Anda di halaman 1dari 36

Laporan Problem Solving Cycle

PENATALAKSANAAN INFEKSI SALURAN NAFAS AKUT


(ISPA) DI PUSKESMAS MASARAN DUA
KABUPATEN SRAGEN

Disusun oleh:
Kelompok 489 B
Dian Fikri Rachmawan

G99141053

Syifa Nurul Asma

G99141055

Surya Dewi Primawati

G99141058

Biltinova Arum Miranti

G99141059

Gresmita Rindi Winarti

G99141060

KEPANITERAAN SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN

TATALAKSANA INFEKSI SALURAN NAFAS AKUT (ISPA) DI


PUSKESMAS MASARAN DUA
KABUPATEN SRAGEN
Disusun Oleh :
Kelompok 489 B
Dian Fikri Rachmawan

G99141053

Syifa Nurul Asma

G99141055

Surya Dewi Primawati

G99141058

Biltinova Arum Miranti

G99141059

Gresmita Rindi Winarti

G99141060

Telah diperiksa, disetujui, dan disahkan pada :


Hari

: Jumat

Tanggal

: 2 Januari 2015

Mengetahui,
Pembimbing Problem Solving Cycle

Dr. H. Endang Sutisna Sulaeman, dr., M.Kes


NIP. 19560320 198312 1 002

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan

berkat-Nya

sehingga

kami

dapat

menyelesaikan

laporan

kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Sukoharjo.


Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh
kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UNS / RSUD Dr.
Moewardi Surakarta.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Dr. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., PhD selaku Kepala Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
2. Dr. H. Endang Sutisna Sulaeman, dr., M.Kes selaku Pembimbing PSC.
3. Seluruh staf yang bertugas di Puskesmas Masaran 2 yang telah membantu
kami mencari data yang kami perlukan.
Penulis menyadari dalam laporan ini masih banyak kekurangan dan
kekeliruan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sangat kami harapkan demi perbaikan penulisan laporan ini. Semoga apa yang
telah penulis susun dapat bermanfaat bagi banyak pihak dan dapat menjadi bahan
informasi yang berguna.
Surakarta,

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. i
Lembar Pengesahan.......................................................................................... ii
Kata Pengantar.................................................................................................. iii
Daftar Isi ....................................................................................................... iv
Daftar Tabel...................................................................................................... v
Daftar Gambar.................................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................... 3
C. Manfaat................................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan pustaka................................................................................... 5
BAB III PENETAPAN PRIORITAS MASALAH
A. Pengumpulan dan Pengolahan Data...................................................... 13
B. Pemilihan Prioritas Masalah................................................................. 14
C. Analisis SWOT..................................................................................... 15
BAB IV PENETAPAN PRIORITAS JALAN KELUAR
A. Alternatif Jalan Keluar.......................................................................... 22
B. Pemilihan Prioritas Jalan Keluar........................................................... 24
BAB V PLAN OF ACTION............................................................................. 28
BAB VI PROBLEM SOLVING CYCLE......................................................... 30
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan............................................................................................... 31
B. Saran..................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 32
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar 10 besar kunjungan penyakit di Puskesmas Masaran 2 dari bulan
Juni hingga November 2014
Tabel 2. Skoring Pan American Health Organization (PAHO) prioritas jumlah
kunjungan penyakit di Puskesmas Masaran 2 dari Juni hingga
November 2014
Tabel 3. Analisis SWOT masalah ISPA di Puskesmas Masaran 2
Tabel 4. Penyebab dan alternatif pemecahan masalah
Tabel 5. Pemilihan Prioritas Jalan Keluar dengan Teknik CARL
Tabel 6. Rencana Pelaksanaan Kegiatan (Plan Of Action) Tatalaksana ISPA di
Puskesmas Masaran 2

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Siklus Manajemen Masalah Kesehatan
Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah
Gambar 3. Problem Solving Cycle (PSC) Tatalaksana ISPA di Puskesmas
Masaran 2 Kabupaten Sragen

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit menular dalam Riskesdas 2013 berdasarkan media atau
cara penularan yaitu: 1) melalui udara (Infeksi Saluran Pernafasan Akut/
ISPA, pneumonia, dan TB paru); (2) melalui makanan, air dan lainnya
(hepatitis, diare); (3) melalui vektor (malaria). Sedangkan penyakit tidak
menular merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke
orang. Penyakit tersebut meliputi: (1) asma; (2) penyakit paru obstruksi
kronis (PPOK); (3) kanker; (4) DM; (5) hipertiroid; (6) hipertensi; (7)
jantung koroner; (8) gagal jantung; (9) stroke; (10) gagal ginjal kronis;
(11) batu ginjal; (12) penyakit sendi/ rematik.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi akut
yang menyerang salah satu bagian/lebih dari saluran napas mulai hidung
sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura)
(Kemenkes RI, 2012). ISPA merupakan penyakit saluran pernapasan atas
atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai
spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi
ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada
patogenitas penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. ISPA juga
didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan
oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia (WHO,
2007).
ISPA menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit
menular di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap
tahun, 98%-nya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah.
Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut
usia, terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan
menengah. Bakteri adalah penyebab utama infeksi saluran pernapasan
bawah, dan Streptococcus pneumonia di banyak negara merupakan
7

penyebab paling umum pneumonia yang didapat dari luar rumah sakit
yang disebabkan oleh bakteri. Namun demikian, patogen yang paling
sering menyebabkan ISPA adalah virus, atau infeksi gabungan virusbakteri. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri
tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas.
Cara penularan utama sebagian besar ISPA adalah melalui droplet, tapi
penularan melalui kontak (termasuk kontaminasi tangan yang diikuti oleh
inokulasi tak sengaja) dan aerosol pernapasan infeksius berbagai ukuran
dan dalam jarak dekat bisa juga terjadi untuk sebagian patogen (WHO,
2007).
Lima provinsi di Indonesia dengan period prevalence ISPA
tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh
(30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Menurut
Riskesdas 2007, Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi
dengan ISPA. Period prevalence ISPA Indonesia menurut Riskesdas 2013
(25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%). Karakteristik penduduk
dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun
(25,8%). Menurut jenis kelamin, tidak berbeda antara laki-laki dan
perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada kelompok penduduk
dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah dan menengah bawah.
(Riskesdas, 2013). ISPA dapat terjadi pada semua usia dan diketahui
bahwa ISPA mempunyai kontribusi 28% sebagai penyebab kematian pada
bayi < 1 tahun dan 23% pada anak balita (1 - < 5 th) dimana 80%-90%
dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan oleh pneumonia. ISPA
sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan anak balita ini diduga
karena penyakit ini merupakan penyakit yang akut dan kualitas
penatalaksanaannya belum memadai (Dinkes, 2008).
Mengingat pentingnya penanggulangan ISPA, maka diperlukan
analisis masalah berdasarkan metode problem solving cycle untuk
menyelesaikan masalah ISPA di Puskesmas Masaran II Kabupaten Sragen.

