Anda di halaman 1dari 27

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh ( suhu rectal diatas 38C ) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.1
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anakanak, terutama pada golongan umur 3 bulan sampai 5 tahun. Menurut Consensus
statement on febrile seizures (1980), kejang demam adalah kejadian pada bayi atau anak
yang berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial
atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang
dari 4 minggu tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi,yaitu yang ditandai denagn kejang berulang tanpa demam.1,2,3
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti
meningitis, ensefatitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai prognosis
berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem
susunan saraf pusat. Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan,
yaitu kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi
oleh demam (epilepsi triggered of by fever).2
Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah
menderitanya (Millichap, 1968). Wegman (1939) dan Millichap (1959) dari percobaan
binatang berkesimpulan bahwa suhu yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya
bangkitan kejang. 1
Terjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur, tinggi serta
cepatnya suhu meningkat (Wegman, 1939; Prichard dan McGreal, 1958). Faktor hereditas
juga mempunyai peranan. Lennox-Buchthal (1971) berpendapat bahwa kepekaan
terhadap bangkitan kejang demam diturunkan oleh sebuah gen dominan dengan penetrasi
yang tidak sempurna. Lennox (1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga
penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada anak normal hanya 3%.1

KLASIFIKASI KEJANG DEMAM (KD)


Umumnya kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu kejang
demam sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan berlangsung umum, dan

kejang demam kompleks, yang berlangsung kurang dari 15 menit, fokal, atau multiple
(lebih dari 1 kali kejang dalam 24 jam). Kriteria penggolongan tersebut dikemukan oleh
berbagai pakar. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan
tersebut, menyangkut jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang
berlangsung, gambaran rekam otak dan lainnya1,2
Kalsifikasi KD menurut Prichard dan Mc Greal2

I.

Prichard dan Mc Greal membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu:


1. Kejang demam sederhana
2. Kejang demam tidak khas
Ciriciri kejang demam sederhana ialah:2
1. Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai kiri yang
kejang sama seperti yang kanan
2. Usia penderita antara 6 bulan - 4 tahun
3. Suhu 100F (37,78C) atau lebih
4. Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit
5. Keadaan neurology (fs saraf) normal dan setelah kejang juga tetap normal
6. EEG (electro encephalography rekaman otak) yang dibuat setelah tidak demam
adalah normal
Kejang demam yang tidak memenuhi butir tersebut diatas digolongkan sebagai kejang
demam tidak khas
II.

Klasifikasi KD menurut Livingston2

Livingston membagi dalam:


1. KD sederhana
2. Epilepsy yang dicetuskan oleh demam

Ciri-ciri KD sederhana:2

1. Kejang bersifat umum


2. Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)
3. Usia waktu KD pertama muncul kurang dari 6 tahun
4. Frekuensi serangan 1-4 kali dalam satu tahun
5. EEG normal
KD yang tidak sesuai dengan ciri tersebut diatas digolongkan sebagai epilepsy yang
dicetuskan oleh demam
Klasifikasi KD menurut Fukuyama 2

III.

Fukuyama juga membagi KD menjadi 2 golongan, yaitu:


1. KD sederhana
2. KD kompleks
Ciri-ciri KD sederhana menurut Fukuyama:2
1. Pada keluarga penderita tidak ada riwayat epilepsy
2. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun
3. Serangan KD yang pertama terjadi antara usia 6 bulan - 6 tahun
4. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20menit
5. Kejang tidak bersifat fokal
6. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7. Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologist atau abnormalitas
perkembangan
8. Kejang tidak berulang dalam waktu singkat
KD yang tidak sesuai dengan criteria tersebut diatas digolongkan sebagai KD jenis
kompleks
Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FKUI RSCM Jakarta, menggunakan kriteria
Livingston yang telah dimodifikasi sebagai pedoman untuak membuat diagnosis kejang
demam sederhana, yaitu:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan 6 tahun

2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit


3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali

KD yang tidak memenuhi kriteria diatas digolongkan sebagai epilepsi yang diprovokasi
oleh demam. Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang
menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus.

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko pertama yang penting pada kejang demam adalah demam.
Selain itu juga terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara
kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam
pengawasan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama, kira-kira
33 anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9 anak
mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat pada usia dini,
cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperature yang sangat rendah
saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.1
Dua puluh sampai 25% penderita kejang demam mempunyai keluarga dekat
(orang-tua dan saudara kandung) yang juga pernah menderita kejang demam. Tsuboi
mendapatkan bahwa insiden kejang demam pada orang tua penderita kejang demam
ialah 17% dan pada saudara kandungnya 22%. Delapan-puluh persen dari kembar
monosigot dengan kejang demam adalah konkordans untuk kejang demam. Kebanyakan
peneliti mendapat kesan bahwa kejang demam diturunkan secara dominan dengan
penetrasi yang mengurang dan ekspresi yang bervariasi, atau melalui modus poligenik.1

Pada penderita kejang demam risiko saudara kandung berikutnya untuk


mendapat kejang demam ialah 10%. Namun bila satu dari orang-tuanya dan satu saudara
pernah pula mengalami KD, kemungkinan ini meningkat menjadi 50% .1,2,3
Penelitian

