Anda di halaman 1dari 44

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

GEREJA
I. PENDAHULUAN
Pentingnya gereja tidak dapat diragukan lagi. Gereja ditebus oleh Allah dengan darah
Anak-Nya sendiri (Kis. 20:28). Gereja dikasihi, dipelihara, dan dirawat oleh Kristus
(Ef. 5:25,29), dan akan Ia tempatkan di hadapan diri-Nya dalam keadaan tanpa cacat
di dalam kemuliaannya pada suatu saat (ayat 27). Membangun pemaat-Nya
merupakan pekerjaan Kristus yang terutama di dunia sekarang (Mat. 16:18) melalui
berbagai macam karunia rohani yang Ia berikan (Ef. 4:12). Karena itu penggunaan
karunia-karunia tersebut oleh orang percaya menyatukan kita dengan apa yang sedang
dikerjakan oleh Kristus pada masa kini.

II. APA GEREJA ITU?


A. Secara Etimologi
Kata gereja diterjemahkan dari kata Yunani ekklesia; berasal dari kata ek (keluar)
dan kalleo (memanggil).
Kata ekklesia biasanya digunakan untuk
menggambarkan sekumpulan orang, baik perkumpulan/perhimpulan secara resmi
maupun tidak resmi, yang kadang-kadang hanya berkerumunan bersama sebagai
massa (Kis. 19:32, 39, 41). Dan perhimpunan tersebut biasanya dalam pengertian
politik dan bukan dalam pengertian keagamaan. Ditambahkan, kata tersebut tidak
menjelaskan mengenai orangnya, tetapi mengenai pertemuannya.1

B. Dalam Bahasa Inggris


Istilah gereja, dalam bahasa Inggris Church, dan disebut dengan kata Kirk
(Belanda) serta Kirche dalam basaha Jerman tidak berasal dari kata ekklesia tetapi
dari kata Gerika kuriakon yang artinya adalah milik Tuhan. Kata ini menekankan
bahwa Gereja adalah milik Tuhan.2 Kata tersebut hanya digunakan dua kali dalam
Perjanjian Baru; pertama dipakai untuk Perjamuan Kudus (1 Kor. 11:20) dan
kedua untuk Hari Tuhan (Wahyu 1:10). Dengan demikian kita dapat memberikan
definisi tambahan tentang istilah gereja yaitu: sekelompok orang yang telah
dipanggil keluar dari dunia dan menjadi milik Allah.3

C. Dalam Bahasa Ibrani


Dalam bahasa Ibrani, kata qahal semata-mata berarti sejumlah orang yang
berhimpun bersama dan biasanya diterjemahkan ekklesia dalam Septuaginta.
Tetapi, perhimpunan tersebut tidak selalu berhubungan dengan perkara-perkara
rohani (Kej. 28:3; 49:6; Mzm. 26:5; 1 Rj. 12:3; Ams. 5:14), tetapi juga
berhubungan dengan hal-hal rohani (Ul. 9:10; 2 Taw. 20:5; Neh.5:13). Dan
bahkan tidak selalu terkait dengan perhimpunan manusia (Mzm. 89:6).
1

Charles C. Ryrie. Teologi Dasar, Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2000, h. 184.
Louis Berkhof. Teologi Sistematika.Volume 5. Surabaya: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997, h. 10
3
Henry Clarence Thiessen. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2003, h. 477
2

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

D. Dalam Perjanjian Baru


Berdasarkan konkordansi bahasa Yunani ada 114 pemakaian ekklesia dalam PB.
Lima diantaranya bermakna umum (Kis. 19:32, 39, 40; Yak. 2:2; Kis. 7:38),
sisanya 109 berkaitan dengan gereja (mis. Ef. 1:22,23; Rom. 16:5; 1 Kor. 16:19;
Kol. 4:15; Film. 2
Istiah gereja dipakai dengan dua macam arti: arti yang universal dan arti yang
lokal.
1. Gereja yang universal. Dalam arti universal gereja terdiri atas semua orang,
yang pada zaman ini, telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan oleh Roh
yang sama itu telah dibaptiskan menjadi anggota tubuh Kristus (1 Kor. 12:13;
1 Pet. 1:3, 22-25). Gereja dipakai dalam arti universal ini karena Kristus
berbicara mengenai membangun jemaat(gereja)-Nya dan bukan membangun
jemaat/gereja (Mat. 16:18). Kristus sangat mengasihi gereja sehingga rela
menyerahkan diri baginya (Ef. 5:25), Dia sedang memurnikan dan
menguduskan gereja (Ef. 5:26,27); Dialah kepala gereja (Ef. 1:22; 5:23; Kol.
1:18); Kristus telah menempatkan orang-orang yang diperlengkapi dengan
karunia-karunia dalam gereja (1 Kor. 12:28).
Pemahaman tentang gereja yang bersifat universal dapat dilihat dalam
gambaran-gambaran yang dipakai untuk menerangkan gereja tersebut.
a. Gereja disebut sebagai bangunan Allah (1 Kor. 3:9, 16,17; 2 Kor. 6:16; Ef.
2:20-22; 1 Tim. 3:15). Kristus merupakan batu penjuru bangunan ini
(Mat. 16:18; 1 Kor. 3:11; 1 Pet. 2:6,7) dan oleh Roh-Nya Kristus tinggal di
dalamnya (1 Kor. 3:16; 6:19). Orang yang sudah percaya kepada Kristus
melaksanakan pelayanan sebagai imam dalam bait suci ini (Ibr. 13:15,16;
1 Pet. 2:9; Why. 1:6).
b. Gereja juga disebut sebagai tubuh Kristus (Roma 12:4; 1 Kor. 12:12-27;
Ef. 1:22,23; 3:6; 4:4,12,16; 5:23,30; Kol. 1:18,24; 2:19; 3:15). Dalam hal
ini gereja dianggap sebagai sebuah organisme, yang memiliki hubungan
yang sangat penting dengan Kristus.
c. Gereja juga disebut sebagai mempelai perempuan Kristus (2 Kor. 11:2,3;
Ef. 5:24,25,32). Dengan demikian gereja berkedudukan sebagai pasangan
Kristus, yang mesti setia kepada Dia (Yak. 4:4), harus bersiap-siap untuk
upacara pernikahan (Why. 19:6-20:6).
d. Gereja adalah pokok anggur dan carang-carangnya (Yhn. 15:1-8) dan
kawanan domba yang digembalakan olehNya (Yhn. 10:1-18; Ibr. 13:20; 1
Pet. 2:25.
2. Gereja yang lokal. Dalam arti ini gereja dipakai untuk menunjuk kepada
sekelompok orang-orang percaya yang terkumpul di satu tempat. Misalnya,
adanya gereja di Yerusalem (Kis. 8:1; 11:22), Efesus (Kis. 20:17), Kengkrea

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

(Roma 16:1), Korintus (1 Kor. 1:2; 2 Kor. 1:1). Juga di Laodikia (Kol. 4:16),
Tesalonika (1 Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1).

E. Konsep-konsep Lainnya Tentang Gereja


Terdapat berbagai pandangan tentang pengertian gereja, yakni dari berbagai aliran
gereja sebagai berikut: 4
a. Konsep Roma Katolik
Gereja merupakan masyarakat yang terbentuk secara ilahi yang anggotaanggotanya terdiri dari setiap ras dan bangsa, semuanya berpegang pada satu
iman, semuanya menggunakan sakramen-sakramen yang sama sebagai sarana
kekudusan dan keselamatan, dan semuanya diperintah dengan lemah lembut
oleh pengganti Santo Petrus, Wakil Kristus, sang paus.
b. Konsep Anglikan
Gereja Kristus yang kelihatan adalah sebuah jemaat yang terdiri dari orangorang percaya, dimana firman Allah yang murni dikhotbahkan, serta
sakramen-sakramen dilayankan dengan sebagaimana mestinya sesuai dengan
perintah Kristus.
c. Konsep Reformasi
Gereja yang am atau gereja universal, yang tak kelihatan, terdiri dari seluruh
jkumlah orang yang terpilih...Gereja yang kelihatan, yang juga am atau
universal menurut Injil, terdiri dari semua orang di seluruh dunia yang
mengakui iman yang benar, bersama dengan anak-anak mereka.
d. Konsep Baptis
Gereja adalah suatu kumpulan orang-orang kudus yang kelihatan, yang
dipanggil dan dipisahkan dari dunia oleh Firman dan Roh Allah, untuk
memberikan pengakuan iman yang kelihatan tentang Injil setelah mereka
dibaptiskan ke dalam iman tersebut
e. Konsep Lainnya
Gereja yang nampak sebagai sejumlah besar orang yang menyebar di seluruh
dunia, yang mengakui menyembah kepada satu Tuhan di dalam Kristus;
disatukan dalam iman ini melalui baptisan; mengakui kesatuan mereka dalam
doktrin dan kebaikan melalui Perjamuan Kudus; percaya kepada Firman
Tuhan, dan untuk pemberitaan Firman itu mereka melakukan pelayanan yang
ditunjuk oleh Tuhan.5

4
5

Charles Ryrie, Teologi Dasar, Buku 2, h. 187.


