Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER KOLON
I

Definisi
Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal / neoplasma
yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker, 2001 : 72).
Kanker kolon/usus besar

adalah tumbuhnya

sel kanker yang ganas di

dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 : 805).
Kanker

kolon

adalah

pertumbuhan

sel

yang

bersifat

ganas

yang

tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya (Tambayong, 2000 : 143).
II

Etiologi
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko
telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat
penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah
serat.
( Brunner& Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1123 ).
1 Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam
kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas.
Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma)
2

dapat menjadi kanker.


Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal
dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan
riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai

tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.


Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker
colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih

besar, khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.
Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi
lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih
besar terkena kanker colorectal.

Terdapat empat etiologi utama kanker colon (Davey, 2006 : 334) yaitu:
1

Diet : kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayur-sayuran, buah-

buahan), kebiasaan makan makanan berlemak tinggi dan sumber protein hewani.
Kelainan kolon
a Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma.
1

Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna menjadi

karsinoma.
Kondisi ulserative Penderita colitis ulserativa menahun mempunyai risiko

terkena karsinoma kolon.


Genetik: Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon
mempunyai frekuensi 3 kali lebih banyak daripada anak anak yang orang
tuanya sehat (FKUI, 2001 :207).

Faktor resiko telah teridentifikasi. Faktor resiko untuk kanker kolon :


1
2
3
4
5
6
7

Usia lebih dari 40 tahun


Darah dalam feses
Riwayat polip rektal atau polip kolon
Adanya polip adematosa atau adenoma villus
Riwayat keluarga dengan kanker kolon atau poliposis dalam keluarga
Riwayat penyakit usus inflamasi kronis
Diit tinggi lemak, protein, daging dan rendah serat.
Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging
merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya
kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat
berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni
yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu
peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang
mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g
Mormons,seventh Day Adventists ).

Makanan yang harus dihindari :


1 Daging merah
2 Lemak hewan
3 Makanan berlemak
4 Daging dan ikan goreng atau panggang
5 Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring)
6 Makanan yang harus dikonsumsi:
7 Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan
kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts )
8 Butir padi yang utuh
9 Cairan yang cukup terutama air
III

Stadium
Stadium pada Colorectal Cancer
1. Stadium Klinis
Tabel : stadium pada karsinoma kolon yang ditemukan dengan system TMN
(Tambayong, 2000 : 143).
2

TIS

Carcinoma in situ

T1

Belum mengenai otot dinding, polipoid/papiler

T2

Sudah mengenai otot dinding

T3

Semua lapis dinding terkena, penyebaran ke sekitar

T4

Sama dengan T3 dengan fistula

Limfonodus terkena

Ada metastasis

2. Stadium Kanker Kolon


Stadium A: kedalaman invasi kanker belum menembus tunika muskularis, tak
ada metastasis kelenjar limfe.
Stadium B: kanker sudah menembus tunika muskularis dalam, dapat menginvasi
tunika serosa, di luar serosa atau jaringan perirektal, tapi tak ada metastasis
kelenjar limfe.
Stadium C: kanker disertai metastasis ke kelenjar limfe. Menurut lokasi kelenjar
limfe yang terkena di bagi menjadi stadium C1 dan C2. C1; kanker disertai
metastasis kelenjar limfe samping usus dan mesenterium, C2; kanker di sertai
metastasis kelenjar limfe di pangkal arteri mesenterium.
Stadium D: kanker disertai metastasis organ jauh, atau karena infiltrasi luas local
atau metastasis luas kelenjar limfe sehingga paska reseksi tak mungkin kuratif
atau nonresektabel.
Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen
usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi
kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada
jaringan lain. Prognosis relative baik bila lesi terbatas pada mukosa dan
submukosa pada saat reseksi dilakukan, dan jauh lebih jelek bila telah terjadi
IV

metastase ke kelenjar limfe.


