Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi
Morbili atau dengan Campak, Measles, Rubeola merupakan penyakit akut yang
sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang pada umumnya menyerang anak.
Virus campak dapat menyebabkan penyakit akut pada anak yang dimulai dari traktus
respiratorius bagian atas, selanjutnya menyebar ke organ dan jaringan sehingga
mengakibatkan berbagai gejala klinis.

II.

Etiologi
Penyebabnya adalah virus yang tergolong dalam famili Paramyxovirus yaitu genus
virus morbili. Virus ini terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa
prodromal dan dalam waktu yang singkat setelah timbul ruam.
Virus ini sangat sensitif terhadap panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada
suhu 300C dan -200C, sinar ultraviolet, eter, tripsin, dan betapropiolakton. Cara penularan
penyakit ini dengan droplet dan kontak langsung dengan penderita.

III.

Epidemiologi
Biasanya penyakit ini timbul pada masa kanak-kanak dan menyebabkan kekebalan
seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan
mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah
umur tersebut kekebalan mulai berkurang sehingga bayi dapat menderita morbili.
Bila ibu menderita morbili pada trimester pertama, kedua dan ketiga kehamilan,
maka mungkin akan melahirkan anak dengan kelainan bawaan, berat badan lahir rendah,
lahir mati, atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
Bila ibu tidak /belum menderita morbili maka bayi yang dilahirkan tidak memiliki
kekebalan terhadap morbili. Sedangkan ibu yang menderita morbili pada usia kehamilan
1-2 bulan, 50 % kemungkinan dapat menyebabkan abortus.
Di Indonesia, menurut survei Kesehatan Rumah Tangga, campak menduduki
tempat ke-5 dalam urutan 10 penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5 dalam
urutan 10 macam penyakit utama pada anak umur 1-4 tahun (0,77%).
Telah diketahui bahwa campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara
umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering
dijumpai bronkopneumonia (75,2%), gastroenteritis (7,1%), ensefalitis (6,7%) dan lainlain (7,9%).

IV.

Faktor Resiko
1

V.

Daya tahan tubuh yang lemah


Belum pernah terkena campak
Belum pernah mendapat vaksinasi campak

Patofisiologi
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat
menimbulkan infeksi pada seseorang. Penyakit ini sangat mudah menular dimana
penularan dapat terjadi melalui:
Percikan ludah yang mengandung virus (droplet infection)
Kontak langsung dengan penderita
Penggunaan peralatan makan dan minum bersama
Penderita dapat menularkan penyakitnya sejak 2-4 hari sebelum timbulnya ruam
pada kulit sampai 5 hari sejak ruam timbul. Tingkat infektivitas campak sangat tinggi.
Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap,
tetapi 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk ke
dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva,
saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus.
Pada hari ke-9-10 fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan
konjungtiva, satu sampai dua lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam
jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis
dari sistem saluran nafas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva
yang tampak merah. Respons imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada
sistem saluran pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak
tampak sakit-berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tampak suatu ulser kecil
pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, merupakan tanda pasti untuk menegakkan
diagnosis.
Akhimya muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan
pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun,
sebagai akibat respons delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam
pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus
infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di
epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Penelitian dengan imunofluoresens
dan histologik menunjukkan bahwa antigen campak dan gambaran histologik pada kulit
berupa suatu reaksi Arthus. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran
pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri

sekunder

berupa

bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan
herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak, selain itu campak dapat
menyebabkan gizi kurang.

VI.

