagian yang terganggu dari sistem jaringan. Alat ini mempunyai
pendeteksi arus jaringan yang menggerakkan alat penghitung kerja pada alat
pengaman cadangan.
b. Gambar dan Karakteristiknya

Karakteristiknya PBO yang terpenting dalam pemakaianya :


1 Penginderaan : berdasarkan tegangan (AVS) atau berdasarkan Arus
2
Media pemutus : minyak, vacuum, gas SF6.
3
Kontrol : Hidraulik ataiu elektronik.
4
Phase : fasa tunggal atau fasa tiga.

Gambar 6. Automatic Line Sectionalizer


2.3.7

Alat Pengaman Celah Kecil


a Alat Pengaman Celah Batang (Rod Gap )
Alat pengaman celah batang (rod gap) merupakan alat pengaman paling
sederhana, yang terdiri dari dua batang logam dengan penampang tertentu. Batang
logam bagian atas diletakkan di puncak isolator jenis pos (post type insulator)
dihubungkan dengan kawat penghantar jaringan distribusi, sedangkan batang
logam bagian bawah diletakkan pada bagian dasar isolator jenis pos yang langsung
berhubungan dengan ground. Jarak celah kedua batang logam tersebut disesuaikan
dengan tegangan percikan untuk suatu bentuk gelombang tegangan tertentu.

Gambar 7. Rod Gap


b

Alat Pengaman Tanduk Api (Arching Horn )


Alat pengaman tanduk api ini diletakkan dikedua ujung isolator gantung atau
isolator batang panjang). Tanduk api dipasang pada ujung kawat penghantar dan
ujung isolator yang berhubungan langsung dengan ground (tanah) yang dibentuk
sedemikian rupa, sehingga busur api tidak akan mengenai isolator saat terjadi
loncatan api. Jarak antara tanduk atas dan bawah diatur sekitar 75-85 % dari

panjang isolator keseluruhan. Tegangan loncatan api untuk isolator gandengan


dengan tanduk api ditentukan oleh jarak tanduk tersebut.

Gambar 8. Arching Horn


c

Alat Pengaman Celah Sekring ( Fuse Rod Gap)


Alat pengaman celah sekring ini merupakan gabungan antara celah batang
(rod gap) dengan sekring yang dihubungkan secara seri. Penggabungan ini
digunakan untuk menginterupsikan arus susulan (power follow current) yang
diakibatkan oleh percikan api. Oleh sebab itu celah sekring mempunyai
karakteristik yang sama dengan celah batang, dan alat ini dapat menghindarkan
adanya pemutusan jaringan sebagai akibat percikan, serta memerlukan penggantian
dan perawatan sekring yang telah dipakai. Kecuali itu agar supaya penggunaannya
efektif harus diperhatikan juga koordinasi antara waktu leleh sekring dengan waktu
kerja rele pengaman.

Gambar 9. Fuse Rod Gap


d

Alat Pengaman Celah Kontrol ( Control Gap )


Alat pengaman celah kontrol terdiri dari dua buah celah yang diatur
sedemikian rupa, sehingga karakteristiknya mendekati celah bola ditinjau dari segi
lengkung volt-waktunya yang mempunyai karakteristik lebih baik dari celah
batang. Celah control ini dapat dipakai bersama atau tanpa sekring; meskipun alat

ini dapat dipakai sebagai perlindungan cadangan atau sekunder, dan dianggap
e

sekelas dengan celah batang.


