Anda di halaman 1dari 81

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang (Latar Belakang PKL)


Salah satu keunggulan daerah topika adalah kelimpahan sinar matahari
yang setelah melalui rangkaian reaksi biologis dalam tanaman menghasilkan
produk yang bermanfaat banyak bagi umat manusia. Kemelimpahan energi
ilmiah inilah yang memungkinkan berlangsungnya aktivitas pertanian
sepanjang tahun, sehingga menjadi keunggulan komparatif wilayah tropika
dibanding dengan wilayah lain di bumi ini. Keunggulan ini menjadi daya tarik
bangsa Eropa untuk menjajah wilayah tropika dalam beberapa abad silam,
termasuk penjajahan indonesia oleh bangsa belanda. Agar Indonesia tidak
kembali dijajah oleh bangsa asing, maka perlu meningkatkan sumber daya
manusianya melalui perbaikan mutu pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu
diperlukan lembaga ataupun perguruan tinggi yang memiliki kompetensi yang
mendukung hal tersebut.
Sebagai perguruan tinggi yang kelahirannya merupakan tanggapan akan
kebutuhan

tenaga kerja (sumber daya manusia) di bidang perkebunan,

penyelenggaraan pendidikan tinggi di Institut Pertanian STIPER didasarkan


pada pola ilmiah pokok perkebunan. Perkebunan dalam konsep pendidikan ini
dimaknai sebagai suatu sistem pemanfaatan energi sinar matahari dan sumber
daya tanaman dan tanah untuk menghasilkan biomassa yang dimanfaatkan
untuk menunjang sistem industri secara berkelanjutan. Pilihan dan konsistensi
pada pola ilmiah pokok perkebunan ini didasarkan pada dinamika yang terjadi
dalam sistem industri perkebunan (antara lain ditunjukan oleh kontribusinya
dalam perolehan devisa negara non migas). Multidimensionalitas peran dan
fungsi (ekonomi, sosial, ekologi dan pengembangannya wilayah)-nya dalam
pembangunan bangsa menghadapkan pekebunan pada kompleksitas dan silang
kepentingan, baik dalam perpektif lokal, regional, bahkan global, seperti
tersurat dalam sistem perdagangan bebas komoditi perkebunan.
Keberhasilan pengembangan/pembangunan perkebunan dicirikan antara
lain oleh keseimbangan antara peran dan fungsi perkebunan tersebut dan hal
ini memprasyaratkan adanya sumber daya manusia yang handal. Lembaga
pendidikan (terutama perguruan tinggi) menjadi bagian penting dalam
1
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

menghasilkan

SDM

yang

berkompeten

untuk

pengembangan

perkebunan.Selama ini, SDM tersebut dihasilkan oleh perguruan tinggi


pertanian umum, padahal perkebunan mempunyai beberapa karakter spesifik,
sehingga SDM yang tersedia perlu waktu penyesuaian untuk siap bekerja di
perkebunan. Pola ilmiah pokok perkebunan yang diterapkan dalam
penyelenggaraan pendidikan di Institut Pertanian STIPER ditujukan antara
lain untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mempunyai karakter (sikap
mental) , kemampuan akademik dan skill yang memadai untuk berkarya di
perkebunan. Penjabaran pola ilmiah pokok ini dalam kurikulum semua
jurusan/program studi tetap mempertimbangkan karakter keilmuan (tataan
pohon ilmu) masing-masing.
Pengembangan perkebunan mulai diarahkan pada keterpaduan sektor
hulu dan hilir( on-farm dan off-farm) dengan pendekatan industri yang
berbasis komoditas. Kelapa sawit merupakan komoditas andalan perkebunan
indonesia dan berdasarkan potendi sunber daya alam yang dimiliki, maka
wajar pemerintah mentargetkan agar areal dan produksi kelapa sawit (CPO
dan PKO) Indonesia melampaui Malaysia. Potensi lahan untuk pengembangan
kelapa sawit ada 31.770.680 ha dan luas lahan kelapa sawit sampai 2011 ada
8,9 jt ha, dengan produksi CPO 22,51 jt ton.Sementara itu produktivitas
perkebunan kelapa sawit Indonesia masih lebih rendah dari produktivitas
potensial. Di pihak lain, produk turunan CPO dan PKO beranekaragam ( lebih
dari 30 macam). Industri hilir minyak kelapa sawit di Indonesia cukup
prospektif, karena nilai tambah (added value) terbesar dari industri hilir ini.
Beberapa nilai tambah dari turunan dari minyak kelapa sawit ini adalah:
surfaktan dan emulsifier 200%, sabun mandi 300% , lilin 300%

dan

kosmetika 600%. Capaian nilai tambah tersebut sangat bergantung pada


dukungan teknologi dan riset dasar, sehingga peran perguruan tinggi dalam
membangun knowledge-based economy untuk kelapa sawit semakin
diperlukan di masa yang akan datang.
Pesatnya pengembangan perkebunan kelapa sawit(ekstensifikasi areal)
dan maraknya indutri hilir minyak sawit (termasuk biodiesel) memerlukan

2
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

dukungan sumber daya manusia yang memang spesifik sesuai dengan


karakteristik komoditas bersangkutan.
Disamping itu antara kegiatan yang telah dilakukan dikampus baik itu
bidang akademik berupa teori-teori dan mungkin organisasi kemahasiswaan
tidak bisa samakan begitu saja dengan kenyataan yang ada dilapangan. Tentu
pada kenyataan akan jauh berbeda baik dalam ilmu pengetahuan dan teknolgi
maupaun keterampilan yang dimiliki oleh tiap mahasiswa serta yang paling
penting masalah pembentukan karakter mahasiswa itu sendiri. Sehingga
diharapkan hubungan timbal balik setelah diadakannya Pratek Kerja Lapangan
(PKL) ini dengan kemampuan karakter yang dimiliki mahasiswa,mahasiswa
tersebut

menjadi

lebih

mudah

bersosialisasi,mengaplikasikan

ilmu

keterampilannya setara terarah dan bisa menjawab berbagai macam tantangan


hidup di masa yang akan dating.
B. Tujuan Peraktek Kerja Lapangan ( PKL )
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) ini bertujuan untuk
membentuk sarjana sebagai penerus pembangunan yang lebih menghayati
masalah yang sangat komplek yang dihadapi oleh masyarakat dalam
pembangunan, dan belajar menanggulangi masalah-masalah tersebut secara
pragmatis dan interdisipliner. Dengan begitu akan mendekatkan Lembaga
Pendidikan Tinggi dengan masyarakat dan menyesuaikan pendidikan tinggi
dengan tuntutan pembangunan.Terutama membantu pemerintah dalam
mempercepat

gerak

pembangunan

di

pedesaan

oleh

kader-kader

pembangunan yang telah dipersiapkan dengan matang.


Menghasilkan

sarjana

yang

memiliki

pengalaman

kerja

dipabrik/prusahaan/intansi tempat PKL sehingga siap dan mampu untuk


bekerja di pabrik/prusahaan/intansi sejenis atau mampu mandiri sebagaiwira
usaha.
Diharapkan dengan adanya pelaksanaan praktek kerja lapangan ini
peserta bisa mendapatkan wawasan dan nuansa pada bidang profesi yang
diminati, dengan disertai pengalaman kerja di perusahaan perkebunan kelapa

3
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

sawit karena terjalin hubungan yang erat dan harmonis antara Instiper dengan
pabrik/perusahaan/instansi.

4
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

C. Diskripsi Perusahaan
PT. Citra Borneo Indah group adalah sebuah group perusahaan swasta
yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit terpadu yang berkantor
pusat di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Perusahaan ini didirikan oleh
putra daerah yang kini menjadi pemimpin di perusahaan ini. Awalnya
perusahaan ini bernama Tanjung Lingga group yang bergerak di bidang
perkayuan yang mana kayu yang dikelola atau di jual merupakan dari hasil
pembukaan hutan sebagai areal lahan perkebunan. PT. Citra Borneo Indah
didirikan pada tanggal 6 Mei 1999. Awalnya perusahaan ini memiliki luas
wilayah 3 Ha yang terletak di Natai.
Saat ini luas areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh PT. Citra
Borneo Indah ini sendiri mencapai 71.189 hektar. Tidak semua areal ini yang
sudah ditanami oleh kelapa sawit, untuk areal yang sudah ditanami kelapa
sawit masih mencapai 16.000 hektar, 47.000 hektar dalam proses penanaman,
144 hektar dalam proses pembibitan dan selebihnya masih dalam proses
pembukaan. Saat ini PT. Citra Borneo Indah Group memiliki 3 anak
perusahaan sebagai pabrik pengolahan kelapa sawit. Untuk kedepannya
perusahaan ini akan mengembangkan lagi pabrik kelapa sawitnya yang mana
sudah dilaksanakan pembangunan 2 pabrik kelapa sawit baru yang telah
dimulai pada awal januari 2012 ini. Anak perusahaan PT. Citra Borneo Indah
antara lain:
1. PT. Mitra Mendawai Sejati
PT. Mitra Mendawai Sejati merupakan anak perusahaan PT. Citra
Borneo Indah yang didirikan pada 6 mei 1999 dan mempunyai estate serta
pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) sering dikenal dengan PKS Suayap.
Untuk kapasitas produksi dari PKS Suayap ini mencapai 45 ton TBS/jam.
PKS suayap hanya memiliki 1 line produksi, namun PKS suayap ini sudah
memiliki mesin pengolahan kernel menjadi Palm Kernel Oil (PKO) dengan
kapasitas produksi 8 ton /jam.
2. PT. Tanjung Sawit Abadi
PT. Tanjung Sawit Abadi juga tergabung didalam PT. Citra Borneo
Indah. Pabrik pengolahan kelapa sawit yang terdapat di PT . Tanjung Sawit
5
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Abadi ini adalah PKS Malata dengan kapasitas produksinya sebesar 45 ton
TBS/jam. PKS Melata ini masih memiliki 1 line produksi saja dan tidak
terdapat mesin pengolahan lanjut kernel menjadi Palm Kernel Oil (PKO).
3. PT. Sawit Sumbermas Sarana
PT. Sawit Sumbermas Sarana memiliki pabrik pengolahan kelapa
sawit yang bernama PKS Sulung. PT. Sawit Sumbermas Sarana diresmikan
pada tanggal 22 Desember 2006 oleh Gubernur Kalimantan Tengah.
Kapasitas produksi dari PKS ini mencapai 90 ton TBS/jam dan merupakan
produksi terbesar dibandingkan dengan PKS lain. PKS sulung ini merupakan
PKS yang paling tua dibanding kedua PKS yang lainnya. Untuk pabriknya
sendiri PKS sulung ini sudah memiliki 2 line Produksi sehingga hal tersebut
yang membuat tingkat kapasitas produksinya lebih besar dibanding dengan
kedua PKS yang lainnya. Namun kekurangan dari pada PKS Sulung ini
adalah masih belum terdapatnya mesin pengolahan inti sawit (kernel)
menjadi Palm Kernel Oil. Sehingga inti kernel yang dihasilkan oleh PKS ini
harus dikirim ke PKS Suayap atau di jual ke perusahaan lainnya.
4. PT. Sawit Multi Utama
PT. Sawit Multi Utama merupakan salah satu anak cabang dari Citra
Borneo Indah Group yang didirikan pada 16 Februari 2004 dengan luas area
estate lumayan banyak antara lain di estate pedongatan,nanga koring,batu
tunggal estate dan sepondan. Di PT ini tidak terdapat Pabrik kelapa sawit
jadi hanya bergerak dalam bidang perkebunanya saja.
5. PT. Kalimantan Sawit Abadi
PT. Kalimantan Sawit Abadi merupakan salah satu anak cabang dari
Citra Borneo Indah Group yang didirikan pada 25 Maret 2004 bergerak
dalam dalam bidang perkebunaan dan tidak terdapat PKS atau pabrik kelapa
sawit. Beberapa estate dari PT. Sawit multi sarana ini antara lain estate Natai
baru dan Batu Kotam dan terletak bersamaan di wilayah 1 dan II bersama
PT. Sawit Sumbermas Sarana.
C.1. Visi dan Misi Perusahaan

Visi
Becoming the best world class plantation company.
6

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

Misi
1. Membangun bisnis perkebunan secara profesional
2. Meningkatkan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan
3. Melaksanakan prinsip tata kelola perusahaan yang sempurna
4. Menggunakan teknologi maju ramah lingkungan
5. Mengembangkan sumber daya manusia dan potensi daerah dalam
semangat kemitraan.

Tata Nilai

We Care. . .
Care for the company
Care for the people
Care for the environment
Care for the country, Indonesia

C.2 Lokasi Perusahaan


Kantor pusat PT. Citra Borneo Indah berlokasi di Jl. Haji Udan Said 47,
Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dengan kode pos 74113. Ada kantor
perwakilan di Singapura dengan alamat 8Eu Tong Sen Street, Office 1, The
central # 21-93/94 Singapore 059818, dan di Jakarta yaitu dengan alamat Wisma
06 (Kota BNI), Level 12 Suite 1201 B, Jl. Jendral Sudirman Kav 1, Jakarta 10220.
PT. Mitra Mendawai Sejati terletak di Desa Suayap, Kecamatan Arut
Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah. Secara
geografis lokasi perkebunan tersebut terletak pada koordinat 02 15 57, 8 LS dan
111 43 22,9 BT.
Lokasi PT. Mitra Mendawai Sejati ini dapat dikatakan strategis karena
pembangunan dekat dengan sumber air, tersedia tempat pembuangan air limbah,
dan terhindar dari gangguan alam seperti banjir dan tanah longsor. Kriteria
pemilihan lokasi perusahaan harus yang dianggap berhasil yaitu
1. Sumber Air
Air merupakan bahan yang sangat penting dalam pengoprasian pabrik yaitu
sebagai air umpan boiler untuk pembangkit tenaga dan untuk air pengolahan. Air
tersebut masih mendapatkan perlakuan sesuai dengan mutu air sumber. Oleh
sebab itu dalam perencanaannya perlu dipertimbangkan mutu air dan jarak dari
lokasi pabrik.
2. Keadaaan Tanah
7
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Lokasi pabrik dipilih pada tanah yang mempunyai sifat mekanik tanah yang
sesuai untuk tempat berdirinya pabrik. Biasanya dipilih tempat tinggi dengan
tujuan agar terhindar dari banjir dan pengaturan dreinase yang lebih mudah. Pada
lokasi tersebut harus memungkinkan pembangunan perumahan karyawan pabrik
dan fasilitas lainnya.
3. Berlokasi di Tengah Kebun
Keberhasilan pengolahan dipabrik kelapa sawit, harus dibarengi dengan
pengiriman bahan baku yang lancar. Sehingga pemilihan lokasi harus berada di
tengah kebun sawit. Selain mempercepat pengiriman bahan baku, juga dapat
mengurangi dampak pencemaran dan kebisingan bagi penduduk sekitar.
C.3 Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang baik dapat memudahkan pekerja untuk
menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing, pekerjaan dapat
berjalan lancar dan tertib sehingga tujuan yang diinginkan dapat
tercapai.Bentuk struktur organisasi yang digunakan PT. Mitra Mendawai
Sejati (PKS Suayap), struktur oraganisasiberbentuk organisasi garis.Bagan
struktur organisasi perusahaan di PT. Mitra Mendawai Sejati (PKS Suayap),
dapat dilihat pada Lampiran 1.
Deskripsi tugas dan wewenang dari masing-masing jabatan di PT. Mitra
Mendawai Sejati (PKS Suayap) adalah sebagai berikut :
1.

Mill Head
-

Bertanggung jawab atas seluruh operasioal pabrik dan memastikan


performance pabrik sesuai standar.

2.

Asisten Kepala Pabrik


-

Melakukan pengawasan pada proses pengolahan dan maintenance


sesuai standar dan SOP yang telah ditetapkan.

Memonitor dan memastikan through put tercapai sesuai standar.

Memonitor dan memastikan penggunaan material untuk seluruh


kegiatan proses dan maintenance terkontrol sesuai standar yang
ditetapkan.
8

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

3.

Supervisor Maintenance
-

Memonitor dan memastikan proses perbaikan seluruh alat dan mesin


pabrik berjalan sesuai dengan rencana, menggunakan material dan
tenaga kerja secara efektif dan efisien.

Memeriksa langsung mesin-mesin yang telah dilakukan perbaikan


untuk memastikan mesin dapat beroperasi kembali dengan baik.

4.

Supervisor Sortasi
-

Mengawasi dan bertanggungjawab terkait dengan sortasi dan grading


bahan baku sebelum mengalami proses produksi.

5.

Supervisor Analysis
-

Mengawasi dan memastikan proses pengambilan sample cair dan padat


yang dilakukan petugas sample telah sesuai dengan frekuensi, interval
jumlah, waktu dan tempat pengambilan yang telah ditentukan.

Memastikan proses pengujian atas seluruh sample yang diambil telah


memenuhi persyaratan pengujian sampling.

Mengawasi dan memastikan grading TBS sesuai dengan SOP yang


berlaku.

Memastikan seluruh perhitungan analisa telah dilakukan dengan benar


dan dituangkan ke dalam laporan laboratorium sesuai fakta.