Pandangan Calvin. Louis Berkhof. Teologi Sistematika.Volume 5. h. 31.

Ekklesiologi

III.

Kasiatin Widianto, M.Th.

BERDIRINYA GEREJA

A. Berbagai Pandangan Tentang Berdirinya Gereja


1. Gereja adalah umat perjanjian Allah yang dikaitkan dengan panggilan
Abraham dan janji yang diberikan kepadanya sebagai permulaannya.
2. Gereja adalah orang-orang yang percaya pada janji Allah kepada Adam (Kej.
3:15). Oleh karena itu gereja telah mulai jauh sebelum panggilan Abraham.
3. Gereja dimulai pada waktu Kristus di dunia.
4. Berdasarkan pengakuan bahwa murid-murid Yesus adalah inti gereja, maka
gereja belum nyata sampai kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta.
5. Permulaan gereja ditunda sampai masa rasul Paulus
6. Gereja sudah ada dalam rencana Allah dikekekalan masa lampau (Ef. 1:4),
tetapi realitasnya gereja dimulai pada Pentakosta, karena gereja, dengan
hakekatnya sebagai tubuh Kristus, bergantung pada karya Kristus yang telah
selesai (Kis. 20:28) dan kedatangan Roh Kudus.

B. Karya Allah yang Baru dalam Masa PB


Gereja adalah karya Allah yang baru yang mulai pada masa PB. Gereja yang
masih misteri, yang tidak dinyatakan pada masa lampau (PL), ia mencirikan
sebagai manusia baru (Ef. 2:15).
1. Pokok Ajaran Kristus
a. Nubuat dalam Matius 16:18. Injil Matius mengetengahkan Kristus sebagai
Raja Israel.
Gambaran kehadiran kerajaan dalam pribadi Mesias.
Kerajaan sudah dekat (Mat. 4:17), dan telah ada dalam kuasa Kristus (Mat.
12:28). Tatapi Israel menolak Raja mereka dan kerajaanNya, mereka
menolak tuntutan bertobat yang merupakan syarat bagi pendirian kerajaan
(Mat. 11-12). Di tengah-tengah pelayananNya, Kristus menyatakan
misteri kerajaanNya kepada para muridNya (Mat. 13:11). Karena
penolakan itu, maka ada fase baru kerajaan sedang datang. Mereka harus
diyakinkan tentang pribadiNya dan tujuanNya. Jadi Kristus menyatakan
diriNya sendiri sebagai Kristus, Anak Allah yang hidup yang bertujuan
mendirikan gerejaNya (Mat. 16:13-20).
b. Sekalipun Ia tidak meletakkan aturan-aturan mengenai organisasi tertentu.
Kalimat Aku akan mendirikan jemaatKu jelas merupakan keinginan
Kristus untuk membangun umat baru. Jemaat yang akan didirikan, dimana
maut tidak akan menguasainya (Mat. 16:18). Kuasa dosa dan maut belum
hancur sampai kematian dan kebangkitan Kristus, dan Dia memegang

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

kunci maut (Why 1:18), kemudian gereja didirikan. Karena itu, Ia


langsung menubuatkan peristiwa-peristiwa yang akan datang di Yerusalem
(Mat. 16:21).
2. Penggambaran Gereja dalam PB
a. Kawanan doamba Allah (Luk. 12:32, bdg. Mrk.14:27; Yhn. 10:16;
domba-dombaKu (Yhn. 21:15-16)
b. Pokok anggur dan carang-carangnya (Yhn. 15)
c. Mempelai wanita (Mrk. 2:19)
d. Perjamuan Tuhan dan Baptisan yang diperintahkan kepada murid-muridNya
menandakan masa hidupNya di dunia akan selesai merupakan referensi
akan kehadiran gereja (1 Kor. 11:23-26).
e. Perintah prosedur disiplin (Mat. 18:15-20).
3. Gereja sebagai suatu yang rahasia dalam komposisi (Roma 16:25; 1 Kor.
2:7,10; Kol. 1:26-27; Ef. 3:5-6; Gal. 3:28)
4. Manusia Baru
Berkaitan dengan sifat rahasia, ciptaan Allah dalam gereja disebut manusia
baru (Ef. 2:15). Tembok pemisah telah dirobohkan dan hukum Taurat beserta
perintah-perintah dan ketentuannya telah dibatalkan (Ef. 2:14-16). Akibatnya
adalah ciptaan baru (Gal. 6:15), satu manusia baru (Ef. 2:15). Kata baru
(Y:kaionos) yang digunakan dalam ayat tersebut mempunyai pengertian baru
dalam sifat atau macamnya.

C. Pondasi Gereja
1. Kristus (1 Kor. 3:11)
Kristus adalah batu penjuru yang menjadi pokok bagi seluruh pondasi.
a. Karya Kristus (Kis. 20:28; Ef. 5:25-27; Kol. 3:1-4).
b. Kenaikan Kristus. Gereja ada sesudah kenaikan Kristus. Sebab ketika Dia
naik, membagi-bagikan karunia kepada manusia (Ef. 4:8). Karuniakarunia rohani yang padanya fungsi gereja bergantung dianugerahkan
melalui roh, yang diutus oleh Kristus sesudah kenaikannya (Yoh. 16:7).
c. Kesimpulan: gereja dibangun atas seluruh karya kedatangan Kristus yang
pertama dan ditopang melalui kehadiranNya sebagai Kepala. Dialah
Pendirinya. Gereja adalah milik-Nya (Mat.16:18). Dia adalah Dasarnya

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

(1 Kor. 3:11). Sebagai pendiri dan pemilik gereja, Dia telah melakukan
empat hal sebagai berikut: 6
Dia memilih murid-murid yang juga akan menempati suatu posisi
sebagai dasar bangunan yang akan didirikan-Nya (Ef. 2:20).

Dia mengajar murid-murid-Nya tentang perkara-perkara yang akan


menjadi efektif apabila gereja mulai berfungsi. Sebagian besar dari
pengajaran itu disampaikan selama percakapan di Kamar Atas
(Yhn. 13-17).

Pendiri gereja itu juga menjadi Batu Penjuru melalui kematian dan
kebangkitan-Nya (Kis. 4:11; Ef. 2:20).

Sebagai Pendiri, Ia juga mengirimkan Roh Kudus yang


menghidupkan gereja sehingga dapat sungguh-sungguh berfungsi
(Kis. 2:33).

2. Para Rasul dan Nabi. Alkitab menunjukkan bahwa para rasul dan nabi
sebagai unsur pondamen dalam struktur gereja. Rumah Allah dibangun atas
dasar para rasul dan nabi, Kristus sendiri sebgai batu penjuru (Ef. 2:20).

