Anda di halaman 1dari 26

KEHAMILAN DENGAN KISTA OVARIUM

A.

Definisi
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau

padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan, tumor ovarium
yang dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor
ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau
dapat menghalang-halangi masuknya kepala ke dalam panggul.(1)

Gambar 1. Gambaran ovarium normal dan kista ovarium

B.

Epidemiologi
Berdasarkan data penilitian Jurnal Medscape di Amerika Serikat, umumnya kista

ovarium ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik abdominal


maupun transvaginal dan transrektal. Kista ovarium terdapat disekitar 18% yang
sudah postmenopause. Sebagian besar kista yang ditemukan merupakan kista jinak,
dan 10% sisanya adalah kista yang mengarah ke keganasan. Kista ovarium fungsional
umumnya terjadi pada usia produktif dan relatif jarang pada wanita postmenopause.

Secara umum, tidak ada persebaran umur yang spesifik mengenai usia terjadinya
kista ovarium. (1,2)

C.

Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan

hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri. Kista ovarium timbul
dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.(1,3)
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.
a

Riwayat kista ovarium sebelumnya

Siklus menstruasi yang tidak teratur

Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas

Menstruasi dini

Tingkat kesuburan

Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang

Terapi tamoxifen pada kanker mammae

Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga akibat
abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker yang tercetus oleh
radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.(2)

D.

Jenis-jenis Kista

1. Kista Fisiologis
Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal normal saja. Sesuai
suklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan
gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran dibawah 5 cm, dapat
dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan hilang.
Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan
tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati apakah kista tersebut mengalami
pembesaran atau tidak.(4)
Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia
masih mengalami menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada
saat haid.

2. Kista Patologis (Kanker Ovarium)


Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium
merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka
kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan
tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60-70%
pasien dating pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer.
Angka kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.(3,4)

Pada yang patologis, pembesaran bisa terjadi relative cepat, yang kadang tidak
disadari si penderita. Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala seperti
penyakit umumnya. Itu sebabnya diagnosa aalnya agak sulit dilakukan. Gejala gejala
seperti perut yang agak membesar serta bagian bawah perut yang terasa tidak enak
biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika sudah demikian
biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses laparoskopi,
sehingga tidak perlu dilakukan pengirisan di bagian perut penderita. Setelah di angkat
pemeriksaan rutin tetap perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kista itu akan
muncul kembali atau tidak.
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium. Jenis ini ada yang bersifat jinak dan
ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak menyebar. Meski
jinak, kista ini dapat berubah menjadi ganas. Namun hingga saat ini, belum diketahui
dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista ganas yang mengarah ke
kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti
kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran
cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.(2,5)

Gambar 2. Ovarium normal dan ovarium dengan kista dermoid

E.

Klasifikasi
Kista ovarium dilihat menurut klasifikasinya yaitu tumor ovarium nonneoplastik

dan tumor ovarium neoplastik jinak maka pembagiannya adalah sebagai berikut:
1 Tumor Non-neoplastik
Tumor nonneoplastik jinak disebabkan karena ketidakseimbangan hormon
progesteron dan estrogen.
a Tumor akibat radang
Termasuk disini abses ovarial, abses tubo-ovarial dan kista tuboovarial.

Gambar 6. Kista ovarium


b Tumor lain
1 Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang
lazim melainkan menjadi membesar menjadi kista. Kista ini berasal dari folikel
yang menjadi besar semasa proses atresia folikuli. Setiap bulan sejumlah besar
follikel menjadi mati, disertai kematian ovum, disusul dengan degenerasi dari
epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista kecil. Tidak jarang
ruangan follikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga terbentuklah kista
yang besar, yang dapat ditemukan pada pemeriksaan klinis. Biasanya besarnya
tidak melebihi sebuah jeruk. Sering terjadi pada pubertas, climacterium, dan
sesudah salpingektomi. (5)
2 Kista Korpus Luteum
Kista ini terjadi akibat perdarahan yang sering terjadi didalam korpus luteum,
berisi cairan yang berwarna merah coklat karena darah tua.
3 Kista Lutein
Kista ini biasanya bilateral dan menjadi membesar seukuran kepalan tangan.
Tumbuhnya kista ini adalah akibat dari pengaruh hormon koriogonadotropin yang
berlebihan. Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan.
Kista lutein yang sesungguhnya, umumnya berasal dari corpus luteum hematoma.
Perdarahan ke dalam ruang corpus selalu terjadi pada masa vaskularisasi. Bila
perdarahan ini sangat banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma,

