Anda di halaman 1dari 3

Hofstedes Cultural Dimensions

Hofstede membagi budaya menjadi empat dimensi. Keempat dimensi budaya


menurut Hofstede adalah sebagai berikut:
1. Power Distance/Jarak Kekuasaan
Menurut Hofstede, power distance merupakan tingkat kepercayaan atau
penerimaan dari suatu power/kekuasaan tertentu yang tidak seimbang dalam
suatu organisasi/golongan. Hal ini terjadi karana perbedaan status social,
gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang dan lain
sebagainya.
Bagi Negara yang memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima
hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Ciri ciri Negara
yang memiliki power distance yang tinggi adalah orang orang/bawahan akan
mematuhi atasannya secara blindly, centralisasi/terpusat, memiliki struktur
yang tinggi. Contoh Negara Negara yang memiliki power distance yang
tinggi adalah Meksiko, Korea Selatan, India, Amerika Latin, Perancis, Spanyol
dan Negara Negara di Asia dan Afrika.
Sedangkan bagi Negara yang memiliki power distance yang rendah cenderung
untuk melihat persamaan di antara mereka dan focus pada status yang
dicapai daripada status yang disandang oleh seseorang. Ciri ciri Negara yang
memiliki power distance yang rendah adalah struktur desentralisasi serta
flatter dan rasio lebih kecil dari atasan ke bawahannya (subordinat pemimpin
terbatas). Contoh Negara Negara yang memiliki power distance rendah
adalah Austria, Firlandia, Irlandia, sebagian Negara Barat USA dan Inggris.
Jadi, power distance adalah jarak kekuasaan akan menentukan atau
mempengaruhi

setara

atau

tidaknya

seseorang

dalam

suatu

organisasi/golongan. Power distance ditentukan oleh status social, pendidikan


dan pekerjaan.
2. Uncertainty Avoidance
Dimensi budaya kedua menurut Hofstede adalah uncertainty avoidance yang
membahas

mengenai

bagaimana

suatu

budaya

berkaitan

dengan

ketidakpastian dan ambiguitas dan bagaimana mereka beradaptasi terhadap


suatu perubahan.
Negara Negara yang memiliki uncertainty avoidance besar, cenderung
menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari resiko dan
menghandalkan peraturan formal dan juga ritual, yakin pada para ahli dan

pengetahuan mereka dan kurangnya pengambilan resiko manajerial. Selain


itu, tingkat kepercayaan mereka terhadap orang lain sangatlah kurang.
Kepercayaan hanya akan diberikan kepada keluarga dan teman terdekat. Sulit
bagi seorang negotiator dari luar menjalin hubungan dan memperoleh
kepercayaan dari mereka. Contoh Negara Negara yang memiliki uncertainty
avoidance besar adalah Jerman, Jepang dan Spanyol.
Sedangkan Negara Negara dengan uncertainty avoidance rendah (memiliki
toleransi yang tinggi pada ketidak pastian), mereka lebih bias menerima
resiko, dapat memecahakan masalah, memiliki struktur organisasi yang flat,
memiliki

toleransi

terhadap

ambiguitas,

kegiatan

organisasi

kurang

terstruktur, peraturan tertulis lebih sedikit, pengambilan resiko manajerial


tinggi, tingginya tingkat pergantian karyawan dan karyawan lebih ambisius.
Akan lebih mudah bagi orang luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh
kepercayaan pada mereka yang memiliki tingkat uncertainty avoidance
rendah. Contoh Negara Negara dengan uncertainty avoidance rendah ialah
Denmark dan Inggris.
Jadi, uncertainty avoidance merupakan dimensi budaya yang membahas
mengenai ketidakpastian dan ambiguitas serta cara beradaptasi dengan
perubahan yang ada. Kita tidak dapat memprediksikan apa yang akan terjadi
esok hari ataupun di masa yang akan datang. Ketidakpastian tersebut harus
dihadapi dan kita juga harus dapat beradaptasi terhadap perubahan yang
mungkin terjadi akibat dari ketidakpastian tersebut.
3. Individualism vs Collectivism
Individualisme merupakan suatu tingkatan dimana individu terintegrasi ke
dalam suatu kelompok. Dari sisi individualism kita melihat bahwa adanya
ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk
mengurus dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya.
Kolektivisme merupakan lawan dari individualisme dimana kita melihat
bahwa sejak lahir setiap kita secara tidak langsung telah terintegrasi ke dalam
suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga jauh juga turut terlibat dalam
merawat sanak saudara dan kerabat.
Ciri ciri Negara yang menganut budaya individualism adalah wealthier/kaya,
protestant work ethic, inisiatif individu lebih besar, promosi berdasarkan nilai
pasar. Contoh Negara yang menganut individualism adalah AS, Kanada,
Swedia.
Sedangkan ciri ciri Negara yang menganut dimensi budaya kolektivisme
adalah poorer/miskin, kurang mendukung protestant work ethic, kurangnya

inisiatif individu, promosi berdasarkan senioritas. Contoh Negara yang


menerapkan kolektivisme adalah Indonesia dan Pakistan.
Jadi, dimensi budaya individualism mengharapkan bahwa setiap masyarakat
dapat mengurus dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya. Sedangkan
kolektivisme, setiap masyarakat tidak hanya mengurus/berhubungan dengan
keluarga dekat saja melainkan dengan keluarga jauh mereka serta orang
orang di sekitar mereka (menjalin ikatan di masyarakat).
4. Masculinity vs Femininity
Masculinity femininity merupakan konsep budaya yang lebih menekankan
pada nilai nilai prilaku seperti sikap tegas, prestasi kerja, kemampuan dan
kemahiran, menolong orang lain dan lain sebagainya.
Feminitas menurut Hofstede diartikan sebagai keadaan yang lebih memilih
hubungan yang lebih dari sekedar uang, membantu orang yang lemah,
kualitas pelayanan lingkungan hidup dan kecil itu indah. Sedangkan
maskulinitas diartikan sebagai preferensi pada kesuksesan, uang, kompetisi
dan material. Feminitas dan maskulinitas menurut Hofstede merupakan dua
kondisi psikologis yang berada pada kutub yang berlawanan.
Ciri ciri Negara yang memiliki tingkat maskulinitas tinggi ialah stress earning,
menginginkan adanya pengakuan yang layak, memiliki kesempatan untuk
maju ke tingkat pekerjaan yang lebih tinggi, adanya pekerjaan yang
menantangan untuk berprestasi, kekayaan, dan high job stress. Negara yang
menganut makulinitas adalah Negara Negara Jerman.
Sedangkan ciri ciri Negara yang memiliki tingkat feminitas tinggi ialah
menekankan

untuk

kerjasama/bekerja

merawat

baik

dengan

orang

lain

dan

kualitas

orang

lain,

ramah,

hidupnya,

keamanan

kerja,

pengambilan keputusan secara kelompok dan low job stress. Contoh Negara
yang menganut budaya feminitas adalah Norwegia.
Jadi, budaya maskulinitas lebih menonjolkan ketegasan dan kompetitif.
Sedangkan feminitas lebih kepada kesopanan dan perhatian.

Referensi:
http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/kerangka-hofstede/
https://www.scribd.com/doc/98954365/Geert-Hofstede
https://www.scribd.com/doc/98954365/Geert-Hofstede