Patofisiologi
Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari
lapisan epitel usus ). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan
menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya.
3

Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain
( paling sering ke hati ).
Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak
ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang
tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah.
Tetapi, seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apapun
sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu
berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar
(Davey, 2006 : 335).
Kanker usus besar awalnya berasal dari polip jinak. Polip dapat berupa massa
polipoid, besar, tumbuh dengan cepat, ganas dan menyusup serta merusak jaringan
normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Lesi anular lebih sering terjadi
pada bagian rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi
pada sekum dan kolon ascenden. Secara histologist 95% kanker kolon dan rektum
adalah adenokarsinoma(tumor ganas yang tumbuh di jaringan epitel usus) yang
dapat menyekresi mucus yang jumlah yang berbeda-beda. Sel kanker dapat terlepas
dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati).
Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu :
1 Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam
2
3

kandung kemih.
Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke

4
5

system portal.
Penyebaran secara transperitoneal
Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan
kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus
dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi
kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase
pada jaringan lain (Gale, 2000 : 177).

Klasifikasi
Klasifikasi kanker kolon berdasarkan metastasis menurut modifikasi DUKES
adalah sebagai berikut (FKUI, 2001 : 209) :
KELAS A

: kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.

KELAS B

: penetrasi melalui dinding usus

B1

: kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.


4

B2
KELAS C
C1

: kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.


: invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional
: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening
sebanyak satu sampai empat buah.

C2

: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih


dari 5 buah.

KELAS D

: kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan


penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.

Klasifikai kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N =


kelenjar getah bening regional, M =jarak metastese) :
T = Tumor
T

Tumor primer

Tidak ada tumor

0
T
1
T
2

Invasi hingga mukosa atau sub


mukosa
Invasi ke dinding otot
Tumor menembus dinding otot

T
3

N = Kelenjar getah bening regional


N

Kelenjar limfa

Tidak ada metastase

0
N
1

Metastasis ke kelenjar regional


unilateral
Metastasis ke kelenjar regional
5

bilateral
Metastasis multipel ekstensif ke
N

kelenjar regional

N
3

M = Jarak Metastase
M

Metastasis jauh

Tidak ada metastasis jauh Ada

Metastasis jauh

M
1
VI

Penatalaksanaan
1 Pembedahan (Operasi)
Operasi adalah penangan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang
diketahui lebih awal dan masih belum metastatis, tetapi tidak menjamin semua sel
kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan
sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. Pembedahan
merupakan tindakan primer pada kira kira 75 % pasien dengan kanker kolorektal.
Pembedahan dapat bersifat kuratif atau palliative. Kanker yang terbatas pada satu
sisi

dapat

diangkat

dengan

kolonoskop.

Kolostomi

laparoskopik

dengan

polipektomi, suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya


pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam
membuat keputusan di kolon ; massa tumor kemudian dieksisi. Reseksi usus
diindikasikan untuk kebanyakan lesi Kelas A dan semua Kelas B serta lesi C.
Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon D. Tujuan

pembedahan dalam situasi ini adalah palliative. Apabila tumor telah menyebar dan
mencakup struktur vital sekitarnya, maka operasi tidak dapat dilakukan.
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur
pembedahan pilihan adalah sebagai berikut ( Doughty& Jackson, 1993 ) :
a

Reseksi segmental dengan anastomosis.

Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanent.

Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis lanjut


dari kolostomi permanen atau ileostomi.

Pembedahan Reseksi.
Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya

diambil sebanyak mungkin dari kolon, batas minimal adalah 5 cm di sebelah distal
dan proksimal dari tempat kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens
biasanya dilakukan hemikolektomi kanan dan dibuat anastomosis ileo-transversal.
Untuk kanker di kolon transversal dan di pleksura lienalis, dilakukan kolektomi
subtotal dan dibuat anastomosis ileosigmoidektomi. Pada kanker di kolon desendens
dan sigmoid dilakukan hemikolektomi kiri dan dibuat anastomosis kolorektal
transversal.

Untuk

kanker

di

rektosigmoid

dan

rektum

atas

dilakukan

rektosigmoidektomi dan dibuat anastomosis. Desenden kolorektal. Pada kanker di


rektum bawah dilakukan proktokolektomi dan dibuat anastomosis kolorektal.
2

Kolostomi
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk
dari pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut),
stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. Tujuan Pembuatan Kolostomi
adalah untuk tindakan dekompresi usus pada kasus sumbatan / obstruksi usus.
Sebagai anus setelah tindakan operasi yang membuang rektum karena adanya tumor
atau penyakit lain. Untuk membuang isi usus besar sebelum dilakukan tindakan
operasi berikutnya untuk penyambungan kembali usus (sebagai stoma sementara).