Prof.Dr.dr.S.M.Lumbantobing juga memperoleh data riwayat

keluarga pada 231 penderita KD Dari mereka ini 60 penderita merupakan anak tunggal
waktu diperiksa. Sedang 221 penderita lainnya - yang mempunyai satu atau lebih saudara
kandung - 79 penderita (36%) mempunyai satu atau lebih saudara kandung yang pemah
mengalami kejang yang disertai demam. Jumlah seluruh saudara kandung dari 221
penderita ini ialah 812 orang, dan 119 (14,7%) di antaranya pernah mengalami kejang
yang disertai demam.2

ETIOLOGI
Penyebab kejang demam hingga kini masih belum diketahui dengan pasti.
Ada

beberapa

faktor

yang

mungkin

berperan

dalam

menyebabkan

kejang

demam,yaitu:2,3,4
1. Demamnya sendiri
2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak
3. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi
4. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan atau yang tidak diketahui
atau ensefalopati toksik sepintas
6. Gabungan semua faktor diatas

Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang


demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang
demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT)
dan morbili (campak).1
Dari penelitian yang telah dilakukan Prof.Dr.dr.S.M.Lumbantobing pada 297
penderita

kejang

demam, 66(22,2%)

penderita

tidak diketahui penyebabnya.2

Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada penderita
yang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilofaringitis dan otrtis media akut. (lihat tabel ).

Penyebab demam pada 297 penderita KD1,2


Penyebab demam
Tonsilitis dan/atau faringitis
Otitis media akut (radang liang telinga
tengah)
Enteritis/gastroenteritis (radang saluran
cerna)
Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi
Bronkitis (radang saiuran nafas)
Bronkopeneumonia (radang paru dan
saluran nafas)
Morbili (campak)
Varisela (cacar air)
Dengue (demam berdarah)
Tidak diketahui

Jumlah penderita
100
91
22
44
17
38
12
1
1
66

Pernah dilaporkan bahwa infeksi tertentu lebih sering di-sertai KD daripada infeksi
lainnya.
Sekitar 4,8% - 45% penderita gastroenteritis oteh kuman Shigella mengaiami KD
dibanding gastroenteritis oieh kuman penyebab lainnya di mana angka kejadian KD
hanya sekitar 1%,
Lahat dkk, 1984 mengemukakan bahwa tingginya angka kejadian KD pada
shigellosis dan salmonellosis mungkin berkaitan dengan efek toksik akibat racun yang
dihasilkan kuman bersangkutan.

PATOFISIOLOGI1,5
Meskipun mekanisme pasti terjadinya kejang tidak diketahui, beberapa faktor fisiologis
dianggap bertanggung jawab atas berkembangnya suatu kejang 1.
Untuk mempertahankan hidup sel atau organ otak, diperlukan suatu energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk memetabolisme otak yang terpenting adalah

glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan
fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Jadi sumber
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah
lipid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat
dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+)
dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya kosentrasi K+ dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi Na+ menjadi rendah sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka
terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk
menjaga keseimbangan petensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NaK-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan petensial membran ini dapat diubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler.
2.

Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya.

3. Perubahan dari patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat sampai 20%. Jadi pada kenaikan
suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron, dan
dalam waktu yang singkat dapat terjadi difusi ion kalium listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya
ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Pada
anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang sudah dapat terjadi pada suhu 38 oC,
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru dapat terjadi pada
suhu 40oC atau lebih 4.
Pada kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet sedangkan otot
pernafasan tidak efisien sehingga tidak sempat bernafas yang akhirnya terjadi

hipoksemia, hiperkapnea, hipoglikemia, laktat asidosis disebabkan metabolisme anaerob,


hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang semakin
meningkat oleh karena meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otot meningkat.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia
sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul oedem otak yang mengakibatkan
kerusakan sel neuron.
Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih
sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga di dalam penanggulangannya
perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita menjadi kejang.

MANIFESTASI KLINIK
Terjadinya kejang pada kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang
cepat dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39C atau lebih (rectal).
Umumnya kejang berlangsung singkat, berupa serangan tonik klonik. Bentuk kejang
yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau
kelemahan,gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan
atau kekakuan fokal.2,3,4,5
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8%
yang berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri setelah
mendapat pertolongan pertama. Setelah kejang berhenti anak tampak capek, mengantuk,
tertidur pulas, dan tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak atau disebut periode
mengantuk singkat pasca kejang, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun
dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. 2
Kejang demam yang berlangsung lebih lama dari 15 menit sering bersifat
fokal atau unilateral dan kadang-kadang diikuti oleh parese Tood (lumpuh sementara
pasca serangan kejang) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang
unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang
berlangsung lama biasanya lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.2

DIAGNOSIS
Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan kriteria Livingston yang
telah dimodifikasi, yang merupakan pedoman yang dipakai oleh Sub Bagian Saraf Anak
IKA FKUI-RSCM Jakarta, yaitu:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan 6 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali

Secara klinis umumnya tidak sulit untuk menegakkan diagnosis kejang


demam, dengan adanya gejala kejang pada suhu badan yang tinggi serta tidak didapatkan
gejala neurologis lain dan anak segera sadar setelah kejang berlalu. Tetapi perlu diingat
bahwa kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat pula tejadi pada kelainan lain,
misalnya pada radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis)
Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama dan dengan
usia kurang dari 1 tahun. Elektroensefalografi (EEG) ternyata kurang mempunyai nilai
prognostic, EEG tidak dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya
epilepsy atau kejang demam berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaaan EEG tidak
dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana. Pemeriksaan laboratorium tidak
dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi. Pasien dengan keadaan
diare, muntah dan gangguan keseimbangan cairan dapat diduga terdapat gangguan
metabolisme akut, sehingga pemeriksaan elektrolit diperlukan. Pemeriksaan labratorium
lain perlu dilakukan untuk mencari penyebab timbulnya demam.2

DIAGNOSIS BANDING2,3,4,5,6

Epilepsi

Meningitis

Ensefalitis

PENATALAKSANAAN
Menurut dr. Dwi P. Widodo, neurolog anak RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta, dalam seminar "Kejang Demam pada Anak" beberapa waktu lalu, tindakan awal
yang mesti dilakukan adalah menempatkan anak pada posisi miring dan hangat. Setelah
air menguap, demam akan turun. Tidak perlu memasukkan apa pun di antara gigi. Jangan
memasukkan sendok atau jari ke dalam mulut anak untuk mencegah lidahnya tergigit.
Hal ini tidak ada gunanya, justru berbahaya karena gigi dapat patah atau jari luka.
Miringkan posisi anak sehingga ia tidak tersedak air liurnya. Jangan mencoba menahan
gerakan anak. Turunkan demam dengan membuka baju dan menyeka anak dengan air
sedikit.1
Ada 3 hal yang perlu dikerjakan pada penatalaksanaan kejang demam
yaitu:2,3,4,5,6,9,10
1. Pengobatan fase akut
2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Pengobatan fase akut


Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau
muntahan dan diusahakan jalan nafas harus bebas agar oksigenisasi terjamin. Perhatikan
keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernafasan, dan fungsi jantung.
Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik.
Kejang demam terjadi akibat adanya demam, maka tujuan utama pengobatan
adalah mencegah terjadinya peningkatan demam oleh karena itu pemberian obat obatan
antipiretik sanagt diperlukan. Obat obat yang dapat digunakan sebagai antipiretik

adalah asetaminofen 10 - 15 mg/kgBB/hari setiap 4 6 jam atau ibuprofen 5 10


mg/kgBB/hari setiap 4 6 jam.
Diazepam adalah obat yang paling cepat menghentikan kejang. Efek
terapeutik diazepam sangat cepat, yaitu antara 30 detik sampai 5 menit dan efek toksik
yang serius hampir tidak dijumpai apa bila diberikan secara perlahan dan dosis tidak
melebihi 50 mg persuntikan. Diazepam dapat diberikan secara intravena dan intrarectal.
Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan
dosis maksimal 20 mg. Bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan
penyuntikan, tunggu sebentar dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut.
Pemberian diazepam secara intravena pada anak yang kejang seringkali
menyulitkan, cara pemberian yang mudah, sederhana dan efektif melalui rektum telah
dibuktikan keampuhannya (Knudsen, 1979; Ismael dkk., 1981; Kaspari dkk., 1981).
Pemberian dilakukan pada anak/bayi dalam posisi miring/ menungging dan dengan
rektiol yang ujungnya diolesi vaselin, dimasukkaniah pipa saluran keluar rektiol ke
rektum sedalam 3 - 5 cm. Kemudian rektiol dipijat hingga kosong betul dan selanjutnya
untuk beberapa menit lubang dubur ditutup dengan cara merapatkan kedua muskulus
gluteus. Dosis diazepam intrarectal yg dapat digunakan adalah 5 mg (BB<10 kg) atau 10
mg (BB>10 kg). Bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian, bila
tidak berhenti juga berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena
perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan
pembilasan dengan NaCl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi
vena.
Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital yang
langsung diberikan setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan 1 tahun 50
mg dan 1 tahun keatas 75 mg secara intramuscular. Lalu 4 jam kemudian diberikan
fenobarbital dosis rumatan. Untuk 2 hari pertama diberikan dosis 8-10 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2
dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah
membaik peroral. Harus diperhatikan bahwa dosis total tidak boleh melebihi 200 mg/hari
karena efek sampingnya adalah hipotensi, penurunan kesadaran, dan depresi pernafasan.
Mencari dan mengobati penyebab

Pemeriksaaan

cairan

serebrospinal

dilakukan

untuk

menyingkirkan

kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun
demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai
sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang demam
berlangsung lama.2
Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam
Pengobatan ini dibagi atas 2 bagian, yaitu:2
1.

Profilaksis intermiten

Untuk mencegah terulangnya kejang kembali dikemudian hari, penderita yang menderita
kejang demam sederhana diberikan diazepam secara oral untuk profilaksis intermiten
dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam
dapat juga diberikan secara intrarectal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB<10 kg) dan 10 mg
(BB>10kg) setiap pasien menunjukan suhu lebih dari 38,5C.
Profilaksis intermiten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita
kejang demam sedarhana sangat kecil, yaitu sampai sekitar umur 4 tahun.
2.

