Anda di halaman 1dari 14

RETORIKA

KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING

ANGGUN NUR LESTARI


210110110727
HUMAS C
UNIVERSITAS PADJADJARAN

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH


Fenomena yang terjadi saat ini, mahasiswa tidak berani mengemukakan pendapat
ataupun mengajukan pertanyaan di dalam forum. Begitu pula ketika diminta untuk
mempresentasikan makalah yang telah dibuat, tidak sedikit dari mahasiswa yang tidak
mampu mempresentasikan dengan baik, bahkan hanya membacakan tulisan dari makalah
tersebut. Alasan utama yang biasa dikemukakan adalah kecemasan.
Hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti pada tanggal 18 Februari 2006, bahwa
yang dirasakan para mahasiswa ketika melakukan presentasi adalah perasaan grogi, jantung
berdetak kencang, keringat bercucuran di seluruh tubuh, kaki bergetar, kata-kata yang telah
disusun rapi untuk diutarakan seketika hilang, merasa selalu dievaluasi oleh orang lain atas
setiap perbuatannya, takut jika nantinya ada pertanyaan dari audien. Menurut mahasiswa
presentasi merupakan suatu pekerjaan yang menakutkan, jika diminta untuk memilih antara
mengerjakan soal dalam jumlah besar, maka hal tersebut akan menjadi pilihan dibandingkan
dengan melakukan presentasi.
Sesuai dengan pernyataan Daley (2005) bahwa ada berbagai alasan yang mempengaruhi
kecemasan ketika presentasi yaitu, kurangnya penguasaan materi, tidak percaya diri tampil
sambil dilihat sekian banyak pasang mata, takut dinilai, ataupun belum terbiasa tampil di
depan publik, perasaan tidak siap, kecemasan ketika nantinya ada pertanyaan dari peserta,
harga diri menurun.
Hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti juga menunjukan persiapan yang
dilakukan oleh mahasiswa ketika diminta untuk presentasi adalah penguasaan materi dengan
cara membaca berulang-ulang teks makalah yang akan dipresentasikan tersebut.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami (1991) menerangkan bahwa kecemasan
berbicara di muka umum dapat dikurangi dengan melakukan relaksasi. Melalui relaksasi
individu mendapatkan ketenangan sehingga lebih siap untuk berbicara di muka umum.

Pelatihan public speaking (Devito, 1995) merupakan pelatihan yang bertujuan


mempersiapkan individu untuk tampil berbicara di depan umum baik dalam aspek kognitif
dan perilaku.
Uraian-uraian diatas memunculkan sebuah rumusan masalah, yaitu: bagaimana
efektivitas pelatihan public speaking dalam upaya menurunkan kecemasan presentasi bagi
mahasiswa? Berdasarkan rumusan masalah tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian yang bersifat eksperimental dengan tema kecemasan dalam publicspeaking.
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecemasan dalam publicspeaking diantaranya:
1. Untuk mengetahui kecemasan pada saat presentasi.
2. Untuk mengetahui maksud dari publicspeaking serta pelatihan dr publicspeaking.
3. Untuk mengetahui cara mengajak diri untuk mengatasi kecemasan saat berbicara di
depan umum.
3. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini ada dua segi yaitu:
Dari segi teoritis:
1. Penelitian ini diharapkan mampu menemukan metode pelatihan yang tepat untuk
mengurangi kecemasan presentasi.
Dari segi praktis:
1. Bagi subjek penelitian dapat mengurangi kecemasan presentasi dengan mengikuti
pelatihan public speaking.
2. Bagi pelatih atau trainer, bahwa pelatihan public speaking dalam penelitian ini dapat
dijadikan model pelatihan untuk mengurangi kecemasan presentasi.
3. Bagi peneliti lain yang berminat meneliti kecemasan presentasi ataupun penelitian tentang
pelatihan public speaking, penelitian dapat dijadikan referensi dalam penelitian yang akan
dilakukan.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Kecemasan Pada Saat Presentasi
Kecemasan (Prasetyaning, 2004) merupakan unsur emosi yang dialami setiap individu
karena suatu pengalaman baru yang tidak menyenangkan dan bersifat subjektif, sehingga
penyebab timbulnya kecemasan tidak dapat diperkirakan secara tepat. Kejadian yang sama
belum tentu dirasakan sama pula oleh setiap orang, dengan kata lain suatu rangsang atau
kejadian dengan kualitas dan kuantitas yang sama dapat diinterpretasikan secara berbeda
antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.
Spelberger (Atwater, 1983) mengemukakan bahwa kecemasan adalah bentuk tidak
menyenangkan akibat dari antisipasi akan terjadi. Ada empat bentuk kecemasan: a.
Kecemasan dalam pikiran, b. Kecemasan dalam bentuk tingkah laku, c. Kecemasan dalam
bentuk keadaan fisik atau reaksi biologis, d. Kecemasan dalam perasaan.
Presentasi (Bender, 1997) adalah menyampaikan pesan dalam bentuk multi
media, dengan menggunakan vokal, bahasa tubuh, alat bantu visual, dan berbagai macam
teknik lain untuk melibatkan pendengar. Pendapat ini dikuatkan oleh Daley (2005) yang
mendefinisikan presentasi sebagai penyingkapan kenyataan bagi individu kepada audien atau
proses mengkomunikasikan gagasan atau ide kepada audien.
Menurut Bender (1997) ada lima unsur utama kekuatan presentasi, yaitu:
a. Pidato.
merupakan pengutaraan gagasan, pendapat, ide kepada audien.
b. Bahasa tubuh.
berkomunikasi bukan hanya dalam bentuk komunikasi lisan saja, namun komunikasi
lebih efektif dengan menggunakan alat komunikasi fisik seperti suara, nafas, ekspresi
wajah, kontak mata, gerakan isyarat, postur, gerakan totalitas dan cara berpakaian.
c. Perlengkapan.
yang menunjang jalannya presentasi dapat berupa pengeras suara, video, film, slide,
selebaran dan flip-chart.
d. Lingkungan.

