Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA
A. PENGERTIAN
Hernia adalah penonjolan sebuah organ atau struktur melalui
mendeteksi di dinding otot perut. Hernia umumnya terdiri dari kulit dan
subkutan meliputi jaringan, peritoneal kantung, dan yang mendasarinya
adalah Visera, seperti loop usus atau organ-organ internal lainnya. Faktor
yang termasuk pembedahan mendadak pada peningkatan tekanan intraabdomen, yang mungkin terjadi selama mengangkat beban berat atau batuk
yang lebih bertahap dan berkepanjangan sehingga peningkatan tekanan
intra-abdomen berhubungan dengan kehamilan, obesitas, atau asites
(Seymour

I.

Schwartz,

et.All. Principles

of

Surgery.

Companion

handbook. Jakarta: EGC,2000).


Hernia adalah kelemahan dinding otot abdominal yang melewati
sebuah segmen dari perut atau struktur abdominal yang lain yang menonjol.
Hernia dapat juga menembus melewati beberapa defect yang lain di dalam
dinding abdominal, melewati diafragma, atau melewati struktur lainnya di
rongga

abdominal

(Ignatavicius,

Donna,

et.All. Medical

Surgical

Nursing. Philadelphia: W.B SaundersCompany,2000).


Hernia mungkin terjadi di beberapa bagian tubuh, tetapi biasanya
itu terjadi di rongga abdominal. Itu diketahui sebagai penurunan. Jika
Hernia tidak dapat ditempatkan kembali di rongga abdominal, maka hal itu
diketahui sebagai incarcerated. Dalam situasi ini aliran mungkin menjadi
obstruksi. Ketika Hernia ireduksi dan aliran intestinal dan supply darah
obstruksi, Hernia menjadi terjepit. Ini akibat dari obstruksi intestinal akut
(Lewis, Heitkemper, Dirksen. Medical Surgical Nursing: Assessment and
Management of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby,2000).
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari
tempatnya yang normal melalui sebuah defek Kongenital atau yang di dapat.
Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi
abdomen (seperti Peritoneum, lemak, usus atau kandung kemih) memasuki

defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (dr.


Jan Tambayong, Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC,2000).
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga
melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan yang
terdiri atas cincin, kantong, dan isi Hernia (Syamsul Hidayat R. dan Wim De
Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta: EGC,2005).
Hernia adalah masuknya organ kedalam rongga yang disebabkan
oleh prosesus vaginalis berobliterasi (paten) (Mansjoer, Arief, Kapita
Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta,2000).
Kesimpulan pengertian dari beberapa ahli yaitu : Hernia adalah
suatu benjolan diperut dari rongga yang normal melalui lubang congenital
atau didapat.
B. ETIOLOGI
Penyebab penyakit Hernia dapat diakibatkan beberapa hal seperti :
1. Kongenital disebabkan kelemahan pada otot merupakan salah satu
faktor resiko yang berhubungan dengan faktor peningkatan tekanan
intra abdomen. Kelemahan otot tidak dapat dicegah dengan cara
olahraga atau latihan-latihan.
2. Obesitas adalah salah satu penyebab peningkatan tekanan intraabdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan
mendorong peritoneum. Hal ini dapat dicegah dengan pengontrolan
berat badan.
3. Pada Ibu hamil biasanya ada tekanan intra-abdomen yang meningkat
terutama pada daerah rahim dan sekitarnya.
4. Mengedan juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen.
5. Dan terlalu seringnya mengangkat beban berat.

C. KLASIFIKASI
1. Menurut lokalisasi
a. Hernia Inguinalis
1) Indirek: batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti
saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis.
2) Direk: batang usus melewati dinding inguinalis bagian posterior.
b. Hernia Diafragma
Hernia yang melalui diafragma.
c. Hernia Umbilikal
Batang usus melewati cincin umbilical.
d. Hernia Femoralis.
Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis femoralis.
e. Hernia Scrotalis.
Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum.
2. Hernia insisi menurut sifatnya
a. Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengedan, dan masuk
jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.
b. Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini
disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritonial.
c. Hernia Inkaserada/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat
kembali ke dalam rongga perut.