D. Permulaan Gereja
Gereja dimulai di Yerusalem pada hari pentakosta. Pada hari itu Roh dicurahkan
atas murid-murid untuk membentuk tubuh Kristus.
1. Segi oknum: gereja dibentuk oleh Roh Kudus (1 Kor. 12:13; Ef. 1:22-23; 5:30;
Kol. 1:18).
2. Segi waktu: gereja dibentuk pada hari Pentakosta (Kis. 1:5b). Tidak dapat
disangkal bahwa pada hari Pentakosta, gereja didirikan.7 Gereja belum ada
dalam zaman Perjanjian Lama, namun baru ditetapkan pada Hari Pentakosta8
dengan bukti-bukti sebagai berikut:
a. Tuhan kita berkata: Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Mat. 16:18).
b. Gereja baru dapat memiliki Kepala yang berfungsi setelah kebangkitan
Kristus. Karena itu, gereja tidak mungkin ada sebelum Ia bangkit dari
antara orang mati (Ef. 1:20).
c. Gereja baru sungguh-sungguh dapat beroperasi dengan berfungsinya
karunia-karunia rohani setelah kenaikan Kristus ke sorga (Ef. 4:7-12)

6
7

Charles C. Ryrie, Teologi Dasar Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002, p. 194-195.
Ibid., h. 485

Ibid., h. 192.

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

d. Sifat rahasia dari satu tubuh belum dikenal dalam masa PL (Ef. 3:5-6;
Kol. 1:26).
Penegasan serupa dikemukakan oleh J.W. Brill seperti berikut:
Terbentuknya jemaat yaitu pada hari Pentakosta. Sebelum hari itu sudah ada
orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi pada hari itulah
jemaat terbentuk. Murid-murid Tuhan berhimpun dengan sehati di Yerusalem
dan tiba-tiba Roh Kudus turun ke atas mereka, dan demikianlah jemaat Kristus
terbentuk. Akan tetapi dasar jemaat telah diletakkan oleh Tuhan Yesus
sendiri, yang berkata, Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu. (Matius 16:18,19). 9

E. Penyebaran Gereja (Kis.1:8b)


Mulai dari Yerusalem, Gereja menyebar ke daerah-daerah lain sampai ke ujung
bumi, yang disebarkan oleh orang-orang percaya.
1. Permulaan
Pusat permulaan gereja adalah Yerusalem. Setiap tugas Kristen mulai dari
sana. Bahkan rasul Paulus tidak mulai dari Damsyik, tetapi dari Yerusalem
(Roma 15:19). Yerusalemlah tempat di mana Kristus mati, bangkit dan naik
ke sorga (Kis. 1:3,9). Lagi pula banyak peristiwa ajaib terjadi di Yerusalem
(Kis. 5:16), pengajaran para rasul ditengah ancaman dari pemimpin Yahudi
(Kis. 5:42). Dan ribuan orang percaya ditambahkan pun terjadi di Yerusalem
(Kis. 2:41; 4:4; 6:7)
2. Peralihan
Peralihan yang hebat mengakibatkan penyebaran orang percaya dari
Yerusalem ke daerah Yudea dan Samaria, kecuali para rasul (Kis. 8:1). Selama
masa peralihan gereja tersebar hampir seluruh Timur Tengah, pengabaran Injil
telah terdengar sampai tempat yang jauh seperti Yudea, Samaria, Damsyik,
Foenesia, Siprus, dan Antiokia.
3. Perluasan ke seluruh dunia
Perluasan puncak terjadi melalui orang pilihan Allah, yaitu rasul Paulus (Kis.
9:15).

J. Wesley Brill, Dasar Yang Tegus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, tt., h. 269.

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

IV. HAKEKAT GEREJA


Dalam menguraikan hakekat gereja, para penulis PB menggunakan ungkapanungkapan deskriptif.

A. Gereja Adalah Umat Allah


Pengertiannya adalah:
1. Sidang Allah
Gereja adalah sidang Allah, permulaannya, sejarahnya dan kemulaiannya
terletak pada kehendak dan kuasa anugerah Allah. Gereja adalah umat yang
dipanggil oleh Allah, disatukan dalam Kristus dan didiami oleh Roh Kudus.
Alasan gereja sebagai sidang Allah:
a. Dipilih Allah
Gereja dipilih dalam Kristus (Ef. 1:4). Anggota gereja adalah orangorang pilihan Allah (Roma 8:23) atau orang-orang yang dipilih (1 Pet.
1:2; 2 Tim 2:10).
Dasar pemilihan adalah hikmat Allah dan kerelaan kehendakNya (Ef.
1:5,11)
Waktu pemilihan adalah sebelum dasar dunia diletakkan (Ef. 1:4)
Pada hakekatnya gereja aalah suci/kudus, dipanggil untuk menjadi kudus
(1 Kor. 1:2). Kristus mampu mendirikan gereja suatu umat yang kudus.
b. Dijadikan anggota Kristus
Posisi orang percaya disatukan dalam Kristus.
Maksudnya gereja
dipanggil ke dalam persekutuan dengan anak-Nya, yaitu Yesus Kristus
Tuhan kita (1 Kor. 1:9) di dalam kematianNya ( Roma 6:6; Gal. 2:19),
kebangkitanNya (Ef. 2:5,6; Kol. 2:12), penderitaanNya, dan dalam
kemuliaanNya (Roma 8:17; Tit. 2:12).
Jadi kehidupan dalam gereja adalah kehidupan bersana Kristus dan umatNya, inilah kehidupan dalam lingkup yang baru yang membawa hubungan
baru dan tugas baru pada setiap sudut.
c. Dalam Persekutuan Roh
Kristus tinggal di dalam gereja melalui pendiaman Roh (Yoh. 16;16-20)
oleh karena itu, gereja adalah perkumpulan orang-orang yang disatukan
bersama dalam kenyataan pendiaman Roh kudus. (1 Kor. 12:13; 2 Kor.
13:13; Flp. 2:1; Ef. 4:3-4; 1 Kor. 1; Kis. 1:8; 4:31; 1 Kor. 2:4; Kis. 13:2,4).
Kegagalan gereja sebagai faktor utmana dalam dunia adalah akibat tidak
mengakui Roh sebagai pribadi yang tinggal dalam gereja sebagai kekuatan
yang dinamis.

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

2. Tanggung Jawab Gereja sebagai Sidang Allah.


a. Setia
Kata setia diambil dari bahasa Yunani pistoi(pistoi), berarti orang-orang
percaya atau setia. Seperti jemaat Efesus dan Kolose. Paulus
menyebutnya orang-orang kudus dan setia (Ef. 1:1; Kol. 1:2; Kis. 2:44;
4:22; 1 Tes. 1:7).
b. Murid
Secara literal istilah murid berarti seorang pelajar dan menunjuk orang
yang setia terhadap pemimpin, dengan mengikuti ajarannya (Ef. 4:20-21).
c. Orang Kristen (Kis. 11:26; Kis. 26:28; 1 Ptr. 4:16)
d. Saudara
Persekutuan orang percaya dalam PB Persaudaraan (Rm. 8:29; Ef. 6:23; 1
Tim 6:2). Istilah perseudaraan (brethren) berarti kesamaan di hadapan
Tuhan (1 Tim. 6:2).

B. Gereja Adalah Tubuh Kristus


Maksudnya adalah:
1. Gereja bergantung kepada kepala yang adalah Kristus (Kol. 1:18; bdg
1:24; 2:19; Ef. 1:22-23; 4:4, 12, 16; 5:30; 1 Kor. 12:12-13; Rm. 12:5).
Sumber: Hubungan yang vital antara tubuh dengan kepala tubuh, yaitu Kristus
sendiri, yang adalah kepala gereja yang berarti menyatakan kehadiran-Nya
(Roma 8:23; 2 Kor 3:1; Gal.4:6; Fil.1:19; 1Pet.1:11). Kehadiran Kristus ini
berhubungan dengan kesatuan dengan orang-orang percaya; dan kehadiranNya itu merupakan jaminan dan pertanda bahwa seseorang adalah milik
Kristus dan berhak menjadi sasaran kasih dan pelayanan-Nya.10 Sebagai
Kepala, Kristus terlibat dalam proses penyucian yang berlangsung atas orang
percaya (posisional progressive perfect). Di pihak lain tubuh-Nya
bergantung mutlak kepada-Nya (Flp.4:13)11
2. Gereja adalah anggota tubuh.
Paling sedikit tiga kebenaran penting yang dikukiskan dari analogi hubungan
anggota dalam tubuh alami dengan anggota gereja.
a. Kesatuan
Sebagaimana tubuh dibentuk dari banyak anggota, namun satu adanya,
demikian juga gereja (1 Kor. 12:3-5; 12:25 dst.; 1 Kor. 14:33).