tempat, temperatur, tata ruang, pintu masuk dan keluar, makanan dan minuman,
musik selingan, tata cahaya, istirahat, kamar kecil dan waktu presentasi akan
berpengaruh dalam menyampaikan presentasi.
e. Persiapan.
Persiapan dan berlatih dengan detail segala sesuatu yang menyangkut presentasi..
Maksum (2005) menambahkan bahwa persiapan yang dilakukan oleh presenter
adalah dengan
1) Menemukan informasi lebih lanjut tentang pendengar atau audiens. Memilih
informasi yang menonjol.
2) Memasarkan gagasan kepada pendengar serta memperoleh dan mempertahankan
perhatian pendengar. Sedangkan langkah-langkah persiapan yang harus diambil
adalah
1) analisis sasaran,
2) survei lokasi,
3) kerangka & struktur,
4) penelitian & penerapan,
5) penulisan,
6) visualisasi & media,
7) latihan, dan
8) penyampaian/penyajian.
Kecemasan presentasi merupakan perasaan takut sebelum melakukan presentasi ataupun
saat melakukan presentasi yang pada dasarnya mempunyai potensi untuk menambah
efektivitas sebagai presentator, jika individu mampu mengontrol kecemasan tersebut.
Kecemasan presentasi (Lucas, 1989) adalah ketakutan atau sifat takut-takut ketika
berbicara di depan sekelompok orang, dan hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi setiap
individu (dalam arti semua orang memilikinya), hanya saja satu permasalahan yang harus
diselesaikan, yaitu bagaimana cara mengontrol kecemasan tersebut.
Kecemasan berbicara di muka umum demam panggung (stage fright). Diistilahkan
oleh Devito (1995) dengan speaker apprehension, yaitu fenomena berbicara yang berpusat
pada pembicara.
Hal-hal yang ditakutkan dalam presentasi (Hareta, 1999) adalah: 1.

takut tidak

mampu memenuhi harapan presentasi, 2. takut materi yang disampaikan tidak cukup baik, 3.
takut tidak mampu menyampaikan dengan baik.

Faktor kepribadian yang mempengaruhi kecemasan presentasi (Hidayat dalam


Prasetyaning, 2004) adalah kepercayaan diri dan motivasi presentasi. Kecemasan presentasi
muncul karena melemahnya rasa percaya diri pada individu, dengan kata lain rendahnya
harga diri. Saat individu menghadapi keadaan yang dianggapnya mengancam, maka secara
umum akan memiliki reaksi yang biasanya berupa rasa takut. Kebingungan menghadapi
stimulus yang berlebihan yang tidak berhasil dikendalikan oleh ego, sehingga akan diliputi
kecemasan.
Menurut Bower (1986) reaksi yang di munculkan oleh individu yang mengalami
kecemasan berbicara dimuka umum adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

perilaku,
gambaran mental,
sensasi fisik,
kalimat yang terucap,
kalimat yang tidak terucap.

Tanda-tanda kecemasan presentasi (Hendrikus, 1995) adalah lutut gemetar, jantung


berdebar lebih keras, berkeringat, tangan gemetar, muka merah, tangan berkeringat, mulut
kering, kurang konsentrasi dan perasaan fisik juga psikis melumpuh.
Menurut Devito (1995), aspek kecemasan presentasi ada dua, yaitu:
a.

Aspek kognitif, yang meliputi 1). munculnya pandangan negatif terhadap dirinya,

2). pandangan negatif terhadap audien dan, 3). pandangan negatif tentang masa depan atau
hasil dari komunikasi publik atau presentasi. ketidakmampuan mengendalikan pikiran buruk
yang berulang-ulang dan kecenderungan berpikir bahwa keadaan akan semakin memburuk
merupakan dua ciri penting dari rasa cemas (Tallis, 1995).
b.

Aspek perilaku, yang diungkapkan dalam bentuk penarikan diri dari situasi

komunikasi publik ataupun menurunnya frekuensi dan intensitas keterlibatannya.


Maner (Calhoun dan Acocello, 1990) menyatakan bahwa kecemasan presentasi memiliki
tiga aspek, yaitu:

a.

Aspek emosional, disertai ketakutan yang kuat dan perasaan sadar. Emosi rasa

takut dikaitkan dengan ancaman sehingga individu akan memilih untuk menghadapi atau lari
dari masalah yang mengancam tersebut (Tallis, 1995).
b.

Aspek kognitif, yaitu perasaan takut yang meluas sehingga tidak mampu berpikir

jernih dalam memecahkan masalah.


c.

Aspek psikologi, yaitu tanggapan tubuh terhadap rasa takut berwujud pengerahan

diri untuk bertindak.


2. Public Speaking serta Pelatihan Public Speaking
Public speaking (Gronbeck dkk, 1992) merupakan proses interaktif melalui tukar
menukar gagasan dengan orang banyak sehingga harus memperhatikan keterampilanketerampilan psikomotor, bahasa tubuh, keadaan mental baik public speaker ataupun audien.
Andrew (1985) mengemukakan bahwa public speaking adalah alat yang dirancang
untuk mencapai penyampaian gagasan dimana dalam petunjuk etis, public speaker yang baik
adalah yang mampu mencapai tujuan dari pelaksanaan public speaking itu sendiri yang pada
akhirnya menjadi proses give and take antara public speaker dengan audien.
Lucas (1983) mengemukakan bahwa tujuan utama public speaking berbeda-beda,
diantaranya mengajak (persuading) audien untuk melakukan sesuatu yang dianggap benar,
menginformasikan (informing) tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh audien, dan
menghibur (intertaining) yang membuat audien merasa lebih baik dan bahagia.
Andrew (1985) mengemukakan bahwa pada prinsipnya yang menjadi unsur public
speaking adalah strategi penyampaian, fleksibilitas, beradaptasi dengan audien dan
ditekankan pada pencapaian tujuan dari pelaksanaan public speaking.
lanjut Lucas (1983) mengemukakan bahwa keahlian yang harus dimiliki oleh public
speaker, yaitu:
a. Mengatur cara berpikir atau logika pikir,
b. Merangkai pesan untuk audien,

c. Menceritakan kemungkinan terbesar dari pesan yang disampaikan,


d. Memberikan respon yang tepat terhadap feedback dari audien.
Menurut Verderber (1976) faktor-faktor yang mempengaruhi seorang public speaker
antara lain:
a.

Tempat berlangsungnya public speaking, hal ini terkait dengan seting formal atau

tidak formal public speaking tersebut,


b.

Audien yang dihadapi oleh public speaker, hal ini terkait dengan jumlah, umur,

tingkat sosial ekonomi, agama.


Pelatihan Public Speaking
Sikula (Asad, 1995) mengemukakan bahwa pelatihan adalah proses pendidikan jangka
pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir, bertujuan memberikan
pengajaran pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Wills (1993) berpendapat bahwa, pelatihan merupakan bentuk pemindahan pengetahuan
dan keterampilan yang terukur dan telah ditentukan sebelumnya, sehingga pelatihan memiliki
tujuan dan metode yang jelas untuk menguji penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang
diberikan.
Kurt Lewin (Johnson & Johnson, 1997) mengemukakan bahwa dalam experiental
learning dikenal prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Experiental learning yang efektif akan mempengaruhi struktur kognitif, teori
tindakan, sikap, nilai-nilai, persepsi, dan pola perilaku,
2. Individu akan lebih percaya secara pengetahuan individu bahwa telah menemukan
diri dibanding yang diperkenalkan oleh orang lain,
3. Belajar lebih efektif ketika dalam proses aktif dibanding pasif,
4. Mengambil lebih dari informasi untuk merubah teori tindakan, sikap, dan pola
keteladanan,

