Anda di halaman 1dari 14

PETUNJUK EVOLUSI BERDASARKAN BUKTI ARTIFICIAL

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Evolusi
yang dibina oleh Bapak Dr. H. Abdul Gofur, M.Si
Oleh:
Kelompok 3
Atika Firda
Cantia Putri
Rizky Alfarizy

120341421988
120341421983
120341421984

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evolusi mempelajari tentang proses perubahan yang terjadi pada
makhluk hidup. Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup menurut teori
evolusi terjadi secara berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan
masa dan tempat (Widodo, 2003). Terjadinya evolusi ini dapat dibuktikan
dengan adanya petunjuk evolusi, baik bukti fosil maupun bukti artificial.
Petunjuk evolusi berdasarkan fosil adalah petunjuk yang mendukung
teori evolusi karena dapat dibandingkan antara fosil terdahulu dengan
makhluk hidup sekarang. Namun adakalanya petunjuk berdasarkan fosil
meragukan karena biasanya tidak utuh dan banyak terjadi pemalsuan oleh
beberapa pihak.
Kemajuan IPTEK mendukung semakin berkembangnya pencarian
bukti teori evolusi. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti
perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi perubahan gen
ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup. Selain dengan
bukti fosil, evolusi dapat dibuktikan dengan adanya petunjuk artificial.
Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial merupakan petunjuk hasil buatan
manusia, yaitu petunjuk yang dibuat oleh manusia melalui kerja
laboratorium. Hasil dari penelitian berupa eksperimen ini lebih dapat
diterima dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Adanya petunjuk artificial ini perlu dikaji lebih lanjut untuk
membuktikan kebenaran teori evolusi. Dengan demikian, penulis menyusun
makalah dengan judul, Petunjuk Evolusi Berdasarkan Bukti Artificial.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan petunjuk evolusi berdasarkan bukti
artifisial?

2. Apa sajakah bukti artificial yang menjadi petunjuk evolusi?


C. Tujuan
Tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian petunjuk evolusi berdasarkan bukti artifisial.
2. Untuk mengetahui bukti-bukti artificial yang menjadi petunjuk evolusi.

BAB II
PEMBAHASAN
Evolusi, sebagai cabang Biologi dalam rumpun Sains, adalah ilmu yang
mempelajari tentang perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur menuju
kesesuaian dengan waktu dan tempat (Henuhili, 2012). Teori evolusi mempelajari
tentang proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup. Perubahan yang
terjadi pada makhluk hidup menurut teori evolusi terjadi secara berangsur-angsur
menuju ke arah yang sesuai dengan masa dan tempat (Widodo, 2003).
Evolusi makhluk hidup merupakan salah satu teori yang dikaji atau
dipelajari oleh Biologi. Teori ini sebenarnya telah dipersoalkan sejak
perkembangan ilmu di masa Romawi dan Yunani kuno, namun secara ilmiah teori
ini baru dikemukakan oleh Charles Robert Darwin yang ditulis dalam buku yang
berjudul : The Origin of Species by Means of Natural Selection or the
Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, yang edisi pertamanya
dengan judul The Origin of Species diterbitkan 24 Nopember 1859. Dengan
demikian, perubahan yang merupakan hasil perkembangan itu berlangsung dalam
waktu yang amat panjang, yaitu jutaan tahun seiring dengan evolusi alam semesta
(Henuhili, 2012).
Petunjuk evolusi berdasarkan fosil adalah petunjuk yang mendukung teori
evolusi karena dapat dibandingkan antara fosil terdahulu dengan makhluk hidup
sekarang. Namun adakalanya petunjuk berdasarkan fosil meragukan karena
biasanya tidak utuh dan banyak terjadi pemalsuan oleh beberapa pihak. Saat ini
perkembangan jaman sangatlah pesat. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan
dan teknologi, petunjuk dan pembuktian teori evolusi juga semakin berkembang.
Salah satunya adalah melalui pembuktian artifisial.
Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial merupakan petunjuk hasil buatan
manusia. Yang dimaksud dengan hasil buatan manusia adalah manusia melakukan
berbagai macam penelitian dan eksperimen di laboratorium guna membuktikan
teori evolusi. Di laboratorium, peneliti dapat mengkondisikan lingkungan dan
mengontrol banyak variabel. Eksperimen dilakukan untuk mengetahui bagaimana
semua organisme dapat berbeda-beda satu sama lain. Hasil dari penelitian berupa
eksperimen ini lebih dapat diterima dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Beberapa pembuktian teori evolusi melalui bukti artifisial antara lain
dengan cara:

