Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


HERNIA
RUANG MENUR RUMAH SAKIT Dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA
PURBALINGGA

OLEH:
ARIEF WIDJANARKO, S. Kep.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN NERS
PURWOKERTO
2012

A. PENDAHULUAN
1.

Latar belakang
Hernia merupakan salah satu kasus dibagian bedah yang pada umumnya
sering menimbulkan masalah kesehatan dan pada umumnya memerlukan tindakan

operasi. Dari hasil penelitian pada populasi hernia ditemukan sekitar 10% yang
menimbulkan masalah kesehatan dan pada umumnya pada pria. Hernia pada bayi
dan anak dapat terjadi pada beberapa bagian tubuhnya, antara lain di pelipatan
paha, umbilikus atau pusar, sekat rongga dada, dan perut (disebut diafragma)
serta bagian-bagian lainnya. Yang umum terlihat langsung adalah hernia pada
umbilikus atau pusar, serta pada pelipatan paha karena dapat langsung ke
kantung buah pelir (Faradila, Israr, 2009).
Hernia ingunal indirek merupakan hernia yang paling sering ditemukan
yaitu sekitar 50% sedangkan hernia ingunal direk 25% dan hernia femoralis
sekitar 15%. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa 25% penduduk pria dan 2%
penduduk wanita menderita hernia inguinal didalam hidupnya, dengan hernia
inguinal indirek yang sering terjadi. Insidens hernia inguinal pada bayi dan anakanak antara 1 dan 2%. Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri
20-25% dan bilateral 15%. Kejadian hernia bilateral pada anak perempuan
dibanding laki-laki sama (10%) (Faradila, Israr, 2009).

Hernia dapat terjadi akibat kelainnan kongenital maupun didapat. Pada


anak- anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya procesus
vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Pada
orang dewasa adanya faktor pencetus terjadinya hernia antara lain kegemukan,
beban berat, batukbatuk kronik, asites, riwayat keluarga, dan lain-lain (Faradila,
Israr, 2009).
Hernia inguinalis merupakan masalah kesehatan yang tidak lepas dari
masalah sosial. Penderita hernia di Indonesia cukup banyak akan tetapi keluarga
merasa malu untuk memeriksakan ke tempat pelayanan kesehatan. Di Indonesia
diperkirakan 102 ribu anak menderita penyakit hernia. Data di Jawa Tengah,

mayoritas usia penderita selama Januari-Desember 2007 berkisar antara 2-5


tahun, dengan rincian umur kurang dari 1 tahun sebanyak 51-211 penderita, dan
umur 5 tahun berkisar antara 150.214 penderita (Faradila, Israr, 2009).
2.

Tujuan
a.

Tujuan Umum
Tujuannya adalah untuk mengetahui konsep teori hernia dan asuhan
keperawatan yang tepat.

b.

Tujuan Khusus
1) Mengetahui pengertian dari hernia.
2) Mengetahui etiologi hernia.
3) Mengetahui patofisiologi hernia.
4) Mengetahui tanda dan gejala hernia.
5) Mengetahui pathway hernia.
6) Mengetahui manifestasi klinis hernia.
7) Mengetahui komplikasi hernia.
8) Mengetahui penatalaksanaan hernia.
9) Mengetahui pengkajian hernia.
10) Mengetahui rencanan asuhan keperawatan hernia.

B. TINJAUAN PUSTAKA
1.

Pengertian
Hernia merupakan suatu penonjolan isi perut dari rongga yang normal
melalui lubang kongenital atau didapat (Mansjoer, 2000). Klasifikasi hernia
dibedakan berdasrkan letak, timbul atau terjadinya, sifat, dan penampakan atau
visualisasinya.
a. Hernia berdasarkan letaknya (Sjamsuhidayat, Jong, 1997). adalah:
1) Inguinal.
Hernia inguinal ini dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Indirek / lateralis: hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan
melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Hernia ini
sering terjadi pada pria daripada wanita. Insidennya tinggi pada
bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan
sering turun ke skrotum. Klien mengatakan turun berok, burut atau
kelingsir

atau

mengatakan

adanya

benjolan

di

selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau


menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau
mengangkat benda berat atau bila posisi klien berdiri dapat timbul
kembali.
b) Direk / medialis: hernia ini melewati dinding abdomen di area
kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis
dan femoralis indirek. Hernia Ini lebih sering pada lansia. Hernia
inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini
karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena
langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun
anulus inguinalis interna ditekan bila klien berdiri atau mengejan,
tetap akan timbul benjolan. Pada klien terlihat adanya massa bundar
pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila klien
tidur.
2) Femoral
Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum
pada wanita daripada pria. Hernia ini mulai sebagai penyumbat lemak di

kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik


peritoneum dan kandung kemih masuk ke dalam kantung. Ada insiden
yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini.
3) Umbilikal
Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita
dan terjadi karena peningkatan tekanan abdominal. Hernia ini biasanya
terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi
pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak
adekuat karena masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak
adekuat, distensi ekstrem atau kegemukan.
4) Incisional adalah batang usus atau organ lain yang menonjol melalui
jaringan parut yang lemah.
5) Hernia diafragma adalah

herniasi

struktur

abdomen

atau

retroperitoneum ke dalam rongga dada.


