Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEHAMILAN EKTOPIK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Maternitas

Disusun Oleh :
1. Mega AnistyaKrisnaningsih

P07120112025

2. Risma Dewi Anggraeni

P07120112036

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2014

BAB I
HIV/AIDS
1. Pengertian.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS.
HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas
menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki
CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel
limfosit.

Karena berkurangnya

nilai

CD4

dalam tubuh manusia

menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang


seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh
manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4
berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem
kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4
semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa
sampai nol) (KPA, 2007c).
Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae.
Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada
enzim reverse transcriptase untuk dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk
manusia, dan menimbulkan kelainan patologi secara lambat. Virus ini terdiri
dari 2 grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing grup mempunyai lagi
berbagai subtipe, dan masing-masing subtipe secara evolusi yang cepat
mengalami mutasi. Diantara kedua grup tersebut, yang paling banyak
menimbulkan kelainan dan lebih ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1
(Zein, 2006).

Pengertian AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang
berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh
yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan
untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit.

AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga


akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam
sel atau media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke
dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini
ditandai dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit
maupun

jamur. Keadaan

infeksi

ini

yang

dikenal

dengan

infeksi

oportunistik (Zein, 2006).


2. Etiologi.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dianggap sebagai virus penyebab
AIDS. Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili lentivirinae.
Ciri khas morfologi yang unik dari HIV adalah adanya nukleoid yang
berbentuk silindris dalam virion matur. Virus ini mengandung 3 gen yang
dibutuhkan untuk replikasi retrovirus yaitu gag, pol, env. Terdapat lebih dari 6
gen tambahan pengatur ekspresi virus yang penting dalam patogenesis
penyakit. Satu protein replikasi fase awal yaitu protein Tat, berfungsi dalam
transaktivasi dimana produk gen virus terlibat dalam aktivasi transkripsional
dari gen virus lainnya. Transaktivasi pada HIV sangat efisien untuk
menentukan virulensi dari infeksi HIV. Protein Rev dibutuhkan untuk ekspresi
protein struktural virus. Rev membantu keluarnya transkrip virus yang
terlepas dari nukleus. Protein Nef menginduksi produksi khemokin oleh
makrofag, yang dapat menginfeksi sel yang lain (Brooks, 2005).

Gambar 2.1. Struktur anatomi HIV (TeenAIDS, 2008).


Gen HIV-ENV memberikan kode pada sebuah protein 160-kilodalton (kD)
yang kemudian membelah menjadi bagian 120-kD(eksternal) dan 41-kD
(transmembranosa). Keduanya merupakan glikosilat, glikoprotein 120 yang
berikatan dengan CD4 dan mempunyai peran yang sangat penting dalam
membantu perlekatan virus dangan sel target (Borucki, 1997).
Setelah virus masuk dalam tubuh maka target utamanya adalah limfosit
CD4 karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4.
Virus ini mempunyai kemampuan untuk mentransfer informasi genetik
mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse
transcriptase. Limfosit CD4 berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi
imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan
respon imun yang progresif (Borucki, 1997).
Setelah infeksi primer, terdapat 4-11 hari masa antara infeksi mukosa dan
viremia permulaan yang dapat dideteksi selama 8-12 minggu. Selama masa
ini, virus tersebar luas ke seluruh tubuh dan mencapai organ limfoid. Pada
tahap ini telah terjadi penurunan jumlah sel-T CD4. Respon imun terhadap
HIV terjadi 1 minggu sampai 3 bulan setelah infeksi, viremia plasma
menurun, dan level sel CD4 kembali meningkat namun tidak mampu
menyingkirkan infeksi secara sempurna. Masa laten klinis ini bisa
berlangsung selama 10 tahun. Selama masa ini akan terjadi replikasi virus
yang meningkat. Diperkirakan sekitar 10 milyar partikel HIV dihasilkan dan
dihancurkan setiap harinya. Waktu paruh virus dalam plasma adalah sekitar
6 jam, dan siklus hidup virus rata-rata 2,6 hari. Limfosit T-CD4 yang terinfeksi
memiliki waktu paruh 1,6 hari. Karena cepatnya proliferasi virus ini dan
angka kesalahan reverse transcriptase HIV yang berikatan, diperkirakan
bahwa setiap nukleotida dari genom HIV mungkin bermutasi dalam basis
harian (Brooks, 2005).
Akhirnya pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan penyakit
klinis yang nyata seperti infeksi oportunistik atau neoplasma. Level virus
yang lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang
lebih lanjut. HIV yang dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi

yang lebih lanjut dan lebih virulin daripada yang ditemukan pada awal infeksi
(Brooks, 2005).
3. Patofisiologi
a. Mekanisme system imun yang normal
Sistem imun melindungi tubuh dengan cara mengenali bakteri
atau virus yang masuk ke dalam tubuh, dan bereaksi terhadapnya.
Ketika system imun melemah atau rusak oleh virus seperti virus HIV,
tubuh akan lebih mudah terkena infeksi oportunistik. System imun terdiri
atas organ dan jaringan limfoid, termasuk di dalamnya sumsum tulang,
thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix, darah, dan limfa.