yang berdinding tipis dan berwarna kekuning-kuningan. Secara perlahan-lahan


terjadi resorpsi dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tersisa cairan yang
jernih, atau sedikit bercampur darah. Pada saat yang sama dibentuklah jaringan
fibroblast pada bagian dalam lapisan lutein sehingga pada kista korpus lutein yang
tua, sel-sel lutein terbenam dalam jaringan-jaringan perut.
4 Kista Inklusi Germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium.
5 Kista Endometrium
Belum diketahui penyebabnya dan tidak ada hubungannya dengan
endometroid.
6

Kista Stein-Laventhal
Kista ini dikenal sebagai sindrom Stein-Laventhal dan kiranya disebabkan

oleh ketidakseimbangan hormonal. Biasanya kedua ovarium membesar dan


bersifat polikistik, permukaan rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal.
Pada pemeriksaan mikroskopis akan tampak tunika yang tebal dan fibrotik.
Dibawahnya tampak folikel dalam bermacam-macam stadium, tetapi tidak
ditemukan corpus luteum. Secara klinis memberikan gejala yang disebut SteinLeventhal Syndrom, yaitu yang terdiri dari hirsutisme, sterilitas, obesitas dan
oligomenorrhoe. Kecenderungan virilisasi mungkin disebabkan hyperplasi dari
tunica interna yang menghasilkan zat androgenik. Kelainan ini merupakan
penyakit herediter yang autosomal dominan. (6)
2 Tumor Neoplastik Jinak
Tumor neoplastik jinak terdiri dari :

a Tumor Kistik
1 Kistoma ovarii simpleks
Kistoma ovarii simpleks diduga kista ini adalah suatu jenis kistadenoma
serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan
dalam kista. Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di
dalam kista jernih, serus, dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan
epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran
tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis
kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan
tekanan cairan dalam kista.
2 Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal kista ini belum pasti, menurut Mayer, mungkin kista ini berasal dari
suatu teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen
lainnya. Ada penulis yang berpendapat bahwa tumor berasal dari lapisan
germinativum, sedang penulis lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama
dengan tumor Brenner.
3 Kistadenoma Ovarii Serosum
Pada umumnya kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal
ephitelium). Kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan
dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi
dapat pula berrbagala karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Ciri khas kista
ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%, dan
keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan kadang-

kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma).

4 Kista endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam
terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista
ini, yang ditemukan oleh Sartesson dalam tahun 1969, tidak ada hubungannya
dengan endometriosis ovarii.
5 Kista dermoid
Kista dermoid suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur- struktur
ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi dan
produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak nampak lebih
menonjol daripada elemen-elemen endoderm dan mesoderm. Bahan yang terdapat
dalam rongga kista ini ialah produk dari kelenjar sebasea berupa massa lembek
seperti lemak bercampur dengan rambut. (5,6)
F.

Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut

Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari
2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur akan menjadi korpus
luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengahtengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami
fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum

mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama


kehamilan.(7)
Kista ovarium yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional
dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut
kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH
dan HCG.
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau
sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik
gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut
hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan
menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat
menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian
HCG.(6)
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas
dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling
sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik
parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa
dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk
jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ
sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan

germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal. Endometrioma


adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik,
ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm,
seperti terlihat dalam sonogram.(5,7)

G.
Kehamilan dengan kista ovarium
Dalam kehamilan, kista ovarium jarang dijumpai, tetapi yang paling sering adalah
kista dermoid. Selain itu, dapat juga ditemukan kista retensi, kista lutein, dan kista
coklat.
Komplikasi yang paling sering dan berbahaya dalam kehamilan ialah terjadinya
torsi tangkai yang menyebabkan nekrosis dan infeksi dengan gejala nyeri perut
mendadak. Kista dapat pecah dengan spontan akibat trauma atau akibat partus
spontan karena kista tertekan oleh kepala janin yang turun. Pada saat masa nifas dapat
terjadi pengecilan rahim sehingga kemungkinan dapat terjadinya putaran tangkai atau
kista mengalami kerusakan saat bayi lahir.
Kista ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam
rahim atau dapat menghalangi masuknya kepala janin ke dalam panggul.(6)

H.

Diagnosis
1.