Alat Pengaman Celah Tanduk ( Horn Gap )
Alat pengaman ini terbuat dari dua buah batang besi yang masing-masing
diletakkan diatas isolator. Celah yang dibuat oleh kedua batang besi itu, satu
batang dihubungkan langsung dengan kawat penghantar jaringan sedangkan yang
lainnya dihubungkan dengan sebuah resistor yang langsung terhubung ke ground
(tanah). Celah tanduk ini biasanya bekerja pada saat terjadi tegangan loncatan api
pada celahnya. Ketika tegangan surja mencapai 150 200 % dari tegangan
nominal jaringan, maka akan terjadi pelepasan langsung pada celah dan langsung
diteruskan ke ground melalui resistor. Fungsi dari celah tanduk ini untuk pemutus
busur api yang terjadi pada saat tegangan lebih. Busur api cenderung naik akibat
panas yang terlalu tinggi, juga disebabkan peristiwa arus loop sebesar mungkin
pada sisi lain membuat tembus rangkaian magnit maksimum.

Gambar 10. Horn Gap


2.3.8

Relay
Dalam saluran distribusi terdapat beberpa jeni relay diantaranya :
a

Relay Bucholz
Relay Bucholz adalah rele alat/rele untuk mendeteksi dan mengamankan
terhadap gangguan di dalam trafo yang menimbulkan gas. Gas yang timbul
diakibatkan oleh :
Hubung singkat antar lilitan pada/dalam phasa
Hubung singkat antar phasa
Hubung singkat antar phasa ke tanah
Busur api listrik antar laminasi
Busur api listrik karena kontak yang kurang baik.

Gambar 11. Relay Bucholz

Relay Tekanan Lebih


Relay ini berfungsi hampir sama seperti rele Bucholz, yakni mengamankan
terhadap gangguan di dalam trafo. Bedanya rele ini hanya bekerja oleh kenaikan
tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan P.M.T.

Gambar 12. Relay Tekanan Lebih


c

Relay Diferensial
Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan di dalam trafo antara lain flash
over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau
belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan.

Relay Tangki Tanah


Relay ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap hubung singkat
antara kumparan fasa dengan tangki transformator dan transformator yang titk
netralnya ditanahkan. Relay bekerja sebagai pengaman jika terjadi arus mengalir
dari tangki akibat gangguan fasa ke tangki atau dari instalasi bantu seperti motor
kipas, sirkulasi dan motor-motor bantu, pemanas dll. Pengaman arus ini sebagai
pengganti rele diferensial sebab sistem rele pengaman tangki biasanya dipasang
pada trafo yang tidak dilengkapi trafo arus disisi primer dan biasanya pada trafo

dengan kapasitas kecil. Trafo dipasang diatas isolator sehingga tidak terhubung
ke tanah kemudian dengan menggunakan kabel pentanahan yang dilewatkan
melalui trafo arus dengan tingkat isolasi dan ratio yang kecil kemudian
tersambung pada rele tangki tanah dengan ratio Trafo Arus(CT) antara 300 s/d
500 dengan sisi sekunder hanya 1 Amp. Berikut gambar rele gangguan tanah.

Gambar 13. Relay Tangki Tanah


e

Relay Suhu
Relay ini digunakan untuk mengamankan transformator dari kerusakan
akibatadanya suhu yang berlebihan. Ada 2 macam relay suhu pada transformator,
yaitu :
a. Relay Suhu Minyak Relay ini dilengkapi dengan sensor yang dipasang pada
minyak isolasi transformator. Pada saat transformator bekerja memindahkan
daya darisisi primer ke sisi sekunder, maka akan timbul panas pada
minyak isolasi, akibat rugi daya maupun adanya gangguan pada transformator.
b. Relay Suhu Kumparan Relay ini hampir sama dengan relay suhu minyak.
Perbedaannya terletak pada sensornya. Sensor relay suhu kumparan berupa
elemen pemanas yang dialiri arus dari transformator arus yang dipasang pada
kumparan-kumparan transformator.

