Anda di halaman 1dari 20

Presentasi Kasus

REHABILITASI MEDIK
SEORANG PEREMPUAN 71 TAHUN DENGAN PENYAKIT
BRONKIEKTASIS TERINFEKSI
A.

Keluhan Utama
Sesak nafas

B.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan sesak napas kurang lebih 2 minggu
SMRS. Sesak napas dirasakan hampir sepanjang hari, terutama timbul saat
pasien sedang beraktivitas dan akan sedikit berkurang bila pasien
beristirahat. Sesak napas tidak berkurang dengan perubahan posisi. Pasien
biasa tidur dengan menggunakan 2 bantal, mudah lelah (+), sesak disertai
mengi (+), bengkak-bengkak pada kaki maupun wajah (-). Keluhan sesak
disertai dengan batuk.
Batuk timbul terutama pada malam dan pagi hari. Batuk berdahak,
dahak warna putih, kental, volume dahak sdt tiap kali batuk, batuk
darah (-). Badan panas (-), penurunan berat badan (-), nafsu makan
menurun (+) sejak 2 minggu SMRS, mual muntah (-). BAK dan BAB tidak
ada kelainan. Sebelumnya, keluhan timbul kambuh-kambuhan.

C.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat minum OAT

: (-)

Riwayat hipertensi

: (+) sejak 2 tahun tidak terkontrol

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat mondok

: (+) pada tahun 2014

D.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

E.

Riwayat Kebiasaan dan Gizi


Riwayat merokok

: disangkal

Riwayat minum alkohol

: disangkal

Riwayat olahraga

: disangkal

Pasien makan 3 kali sehari, sebanyak porsi, dengan nasi, lauk pauk (tahu,
tempe, telur,ikan) dan sayur. Pasien jarang makan buah dan minum susu.
Pasien minum air putih sebanyak 5 gelas belimbing pehari.
F.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah seorang perempuan yang sudah menikah. Saat ini pasien
mondok di RS Dr Moewardi dengan menggunakan fasilitas BPJS.

II. PEMERIKSAAN FISIK


A.

Status Generalis
Keadaan umum sakit sedang, compos mentis E4V5M6, gizi kesan cukup,
tampak sesak.

B.

C.

Tanda Vital
Tekanan Darah

: 170/90 mmHg

Nadi

: 80 x / menit

Respirasi

: 25x / menit

Suhu

: 36,7 C per aksiler


Kulit

Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-)


D.

Kepala
Bentuk kepala mesochepal, kedudukan kepala simetris

E.

Mata

Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung (+/+),
pupil isokor (3mm/3mm)
F.

Hidung
Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)

G.

Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)

H.

Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-)

I.

Leher
Simetris, JVP tidak meningkat, kelenjar getah bening tidak membesar

J.

Thorax
a.

Retraksi (-), simetris

b.

Jantung
Inspeksi

: Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus Cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: Konfigurasi Jantung kesan tidak melebar

Auskultasi

: Bunyi Jantung I dan II intensitas normal, reguler,


bising (-)

c.

Paru
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba kanan = kiri

Perkusi

: Sonor/Sonor

Auskultasi

:Suara dasar vesikuler (+/+), Wheezing (+/+), RBK (+/


+)

K.

L.

Abdomen
Inspeksi

: Dinding perut sejajar dinding dada

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Tympani

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Ektremitas

Oedem

M.

Akral dingin

Status Psikiatri
Deskripsi Umum
1.

Penampilan : Perempuan, tampak sesuai umur,


perawatan diri cukup

2.

Kesadaran : Compos mentis

3.

Perilaku dan Aktivitas Motorik

4.

Pembicaraan : Normal

5.

Sikap terhadap Pemeriksa : Kooperatif, kontak mata

: Normoaktif

cukup
Afek dan Mood
Afek

: Appropiate

Mood

: Eutimik

Gangguan Persepsi
Halusinasi

: (-)

Ilusi

: (-)

Proses Pikir
Bentuk

: realistik

Isi

: waham (-)

Arus

: koheren

Sensorium dan Kognitif


Daya konsentrasi

: baik

Orientasi

: Orang

: baik

Waktu

: baik

Tempat

: baik

Daya Ingat
Daya Nilai

: Jangka panjang

: baik

Jangka pendek

: baik

: Daya nilai realitas dan sosial baik

Insight
N.

