Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sistem kelistrikan secara keseluruhan meliputi bagian pembangkitan, transmisi, dan

distribusi. Sistem distribusi yang berfungsi menyalurkan dan mendistribusikan energi


listrik ke konsumen perlu kualitas yang memadai. Berdasarkan informasi dari PT. PLN
(Persero) Jawa Timur, sebagian besar susut energi listrik terdapat pada jaringan distribusi.
Oleh karena itu susut pada sistem jaringan tersebut perlu diperhitungkan lebih teliti.
Untuk memperluas sistem jaringan distribusi, salah satu kriteria yang perlu
dipenuhi adalah efisiensi yang besar, tanpa mengabaikan aspek ekonomi. Efisiensi yang
baik akan dicapai bila susut energi dapat ditekan sekecil mungkin.
Susut pada sistem jaringan distribusi menjadi salah satu pertimbangan, baik dalam
perencanaan maupun pengoperasian, karena mempengaruhi biaya investasi (Bambang,
2001; Gonen, 1986; Sulasno, 2000). Pada umumnya, susut daya pada jaringan distribusi
berkisar 10% (APEI, 2003). Biasanya perhitungan susut energi pada sistem jaringan
distribusi dilakukan dengan menggunakan selisih energi terjual dengan yang diterima pada
setiap penyulang.
Mengingat pentingnya informasi mengenai besarnya susut pada suatu jaringan
distribusi yang dipergunakan dalam perencanaan pengembangan jaringan, maka studi
mengenai susut energi pada sistem jaringan distribusi perlu dilakukan.
Dalam perhitungan susut daya ini perlu dilakukan beberapa batasan, yaitu
perhitungan susut daya dikerjakan akibat adanya resistansi dari saluran udara dan saluran
kabel tegangan menengah sebagai sampel. Sedangkan susut daya akibat pengaruh

induktansi dan kapasitansi diabaikan. Dan susut akibat tegangan pada saluran, termasuk
akibat isolator atau isolasi kabel, tidak diperhitungkan.

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana analisa losses pada JTM ?
Bagaimana metode perbaikan lossesnya ?

Tujuan
Adapun tujuan dari laporan ini adalah :
Untuk mengetahui losses pada JTM di penyulang yang ditentukan.
Untuk mengetahui metode perbaikan losses pada JTM.

1.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK


Sistem distribusi adalah keseluruhan komponen dari sistem tenaga listrik yang
menghubungkan secara langsung antara sumber daya yang besar (Bulk Power Source)
dengan konsumen tenaga listrik. Sedangkan fungsinya adalah menyalurkan tenaga listrik

ke beberapa tempat (pelanggan) dan merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung
berhubungan dengan pelaggan.
2.1.1 Komponen Sistem Dstribusi
Secara umum yang termasuk komponen sistem distribusi antara lain [1]:
1. Gardu Induk
Gardu Induk merupakan unit di dalam sistem distribusi yang berfungsi untuk
menerima daya dari sistem transmisi untuk kemudian diteruskan ke sistem
distribusi. Di dalam Gardu Induk tegangan dari sistem transmisi (150kV-500kV)
akan diubah menjadi tegangan untuk distribusi (20kV),
2. Jaringan Subtransmisi
Jaringan subtransmisi merupakan jaringan yang berfungsi untuk mengalirkan daya
dari GI menuju gardu-gardu distribusi. Namun jaringan subtransmisi belum tentu
ada di seluruh sistem distribusi, karena jaringan subtransmisi merupakan jaringan
dengan tegangan peralihan. Seandainya pada jaringan transmisi tegangan yang
dipakai adalah 500 kV, maka setelah masuk GI tegangan akan menjadi 150kV
(belum termasuk tegangan untuk distribusi). Sehingga jaringan ini dinamakan
subtransmisi karena masih bertegangan tinggi.
3. Gardu Distribusi Utama
Gardu distribusi merupakan unit dalam sistem distribusi yang berfungsi untuk
menyalurkan daya listrik dari GI atau dari jaringan subtransmisi untuk kemudian
dislaurkan kepada penyulang primer atau langsung kepada konsumen.
4. Saluran Penyulang Utama
Saluran penyulang utama merupakan rangkaian yang berfungsi

untuk

menghubungkan antara gardu distribusi utama dengan gardu tranformator distribusi


atau menghubungkan Gardu Induk (GI) dengan transgormator distribusi.
5. Transformator Distribusi
Transformator Distribusi berada di dalam gardu-gardu distribusi. Berfungsi untuk
mengubah tegangan menengah (20kV) menjadi tegangan rendah (220/380V).
Kemudian daya dengan tegangan rendah tersebut disalurkan kepada konsumen.
6. Rangkaian Sekunder

Rangkaian Sekunder merupakan rangkaian yang berasal dari gardu-gardu distribusi


yang berfungsi untuk melayani konsumen yang tersebar di sepanjang simpulsimpul distribusi.