Gambar 15. Rangkaian Relay Suhu dengan sensing temperature electronic

f. Relay Beban Lebih


Relay ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan
hubung singkat antar fasa di dalam maupun di luar daerah pengaman
transformator Juga diharapkan relay ini mempunyai sifat komplementer dengan
rele beban lebih. Relay ini berfungsi pula sebagai pengaman cadangan bagi
bagian instalasi lainnya.bentuk relay inidapat dilhat pada gambar pengawatannya
pada gambar di bawahnya.
g. Relay Arus Lebih
Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, ia akan bekerja
bila arus yang mengalir melebihi nilai settingnya ( I set ).
Prinsip kerja OCR pada dasarnya adalah suatu alat yang mendeteksi
besaran arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau
besaran yang boleh melewatinya disebut dengan setting.

Gambar 16. Relay Arus Lebih


h. Relay Gangguan Tanah
Relay gangguan ke tanah (Ground Fault Relay/GFR) adalah alat yang
berfungsi untuk mengamankan sistem dari arus lebih yang diakibatkan
adanya gangguan satu fasa ke tanah.

Gambar 17. Relay Gangguan Tanah


i Relay Jarak
2.3.9 Fuse Cut Out
b Pengertian dan Fungsi
Fuse cut out (sekring) adalah suatu alat pengaman yang melindungi jaringan
terhadap arus beban lebih (over load current) yang mengalir melebihi dari batas
maksimum, yang disebabkan karena hubung singkat (short circuit) atau beban
lebih (over load). Konstruksi dari fuse cut out ini jauh lebih sederhana bila
dibandingkan dengan pemutus beban (circuit breaker) yang terdapat di Gardu
Induk (sub-station). Akan tetapi fuse cut out ini mempunyai kemampuan yang
sama dengan pemutus beban tadi. Fuse cut out ini hanya dapat memutuskan satu
saluran kawat jaringan di dalam satu alat. Apabila diperlukan pemutus saluran
tiga fasa maka dibutuhkan fuse cut out sebanyak tiga buah. Penggunaan fuse
cut out ini merupakan bagian yang terlemah di dalam jaringan distribusi. Sebab
fuse cut out boleh dikatakan

hanya berupa sehelai kawat yang memiliki

penampang disesuaikan dengan besarnya arus maksimum yang diperkenankan


mengalir di dalam kawat tersebut. Pemilihan kawat yang digunakan pada fuse
cut out ini didasarkan pada faktor lumer yang rendah dan harus memiliki daya
c

hantar (conductivity) yang tinggi.


Gambar dan Karakteristiknya

Gambar 18. Fuse Cut Out


1

Karakteristiknya FCO yang terpenting dalam pemakaianya :


Faktor lumer ditentukan oleh temperature bahan.
2 Bahan yang digunakan adalah kawat perak, kawat tembaga, kawat seng,

kawat timbel atau kawat paduan dari bahan bahan tersebut.


3
Konduktivita kawat perak 60,0 mho/cm dengan temperature 960C.
2.3.10 Lightning Arrester
a Pengertian dan Fungsi
Biasa disebut dengan Arrester dan berfungsi sebagai pengaman instalasi
(peralatan listrik pada instalasi Gardu Induk) dari gangguan tegangan lebih akibat
sambaran petir (lightning Surge) maupun oleh surja hubung (Switching Surge).
Arrester adalah suatu alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap
surya petir. Alat pelindung terhadap gangguan surya ini berfungsi melindungi
peralatan system tenaga listrik dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang
datang dan mengalirkannya ke tanah. Berhubung dengan fungsinya itu ia harus
dapat menahan tegangan system 50 Hz untuk waktu yang terbatas dan harus dapat
melewatkan surja arus ke tanah tanpa mengalami kerusakan. Ia berlaku sebagai
jalan jalan pintas sekitar isolasi. Arrester membentuk jalan yang mudah untuk
dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi
pada peralatan. Selain melindungi peralatan dari tegangan lebih yang diakibatkan
oleh tegangan lebih external, arrester melindungi peralatan yang diakibatkan oleh
tegangan lebih internal seperti surja hubung, selain itu arrester merupakan kunci
dalam koordinasi isolasi suatu system tenaga listrik. Bila surja datang ke gardu
induk arrester bekerja melepaskan muatan listrik serta mengurangi tegangan
b

abnormal yang akan mengenai peralatan dalam gardu induk.