Anamnesa

Diagnosis dimulai dari anamnesis berdasarkan keluhan pasien. Banyak tumor


ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium yang kecil.
Adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut. Rasa sakit atau tidak nyaman

pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut
terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut. Tekanan terhadap alatalat di sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan
defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadapat kandung kemih sehingga menyebabkan
frekuensi berkemih menjadi sering. (6,7)
Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus terganggu
atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering. Pasien juga
mengeluhkan ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada penetrasi yang dalam. Pada
tumor yang besar dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa enak dan rasa
sesak. Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor
tersebut mengeluarkan hormon. Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan vagina
yang abnormal dapat terjadi. Pada anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih
awal.
Polikistik ovari menimbulkan sindroma polistik ovari, terdiri dari hirsutism,
inferilitas, aligomenorrhea, obesitas dan acne. Pada keganasan, dapat ditemukan
penurunan berat badan yang drastis.
2.

Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita

premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah abnormal
jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadi sulit pada pasien yang
gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan massa umummnya rata. Serviks
dan uterus dapat terdorong pada satu sisi. Dapat juga teraba, massa lain, termasuk

fibroid dan nodul pada ligamentum uterosakral, ini merupakan keganasan atau
endometriosis. Pada perkusi mungkin didapatkan ascites yang pasif.
3.

Pemeriksaan Penunjang
a

Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen

125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel ovarium normal
dan karsinoma ovarium. Level serum kurang dari 35 U/ml adalah kadar CA 125
ditemukan meningkat pada 85% pasien dengan karsinoma epitel ovarium.
Terkadang CA 125 ditemukan meningkat pada kasus jinak dan pada 6% pasien
sehat.
b Laparoskopi
Mengetahui asal tumor dari ovarium atau tidak, dan menentukan sifat- sifat tumor.
c Ultrasonografi
Menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam rongga perut
yang bebas dan tidak. USG adalah alat diagnostik imaging yang utama untuk kista
ovarium. Kista simpleks bentuknya unilokular, dindingnya tipis, satu cavitas yang
didalamnya tidak terdapat internal echo. Biasanya jenis kista seperti ini tidak
ganas, dan merupakan kista fungsioal, kista luteal atau mungkln juga kistadenoma
serosa atau kista inklusi.
Kista kompleks multilokular, dindingnya menebal terdapat papul ke dalam lumen.
Kista seperti ini biasanya maligna atau mungkin juga kista neoplasma benigna.
USG sulit membedakan kista ovarium dengan hidrosalfing, paraovarian dan kista
tuba. USG endovaginal dapat memberikan pemeriksaan morfologi yang jelas dari
struktur pelvis. Pemeriksaana ini tidak memerlukan kandung kemih yang penuh.
USG transabdominal lebih baik dari endovaginal untuk mengevaluasi massa yang

besar dan organ intrabdomen lain, seperti ginjal, hati dan ascites. Ini memerlukan
kandung kemih yang penuh.
d MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan, dapat
memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI ini biasanya
tidak diperlukan.
e CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan kurang baik
bila dibanding dengan MRI. CT Scan dapat dipakai untuk mengidentifikasi organ
intraabdomen dan retroperitoneum dalam kasus keganasan ovarium.

Gambar 6. Gambaran USG kista ovarium

I.

Penatalaksanaan
Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup di pantau selama 1-2 bulan,
karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua
siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas. Apabila terdapat nyeri,

maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti penghilang nyeri NSAID.


(5)

Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan
pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya kista
yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami penurunan berat badan
yang signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu bersifat jinak atau ganas jika
telah dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi setelah dilakukan pengangkatan
kista itu sendiri melalui operasi. Biasanya untuk laparoskopi diperbolehkan
pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi diperbolehkan
pulang pada hari ke-8 atau ke-9.
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalu screening USG umumnya
dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala maupun tanpa
gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi anatomi untuk
memastikan keganasan sel dari tumor tersebut. (2,6)

J.

Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di

jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sujdah dilakukan


operasi, angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.

Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan


stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering
ditemukan sudah dalam stadium akhir.(1)
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang berasal
dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.(1)

LAPORAN KASUS

Tanggal pemeriksaan : 17 Desember 2014


Ruangan

: Kamar Bersalin RSUD. Undata

Jam

: 11:00 WITA

IDENTITAS
Nama

: Ny. S

Nama Suami : Tn. M

Umur

: 28 tahun

Umur

: 25 tahun

Alamat

: Desa Torenda, Pasang


Kayu

Alamat

: Desa Torenda, Pasang


Kayu

Pekerjaan

: URT

Pekerjaan

: Pedagang

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

ANAMNESIS
G2 P1 A0
HPHT

: (di lupa)

Menarche

: 13 tahun

Siklus haid

: 30 hari

Lama haid

: 5 hari

Perkawinan

: 1, 5 tahun

Keluhan utama

: Sakit perut tembus belakang

Riwayat penyakit sekarang

Pasien masuk RS dengan rujukan dari Puskesmas Bambaira kabupaten


Mamuju utara, dengan G2P1A0 gravid 37 minggu + riwayat pelepasan air. Keluhan
sakit perut tembus belakang disertai pelepasan lendir dan air sejak 2 hari sebelum
masuk RS. Sebelumnya pasien mengaku tidak merasakan keanehan selama hamil,
tidak merasa adanya benjolan diperut sebelum hamil dan tidak ada nyeri. Siklus haid
juga teratur. BAB lancar, namun pasien mengeluh lebih sering BAK selama hamil.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat obstetri

: Tidak ada riwayat penyakit apa pun sebelumnya.

Hamil pertama : Anak laki-laki, cukup bulan, lahir spontan LBK di PKM oleh

bidan, usia sekarang 4 tahun 6 bulan. BBL?


Hamil kedua : Sekarang
Riwayat ANC
:Pasien tidak pernah memeriksakan kandungan di layanan
Riwayat imuisasi

kesehatan.
:Suntikan TT tidak pernah dilakukan

PEMERIKSAAN FISIK
KU
: Sedang
Kesadaran
: Komposmentis
BB
: 68 Kg
TB
: 156 cm
Tanda vital
TD : 110/80 mmHg
N : 82 kali/menit
Kepala Leher

S : 37,50C
R : 24 kali/menit

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pembesaran kelenjar getah bening
(-/-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thorax
I : pergerakan dada simetris, iktus kordis tidak tampak
P : nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : sonor pada kedua lapang paru, batas jantung kesan normal
A : bunyi pernapasan vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-). Bunyi jantung
I/II murni, reguler.
Abdomen
(Pemeriksaan obstetri)
Leopold I
:TFU teraba 3 jari di bawah processus xypoideus (32 cm),
teraba bagian lunak (bokong)
Leopold II
: punggung kiri
Leopold III
: letak terendah kepala
Leopold IV
: kepala telah masuk pintu atas panggul
DJJ
: 139 x/menit
HIS
: 2 x/10 menit (20-25 detik)
TBJ
: 3100 gram
Pergerakan janin : baik
Janin
: tunggal
Genitalia (Vaginal Toucher)
Vulva
: tidak ada kelainan
Vagina
: tidak ada kelainan
Portio
: lunak
Pembukaan
: 2 cm
Ketuban
: utuh
Bagian terendah : kepala
Penurunan
: Hodge I
Pintu panggul
: cukup luas
Pelepasan
: lendir, darah
Ekstremitas : edema (-/-), tonus otot baik.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :

WBC : 15,7 x 103/mm3

RBC : 4,12 x 106/mm3


HGB : 12,1 g/dL
HCT : 37,1 %
PLT : 289 x 103/mm3
HbSAg
: Non reaktif
USG
: Gravid 37-38 minggu + tampak kista ovarium dextra ukuran
2,4 x 4,53 cm

RESUME
Pasien perempuan berusia 28 tahun rujukan dari Puskesmas Bambaira
kabupaten Mamuju utara, dengan G2P1A0 gravid 37 minggu + riwayat pelepasan air.
Sakit perut tembus belakang disertai pelepasan lendir dan air sejak 2 hari sebelum
masuk Rumah sakit. BAK sering (+).
Berdasarkan pemeriksaan Leopold I : TFU teraba 3 jari di bawah processus
xypoideus (32 cm), teraba bagian lunak (bokong). Leopold II : punggung kiri.
Leopold III : letak terendah kepala. Leopold IV : kepala telah masuk pintu atas
panggul. DJJ : 139 x/menit, HIS: 2x/10 menit (20-25 detik), TBJ: 3100 gram,
pergerakan janin baik, janin tunggal.
Pada pemeriksaan Vaginal Toucher: portio tebal/lunak, pembukaan 2 cm,
ketuban utuh, presentasi kepala, Hodge I, pintu panggul cukup luas, pelepasan lendir
dan darah.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan WBC: 15,7 x 103/mm3, RBC: 4,12 x
106/mm3, HGB: 12,1 g/dL, HCT: 37,1 %, PLT: 289 x 10 3/mm3. USG: gravid 37-38
minggu + tampak kista ovarium dextra ukuran 2,4 x 4,53 cm.

DIAGNOSIS
G2P1A0 gravid aterm + inpartu kala I fase laten + kista ovarium

PENATALAKSAAN

IVFD RL 28 tpm
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
Observasi His, BJF dan kemajuan persalinan
Siap darah WB 350 cc
Rencana induksi Gastrul tablet per vagina bila pembukaan tidak maju

FOLLOW UP

Tanggal 17-12-2014
12.30 : BJF 139 x/menit, HIS 2 x/10 menit 20-25 detik
13.00 : BJF 142 x/menit, HIS 2 x/10 menit 20-25 detik
13.30 : BJF 140 x/menit, HIS 2 x/10 menit 20-25 detik
14.00 : BJF 139 x/menit, HIS 2 x/10 menit 20-25 detik, induksi Gastrul tablet per
vagina 1x
14.30 : BJF 139 x/menit, HIS 3 x/10 menit 25-30 detik
15.00 : BJF 145 x/menit, HIS 3 x/10 menit 25-30 detik, pembukaan 4 cm
15.30 : BJF 143 x/menit, HIS 3 x/10 menit 25-30 detik
16.00 : BJF 143 x/menit, HIS 3 x/10 menit 35-40 detik
16.30 : BJF 139 x/menit, HIS 3 x/10 menit 35-40 detik, pembukaan 6-7 cm
17.00 : BJF 140 x/menit, HIS 3 x/10 menit 35-40 detik
17.30 : BJF 146 x/menit, HIS 4 x/10 menit 40-45 detik
18.00 : BJF 145 x/menit, HIS 4 x/10 menit 40-45 detik
18.30 :BJF 147 x/menit, HIS 4 x/10 menit 40-45 detik, pembukaan lengkap,
persalinan dipimpin.
18.50 : Os partus dengan induksi + LBK, bayi perempuan, A/S : 6/8, BBL: 3000
gram, PB : 47 cm.

Anus-palatum +/+, plasenta lahir spontan lengkap,

perdarahan normal, perineum ruptur derajat II.


TD: 120/70 mmHg

N: 112 x/menit
S: 37,50C
R: 26 x/menit
Observasi perdarahan 2 jam post partum
Tanggal 18-12-2014
S

: nyeri perut (+), nyeri BAK (+), belum BAB (-), flatus (+)

TD : 110/70 mmHg

ASI : +/+

N : 88 x/menit

TFU : 1 jari dibawah pusat

S : 370C

Lokia :rubra

R : 22 x/menit
A

: P2 A0 partus aterm + post partum H1 induksi + kista ovarium

: IVFD RL 28 tpm
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
Asam Mefenamat 3 x 500 mg
SF 2 x 1 tablet
Cefadroxil 2 x 500 mg

Tanggal 19-12-2014
S

: keluhan (-), BAB & BAK (+),

TD : 110/80 mmHg
N : 86 x/menit

S : 36,70C
R : 24 x/menit

ASI : +/+
TFU : 2 jari dibawah pusat

Lokia :rubra

: P2 A0 partus aterm + post partum H2 induksi atas indikasi his tidak


adekuat + riwayat pelepasan air + kista ovarium

:Asam Mefenamat 3 x 500 mg


SF 2 x 1 tablet
Cefadroxil 2 x 500 mg
Rawat jalan

DAFTAR PUSTAKA

1. Winkjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2009, p 346-365.
2. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta, 1998.
3. Schorge et al. Williams Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic Oncology
Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills, 2008.
4. Anwar, M, Baziad, A, Prabowo, RP. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2011.
5. Jones, D.L.,2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi, alih bahasa Hadyanto,
Editor edisi bahasa Indonesia, Y.Joko Suryono, edisi 6, Hipokrates, Jakarta, hal
263-266.
6. Sutoto J. S. M., 2005. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital dalam Buku Ilmu
Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo, Jakarta.
7. Schorge, J.O., Schaffer, J.I., Halvorson, L.M., Hoffman, B.L., Bradshaw, K.D.,
Cunningham, F.G.(Eds). Williams Gnecology. Mc Graw Hills Companies. USA,
2008.