Sel B
Fungsi utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral.
Masing-masing sel B mampu mengenali antigen spesifik dan
mempunyai kemampuan untuk mensekresi antibodi

spesifik.

Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen, membuat


antigen lebih mudah untuk difagositosis (proses penelanan dan
pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan
membungkus antigen dan memicu system komplemen (yang
berhubungan dengan respon inflamasi).

Limfosit T
Limfosit T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
o

Regulasi sitem imun

Membunuh sel yang menghasilkan antigen target khusus.

Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti CD4 +,


CD8+, dan CD3+, yang membedakannya dengan sel lain. Sel CD4+
adalah sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer sel dan makrofag
saat terdapat antigen target khusus. Sel CD8+ membunuh sel yang
terinfeksi oleh virus atau bakteri seperti sel kanker.

Fagosit

Komplemen

b. Penjelasan dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV


Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah
silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar.
Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang
merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitu
gag, pol, dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili polymerase,
dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh,
Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim
reverse transcriptase, protease, integrase. Gen env mengode komponen
structural HIV yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan
juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.

c. Siklus Hidup HIV


Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat
pendek; hal ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel
pejamu beru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan
setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite
pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah
paparan. Sel yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa
dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah
papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
1) Masuk dan mengikat
2) Reverse transkripstase
3) Replikasi
4) Budding
5) Maturasi
d. Tipe dan sub-tipe dari virus HIV.
Ada 2 tipe HIV yang menyebabkan AIDS: HIV-1 yang HIV-2. HIV-1
bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam

subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang


spesifik dan kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah
subtipe HIV-1 dan distribusi geografisnya:
1) Sub tipe A: Afrika tengah
2) Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
3) Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
4) Sub tipe D: Afrika tengah
5) Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
6) Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
7) Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
8) Sub tipe H: Zaire,gabon
9) Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua
infeksi HIV baru d seluruh dunia.
e. Efek dari virus HIV terhadap system imun
Infeksi Primer atau Sindrom Retroviral Akut (Kategori Klinis A)
Infeksi primer berkaitan dengan periode waktu di mana HIV pertama kali
masuk ke dalam tubuh. Pada waktu terjadi infeksi primer, darah pasien
menunjukkan jumlah virus yang sangat tinggi, ini berarti banyak virus
lain di dalam darah.
Sejumlah virus dalam darah atau plasma per millimeter mencapai 1
juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering menunjukkan sindrom
retroviral akut. Tanda dan gejala dari sindrom retrovirol akut ini meliputi :
panas, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, berkeringat di
malam hari, kehilangan berat badan, dan timbul ruam. Tanda dan gejala
tersebut biasanya muncul dan terjadi 2-4 minggu setelah infeksi,
kemudian hilang atau menurun setelah beberapa hari dan sering salah
terdeteksi sebagai influenza atau infeksi mononucleosis.
Selama imfeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam darah menurun
dengan cepat. Target virus ini adalah limfosit CD4 + yang ada di nodus
limfa dan thymus. Keadaan tersebut membuat individu yang terinfeksi
HIV rentan terkena infeksi oportunistik dan membatasi kemampuan

thymus untuk memproduksi limfosit T. Tes

antibody HIV dengan

menggunakan enzyme linked imunoabsorbent assay (EIA) akan


menunjukkan hasil positif.
f.

Mekanisme penyerangan HIV


1) HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel Thelper dengan
melekatkan dirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam,
materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang
disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA
(deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse
transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia,
yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya,
benda tersebut mulai menghasilkan virusvirus HI.
2) Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk
virusvirus yang baru. Virusvirus baru tersebut keluar dari sel
tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil
menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit
demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan
meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan
penyakitpenyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan
virus tersebut dari orang ke orang.
3) Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk
melawan selsel yang terinfeksi dan mengantikan selsel yang
telah

hilang.

Respons

tersebut

mendorong

virus

untuk

menghasilkan kembali dirinya.