Karakteristik

Karakteristiknya Lighting Arrester yang terpenting dalam pemakaianya :


1
Tegangan rated (tegangan rata rata) 50 c/s yang tidak boleh dilampaui.
Sebagaimana diketahui bahwa arrester adalah suatu peralatan tegangan yang
menpunyai tegangan ratingnya. Maka jelaslah bahwa ia tidak boleh dikenakan
tegangan yang melebihi rating ini, maka didalam keadaan normal maupun
dalam keadaan abnormal. Oleh karena itu menjalankan funsingnya ia
menanggung tegangan system normal dan tegangan lebih transiens 50 c/s.
Karakteristik pembatasan tegangan impuls dari arrester adalah harga yang
dapat ditahan oleh terminal ketika melalukan arus arus tertentu dan harga ini
2

berubah dengan singkat baik sebelum arus mengalir maupun mulai bekerja.
Mempunyai karakteristik yang dibatasi oleh tegangan (voltage limiting) bila

dilalui oleh berbagai macam arus petir.


3 Batas termis
Untuk batas termis ialah kemampuan untuk mengalirkan arus surja dalam
waktu yang lama atau terjadi berulang ulang tanpa menaikan suhunya.
Meskipun kemampuan arrester untuk menyalurkan arus sudah mencapai
65.000 100.000 ampere, tetapi kemampuannya untuk melalukan surja
hubung terutama bila saluran menjadi panjang dan berisi tenaga besar masih
rendah. Maka agar supaya tekanan stress pada isolasi dapat dibuat serendah
mungkin, suatu system perlindungan tegangan lebih perlu memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
Dapat melepas tegangan lebih ke tanah tanpa menyebabkan hubung singkat

ke tanah ( saturated ground fault).


Dapat memutuskan aryus susulan.
Mempunyai tingkat perlindungan (protection level) yang rendah, artinya

tegangan percikan sela dan tegangan pelepasannya rendah.


Klasifikasi
1 Lightning Arrester Jenis Oksida Film
Dalam tabung porselin dari alat pengaman lightning arrester tipe oksida
film ini memiliki 2 ruang, yaitu : (1) ruang celah (gap chamber) dan (2) ruang
butiran oksida timah hitam. Ruang celah terbuat dari porselin annulus yang
berbentuk silinder, yang berisi sebuah pegas, lempengan cakram dan celah
elektroda. Lempengan cakram terdiri dari dua lempeng yang disatukan
(crimped), yang masing memiliki dimeter sebesar 19 cm dan tebal 1,59 cm.

Permukaan lempengan cakram dilapisi dengan film yang diisolasi dengan


vernis.
Ketika tegangan pelepasan (discharge voltage) mengalir ke ruang celah
melalui pegas, maka tegangan pelepasan akan menembus film yang berlapis
vernis diatas lempeng cakram. Apabila tegangan melebihi dari batas kekuatan
lempeng cakram per unit, loncatan busur api akan diteruskan ke celah
elektroda. Dan mengalir langsung ke ruang butiran oksida timah hitam. Panas
yang berkembang akibat busur api menyebabkan oksida timah hitam berubah
menjadi merah. Sehingga busur api akan padam dan energi yang tersisa akan
mengalir ke ground.
2