B. Tujuan Kegiatan
1. Tujuan Umum
Untuk penyusunan rencana operasional program pencegahan dan
pemberantasan penyakit ISPA (P2 ISPA) di Puskesmas Masaran 2
Kabupaten Sragen dengan Problem Solving Cycle (PSC).
2. Tujuan Khusus
a. Memecahkan masalah ISPA di Puskesmas Masaran 2 Kabupaten
Sragen.
b. Mengetahui faktor-faktor biologis, fisik, ekonomi, sosial, dan
budaya yang mungkin berpengaruh terhadap masalah kesehatan
tersebut.
c. Untuk mengetahui alternatif intervensi yang bisa dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut.
d. Untuk mengetahui kekuatan sumber daya internal organisasi.
e. Untuk mengetahui peluang dan ancaman dari luar puskesmas.
f.

Untuk mengetahui intervensi prioritas yang bisa dilakukan untuk


mengatasi masalah tersebut.

g. Untuk dapat menyusun plan of action (POA).


h. Untuk

dapat

menerapkan

rencana

serta

langkah-langkah

pelaksanaan POA.
i.

Untuk mengetahui bagaimana mengimplementasikan POA.

j.

Untuk mengetahui bagaimana evaluasi monitoring outcome.

k. Untuk mengetahui apakah masalah sudah selesai.


l.

Untuk mengetahui apakah ada masalah yang tersisa.

m. Untuk mengetahui apakah timbul masalah baru.


C. Manfaat Kegiatan
1. Mampu memecahkan masalah ISPA di Puskesmas Masaran 2
Kabupaten Sragen.

2. Mampu mengetahui faktor-faktor biologis, fisik, ekonomi, sosial, dan


budaya yang mungkin berpengaruh terhadap masalah kesehatan
tersebut.
3. Mengetahui kekuatan sumber daya internal organisasi.
4. Mengetahui peluang dan ancaman dari luar puskesmas.
5. Mengetahui alternatif intervensi yang bisa dilakukan untuk mengatasi
masalah tersebut.
6. Mengetahui intervensi prioritas yang bisa dilakukan untuk mengatasi
masalah tersebut.
7. Mampu menyusun POA.
8. Mampu menerapkan rencana serta langkah-langkah intervensi/
melakukan POA.
9. Mengetahui bagaimana mengimplementasikan POA.
10. Mengetahui bagaimana evaluasi monitoring outcome.
11. Mengetahui apakah masalah sudah selesai.
12. Mengetahui apakah ada masalah yang tersisa.
13. Mengetahui apakah timbul masalah baru.

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Masalah kesehatan adalah gangguan kesehatan yang dinyatakan dalam
ukuran kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas). Menurut Blum dalam
Sulaeman (2014) faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan terdiri dari (1)
faktor lingkungan (environtmen factor) yang meliputi : fisik, biologis, kimiawi,
sosial, budaya, politik, ekonomi dan sebagainya; (2) faktor perilaku kesehatan
(health behaviour factor) yaitu sikap dan gaya hidup; (3) faktor program dan
pelayanan kesehatan (program and health service factor); serta (4) faktor genetika
/ keturunan (hereditery factor). Keempat faktor ini saling mempengaruhi.
Masalah kesehatan masyarakat merupakan masalah-masalah yang muncul
di dalam masyarakat berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat itu sendiri.
Dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat, diperlukan manajemen
masalah kesehatan yaitu suatu proses dan upaya untuk mengoptimalkan masukan
(input) sumber daya melalui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen: perencanaan
(P1), penggerakan dan pelaksanaan (P2), serta pengawasan, pengendalian dan
penilaian (P3) untuk mengatasi kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan
apa yang menjadi kenyataan dibidang kesehatan untuk memenuhi kebutuhan dan
keperluan pelanggan / klien dan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan
organisasi layanan kesehatan.
Manajemen masalah kesehatan adalah suatu proses dan upaya dalam
rangka pemecahan asalah (problem solving). Pemecahan masalah adalah
melakukan apa yang kita ketahui dan kuasai ke dalam tindakan (putting what you
know and what you can do into action). Pemecahan masalah dilakukan melalui
tahapan-tahapan siklus pemecahan masalah (problem solving cycle).
Siklus manajemen masalah kesehatan sendiri terdiri dari (1) analisis
Situasi; (2) identifikasi Masalah dan Penyebabnya; (3) Penentuan Prioritas
Masalah; (4) Alternatif Pemecahan Masalah dan Penetapan Prioritas Pemecahan

11

Masalah; (5) Penetapan Tujuan; (6) Pembuatan Rencana Operasional (P1); (7)
Penggerakan dan Pelaksanaan (P2); (8) Monitoring, Controlling dan Evaluating
(Pengawasan, Pengendalian, Penilaian/P3).
Analisis
Situasi
Evaluating

Identifikasi
Masalah
Prioritas
Masalah

Controlling

Penetapan
Tujuan

Monitoring
Penggerakan
dan
Pelaksanaan

Alternatif Pemecahan
Masalah
Rencana Operasional

Gambar 1. Siklus Manajemen Masalah Kesehatan


(Sumber: Sulaeman, 2014)
Siklus pemecahan masalah terdiri dari (1) penetapan masalah kesehatan

