Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan

: Pencegahan Penyakit Menular ( P2M)

Sub Pokok Bahasan

: Pencegahan dan cara penularan HIV/AIDS

Sasaran

: Pengunjung Poli Konsultasi keluarga dan remaja

Hari/Tanggal

: Selasa, 20 Januari 2015

Waktu

: 07.30-08.00 WIB (30 menit)

Tempat

: POLI KONSULTASI KELUARGA DAN REMAJA

Penyuluh

: Natalia Laura Z N, Alia Khairany S, Debora F Siahaan,


Eneng Annisa A, Izzah Ainun Nisa

1. Analisa Situasi
Setelah mengobservasi di ruangan Poli Konsultasi Keluarga dan Remaja, pada
klien yang berkunjung ke poli konsultasi keluarga dan remaja kurang
mengetahui tentang pencegahan dan penularan HIV / AIDS dan kurang
mengetahui bahaya pencegahan dan cara penularan HIV bagi pasangannya dan
orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan pencegahan penularan HIV / AIDS b.d kurangnya
informasi mengenai pencegahan penularan HIV / AIDS
3. Tujuan Intruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran diharapkan dapat mengetahui dan
memahami serta dapat mencegah penularan HIV / AIDS.
4. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan, sasaran dapat:
1

Menjelaskan mengenai pengertian HIV / AIDS.

Menyebutkan penyebab HIV / AIDS

Menyebutkan tanda dan gejala HIV / AIDS

Menyebutkan mengenai Stadium HIV / AIDS

Menyebutkan Pencegahan HIV / AIDS

Menyebutkan Penularan HIV / AIDS

Menyebutkan obat-obatan untuk penderita HIV / AIDS

5. Materi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pengertian HIV / AIDS


Penyebab HIV / AIDS
Tanda dan gejala HIV / AIDS
Stadium HIV / AIDS
Pencegahan HIV / AIDS
Penularan HIV / AIDS
Obat-obatan untuk penderita HIV / AIDS

6. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
7.

Media
1.
2.

8.

Leaflet
Lembar balik
Kegiatan Penyuluhan

No

Waktu

Kegiatan Penyuluhan

.
1

Pembukaan

1. Memberi salam

Kegiatan Sasaran

Waktu

Memjawab

2 menit

1.

2. Perkenalan

salam

3. Menyampaikan pokok

2.

Memperhatika
n

bahasan
4. Menjelaskan maksud
2

Kegiatan
Inti

dan tujuan
Penyampaian materi:

Sasaran

1.

memperhatikan

Pengertian

HIV

AIDS
2.
Penyebab HIV / AIDS
3.

15 menit

Tanda

dan

gejala

HIV / AIDS
4.
Stadium HIV / AIDS
5.
Pencegahan

HIV

AIDS
6.
Penularan HIV / AIDS
7.
Obat-obatan

untuk

penderita HIV /
3

Evaluasi

AIDS
Memberi pertanyaan

Sasaran

kepada sasaran:

pertanyaan

menjawab 10 menit

1. Pengertian HIV /
AIDS
2. Penyebab HIV /
AIDS
3. Tanda dan gejala
HIV / AIDS
4. Stadium HIV

AIDS
5. Pencegahan HIV /
AIDS
6. Penularan HIV /
AIDS
7. Obat-obatan untuk
penderita HIV /
AIDS
4

Penutup

Salam penutup

Sasaran
salam

menjawab 3 menit

3.

Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan yaitu menanyakan kembali kepada ibu dan bapak
di poli mengenai materi yang telah diberikan :
1. Memahami dan menjelaskan pengertian dari HIV/AIDS?
2. Memahami dan Menyebutkan Penyebab HIV / AIDS?
3. Menyebutkan 8 dari 16 tanda dan gejala-gejala HIV / AIDS?
4. Menyebutkan 4 dari 4 tahapan stadium HIV / AIDS?
5. Menyebutkan 3 dari 5 cara pencegahan penularan HIV?
6. Menyebutkan 2 dari 3 cara Penularan HIV / AIDS
7. Menyebutkan obat-obatan untuk penderita HIV / AIDS

8.

Sumber Pustaka
Djuanda , adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan KELAMIN. JAKARTA :
Balai Penerbit FKUI
Mandal, dkk. 2008. Penykit Infeksi. Jakarta : Erlangga
Lpkeperawatn.blogspot.com 19.35

LAMPIRAN
MATERI PENYULUHAN
A. Pengertian HIV / AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang tergolong
familia retrovirus, sel-sel darah putih yang diserang oleh HIV pada penderita yang
terinfeksi adalah sel-sel limfosit T (CD4) yang berfungsi dalam sistem imun
(kekebalan) tubuh. HIV memperbanyak diri dalam sel limfosit yang diinfeksinya dan
merusak sel-sel tersebut, sehingga mengakibatkan sistem imun terganggu dan daya
tahan tubuh berangsur-angsur menurun (Daili, F.S., 2009).
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah fase terkahir dari
infeksi HIV dan biasanya dicirikan oleh jumlah CD4 kurang dari 200. (Daili, F.S,
2009).

B. Penyebab HIV / AIDS


Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yakni sejenis
virus RNA dalam genus Lentivirus dari famili Retroviridae. Dikenal ada dua
serotype HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 merupakan penyebab tersering
AIDS. Dasar utama penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jenis sel darah putih
(Limfosit T helper) yang mengandung marker CD4. Limfosit T mempunyai pusat
dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam
menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan, sehingga kelainankelainan
fungsional pada Limfosit T akan menimbulkan tanda-tanda gangguan respon
kekebalan tubuh (Iman, 2011).
Setelah HIV memasuki tubuh seseorang, HIV dapat diperoleh dari limfosit
terutama limfosit T, monosit, sel glia, makrofag dan cairan otak penderita AIDS
(sel dendrite, astrosit, microglia).
C. Tanda dan gejala HIV / AIDS

1. Demam
Salah satu tanda-tanda pertama ARS adalah demam ringan, sampai sekitar
390C (102 derajat F). Demam sering disertai dengan gejala ringan lainnya, seperti
kelelahan, pembengkakan pada kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan.

"Pada titik ini virus bergerak ke dalam aliran darah dan mulai mereplikasi dalam
jumlah besar. Sehingga akan ada reaksi inflamasi oleh sistem kekebalan tubuh,"
kata Carlos Malvestutto, MD, instruktur penyakit menular dan imunologi dari
department of medicine di NYU School of Medicine, New York.

2. Kelelahan
Respon inflamasi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh juga dapat
menyebabkan lelah dan lesu. Kelelahan dapat menjadi tanda awal dan tanda
lanjutan dari HIV.

3. Pegal, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar getah bening


ARS sering menyerupai gejala flu, mononucleosis, infeksi virus atau yang
lain, bahkan sifilis atau hepatitis. Hal tersebut memang tidak mengherankan.
Banyak gejala penyakit yang mirip bahkan sama, termasuk nyeri pada persendian
dan nyeri otot, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dan
cenderung akan meradang bila ada infeksi. Kelenjar getah bening berada di
pangkal paha leher ketiak, dan lain-lain.

4. Sakit tenggorokan dan sakit kepala


Seperti gejala penyakit lain, sakit tenggorokan, dan sakit kepala sering
dapat merupakan ARS," kata Dr. Horberg. Jika memiliki risiko tinggi HIV, maka
melakukan tes HIV adalah ide yang baik. Karena HIV paling menular pada tahap
awal.

5. Ruam kulit
Ruam kulit dapat terjadi lebih awal atau terlambat dalam perkembangan
HIV/AIDS.

6. Mual, muntah dan diare


Sekitar 30 hingga 60 persen dari orang dengan HIV memiliki gejala jangka
pendek seperti mual, muntah, atau diare pada tahap awal HIV, kata Dr.
Malvestutto. Gejala tersebut juga dapat muncul sebagai akibat dari terapi
antiretroviral, biasanya sebagai akibat dari infeksi oportunistik.

"Diare yang tak henti-hentinya dan tidak merespon obat mungkin


merupakan indikasi. Atau gejala dapat disebabkan oleh organisme yang biasanya
tidak terlihat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik," kata Dr.
Horberg.

7. Penurunan berat badan

"Jika penderita HIV sudah kehilangan berat badan, berarti sistem


kekebalan tubuh biasanya sedang menurun," kata Dr. Malvestutto.

8. Batuk kering
Batuk kering dapat merupakan tanda pertama seseorang terkena infeksi
HIV. Batuk tersebut dapat berlangsung selama 1 tahun dan terus semakin parah.

9. Pneumonia
Batuk dan penurunan berat badan juga mungkin pertanda infeksi serius
yang disebabkan oleh kuman yang tidak akan mengganggu jika sistem kekebalan
tubuh bekerja dengan baik. "Ada banyak infeksi oportunistik yang berbeda dan
masing-masing dapat datang dengan waktu yang berbeda," kata Dr. Malvestutto.

Pneumonia merupakan salah satu infeksi oportunistik, sedangkan yang


lainnya termasuk toksoplasmosis, infeksi parasit yang mempengaruhi otak,
cytomegalovirus, dan infeksi jamur di rongga mulut.

10. Keringat malam


Sekitar setengah dari orang yang terinfeksi HIV akan berkeringat di
malam hari selama tahap awal infeksi HIV, kata Dr. Malvestutto. Keringat malam
terjadi bahkan saat tidak sedang melakukan aktivitas fisik apapun.

11. Perubahan pada kuku

Tanda lain dari infeksi HIV akhir adalah perubahan kuku, seperti
membelah, penebalan dan kuku yang melengkung, atau perubahan warna (hitam
atau coklat berupa garis vertikal maupun horizontal). Seringkali hal tersebut
disebabkan infeksi jamur, seperti kandida.
"Pasien dengan sistem kekebalan yang menurun akan lebih rentan
terhadap infeksi jamur," kata Dr. Malvestutto.

12. Infeksi Jamur


Infeksi jamur yang umum pada tahap lanjut adalah thrush, infeksi mulut
yang disebabkan oleh Candida, yang merupakan suatu jenis jamur. "Candida
merupakan jamur yang sangat umum dan salah satu yang menyebabkan infeksi
jamur pada wanita.
"Candida cenderung muncul di rongga mulut atau kerongkongan, sehingga
akan sulit untuk menelan," kata Dr. Malvestutto.

13. Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi


Masalah kognitif dapat menjadi tanda demensia terkait HIV, yang biasanya
terjadi lambat dalam perjalanan penyakit. Selain kebingungan dan kesulitan
berkonsentrasi, demensia terkait AIDS mungkin juga melibatkan masalah memori
dan masalah perilaku seperti marah atau mudah tersinggung.
Bahkan mungkin termasuk perubahan motorik seperti, menjadi ceroboh,
kurangnya koordinasi, dan masalah dengan tugas yang membutuhkan
keterampilan motorik halus seperti menulis dengan tangan.

14. Herpes mulut dan herpes kelamin

Cold sores (herpes mulut) dan herpes kelamin (herpes genital) dapat
menjadi tanda dari ARS dan stadium infeksi HIV. Herpes tersebut juga dapat
menjadi faktor risiko untuk tertular HIV.
Karena herpes kelamin dapat menyebabkan borok yang memudahkan
virus HIV masuk ke dalam tubuh selama hubungan seksual. Orang-orang yang
terinfeksi HIV juga cenderung memiliki risiko tinggi terkena herpes karena HIV
melemahkan sistem kekebalan tubuh.

15. Kesemutan dan kelemahan


Akhir HIV juga dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan di tangan
dan kaki. Hal ini disebut neuropati perifer, yang juga terjadi pada orang dengan
diabetes yang tidak terkontrol. "Hal tersebut menunjukkan kerusakan pada saraf,"
kata Dr. Malvestutto.
Gejala tersebut dapat diobati dengan obat-obatan penghilang rasa sakit
yang dijual bebas dan antikejang seperti gabapentin.

16. Ketidakteraturan menstruasi


Penyakit HIV tahap lanjut tampaknya dapat meningkatkan risiko
mengalami ketidakteraturan menstruasi, seperti periode yang lebih sedikit dan
lebih jarang. Perubahan tersebut mungkin lebih berkaitan dengan penurunan berat
badan dan kesehatan yang buruk dari wanita dengan tahap akhir infeksi HIV.
Infeksi HIV juga telah dikaitkan dengan usia menopause yang lebih dini,
yaitu sekitar 47-48 tahun bagi perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan
dengan perempuan yang tidak terinfeksi sekitar usia 49-51 tahun

D. Stadium HIV / AIDS

Menurut WHO stadium pada penderita HIV baik remaja ataupun dewasa
dibagi menjadi 4 stadium, yaitu :

1) Stadium Klinis 1
Tanpa gejala (asimtomatis)
Limfadenopati generalisata persisten
2) Stadium Klinis 2
Kehilangan berat badani yang sedang tanpa alasanii (<10% berat badan
diperkirakan atau diukur)
Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang (sinusitis, tonsilitis, ototis media
dan faringitis)
Herpes zoster
Kheilitis angularis
Ulkus di mulut yang berulang
Erupsi papular pruritis
Dermatitis seboroik
Infeksi jamur di kuku
3) Stadium Klinis 3
Kehilangan berat badan yang parah tanpa alasan (>10% berat badan diperkirakan
atau diukur)
Diare kronis tanpa alasan yang berlangsung lebih dari 1 bulan
Demam berkepanjangan tanpa alasan (di atas 37,5C, sementara atau terusmenerus, lebih dari 1 bulan)
Kandidiasis mulut berkepanjangan
Oral hairy leukoplakia
Tuberkulosis paru
Infeksi bakteri yang berat (mis. pnemonia, empiema, piomiositis, infeksi tulang
atau sendi,meningitis atau bakteremia)

Stomatitis, gingivitis atau periodontitis nekrotising berulkus yang akut


Anemia (<8g/dl), neutropenia (<0,5 109/l) dan/atau trombositopenia kronis (<50
109/l) tanpa alasan
4) Stadium Klinis 4iii
Sindrom wasting HIV
Pneumonia Pneumocystis
Pneumonia bakteri parah yang berulang
Infeksi herpes simplex kronis (orolabial, kelamin, atau rektum/anus lebih dari 1
bulan atau viskeral pada tempat apa pun)
Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis pada trakea, bronkus atau paru)
Tuberkulosis di luar paru
Sarkoma Kaposi (KS)
Infeksi sitomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain)
Toksoplasmosis sistem saraf pusat
Ensefalopati HIV
Kriptokokosis di luar paru termasuk meningitis
Infeksi mikobakteri non-TB diseminata
Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)
Kriptosporidiosis kronis
Isosporiasis kronis
Mikosis diseminata (histoplasmosis atau kokidiomikosis di luar paru)
Septisemia yang berulang (termasuk Salmonela nontifoid)
Limfoma (serebral atau non-Hodgkin sel-B)
Karsinoma leher rahim invasif
Leishmaniasis diseminata atipikal
Nefropati bergejala terkait HIV atau kardiomiopati bergejala terkait HIV

E. Pencegahan HIV / AIDS


Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan
virus HIV melalui perubahan perilaku seksual yang terkenal dengan istilah
ABCDE yang telah terbukti mampu menurunkan percepatan penularan HIV,
terutama di Uganda dan beberapa negara Afrika lain. Prinsip ABCDE ini
telah dipakai dan dibakukan secara internasional, sebagai cara paling efektif
mencegah HIV lewat hubungan seksual. Prinsip ABCDE itu adalah :
A : Anda jauhi seks sampai anda kawin atau menjalin hubungan jangka
panjang dengan pasangan (Abstinesia)
B : Bersikap saling setia dengan pasangan dalam hubungan perkawinan atau
hubungan jangka panjang tetap (Be faithful)
C : Cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk penjaja
seks atau orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B (Condom)
Untuk penularan non seksual berlaku prinsip D dan E yaitu :
D : Drug; say no to drug atau katakan tidak pada napza/narkoba
E : Equipment; no sharing jangan memakai alat suntik secara bergantian

F. Penularan HIV / AIDS


Cara penularan :
1)

Lewat cairan darah:


Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai
bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan
pengguna Narkotika Suntikan
Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain,
misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang
menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah

2)

Lewat cairan sperma dan cairan vagina :


Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus),
tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya
cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ;
atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi
dalam hubungan seks lewat anus.

