Anda di halaman 1dari 9

BAB VI

Implementasi Kebijakan
1. Kata Pengantar
Kebijakan yang telah direkomendasikan untuk dipilih oleh policy makers
bukanlah jaminan bahwa kebijakan tersebut pasti berhasil dalam
implementasinya. Ada banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan
implementasi kebijakan baik yang bersifat individual maupun kelompok atau
institusi.
Dalam berbagai sistem politik, kebijakan publik diimplementasikan oleh
badan-badan pemerintah. Badan-badan tersebut melaksanakan pekerjaanpekerjaan pemerintah dari hari ke hari yang membawa dampak pada warga
negaranya.
Implementasi melibatkan usaha dari policy makers untuk mempengaruhi
apa yang oleh Lipsky disebut street level bureaucrats untuk memberikan
pelayanan atau mengatur perilaku kelompok sasaran (target group). Untuk
kebijakan yang sederhana, implementasi hanya melibatkan satu badan yang
berfungsi sebagai implementor, misalnya, kebijakan komite sekolah untuk
mengubah metode pengajaran guru di kelas. Sebaliknya, untuk kebijakan
makro, misalnya, kebijakan pengurangan kemiskinan di pedesaan, maka
usaha-usaha implementasi akan melibatkan berbagai institusi, seperti birokrasi
kabupaten, kecamatan, pemerintah desa.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan
Keberhasilan implementasi kebijakan akan ditentukan oleh banyak
variabel atau faktor, dan masing-masing variabel tersebut saling berhubungan
satu sama lain. Untuk memperkaya pemahaman kita tentang berbagai variabel
yang terlihat di dalam implementasi, maka dalam bab ini akan dielaborasi
beberapa teori implementasi, seperti dari George C. Edwards III (1980),
Merilee S. Grindle (1980), dan Daniel A. Mazamanian dan Paul A. Sabatier
(1983), Van Meter dan Van Horn (1975), dan Cheema dan Rondinelli (1983),
dan David L. Weimer dan Aidan R. Vining (1999).
2.1.
Teori George C. Edward III (1980)

Dalam pandangan Edward III, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh


empat variabel, yakni: (1) komunikasi, (2) sumber daya, (3) disposisi,
dan (4) struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling
berhubungan satu sama lain.
(1) Komunikasi
Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar
implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang
menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada
kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi
implementasi.
(2) Sumber daya
Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan
konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk
melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya
tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi
implementor, dan sumber daya financial. Sumber daya adalah faktor
penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber
daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.
(3) Disposisi
Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh
implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis.
(4) Struktur Birokrasi
Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.
Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi
adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating
procedures atau SOP).
2.2.
Teori Merilee S. Grindle (1980)
Keberhasilan implementasi menurut Merilee S. Grindle (1980)
dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (content of
policy) dan lingkungan implementasi (context of implementation).
Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983)
Menurut Mazmanian dan Sabatier (1983), ada tiga kelompok variabel

2.3.

yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, yakni; (1) Karakteristik


dari masalah (trac-tability of the problems); (2) Karekteristik kebijakan/

undang-undang (ability of statute to structure implementa-tion); (3)


Variabel lingkungan (nonstatutory variables affect-ing implementation).
Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn (1975)
Menurut Meter dan Horn, ada lima variabel yang mempengaruhi kinerja

2.4.

implementasi, yakni; (1) standar dan sasaran kebijakan; (2) sumber daya;
(3) komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas; (4) karakteristik
agen pelaksana; dan (5) kondisi sosial, ekonomi dan politik.
2.5.
Teori G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli (1983)
Berikut ini menggambarkan kerangka konseptual yang dapat digunakan
untuk analisis implementasi program-program pemerintah yang bersifat
desentralisasi. Ada empat kelompok variabel yang dapat mempengaruhi
kinerja dan dampak suatu program, yakni: (1) kondisi lingkungan; (2)
hubungan antar organisasi; (3) sumber daya organisasi untuk
implementasi program; (4) karakteristik dan kemampuan agen pelaksana.
Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining (1999)
Dalam pandangan Weimer dan Vining (1999:396) ada tiga kelompok

2.6.