D. PATOFISIOLOGI
1. Hernia inguinalis indirek, terjadi melalui cincin inguinal dan melewati
korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. umumya terjadi pada pria
dari pada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini
dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum.
2. Hernia inguinalis direk, melewati dinding abdomen di area kelemahan
otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis
indirek. Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara
bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital.
3. Hernia femoralis, terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada
wanita dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis
femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritonium dan
hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.

Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe
hernia ini.
4. Hernia Umbilikalis, hernia Umbilikalis pada orang dewasa lebih umum
pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya
terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara.
5. Hernia umbilicalis terjadi karena kegagalan orifisium umbilikal untuk
menutup (OBLITERASI)

E. PATHWAY

F. MANIFESTASI KLINIK
Menurut Oswari E. Pada buku Bedah dan Perawatannya. Jakarta:
PT Gramedia,1993. Manifestasi klinik yang terdapat pada Hernia Inguinalis
adalah :
1. Terdapat benjolan didaerah vaginal dan atau scrotal yang hilang dan
timbul. Timbul bila terjadi peningkatan tekanan peritonela misalnya
mengedan, batuk-batuk, menangis. Jika pasien tenang dan berstirahat,
maka benjolan akan hilang secara spontan.
2. Pada pemeriksaan terdapat benjolan dilipat paha atau sampai scrotum,
pada bayi bila menangis atau mengedan. Benjolan menghilang atau
dapat dimaksudkan kembali rongga abdomen.
3. Isi Hernia dapat kembali kerongga peritorium disebut Hernia Inguinal
reponibilitas,
ireponbilitis.

bila
Bila

tidak
usus

dapat

kembali

tidak

disebut Hernia Inguinal

kembali

karena

jepitan

oleh Annulus Inguinali, maka akan terjadi gangguan pembuluh darah


dan gangguan pasase segmen usus yang terjepit. Keadaan ini
disebut Hernia Strangulata.
4. Hernia strangulata lebih sering terjadi Hernia sebelah kanan. Insiden
tertinggi pada usia sekolah dibawah 1 tahun (31 %), namun rata-rata
terjadi pada 12 % kasus Hernia.
5. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu
disertai perasaan mual. Bila terjadi Hernia Inguinalis Stragulata
perasaan sakit akan bertambah hebat serta kulit di atasnya menjadi
merah dan panas.
6. Hernia Femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing
sehingga menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria
(kencing darah) disamping benjolan di bawah sela paha.
7. Hernia Diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut
disertai sasak nafas.
8. Bila pasien mengejan atau batuk maka benjolan Hernia akan bertambah
besar.
G. KOMPLIKASI
1. Hernia berulang.
2. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki.
3. Pendarahan yang berlebihan / infeksi luka bedah.
4. Luka pada usus (jika tidak hati-hati).

5.
6.
7.
8.

Setelah Herniografi dapat terjadi Hematoma.


Fostes urin dan feses.
Residip.
Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.

H. PENATALAKSANAAN
1. Pada Hernia Femoralis tindakan operasi kecuali ada kelainan lokal atau
umum. Operasi terdiri atas Herniatomi disusul dengan Hernioplastik
dengan

tujuan menjepit Anulus

pendekatan

femonialis. Bisa

krural, Hernioplastik

menjahitkan Ligamentum Inguinale

dapat
ke

juga

dengan

dilakukan

dengan

ligamentum

cooper.

Tehnik Bassini melaluiregion Inguinalis, ligamentum inguinale di


jahitkan keligamentum lobunase Gimbernati.
2. Hernia Inguinalis Responsibilis yaitu Herniatomi berupa ligasi Plofesis
vaginalis,soproksimal mungkin dilakukan secara efektif namun secepat
mungkin kaena resiko terjadinya inkarserata.
3. Hernia Inguinalis inkarserata: Pada keadaan ini pasien dipuasakan,
pasang NGT, infus dan disuntik sedaiba sampai pasien tertidur dalam
posisi trendelenburg dengan tertidur tekanan intra peritoneal. (Arif
Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1,2000).
I. TERAPI
1. Pra Operasi :
a. Beri posisi

semi-fowler

(Hernia Diafragmatik),

terlentang

(HerniaFemoralis).
b. Lakukan perawatan rutin jalur IV. Puasakan.
c. Hindari melakukan tindakan sendiri.
d. Jaga agar kantong atau Visera tetap lembab.
e. Gunakan tindakan kenyamanan.
2. Pasca Operasi :
a. Lakukan perawatan dan observasi secara rutin.
b. Berikan tindakan kenyamanan.
c. Dukungan keluarga. (Wong, Wongs nursing care of infant and
children. St. Louis,2004)