3)

Lewat Air Susu Ibu :


Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan
melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission)
ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV
positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.

G. Obat-obatan HIV / AIDS


Tidak ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV, tapi ada pengobatan yang bisa
memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan ini bisa membuat orang yang
terinfeksi untuk hidup lebih lama dan bisa menjalani pola hidup sehat. Ada
berbagai macam jenis obat yang dikombinasikan untuk mengendalikan virus.
Obat-obatan Darurat Awal HIV
Jika merasa atau mencurigai baru saja terkena virus dalam rentan waktu 324
jam, obat anti HIV bisa mencegah terjadinya infeksi. Obat ini bernama postexposure prophylaxis(PEP) atau di Indonesia dikenal sebagai profilaksis pasca
pajanan. Profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada
mengobati.
Pengobatan ini harus dimulai maksimal tiga hari setelah terjadi pajanan (terpapar)
terhadap virus. Idealnya, obat ini bisa diminum langsung setelah pajanan terjadi.
Makin cepat pengobatan, maka lebih baik.

Pengobatan memakai PEP ini berlangsung selama sebulan. Efek samping obat ini
serius dan tidak ada jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil. PEP melibatkan
obat-obatan yang sama seperti pada orang yang sudah dites positif HIV.
Obat ini bisa Anda dapatkan di dokter spesialis penyakit infeksi menular seksual
(IMS) atau di rumah sakit.
Obat-obatan Antiretroviral
Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk mengobati
infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi memperlambat
pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal terhadap satu golongan
ARV. Oleh karena itu kombinasi golongan ARV akan diberikan.
Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama terapi antiretroviral (ART).
Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV. Kombinasi obat ARV
yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap orang, jadi jenis pengobatan ini
bersifat pribadi atau khusus.
Beberapa obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil. Begitu pengobatan HIV
dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup. Jika satu kombinasi
ARV tidak berhasil, mungkin perlu beralih ke kombinasi ARV lainnya.
Jika menggabungkan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV, hal
ini bisa menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak terduga. Selalu
konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang lain.
Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil
Bagi wanita hamil yang positif terinfeksi HIV, ada obat ARV khusus untuk wanita
hamil. Obat ini untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya. Tanpa
pengobatan, terdapat perbandingan 25 dari 100 bayi akan terinfeksi HIV. Risiko
bisa diturunkan kurang dari satu banding 100 jika diberi pengobatan sejak awal.

Dengan pengobatan lebih dini, risiko menularkan virus melalui kelahiran normal
tidak meningkat. Tapi bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk melahirkan
dengan operasi caesar.
Bagi wanita yang terinfeksi HIV, disarankan untuk tidak memberi ASI kepada
bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui. Jika Anda adalah pasangan
yang menderita HIV, bicarakan kepada dokter sebagaimana ada pilihan untuk
tetap hamil tanpa berisiko tertular HIV.
Konsumsi Obat Secara Teratur
Anda harus membuat jadwal rutin untuk memasukkan pengobatan HIV ke dalam
pola hidup sehari-hari. Pengobatan HIV bisa berhasil jika Anda mengonsumsi
obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali minum obat). Jika
melewatkan satu dosis saja, efeknya bisa meningkatkan risiko kegagalan.
Efek Samping Pengobatan HIV
Semua pengobatan untuk HIV memiliki efek samping yang tidak menyenangkan.
Jika terjadi efek samping yang tidak normal, Anda mungkin perlu mencoba
kombinasi obat-obatan ARV yang lainnya. Berikut adalah contoh efek samping
yang umumnya terjadi:

Kelelahan

Mual

Ruam pada kulit

Diare

Satu bagian tubuh menggemuk, bagian lain kurus