Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN KEMBAR (GEMELI)


DosenPengampu :Hartati

DisusunOleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Putri Arisetia Ningsih


Rahmania Ananda Putri A
Ranitasari
Rendi Saifinuha Hidayat
Retno Purwati

P17420213022
P17420213023
P17420213024
P17420213025
P17420213026

Tk. II / Smt.IV

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
2015

KEHAMILAN KEMBAR
(GEMELI)

A. PENGERTIAN
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Manuaba,
1998 : 265).
Kehamilan ganda adalah bila proses fertilisasi menghasilkan janin lebih dari
satu (Saifuddin, 2001 : 311).
Kehamilan ganda adalah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. (Mochtar,
1990).
Kembar siam adalah keadaan anak kembar dimana tubuh keduanya bersatu yang
terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna.
Kehamilan ganda adalah suatu keadaan kehamilan dengan jumlah janin dua atau
lebih.(Taber, 1994 : 282).
Kehamilan ganda adalah kehamilan dimana terdapat dua atau lebih janin dalam
satu uterus pada waktu kehamilan tersebut (sewaktu hamil). (Wikipedia
Indonesia, 2003).
B. KLASIFIKASI
Jenis kehamilan kembar menurut Manuaba dan Mochtar (1990) meliputi:
1.

Kehamilan kembar monozigote (identik).


Merupakan kehamilan kembar yang berasal dari satu ovum sehingga disebutkan
juga hamil kembar identik atau hamil kembar homolog atau hamil kembar
uniovuler. Kehamilan kembar monozigote dapat terjadi karena:
a. Satu ovum dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula.
b. Hambatan pada tingkat segmentasi.
c. Hambatan setelah amnion terbentuk, tetapi sebelum primitive strike (4 5
minggu kehamilan).
Hamil kembar ini mempunyai ciri sebagai berikut:
Jenis kelamin sama.
Biasanya kembar identik.
Mempunyai gen yang sama.
Pada kehamilan dalam rahim terdapat 1 plasenta, 1 korion, 2 amnion.
Pada hamil kembar monozigote dapat terjadi kelainan pertumbuhan seperti
kembar siam.

2.

Kehamilan kembar dizigote


Merupakan kehamilan kembar 2 ovum, heterolog, glovuler dan fraternal.
Kedua telur dapat berasal dari:
a. 1 ovarium dari 2 flikel de graff.
b. 1 ovarium dari 1 folikel de graff.
c. 1 dari ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri.
Ciri kehamilan kembar dizigote yaitu:

Jenis kelamin dapat sama atau berbeda.

Mempunyai 2 plasenta, 2 amnion, 2 korion.


Pada kehamilan kembar digizote:

Dapat terjadi satu janin meninggak dan yang lain tumbuh sampai
cukup bulan.
Janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau
pada kehamilan agak tua janin jadi gepeng disebut fetus papyraseus atau
kompresus.

Perbedaan kehamilan kembar monozigote dan dizigote


Perbedaan
Plasenta

Kembar Monozigote
1 (70 %)
2 (30 %)

Khorion

2 (100 %)

1 (70 %)
2 (30 %)

Amnion

Kembar Dizigote

2 (100 %)

1 (70 %)
2 (30 %)

2 (100 %)

2 bersekutu

2 terpisah

Sekat kedua kantong

2 lapis

4 lapis

Jenis kelamin

Sama

Sama / tidak

Rupa dan sifat

Sama

Agak berlainan

Mata, kuping, gigi, kulit

Sama

Berbeda

Ukuran antropologik

Sama

Berbeda

Sidik jari

Sama

Berbeda

Bisa sama, bisa satu

Bisa sama, bisa duanya

Tali pusat

Cara pegangan

kidal, uang lain kanan

kanan

Sama

Sama / tidak

Golongan darah

3. Conjoined twins, suporfokundasi dan suporfotasi

Conjoined twins atau kembar siam


ialah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya.
Misalnya:
- torakopagus (dada dengan dada)
- dominopagus (perlengketan kedua abdomen)
- kraniopagus (kedua kepala)

Suporfokundasi
ialah perbuahan 2 telur yang dikeluarkan pada ovum yang sama pada dua kali
koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.