: Baik

Status Neurologis
Kesadaran

: GCS E4V5M6

Fungsi Luhur

: dalam batas normal

Fungsi Vegetatif

: dalam batas normal

Nervus Cranialis

: dalam batas normal

Fungsi Sensorik
- Rasa Eksteroseptik

: suhu, nyeri, dan raba dalam batas normal

- Rasa Propioseptik

: getar, posisi, dan tekan dalam batas normal

- Rasa Kortikal

: stereognosis, barognosis dalam batas normal

Fungsi Motorik dan Reflek

O.

Kekuatan

Tonus

R.Fisiologis

R.patologis

+2

+2

+2

+2

Range of Motion
NECK
Fleksi
Ekstensi
Lateral bending kanan
Lateral bending kiri
Rotasi kanan
Rotasi kiri

Ektremitas Superior
Shoulder

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Adduksi
Eksternal Rotasi

ROM Pasif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

ROM Pasif

ROM Aktif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

Elbow

Wrist
Finger

Trunk

Internal Rotasi
Fleksi
Ekstensi
Pronasi
Supinasi
Fleksi
Ekstensi
Ulnar Deviasi
Radius deviasi
MCP I Fleksi
MCP II-IV fleksi
DIP II-V fleksi
PIP II-V fleksi
MCP I Ekstensi
Fleksi
Ekstensi
Right Lateral Bending
Left Lateral Bending

Ektremitas Inferior

Hip

Knee
Ankle

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Adduksi
Eksorotasi
Endorotasi
Fleksi
Ekstensi
Dorsofleksi
Plantarfleksi
Eversi
Inversi

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30
0-90
0-30
0-35
0-35

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30
0-90
0-30
0-35
0-35

ROM Pasif

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30
0-90
0-30
0-35
0-35

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30
0-90
0-30
0-35
0-35

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

Kesimpulan : Full ROM


P.

Manual Muscle Testing (MMT)

NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideum
Ekstensor M. Sternocleidomastoideum

Fleksor
Ektensor
Rotator
Pelvic Elevation

TRUNK
M. Rectus Abdominis
Thoracic group
Lumbal group
M. Obliquus Eksternus Abdominis
M. Quadratus Lumbaris

Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Internal Rotasi
Eksternal
Rotasi
Fleksor
Elbow

Wrist
Finger

Eksternsor
Supinator
Pronator
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Fleksor
Ekstensor

Ektremitas Inferior
Hip
Fleksor
Ekstensor

5
5
5
5
5

Dekstra

Sinistra

M. Deltoideus anterior
M. Bisepss anterior
M. Deltoideu
M. Teres Mayor
M. Deltoideus
M. Biseps
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor
M. Teres mayor
M. Infra supinatus

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

M. Biseps
M. Brachilais
M. Triseps
M. Supinatus
M. Pronator teres
M. Fleksor carpi radialis
M. Ekstensor digitorum
M. Ekstensor carpi radialis
M. Ekstensor carpi ulnaris
M. Fleksor digitorum
M. Ekstensor digitorum

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

Dekstra

Sinistra

5
5

5
5

Ektremitas Superior

Shoulder

5
5

M. Psoas mayor
M. Gluteus maksimus

Knee
Ankle

Abduktor
Adduktor
Fleksor
Ekstensor
Fleksor
Ekstensor

M. Gluteus medius
M. Adduktor longus
Hamstring muscle
Quadriceps femoris
M. Tibialis
M. Soleus

5
5
5
5
5
5

5
5
5
5
5
5

Kesimpulan : MMT 5
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium Darah
Hb

: 13,2

g/dL

Hct

: 41

AE

: 5,02

106 / UL

AL

: 11,1

103 /UL (Meningkat)

AT

: 292

103 /UL

GDS

: 122

mg/dL

Natrium

: 120

mmol/L (Menurun)

Kalium

: 4,1

mmol/L

Chlorida

: 81

mmol/L (Menurun)

