Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KEPERAWATAN ANAK

ASMA BRONCHIAL PADA ANAK


Dosen Pengampu : Walin

Disusun Oleh:
1. Putri Arisetia N
2. Rahmania Putri A
3. Ranitasari
4. Rendi Saifinuha H
5. Retno Purwati

(P17420213022)
(P17420213023)
(P17420213024)
(P17420213025)
(P17420213026)

Tingkat 2A / Semester IV

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asma bronkial adalah suatu kelainan inflamasi peradangan) kronik saluran


nafas yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagairangsangan
yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas,
dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini hari yan umumnya
bersifat reversible baik dengan atau tanpa pengobatan. Penyakit asma berasal dari
kata asthma yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti sukar bernapas.
Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan mengi yang
disebabkan oleh penyempitan saluran napas.Banyak kasus-kasus penyakit asma di
masyarakat yang tidak terdiagnosis, yangsudah terdiagnosis pun belum tentu
mendapatkan pengobatan secara baik.
Disamping
itu
banyak

permasalahan

kesehatan

lainyang menyertai berupa gangguan organ tubuh lain, gangguan perilaku dan per
masalahan kesehatan lainnya,Penyakit asma adalah penyakit yang mempunyai
banyak faktor penyebab, dimanayang paling sering karena faktor atopi atau alergi.
Faktor-faktor penyebab dan pemicu penyakit asma antara lain debu rumah dengan
tungaunya, bulu binatang, asap rokok,asap obat nyamuk, dan lain-lain.Penyakit
ini merupakan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua,kakek
atau nenek anak menderita penyakit asma maka bisa diturunkan ke anak. Prof Dr.
dr Heru Sundaru, Sp.PD, KAI, Guru Besar Tetap FKUI menjelaskan,
penyakitasma bukan penyakit menular tapi penyakit keturunan.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 300 juta orang
didunia mengidap penyakit asma dan 225 ribu orang meninggal karena penyakit
asma pada tahun 2005 lalu. Hasil penelitian International Study on Asthma and
Alergies inChildhood pada tahun yang sama menunjukkan bahwa di Indonesia
prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar 4,2% menjadi 5,4
%.Penyakit asma tidak dapat disembuhkan dan obat-obatan yang ada saatini
hanya berfungsi menghilangkan gejala.
Namun, dengan mengontrol penyakit asma, penderita

penyakit

asma

bisa

bebas dari gejala penyakit asma yang mengganggusehingga dapat menjalani


aktivitas hidup sehari-hari.Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan,
maka prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini ditujukan untuk mengontrol
gejala. Kontrol yang baik inidiharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi
(kumatnya gejala penyakit asma),menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas
sosial yang baik dan meningkatkankualitas hidup pasien.Anda bisa mengenal
penyakit

asma

lebih

lanjut

dalam

halaman

detail

ini

meliputigejala asma,diagnosa asma, penyebab asma, faktor pencetus asma, pengo


batan, pengcegahan dan hidup bersama asma.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari asma ?
2. Bagaimana anatomi dari saluran pernafasan ?
3. Apa saja etiologi penyakit asma ?
4. Bagaimana manifestasi dari penyakit asma ?
5. Apa saja klasifikasi asma pada anak ?
6. Bagaimana patofisiologi dari penyakit asma ?
7. Bagaimana pathway penyakit asma ?
8. Apa saja Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan pada penderita asma ?
9. Bagaiaman penatalaksanaan penyakit asma ?
10. Apa saja komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit asma ?
11. Bagaimana pencegahan dari penyakit asma ?
12. Bagaimana cara penularan penyakit asma ?
13. Bagaimana askep pada pasien asma ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian asma
2. Untuk mengetahui anatomi saluran pernafasan
3. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit asma
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis penyakit asma
5. Untuk mengetahui klasifikasi dapri penyakit asma
6. Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit asma
7. Untuk mengetahui pathway penyakit asma
8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita
asma.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit asma
10. Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan penyakit asma
11. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit asma
12. Untuk mengetahui cara penularanpenyakit asma
13. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien asma

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon
trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (Muttaqin,
2008).
Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel
dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu.
(Smelzer Suzanne : 2001)
Asma bronchial adalah penyakit pernafasan objektif yang ditandai oleh spasme
akut otot polos bronkus. Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan
ventilasi alveolus. (Elizabeth, 2000: 430)

Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon bronkus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas
yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari
pengobatan (The American Thoracic Society).
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa asma bronchial adalah
suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif yang bersifat reversible, ditandai
dengan terjadinya penyempitan bronkus, reaksi obstruksi akibat spasme otot polos
bronkus, obstruksi aliran udara, dan penurunan ventilasi alveoulus dengan suatu
keadaan hiperaktivitas bronkus yang khas.

2.2 Anatomi Sistem Pernafasan

Sistem Pernafasan meliputi saluran sebagai berikut:

Rongga Hidung Faring Laring Trakhea Bronkus Bronkiolus Alveolus


(paru-paru)
Organ Pernafasan :
a. Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang dan
dipisahkan oleh sekat hidung. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna
untuk menyaring udara, debu, dan kotoran yang masuk ke dalamlubang hidung.
b. Faring
Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan
jalan makanan, terdapat dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas
tulang leher.
c. Laring
Laring atau pangkal tenggorokan merupakan saluran udara dan bertindak sebagai
pembentukan suara. Terletak dibagian depan faring. Pangkal tenggorokan ini
dapat ditutup oleh epiglottis yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi
menutupi laring pada waktu kita menelan makanan.
d. Trakea
Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk
oleh 16-20 cincin tulang rawan. Panjang trakea 9-11 cm.
e. Bronkus
Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus
kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin,
mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping, terdiri dari
9-12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi
lebih kecil disebut bronkiolus. Pada bronkiolus tidak terdapat cincin lagi dan
pada ujung bronkiolus terdapat gelembung paru atau alveoli.
f. Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang berfungsi untuk pertukaran gas O2
dan CO2. Paru-paru dibagi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus
dan paru-paru kiri yang terdiri dari 2 lobus. Letak paru-paru dirongga dada
menghadap ke tengah rongga dada (kavum mediastinum). Paru-paru dibungkus
oleh selaput yang disebut pleura.
Fisiologi Sistem pernafasan
Fungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida.Pada pernapasan
melalui paru-paru atau pernapasan externa, oksigen berasal dari udara yang masuk
melalui hidung dan mulut, pada waktu bernapas, oksigen masuk melaui trakhea dan
pipa bronkhial ke alveoli dan mempunyai hubungan yang erat dengan darah di dalam
kapilerpulmonalis.Hanya satu lapisan membran yaitu membran alveoli-kapiler, yang
memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan diangkut oleh

haemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung kemudian dipompa oleh arteri
ke seluruh bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100
mmHg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95% jenuh oksigen
Di dalam paru-paru, karbon dioksida menembus membran alveoli-kapiler dari
kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronkhial dan trakhea, dikeluarkan
melalui hidung dan mulut. Pernapasan jaringan atau pernapasan interna, darah yang
telah menjenuhkan hemoglobinnya dengan oksige, mengitari seluruh tubuh dan
akhirnya mencapai kapiler, di mana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan
mengangkut oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung
dan darah menerima, sebagai gantinya, hasil buangan oksidasi, yaitu karbon
dioksida.
2.3 Etiologi
Suatu

hal

yang

fenomenahiperaktivitas

yang

menonjol

pada

penderita

bronkus.

Bronkus

penderita

asma

Asma
sangat

adalah
peka

terhadaprangsangan imunologi maupun non imunologi. Adapun rangsangan ataufaktor


pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah:
1. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan olehalergen atau
alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang.
2. Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen,seperti common
cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, danpolutan lingkungan dapat
mencetuskan serangan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristikdari bentuk
alergik dan non-alergik (Smeltzer & Bare, 2002).
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi danpresipitasi timbulnya
serangan Asma Bronkhial yaitu :
a. Faktor predisposisi
Genetik
Faktor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belumdiketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderitadengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat jugamenderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi
ini,penderita sangat mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jikaterpapar dengan
faktor pencetus. Selain itu hipersensitivitas saluranpernapasannya juga bisa
diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a) Inhalan : yang masuk melalui saluran pernapasan
Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur,bakteri dan
polusi.

b) Ingestan : yang masuk melalui mulut


Contoh : makanan dan obat-obatan
c) Kontaktan : yang masuk melalui kontak dengan kulit
Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan
2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin seringmempengaruhi Asma.
Atmosfir yang mendadak dinginmerupakan faktor pemicu terjadinya serangan
Asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti
musimhujan, musim kemarau.
3) Stres
Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetusserangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma
yang timbulharus segera diobati penderita asma yang mengalami stres
ataugangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikanmasalah
pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi makagejala belum bisa diobati.
4) Olah raga atau aktifitas jasmani
Kegiatan jasmani berat, misalnya berlari atau naik sepeda dapat memicu
serangan asma. Bahkan tertawa dan menangis yang berlebihan dapat
merupakan pencetus. Pasien dengan faal paru di bawah optimal amat rentan
terhadap kegiatan jasmani.
2.4 Manifestasi Klinis
a. Wheezing
b. Dyspneu dengan lama ekspirasi
c. Batuk kering karena sekret kental dan lumen jalan napas sempit
d. Tachypnea, orthopnea
e. Gelisah
f. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan
g. Fatigue
h. Intoleransi aktivitas
i. Perubahan tingkat kesadaran, cemas
j. Serangan tiba-tiba/ berangsur-angsur
Tanda serangan asma :
1. Tanda awal serangan asma
- Tidak ada perbaikan dengan obat biasa
- Pemakaian obat lebih sering
- Mengi menetap
- Terlihat pucat dan agak gelisah
- Ingus encer makin banyak
2. Tanda lanjutan serangan asma
- Mengi menetap dan makin keras
- Anak mudah lelah dan gelisah
- Pemakaian obat makin sering
- Perut turun naik saat bernapas
- Anak lebih suka dalam posisi duduk
- Obat pereda serangan tidak mempan lagi
3. Tanda bahaya serangan asma
- Mengi melemah tapi sesak napas makin berat

Anak terlihat kelelahan


Kebiruan didaerah mulut dan sekitarnya
Anak sangat gelisah

2.5 Klasifikasi
Pembagian asma pada anak :
a. Asma episodic yang jarang
Biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun. Serangan umumnya dicetuskan
oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam
satu tahun.

Lamanya serangan paling lama beberapa hari saja dan jarang

merupakan serangan yang berat. Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam
hari. Mengi dapat berlangsung 3-4 hari. Sedangkan batuk dapat berlangsung 10-14
hari. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan pada golongan
ini.
b. Asma episodic sering
Biasanya serangan pertama terjadi pada usia sebelum 3 tahun, berhubungan
dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan
tanpa infeksi yang jelas. Nbanyaknya serangan 3-4 kali dalam satu tahun dan tiap
kali serangan beberapa hari sampai beberap minggu. Frekuensi serangan paling
sering pada umur 8-13 tahun.
c. Asma kronik atau persisten
Lima puluh persen anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan
50 % sisanya serangan episodic. Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadinya
obstruksi saluran nafas yang persisten. Pada malam hari sering terganggu oleh
batuk dan mengi. Obstruksi jalan nafas mencapai puncaknya pada umur 8-14
tahun.

Di samping tiga golongan besar di atas terdapat bentuk asma lain:


1. Asma episodic berat dan berulang
Dapat terjadi pada semua umur, biasanya berhubungan dengan infeksi virus
saluran nafas. Tidak terdapat obstruksi saluran nafas yang persisten.
2. Asma persisten pada bayi
- Mengi yang persisten dengan takipneu
- Dapat terjadi pada umur 3-12 bulan
- Mengi biasanya terdengar jelas kalau anak sedang aktif dan tidak terdengar
-

kalau sedang tidur.


Beberapa anak bahkan menjadi gemuk fat happy whezzer
Gambaran rontgen paru biasanya normal.
Gejala obstruksi saluran nafas lebih banyak disebabkan oleh edema

mukosa dan hipersekresi daripada spasme ototnya.


3. Asma hipersekresi

biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan anak sekolah.


Gambaran utama serangan: batuk, suara nafas berderak (krek-krek, krok-

krok), dan mengi


- Didapatkan ronki basah dan kering
4. Asma karena beban fisik (exercise induced astma)
5. Asma dengan alergen atau sensitivitas spesifik
6. Batuk malam
- terdapat pada semua golongan asma
- banyak terjadi karena inflamasi mukosa, edema dan produksi mucus
-

banyak.
Pada umur 2-6 tahun, gejala utama batuk malam keras dan kering,

biasanya terjadi jam 1-4 pagi.


7. Asma yang memburuk pada pagi hari (early morning dipping)
2.6 Patofisiologi
Perubahan jaringan pada asma tanpa komplikasi terbatas pada bronkus dan
terdiri dari spasme otot polos, edema mukosa, dan infiltrasi sel-sel Radang yang
menetap dan hipersekresi mucus yang kental. Keadaan ini pada orang-orang yang
rentan terkena asma mudah ditimbulkan oleh berbagai rangsangan, yang
menandakan suatu keadaan hiveraktivitas bronkus yang khas.
Orang yang menderita asma memilki ketidakmampuan mendasar dalam mencapai
angka aliran uadara normal selama pernapasan (terutama pada ekspirasi).
Ketidakmampuan ini tercermin dengan rendahnya usaha ekspirasi paksa pada detik
pertama, dan berdasrkan parameter yang berhubungan aliran.
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma
tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang
terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan
bronkhus kecil.
Bila seseorang menghirup alergen maka antibody IgE orang tersebut
meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan
menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin,
zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor
kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Histamine yang dihasilkan menyebabkan
kontraksi otot polos bronkiolus. Apabila respon histaminnya berlebihan, maka dapat
timbul spasme asmatik. Karena histamine juga merangsang pembentukan mucus dan
meningkatkan permeabilitas kapiler, maka juga akan terjadi kongesti dan
pembengkakan ruang intestinum paru, sehingga menyebabkan tahanan saluran napas

menjadi sangat meningkat. Selain itu olahraga juga dapat berlaku sebagai suatu
iritan, karena terjadi aliran udara keluar masuk paru dalam jumlah beasr dan cepat.
Udara ini belum mendapat perlembaban (humidifikasi), penghangatan, atau
pembersihan dari partikel-partikel debu secara adekuat sehingga dapat mencetuskan
asma.
Pada asma, diameter bronkhiolus menjadi semakin berkurang selama ekspirasi dari
pada selama inspirasi. Hal ini dikarenakan bahwa peningkatan tekanan dalam
intrapulmoner selama usaha ekspirasi tak hanya menekan udara dalam alveolus
tetapi juga menekan sisi luar bronkiolus. Oleh karena itu pendeita asma biasanya
dapat menarik nafas cukup memadai tetapi mengalami kesulitan besar dalam
ekspirasi. Ini menyebabkan dispnea, atau kelaparan udara. Kapsitas sisa fungsional
paru dan volume paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma karena
kesulitan mengeluarkan udara dari paru-paru. Setelah suatu jangka waktu yang
panjang, sangkar dada menjadi membesar secara permanent, sehingga menyebabkan
suatu barrel chest (dada seperti tong).

2.7 Pathway
Ekstinsik (inhaled alergi)

Intrinsik (infeksi, psikososial,stress)

Bronchial mukosa menjadi sensitif oleh Ig E

Peningkatan mast cell Pada trakheobronkhia

Stimulasi reflek
reseptor
syarat
parasimpatis pada
mukosa bronkhial

Penurunan stimuli reseptor terhadap


iritan pada trakheobronkhial
Hiperaktif non spesifik stimuli penggerak dari cel

Pelepasan histamin terjadi


stimulasi pada bronkial smooth
sehingga terjadi kontraksi
bronkus
Peningkatan
permiabilitas
vaskuler akibat kebocoran protein
dan cairan dalam jaringan

Perangsang reflek reseptor


tracheobronkhial

Stimuli bronchial smooth


dan
kontraksi
otot
bronkhiolus

Perubahan jaringan, peningkatan Ig E dalam serum


Respon dinding bronkus
bronkospasme

wheezing

Udema mukosa

Ketidakefekt

Hipersekresi mukosa

ifan pola napas

Bronkus menyempit

kental

Penum
pukan
sekret

Ventilasi terganggu

Sekret tidak keluar

hipoksemia

Gangguan
pertukaran
gas

gelisah

Intoleransi
aktivitas

Bernapas
melalui mulut
Keringnya
mukosa

Gangguan
pola tidur

cemas
Resiko
infeksi

Batuk tidak
efektif

Bersihan
jalan napas
tidak efektif

Sumber :Somantri (2008), Muttaqin (2008), Sundaru H (2002)

2.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang
paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon
pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan
sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau
nebulizer).
2. Uji Provokasi bronkus
Menurut Heru Sundaru dalam bukunya H.Slamet Sogiono, dkk (2001:
24-25)Dilakukan jika spirometri normal, maka dilakukan uji
provokasi bronkus dengan allergen, dan hanya dilakukan pada pasien
yang alergi terhadap allergen yang di uji.
3. Foto dada ( scanning paru)
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa
redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paruparu.
4. Pemeriksaan kadar Ig E total dan Ig E spesifik dalam sputum
Pemeriksaan Ig E dalam serum juga dapat membantu menegakkan
diagnosis asma, tetapi ketetapan diagnosisnya kurang karena lebih
dari 30 % menderita alergi.
5. ABGs
Menunjukan proses penyakit kronik, sering kali PO2 menurun dan
PCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema).
Sering kali menurun pada asma dengan pH normal atau asidosis,
alkalosis

respiratori

ringan

sekunder

terhadap

hiperventilasi

(emfisema sedang atau asma).


6. Darah komplit
Dapat menggambarkan adanya peningkatan eosinofil pada asma.
7. Uji kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang
dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
8. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat
dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

a. Perubahan aksis jantung,.


b. Terdapatnya

tanda-tanda

hipertropi

otot

jantung,

yakni

terdapatnya RBB (Right bundle branch block).


c. Tanda-tanda hopoksemia,
9. Analisis gas darah
2.9 Penatalaksanaan
Penderita asma dengan serangan ringan tidak perlu dirawat inap.
Rawat inap diperlukan bila serangan berat, dengan tindakan awal tidak
teratasi dan ada tanda-tanda komplikasi. Penanggulangan asma pada anak
meliputi:
a. Mencegah serangan dengan menghindari faktor pencetus
b. Mencegah serta mengatasi proses inflamasi dengan obat antiinflamasi
c. Penanggulangan edema mukosa saluran napas dengan obat
antiinflamasi inhalasi secara oral/parenteral
d. Penanggulangan sumbatan lendir dengan banyak minum, mukolitik
serta lendir encer dan mudah dikeluarkan.
e. Menciptakan kondisi jasmani yang baik meliputi kebugaran dan
ketahanan fisik dengan latihan jasmani atau senam pernapasan.
Tindakan penanggulangan :
a. Serangan akut dengan oksigen nasal/ masker
b. Terapi cairan parenteral
c. Terapi pengobatan :
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2 yaitu :
1) Pengobatan non farmakologik
- Memberikan penyuluhan
- Menghindari faktor pencetus
- Pemberian cairand. Fisioterapie. Beri Obila perlu
2) Pengobatan farmakologik
- Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas.
Terbagi dalam 2 golongan:
a) Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin)Na
ma obat: Orsiprenalin (Alupent), fenoterol (berotec),
terbutalin (bricasma).
b) Santin (teofilin)Nama obat: Aminofilin (Amicam supp),
Aminofilin

(Euphilin

Retard),

Teofilin(Amilex)Penderita dengan penyakit lambung


-

sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.


Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi
merupakan

obat

pencegahserangan

asma.

Kromalin

biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yanglain


-

dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan.


Ketolifen, mempunyai efek pencegahan terhadap asma
seperti kromalin. Biasanya diberikandosis 2 kali 1 mg/hari.

Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.


2.10
Komplikasi
Berbagai komplikasi menurut Arief Mansjoer (2000: 477) yang mungkin
timbul adalah :
1. Pneumo thoraks
Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga
pleura yang dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada.
Keadaan ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi
dapat menyebabkan kegagalan nafas.Kerja pernapasan meningkat,
kebutuhan O2 meningkat. Orang asma tidak sanggup memenuhi
kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas
melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus
yang kental.
2. Status Asmatikus
Status asmatikus adalah suatu serangan asma yang sangat berat,
berlangsung dalam beberapa jam smapai beberapa hari yang tidak
memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim dan dapat
mengakibatkan kematian.
Factor penyebab :
- Infeksi saluran nafas
- Pencetus serangan ( allergen, obat- obatan, infeksi)
- Kontraksi otot polos
- Edema mukosa
- Hipersekresi
3. Emfisema kronik
Adanya pengisian udara berlebih dengan obstruksi terjadi akibat
dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus

dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar


dari pada pemasukannya.
4. Ateleltaksis
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penyumbatan saluran udara ( bronkus maupun bronkiolus ) atau akibat
pernafasan yang sangat dangkal.
5. Aspergilosis
Aspergilosis merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh
jamur dan tersifat oleh adanya gangguan pernafasan yang berat.
Penyakit ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya,
misalnya pada otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk
menunjukkan

adanya

infeksi Aspergillus

sp.Aspergilosis

Bronkopulmoner Alergika (ABPA) adalah suatu reaksi alergi terhadap


jamur yang disebut aspergillus, yang menyebabkan peradangan pada
saluran pernafasan dan kantong udara.
6. Gagal nafas
7. Bronchitis
Bronkhitis adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam di paru-paru
yang kecil mengalami bengkak dan terjadi peningkatan produksi
dahak. Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam
upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan.
2.11
Pencegahan
Secara skematis mekanisme terjadinya asma digambarkan sebagai
berikut:

Seh
ubungan dengan asal-usul tersebut, upaya pencegahan asma dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu :

1. Pencegahan primer
Pencegahan primer ditujukan untuk mencegah sensitisasi pada bayi
dengan risiko asma (orangtua asma), dengan cara :
a. Penghindaran asap rokok dan polutan lain selama kehamilan dan masa
perkembangan bayi/anak
b. Diet hipoalergenik ibu hamil, asalkan / dengan syarat diet tersebut
tidak mengganggu asupan janin
c. Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
d. Diet hipoalergenik ibu menyusui

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah inflamasi pada anak yang
telah tersentisisasi dengan cara menghindari pajanan asap rokok, serta
allergen dalam ruangan terutama tungau debu rumah.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan untuk mencegah manifestasi asma pada
anak yang telah menunjukkan manifestasi penyakit alergi. Sebuah
penelitian multi senter yang dikenal dengan nama ETAC Study (early
treatment of atopic children) mendapatkan bahwa pemberian Setirizin
selama 18 bulan pada anak atopi dengan dermatitis atopi dan IgE spesifik
terhadap serbuk rumput (Pollen) dan tungau debu rumah menurunkan
kejadian asma sebanyak 50%. Perlu ditekankan bahwa pemberian setirizin
pada penelitian ini bukan sebagai pengendali asma (controller).
2.12

Cara Penularan
Pada umumnya penularan penyakit asma lebih disebabkan oleh

faktor debu. Kota-kota besar dapat memicu penduduknya untuk terkena


penyakit asma 50% lebih besar dibandingkan penduduk yang tinggal di
pedesaan atau kampung-kampung. Karena debu dari pembuangna gas
emisi karbpn dapat membuat orang yang menghirupnya menjadi sesak
dan sangat sulit bernafas. Selain iti asap rokok juga dapat memicu
timbulnya penyakti asma.Sebetulnya asma bukan penyakit yang
menular, melainkan biasanya ditularkan secara genetik da erat kaitanya
dengan faktor alergi.

Namun, seringkali penyakit asma mempunyai komplikasi berupa


radang atau infeksi saluran pernafasan infeksi saluran pernafasan inilah
yang dapat menular ke orang disekitar melalui udara.Fenomena penyakit
asma saat ini jauh meningkat, diperkirakan ada 300 juta kasus penyakit
asma terjadi di dunia. Penyebabnya bukan karena penyakti ini menular,
tetapi meningkatnya faktor allergens, sesuatu yang memicu alergi,
dilingkungan kita seperti polusi udara dan lain-lain yang dapat memicu
timbulnya serangan asma.

2.13
ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKHIAL
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1) Pengkajian
a. Polapemeliharaan kesehatan
GejalaAsmadapatmembatasimanusiauntuk
berperilakuhidup
normalsehingga

pasiendenganAsma

hidupnya sesuai kondisi yang

harusmengubahgaya

memungkinkan tidak terjadi

seranganAsma
b. Polanutrisidan
metabolik
Perlu dikaji tentang

statusnutrisi pasien meliputi, jumlah,

frekuensi, dan kesulitan-kesulitan dalammemenuhikebutuhnnya.


Serta pada pasiensesak,potensialsekaliterjadinya kekurangan
dalammemenuhikebutuhannutrisi,halini

karenadispneasaat

makan, laju metabolismserta ansietasyangdialami pasien.


c. Pola
eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna,
bentuk,konsistensi,frekuensi,jumlah serta kesulitan dalam pola
eliminasi.

d. Pola aktifitas dan latihan


13. Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian pasien,seperti olahraga,
bekerja,danaktifitas lainnya.Aktifitasfisik dapat terjadifaktor pencetus
terjadinyaAsma.
e. Polaistirahat dan tidur
14. Perludikajitentang bagaimantidurdanistirahatpasienmeliputi berapa
lama pasientidur danistirahat. Serta berapa besar akibat kelelahanyang
dialamipasien.Adanyawheezing

dansesakdapat

mempengaruhi

polatidurdan istirahat pasien.


f. Polapersepsisensori dankognitif
15. Kelainanpada pola persepsidankognitifakanmempengaruhi konsep
diri pasien

dan akhirnya mempengaruhi jumlah

stresor yang

dialamipasiensehinggakemungkinanterjadiseranganAsma
yangberulangpunakan semakin tinggi.
g. Polahubungan dengan oranglain
16. GejalaAsma
sangatmembatasipasienuntukmenjalankan
kehidupannya

secara

normal.

Pasien

perlu

kondisinyaberhubungandengan oranglain.
h. Pola reproduksidan seksual
17. Reproduksiseksualmerupakankebutuhandasar
kebutuhan

ini

tidak

terpenuhi

akan

terjadi

menyesuaikan

manusia,bila
masalah

dalam

kehidupanpasien.Masalahiniakanmenjadistresoryang akan meningkatkan


kemungkinan terjadinyaseranganAsma.

i. Polapersepsidiri dan konsep diri


18. Perlu dikaji tentang pasien terhadap penyakitnya.Persepsi
yang

salahdapatmenghambatresponkooperatif

padadiripasien.

Cara memandang diriyang salahjugaakanmenjadistresordalam


kehidupan pasien.
j. Polamekanismedan koping
19. Stresdanketeganganemosionalmerupakanfaktor
pencetusseranganAsma
stress.Frekuensidan

instrinsik

makaprludikajipenyebabterjadinya
pengaruhterhadapkehidupanpasienserta

carapenanggulangan terhadap stresor.


k. Polanilai kepercayaan dan spiritual
20. Kedekatanpasienpadasesuatuyang
diyakinididuniadipercayai
pasien.Keyakinanpasien

dapatmeningkatkankekuatanjiwa
terhadapTuhanYangMaha

Esa

pendekatandiri

serta

pada-Nya

merupakanmetodepenanggulanganstresyangkonstruktif
21.
2) Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan spirometri
22.
Pemeriksaan
dansesudah

spirometridilakukan
pemberian

aerosol(inhalerataunebulizer)

sebelum
bronkodilator
golongan

adrenergik.Peningkatan FEV1atau FVC sebanyak >20%


menunjukkan diagnosis Asma.
b. Pemeriksaan tes kulit
23.
Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE yang
spesifik dalam tubuh.
c. Pemeriksaan radiologi
24.
Pemeriksaanradiologidilakukanbila
kecurigaanterhadap

proses

patologik

ada
diparu

atau

komplikasiAsma, seperti pneumothorak, pneumomediastinum,


atelektasis, dan lain-lain.
d. Pemeriksaan analisagasdarah
25.
Pemeriksaananalisa gasdarahhanya dilakukanpada
penderita dengan serangan Asmaberat.

e. Pemeriksaan sputum
26.
Untuk
melihat

adanyaeosinofil,

kristal

CharcotLeyden, spiral Churschmann, pemeriksaan sputum


penting untuk menilai adanyamiselium Aspergilus fumigatus.
f. Pemeriksaan eosinofil
27.
Pada
penderita
Asma,jumlaheosinofiltotaldalamdarahsering

meningkat.

Jumlah eosinofil total dalam darah membantu untuk


membedakan AsmadariBronchitis kronik.
28.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihanjalannapastidakefektifberhubungandenganpeningkatan
produksisekret

2. Ketidakefektifan polanapas berhubungan denganbronkospasme


3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai
oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnyapertahanan utama atau imunitas
5. Cemas berhubungan dengan kurangnyatingkat pengetahuan
6. Gangguan polatidurberhubungan dengan batuk yangberlebih
7. Intoleransiaktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
29.
30.
31.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
32. Dx
1
: Bersihan

jalan

napas

tidak

berhubungan dengan peningkatan produksi sekret


33. Tujuan : jalan napas menjadi efektif
34. Kriteriahasil :
- Jalan napas bersih
- Sesak berkurang
- Batuk efektif
- Mengeluarkan sekret
35. Intervensi:
1)
2)
3)
4)
5)

Kaji tanda-tandavital dan auskultasibunyi napas


Berikan pasien untuk posisiyangnyaman
Pertahankan lingkunganyangnyaman
Tingkatkan masukan cairan, denganmemberi airhangat.
Dorongatau bantu latihan napas dalam dan batukefektif

efektif

6) Dorongatau berikan perawatan mulut


7) Kolaborasi : pemberian obat dan

humidifikasi,

seperti

nebulizer
36.

Dx 2 : Ketidakefektifan polanapas berhubungan dengan

bronkospasme
37.
Tujuan : polanapas kembali efektif
38.
Kriteriahasil :
-

Polanapas efektif
Bunyi napas normal kembali
Batuk berkurang

39.
1)
2)
3)
4)

Intervensi :
Kaji frekuensikedalaman pernapasan danekspansidada
Auskultasibunyi napas
Tinggikan kepaladan bentuk mengubah posisi
Kolaborasipemberian oksigen

40.

Dx 3 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan

gangguan suplai oksigen


41.
Tujuan :dapat mempertahankan pertukarangas
42.
Kriteriahasil :
-

Tidak adadispnea
Pernapasan normal Intervensi
43.
44.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan
2) Tinggikankepalatempattidur,bantupasienuntukmemilih
3)
4)
5)
6)

posisiyangnyaman untuk bernapas


Kaji atau awasisecar rutin kulit dan warnamembran mukosa
Dorongpengeluaran sputum: penghisapan biladiindikasikan
Auskultasibunyi napas
Kolaborasi: Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi

45.
46.

Dx 4 : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan

dengan tidak adekuatnyapertahanan utama atau imunitas


47.
Tujuan :tidak mengalami infeksinoskomial
48.
Kriteriahasil :
49.

Tidak adatanda-tandainfeksi
Mukosamulut lembab
Batuk berkurang
Intervensi :

1)
2)
3)
4)

Monitortanda-tandavital
Observasiwarna, karakter, jumlah sputum
Berikan nutrisiyangadekuat
Berikan antibiotik sesuai indikasi

50.
51.

Dx 5 : Cemas berhubungan dengan kurangnyatingkat

pengetahuan
52.
Tujuan : kecemasan pasien berkurang
53.
Kriteriahasil :
-

Pasien terlihat tenang


Cemas berkurang
Ekspresiwajah tenang

54.

Intervensi :

1) Kaji tingkat kecemasan


2) Berikan pengetahuan tentangpenyakityangdiderita
3) Berikan dukungan pada pasien untuk mengungkapkan
perasaannya
4) Ajarkan teknik napas dalam padapasien
55.

Dx 6 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk

yang berlebih
56.
Tujuan : polatidurterpenuhi
57.
Kriteriahasil :
58.
1)
2)
3)
4)
5)

Polatidur6-7 jam perhari


Tidurtidak terganggu karenabatuk
Intervensi :
Kaji polatidursetiap hari
Beri posisiyangnyaman
Berikan lingkunganyang nyaman
Anjurkan kepadakeluargadan pengunjunguntuk tidak ramai
Menjelaskan pada pasien pentingnya keseimbangan istirahat dan
tiduruntuk penyembuhan

59.
60.

Dx 7 : Intoleransi aktivitas berhubungan

dengan kelemahan fisik


61.
Tujuan : aktivitas normal
62.
Kriteriahasil :
-

Pasien dapat berpartisipasidalam aktivitas


Pasien dapat memenuhikebutuhan pasien secaramandiri

63.

Intervensi:

1) Kaji tingkat kemampuanaktivitas


2) Anjurkan keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhaan
pasien
3) Tingkatkanaktivitas secarabertahap sesuai toleransi
4) Jelaskan pentingnya istirahat dan aktivitas dalaam proses
penyembuhan
64.
65.
66. BAB III
67. PENUTUP
68.
69. Kesimpulan
70.
Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, penulis
menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Asma bronchiale adalah suatu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya
respon trakhea dan bronhus terhadap berbagai alergen yang menyebabkan
terjadinya penyempitan jalan nafas.
2. Faktor predisposisi asma bronchiale adalah adanya riwayat keluarga yang
pernah menderita, pola hidup yang buruk, serta berbagai alergen yang
berada di sekitar tempat tinggal atau di lingkungan kerja.
3. Gejala spesifiknya berupa sesak nafas, batuk dan adanya bunyi nafas
tambahan (wheezing).
4. Penanganan spesifiknya mengarah kepada pembebasan jalan nafas.
5. Secara umum tampak adanya beberapa perbedaan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus. Hal ini disebabkan karena klien sudah pernah mendapatkan
pengobatan dan perawatan secara intensif sebelumnya serta respon tiap
individu yang berbeda-beda terhadap asma bronchiale.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.

82.
83.
DAFTAR PUSTAKA
84.
85.
Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk
Asma Berat. Jakrta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
86. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
87.
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma
Management

and

Prevension

In

Children.

www.

Dimuat

dalam

www.Ginaasthma.org
88.
Kelompok V. Asuhan keperawatan Asma Bronkhial Pada Klien Ny. P di
Ruanmg Nilam (Penyakit Dalam) Rumah Sakit dr. H. M Anshari Sahaleh
Banjarmasin Program Studi D3. Keperawatan 2009.
89.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
90.

Media Aesculapius
Price, Silvia A & Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta:

EGC
91.
Purnomo. 2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian Asma Bronkial Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro
92.
Ruhyanudin, F. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Gangguan Sistem Kardio Vaskuler. Malang : Hak Terbit UMM Press
93. Saheb, A. 2011. Penyakit Asma. Bandung: CV medika
94.
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 200595.

2006. Jakarta: Prima Medika


Sundaru H. 2006 Apa yang Diketahui Tentang Asma, JakartaDepartemen
Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM
96.