J. TINDAKAN MEDIS YANG BERTUJUAN UNTUK PENGOBATAN

Menurut Oswari E. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : PT


Gramedia,1993. Yaitu :
1. Herniatomi: Melakukan dengan segera bila terdapat Hernia inkarserata,
elektif bila Hernia responibilis. Operasi dengan cara ini dilakukan
dengan pembebasan kantung Hernia sampai kelehernya, kantung dibuka
dan isi Hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi.
Kantung Hernia di jahit-ikat setinggi mungkin lalu di potong.
2. Herniorrhaphy : Membuang kantong Hernia disertai tindakan bedah
plastik untuk memperkuat dinding perut bagian bawah di belakang
Kanalis Inguinalis.
K. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan
data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan diagnostik serta review catatan sebelumnya. Pada
pengkajian fisik, pasien sering seperti mengejan atau mengangkat ketika ada
sesuatu yang muncul. Ketika melakukan sebuah penilaian perut, perawat
harus memeriksa perut ketika pasien berbaring dan berdiri. Jika Hernia
dapat dikembalikan, Herniasi akan menghilang ketika pasien berbaring
datar. Perawat juga dapat melakukan regangan pasien, untuk mengamati
bukti menggembung (Wong, Donna L. Wongs nursing care of infant and
children. St. Louis,2003).
Perut adalah tempat

untuk

melakukan

Auskultasi

untuk

memastikan kehadiran aktif suara bising usus. Usus mungkin akan


menunjukkan obstruksi dan cekikan. Untuk meraba Hernia, dokter atau
perawat dengan lembut memeriksa cincin dan isinya, dengan memasukkan
jari di cincin dan mencatat setiap perubahan ketika pasien batuk. Perawat
tidak boleh memaksa pasien Hernia untuk mengurangi frekuensi batuk
pasien, sebagai manuver ini dapat menyebabkan pecahnya usus yang
terjepit. (Oswari E. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia,1993).
Berikut, adalah berbagai pemeriksaan pada pasien Hernia :
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi daerah Inguinal dan femoral.

Meskipun

Hernia

dapat

didefinisikan

sebagai

setiap

penonjolan Viskus, atau sebagian daripadanya, melalui lubang


normal atau abnormal, 90% dari semua Hernia ditemukan di daerah
Inguinal. Biasanya, impuls Hernia lebih jelas dilihat dari pada
diraba. Ajak pasien memutar kepalanya ke samping dan batuk atau
mengejan. Lakukanlah inspeksi daerah Inguinal dan Femoral untuk
melihat timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat
menunjukkan Hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah
pasien untuk batuk lagi dan bandingkan impuls ini dengan impuls
pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk,
tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah tersebut.
b. Palpasi Hernia Inguinal
Palpasi Hernia Inguinal dilakukan dengan meletakkan jari
telunjuk kanan memeriksa didalam skrotum diatas testis kiri dan
menekan kulit skrotum kedalam. Harus ada kulit skrotum yang
cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus
diletakkan dengan kuku menghadap keluar dan bantalan jari
kedalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul
kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan
pemeriksa harus mengikuti korda spermatika dilateral masuk
kedalam kanal inguinal sejajar dengan ligamentum inguinal dan
digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak
superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna
dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan.
Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di
dalam kanal inguinal, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke
samping dan batuk atau mengejan. Seandainya ada Hernia, akan
terasa impuls tiba-tiba yang menyentuh ujung atau bantalan jari
pemeriksa. Jika ada Hernia, suruh pasien berbaring terlentang dan
perhatikanlah apakah Hernia itu dapat direduksi dengan tekanan
yang lembut dan terus menerus pada masa itu. Jika pemeriksaan
Hernia dilakukan dengan kulit skrotum yang cukup banyak dan

dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak menimbulkan


nyeri

(dr.