Penyinaran (Radioterapi)

Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya


sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor,
merusak genetic sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang
pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung &
usus, sel darah. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan
kehilangan nafsu makan.
4

Kemoterapi
Kemoterapi memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke dalam
sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat
chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada
umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek
yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211). Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil
(5-FU). Belakangan ini sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat
meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi
yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil penelitian, setelah dilakukan
pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi. Radiasi dan kemoterapi
dapat diberikan secara berkesinambunagn dengan memperhatikan derajat kanker.
Deteksi kanker yang dapat dilanjutkan dengan pemberian kemoterapi disesuaikan
dengan klasifikasi dengan sistem TNM(T = tumor, N = kelenjar getah bening
regional, M = jarak metastese) yaitu :
M0

= Tidak ada metastasis jauh, sebagai pencegahan perluasan metastase.

MI

= Ada metastasis jauh, karena tidak mungkin dilakukan operasi sehingga


hanya bisa
dihambat dengan kemoterapi

N1 = Metastasis ke kelenjar regional unilateral


N2 = Metastasis ke kelenjar regional bilateral
N3 = Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional
TI

= Invasi hingga mukosapat atau sub mukosa, dapat dilakukan

pengangkatan dan
8

kolaborasi kemoterapi
T2 = Invasi ke dinding otot, dapat dilakukan pengangkatan dan kolaborasi
kemoterapi
T3 = Tumor menembus dinding otot, dapat dilakukan pengangkatan dan kolaborasi
kemoterapi
5

Diet
1 Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat
melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan
kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama

2
3

mengendap di usus akan menjadi racun yang memicu sel kanker.


Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)
Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi

terutama yang terdapat pada daging hewan.


Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut

dapat memicu sel karsinogen / sel kanker.


5 Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan
6 Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
Keperawatan
1

Dukungan adaptasi dan kemandirian.

Meningkatkan kenyamanan.

Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.

Mencegah komplikasi.

Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan.

VII

Manifestasi Klinis
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus
tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi,
perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal merupakan
keluhan yang umum terjadi.
1 Kanker KolonKanan

Dimana isi kolon berupa caiaran, cenderung tetap tersamar hingga


stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus
lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan
darah bersifat samara dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes
sederhana yang dapat dilakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur
dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba,
tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak
2

enak pada abdomen, dan kadang kadang pada epigastrium.


Kanker Kolon Kiri Dan Rectum
Cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan
respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon
kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan
berbentuk seperti pita. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses.
Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada sigmoid
atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe atau vena, menimbulkan
gejala gejala pada tungakai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bagian
bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat
tekanan pada alat alat tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal
adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare

bergantian, serta feses berdarah (Gale, 2000).


Manifestasi klinis kanker kolon secara umum, adalah sebagai berikut :
1. Lelah, sesak napas waktu bekerja, dan kepala terasa pening.
2. Pendarahan pada rektum, rasa kenyang bersifat sementara, atau kram lambung
serta adanya tekanan pada rektum.
3. Adanya darah dalam tinja, seperti terjadi pada penderita pendarahan lambung,
polip usus, atau wasir.
4. Pucat, sakit pada umumnya, malnutrisi, lemah, kurus, terjadi cairan di dalam
rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.
Tabel Perbedaan manifestasi klinis dari kolon kanan dan kolon kiri

Kolon kanan

Pasokan

darah:

Kolon kiri

a.

mesenterika

superior, v. mesenterika superior.

10

Pasokan darah: a. mesenterika inferior, v.


mesenterika inferior

Balikan vena: vena portahati kanan

Balikan vena: v. lienalisvena portahati


kiri

Besar

Kecil

Cair seperti bubur

Berbentuk kering, padat

Terutama absorbsi air, elektrolit

Storasi feses, defekasi

Umumnya

Umumnya tipe infiltrative, mudah ileus

sering

berbentuk

ulserasi

luas,

benjolan,
berdarah,

infeksi

Massa abdominal, sistemik, perut

Ileus, hematokezia, iritasi usus

kembung, nyeri samar dan gejala tak


khas

VIII

Komplikasi
Pada pasien dengan kanker kolon yaitu:
1

Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.

Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran


langsung.

Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon
yang menyebabkan hemorragi.

IX

Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.

Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.

Pencegahan
Kanker kolon dapat dicegah dengan cara sebagai berikut :
11

Konsumsi makanan berserat. Untuk memperlancar buang air besar dan


menurunkan derajat keasaman, kosentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi
dalam usus besar.

Asam lemak omega-3, yang terdapat dalam ikan tertentu.

Kosentrasi kalium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin.

Susu yang mengandung lactobacillus acidophilus

Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur untuk
buang air besar.

Hidup rileks dan kurangi stress.


Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk

pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan
bedah. Pilihan mencakup kemoterapi, terapi radiasi dan atau imunoterapi. Terapi
ajufan standar yang diberikan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C adalah
program 5-FU/Levamesole. Pasien dengan kanker rectal Kelas B dan C diberikan 5FU dan metil CCNU dan dosis tinggi radiasi pelvis.
X

Pemeriksaan Diagnostik
1 Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun
kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus ini dianjurkan segera
dilakukan bagi mereka yang sudah mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan
kolonoskopi relatif aman, tidak berbahaya, namun pemeriksaan ini tidak
menyenangkan. Kolonoskopi dilakukan untuk menemukan kanker kolorektal
sekaligus mendapatkan jaringan untuk diperiksa di laboratorium patologi. Pada
pemeriksaan ini diperlukan alat endoskopi fiberoptik yang digunakan untuk
pemeriksaan kolonoskopi. Alat tersebut dapat melihat sepanjang usus besar,
memotretnya, sekaligus biopsi tumor bila ditemukan. Dengan kolonoskopi dapat
dilihat kelainan berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan
atau ulkus, pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk
2

permukaan, dan gambaran pembuluh darahnya.


Radiologis
12

Pemeriksan radiologis

yang dapat dilakukan antara lain adalah foto

dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah
ada metastasis kanker ke paru.

Ultrasonografi (USG)
Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan
untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di

abdomen dan hati.


Histopatologi
Biopsy digunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis
karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel.
Laboratorium Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien
mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210). Selain itu, pemeriksaan darah samar
(occult blood) secara berkala, untuk menentukan apakah terdapat darah pada tinja

6
7

atau tidak.
Pemeriksaan colok dubur, oleh dokter bila seseorang mencapai usia 50 tahun.
Pemeriksaan tersebut sekaligus untuk mengetahui adanya kelainan pada prostat.
Barium Enema
Pada pemeriksaan enema barium, bahan cair barium dimasukkan ke usus
besar melalui dubur dan siluet (bayangan)-nya dipotret dengan alat rontgen. Pada
pemeriksaan ini hanya dapat dilihat bahwa ada kelainan, mungkin tumor, dan bila
ada perlu diikuti dengan pemeriksaan kolonoskopi. Pemeriksaan ini juga dapat
mendeteksi kanker dan polip yang besarnya melebihi satu sentimeter.
Kelemahannya, pada pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan biopsi.

13

ASUHAN KEPERAWATAN
CA COLON
I.

Pengkajian
Pada kasus di dapatkan data
a

Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku
bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien (hubunganya
dengan tempat kerja pasien missal: terpapar asbes)

II.

Riwayat Kesehatan
1 Riwayat Penyakit Sekarang
Klien masuk ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada abdomen, kram perut,
pola defekasi bermasalah, sering sembelit, feses berwarna kehitaman dan kadang
disertai darah merah segar, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, dan cepat
2

letih.
Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak mempunyai alergi terhadap makanan atau obat-obatan, tidak terlalu
suka sayuran. Hampir setiap hari klien mengkonsumsi daging hewan, jarang

makan sayur, dan klien mempunyai riwayat peminum / alkoholic.


Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien menjelaskan anggota keluarganya tidak ada yang menderita

penyakit keturunan yang umumnya menyerang, seperti DM, Asma, Hipertensi.


Riwayat Psikososial
Klien sering terlambat untuk mencoba perawatan kesehatan karena khawatir
dengan diagnosa kanker. Kanker biasanya berhubungan dengan kematian dan
kesakitan.

III.

Pemeriksaan Fisik
1 Keadaan Umum :
Kesadaran
: lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
Pemeriksaan Fisik : Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, nadi, suhu, dan
2

pernafasan
Pemeriksaan Fisik
1 Sistem kardiovaskuler
a Anemia
2 Sistem gastrointestinal
b Perdarahan pada rektal
c Perubahan feces
d a. teraba massa
e b. pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya
14

IV.

f c. perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri


Sistem neurologis
Perasaan takut/takut hasil pembedahan
Kegelisahan

Pola Pola Fungsi


1. Aktivitas/istirahat
Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada
abdomen dengan keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan
pengkajian terhadap pola istirahat dan tidur.
2. Faktor stress
Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya, alopesia, lesi, cacat,
pembedahan.
Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
merasakan, rasa bersalah, kehilangan.
Tanda : Kontrol, depresi, menyangkal, menarik diri, marah.
3. Eliminasi
Adanya perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi
pasien, konstipasi dan diare terjadi bergantian. Bagaimana kebiasaan di rumah
yaitu: frekuensi, komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah
dengan bantuan alat atau tidak adakah keluhan yang menyertainya. Apakah
kebiasaan di rumah sakit sama dengan di rumah.
Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan
observasi adanya distensi abdomen, massa akibat timbunan faeces.
Massa tumor di abdomen, pembesaran hepar akibat metastase, asites, pembesaran
kelenjar inguinal, pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, pengukuran
tinggi badan dan berat badan, lingkar perut, dan colok dubur.
4. Makanan/cairan
Gejala: kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan
komposisi setiap kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan, ada
keluhan anoreksia, mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga
menyebabkan berat badan menurun.
Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan
sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
6. Keamanan
Gejala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari
lama/berlehihan.
Tanda: Demam, ruam ku1it, ulserasi.

V.

Pemeriksaan laboratorium
15

Meliputi pemeriksaan Hb, Ht/PVC, Leukosit, Trombosit, dan Masa Protrombin.


VI.

Pemeriksaan Radiologi
1. Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi

perlu

dikerjakan,

baik

sigmoidoskopi

maupun

kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan
jelas pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
2. Radiologi.
Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada dan foto
kolon (barium enema). Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada
tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan
tindakan pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada
suatu tempat atau suatu striktura.
3. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya metastasis kanker kelenjar
getah bening di abdomen dan di hati.
4. Histopatologi
Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa tempat untuk
pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran histopatologi
karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi sel.
VII.

Analisa Data
1. Perdarahan b.d proses penyakit
DS:
a. Pasien mengatakan sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah,
b. Pasien mengatakan 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar
c. Pasien mengatakan nyeri saat BAB (tenesmus)
DO:
a.
b.
c.

d.
e.
f.

KU lemah
Kesadaran compos mentis
TTV :
TD : 110/60 mmHg,
N : 72 x/menit,
Suhu
: 37,40 C ,
RR : 20x/menit,
Pasien terlihat conjungtiva anemis,
Karakteristik feses pasien terlihat berlendir dan berdarah segar
Hasil colonoscopy: berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus
dan striktura menonjol dan mengisi.

2. Gangguan eliminasi alvi (BAB) b.d penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan
otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker colon.
16

DS:
a. Pasien mengatakan susah untuk BAB (obstipasi)
b. Pasien mengatakan kadang juga mengalami kembung (distensi abdomen)
c. Pasien mengatakan nyeri tekan pada abdomen
DO:
a. KU lemah
b. Kesadaran compos mentis
c. TTV
TD : 110/60 mmHg,
N : 72 x/menit,
suhu : 37,40 C ,
RR : 20x/menit,
d. Pasien terlihat conjungtiva anemis,
e. Perut pasien terlihat agak membesar
3. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
akibat kanker colon.
DS:
a. Pasien mengatakan susah untuk BAB (obstipasi)
b. Pasien mengatakan kadang juga mengalami kembung (distensi abdomen)
c. Pasien mengatakan nyeri saat BAB (tenesmus)
d. Pasien mengatakan nyeri tekan pada abdomen
DO :
a. KU lemah
b. Kesadaran compos mentis
c. TTV