Suporfetasi
Adalah kehamilan kedua yang terjadi pada beberapa minggu atau setelah
kehamilan pertama.

LetakJanin
Padakehamilankembarseringterjadikesalahanpresentasi
dan
posisikeduajanin. Begitu pula letakjaninkeduadapatberubahsetelahjaninpertamalahir,
misalnyaletaklintangberubahjadiletaksungsangatauletakkepala.
Berbagaikombinasiletak, presentasi dan posisibisaterjadi; yang paling
seringdijumpaiadalah:
1. Keduajanindalamletakmembujur, presentasikepala; (44-47%);
2. Letakmembujur, presentasikepalabokong (37-38%);
3. Keduanyapresentasibokong (8-10%);
4. Letaklintang dan presentasikepala (5-5,3%);
5. Letaklintang dan presentasibokong (1,5-2%);
6. Dua-duanyaletaklintang (0,2-0,6%);
7. Letak dan presentasi 69 adalahletak yang berbahaya, karenadapatterjadi
kuncimengunci (interlocking).
C. ETIOLOGI

Dalam berbagai literatur disebut insiden kehamilan kembar adalah 1 kehamilan


kembar dibanding 89 kehamilan tunggal. Sedangkan kembar tiga 1 berbanding 89
pangkat dua, dan kembar empat 1 berbanding 89 pangkat tiga, dan seterusnya.
Beberapa faktor berikut menurut Mariono ikut berperan dalam menyebabkan
terjadinya kehamilan ganda:
1. Ras/bangsa
Menurut literatur, ras berwarna seperti bangsa Asia dan Afrika cenderung lebih
besar mengalami kehamilan ganda ketimbang ras kulit putih/Eropa. Meski
belum dapat dibuktikan secara empiris, tapi pada banyak kasus memang terlihat
kehamilan ganda lebih sering dialami ibu-ibu hamil kulit berwarna dibanding
mereka yang berkulit putih.
2. Usia
Dengan bertambahnya usia, kemungkinan terjadinya kehamilan ganda semakin
besar. Akan tetapi selepas umur 40 tahun, probabilitas terjadinya kehamilan
ganda akan menurun lagi.
3. Hereditas/keturunan
Hamil kembar biasanya diwariskan secara maternal (garis keturunan ibu). Bila
dari garis keturunan ibu ada yang kembar, maka prosentase melahirkan anak
kembar lebih besar. Namun tidak tertutup kemungkinan garis keturunan ayah
bisa menimbulkan kehamilan kembar. Yang pasti, insiden atau angka kejadian
dari garis maternal lebih besar dibanding dari garis paternal.
4. Obat-obatan
Ibu yang memakai obat pemicu ovulasi untuk mematangkan sel telurnya juga
ikut meningkatkan peluang terjadinya kehamilan kembar. Soalnya, dengan obat
tersebut sel telur yang matang pada setiap siklus jadi lebih dari satu. Obat ini
biasanya diberikan pada pasangan yang sulit hamil dengan faktor penyebab
infertilitas indung telur. Itulah mengapa, pada kasus-kasus pasangan yang sulit
mendapat momongan kemudian menjalani terapi obat-obat penyubur ini, bila
akhirnya terjadi kehamilan, biasanya merupakan kehamilan kembar.
5. Prosedur fertilisasi in vitro
Di sini beberapa embrio yang sudah dibuahi diimplantasikan dalam rahim. Jika
semua berkembang dengan baik, maka terjadi pertumbuhan lebih dari satu. Di
atas usia kehamilan 30 minggu, berat badan masing-masing janin ini umumnya

lebih ringan dibanding janin pada kehamilan tunggal di usia kehamilan yang
sama. Perbedaan berat saat persalinan bisa mencapai 1000-1500 gram.
Penyebabnya diperkirakan adalah regangan berlebih pada uterus, hingga
sirkulasi darah di plasenta mengalami penurunan.