4) Jumlah normal dari selsel CD4+T pada seseorang yang sehat
adalah 8001200 sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV
yang selsel CD4+ T nya terhitung dibawah 200, dia menjadi
semakin mudah diserang oleh infeksiinfeksi oportunistik.
5) Infeksiinfeksi oportunistik adalah infeksiinfeksi yang timbul ketika
sistem kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem
kekebalan yang sehat infeksiinfeksi tersebut tidak biasanya
mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal
tersebut dapat menjadi fatal.

g. Cara penularan HIV/AIDS


Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :
1) Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita
HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan
seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat
mengenai selaput lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga
HIV yang terdapat dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah
(PELKESI, 1995). Selama berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro
pada dinding vagina, dubur, dan mulut yang bisa menjadi jalan HIV
untuk masuk ke aliran darah pasangan seksual (Syaiful, 2000).
2) Ibu pada bayinya
Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan
laporan CDC Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01%
sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala
AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%,
sedangkan

kalau

gejala

AIDS

sudah

jelas

pada

ibu

kemungkinannya mencapai 50% (PELKESI, 1995). Penularan juga


terjadi selama proses persalinan melalui transfuse fetomaternal
atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah
atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).
3) Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke
pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4) Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alatalat lain yang darah,cairan vagina atau air mani yang terinfeksi
HIV,dan langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi
bisa menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5) Alat-alat untuk menoleh kulit

Alat

tajam

dan

runcing

seperti

jarum,pisau,silet,menyunat

seseorang, membuat tato,memotong rambut,dan sebagainya bisa


menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa
disterilkan terlebih dahulu.

6) Menggunakan jarum suntik secara bergantian


Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di
gunakan oleh parah pengguna narkoba (injecting drug user-IDU)
sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para
pemakai IDU secara bersama-sama juga mengguna tempat
penyampur,

pengaduk,dan

gelas

pengoplos

obat,sehingga

berpotensi tinggi untuk menularkan


7) HIV tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu
tangan,toilet yang di pakai secara bersama-sama,berpelukan di
pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS,
gigitan nyamuk,dan hubungan social yang lain.

4. Pathway
5.
6.

Virus HIV

Merusak
seluler

7.
8.
9.

Menyerang T
Limfosit, sel saraf,
makrofag, monosit,
limfosit B

HIVpositif ?

Invasi kuman

Immunocompromis
e

Flora normal
patogen

Reaksi

Organ target

10. psikologis
11.
Manifestasi oral

Manifestasi
saraf

12.

Gastrointestinal

Respiratori

Dermatolo
gi

Sensori

13.
Disfungsi
biliari

Gangguan rasa nyaman : nyeri

Nutrisi inadekuat

Cairan berkurang

hipertermi

Gangguan rasa nyaman : nyeri

Aktivitas intolerans

17.

Gangguan mobilisasi

16.

Cairan berkurang

Nutrisi inadekuat

15.

Penyakit
anorekt
al

Infe
ksi

Gatal,
sepsis,
nyeri

Gangguan
penglihata
n dan
pendenga
ran

Gangguan sensori

Hepatiti
s

Gangguan body imageapas

Diare

Tidak efektif pol napas

Ensepalopati
akut

idak efektf bersihan jalan napas

Kompleks
demensia

Gangguan pola BAB

14.
Lesi mulut

18. Tanda dan Gejala


19. Mayoritas anak yang lahir dengan terinfeksi HIV dari ibunya yang menjadi
bergejala selama 6 bulan pertama, dengan perkembangan limfadenopati
sebagai temuan pertama (kotak 37-1). Manifestasi klinis yang paling
sering meliputi :
1) Limfadenopati
2) Hepatomegali
3) Splenomegali
4) Gagal tumbuh
5) Hepatitis
6) Infeksi salura pernafasan atas berulang
7) Parotitis
8) Diare kronis atau kambuhan
9) Infeksi bakteri dan virus kambuhan
10) Infeksi virus Epstein-Barr persisten
11) Sariawan orofaring
12) Trombositopenia
13) Neuropati
14) Pneumonia interstisial limfoid
20.
21. 50% anak- anak dengan infeksi HIV

terkena

sarafnya

yang

bermanifestasi menjadi ensefalopati progresif, perkembangan yang


terhambat, atau hilangnya perkembangan motorik.
22.
23.
24.
25. Kategori Klinis Infeksi HIV pada Anak yang Berusia Kurang Dari
13 Tahun

28.

26.
Kategori
Kategori N : tidak bergejala atau

suatu kondisi yang ada dalam Kategori A


30.
Kategori A : gejala ringan

29.

27.
Gejala
Anak- anak tanpa tanda atau geja

dipikirkan sebagai akibat dari infeksi HIV


1. Dermatitis
2. Hepatomegali
3. Limfadenopati,
parotitis,
infeksi

pernafasan atas kambuhan/ persisten, s

31.

