Anda di halaman 1dari 16

STRUMA

KONSEP DASAR
I.

PENGERTIAN
a. Gondok adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat kebutuhan
akan hormone tiroid. Peningkatan kabut akan hormmon tiroid terjadi
selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi
misalnya pada pubertas atau kehamiilan ( Pierce A. Wilson, 2000.
http://www.medicastore.com/ diakses pada tanggal 16 Juni 2009)
b. Gondok adalah pembesaran hipertrofi dari kelenjar tiroid. Grade
gondok ada tiga yaitu: pembesaran, kecil dapat dideteksi dengan
palpasi, leher yang tebal, dan pembengkakan yang besar yang terlihat
dari jarak jauh ( Evawani, Y. A. 2003. Makalah pengantar Falsafah
Sains. http://www.google.co.id diakses pada tanggal 16 Juni 2009)
c. Struma Nodosa non Tosik (SNNT) adalah pembesaran kelenjar tiroid
yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tandatanda hipertiroidisme ( Srihartini. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1,
hal 461, FKUI).

II.

ETIOLOGI
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormone tiroid
merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tiroid.
a. Defiinisi Iodium
Pada umumnya penderita penyakit gondok terdapat di daerah kondisi
air minum dan tanahnya kurang mengandung ioudium, misalnya
daerah pegunungan.
b. Kelainan Metabolik Kongenital yang Menghambat Sintesa Hormon
Thiroid
c. Penghambatan sintesa hormone oleh zat kimia ( seperti substannsi
dalam kol, lobak dan kacang kedelai)
d. Penghambatan Sintesa Hormone oleh obat-obatan ( misalnya
Tiokarbanide, Sulfonylurea dan Lithium).

III.

PATOFISIOLOGI
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormone tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap
usus, masuk kedalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh
kelenjar tiroid.

Dalam kelenjar ioudium dioksida menjadi bentukelenjar ioudium dioksida


menjadi bentuk yang aktif distimuler oleh tiroid stimulating hormone
(TSH) kemudian disatukan menjadi molekul dyiodotironin membentuk
tiroksin (T4), dan mollekul ioditironin (T3), tiroksin T4 menunjukan
pengaturan umpan balik negative dari sekresi tiroid stimulating hormone
dan bekerja langsung pada tyritropihypofisif, sedang tyrodotonin T3
merupakan hormone metabolic tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan
dapat mempengaruhi sistesis, pelepasan

dan metabolisme tiroid dan

sekaligus menghambat sistesis tiroksin T4 dan melalui rangsangan umpan


balik negative meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis,
keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.
IV.

KLASIFIKASI
Menurut Price, A. Wilson.1998: 1074-1075 dapat dibedakan :
a. Penyakit graves ( Goiter difusa toksika ) dipercaya disebabkan oleh
suatu anti bodi yang merangsang tiroid untuk menghasilkan hormone
tiroid yang berlebihan.
Gejala yang khas dari hipertieoidisme dan tiga gejala tambahan :
1. Seluruh kelenjar terangsang, sehingga kelenjar sangat membesar,
menyebabkan suatu benjolan dileher ( gondok ,goiter ).
2. Eksoftalmus ( mata menonjol). Hal ini terjadi sebagai akibat dari
penimbunan zat didalam orbit mata.
3. Penonjolan kulit diatas tulang kering.
b. Struma Nodosa Non Toksik ( SNNT ) adalah pembesaran kelenjar
tiroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa desertai
tanda-tanda hipertieodisme.Pada penyakit stroma nudosa non toksik
tiroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara
difus dan permukaan licin. Jika stroma cukup besar akan menekan area
trakea dan dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga
esophagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.

V.

MANIFESTASI KLINIS
Price, A.Wilson (1998 : 1074 1075) dalam bukunya pathofisiologi
jilid 2 menjelaskan manifestasi klinis dari gondok dapat dilihat sebagai
berikut:
a. Peningkatan frekuensi denyat jantung

b. Peningkatan tonus otot tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan


terhadap Katekolamin
c. Peningkatan laju metabolisme basal ,peningkatan pembentukan
panas,intoleran terhadap panas,keringat berlebihan
d. Penurunan berat ,peningkatan rasa lapar
e. Mata melotot
f. Dapat terjadi Eksofital mos(penonjolan bola mata),peningkatan
frekuensi BAB.
g. Peningkatan ukuran kelenjar tiroid
h. Gangguan reproduksi
Pada pemeriksaan klinis terdapat gambaran yang khas yaitu: Seseorang
penderita tegang disertai cara bicara dan tingkah laku yang cepat,tanda
tanda pada mata,telapak tangan basah dan hangat,tremor,onchilisis
,Vertigo,pembesaran leher,nadI yang cepat, aritmia,TD yang meningkat
VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan daerah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH
akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah disusunan tingkat
saraf pusat atau kelenjar tiroid.
b. Hipertirodisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum.
c. Penurunan kepekaan terhadap insulin yang dapat menyebabkan hiperglikemia.
d. Pada pemeriksaan laboratorium serum T4 (tiroksin dan T3 ttryodotrionin)
dalam batas normal.
e. Pada pemeriksaan USG dapat dibedakan padat dan tidaknya nodul.
f. Kepastian histologi dapat ditegakan melalaui biopsy yang hanya dapat
dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalamanan.
VIII. KOMPLIKASI
a)

Badai tiroid adalah suatu aktifitas yang sangat berlebihan di kelenjar


tiroid yang terjadi secara tiba-tiba

Badai tiroid dapat mnyebabakan :


1. Demam
2. Kelemahan dan pengisutan otot
3. Kegelisahan
4. perubahan susana hati
5. perubahan kesadaran
6. Pembesaran hati disesrtai penyakit kuning yang ringan
Badai tiroid merupakan suatu keadaan darurat yang sangat berbahaya
dan memerlukan tindakan segera. Tekanan yang berat pada jantung dapat
menyebabakan ketidaktaraturan irama jantung yang bisa berakibat fatal dan
syok.Badai tiroid biasanya terjadi karena hipertirodisme tidak di obati atau
karena pengobatan yang tidak adekuat dan bisa dipacu oleh:
1.

Infeksi

2.

trauam

3.

pembedahan

4.

diabetes yang kurang terkendali

5.

ketakuatan

6.

kehamilan atau persalinan

7.

tidak melanjutakan pengobatan tiroid

8.

stres lainnya

Badai tiroid jarang terjadi pada anak-anak


b)

Kanker tiroid. Dalam buku patofisiologi jilid 2 prince A.Wilson(1998:10781079) menjelaskan lebih lanjut bahwa resiko karsinoma pada nodula tyroid
seperti gondok adalah tinggi sekitar 50% pada anak-anak usia di bawah 14
tahun

sedangakan pada usia dewasa resiko itu kurang dari 10%. Kalau

seorang penderita gondok memepunyai riwayat keluarga positif karsinoma


merupakan faktor penting untuk keganasan tiroid.
IX. PENATALAKSANAAN
Dasar pengobatan:
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan ialah:
a.

Faktor penyebab gondok

b.

Umur penderita

c.

Berat ringanya penyakit

d.

Ada tidaknya penyakit lainnya

e.

Tanggapan penderita terhadap pengobatannya

f. Sarana diagnostik dan pengobatan serta pengalaman doketr dan klinik yang
bersangkutan
Pengobatan bergantung pada tempat dan penyebab gondok:
1. Apabila masalahnya berada ditingkat kelenjar tiroid maka pengobatan yang
diberikan adalah pemberian obat antiroid yang menghambat produksi HT.
2. Obat-obat yang merusak jaringan tiroid juga bisa diberikan .misalnya iodium
radioaktf yang diberiakan per oral akan diserap secara aktif oleh sel-sel tiroid
yang hiperaktif.Setelah masuk akan mer4usak sel tersebut, ini adalah terapi
permanen untuk hipertirodisme dan sering menyebabkan seseorang kemudian
menjadi hipotiroid.
3. Tirodektomi parsial dapat merupakan pengobatan pilihan.Tirokdektomi total
dan

mungkin

tirodektomi

parsial,menyebabkan

hipotirodisme.Pada

tirokdektomi kelenjar tiroid diangkat melalui pembedahan. Pembedahan


merupakan terapi pilihan untuk:
a. Penderita muda
b. Penderita yang gondoknya besar
c. Penderita yang alergiterhadap obat
Setelah mengalami pembedahan, bisa terjadi hipotirodisme.Kepala penderita ini
diberikan terapi sulih hormon sepanjang hidupnya. Komplikasi lain dari
pembedahan adalah kelumpuhan pita suara dan kerusakan kelenjar paratiroid
(kelenjar kecil di belakang kelenjar tiroid yang mengendalikan kadar kalsium
dalam darah)
X. PATHWAY KEPERAWATAN
Defisiensi iodium

