Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan sehari-hari kita sebenarnya adalah kehidupan yang selalu bergumul
dengan keputusan. Keputusan merupakan kesimpulan terbaik yang diperoleh setelah
mengevaluasi berbagai alternatif. Di dalam arti tersebut, terkandung unsur situasi dasar,
peluang munculnya situasi dasar, dan aktifitas pencapaian keputusan. Lantas
pertanyaannya, apakah setelah evaluasi alternatif serta merta begitu saja hadir keputusan?
Iya, secara rasional kesimpulan tersirat dalam premis-premis sehingga hanya kepentingan
perumusan saja. Walaupun berbagai literatur yang memandang keputusan sebagai proses
menampilkan tersurat kata keputusan di dalam modelnya.
Kajian tentang keputusan juga banyak berbasis metode. Basis kajian tersebut,
dipandang lebih menarik daripada domain pengambilan keputusan itu sendiri. Berdasarkan
kajian metode, keputusan terpecah menjadi empat, yaitu, metode keputusan rasional,
metode keputusan tawar menawar, metode keputusan agregatif, dan metode keputusan
keranjang sampah. Sehubungan dengan pendekatan metode berbagai aliran pun dapat
sesuai untuk mengkaji keputusan. Aliran-aliran yang dimaksudkan adalah birokratik,
manajemen saintifik, hubungan kemanusiaan, rasionalitas ekonomi, kepuasan dan analisis
sistem.
Dengan demikian pengetahuan alternatif model, metode, aliran digunakan untuk
penentuan pegangan sendiri. Seperti berkenaan dengan ini saya sendiri lebih menyukai
cukup tiga aktifitas saja untuk sampai pada keputusan,yaitu: kehadiran tujuan, aktifitas
pencarian informasi atau alternatif, dan aktifitas evaluasi alternatif. Banyak sedikitnya
informasi yang dilakukan mempengaruhi kecepatan dan kerumitan pengambilan
keputusan. Untuk membeli sebuah ballpoint tidak sama kecepatan dan kerumitan
pengambilan keputusannya dengan membeli pesawat terbang pribadi.
Untuk memahami lebih jauh lagi mengenai pengambilan keputusanm itu,bagaiamana
model-model pengambilan keputusan, kriteria pengambilan keputusan maka akan
dijelaskan lebih jauh dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengambilan keputusan secara umum dan menurut para ahli ?
2. Apa faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan?
3. Apa saja pendekatan-pendekatan dalam pengambilan keputusan?

4. Apa langkah-langkah dalam pengambilan keputusan?


C. Tujuan dan Kegunaan
a) Tujuan
1. Menjelaskan pengertian pengambilan keputusan.
2. Mengetahui faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan
keputusan.
3. Mengetahui pendekatan-pendekatan apa saja dalam pengambilan keputusan.
4. Menjelaskan langkah-langkah dalam pengambilan keputusan.
b) Kegunaan
1. Sebagai bahan pembelajaran dalam diskusi kelompok, sehingga mahasiswa mampu
menguasai bahan pembelajaran.
2. Mahasiswa mampu mengambil keputusan secara etis dengan pendekatapendekatan yang telah dipelajari.
D. Ruang Lingkup Pembahasan
E. Sistematika Pembahasan
BAB I
: PENDAHULUAN
Bab ini memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan,ruang
lingkup pembahasan serta sistematika pembahasan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


Pada bab ini membahas Etika, Moral, Akhlak, Perencanaan, Pembangunan, materi terkait
dgn judul.

BAB III : METODOLOGI PENYUSUNAN LAPORAN


Bab ini membahas tentang gambaran umum Kota Pare-Pare, Kecamatan Turikale dan
Kecamatan serta Kelurahan Taroada, Kelurahan Adatongeng, Kelurahan Pettuadae dan
Desa Bonto Tallasa meliputi kondisi wilayah, kependudukan serta ketersediaan sarana dan
prasarana.
BAB IV : PEMBAHASAN MATERI
Berisi tentang analisis fisik dasar wilayah, analisis proyeksi penduduk untuk 20 tahun ke
depan, analisis kebutuhan sarana dan prasarana, analisis struktur wilayah (indeks
sentralisasi terbobot) dan analisis indeks perkembangan wilayah.
BAB V : PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan yang merupakan hasil analisa atau interpretasi data dari bab
pembahasan serta saran.

BAB II
TINJAUAN LITERATUR
A. Etika
1) Pengertian Etika
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat
internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia
bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal
dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman
pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar
mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta
terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang
berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang
mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli
maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan
antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu
ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu :
tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak,
perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika
yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis
(asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau
ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia
sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu
kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukan.
2) Fungsi Etika
a. Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas
yang membingungkan.
b. Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk
berargumentasi secara rasional dan kritis.
c. Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana
pluralisme.
3) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :
a. Kebutuhan Individu
b. Tidak Ada Pedoman
c. Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
d. Lingkungan Yang Tidak Etis
e. Perilaku Dari Komunitas
B. Pengertian Moral
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau
orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki
moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata
manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu
tanpa

moral

manusia

tidak

bisa

melakukan

proses sosialisasi.

Moral

dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral
atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan
di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh
sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.
Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah
perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila
yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut
dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai
memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan
Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem
nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Moral berasal dari bahasa Latin "mos"(jamak: mores) yang berarti kebiasaan, adat.
Kata "mos" (mores) dalam bahasa Latin sama artinya dengan etos dalam bahasa Yunani.

Di

dalam

bahasa

Indonesia,

kata

moral

diterjemahkan

dengan

arti

susila.

Adapunpengertian moral yang paling umum adalah tindakan manusia yang sesuai dengan
ide-ide yang diterima umum, yaitu berkaitan dengan makna yang baik dan wajar. Dengan
kata lain,pengertian moral adalah suatu kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran
tindakan yang diterima oleh umum, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu.
Kata moral selalu mengacu pada baik dan buruknya perbuatan manusia sebagai manusia.
Berikut ini beberapa Pengertian Moral Menurut para Ahli:

Pengertian Moral Menurut Chaplin (2006): Moral mengacu pada akhlak yang sesuai
dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur
tingkah laku.

Pengertian Moral Menurut Hurlock (1990): moral adalah tata cara, kebiasaan, dan
adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.

Pengertian Moral Menurut Wantah (2005): Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau
ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya
tingkah laku.
Dari tiga pengertian moral di atas, dapat disimpulkan bahwa Moral adalah suatu

keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial,
yang mendasari tindakan atau pemikiran. Jadi, moral sangat berhubungan dengan benar
salah, baik buruk, keyakinan, diri sendiri, dan lingkungan sosial.
Dalam kamus filsafat terdapat beberapa pengertian dan arti moral yang diantaranya
adalah sebagai berikut:

Memiliki: Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsyafan benar


atau salah; Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai
dengan kaidah-kaidah perilaku nilai benar dan salah.

Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.

Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah,
tepat atau tidak tepat.

Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar,
baik, adil dan pantas.

C. Pengertian Akhlak
1) Akhlak Menurut Bahasa
Akhlaq berasal dari bahasa arab, yaitu jama dari kata khuluq ( ) secara
bahasa kata ini memiliki arti perangai atau yang mencakup diantaranya: sikap, prilaku,
sopan, tabiat, etika, karakter, kepribadian, moral dll. timbang. Sedangkan menurut
Mukhtar Ash Shihah akhlak adalah berarti watak. Sedangkan menurut Al Firuzabadi
akhlak adalah watak, tabiat, keberanian, dan agama.
Kemudian, dalam Bashaa-ir Dzawi Al Tamyiz fi Lathaa- if Al Kitab Al Aziz
Baashiroh fi Akhlak adalah pikiran yang lurus. Kata al-khuluqu digunakan pula dalam
menciptakan sesuatu yang tanpa perrmulaan dan tanpa meniru.
Pada dasarnya al khulqu dan al kholqu sama hanya saja al kholqu itu khusus tertuju
pada tingkah tingkah atau keadaan dan bentuk bentuk yang bisa dilihat dengan
mata, sedangkan khulqu khusus pada kekuatan dan tabiat yang ditembus dengan hati.
Ibnu Abbas r.a berkata maksudnya benar benar berragama yang agung, agama yang
paling kucinta dan tak ada agam yang Aku ridhoi selain selainna.agama itu adalah
islam kemudian, Alhasan berkata, maksudnya etika Al-Quran kemudian Qotadah
berrkata maksudnya sesuatu yang diperintahkan Allah dan yang dilarang-Nya.
Adapun maknanya adalah sesungguhnya kamu benar benar berakhlak yang telah
dipilih Allah untukmu dalam Al Quran. Dalam Ash-Shohihainai dikatakan, bahwa
Hisyam bin Hakim berrtanya kepada Aisyah tentang akhlak Rosulullah, kemudian
Aisyah menjawab, akhlak beliau adalah akhlak Al-Quran.
Menurut pendapat saya jika dilihat dari berbagai uraian diatas dapat diambil
kesimpulan akhlak menurut bahasa adalah Tabiat atau tingkah laku, dan akhlak yang
baik adalah tingkah laku yang sesuai dengan Al-Quran.
2) Akhlak Menurut Terminologi
Prof.Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan kehendak. Ini
berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaannya itu di sebut
akhlak. Contohnya bila kehendak itu dibiasakan member, maka kebiasaan itu ialah
akhlak dermawan. Sedangkan menurut syekh Muhammad Nawawi Al Jawiyydalam
kitabnya Murooqiyul Ubudiyah Akhlak adalah
akhlak adalah kedaan didalam jiwa yang mendorong prilaku yang tidak
terpikir dan tidak ditimbang. Dalam buku lain dijeaskan bahwasanya akhlak menurut

terminologi akhlak adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama: Gambaran
batin seseorang . Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai dua gambaran :
a. Gambaran zhahir (luar): Yaitu bentuk penciptaan yang telah Allah jadikan padanya
sebuah tubuh. Dan gambaran zhahir tersebut di antaranya ada yang indah dan bagus,
ada yang jelek dan buruk, dan ada pula yang berada pada pertengahan di antara
keduanya atau biasa-biasa saja.
b. Gambaran batin (dalam): Yaitu suatu keadaan yang melekat kokoh dalam jiwa, yang
keluar darinya perbuatan- perbuatan, baik yang terpuji maupun yang buruk (yang
dapat dilakukan) tanpa berfikir atau kerja otak.
Menurut Imam Maskawaih akhlak adalah suatu keadaan bagi jiwa yang
mendorong seseorang melakukan tindakan tindakan dari keadaan itu tanpa melalui
pikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi menjadi dua: ada yang berasal dari
tabiat aslinya, dan ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang ulang.
Boleh jadi pada mulanya tindakan tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan,
kemidian dilakukan terum menerus maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
Kemudian Al Ghozali mendifinisikan akhlak sebagai suatu ungkapan tentang
keadaan pada jiwa bagian dalam yang melahirkan macam macam tindakan dengan
mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Dari dua devinisi
diatas, kita dapat memahami beberapa hal, diantaranya:
Akhlak itu suatu keadaan bagi diri, maksudnya ia merupakan suatu sifat yang
dimiliki aspek jiwa manusia, sebagaimana tindakan merupakan suatu sifat bagi aspek
tubuh manusia.
Sifat kejiwaan mesti menjadi bagian terdalam, maksudnya keberadaan sifat itu tida
terlihat. Ia diwujudkan pad orangnya sebagai kebiasaan yang terus meenerus selama
ada kesempatan. Oleh karena itu, orang kikir yang hanya bersedekah sekali selama
hidupnya belum disebut pemurah.
Sifat kewajiban yang merupakan bagian terdalam itu melahirkan tindakan
tindakan dengan mudah. Maksudnya, tindakan itu tidak sulit dilakukan. Oleh karena
itu, orang jahat yang bersikap malu, tidak disebut pemalu.
Munculnya tindakan tindakan dari keadaan jiwa atau bakat kejiwaan itu tanpa
dipikir atau dipertimbangkan lebih dahulu. Maksudnya, tanpa ragu ragu dan tanpa
memilih waktu yang cocok. Akhlak itu sudah menjadi adat dan kebiasaan maka
tindakan

itu

lakukan

tanpa

berpikir,

meskipun

pemikirannya

aktif

dalam

mempertimbangkan dari berbagai segi. Orang dermawan misalnya, ia tidak ragu ragu
untuk memberi dan berkorban, tetapi ia hanya mempertimbangkan dari segi kebaikan,

jenis kebaikan itu atau sifat pribadi yang suka memberi. Jadi pemikirannya itu hanya
diarahkan pada segi kebaikan dan aspek aspeknya saja.
Dari akhlak itu ada yang bersifat dan tabiat dan alami. Maksudnya, bersifat fitroh
sebagai pembawaan sejak lahir, misalnya sabar, inta, dan malu.
Dari akhlak juga ada hasil yang diupayakan, yakni lahir dari kebiasaan, latihan dan
lingkungan, misalnya takut dan berani.
Kata akhlak dipakai untuk perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Oleh karena itu,
akhlak memerlukan batasan, agar dikatan akhlak terpuji dan akhlak tercela.
Akhlak yang didahului tindakan tindakan kejiwaan, ia menjadi langkah terakhir
dari tindakan tindakan itu.
Yang pertama kali datang pada hati manusia adalah ide yakni perkataan diri.
Setelah itu, diri manusia berbicara kepada hati tentang berbagi hal, maka hati itu
cenderung pada salah satu hal tersebut.
Kecendrungan adalah tujuannya seseorang pada salah satu ide yang tergambar
dalam hati dan ingin mencapai tujuan dan ide tersebut. Jikia salah kecendrungan
mengalahkan kecendrungan kecendrungan yang lainnya, kecendrungan itu menjadi
harapan.
Harapan adalah menangnya salah satu kecendrungan atas semua kecendrngan atas
semua kecendrungan dalam hati seseorang. Jika orang itu memikirkan dan
mempertimbangkan harapan ini secara matang, lalu membulatkan tekad kepadanya,
harapan ini menjadi suatu keinginan.
Keinginan adalah sifat diri yang telah membulatkan tekad terhdap salah satu
harapan diatas untuk dapat dibuktikan. Jika keinginan itu terus menerus dan berulang
ulang maka jadilah suatu adat dan kebiasaan.
D. Perencanaan
Planning atau perencanaan ialah suatu rangkaian persiapan tindakan untuk mencapai
tujuan. Perencanaan merupakan pedoman, garis-garis besar atau petunjuk-petunjuk yang
harus dituruti jika menginginkan hasil yang baik sebagaimana direncanakan.
Pertama-tama harus memusatkan apa yang ingin dikerjakan, tujuan jangka pendek
dan tujuan jangka panjang untuk organisasi serta memutuskan alat apa yang akan
digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam rangka melakukan hal tersebut, ia harus
meramalkan sejauh mana kemungkinan tersebut dapat dicapai, baik dilihat dari asep
ekonomi, sosial maupun lingkungan politik tempat organisasi berorganisasi serta
dihubungkan dengan sumber-sumber yang ada untuk mewujudkan rencana tersebut.
Perencanaan juga mencakup fungsi budgeting, sebab budget merupakan rencana
pengeluaran sejumlah uang untuk melakukan suatu tujuan.
1. Pengertian Perencanaan