6.

Supervisor Proses
-

Memonitor dan memastikan proses pengolahan TBS berjalan dengan


baik sesuai standar dan SOP yang telah ditetapkan.

Mengawasi kualitas dan losses minyak secara visual serta dapat


mengambil tindakan bila diperlukan.

7.

Ketua Tata Usaha


-

Memonitor dan memastikan seluruh transaksi keuangan (cash dan noncash) yang terjadi pada unit tersebut telah dicatat dan dialokasikan

tepat waktu.
Memonitor dan memastikan seluruh penerimaan TBS di-upload
dengan benar dan up-todate.
9

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

Memonitor dan memastikan seluruh transaksi permintaan pembelian,


penerimaan barang, pembayaran dan pengeluaran stock gudang dicatat

dengan benar dan tepat waktu.


Memonitor dan memastikan seluruh penyimpanan di gudang dengan

benar.
Memonitor dan memastikan seluruh data dan personal life karyawan
up-to date dan seragam.

8.

Kepala Gudang
-

Bertanggung jawab terkait aktifitas persediaan produk di Palm Oil


Mill PT. Mitra Mendawai Sejati.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

10
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Kelapa sawit merupakan salah satu produk perkebunan yang memilik nilai
tinggi. Manfaat dari kandungan minyak kelapa sawit sendiri sangat bervariasi.
Penggunaan produk kelapa sawit sendiri bisa untuk produk pangan dan non
pangan. Sudah banyak juga industri lain yang dapat menggunakan sebagai bahan
baku produknya, seperti minyak goreng, makanan, kosmetik dan lain-lain (Pahan,
Iyung, 2011).
Akhir-akhir ini industri kelapa sawit marak dibicarakan, karena dunia saat
ini sedang mencari sumber energi baru pengganti minyak bumi yang cadangannya
semakin menipis. Salah satu alternatif pengganti tersebut adalah energi biodiesel
dimana bahan baku utamanya adalah minyak mentah kelapa sawit atau yang lebih
dikenal dengan nama Crude Palm Oil ( CPO ). Biodiesel ini merupakan energi
alternatif yang ramah lingkungan, selain itu sumber energinya dapat terus
dikembangkan.Sangat berbeda dengan minyak bumi, jika cadangannya sudah
habis tidak dapat dikembangkan kembali (Pahan, Iyung, 2011).
Pertumbuhan permintaan CPO tidak hanya disebabkan dengan adanya
pengembangan energi alternatif tersebut, tetapi juga disebabkan kenaikan
permintaan yang disebabkan oleh pertumbuhan industri hilirnya. Sehingga seluruh
kegiatan di dalam perkebunan harus diperhatikan secara detail, baik mulai dari
persiapan dan pembukaan lahan hingga pelaksanaan panen (Pahan, iyung, 2011).
A. Land Clearing (LC)
Merupakan kegiatan pembukaan dan pengolahan lahan hingga siap
ditanami tanaman kelapa sawit. Adapun jenis jenis aktivitas pada LC yaitu :
1. Imas
Imas merupakan kegiatan pemotongan kayu kayu kecil yang memiliki
diameter kurang dari 15 cm dan memiliki tujuan untuk memberikan jalan
kepada pekerja yang akan melakukan pekerjaan tumbang. Selain itu yang
harus diperhatikan pula adalah bekas tebangan harus mepet dengan
permukaan tanah (maksimum 20 cm) dan dilakukan hingga bersih.
(Pahan, Iyung, 2011)
11
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

2. Tumbang
Tumbang merupakan kegiatan penebangan kayu yang berukuran besar
atau yang memiliki diameter lebih dari 15 cm. penumbangan harus dilakukan
terhadap semua kayu tanpa terkecuali (tidak boleh ada kayu yang berdiri
tegak) dan bebas tebangan maksimum 125 cm dari permukaan tanah
(Pardamaen, Maruli, 2008).
3. Perun
Perun merupakan kegiatan merencek atau memotong kayu kayu yang
sudah ditumbang dan mengumpulkannya.Kayu kayu tersebut dipotong
dengan panjang 2 3 m dan potongan potongan dikumpulkan atau
ditumpuk (Pardamaen, Maruli, 2008).
4. Pembuatan jalan atau jembatan
Jalan atau jembatan merupakan prasarana untuk memudahkan
penanaman, terutama dalam pengangkutan bibit, alat alat dan tenaga kerja
serta pengawasan seluruh pekerjaan di lapangan. Jalan utama di dalam kebun
dibagi menjadi 4, yaitu AR (Access Road), MR (Main Road), CR (Collection
Road) dan jalan kontur. AR merupakan jalan yang menghubungkan jalan
Negara ke kebun atau PKS dengan lebar jalan sekitar 20 m. MR merupakan
jalan yang dibangun dengan arah Barat Timur yang memiliki lebar jalan
sekitar 9 m. CR merupakan jalan yang dibangun dengan arah Utara Selatan
yang memiliki lebar sekitar 7 m. Jalan kontur merupakan jalan yang
dibangun pada areal berbukit dan dibuat memotong kontur dengan lebar
sekitar 5 7 m. Adapun persentase panjang jalan yaitu Panjang jalan utama
adalah 5% dari total panjang jalan, panjang jalan transport adalah 25% dari
total panjang jalan dan Panjang jalan pengumpul adalah 70% dari total
panjang jalan (Pardamaen, Maruli, 2008)
5. Pembuatan tapak kuda atau teras
Tapak kuda atau teras merupakan tempat dudukan tanaman kelapa sawit
yang dibuat pada areal berbukit dan memiliki tujuan agar tanaman memiliki
ruang tempat tumbuh yang baik. Standar pembuatan tapak kuda/teras adalah
dibual bila areal berbukit (kemiringan >5), ukuran tapak kuda 4x3,5 m dan
lantai

tapak

kuda

harus

rata

dan

sedikit

miring

ke

dalam

(Pahan, Iyung, 2011).


12
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

B. Pembibitan
Pembibitan merupakan kegiatan pengecambahan benih kelapa sawit
hingga menjadi bibit yang siap tanam di lapangan. Adapun sisitem yang
digunakan adalah single stage ( satu tahap ) dan double stage ( dua tahap).
Pembibitan satu tahap(single stage) memiliki ciri-ciri yaitu tidak
memerlukan kantong plastik kecil, tidak memerlukan bedengan dan atap
pelindung, tidak memerlukan biaya pemindahan ke plastik besar, perlu
persiapan untuk pengisian kantong plastik yang memerlukan tanah atas yang
baik dalam waktu singkat, sortasi bibit harus dilakukan secara bertahap dan
secara keseluruhan sistem ini lebih mahal.
Pembibitan dua tahap (double stage nursery) memiliki ciri-ciri yaitu
karena ditanam dalam kantong yang kecil, bibit tahap awal berkumpul dalam
suatu luas yang lebih kecil, sehingga memudahkan pengawasan, pemupukan,
dan pengendalian hama penyakit. Penggunaan kantong plastik besar lebih
sedikit karena seleksi awal (sekitar 10%) telah dilakukan, dan lama
pembibitan dalam kantong plastik besar lebih singkat, kebutuhan tanah lebih
sedikit, biaya penyiraman lebih murah namun memerlukan biaya tambahan
untuk pemindahan bibit dari kantong plastik kecil yang besar.
Pembibitan 2 tahap dipandang lebih tepat yaitu dengan pembibitan awal
(pre nursery) dan pembibitan utama(main nursery). Pembibitan pre nursery
memiliki ciri yaitu memiliki bedengan yang berukuran 1,20m x 10m x 2.5 cm
(tergantung lokasi), ukuran polybag dalam pre nursery adalah lebar 15 cm
tinggi 22 cm dan tebal 0,07 mm. Usia umur bibit pada pre nursery adalah
maksimal 4 bulan. Pada pre nursey pemupukan dilakukan melalui daun.
Kriteria bibit yangmengalamai penyeleksian pada pre nursery adalah bibit
yang akarnya melingkar akibat ditanam terbalik, bibit yang daunnya
menggulung, bibit yang daunnya sempit atau seperti jarum, bibit yang berdaun
keriput/keriting, bibit yang berdaun menciut, bibit yang kurus dan kerdil dan
bibit yang daunnya menguning.Pembibitan utama (main nursery) harus
memiliki lokasi atau tempat yang relatif rata, dekat dengan sumber air, tidak
13
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

tergenang air dan mudah diawasi serta dekat dengan pre nurery, lokasi main
nursery harus memiliki drainase yang teratur, jalan yang diatur sebaik-baiknya
untuk kemudahan pengeluaran/pengiriman bibit. Sekeliling Main Nursery
sebaiknya dipagar untuk mencegah gangguan ternak dan sebagainya. Ukuran
polybag pada main nursery adalah 40x50 cm dan tebal 0,12 mm. Pembibitan
pada main nursey dimulai pada umur 4 bulan -24 bulan. Penyeleksian bibit
abnormal pada main nursery adalah anak daun sempit dan menggulung,
tumbuh tegak dan kaku, pertumbuhan tajuk rata. Bibit loyo, bibit
jouvenile( daun tetap mengumpul atau tidak pecah).
Kebutuhan kecambah per ha ditentukan oleh jarak tanam yang dipilih,
atau populasi pohon per ha.Jumlah kecambah yang dibutuhkan lebih besar
dari jumlah populasi, mengingat pada saat seleksi sebagian harus dibuang
karena tidak memenuhi syarat. Jumlah kecambah yang dibutuhkan dalam
pembibitan adalah 140% dari populasi pohon per ha, 40% bibit mengalami
penyeleksian yaitu :

Seleksi kecambah

= 2,5 %

Seleksi di pre nursery

= 10 %

Seleksi di main nursery

= 15 %

Cadangan penyisipan

=5%

Perawatan dalam pembibitan adalah yang pertama penyiraman dilakukan


setiap pagi dan sore hari selama 30 menit atau setara dengan 6 mm curah
hujan untuk setiap penyiraman. Bila malam hari pukul 19:00 05:00 wib ada
curah hujan lebih besar dari 10 mm, tidak perlu dilakukan penyiraman pada
keesokan pagi hari, dan penyiraman pada sore hari bergantung pada
kelembapan tanah di polybag dan bila pagi hari turun hujan lebih besar dari
10 mm, maka tidak perlu dilakukan penyiraman pagi dan sore hari. Yang
kedua adalah pemupukan, pada pembibitan dilakukan secara teratur sesuai
dengan jadwal yang telah ada, standar pemupukan dalam pembibitan adalah
pupuk harus tersebar merata, tidak boleh menggumpal dan tidak boleh
mengenai pohon atau daun, pemupukan pada pembibitan bisa dilakukan
14
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

dengan pupuk cair dengan cara menyemprot, pemupukan pada pembibitan


umumnya menggunakan pupuk majemuk(compound fertilizer).
Yang ketiga adalah weeding yaitu membuang semua gulma baik yang
ada pada polybag maupun diluar polybag, weeding gulma dalam polybag
harus dilakukan dengan cara manual yaitu dicabut dengan tangan, weeding
dilakukan secara rutin dengan rotasi 30 hari, weeding gulma digawangan
(diluar polybag) dilakukan secara manual/khemis dengan rotasi 60 hari. Dan
perawatan terakhir dalam pembibitan adalam penyeleksian pada pre nursery
dan main nursery.
Pada pembibitan harus dilakukan pemberantasan hama dan penyakit,
pemberantasan hama dan penyakit dilakukan rutin satu bulan sekali secara
khemis. Jenis hama yang sering menyerang bibitan adalah belalang, tungau,
apogonia dan sebagainya. Penyakit yang sering dijumpai pada pembibitan
adalah pertumbuhan bibit abnormal karena kelainan bawaan atau kelainan
gen. Penanggulangan bibit yang terserang penyakit adalah dengan cara
mencabut bibit yang sakit atau mengisolasinya ke tempat yang lain agar tidak
menginfeksi bibit yang lain dan kemudian dilakukan penanggulangan secara
khemis yaitu dengan fungisida apabila bibit terinfeksi jamur, namun apabila
seringan jamur telah maksimal maka bibit harus dibuang atau dimusnahkan.
C. Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman
Menghasilkan (TM)
1. Perawatan Tanaman belum Menghasilkan (TBM)
Tanaman belum menghasilkan adalah tahapan sejak tanaman kelapa
sawit selesai di tanam sampai tanaman memasuki masa panen
pertama.Pada umumnya tanaman belum menghasilkan berumur maksimal
3 tahun.Rawat tanaman belum menghasilkan (TBM) adalah setiap
pekerjan yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan tanaman sehingga
mempercepat

masa

TM.

Periode

pemeliharaan

tanaman

belum

menghasilkan adalah periode TBM I yang berarti tanaman yang dipelihara


15
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

pada tahun I atau tahun penanaman,kemudian periode TBM II yaitu


tanaman yang dipelihara pada tahun II setelah tahun penanaman (12 bulan)
dan yang terakhir adalah periode TBM III yaitu tanaman yang dipelihara
pada tahun III setelah tahun penanaman. Pada periode tahun III umur 30
bulan sudah mulai buah pasir(scout harvesting) (Widanarko, 2011).
Standard pemeliharaan di TBM adalah standard M I dan M III.
Standard pemeliharaan M I adalah penutup tanah terdiri dari leguminose
menjalar dan bebas dari rumputan sedangkan standard pemeliharaan M II
adalah penutup tanah terdiri dari leguminose menjalar ditambah gulma
yang mengantung .Berdasarkan jenis pekerjaan, rawat TBM dibai dalam
beberapa kelompok kegiatan yaitu :
a) Rawat Piringan
Piringan pokok digaruk bersih dengan pusingan 1 x sebulan yaitu
pada TBM I pada radius 1 meter, pada TBM II radius 1,5 meter dan
pada TBM III radius 2 meter. Rawat piringan bertujuan agar areal di
sekeliling

pohon dibersihkan

guna memberikan

ruang untuk

pertumbuhan tanaman maupun sebagai tempat menaburkan pupuk


(Widanarko, 2011).
b) Rawat Jalan tikus
Jalan tikus adalah jalan yang dibuat diantara dua barisan tanaman
yang berfungsi sebagai jalan para pekerja rawat maupun jalan untuk
memudahkan pengawasan pekerjaan secara keseluruhan. Pada masa
TBM III menjelang scothharvesting (panen buah pasir) sudah harus
dibuat jalan tikus atau pasar pikul untuk mengeluarkan buah, lebar 11,5 meter dengan rotasi 1 x sebulan (Widanarko, 2011).
c) Rawat Gawangan (DAK)
Rawat gawangan adalah membersihkan gulma dari kelompok
anak kayu yang ada di gawangan pohon termasuk path, piringan dan
sekitar parit/sungai. Pada umumnya rawat gawangan dilakukan dengan
16
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

cara dongkel anak kayu (DAK) dan gulma yang sering didongkel
adalah Putihan (Chromolaena odorata), Merahan (Melastoma
malabathricum) dan kerisan (Schleria sumatrensis).
d) Pemberantasan lalang
Lalang adalah jenis gulma yang berbahaya sehingga harus
diberantas sampai tuntas . Jalan yang harus diberantas adalah yang
termasuk kategori sheet sheet, spordis maupun kategori wiping.
Pemberantasan lalang kategori wiping dilakukan rutin dan secara
khemis dengan rotasi 60 hari.Bila memberantas lalang kategori sheet
dan sporadis dengan penyemprotan harus menggunakan air bersih
(bukan air yang berlumpur dan keruh) dan dilakukan pada pagi atau
siang hari saat cuaca cerah(Widanarko, 2011).
e) Sensus Pohon
Pengertian sensus pohon adalah menghitung jumlah pohon
kelapa sawit tiap blok pada areal afdeling. Dengan sensus pohon akan
diketahui apakah jumlah pohon tiap blok telah sesuai atau belum
terhadap standar. Pada perkebunan kelapa sawit dilakukan beberapa
sensus pada tanaman yaitu sensus Un-produktif dan sensus panjang
pelepah. Sensus un-produktif dilakukan agar mengetahui persentase
atau banyaknya pohon yang sudah dapat dipanen, sensus un produktif
dilakukan dengan cara mengamati setiap pohon yang telah memiliki
jumlah bunga jantan dan betina sebanyak 4 bunga per tandan.
Sedangkan sensus panjang pelepah dilakukan agar mengetahui
pertambahan pertumbuhan tanaman (Widanarko, 2011).
f) Kastrasi dan Sanitasi
Kastrasi adalah suatu kegiatan memotong dan menbuang bunga
betina dan dilakukan pada umur 14 -24 bulan dengan selang interval
setiap

bulan.Tujun

kastrasi

adalah

agar

memaksimalkan

pertumbuhan tanaman terlebih dahulu baru kemudian ke pertumbuhan


17
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

buah.Sedangkan sanitasi adalah pembersihan pada pokok dan piringan


agar memudahkan dalam perawatan tanaman dan persiapan panen,
kegiatan sanitasi adalah membuang buah partenocarphy, membuang
buah

busuk/thirataba

dan

pemotongan

pelepah

kering

(Widanarko, 2011).
g) Pemupukan
Pemupukan merupakan faktor yang sangat dibutuhkan dalam
perawatan tanaman kelapa sawit agat tanaman dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik, karena faktor ini setiap perusahaan
perkebunan kelapa sawit harus menyediakan budget atau anggaran
dana yang lebih sekitar > 60%. Pupuk yang sering digunakan pada
tanaman yang belum menghasilkan adalah Urea, Kieserit, TSP, MOP
dan HGFB. Di bawah ini akan dijelaskan tentang unsur yang
dikandung suatu pupuk dan gejala kekurangnya atau defisiensi hara
bagi tanaman yaitu :
Tabel.1. Kekurangan dan Defisiensi Hara
No
(1)