Peneta
Memili
alternatif intervensi, (4) pembuatanpan
rencana kerja (plan of action), (5)
h
implementasi intervensi (pelaksanaanMasala
POA), (6) monitoring dan evaluasi.
Masala
h
Monitor
h
Implem
Keseha
Memili
ing
dan
Keseha
entasi
tan
Pembu
h
Evalua
tan
Interve
Masyar
atan
Alterna
si
Masyar
nsi
akat
Renca
tif
akat
(Pelaks
na
Interve
Priorita
anaan
Kerja
nsi
Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah
s
POA)
(Plan
(Sumber: Sulaeman, 2014)
of
Menetapkan prioritas masalah dipandang amat penting, paling tidak ada
Action)
dua alasan, yaitu (1) karena keterbatasan sumber daya yang tersedia, sehingga
masyarakat, (2) memilih masalah kesehatan masyarakat prioritas, (3) memilih

12

tidak mungkin menyelesaikan semua masalah, (2) adanya hubungan antara satu
masalah dengan masalah lainnya. Penentuan prioritas masalah kesehatan
bertujuan untuk menentukan masalah atau gangguan kesehatan apa yang perlu
mendapat perhatian yang lebih besar daripada masalah kesehatan atau gangguan
kesehatan lainnya. Sedangkan menentukan prioritas program kesehatan adalah
menentukan intervesi kesehatan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi
atau menghilangkan masalah prioritas tersebut.
Menurut Sulaeman (2014) ada beberapa cara untuk menentukan prioritas
masalah kesehatan, antara lain teknik skoring, teknik non skoring, dan
mempertimbangkan trend/ kebijakan.

Teknik skoring yaitu memberikan nilai

(skore) terhadap masalah kesehatan masyarakat dengan menggunakan ukuran


(parameter) seperti :
1. Prevalensi penyakit (prevalence) atau besarnya masalah
2. Kenaikan atau meningkatnya prevalensi (rate of increase)
3. Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of
unmeet need)
4. Keuntungan sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasi (social
benefit)
5. Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasibility)
6. Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi
masalah (resources availability)
Contoh teknik skoring adalah PAHO. Teknik ini dikembangkan oleh
PAHO (Pan American Health Organization). Prioritas masalah kesehatan
ditentukan indikator indikator sebagai berikut :
1. Magnitude (M)
Menunjukkan berapa penduduk yang terkena masalah tersebut. Ini bisa
ditunjukkan oleh prevalens penyakit tersebut di masyarakat. Dalam hal ini
misalnya, magnitude ISPA pada Puskesmas Masaran 2 lebih besar daripada
Diare, sehingga dari segi magnitude, ISPA lebih penting daripada Diare.
2. Severity (S)
Menunjukkan tingkat keparahan dampak yang diakibatkan oleh masalah
kesehatan tersebut. Ini bisa ditunjukkan misalnya oleh CFR (case fatality
13

rate) penyakit yang bersangkutan atau oleh besarnya biaya yang diperlukan
untuk menanggulangi atau mengobatinya. Dalam hal ini, severity DM jauh
lebih besar daripada ISPA.
3. Vulnerability (V)
Menunjukkan apakah kita memiliki cara atau teknologi yang murah dan
efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Misalnya, hipertensi lebih
vulnerable dibandingkan ISPA, karena hipertensi dapat dicegah dengan pola
hidup sehat seperti olahraga yang teratur, dan diet yang berimbang.
4. Community concern (C)
Menunjukkan tingkat kehebohan yang ditimbulkan oleh masalah tersebut di
tengah masyarakat. Penyakit ISPA tentu lebih menghebohkan daripada tulang
belulang.
Ada beberapa kelemahan menggunakan cara ini, yaitu : (1) menentukan
siapa yang disebut sebagai ahli atau pakar, (2) orang akan bias terhadap masalah
yang dikuasainya, artinya pakar ISPA cenderung memberi skore yang tinggi untuk
masalah tersebut, (3) tanpa mengetahui data, akhirnya pakar tersebut juga akan
memberikan skore atas pertimbangan subyektif.
Teknik selanjutnya adalah dengan teknik non skoring. Dengan
menggunakan teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu
disebut Nominal Group Technique (NGT). Ada dua macam NGT, yaitu Delphi
Technique dan Delbeq Technique.
Delphi technique yaitu masalah masalah didiskusikan oleh sekelompok
orang yang mempunyai keahlian yang sama. Melalui diskusi tersebut akan
menghasilkan otoritas masalah yang disepakati bersama. Adapun caranya adalah
pertama mengidentifikasi masalah yang hendak/perlu diselesaikan, selanjutnya
membuat kuesioner dan menetapkan para ahli, kuesioner dikirim kepada para ahli,
kemudian menerima kembali jawaban kuesioner yang berisikan ide dan alternatif
solusi penyelesaian masalah, pembentukan tim khusus untuk merangkum seluruh
respon yang muncul, kemudian menetapkan skala prioritas alternatif solusi yang
dianggap terbaik.

14

Delbeq Technique diperkenalkan oleh Andre Delbeque. Adapun caranya


adalah sebagai berikut : peringkat masalah ditentukan oleh sekelompok ahli yang
berjumlah 6 8 orang. Kemudian dituliskan masalah yang akan ditentukan
prioritasnya dalam white board. Masing masing orang menuliskan peringkat
prioritas masalah. Nilai peringkat untuk setiap masalah dijumlahkan, jumlah
paling kecil berarti mendapat peringkat tinggi.
Salah satu metode penentuan prioritas masalah program kesehatan yakni
dengan menggunakan metode Harlon. Metode ini memperhitungkan empat aspek
yaitu : besar masalah, berat/tingkat kegawatan, kemudahan penanggulangan, dan
pearl factor. Metode ini mudah dan hasilnya relevan. Pearl faktor terdiri dari
beberapa faktor yang saling menentukan dapat atau tidaknya suatu program
dilaksanakan. Faktor faktor tersebut meliputi :
1. P: Propriate (kesesuaian dengan program nasional/ program daerah/
2.
3.
4.
5.

kesepakatan dunia)
E : Economic (secara ekonomi kegiatan tersebut, murah untuk dilaksanakan)
A : Acceptability (dapat diterima oleh masyarakat, pemerintah daerah)
R : Resources ( tersedianya sumber daya untuk menunjang kegiatan tersebut)
L : Legality ( dasar/ landasan secara hukum/ etika kedokteran/ kesehatan)
Selain metode Harlon, cara lain untuk penentuan prioritas masalah

program kesehatan yakni dengan teknik kriteria matriks, mempertimbangkan


trend/ kecenderungan kebijakan, MDGs periode 2004-2015, paradigma
pembangunan berpusat pada penduduk (people centered development), komitmen
global, dan komitmen nasional.
Untuk menentukan prioritas masalah suatu penyakit di masyarakat,
diperlukan data yang lengkap mengenai jumlah populasi, jumlah kasus baru dan
kasus lama akibat suatu penyakit di masyarakat, jumlah kematian akibat suatu
penyakit, fasilitas yang tersedia di pelayanan kesehatan, pendapat masyarakat
mengenai suatu penyakit, dan proses pengobatan suatu penyakit.
Apabila penyebab timbulnya masalah telah diuraikan dengan baik dan
telah dipilih penyebab masalah dominan, maka pengambil keputusan akan
15

menetapkan alternatif alternatif pemecahan masalah. Untuk mengambil


keputusan yang baik dibutuhkan urutan tindakan sebagai berikut :
1. Pernyataan keputusan
Langkah pertama dalam pemecahan masalah adalah penjelasan maksud/
tujuan dari keputusan tersebut. Keputusan dari suatu sistem pemecahan
masalah adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai oleh pengambil
keputusan, agar masalah yang dihadapi dapat dipecahkan.
2. Alternatif pemecahan masalah
Tindakan berbagai alternatif pemecahan masalah atau langkah
langkah

yang

dapat

diambil

dalam

pemecahan

masalah

dengan

mengemukakan keuntungan dan kerugiannya setiap alternatif tersebut. Dalam


merumuskan pemecahan masalah dipergunakan metode Pohon Alternatif,
karena metodenya mudah namun hasilnya relevan.
a. Pohon alternatif adalah teknik untuk mengidentiikasi alternatif
pemecahan masalah atau arah tindakan yang dapat dipakai untuk
mewujudkan sasaran kegiatan tertentu dan meragakan informasi ini
dalam format yang sederhana
b. Setiap pohon alternatif untuk setiap jenis kegiatan yang akan
diselesaikan/ dipcahkan masalahnya
c. Berdasarkan hasil pnetapan prioritas masalah kesehatan, tetapkan
kegiatan

yang

akan

menjadi

prioritas

diselesaikan/

dipecahkan

masalahnya.
d. Tuliskan kembali yang tercantum pada pohon masalah atau diagram
tulang ikan ( mulai dari akibat sampai dengan masalah spesifik yang akan
diselesaikan masalahnya ) dengan pernyataan kalimat yang positif
( terbalik pernyataannya).
e. Untuk masalah pokok dan masalah spesifik yang dituliskan hanya akan
diselesaikan masalahnya saja (jadi harus terkait antara masalah pokok
dengan masalah spesifik )
f. Melalui teknik curah pendapat,

tim kecil dengan memperhatikan/

mempertimbangkan pada matriks Ragpie, format SWOT, sumber data


lain yang terkait, pengamatan dan pengalaman serta arahan kebijakan
pembangunan nasional dan daerah, serta kesepakatan global, tetapkan

16

tiga

prioritas

kegiatan

yang

akan

dilaksanakan

dalam

rangka

memecahkan masalah tersebut.


g. Hasil kegiatan ini akan menjadi masukan bagi penyusunan rencana
kegiatan yang akan datang.
Untuk menetapkan prioritas pemecahan masalah kesehatan digunakan
teknik analisis pilihan prioritas pemecahan masalah yaitu untuk memilih satu dari
beberapa penyebab masalah atau memilih satu dari beberapa alternatif pemecahan
masalah. Teknik analisis pilihan prioritas pemecahan masalah yang lazim
digunakan antara lain teknik USG dan CARL.
Setelah dipilih prioritas penyakit yang paling utama dan dipilih solusi
alternatif yang paling sesuai, tahap selanjutnya adalah membuat plan of action.
Rencana tindakan dapat dibuat dengan menggunakan analisis SWOT (Strength,
Weakness, Opportunity, dan Threat). Strength dan weakness merupakan faktorfaktor yang berasal dari intra organisasi. Sedangkan opportunity dan threat berasal
dari luar organisasi.
Untuk selanjutnya dilakukan implementasi dari rencana yang telah dibuat
berdasarkan analisis masalah tersebut. Implementasi ini merupakan sebuah proses
kegiatan yang dilakukan di masyarakat untuk menangani prioritas masalah
penyakit kemudian dilakukan solusi terhadap masalah tersebut berdasarkan
analisis masalah yang telah ditentukan sebelumnya.
Setelah dilakukan kegiatan untuk menangani masalah penyakit yang ada,
kemudian dilakukan evaluasi dan monitoring yang berguna untuk menilai
kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya apakah berjalan sesuai dengan
rencana dan untuk menilai apakah kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi
tujuan dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain itu monitoring berperan penting
di dalam keberlangsungan program dan kegiatan yang sudah berjalan agar tetap
terus terlaksana sampai mencapai tujuan yang diinginkan.

17

BAB III
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH
A. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Berdasarkan data yang dimiliki Puskesmas Masaran 2, Sragen, berikut
ini adalah daftar 10 besar penyakit di Puskesmas Masaran 2 berdasarkan
jumlah kunjungan baik pasien baru maupun pasien lama dari bulan Juni
hingga November 2014 :
Tabel 1. Daftar 10 besar kunjungan penyakit di Puskesmas Masaran 2 dari
bulan Juni hingga November 2014
No
.

Daftar Penyakit

Jumlah

Presentas

Kasus

e Penyakit

1.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

2107

37,29%

2.

Penyakit Tulang Belulang

937

16,58%

3.

Diare

607

10,74%

4.

Tukak Lambung

579

10,25%

5.

Hipertensi

427

7,55%

6.

Penyakt Kulit Alergi

291

5,15%

7.

Penyakit Kulit Infeksi

263

4,65%

8.

Konjungtivitis

159

2,81%

9.

Diabetes Melitus

125

2,21%

10.

Luka

63

1,11%

93

1,65%

5651

100%

Lain-lain
Jumlah

( Sumber: Puskesmas Masaran 2, 2014)


Berdasarkan data di atas, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
menempati urutan teratas dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Masaran 2
dari Juni hingga November 2014. Kemudian disusul dengan penyakit tulang
belulang.
18

B. Pemilihan Prioritas Masalah


Untuk mengetahui prioritas masalah kesehatan digunakan teknik skoring
Pan American Health Organization (PAHO) sebagai berikut:
Tabel 2. Skoring Pan American Health Organization (PAHO) prioritas jumlah
kunjungan penyakit di Puskesmas Masaran 2 dari Juni hingga November 2014
No

Penyakit

Total

1.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

900

2.

Penyakit Tulang Belulang

200

3.

Diare

840

4.

Tukak Lambung

480

5.

Hipertensi

735

6.

Penyakt Kulit Alergi

16

7.

Penyakit Kulit Infeksi

16

8.

Konjungtivitis

36

9.

Diabetes Melitus

588

10.

Luka

40

( Sumber: Analisis mahasiswa, 2014)


Hasil skoring Pan American Health Organization (PAHO) prioritas jumlah
kunjungan penyakit di Puskesmas Masaran 2 dari Juni hingga November
2014 menunjukkan ISPA menempati peringkat pertama dengan total skor 900.
Hal ini menunjukkan bahwa ISPA menjadi masalah yang pertama kali harus
diselesaikan.
ISPA mendapat poin 9 untuk magnitude karena ISPA menempati
prevslens tertinggi selama bulan Juni-November tahun 2014. Kemudian
mendapatkan poin 4 untuk severity karena case fatality rate (CFR) yang

19

diakibatkan oleh ISPA tidak terlalu tinggi dan biaya yang diperlukan untuk
menanggulangi ISPA tidak terlalu besar.
Pada criteria vulnerability, ISPA mendapat poin 5 karena cenderung
mudah diatasi namun memiliki cara yang cukup murah dan efektif untuk
mengatasi masalah tersebut. Berdasarkan perspektif masyarakat atau
community concern, ISPA mendapat poin 5 yang menunjukkan kehebohan
yang ditimbulkan oleh masalah tersebut di tengah masyarakat tidak terlalu
besar.
C. Analisis SWOT
Untuk

mengetahui

berbagai

faktor

yang

mendukung

serta

menghambat dari permasalahan cakupan penemuan ISPA, dilakukan kajian


secara seksama dengan analisis SWOT terhadap program P2 ISPA dengan
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Kekuatan
Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas
yang dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila dimanfaatkan akan
berperan besar dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh puskesmas untuk mencapai tujuan yang dimiliki oleh
puskesmas.
Puskesmas Masaran 2 memiliki tenaga kesehatan dengan tingkat
pendidikan yang baik seperti bidan, perawat, analis, dll. Selain itu juga
terdapat program promosi kesehatan (Promkes) yang ada di Puskesmas
Masaran 2 yang didukung oleh adanya pihak swasta (dokter praktek,
bidan, perawat) dapat menjadi kekuatan puskesmas dalam tatalaksana
ISPA melalui program MTBS (Manajemen tatalaksana balita sakit),
program penyuluhan posyandu balita dan lansia yang ada di setiap desa
dibawah binaan bidan desa, serta dapat melalui pertemuan para kader
posyandu dan penyuluhan mengenai PHBS.
2. Kelemahan

20

Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kelemahan yang bersifat


khas, yang dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila

diatasi akan

berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang


akan dilaksanakan oleh puskesmas tetapi juga dalam mencapai tujuan yang
dimiliki oleh puskesmas.
Kurangnya sumber daya manusia baik dokter, bidan, perawat, serta
kader posyandu mengakibatkan kurang optimalnya program promosi
kesehatan di Pusksmas Masaran 2, serta masih rendahnya partisipasi
masyarakat membuat gerakan PHBS yang dapat menjadi tindakan
preventif terhadap penyebaran virus masih kurang digalakkan. Motivasi
tenaga kesehatan masih kurang untuk memberikan informasi dan
pelayanan gizi kepada ibu balita. Metode penyampaian informasi
mengenai gizi dan penyakit ISPA masih kurang menarik. Kurang
optimalnya tatalaksana ISPA sesuai langkah MTBS oleh tenaga kesehatan.
3. Kesempatan
Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif
yang dihadapi oleh suatu puskesmas yang apabila dapat dimanfaatkan
akan besar peranannya dalam mencapai tujuan puskesmas.
Puskesmas Masaran 2 memiliki penduduk dengan rata-rata
pendidikan terakhir SMA. Hal ini dapat dijadikan kesempatan memberikan
pendidikan mengenai ISPA agar membantu menjadi kader untuk
pengendalian ISPA pada masyarakat lain. Puskesmas dapat menjaring
pihak swasta untuk bekerja sama melakukan tatalaksana ISPA. Bidan yang
menolong persalinan dapat memberikan edukasi kepada ibu yang baru
melahirkan tentang pentingnya ASI eksklusif bagi imunitas anak. Adanya
kesempatan di setiap posyandu balita untuk memberikan penyuluhan
tentang pentingnya pemantauan status gizi dan PHBS dalam kaitannya
dengan keajadian ISPA pada balita. Lingkungan sekolah juga dapat
dijadikan mitra dalam deteksi dini balita dengan ISPA dan pencegahan
penularan ISPA diantara siswa. Posyandu lansia dapat digerakan sebagai
deteksi dini dan penyuluhan tentang ISPA terhadap lansia. Posyandu di
21

Wilayah kerja Puskesmas Masaran 2 tersebar merata, sarana untuk


melakukan program balita sehat.
4.

Ancaman
Ancaman (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang
dihadapi oleh suatu puskesmas yang apabila berhasil diatasi akan besar
peranannya dalam mencapai tujuan puskesmas.
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Masaran 2 yang
sangat padat. Pengetahuan masyarakat tentang ASI eksklusif masih
kurang. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya tindakan preventif
masih rendah sehingga gerakan PHBS masih banyak diabaikan.
Masyarakat dewasa cenderung meremehkan ISPA yang dideritanya.
Interaksi sosial antar siswa di sekolah juga bisa menyebabkan penularan
ISPA kebalita dan orang tua di sekitarnya. Pengetahuan masyarakat
tentang tatalaksana ISPA juga masih minim.

22

Tabel 3. Analisis SWOT masalah ISPA di Puskesmas Masaran 2


Kekuatan (S)
Kelemahan (W)
1. Puskesmas
memiliki
tenaga 1. Ketenagaan Puskesmas belum sesuai standar
kesehatan
dengan
tingkat
ketenagaan Puskesmas (kurangnya sumber
pendidikan yang baik.
daya manusia baik dokter, bidan, perawat, dan
2. Program Promkes yang didukung
kader posyandu).
oleh adanya pihak swasta (dokter 2. Kurang optimalnya program promosi kesehatan
praktek, bidan, perawat) melalui
di Pusksmas Masaran 2
program MTBS ISPA, program 3. Motivasi tenaga kesehatan masih kurang
penyuluhan posyandu balita dan
untuk
memberikan
informasi
dan
lansia yang ada di setiap desa
pelayanan gizi kepada ibu balita.
dibawah binaan bidan desa, serta 4. Metode penyampaian informasi mengenai gizi
dapat melalui pertemuan para
dan penyakit ISPA masih kurang menarik.
kader posyandu dan penyuluhan 5. Kurang optimalnya tatalaksana ISPA sesuai
mengenai PHBS.
langkah MTBS oleh tenaga kesehatan.
Peluang (O)
Strategi SO
Strategi WO
1. Puskesmas memiliki penduduk 1. Pemberian edukasi kepada masyarakat melalui 1.Penambahan jumlah kader melalui pelatihan terhadap
masyarakat.
dengan
rata-rata
pendidikan
penyuluhan dan promosi kesehatan.
2. Pemanfaatan program promosi kesehatan di 2. Melakukan pendekatan secara personal melalui kader-kader
terakhir SMA.
posyandu balita dan lansia oleh para kader
gizi agar keluarga dapat lebih memperhatikan kondisi balita
2. Puskesmas
dapat
menjaring
dibawah binaan bidan desa melalui
dan anggota keluarga yang lain saat terserang ISPA.
pihak swasta untuk bekerja sama
penyuluhan tentang tatalaksana ISPA dan 3. Revitalisasi program posyandu dan lokakarya pencegahan
melakukan tatalaksana ISPA.
PHBS.
ISPA kepada kader bidang gizi dan penyakit infeksi
3. Adanya kesempatan di setiap
posyandu
balita
untuk 3. Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan oleh
tenaga kesehatan kepada siswa sekolah.
memberikan penyuluhan tentang
pentingnya pemantauan status
gizi dan PHBS dalam kaitannya
dengan keajadian ISPA pada
balita.
4. Lingkungan sekolah juga dapat

23

dijadikan mitra dalam deteksi


dini balita dengan ISPA dan
pencegahan
penularan
ISPA
diantara siswa.
5. Posyandu lansia dapat digerakan
sebagai
deteksi
dini
dan
penyuluhan
tentang
ISPA
terhadap lansia.
6. Posyandu
di
Wilayah
kerja
Puskesmas Masaran 2 tersebar
merata, sarana untuk melakukan
program balita sehat.
Ancaman (T)
Strategi ST
Strategi WT
1. Jumlah penduduk di wilayah kerja 1. Penyebaran bidan desa dan kader tersebar 1.Pelatihan kader untuk menutupi kekurangan sumber daya
secara merata di semua posyandu dan PKD
manusia di Puskesmas.
Puskesmas
Masaran
2
yang
tiap desa.
2.Menjadikan sekolah sebagai mitra dalam deteksi dini anak
sangat padat.
2. Adanya sosialisasi dan penyuluhan
dengan ISPA dan pencegahan penularan ISPA diantara
2. Kesadaran masyarakat tentang
siswa.
mengenai penyakit ISPA, tatalaksana, dan
pentingnya tindakan preventif
cara mencegahnya.
3. Melakukan penyuluhan tentang pentingnya ASI eksklusif
masih rendah sehingga gerakan 3. Sosialisasi PHBS untuk mencegah ISPA
bagi imunitas anak sebagai upaya preventif terhadap ISPA
PHBS masih banyak diabaikan.
pada balita melalui posyandu
3. Masyarakat dewasa cenderung
meremehkan
ISPA
yang
dideritanya.
4. Interaksi sosial antar siswa di
sekolah juga bisa menyebabkan
penularan ISPA kebalita dan orang
tua di sekitarnya.
5. Pengetahuan masyarakat tentang
tatalaksana ISPA juga masih

24

minim
6. Masih
rendahnya
partisipasi
masyarakat membuat gerakan
PHBS yang dapat menjadi tindakan
preventif terhadap penyebaran
virus masih kurang digalakkan.

(Sumber: Analisis Mahasiswa, 2014)

25

BAB IV
PENETAPAN PRIORITAS JALAN KELUAR

A. ALTERNATIF JALAN KELUAR


Dari prioritas masalah tersebut perlu disusun alternatif pemecahannya
dengan terlebih dahulu menggali penyebab dari berbagai masalah tersebut.
Berikut adalah tabel kemungkinan penyebab dan alternatif masalah ISPA yang
ada di Puskesmas Masaran 2.
Tabel 4. Penyebab dan Alternatif Pemecahan Masalah
No
1.

Penyebab masalah
Kurangnya

pengetahuan

Alternatif pemecahan

masalah
masyarakat Memberikan

mengenai ISPA, mulai dari penyebab, penyuluhan dan edukasi


pencegahan, gejala, bahaya, penyebaran, kepada
dan pengobatannya.

masyarakat

tentang

penyebab,

gejala,

bahaya,

penyebaran,
pencegahan, pengobatan
2.

ISPA.
Penatalaksanaan kasus balita dengan Edukasi
ISPA di Posyandu wilayah Puskesmas penatalaksanaan
Masaran 2 masih kurang optimal.

3.

dengan

ISPA

balita
kepada

kader posyandu.
Keberadaan Posyandu masih kurang Revitalisasi
program
dimanfaatkan dalam pencegahan serta posyandu dan lokakarya
penanganan kasus ISPA.

pencegahan
kepada
gizi

4.

kader
dan

ISPA
bidang
penyakit

infeksi.
Keterbatasan sumber daya manusia yang Mengadakan lokakarya
ahli

MTBS

mengakibatkan

optimalnya program MTBS.

kurang peningkatan tatalaksana


MTBS kepada petugas
26

No

Penyebab masalah

Alternatif pemecahan
masalah
kesehatan dan gizi di

5.

puskesmas.
Interaksi sosial balita sehat dengan Menjadikan

PAUD

balita yang menderita ISPA di PAUD mitra dalam deteksi dini


yang cukup tinggi.

balita dengan ISPA dan


pencegahan
ISPA

6.

diantara

PAUD .
Rendahnya ASI Ekslusif di wilayah Melakukan
Puskesmas Masaran 2.

penularan
siswa

pendidikan

tentang pentingnya ASI


eksklusif bagi imunitas
anak

sebagai

upaya

preventif terhadap ISPA


pada
7.

Kesadaran

masyarakat

balita

melalui

posyandu.
tentang Mengadakan

pentingnya tindakan preventif masih penyuluhan dan lebih


rendah sehingga banyak masyarakat masih menggalakkan program
mengabaikan gerakan PHBS.

PHBS terutama dalam


tatanan rumah tangga

8.

Kurangnya

kepedulian

dan sekolah.
keluarga Melakukan pendekatan

terhadap gejala ISPA pada balita dan secara personal melalui


anggota keluarga lain.

kader-kader gizi agar


keluarga

dapat

lebih

memperhatikan kondisi
balita

dan

anggota

keluarga yang lain saat


terserang ISPA.
(Sumber: Analisis Mahasiswa, 2014)

27

B. PEMILIHAN PRIORITAS JALAN KELUAR


Alternatif pemecahan masalah diatas apabila dilaksanakan diharapkan
dapat menurunkan kejadian ISPA pada balita. Namun, untuk melaksanakan
pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Untuk itu
perlu dipilih prioritas pemecahan masalah yang paling sesuai untuk
Puskesmas Masaran 2. Pemilihan tersebut dengan menggunakan teknik
analisis pilihan prioritas pemecahan masalah yaitu untuk memilih satu dari
beberapa penyebab masalah atau memilih satu dari beberapa alternatif
pemecahan masalah. Teknik analisis pilihan yang lazim digunakan antara lain
teknih USG dan CARL. Dalam kasus ini digunakan teknik CARL.
Pemilihan prioritas ini dilakukan dengan menggunakan skala penilaian
yang didasarkan pada :
C

= Capability (kemampuan)

: Kekuatan yang dimiliki dari sumber

daya.
A

= Accessibility (kemudahan)

: Masalah/penyebab masalah mudah

diatasi (ketersediaan metode/cara/teknologi dan penunjang


pelaksanaannya seperti peraturan, petunjuk, pelaksanaan).
R

= Readyness (kesiapan)

: Kesiapan tenaga pelaksana

(keahlian/kemampuan) dan motivasi (kemauan).


L

= Leverage (Daya ungkit/Pengaruh): Besarnya pengaruh yang satu


dengan yang lain secara langsung maupun tidak langsung dalam
proses manajemen masalah kesehatan
Pembobotan CARL : 5-4-3-2-1 (Sulaeman, 2014).

28

Tabel 5. Pemilihan Prioritas Jalan Keluar dengan Teknik CARL


No
1.

Aspek
Memberikan penyuluhan dan

C
5

A
4

R
3

L
5

Kumulatif
17

Ranking
1

15

14

11

14

16

13

edukasi kepada masyarakat


tentang penyebab, gejala,
bahaya, pencegahan, pengobatan
2.

ISPA.
Edukasi penatalaksanaan balita
dengan ISPA kepada kader

3.

posyandu.
Revitalisasi program posyandu
dan lokakarya pencegahan ISPA
kepada kader bidang gizi dan

4.

penyakit infeksi.
Mengadakan lokakarya
peningkatan tatalaksana MTBS
kepada petugas kesehatan dan

5.

gizi di puskesmas.
Menjadikan PAUD mitra dalam
deteksi dini balita dengan ISPA
dan pencegahan penularan ISPA

6.

diantara siswa PAUD.


Melakukan edukasi tentang
pentingnya ASI eksklusif bagi
imunitas anak sebagai upaya
preventif terhadap ISPA pada

7.

balita melalui posyandu.


Mengadakan penyuluhan dan
lebih menggalakkan program
PHBS terutama dalam tatanan

8.

rumah tangga dan sekolah.


Melakukan pendekatan secara
personal melalui kader-kader

29

No

Aspek
gizi agar keluarga dapat lebih

Kumulatif

Ranking

memperhatikan kondisi balita


dan anggota keluarga yang lain
saat terserang ISPA.
(Sumber: Analisis Mahasiswa, 2014)
Berdasarkan teknik CARL diatas maka urutan prioritas pemecahan
masalah adalah sebagai berikut:
1. Memberikan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat tentang
penyebab, gejala, bahaya, pencegahan, pengobatan ISPA.
2. Melakukan edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif bagi imunitas
anak sebagai upaya preventif terhadap ISPA pada balita melalui
posyandu.
3. Edukasi penatalaksanaan balita dengan ISPA kepada kader posyandu.
4. Revitalisasi program posyandu dan bentuk kaderisasi bidang gizi dan
penyakit infeksi.
5. Menjadikan PAUD mitra dalam deteksi dini balita dengan ISPA dan
pencegahan penularan ISPA diantara siswa PAUD.
6. Melakukan pendekatan secara personal melalui kader-kader gizi agar
keluarga dapat lebih memperhatikan kondisi balita dan anggota
keluarga yang lain saat terserang ISPA.
7. Mengadakan lokakarya peningkatan tatalaksana MTBS kepada
petugas kesehatan dan gizi di puskesmas.
8. Mengadakan penyuluhan dan lebih menggalakkan program PHBS
terutama dalam tatanan rumah tangga dan sekolah.

30

BAB V
PLAN OF ACTION
Tabel 6. Rencana Pelaksanaan Kegiatan (Plan Of Action) Tatalaksana ISPA di Puskesmas Masaran 2
No.

Kegiatan

1.

Sosialisasi
dan
edukasi kepada
masyarakat
tentang penyebab,
gejala,
pencegahan dan
pengobatan ISPA.
Melakukan
edukasi tentang
pentingnya ASI
ekslusif
bagi
imunitas
anak
sebagai
upaya
preventif terhadap
ISPA pada balita
melalui posyandu
Menjadikan
sekolah sebagai
mitra deteksi dini
ISPA pada siswa

2.

3.

Tujuan
dan
Target
Masyarakat
dapat
mengetahui
tentang
penyakit ISPA
dengan benar.
Target 90%
Masyarakat mengetahui pentingnya
ASI ekslusif
bagi balita.
Target 90%.

Sasaran
Biaya (besaran
Populasi
dan sumber)
Perwkilan - Perlengkapan :
anggota
Rp 700.000, 00
keluarga.

Tempat
Seluruh
posyandu
di
Puskesmas
Masaran 2

Ibu hamil - Perlengkapan : Seluruh


Ibu
Rp 700.000, 00 posyandu
di
menyusui
Puskesmas
Masaran 2

Waktu

Penanggungjaw
ab/ Pelaksana
Januari - Dokter
2015 - Bidan desa
- Kader
dari
masing

masing
posyandu

Rencana
Ket
Penilaian
Penurunan
jumlah kasus
ISPA

Januari - Bidan desa


Penurunan
2015 - Kader
dari jumlah kasus
masing
ISPA pada
balita
dan
masing
peningkatan
posyandu
status
gizi
pada balita

Menambah - Seluruh - Perlengkapan : Seluruh


Januari - Dokter
pengetahuan
siswa
Rp 700.000, 00 sekolah di 2015 - Bidan desa
siswa tentang sekolah.
Kecamatan
ISPA,
Masaran 2.

Tanya jawab
seputar ISPA
kepada
siswa.

31

No.

Kegiatan

Tujuan
dan Sasaran
Target
Populasi
melalui
diharapkan
pemeriksaan
para
siswa
kesehatan
dan nantinya
penyuluhan.
dapat bertukar
informasi
dengan
anggota
keluarganya
yang lain.
Target 90%

Biaya (besaran Tempat


dan sumber)

Waktu

Penanggungjaw
ab/ Pelaksana

Rencana
Penilaian

Ket

32

BAB VI
PROBLEM SOLVING CYCLE

Sumber dana

Optimalnya peran posyandu dan


PKD sebagai pemantau status
gizi dan kesehatan masyarakat
di wilayah Puskesmas Masaran
2

Penurunan angka kejadian ISPA

Monitoring oleh Petugas


Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit dan pengelolaan MTBS
di Puskesmas
Pihak swasta sebagai
mitra
Koordinasi dengan
tim Promosi
Kesehatan dalam
perencanaan
tatalaksana

Peningkatan pengetahuan dan


kesadaran masyarakat akan
ISPA dan kesehatan anggota
keluarga secara umum
Memberikan penyuluhan dan
edukasi kepada masyarakat
tentang penyebab, gejala,
bahaya, pencegahan,
pengobatan ISPA

Gambar 3. Problem Solving Cycle (PSC) Penatalaksanaan ISPA di Puskesmas


Masaran 2 Kabupaten Sragen

33

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan SWOT Puskesmas Masaran 2 periode
Juni November 2014 menujukkan bahwa ISPA merupakan salah satu
penyakit paling banyak yang terjadi. Kejadian ini dikarenakan pengetahuan
masyarakat tentang penyakit ISPA masih kurang serta peran serta posyandu
masih belum optimal terutama dalam tatalaksana banyaknya kasus ISPA pada
balita di wilayah Puskesmas Masaran 2.
Berdasarkan analisis PSC, alternatif pemecahan masalah untuk
tatalaksana ISPA adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang ISPA,
mulai dari tindakan pencegahan, gejala, penyebaran dan pengobatannya
melalui penyuluhan kepada masyarakat dan revitalisasi posyandu sebagai
pemantau kesehatan terutama untuk balita yang tergolong masih rendah sistem
imunitasnya dengan lokakarya kader dibidang gizi dan penyakit menular, serta
lebih menggalakakkan program PHBS terutama dalam tatanan rumah tangga
dan sekolah.
B. SARAN
1. Puskesmas
a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tentang ISPA pada
dengan penyuluhan di masyarakat.
b. Revitalisasi program Posyandu di wilayah Puskesmas Masaran 2
dengan lokakarya kader dibidang gizi dan penyakit menular.
c. Pelaksanaan program PHBS terutama dalam tatanan rumah tangga dan
sekolah
2. Dinas Kesehatan Kabupaten
Lebih fokus dalam penanganan penyakit menular terutama ISPA dengan
penyusunan rencana tatalaksana ISPA di wilayah Kabupaten Sragen
melalui lokakarya kepada petugas kesehatan di Puskesmas.
34

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,Umar F. 2006. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta.
Azwar, A. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Tangerang : Bina Rupa
Aksara.
Dinkes. 2008. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2008. Semarang: Dinkesjateng
Kemenkes RI. 2012. Pedoman pengendalian Infeksi saluran pernapaan akut.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan penelitian dan
pengembangan kesehatan Kemenkes RI.
Sulaeman ES. 2014. Manajemen masalah kesehatan masyarakat dan manajemen
strategi organisasi layanan kesehatan. Surakarta:UNS Press.
WHO. 2007. Infection prevention and control of epidemic-and pandemic-prone
acute respiratory diseases in health care. Jenewa : WHO Interim
Guidelines.

35

LAMPIRAN

36