Gejala Klinis
Penyakit ini merupakan salah satu self limiting disease yang memiliki masa tunas
10-20 hari dan dibagi dalam 3 stadium, yaitu :
A. Stadium kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4- 5 hari disertai panas (38,5 C),
malaise, batuk, nasofaringitis, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir
stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
3

patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna
putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di
mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan di bibir bawah
tengah atau palatum. Kadang-kadang terdapat makula halus yang kemudian
menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan
leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering
didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada
bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam waktu 2
minggu terakhir.
B. Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di
palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik.
Terjadinya eritema yang berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan.
Diantara makula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang
telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak.
Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan
seperti terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula
dan di daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali. Tidak jarang
disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah black measles,
yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus
digestivus.
C. Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang

meninggalkan

bekas

yang

berwarna

lebih

tua

(hiperpigmentasi) yang lama-kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi


pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini
merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan
eritema dan eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun
sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.
Berdasarkan gejala yang timbul, morbili dapat berupa :
Panas
Panas dapat meningkat hingga hari kelima atau keenam yaitu pada saat puncak
timbulnya erupsi. Kadang-kadang temperatur dapat bifasis dengan peningkatan awal
yang cepat dalam 24-48 jam pertama diikuti dengan periode normal selama 1 hari
dan selanjutnya terjadi peningkatan yang cepat sampai 39C-40,6C pada saat erupsi
ruam mencapai puncaknya. Pada morbili yang tidak mengalami komplikasi,
4

temperatur turun diantara hari ke 2-3, sehingga timbulnya eksantema. Bila tidak
disertai komplikasi, maka 2 hari setelah timbul ruam yang lengkap, panas biasanya

turun. Bila panas menetap, maka kemungkinan penderita mengalami komplikasi.


Coryza
Tidak dapat dibedakan dengan common cold. Batuk dan bersin diikuti dengan
hidung tersumbat dan sekret yang mukopurulen dan menjadi profus pada saat erupsi

mencapai puncaknya serta menghilang bersamaan dengan menghilangnya panas.


Konjungtivitis
Pada stadium awal periode prodromal dapat ditemukan transverse marginal
line injection pada palpebra inferior. Gambaran ini sering dihubungkan dengan
adanya inflamasi konjungtiva yang luas dengan disertai adanya edema palpebra.
Keadaan ini dapat disertai dengan peningkatan lakrimasi dan fotofobia.

Konjungtivitis akan menghilang setelah demam turun.


Batuk
Batuk disebabkan oleh reaksi inflamasi mukosa saluran pernafasan. Intensitas
batuk meningkat dan mencapai puncaknya pada saat erupsi. Namun demikian batuk

dapat bertahan lebih lama dan menghilang secara bertahap dalam waktu 5-10 hari.
Bercak Kopliks
Nama tersebut diambil dari Henry Koplik, nama seorang dokter spesialis anak
di Amerika Serikat yang pertama mendeteksi tanda itu. Merupakan gambaran
bercak-bercak kecil yang ireguler sebesar ujung jarum/ pasir yang berwarna merah
terang dan pada bagian tengahnya berwarna putih kelabu. Gambaran ini merupakan
salah satu tanda patognomonik morbili. Pada hari pertama timbulnya ruam sudah
dapat ditemukan adanya bercak Kopliks dan menghilang hari ketiga timbulnya

ruam.
Ruam
Timbul setelah 3-4 hari panas. Ruam mulai sebagai eritema makulo-papuler,
mulai timbul dari belakang telinga pada batas rambut, kemudian menyebar kedaerah
pipi, leher, seluruh wajah dan dada serta biasanya dalam waktu 24 jam sudah
menyebar sampai ke lengan atas dan selanjutnya ke seluruh tubuh, mencapai kaki
pada hari ketiga. Pada saat ruam sudah sampai ke kaki, maka ruam yang timbul lebih
dulu mulai berangsur-angsur menghilang.

VII.

Diagnosis
Diagnosa biasanya ditegakkan berdasarkan temuan klinis. Pada tahap awal, sulit
untuk menegakkan diagnosa campak. Adanya konjungtivitis merupakan petunjuk

berharga dalam upaya pengambilan diagnosa. Bila kita berhasil menemukan bercak
Koplik, maka diagnosa dini dapat kita tegakkan.
Hal-hal yang membantu penegakan diagnosa:

A.