Lightning Arrester Jenis Thyrite

Thyrite adalah bahan campuran padat tak organik dari keramik alam,
yang mempunyai resistansi lebih cepat untuk mengurangi.Elemen kran (valve)
untuk arrester jenis thyrite ini terbuat dari bahan lempengan keramik yang
berkualitas baik, yang bertindak sebagai penghantar tegangan tinggi surja dan
memperlihatkan tahanan tinggi untuk tenaga jaringan (line energy). Pada
arrester thyriet magne-valve memperlihatkan arus petir lewat langsung
celah by-pass seri ke celah utama, dan oleh elemen thyrite ke ground. Jika
energi jaringan berusaha mengikuti energi petir, maka energi jaringan dibuat
untuk mengalirkan langsung ke lilitan seri, dan menciptakan medan magnit
cukup kuat untuk memadamkan busur api dari pelepasan arus petir.
Pemadaman ini bereaksi dengan cepat dan mengambil kedudukan kurang
lebih setengah gelombang energi jaringan.

Gambar 19. Lightning Arrester Jenis Thyrite


3

Lightning Arrester Jenis Katup (Valve)

Arrester jenis katup ini terdiri dari sela pecik terbagi atau sela seri yang
terhubung dengan elemen tahanan yang mempunyai karakteristik tidak linier.
Tegangan frekwensi dasar tidak dapat menimbulkan tembus pada sela seri.
Apabila sela seri tembus pada saat tibanya suatu surja yang cukup tinggi, alat
tersebut menjadi pengahantar. Sela seri itu tidak dapat memutus arus susulan.
Dalam hal ini dibantu oleh arrester tak linier yang mempunyai karakteristik
tahanan kecil untuk arus besar dan tahanan besar untuk arus susulan dari
frekwensi dasar terlihat pada karakteristik volt amper.

Gambar 20. Lightning


Arrester Jenis
Arrester jenis katup ini dibagi dalam empat jenis yaitu :
1) Arrester katup jenis gardu

Katup (Valve)

Arrester katup jenis gardu ini adalah jenis yang paling effisien dan juga
paling mahal. Perkataan gardu di sini berhubungan dengan pemakaiannya
secara umum pada gardu induk besar. Umumnya dipakai untuk melindungi
alat alat yang mahal pada rangkaian rangkaian mulai dari 2400 volt
sampai 287 kV dan tinggi.
2) Arrester katup jenis saluran
Arrester jenis saluran ini lebih murah dari arrester jenis gardu . kata saluran
disini bukanlah berarti untuk saluran transmisi. Seperti arrester jenis gardu,
arrester jenis saluran ini dipakai untuk melindungi transformator dan pemutus
daya serta dipakai pada system tegangan 15 kV sampai 69 kV.

Gambar 21. Arrester Katup Jenis Saluran


3) Arrester katup jenis gardu untuk mesinmesin
Arrester jenis gardu ini khusus untuk melindungi mesin mesin berputar.
Pemakaiannya untuk tegangan 2,4 kV sampai 15 kV.
4) Arrester katup jenis distribusi untuk mesinmesin
Arrester jenis distribusi ini khusus melindungi mesin mesin berputar seperti
di atas dan juga melindungi transformator dengan pendingin udara tanpa
minyak. Arrester jenis ini dipakai pada peralatan dengan tegangan 120 volt
sampai 750 volt.
4

Lightning Arrester Jenis Expulsion


Lightning arrester jenis expulsion ini mempunyai dua celah api, yang satu
berada diluar dan satu lagi berada dalam. Ketika terjadi tegangan lebih pada

jaringan maka pada elektroda batang sebagai celah api 1 akan terjadi loncatan
busur api (flshover). Loncatan busur api ini akan turun ke dalam tabung fiber
(fiber tube) diantara elektroda atas dan bawah yang merupakan celah api 2.
Temperatur pelepasan dari busur api akan menimbulkan tekanan dalam tabung
fiber, sehingga tabung fiber akan menghasilkan uap gas. Makin tinggi temperatur
busur api makin banyak uap gas yang dihasilkan. Uap gas yang dihasilkan oleh
tabung fiber akan bercampur dengan busur api, sehingga akan membinasakan
busur api dan mengusir uap gas yang tak berpenghantar ke luar tabung gas (vent).
Dengan demikian daya busur api akan cenderung mengikuti pelepasan peralihan
(transient discharge) ke ground tanpa ada kekuatan selama gelombang tegangan
lebih terakhir.