Jan.Tambayong, Patofisiologi

untuk

Keperawatan. Jakarta : EGC,2000)


Uraian tentang ciri-ciri Hernia akan dibahas setelah
memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari
telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa
lebih suka memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan
pasien, dan jari telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Jika
ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya,
suatu Hernia Inguinal indirek mungkin ada didalam skrotum.
Auskultasi massa itu dapat dipakai untuk menentukan apakah ada
bunyi usus didalam skrotum, suatu tanda yang berguna untuk
menegakkan diagnosis Hernia Inguinal indirek.
Tes Diagnostik yang dilakukan seperti :
a. Foto Rontgen Spinal
b. Elektromiograf
c. Venogram epidural
d. Scan CT
e. MRI
f. Mielogram
g. Kolaborative Care
L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon
actual atau potensial pasien terhadap masalah kesehatan yang perawat
mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya. Respon actual dan
potensial pasien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literatur
yang berkaitan, catatan medis pasien masa lalu, dan konsultasi dengan
professional lain. Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien
dengan post Herniotomy menurut Doengoes E. Marilynn 2000, adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit).
2. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah).
3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
hemorargi.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan primer.

5. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan.
6. Ansietas/ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka postop.
8. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
M. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Perencanaan tujuan utama adalah bahwa Pasien tidak akan
mengalami pencekikan. Jika hal itu terjadi, deteksi dini dan pengobatan
cepat dan mencegah timbulnya komplikasi. Perawat harus memahami
penyakit dan implikasinya. Disarankan bahwa jika ada gejala penahanan
atau pencekikan, segera menghubungi dokter.
Herniorrhaphy adalah pengobatan pilihan untuk hernia. Prosedur
ini melibatkan mengganti isi kantung Hernia ke dalam rongga perut dan
menutup lubang. Perawatan sebelum operasi, yaitu perawat harus
mempersiapkan individu untuk operasi sebagai salah satu dalam
mempersiapkan pasien untuk bedah umum. Jika prosedur dilakukan pada
pasien rawat jalan dasar, perawat harus membantu klien untuk membuat
pengaturan yang sesuai untuk perjalanan pulang dan rumah perawatan.
Perawatan pasca-operasi, yaitu: bahwa pasien yang menjalani operasi
Hernia

diberitahukan

untuk

menghindari

batuk.

Sarankan

untuk

meninggikan daerah skrotum dengan bantal yang lembut dan istirahat akan
membantu mengontrol pembengkakan. Jika tidak kontraindikasi oleh
pembengkakan skrotum atau pra-kondisi yang ada, ini akan meningkatkan
kenyamanan dan rasa kesejahteraan (Lewis,etc.Medical Surgical Nursing:
Assessment and Management of Clinical Problem. Volume 2. Fifth
Edition. Mosby,2000.)
N. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pelaksanaan keperawatan merupakan tahap ke empat dari proses
keperawatan, dimana rencana perawatan dilaksanakan pada tahap ini
perawat siap untuk menjelaskan dan melaksanakan intervensi dan aktifitas

yang telah dicatat dalam rencana keperawatan pasien, agar implementasi


perencanaan

ini

mengidentifikasi

tepat
prioritas

waktu

dan

perawatan

efektif
pasien.