Profilaksis jangka panjang

Profilaksis jangka panjang berguna untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang
stabil dan cukup didalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang
demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tetapi tidak dapat mencegah
terjadinya epilepsi dikemudian hari. Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan
fenobarbital 4-5 mg/ kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan
adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis terus
menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap
selama 1-2 bulan.
Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau
2) yaitu:2
1.

Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau

perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal, retardasi mental).


2. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis
sementara atau menetap.
3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.

4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi
kejang
multipel dalam satu episode demam.
Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka
panjang, maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam
oral alau rektal tiap 8 jam di samping antipiretik
Dalam penanganan kejang demam, orang tua harus mengupayakan diri setenang mungkin
dalam mengobservasi anak. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut :8,9,10

Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan
terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak.

Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau
penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas.

Jangan memegangi anak untuk melawan kejang.

Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan penanganan


khusus.

Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera dibawa ke fasilitas
kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak untuk dibawa ke fasilitas
kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah 5 menit. Ada pula sumber yang
menyatakan bahwa penanganan lebih baik dilakukan secepat mungkin tanpa
menyatakan batasan menit.

Setelah kejang berakhir (jika < 10 menit), anak perlu dibawa menemui dokter
untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan leher, muntah-muntah
yang berat, atau anak terus tampak lemas.

Jika anak dibawa ke fasilitas kesehatan, penanganan yang akan dilakukan selain poinpoin di atas adalah sebagai berikut :8,9,10

Memastikan jalan napas anak tidak tersumbat

Pemberian oksigen melalui face mask

Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika
telah terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus

Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Sebagian sumber menganjurkan pemeriksaan kadar gula darah untuk meneliti


kemungkinan hipoglikemia. Namun sumber lain hanya menganjurkan
pemeriksaan ini pada anak yang mengalami kejang cukup lama atau keadaan
pasca kejang (mengantuk, lemas) yang berkelanjutan.

Imunisasi dan kejang demam 8


Walaupun imunisasi dapat menimbulkan demam, namun imunisasi jarang diikuti kejang
demam. Suatu penelitian yang dilakukan memperlihatkan risiko kejang demam pada
beberapa jenis imunisasi sebagai berikut:

DTP : 6-9 per 100.000 imunisasi. Risiko ini tinggi pada hari imunisasi, dan menurun
setelahnya.

MMR : 25-34 per 100.000 imunisasi. Risiko meningkat pada hari 8-14 setelah imunisasi.
Kejang demam pasca imunisasi tidak memiliki kecenderungan berulang yang lebih besar
daripada kejang demam pada umumnya. Dan kejang demam pasca imunisasi
kemungkinan besar tidak akan berulang pada imunisasi berikutnya. Jadi kejang demam
bukan merupakan kontra indikasi imunisasi.

PROGNOSIS2
Dengan penangulangan yang tepat dan cepat, prognosis kejang demam baik dan tidak
perlu menyebabkan kematian. Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang
berkisar antara 25% - 50%, yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Apabila melihat
pada umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, Lennox-Buchthal (1973) mendapatkan:

Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita 50%
dan pria 33%.

Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga

adanya kejang, terulangnya kejang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat kejang 25%.

Angka kejadian epilepsi berbeda-beda, tergantung dari cara penelitian, misalnya


Lumbantobing (1975) pada penelitiannya mendapatkan 6%, sedangkan Living-ston
(1954) mendapatkan dari golongan kejang demam sederhana hanya 2,9% yang menjadi
epilepsi dan dari golongan epilepsi yang diprovokasi oleh demam temyata 97% yang
menjadi epilepsi.2
Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam
tergantung dari faktor:2
1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
2. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita
kejang demam.
3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, maka dikemudian hari akan
mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya terdapat 1
atau tidak sama sekali faktor tersebut di atas, serangan kejang tanpa demam hanya 2% 3% saja ("Consensus Statement on Febrile Seizures, 1981") Pada penelitian yang
dilakukan oleh The National Collaboratlve Perinatal Project di Amerika Serikat , dalam
hal mana 1.706 anak pasca kejang demam diikuti perkembangannya sampai usia 7 tahun,
tidak didapatkan kematian sebagai akibat kejang demam. Anak dengan kejang
demam ini lalu dibandingkan dengan saudara kandungnya yang normal, terhadap tes iQ
dengan menggunakan WISC. Angka rata-rata untuk iQ total ialah 93 pada anak yang
pernah mendapat kejang demam. Skor ini tidak berbeda bermakna dari saudara
kandungnya (kontrol). Anak yang .sebelum terjadinya kejang demam sudah abnormal
atau dicurigai menunjukkan gejala yang abnormal, rnempunyai skor yang lebih rendah
daripada saudara kandungnya. Hasil yang diperoleh the National Collaborative Perinatal
Project ini hampir serupa dengan yang didapatkan di Inggris oleh The National Child
Development-Study* Didapatkan bahwa anak yang pernah mengaiami KD kinerjanya
tidak berbeda dengan populasi umum waktu di tes pada usia 7 dan 11 tahun.2,3,4,5,6

Pada penelitian Ellenberg dan Nelson mendapatkan tidak ada perbedaan IQ waktu
diperiksa pada usia 7 tahun antara anak dengan KD dan kembarannya yang tanpa kejang
demam.4