Riwayat kontak dengan penderita campak


Gejala demam, batuk, pilek dan konjungtivitis
Bercak Koplik (patognomonik)
Erupsi makulopapula dengan tahap-tahap pemunculan yang khas
Bercak berwarna kehitaman pada kulit setelah sembuh
Anamnesis
Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak), batuk, pilek harus
dicurigai atau di diagnosis banding morbili.
Mata merah, tahi mata, fotofobia, menambah kecurigaan.
Dapat disertai diare dan muntah.
Dapat disertai dengan gejala perdarahan (pada kasus yang berat) : epistaksis,
petekie, ekimosis.
Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili (1 atau 2 minggu

sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi campak.


B. Pemeriksaan Fisik
Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya demam (biasanya
tinggi) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.
Pada umunya anak tampak lemah.
Koplik spot pada hari ke 2-3 panas (akhir stadium kataral).
Pada stadium erupsi timbul ruam (rash) yang khas : ruam makulopapular yang
munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi,
muka, dan kemudian seluruh tubuh
C. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya leukopeni. Dalam
sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya multi nucleated giant
cell yang khas. Pada kasus-kasus atipik, dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk
memastikannya. Teknik pemeriksaan yang dapat digunakan adalah:
Fiksasi komplemen
Inhibisi hemaglutinasi
Metode antibodi fluoresensi tidak langsung
VIII.

Diagnosis Banding
A. German measles (Rubela)
Gejala lebih ringan dari morbili, terdiri dari gejala infeksi saluran nafas bagian
atas, demam ringan, namun terdapat pembesaran kelenjar regional di daerah
suboccipital dan post aurikuler. Ruam lebih halus yang mula-mula timbul pada
daerah wajah lalu menyebar ke batang tubuh dan menghilang dalam waktu 3 hari.
B. Eksantema subitum
6

Ruam akan muncul bila suhu badan menjadi normal. Rubeola infantum
(eksantema subitum) dibedakan dari campak dimana ruam dari roseola infantum
tampak ketika demam menghilang. Ruam rubella dan infeksi enterovirus cenderung
untuk kurang mencolok daripada ruam campak, sebagaimana tingkat demam dan
keparahan penyakit. Walaupun batuk ada pada banyak infeksi ricketsia, ruam
biasanya tidak melibatkan muka, yang pada campak khas terlibat. Tidak adanya
batuk atau riwayat injeksi serum atau pemberian obat biasanya membantu mengenali
penyakit serum atau ruam karena obat. Meningokoksemia dapat disertai dengan
ruam yang agak serupa dengan ruam campak, tetapi batuk dan konjungtivitis
biasanya tidak ada. Pada meningokoksemia akut ruam khas purpura petekie. Rash
karena obat-obatan lebih bersifat urtikaria, sehingga rashnya lebih besar, luas,
menonjol dan umumnya tidak disertai panas.
C. Infeksi oleh Ricketsia
Gejala prodromal lebih ringan, rash tidak dijumpai di wajah dan kopliks spot
tidak ada.
D. Infeksi mononucleolus
Dijumpai limfadenopati umum dan peningkatan jumlah monosit.
E. Rash karena obat-obatan
Bersifat urtikaria, sehingga rashnya lebih besar, luas, menonjol dan umumnya
tidak disertai panas.
IX.