D. PATOFISIOLOGI
Pada kembar identik atau kembar monozigote, proses terjadinya yaitu
pada saat pembuahan, satu ovum dibuahi oleh satu sel sperma. Kemudian
terbentuk zigote. Zigote membelah secara mitosis, dari 1 sel menjadi 2, dari 2 sel
menjadi 4 dan seterusnya yang disebut fase morula, blastula, gastula, dan
neurula.
Bila pembelahan seperti diatas terjadi pada fase morula (1-3 hari setelah
pembuahan), maka setiap embrio akan memiliki kantong ketuban yang berbeda
dan satu plasenta. Kemudian pada fase primitif, akan terjadi pemisahan
sempurna yang akan berkembang menjadi 2 (atau lebih) janin yang kembar
identik.
Bila pada fase primitif terjadi gangguan, atau terdapat kegagalan pembelahan,
maka biasanya akan menimbulkan kecacatan fisik atau dempetnya bagian tubuh
tertentu. Ketidaksempurnaan akibat gangguan segmentasi inilah yang
menyebabkan proses pemisahan dua jabang bayi tak berlangsung sempurna dan
disebut kembar siam.
Pada kembar fraternal atau kembar dizigote, dimana terjadi dua ovum yang
matang secara bersama sama dibuahi oleh masing masing 1 sel sperma.
Sehingga pada proses pembelahan selanjutnya akan terbentuk 2 janin dengan 2
plasenta, 2 amnion dan 2 korion yang terpisah, tetapi masih dalam satu rahim.

E. PATHWAY
1 sel sperma
Membuahi 1 ovum
(1 zigot)

2 ovum dibuahi
2 sperma

bangsa, umur, keturunan


Obat penginduksi ovulasi

Hambatan pada tingkat blastula,

2 zigot

Zigot mengalami pembelahan

KehamilanGanda (gemeli)

Mal Presentasi

Bayi Prematur

Presentasi janin

Kepekaan

Normal

uterus meningkat

Ansietas

Pembedahan (SC)

Persalinan pervaginam

Resikotinggiinfeksi Post
Operasi (SC)

Ancamankematian
Ibu dan janin

perubahan
hormon

Resting
intoleransi
aktivitas

Uterus membesar
Sesuai Usia kehamilan

Tekanan abdomen
Meningkat

mual,
muntah anoreksia

KurangInformasi
Perubahan eliminasi urine
KurangPengetahuan

(sering berkemih)
Perubahan eliminasi urine
(sering berkemih)

F. MANIFESTASI KLINIS
a Uterus atau perut ibu hamil lebih cepat membesar melebihi pembesaran
rahim yang sesuai untuk kehamilan pada umumnya.
b

Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah


sehingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan lebih cepat.
c Merasakan gerakan bayi dibanyak tempat pada perut ibu hamil.
d Keluhan sesak nafas, mual dan muntah lebih berat dirasakan daripada
kehamilan dengan bayi tunggal.
e Keluhan kehamilan lebih berat.
G. KOMPLIKASI
1. PadaIbu
a.Resiko terjadinya abortus lebih meningkat.
b. Angka kejadian sc meningkat.
c.Anemia ibu hamil karena kebutuhan nutrisi meningkat
d. Frekuensi terjadinya hipertensi kehamilan, preeklamsia, dan eklamsia
meningkat.
e.Perdarahan antepartum karena solution plasenta meningkat.
f. Perdarahan postpartum karena atonia uteri meningkat akibat overdistensi
uterus.
2. PadaJanin
a.Persalinan preterm (UK <37 minggu).
b.
Hidramnion
c.Malpresentasi
d.
Ketubanpecahdini
e.Prolapsusfunikuli
f. Pertumbuhanjaninterhambat
g.
Kelainankongenital
h.
Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat
i. Kembarsiam
j. Asfiksia
k.
Interloking
l. Retensijaninkedua