Jenis
(2)

Unsur yang
Dikandung
(3)
Nitrogen 46 %

UREA

ZA

Nitrogen 21 %
Belerang 27 %

Rock
Phosphate
( RP )

Phospor 38 %

TSP

Phospor 48 %

Gejala Kekurangan
(4)
- Daun menjadi kuning dan layu mulai daun
muda sampai daun tua.
- Gejala pertama Nampak pada cabang atau
pelepah yang paling bawah.
- Pada tanaman muda akan terjadi keterlambatan
pertumbuhan (kerdil).
- Daun menjadi kuning dan layu mulai daun
muda sampai daun tua.
- Gejala pertama Nampak pada cabang atau
- pelepah yang paling bawah.
- Pada tanaman muda akan terjadi keterlambatan
pertumbuhan ( kerdil ).
- Gejala tidak jelas hanya tanaman menjadi
kerdil.
- Kalau sudah akut, warna daun keungu unguan
dan kerdil.
- Gejala tidak jelas hanya tanaman menjadi
kerdil.
18

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

- Kalau sudah akut, warna daun keungu unguan


dan kerdil.
5
Muriate
Kalium 62 %
- Pelepah
daun
bagian
bawah
(tua)
Of Potash Clorin 47 %
berwarnakuning tua kecokelatan dan berbintik
(MOP)
orange (orange spot).
- Bagian pinggir ujung daun berkerut berwarna
abu abu keperakan (nekrosis).
(1)
(2)
(3)
(4)
6
Kieserite
Magnesium 27%
- Hampir sama dengan kalium tetapi daun yang
Belerang 23%
berwarna kuning lebih cerah mulai dari
pelepah yang terbawah.
- Bagian tulang daun berwarna hijau dan daun
yang terlindung tetap berwarna hijau akhirnya
daun menjadi kering .
7
Pupuk
NPK (12 : 12 : 17 : 2) - Daun menjadi kuning dan layu mulai daun
Majemuk NPK (15 : 15 : 6 : 4)
muda sampai daun tua.
NPK
- Gejala pertama nampak pada cabang atau
pelepah yang paling bawah.
- Pada tanaman muda akan terjadi keterlambatan
pertumbuhan (kerdil).
- Gejala tidak jelas hanya tanaman menjadi
kerdil.
- Kalau sudah akut, warna daun keungu unguan
dan kerdil.
- Pelepah daun bagian bawah (tua) berwarna
kuning tua kecokelatan dan berbintik orange
(orange spot).
- Bagian pinggir ujung daun berkerut berwarna
abu-abu keperakan (nekrosis).
8
Dolomite
Magnesium 22 %
- Hampir sama dengan kalium tetapi daun
CaO 40 %
berwarna kuning lebih cerah mulai dari
pelepah yang terbawah
- Bagian tulang daun berwarna hijau dan daun
yang terlindung tetap berwarna hijau.
9
HGF
Boron 45%
- Tanaman menjadi kerdil atau kecil yang
Borat
disebut little leaf diease dengan pinggir daun
berkerut dan terlipat.
- Pelepah daun menjadi pendek.
Sumber: Suwandi et al (1989)
h) Konsolidasi
Konsolidasi adalah pemeriksaan situasi blok per blok untuk memilih
kekurangannya,kemudian memperbaikinya. Pada kegiatan konsolidasi juga
dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahan lainnya. Bibit yang
19
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

mati,abnormal,

tumbang,

terserang

hama

atau

penyakit

harus

disisip,diperbaiki teras yang rusak dan dilakukan enegakan tanaman ynag


tampak miring dan memadatkan tanah setelah kegiatan penanaman.
Semuanya harus diperiksa secara teratur minimal dua kali setahun. Pekerjaan
pemeriksaan

ini

kira-kira

memerlukan

0,10

HK/Ha

(Pardamaen, Maruli, 2011).


2. Perawatan Tanaman Menghasilkan (TM)
Tanaman menghasilkan atau TM adalah tanaman yang sudah di
panen(diambil hasilnya) secara rutin). Umumnya, Tanaman ini berumur
diatas 3 tahun dan sampai 25 tahun atau sampai diremajakan
kembali/replanting(Pardamaen, Maruli, 2008).
Kegiatan Pemeliharaan tanaman menghasilkan adalah
a) Rawat Jalan Panen
Jalan panen adalah jalan ditengah-tengah barisan tanaman yang
diperuntukan bagi orang panen agar mudah mencari tandan buah yang
masak dan mengangkut hasilnya. Rawat jalan panen dialakukan dengan
cara menyemprot pasar pikul apabila pasar pikul ditutupi dengan
gulma-gulma. Pembuatan tapak timbun juga merupakan kegiatan dalam
rawat jalan panen karena tapak timbun dapat membantu atau
mempermudah pemanen dalam transportai panen pada daerah rawa atau
rendahan. (Pardamaen, Maruli, 2008)
b) Rawat pringan
Piringan adalah daerah sekeliling pohon yang dibersihkan untuk
mempermudah pengumpulan brondolan sewaktu panen maupun untuk
tempat penaburan pupuk.Piringan berbentuk lingkaran dan memiliki
jari-jari minimal 15 cm dari ujung daun terluar. Rawat piringan
dilakukan dengan dua cara yaitu cara manual dan khemis. Cara manual
adalah dengan menggaruk piringan, piringan pokok digaruk bersih
20
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

dengan pusingan 1 bulan sekali dengan radius 2 meter, rawat piringan


secara manual juga melakukan aktivitas menarik kacangan atau LCC
apabila telah merambat ke daun kelapa sawit. Sedangkan rawat piringan
dengan cara khemis yaitu melakukan penyemprotan dengan herbisida,
rawat piringan secara khemis dilakukan dengan rotasi 90 hari (4 kali
setahun). Jika keadaan tenaga kerja sulit diperoleh maka rawat piringan
dilakukan dengan sistem khemis (Pahan, Iyung, 2011).
c) Pemberantasan Lalang
Pemberantasan Lalang adalah kegiatan memberantas setiap lalang
(Imperata cylindrica) yang tumbuh diareal tanaman dan sekitarnya,
misalnya jalan, parit dan gawangan.Pemberantasan lalang bertujuan
agar mempermudah pemanen atau tenaga kerja perawatan dalam
melakukan aktivitas kerja. Pemberantasan lalang dilakukan dengan cara
khemis. Apabila lalang dalam jumlah banyak maka dilakukan semprot
lalang total, sedangkan apabila lalang dalam jumlah banyak namun
hanya pada tempat-tempat tertentu maka dilakukan spot spraying dan
jika ditemukan lalang dalam jumlah sedikit dan pertumbuhannya jarang
atau sedikit maka dilakukan wiping lalang yaitu kegitan memberantas
lalang dengan cara mengelus lalang satu per satu dengan menggunakan
cairan herbisida seperti ROLlL Up yang mengandung bahan aktif
paraquat diklorida (Pahan, Iyung, 2011).
d) Rawat Gawangan
Rawat gawangan adalah pembersihan gulma kelompok anak
kayu di gawangan yang dianggap merugikan tanaman maupun
mengganggu pekerjaan.Gulma yang diberantas pada gawangan yang
termasuk kelompok anak kayu adalah Melastoma malabathricum,
Chromolaena

odorata,

Clidemia

hirta

dan

Schleria

sumatrensis.Pemberantasan gulma ini tidak menggunakan sistem


khemis karena gulma-gulma ini tidak begitu sensitif dengan herbisida.
Oleh karena itu penanggulangan gulma ini dengan cara mendongkel
21
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

gulma (DAK), Gulma harus didongkel sampai akar terangkat ke atas,


akar gulma yang telah di dongkel tidak boleh langsung menyentuh
tanah karena akan mengakibatkan gulma dapat tumbuh kembali. Bila
pada waktu mengerjakan rawat gawangan ditemukan lalang, maka
lalang tersebut tidak boleh dibabat atau didongkel tetapi harus dibiarkan
agar bisa dikerjakan khusus pekerja pemberantas lalang.Gulma
kelompok kayu-kayuan biasanya tumbuh lebih cepat pada daerah
rendahan atau sekitar daerah yang kosong (Pahan, Iyung, 2011).
e) Prunning (Penunasan)
Prunning adalah pekerjaan memotong pelepah dengan tujun
menjaga standar jumlah pelepah tiap pohon kelapa sawit. Jika tanaman
terlambat di prunning maka pelepah akan tumbuh lebat dan akan
menyulitkan pekerjaan panen sehingga buah akan banyak yang tidak
terpanen. Pada saat penunasan harus diusahakan sampai batas songgo 3
(tiga pelepah dibawah tandan paling bawah harus ditinggalkan)
sehingga setelah ditunas jumlah pelepah daun masih tersisa 48-54
pelepah. Dan jika terlalu cepat ditunas melewati batas songgo dua,
pohon akan kekurangan daun sehingga berat tandan bua turun. Bekas
potongan tunas harus mepet atau dekat dengan pokok. Setelah
dilakukan penunasan, pelepah disusun digawangan mati dan tidak boleh
dibuang ke piringan, parit atau pasar pikul (Pardamaen, Maruli, 2008).
f)

Tempat Pemungutan Hasil (TPH)


Tempat pemungutan hasil adalah suatu tempat yang dibuat khusus
untuk mengumpulkan hasil panen (TBS dan brondolan) dari dalam blok
sehingga hasil panen terkumpul, hasil per pemanen bisa diketahui dan
mempercepat pengangkutan. Tempa pemungutan hasil harus bersih dari
gulma,tidak tergenang dengan air dan tempat pemungutan hasil harus
rata/datar. Umumnya tempat pemungutan hasil berbentuk persegi
panjang dan terletak di pinggir jalan pada pasar pikul atau setiap 2
gawangan ada satu pasar pikul (Pardamaen, Maruli, 2008).
22

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

D. Panen
Panen merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang sudah
matang kemudian mengutip tandan buah dan brondolan yang tercecer di dalam
dan diluar piringan.Selanjutnya menyusun tandan buah di tempat pengumpulan
hasil (TPH). Pengalihan dari TBM ke TM biasanya pada umur 3 tahun dan
60% dari jumlah tandan sudah dapat dipanen serta berat rata-rata tandan sudah
diatas 3 kg. Buah kelapa sawit tersebut matang panen apabila brondolannya
telah lepas dan jatuh secara alami dari tandannya, Pelaksanaan panen buah
kelapa sawit dan pengangkutannya ke pabrik kelapa sawit menyankut sejumlah
aspek

yang

berpengaruh nyata baik terhadap kuantitas maupun kualitas

minyak yang akan diperoleh. Setiap aspek bersifat kompleks, apek-aspek


tersebut adalah :
1. Kriteria matang panen
Kriteria matang panen ditentukan pada saat kandungan minyak
dalam dalam daging buah maksimal dan kandungan asam lemak bebas
rendah. Berdasarkan penyelidikan , kriteria matang panen yang paling baik
adalah 2 brondolan/kg berat tandan. Tandan yang mentah akan mencapai
tahap yang matang dalam waktu 3-7 hari, dan tandan matang menjadi
terlewat matang juga dalam waktu 3-7

hari. Kandungan minyak sawit

meningkat dari tahap mentah ke matang , kemudian menurun lagi pada


tahap lewat matang. Sedangkan kandungan ALB meningkat terus dari
matang ke lewat matang.Dengan demikian panen tandan pada tahap lewat
matang menimbulkan kerugian, baik dalam produktivitas maupun kualitas
minyak.
2. Persiapan panen
Persiapan panen merupakan pekerjaan yang mutlak dilakukan
sebelum TBM dimtasikan menjadi TM. Persiapan panen yang baik akan
menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal
mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan di dalam mempersiapkan
pelaksanaan pekerjaan potong buah yaitu persiapan kondisi areal,
23
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

penyediaan tenaga potong buah, pembagian seksi potong buah dan


penyediaan alat-alat kerja.
Persiapan areal panen berhubungan dengan adanya mutasi dari
tanaman belum menghasilkan (TBM) ke tanaman menghasilkan (TM).
Dalam keadaan normal, perubahan TBM ke TM terjadi pada tahun ketiga
sesudah tanaman ditanam.
3. Frekuensi panen atau rotasi panen
Panen dilaksanakan setiap hari pada areal (ancak) yang berbeda, agar
pabrik dapat berjalan tiap hari atau mnimal lima hari kerja seminggu. Luas
areal panen harian harus disesuaikan dengan tenaga pemanen, efisiensi
pengangkutan, dan kapasitas oleh pabrik.Tiap areal panen dapat dibagi
menjadi 3 atau 4 hari panen, namun rotasi atau pusingan panen harus tetap 7
hari.Hari panen perlu diatur agar tersedia hari istirahat untuk pabrik.Dalam
keadaan normal, panen dilakukan 5 kali seminggu, yakni hari senin sampai
jumat, atau disebut sistem 5/7.Rotasi panen dapat diubah menjadi 9-12 hari
pada panen rendah dan panen puncak 5-7 hari.Dasar perhitungan luas areal
panen harian adalah sebagai berikut.
4. Pelaksanaan panen
Pelaksanaan panen terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut :
a) Persiapan peralatan panen. peralatan harus tersedia lengkap. Alat-alat
yang berfungsi sebagai pemotong TBS, seperti chisel (dodos, tojok atau
egrek) harus selalu tajam.
b) Pemanen memeriksa areal atau plot yang akan dipanen. Sebelumnya
dilakukan juga taksasi atau memperkirakan jumlah kerapatan buah
dengan cara melihat tandan buah segar yang memenuhi kriteria matang
panen biasanya dilakukan oleh mandor panen. Ada pun kriteria panen
sudah ada 2 brondolan (2

buah brondolan yang jatuhke tanah atau

piringan pohon) pada setiap tandan. Untuk tandan yang beratnya lebih
dari 10 kg maka menggunakan kriteria satu brondolan namun disesuaikan
dengan kondisi setempat seperti rawan pencurian,criteria tersebut
24
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

diprkecil unutk mengurangi resiko pencurian. Dengan adanya brondolan


yang jatuh ke tanah pemanen tidak perlu melihat ke atas.
c) Memangkas daun yang terletak di bawah tandan yang akan dipanen.
Daun dipotong menjadi tiga bagian dan diletakkan di antara barisan
sedemikian

rupa

sehingga

tidak

akan

mengganggu

kelancaran

pengangkutan tandan ke TPH.


d) Pemanen tandan dengan jalan memotong tangkainya. Kemudian tangkai
tandan dipotong mepet menjadi berbentuk V. Apabila tandan tersebut
kurang memenuhi berat janjang rata-rata (BJR) maka tandan tersebut
tidak dipotong mepet.
e) Tandan-tandan hasil panen berikut buah-buah yang lepas diangkut ke
TPH dengan menggunakan keranjang atau goni plastik. Pengumpulan
buah dan tandan di TPH dilakukan di tempat yang ternaungi , karena
sinar matahari berpengaruh terhadap kandungan ALB.
f) Menaikan buah dan tandan ke kendaraan pengangkut yang akan
mengangkut ke pabrik. Diupayakan agar buah kelapa sawit tidak ada
yang tergores atau memar.
5. Pengangkutan tandan buah segar
Pengangkutan tandan buah dapat dibagi atas dua bagian yaitu
pengangkutan dari pohon yang dipanen ke tempat pengumpulan hasil (TPH)
dan pengangkutan dari TPH ke Pabrik kelapa sawit. Pengangkutan dari
pohon ke TPH merupakan tugas pemanen atau tim pemanen, sedang
pengangkutan dari TPH ke Pabrik dilakukan oleh petugas transpor. Buah
mencapai titik tepat matang, kandungan ALB minyak kelapa sawit hanya
sekitar 0,1 % tetapi waktu sampai dilokasi pabrik kandungan ALB tersebut
dapat melampaui 2%, bahkan kadang-kadang melampaui 3%, atau setara
dengan peningkatan lebih dari 20 kali lipat.
Meningkatnya

kandungan

ALB

ini

disebabkan

oleh

tiga

peristiwa.Pertama , terjadi peningkatan dalam skala kecil akibat terjadi


degradasi biologis dalam buah (yaitu proses buah menjadi lewat matang,
25
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

atau mulai membusuk. Peristiwa ini timbul karena pada saat tandan
mencapai titik optimal untuk dipanen, buah-buah yang berada di ujung
tandan sudah lewat matang. Penyebab kedua merupakan penyebab yang
lebih besar dari pada penyebab yang pertama yaitu jatuh tandan buah ke
tanah waktu dipanen. Penyebab yang terbesar adalah timbul sebagai akibat
penanganan buah dalam rangka pengankutan ke TPH dan kemudian dari
TPH ke Pabrik.Dalam hal penggunaan jalan sebagai sarana transportasi,
sarana transpor dapat menggunakan traktor atau truk. Pilihan terhadap salah
satu jenis sarana transpor tersebut dipengaruhi oleh volume tandan yang
harus diangkut, jarak yang ditempuh, tipe permukaan jalan yang dapat
disediakan , kondisi topografi dan lain-lain.
E. Pabrik Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit baru dapat berproduksi setelah berumur sekitar 30
bulan setelah ditanam dilapangan. Buah yang dihasilkan disebut tandan buah
segar (TBS) atau fresh fruit bunch (FFB). Produktivitas tanaman kelapa sawit
meningkat mulai umur 3-14 tahun dan akan menurun kembali setelah umur 1525 tahun. Setiap pohon sawit dapat menghasilkan 10-15 TBS per tahun dengan
berat 3-40 kg per tandan, tergantung umur tanaman.Dalam satu tandan,
terdapat 1000-3000 mbrondolan dengan berat berkisar antara 10-20 kg
(Widanarko, 2011).
TBS diolah di pabrik kelapa sawit untuk diambil minyak dan
intinya.Minyak dan inti yang dihasilkan dari PKS merupakan produk setengah
jadi. Minyak mentah atau crude palmoil (CPO,MKS) dan inti (Kernel, IKS)
harus diolah lebih lanjut untuk dijadikan produk jadi lainnya. Stasiun proses
pengolahan TBS menjadi CPO dan PKO umumnya terdiri dari stasiun utama
dan stasiun pendukung. Stasiun utama berfungsi sebagai berikut :
1. Stasiun penerimaan buah
Sebelum diolah dalam PKS, tandan buah segar (TBS) yang berasal
dari kebun pertama kali diterima di stasiun penerimaan buah untuk