Kategori B : gejala sedang

atau otitis media


4. Splenomegali
1. Anemia, neutropenia, trombositopenia s

30 hari
2. Meningitis bakterial, pneumonia, atau se
3. Kardiomiopati
4. Infeksi sitomegalovirus dengan awitan s
berusia 1 bulan

5.
6.
7.
8.

Diare kambuhan atau kronis


Hepatitis
Stomatitis herpes kambuhan
Virus herpes simpleks bronkitis, pneu
atau esofagitis dengan awitan sebelum

1 bulan
9. Herpes zoster, dua episode atau lebih
10. Leiomiosarkoma
11. Pneumonia interstisial limfoid atau ko

hiperplasia limfoid pulmonal


12. Nefropati
13. Nokardiosis
14. Demam persisten > 1 bulan
15. Sariawan yang persisten selama > 2 bul

anak yang berusia lebih dari 6 bulan


16. Toksoplasmosis, awitan sebelum be

32.

Kategori C : gejala hebat

bulan
17. Varisela, diseminata (cacar air berkompli
1. Infeksi bakterial multiple atau kambuhan
2. Kandidiasis pada trakea, bronki, par

esofagus
3. Ulkus herpes simpleks kronis (jangka wa
bulan)

atau

bronkitis,

pneumonitis

esofagitis dengan awitan pada usia > 1 b


4. Koksidiodomikosis,
diseminata

ekstrapulmonal
5. Kriptokokosis, ekstrapulmonal
6. Kripstosporidosis dengan diare > 1 bulan
7. Retinitis sitomegalivirus (dengan keh
penglihatan)
8. Histoplasmosis,

diseminata,

ekstrapulmonal
9. Ensefalopati HIV
10. Isopsoriasis, intestinal kronis (durasi >1 b
11. Sarkoma kaposi
12. Limfoma (sarkoma Burkitt atau s

imunoblastik)
13. Limfoma, terutama pada otak
14. Infeksi Mycobacterium tuberculosis, dis

atau ekstrapulmonal
15. Pneumonia Pneumocytis carinii
16. Leukoensefalopati multifokal progresif
17. Septikemia Salmonella, kambuhan
18. Toksoplasmosis pada otak, awitan saat b

>1 bulan
19. Wasting syndrome karena HIV
33. Kotak 37-1
34.
Remaja
35. Sebagian besar remaja yang terinfeksi mengalami periode
penyakit tidak bergejala yang dapat berlangsung selama bertahuntahun. Hal ini diikuti tanda dan gejala yang dimulai beberapa minggu
sampai beberapa bulan sebelum timbulnya infeksi oportunistik dan
keganasan. Tanda dan gejala tersebut antara lain :
1. Demam
2. Malaise
3. Keletihan
4. Keringat malam
5. Penurunan berat badan yang awitannya tidak nyata
6. Diare kronis atau kambuhan
7. Limfadenopati kambuhan
8. Kandidiasis oral
9. Artralgia dan mialgia
36. Klasifikasi HIV/AIDS
37.

Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV

dibagi menjadi tiga Tahap :


38.

Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke

dalam jaringan limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti
serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel
T antivirus. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri
dengan nyeri tenggorok, mialgia non-spesifik, dan meningitis aseptik.
Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam
waktu 6-12 minggu.
39.
Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis
dengan replikasi. virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan
hitungan CD4+ secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami
pembesaran kelenjar limfe yang luas tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat
mencapai beberapa tahun. Pada akhir tahap ini terjadi demam, kemerahan
kulit, kelelahan, dan viremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.
40.
Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya
pertahanan tubuh penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+,
penurunan berat badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder.
Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika

Serikat menganggap semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T
CD4+ kurang dari 200 sel/l sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum
terlihat. ( Robbins, dkk, 1998 : 143 )
41.
42. Komplikasi
a. Risiko tinggi terbentuknya infeksi oportunistik
b. Kelemahan berat
c. Ensefalopati progresif
43.
44. PemeriksaanDiagnostik
45.

Pemeriksaan

diagnostic

untuk

penderita

AIDS

(Arif

Mansjoer, 2000) adalah


1. Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait
dengan AIDS.
2. Telusuri perilaku berisiko yang memmungkinkan penularan.
3. Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan kanker
terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan
funduskopi.
4. Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total, antibodi HIV,
dan pemeriksaan Rontgen.
46.