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. VT
Kemungkinan teraba kepala dalam rongga panggul, di atas shympisis masih
teraba bagian besar janin.
2. Ultrasonografi memudahkan diagnosis kehamilan ganda, evaluasi pertumbuhan
janin dan identifikasi presentasi janin.
3. Rontgen foto abdomen (bilaperlu)
Tampak 2 kerangka janin, lebih jelas pada usia kehamilan> 7 bulan.
4.
Elektrokardiogram total

Terdapat gambaran dua EKG yang berbeda dari kedua janin

I. PENATALAKSANAAN
1. Penanganan dalam Kehamilan
1) Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah
komplikasi yang timbul, dan bila diagnose telah ditegakkan periksa ulang
akan lebih sering (1 kali seminggu pada kehamilan 32 minggu ke atas).
2) Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dilarang, karena akan
merangsang partus prematurus.
a. Pemakaian guritakorset yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya
terasa lebih ringan.
b. Pemeriksaan darah lengkap, Hb dan golongan darah.
c. Makanan dianjurkan mengandung banyak protein dan makan
dilaksanakan lebih sering dalam jumlah lebih sedikit.
d. Bila ada tanda-tanda partusprematurus yang mengancam dengan
pemberian betamethason 24 mg per hari untuk pematangan janin.
e. Anjurkan rawat inap bila:
- Ada kelainan obstetri,
- ada his/pembukaan serviks,
- adanya hipertensi,
- pertumbuhan salah satu janin terganggu,
- kondisisosial yang tidak baik,
- profilaksis/mencegah partusprematurus dengan obatt okolitik,
2. Penanganan dalam Persalinan
a. Bila anak I letaknya membujur, kala I diawasi seperti biasa, ditolong
seperti biasa dengan episiotimimediolateralis.
b. Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk
menentukan keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah
ibu dan lain-lain.
c. Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letak
membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak
deras mengalir keluar. Tunggu dan pimpin persalinan anak II seperti
biasa.
d. Awas atas kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum, maka
sebaiknya dipasang infuse profilaksis.
e. Bila ada kelainan letak anak II, misalnya melintang atau terjadi prolaps
tali pusat dan solusi oplasenta, maka janin dilahirkan dengan cara
operatif obstetrik;
- Pada letak lintang coba versi luar dahulu.

Atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi;


Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum atau
forceps.
- Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.
f. Indikasi sectiocaesarea hanya pada:
- Janin I letak lintang;
- Terjadi prolaps talipusat;
- Plasentaprevia;
- Terjadi interlocking pada letak kedua janin 69; anak I letak sungsang
dan anak II letak kepala.

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEHAMILAN GEMELI

A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
Pada anamnesa dapat diketahui adanya anak kembar dalam keluarga, umur dan
paritas ibu hamil juga diperhatikan.

Ibu merasa bahwa perutnya lebih besar dari semestinya kehamilan, dan
pergerakan anak mungkin lebih sering terasa.
Kaji keluhan subjektif seperti: perasaan berat, sesak napas, bengkak kaki dan
lain lain.
2. Pemeriksaan fisik.
a. Inspeksi
Perut lebih besar dari tuanya kehamilan.
b. Palpasi
Fundus uteri lebih tinggi tidak sesuai dengan usia kehamilan. Teraba 3
bagian besar janin, teraba 2 balotement, teraba gerakan gerakan janin yang
lebih banyak, serta teraba banyak bagian bagian kecil
c. Auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan
perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau sama sama
dihitung dan berselisih 10.
d. Vaginal toucher
Mungkin teraba kepala yang sudah masuk kedalam rongga pinggul diatas
simphisis teraba bagian besar.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OPERASI
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah,
anoreksia.
2. Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan tekanan
abdomen.
3. Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat.
4. Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang dirasakan atau
aktual terhadap janin dan diri sendiri.
5. Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya informasi.
POST OPERASI
1. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
PRE OPERASI
Diagnosa I: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
mual, muntah, anoreksia
Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil:
Intervensi:

mual dan muntah berkurang.