Untuk mengetahui dan memahami hakekat perencanaan, maka kita perlu


mengetahui pengertian atau definisinya, di antaranya :
a. George R. Terry: Perencanaan adalah pemulihan fakta-fakta dan usaha
menghubung-hubungkan antara fakta yang satu dengan yang lain, kemudian
membuat perkiraan dan peramalan tentang keadaan dan perumusan tindakan untuk
masa yang akan datang yang sekiranya diperlukan untuk menghendaki hasil yang
dikehendaki.
b. Harold Koontz dan ODonnell: Perencanaan adalah tugas seorang manajer untuk
menentukan pilihan dari berbagai alternatif, kebijaksanaan, prosedur dan program.
c. W. H. Newman: Perencanaan adalah suatu penngambilan keputusan pendahuluan
mengenai apa yang harus dikerjakan dan merupakan langkah-langkah sebelum
kegiatan dilaksanakan.
d. Dr. SP. Siagian MPA.: Perencanaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan
proses pemikiran dan penentuan secara matang dari hal-hal yang akan dikerjakan
di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
Dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan
merupakan kegiatan menetapkan, merumuskan tujuan dan mengatur pendaya-gunaan
manusia, material, metode dan waktu secara efektif dalam rangkan pencapaian tujuan.
Widjojo dalam Lembaga Administrasi Negara (1985: 31), menjelaskan sebagai
berikut : Perencanaan pada asasnya berkisar pada dua hal :
1) Penentuan pilihan secara sadar mengenai tujuan-tujuan konkret yang hendak
dicapai dalam jangka waktu tertentu atas dasar nilai-nilai yang dimiliki
masyarakat yang bersangkutan.
2) Pilihan di antara cara-cara alternatif yang efesien serta rasional guna mencapai
tujuan-tujuan tersebut, baik untuk penentuan tujuan yang meliputi jangka waktu
tertentu maupun bagi pemilihan cara-cara tersebut diperlukan ukuran-ukuran atau
kriteria-kriteria tertentu yang terlebih dahulu harus dipilih pula.

2.

Tujuan Perencanaan
Setiap kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan perlu perencanaan yang matang
sesuai dengan tujuannya. Hal tersebut disesuaikan menurut bidang-bidang yang akan
dicapai.

Albert Silalahi (1987: 167), menjelaskan bahwa tujuan perencanaan adalah


sebagai berikut:
a. Perencanaan adalah jalan atau cara untuk mengantifikasi dan merekam perubahan
(a way to anticipate and offset change).
b. Perencanaan memberikan pengarahan

(direction)

kepada

administrator-

administrator maupun non-administrator.


c. Perencanaan juga dapat menhindari atau setidak-tidaknya memperkecil tumpangtindih dan pemborosan (wasteful) pelaksanaan aktivitas-aktivitas.
d. Perencanaan menetapkan tujuan-tujuan dan standar-standar yang akan digunakan
untuk memudahkan pengawasan.
3.

Fungsi-Fungsi Perencanaan (Planning)


Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, maka perlu diketahui fungsifungsi dari planning itu sendiri, yaitu:
a. Menentukan titik tolak dan tujuan usaha.
Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai sehingga merupakan sasaran, sedangkan
perencanaan adalah alat untuk mencapai sasaran tersebut. Setiap usaha yang baik
harus memiliki titik tolak, landasan dan tujuannya. Misalnya seseorang ingin pergi
dari Bandung ke Surabaya naik kereta api. Di sini Surabaya merupakan tujuan,
sedangkan kereta api merupakan perencanaan atau alat mencapai sasaran tersebut.
b. Memberikan pedoman, pegangan dan arah.
Suatu perusahaan harus mengadakan perencanaan apabila hendak mencapai suatu
tujuan. Tanpa perencanaan, suatu perusahaan tidak akan memiliki pedoman,
pegangan dan arahan dalam melaksanakan aktivitas kegiatannya. Misalnya seorang
pilot terbang melintasi Samudera tanpa mengetahui apakah ia ingin menuju ke
Inggris, Belanda atau Australia, maka ia akan berada di dalam ketidak-pastian.
c. Mencegah pemborosan waktu, tenaga dan material.
Dalam menetapkan alternatif dalam perencanaan, kita harus mampu menilai
apakah alternatif yang dikemukakan realistis atau tidak atau dengan kata lain,
apakah masih dalam batas kemampuan kita serta dapat mencapai tujuan yang kita
tetapkan. Misalnya suatu perusahaan menetapkan tujuan bahwa omzet penjualan
untuk tahun yang akan datang dinaikkan sebanyak 10%. Untuk itu ditetapkan
alternatif media promosi antara lain radio, majalah dan surat kabar. Karena
keterbatasan dana yang dimiliki, pilihan jatuh pada surat kabar karena dianggap
realitas dan paling ekonomis. Tetapi selain itu, perencanaan yang baik memerlukan
pemikiran lebih lanjut tentang surat kabar apa, hari pertemuannya dan judul iklan.
d. Memudahkan pengawasan.
Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui penyelewengan yang terjadi
karena planning merupakan pedoman dan patokan dalam melakukan suatu usaha.