Bila

hasil

pemeriksaan

antibodi

positif

maka

dilakukan

pemeriksaan jumlah CD4, protein purufied derivative (PPD), serologi


toksoplasma, serologi sitomegalovirus, serologi PMS, hepatitis, dan pap
smear.
47.

Sedangkan pada pemeriksaan follow up diperiksa jumlah CD4.

Bila >500 maka pemeriksaan diulang tiap 6 bulan. Sedangkan bila


jumlahnya 200-500 maka diulang tiap 3-6 bulan, dan bila <200 diberikan
profilaksi pneumonia pneumocystis carinii. Pemberian profilaksi INH tidak
tergantung pada jumlah CD4.
48.

Perlu juga dilakukan pemeriksaan viral load untuk mengetahui

awal pemberian obat antiretroviral dan memantau hasil pengobatan.


49.

Bila tidak tersedia peralatan untuk pemeriksaan CD4 (mikroskop

fluoresensi atau flowcytometer) untuk kasus AIDS dapat digunakan rumus


CD4 = (1/3 x jumlah limfosit total)-8.

50.
51. Penatalaksanaan
52.

Obat-obatan Antriretroviral(ARV) bukanlah suatu pengobatan

untuk HIV/AIDS tetapi dapat memperpanjang hidup mereka yang mengidap


HIV. Pada tempat yang kurang baik pengaturannya permulaan dari
pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel
CD4 dari orang yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah.
Untuk lebih efektif maka suatu kombinasi dari tiga atau lebih ARV
dikonsumsi secara umum ini adalah mengenai terapi Antiretroveral yang
sangat

efektif

HAART).

Kombinasi

dari

ARV

berikut

ini

dapat

menggunakan:
a. Nucleoside

Analogue

Reverse

Transcriptase

Inhibitors

(NRTI'),

mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalam


mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya AZT,
b.

ddl, ddC & 3TC).


Nonnucleoside

Reverse

Transcriptase

Inhibitors

(NNRTI's)

memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse


transcriptase, suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat
esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam selsel.
Obatobatan NNRTI termasuk: Nevirapine, delavirdine (Rescripta),
c.

efavirenza (Sustiva).
Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan
menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel
tuan rumah dan dilepaskan.
53.

Pencegahan perpindahan dari ibu ke anak (PMTCT): seorang

wanita yang mengidap HIV(+) dapatmenularkan HIV kepada bayinya selama


masa kehamilan, persalinan dan masa menyusui. Dalam ketidakhadiran dari
intervensi pencegahan, kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang
mengidap

HIV(+)

akan

terinfeksi

kirakira

25%35%.

Dua

pilihan

pengobatan tersedia untuk mengurangi penularan HIV/AIDS dari ibu ke


anak. Obatobatan tersebut adalah:
a. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari
1428 minggu selama masa kehamilan. Studi menunjukkan bahwa hal ini

menurunkan angka penularan mendekati 67%. Suatu rangkaian pendek


dimulai pada kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50%
penurunan. Suatu rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan
sekitas 38%. Beberapa studi telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine
(AZT) dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC)
b. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masa
persalinan dan satu dosis tunggal kepada bayi pada sekitar 23 hari.
Diperkirakan bahwa dosis tersebut dapat menurunkan penularan HIV
sekitar 47%. Nevirapine hanya digunakan pada ibu dengan membawa
satu tablet kerumah ketika masa persalinan tiba, sementara bayi tersebut
harus diberikan satu dosis dalam 3 hari.
c. Postexposure prophylaxis (PEP) adalah sebuah program dari beberapa
obat antiviral, yang dikonsumsi beberapa kali setiap harinya, paling
kurang 30 hari, untuk mencegah seseorang menjadi terinfeksi dengan
HIV sesudah terinfeksi, baik melalui serangan seksual maupun terinfeksi
occupational. Dihubungankan dengan permulaan pengunaan dari PEP,
maka suatu pengujian HIV harus dijalani untuk menetapkan status orang
yang bersangkutan. Informasi dan bimbingan perlu diberikan untuk
memungkinkan orang tersebut mengerti obatobatan, keperluan untuk
mentaati, kebutuhan untuk mempraktekan hubungan seks yang aman
dan memperbaharui pengujian HIV. Antiretrovirals direkomendasikan
untuk PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalam kombinasi.
CDC telah memperingatkan mengenai pengunaan dari Nevirapine
sebagai bagian dari PEP yang berhutang pada bahaya akan kerusakan
pada hati. Sesudah terkena infeksi yang potensial ke HIV, pengobatan
PEP perlu dimulai sekurangnya selama 72 jam, sekalipun terdapat bukti
untuk mengusulkan bahwa lebih awal seseorang memulai pengobatan,
maka keuntungannya pun akan menjadi lebih besar. PEP tidak
merekomendasikan

proses

terinfeksi

secara

biasa

ke

HIV/AIDS

sebagaimana hal ini tidak efektif 100%; hal tersebut dapat memberikan
efek samping yang hebat dan mendorong perilaku seksual yang tidak
aman
d. Vaksin terhadap HIV dapat diberikan pada individu yang tidak terinfeksi
untuk mencegah baik infeksi maupun penyakit. Dipertimbangkan pula
kemungkinan pemberian vaksin HIV terapeutik, dimana seseorang yang

terinfeksi HIV akan diberi pengobatan untuk mendorong respon imun anti
HIV, menurunkan jumlah sel-sel yang terinfeksi virus, atau menunda
onset AIDS. Namun perkembangan vaksin sulit karena HIV cepat
bermutasi, tidak diekspresi pada semua sel yang terinfeksi dan tidak
tersingkirkan secara sempurna oleh respon imun inang setelah infeksi
e.

primer (Brooks, 2005).


Pengendalian Infeksi Opurtunistik
54.
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan
infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tindakan pengendalian
infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi
penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien di lingkungan
perawatan kritis
55.

56.
57.
58.
59.
60.
61. Daftar Pustaka
62.
63.
64. Betz, Cecily Lynn. 2004. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC
65.

Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta:


EGC

66.

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ;


Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC,
Jakarta

67.

Kuswayan.2009.Apa

itu

HIV/AIDS?.

http://www.kswann.com/WhatisHIVAIDS.pdf. Lamongan, 10 Desember


2010. 13.00 WIB (access online)
68.

Yati, Ida. 2010. AIDS pada ibu hamil. http://www.docstoc.com/docs/.


Lamongan, 10 Desember 2010. 13.10 WIB (access online)

69.

Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV


(AIDS) pada kehamilan. http://www.mkb-online.org/. Lamongan, 10
Desember 2010. 13.30 WIB (access online)
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80. BAB II
81. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
82.
Pengkajian keperawatan untuk penderita AIDS (Doenges,
1999) adalah
1. Aktivitas / istirahat.
83.
Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas
biasanya, malaise
2. Sirkulasi.
84.
Takikardia , perubahan TD postural, pucat dan sianosis.
3. Integritas ego.
85.
Alopesia , lesi cacat, menurunnya berat badan, putus asa,
depresi, marah, menangis.
4. Elimiinasi.
86.
Feses encer, diare pekat yang sering, nyeri tekanan
abdominal, abses rektal.
5. Makanan / cairan

87.
Disfagia, bising usus, turgor kulit buruk, lesi pada rongga
mulut, kesehatan gigi / gusi yang buruk, dan edema.
6. Neurosensori
88.
Pusing, kesemutan pada ekstremitas, konsentrasi buruk,
apatis, dan respon melambat.
7. Nyeri / kenyamanan.
89.
Sakit kepala, nyeri pada pleuritis, pembengkakan pada
sendi, penurunan rentang gerak, dan gerak otot melindungi pada
bagian yang sakit.
8. Pernafasan
90.
Batuk, Produktif / non produktif, takipnea, distres
pernafasan.
91. 7. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Kardiovaskular
1) Bendungan vena
92.
Pemeriksaan
sistem
kardiovaskular
adalah
observasi

terhadap

bendungan

vena,

yang

bisa

berkembang menjadi varises. Bendungan vena biasanya


terjadi pada tungkai, vulva dan rectum
2) Edema pada ekstremitas
93.
Edema pada tungkai merupakan refleksi dari
pengisian darah oada ekstermitas akibat perpindahan
cairan intravaskular keruan intertesial.Ketika dilakukan
penekanan

dengan

jari

atau

jempol

menyebabkan

terjadinya bekas tekanan, keadaan ini disebut pitting


edema.Edema pada tangan dan wajah memerlukan
pemeriksaan

lanjut

karena

merupakan

tanda

dari

hipertensi pada kehamilan.


94.
b. Sistem musculoskeletal
1) Postur tubuh
95.
Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi
selama kehamilan. Keadaan ini mengakibatkan regangan
pada otot punggung dan tungkai
2) TB dan BB
96.
Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai
data dasar untuk dapat menentukan kenaikan berat badan
selama kehamilan.Berat badan sebelum konsepsi kurang
dari 45 kg dan tinggi badan kurang dari 150 cm ibu
beresiko

melahirkan

prematurdan

berat

badan

lahir

rendah. Berat badan sebelum konsepsi lebih dari 90 kg

dapat mengakibatkan diabetes pada kehamilan, hipertensi


pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi
postpartum. Rekomendasi kenaikan berat badan selama
kehamilan berdasarkan indeks masa tubuh.
3) Pengukuran pelviks
97.
Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan
untuk menentukan diameternya yang berguna untuk
persalinan per vaginaan.
4) Abdomen
98.
Kontur,ukuran dan tonus otot abdomen perlu dikaji.
Tinggi fundus diukur jika fundus bisa dipalpasi diatas
simfisis pubis.Kandung kemih harus dikosongkan sebelum
pemeriksaan

dilakukan

untuk

menentukan

keakuratannya.Pengukuran metode Mc. Donal dengan


posisi ibu berbaring. Nyeri merupakan keluhan utama pada
kehamilan ektopik terganggu. Pada ruptur tuba nyeri perut
bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intesitas yang
kuat disertai dengan perdarahan yang menyebabkan ibu
pingsan dan masuk kedalam syok. Intensitas nyeri berkisar
antar 9-10 nyeri hebat.
c. Sistem neurologi
99.
Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila
ibu tidak memiliki tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya
masalah.Pemeriksaan reflek tendo sebaiknya dilakukan karena
hiperfleksi menandakan adanya komplikasi kehamilan.
d. Sistem integument
100. Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat
menandakan anemis, jaundice menandakan ganguan pada hepar,
lesi hiperpigmentasi seperti closma gravidarum, sreta linea nigra
berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat. Penempangan
kuku berwarna merah muda menandakan pengisian kapiler
dengan baik.
e. Sitem endokrin
101. Pada trimester

kedua

kelenjar

tiroid

membesar,

pembesaran yang berlebihan menandakan hipertiroid dan perlu


f.

pemeriksaan lebih lanjut.


Sistem gastrointestinal
1) Mulut

102.

Membran mukosa berwarna merah muda dan

lembut

.bibir

bebas

dari

ulserasi,

gusi

berwarna

kemerahan, serta edema akibat efek peningkatan estrogen


yang mengakibatkan hiperplasia. Gigi terawat dengan baik,
ibu dapat dianjurkan kedokter gigi secara teratur karena
penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang memicu
terjadinya persalinan prematur. Trimester kedua lebih
nyaman bagi ibu untuk melakukan perawatan gigi.
2) Usus
103. Stestokop yang hangat untuk memeriksa bising
usus lebih nyaman untuk ibu hamil.Bising usus bisa
berkurang karena efek progesteron pada otot polos,
sehingga

menyebabkan

konstipasi.Peningkatan

bising

usus terjadi bila menderita diare.


g. Sistem urinarius
104. Pengumpulan urine untuk pemeriksaan dilakukan dengan
cara urine tengah. Urine diperiksa untuk mendeteksi tanda infeksi
saluran kemih dan zat yang ada dalam urine yang menandakan
suatu masalah.
1) Protein
105. Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika
protein ada dalam urine, hal ini menandakan adanya
kontaminasi sekret vagina, penyakit ginjal, serta hipertensi
pada kehamilan
2) Glukosa
106. Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa
dikatakan normal pada ibu hamil. Glukosa dalam jumlah
yang besar membutuhkan pemeriksaan gula darah
3) Keton
107. Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan
aktivitas yang berat atau pemasukan cairan dan makanan
yang tidak adekuat
4) Bakteri
108. Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan
infeksi saluran kemih yang bisanya terjadi pada ibu hamil
h. Sistem reproduksi
1) Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi putting dan
pengeluaran kolostrum perlu dicatat. Adanya benjolan dan

tidak simetris pada payudara membutuhkan pemeriksaan


lebih lanjut.
2) Organ reproduksi eksternal : Kulit dan membran mukosa
perineum, vulva dan anus perlu diperiksa dari eksiorisasi,
ulserasi, lesi, varises dan jarinagn parut pada perineum
3) Organ reproduksi internal
a) Serviks berwarna merah muda pada ibu yang tidak
hamil dan berwarna merah kebiruan pada ibu hamil
yang disebut tanda Chadwik.
b) Vagina :mengalami peningkatan pembuluh darah karena
pengaruh esterogen sehingga tampak makin merah dab
kebiru biruan.
c) Ovarium (indung telur) : dengan terjadinya kehamilan,
indung telur mengandung korpus luteum gravidarum
akan

meneruskan

fungsinya

sampai

terbentuknya

plasenta yang sempurna pada umur 16 minggu.