Analisa Gas Darah


pH

:7,365

BE

: 7,6

mmol/L

pCO2

: 61,9

mmHg

pO2

: 109, 7 mmHg

HCO3

:30,4

mmol/L

Total CO2

:31,9

mmol/L

O2 saturasi

:98,2

B. Rontgen thorak PA / Lat

Cor kesan membesar dengan CTR 57 % , tampak kalsifikasi aortic


knob

Tampak infiltrate di kedua lapang paru


Tampak honey combs appearance di hemithorax bawah hingga
tengah kanan dan kiri

Kesan :
-

Bronchiectasis terinfeksi

Cardiomegally dengan aortosklerosis

C. Elektrokardigrafi
Sinus ritme HR 80 X/ menit
IV. ASSESMENT
Bronchiektasis terinfeksi

V. DAFTAR MASALAH
Masalah Medis

Bronchiektasis terinfeksi
Problem Rehabilitasi Medik
1.

Speech Terapi : (-)

2.

Okupasi Terapi

keterbatasan

melakukan

kegiatan sehari-hari karena


sesak nafas dan batuk
3.

Sosiomedik

4.

Ortesa-protesa : (-)
5. Psikologi

: (-)
: (-)

6. Fisioterapi : sesak napas, retensi sputum


VI. PENATALAKSANAAN
Terapi Medikamentosa

1.O2, 2-3 L / menit

2. Infus NaCl 0,9 % 1 flab/ 12 jam 20 tpm


3. Infus Aminofluid 1 flab/24 jam 16 tpm
5. Injeksi Ceftriaxone 2gr/ 24 jam
6. Antasida syr 3 x CI
7. N-acetil cystein 3x200mg
8. Nebu Atrofen 0,25 mg per 8 jam
9. Injeksi Dexamethasone 5mg / 8jam
Rehabilitasi Medik

1. Fisioterapi

chest physical therapy:


-

latihan batuk efektif

postural drainage

2. Speech Terapi

: (-)
3. Okupasi Terapi

: energy konservasi

10

4. Sosiomedik : (-)
5. Ortesa-protesa

: (-)

6. Psikologi

: (-)

VII. IMPAIRMENT, DISABILITAS, dan HANDICAP


A. Impairment : Bronchiektasis terinfeksi
B. Disabilitas

: sesak napas, batuk

C. Handicap

: keterbatasan aktivitas sehari-hari karena mudah sesak

VIII. PLANNING
Planning Diagnostik : spirometri bila stabil
Planning Terapi

: tidak ada

Planning Edukasi

- Penjelasan penyakit dan komplikasi yang bisa terjadi


- Penjelasan tujuan pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan
- Edukasi untuk home exercise dan ketaatan untuk melakukan terapi
Planning Monitoring : Evaluasi hasil terapi.
IX. GOAL
A. Perbaikan keadaan umum sehingga mempersingkat lama perawatan
B. Minimalisasi impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien
C. Mencegah terjadinya komplikasi yang lebih buruk yang dapat
memperburuk keadaan penderita (seperti

gagal nafas, infeksi

berulang)
X. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam

: bonam
: dubia et malam

Ad fungsionam : dubia et bonam

11

TINJAUAN PUSTAKA
Bronchiectasis
Definisi
Bronkientasis adalah pelebaran atau dilatasi bronkus local dan
permanen sebagai akibat kerusakan struktur dinding. Artinya dilatasi
abnormal proksimal dari bronkus ukuran medium (diameter > 2mm)
disebabkan oleh destruksi otot dan komponen elastis dinding bronkus. Atau
pelebaran bronkus yang disertai kerusakan dinding bronkus yang bersifat
kronik dan menetap.
Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada bronkus
yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada
dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadangkadang bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar, seperti yang
terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu keadaan yang
disebabkan oleh adanya respon imunologis terhadap jamur Aspergillus
Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi
melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang
mengenai dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang
mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas,
atau mungkin muncul di satu atau dua tempat.
Prevalensi
Data di RSUD Dr. Soetomo Surabaya bronkiektasis merupakan
kelainan nomer tujuh terbanyak dari penderita rawat inap selama periode
1979-1985 dan nomer enam pada tahun 1987 serta menurun kembali di