26
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

ditimbang di jembatan timbang (weight bridge) kemudianditampung di


penampungan buah (Loading ramp) (Widanarko, 2011).
2. Stasiun perebusan
Lori-lori yang telah berisi TBS dikirim ke stasiun perebusan buah
dengan cara ditarik menggunakan capstand yang digerakkan oleh motor
listrik hingga memasuki sterilizer, sterilizer yang banyak digunakan
umumnya yaitu bejana tekan horisontal yang bisa menampung 10 lori per
unit (25-27 ton TBS). Dalam proses perebusan, TBS dipanaskan dengan uap
pada temperatur sekitar 135 dan tekanan 2,0-2,8 kg/cm2 selama 80-90
menit. Proses perebusan dilakukan secara bertahap dalam tiga puncak
tekanan agar diperoleh hasil yang optimal. tujuan dari proses perebusan
adalah untuk menghentikan perkembangan asam lemak bebas (ALB) atau
free fatty acid (FFA), memudahkan pemipilan, penyempurnaan dalam
pengolahan , serta penyempurnaan dalam proes pengolahan inti sawit
(Widanarko, 2011).
3. Stasiun pemipilan (threser)
TBS berikut lori yang telah direbus dikirim ke bagian pemipilan dan
dituangkan ke alat pemipil (Threser) dengan bantuan hoisting care atau
transfer carriage. Proses pemipilan terjadi akibat tromol berputar pada
sumbu mendatar yang membawa TBS sehingga membanting-banting TBS
tersebut

dan

menyebabkan

brondolan

lepas

dari

tandannya

(Widanarko, 2011).
4.

Stasiun pelumatan (digester) dan pengempaan (presser)


Brondolan yang telah terpipil dari stasiun pemipilan diangkut ke
bagian pengadukan/pencacahan berupa sebuah Tangki vertikal yang
dilengkapi dengan lengan-lengan pencacah dibagian dalamnya. Lenganlengan pencacah diputar oleh motor listrik yang dipasang dibagian atas dari
alat pencacah (digester). Tujuan utama dari proses digesting yaitu
mempersiapkan daging buah untuk pengempasan (pressing) sehingga

27
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan kerugian
yang sekecil-kecilnya (Widanarko, 2011).
5. Stasiun pemurnian (Clarifier)
Stasiun pemurnian yaitu stasiun pengolahan di PKS yang bertujuan
untuk melakukan pemurnian MKS dari kotoran-kotoran , seperti padatan,
lumpur dan air. Tujuan dari pemurnian adalah agar diperoleh minyak dengan
kualitas sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak
(Widanarko, 2011).
6. Stasiun Kernel Plant
Pengolahan biji bertujuan untuk mendapatkan inti dengan persyaratan
mutu yang baik dan efisiensi pengolahan yang tinggi. Jumlah dan mutu inti
yang dihasilkan, banyak tergantung kepada proses sebelumya yaitu sterilizer,
digester dan pressan (Pahan, Iyung, 2011).
Proses-proses yang utama pada pengolahan biji adalah :
a)

Cake Breaker Conveyor


Fungsinya :

Memecah cake (ampas press) menjadi fiber dan biji serta menghantar ke
depericarper.

Mengeringkan/mengurangi kadar air fiber sebagai bahan baker dan untuk


memudahkan kerja blower pada depericarper.

Cake Breaker Conveyor ini terdiri dari satu talang dimana pada bagian
tengah dari diameter talang terdapat as screw yang mempunyai pisau-pisau
pemecah. Didalam conveyor ampas press panas diaduk-aduk dan dengan
pengaruh udara luar membuat ampas menjadi lebih kering (kadar air
barkurang) sehingga ampas yang lebih ringan akan mudah dipisahkan dari
biji.
b)

Depericarper
Alat ini berfungsi untuk memisahkan ampas (fiber) dengan nut dimana
fiber terhisap pompa ke fiber cyclone kemudian diangkut oleh conveyor

28
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

untuk bahan baker ketel uap, sedangkan biji yang lebih berat jatuh ke nut
polishing drum (Anonim,2013).
c)

Nut Polishing Drum


Nut

polishing

drum

adalah

suatu

drum

mendatar

yang

berputar,didalamnya terdapat plat-plat pembawa yang di pasang miring


pada dinding.alat berfungsi untuk memoles biji agar fibre yang melekat
pada nut bisa terlepas (Anonim,2013).
d)

Nut Hopper
Tempet penampung nut sementara sebelum masuk dalam Ripple Mill
(Anonim,2011).

e)

Ripple Mill
Alat ini berfungsi untuk memecahkan nut untuk mempermudah dalam
pengambilan kernelnya (Anonim,2013).

f)

Light Tenera Dust Separator (LTDS)


Fungsi dari LTDS adalah untuk memisahkan kernel dan cangkang dengan
menggunakan kipas penyedot berdasarkan berat jenisnya (Anonim,2013).

g)

Claybath
Alat ini berfungsi untuk memisahkan cangkang dan kernel dengan cara
basah yaitu dengan menggunakan air dan CaCO3 asam karbonat

(Anonim, 2013).
h)
Kernel silo
Alat ini berfungsi untuk memanaskan kernel agar tidak berjamur.
(Anonim, 2013).
7. Stasiun penggelolaan air limbah
Limbah adalah suatu produk sampingan hasil dari proses pengolahan
TBD menjadi CPO. Pada PKS terdapat jenis limbah yang bermacam-macam
baik itu limbah padat,cair dan B3. Limbah hasil dari pengolahan tersebut harus
diolah lebih lanjut agar tidak merusak lingkungan (Anonim, 2013)
8. Water treatment plant
Air merupakan salah satu kebutuhan makhluk hidup yang sangat
penting

keberadaanya karena tanpa adanya air mungkin tidak akan ada

kehidupan. Begitu juga kebutuhan air untuk proses pengolahan di PKS (Pabrik
29
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Kelapa Sawit) diperlukan air yang benar-benar besih. Oleh sebab itulah perlu
adanya pengolaha air terlebih dahulu. Pengertian water treatment secara umum
yaitu perlakuan atau penanganan agar dapat digunakan sesuai dengan
kebutuhan. Kebutuhan tersebut tidak hanya kebutuhan untuk pabrik saja tetapi
juga digunakan untuk kebutuhan domestik seperti perumahan. Dengan adanya
pengolahan air ini sehingga hasil yang didapatkan dapat dengan optimal dan
efektifitas serta efisiensi yang tinggi (Anonim, 2013).
9. Stasiun Boiler
Boiler atau ketel uap adalah suatu pesawat pembangkit yang
menghasilkan dari hasil proses pemanasan air. Pada dasarnya prinsip kerja dari
boiler pemanasan pada tekanan konstan. Kapasitas uap yang dihasilkan ini
tergantung dari jumlah pemakaian uap oleh pesawat yang dioperasikan dengan
uap (turbin uap) dan jumlah pemakaian unutk keperluan proses Boiler
berfungsi sebagai pesawat konversi energy yang mengkonversi energi kimia
(potensial) dari bahan bakar menjadi energy panas (Anonim, 2013).
10. Labolatorium
Merupakan tempat yang sangat penting di suatu pabri atau perusahaan
karena sebagai tempat pengujian mutu dan parameter control proses unutk
mengetahui efisiensi operasional mesin,pengendalian proses guna perbaikan
atas gejala penyimpangan standar,pencapaian standart dan pengujian mutu
produk untuk kebutuhan pemasaran (Anonim,2013).
11. Kernel Crushing Plant (KCP)
KCP merupakan Pabrik pengolahan palm kernel yang dihasilkan oleh
Pabrik Kelapa Sawit, dimana produk yang dihasilkan berupa Palm Kernel Oil
(PKO) atau minyak inti sawit dan Palm Kernel Meal (PKM) atau Bungkil.
Prinsip kerjanya yaitu inti sawit yang telah dipisahkan dari daging buah dan
tempurungnya, serta telah dikeringkan. Untuk mengeluarkan minyaknya, inti
sawit di pres dengan mesin pres (Widanarko, 2011).

30
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

31
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

III.

TATA LAKSANA PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Lokasi praktek kerja lapangan di perkebunan kelapa sawit PT. Mitra
Mendawai Sejati terletak di :
Desa
: Umpang
Kecamatan : Arut Selatan
Kabupaten : Kotawaringin Barat
Provinsi

: Kalimantan Tengah

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan pada 18


Maret sampai dengan 18 Mei 2013.
Adapun tata laksana PKL, disusun dalam jadwal kegiatan berikut ini :
Tabel.2.Jadwal Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
N
O
(1)
1
2
3
4
5
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Tanggal
(2)
18 Maret 2013
19 Maret 2013
20 Maret 2013
21 Maret 2013
22 Maret 2013
23 Maret 2013
24 Maret 2013
25 Maret 2013
26-28 Maret 2013
29 Maret 2013
30 Maret 2013
31 Maret 2013
01-03 April 2013
04-11 April 2013
12 April 2013
13 April 2013
14 April 2013
15 April 2013
16 April 2013
17-18 April 2013
19-20 April 2013
21 April 2013
22-23 April 2013
24 April 2013

Kegiatan
(3)
Tiba di PKS dan Penginapan
Pengenalan lokasi PKS dan Staff karyawan
Penimbangan dan grading TBS
St.Loading ramp
St. Sterilizer
St.thressing (Penebahan)
Libur
St.Digestion and Pressing
St.Pemurnian minyak untuk CPO
Libur
St.Nut and Kernel
Libur
St.Penyimpanan dan Transportasi
St.Peralatan pendukung proses
Pengambilan sampel untuk CPO dan PKO
Penanganan sampel
Libur
Analisis Kualitas tiap proses sesuai SOP
Analisis pengamatan data yang menyimpang
Penerapan HACCP di PKS
Penerapan Total QC dan ISO 9000:2000 PKS
Libur
Water treatment untuk Boiler dan pemukiman
Recovery minyak (Pengutipan minyak)
32

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

26

25-26 April 2013

Instalasi Penanganan Air Limbah (IPAL)

(1)
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

(2)
27 April 2013
28 April 2013
29 April 2013
30 April 2013
01 Mei 2013

(3)
Pemanfaatan limbah padat dan cair pada IPAL
Libur
Konsultasi dengan manajer kebun
Pemberangkatan ke kebun
Mengenal rotasi dan organisasi panen
Mengenal standar kematangan buah
Perhitungan tenaga kerja dan peralatan
Persiapan sarana dan prasarana panen
Pengembangbiakan serangga penyerbuk
Aktivitas sanitasi dan kastrasi
Aktivitas pemuatan dan pengangkutan TBS
Pembuatan laporan kegiatan di kebun
Pengujian laporan di kantor estate
Manajemen Organisasi Pabrik dan Kebun
Libur
Sistem Kontrol dan instrumentasi
Production planning
Libur
Manj.administrasi(gudang,keuangan,personalia
)
Perkiraan kebutuhan tenaga kerja tiap stasiun
Aplikasi RSPO pada perkebunan kelapa sawit
Penerapan CSR pada perkebunan kelapa sawit
Hub.kemitraan dengan masyarakat perkebunan
Pengujian kegiatan PKL di pabrik

02 Mei 2013
03 Mei 2013
04 Mei 2013
05 Mei 2013
06 Mei 2013
070-8 Mei 2013
9 Mei 2013
10 Mei 2013
11 Mei 2013
12 Mei 2013
13 Mei 2013
14 Mei 2013
15 Mei 2013
16 Mei 2013
17 Mei 2013
18 Mei 2013

B. Prosedur Pelaksanan, Alat dan Bahan Praktek Kerja Lapangan


1. Land Clearing
Kami tidak melakukan kegiatan Land Clearing karena hampir sebagian
lahan tanaman sudah ditanami oleh tanaman sawit dan telah dijadikan area
konservasi.
2. Pembibitan
Kami tidak melakukan kegiatan pembibitan karena tanaman yang tersedia di
kebun mayoritas tanaman yang sudah menghasilkan.
33
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

3. Perawatan TM
Perawatan yang dilakukan saat di kebun hanya perawatan piringan dan
jalan pikul.
3.1 Alat dan bahan :
Alat

: cangkul dan parang

Bahan

: chormolaena odorata, ageratum conyzoides, clidemia

hirta dan melastoma malabathricum


3.2 Prosedur pelaksanaan :
a). Pembuatan piringan
Pembuatan piringan bertujuan untuk mempermudah dalam pengeluaran
TBS ke TPH.
Cara pembuatan piringan yaitu:
- Dibersihkan daerah disekeliling pohon dengan menggunakan parang
untuk membersihkan rumput-rumput liar
- Kemudian dibersihkan lagi dengan menggunakan cangkul dengan
diameter piringan 1,5 meter.
-

Perawatan

piringan

bertujuan

unutk

mempermudah

dalam

pemanenan,pengaplikasian pupuk dan pengutipan brondolan.


Rawat piringan secara khemis menggunakan herbisida dan secara
manual menggunakan cara tebas atau dongkel anak kayu. Bila pada
saat pelaksanaan rawt, ada piringan yang masih relatif bersih maka
piringan tersebut tidak perlu dirawat (selektif).
Cara pembuatan jalan pikul yaitu:
-

Dibersihkan daerah disekitar pohon dengan menggunakan parang.


Letaknya searah untuk daerah datar dan mengikuti counter untuk
daerah berbukit.

- Kemudian dibersihkan lagi dengan menggunakan cangkul dengan


lebar 1,2-1,5 meter.
34
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

- Pembuatannya harus selesai minimal satu bulan sebelum panen


- Perawatan jalan pikul bertujuan unutk mempermudah pengangkutan
TBS ke TPH dan pengaplikasian pupuk.

4. Panen
a) panen
Alat

: dodos, gancu, angkong, goni/karung dan garu

Bahan : TBS dan brondolan


Prosedur pelaksanaan:
a) Taksasi
Taksasi adalah memperkirakan jumlah kerapatan buah dengan cara
melihat tandan buah segar yang memenuhi kriteria matang panen. Setiap
blok minimal 3-6 Ha untuk penghitungan taksasi.
Tujuan taksasi adalah memperkirakan angka kerapatan buah (%), untuk
menentukan jumlah tenaga kerja dan untuk menentukan jumlah tonase
dan jumlah unit. Sebagai contoh untuk menghitung banyaknya tenaga
kerja dapat dikategorikan berdasarkan topografi baik itu dataran tinggi
dan dataran rendah. Untuk dataran tinggi 1/13 dikali luas area lahan
sedangkan untuk dataran rendah 1/15 dikali luas area lahan. Maksudnya
tersebut 1 berarti kebutuhan

tenaga kerjanya dan 13 berarti

luasannya.Taksasi ada dua cara yaitu tembak lurus dengan cara


mengambil timur-tengah-selatan dan zigzak dengan cara mengambil dari
ujung barat-selatan dan timur-utara. Taksasi dilakukan 1 hari sebelum
panen (H-1).
b) Pemanenan
Pemanenan adalah pengambilan TBS dari pohon kelapa sawit dengan
menggunakan dodos dan kemudian dipindahkan ke TPH menggunakan
angkong dan gancu. Ukuran TPH 3x4 meter dan jumlah TPH dalam 1
35
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

blok adalah 42 TPH. Brondolan yang ada di piringan haris dikutip


sampai bersih dan pelepah disusun rapi di gawangan mati. Dalam
pemanenan hal yang diutamakan adalah kg, jumlah tandan/janjang dan
luasan yang dikerjakan.
Prosedur pelaksanaan panen:
-

Disiapkan alat (dodos)


Diarahkan dodos pada pelepah yang menyangga buah (TBS).
Dipangkas pelepah tersebut sependek mungkin dari pangkal, bila
tanaman itu sistem songgoh 3, maka pangkas ketiga pelepah dan

diatur rapi di tengah gawangan mati.