DAFTAR PUSTAKA
1. Tumbelaka,Alan R.,Trihono, Partini P.,Kurniati,Nia.,Putro Widodo,Dwi. Penanganan
Demam Pada Anak Secara Profesional: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu
Kesehatan Anak XLVII.Cetakan pertama,FKUI-RSCM.Jakara,2005
2. Lumbantobing,S.M:Kejang Demam.Balai Penerbit FKUI,Jakarta,2007
3. Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topik In Pediateric II : Kejang Pada
Anak. Cetakan ke2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2002.
4.Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman., Hal B. Jenson. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak : Kejang Demam. 18 edition. EGC, Jakarta 2007.
5.Fleisher, Gary R, M.D., Stephen Ludwig, M.G. Text Book Of Pediatric Emergency
Medicine : Seizures. Williams & Wilkins Baltimore. London
6.Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setyowulan. Kapita Selekta
Kedokteran : kejang Demam. Edisi ke3 Jilid 2. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta 2000.
7.Gary R. Fleisher, Stephen Ludwig. Textbook of Pediatric Emergency Medicine 4th
edition (January 15, 2000).Seizures. Lippincott, Williams & Wilkins,USA,2000
8.Kejang Demam,Guideline
http://www.sehatgroup.web.id/artikel/1089.asp?FNM=10899.
9.Acute Management of Infants and Children with Seizures. December 2004
http://www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf
10.Prodigy Guidance - Febrile convulsion. April 2005.
http://www.prodigy.nhs.uk/guidance.asp?gt=Febrile%20convulsion

Penatalaksanaan
Ada empat hal yang perlu dikerjakan, yaitu :
1. Pengobatan fase akut.
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk
mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas agar oksigen
terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu,

pernafasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan
kompres air dingin dan pemberian antipiretik.
Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah Diazepam yang diberikan
intravena atau intrarekal. Dosis Diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimum 20 mg. Bila Diazepam
intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit, gunakan Diazepam intrarektal 5
mg (BB < 10 kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak berhenti dapat
diulang selang 5 menit kemudian.
Bila tidak berhenti juga, berikan Fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB
secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit. Setelah pemberian Fenitoin,
harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena Fenitoin bersifat basa
dan menyebabkan iritasi vena. Bila dengan Fenitoin kejang belum berhenti maka
pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.
Bila kejang berhenti dengan Diazepam, lanjutkan dengan Fenobarbital diberikan
langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan sampai dengan 1
tahun 50 mg, dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuskular. Empat jam
kemudian berikan Fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 810 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 45 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Jika anak mengalami demam tinggi, kompres dengan air biasa (suhu ruangan) dan
perikan Parasetamol secara rektal (10-15 mg/kgBB).

Gambar 1. Algoritme Tata Laksana Kejang Demam

2. Mencari dan mengobati penyebab.


Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
Meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun
demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang
dicurigai Meningitis atau apabila kejang demam berlangsung lama. Pada bayi
kecil sering mengalami Meningitis tidak jelas, sehingga pungsi lumbal harus
dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, dan dianjurkan pada pasien
berumur kurang dari 18 bulan. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan
utuk mencari penyebab.
3. Pengobatan profilaksis

Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam. Lama pengobatan


satu tahun bebas kejang
1. Dianjurkan profilaksis terus menerus :

Kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang (paresis Tods, CP,
hidrosefalus)
Kejang lama > 15 menit
Kejang fokal

1. Dipertimbangkan :

Kejang berulang dalam 24 jam


Bayi usia < 12 bulan
Kejang demam kompleks berulang > 4 kali

Jangan beri pengobatan secara oral sampai kejang bisa ditangulangi (bahaya aspirasi).

Cara Pemberian Obat

Diazepam rektal 5 mg, atau10 mg, maksimal 2 kali, interval 5-10 menit.
Diazepam IV maksimal sekali pemberian 10 mg dengan kecepatan 2 mg/menit,
dapat diberikan 2-3 kali dengan interval 5 menit.
Fenitoin IV dosis inisial maksimum adalah 1.000 mg (30 mg/kgBB). Sediaan IV
diencerkan dengan 1 ml NaCL 0,9% per 10 mg. Kecepatan pemberian IV
maksimum 50 mg/menit.
Fenobarbital IV dosis inisial maksimum 600 mg (30 mg/kgBB). Kecepatan
pemberian maksium 30 mg/menit.
Midazolam IV bolus 0,2 mg/kgBB (perlahan), kemudian drip 0,02-0,4 mg/kg/jam.
Rumatan Fenitoin dan Fenobarbital tetap diberikan.

Prognosis
Faktor risiko berulangnya kejang demam :

Riwayat kejang demam dalam keluarga


Usia kurang dari 14 bulan
Gangguan neurologis
Suhu saat kejang pertama dibawah 38C

Tingginya suhu sebelum kejang


Lamanya demam
Jarak panas terhadap kejang kurang 6 jam
Kejang demam kompleks
Channelopathi

Bila semua faktor risiko ada kemungkinan berulang 80 %, satu faktor 10-15%.

Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.


Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang
sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis
pada sebagian kecil kasus, dan kelainan biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama
atau kejang berulang baik umum maupun fokal
Resiko yang mungkin terjadi pada anak kejang demam :
1. 30-40% berulang kejang demam
2. Sebagian kecil menjadi epilepsi.
Resiko epilepsi di kemudian hari tergantung faktor :
1. Riwayat epilepsi dalam keluarga
2. Kelainan perkembangan atau saraf sebelum menderita kejang demam.
3. Kejang lama atau kejang fokal

Indikasi Rawat

Kejang demam pertama kali


Kejang demam pada usia < 1 tahun
Kejang demam kompleks
Hiperpiraksia (suhu di atas 40oC)
Pasca kejang anak tidak sadar atau lumpuh (Tods paresisi)
Permintaan orangtua

Kesimpulan

Kejang demam adalah kejang akibat demam oleh karena proses ekstrakranium.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis terbanyak pada anak.
Prognosis kejang demam baik

Sebagian akan berulang sebagai kejang demam berulang atau kejang tanpa
demam dan sebagian kecil epilepsi
Pengaruh kejang demam terhadap gangguan kognitif masih kontroversial
Pemeriksaan laboratorium, radiologis, EEG dan pungsi lumbal hanya atas indikasi
Kejang demam berulang tidak dianjurkan diberikan profilaksis anti konvulsan
kecuali orang tua sangat khawatir, punya resiko untuk berulang atau berkembang
ke arah epilepsi
Pilihan obat anti konvulsan sebagai profilaksis diazepam untuk intermiten dan
phenobarbital, asam valproat pilihan untuk profilaksis jangka panjang
Pemberian antikonvulsan sebagai profilaksis jangka panjang selama 1 tahun bebas
kejang
Pemberian antipiretik tanpa antikonvulsan tidak mencegah timbulnya kejang
demam berulang

American Academy of Pediatrics. Practice Parameter : Long-term Treatment of The


Child with Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103; 1307 10.
Baumann RJ. Febrile Seizures. E Med J, March 12 2002, vol.2, No. 3 : 1 10.
Baumann RJ. Technical Report: Treatment of The Child with Simple Febrile Seizures.
http://www.pediatric.org/egi/content/full/103/e86.
Berg AT, Shinnar S, Levy SR, Testa FM. Childhood-Onset Epilepsy With and Without
Preceeding Febrile Seizures. Neurology, vol. 53, no. 8, 1999 : 23-34.
Campfield P, Camfield C. Advance in Diagnosis and Management of Pediatrics
Seizures Disorders in Twentieth Century. J Pediatrics 2000, 136 : 847 9.
Duffer PK, Baumann RJ. A Synopsis of the American Academy of Pediatrics
PracticeParameter on The Evaluation and Treatment of Children with Febrile Seizures.
Pediatrics in Review, vol. 20, No. 8, 1999: 285 7.
Gordon KE, Dooley JM, Camfield PR, Campfield CS, MacSween J. Treatment of
Febrile Seizures: Influence of The Treatment Efficacy and Side-effect Profile on Value to
Parents. Pediatrics 2001; 108 : 65-9.
Ngastiyah, 2004. Perawatan Anak Sakit : AGC, Jakarta.
efinisi pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan
khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dimana dapat berupa urine,
darah, sputum(dahak) dll. Pemeriksaan ini bertujuan mendukung dan menyingkirkan
diagnosis lainnya. Pemeriksaan laboratorium juga sebagai ilmu terapan untuk
menganalisa cairan tubuh dan jaringan guna membantu tenaga kesehatan mendiagnosis
dan mengobati pasien.
Pada umunya diagnosis penyakit dibuat berdasarkan gejala penyakit(keluhan dan
tanda dan gejala ini mengarahkan dokter pada kemungkinan penyebab penyakit. Dengan
adanya pemeriksaan laboratorium ini sangatlah membantu dokter untuk menetapkan

penyakit apa yang dialami oleh seorang pasien. Salah satu contoh pemeriksaan
laboratorium yakni dalam pemeriksaan demam tifoid, jika positif sangat mendukung
diagnosis, tapi bila negatif tak menyingkirkan diagnosis demam tifoid jika secara klinis
dan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan widal maka hal ini sangat membantu petugas
kesehatan.
Oleh karena itu menurut henry dan howanitz, para dokter memilih mengevaluasi
uji-uji laboratorium dalam perawatn pasien karena beberapa alasan seperti berikut ini:
1. Untuk menunjang diagnosis klinis
2. Untuk menyingkirkan kemungkinan suatu diagnosis atau penyakit
3. Untuk digunakan sebagai pedoman terapi
4. Untuk digunakan sebagai panduan prognosis

B. Fungsi pemeriksaan laboratorium


Dari beberapa alasan diatas, dapat ditentukan fungsi dari pemeriksaan laboratorium
yakni:
1.

Skrining atau uji saring adanya penyakit subklinis, dengan tujuan menentukan resiko

terhadap suatu penyakit dan mendeteksi dini penyakit terutama bagi individu beresiko
tinggi (walaupun tidak ada gejala atau keluhan).
2.

Konfirmasi pasti diagnosis, yaitu untuk memastikan penyakit yang diderita

seseorang, berkaitan dengan penanganan yang akan diberikan dokter serta berkaitan erat
dengan komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi.
3.

Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis

4.

Membantu pemantauan pengobatan.

5.

Menyediakan informasi prognosis atau perjalanan penyakit, yaitu untuk

memprediksi perjalanan penyakit dan berkaitan dengan terapi dan pengelolaan pasien
selanjutnya.
6.