12

nomer tujuh pada tahun 1990. bronkiektasis didapatkan pada 221 dari 11.081
(1,01 %) penderita.
Insidens bronkiektasis cenderung menurun dengan adanya kemajuan
pengobatan antibiotika. Akan tetapi perlu diingat bahwa insidens ini juga
dipenggaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara dan kelinan kogenital.
Etiologi
Bronkiektasis bisa disebabkan oleh:
1
o

Infeksi pernapasan

Campak
o

Pertusis

Infeksi adenovirus

Infeksi bakteri contohnya Klebsiella, Staphylococcus atau


Pseudomonas br>- Influenza

Tuberkulosa

Infeksi jamur

Infeksi mikoplasma

Penyumbatan bronkus
o

Benda asing yang terisap

Pembesaran kelenjar getah bening

Tumor paru

Sumbatan oleh lendir

Cedera penghirupan
o

Cedera karena asap, gas atau partikel beracun

Menghirup getah lambung dan partikel makanan

Keadaan genetik
o

Fibrosis kistik

Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener

Kekurangan alfa-1-antitripsin

Kelainan imunologik

13

Sindroma kekurangan imunoglobulin

Disfungsi sel darah putih

Kekurangan koplemen

Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti rematoid artritis,


kolitis ulserativa

Keadaan lain
o

Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)

Infeksi HIV

Sindroma Young (azoospermia obstruktif)

Sindroma Marfan.

Patogenesis
1

Faktor Radang dan Nekrosis


Radang pada saluran pernafasan menyebabkan silia dari sel-sel epitel
bronkus tidak berfungsi. Jaringan juga rusak sebagian oleh tanggapan
host neutrophilic protease, sitokin inflamasi nitrat oksida, dan oksigen
radikal. Epitel kolumner mengalami degenerasi dan diganti menjadi epitel
torak. Selanjutnya elemen kartilago muskularis mengalami nekrosis dan
jaringan elastis yang terdapat disekitarnya mengalami kerusakan sehingga
berakibat dinding bronkus menjadi lemah, melebar tak teratur dan
permanent. Hasilnya adalah bronkial abnormal, dilatasi bronkial dengan
peradangan

transmural.

Perubahan

anatomi

dinding

bronkial

mengakibatkan pembersihan sekresi saluran pernafasan melemah.


Gangguan bersihan sekresi menyebabkan kolonisasi dan infeksi dengan
organisme patogen dan ganguan dahak sekret purulen, hasilnya adalah
kerusakan bronkus berlanjut dan lingkaran setan kerusakan bronkus,
dilatsi, gangauna pembersihan sekret, infeksi berulang dan kerusakan
bronkus lebih diffuse. Bila ulserasi mengenai pembuluh darah serta
terbentuk anastomosis antara vena bronkialis dengan vena pulmonaris
(right to left shunt) dengan akibat timbul hipoksemia kronis dan berahir
dengan kor pulmonal kronis.

14

Faktor Mekanik
-

Distensi mekanis sebagai akibat dinding bronkus yang lemah,


sekret yang menumpuk dalam bronkus, adanya tumor atau
pembesaran kelenjar limfe

Peningkatan tekanan intra brokial distal dari penyempitan akibat


batuk

Penarikan dinding bronkus oleh karena fibrosis jaringan paru


sebagai akibat timbulnya perlekatan lokal yang permanen dari
dinding bronkus.

Pelebaran bronkus dapat berbentuk :


-

Sirkuler

Turbuler

Varikosis

Gambaran Klinis
Gejala klinik timbul sebagai akibat gangguan fungsi silia dan adanya
stasis secret sehingga memungkinkan secret terkumpul di segmen yang
mengalami dilatsi. Dugaan adanya bronkiektasis sebagaian besar
ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan
radiologi masal, sebab gejala klinik baru timbul bila penderita mengalami
infeksi sekunder.
Penderita bronkiektasis mengeluh batuk produktif yang sering bersifat
menahun, disertai dahak purulen dalam jumlah banyak. Apabila
ditampung dalam gelas transparan dan didiamkan akan tampak tiga
lapisan dari atas ke bawah yaitu : buih, cairan jernih/saliva, dan endapan
pus.
Ekspektorasi

timbul

dengan

perubahan

posisi

tubuh

yang

memungkinkan pengaliran sputum dari segmen bronkiektasis, misalnya


waktu bangun tidur, miring ke kiri atau ke kanan. Sesak nafas timbul
apabila ada stagnasi sputum yang luas pada saluran nafas dan keradangan
akut.

15

Batuk darah timbul pada 50 % penderita, sering perdarahan cukup


banyak tetapi jarang fatal. Kebanyakan batuk darah pada anak disebabkan
oleh bronkiektasis.
Penderita tampak kurus, astenia dan aneroksia. Panas badan timbul
akibat infeksi sekunder.
Penderita tampak kurang gizi, anemi, dispneu, kadang-kadang
sianosis dan sering didapatkan jari tabuh pada tangan dan kaki. Ronki
basah presisten pada lobus inferior paru seringkali merupakan kelainan
yang amat penting. Gejala tersebut lebih jelas terdengar bila pemeriksaan
dilakukan sebelum dan sesudah posisi drainase postural dan penderita
disuruh batuk.
Pada pemeriksaan laboratorium tidak khas, Hb dapat rendah (anemia),
dapt pula tinggi bila ada polisitemia sekunder sebagai akibat dari
insufisiensi paru. Leukositosis dengan laju endap darah yang tinggi sering
dijumpai bila ada infeksi sekunder.
Pada gambaran Radiologis, Foto torak PA dan lateral : tampak infiltrat
pada paru bagian basal dengan daerah radiolusen yang multipel
menyerupai sarang lebah (honey comb appeareance.

16

Bronkografi : merupakan sarana diagnosis pasti untuk bronkiektasis,


karena dengan bahan kontras yang dimasukan kedalam saluran nafas akan
tampak kelainan ektsis.
Bronkoskopi tidak dapat digunakan untuk melihat ektasis, akan tetapi
dapat untuk mengetahui adanya tumor atau benda asing, sumber batuk
darah, sputum dan perdarahan.
Pemeriksaan faal paru untuk melihat akibatnya yaitu kelainan resrtiksi
dan atau obstruksi. Kelainan faal paru yang terjadi tergantung luas dan
beratnya penyakit. Fungsi ventilasi dapat masih normal bila kelainannya
ringan. Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan
kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama (VEP 1) terdapat
tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi aliran udara pernafasan.
Pada bronkiektasis dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan
PaO2 derajat ringan sampai berat, tergantung pada beratnya kelainan.
Penurunan PaO2 ini menunjukan adanya abnormalitas regional (maupun
difuse) distribusi ventilasi yang berpengaruh pada perfusi paru.
Tingkat beratnya penyakit :
Bronkiektasis ringan
Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah
demam (ada infeksi sekunder), produksi sputum terjadi dengan adanya
perubahan posisi tubuh, biasanya ada hemoptisis sangat ringan, pasien
tampak sehat dan fungsi paru normal. Foto dada normal.
Bronkiektasis sedang
Ciri klinis : batuk-batuk produktif terjadi tiap saat, sputum timbul tiap saat
(umumnya warna hijau dan jarang mukoid, serta bau mulut busuk), seringsering ada hemoptisis, pasien umumnya masih tampak sehat dan fungsi paru
normal, jarang terjadi jari tabuh. Pada pemeriksaan fisis paru sering
ditemukan ronki basah kasar pada paru yang terkena, gambaran foto dada
boleh dikatakan masih normal.
Bronkiektasis berat