Berat badan meningkat karena adanya kehamilan ganda dan sesuai
dengan usia kehamilan.
Nafsu makan meningkat.

1. Kaji pola makan klien saat ini dan masa lalu.


Rasional: memastikan status nutrisi sebelum konsepsi adalah penting untuk
manajemen perkembangan janin yang tepat, khususnya jaringan otak pada
minggu awal kehamilan.
2. Timbang berat badan klien, bandingkan berat badan saat ini dengan berat badan
kehamilan.
Rasional: berat badan yang kurang beresiko terhadap anemia, defisiensi vitamin,
mineral, protein.
3. Berikan informasi tentang resiko penurunan berat badan selama kehamilan dan
tentang kebutuhan makanan klien dan janin.
Rasional: meningkatkan pengetahuan klien guna memperbaiki status gizi.
4. Anjurkan makan sedikit tapi sering dan sajikan dalam keadaan hangat, menu
seimbang.
Rasional: menghindari mual saat makan sehingga makanan dapat masuk ke
tubuh.
Diagnosa II: Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan
peningkatan tekanan abdomen.
Tujuan: Pola elminasi BAK normal (frekuensi, jumlah).
Kriteria hasil:
- Fekuensi berkemih 6 7 kali/hari.
- Dapat mengidentifikasi cara cara untuk mencegah statis urunarius.
Intervensi:
1. Berikan informasi tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan trimester
ketiga.

Rasional: membantu klien memahami alasan fisiologis dari frekuensi berkemih


dan nokturia. Pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan kapasitas kandung
kemih, mengakibatkan sering berkemih.
2. Anjurkan klien untuk melakuakn posisi miring kiri saat tidur, perhatikan keluhan
nokturia.
Rasional: meningkatkan perfusi ginjal, memobilisasi bagian yang mengalami
edema dependen, edema berkurang pada pagi hari (pada kasus edema fisiologis).
3. Berikan informasi mengenai perlunya masukan cairan 6 sampai 8 gelas perhari.
Rasional: mempertahankan tingkat cairan.
Diagnosa III: Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus
meningkat.
Tujuan: Kebutuhan ADL klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
-

Klien dapat menyatakan kesadaran terhadap toleransi aktivitas.


Klien dapat merencanakan perubahan yang perlu pada gaya hidup /
aktivitas setiap hari.
Bebas dari kelelahan berlebihan atau kepekaan / kontraksi terus menerus
dari uterus.

Intervensi:
1. Anjurkan klien melakukan aktivitas dengan istirahat yang cukup.
Rasional: menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus menerus
untuk meminimalkan kelelahan.
2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
Rasional: meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan kepekaan
uterus.
3. Instruksikan klien untuk menghindari aktivitas / kerja berat, dan perjalanan jauh
(dengan motor) lebih dari 1 2 jam.
4. Tekankan pentingnya aktivitas hiburan yang tenang.
Rasional: mencegah kebosanan dan menigkatkan kerja sama dengan pembatasan
aktivitas.

Diagnosa IV: Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang


dirasakan atau aktual terhadap janin dan diri sendiri.
Tujuan: Ansietas berkurang / hilang.

Kriteria hasil:
- Klien tampak rileks.
- Klien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi.
Intervensi:
1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk
berfungsi / membuat keputusan.
Rasional: stress yang tidak diatasi dapat mempengaruhi penyelesaian tugas
tugas kehamilan.
2. Tinjau ulang kemungkinan kemungkinan sumber ansietas.
Rasional: kehamilan tidak lengkap dihubungkan dengan beberapa ansietas bagi
klien.
3. Kaji tingkat stress klien / pasangan berhubungan dengan komplikasi medis,
hubungan pasangan, hubungan dengan anggota keluarga, dan ketersediaan dan
jaringan kerja pendukung.
Rasional: pola hubungan yang buruk akan meningkatkan tingkat stress.
4. Anjurkan klien / pasangan mengekspresikan perasaan frustasi yang berkenaan
dengan aturan terapi dan atau perubahan gaya hidup. Jelaskan pada klien bahwa
pengungkapan dapat diterima dan penting.
Rasional: Klien membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mengungkapkan
rasa marah/frustasi tentang perubahan dalam hidup keluarga untuk
meminimalkan ansietas.
5. Berikan informasi yang tepat secara individu mengenai intervensi atau tindakan
dan dampak potensial kondisi pada klien dan janin.
Rasional: membantu untuk menurunkan ansietas karena ketidaktahuan.