5.Penerimaan terhadap teori tindakan, sikap, dan pola perilaku yang baru dapat
disempurnakan melalui pendekatan kognitif, sikap, dan perubahan perilaku,
6. Mengambil lebih dari pengalaman langsung untuk menghasilkan pengetahuan,
7. Perubahan perilaku hanya bersifat sementara kecuali dasar sikap dan teori tindakannya
diubah,
8. Ubah persepsi diri dan lingkungan sosial seseorang perlu percobaan dengan teori
tindakan, sikap dan perilaku akan berlangsung,
9. Semakin banyak dukungan, penerimaan, dan mempedulikan lingkungan sosial,
individu dalam percobaan dengan perilaku baru, sikap, dan teori tindakan (action theory),
10. Untuk merubah pola perilaku, sikap, teori tindakan yang permanen, individu dan
lingkungan sosial harus diubah,
11. Lebih mudah untuk mengubah dalam sikap dan pola perilaku individu dalam konteks
kelompok dibanding dalam konteks individual,
12. Menerima sistem teori tindakan, sikap, dan pola perilaku teladan yang baru ketika
individu menerima keanggotaan dalam suatu kelompok baru.
Lebih lanjut Surakhmad (1994) mengemukakan bahwa pelatihan mempunyai prinsipprinsip sebagai berikut:
1. Pelatihan harus memiliki arti pembelajaran perilaku yang lebih maju,
2.Nilai pelatihan pertama-tama ditekankan pada sifatnya yang diagnostik. Artinya dalam
awal pelatihan dimulai dengan analisa kebutuhan
3. Waktu pelatihan relatif singkat,
4. Pelatihan harus menarik dan menyenangkan,
5. Setiap proses dalam pelatihan harus membawa manfaat yang sesuai dengan tujuan
pelatihan.

Menurut Dale Yoder (Asad, 1995) agar pelatihan dan pengembangan dapat berhasil
dengan baik, maka harus diperhatikan delapan faktor sebagai berikut: Perbedaan individu,
Suatu pelatihan didahului dengan analisa kebutuhan. Motivasi, Partisipasi aktif, Seleksi
peserta, Seleksi pelatih/trainer,
Keyakinan diri yang sedikit demi sedikit terbina akan punya pengaruh besar pada
perasaan keleluasaan untuk bergerak dan bicara, sehingga dengan sendirinya, kata-kata dan
sejumlah informasi yang sudah dipersiapkan akan meluncur secara lancar dan mudah.
Ketidakyakinan yang muncul dalam bentuk rasa takut atau cemas menandakan adanya
ketegangan yang sangat besar. Ketegangan inilah yang menyebabkan tersumbatnya memori
atau terganggunya kemampuan mengingat, keluar keringat dingin, dan jantung berdebar.
3.Mengajak Diri untuk Mengatasi Kecemasan saat Berbicara di Depan Umum
Berbicara di depan umum menurut saya bukanlah sesuatu hal yang mudah.
Bagaimana dengan Anda? Berapa banyak dari Anda yang merasakan kecemasan yang luar
biasa saat harus memberikan informasi di hadapan banyak orang? Tidak bisa tidur di malam
sebelumnya, detak jantung yang semakin cepat, panik yang luar biasa, tangan yang dingin,
tubuh berkeringat dan gemetar adalah sebagian kecil dari gejala-gejala yang mungkin saja
pernah kita alami menjelang saat kita akan berbicara di muka umum.
Kecemasan saat berbicara di depan orang banyak dapat mempengaruhi performa kita.
Ada orang yang seolah-olah kehilangan kata-katanya saat harus berbicara di depan umum.
Untuk mengatasi keadaan ini agar tidak berlarut-larut, kita perlu melakukan perubahan secara
perlahan-lahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa cemas sebelum
berbicara di depan umum adalah:

1. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik dan berlatih


Sebelum berbicara di depan umum, cobalah untuk melatih cara berbicara kita, body
language, dan lain-lain. Latihan dapat dilakukan misalnya di depan kaca atau
merekam presentasi kita untuk didengarkan kembali dan dievaluasi. Kita dapat juga
menyiapkan catatan kecil yang berisi poin-poin penting yang akan kita sampaikan.
Persiapan yang matang dapat mengurangi rasa takut.
10