6) Hernia lumbalis adalah herniasi omentum atau usus di daerah pinggang
melalui ruang lesshaft atau segitiga lumbal.
7) Hernia epigastrika adalah hernia abdominalis melalui linea alba diatas
umbilikus.
b.

Berdasarkan terjadinya hernia dibagi menjadi 2 yaitu :


1) Hernia bawaan atau kongenital
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus pada
bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut.
Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum
sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus
vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini
telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui
kanalis tersebut. Faktor-faktor tertentu dapat menyebabkan kanalis ini
tidak menutup. Testis kiri yang turun terlebih dahulu, maka kanalis
inguinalis kanan lebih sering terbuka. Kanalis kiri terbuka maka
biasanya yang kanan juga terbuka. Keadaan normal kanalis yang
terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus
(karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis

lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup.


Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut
dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita
(Faradila, Israr, 2009).
2) Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat)
Hernia yang disebabkan oleh pengangkatan benda berat atau strain atau
cidera berat.
c.

Menurut sifatnya (Sjamsuhidayat, Jong, 1997) hernia di bagi menjadi:


1) Hernia reponibel/reducible yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk.
Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring
atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2) Hernia ireponibel yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan
ke dalam rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong
pada peritonium kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta
(accretus = perlekatan karena fibrosis). Hernia ini tidak ada keluhan rasa
nyeri ataupun tanda sumbatan usus.
3) Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap, carcer
= penjara) yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia
inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke
dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase
atau vaskularisasi. Hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia
ireponibel dengan gangguan pasase. Sedangkan gangguan vaskularisasi
disebut sebagai hernia strangulata.
4) Hernia irreponibilis dimana sudah terjadi gangguan vaskularisasi viscera
yang terperangkap dalam kantung hernia yang mengakibatkan nekrosis
dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat
pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan keadaan
gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera.

d.

Hernia menurut terlihat atau tidaknya (Sjamsuhidayat, Jong, 1997)


1) Hernia Externa

Hernia yang menonjol keluar malalui dinding perut, pinggang atau


perineum. Klasifikasinya adalah:
a) Hernia inguinalis
b) Hernia femoralis
c) Hernia umbilical dan para-umbilikal
d) Hernia epigastrika
e) Hernia insisional
f) Hernia obturator
g) Hernia spigelian
h) Hernia lumbar
i) Hernia gluteal
j) Hernia skiatik
k) Hernia perineal
2) Hernia Interna
Tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam rongga
perut seperti foramen winslow, ressesus retrosekalis atau defek dapatan
pada mesinterium. Pada cavum abdominal:
a)
b)
c)
d)

Hernia epiploica winslowi


Hernia bursa omentalis
Hernia mesenterika
Hernia retroperitonealis

Pada cavum thorax:


e) Hernia diafragmatica traumatic
f) Hernia diafragmatica non-traumatica
2.

Etiologi
Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk
hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh
kantong dan isi hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat
mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang
terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding
perut karena usia.
Adapun faktor faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap insidensi
hernia inguinalis adalah sebagai berikut (Faradila, Israr, 2009):
a.

Hereditas

Hernia lebih sering terjadi pada penderita yang mempunyai orang tua, kakak
atau nenek dengan riwayat hernia inguinalis.
b.
c.

d.

Kelainan konginetal
Peningkatan tekanan intra abdomen
Peningkatan intra abdomen seperti batuk, mengejan saat buang air besar dan
air kecil.
Jenis kelamin
Hernia inguinalis jauh lebih banyak dijumpai pada laki laki dibanding pada
wanita (9:1). Hernia pada laki laki 95% adalah jenis inguinalis, sedangkan
pada wanita 45-50%. Perbedaan prevalensi ini di sebabkan karena ukuran
ligamentum rotundum, dan presentase obliterasi dari processus vaginalis
testis lebih kecil dibanding obliterasi kanalis nuck.

e.

Umur
Hernia banyak terjadi pada umur di bawah 1 tahun disebutkan 17,5% anak
laki laki dan 9,16% anak perempuan. Tendensi hernia meningkat sesuai
dengan meningkatnya aktifitas, sekitar umur 26 50 tahun insidensi
menurun dan setelah umur diatas 50 tahun insidensi meningkat lagi oleh
karena menurunnya kondisi fisik.

f.