Diagnosa V: Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya


informasi.
Tujuan: menyatakan pemahaman mengenai situasi resiko tinggi dari kehamilan
ganda.
Kriteria hasil:
Intervensi:

Klien dapat mengungkapkan kesadaran akan kondisi yang membuat


klien beresiko.
Klien dapat menyebutkan kemungkinan tindakan pencegahan.
Klien berpartisipasi untuk mencapai kemungkinan kehamilan dan
persalinan terbaik.

1. Berikan informasi yang adekuat berhubungan dengan situasi resiko tinggi,


termasuk penjelasan yang singkat dan sederhana dari perubahan patofisiologis
dan implikasi maternal dan janin.
Rasional: Meningkatkan pemahaman klien.
2. Berikan informasi yang tepat berkenaan dengan skrining dan metode tes serta
prosedur.
Rasional: Memberikan kepuasan pada pasien akan informasi.
3. Identifikasi tanda tanda bahaya yang memerlukan pemberitahuan segera
terhadap pemberi perawatan kesehatan (misal: KPD, persalinan preterm,
perdarahan vaginal).
Rasional: Pengenalan situasi beresiko tinggi mendorong evaluasi / intervensi
segera, yang dapat meningkatkan atau membatasi hasil.

POST OPERASI
Diagnosa I: Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.
Tujuan: Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil:
- Tidak terdapat tanda gejala infeksi
- TTV dalam batas normal.
Intervensi:
1. Kaji suhu dan pernapasan klien
Rasional: Peningkatan TTV dapat mennunjukkan terjadinya infeksi.
2. Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhea. Tinjau ulang kemajuan normal dari
rubra ke serosa ke alba.
Rasional: Lokhea normal mempunyai bau amis, namun ada endometritis, rabas
mungkin purulen dan bau busuk tidak menunjukkan perubahan normal.

3. Rawat luka post operasi SC dengan teknik aseptik secara rutin, dan laporkan bila
terdapat tanda gejala infeksi.
Rasional: Perawatan lukan secara aseptik dapat mengurangi resiko infeksi.
4. Kolaborasi medis pemberian antibiotika, anti inflamasi.
Rasional: Untuk penatalaksanaan mencegah infeksi.
5. Beri nutrisi yang cukup dan menu seimbang, serta masukan cairan yang adekuat.
Rasional: Mempercepat penyembuhan luka.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F., Gary, et al., 1995, Obstetri Williams, Ed. 18, EGC, Jakarta.

Doengoes, Marilynn E, et al., 2001, Rencana Perawatan Maternal / Bayi: Pedoman


untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, Ed. 2, EGC,
Jakarta.

Hacker, Neville F, Moore, J. G., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2,
Hipokrates, Jakarta.

Manuaba, I.B.G., 2001, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin Obstetric Ginekologi & KB,
EGC, Jakarta.

Mochtar, Rustam, 1990, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, EGC,
Jakarta.

Prawirohardjo, Sarwono, 1984, Pengantar Ilmu dan Praktek Kebidanan Bag. I, FKUI,
Jakarta.

Sulaiman, Sastrawinata, 1979, Obstetri Patologi, UNPAD, Bandung.

Taber, Ben Zion, 1994, Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2,
EGC, Jakarta.

Varney, Helen, 2001, Buku Saku Bidan, EGC, Jakarta.

Wikrojosastro, Hanifa, 1999, Ilmu Kebidanan, Ed. 3, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta