Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Kehilangan gigi geligi adalah suatu permasalahan yang harus ditangani


dengan cermat oleh seorang dokter gigi. Pada kondisi gigi geligi yang tidak
lengkap dapat dijumpai suatu perubahan oklusi antara gigi geligi rahang atas
dengan gigi geligi rahang bawah. Kondisi oklusi akan menjadi tidak serasi
sehingga proses mastikasi akan terganggu dan makanan tidak diproses dengan
baik dalam rongga mulut. Hal ini tentu sangat berdampak pada sistem pencernaan.
Ketidakseimbangan

oklusi

juga

akan

berdampak

pada

kondisi

sendi

temporomandibular (TMJ). Jumlah gigi geligi yang tidak sama antara tiap regio
akan menyebabkan ketidakseimbangan kerja sendi temporomandibular sehingga
tekanan yang diterima kedua sendi ini pun menjadi tidak seimbang. Gangguan
sendi temporomandibular akan semakin meningkat pada kasus kehilangan gigi
yang cukup banyak.
Kasus kehilangan gigi geligi menurut ilmu prostodonsia dapat diatasi
dengan pembuatan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat. Dahulu hanya
dilakukan pemasangan kembali gigi yang sudah tanggal tersebut ke tempat semula
atau ke mulut orang

lain.

Pengembalian gigi

ini

dilakukan

dengan

mengikatkannya ke gigi yang masih ada di rongga mulut menggunakan benang


atau kawat logam. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu
prostodonsia pun mengalami kemajuan dengan ditemukannya inovasi-inovasi

yang lebih baik dengan hasil yang memuaskan. Gigi tiruan lepasan dan gigi tiruan
cekat sudah semakin dikenal serta digunakan untuk mengganti fungsi gigi geligi
asli secara estetik dan fungsional.
Pembuatan gigi tiruan baik lepasan maupun cekat tidak hanya terpusat
pada pergantian gigi yang telah hilang, melainkan juga melestarikan jaringan yang
masih ada. Hal ini dapat dicapai dengan mengembalikan oklusi dalam kondisi
yang serasi dan fungsional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
meniru pergerakan mandibula saat proses pembuatan gigi tiruan di laboratorium.
Artikulator merupakan alat yang dirancang untuk memenuhi upaya tersebut.
Dengan demikian dokter gigi dapat menganalisa model studi dan mengetahui
berbagai pembenahan yang dapat dilakukan terhadap gigi geligi dan jaringan yang
ada untuk mencapai oklusi yang optimal.

BAB II
DEFINISI DAN SEJARAH ARTIKULATOR

2.1 Definisi Artikulator


Artikulator adalah alat mekanik tempat ditanamkannya model maxilla dan
mandibula yang mewakili sendi temporomandibular (TMJ) dan komponen rahang
untuk meniru beberapa atau keseluruhan simulasi pergerakan mandibula.
Artikulator sangat berperan untuk mendapatkan hasil perawatan yang maksimal
baik dalam proses restorasi maupun pembuatan gigi tiruan.

Gambar 1. Artikulator dan komponennya.

2.2 Sejarah Artikulator


Artikulator pertama kali dirancang oleh Philip Pfaff pada tahun 1756 dan
artikulator ini disebut plaster articulator. Plaster articulator dibuat dengan
melakukan penambahan plaster gypsum di bagian distal model rahang atas dan
rahang bawah. Groove dibentuk pada ekstensi plaster di kedua model. Pada tahun
1805, JB Gariot memperkenalkan artikulator mekanik yang disebut barn door
hinge articulator. Artikulator ini dilengkapi dengan lengan 90 derajat yang
berbentuk huruf L dan lengan ini menyatukan penanaman model rahang atas dan
rahang bawah. Adaptable barn door hinge articulator adalah jenis artikulator
berikutnya yang dibuat untuk melengkapi barn door hinge articulator. Artikulator
ini tidak hanya dapat meniru gerakan membuka dan menutup sendi, tetapi juga
memiliki anterior vertikal stop.