10
11

Pdt. Chris Marantika, Th.D., D.D. Kristologi. Yogyakarta: Iman Press, 2008, h.114.
Ibid. h.117.

Ekklesiologi

10

Kasiatin Widianto, M.Th.

b. Keanekaragaman
Tubuh secara fisik tidak disusun dari satu anggota, tetapi banyak anggota (1
Kor. 12:14), dan anggota-anggota itu haruslah berbeda (1 Kor 12:17-20).
Anggota-anggota yang berbeda sangat diperlukan (17), yang lemah (22),
yang kurang terhormat (23). Seperti dalam tubuh Kristus berbagai macam
anggota dalam tubuh Kristus, namun semua diperlukan.
c. Kebersamaan
Dalam kegiatan tubuh manusia dituntut kebersamaan dan ketergantungan
dari anggotanya masing-masing demikian juga tubuh Kristus menuntut
kebersamaan. Ini berarti ketergantungan satu dengan yang lain dan
kebersamaan fungsi tubuh (1 Kor. 12:21-25).

3. Gereja sebagai tubuh, hubungannya dengan Kepala


Pengertian hubungan ini adalah:
a. Bicara Kepemimpinan
Makna utama dari arti kepala tubuh adalah kepemimpinan yang berkuasa
(Kol 2:16-18,21 dst).
Keutamaan Kristus yang absolut mampu menjawab kebutuhan gereja
sebagai tubuhNya (Kol. 1:15, 17; Kol. 2:9). Jadi Ia memiliki kekuasaan
sebagai kepala atas ciptaan baru secara rohani yang adalah tubuhNya yaitu
gereja (1:18).
b. Bicara Sumber Hidup
Kristus sebagai Kepala gereja adalah sumber (Kol. 1:18; Kol. 2:11-13; Rm.
6:4). Jadi Kristus adalah hidup kita (Kol. 3:4); Ia adalah pemberi roh yang
menghidupkan (1 Kor. 15:45).
Sebagai sumber hidup, Kepala merupakan saluran yang melaluinya
kepenuhan ilahi mengalir pada tubuh (Kol. 2:9; 1:19; Kol. 2:3; Yoh. 1:14).
Karena kepenuhan dalam Kristus, tubuh tidak mencari yang lain. Istilah
lengkap (Bhs. Yunani: menjadikan penuh) dalam Dia (Kol. 2:10; Ef.
3:19; Ef. 4:13; Ef. 1:23).
Kepenuhan-Nya disampaikan kepadanya; dan gereja dikatakan menjadi
Pleroma (kepenuhan).
c. Bicara Makanan Bagi Kehidupan
Kehidupan gereja tidak hanya diberkati pada waktu lampau pada tindakan
kelahiran baru, tetapi juga diberi makanan secara terus menerus oleh Kepala
(Kol. 2:19).
Kolose 2:19, memiliki gagasan memberi makanan dengan berlimpahlimpah dan bebas, dan dalam bagian itu diterjemahkan ditunjang. Tidak

Ekklesiologi

11

Kasiatin Widianto, M.Th.

ada pertumbuhan tanpa tunjangan berlimpah dan penuh kasih dari


kepalanya.

C. Gereja Adalah Bait Allah


Gereja berbicara tentang tubuh yang fana sebagai rumah di dunia atau skema
(Bhs. Yunani; Terj. Inggris tabernakel) dan menyebut tubuh kebangkitan
bangunan Allah adalah rumah yang tidak dibuat dengan tangan manusia (2 Kor.
5:1). Petrus juga menunjukkan tubuhnya yang fana dalam bentuk bangunan,
dengan menyebutnya skema (Bhs. Yunani; Terj. Bhs. Inggris tabernakelku.; 2
Ptr. 1:14).
1. Susunan Bangunan Bait Allah
a. Fondasi
Bangunan gereja didasarkan pada pribadi dan karya Kristus (1 Kor. 3:1011).
b. Batu Penjuru
Hal yang dekat dengan dasar bangunan adalah batu penjuru, yang juga
diidentifikasikan dengan Kristus (Ef. 2:20; 1 Ptr. 2:4-8, batu penjuru).
Batu penjuru amatlah penting bagi tegaknya struktur simetris dari suatu
bangunan.
c. Batu-batu
Batu-batu bangunan diuraikan oleh rasul petrus sebagai batu yang hidup
(1 Ptr. 2:5). Mereka telah menerima kehidupan dari batu yang hidup yang
adalah Kristus, yang mempunyai hidup di dalam diri-Nya sendiri (Yoh.
5:26) da memberikan kehidupan-Nya kepada mereka yang datang kepadaNya.
2. Konstruksi Bangunan
Proses dan bentuk bangunan dirinci oleh rasul dalam Efesusn 2:20-22. Ada
tiga tahap dalam membangun yaitu: fondasi, diatur rapi, dan ditambah dengan
berikutnya.
a. Kesatuan dengan dasar
tiap-tiap batu dalam bangunan berada di atas pondasi. Kata depan epi
(Bhs. Yunani di atas) berarti menumpang di atas yang ditunjukkan di
sini adalah fakta bahwa bagian-bagian bangunan berada dalam hubungan
yang erat dengan dasar, yaitu di atas para rasul dan nabi sebagai sarana
pernyataan Allah.
b. Batu-batu yang terpasang
Sebagai batu yang dibawa ke dalam persekutuan dengan Kristus, mereka
terus menerus dalam kebersamaan yang terbentuk secara rapi (Ef. 2:22).

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

12

Istilah ini, diuraikan dari kata harmos (Bhs. Yunani, bersama)


menjelaskan tentang proses, sehingga menjadi bentuk kebersamaan yang
rapi (Ef. 4:7).
c. Peningkatan Bangunan
Bangunan gereja disusun oleh para rasul sampai lengkap (Ef. 2:21).
3. Sifat Bangunan
a. Seperti Bait Allah
Gereja merupakan bait Allah yang kudus (Ef. 2:21). Istilah bait
diterjemahkan dari kata Yunani naos dan hieron. Naos, berarti ruang Maha
Kudus, tidak selalu berbeda dengan hieron, berarti seluruh bangunan bait
(menunjuk pada bentuk bangunan).
b. Tempat Tinggal Allah
Bait dalam PB adalah naos. Yang merupakan fakta bahwa Allah tinggal di
tempat ini (naos=ruang Maha Kudus). Dengan demikian rasul
mengkhususkan gereja adalah tempat tinggal Allah.

D. Gereja Adalah Imam Allah


Sebagaimana imam-imam dalam Bait Suci PL,Bait Suci tidak lengkap jika tidak
ada imam yang melayani, demikian juga gereja. Petrus mengumumkan bahwa
orang-orang percaya PB sebagai batu hidup, yang dipakai untuk membangun...
(1 Ptr. 2:5, 9).
1. Pekerjaan Imam
Istilah dasar dalam PL adalah cohen (cohen) berasal dari akar kata yang berarti
yang berdiri di hadapan Allah dan melayani Dia. Konsep ini juga mengarah
berdiri, kemudian bermakna orang gagasan berdiri untuk mewakili yang lain,
lalu bermakna tugas utama imam. Seluruh bangsa israel disebut Kerajaan
Imam (Kel. 19:6).

PEKERJAAN IMAM
PL
Imam berdiri melayani Allah.
Hanya Imam yang dapat/boleh
berdiri mewakili umat.
Hanya Imam Agung/Besar saja
yang dapat masuk Ruang Maha
Kudus.

PB
Gereja berdiri sebagai Imamat
Rajani (1 Pet. 2:9).
Gereja (semua orang percaya)
dapat bertemu Allah langsung (Ibr.
10:19-21; 9:24-28).
Gereja tidak perlu Imam khusus.

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

13

2. Persyaratan Imam
Para imam dalam PL terdiri dari orang-orang yang dipilih Allah lewat nabiNya, kemudian dipisahkan sebagai orang-orang kudus. Orang-orang yang
demikian yang dapat mendekati Allah. Persyaratan yang sama dapat kita
jumpai dalam keimanan gereja.
PERSYARATAN IMAM
PL
1. Dipilih Allah lewat nabi-Nya
2. Disucikan Allah.
Dalam upacara pentahbisan
yang sakral (Kel 29:4).
Pemakaian Jubah (Kel. 29:5-6;
28:40-41).
3. Diurapi minyak.

4. Mempersembahkan korban.
Korban persembahan bagi dosa,
yaitu korban bakaran.
Korban persembahan syukur.
Korban persembahan darah
domba (pemercikan).

PB
1. Dipilih Allah dalam Yesus Kristus
(Ibs. 5:1, 4:7, 28).
2. Disucikan Allah.
Dalam kelahiran baru (Ibr.
10:22, Tit. 3:5).
Memakai jubah Kristus.
3. a. Dibaptis Roh Kudus (1 Pet.
1:2).
Dalam kelahiran baru (Ibr.
10:22, Tit. 3:5).
Memakai jubah Kristus.
3. b. Diurapi Roh Kudus (1 Yoh.
2:20-27).
4. Mempersembahkan diri untuk taat
dan diperciki darah Kristus (1 Ptr.
1:2; Ibr 12:24).

3. Tugas/Fungsi Imam
Hak istimewa Imam dalam memasuki hadirat Allah adalah tugas
pelayanannya. Perjanjian Baru menyatakan fungsiyang sama dengan Imam
dalam Perjanjian Lama.
TUGAS DAN FUNGSI IMAM
PL

PB

A. PELAYANAN KORBAN
1. Mempersembahkan korban untuk
1. Mempersembahkan diri sebagai
dosa umat.
korban yang hidup (Rm. 12:1).
2. Persembahan yang diperlukan
2. Persembahan yang diperlukan
Kambing
Persembahan rohani
Domba
Persembahan yang hidup
Lembu, dll.
Persembahan pujian syukur
Persembahanjiwa-jiwa baru

Ekklesiologi

14

Kasiatin Widianto, M.Th.

B. PELAYANAN KESAKSIAN
1. Pengantara antara Allah dan umat 1. Bertanggung jawab untuk bersaksi
atas kesaksiannya (Im. 10:11; Ul.
33:10).
2. Pengantara
2. Satu satunya pengantara adalah
Membawa umat ke hadapan Allah
Yesus Kristus. Tugas kita adalah
saling mendoakan:
Doa untuk keperluan fisik (Kis.
12:5, 12; yak. 5:14-18).
Doa untuk pekabaran Injil
(Kis.13:3).
Doa untuk kebutuhan rohani
jemaat (Kis. 14:23 bdg. Doadoa Paulus dalam suratnya. Ef.
1:16-23;3:14-21).
Doa untuk orang yang tidak
percaya, untuk Israel (1 Tim.
2:1-2; Rm. 10:1).

E. Mempelai Perempuan
Gambaran terindah mengenai gereja adalah mempelai perempuan Kristus.
Gambaran pernikahan digunakan dalam PL, adalah ikatan antara Allah dengan
Israel (Yes. 54:5-6; 62:5 bdg. Hos. 2:27). Konsep ini tidak dipakai secara luas,
tetapi dalam PB memberi pemahaman tentang hubungan gereja dengan Kristus.
1. Kasih Mempelai Laki-laki
Kesatuan Kristus dan gereja-Nya digambarkan dengan hubungan suami-istri
(Ef. 5:22-23, 25, 30). Ayat 25 menjelaskan tentang kasih.
a. Kasih yang tidak terbatas
Kristus bukan mengasihi orang-orang yang patut dikasihi namun justru
orang-orang berdosa dan musuh (Rm. 5:8-10; Ef. 3:19).
b. Ungkapan kasih
Bukti kasih suami kepada istri adalah perhatiannya terhadap kesejahteraan
istri (Ef. 5:29 bdg. 4:7). Ia akan menjaga dan melindunginya (Ef. 5:23).
2. Tanggapan Mempelai Perempuan
Mengasihi Dia (1 Yoh. 4:19), taat dan tunduk (Ef. 5:24), mengungkapakan
kemuliaan-Nya (1 Kor. 11:7), setia (1 Kor. 11:2,3).
3. Kesatuan Di Masa Yang Akan Datang
Gereja disatukan dengan Kristus sebagai mempelai perempuan secara
sempurna akan terjadi di masa yang akan dtang pada waktu Kristus
menjemputnya untuk bersama-sama dengan Dia selama-lamanya (1 Tes. 4:17;
Why. 19:7-9).

Ekklesiologi

15

Kasiatin Widianto, M.Th.

F. Gambaran-gambaran Lain
1. Domba-domba
Gambaran ini telah dipakai dalam PL (Mzm. 23:1; 80:1; 79:13; 100:3; Yes.
40:11). Dalam Perjanjian Baru gereja terdiri atas domba-domba dari Israel dan
dari bangsa-bangsa kafir (Yoh. 10:16).
a. Pemilik Domba
Gereja sebagai umat Allah yang baru aadalah kawanan domba Allah (1
Ptr. 5:2). Kawanan domba Kristus (Yoh. 10:27; 21:16). Jadi pemilik
domba (gereja) adalah Yesus Kristus.
b. Menggembalakan Domba
Kristus buka saja menebus gereja tetapi juga menyediakan kebutuhan (Yoh.
10:24), memberi makan (Yoh. 21:16; 1 Ptr. 5:2; 2 Tim. 4:2; 3:16-17; Kis.
20:27), melindungi (Mzm. 23:4; 2 Tim. 3:1-1; 2 Ptr. 2:1-3).
2. Pokok Anggur dan Carang-carangnya
PL melatar belakangi gambaran pokok anggur dan carng-carangnya yang
dipakai Yesus dalam Yohanes 15. berkali-kali Israel dgambarkan dengan
pokok anggur yang tidak berbuah (Yeh. 15:1-5; 19:10-14; Yes. 5:1-7; Yer.
2:21). Karena mereka gagal, Yesus datang sebagai pokok anggur yang benar
(Yoh. 15:1).
a. Kesatuan organis cabang dengan pokok (Yoh. 15:4-7). Kata tinggal
(meno) berarti di dalam, dalam kesatuan pribadi.
b. Buah dari kesatuan: kasih dan sukacita (Yoh. 15:8-13).

Ekklesiologi

16

Kasiatin Widianto, M.Th.

V. CIRI KHAS GEREJA


A. Pendahuluan
Gereja merupakan karya setelah kehidupan-Nya di bumi. Gereja tidak sama
dengan kerajaan yang juga diajarkan-Nya. Gereja berbeda dengan teokrasi
atas Israel.

B. Hubungan Gereja Dengan Kerajaan


1. Pandangan Umum
a. Gereja sama dengan kerajaan, maka gereja memilki otoritas yang mutlak di
atas bumi (Agustinus, City of God).
b. Gereja akan berhasil dan bertumbuh dan mampu membangun kerajaan
dunia (Postmillenium).
c. Gereja sebagai penetap hukum Allah dalam Perjanjian Allah sebagai alat
yang terutama untuk mecapai tujuan tersebut (Teonomi).
d. Keutuhan Kristus mengatasi semua struktur dunia, gereja sebagai alat yang
terutama untuk mencapai tujuan tersebut (Teologi Reformasi).

2. Definisi Kerajaan
Kerajaan adalah suatu komunitas yang terorganisasi secara politis. Syaratsyarat adalah ada penguasanya, ada rakyatnya (yang diperintah) dan
wilayahnya.12

3. Konsep Kerajaan Menurut Alkitab


a. Kerajaan Universal
Allah adalah penguasa; Ia berkuasa atas segala sesuatu; kekuasaan Allah
adalah dalam sepanjang waktu dan kekekalan (1 Taw. 29:11; Mzm.
145:130; 96:13; Dan. 2:37; Why. 15:3; Mzm. 110:6).
b. Kerajaan Mesianik/Daud (1 Sam. 7:12-16)
Kristus adalah penguasa; Ia akan memerintah atas seluruh bumi serta
segenap penduduknya selama seribu tahun yang diikuti kedatangan-Nya
yang kedua kali.

12

Charles C. Ryrie, Teologi Dasar Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002, h. 189.

