Anda di halaman 1dari 4

Terjun Payung

Terjun payung juga dikenal dengan skydiving adalah aktivitas yang terjun dari
sebuah pesawat terbang yang melibatkan parasut yang dapat dibentangkan.

Sejarah Terjun Payung


Pada abad ke-15, Leonardo Da
Vinci, pembuat lukisan Mona Lisa yang
legendaris itu, pernah membuat sketsa
yang menggambarkan perlengkapan
untuk melakukan terjun payung. Tapi
seperti banyak konsep yang pernah
dibuatnya, rancangan konsep peralatan
terjun payung itu pun belum pernah
direalisasikannya menjadi kenyataan.
Diduga parasut ini dirancang sebagai
alat keselamatan saat terjadi musibah,
misalnya kebakaran, pada bangunan
tinggi. Karena sketsa itulah Leonardo Da Vinci bisa dianggap sebagai salah satu
pionir dalam rancangan konsep parasut untuk terjun payung. Parasut yang
dirancangnya itu berbentuk segitiga.
Satu abad setelah Leonardo Da Vinci merancang konsep parasut, seorang
berkebangsaan Italia, Fausto Veranzio, telah merancang parasut yang berbeda dari
konsep yang dibuat oleh Leonardo. Meskipun idenya masih bermula dari impian
seniman besar tersebut. Konsep Fausto itu dituangkannya dalam buku tentang
mekanika yang berjudul Machinae Nova. Buku yang diterbitkan pada tahun 1595 di
Venesia ini memuat 40 sketsa beberapa rancangan mesin dan peralatan. Beberapa dari
sketsa itu ada yang menggambarkan aksi manusia melakukan terjun payung dengan
menggunakan parasut berbentuk segi empat. Dan pada tahun 1617, Fausto Veranzio
berhasil mewujudkan parasut rancangannya itu dengan melakukan uji coba terjun
payung dari sebuah menara di kota Venesia. Tapi beberapa literatur mengatakan
bahwa sebenarnya Fausto tidak pernah mewujudkan konsep parasutnya itu menjadi
sebuah kenyataan.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh Leonardo Davinci dan Fausto Veranzio
untuk mengembangkan pembuatan parasut telah dilanjutkan oleh Andre Jacques
Garnerin dari Perancis. Pria yang lahir pada tanggal 31 Januari 1769 ini banyak
mempelajari bidang fisika sebelum bergabung dalam dinas milter Perancis. Selama
beberapa tahun kemudian Garnerin tertarik pada balon berudara panas yang
dikembangkan untuk tujuan militer. Selama menjadi tawanan perang di Hungaria,
Garnerin mulai melakukan beberapa percobaan untuk mengembangkan parasut. Dia

berhasil menyelesaikan rancangannya itu pada tahun 1797. Sebuah parasut berbentuk
bundar dengan diameter 23 kaki.
Seperti konsep dari Leonardo dan Fausto, parasut buatan Garnerin ini juga
masih dilengkapi dengan kerangka sehingga bentuknya masih mirip payung yang kita
gunakan untuk melindungi diri dari terik matahari atau air hujan.
Pada tanggal 22 Oktober 1797
Garnerin menguji coba parasut buatannya
itu dengan melompat dari sebuah balon
udara yang melayang pada ketinggian 975
meter diatas kota Paris. Meskipun parasut
tersebut gagal mengendalikan hempasan
aerodinamik
udara
yang
membuat
peluncuran Garnerin tidak terkendali, tetapi
akhirnya dia berhasil mendarat dengan
selamat. Keberhasilan itu membuat Garnerin
menjadi manusia pertama yang berhasil
menggunakan parasut dengan melakukan
lompatan dari sebuah benda terbang yang
melayang di angkasa. Dan pada tahun 1799,
istri Garnerin (Jeanne-Genevieve Garnerin)
menjadi wanita pertama yang berhasil
melakukan aksi terjun payung.
Terjun payung yang dilakukan oleh Garnerin masih menggunakan keranjang
sebagai tempat duduk pengendara parasut. Parasutnya pun masih menggunakan
kerangka sehingga disebut dengan istilah parasut kaku (Vented Parachute). Orang
yang pertama kali berhasil membuat parasut tanpa kerangka yang selanjutnya dikenal
sebagai parasut lemas (Limp Parachute) adalah Tom Baldwin dari Amerika pada
tahun 1897. Dan pada tahun 1919, Leslie Irvin yang juga berasal dari Amerika yang
pertama kali berhasil membuat parasut yang dapat dikendalikan.
Untuk selanjutnya terjun dari ketinggian di udara dengan menggunakan
parasut banyak dilibatkan pada operasi militer. Setelah mengalami banyak hambatan,
akhirnya pada tahun 1950 terjun payung diakui dunia sebagai salah satu cabang
olahraga yang juga menjadi sarana rekreasi. Sedangkan kejuaraan dunia olahraga
terjun payung yang pertama kali diadakan di Yugoslavia pada tahun 1951. Cabang
olahraga yang satu ini terus menyebar keseluruh dunia dan menjadi hobi yang sangat
menantang. Parasut pun dikembangkan dengan spesifikasi dan fungsi yang makin
canggih.