kelainan metabolic

gangguan sintesa hormone pengaruh obat

Gangguan sekresi
tiroksin

peningkatan metabolisme

Peningkatan TSH

kerusakan metabolisme
dalam tubuh

Hyperplasia/hipertropy

resiko perubahan nutrisi

Folikel tiroid

kurang dari keb. tubuh

SNNT
Post Op

Diskontinuitas jaringan
laryngeal,

obstruksi trachea

sekunder terhadap perdarahan,

kerusakan nervus
pita suara

Spasme laring

Nyeri akut

resiko tinggi

verbal

ketidakefektifan

gangguan komunikasi

bersihan jalan nafas

Asuhan Keperawatan Pada Struma


A.

Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan

secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk
menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi,
dan pemeriksaan fisik meliputi
1. aktivitas / istirahat

a.

gejala : insomnia, sensitivits meningkat, otot


lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat

b.

tanda : atrofi otot

2. sirkulasi
a.

gejala : palpitasi , angina

b.

tanda : disritmia , peningkatan tekanan darah,

3. eliminasi
a.

gejala : perubahan pola berkemih (poliuria,


nokturia), rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi)

b.

tanda : infeksi saluran kemih berulang, nyeri


tekan abdomen,bising usus hiperaktif ( diare ), urine encer, pucat,
kuning, poliuria,

4. integritas / ego
a.

gejala : stress, tergantung


pada orang lain

b.

tanda : ansietas

5. makanan / cairan
a. gejala: hilang nafsu makan, mual / muntah, penurunan berat badan
b. tanda : kulit kering, muntah, pembesaran thyroid (peningkatan
metabolisme dengan peningkatan gula darah)
6. neurosensori
a. gejala : pusing, kesemutan, kelemahan pada oto parasetia,
gangguan penglihatan
b. tanda: disorientasi, mengantuk, letargi, stupor atau koma (tahap
lanjut), refleks tendon dalam
7. nyeri / kenyamanan
a. gejala : abdomen yang tegang, nyeri (sedang / berat), nyeri setelah
pembedahan
8. pernafasan
a.

gejala : merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa


sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak)

b. tanda ; sesak nafas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen,


frekuensi nafas meningkat

B. Analisa Data
No.
1.

Data Fokus

Problem

Etiologi

DS: Pasien mengatakan

Resiko tinggi terjadi

obstruksi trakea

kesulitan dalam bernapas.

ketidakefektifan

sekunder

DO:Pasien terengah-engah

bersihan jalan nafas

terhadap

dalam bernafas, nafas

perdarahan,

pendek dan respirasi 30

spasme laring

x/menit.
2.

DS:Pasien mengatakan

Gangguan rasa nyaman

diskontinuitas

nyeri bekas operasi bagian

nyeri akut

jaringan paska

leher.

operasi

DO: Pasien terlihat


menahan sakit.
P:nyeri bekas post op
Q: nyeri seperti ditusuktusuk
R: leher
S: skala 6
T: saat menelan
kerusakan
3.

DS: Pasien mengatakan

Resiko perubahan

metabolisme

tidak nafsu makan karen

nutrisi kurang dari

dalam tubuh

kesulitan menelan

kebutuhan tubuh

DO: Pasien terlihat


makan1/4 porsi dari porsi
yang disediakan,turgor
kulit jelek dan membran
mukosa kering.
kerusakan nervus
4.

DS: Pasien mengatakan

Gangguan komunikasi

laryngeal, pita

kesulitan dalam berbicara

verbal

suara

DO: Pasien terlihat

No.

Data Fokus

Problem

Etiologi

terbata-terbata dalam
berbicara.

C. Diagnosa keperawatan
1. Resiko

tinggi

terjadi

ketidakefektifan

bersihan

jalan

nafas

berhubungan dengan obstruksi trakea sekunder terhadap perdarahan,


spasme laring.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas
jaringan paska operasi
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kerusakan metabolisme dalam tubuh
4. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan nervus
laryngeal, pita suara
D. Intervensi
Dx 1 : Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi trakea sekunder terhadap
perdarahan, spasme laring
Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil :
Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.
Rencana tindakan/intervensi

Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan


Rasional :
Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya
distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena
edema atau perdarahan.

Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.


Rasional :
Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.

Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.


Rasional :
Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan
intervensi segera.

Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher, menyokog


kepala dengan bantal.
Rasional :
Menurunkan

kemungkinan

tegangan

pada

daerah

luka

karena

pembedahan.

Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif
sesuai indikasi.
Rasional :
Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak
dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu
untuk membersihkan jalan nafas.

Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat
warna dan karakteristik sputum.
Rasional :
Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk
mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri.

Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur, terutama pada


bagian posterior
Rasional :
Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak
kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung.

Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.


Rasional :
Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan
sekitar daerah operasi.

Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien.


Rasional :
Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang mengancam
kehidupan yang memerlukan tindakan yang darurat.

Dx 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan


diskontinuitas jaringan pasca operasi
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan
mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi.
Rencana tindakan/intervensi :

Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat
lokasi, intensitas (skala 0 10) dan lamanya.
Rasional :
bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi,
menentukan efektivitas terapi.

Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher


dengan bantal pasir/bantal kecil.
Rasional :
Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan.

Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama


perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk
menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi
leher.
Rasional :
Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot.

Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang
mudah.
Rasional :
Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi

Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien


mengalami kesulitan menelan.
Rasional :
Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien
mengalami kesulitan menelan.

Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti imajinasi,


musik yang lembut, relaksasi progresif.
Rasional :

Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien


untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif.

Kolaborasi
- Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai
kebutuhannya.
- Berikan es jika ada indikasi
Rasional :
menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi terhadap nyeri.

Dx 3: Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan kerusakan metabolisme dalam tubuh
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Terjadi peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan / pemasukan
dengan berat badan)
Rencana tindakan/intervensi :

Auskultasi bising usus


Rasional:
bising usus hiperaktif mencerminkan motilitas lambung yang menurunkan
atau mengubah fungsi absorbsi

Catat dan laporkan adanya anoreksia, kelemahan umum / nyeri, nyeri


abdomen, munculnya mual dan muntah
Rasional:
peningkatan aktivitas adrenargik dapat menyebabkan gangguan sekresi
insulin

Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang BB tiap hari serta
laporkan jika ada penurunan
Rasional:
penurunan berat badan terus-menerus dalam keadaan masukan kalori
yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antithyroid

Dorong pasien untuk makan makanan yang mudah dicerna dan tinggi
kalori
Rasional:
membantu menjaga pemasukan kalori untuk cukup

Hindari pemberian makanan yang dapat meningkatkan peristaltik usus


(the, kopi dan makanan yang berserat) dan cairan yang menyebabkan
diare misal apel, jambu.
Rasional:
peningkatan motilitas saluran cerna dapat mengakibatkan diare dan
gangguan absorbsi nutrisi yang diperlukan

Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian obat sesuai indikasi,


glukosa dan vit B kompleks
Rasional:
diberikan untuk memenuhi kalori yang diperlukan dan mencegah
hipoglikemi

Dx 4: Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan nervus


laryngeal, pita suara
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami.
Rencana tindakan/intervensi

Kaji fungsi bicara secara periodik.


Rasional :
Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan
karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa
hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau
penekanan pada trakea.

Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya


memerlukan jawaban ya atau tidak.
Rasional :
Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.

Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan


tulis, kertas tulis/papan gambar.
Rasional :
Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.

Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur.


Rasional :
Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias.

Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel
panggilan dengan segera.
Rasional :
Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan
yang diketahui/memerlukan bantuan.

Pertahankan lingkungan yang tenang.


Rasional :
Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan
menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat
didengarkan.

E. Evaluasi
Dx 1 : Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.
Dx 2 : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan

mengalihkan

perhatian dengan aktif sesuai situasi.


Dx 3: Terjadi peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan /
pemasukan dengan berat badan)
Dx 4 : Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat
dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Bruner dan Suddarth . 2001. Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8 volume 2. Jakarta :


EGC.
Guyton,C.Arthur.1991. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit . Jakarta :
Missisipi Departemen of physiologi and biophysics EGC.

Junadi, Purnawan .2000. Kapita Selekta Kedokteran , edisi keIII. Jakarta : FKUI.
Long Barbara C .1996. Keperawatan medical Bedah. Jakarta : EGC.
Tucker , Susan Martin .1998. Standar Perawatan Pasien . Jakarta : EGC.

LAPORAN PENDAHULUAN
STRUMA

Disusun oleh
SINAR PUJIASTUTI
(P17420207248)

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK DEPKES SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2009