Komplikasi
A. Laringitis akut
Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas,
bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya, ditandai dengan distres
pernafasan, sesak, sianosis dan stridor. Ketika demam menurun, keadaan akan
membaik dan gejala akan menghilang.
B.Bronkopneumonia
Dapat disebabkan oleh virus campak maupun oleh invasi bakteri, ditandai
dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanya ronki basah halus. Pada
saat suhu menurun, gejala pneumonia karena virus akan menghilang, kecuali batuk
yang masih terus sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat
yang diharapkan, dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga
adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang
telah dirusak oleh virus. Gambaran infiltrat pada fototoraks dan adanya leukositosis
dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang malnutrisi masih

menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan menjadi fatal bila
tidak diberi antibiotik.
C. Kejang demam
Kejang dapat timbul pada periode dernam, umumnya pada puncak demam saat
ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam.
D. Ensefalitis
Ensefalitis adalah penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya
terjadi pada hari ke-4-7 setelah tirnbulnya ruarn. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam
1.000 kasus campak, dengan mortalitas berkisar antara 30-40%. Terjadinya
ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung
virus campak ke dalam otak. Gejala, ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, koma
dan intobel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas meningkat, twitching, disgrientasi
juga dapat diternukan. Pemeriksaan cairan serebrpspinal menunjukkan pleositpsis
ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan
kadar glukosa dalam batas normal.
E.SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degeneratif susunan
saraf pusat yang jarang disebabkan oleh karena infeksi oleh virus campak yang
persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah
menderita campak adalah 0,6-2,2 per 100.000 infeksi campak. Risiko lebih besar
pada umur yang lebih muda, masa inkubasi timbulnya SSPE rata-rata 7 tahun. Gejala
SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti
oleh inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat miokionik. Laboratorium
menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, anribodi terhadap
campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk
SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan.
F. Otitis media
Invasi virus ke dalam telinga tengah umumnya terjadi pada campak. Gendang
telinga biasanya hiperemia pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi
invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus, terjadi otitis
media purulenta.
G. Enteritis

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada
fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.
H. Konjungtivitis
Pada hampir semua kasus campak terjadi konjungtiviris, yang ditandai dengan
adanya mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan fotofobia. Kadangkadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus campak atau antigennya dapat
dideteksi pada lesi konjungtiva pada hari-hari pertama sakit. Konjungtiva dapat
memburuk dengan terjadinya hipopion dan pan-oftalmitis dan menyebabkan
kebutaan.
I. Sistem kardiovaskular
Pada ECG dapat ditemukan kelainan berupa perubahan pada gelombang T,
kontraksi prematur aurikel dan perpanjangan interval A-V. Perubahan tersebut
bersifat sementara dan tidak atau hanya sedikit mempunyai arti klinis.
X.

Penatalaksanaan
Morbili merupakan self limiting desease, sehingga pengobatannya hanya bersifat
simptomatis yaitu : memperbaiki keadaan umum, antipiretik bila suhu tinggi, sedativum,
dan obat batuk. Tindakan lain adalah pengobatan segera terhadap komplikasi yang
timbul.
Obat-obat yang dapat diberikan antara lain:
Penurun panas (antipiretik) paracetamol 7,5-10mg/kg bb/kali, interval 6-8 jam.
Pengurang batuk : ekspektoran, gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 100 mg
tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari. Antitusif perlu diberikan bila batuknya
hebat/mengganggu, narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan. Mukolitik

bila perlu.
Vitamin A dosis tunggal
Di bawah 1 tahun : 100.000 unit
Di atas 1 tahun
: 200.000 unit
Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa infeksi sekunder
(seperti otitis media dan pnemonia).
Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan dan indikasi masuk Rumah Sakit
dianjurkan bila :
Morbili yang disertai komplikasi
Morbili dengan kemungkinan komplikasi yang berat, yaitu bila ditemukan :
1. Bercak/ eksantema merah kehitaman yang menimbulkan desquamasi
dengan squama yang lebar dan tebal.
9

2. Suara parau terutama disertai tanda penyumbatan seperti laringitis dan


pneumonia
3. Dehidrasi berat
4. Kejang dengan penurunan kesadaran
5. PEM berat
XI.