Cara Kerja Parasut


Parasut merupakan alat yang
digunakan untuk memperlambat gerakan
suatu objek di udara dengan menciptakan
hambatan udara (drag) . Drag di dapat dari
luas permukaan parasut, jadi semakin luas
parasut maka semakin besar beban yang
bisa di bawanya.
Ada dua jenis parasut. Parasut
berbentuk kubah (dome canopy ).Yang
kedua berbentuk segi empat yang biasanya
di gunakan untuk olah raga paralayang.
Bahan untuk membuat parasut
pertama kali adalah kanvas tetapi saat ini
bahan untuk membuat parasut yang
populer adalah nilon karena lebih elastis,
lebih tahan, dan cukup murah.
Sebuah parasut paralayang terdiri dari dua permukaan paralel yang kuat dan
saling dihubungkan dengan lembaran-lembaran vertikal. Bagian ini disebut ribs. Pada
ribs terdapat lubang yang disebut crossport. Fungsinya, penyeimbang tekanan dan
memudahkan parasut mengembang. Ribs membagi tubuh parasut menjadi beberapa
sel yang ditandai dengan dua tali yang menjulur di masing-masing sisinya. Setiap sel
mempunyai anak yang jumlahnya bisa satu, dua, tiga atau lebih, tergantung dari jenis
parasut. Sisi depan yang merupakan pintu sel ada leading edge. Sisi belakangnya
disebut trailing edge. Pada permukaan bawah parasut atau intrados terdapat tali-tali
yang menjulur ke bawah. Gabungan dari tali-tali itu disebut riser. Dan riser inilah
yang akan dihubungkan dengan harness. Ada dua kelompok tali yang dihubungkan
dengan stabilizer, disebut brake atau tali kemudi (control line). Ujung dari tali kemudi
dinamakan togel. Di tangan tali kemudi ini kontrol gerak parasut dan rem difungsikan.

Teknik Terjun Payung

Dalam dunia militer, terjun payung adalah hal yang wajib bisa dilakukan oleh
semua personil. Terjun payung secara harfiah adalah pengiriman personil, peralatan,
dan pasokan dari transportasi pesawat terbang dengan menggunakan parasut.
Pada dasarnya terbagi menjadi dua teknik:
1.
HALO (High Altitude Low Opening), terjun pada ketinggian yang tinggi
dan membuka parasut pada ketinggian rendah. Teknik ini biasa
digunakan untuk misi khusus atau penyusupan.
2.
HAHO (High Altitude High Opening), membuka parasut pada
ketinggian tinggi hanya beberapa detik setelah jumping dari pesawat
terbang. Dikenal sebangai Militer Free Falls (MFF). Teknik ini biasa
digunakan untuk misi pendudukan atau penyerbuan daerah lawan.

Dalam
HALO

terjun
atau HAHO
personil
diangkut
sampai
ketinggian
antara
25.000 kaki

35.000 kaki
sebelum
melakukan
penerjunan.
Apabila
terjun
pada
ketinggian
lebih
dari 22.000
kaki,
penerjun
dilengkapi
dengan
helm sejenis
helm
pesawat
tempur
yang mampu
menyuplai
oksigen dan
dilengkapi dengan GPS sebagai kompas untuk mengatur dimana posisi mendarat yang
akan dikehendaki.