Gambar 22. Lightning Arrester Jenis Expulsion

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Sistem proteksi tenaga listrik merupakan sistem pengaman pada peralatan - peralatan
yang terpasang pada sistem tenaga listrik, seperti generator, bus bar, transformator,
saluran udara tegangan tinggi, saluran kabel bawah tanah, dan lain sebagainya terhadap
kondisi ab-normal operasi sistem tenaga listrik tersebut. Kondisi abnormal itu dapat
berupa antara lain: hubung singkat, tegangan lebih, beban lebih, frekuensi sistem rendah,
asinkron dan lain-lain.
2. Fungsi proteksi pada saluran distribusi yaitu antara lain : menghindari kerusakan
peralatan akibat gangguan yang terjadi, cepat melokalisir daerah gangguan secepat
mungkin, dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada
konsumen, dan yang terpenting adalah mengamankan manusia dari bahaya lisrik.
3. Dalam pemasangan sistem proteksi pada saluran distribusi dibutuhkan persyaratan yang
wajib dipenuhi agar efektif untuk digunakan, yaitu : selektivitas dan diskriminasi,
stabilitas, kecepatan operasi, sensitivitas (kepekaan), pertimbangan ekonomis, reabilitas
(keandalan), dan juga proteksi pendukung.
4. Peralatan proteksi pada saluran distribusi yaitu : switch, disconnecting switch, load break
switch, circuit breaker, automatic circuit recloser, automatic line sectionizer, alat
pengaman celah kecil, relay, fuse cut out, dan lightning arrester. Peralatan tersebut
memiliki fungsi masing masing dalam melakukan tugasnya sebagai pengaman saluran
distribusi.
3.2 SARAN
Demikian makalah tentang Peralatan Proteksi Saluran Distribusi yang telah saya buat.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan bisa dijadikan referensi untuk
pembahasan selanjutnya. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan, sehingga dimohon adanya kritik dan saran yang membangun, agar
makalah ini lebih bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Indra,
Muhammad.
2009.
Rele
Proteksi
Trafo
dan
Fungsinya.
http://qtop.wordpress.com/2009/06/01/rele-proteksi-trafo-dan-fungsinya/ diakses pada 9
September 2014.
Jauzie. 2014. Peralatan Proteksi Distribusi. http://www.scribd.com/doc/212579018/peraltanproteksi-distribusi diakses pada 9 September 2014.
Krisnaputra, Adi. 2014. Proteksi Distribusi. http://www.scribd.com/doc/225719402/11856863232717012-Proteksi-Distribusi diakses pada 9 September 2014.
Kurniawan,
Didi.
2013.
Sistem
Proteksi
Pada
Jaringan
Distribusi.
http://www.scribd.com/doc/150125364/Sistem-Proteksi-Jaringan-Distribusi diakses pada 9
September 2014.
Setiawan, Iqbal. 2013. Alat Pengaman Celah Jaringan Saluran Distribusi.
http://ezkhelenergy.blogspot.com/2013/11/alat-pengaman-celah-jaringan-distribusi.html
diakses pada 9 September 2014.
Sinaga,
Meta.
2012.
Jenis
Rele
Proteksi
pada
Trafo
Tenaga.
http://www.scribd.com/doc/85150960/Jenis-Rele-Proteksi-Pada-Trafo-Tenaga-AdalahSebagai-Berikut diakses pada 9 September 2014.
Wardana,
Aziz
Nurrochma.
2013.
Pengaman
Pada
Jaringan
Distribusi
http://www.scribd.com/doc/130833968/BAB-IV-Pengaman-Pada-Jaringan-Distribusi
diakses pada 9 September 2014.

Anda mungkin juga menyukai