variabel besar yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi


suatu program, yakni : (1) logika kebijakan; (2) lingkungan tempat
kebijakan dioperasikan; dan (3) kemampuan implementasi kebijakan.
Logika dari suatu kebijakan. Ini dimaksudkan agar suatu kebijakan yang
ditetapkan masuk akal (reasonable) dan mendapat dukungan teoritis.
Lingkungan tempat kebijakan tersebut dioperasikan akan mempengaruhi
keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
Kemampuan implementor. Keberhasilan suatu kebijakan dapat
dipengaruhi oleh tingkat kompetensi dan keterampilan dari para
implementor kebijakan.
3. Instrument Kebijakan
Setelah melakukan telaah dari berbagai studi implementasi kebijakan
yang ditulis para pakar kebijakan, Howlett dan Ramesh 91995) menyimpulkan
bahwa ada sepuluh jenis instrument kebijakan.
3.1.
Instrumen sukarela (Voluntary Instruments)
3.1.1. Rumah tangga dan komunitas
3.1.2. Organisasi sukarela
3.1.3. pasar
3.2.
Instrumen wajib (Compulsary Instruments)
3.2.1. Regulasi

3.2.2. Perusahaan publik


3.2.3. Kebijakan langsung
3.3.
Instrumen gabungan
3.3.1. Informasi
3.3.2. Subsidi
3.3.3. Pengaturan hak milik
3.3.4. pajak

BAB VII
Monitoring Kebijakan
1. Pengantar
Monitoring dan evaluasi pada dasarnya adalah kegiatan untuk melakukan
evaluasi terhadap implementasi kebijakan. Monitoring dilakukan etika sebuah
kebijakan sedang diimplementasikan. Sedangkan evaluasi dilakukan untuk
melihat tingkat kinerja suatu kebijakan, sejauh mana kebijakan tersebut
mencapai sasaran dan tujuannya. Monitoring dilakukan agar kesalahankesalahan awal dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan
perbaikan, sehingga mengurangi resiko yang lebih besar. Evaluasi berguna
untuk memberikan input bagi kebijakan yang akan datang supaya lebih baik.
2. Tujuan Monitoring
Monitoring atau pemantauan adalah aktivitas yang ditujukan untuk
memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan yang
sedang diimplementasikan dengan tujuan :

(1) Menjaga agar kebijakan yang sedang diimplementasikan sesuai dengan


tujuan dan sasaran.
(2) Menemukan kesalahan sedini mungkin sehingga mengurangi resiko yang
lebih besar.
(3) Melakukan tindakan modifikasi terhadap kebijakan apabila hasil
monitoring mengharuskan untuk itu.
3. Data dan Informasi untuk Monitoring :
Monitoring membutuhkan data dan informasi sebagai bahan untuk
melakukan penilaian terhadap proses implementasi kebijakan. Data dan
informasi tersebut dapat diperoleh melalui berbagai metode antara lain :
(1) Metode dokumentasi
(2) Metode survey tentang implementasi kebijakan.
(3) Metode observasi lapangan.
(4) Metode wawancara dengan para stakeholders.
(5) Metode campuran dari berbagai metode di atas.
(6) Focus group discussion (FGD). Akhir-akhir ini berkembang metode FGD
yakni dengan melakukan pertemuan dan diskusi dengan para stakeholders
yang bervariasi.
4. Jenis-jenis monitoring
Ada berbagai jenis monitoring seperti yang diuraikan sebagai berikut :
(1) Kepatuhan (compliance) adalah jenis monitoring untuk menentukan
tingkat kepatuhan implementor terhadap standar dan prosedur yang telah
ditetapkan.
(2) Pemeriksaan (auditing) adalah jenis monitoring untuk melihat sejauh mana
sumber daya dan pelayanan sampai pada kelompok sasaran.
(3) Akuntansi (accounting) adalah jenis monitoring untuk mengkalkulasi
perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi setelah diimplementasikan
suatu kebijakan.
(4) Eksplanasi (explanation) adalah jenis monitoring untuk menjelaskan
adanya perbedaan antara hasil dan tujuan kebijakan.
(Sumber : Dunn, 1994:335-336).
5. Pendekatan terhadap Monitoring
Dunn (1994) mengidentifikasi adanya empat jenis pendekatan dalam
melakukan monitoring, yakni :
(1) Akuntansi sistem sosial

(2) Eksperimentasi sosial


(3) Akuntansi sosial
(4) Sintetis riset dan praktik.
Akuntansi sistem sosial (social system accounting) adalah pendekatan
monitoring untuk mengetahui perubahan kondisi sosial yang objektif dan
subjektif dari waktu ke waktu.
Eksplementasi sosial adalah pendekatan monitoring untuk mengetahui
perubahan sosial yang terjadi dalam sebuah kelompok eksplementasi dengan
cara membandingkan dengan kelompok kontrol
Akuntansi sosial (social auditing) adalah pendekatan monitoring yang
berusaha untuk mengetahui hubungan antara masukan, proses, keluaran/hasil,
dan dampak.
Sintesis riset dan praktik (research and practice synthesis) adalah
pendekatan monitoring yang menerapkan kompilasi, perbandingan, dan
pengujian secara sistematis terhadap hasil-hasil dari implementasi kebijakan
publik di masa lampau.