Agar dapat membuat perencanaan yang baik, maka manajer memerlukan data-data
yang lengkap, dapat dipercaya serta aktual.
e. Kemampuan evaluasi yang teratur.
Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui apakah usaha yang kita lakukakn
sudah sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Sehingga tidak terjadi under
planning dan over planning.
f. Sebagai alat koordinasi.
Perencanaan dalam suatu perusahaan kadang-kadang begitu kompleks, karena
untuk perencanaan tersebut meliputi berbagai bidang di mana tanpa koordinasi
yang baik dapat menimbulkan benturan-benturan yang akibatnya dapat cukup
parah. Dapat kita misalkan, perjalanan suatu kereta api yang dengan tanpa adanya
koordinasi yang baik, kemungkinan akan terjadi tabrakan atau harus menunggu
terlalu lama pada simpangan-simpangan.
4.

Latar Belakang Lahirnya Perencanaan


Suatu perencanaan lahir bukanlah secara kebetulan melainkan ada sebab berupa
inisiatif atau prakarsa dari dalam dan luar organisasi. Sebagaimana asal lahirnya suatu
perencanaan meliputi berbagai sumber, antara lain:
a. Policy top management: puncak pimpinanlah yang mengeluarkan kebijakan
diadakannya perencanaan karena memang merekalah sebagai pemegang policy.
b. Hasil pengawasan: berdasarkan hasil pengawasan terkumpullah sejumlah data dan
fakta yang dibuat dalam satu perencanaan baru yang memperbaiki atau merombak
yang pernah dilaksanakan.
c. Inisiatif dari dalam: planning juga dapat lahir akibat adanya saran-saran dari pihak
luar yang mungkin secara langsung atau tidak langsung, yang mempunyai
kepentingan dengan organisasi.
d. Kebutuhan masa depan: suatu perencanaan dibuat sebagai persiapan masa depan
ataupun menghadapi rintangan dan hambatan yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

E. Pengertian Pembangunan
Pembangunan merupakan suatu upaya untuk memenuhan kebutuhan dasar manusia,
baik secara individual maupun kelompok, dengan cara-cara yang tidak menimbulkan
kerusakan, baik terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan sosial (Johan Galtung).
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial berencan, karena meliputi
berbagai dimensi untuk mengusahakan kemajuan dalam kesejahteraan ekonomi,
modernisasi, pembangunan bangsa, wawasan lingkungan san bahkan peningkatan kualitas
manusia untuk memperbaiki kualitas hidupnya (Bintiro Tjokroamidjojo).

Pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan


alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk memenuhi dan
mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004).
Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacammacam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh
satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, Negara satu dengan
Negara lain.

Namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pembangunan

merupakan proses untuk melakukan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi


Bratakusumah, 2005).
Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai Suatu usaha
atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
pembinaan bangsa (nation building). Sedangkan Ginanjar Kartasasmita (1994)
memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai suatu proses perubahan ke
arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana.
Menurut Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan
sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan
strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya,
dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri
dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya,
kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan
pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat
melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap
sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas
rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan
transformasi budaya sering dikaitkan,

antara lain, dengan bangkitnya semangat

kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut
masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme. Pergeseran
dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi
organisasi modern dan rasional.

F. Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan

BAB III
METODOLOGI PENYUSUNAN
A.