Ekklesiologi

17

Kasiatin Widianto, M.Th.

c. Kerajaan Rahasia (Mat. 13:11, 39, 40)


Penguasanya adalah Allah; Ia memerintah orang-orang bumi yang telah
mempertalikan diri mereka secara positif, netral, atau negatif terhadap
Kerajaan Kristus (mencakup semua orang yang sungguh percaya, yang
hanya mengakaui dengan mulut yang menolak, bahkan yang melawan).
Waktunya adalah di antara kedua kedatangan-Nya.
d. Kerajaan Rohani
Kristus adalah penguasa; Ia hanya memerintah atas orang-orang percaya,
kerajaan ini sudah ada pada masa kini (Kol. 1:15).

4. Hubungan Gereja Dengan Kerajaan-kerajaan Tersebut


a. Gereja merupakan bagian dari kerajaan Universal.
b. Gereja bukan bagian kerajaan Mesianik. Karena gereja telah diangkat dan
akan memerintah bersama Kristus.
c. Gereja merupakan kerajaan Kristus, maka gereja merupakan bagian dari
kerajaan bentuk misteri.
d. Gereja yang sejati, tubuh Kristus, adalah sama dengan kerajaan rohani.

C. Hubungan Gereja Dengan Israel


1. Orang Israel dan non-Israel dibedakan dengan jelas setelah gereja ditetapkan
(Kis. 3:12; 4:8; 5:21, 31, 35; 21:19).
2. Israel dan gereja dibedakan secara jelas. Gereja bukan Israel (1 Kor. 10:32).
3. Istilah kai dalam Bahasa Yunani (Gal. 6:6) bersifat empati. Memberi
tekanan akan perbedaan Israel dengan gereja (bdg. Mar. 16:7; kis. 1:14).

Ekklesiologi

18

Kasiatin Widianto, M.Th.

VI. KEPEMIMPINAN DALAM GEREJA


A. Pendahuluan
1. Pada mulanya kepemimpinan dipusatkan pada rasul, tetapi kemudian orangorang lain ditetapkan (Kis. 1-6; 14:23).
2. Pemimpin gereja melaksanakan tugasnya di gereja lokal (Fil. 1:1; Tit. 1:5; Kis.
20:17).
3. Perbedaan karunia dan pelayanan semua anggota diberikan untuk pelayanan
bersama (1 Kor. 12:7).
4. Di antara anggota ada yang dikaruniai menjadi pemimpin (Ibr. 13:17).
5. Melalui kotbah dan teladan, Kristus mengajarkan bahwa melayani merupakan
kunci kepemimpinan (Mat. 10:25-28; Mrk.10:45; Mat. 20:26-27).
6. Dua persoalan yang dapat muncul dalam kepemimpinan adalah:
a. Pemimpin menjadi tuan atas pengikutnya (1 Pet. 5:3).
b. Pengikut tidak mengakui pemimpinnya (Ibr. 13:17).

B. Jabatan Dalam Gereja


Terdapat dua jabatan dalam gereja, yaitu penatua dan diaken.
1. Penatua
a. Istilah-istilah
(1). Penatua dan Penilik menunjuk orang yang sama (Tit. 5,7; Kis.
20:17,28). Istilah tersebut dapat dipertukarkan.
(2). Gembala menunjuk kepada karunia rohani (Ef. 4:11) dan bukan tugas.
Oleh sebab itu, penatua melaksanakan tugas-tugas penggembalaan
(Kis. 20:28; 1 Pet. 5:1,2).
b. Pengertian
(1). Penatua (presbuteros), menerima tanggung jawab atas dasar hikmat
dan pengalamannya. Ia lebih dewasa secara fisik dan rohani. Istilah ini
dipinjam dari Synagoge Yahudi.
(2). Penulis (etskopos), mengawasi atau menjaga umat.
c. Jumlah
Jumlah penatua lebih dari satu (jamak) pada tiap-tiap gereja lokal (kis.
11:30; 14:23; 16:4; 1 Tes 5:12; Yak 5:14). Penilik bentuk tunggal (1 Tim.
3:1) dipakai sebagai perwakilan kelompok.

Ekklesiologi

19

Kasiatin Widianto, M.Th.

d. Tanggung Jawab Penatua


(1). Mengurus/administrasi (Tit. 1:7).
(a). Mengatur dengan kesungguhan dan kasih (1 Tim. 3:5; 5:17; 1 tes.
5:12).
(b). Memimpin atau membimbing (Ibr. 13:7, 17).
(c). Mengatur finansial (Kis. 11:30).
(2). Menggembalakan (Kis 20:28; 1 Pet. 5:2).
(a). Melindungi umat (Kis. 20:29).
(b). Menegur umat (1 Tes. 5:12).
(c). Menasehati umat (Tit. 1:9).
(d). Mendoakan umat (Yak 5:14).
(3). Mengajar
(a). Mampu mengajar (1 Tim. 3:2).
(b). Mengajar dengan giat (1 Tim. 5:17; 2 Tim 2:24).
e. Kualifikasi Para Penatua
Kitab suci memberi perhatian pada kualifikasi penatua lebih besar daripada
tanggung jawabnya. Hidup mereka sebagai model jemaat.
(1). Tidak bercacat (1 Tim. 3:2).
Bukan berarti tanpa dosa, tetapi reputasi baik, tak dapat dicela, tak
dipertengkarkan, tak bersalah. Tak bercacat (Tit. 1:6-Yun:anekletosanekletos) berarti tidak terdakwa atau tertuduh, kualifikasi ini di atas
semua kualifikasi selanjutnya.
(2). Suami dari satu istri (1 Tim. 3:2; Tit.1:6).
Yang terpenting di sini adalah kesetiaan suami istri. Seorang laki-laki
yang beristri lebih dari satu dan berzinah dengan orang lain selain
istrinya tidak memenuhi syarat ini. Ini tidak berarti duda yang menikah
lagi tidak memenuhi syarat ini (1 Tim. 5:9). Kalau ada perceraian
sebelum calon penatua menjadi Kristen, kebanyakan sarjana
berpendapat tidak apa-apa, tetapi kalau itu terjadi sesudahnya ia
bercacat.
(3). Dapat menahan diri (1 tim. 3:2).
Keseimbangan dalam menguasai diri, berpantang terhadap semua hal
yang berlebihan.
(4). Anak-anaknya hidup beriman dan saleh (Tit. 1:6).
Beriman artinya setia. Saleh maksudnya tidak cabul, pemberontak atau
pendurhaka. Dengan demikian anak-anak calon penatua haruslah
seorang anggota keluarga yang setia dan bertanggung jawab.
(5). Tidak bercacat sebagai pengatur rumah Allah (Tit. 1:7).
Seorang penatua disebut pengatur rumah Allah (Ibr. 13:7).

Ekklesiologi

20

Kasiatin Widianto, M.Th.

(6). Bijaksana (1 Tim. 3:2).


Berhati-hati, berpikir sehat, berpendirian taguh.
(7). Sopan (1 Tim. 3:2; Tit. 1:8).
Dihormati karena sifatnya, tertib, disiplin.
(8). Cakap mengajar (1 Tim. 3:3).
Tidak dikuasai uang atau materialisme.
(a). Kemampuan kitab suci.
(b). Kerelaan-kesediaan mengajar.
(c). Kemampuan untuk menyampaikan Firman Allah (bukan karunia
mengajar/kotbah).
(9). Bukan peminum (1 Tim. 3:3; Tit. 1:7).
Bukan larangan minum anggur, tetapi larangan ketagihan anggur atau
sejenisnya.
(10). Bukan Pemarah (1 Tim. 3:3).
Bertengkar atau berkelahi, lekas marah dan suka cekcok.
(11). Peramah (1. Tim. 3:3).
Lemah lembut, sabar, murah hati.
(12). Pendamai (1. Tim. 3:3).
Suka damai, bukan berdebat dab bertengkar.
(13). Bukan hamba uang (1. Tim. 3:3).
Tidak dikuasai uang atau materialisme.
(14). Seorang kepala rumah tangga yang baik (1 Tim 3:4).
Artinya, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.
(15). Tidak serakah (Tit. 1:7).
Kemauan untuk mencari keuntungan dari hak orang lain.
(16). Suka memberi tumpangan (1 Tim 3:2; Tit. 1:8).
Keramahtamahan, rela/sedia menerima tamu, bukan berarti menjamu
atau bersenang-senang tanpa batas.
(17). Bukan petobat baru (1 Tim. 3:6).
Seorang penatuan akan menghadapi pencobaan atau kesuksesan, jika ia
belum dewasa rohani maka ia akan jatuh atau sombong.
(18). Nama baik di luar jemaat (1 Tim. 3:7).
Tidak munafik.