2. Berdamai dengan ketakutan itu sendiri.


Ketika rasa takut itu datang, cobalah katakan kepada diri sendiri hal-hal yang dapat
meningkatkan perasaan aman dan nyaman dalam diri kita. Jangan berfokus pada halhal yang menyeramkan.
3. Perhatikan orang-orang dan lingkungan sekitar
Langkah ini akan membantu untuk mengalihkan kita dari perasaan-perasaan takut dan
tidak nyaman yang bersumber dari dalam diri kita. Melihat objek-objek yang ada di
tempat kita berdiri saat itu menutup kesempatan pikiran kita untuk membayangkan
hal-hal yang menakutkan.
4. Deep breathing
Bernapas dalam-dalam akan memberikan sinyal kepada tubuh bahwa kita tidak
sedang berada dalam situasi bahaya dan respon-respon fisiologis pun akan berjalan
normal.
Dalam public speaking, kita harus berusaha menyadari bahwa yang menjadi fokus di
sini adalah audiens, yaitu orang-orang yang mendengarkan informasi yang kita berikan, dan
bukan kita. Terlalu berfokus terhadap diri sendirilah yang akhirnya memunculkan ketakutan
atau kecemasan saat kita berbicara di depan orang banyak. Mulailah untuk berpikir, apa yang
dapat kita berikan kepada audiens, dan bukan bagaimana mereka akan memandang diri kita.
Sebagai public speaker kita harus membuat audiens merasa diterima. Caranya adalah
dengan membangun hubungan dengan orang-orang yang menjadi audiens kita, baik melalui
kontak mata, bahasa tubuh, maupun kata-kata yang kita gunakan.
*Salah satu bentuk tampil dimuka umum adalah dengan melakukan seni drama teater. Jika
anda ingin lebih mengenal tentang seni drama tersebut, maka datanglah ke TIM Marzuki
pada tanggal 20-22 Nov 2009, karena pada tanggal tersebut akan berlangsung Teater
Tragedi Macbeth yang disadur dari karya Shakespeare

11

DAFTAR PUSTAKA

Asad, M. 1995. Psikologi Industri: Seri Sumber Daya Daya Manusia. Edisi ke-empat.
Yogyakarta. Liberty.
12

Andrew. P. D. 1985. Basic Publicspeaking. New York: Harper & Row Publishers.
Bender. P. U. 1997. Secreet Of Power Presentation: Rahasia Kekuatan Presentasi
(Cetakan II). Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Burgoon. M. & Ruffer, M. 1978. Human Communication. New York. Holt Renehard &
Winston Inc.
Daley, K. 2005. Speaking Mastering: Menguasai Strategi Presentasi Yang Efektif. Alih
Bahasa: Silvester Lintu. Jakarta. PT Buana Ilmu Popular.
Devito, J. A. 1995. The Elements Of Public Speaking. New York. Harpur & Row
Publisher.
Esposito, Janet E. (2000). In the Spotlight : Overcoming Your Fear of Public Speaking
and Performing 1St Ed. Bridgewater: Electronic & Database Publishing, Inc.
Gronbeck, B. E. Granan, K. Ehninyer, D. & Monroe. 1992. Prinsiples Of Speech
Communication. II.Ed. New York. Hamper Colline Publisher. Inc.
Hareta. A. 1999. Presentasi Efektif: Seri Keterampilan Praktis. Yogyakarta. Penerbit
Andi.
Lucas. S. E. 1989. The Art Of Public Speaking. Edisi ketiga. USA. R.R Bonnelly & Sins
Comany.
Maksum. 2005. Strategi dan Teknik Komunikasi Dalam Presentasi Seminar Rutin
Puslitbang

Tanaman

Pangan.

On-line.

Diperoleh

dari

<Http://Www.Puslittan.Bogor.Net/addmin/downloads/maksum.pdf>. Tanggal 12 Mei 2005.


Matindas, D. 2005. Psikologi: Menghilangkan Grogi di Depan. On-line. Diperoleh dari
Http://www.Kompas.Com <http://www.kompas.com>/kesehatan/news/0302/28/ 020443.htm
Tanggal 12 Agustus 2005 12:42:48 GMT.
Tallis, F. 1995. Mengatasi Rasa Cemas. Jakarta: Arcam.

13

Utami. M. S. 1991. Efektivitas Relaksasi dan Terapi Kognitis untuk Mengurangi


Kecemasan Berbicara di Muka Umum. Tesis. Universitas Gajah Mada.
Wills. M. 1993. Managing The Training process: Putting The Basic Into Practic.
Berkshire. Mc. Graw-Hill International.

14