terhadap

biaya,

Kemudian

bila

perlu
telah

dilaksanakan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap


intervensi dan mendokumentasikannya informasi ini kepada penyediaan
perawatan kesehatan keluarga.
Prinsip dalam memberikan tindakan kepeerawatan menggunakan
komunikasi terapeutik serta penjelasan setiap tindakan yang diberikan pada
pasien. Pendekatan yang digunakan adalah independent, dependen dan
interdependen (Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan edisi
3. Jakarta : EGC,2000).
Herniotomi adalah pembesaran kantong hernia sampai ke lehernya,
kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian
direposisi kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong
(Syamsuhidayat, et.al. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.Jakarta : EGC,2002).
Herniorrhaphy umumnya prosedur yang tidak rumit, sering
dilakukan sebagai hari yang sama operasi. Beberapa pasien memiliki
kebutuhan perawatan akut selain dari penilaian dan segera sebelum operasi
perawatan pasca-operasi. Perawatan operasi mirip dengan perawatan klien
dengan operasi usus buntu (http://nugealjamela.blogspot.com,diakses 12
Januari 2015).
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa Hernia telah ditegakkan.
Antibotik diberikan sampai pembedahan dilakukan. Analgetik dapat
diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Dalam melakukan pengkajian
penulis tidak menemukan hambatan yang berarti, sedangkan faktor
pendukung yang mempermudah penulis mendapatkan data adalah kerjasama
yang baik antara penulis dengan pasien disebabkan karena pasien yang
sangat kooperatif dan terbuka dalam mengemukakan keluhan yang
dirasakannya, selain itu adanya bantuan dari perawat ruangan yang
membantu memberikan informasi pada penulis, juga tersedianya alat-alat
pemeriksaan fisik (Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu
Bedah Edisi Revisi. Jakarta: EGC, 2005)

O. EVALUASI KEPERAWATAN
Meskipun proses keperawatan mempunyai tahap-tahap, namun
evaluasi

berlangsung terus menerus sepanjang pelaksanaan proses

keperawatan. Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan


terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dilakukan berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga
kesehatan lainnya. Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam
menilai tindakan keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui
pemenuhan kebutuhan pasien secara optimal dan mengukur hasil dari proses
keperawatan.
Menurut John L. Cameron. Current Surgical Therapy. (Jakarta:
Binarupa Aksara. 1997).Evaluasi didefenisikan sebagai keputusan dari
efektifitas Asuhan Keperawatan antara dasar tujuan keperawatan pasien
yang telah ditetapkan dengan respon prilaku pasien yang tampil. Evaluasi
merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Langkah dari evaluasi
proses keperawatan adalah mengukur respon pasien terhadap tindakan
keperawatan dan kemajuan pasien kearah pencapaian tujuan. Perawat
mengevaluasi apakah perilaku atau respon pasien mencerminkan suatu
kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa keperawatan atau pemeliharaan
status yang sehat. Selama evaluasi, perawat memutuskan apakah langkah
proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan menelaah respon
pasien dan membandingkannya dengan perilaku yang disebutkan dalam
hasil yang diharapkan.
Sejalan dengan yang telah dievaluasi pada tujuan, penyesuaian
terhadap rencana asuhan dibuat sesuai dengan keperluan. Jika tujuan
terpenuhi dengan baik, perawat menghentikan rencana asuhan tersebut dan
mendokumentasikan analisa masalah teratasi. Tujuan yang tidak terpenuhi
dan tujuan yang sebagian terpenuhi mengharuskan perawat untuk
melanjutkan rencana atau memodifikasi rencana Asuhan Keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Darmawan Kartono,dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa


Aksara.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta :

EGC

dr. Jan Tambayong, 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.


dr. Taufan Nugroho, 2011. Kumpulan Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak,
Bedah dan Penyakit Dalam. Jakarta: Hand out. 2007. hospitalisasi. Prodi
keperawatan, Semarang.
http:// nugealjamela.blogspot.com, diakses 12 Januari 2015.
Ignatavicius, Donna, et.All. 2000. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: W.B
SaundersCompany.
John L. Cameron. 1997. Current Surgical Therapy. Jakarta: Binarupa Aksara.
LeMone, and Burke, M.K. 2000. Medical Surgical Nursing:Critical Thinking in
ClientCare. Second Edition. New Jersey: Prentie-Hall,Inc.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and
Management of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and
Management of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Long C, Barbara, 1996. Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arief, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: EGC.

Oswari E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia.


Seymour

I.

Schwartz,

et.All

2000. Principles

of

Surgery. Companion

handbook. Jakarta: EGC.


Syamsu Hidayat, et.al. 2002. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi.
Jakarta: EGC.
Tambayong, dr. Jan.2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Wong, 2004. Wongs nursing care of infant and children. St. Louis.