TD : 110/60 mmHg,

N : 72 x/menit,

suhu : 37,40 C ,

RR : 20x/menit,
d. Pasien terlihat conjungtiva anemis,
e. Skala nyeri saat BAB 5
f. Perut pasien terlihat agak membesar
4. Devisit volume cairan b.d pembatasan pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan
tubuh secara tidak normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.
DS :
a. Pasien mengatakan sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah,
b. Pasien mengatakan sudah 1 bulan ini BB klien turun 20% (BB awal 70 kg)
c. Pasien mengatakan keinginan untuk minum berkurang
DO :
a. KU lemah
b. Kesadaran compos mentis
c. TTV

TD : 110/60 mmHg,

N : 72 x/menit,
17

d.
e.
f.
g.
h.

suhu : 37,40 C ,
RR : 20x/menit,
Pasien terlihat conjungtiva anemis,
Pasien terlihat lemas
Turgor kulit pasien tidak elastis
Kulit pasien kering
IMT
: BB/TB (m)
: 70/1,78
: 22 kg/m
IMT
: 56/1,78
: 18kg/m

5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat
DS:
a. Pasien mengatakan sudah 1 bulan ini BB klien turun 20% (BB awal 70 kg)
b. Pasien mengatakan tidak nafsu makan dan
c. Keluarga pasien mengatakan, makanan pasien tidak habis, hanya habis 2 sendok
DO:
a. KU lemah
b. Kesadaran compos mentis
c. TTV
TD : 110/60 mmHg,
N : 72 x/menit,
suhu : 37,40 C ,
RR : 20x/menit,
d. Pasien terlihat conjungtiva anemis,
e. IMT
: BB/TB (m) 2
: 70/1,782
: 22 kg/m
IMT
: 56/1,782
: 18kg/m
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik/nyeri.
DS :
a. Pasien mengatakan pusing
b. Pasien mengatakan mudah lelah
c. Pasien mengatakan susah beraktivitas
DO :
a. KU lemah
b. Kesadaran compos mentis
c. TTV
TD : 110/60 mmHg,
N : 72 x/menit,
suhu : 37,40 C ,
RR : 20x/menit,
d. Pasien terlihat conjungtiva anemis,
18

e. Pasien terlihat lemas


f. Skala nyeri saat BAB 5
P : nyeri bertambah saat ingin BAB
Q : sakit seperti tertusuk
R : letak nyeri di anus
S : nyeri sedang
T : saat BAB
g. Tonus otot pasien melemah
VIII.

Diagnosa Keperawatan
1. Perdarahan b.d proses penyakit
2. Gangguan eliminasi alvi (BAB) b.d penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan
otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker colon.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d trauma jaringan dan reflek spasme ototsekunder
akibat kanker colon.
4. Devisit volume cairan b.d pembatasan pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan
tubuh secara tidak normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.
5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik/nyeri.

IX.

Intervensi
1. Perdarahan b.d proses penyakit
Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah perdarahan dapat teratasi dengan
kriteria hasil :
Tujuan dan kriteria hasil :
klien tidak mengatakan keletihan
klien tidak mengatakan pusing
melena tidak ada
TTV dalam batas normal
Intervensi dan Rasional :
Mandiri :
1. Kaji tanda-tanda dan gejala perdarahan GI (mis:periksa semua skret yang
keluar, obs warna feses, muntahan dan cairan yang keluar dari NGT).
Rasional: Traktus GI (esophagus dan rectum) paling sering sebagai sumber
perdarahan, Rektal dan vena esophagus paling rentan untuk robek. Hasil obs
warna feses/muntahan bila berubah kemerahan/kehitaman ada indikasi adanya
pertahanan.
2. Observasi adanya petekie, ekimosis dan perdarahan dari satu/lebih sumber dan
bagian lain
19