Konstitusi atau keadaan badan (obesitas)


Banyaknya lemak preperitoneal akan mendesak dinding abdomen dan
menimbulkan lokus minoris atau kelemahan kelemahan otot serta terjadi
relaksasi dari anulus. Bila lemak menginfiltrasi ke omentum dan
mesenterium akan mengurangi volume rongga abdomen sehingga terjadi
peningkatan tekanan intra abdomen.
Kelahiran prematur dan berat lahir yang kecil dianggap sebagai faktor yang
memiliki resiko yang besar untuk menyebabkan hernia. Cacat bawaan,
seperti kelainan pelvik atau ekstrosi pada kandung kemih, dapat
menyebabkan kerusakan pada saaluran inguinal tak langsung. Hal yang

jarang terjadi kelainan bawaan atau cacat collagen dapat menyebabkan


tumbuhnya hernia inguinal langsung.
3.

Patofisiologi
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8
kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis
tersebut akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan
peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang
sudah lahir, umumnya prosesus ini sudah mengalami obliterasi sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal
kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis
inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya
yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan
menutup pada usia 2 bulan.
Pada beberapa kasus, kanalis inguinalis tetap membuka karena tidak
mengalami obliterasi, hal ini dapat menyebabkan hernia inguinalis lateralis
congenital. Pada nenonatus kurang lebih 90% prosessus vaginalis tetap terbuka
sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30% prosessus vaginalis belum
tertutup. Tidak sampai 10% anak dengan prosessus vaginalis paten menderita
hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat dijumpai prosessus vaginalis
paten kontralateral lebih dari setengahnya. Meskipun prosesus vaginalis terbuka,
tetapi terdapat mekanisme pertahanan oleh otot-otot abdomen untuk mencegah
agar usus tidak turun. Kanalis tersebut telah menutup namun karena merupakan
lokus minoris resisten, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan
intraabdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul
hernia inguinalis lateralis akuisita. Umumnya disimpulkan bahwa adanya
prosessus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya
hernia tapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.
Lemahnya otot-otot dan fascia dinding perut pada usia lanjut, kurangnya
olahraga, adanya timbunan lemak, serta penurunan berat badan dan fitness

memungkinkan adanya angka kesakitan hernia. Abnormalitas struktur jaringan


kolagen dan berkurangnya konsentrasi hidroksi prolin berperan penting terhadap
berkurangnya daya ikat serabut kolagen dan ini ada hubungannnya dengan
mekanisme rekurensi hernia ataupun adanya kecenderungan sifat-sifat familier
dari hernia.
Insiden hernia yang meningkat dengan bertambahnya umur mungkin
karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan
jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam keadaan relaksasi otot
dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada
keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan
lebih vertikal, sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis
berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah
masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara
lain terjadi akibat kerusakan N.ilioinguinalis dan N.iliofemoralis setelah
apendektomi.
4.

Pathway
Terlampir.

5.

Manifestasi klinis
a. Tampak benjolan didaerah lipat paha.
b. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai
perasaan mual. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau
sudah terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau
c.

gangrene.
Pada hernia strangulasi, dimana aliran darah ke isi hernia terganggu akan
timbul rasa tegang, bengkak, panas, memerah pada daerah sekitar benjolan,

d.
e.

dan tanda-tanda inflamasi. Selain itu perasaan sakit akan bertambah hebat.
Bila klien mengejan atau batuk, maka benjolan hernia akan bertambah besar.
Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan di lipat paha
yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan
menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada

biasanya didaerah epigastrium, atau para-umbilikal berupa nyeri viseral


karena regangan pada mesenterium pada waktu satu segmen usus halus
masuk ke dalam kantong hernia.
6.

Komplikasi
a.

Hernia ireponibel
Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga
isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali karena isi hernia terlalu besar
misalnya terdiri dari organ ekstraperitoneal (Faradila, Israr, 2009).

b.

Hernia strangulata
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi
hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ
atau struktur didalam hernia dan terjadi transudasi kedalam kantong hernia.
Timbulnya udem akan menambah jepitan pada cincin hernia sehingga
perfusi jaringan makin terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong
hernia akan terisi transudat yang bersifat serosanguinis. Kalau isi hernia
terdiri dari usus maka akan terjadi perforasi yang akhirnya akan
menimbulkan abses lokal, fistel dan peritonitis jika ada hubungan dengan
rongga perut (Faradila, Israr, 2009). Keluhan berupa nyeri hebat, daerah
benjolan menjadi merah dan penderita gelisah. Pada keadaan inkarserata dan
strangulata, timbul gejala ileus yaitu kembung, muntah dan obstipasi.

7.

Penatalaksanaan
a. Konservatif (Faradila, Israr, 2009)
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi
dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia
yang telah direposisi. Pengurangan hernia secara non-operatif dapat segera
dilakukan dengan berbaring, posisi pinggang ditinggikan, lalu diberikan
analgetik (penghilang rasa sakit) dan sedatif (penenang) yang cukup untuk

memberikan relaksasi otot. Perbaikan hernia terjadi jika benjolan berkurang


dan tidak terdapat tandatanda klinis strangulasi. Reposisi tidak dilakukan
pada hernia inguinalis strangulata kecuali pada anak-anak.
Penggunaan bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia
yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus
dipakai seumur hidup. Hal ini biasanya dpilih jika kita menolak dilakukan
perbaikan secara operasi atau terdapat kontraindikasi terhadap operasi. Cara
ini tidak dianjurkan karena menimbulkan komplikasi, antara lain merusak
kulit dan tonus otot dinding perut di daerah yang tertekan sedangkan
strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan
atrofi (pengecilan) testis karena tekanan pada tali sperma yang mengandung
pembuluh darah testis. Penggunaan penyangga tidak menyembuhkan hernia.
Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi
hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah
cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi.
Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia
jarang terjadi dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh
cincin hernia yang lebih elastis pada anak-anak. Jika dalam 6 jam tidak ada
perbaikan atau reposisi gagal segera operasi.
b.

Farmakologi
1) Terapi obat analgetik untuk menghilangkan rasa sakit.
2) Sedatif diberikan untuk merelaksasikan otot.

c.

Operatif
Penanganan hernia ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama
adalah penanganan semua faktor risiko dan penanganan terhadap celah yang
ada harus diperbaiki secara maksimal. Penderita yang telah melakukan
operasi untuk menangani hernia dapat terkena kembali hernia (rekuren).
Hernia yang berulang dalam hitungan bulan atau tahun biasanya

menandakan perbaikan yang tidak sempurna, seperti kegagalan dalam


menutup celah pada dinding perut. Rekurensi dalam 2 tahun lebih biasanya
terjadi akibat perlemahan dinding perut kita sendiri. Rekurensi berulang
setelah perbaikan

yang

benar dan dilakukan

oleh dokter bedah

berpengalaman biasanya terjadi akibat kelainan pada pembentukan kolagen


pada tubuh kita sendiri. Penatalaksanaan klien dengan hernia rekuren
dilakukan dengan menggunakan prostetik material, karena pada berbagai
penelitian terbukti sukses mengurangi rekurensi, mengurangi biaya operasi,
mengurangi waktu perawatan, memperbaiki kualitas hidup klien, dan
mengurangi nyeri pasca operasi (Sjamsuhidayat, Jong, 1997).
Indikasi operasi hernia yaitu :
1) Defek fasia lebih dari 1 cm, umur pada wanita lebih 2 tahun dan pada
pria lebih dari 4 tahun.
2) Bila terjadi inkarserasi atau strangulasi.
3) Bila defek hernia 1 jan longgar pada usia 6 tahun.
4) Bila kantong besar dan kulit tipis dipertimbangkan operasi karena
kemungkinan ruptur.
5) Bila anak sering kesakitan waktu hernia menonjol, sedangkan Strapping
tidak mungkin karena ada kelainan kulit atau ada riwayat inkarserasi.
6) Hernia yang besar sekali mengganggu ibu dan anak.
7) Bila selama observasi defek membesar atau menetap atau bertambah
besar setelah umur 4 tahun.
Pembedahan untuk hernia yaitu :
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu
dipotong.
b. Hernioplasti
Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus

dan

memperkuat

dinding

belakang

kanalis

inguinalis.

Hernioplastik lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif


dibandingkan herniotomi.
c. Laparoskopi
Operasi hernia dapat dilakukan secara laparoskopi (semi tertutup).
Menurut beberapa penelitian dinyatakan metode ini memiliki hasil yang
lebih baik daripada operasi anterior konvensional (terbuka). Penelitian
menyatakan bahwa perbaikan hernia inguinal secara laparoskopi lebih
nyaman (klien mengalami nyeri pre dan post operatif yang lebih rendah)
dibandingkan operasi terbuka dan pemulihan klien lebih cepat. Selain itu
angka rekurensi pada metode laparoskopi lebih rendah daripada klien yang
menjalani operasi anterior konvensional. Namun kekurangannya

ialah

waktu operasi yang sedikit lebih panjang, penggunaan anestesi umum, dan
biaya yang lebih mahal (Takata, Quan-Yang Duh, 2008).
8.

Pengkajian
a.

Pengkajian
1) Identitas klien : meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, status.
2) Keluhan utama : benjolan di lipatan paha kanan dan kiri.
3) Riwayat penyakit sekarang: sejak kapan, semakin memburuknya kondisi
/ kelumpuhan, upaya yang dilakukan sampai mendapat pertolongan
kesehatan.
4) Riwayat penyakit dahulu
Penyakit hernia yang sekarang diderita itu sejak kecil atau hernia yang
muncul kembali setelah operasi.
5) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit keluarga di tanyakan untuk mengetahui apakah
keluarganya ada yang pernah menderita hernia atau tidak.
6) Aktivitas/istirahat: perhatikan dan kaji adanya malaise/kelemahan.
7) Sirkulasi : perhatikan adanya takikardi.
8) Eliminasi : perhatikan gejala konstipasi akibat tekanan hernia,perhatikan
adanya distensi abdomen,nyeri tekan atau nyeri lepas,kekakuan/bising
usus.
9) Makanan/cairan : kaji adanya gejala anoreksia, mual dan muntah.

10) Nyeri : kaji nyeri pada benjolan hernia pada saat dipalpasi, perhatikan
tanda- tanda perilaku berhati-hati saat berbaring kesamping dengan lutut
ditekuk.

b. Pemeriksaan Fisik
Hernia mempunyai tiga bagian yaitu kantong, isi dan bungkusnya.
Semua ini tergantung pada letak hernia dan isi kantong hernia (omentum,
usus, dll). Omentum teraba relatif bersifat plastis dan sedikit noduler. Usus
bisa dicurigai apabila kantong teraba halus dan tegang seperti hidrokel, tetapi
tidak tembus cahaya.
1) Inspeksi
Pembengkakan yang timbul mulai dari regio inguinalis dan
mencapai labium majus atau sampai dasar skrotum, selalu merupakan
hernia inguinalis lateralis. Pembengkakan tidak dapat kita lihat maka
penderita disuruh batuk. Pembengkakan yang terlihat berada di atas
lipatan inguinal dan berjalan miring dan lateral atas menuju ke medial
bawah, maka pembengkakan tersebut adalah hernia inguinalis lateralis.
Pembengkakan yang kelihatannya langsung muncul ke depan, maka
pembengkakan tersebut adalah hernia inguinalis medialis.
2) Palpasi
Palpasi dapat dilakukan untuk menentukan macam hernianya. Untuk
memeriksa pelipatan paha kiri digunakan tangan kiri, pelipatan paha
kanan dipakai tangan kanan. Caranya dengan finger test :
Gunakan tangan kanan untuk hernia sisi kanan, pakai tangan kiri untuk
hernia sisi kiri. Dengan jari kelingking kulit scrotum diinvaginasikan,
jari tersebut digeser sampai kuku berada diatas spermatic cord dan
permukaan volar jari menghadap ke dinding ventral scrotum. Dengan
menyusuri spermatic cord kearah proksimal maka akan terasa jari
tersebut masuk melalui annulus eksternus, dengan demikian dapat
dipastikan selanjutnya akan berada dalam kanalis inguinalis. Bila
terdapat hernia inguinalis lateralis, terasa impulse pada ujung jari, bila

hernia inguinalis medialis maka teraba dorongan pada bagian samping


jari.
3) Perkusi
Bila isinya gas pada usus akan terdengar bunyi timpani.
4) Auskultasi
Terdengar suara usus, bila auskultasi negatif maka kemungkinan isi
hernia berupa omentum. Auskultasi juga bisa untuk mengetahui derajat
obstruksi usus.
c.

Pemeriksaan penunjang
1) Sinar X
2) Pemeriksaan darah lengkap
Hb yang rendah dapat mengarah pada anemia/kehilangan darah dan
keseimbangan oksigenasi jaringan dan pengurangan Hb yang tersedia
dengan anestesi inhalasi, peningkatan Ht mengidentifikasikan dehidrasi.
Penurunan Ht mengarah pada kelebihan cairan.
3) Elektrokardiografi (EKG)
EKG penemuan akan sesuatu yang sesuatu yang tidak normal
membutuhkan prioitas perhatian untuk memberikan anestesi.

9.

Rencana Asuhan Keperawatan


Menurut NANDA (2012) diagnosa keperawatan yang muncul untuk
penderita hernia adalah :
a. Pra Operasi
1) Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap status kesehatan.
2) Kurang

pengetahuan

klien

tentang

hernia

berhubungan

dengan

ketidakcukupan informasi tentang hernia.


b.

Post Operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
4) Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan adanya luka insisi.

5) Resiko infeksi berhubungan dengan invasif mikroorganisme sekunder


terhadap luka post operasi.

Cemas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x
berhubungan
24 jam, diharapkan cemas klien teratasi,
dengan
ancaman dengan kriteria:
terhadap
status
Indikator
Skala
Skala
kesehatan.
awal
tujuan
Mengungkapkan
kecemasan
Mengontrol
kecemasan
Vital sign dalam
batas normal
Postur tubuh,
ekspresi wajah
menunjukkan
penurunan
kecemasan
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

Anxiety Reduction
1. Gunakan pendekatan
1.
yang menenangkan
dengan klien.
2. Jelaskan
semua 2.
prosedur dan apa yang
dirasakan
selama
prosedur.
3. Temani klien untuk 3.
memberikan keamanan
dan mengurangi takut.
4.

Berikan
faktual
diagnosis,
prognosis.

5.

Libatkan
keluarga 5.
untuk
mendampingi
klien.
Instruksikan pada klien 6.
untuk
menggunakan
tehnik relaksasi.
Dengarkan
dengan 7.
penuh perhatian.

6.
7.

8.

Identifikasi
kecemasan.

informasi 4.
mengenai
tindakan

tingkat 8.

Memberikan
kenyamanan klien.
Meningkatkan
kepahaman klien
terhadap prosedur
tindakan.
Memberikan
kenyamanan dan
mengurangi
kecemasan.
Informasi
meningkatkan
pemahaman dan
mengurangi
kecemasan.
Klien membutuhkan
suport keluarga.
Teknik relaksasi dapat
mengurangi
kecemsan.
Mendengarkan cerita
klien untuk
memahami kondisi
klien.
Mengetahui tingkat
kecemsan klien.

9.

Kurang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x
pengetahuan klien 24 jam, diharapkan pengetahuan klien
tentang
hernia tentang hernia bertambah, dengan kriteria:
berhubungan
Indikator
Skala
Skala
dengan
awal
tujuan
ketidakcukupan
Klien dan keluarga
informasi tentang paham terhadap
hernia.
penyakit, prognosis,
dan pengobatan.
Klien dan keluarga
mengetahui prosedur
yang dilakukan
dengan benar.
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

Bantu klien mengenal 9.


situasi
yang
menimbulkan
kecemasan.
10. Dorong klien untuk 10.
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan,
persepsi.
11. Kolaborasi pemberian 11.
obat anti ansietas, bila
perlu.

Memberikan
kenyamanan klien.

1.

1.

Memberikan
penjelasan dan
pamahaman mengenai
kondisi klien.

2.

Meningkatkan
pengetahuan klien.

3.

Meningkatkan
pengetahuan klien.

4.

Meningkatkan
pengetahuan klien.

2.

3.
4.

Jelaskan patofisiologi
dari
penyakit
dan
bagaimana hal ini
berhubungan dengan
anatomi dan fisiologi,
dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan
gejala
yang
biasa
muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat.
Gambarkan
proses
penyakit, dengan cara
yang tepat
Identifikasi
kemungkinan
penyebab, dengan cara
yang tepat.

Memberikan
kesempatan klien
mengeksplor
perasaan.
Anti ansietas untuk
mengurangi
kecemasan klien.

5.

6.

7.
8.

9.

Nyeri akut
berhubungan
dengan agen cidera
biologi.

Sediakan
informasi
pada klien tentang
kondisi, dengan cara
yang tepat
Sediakan bagi keluarga
informasi
tentang
kemajuan klien dengan
cara yang tepat
Diskusikan
pilihan
terapi atau penanganan.
Dukung klien untuk
mengeksplorasi
atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang
tepat
atau
diindikasikan.
Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat.

5.

Meningkatkan
pengetahuan klien.

6.

Meningkatkan
pengetahuan klien.

7.

Meningkatkan
pengetahuan klien.
Meningkatkan
pengetahuan klien dan
memberikan
kenyamanan.

8.

9.

Meningkatkan
kenyamanan pada
klien.

POST OPERASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 1. Lakukan
pengkajian 1. Mengkaji nyeri untuk
24 jam, diharapkan nyeri klien teratasi,
nyeri
secara
mengetahui respon nyeri
dengan kriteria:
komprehensif termasuk
yang dirasakan klien.
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi,
kualitas
dan
faktor
presipitasi.

Indikator

Skala
awal

Skala
tujuan

Ekspresi nyeri pada


wajah
Pernyataan nyeri
Frekuensi nyeri
Perubahan frekuensi
pernafasan
Perubahan nadi
Perubahan tekanan
darah
Perubahan ukuran
pupil
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

2. Observasi
reaksi 2. Klien
dapat
nonverbal
dari
menunjukkan nyeri dari
ketidaknyamanan.
ekspresi
akibat
ketidaknyamanan.
3. Kontrol lingkungan yang 3. Memberikan
dapat
mempengaruhi
kenyamanan
untuk
nyeri
seperti
suhu
mengurangi nyeri klien.
ruangan, pencahayaan
dan kebisingan.
4. Ajarkan tentang teknik 4. Membantu mengurangi
non farmakologi: napas
nyeri
klien
dengan
dala, relaksasi, distraksi,
metode yang dapat
kompres hangat/ dingin.
diajarkan dan dilakukan
mandiri.
5. Berikan analgetik untuk 5. Analgetik
berfungsi
mengurangi nyeri.
untuk mengurangi nyeri
klien.
6. Tingkatkan istirahat.
6. Klien
dengan
peningkatan
istirahat
diharpkan
dapat
mengurangi nyeri yang
dirasakan.
7. Berikan
informasi 7. Memberikan informasi
tentang nyeri seperti
mengenai nyeri yang
penyebab nyeri, berapa
dirasakan klien untuk
lama
nyeri
akan
mengurangi
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan.
ketidaknyamanan
dari
prosedur.

Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan
dengan faktor
biologis.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x


24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi, dengan kriteria:
Indikator

Skala
awal

Skala
tujuan

Intake makanan
dan cairan
Energi
BB
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

8. Monitor
vital
sign 8. Vital
sign
dapat
sebelum dan sesudah
dimonitor
untuk
pemberian
analgesik
mengkaji nyeri klien.
pertama kali.
1. Kaji
adanya
alergi 1. Mengkaji makanan
makanan.
yang dapat membuat
klien alergi.
2. Kolaborasi dengan ahli 2. Kolaborasi pemberian
gizi untuk menentukan
nutrisi untuk
jumlah kalori dan nutrisi
mengoptimalkan
yang dibutuhkan klien.
masukan nutrisi klien.
3. Yakinkan diet yang 3. Makanan tinggi serta
dimakan
mengandung
dapat mencegah
tinggi serat.
konstipasi.
4. Monitor
adanya 4. Nutrisi dan masukkan
penurunan BB dan gula
yang kurang dapat
darah.
menurunkan BB.
5. Monitor turgor kulit.
5. Kekurangan nutrisi dan
cairan dapat diketahui
dari penilaian turgor
kulit.
6. Monitor
kekeringan, 6. Kekurangan nutrisi dan
rambut kusam, total
masukkan dapat
protein, Hb dan kadar
berefek pada
Ht.
metabolisme dan
transport nutrien dalam
tubuh.
7. Monitor
pucat, 7. Kekurangan nutrisi
kemerahan,
dan
dapat menyebabkan

kekeringan
konjungtiva.

jaringan

kelemahan dan
kurangnya darah dalam
tubuh sehingga
menimbulkan pucat
dan kekeringan.
8. Monitor intake nutrisi.
8. Monitor intake dan
output nutrisi klien.
9. Informasikan pada klien 9. Informasi nutrisi
dan keluarga tentang
diperlukan untuk
manfaat nutrisi.
memotivasi klien dan
keluarga mengenai
asupan gizi yang
optimal.
10. Kolaborasi
dengan 10. Suplemen nutrisi
dokter
tentang
dijadikan alternatif
kebutuhan
suplemen
apabila klien tidak
makanan seperti NGT/
dapat mengonsumsi
TPN sehingga intake
nutrisi per oral.
cairan yang adekuat
dapat dipertahankan.
11. Atur posisi semi fowler 11. Posisi semifowler atau
atau
fowler
tinggi
high fowler mencegah
selama makan.
tersedak pada klien
saat makan.
12. Kelola pemberian anti 12. Anti emetik berfungsi
emetik.
mengurangi mual pada
klien.
13. Anjurkan banyak minum 13. Konsumsi air putih
air putih hangat.
hangat dapat

Kerusakan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x
mobilisasi
fisik 24 jam, diharapkan nyeri klien teratasi,
berhubungan
dengan kriteria:
dengan adanya luka
Indikator
Skala
Skala
insisi.
awal
tujuan
Aktivitas fisik
meningkat
Vital sign dalam
batas normal
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

merelaksasi saluran
pencernaan.
14. Pertahankan terapi IV 14. Terapi IV line
line.
membantu pemenuhan
nutrisi dan cairan
klien.
Exercise therapy :
ambulation
1. Monitoring vital sign 1. Vital sign memberikan
sebelum/sesudah latihan
gambaran tingkat
dan lihat respon klien
kesehatan klien.
saat latihan.
2. Konsultasikan
dengan 2. Memberikan terapi
terapis tentang rencana
pergerakan dengan
ambulasi sesuai dengan
tepat.
kebutuhan.
3. Bantu
klien
untuk 3. Menjaga mobilitas
menggunakan
tongkat
klien dan menghindari
saat berjalan dan cegah
cedera.
terhadap cedera.
4. Ajarkan
klien
dan 4. Meningkatkan
keluarga tentang teknik
pemahaman klien.
ambulasi.
5. Kaji kemampuan klien 5. Mengidentifikasi
dalam mobilisasi.
kemampuan mobilitas
klien.
6. Latih
klien
dalam 6. Membiasakan klien
pemenuhan kebutuhan
beraktivitas dengan
ADLs secara mandiri
kodisinya.

Kekurangan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x
volume
cairan 24 jam, diharapkan nyeri klien teratasi,
berhubungan
dengan kriteria:
dengan kehilangan
Indikator
Skala
Skala
cairan aktif.
awal
tujuan
Mempertahankan
urin output
Vital sign dalam
batas normal
Turgor kulit baik
Elektrolit, Hmt, Hb
dalam batas normal
Konjungtiva tidak
anemis
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

sesuai kemampuan.
7. Dampingi dan bantu
klien saat mobilisasi dan
bantu penuhi kebutuhan
ADLs.
8. Berikan alat bantu jika
klien memerlukan.
9. Ajarkan klien bagaimana
merubah posisi dan
berikan bantuan jika
diperlukan.
Fluid Management and
Fluid Monitoring
1. Monitor keadaan umum
(turgor kulit, membran
mukosa) dan vital sign.
2. Monitor intake dan
output.

3. Monitor status hidrasi.

7.

Memberikan
kenyamanan klien dan
menghindari cedera.

8.

Menghindarkan klien
dari cedera.
Menghindarkan klien
dari cedera.

9.

1. Monitor kondisi karena


perubahan
status
hidrasi tidak dapat
terprediksi atau kasat
mata.
2. Diharapkan intake dan
output
seimbang
supaya tidak banyak
cairan tubuh yang
hilang..
3. Kehilangan
cairan
terjadi setiap saat, dapat
terlihat
dan
tidak
(insensible water loss,
kondisi
dapat
memperburuk

4. Kolaborasi medis untuk


pemberian terapi.

5. Anjurkan minum air


putih hangat.

6. Motivasi klien untuk


istirahat.

Resiko
infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x
berhubungan
24 jam, klien tidak mengalami infeksi,
dengan
invasif dengan kriteria:
mikroorganisme
sekunder terhadap
luka post operasi.

kesehatan).
4. Kolaborasi dengan tim
kesehatan
untuk
pemberian
intake
nutrisi dan pengobatan
yang dapat menunjang
kondisi
kesehatan
terutama caitran tubuh.
5. Air
putih
hangat
berfungsi
untuk
merelakskan
saluran
pencernaan
sehingga
banyak konsumsi air
putih untuk mencegah
kekurangan
volume
cairan
6. Istirahat yang cukup
untuk mencegah resiko
kehilangan cairan tubuh
berlebih.

1.

Pertahankan
aseptik.

teknik 1.

2.

Cuci tangan setiap 2.


sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.

Mencegah
perkembangbiakan
mikroorganisme
penyebab infeksi.
Mencegah
perkembangbiakan
mikroorganisme
penyebab infeksi.

Indikator

Skala
awal

Skala
tujuan

Klien bebas dari


tanda dan gejala
infeksi
Menunjukkan
kemampuan
mencegah timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit
dalam batas normal
Menunjukkan
perilaku sehat
Status imunitas
dalam batas normal
Keterangan: 1 (kuat), 2 (berat), 3 (sedang),
4 (ringan), 5 (tidak ada)

3.

Gunakan baju, sarung 3.


tangan sebagai alat
pelindung.

4.

Gunakan
kateter
intermiten
untuk
menurunkan
infeksi
kandung kencing.
Tingkatkan
intake
nutrisi.
Berikan
terapi
antibiotik
untuk
mencegah infeksi.
Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan lokal.
Inspeksi kulit dan
membran
mukosa
terhadap
kemerahan,
panas, drainase.
Monitor adanya luka.

5.
6.
7.
8.

9.

4.

5.
6.

Mencegah
perkembangbiakan
mikroorganisme
penyebab infeksi.
Mencegah
perkembangbiakan
mikroorganisme
penyebab infeksi.
Meningkatkan status
imunitas klien.
Meningkatkan status
imunitas klien.

7.

Memonitor kondisi
kesehatan klien.

8.

Memonitor kondisi
kesehatan klien.

9.

Memonitor kondisi
kesehatan klien.
10. Dorong
masukan 10. Memonitor kondisi
cairan.
kesehatan klien.
11. Dorong istirahat.
11. Istirahat untuk
meningkatkan
kesehatan klien.
12. Ajarkan klien dan 12. Meningkatkan
keluarga tanda dan
pemahaman klien dan

gejala infeksi.
keluarga.
13. Kaji suhu badan pada 13. Memonitor kondisi
klien neutropenia setiap
kesehatan klien.
4 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Faradila, N., Israr, Y., A. (2009). Hernia. Riau: Fakultas Kedokteran, Universitas
Riau.
Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W., I., Setiowulan, W. (2001) Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Pertama. Jakarta: Media
Aesculapius.
McCloskey, Bulechek. (2000). Nursing Interventions Classification (NIC). United
States of America: Mosby.
Meidean, J., M. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of
America: Mosby.
NANDA Internasional. (2012). Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi.
Jakarta: EGC.
Sjamsuhidayat, Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi. Jakarta: EGC.
Takata, M., C., Quan-Yang Duh. (2008). Laparoskopi Perbaikan Hernia inguinalis.
Klinik Bedah Amerika Utara. 88,1 Feb 2008: 157-178.