109.
B. Diagnosis Keperawatan
110.
Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak
dengan HIV / AIDS antara lain :
111.
1. Resiko infeksi
112.
113.
2. Kurang nutrisi
114.
115.
3. Kurangnya volume cairan
116.
117.
4. Gangguan intregitas kulit
118.
119.
5. Perubahan atau gangguan membran mukosa
120.
121.
6. Ketidakefektifan koping keluarga
122.
123.
7. Kurangnya pengetahuan keluarga
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.

C. Intervensi
132.

Diagnosa

133.

Tujuan

Keperawatan
139. Devisit volume

140.

Volume cairan klien terpenuhi 1. Observasi

cairan

selama

yang

berhubungan dengan
ruptur

pada

lokasi

implantasi

sebagai

efek

tindakan

pembedahan

134.
137.

diberikan

tindakan

Perencanaan Keper
Rencana Tindakan
TTV

dan

observasi tanda akut

keperawatan dengan kriteria :


abdoment
1. Tanda-tanda vital yang stabil 2. Pantau
input
dan
2. Pengisian kapiler cepat,
output cairan
3. Sensorium tepat,
141.
4. Frekuensi berat jenis urine
3. Lakukan pendekatan
adekuat.
kepada pasien dan
keluarga
4. Berikan

penjelasan

mengenai

kondisi

pasien saat ini


142.
5. Periksa kadar Hb
143.
144.
6. Kolaborasi dengan tim
medis

untuk

penanganan
146.

Perubahan

perfusi

jaringan

147.

Gangguan

tidak

terjadi

perfusi

selama

lanjut
jaringan 1. Observasi tanda vital,
dilakukan

kaji pengisian kapiler,

dengan

warna kulit/membrane

berhubungan dengan

tindakan

penurunan komponen

kriteria:
mukosa, dasar kuku.
1. Tanda-tanda vital stabil
148.
2. Membrane mukosa warna 2. Catat keluhan rasa

seluler
perlukan

yang

di
untuk

pengiriman nutrient ke
sel

keperawatan

lebih

merah muda
3. Pengisian kapilerbaik
4. Haluaran urine adekuat
5. Wajah tidak pucat

dingin,

pertahankan

suhu lingkungan dan


tubuh hangat sesuai
indikasi.
149.
150.
151.
152.
3. Kolaborasi dengan tim
medis yang lain, awasi

pemeriksaan

lab:

misalnya: HB/HT
153.

Nyeri

yang

154.

Nyeri klien berkurang atau 1. Tentukan sifat, lokasi

berhubungan dengan

terkontrol selama dilakukan tindakan

dan durasi nyeri. Kaji

ruptur

keperawatan dengan kriteria :


1. ibu
dapat

kontraksi

uterus

hemoragi

ataunyeri

tuba

pendarahan

falopi,

mendemonstrasikan

intraperitonial.

teknik

relaksasi
2. tanda-tanda vital dalam batas
normal (TD : 120/80 mmHg,
Nadi 60-100 x/menit, RR : 1624 x/menit)
3. ibu tidak

155.

tekan abdomen.
156.
157.
158.
159.

atau

160.

menunjukan raut muka yang

161.

kesakitan.

162.

meringis

2. Kaji steres psikologi


ibu/pasangan
respons

dan

emosional

terhadap kejadian
163.
164.
3. Berikan
lingkungan
yang

tenang

aktivitas

untuk

menurunkan
nyeri.
klien

dan
rasa

Instruksikan
untuk

menggunakan metode
relaksasi,
napas
visualisasi

misalnya:
dalam,
distraksi,

dan jelaskan prosedur.


4. Berikan narkotik atau
sedative berikut obatobat praoperatif bila

prosedur pembedahan
diindikasikan
5. Siapkan

untuk

prosedur bedah bila


168.

Kurangnya

pengetahuan

yang

berhubungan dengan
kurang

pemahaman

atau tidak mengenal


sumber-sumber
informasi

169.
selama

Klien

terdapat indikasi
........... 1. Jelaskan tindakan dan

terpenuhi
dilakukan

tindakan

keperawatan dengan kriteri :


1. Ibu
berpartisipasi

dalam

proses belajar
2. Ibu mampu mengungkapkan
dalam

istilah

sederhana

mengenai patofisiologi dan


implikasi klinis.

rasional

yang

ditentukan

untuk

kondisi hemoragia.
170.
171.
172.
2. Berikan
bagi

kesempatan
ibu

untuk

mengaji\ukan
pertanyaan

dan

mengungkapkan
kesalah konsep
173.
174.
175.
3. Diskusikan
kemungkinan implikasi
jangka ependek pada
ibu/janin dari kedaan
pendarahan
176.
4. Tinjau ulang implikasi
jangka

panjang

terhadap situasi yang


memerlukan

evaluasi

dan

tindakan

tambahan.
177.