Rasional: Terjadinya perdarahan sekunder terhadap gangguan factor pembekuan


darah.
3. Monitor/Awasi tanda-tanda vital (nadi, TD, CVP bila ada).
Rasional: Peningkatan nadi dengan penurunan TD dan CVP dapat menunjukkan
kehilangan volume darah sirkulasi.
4. Perhatikan perubahan tingkat kesadaran (Catat perubahan mental/tingkat
kesadaran).
Rasional: adanya perubahan keasadaran menunjukkan penurunan perfusi
jaringan serebral, sekunder terhadap hivolemia, hipoksimia.
5. Hindari pengukuran suhu rectal, hati-hati memasukkan selang GI.
Rasional: Rektal dan esofagus paling rentan terjadi perdarahan karena
mudahnya terjadi robek pada keduannya.
6. Dorong untuk menggunakan sikat gigi halus, hindari mengejan.
Rasional: Adanya gangguan factor pembekuan, trauma minimal dapat
menyebabkan perdarahan mukosa.
7. Gunakan jarum kecil untuk injeksi, tekan lebih lama pada bagian bekas
suntikan.
Rasional: Meminimalkan kerusakan jaringan, menurunkan resiko
perdarahan/hematom.
8. Hindarkan penggunaan produk yang menggunakan aspirin.
Rasional: Koagulasi memanjang, berpotensi untuk resiko perdarahan.
Kolaborasi :
1. Awasi Hb/Ht dan factor pembekuan darah.
Rasional: Indikator prdarahan aktif, anemia atau terjadinya komplikasi.
2. Berikan obat sesuai order (Vitamin K injeksi, Pelunak feses: lactural).
Rasional: Vit K dapat meningkatkan sintesis protrombin dan koagulasi bila hati
berfungsi dan pelunak feses mencegah mengejan dan resiko robekan
vascular/perdarahan.
2. Gangguan eliminasi alvi (BAB) b.d penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan
otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker colon.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah gangguan eliminasi BAB dapat
teratasi dengan kriteria hasil :
pasien dapat BAB dengan lancar
TTV normal

Intervensi dan Rasional :


Mandiri :
1. Selidiki pelambatan awitan atau tak adanya keluaran. Auskultasi bising usus.

20

Rasional: Ileus paralitik pasca operasi biasanya membaik dalam 48-72 jam.
Pelambatan dapat menandakan ileus atau obstruksi statis menutup.
2. Tinjau ulang pola diet dan jumlah atau tipe masukan cairan.
Rasional: Masukan adekuat dari serat dan makanan kasar memberikan bulk, dan
cairan atau faktor penting dalam menentukan konsistensi feses.
3. Libatkan pasien dalam perawatan secara bertahap.
Rasional :Rehabilitasi dapat dipermudah dengan mendorong pasien mandiri.
4. Kaji warna dan konsistensifeses, frekuensi, keluarnyaflatus, bising usus
dannyeri terkan abdomen.
Rasional: penting untuk menilai keefektifan intervensi, dan memudahkan
rencana selanjutnya.
5. Pantau tanda gejalarupture usus dan/atauperitonitis
Rasional: keadaan ini dapat menjadi penyebab kelemahan otot abdomen dan
penurunan peristaltic usus
kolaborasi
1. Berikan unit TENS bila diindikasikan.
Rasional: Stimulasi listrik telah digunakan pada beberapa pasien untuk
merangsang peristaltik.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d trauma jaringan dan reflek spasme ototsekunder
akibat kanker colon.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah nyeri dapat teratasi dengan kriteria
hasil :
Pasien tampak rileks,
dapat beristirahat/tidur dan melakukan pergerakkan yang berarti sesuai toleransi.
Skala nyeri berkurang
Intervensi dan Rasional :
Mandiri :
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi, karakteristik dan intensitas (skala 1-10).
Rasional: Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan
analgesik.
2. Yakinkan pasien bahwa perubahan posisi tidak akan mencederai stroma.
Rasional:Menurunkan ketegangan otot, menaikkan relaksasi dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.
3. Bantu penggunaan teknik relaksasi.
Rasional: Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan
kembali perhatian sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan.
4. Bantu pasien melakukan latihan rentang gerak dan dorong ambulasi dini,
hindari duduk lama.
Rasional: Menurunkan kekakuan otot/sendi.
21

5. Ambulasi mengembalikan organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali


fungsi ke tingkat normal.
Rasional: Ambulasi dan perubahan posisi menurunkan tekanan perianal.
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (narkotik, analgesik).
Rasional: Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan, khususnya setelah
pemberian AP.
4. Devisit volume cairan b.d pembatasan pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan
tubuh secara tidak normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah defisit volume cairan teratasi dengan
krtiteria hasil sebagai berikut :
TTV dalam batas normal
turgor kulit normal
masukan dan keluaran seimbang

Intervensi dan Rasional :


Mandiri :
1. Monitor intake dan output cairan, bandingkan dengan BB harian catat
kehilangan melalui usus, misal muntah atau diare
Rasional : memberikan informasi mengenai kebutuhan pengganti/terapi efek.
2. Kaji tanda vital, nadi perifer pengisian kapiler, turgor kulit dan membran
mukosa.
Rasional : indikator volume sirkulasi/perifer
3. Periksa asites atau oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi
Rasional ; menerangkan kemungkinan perdarahan ke dalam jaringan
Kolaborasi :
1. Awasi nilai laboratorium, contoh Hb,Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan
Rasional : menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar
protein yang dapat menimbulkan oedema
2. Berikan cairan IV elektrolit
Rasional : memberikan cairan dan penggantian elektrolit
3. Berikan protein hdrolisat : vitamin K
Rasional : memperbaiki kekurangan albumin/protein, dapat membantu
mengembalikan cairan dari jaringan ke sirkulasi , mencegah masalah koagulasi
5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah nutrisi dapat teratasi dengan kriteria
hasil :
TD dalam batas normal (120/80 mmhg)
22

berat badan pasien kembali ideal


IMT meningkat
Intervensi dan Rasional :
Mandiri :
1. Kaji status nutrisi pasien
Rasional:untuk mengetahui kebutuhan nutrisi untuk intervensi
2. Jelaskan pada pasien tentang pentingnya diit tinggi kalori dan masukan cairan
adekuat.
Rasional: pengetahuan yang cukup memungkinkan pasien kooperatif dengan
tindakan perawatan yang di berikan.
3. Auskultasi bising usus.
Rasional: Kembalinya fungsi usus menunjukkan kesiapan untuk memulai
makan lagi.
4. Mulai makan dengan makanan cairan perlahan.
Rasional:Menurunkan insiden kram abdomen, mual.
5. Anjurkan pasien untuk meningkatkan penggunaan yogurth dan mentega.
Rasional: Membantu menurunkan pembentukan bau.
6. Kolaborasi perencanaan diet yang sesuai.
Rasional: Membantu mengkaji kebutuhan nutrisi pasien dalam perubahan dan
perencanaan dan fungsi usus.
7. Timbang BB dengan jam yang sama setiap hari
Rasional:mengaswasi kefektifan intervensi
Kolaborasi
1. Pemberian makanan parenteral bila diindikasikan
Rasional: tidak toleran pada pemasukan peroral, hiperalimentasi digunakan
untuk menambah kebutuhan komponen pada menambah kebutuhan komponen
pada penyembuhan dan mencegah status katabolisme
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik/nyeri.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intoleransi aktivitas dapat teratasi
dengan kriteria hasil:
Dapat memenuhi standar nilai kekuatan otot seharusnya
Dapat melakukan aktivitas secara mandiri
Intervensi dan Rasional :
Mandiri :
1. Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan
yang dapat ditolerir.
Rasional : Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk
mendapatkan istirahatyang adekuat.
2. bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam
aktivitas perawatan mandiri.
23

3. sarankan klien untuk tirah baring


Rasional : tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga
metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit
4. Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan
stress.
Rasional : Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada
pasien.
5. Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktivitas.
Rasional : Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau
kurang.

DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Chris. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC.
Carpenito-Moyet, L.J. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta. EGC.

24

Dongous,Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. EGC.

25