a. Anatomi perbandingan
b. Organ yang mengalami rudimentasi
c. Embriologi perbandingan
d. Perbandingan fisiologi
e. Petunjuk secara biokimia
f. Petunjuk melalui artificial selection
A. Anatomi Perbandingan
Anatomi perbandingan adalah ilmu yang mempelajari mengenai
persamaan dan perbedaan anatomi dari makhluk hidup.Ilmu ini berkaitan erat
dengan biologi evolusi dan filogeni (ilmu evolusi pada spesies-spesies).
Homologi dan Analogi
Petunjuk tentang adanya evolusi dapat dipelajari dari studi tentang
struktur organ berbagai makhluk hidup yang memiliki kesamaan. Misalnya
anggota tubuh yang dimiliki oleh vertebrata. Semua anggota gerak vertebrata
berupa sepasang tangan, kaki, sayap. Anggota gerak tersebut memiliki jari,
adanya tulang radius, dan ulna, dan sebagainya. Anggota gerak tersebut
dimiliki oleh semua kelompok vertebrata. Kesamaan anggota gerak tidak
hanya meliputi tulang, tetapi juga otot, saraf, persendian dan pembuluh darah.
Semua kesamaan menunjukkan bahwa organ tersebut berasal dari struktur
yang sama dan biasanya kita kenal dengan istilah homolog (Widodo, dkk.
2003).

Gambar 2.1 Struktur homolog alat gerak depan mamalia.

Anggota gerak depan cecak dan kadal untuk berjalan, sayap burung
dan sayap kelelawar untuk terbang, keseluruhan anggota gerak tersebut
homolog dengan kaki depan kuda atau tangan manusia. Berlainan halnya
dengan sayap serangga atau kaki udang. Struktur sayap burung dan sayap
kelelawar berbeda dengan sayap serangga maupun kupu-kupu, meskipun
fungsinya sama. Hal ini disebabkan karena asal-usul organ tersebut tidak
sama. Kesamaan fungsi namun berbeda asalnya disebut analog (Widodo, dkk.
2003). Analogi ditandakan dengan alat-alat tubuh yang mempunyai bentuk
dasar yang berbeda namun karena perkembangan evolusi, alat-alat tersebut
mempunyai fungsi yang sama.

Gambar 2.2 Struktur analogi pada sayap.

B. Organ yang Mengalami Rudimentasi


Rudimentasi organ merupakan petujuk adanya evolusi. Organ yang
berguna pada suatu makhluk hidup, pada makhluk hidup lain kurang
berfungsi. Contoh tulang ekor pada manusia kurang berfungsi, namun pada
kelompok mamalia lain sangat berkembang dan berfungsi sebagai ekor
(Widodo, dkk. 2003). Seleksi alam cenderung menguntungkan individu yang
memiliki organ dalam bentuk tereduksi, dan dengan demikian cenderung
akan menghilangkan struktur yang tidak berfungsi lagi.
Organ yang mengalami rudimentasi juga disebut dengan organ
vestigial. Kata vestigial merujuk pada bagian anatomi hewan yang memiliki
fungsi minimal ataupun sama sekali tidak berfungsi. Struktur yang tidak

berfungsi ini merupakan sisa-sisa organ tubuh leluhur yang pernah berfungsi.
Misalnya pada ikan paus, paus memiliki tulang vestigial yang tampak seperti
sisa tulang kaki leluhur paus yang berjalan di daratan. Manusia juga memiliki
struktur vestigial, contohnya tulang ekor dan umbai cacing pada usus. Organ
yang mengalami rudimenter hakikatnya sudah tidak berguna lagi, namun
masih dapat dijumpai pada tubuh organisme.
Data fosil untuk kelompok kuda dan primata cukup lengkap untuk
dapat mendiskripsikan evolusi yang terjadi pada dua kelompok hewan
tersebut. Namun selengkap-lengkapnya data fosil masih belum dapat
menerangkan secara lengkap apa yang terjad pada masa silam. Dasar
deskripsi evolusi kuda, para ahli menggunakan metode pendekatan dengan
membandingkan perubahan struktur dari makhluk hidup yang paling erat
kaitannya dengan makhluk hidup sasaran (Widodo, dkk. 2003).
Evolusi Kuda
Evolusi kuda merupakan salah satu contoh klasik yang datanya
cukup lengkap. Hal ini disebabkan kuda hidup berkelompok dan berjumlah
cukup besar, sehingga meninggalkan sejumlah besar fosil dari masa ke masa.
Fosil paling primitif dikenal dengan Eohippus. Ciri fosil Eohippus
berdasarkan rangkanya adalah: kuda ini sebesar kucing/kancil, tingginya
sekitar 30 cm, dari fosil struktur gigi diperoleh bahwa Eohippus ini pemakan
semak belukar, giginya berjumlah 22 pasang dengan gigi geraham yang
terspesialisasi untuk menggiling makanan. Kaki dengan beberapa jari ikut
membantu dalam mengais dan menggali akar yang lunak.
Pada masa berikutnya, terjadi suatu perubahan pada permukaan
bumi. Hutan berkurang dan timbul padang rumput yang luas. Gigi yang
sebelumnya cocok untuk merabut semak belukar tidak diperlukan lagi. Kini
diperlukan gigi yang lebih besar dengan email yang cukup tebal untuk
menggigit dan mengunyah rumput. Gigi seri melebar dan pipih untuk
menggigit rumput. Gigi premolar berubah menjadi molar. Gigi geraham
melebar untuk menggantikan fungsi mengunyah menjadi menggiling.
Perubahan alat gerak diperlihatkan pada bertambah panjangnya
kaki, jumlah jar yang lebih sedikit, yang cocok untuk kehidupan padang

rumput. Kaki depannya terdiri dari empat jari dan satu jari rudimen,
sedangkan kaki belakangnya mempunyai tiga jari dan dua jari rudimen.
Bentuk jari tengah semakin panjang dan besar dari daripada jari moyangnya.
Ujung jari setiap kaki ditutupi oleh kuku (Widodo, dkk. 2003).
C. Embriologi Perbandingan
Embrio hewan bersel banyak mengalarni kesamaan perkembangan
embrio, berawal dari zygot menjadi blastula lalu gastrula, kemudian
mengalami diferensiasi sehingga terbentuk bermacam-macam alat tubuh.
Ernest Haeckel, mengatakan tentang adanya peristiwa ulangan ontogeni yang
serupa dengan peristiwa filogeninya, disebut teori rekapitulasi. Contoh
adanya rekapitulasi adalah perkembangan terjadinya jantung pada mamalia
yang dimulai dengan perkembangan yang menyerupai ikan, selanjutnya
menyerupai embrio amfibi, selanjutnya menyerupai perkembangan embrio
reptil.
Contoh informasi dari perbandingan pertumbuhan adalah adanya
celah insang pada embrio vertebrata. Celah-celah insang pada ikan dewasa
akan tumbuh menjadi insang, sedangkan pada reptilian, aves dan mamalia
dewasa tidak tumbuh menjadi insang, kecuali pada beberapa amfibia,
kesamaan juga diperlihatkan pada perkembangan embrio vertebrata.
Ditunjukkan bahwa hampir semua embrio mempunyai struktur dasar yang
sama. Hal ini dapat diterangkan dengan homologi.
Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri perkembangan
embrio yang sama, tidak benar bahwa mamalia pertama-tama mengalami
tahapan perkembangan ikan, kemudian tahapan amphibian dan seterusnya.
Ontogeni dapat memberikan petunjuk untuk filogeni, tetapi penting untuk
diingat bahwa semua tahapan perkembangan itu bisa berubah sepanjang
proses rentetan proses evolusi yang panjang.

Gambar 2.3 Perkembangan embrio vertebrata


D. Perbandingan Fisiologi
Perbandingan fisiologi membandingkan perbandingan kemiripan
dalam hal faal berbagai makhluk hidup mulai dari mikroorganisme sampai
manusia. Kesamaan faal atau proses fisiologis contohnya adalah proses
respirasi semua organisme yang membutuhkan oksigen. Selain itu,
pembentukan ATP dan kegunaannya dalam proses metabolisme relatif sama
pada semua organisme. Adanya kesamaan faal atau proses fisiologis
organisme menunjukan kekerabatan antar organisme.

E. Petunjuk Secara Biokimia


Hubungan evolusi diantara spesies dicerminkan dalam DNA dan
proteinnya, dalam gen dan produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka
gen dan protein dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu
pasti disalin dari nenek moyang yang sama. Organisme yang secara
taksonomi berbeda jauh, seperti manusia dan bakteri memiliki beberapa
protein yang sama, misalnya sitokrom c, suatu protein yang terlibat dalam
respirasi seluler pada semua spesies aerob. Mutasi telah menggantikan asam
amino di beberapa tempat pada protein tersebut selama perjalanan panjang
evolusi, tetapi molekul sitokrom c pada semua spesies sangat mirip dalam

struktur dan fungsi. Tidak jauh berbeda, perbandingan jumlah asam amino
yang berbeda dalam hemoglobin pada beberapa vertebrata memperkuat buktibukti

paleontologi

dan

anatomi

perbandingan

mengenai

hubungan

evolusioner diantara spesies-spesien tersebut.


Suatu kode genetik yang sama merupakan bukti yang tak terbantahkan
mengenai fakta bahwa semua kehidupan saling berhubungan. Dengan
demikian jelas, bahasa kode genetik telah diturunkan melalui semua cabang
pohon kehidupan sejak permulaan munculnya kode genetik tersebut pada
bentuk kehidupan yang lebih awal. Dengan demikian biologi molekuler telah
menambahkan babak terbaru pada bukti-bukti bahwa evolusi adalah dasar
kesatuan dan keanekaragaman kehidupan.
Kekerabatan antara berbagai jenis makhluk hidup dapat diuji secara
biokimia. Salah satu percobaan biokimia yang dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat kekerabatan berbagai organisme adalah uji presipitin oleh
Natael. Dasar percobaan ini adalah adanya presipitin atau endapan pada suatu
reaksi antigen-antibodi. Banyak sedikitnya endapan yang terbentuk dapat
digunakan untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antara suatu
organisme yang satu dengan organisme yang lainnya. Percobaan tersebut
adalah sebagai berikut : kelinci disuntik dengan serum manusia berulang kali.
Selang beberapa waktu kemudian, serum kelinci diambil dan dianalisis.
Ternyata telah mengandung zat anti ini terbentuk karena adanya
antigen yang masuk, yaitu serum darah manusia. Serum kelinci yang telah
mengandung zat anti disuntikkan ke dalam berbagai jenis makhluk hidup,
berturut-turut manusia, gorila, orang hutan, babon, kucing, anjing, banteng,
dan lain-lain. Selang beberapa waktu, darah manusia dan hewan-hewan yang
disuntik dengan serum kelinci dianalisis ternyata mengandung presipitin yang
berbeda-beda kadarnya.
Banyaknya endapan ditentukan oleh jauh dekatnya kerabat antara
kelinci dengan makhluk- makhluk tersebut. Makin jauh kekerabatannya
makin banyak presipitinnya. Lihat Tabel 2.1

Tabel 2.1 Data Kecenderungan Biokimia Mengenai Evolusi

Sumber: (Yusuf,F.,2006)
F. Petunjuk Melalui Artificial Selection
Manusia telah memodifikasi spesies selama bergenerasi dengan cara
memilih, dan melakukan breeding antar individu-individu yang memiliki
sifat-sifat (trait) yang diharapkan. Proses ini disebut artificial selection.
Sebagai akibatnya, tumbuhan dan hewan yang telah di-breeding seringkali
tidak menyerupai hewan/ tumbuhan moyangnya. Salah satu contoh artificial
selection adalah domestikasi (Campbell, 2009).
Domestikasi adalah pembudidayaan hewan atau tumbuhan liar
sehingga bermanfaat sesuai dengan keinginan manusia. Domestikasi
terkadang dapat menghasilkan variasi baru atau spesies yang berbeda dengan
induknya. Variasi yang terbentuk dari proses domestikasi menunjukan bahwa
suatu organisme dapat berevolusi.
Mengubah tanaman dan hewan liar menjadi tanaman dan hewan yang
dapat dikuasai dan bermanfaat sesuai dengan keinginan manusia adalah
akibat dari peristiwa domestikasi. Contohnya penyilangan burung-burung
merpati, sehingga dijumpai adanya 150 variasi burung, yang di antaranya
begitu berbeda hingga dapat dianggap sebagai spesies berbeda. Contoh
lainnya adalah menyilangkan tanaman dengan variasi pada berbagai bagian

tubuhnya, misalnya tumbuhan wild mustard dapat menghasilkan tanamantanaman yang memiliki ciri-ciri khusus yang sangat berbeda dengan tanaman
aslinya (wild mustard) (Campbell, 2003).

Gambar 2.4 Artificial selection pada tanaman wild mustard untuk


menghasilkan tanaman-tanaman baru.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial merupakan petunjuk hasil
buatan manusia, yaitu petunjuk yang dibuat oleh manusia melalui kerja
laboratorium.

Beberapa pembuktian teori evolusi melalui bukti artificial

antara lain dengan: anatomi perbandingan, organ yang mengalami


rudimentasi, embriologi perbandingan, perbandingan fisiologi, petunjuk
secara biokimia, dan petunjuk melalui artificial selection.
B. Saran
Dengan semakin berkembangnya IPTEK, maka upaya untuk mencari
pembuktian evolusi dapat semakin berkembang sehingga perlu adanya
tinjauan kembali tentang studi untuk mengungkap petunjuk adanya evolusi
melalui bukti artifisial. Sehingga pembaca yang ingin mengkaji tentang topic
ini dapat menambahkan informasi baru untuk mencapai kelengkapan
informasi.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A, et al. 2009. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Henuhili, V., dkk. 2012. Evolusi. FMIPA UNY.
Widodo, dkk. 2003. Evolusi. Malang : Universitas Negeri Malang.
Yusuf, Frida M. 2006. Bahan Ajar Evolusi. FPMIPA: Universitas Gorontalo.