2.1.2 Karakteristik Sistem Distribusi


Sistem distribusi merupakan sistem terdekat dan langsung berhubungan ke pelanggan
listrik. Kualitas mutu listrik yang dikirimkan merupakan suatu keharusan untuk dijaga agar
tidak mengecewakan pengguna listrik. Parameter-parameter yang dapat digunakan untuk
menentukan kualitas dari sistem distribusi antara lain :
1. Kualitas Sistem.
Kualitas sistem erat kaitannya dengan tegangan yang sampai ke pelanggan dan
frekwensi dari sistem itu sendiri. Untuk tegangan di Indonesia yang berlaku untuk
tegangan rendah adalah 220V tegangan fasa ke tanah.
Kestabilan tegangan itu berada pada rentang -10% dan 5%. Oleh karena itu
diperlukan peralatan seperti Voltage Regulator untuk menjaga agar tegangan tetap
berada pada rentang kestabilannya. Sedangkan untuk frekuensi di Indonesia adalah
50 Hz. Frekuensi sistem ini tidak boleh berubah-ubah karena ini sangat
mempengaruhi peralatan listrik yang digunakan oleh pelanggan. Dimana jika
frekuensi sistem berada diatas atau dibawah 50 Hz maka peralatan listrik yang ada
di konsumen tidak dapat bekerja atau bahkan akan merusak peralatan listrik. Syarat
kestabilan frekuensi sistem adalah satu persen (1%).

2. Kehandalan Sistem
Sistem distribusi yang handal dapat menyalurkan listrik selama 24 jam penuh, tidak
mengalami gangguan sama sekali. Kontinuitas penyaluran tenaga listrik ke
pelanggan dapat diukur dengan jumlah gangguan yang terjadi dalam periode
tertentu. Selain dari jumlah gangguan yang terjadi lamanya gangguan juga dapat
dijadikan parameter dari kehandalan sistem. Kontinuitas penyaluran tenaga lisrik ke
konsumen seharusnya tidak sering mengalami pemutusan akibat adanya gangguan
ataupun hal-hal yang telah dirncanakan seperti pemeliharaan. Pada umumnya
kontinuitas penyaluran tenaga listrik yang berkualitas diprioritaskan untuk bebanbeban yang dianggap vital dan tidak dikehendaki sama sekali terjadinya
pemadaman, bila pemutusan dilakukan untuk pemeliharaan hendaknya pelanggan
mendapatkan informasi terlebih dahulu sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
3. Keselamatan Sistem dan Publik
Selain masalah penyaluran listrik beserta kehandalan dan kualitasnya, yang perlu
diperhatikan berikutnya adalah perlindungan terhadap penduduk (publik). Yang
dimaksudkan sebagai pengamanan terhadap penduduk (publik) adalah dengan
memberikan rambu-rambu pengamanan dan peringatan untuk masyarakat awam di
kawasan bertegangan tinggi yang dimaksudkan agar mengetahui akan bahaya
listrik. Sedangkan untuk keselamatan sistem diperlukan sistem pengamanan
(proteksi) yang baik dimana dapat melindungi peralatan dan jaringan dari
gangguan-gangguan yang terjadi. Pengaman yang baik meliputi sensitivitas yaitu
kemampuan untuk mendeteksi gangguan dan selektivitas kemampuan untuk
memilah bagian yang mengalami gangguan dan melepasnya dari sistem.
4. Pemeliharaan Sistem
Proses pemeliharaan penting adanya dikarenakan ini berkaitan dengan umur dari
peralatan-peralatan yang digunakan serta kualitas sistem tetap terjaga dengan baik.
Proses pemeliharaan ini harus berkala dilakukan dengan membuat jadwal
pemeliharaan baik pemeliharaan harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan.

Selain itu proses pemeliharaan ini penting adanya agar mengurangi resiko
terjadinya kegagalan atau kerusakan pada peralatan, mengurangi lama waktu
pemadaman akibat sering terjadinya gangguan dan meningkatkan keamanan
(safety) peralatan. Jenis pemeliharaan sendiri dapat dibedakan menjadi :
Predictive Maintenance (Conditional Maintenance)
Yaitu pemeliharaan yang dilakukan dengan memperkirakan waktu
terjadinya kerusakan atau kegagalan pada peralatan listrik. Dengan
memperkirakan kemungkinan terjadinya kegagalan, dapat diketahui tandatanda kerusakan secara dini. Proses pemeliharaan ini membutuhkan pekerja
dan peralatan yang mampu memantau dan menganalisis terjadinya
kerusakan. Pemeliharaan ini disebut juga dengan pemeliharaan berdasarkan

kondisi (conditional maintenance).


Preventive Maintenance (Time Base Maintenance)
Yaitu pemeliharaan yang dilakukan sebagai bentuk dari tindakan
pencegahan agar kerusakan alat tidak terjadi secara tiba-tiba. Selain itu,
pemeliharaan juga bertujuan untuk mempertahankan kinerja peralatan agar

sesuai dengan umur teknisnya.


Corrective Maintenance (Currative Maintenance)
Pemeliharaan yang dilakukan dengan memperbaiki serta menyempurnakan
peralatan yang mengalami gangguan. Agar peralatan listrik mampu bekerja
kembali secara optimal. Pemeliharaan ini disebut juga sebagai curative

maintenance yang berupa trouble shooting.


Breakdown Maintenance
Pemeliharaan yang dilakukan apabila terjadi gangguan yang mengakibatkan
peralatan tidak berfungsi dengan baik terjadi secara mendadak (waktunya
tidak menentu dan bersifat darurat).

2.2 PENYALURAN TENAGA LISTRIK


Terdapat dua cara dalam menyalurkan atau distribusi tenaga listrik ke daerah pemukiman,
antara lain melalui gardu-gardu distribusi atau melalui penyaluran setempat.

2.2.1 Gardu Distribusi


Penyaluran daya dengan menggunakan gardu distribusi sistem tiga fasa untuk jaringan
tegangan menengah (JTM) dan jaringan tegangan rendah (JTR) dengan transformator tiga
fasa dengan kapasitas yang cukup besar. Jaringan tegangan rendah ditarik dari sisi
sekunder transformator untuk kemudian disalurkan kepada konsumen. Sistem tiga fasa
tersedia untuk seluruh daerah pelayanan distribusi, walaupun sebagian besar konsumen
mendapat pelayanan distribusi tenaga listrik satu fasa. Jaringan tegangan menengah
berpola radial dengan kawat udara sistem tiga fasa tiga kawat. Sementara jaringan
tegangan rendah berpola radial dengan sistem tiga fasa empat kawat dengan netral. Gardu
distribusi sendiri dari instalasinya dapat dibedakan menjadi [2] :

Gardu Tembok (Gardu Beton)


Gardu hubung atau gardu trafo yang secara keseluruhan konstruksinya
terbuat dari tembok/beton.

Gardu Kios (Gardu besi)


Gardu hubung atau gardu trafo yang bangunan keseluruhannya terbuat dari
plat besi dengan konstruksi seperti kios.

Gardu Portal
Gardu hubung atau gardu trafo yang secara keseluruhan instalasinya
dipasang pada 2 buah tiang atau lebih.

Gardu Mobil
Gardu distribusi yang bangunan pelindungnya berupa sebuah mobil
(diletakkan diatas mobil), sehingga bisa dipindah-pindah sesuai dengan
tempat yang membutuhkan. Oleh karenanya gardu mobil ini pada umumnya
untuk pemakaian sementara (darurat), yaitu untuk mengatasi kebutuhan
daya yang bersifat temporer.

Pada setiap gardu distribusi umumnya terdiri dari empat ruang (bagian)
yaitu, bagian penyambungan/pemutusan sisi tegangan tinggi, bagian
pengukuran sisi tegangan tinggi, bagian trafo distribusi dan bagian panel
sisi tegangan rendah. Pada gardu beton dan gardu metal bagian-bagian
tersebut tersekat satu dengan lainnya, sedang pada gardu tiang panel
distribusi tegangan rendah diletakkan pada bagian bawah tiang. Pada gardu
distribusi, sistem pengaman yang digunakan umumnya berupa arrester
untuk mengantisipasi tegangan lebih (over voltage), kawat tanah (ground
wire) untuk melindungi saluran fasa dari sambaran petir dan sistem
pentanahan untuk menetralisir muatan lebih, serta sekring pada sisi
tegangan tinggi (fuse cut out) untuk memutus rangkaian jika terjadi arus
lebih (beban lebih).
2.2.2 Penyaluran Setempat
Penyaluran daya dengan menggunakan penyaluran setempat umumnya
digunakan pada daerah dengan kondisi beban perumahan ataupun beban
kantor/bisnis tidak terlalu besar, atau pada suatu daerah dengan tingkat
pertumbuhan beban yang tinggi. Untuk jaringan tegangan menengahnya
menggunakan sistem tiga fasa dengan percabangan satu fasa. Transformator
yang digunakan memiliki kapasitas yang kecil dan cenderung dekat dengan
konsumen. Jaringan tegangan menengah berpola radial dengan kawat udara
sistem tiga fasa tiga kawat bersama netral. Sementara jaringan tegangan
rendah berpola radial dengan sistem tiga fasa tiga kawat bersama netral.
2.3 TEGANGAN DISTRIBUSI
Tegangan untuk jaringan distribusi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain :
2.3.1 Tegangan Menengah (TM)

Tegangan menengah adalah tegangan dengan rentang nilai 1 kV sampai dengan 30 kV.
Untuk di Indonesia menggunakan tegangan menengah sebesar 20 kV. Tegangan menengah
dipakai untuk penyaluran tenaga listrik dari GI menuju gardu-gardu distribusi atau
langsung menuju pelanggan tegangan menengah.
2.3.2 Tegangan Rendah (TR)
Tegangan rendah adalah tegangan dengan nilai di bawah 1 kV yang digunakan untuk
penyaluran daya dari gardu-gardu distribusi menuju pelanggan tegangan rendah.
Penyaluran dilakukan dengan menggunakan sistem tiga fasa empat kawat yang dilengkapi
dengan netral. Di Indonesia menggunakan tegangan rendah 380/220V. Dengan 380V
merupakan besar tegangan antar fasa dan tegangan 220V merupakan tegangan fasa netral.

2.3.3 Tegangan Pelayanan


Tegangan Pelayanan merupakan ketetapan dari penyedia listrik untuk pelangganpelanggannya. Di Indonesia besarnya tegangan pelayanan pada umumnya antara lain :

380/220 V
220 V
6 kV
12 kV
20 kV

tiga fasa empat kawat


satu fasa dua kawat
tiga fasa tiga kawat
tiga fasa tiga kawat
tiga fasa tiga kawat

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini sistem distribusi mengarah kepada sistem
dengan tegangan yang lebih tinggi. Dengan sistem distribusi yang lebih tinggi ini, maka
sistem akan dapat membawa daya lebih besar dengan nilai arus yang sama. Arus yang
lebih kecil berarti jatuh tegangan yang lebih kecil, rugi-rugi lebih sedikit dan kapasitas
membawa daya yang lebih besar.

2.4 PENYUSUTAN ENERGI PADA JARINGAN DISTRIBUSI


Susut energy merupakan kerugian yang terjadi sebagai akibat adanya selisih antara energy
yang dikirimkan dengan energy yang diterima atau dapat juga dikatakan dari sisi transfer
energy sebagai adanya selisih antara energy yang disalurkan ke pelanggan dengan total
energy yang dibayarkan pelanggan (selisih antara pembelian energy dengan penjualan
energy ke pelanggan). Berdasarkan sifatnya susut energy dapat dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu :

Susut Konstan
Merupakan susut yang timbul secara konstan dan terus menerus pada sistem
distribusi yang tidak dipengaruhi oleh perubahan beban. Contoh dari susut konstan

adalah rugi-rugi besi transformator, kwh meter, kebocoran isolasi, dan sebagainya.
Susut Variabel
Merupakan susut yang timbul dan memiliki nilai yang berubah-ubah pada sistem
distribusi yang dipengaruhi oleh fluktuasi (perubahan) beban. Contoh dari susut
variable adalah rugi-rugi pada penghantar.

Sedangkan berdasarkan penyebabnya susut energy dapat dibedakan menjadi :

Susut Teknis
Merupakan susut yang timbul sebagai akibat dari adanya impedansi pada peralatan
pembangkitan maupun peralatan penyaluran dalam transmisi dan distribusi
sehingga terdapat energy yang hilang berupa panas. Rugi-rugi energy yang timbul
diakibatkan karena unsur material. Pada sistem distribusi, susut teknis

dikelompokkan menjadi dua yaitu susut tegangan menengah (TM) dan susut pada
tegangan rendah (TR). Susut pada tegangan menengah meliputi susut pada jaringan
atau saluran tegangan menengah dan susut pada gardu atau trafo. Susut tegangan
rendah terdiri dari susut pada jaringan atau saluran tegangan rendah dan sambungan

rumah.
Susut Non-Teknis
Merupakan susut yang timbul bukan diakibatkan akibat material dari peralatan.
Susut jenis ini timbul akibat adanya kesalahan pembacaan pada alat ukur, kesalahan
kalibrasi alat ukur, dan kesalahan akibat adanya pemakaian listrik secara tidak sah
(pencurian) atau keslahan-kesalahan lain yang bersifat administrative lainnya.

Fenomena penyusutan ini tidak dapat dihindari karena tidak mungkin memiliki efisiensi
sebesar 100%. Artinya selalu ada bagian dari daya energy pada saluran jaringan distribusi.
Susut teknis pada jaringan dapat disebabkan oleh bebrapa hal, antara lain Konduktor Fasa,
Kabel Distribusi dan Faktor Daya.

2.4.1 Konduktor Fasa


Umumnya bahan yang digunakan pada konduktor fasa berupa aluminium atau tembaga.
Karena terbuat dari bahan logam, maka konduktor memiliki nilai resistansi tertentu
berbeda-beda tergantung dari materialnya. Resistansi kabel merupakan bagian penting dari
impedansi saluran yang digunakan untuk melakukan penghitungan studi kegagalan dan
studi aliran daya. Material penyusunnya ini nantinya juga berpengaruh terhadap kapasitas
arus yang dapat mengalir di konduktor fasa. Material yang dipakai untuk konduktor harus
memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Konduktifitasnya cukup baik


Kekuatan mekanisnya (kekuatan tarik) cukup tinggi
Koefisien muai panjangnya kecil
Modulus kenyalnya (modulus elastisitas) cukup besar.

Variable umum yang mempengaruhi resistansi adalah suhu dari konduktor tersebut, dapat
dikatakan resistansi meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Untuk jangkauan suhu
yang lebih luas, resistansi akan meningkat hampir linier terhadap suhu baik pada
aluminium maupun tembaga. Efek dari suhu terhadap kenaikan resistansi dapat
disederhanakan sebagai persamaan linier sebagai berikut :

Dimana :

= koefisien temperature dari resistansi

= 0.00404 untuk 61.2% aluminium IASC pada suhu 20oC


= 0.00347 untuk 6201-T81 aluminium alloy pada suhu 20oC
= 0.00383 untuk tembaga hard-drawn pada suhu 20oC
= 0.0036 untuk aluminium clad steel pada suhu 20oC
Yang perlu diperhatikan dalam permasalahan ini adalah ketika jaringan masuk ke dalam
gardu distribusi, maka tegangan sistem akan diturunkan dari tegangan primer (20 kV)
menjadi tegangan pelayanan (220 V) sehingga dengan besar daya yang tetap maka
penurunan tegangan akan sejalan dengan kenaikan arus pada sistem. Arus yang besar pada
konduktor dapat menimbulkan rugi-rugi daya yang besar pada konduktor tersebut. Ini
dikarenakan daya yang hilang merupakan fungsi kuadrat dari arus yang mengalir
sebagaimana yang dinyatakan dalam persamaan berikut [8]:

Dimana :
Plosses = daya yang hilang pada rangkaian (watt)
I

= arus yang mengalir pada rangkaian (ampere)

= resistansi saluran (ohm)

Sedangkan untuk total energy yang hilang akibat susut selama selang waktu tertentu dapat
diperhitungkan berdasarkan persamaan berikut :

Dimana :
W losses = energy yang hilang (Joule)
P losses = daya yang hilang pada rangkaian (Watt)
t

= Waktu (Jam)

2.4.2 Kabel Distribusi


Pada umumnya kabel yang digunakan untuk distribusi terdiri atas konduktor fasa,
kemudian terdapat pelindung yang terbuat dari semikonduktor, kawat netral pelindung, dan
pada akhirnya selubung penutup. Sebagian besar kabel distribusi merupakan kabel dengan
konduktor tunggal. Terdapat dua jenis kabel, yaitu kabel netral yang tersusun secara
konsentrik dan kabel daya. Kabel dengan netral konsentrik umumnya memiliki konduktor
yang terbuat dari aluminium, isolasi padat, dan netral yang tersusun secara konsentrik.
Netral konsentrik terbuat dari beberapa kawat tembaga yang dililit mengelilingi (mengitari)
isolasi [9].
Netral yang konsentrik merupakan netral yang sesungguhnya. Artinya kawat netral tersebut
dapat membawa arusbalik pada sistem pentanahan. Kabel distribusi bawah tanah untuk
kawasan perumahan umumnya memiliki netral yang konsentrik. Kabel yang dilengkapi
netral konsentrik juga digunakan untuk aplikasi saluran utama tiga fasa dan penyaluran
daya tiga fasa untuk kebutuhan industry dan kebutuhan komersil [9].

Penjelasan Gambar :
1.
2.
3.
4.
5.