Pencegahan
Hindari kontak dengan penderita campak
Imunisasi campak pada usia 9 bulan
Imunisasi MMR pada usia 15 bulan
Gamma globulin

Dapat diberikan pada anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun bila ada riwayat

kontak dengan penderita


Hanya memberikan perlindungan singkat ( 3 bulan)
Dosis: 0.2 ml/kgBB

Vaksinasi

biasanya

dapat

memberikan

perlindungan

seumur

hidup

pada

penerimanya. Walau demikian, pada beberapa kasus, orang yang telah mendapat
vaksinasi masih bisa terkena penyakit campak. Bila ini terjadi, gejala yang dialami
biasanya bersifat ringan.
Morbili dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Imunisasi yang diberikan dapat
berupa imunisasi aktif dan pasif.
A. Imunisasi aktif
Vaksin yang diberikan ialah Live attenuated measles vaccine. Mula-mula
diberikan strain Edmonson B, tetapi strain ini dapat menimbulkan panas tinggi dan
eksantema pada hari ke 7-12 post vaksinasi, sehingga strain vaksin ini sering
diberikan bersama-sama dengan gamma globulin di lengan lain.
Sekarang digunakan strain Schwarz dan Moraten dan tidak diberikan bersama
gamma globulin. Di Indonesia digunakan vaksin virus morbili hidup yang telah
dilemahkan yaitu strain Schwarz. Vaksin ini diberikan sebanyak 0,5 ml secara
subkutan dan dapat menimbulkan kekebalan yang berlangsung lama.
Vaksin ini diberikan secara subcutan sebanyak 0,5 ml pada umur 9 bulan. Pada
anak dibawah umur 9 bulan umumnya tidak dapat memberikan kekebalan yang baik,
karena gangguan antibodi yang dibawa sejak lahir.
Pemberian imunisasi ini akan menyebabkan anergi terhadap tuberkulin selam 2
bulan setelah vaksinasi. Bila anak telah mendapat imunoglobulin atau tranfusi darah
sebelumnya, maka vaksinasi ini harus ditangguhkan sekurang-kurangnya 3 bulan.
Vaksinasi tidak boleh dilakukan bila :

10

Menderita infeksi saluran nafas akut atau infeksi akut lainnya yang disertai
dengan demam lebih dari 38C
Memiliki riwayat kejang demam
Terdapat defisiensi imunologik
Penderita leukimia, dalam pengobatan kortikosteroid dan imunosupresif
Memiliki riwayat alergi (ditunda sampai dengan 2 minggu sembuh)
Dalam masa kehamila
B. Imunisasi pasif
Tidak banyak dianjurkan karena terdapat risiko terjadinya ensefalitis dan
aktivasi tuberkulosis.
XII.

Prognosis
Morbili merupakan self limiting disease dan berlangsung 7-10 hari sehingga bila
tanpa disertai dengan komplikasi maka prognosisnya baik.
Morbiditas morbili dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :

Diagnosis dini, pengobatan yang adekuat terhadap komplikasi yang timbul

Kesadaran dan pengetahuan yang rendah dari orang tua penderita.

Masih percaya mitos

Penggunaan fasilitas kesehatan yang kurang

DAFTAR PUSTAKA
Burnett M., 2007. Measles, Rubeola. http://www.e-emedicine.com
FKUI-RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak Jakarta:
FKUI. 2007.
11

Made

Setiawan,

Agus

Sjahrurachman,

Fera

Ibrahim,

Agus

Suwandono.

Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Bagian Mikrobiologi FK-UI, Litbangkes
Departemen Kesehatan RI. Sari Pediatri, Vol. 10, No. 3, Oktober 2008.
Rampengan, T.H. Laurentz, I.R. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta: EGC. 2008.
Ranuh, I.G.N, Et Al. Pedoman Imunisasi Di Indonesia, Satgas Imunisasi-Ikatan Dokter Anak
Indonesia Jakarta: BP3 IDAI. 2008.
Rahman M. Dardjat M.T (Editor), Segi-Segi Praktis Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 2. Jakarta
2002.
Soedarmo, P.S.S, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi Dan Penyakit Tropis. Edisi II.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2008.

12