Memantau perkembangan penyakit, yaitu untuk memantau perkembangan penyakit

dan memantau efektivitas terapi yang dilakukan agar dapat meminimalkan komplikasi
yang dapat terjadi. Pemantauan ini sebaiknya dilakukan secara berkala.

7.

Mengetahui ada tidaknya kelainan atau penyakit yang banyak dijumpai dan

potensial membahayakan.
8.

Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati

penyakit.
C. Tahap-tahap pemeriksaan laboratorium
Disetiap laboratori untuk mendapatkan hasil yang akurat harus mengacu kepada GLP
(Good laboratory Procedure) yaitu melalui tahapan:
1. Pre Analitik. Pada tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap persiapan awal, dimana
tahap ini sangat menentukan kualitas sampel yang nantinya akan dihasilkan dan
mempengaruhi proses kerja berikutnya. Yang termasuk dalam tahap Pra Analitik meliputi
Kondisi pasien, cara dan waktu pengambilan sampel, perlakuan terhadap proses
persiapan sampel sampai sampel selesai dikerjakan.
2.

Analitik. Adalah tahap pengerjaan pengujian sampel sehingga diperoleh hasil

pemeriksaan.
3.

Pasca Analitik. Adalah

tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan untuk

meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar benar valid atau benar

Pemeriksan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus


dengan mengambil bahan/sample dari penderita, dapat berupa urine (air kencing), darah,
sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy (www.dokter.indo.net.id.).
2.2.
1.
Mendeteksi
2.
Menentukan
3.
Memantau
perkembangan
4.
Memantau
pengobatan
dan
5. Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai dan
membahayakan

Tujuan
penyakit
risiko
penyakit
lain-lain
potensial

2.3.
Prosedur
pra
Instrumentasi
Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas , pasien dan dokter.
Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik akan mengganggu /mempengaruhi hasil
pemeriksaan
laboratorium
menurut
www.dokter.indo.net.id.

Yang
termasuk
dalam
tahapan
pra
instrumentasi
meliputi
:
1.
Pemahaman
instruksi
dan
pengisian
formulir
laboratorium.
2.
Persiapan
penderita
3.
Persiapan
alat
yang
akan
dipakai
4.
Cara
pengambilan
sample
5. Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) & transportasi.
Pemahaman
instruksi
dan
pengisian
formulir
Pada tahap ini perlu diperhatikan benar, apa yang diperintahkan oleh dokter dan
dipindahkan ke dalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan
pemeriksaan yang tidak penting, membantu persiapan pasien sehingga tidak merugikan
pasien dan menyakiti pasien. Pengisian formulir dilakukan secara lengkap meliputi
identitas pasien : nama, alamat / ruangan, umur, jenis kelamin, data klinis / diagnosa,
dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang sedang diberikan. Hal ini
penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu intepretasi hasil
terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang.
Persiapan
penderita
Puasa
Dua jam setelah makan sebanyak kira-kira 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan
volume plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang.
Perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandungan bahan
dalam
plasma
dan
jumlah
sel
/
l
darah.
Obat
Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya : asam
folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah
eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian
transfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan
morfologi sediaan apus darah tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau
heparin
mempengaruhi
hasil
pemeriksaan
hemostasis.
Waktu
pengambilan
Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari tertutama pada pasien
rawat inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi
hari sehingga lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali ada instruksi dan
indikasi
khusus
atas
perintah
dokter.
Selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat
kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito.
Beberapa parameter hematologi seperti jumlah eosinofil dan kadar besi serum
menunjukkan variasi diurnal, hasil yang dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan.
Kadar besi serum lebih tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari dengan
selisih 40-100 g/dl. Jumlah eosinofil akan lebih tinggi antara jam 10 pagi sampai malam
hari
dan
lebih
rendah
dari
tengah
malam
sampai
pagi.
Posisi
pengambilan
Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10 % demikian pula
sebaliknya. Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah menenangkan dan
memberitahu apa yang akan dikerjakan sebagai sopan santun atau etika sehingga

membuat penderita atau keluarganya tidak merasa asing atau menjadi obyek.
Persiapan
alat
Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter
sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.
Pengambilan
darah
Yang harus dipersiapkan antara lain : kapas alkohol 70 %, karet pembendung (torniket)
spuit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel.
Penampung dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan tergantung
pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler
polos
atau
mengandung
antikoagulan.
Penampungan
urin
Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup
rapat dapat steril ( untuk biakan ) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol
besar
kira-kira
2
liter
dengan
memakai
pengawet
urin.
Penampung
khusus
Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain.
Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada
formulir
termasuk
jenis
pemeriksaan
sehingga
tidak
tertukar.
Cara
pengambilan
sample
Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan
pasien atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan
dikerjakan. Selalu tanyakan identitas pasien sebelum bekerja sehingga tidak tertukar
pasien yang akan diambil bahan dengan pasien lain. Karena kepanikan pasien akan
mempersulit pengambilan darah karena vena akan konstriksi. Darah dapat diambil dari
vena, arteri atau kapiler. Syarat mutlak lokasi pengambilan darah adalah tidak ada
kelainan kulit di daerah tersebut, tidak pucat dan tidak sianosis. Lokasi pengambilan
darah vena : umumnya di daerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau di daerah dekat
pergelangan tangan. Selain itu salah satu yang harus diperhatikan adalah vena yang
dipilih tidak di daerah infus yang terpasang / sepihak harus kontra lateral.
Darah arteri dilakukan di daerah lipat paha (arteri femoralis) atau daerah pergelangan
tangan (arteri radialis). Untuk kapiler umumnya diambil pada ujung jari tangan yaitu
telunjuk, jari tengah atau jari manis dan anak daun telinga. Khusus pada bayi dapat
diambil
pada
ibu
jari
kaki
atau
sisi
lateral
tumit
kaki.
a)
Cara
pengambilan
darah
kapiler
:
dilakukan tindakan aseptic dengan alkohol 70 %, biarkan kering