Konduktor penghantar
Pelindung konduktor
Isolasi dan pelindung isolasi
Netral konsentrik
Selubung

Sementara itu kabel daya memiliki konduktor fasa yang terbuat dari tembaga atau
aluminium, isolasi padat dan umumnya pita pelindung tipis yang terbuat dari tembaga.
Untuk keperluan rangkaian distribusi, kabel daya digunakan untuk apliaksi penyulang
saluran utama, penyulang rangkaian dan untuk aplikasi tiga fasa dengan arus besar lainnya.
Selain dua jenis kabel utama tersebut juga terdapat kabel untuk keperluan aplikasi dengan
tegangan menengah, seperti kabel daya dengan tiga konduktor fasa, kabel yang tahan
terhadap api, kabel dengan fleksibilitas tinggi dan kabel bawah laut. Bagian penting dalam
isolasi kabel yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :
a. Konstanta Dielektrik
Faktor ini mempengaruhi kapasitas kabel. Konstanta dielektrik merupakan
perbandingan dari kapasitansi dengan material isolasi terhadap kapasitansi dengan
konfigurasi yang sama di ruang hampa. Kabel dengan kapasitansi lebih besar dapat
menarik arus charging yang lebih besar.
b. Resistansi Volume
Arus bocor yang melalui isolasi merupakan fungsi dari resistivitas isolasi terhadap
arus searah (DC). Resistivitas isolasi menurun seiring dengan kenaikan suhu.
c. Rugi Dielektrik

Seperti pada kapasitor, kabel memiliki rugi dielektrik. Kerugian ini diakibatkan
oleh pergerakan dipole dipole di dalam polimer atau sebagai akibat dari pergerakan
muatan pembawa di dalam isolasi. Rugi dielektrik memiliki kontribusi terhadap
arus resistif bocor pada kabel.
d. Faktor Disipasi
Faktor disipasi merupakan perbandingan dari arus resistif yang muncul oleh kabel
terhadap arus kapasitif yang muncul. (Ir/Ix). Karena arus bocor umumnya kecil,
maka faktor disipasi dapat digunakan sebagai pendekatan nilai faktor daya,
sebagaimana ditunjukkan oleh persamaan berikut :

2.4.3 Faktor Daya


Fakor daya / power faktor (PF) / cos phi adalah rasio besarnya daya aktif yang bisa kita
manfaatkan terhadap daya tampak yang dihasilkan sumber. Dimana daya bisa diperoleh
dari perkalian antara tegangan dan arus yang mengalir. Pada kasus sistem AC dimana
tegangan dan arus berbentuk sinusoidal, perkalian antara keduanya akan menghasilkan
daya tampak (apparent power), satuan volt-ampere (VA) yang memiliki dua buah bagian.
Bagian pertama adalah daya yang termanfaatkan oleh konsumen, daya yang termanfaatkan
ini sering disebut sebagai daya aktif (real power) memiliki satuan watt (W) yang mengalir
dari sisi sumber ke sisi beban bernilai rata-rata tidak nol. Bagian kedua adalah daya yang
tidak termanfaatkan oleh konsumen, namun hanya ada di jaringan, daya ini sering disebut
dengan daya reaktif (reactive power) meiliki satuan volt-ampere-reactive (VAR) bernilai
rata-rata nol.

Gambar diatas menggambarkan hubungan antara daya S, P dan Q. dimana ada sudut

yang memisahkan daya P dan S. Rasio dari daya P dan S adalah nilai cosines dari sudut
. Cos ini yang nantinya disebut faktor daya.

Faktor daya dibatasi dari 0 hingga 1. Faktor daya dapat dikatakan sebagai besaran yang
menunjukkan seberapa efisien jaringan yang kita miliki dalam menyalurkan daya yang bisa
kita manfaatkan. Dengan meningkatkan faktor daya, tentu saja penggunaan listrik makin
efisien.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Jenis Kegiatan
Menganalisa losses pada JTM dan metode perbaikannya

3.2

Tempat Pengamatan
Sepanjang Jalan Veteran (makam pahlawan) sampai perempatan ITN

3.3

Waktu Pengamatan
19 Mei 2014 jam 13.30 16.00 WIB

3.4

Objek yang Diamati


Penyulang Mojolangu

3.5

Dasar Perhitungan Susut / Losses


METODA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK

Korelasi drop tegangan dan susut untuk mendapatkan drop teg dan susut yang dikehendaki
perlu memasukkan parameter-parameter antara lain :
- Ukuran (Luas penampang)/jenis Penghantar
- Beban Nominal Penghantar
- Panjang Jaringan
- Cos Phi
SPLN 72 : 1987 DAPAT DIDESAIN SEBUAH JARINGAN TM DENGAN KRITERIA
DROP TEGANGAN SBB :
- Drop tegangan JARINGAN SPINDEL max 2 %
- Drop tegangan JARINGAN OPEN LOOP DAN RADIAL max 5 %
- Susut Teknis JARINGAN SPINDEL max 1 %
- Susut Teknis JARINGAN OPEN LOOP DAN RADIAL max 2,3 %
POLA PEMBEBANAN TRAFO DISTRIBUSI
SESUAI SPLN NO.50 THN : 1997 SUSUT MINIMAL PADA PEMBEBANAN 50 % S/D
60 %

KORELASI ANTARA SUSUT DAN DROP TEGANGAN PADA TRAFO DISTRIBUSI


DROP TEG. MAKSIMUM DISISI SEKUNDER PD SAAT BEBAN MAX ADALAH
3%

Panjang Jaringan dapat didesain dengan mempertimbangkan DROP TEGANGAN DAN


SUSUT TEKNIS JARINGAN.
Untuk mendapatkan DROP TEG DAN SUSUT yang dikehendaki perlu memasukkan
parameter-parameter antara lain :
- Ukuran (Luas penampang)/jenis Penghantar
- Beban Nominal Penghantar
- Panjang Jaringan
- Cos Phi

3.6

Perhitungan Susut / Losses


Perhitungan susut / losses dibawah ini adalah sesuai dengan pembebanan.

Pembebanan yang digunakan adalah 100%, 75%, dan 50% (berdasarkan SPLN 50:1997).
Penghantar yang digunakan oleh Penyulang Mojolangu dari Jalan Veteran Matos hingga
perempatan ITN adalah AAAC 3x150mm dengan panjang saluran 1,81 kms. Dan total
trafo distribusinya ada 8 buah.

Pada perhitungan ini nilai Z didapat dari

Rx 2 + jx2

dimana nilai Rx dan jx

diambil dari Tabel tahanan (R) dan Reaktansi (X) penghantar AAAC tegangan 20kV SPLN
64:1998 sesuai dengan luas penampang penghantar.
Pada laporan ini menghitung losses nya adalah per panjang penyulang antar tiang.
Dengan rumus mencari P losses nya adalah I 2 x R dan mencari Drop Voltage nya adalah

1,73 x L x I x cos phi


. Nilai I didapat dari I =
A x
adalah sesuai dengan daya pembebanan trafo nya.

P
3 x cos phi x 20 kV

dimana nilai P

3.7

Metode Perbaikan Susut / Losses

Metode perbaikan susut atau losses yang digunakan pada laporan ini ada 3 cara :

Perbaikan cos phi (missal untuk pembebanan 75%)

Yang di ketahui :
-

Cos phi awal = 0,77

Cos phi yang di inginkan = 0,95

S = 1680000 VA

P = 1288200 Watt

Jawab :
Cos phi awal :
Cos phi = 0,77
Sin phi = 0,64
Tg = sin / cos
Tg = 0,64 / 0,77
Tg = 0,83
Cos phi yang di harapkan :
Cos phi = 0,95
Sin phi = 0,31
Tg = sin / cos
Tg = 0,31 / 0,95
Tg = 0,32
Kapasitor yang perlu dipasang adalah sebesar :
Qc = P ( tg tg 1)
Qc = 1288200 (0,83 - 0,32)

Qc = 656982 VAR ( di katolog terdapat 500 kVAR)


QC =

V2
Xc

Xc

1
(2 f C )

1
(2 f Xc)

Qc
(2 f V 2 )

500000
2
(2. 3.14 .50 20000 )

= 3,98 mikroFarad

VAR sebelum VAR sesudah = 1078,397 423,411 = 654,986 kVAR


654,986 / 500 = 1,3 = 1 buah

Memperbaiki sambungannya
Memperbaiki sambungan juga dapat memperbaiki nilai losses suatu penyulang.

Sambungan yang tidak rapat menyebabkan nilai resistansi (R) yang besar karena panas.
Rumus losses daya adalah P = I 2 x R, maka bila R besar, P juga akan semakin besar.
Memperbaiki sambungan dengan mengganti jenis sambungan yang terbuat dari bahan
berdaya hantar baik akan mengurangi nilai resistansi, sehingga rugi dapat diminimalkan.

Uprating luas penampang kabel


Mengganti luas penampang yang semula 150mm menjadi 240mm. Hal ini akan

menyebabkan perubahan pada nilai impedansi yang semula nilai impedansinya 0,2162 + j

0,3305 (150mm) menjadi 0,1344 + j 0,3158 (240mm) sesuai dengan Tabel tahanan (R) dan
Reaktansi (X) penghantar AAAC tegangan 20kV SPLN 64:1998. Sehingga nilai v drop
dan p losses akan berubah. Bila nilai R dan X makin kecil maka v drop dan p losses juga

akan makin kecil sesuai dengan rumusnya P = I2 x R dan V drop =

1,73 x L x I x cos phi


.
A x

3.8

Analisa Losses
Pada dasarnya pembebanan pada setiap penyulang itu berbeda dan bervariasi,

meskipun kapasitas penyaluran yang dapat ditanggung sama besar. Pada beberapa kondisi
pembebanan tidak 100 % dari seluruh besar beban tersambung. Di luar beban puncak
pembebanan mungkin hanya sebesar 50 % atau 75 % dari total beban tersambung.
Adanya perbedaan pembebanan ini tentu berbeda juga besar rugi-rugi daya pada
proses penyaluran energy listrik. Semakin besar pembebanan, maka rugi-rugi daya dan
susut tegangan juga semakin besar. Ini dikarenakan semakin besar beban, arus yang
melalui penghantar dalam suatu penyulang tersebut akan semakin besar, sedangkan
penghantar mempunyai nilai resistansi dan impedansi juga panjang sirkit.
Effisiensi terbesar pada inspeksi di atas diperoleh saat pembebanan 75%, namun
yang menjadi perhatian adalah nilai susut tegangannya di ujung saluran. Selama tegangan
nominal diujung saluran masih sesuai dengan standar, maka hal ini diperbolehkan.
Bahwasanya rugi-rugi dalam penyaluran tenaga listrik tidak dapat dihindari, hanya dapat
diminimalkan. Maka dalam penyaluran ini diusahakan memiliki effisiensi yang tinggi dan
regulasi tegangan yang masih dalam standar yang ditentukan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
- Losses adalah daya yang hilang di saluran penghantar, sehingga ada selisih
nilai pengukuran daya pada konsumen dan di kubikel penyulang tersebut
yang ada di Gardu Induk. Losses ini disebabkan karena adanya arus sebesar
I yang melewati suatu penghantar yang mempunyai resistansi sebesar R
sepanjang penyulang yang dilewati arus tersebut. Sehingga diperoleh P
losses = I2R. Selain rugi daya juga ada susut tegangan. Susut tegangan ini

diperoleh V drop =

1,73 x L x I x cos phi


. Losses pada sistim penyaluran
A x

tenaga listrik tidak dapat dihindari, namun dapat diminimalkan sehingga


-

effisiensi penyaluran tenaga listrik menjadi lebih baik.


Pada inspeksi losses di penyulang Mojolangu, berdasarkan data di atas,
maka diperoleh rugi-rugi daya dan drop voltage masih dalam batas toleransi
yang telah ditentukan dikarenakan data pembebanan yang digunakan hanya

berdasarkan asumsi beban di sekitar tempat inspeksi.


Ada beberapa metode untuk meminimalkan losses, antara lain sebagai
berikut:
1. Memperbesar Penampang Saluran
Memperbesar penampang saluran penghantar akan memperkecil
nilai resistansi saluran tersebut, sehingga nilai I2R akan lebih kecil.
2. Memperbaiki Faktor Daya
Faktor daya mempengaruhi perbandingan nilai daya reaktif (yang
tidak bias dimanfaatkan) dan daya nyata (yang dimanfaatkan oleh
beban). Daya yang dikirim oleh PLN adalah

daya semu yang

merupakan hasil dari penjumlahan daya nyata dan daya reaktif secara

vektoris. Sehingga dengan daya nyata yang sama, namun daya reaktif
semakin besar maka arus yang mengalirakan semakin besar. Dan
semakin besar arus inilah yang menyebabkan losses semakin besar.
Perbaikan factor daya bertujuan memperkecil daya rekatif yang
disalurkan, sehingga arus akan semakin kecil dan losses dapat
diminimalkan.
3. Mengganti Jenis Sambungan
Sambungan yang tidak baik akan menyebabkan sambungan tersebut
panas dan memiliki resistansi yang besar. Panas ini akan menyebabkan
rugi-rugi daya yang cukup besar akibat sambungan yang tidak baik.
Bahkan ketika beban pada pelanggan nol sekalipun, kWh meter pada
kubikel penyulang tersebut akan tetap berputar karena losses tersebut.
Mengganti jenis sambungan yang terbuat dari bahan berdaya hantar baik
akan mengurangi nilai resistansi, sehingga rugi dapat diminimalkan.