Dilanjutkan memotong buah masak (TBS) dengan memotong pangkal

tandannya.
Potong tangkai tandan buah sependek mungkin dan membentuk
cangkem kodok kemudian angkatlah tandan buah yang telah dipanen

ke TPH. Berat Jangjang Rata-rata (BJR) sebesar 10 kg.


Bila buah melepaskan brondolan, maka brondolan tersebut diambil
diletakkan dalam karung, lalu ditempatkan pada TPH, pemungutan
brondolan seluruhnya harus bersih dan tidak tercampur tanah atau
kotoran lain. Disyaratkan proporsi kotoran tidak melebihi 0,3 % dari
berat tandan, selanjutnya dikumpulkan di TPH.

b) Pengankutan TBS ke pabrik


Alat

: truck, tractor, tojok, garu dan goni/karung

Bahan : TBS dan brondolan


Prosedur Pelaksanaan Pengangkutan TBS :
-

Disiapkan mobil truk pengangkut TBS


Disiapkan alat yang akan digunakan sebagai pengangkut buah ke

mobil (tombak.karung dan penggaruk brodolan).


Dinaikkan atau diangkut buah yang terdapat di TPH naikkan kedalam

mobil truk dengan menggunakan tombak.


Dinaikkan atau diangkut brondolan yang ada kedalam mobil truk

dengan menggunakan karung.


Dicatat jumlah TBS yang terangkut dalam SPB (surat pengiriman
buah).
36

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

Dilanjutkan dengan membawa hasil angkutan buah kepabrik untuk

diolah.
5. Pabrik Kelapa Sawit
5.1 Alat dan bahan
Alat : Jembatan timbang, Loading Ramp, Stasiun sterilizer,Stasiun
Threser,Stasiun digester and Press,Stasiun Nut and Kernel,
Stasiun Klarifikasi,Stasiun Boiler, Instalasi Penanganan Air
Limbah dan Labolatorium.
Bahan : Buah kelapa sawit yang telah matang, CPO,Bungkil,Kernel ,
air limbah dan air boiler
5.2 Prosedur Pelaksanaan pabrik kelapa sawit.
a. Stasiun Penerimaan, timbangan berfungsi menimbang tandan buah segar
yang masuk menimbang CPO atau kernel yang keluar menimbang
janjangan kosong yang keluar, dll yang berkapasitas 40 ton.
b. Loading ramp berfungsi menerima dan memindahkan
Sterilizer,menyimpan

TBS

sementara,

dan menjamin

TBS

ke

kontinuitas

pengolahan TBS. Deskripsi Loading Ramp, Kisi-kisi Plat Besi 10


cm, Kemiringan 450, kapasitas 350 ton, jumlah pintu 14 buah dengan
masing-masing pintu 2 meter ,menggunakan sistem hidrolik,komponen
lain yaitu lori sebagai penampung TBS dan dimasukan ke sterilizer,
capstand untuk penarik lori ke sterilizer ,transfer carriage untuk mengatur
antrian lori yang akan dimasukan kedalam sterilizer, dan troli sebagai
jembatan penghubung ke sterilizer.
c. Sterilizer berfungsi melunakkan berondolan agar mudah lepas dari
janjangan (menentukan keberhasilan proses pemipilan), mengeluarkan air
dari berondolan untuk mempermudah proses ekstraksi (menentukan
keberhasilan proses pengadukan dan pengempaan), melunakkan mesocarp
agar lebih mudah diaduk (menentukan keberhasilan proses pengadukan).
d. Thresher berfungsi untuk memisahkan buah dari janjangannya dengan cara
membanting tandan buah segar (TBS) kedalam drum thresher. Thresher ini
berupa drum silinder panjang yang berputar secara horizontal dengan
kecepatan putar 21 rpm. Drum dirancang dengan kisikisi yang berfungsi
untuk meloloskan berondolan. Thresher ini berkapasitas 30 ton/jam.
37
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

e. Digester

berfungsi

mengaduk

dan

melumatkan

buah

sehingga

memudahkan daging buah terpisah dari bijinya. Digester terdiri dari


tabung yang berdiri tegak dan didalamnya terdapat pisau pisau pengaduk
sebanyak 6 tingkat dan diikatkan pada poros dan digerakan oleh motor
listrik dengan panas 90-95 0C yang diberikan dengan menginjeksika [anas
sebesar 3kg/cm3 selama 30 menit sedangkan press befungsi untuk
memisahkan minyak kasar dengan daging buah. Tekanan yang dibutuhkan
sebesar 50-60 bar dan suhu 90-950C. Hasil dari stasiun ini berupa solid dan
liquid. Solid akan masuk ke stasiun Nut and Kernel sedangkan liquid akan
masuk ke stasiun klarifikasi setelah dilakukan penyaringan menggunakan
vibrating screen untuk memisahkan pasir,serabut dsb dengan ukuran
saringan 20 mesh untuk tingkat atas dan 40 mesh untuk tingkat bawah.
Hasil saringan tersebut ditampung didalam Cruide Oil Tank dengan suhu
90-950C.
f. Stasiun klarifikasi

merupakan

stasiun

pemurnian

hasil

saringan

sebelumnya. Ditampung didalam Continous Setling Tank dan dibagi


menjadi dua bagian lagi yaitu minyak dan slugde minyak masuk ke oil
tank dan dikurangi kadar airnya dengan vacuum drier kemudian di
tampung ke tanki penyimpanan atau storage tank. Untuk sludge nya masuk
ke sludge tank pasirnya dipisahkan dengan sand cyclone.kemudian masuk
ke buffer tank dan brush strainer. Pada tahap ini pun dipisahkan juga
menjadi dua bagian lagi yaitu minyak dengan sludgenya. Sludge masuk ke
fat pit sedangkan minyaknya masuk ke sand drain tank,reclaimed tank
kemudian di balikan kembali ke Continous Setling Tank seperti proses
sebelumnya.
g. Stasiun Nut and Kernel merupakan stasiun untuk menghasilkan kernel dari
proses pengepresan. Ampas press terdiri dari nut dan fiber. Sehingga untuk
mendapatkan kernel harus dipisahkan nut dan fibernya. Proses unutk
mendapatkan

kernel

dari

ampas

press

dilakukan

dengan

pemolesan,pemeraman,pemecahan dan pemisahan.


38
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

h. Stasiun Kernel Crushing Plant (KCP) merupakan suatu unit untuk


mendapatkan minyak inti atau Palm Kernel Oil (PKO) atau minyak inti
kelapa sawit. Proses di KCP sendiri hampir mirip dengan pengolahan
minyak kelapa pada umunya yaitu pengeringan,pengepresan dan
didapatkan minyaknya. Peralatan pendukung di stasiun ini menggunakan
conveyor,bucket dan elevator. Dengan melalui dua tahapan press yaitu first
press dan second press sehingga didapatkan produk utama minyak inti
sawit (PKO) dan produk sampingannya berupa bungkil atau Palm Kernel
Meal (PKM). Pelaksanaan kegiatan pada stasiun ini antara lain melakukan
pengarungan kernel untuk diolah ke KCP dan dijual (DO), pengarungan
bungkil di gudang, pengambilan sampel di dalam KCP dan lain-lain.
i. Labolatorium merupakan unit yang sangat penting untuk parameter uji
mutu produk,standart dan operasional mesin. Pelaksanaan kegiatan yang
dilakukan di labolatorium antara lain:
1). Analisa cairan
Dilakukan untuk menganalisa parameter proses dan quality control sampel
cairan. Dan praktek yang dilakukan mengenai CPO (FFA,Moisture dan
Dirt),Air boiler (pH,TDS dan alkalinitas), Water treatment (pH), Limbah
(pH).
2). Analisa Padatan
Dilakukan untuk menganalisa parameter proses dan quality control sampel
padatan.Praktek yang dilakukan mengenai Bungkil (berat jenis),Kernel
( dan dirt), dan kernel losses (destoner,LTDS 1,2 dan Claybath.
3). Analisa Limbah
Dilakukan untuk menganalisa parameter proses dan

kualitas

limbah.Praktek yang dilakukan yaitu mengukur kualitas pH dan alkalinity


air limbah.
j. Stasiun boiler merupakan pesawat pembangkit yang menghasilkan uap dari
pemanasan air atau mengubah energy kimia menjadi energy panas.
Pelaksaanan

kegiatan

pada

unit

ini

yaitu

mempelajari

prinsip

kerja,komponen utama dan pendukung serta fungsi dari boiler itu sendiri.
k. Instalasi penanganan air limbah (IPAL) merupakan unit yang sangat penting
di pabrik kelapa sawit.Seperti yang kita ketahui bahwa limbah akan
39
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

merugikan apabila kita tidak bisa mengelola dan memanfaatkannya.


Kegiatan ynag dilakukan di IPAL ini antara lain mempelajari proses
pengutipan minyak,alur IPAL, land application dan satellite pond.
l. Water Treatment Plant sebagai pemasok air bersih yang layak digunakan
untuk proses di pabrik maupun domestik atau perumahan. Oleh karena itu
kami melaksanakan beberapa kegiatan ynag dilakukan seperti mempelajari
sumber air yang digunakan,perlatan yang digunakan,

bahan yang

ditambahkan serta kapasitas alat yang tersedia.

IV.

HASIL PELAKSANAAN PKL DAN PEMBAHASAN

A. Land Clearing
Pada saat praktek kerja lapangan kami tidak melakukan land clearing
karena lokasi kebun kami merupakan tanaman yang sudah menghasilkan.
Kendala kami saat praktek untuk mengambil materi berkaitan dengan lokasi
yang sangat jauh dari tempat tinggal kami dan dikhawatirkan kan
mengganggu kegiatan yang berjalan di pabrik kelapa sawit. Land Clearing
(LC) adalah kegiatan pembukaan dan pengolahan lahan hingga siap ditanami
kelapa sawit.
Kegiatan dalam land clearing antara lain :
1. Mencari titik koordinat/titik tengah areal
Mencari titik tengah areal adalah kegiatan awal dalam pembukaan lahan
karena untuk menentukan jalan utama (main road) dan jalan produksi
(collection road). Lebar main road 9 meter dan collection road 7 meter.
Dalam menentukan titik koordinat digunakan alat yaitu GPS dan
kemudian pemasangan pancang titik koordinat.
2. Mencari arah main road dan collection road
Untuk mencari arah main road dan collection road alat yang digunakan
yaitu kompas. Sesuai dengan ketentuannya main road searah dengan utaraselatan dan collection road searah dengan timur-barat.
3. Pemancangan baris tanaman dan pancang kepala

40
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Pancang baris tanaman dilakukan setalah arah MR dan CR sudah


detentukan.

Pemancangan

baris

tanaman

dapat

menggunakan

seling/meteran dengan panjang 8 meter. Pancang baris tanaman sekaligus


untuk menentukan pancang rumpukan. Setiap 2 baris tanaman terdapat 1
baris rumpukan kondisi lahan berat, jika kondisi lahan ringan dalam 4
baris tanaman terdapat 1 baris rumpukan. Lebar rumpukan 4 meter dan
terletak di gawangan mati.
Pancang kepala bertujuan untuk mempermudah dalam pemancangan titik
tanam. Ukuran pancang kepala yaitu 4,5 meter dari pancang beris
tanaman.
4. Pemancangan titik tanam
Pancang titik tanam dilakukan untuk menentukan jumlah pokok/ha
dan sekaligus untuk mengetahui pasar mati dan pasar hidup. Alat yang
digunakan yaitu seling/meteran dengan panjang 9 meter.
5. Penanaman LCC
Kami tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan diatas mulai dari mencari
titik koordinat sampai ke penanaman tersebut dikarenakan waktu yang
singkat dan jarak ke tempat LC yang sangat jauh sehingga tidak bisa
melaksanakan kegiatan tersebut. Tetapi pada saat di kebun kami
mempelajari sediki materi tentang pengelolaan kelapa sawit sampai
dengan panen dan pengangkutan. Mungkin untuk kedepannya bisa sebagai
bahan untuk lebih dipelajari kembali.
Penanamn LCC berfungsi sebagai :
a. Menghambat pertumbuhan gulma
b. Mampu mengikat unsur N dari atmosfer yang dilakukan oleh bakteri
rhizobium pada bintil-bintil akar
c. Mencegah terjadinya erosi dan menjaga kelembaban tanah
Jenis LCC yang digunakan adalah PJ (pureria javanica) dengan
takaran 6 kg/Ha dan CM (calopogonium muconoides) dengan takaran 3
kg/Ha
Jarah antara tanaman kelapa sawit dengan tanaman LCC yaitu 1,5
meter. Penanaman LCC dengan cara larikan dan Setiap 1 baris tanaman

41
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

kelapa sawit terdapat 3 baris tanaman LCC. Jika terdapat lahan lereng,
majka penananam LCC dengan cara miring pula.

B. Pembibitan
Kami tidak melakukan kegiatan pembibitan karena hampir sebagian
lahan tanaman sudah ditanami oleh tanaman sawit dan telah dijadikan area
konservasi. Utuk menenpuh jarak ke tempat pembibitan kamu harus
menempuh perjalanan sejauh 4 jam dan dari pihak pabrik pun tidak bisa
mengirimkan kami untuk pindah ke kebun ynag sangat jauh dan kami pun di
tepatkan di kebun dekat dengan area pabrik untuk mempelajari masalah panen
dan pengankutan oleh karena itu kami tidak melaksanakan pembibitan.
Pembibitan adalah tempat untuk menumbuhkan kecambah hingga
menjadi semai atau bibit dan memeliharanya sampai bibit siap ditanam
kelapangan
Ada dua sistem :
Single stage nursery (satu tahap)
Double stage nursery (dua tahap)
Pre-nursery : 3-4 bulan
Main-nursery : 5-12 bulan
Tujuan pembibitan yaitu :

Mendapatkan kecambah jenis unggul sehingga setelah ditanam dapat


memberikan hasil atau produksi tinggi).

Standar :

Secara visual, kecambah tidak menunjukan tanda- tanda abnormal

Secara genetic kualitasnya dijamin dengan adanya sertifikat.

42
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Syarat yang harus dipenuhi untuk lokasi pembibitan:


-

Dekat dengan sumber air


Pada lokasi pembibitan harus tersedia cukup banyak air dan ada sumber
air terutama pada musim kemarau yaitu setara dengan curah hujan 10

mm per hari
Topografi datar, dekat dengan areal tanam
Selain untuk mempermudah pengaturan bibit, areal datar pada
pembibitan dapat mengurangi erosi akibat hujan lebat dan penyiraman,
sebisa mungkin lokasi pembibitan terletak di tengah kebun untuk

mempermudah pelangsiran bibit dan mengefisienkan waktu dan biaya.


Drainase baik
Agar pada saat musim hujan tidak akan tergenang. Karena apabila
tergenang akar bibit akan busuk dan perkembangan terhambat dan

menyebabkan kerugian.
Lokasi mudah dijangkau
Agar mudah didatangi dan mudah pengawasanya
Aman
Lokasi harus aman dari hama, ternak,penyakit dan manusia

Tahap-tahap dalam pembibitan adalah sebagai berikut :


a. Menyediakan media tanam
Tanah yang digunakan untuk pengisian babybag yaitu tanah top
soil yang kedalaman berkisar 20-30cm dari permukaan tanah. Sebulum
pengisian babay bag tanah top soil terlebih dahulu diayak untuk
memisahkan kotoran batu yang dapat menggangu pertumbuhan akar.
b. Pengisisn babybag
Pada saat pengisian babybag diusahakan tanah jangan terlalu padat
supaya sirkulasi udara dan air dapat berjalan lancar dan mempermudah
perkembangan akar. Selanjutnya yaitu tanah diayak lalu dicampurkan
pupuk dasar (RP)

sebanyak 10g untuk setiap 10kg tanah. Masukkan

campuran media ke dalam baby. Lakukan penyiraman secara merata


sebelum penanaman kecambah.
c. Pembuatan bedengan
Tujuan dibuatnya bedengan untuk menghitung babybag yang tersedia,
memudahkan pengontrolan dan perawatan. Setiap satu plot bedengan
43
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

tedapat 200 babybag dengan susunan panjang 20 babybag dan lebar 10


babybag. Ukuran bedengan dengan panjang 1,2 meter dan lebar 0,8 meter.
d. Seleksi bibit di pre-nursery dan main-nursery
Seleksi bibit adalah memisahkan bibit-bibit yang tumbuh abnormal.
Seleksi pertama kali dilakukan pada saat kecambah diterima
dikebun.Kecambah abnormal, patah, busuk harus dibuang.Di pre nursery
dilakukan dua kali seleksi yaitu pada saat bibit berumur 4-6 minggu dan
sebelum transplanting ke main nursery. Sedangkan di main-nursery
dilakukan tiga kali yaitu pada saat bibit berumur 6 bulan, 9 bulan dan
sebelum dilakukan penanaman dilapanagan.
Bibit normal adalah bibit yang tumbuh dengan normal
Ciri-ciri bibit normal , bibit berwarna hijau segar, daun mulai membelah

pada usia 3 bulan, pertumbuhan daun sesuai usia.


Runt adalah kelainan pertumbuhan yang berupa ukuran tanaman yang

kerdil disebabkan karena kekurangan air.


Grass leaf, adalah kelainan berupa pertumbuhan bibit yang terhambat,

daun berbentuk langsing.


Rolled leaf, adalah kelainan yang berupa daun yang menggulung, bisa

kedalam maupunkeluar. Disebabkan karena gen.


Twisted adalah kelainan yang berupa pertumbuhan bibit yang

melingkar/memutar akibat penanaman yang kecambah yang terbalik


Chimaera adalah kelainan pada anak daun yang berwarna belang (hijau

kuning) yang diakibatkan oleh kelainan gen.


Crinckleadalah kelainan yang berupa keriting pada daun. Penyebabnya

adalah kekurangan pupuk.


Collante adalah keriting pada bagian tengah daun akibat kelainan pada

gen.
Gambar bibit normal dan abnormal

44
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Bibit normal

Bibit rolled leaf

bibit runt

grass leaf

twisted

45
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Bibit chimaera

collant

bibt crinkle

Gambar 9: Seleksi bibibt

e. Transplanting
Transplanting adalah memindahkan bibit dari pre-nursery ke mainnursery.Pada saat melakukan Transplanting lubang tanam yang ada di
polibag besar (last bag) diberi pupuk Agroblen dengan dosis 3 gram/
polibag dan RP (Rock phospat) dengan dosis 25 gram/polibag. Alat yang
digunakan adalan ager.

C. Perawatam TM
1. Semprot piringan dan pasar pikul
Tujuan penyemprotan piringan, pasar pikul, dan TPH adalah
piringan yang bersih untuk memudahkan pengutipan brondolan dan tempat
penaburan pupuk. Di pasar pikul untuk memudahkan pengeluaran hasil
dari dalam kebun ke TPH, dan memudahkan control serta pemeliharaan.
Pada TPH untuk mengurangi losses akibat brondolan tertinggal di TPH.Di
46
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

pasar control yang berada ditengah blok memotong pasar pikul untuk
supervise dan batas untuk memulai pekerjaan. Standar :Piringan, pasar
pikul, dan TPH bersih dari gulma
Pada kegiatan rawat piringan penggunaan bahan aktif glifosat dan
metil metsulfuron dengan perbandingan 1:20 (1 liter metsul dan 20 liter
glifosat) bertujuan agar penyemprotan sekaligus untuk gulma jenis daun
sempit dan daun lebar.Rotasi 3 x setahun. Alat semprot yang digunakan
yaitu knapsack sprayers. Knapsack memiliki kapasitas tangki 12 liter,
digunakan untuk areal yang memiliki vegetasi gulma yang cukup
rapat/banyak, dengan basis 0,5 HK/Ha.Volume kerja semprot piringan,
pasar pikul, TPH adalah 100% dari luasan lahan.
2. Dongkel anak kayu (DAK) dan oles
Gulma kelompok anak kayu di gawangan yang dianggap merugikan
tanaman maupun mengganggu pekerjaan harus dibersihkan.Gulma yang
diberantas pada gawangan yang termasuk kelompok anak kayu adalah
Melastoma malabathricum, Chromolaena odorata, Clidemia hirta dan
Schleria sumatrensis.

Melastoma malabathricum

Chromolaena odorata

Clidemia hirta

Gambar 12: Gulma yang diberantas pada DAK

Pemberantasan gulma ini tidak menggunakan sistem khemis karena


gulma-gulma ini tidak begitu sensitif dengan herbisida. Oleh karena itu
penanggulangan gulma ini dengan cara mendongkel gulma (DAK), Gulma
harus didongkel sampai akar terangkat ke atas, akar gulma yang telah di

47
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

dongkel

tidak

boleh

langsung

menyentuh

tanah

karena

akan

mengakibatkan gulma dapat tumbuh kembali.


Mengendalikan anak kayu dengan cara oles menggunakan garlon
(Triklopir) dan solar dengan perbandingan 1:19(1 liter garlon : 19 liter
solar). pengendalian anak kayu ini menggunakan cara dioles. bertujuan
untuk memutuskan jaringan xilem dan floem dengan cara mengupas kulit
kayu bagian bawah 10cm dari permukaan tanah

3.

Pembuatan tapak kuda dan tapak timbun


Pembuatan tapak kuda dilakukan pada areal yang tinggi dan
miring > 50. Tapk kuda ini dibuat dengan menyusun karung goni setengah
lingkaran dengan diameter 2 meter, dan tingginya sampai batas akar
tanaman kelapa sawit tertutup tanah semua. Ujuan dari pembentukan tapal
kuda ini ialah agar tanaman tidak mudah roboh atau tumbang, untuk
memudahkan pemanenan, meratakan piringan sehinga memudahkan
pengutipan brondolan, dan untuk mencegah terjadinya erosi.
Tapak timbun merupakan suatu tapak/piringan kelapa sawit yang
ditinggikan dan dibuat melingkar dengan diameter minimal 2 meter dan
tinggi minimal 50 cm. Tujian pembuatan tapak timbun inia adalah agar
pokok sawit tidak terendam/ tergenag air pada saat musim peghujan dan
untuk memudahkan kegiatan potong buah/pemanenan kelapa sawit.

4.

Penunasan (pruning)
Pruning ialah pekerjaan memotong pelepah dengan tujuan menjaga
standar jumlah pelepah tiap pohon kelapa sawit, mempermudah pekerjaan
potong buah, menghidari tersangkutnya brondolan pada ketiak pelepah,
dan memperlancar penyerbukan alami serta untk sanitasi tanaman.
Pekerjaan penunasan dilakukan dengan memotong pelepah rapat
ke batang dengan bidang tebasan berbentuk tapak kuda. Pelepah yang
sudah terpotong disusun rapi di tengah gawangan mati dengan lebar antara
2 2,5 meter. Untuk mempermudah penyususnan pelepah, setiap sepuluh
48

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

pokok dibuat pancang dari pelepah sehingga susunan pelepahlurus/tidak


lari.

Gambar 1 Penusan TM

5.

Pemupukan
Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang sangat
menentukan kualitas dan kuantitas hasil panen. Pemupukan yang efektif
dan efisien akan tercapai apabila diketahui dulu kondisi kesuburan lahan
dan jenis tanaman, kemudian dibuatkan susunan hara ( formula) berdasar
kepentingan spesifik lokasi kebun tertentu.
Berdasarkan jenis pupuk yang digunakan dalam pemupukan
kelapa sawit digologkan menjadi dua yaitu pupuk organik dan pupuk
anorganik.
a) Pupuk Anorganik (Kimia)
Pupuk anorganik adalah pupuk buatan atau pupuk alami tanpa
bahan kimia. Apliksi pupuk anorganik harus diatur dengan baik
dengan melakukan organisasi pemupukan, pengencerean untilan
pupuk, dan cara penaburan yang merata.
Prosedur pemupukan menggunakan pupukanorganik yaitu :
-

Menetukan blok mana yang akan dipupuk esok harinya dan apa
jenis pupuk yang digunakan serta berapa dosisinya (sesuai
rekomendasi perusahaan).

Lakukan penguntilan pupuk sesuai kapasitas pemupuk.


49

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

Pengeceran pupuk ke blok yang akan dipupuk.

Penaburan pupuk yang dimulai dari pasar tengah.

b) Pupuk Organik (Alami)


Pupuk oraganik atau pupuk alami yang digunakan dalam pemupukan
kelapa sawit adalah janjang kosong kelapa sawit (Empty Fruit Bunch).
Janjang kosong merupakan merupakan produk dari pabrik kelapa
sawit (PKS) setelah TBS diproses di sterilizer dan stripper. Aplikasi
janjang kosong dapat menigkatkan dekomposisi sehingga kandungan
fisik, biologi, dan kimia pada tanah menigkat.
Prosedur pemupukan menggunakan pupukanorganik yaitu :
-

Menetukan blok mana yang akan dipupuk.

Pengambilan janjang kosog dari pabrik dan diletakan pada blok


yang akan di pupuk (dipingir jalan koleksen).

Angkut janjag kosong dengan agkong dan diletakan pada pasar


tengah diantara pokok dalm barisan. Pengaplikasian dimulai dari
pasar tengah.

Disusun janjag kosong secara rapi dan tidak boleh berlapis


(bertingkat) dengan ukuran 3 x 3 m2 atau sebanyak 400kg janjang
kosong tiap titik.

Gambar 2: Aplikasi janjang kosong

D. Panen
Panen adalah pemotongan TBS, pengutipan brondolan, pemotongan
pelepah , pengangkutan ke TPH, pengangkutan ke PKS dan faktor penentu
50
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

keberhasilan panen adalah kesiapan prasarana dan sarana , kriteria


kematangan, manajemen panen (rotasi, sistem panen).
Kegiatan yang dilakukanyaitu :
1. Taksasi
Taksasi adalah memperkirakan jumlah kerapatan buah dilapangan
dengan cara melihat tandan buah segar (TBS) yang memenuhi kriteria
panen. Tujuan taksasi yaitu memperkirakan angka kerapatan buah (%),
menentukan tenaga kerja dan menentukan jumlah tonase dan jumlah unit.
Perkiraan menghitung buah dengan kerteria buah matang yang di lakukan
dengan cara tembak lurus atau zigzag.Pengambilan sempel dilakukan satu
hari sebelum panen(H-1) dalam pengambilan sempel satu bloknya di ambil
10%. Pada saat taksasi dilakukan juga perhitungan sebagai contoh
perhitungan untuk mencari banyaknya tenaga kerja untuk pemanenan.
Tetapi harus disesuaikan juga dengan letak topografinya.maksudnya
disesuaikan juga dengan letak daerah kebunnya apa itu daerahnya dataran
rendah dan dataran tinggi.
Berikut ini merupakan contoh perhitungan daerah bukit dilakukan
dengan menggunakan rumus :
1
X Luas lahan ynag akan dipanen.
13
Sedangkan untuk plat atau dataran rendah menggunakan rumus:
1
x Luas lahan yang akan dipanen.
15
Maksud angka 1 artinya jumlah kebutuhan tenaga kerja dan angka 13
atau 15 merupakan luasan yang kan dipanen. Misalkan ada contoh soal
seperti ini dengan luas lahan 856 Ha berapa tenaga kerja ynga dibutuhkan
baik itu dataran tinggi dan dataran rendah? Jawab:
Dataran tinggi =
1
X
13

Luas lahan(856) = 66 orang/Ha

Dataran rendah =
1
X
13

Luas lahan (856)=57 orang/Ha


51

Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH


Group

Kemudian dilakukan perhitungan mencarai angka kerapatan buah dengan tujuan


untuk mengetahui buah yang akan dipanen dalam satu blok. Rumus
perhitungannya yaitu jumlah janjang total dibagi dengan total pokok dikalikan
100 %. Total pokok merupakan banyaknya jumlah pohon ynag telah dilakukan
sensus tiap masing-masing baris. Sedangkan janjang total yaitu total keseluruhan
buah yang siap dipanen dengan tanda sudah jatuh kedalam piringan tiap-tiap
barisnya. Sebagai contoh soal setelah dilakukan pencarian sampel dari empat baris
didapatkan janjang totalnya 21 buah da janjang pokoknya 138 buah maka
kerapatannya dapat kita hitung dengan rumus sebagai berikut:
Kerapatan

Janjangtotal
x 100
Total Pokok

21
x 100
138

: 15,21%
Di Estate suayap PT.Mitra Mendawai sejati standar berat janjang rata-rata atau
BJR nya sebanyak 10 kg. Setelah diketahui kerapatan dan BJRnya maka bisa
dilakukan taksasi dengan menggunakan rumus : Luas panen x AKB x BJR.
Misalkan ada contoh soal berapa ton prediksi uah yang akan dihasilkan apabila
luas panennya 100 Ha (Sph=136),kerapatan 15% dan BJRnya 10 kg. maka
taksasinya (100 x136) x 15 % x 10 kg = 20.400 ton.

Gambar 3. Taksasi

2. Pemanenan
52
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Panen yaitu memotong buah yang sudah matang sesui kriteria dan
merupakan pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karena langsung
menjadi sumber pemasukan uang bagi perusahaan melalui penjualan
minyak kelapa sawit. Setelah melakukan pemanenan langsung dilapangan
ternyata sangat berat sekali untuk bekerja sebagai pemanen. Karena saat
ini terdapat kebijakan baru dari perusahaan bahwa apabila pemanen
tersebut tidak mencapai basis maka si pemanen tersebut tidak dikasih
beras sebagai jatah bulanan. Selain itu apabila ada buah yang tinggal atau
tidak di panen atau memamnen buah yang masih mentah maka dikenakan
penalty dari perusahaan 1 tandan sebesar Rp.10.000 . Pada saaat saya
mencoba menjadi pemanen betapa beratnya menjadi orang kebun karena
merekalah yang bekerja keras sehingga pabrik bisa berproduksi. Pada saat
melakukan panen sebelumnya diadakan apel pagi terlebih dahulu
kemudian sekitar jam 07.00 berangkat ke kebun. Alat yang digunakan
yaitu dodos, gancu dan angkong
Kriteria matang panen ditentukan oleh buah yang membrondol
(lepas) dari tandan, tandan > 10 kg (2 brondolan/kg tandan), untuk tandan
< 10 kg (1 brondolan/kg tandan), tandan yang dipanen masuk fraksi 1, 2
dan 3, untuk areal bergelombang/berbukit 5 brondolan/ tandan. Kriteria
matang panen ditentukan pada saat kandungan minyak dalam dalam
daging buah maksimal

dan kandungan asam lemak bebas rendah.

Berdasarkan penyelidikan , kriteria matang panen yang paling baik adalah


2 brondolan/kg berat tandan,buah sudah merah sempurna dan jatuhnya
buah secara alami, Tandan yang mentah akan mencapai tahap yang
matang dalam waktu 3-7 hari, dan tandan matang menjadi terlewat matang
juga dalam waktu 3-7 hari. Kandungan minyak sawit meningkat dari
tahap mentah ke matang , kemudian menurun lagi pada tahap lewat
matang. Sedangkan kandungan ALB meningkat terus dari matang ke lewat
matang.Dengan demikian panen tandan pada tahap lewat matang
menimbulkan kerugian, baik dalam produktivitas maupun kualitas minyak
53
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 4. Pemanenan

3. Pengangkutan TBS
Kegiatan memindahkan hasil panen ( TBS ) dari blok ke pabrik
dengan menggunakan alat angkut.
Tujuan pngangkutan adalah mengangkut TBS dan brondolan dari
TPH ke pabrik sesegera mungkin agar asam lemak bebas (ALB) minyak
tidak lebih dari 3% dan rendemen setinggi mungkin.
-

Pengangkutan dari lahan ke TPH


Pengangkutan buah yang telah dipanen di angkut menggunakan
angkong dari lahan menuju tempat pengumpulan hasil agar mudah

dalam pengangkutan ke pabrik kelapa sawit.


- Pengangkutan dari TPH ke PKS
Setelah terkumpul di TPH buah segar di angkut langsung menuju pabrik
kelapa sawit menggunakan truk dengan kapasitas 7 ton dan traktor dengan
kapasitas 5 ton.

Gambar 5. pengangkutan TBS

E. Pabrik kelapa sawit


1. Stasiun penerimaan buah (reception station)
54
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Stasiun penerimaan buah (reception station) merupakan stasiun


pertama dalam proses pengolahan kelapa sawit. Unit operasi yang
digunakan di stasiun ini adalah jembatan timbang untuk dilakukan
penimbangan dan loading ramp untuk penampungan buah sementara.
a) Jembatan timbang (weighbridge)
Alat ukur timbangan berupa jembatan untuk kendaraan. Jembatan
timbang terdiri dari beberapa bagian utama yaitu platform untuk menerima
beban secara langsung, indikator untuk membaca berat yang diterima oleh
bagian platform, dan unit komputer untuk memproses pembacaan
indikator. Hasil data yang didapatkan dalam komputer selanjutnya di print
dan di berikan kepada supir truk tersebut.
Tujuan diadakanya jembatan timbang di Pabrik Kelapa Sawit ini
untuk menimbang tandan buah segar (TBS) yang masuk dari kebun atau
pemasok lainya, menimbang CPO atau kernel yang keluar, menimbang
hasil sampingan seperti janjangan kosong yang keluar dan solid serta
untuk menimbang material lain yang diperlukan pabrik seperti tanah, BBM
dll.
Di PT. Mitra Mendawai Sejati jembatan timbang yang digunakan
adalah tipe Avery Berkel dengan kapasitas 40 ton.

Gambar 6 : Jembatan timbang

b) Loading Ramp
Loading Ramp merupakan tempat penampungan sementara TBS
sebelum diolah diproses selanjutnnya. Beberapa komponen loading ramp
antara lain Area Loading untuk melakukan grading dan

sortasi

buah,Hopper Loading, Pintu Hydraulic, Lori,Transfer Carriage Capstan


55
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

dan Troli. Grading dan sortasi adalah kegiatan pengelompokan TBS


sesuai dengan criteria yang telah ditentukan.Sedangkan sortasi adalah
pemotongan nilai timbangan karena TBS yang dikirim tidak memmnuhi
kriteria. Tujuan dilakukannnya sortasi dan grading yaitu untuk mengetahui
kualitas dan sampel TBS yang masuk ke PKS juga untuk mengetahui
perbandingan kualitas TNS terhadap rendemen. Spesifikasi loading ramp
di pabrik PT. MMS yaitu Kisi-kisi Plat Besi 10 cm, kemiringan 450,
kapasitas 100-300 ton, Jumlah pintu 14 pintu masing-masing 2 meter
menggunakan sistem hidrolik.
Berikut ini beberapa cara melakukan grading antara lain:
1. TBS yang akan di grading ditumpahkan sebagian di loading
ramp
2. TBS ynag ada di Loading ramp diambil mnggunakan
skidloader bila tidak ada tali pemisah TBS.
3. JUmlah sampel yang akan di grading berkisar 100-250
janjang/truk.
4. TBS yang akan di grading disusun rapid an dipisahkan tiap
criteria TBS.
5. Berat brondolan dan sampah harus ditimbang terlebih
dahulu.
6. Data hasil grading harus dituliskan terlebih dahulu di buku
saku karyawansebelum ditulis diberita acara grading.
7. Bertia acara grading harus ditanda tangani oleh karyawan
grading pihak kebun dan PKS
Untuk hasil TBS ynag telah dilakukan grading dapat dilihat
pada tabel 6 dibawah ini.
Tabel 3. Klasifikasi Grading Buah Kelapa Sawit di PT.Mitra Mendawai Sejati
Kualitas buah

Kriteria

Keterangan

56
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

a. Buah mentah

Tanpa berondolan
Warna buah hitam atau sedikit

merah
Warna mesocarp kuning pucat.

Belum berondol
Warna buah merah hitam
Warna mesocarp kuning pucat,

b. Buah
mengkal

sedikit merah

c. Buah matang

d. Buah terlalu

dari permukaan luar


Warna mesocarp mesti merah

kekuningan
Tangkai harus segar
Berondolan 50 % - 90 % dari

matang

e. Tandan
kosong

Kualitas buah

Berondolan 1 biji hingga 50 %

permukaan luar

< 10 % berondolan tinggal di


permukaan luar

Kriteria

Keterangan

57
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

f. Buah restan

g. Buah busuk

Buah sampai ke PKS > 24 jam

selepas panen
Tangkai sudah sedikit kering
Buah belum busuk

Tandan sudah berbau busuk


Tangkai sudah kering dan hitam
Tandan > 48 jam selepas panen
Buah berasal dari buah restan
/luka /terkena air

h. Buang

tangkai

Tangkai > 50 % mm panjang


tangkai buah

panjang

i. Buah kastrasi

j. Buah

Formasi berondolan tidak sehat,

berduri banyak
Berondolan kecil dan tidak

abnormal
atau poilnasi

Massa buah < 2,5 kg

seragam. Hanya sedikit

berondolan yang normal


Buah terserang fungus (jamur)
atau buah dari pohon yang sakit

58
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

k. Buah Sakit

Kenampakan buah terlihat


berwarna putih pada tandan dan
ujung buah

Sumber: Dokumenetasi pada saat pkl (2013)

Fungsi Loading Ramp adalah untuk menerima dan memindahkan


TBS ke Sterilizer, menyimpan TBS sementara, menjamin kontinuitas
pengolahan TBS.

Gambar 7: Loading ramp

2. Stasiun Sterilizer ( Perebusan)


Proses sterilisasi merupakan proses penting dalam operasioal
pengolahan minyak kelapa sawit karena salah kunci yang menentukan
keberhasilan proses selanjutnya. Alat yang digunakan untuk proses
perebusan ini yaitu sterilizer Fungsi stasiun sterilisasi adalah melunakkan
berondolan agar mudah lepas dari janjangan (menentukan keberhasilan
proses pemipilan), mengeluarkan air dari berondolan untuk mempermudah
proses ekstraksi (menentukan keberhasilan proses pengadukan dan
pengempaan),

melunakkan

mesocarp

agar

lebih

mudah

diaduk

(menentukan keberhasilan proses pengadukan), mengurangi air dari biji


untuk mempermudah lepasnya kernel dan cangkang (menentukan
keberhasilan proses pengutipan kernel), menghentikan kenaikan asam
59
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

lemak bebas (menutupi kesalahan penyedia buah). Spesifikasi stasiun


sterilisasi PKS PT. MMS yaitu jumlah sterilizer 2 unit, Tipe Horizontal
Double Door, kapasitas masing-masing sterilizer 52,5 ton, suhu 130145oC, Tekanan 2,8- 3 barr dalam waktu 90 menit, putaran motor listrik
pada screw conveyor buah keluar 15 rpm, waktu perebusan untuk buah
matang 90 menit.
Tekanan 2-2,8 bar / 30 - 40 Psi (Triple Peak) maksud dari triple
peak yaitu pada system rebusannya terjadi 3 kali penaikan tekanan steam.
Pada tahap pertama bertujuan unutk deaerasi atau melepaskan udara pada
sterilizer dengan tekanan 0-1,5 bar,tahap kedua bertujuan untuk dehidrasi
atau mengurangi air ynag terdapat pada TBS dengan tekanan 1-2 bar dan
pada

tahap

terakhir

merupakan

proses

melunakan

buah

agar

mempermudah lepas dari janjangnya dengan tekanan 1,4- 2,8 bar hingga
3.

Gambar 8 : Sterilizer

3. Stasiun Thressing (Bantingan)


Thresser merupakan peralatan utama dalam proses pembrondolan
TBS yang berfungsi untuk memisahkan buah dari janjangnya dengan
bantingan didalam drum threser. Sistem yang

bekerja adalah dengan

putaran dan bantingan. Thresher ini berupa drum Silinder panjang yang
berputar Secara Horizontal dengan kecepatan putar berkisar 23-24
rpm.Tipe tresher di PKS ini rotary drum dengan kapasitas 45 ton TBS/jam.
Sebelum masuk kedalam trhesser setelah dilakukan perebusan TBS
dimasukan kedalam tippler sebagai pengantarnya. Tipler merupakan suatu
unit yang berguna untuk menuangkan lori yang berisi TBS rebus kedalam
60
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

hoper dengan cara memutar balikan lori tersebut. Kapasitas Tipler di PKS
MMS ini hanya berjumlah satu buah lori atau sekitar 7,5 ton dengan waktu
penumpaha selama 8-10 menit sampai kosong

Brondolan yang jatuh

kebawah selanjutnya dibawa ke stasiun berikutnya (stasiun digester dan


press) menggunakan conveyor. Sedangkan janjangan kosongnya akan
keluar dari bagian ujung drum yang selanjutnya ditampung di conveyor
yang lain dan dibawa ke hoper janjangan kosong.

Gambar 9: Threser dan Tipler

4. Stasiun Digester dan Press


a) Digester
Berfungsi untuk melumatkan buah rebus sehingga memudahkan
proses pengepressan
Spesifikasi dari digester yang ada di PKS MMS yaitu jumlah
digesternya sebanyak 4 unit, terdiri dari 6 pisau, putaran 12 rpm, waktu
Proses selama 15 menit (continue), temperatur 90-95oC, kapasitas
digester 15 ton/jam.

Gambar 10: Pelumatan

b) Press
61
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Berfungsi untuk memisahkan minyak kasar (crude oil)

dari

daging buah (mesocarp).Spesifikasi press terdiri dari 2 Screw Press,


tekanan 25-30 Bar dan kapasitasnya 15-18 ton TBS/jam.Jumlah press
yang terdapat di stasiun ini terdiri dari 4 buah press. Ampasnya menuju
ke depericarper menggunakan

cake fibre Conveyor. Minyaknya

menuju ke sand trap tank menggunakan oil gutter. Oil gutter


merupakan tempat penampungan crude oil dari hasil pengempresan
untuk disalurkan ke sandtrap tank. Selain itu juga sebagai tempat
pengenceran crude oil dengan menggunakan hot dilution water. Dapat
dikatakan baik apabila standar wet oil lossesnya < 7,5% dan broken
kernel <18% .

Gambar 11: Pengempaan

5. Stasiun pemurnian minyak (clarification)


Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan perlu
dibersihkan dari kotoran, baik yang berupa padatan (solid), lumpur
(sludge), kotoran, maupun air. Tujuan dari pemurnian minyak kasar yaitu
agar diperoleh minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dapat
dipasarkan dengan harga yang layak.

62
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

SAND TRAP
TANK
VIBRATING SCREEN
OIL
CRUDE OIL TANK
GUTTER
(COT)
CONTINOUS
SETTLING
St.
PRESS
TANK (CST)
VIBRATING
OIL TANK
SCREEN
VACUM
SLUDGE
DRYER
TANK
STORAGE
BUFFER
TANK
TANK
DESPACHT
BRUSH
D.O
STRAINER
SLUDGE
SLUDGE FIT
SENTRIFUGE
RECLAIME
PAT FIT
D TANK
FINAL
EFFLUENT
Gambar 12. Diagram proses pemurnian minyak

Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengepresan dialirkan


menuju sand trap tank dengan tujuan umtuk memisahkan crude oil dari
pasir dan cangkang halus dengan cara pengendapan. Setelah itu kemudian
minyak pada bagian atas sand trap tank dialirkan menuju saringan getar
tanpa penambahan air untuk memisahkan kotoran berupa serabut kasar
dan crude oil.

Gambar 13. Sand trap tank

Gambar 14: Vibrating screen

63
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Minyak yang telah tersaring di ayakan getar dialirkan ke


penampung minyak kasar (crude oil tank). Minyak kasar yang tertampung
dalam crude oil tank (COT) dialirkan ke tangki CST (continous settling
tank).

Gambar 15: Continous Setling tank

Gambar 16: Oil tank

Di CST, terjadi pemisahan antara minyak dan sludge.Proses


pengendapan minyak dari continous setling tank selanjutnya di kirim ke
oil tank. Minyak yang tertampung di dalam oil tank selanjutnya
dikeringkan dalam vacuum dryer untuk menurunkan kadar air yang
terkandung didalamnya dari 0,5% menjadi < 0,200%. Setelah kadar air
diturunkan kemudian minyak di pompa ke storage tank untuk penimbunan
(penyimpanan) minyak produksi (CPO) sementara.
64
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 17. Sludge tank

Gambar 18. Vacuum drier

Sedangkan sludge dikirim ke sludge tank. Sludge merupakan fase


cairan yang masih mengandung minyak cukup tinggi, untuk itu di PKS
sludge di olah untuk dikutip kembali minyak didalamnya atau sering juga
disebut dengan pengutipan minyak. Sludge dari CST tersebut ditampung
dalam sludge tank dialirkan melalui sand cyclone untuk memisahkan pasir
yang ada pada sludge selanjutnya dari sand cyclone tersebut menuju buffer
tank dan ke brush strainer untuk membersihkan endapan dengan cara
penyaringan hasil dari saringan ini dipisahkan kembali minyak dan
sludgenya dengan mengunakan system sentrifugal dan perbedaan berat
jenis. Pada slude centrifuge didapatkan lagi liquid phase dan Heavy phase
kemudian dialirkan lagi menuju kolam Fat pit untuk di ambil minyaknya
kembali. Kemudian minyak yang dihasilkan dari sludge sentrifuge tersebut
di sand drain tank dan ditampung dalam reclaimed tank dan dikembalikan
legi ke continous settling tank untuk diproses seperti tahap-tahap
sebelumnya sampai minyak dapat di tampung dalam Storage Tank.
65
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 19: Storage Tank

6. Stasiun pengolahan Nut dan kernel


Setelah dilakukan pengepressan maka ampas (fiber) beserta nat
dibawa oleh cake breaker conveyor

menuju depercicarper untuk

dipisahkan antara serabut dan natnya. Pada saat di cake breaker conveyor
ampas hasil pengepresan yang masih mengumpal dicacah-cacah dengan
tujuan untuk mempermudah pemisahan nat dan serat di depercicarper.
Setelah nut dan serat masuk ke depercicarper maka serabut langsung
tersedot ke atas menuju fibre cyclone yang selanjutnya dibawa ke boiler
untuk bahan bakar. Sedangkan nut dengan berat jenis yang lebih besar
akan jatuh dan langsung masuk ke Nut polishing drum. Alat ini berfungsi
untuk mengurangi serabut-serabut yang masih menempel pada nut dan
membantu pelepasan antara inti dengan cangkang akibat proses bantingan.
Nut yang keluar dari Nut Polishing drum dibawa oleh elevator
menuju destoner untuk memisahkan partikel-partikel seperti batu,potongan
besi dan lain sebagainya. Hasil dari pemisahan tersebut dan langsung
masuk ke Nut hopper . Pada bagian bawah nut hopper ini dipasang alat
pemecah cagkang yaitu ripple mill sehinga nat yang masuk ke secara
perlahan-lahan masuk ke ripple mill.

66
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 20: Ripple mill

Nut yang sudah terpecah selanjutnya dibawa elevator menuju


LTDS-1 (Light tenera dry separating) untuk dipisahkan antara kernel dan
cangkang dengan cara hisapan udara. Di dalam alat ini

akan terjadi

pemisahan cangkang dan nat, cangkang dengan berat jenis lebih ringan
daripada kernel akan tersedot ke atas (cyclone), kernel dengan ukuran
besar dan nut yang belum terpecah akan jatuh ke nut recycling screen,
sedangn kernel yang kecil, pecah, dan cangkang yang besar masuk ke
kernel sorting drum (mensortasi kernel). Selanjutnya kernel yang ukuranya
besar akan masuk ke LTDS-2 dan kernel yang pecah dan bercampur dengan
cangkang pecah di kirim ke claybath untuk dipisahkan dengan cara basah.
Berbeda dengan hydrocyclone yang menggunakan media air di PKS ini
mengunakan cara basah yaitu claybath dengan bahan kimia (CaCO 3) untuk
membedakan massa jenis tiap benda tersebut.
Cara penambahan kimia tersebut pada claybath menggunakan
perbandingan 0,6 kg/ton TBS maksudnya O,6 kalsium dan jumlah TBSnya
sebanyak 1 ton. Cangkang, kernel pecah, dan kernel yang tidak terpecah
dengan sempurna akan masuk ke dalam claybath. Pada proses ini
ditambahkan CaCO3 (kalsium karbonat) yang berfungsi sebagai pengganti
clay atau tanah liat untuk mempermudah proses pemisahan. Proses ini
dilakukan dalam bak berbentuk kerucut dilengkapi pompa untuk
mensirkulasi cairan CaCO3. Gerakan cairan ini akan membawa kernel dan
cangkang ke posisi masing-masing di ayakan getar untuk dibersihkan.
Berat jenis untuk kernel basah (wet kernel) 1,07 dan cangkang 1,151,20, sedangkan larutan kalsium karbonat memilik berat jenis 1,12,
sehingga kernel akan mengapung dan cangkang akan turun ke dasar
claybath, vibrating screen dibuat dengan sistem 2 deck.

67
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 21: Claybath

Nat yang keluat dari claybath langsung di bawa ke kernel silo


untuk dikeringkan hinga kadar airnya mencapai 7-7,5%. Setelah
dikeringkan selanjutnya kernel dikirim ke kernel bunker untuk disimpan
sementara (penimbunan).

Gambar 22: Kernel silo

Gambar 23: Kernel bunker

7. Stasiun penggelolaan air dan limbah


Hampir dipastikan setiap proses produksi atau pengolahan tidak lepas
dari limbah. Limbah yang dihasilkan dari tiap produksi juga berbeda sesuai
dengan

jenis

dan

karakteristiknya

masing-masing.

Berdasarkan

karakteristiknya limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan CPO di PKS


Suayap adalah limbah cair, limbah padat, limbah B3 dan gas. Didalam suatu
industri pengolahan kelapa sawit tentu saja menghasilkan produk utama yang
berupa CPO dan kernel tentu saja terdapat hasil sampin atau limbah yang harus
di tritmen. Limbah padat di PKS berupa janjang kosong kelapa sawit,
cangkang, dan fiber. Pengelolaan limbah cair yang dimaksud disini adalah
hasil buangan sisa akhir dari proses produksi. Pemanfaatannya, limbah
dialirkan ke kolam-kolam penetralisasi limbah dari zat-zat yang berbahaya.
68
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Pada kolam pertama masih dilakukan penyaringan minyak sawit mentah yang
masih terkandung dalam limbah tersebut yang kemudian dialirkan kembali ke
proses penyaringan minyak setelah mengalami pengepresan. Sedangkan
limbah cair yang berada di kolam pertama tadi dialirkan ke kolam kedua dan
seterusnya sampai ke kolam 6 untuk mengalami proses penetralisasian. Untuk
hasil akhir dari pengolahan limbah cair ini dimanfaatkan sebagai pupuk pada
land application/lahan percobaan.

Dalam penanggulangan limbah cair pada PT. Mitra Mendawai Sejati ini
terdiri dari :
1. Kolam Fat Pit
Pada kolam ini terdapat 6 tingkat pengutipan dengan tujuan untuk
penampungan sementara lossis minyak hasil dari pengolahan dan pengutipan
kembali minyak yang ikut terbuang. Kolam Fat Pit ini menampung sisa hasil
olahan dari proses pemurnian yang berupa air kondensat/rebusan, air buangan
klarifikasi, dan air buangan hydrocyclone.
Dalam kolam ini terjadi proses pemisahan antara minyak dengan kotoran
dan air hasil pengolahan sebelumnya. Prinsip kerja yang terjadi pada kolam
ini yakni bahwa pemisahan karena perbedaan berat jenis dari minyak dengan
kotoran dan air dengan bantuan pemanasan yang dialirkan ke bagian bawah
kolam untuk menjaga suhu kolam agar tetap panas. Minyak yang mempunyai
massa jenis paling rendah akan berada di bagian paling atas, dan dengan
penambahan volume secara berkelanjutan menyebabkan minyak akan
mengalir ke kolam selanjutnya dan terjadi secara terus-menerus.
Pada bagian selanjutnya bak Fat Pit dipasang pipa pengeluaran ke
Deoling Pond untuk mengalirkan cairan yang mengandung sedikit minyak ke
kolam limbah. Lapisan minyak yang terdapat di permukaan dari tiap-tiap
ruangan pada akhir pengolahan akan di kutip dan dialirkan ke pompa untuk
seanjutnya ke pabrik untuk diolah kembali.
2. Kolam Cooling Pond
Sebelum limbah dibuang ke kolam limbah maka harus dilakukan
pendinginan. Hal ini bertujuan untuk menurunkan suhu limbah yang masih
69
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

terlalu tinggi yang dapat membunuh mikro flora yang terdapat pada kolam
limbah jika langsung dibuang ke kolam limbah. Pada kolam ini juga terdapat
aktivitas pengutipan minyak yang masih ada pada kolam ini.
3. Mixing Pond.
Mixing pond digunakan untuk pencampuran limbah dengan limbah
anorganik dengan tujuan bakteri yang telah aktif pada kolam anaerobik dapat
bercampur dengan limbah dari kolam pendingin sehingga proses pengaktifan
bakteri lebih cepat.
4. Kolam Limbah
Kolam l

imbah yang digunakan untuk pengolahan limbah PKS

Suayap sebanyak 4 kolam anaerobic pond. Limbah yang berasal dari mixing
pond disalurkan pipa secara under flow ke anaerobic pond pada kolam 3, 4, 5,
dan dari anaerobic pond kolam 5 disalurkan menuju anaerobic pond kolam 6.
Effluent pound pada PKS Suayap memiliki dimensi p = 90 m, l = 70 m, dan
tinggi = 6 m dengan volume rata-rata 37.800m3. Retention time atau waktu
yang dibutuhkan limbah untuk didiamkan guna mendapatkan metan dan dapat
terbiodegradasi adalah 70 hari. Limbah cairan ini mempunyai karakteristik
asam dengan pH 4-4,5 dengan suhu 70-800C. Jenis bakteri anaerob yang
digunakan adalah meetanogenik. Di kolam anaerobik nilai BOD akan
diturunkan berkisar antara 3500-5000 mg/l dengan PH >7.
Sedangkan untuk limbah padat yang dihasilkan PT. Mitra Mendawai
Sejati (PKS Suayap) dari proses produksi dan pemanfaatannya adalah sebagai
berikut :
a. Serabut/Fiber
Serabut/fiber yang didapatkan dari stasiun pengepresan setelah proses
pengepresan dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar Boiler, yang
merupakan sumber utama pembangkit tenaga listrik di PT. Mitra
Mendawai Sejati.
b. Cangkang/shell

70
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Cangkang/shell yang dimaksud disini adalah pecahan dari cangkang utuh


buah sawit yang didapatkan juga dari stasiun pengepresan setelah proses
pengepresan. Limbah ini juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar Boiler.
c. Sludge
Limbah padat disini dihasilkan dari proses pemisahan pasir yang
terkandung dalam minyak pada Sand trap. Limbah padat tersebut berupa
padatan pasir, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk.
Kemudian terdapat juga limbah B3 ( Bahan Berbahaya dan Beracun)
limbah yang berupa sisa atau tumpahan dari minyak pelumas/ greace, oli atau
ido, serta air pencucian mesin (peralatan). Pengolahan limbah B3 yang
dilakukan PKS Suayap adalah dengan membuatkan saluran (drainase) khusus
untuk selanjutnya dialirkan bergabung dengan limbah cair serta terdapat
gudang tempat menampung limbah tersebut. Gas ataupun partikel merupakan
limbah yang dapat menjadi polutan bagi udara. Limbah gas yang dihasilkan
pada proses pengolahan kelapa sawit merupakan limbah yang dapat berasal
dari boiler maupun gas yang berasal dari proses lain. Tidak terdapat
pengelolaan khusus terdapat limbah gas yang dihasilkan, akan tetapi secara
berkala dilakukan pemantauan oleh pihak yang berkaitan dengan lingkungan
terhadap limbah gas yang dihasilkan sehingga kualitas udara di sekitar pabrik
dapat tetap terjaga.

71
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 24. Kolam limbah kelapa sawit

8. Stasiun water treatment plant (WTP)


Water treatment yaitu pengolahan air kotor menjadi air bersih yang
kemudian akan digunakan untuk semua aktifitas pabrik seperti untuk umpan
boiler, dan digunakan untuk keperluan sehari-hari (domestik)

CHEMICAL 2

Gambar 25. Diagram proses pengelolaan air

a) Sungai / waduk
Di pabrik kelapa sawit air baku biasanya di peroleh dari sungai,
waduk, atau pun bendungan. Air baku ini disedot dengan pompa kemudian
dialirkan menuju raw water tank.
b) Rau water tank
Rau water tank merupakan tanki terbuka yang menampung air kotor dari
waduk dengan kapasitas 90 ton. Dari tanki inni dialirkan air untuk proses
pencucian alat-alat pabrik dan sebagian besar untuk kebutuhan boiler.
c) Clarification tank
Air yang masuk kedalam clarifier tank ini sudah ditamahkan cemicalia
berupa soda ash, almunium sulfat, dan polymer. Ketiga bahan tersebut
berfungsi untuk:
- Sada ash berfungsi untuk menaikan pH air.
- Almunium sulfat membentuk flok-flok partikel kotoran air.
- Polymer berfungsi mengendapkan flok-flok
d) Water bush
72
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Water bush merupakan penampung air bersih hasil proses clarifier tank.
Air bersih dari sini selanjutnya di alirkan ke sand filter.
e) Sand filter
Sand filter berfungsi untuk menyaring kotoran dalam air sehingga
dihasilkan air bersih layak konsumsi.
f) Softener tank
Softener tank berfungsi menurunkan kadar kesadahan air umpan boiler
(Ca, Mg).
g) Softener water tank
Softener water tank berfungsi menampung air dari softener untuk menjaga
kontinuitas proses boiler dan pemanasan tahap pertama dari air umpan
boiler
h) Deaerator
Deaerator berfungsi menghilangkan oxygen terlarut secara mekanik
dengan suhu 1030c. Sebelum air bersih dari deaerator dipompakan ke
boiler terlebih dahulu diinjeksikan cemicalia yang bertujuan untuk
menaikan sulfid, untuk menaikan phosphate, untuk melindungi dinding
boiler dari korosi, dan untuk mengontrol pH.
9. Stasiun boiler
Boiler merupakan jantung dari suatu pabrik pengolahan kelapa sawit.
Hal ini dikarenakan energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan
semua peralatan pabrik berasal dari uap steam boiler yang di ubah oleh turbin
menjadi energi listrik. Selain itu uap steam boiler juga digunakan dibeberapa
stasiun yng membutuhkan seperti ( stirilizer, digester, CST, dll).
Di perusahaan kelapa sawit biasanya boiler yang dipergunakan tipe
water tube dengan kapasitas 30 ton/jam. Untuk menghasilkan steam 20 bar
diperlukan air 30 ton/jam. Untuk memanaskan air dalam boiler bahan bakar
yang digunakan berupa fiber atau serat buah sawit. Pembakaran fiber
menghasilkan panas yang stabil dibanding cagkang. Panas yang dihasilkan
fiber 4470kkal/kg, sedangkan cagkang 6800 kakal/kg.

73
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 24. Stasiun boiler

10. Stasiun Kernel Crushing Plant (KCP)


Perkebunan merupakan salah satu subsektor pertanian. Salah satu
komoditi primadona pada subsektor perkebunan adalah kelapa sawit Minyak
inti sawit (Palm Kernel Oil, PKO) merupakan salah satu minyak yang
dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit selain CPO. Minyak inti sawit (PKO)
diperoleh dari biji (seed) di dalam buah kelapa sawit yang disebut inti sawit
(Palm Kernel, PK). Biasanya PKO lebih banyak digunakan untuk industri
oleokimia.

Di Indonesia masih sedikit perusahaan kelapa sawit yang

memproduksi dan menghasilkan produk turunan dari PKO. PT. Mitra


mendawai sejai merupakan satu-satunya PKS di PT.Citra Borneo Indah Group
yang mempunyai KCP dengan kapasitas 8 ton/jam. Prinsip kerjanya yaitu inti
sawit yang telah dipisahkan dari daging buah dan tempurungnya, serta telah
dikeringkan. Untuk mengeluarkan minyaknya, inti sawit di pres dengan mesin
pres. Saat ini PKS suayap PT.MMS sedang mencoba untuk menambah
kapasitas jam olahnya sehingga KCP ini menjadi teratur unutk dioperasikan.
Karena dulu dioperasikan kalau ada kernel saja tetapi sekarang dioerasikan
selam 20 jam karena semua kernel dari PKS lain dikirim ke PKS Suayap.
Beberapa alur proses kegiatan di KCP dapat dilihat pada gambar 25. Dibawah
ini.

74
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Gambar 25. Diagram alir pad KCP


11. Labolatorium
Beberapa fungsi dari labolatorium yaitu tempat pengujian mutu dan
parameter control proses untuk mengetahui efisiensi operasional
mesin,pengendalian proses guna perbaikan atas gejala penyimpangan
standar,pencapaian standar dan pengujian mutu produk untuk kebutuhan
pemasaran. Sejauh ini semua peralatan yang terdapat di labolatorium PKS
dalam keadaan baik sudah di kalibrasi,sudah sesuai dengan standar ISO:
9001 berkaitan dengan mutu.Oleh karena itu pabrik yang sudah berstandar
tersebut harus sudah memiliki document mutu,rencana mutu,sasaran mutu
dan SOP yang jelas.
Beberapa kegiatan yang telah kami lakukan di labolatorium yaitu
mengenai analisis padatan sepeti kernel,bungkil cankang dsb. Untuk
analisis cairan yang telah dilakukan mengenai CPO baik itu kotoran,kadar
air ,FFA serta analisis DOBI (Deterioration of Bleachability Index), air
boiler,water treatmen dan air di limbah.

75
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

V. KESIMPULAN
Dari hasil pelaksanaan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
A.

Land Clearing
1. Blocking adalah pekerjaan membuat rintisan-rintisan blok yang
nantinya akan menjadi batas-batas blok.
2. Ketepatan cara tumbang dan rumpuk sangat mempengaruhi proses
pembukaan lahan, namun di kebun penumbangan tidak mengunakan
manusia tetapi mengunakan alat berat sehingga kualitas land clearing
masih kurang standar.
3. Tujuan pemancangan yaitu untuk memberikan tanda- tanda untuk
pembuatan lubang tanam sesuai jarak tanam yang ditentukan dan
Sebagai pedoman untuk pembuatan jalan, parit, teras/tapak kuda,
drainase lapangan, dan menanam kacangan.
4. Tenaga kerja sangat di perlukan sebagai penggerak semua kegiatan
dalam land clearing, kebutuhan tenaga kerja harus diperhitungkan

dengan tepat untuk meminimalkan biaya.


B.
Pembibitan
1. Pada lokasi pembibitan harus tersedia cukup banyak air dan ada
sumber air terutama pada musim kemarau yaitu setara dengan curah
hujan 10 mm per hari
2. Jalan menuju ke lokasi pembibitan harus baik, tujuanya untuk
mempermudah proses pengangkutan baik saat transplanting maupun
pelangsiran dan pengangkutan pupuk lancar.
3. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan pompa mesin yang
dialirkan dengan menggunakan selang Kiriko degan panjang 100
meter.
4. Transplanting adalah pemindahan dari pre-nursery ke main-nursery
pada umur 3 bln (4 5 daun).
5. Bibit abnormal harus di seleksi sebelum di tanam di lapngan, karena
bibit yang abnormal jika tertanam di lapangan tidak dapat berproduksi
C.

secara optimal bahkan tidak berbroduksi.


Perawatan TM

76
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

1. Tujuan penyemprotan piringan, pasar pikul, dan TPH adalah piringan


yang bersih untuk memudahkan pengutipan brondolan dan tempat
penaburan pupuk.
2. Pada kegiatan rawat piringan penggunaan bahan aktif glifosat dan
metil metsulfuron bertujuan agar penyemprotan sekaligus untuk
gulma jenis daun sempit dan daun lebar.
3. Tujuan bongkel adalah mencegah tumbuhan berkayu menyaingi
tanaman kelapa sawit dalam hal penyerapan air, udara dan sinar
D.

matahari.
Panen
1. Panen yaitu memotong buah yang sudah matang sesui kriteria dan
merupakan pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karena
langsung menjadi sumber pemasukan uang bagi perusahaan melalui
penjualan minyak kelapa sawit.
2. Tujuan dari panen yaitu motongan dan pengutipan TBS pada tingkat
kematangan yang sesuai untuk mendapatkan kandungan minyak yang
di harapkan tanpa membuat kerusakan pada tanaman
3. Taksasi adalah perkiraan menghitung buah dengan kerteria buah
matang
4. Tujuan pngangkutan adalah mengangkut TBS dan brondolan dari TPH
ke pabrik sesegera mungkin agar asam lemak bebas (ALB) minyak
tidak lebih dari 3% dan rendemen setinggi mungkin.
5. Kriteria panen yang paling baik adalah 2 brondolan/kg berat
tandan,buah sudah merah sempurna dan jatuhnya buah secara alami,

E.

Pabrik Kelapa Sawit

77
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

1. Stasiun penerimaan buah (reception station) adalah stasiun pertama


dalam proses pengolahan kelapa sawit.
2. Jembatan timbang (weighbridge) adalah alat ukur timbangan berupa
jembatan untuk kendaraan
3. Proses sterilisasi merupakan kunci yang menentukan keberhasilan
proses selanjutnya.
4. Thresser adalah stasiun untuk memipil atau merontokkan buah dari
janjangnya.
5. Pengepresan dan pelumatan dilakukan untuk menghasilkan minyak d,
fiber dan nut.
6. Pada stasiun nut dan kernel berfungsi memisahkan antara fibre,
cangkang, dan kernel. Untuk fibre dan cangkang digunakan sebagai
bahan bakar boiler lewat shell conveyor. Dan untuk kernel di proses
dan disimpan di bulk silo.Alat yang berada di stasiun nut dan kernel,
Depericarper, Nut Polishing drum ,Riplle Mill ,LTDS 1 dan LTDS 2,
nut hopper, Bulk silo dan Claybath.
7. Pemurnian minyak dilakukan pada stasiun klarifikasi.
8. Berdasarkan karakteristiknya limbah yang dihasilkan dari proses
pengolahan CPO di PKS Suayap adalah limbah cair, limbah padat,
limbah B3 dan gas
9. Water treatment yaitu pengolahan air kotor menjadi air bersih yang
kemudian akan digunakan untuk semua aktifitas dan keperluan seharihari (domestik).
10. Boiler merupakan pesawat pembangkit yang mngubah uap steam
boiler yang di ubah oleh turbin menjadi energi listrik.
11. Produk utama hasil dari KCP yaitu PKO (Palm kernel Oil) sedangkan
produk sampingannya berupa bungkil atau PKM (Palm Kernel Meal).
12. Labolatorium merupakan tempat pengujian mutu dan parameter
control

proses

untuk

mengetahui

efisiensi

operasional

mesin,pengendalian proses guna perbaikan atas gejala penyimpangan


standar,pencapaian standar dan pengujian mutu produk untuk
kebutuhan pemasaran.

78
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Buku Panduan Praktik Kerja Lapangan. Institut Pertanian
STIPER Yogyakarta.
79
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

Pahan, Iyung. 2011. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pardamean, Maruli, 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik
Kelapa Sawit. Agro Media Pustaka Jakarta .
Pardamean, Maruli, 2011. Sukses Membuka Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Widanarko, Agus. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Agro Media Pustaka Jakarta
.

80
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group

81
Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT. CITRA BORNEO INDAH
Group