BAB VIII
Evaluasi Kebijakan
1. Pengantar
Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan.
Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup
waktu. Memang belum ada batasan waktu yang pasti kapan sebuah kebijakan
harus dievaluasi. Untuk dapat mengetahui outcome, dan dampak suatu
kebijakan sudah tentu diperlukan waktu tertentu, misalnya 5 tahun semenjak
kebijakan itu diimplementasikan. Sebab kalau evaluasi dilakukan terlalu dini,
maka outcome dan dampak dari suatu kebijakan belum tampak. Semakin
strategis suatu kebijakan maka diperlukan tenggang waktu yang lebih panjang
untuk melakukan evaluasi.
2. Tujuan Evaluasi
Evaluasi memiliki beberapa tujuan yang dapat dirinci sebagai berikut :
(1) Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan.
(2) Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan.
(3) Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan.
(4) Mengukur dampak suatu kebijakan.
(5) Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan.
(6) Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang.
3. Alasan Evaluasi Kebijakan
Pertanyaan utama yang harus mendapatkan jawaban adalah kenapa perlu
ada evaluasi? Bukankah dengan diimplementasikan suatu kebijakan sudah
cukup, karena evaluasi hanya membuang biaya dan tenaga. Tentu saja untuk
keperluan jangka panjang dan untuk kepentingan berkelanjutan (sustainable)
suatu program, evaluasi sangat diperlukan. Dengan evaluasi kebijakankebijakan ke depan akan lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang
sama. Berikut ini diberikan beberapa argument perlunya evaluasi.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Untuk mengetahui tingkat efektivitas suatu kebijakan.


Mengetahui apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal.
Memenuhi aspek akuntabilitas publik.
Menunjukkan pada stakeholders manfaat suatu kebijakan.
Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

4. Pendekatan Terhadap Evaluasi


Ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi sebagai mana dijelaskan oleh
Dunn (1994), yakni :
(1) Evaluasi semu;
(2) Evaluasi formal; dan
(3) Evaluasi keputusan teoritis.
Evaluasi semu (pseudo evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang
menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang
terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan, tanpa menanyakan
manfaat atau nilai dari hasil kebijakan tersebut pada individu, kelompok, atau
masyarakat.
Evaluasi formal (formal evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang
menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang
terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan berdasarkan sasaran
program kebijakan yang telah ditetapkan secara formal oleh pembuat
kebijakan.
Sedangkan evaluasi proses keputusan teoritis (decision theoretic
evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif
untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil
kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai stokeholders.
5. Indikator Evaluasi
Untuk menilai keberhasilan suatu kebijakan perlu dikembangkan
beberapa indikator, karena menggunakan indikator yang tunggal akan
membahayakan, dalam arti hasil penilaiannya dapat bias dari orang
sesungguhnya. Indikator atau kriteria evaluasi yang dikembangkan oleh Dunn
(1994) mencakup lima indikator sebagai berikut :
(1) Efektivitas
(2) Kecukupan
(3) Pemerataan
(4) Responsivitas

(5) Ketetapan
6. Data dan Informasi
Kegiatan evaluasi membutuhkan data dan informasi yang berhubungan
dengan kebijakan atau program yang dijalankan sebagai bahan untuk
melakukan penelitian. Penilaian terhadap suatu program tidak mungkin
dilakukan tanpa ada dukungan data dan informasi. Dengan demikian, data dan
informasi adalah krusial dan harus dikumpulkan semenjak kebijakan atau
program diimplementasikan. Untuk itu, ada beberapa metode yang dapat
digunakan untuk mengumpulkan data, yakni :
(1) Dokumentasi dari laporan kegiatan, baik laporan tahunan, semesteran, atau
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

bulanan.
Survey terhadap program yang telah diimplementasikan.
Observasi
Wawancara
Metode campuran
Focus Group Discussion (FGD)

7. Metode Evaluasi
Untuk melakukan evaluasi terhadap program yang telah
diimplementasikan ada beberapa metode evaluasi, yakni :
(1) Single program after-only;
(2) Single program before-after;
(3) Comparative after-only; dan
(4) Comparative before-after.
8. Kendala Evaluasi
Berikut ini diidentifikasi berbagai kendala dalam melakukan evaluasi
kebijakan.
(1) Kendala psikologis.
(2) Kendala ekonomis.
(3) Kendala teknis.
(4) Kendala politis.
(5) Kurang tersedianya evaluator.