17

Ciri klinis : batuk-batuk produktif dengan sputum banyak berwarna kotor dan
berbau . sering ditemukan adanya neumonia dengan hemoptisis dan nyeri
pleura. Sering ditemukan jari tabuh. Bila ada obstruksi saluran nafas akan
dapat ditemukan adanya dispneu, sianosis, atau tanda kegagalan paru.
Umumnya keadaan pasien kurang baik. Sering ditemukan infeksi piogenik
pada kulit, infeksi mata, dan sebagainya. Pasien mudah timbul pneumonia,
septikemia, abses metastasis, kadang-kadang amiloidoisis. Pada pemeriksaan
fisis dapat ditemukan ronki basah kasar pada daerah yang terkena. Pada
gmbaran foto dada ditemukan kelainan penambahan bronchovascular
marking dan multipel cyst containing fluid level (honey comb appeareance).
Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakan dengan pemeriksaan broskografi/ CT scan
yang tampak pelebaran bronkus.
Bronkogram tidak selalu dapat dikerjakan pada setiap pasien
bronkiektasis , karena terikat akan adanya indikasi, kontra indikasi,
komplikasi dan syarat-syarat kapan melakukanya.
CT scan paru menjadi alternatif penunjang yang paling sesuai untuk
evalusai bronkiektasis, karena sifatnya non invasif dan hasilnya akurat bila
menggunakan potongan yang lebih tipis dan mempunyai sepesifitas dan
sensitivitas lebih dari 95%.
Diagnosis Banding
1

Bronkitis kronis
Bronkitis kronis menunjukan gambaran bronkus yang normal pada
pemeriksaan bronkografi.

Tuberkulosis paru
Pada tuberkulosis paru tampak gambaran radiologis yang berbeda dengan
gambaran bronkiektasis, terlebih lagi bila dijumpai basil tuberkulosis
dalam sputum. Akan tetapi perlu diingat bahwa bronkiektasis dapat
merupakan penyulit dari tuberkulosis paru.

Abses Paru

18

Pada radiologis tampak abses yang dapat dibedakan dari gambaran


bronkiektatais.
4

Tumor Paru
Tampak gambaran masa padat pada paru, bila proses keganasan memberi
gambaran infiltrat, maka perlu dibedakan dengan proses pneumonia.

Penatalaksanaan
o

Konservatif

mengobati penyakit dasar

drainase postural

Tindakan ini merupakan cara paling efektif untuk mengurangi gejala, tetapi
harus dikerjakan terus menerus. Pasien diletakan dengan posisi tubuh
sedemikian rupa hingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimal.
Tiap kali melakukan drainase postural dikerjakan selama 10-20 menit dan
tiap hari dikerjakan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah
usaha mengeluarkan sputum

(sekret bronkus) dengan bantuan gaya

gravitasi. Apabila dengan mengatur posisi tubuh pasien seperti disebut di


atas belum diperoleh drainase sputum secara maksimal dapat dibantu
dengan tindakan memberikan ketukan dengan jari pada pasien (tabbottage)
3

Penggunaan antibiotika yang tepat dan segera

Mencairkan sputum yang kental, hal ini dapat dilakukan dengan misalnya :
inhalasi uap air panas atau dingin (menurut keadaan), menggunakan obatobat mukolitik dan perbaikan hidrasi tubuh (banyak minum air putih)

Suportif

Memperbaiki keadaan umum

Psikoterapi agar tidak menarik diri dari lingkungan

Pembedahan

Paling ideal dilakukan pada bagian yang sakit


Indikasi : Batuk darah berulang, proses ektasis yang local/ soliter
Kontra indikasi: pada bronkiektasis yang difuse, faal paru yang jelek
Penyulit
1

batuk darah massif

Kor pulmonal kronikum dekompensata

19

Infeksi sekunder
Prognosis
Prognosis tergantung dari penyebab, lokasi, luas, proses, drajat ganguan faal paru
dan adanya penyulit. Penggunaan antibiotika yang tepat dan tindakan bedah
sangat berpengaruh terhadap prognosis. Tanpa pengobatan penderita ektasis
jarang dapat hidup melewati umur 10-15 tahun. Kebanyakan penderita meninggal
pada umur kurang dari 40 tahun karena adanya penyulit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Alsaggaf Hood, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian
Ilmu Penyakit Paru FK Unair. Surabaya.
2. Aditama Tjandra Yoga. 2005. Patofisiologi Batuk. Bagian
Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Unit Paru
RS Persahabatan. Jakarta.
3. Garisson Susan J. 2001. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik.
Departement of Physical Medicine and Rehabilitation. Texas

20