Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI DENGAR

1.

MASALAH UTAMA
Gangguan persepsi sensori: Halusinasi dengar

II. PROSES TERJADINYA MASALAH


A. Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang
dialami oleh pasien gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi tanpa
stimulus yang nyata. (Keliat, Akemat, Helena, & Nurhaeni, 2011)
Halusinasi dengar merupakan persepsi sensori yang salah terhadap
stimulus dengar eksternal yang tidak mampu di identifikasi (Beck dan
Wiliam, 1980).
Halusinasi dengar merupakan adanya persepsi sensori pada
pendengaran individu tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata (Stuart
dan Sundeen, 1984).
B. Tanda dan gejala
Perilaku pasien yang teramati adalah sebagai berikut
1.

Melirikan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa
yang sedang berbicara.

2.

Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak


sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel, tembok dll.

3.

Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang


tidak tampak.

4.

Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang


menjawab suara.

C. Penyebab
Isolasi sosial menarik diri
1.

Pengertian

Menarik diri merupakan gangguan dengan menarik diri dan orang


lain yang di tandai dengan isolasi diri (menarik diri) dan perawatan
diri yang kurang.
2.

Penyebab
a.

Perkembangan
Sentuhan,perhatian,kehangatan dari keluarga yang
mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan
dengan klien tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri.

b.
3.

Harga diri rendah

Tanda dan gejala


Tanda gejala menarik diri dapat dilihat dari berbagai aspek antara
lain
a.

Aspek fisik
1) Penampilan diri kurang.
2) Tidur kurang.
3) Keberanian kurang.

b.

Aspek emosi
1) Bicara tidak jelas.
2) Merasa malu.
3) Mudah panik.

c.

Aspek sosial
1)

Duduk menyendiri

2) Tampak melamun
3) Tidak peduli lingkungan
4) Menghindar dari orang lain
d.

Aspek intelektual
1) Merasa putus asa
2) Kurang percaya diri

D. Akibat
Resiko mencederai orang lain dan diri sendiri
1.

Pengertian

Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan


yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya maupun orang lain
di sekitarnya (Town send, 1994)
2. Penyebab

3.

a.

Halusinasi

b.

Delusi

Tanda dan gejala


a.

Adanya peningkatan aktifitas motorik

b.

Perilaku aktif ataupun destruktif

c.

Agresif

III. POHON MASALAH


Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain

Gangguan persepsi sensori : halusinasi dengar

Isolasi sosial : menarik diri

IV. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


A. Data Obyektif
Apakah klien terdapat tanda dan gejala seperti di bawah ini
1.

Melirikan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa
yang sedang berbicara

2.

Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak


sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel,tembok dll

3.

Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang


menjawab suara

4.

Tidur kurang/terganggu

5.

Penampilan diri kurang

6.

Keberanian kurang

7.

Bicara tidak jelas

8.

Merasa malu

9.

Mudah panik

10. Duduk menyendiri.


11. Tampak melamun.
12. Tidak peduli lingkungan.
13. Menghindar dari orang lain.
14. Adanya peningkatan aktifitas motorik.
15. Perilaku aktif ataupun destruktif.
B. Data Subyektif
Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara tanpa ada wujud yang
tampak.
V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan
gangguan persepsi sensori: Halusinasi dengar.
B. Gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar berhubungan dengan adanya
isolasi sosial : menarik diri.
VI. FOKUS INTERVENSI .
A. Diagnosa 1 . Resiko menciderai diri sensiri dan orang lain berhubungan
dengan gangguan sensori : Halusinasi dengar .
TUM

Klien tidak menciderai orang lain .

TUK

: 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan


kriteria hasil:
1) Ekspresi wajah bersahabat.
2) Menunjukan rasa senang.
3) Ada kontak mata atau mau jabat tangan.
4) Mau menyebutkan nama.

5) Mau menyebut dan menjawab salam.


6) Mau duduk dan berdampingan dengan perawat.
7) Mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi:
1.

Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik.

2.

Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal.

3.

Perkenalkan diri dengan sopan.

4.

Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.

5.

Jelaskan tujuan pertemuan.

6.

Jujur dan menepati janji.

7.

Tunjukan sikap empati dan terima klien apa adanya.

8.

Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuan dasar klien.

Rasionalisasi: Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk


kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.
TUK

: 2. Klien dapat mengenal halusinasi dengan kriteria hasil:


1) Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya
halusinasi.
2) Klien dapat mengungkapkan perasaanya terhadap
halusinasi.

Intervensi :
1.

Bantu klien mengenal halusinasinya.


1) Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apa yang
sedang terdengar.
2) Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu namun
perawat sendiri tidak melihatnya.
3) Katakan bahwa klien lain juga yang seperti klien.
4) Katakan bahwa perawat siap membantu klien.

2.

Diskusikan dengan klien


1) Situasi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi.
2) Waktu dan frekuensinya terjadi halusinasi.

3.

Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi.

TUK

: 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya dengan kriteria hasil :


1) Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengendalikan halusinasinya.
2) Klien dapat menyebutkan cara baru.
3) Klien dapat memilih cara yang telah dipilih untuk
mengendalikan halusinasi.
4) Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok.

Intervensi:
1. Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
Rasional: merupakan upaya untuk memutus siklus halusinasi.
2. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri
pujian. Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri
klien.
3. Diskusikan cara baru untuk mengontrol timbulnya halusinasi.
1) Katakan saya tidak mau dengar kamu
2) Menemui orang lain untuk bercakap-cakap.
3) Melihat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasi tidak sempat
muncul.
4) Meminta perawat /teman/keluarga untuk menyapa jika klien
melamun. Rasional: memberi alternative pikiran bagi klien
4. Bantu klien melatih dan memutus halusinasi secara bertahap.
Rasional: Memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk
mencoba memilih salah satu cara pengendalian halusinasi.
5. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi
hasilnya dan beri pujian jika berhasil
6. Anjurkan klien untuk mengikuti TAK, orientasi realita.
7. Rasional: Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi
realita klien.
TUK

: 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol


halusinasinya dengan kriteria hasil:

1) Klien dapat menjalin hubungan saling percaya dengan


perawat
2) Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan
tindakan untuk mengendalikan halusinasi
Intervensi:
1. Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga sedang halusinasi.
Rasional: untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol
halusinasi.
2. Diskusikan dengan keluarga tentang
1). Gejala halusinasi yang dialami klien.
2). Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus
halusinasi.
3). Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri
kegiatan jangan biarkan sendiri.
4). Beri informasi tentang kapan pasien memerlukan bantuan.
Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang halusinasi.
TUK

: 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik. Dengan kriteria hasil:


1) Klien dan keluarga mampu menyebutkan manfaat, dosis
dan efek samping
2) Klien dapat menginformasikan manfaat dan efek
samping obat
3) Klien dapat memahami akibat pemakaian obat tanpa
konsultasi
4) Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar pengunaan
obat.

Intervensi:
1.

Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan


manfaat obat.

2.

Anjurkan klien untuk minta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya.

3.

Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat obat dan efek
samping obat yang dirasakan.
Rasional ; dengan mengetahui efek samping obat klien tahu apa yang
harus dilakukan setelah minum obat.

4.

Diskusikan bahayanya obat tanpa konsultasi.


Rasional: Pengobatan dapat berjalan sesuai dengan rencana.

5.

Bantu klien menggunakan prinsip lama benar.


Rasional: dengan mengetahui prinsip maka kemandirian klien tentang
pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap.

DAFTAR PUSTAKA

Boyd dan Nihart. 1998. Psichiatric Nursing & Contenporary Practice . I Edition.
Philadelphia: Lippincot
Carpenito , L. J. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Schultz dan Videback. 1998. Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th Edition.
Philadelphia: Lippincott
Keliat , A. B. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Keliat, B. A., Akemat, Helena, N., & Nurhaeni, H. (2011). Keperawatan
Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: EGC.
Stuart dan Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta: EGC
Townsend. 1995. Nursing Diagnosis In Psychiatric Nursing a Pocket Guide For
Care Plan Construction. Edisi 3. Jakarta: EGC