Gambar 2. Plaster articulator.

Gambar 3. Barn door hinge articulator.

Gambar 4. Adaptable barn door hinge articulator.

James Cameron adalah orang pertama yang memiliki hak paten terhadap
articulator pada tahun 1840. Pada tahun 1850 Tomas W. Evanz memiliki hak paten
kedua terhadap articulator temuannya yang disebut the occluder.

Gambar 5. Articulator milik James Cameron.

The new century and modified new century articulator merupakan artikulator
yang didesain oleh George. B. Snow pada tahun 1906 yang melengkapi
articulator Grifman (1899). Artikulator ini dibuat dengan adjustable condylar.
Pada tahun 1910, the gysi adaptable articulator diperkenalkan, namun articulator
ini memiliki harga yang cukup mahal sehingga gysi simplex articulator dibuat
pada tahun 1914 untuk memenuhi permintaan dengan harga yang lebih
terjangkau.

Gambar 6. The occlude.

Perkembangan produksi artikulator terus berlanjut pada tahun 1918 oleh


George Manson dengan pembuatan maxillomandibular instrument. The Stephan
articulator dikembangkan pada tahun 1921, artikulator ini mirip dengan griot
hinge articulator. The Stephan articulator memiliki fixed condylar inclination dan
memungkikan arbitrary lateral movement.

Gambar 7. Gysi articulator.

Rudolf C. Hanau mengembangkan penelitian artikulator pada tahun 1921 yang


disebut Hanau model C articulator. Pada tahun 1923, Rudolf C. Hanau juga
mengembangkan articulator lain yang disebut Hanau model H kinescope
articulator. Beberapa produk artikulator Hanau lainnya, meliputi Hanau model H
110 (1922-1923), Hanau model H 110 modified (1927) dan Hanau crown and

bridge articulator. Selai jenis-jenis artikulator Hanau, terdapat juga jenis


articulator semi adjustable dentatur ARL dan dentatus ARO articulator.
Articulator full adjustable meliputi whip-mix articulator dan denar model D4A
articulator.

BAB III
PEMBAHASAN DASAR ARTIKULATOR

3.1 Fungsi Artikulator


Fungsi artikulator, meliputi:1
1) Artikulator berperan sebagai pengganti keberadaan pasien, karena artikulator
dapat mewakili pergerakan rahang pasien dan hubungan maxilla dan
mandibula.
2) Membantu analisa model untuk diagnosa, perawatan dan gambaran
pergerakan rahang pasien.
3) Persiapan permukaan oklusal untuk restorasi gigi.
4) Membantu proses penyusunan gigi artificial dalam proses pembuatan protesa
gigi tiruan sebagian maupun full lepasan.

3.2 Syarat Artikulator


Persyaratan yang harus dipeuhi suatu alat artikulator, meliputi:1
1) Artikulator harus dapat mengatur secara akurat posisi yang benardari posisi
horizontal dan vertikal model rahang.
2) Model rahang harus dapat dilepaskan dan dipasang kembali dengan mudah
pada artikulator tanpa merupah posisi sentriknya.
3) Artikulator harus memiliki incisal guide pin dengan positive stop yang dapat
disesuaikan. Hal ini akan menjadi kontrol bagi dimensi vertikal oklusi model
rahang pasien.

4) Artikulator harus dapat bergerak membuka dan menutup seperti pergerakan


sendi rahang.
5) Artikulator harus dapat menerima transfer facebow yang sama dan sesuai
dengan hubungan maxilla pasien dengan axis pembukaan TMJ.
6) Konstruksi artikulator harus akurat, rigid dan terbuat dari noncorrosive
material.
7) Desain artikulator tidak boleh terlalu tebal dan berat.
8) Desain artikulator harus memiliki ruang yang cukup antara bagian penempatan
rahang atas dan rahang bawah.
9) Condylar guide harus memungkinkan pergerakan lateral kanan, lateral kiri dan
pergerakan protusif.
10) Condylar guide harus dapat disesuaikan secara horizontal.

3.3 Manfaat Artikulator


Manfaat artikulator, antara lain;
1) Artikulator akan memberikan visualisasi oklusi pasien dengan lebih baik,
terutama dari pandangan lingual.
2) Memudahkan operator dalam proses penyusunan gigi dalam pembuatan
protesa gigi tiruan sebagian maupun full lepasan.
3) Penyesuaian oklusi di dalam mulut pasien cukup sulit, oleh karena itu
penggunaan artikulator akan memudahkan proses ini sebelum disesuaikan
kembali dimulut pasien.
4) Mempersingkat waktu dalam proses pembuatan gigi tiruan.

3.4 Klasifikasi Artikulator

10

Terdapat beberapa klasifikasi artikulator, meliputi klasifikasi artikulator


berdasarkan fungsi alat dan kemampuan alat, berdasarkan Charles M. Heartwell Jr
dan Arthur. O. Rahn serta berdasarkan desain oleh Boncher. Namun, secara umum
artikulator dapat dibagi dalam artikulator non anatomis dan artikulator anatomis.
Contoh artikulator non anatomis adalah simple hinge articulator (okludator).
Simple hinge articulator hanya dapat melakukan gerakan sederhana sendi dalam
gerakan membuka dan menutup. Artikulator ini tidak dapat melakukan gerakan
lateral, ukurannya lebih kecil dan penggunaannya terbatas hanya dalam studi
model dan koreksi restorasi. Artikulator anatomis dapat dibagi lagi dalam tiga
kategori, antara lain:
1) Articulator non adjustable.
Artikulator ini dapat membuka dan menutup disekitar horizontal axis yang
telah dicekatkan. Terdapat fixed condylar path yang dapat digerakkan untuk
menstimulasi gerakan rahang lateral dan protusif. Condylar path telah dibuat
fixed sehingga tidak dapat diatur lagi. Artikulator ini memiliki adjustable
incisal guidance dan dapat digunakan dalam desain dan persiapan protesa gigi
tiruan penuh dan restorasi sederhana.

11

Gambar 8. Articulator non adjustable.

2) Articulator semi adjustable.


Artikulator jenis ini memiliki jalur condylar horizontal yang adjustable dan
dapat disesuaikan untuk mengikuti pergerakan mandibula pasien. artikulator
ini juga dapat memberikan posisi mandibula yang cukup tepat dan lebih akurat
dibandingkan articulator non adjustable. Terdapat dua jenis articulator semi
adjustable, yaitu arcon dan non-arcon. Posisi condylar pada articulator arcon
terletak di bagian bawah, sedangkan pada tipe non-arcon condylar terletak
pada bagian atas artikulator.

Gambar 9. Articulator semi adjustable non arcon.

Gambar 10. Articulator semi adjustable arcon.

3) Articulator full adjustable.


12

Artikulator ini dapat meniru dengan tepat pergerakan mandibula. Penggunaan


artikulator jenis ini membutuhkan ketelitian transfer axis, pantographic dan
stereographic record.

Gambar 11. Articulator full adjustable.

Terdapat beberapa klasifikasi lain untuk articulator, meliputi:


1) Klasifikasi berdasarkan fungsi alat dan kemampuan alat, antara lain:
(1) Class I, merupakan articulator sederhana sebagai contoh slab articulator
dan hinge joint articulator.
(2) Class II, merupakan articulator yang memungkinkan pergerakan horizontal
sebaik pergerakan vertikal tetapi tidak menggunakan rekaman facebow.
Class II terdiri dari tiga jenis articulator, yaitu class II A (Bonwill
articulator), class II B (maxillar mandibula instrument) dan class II C
berdasarkan Charles M.
(3) Class III, merupakan articulator yang dapat meniru pergerakan condylar
dengan cukup baik. Class III terdiri dari dua jenis articulator, yaitu class III
A (Hanau model H dan Dentatus artikulator) dan class III B (true bite
articulator dan Ney articulator).