lakukan
tusukan
dengan
arah
memotong
garis
sidik
jari
tetesan
pertama
dibuang
dengan
menggunakan
kapas
kering
selanjutnya
dapat
diambil
dengan
menggunakan
tabung
kapiler.
b)
Cara
pengambilan
darah
vena
:
Lakukan
pembendungan
dengan
torniket
Dilakukan tindakan aseptic dengan alkohol 70 % dengan arah putaran melebar
menjauhi
titik
tengah,
biarkan
kering
Ambil spuit dengan arah mulut jarum dan skala menghadap ke atas

Arah tusukan jarum membentuk sudut sekitar 10-30 terhadap permukaan kulit.
Bila sudah terkena venanya, isap pelan-pelan darah supaya tidak terjadi hemolisis cabut jarum, dengan sebelumnya melepas dan menekan daerah tusukan.
Jarum dilepas kemudian alirkan darah ke dalam penampung melalui dinding
penampung
perlahan-lahan
sehingga
tidak
hemolisis.
Bila penampung menggunakan antikoagulan segera campur darah dengan mengocok
tabung
seperti
angka
8.
Untuk pemeriksaan hematologi biasanya digunakan antikoagulan Na2EDTA / K2EDTA,
sedang untuk hemostasis digunakan Na sitrat 0.109 M. Jangan melakukan pembendungan
terlalu lama karena akan terjadi perubahan komposisi plasma karena terjadi
hemokonsentrasi, selain itu pada darah kapiler jangan menekan-nekan ujung jari karena
akan
terbawa
cairan
jaringan.
c)
Cara
pengambilan
darah
arteri
:
Siapkan
semprit
yang
telah
dibasahi
antikoagulan
heparin
steril
tanda-tanda pembuluh darah arteri /nadi adalah terabanya denyutan yang tidak ditemukan
pada
vena
bila telah ditemukan arteri, lakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70 % dengan 2 jari
telunjuk
dan
jari
tengah
lakukan
fiksasi
arteri
tersebut
kemudian lakukan tusukan / pungsi tegak lurus ( karena letaknya dalam ) sampai terkena
arteri tersebut. Bila arteri telah tercapai akan tampak darah yang akan mengalir sendiri
oleh tekanan darah ke dalam semprit yang telah mengandung heparin. Cabut semprit dan
segera ditutup dengan gabus sehingga tidak terkena udara. Goyangkan semprit sehingga
darah tercampur rata dan tidak membeku. Tekan bekas pungsi dengan baik sampai tidak
tampak darah mengalir. Hal ini tidak sama dengan vena karena dengan vena lebih mudah
membeku
daripada
arteri.
Segera
kirim
ke
laboratorium
(
sito
)
Perbedaan
darah
arteri
dan
vena
:
1)
Lokasi
tusukan
lebih
dalam
2)
Teraba
denyutan
yang
tidak
ada
pada
vena
3)
Warna
darah
lebih
merah
terang
dibandingkan
vena
4)
Darah
akan
mengalir
sendiri
ke
dalam
semprit.
Penanganan
awal
sampel
&
transportasi
Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan ada
disini.
Yang
harus
dilakukan
:
1) Catat dalam buku expedisi dan cocokan sampel dengan label dan formulir. Kalau
sistemnya memungkinkan dapat dilihat apakah sudah terhitung biayanya (lunas).
2) Jangan lupa melakukan homogenisasi pada bahan yang mengandung antikoagulan
3)
Segera
tutup
penampung
yang
ada
sehingga
tidak
tumpah
4) Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan
5) Perhatikan persyaratan khusus untuk bahan tertentu seperti darah arteri untuk analisa
gas darah, harus menggunakan suhu 4-8 C dalam air es bukan es batu sehingga tidak
terjadi hemolisis. Harus segera sampai ke laboratorium dalam waktu sekitar 15-30 menit.
Perubahan akibat tertundanya pengiriman sampel sangat mempengaruhi hasil
laboratorium. Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan
penurunan kadar glukosa, peningkatan kadar kalium. Hal ini dapat mengakibatkan salah

pengobatan pasien. Pada urin yang ditunda akan terjadi pembusukan akibat bakteri yang
berkembang biak serta penguapan bahan terlarut misalnya keton. Selain itu nilai
pemeriksaan hematologi juga berubah sesuai dengan waktu. Tabel berikut
menggambarkan
batas
waktu
maksimum
yang
diijinkan
:
Kadar
hemoglobin
stabil
- Jumlah leukosit