13

(4) Class IV, merupakan articulator yang menerima transfer 3 dimensi


facebow. Class IV terdiri dari dua jenis articulator, yaitu class IV A (Arcon
instrument) dan class IV B yang menggunakan pentogram.
2) Klasifikasi berdasarkan Charles M. Heartwell Junior dan Arthur O.rahn,
meliputi:
(1) Class I, merupakan articulator yang menggunakan pentogram atau
stereogram, sebagai contoh granger, Gnathorelater, Ney articulator, Stuart
gnatoghic computer, Denar D5A dan SE.
(2) Class II, merupakan articulator yang tidak menggunakan stereogram. Class
II terdiri dari empat tipe articulator, yaitu tipe 1 (hinge), tipe II (arbitrary),
tipe III (average) dan tipe IV (special).
3) Klasifikasi berdasarkan desain oleh Boucher, meliputi:
(1) Articulator berdasarkan teori oklusi, meliputi teori oklusi Bonwill, teori
oklusi konikal dan teori oklusi spherical.
(2) Articulator berdasarkan system pencatatan.

3.5 Facebow
Facebow adalah alat yang merekam hubungan maxilla terhadap rotasi axis
sendi mandibula dan merekam dengan akurat lokasi maxilla pasien. Facebow

14

selanjutnya akan ditempatkan pada articulator untuk memudahkan proses


penanaman model maxilla di artikulator. Terdapat dua jenis facebow, meliputi:
1) Kinematik facebow
Memperlihatkan orientasi maxilla pada actual hinge axis.
2) Arbitrary facebow
Memperlihatkan orientasi maxilla pada arbitrary hinge axis. Facebow ini
dibagi dalam dua tipe, yaitu tipe facia dan tipe telinga. Pada tipe facia, rest
facebow ditempatkan pada wajah pasien, sedangkan pada tipe telinga rest
facebow ditempatkan pada telinga pasien.

Gambar 12. Kinematic facebow.

Arbitrary facebow tipe telinga adalah jenis facebow yang sering digunakan.
Prosedur penggunaan facebow tipe telinga (ear type), antara lain:
1) Arbitrary facebow tipe telinga dipersiapkan untuk digunakan.
2) Wax atau biterim ditempatkan pada fork arbitrary facebow.
3) Wax atau biterim yang telah ditempatkan pada fork kemudian dimasukkan ke
rongga mulut pasien.
4) Penempatan facebow di wajah pasien dengan rest facebow ditempatkan pada
telinga pasien.

15

5) Facebow ditempatkan sejajar orbital plane dan disesuaikan dengan posisi titik
nasion pasien.
6) Fork dikunci pada facebow.
7) Setelah posisi facebow sesuai diwajah pasien, maka facebow dilepaskan dari
wajah pasien, kemudian fork dilepaskan dari facebow.
8) Fork ditempatkan pada meja transfer, kemudian model rahang atas diletakkan
di atas biterim atau wax.
9) Penanaman model pada artikulator menggunakan gipsum.

Gambar 13. Facebow tipe facia.

Gambar 14. Facebow tipe ear.

BAB IV
KESIMPULAN

16

Articulator merupakan alat yang memiliki peranan yang besar dan sangat
dibutuhkan dalam pekerjaan dokter gigi untuk mendapatkan hasil yang maksimal
pada perawatan pasien. Terdapat beberapa jenis articulator yang dapat dipilih oleh
operator dan tekhnisi. Pemilihan articulator tersebut juga disesuaikan dengan
kebutuhan operator. Tiap-tiap articulator memiliki kelebihan dan kekurangan.
Articulator juga dilengkapi dengan facebow yang dapat memberikan
kemudahan transfer kondisi oklusi pasien. Facebow hanya digunakan pada
beberapa articulator saja. Facebow terdiri dari dua jenis, yaitu kinematik facebow
dan arbitrary facebow.

DAFTAR PUSTAKA

17

1.

18