Ekklesiologi

21

Kasiatin Widianto, M.Th.

(19). Suka akan yang baik (Tit. 1:8).


Sayang akan yang baik. Siap melakukan yang baik untuk orang lain.
(20). Adil (Tit. 1:8).
Tingkah lakuknya sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan dan
kebijakan Ilahi. Hanya dengan sifat ini dia akan bisa mengadili
persoalan-persoalan dan perkara-perkara umat Tuhan tanpa memihak.
(21). Saleh (Tit. 1:8).
Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan ibadah.
(22). Menahan diri (Tit. 1:8).
Pengertian disini berbeda dengan yang terdapat dalam 1 Tim. 3:2
yanag berarti stabil. Syarat ini melukiskan seorang yang punya
disiplin dan pengendalian perasaan, emosi atau keinginan yang
mencoba menguasainya.
(23). Berpegang pada perkataan yang benar, baik untuk menghimbau
atau meyakinkan (Tit. 1:9).
Kemampuan baca (melek huruf) bukan syarat bagi calon penatua,
tetapi seorang penatua harus tahu Alkitabnya; ini berarti keinginan
untuk belajar harus dilihat sebelum ia dicalonkan menjadi penatua.
Bukan itu saja, ia harus berpegang pada Alkitab supaya mampu
menghimbau dan meyakinkan baik orang yang percaya maupun yang
tidak percaya.
f. Penetapan Penatua
(1). Roh Kudus menetapkan para penatua dalam tiap-tiap jemaat (Kis.
20:28).
(2). Roh Kudus menetapkan pemimpin-pemimpin melalui jemaat, mungkin
dengan mengangkat tanngan (Kis. 1:3-5; 13:3,4).
Jemaat dilibatkan dalam menetapkan pemimpin-pemimpin dianggap
sebagai peraturan (2 Kor. 8:19; 1 Kor. 16:3; Kis. 15:2,3,22).
(3). Kemampuan pribadi boleh dilibatkan (1 Tim. 3:1).
(4). Ditandai dengan penumpangan tangan (1 Tim. 4:4).
2. Diaken (diakonos)
a. Arti: Pelayanan atau pembantu
(1). Dalam bahasa Yunani sekuler, diakonos berarti pelayan meja,
kemudian meluas berarti melayani pada umumnya.
(2). Dalam Perjanjian Baru dipakai untuk menjelaskan pelaynan Kristus,
Paulus dan Timotius (1 Tim. 1:12; 4:6; Mrk. 10:45).

Ekklesiologi

22

Kasiatin Widianto, M.Th.

(3). Dalam 1 Tim. 3:8-13 dan Flp. 1.1 dipakai secara teknis untuk tipe
pemimpin yang unik ditandai dengan pelayanan. Kristus sebagai
model.
b. Jumlah: Lebih dari satu (jamak) dalam tiap-tiap gereja lokal (Flp. 1:1; 1
Tim. 3:8).
c. Tanggung Jawab Diaken
(1). PB tidak menjelaskan secara rinci.
(2). Dalam Kis. 6:6 dilaporkan prototipe tugas diaken. Tanggung jawab
mereka adalah melayani, persis seperti arti kata yang digunakan.
(a). Jika demikian, mereka melayani orang-orang miskin dengan
makanan. Itu berarti dapat diduga bahwa mereka berurusan dengan
keuangan/finansial.
(b). Mereka mengambil tanggung jawab tersebut agar para rasul
berkonsentrasi pada firman dan doa.
(c). Mereka juga dapat berbicara, khususnya terhadap orang-orang
yang belum percaya.
d. Kualifikasi Diaken (hampir sama dengan penatua).
(1). Dihormati (1 Tim. 3:8).
(2). Tidak bercabang lidah (1 Tim. 3:8).
(3). Bukan penggemar anggur (1 Tim. 3:8).
(4). Tidak serakah (1 Tim. 3:8).
(5). Memelihara iman dengan hati nurani yang suci (1 Tim. 3:9).
(6). Diuji (1 Tim. 3:9).
(7). Suami dari satu istri (1 Tim. 3:9).
(8). Mengatur keluarga dengan baik (1 Tim. 3:9).
e. Penetapan Diaken
(1). Prinsip yang sama untuk penetapan penatua diterapkan pada penetapan
diaken.
(2). Diaken diuji sebelum ditetapkan.

Ekklesiologi

23

Kasiatin Widianto, M.Th.

3. Diaken Wanita, syamas (dunaikas).


a. Dua pandangan tentang peranan wanita (1 Tim. 3:9).
(1). Mereka adalah wanita yang tidak menikah yang membantu diaken
(Robert M. Lewis).
(2). Mereka adalah istri-istri Diaken (C. C. Ryrie)
(a). Kata itu dapat diterjemahkan wanita atau istri-istri dengan
demikian konteks merupakan faktor penentu. Dalam konteks, kata
yang sama dipakai istri (ay: 2, 12).
(b). Kata ini disisipkan di dalam bagian diaken.
(c). Wanita tidak menjadi pemimpin dalam gereja (1 Tim. 2:11, 12; 1
Kor. 14:34).
(d). Diaken wanita, syamas: wanita-wanita yang melaksanakan fungsi
yang sama dengan diaken.
i)
ii)
iii)
iv)
v)
vi)
vii)

Istilah itu bisa diterjemahkan wanita. Sebab diakonos dipakai


baik pria maupun wanita.
Kata demikian pula menunjuk peralihan kepada kelompok
ketiga, dari penatua, diaken, wanita.
Kualifikasinya sama.
Ayat itu bisa menunjuk istri diaken, dan bukan penatua.
Ada jabatan diaken wanita pada abad kedua.
fungsi mereka tidak melanggar larangan atas penolakan
kepemimpinan dalam gereja.
Febe disebut diaken (Rm. 16:1).

b. Jumlah: Jamak (1 Tim. 3:11).


c. Tanggung Jawab Diaken Wanita (Syamas)
(1). Sama dengan diaken pria tetapi lebih dibatasi dalam hal berbicara.
(2). Pada abad kedua, tanggung jawab mereka membaptis dan
mengunjungi wanita-wanita, mengunjungi yang sakit dan keluarga,
serta memberi tumpangan.

Ekklesiologi

24

Kasiatin Widianto, M.Th.

4. Tanggung Jawab jemaat terhadap pemimpin-pemimpin


a. Mengenal mereka (1 tes. 5:12-13).
b. Menghormati mereka (1 tes. 5:12-13).
c. Mentaati dan tunduk (Ibr. 13:17).
d. Mengingat dan mngikuti (1 Tim. 5:19-20).
e. tidak menuduh kecuali ada bukti (1 Tim. 5:19-20).
f. menghormati dua kali lipat yang bekerja keras (1 Tim. 5:17-18).

Ekklesiologi

25

Kasiatin Widianto, M.Th.

VII. PEMERINTAHAN GEREJA


A. Definisi
Pemerintah adalah sistem yang dianut bangsa atau masyarakat yang diperintah,
yaitu bentuk atau macam politik (The Oxford English Dictionary IV:318).

B. Prinsip-prinsip Kepemimpinan Organisasi Gereja


1. Hamba
Konsep hamba ditekankan oleh Alkitab. Corak kepemimpinan gereja berbeda
dengan kepemimpinan orang-orang Farisi (Mat. 23:1-2). Para penatua
pemimpin dengan teladannya (1 Ptr. 5:3). Mereka dipandang sebagai orang
yang melayani (1 Tes. 2:1-3). Pemerintah gereja hendaknya mengikut corak
seperti ini.
2. Kebersamaan
Konsep kebersamaan pelayanan juga ditekankan dalam Alkitab. Lagi, apapun
bentuk pemerintahan gereja, jangan lupa prinsip ini. Setipa anggota tubuh
mempunyai minimal satu karunia (1 Kor. 12:7). Karunia-karunia ini diberikan
untuk kepentingan bersama. Keanekaragaman karunia diperlukan untuk saling
membangun (1 Kor. 14:5). Semua orang percaya berkumpul dan
memperhatikan untuk saling mendorong dan berbuat baik (Ibr. 10:24-25).
Semua orang percaya adalah iman (1 Ptr. 2:9).
3. Proses pengambilan keputusan harus melibatkan semua orang.
Baik pemimpin maupun anggota. Kelompok tertentu dianugerahi untuk
memperlengkapi orang-orang kudus (Ef. 4:11). Sidang di Yerusalem
merupakan kelompok orang-orang kunci yang mengambil keputusan doktrinal
(Kis. 15). Para penatua menggembalakan kawanan domba (Kis. 20:28).
Di lain pihak, anggota-anggota ambil bagian dalam proses pengambilan
keputusan. Mereka memilih diaken (Kis. 6:3), mempertanyakak tindakan
pemimpin (Kis. 11:1-2), memilih dan mengutus utusan (Kis. 15:22). Mereka
bertanggung jawab mendisiplin anggotanya (1 Kor. 6), dan saling membantu
(2 kor. 8:24). Keputusan yang diambil berdasarkan satu kesatuan, sebab semua
dalam satu pikiran (Flp. 2).

Ekklesiologi

Kasiatin Widianto, M.Th.

26

C. Bentuk Pemerintahan Gereja


1. Tanpa Bentuk Pemerintahan (Pemerintahan Minimal)
a. Definisi:
Kristus satu-satunya pemimpin Gereja. Oleh karena itu tidak perlu sistem
pemerintahan Gereja.
b. Contoh: Beberapa Gereja Karismatik, Plymouth Brethern.
c. Evaluasi:
(1). Dukungan:
(a). Kristus Adalah Kepala gereja.
(b). Yesus mengutuk kepemimpinan Farisi. Kerajaan Kristus bersifat
kehambaan, bukan kepemimpinan (Mat. 20:25-27).
(c). Roh Kudus menguasai, mengontrol pertemuan gereja untuk
kepentingan bersama.
(d). Karena tidak ada pemerintahan gereja yang dinyatakan secara jelas,
maka tidak perlu menambahkannya.
(2). Kritik:
(a). Pertemuan-petemuan yang
organisasi (Kis. 2:41, 4:4).

dibuat

mengisyaratkan

adanya

(b). Pelayanan-pelayanan
tertentu
mengisyaratkan
keberadaan
organisasi. Mereka bersatu dalam ibadah dan doa (Kis. 2:42, 47),
melayani upacara (Kis. 2:41-42, 46), mengatur kekayaan (Kis.
2:45; 4:23-27), mendisiplin (Kis. 5). Menumpulkan persembahan
yang dikirim ke Roma (Kis. 15:16) dan mendaftar para janda (1
Tim. 5:9).
(c). Ada perintah keteraturan (1 Kor. 14:40).
(d). Adanya pemimpin menunjukkan adanya organisasi (1 Tim. 3; 1
Tit. 1). Tugas-tugas mereka seperti mengatur dan menggembalakan
mendukung adanya oragnaisasi.
(e). Sekalipun Kristus adalah Kepala gereja, dan Ruh Kudus
mengontrol pertemuan, sebenaranya dapat juga melalui pemimpinpemimpin.
(f). Walaupun Kristus mencel kepemimpinan Farisi, Ia mencela corak
kepemimpinannya, bukan fakta kepemimpinan.
(g). Pesan utama Paulus kepada gereja Korintus (Ps. 12-14) agar
berorganisasi.

Ekklesiologi

27

Kasiatin Widianto, M.Th.

2. Bentuk Pemerintahan Nasional


a. Definisi:
Kepala Negara menguasai gereja, warga negara sekaligus warga gereja.
b. Contoh:
Gereja Lutheran di Skandinavia, dan Gereja Inggris.
c. Evaluasi:
(1). Dukungan:
Allah menetapkan raja-raja atau pemerintahan-pemerintahan. Sehingga
raja dapat menjadi kepala gereja. Israel di bawah raja Daud adalah
contoh yang baik.
(2). Kritik:
(a). Mencampur adukan gereja dengan Israel adalah keliru.
(b). Tidak ada penjelasan sama sekali bahwa gereja secara langsung
adalah pemrintahan.
(c). Karena gereja terdiri dari orang-orang percaya, dalam pengertian
universal atau dalam pengrtian lokal, maka tidak ada alasan untuk
menggabungkan gereja dengan suatu negara.
(d). Alasan-alsan pendangan ini tidak berdasar Alkitab. Alasan historis
yang dibuat hanyalah merupakan kebijaksanaan.

3. Bentuk Pemerintahan Hierarki


a. Definisi:
(1). Episkopal:
Kekuasaan uskup (presbiter) diatur sesuai dengan urutan tertentu.
Kuasa gereja terletak pada uskup. Ia berhak menyucikan uskup yang
lain, mentahbiskan imam-imam dan diaken.

EPISKOPAL
Hierarki
USKUP
Pastor/Imam
Diaken

Ekklesiologi

28

Kasiatin Widianto, M.Th.

(2). Monarki:
Bentuk pemerintahan ini menempatkan seorang di atas semua yang
lain, wewenangnya sempurna.

MONARKI
Paus-Eks Katherdal
Hierarki
USKUP
Imam
Diaken

b. Contoh: Gereja Episkopal, Roma Katolik (Monarki), Gereja Luthera,


Gereja Methodist, Gereja Yunani Ortodoks.
c. Evaluasi:
(1). Dukungan:
(a). Selain penatua dan diaken ada pejabat ke tiga (1 Tim. 3:1).
(b). Secara historis ada tidak jabatan pada pertengahan abad ketiga.
(c). Yakobus memiliki wewenang atas gereja-gereja (Gal. 2:9; Kis.
15:13; 12:17; 21:18).
(d). Timotius dan Titus adalah contoh yang memiliki wewenang atas
beberapa gereja.
(e). Bentuk pemerintahan ini memilki keunggulan, yaitu menyatukan
dan dapat melawan ajaran sesat.
(f). Suksesi aspotolok mendukung pandangan ini.
(2). Kritik:
(a). Penatua dan penilik adalah orang yang sama (Tit. 1:5-7).
(b). Alasan historis tidak bisa diterima.
(c). Yakobus adalah pejabat gereja terdahulu; bukan yang berwenang
atas sidang di Yerusalem (Kis. 15:4; 16:4).

Ekklesiologi

29

Kasiatin Widianto, M.Th.

(d). Timotius dan Titus adalah mengganti paulus untuk sementara


dalam membangun gereja. Tidak ada jabatan yang diberikan
kepada mereka, tidak ada ketetapan untuk meneruskan posisi
mereka.
(e). Suksesi apostolik tidak diajarkan oleh Perjanjian Baru.
Tidak ada pemerintahan untuk suksesi.
Tidak ada suksesi dalam sejarah. Peulus tidak berbuat sesuatu
yang berkaitan dengan hal itu terhadap gereja-gereja di Roma
dan Antiokia.
(f). Keimaman semua orang percaya menolak pemerintahan ini. Tidak
ada pengantara yang diperlukan agar mendapat anugerah. Konsep
pelayanan bersama juga bertentangan dengan konsep ini.

4. Bentuk Pemerintahan Federal


a. Definisi:
Pemerintahan gereja dilaksanakan oleh para penatua yang mewakili
jemaat.

Para penatua dibagi untuk mejadi pengurus dan pengajar.


Para penatua yang mengurus dan membantu adalah kaum awam.
Para penatua yang mengajar dipilih oleh jemaat yang ditahbiskan oleh
dewan penatua untuk melayani firman dan sakramen.
Jemaat memerintah secara tidak langsung melalui para penatu yang
dipilih untuk mewakili jemaat.
Di atas jemaat masih ada pemerintahan.
(1). Himpunan jemaat. Para penatua adalah majelis harian yang
mengatur/memerintah gereja.
(2). Dewan penatua terdiri atas wakil-wakil penatua dan tiap-tiap
jemaat di daerah-daerah. Dewan ini memilki weweang atas jemaat.
(3). Sinode, Majelis Umum.

PRESBETERIAL

Persidangan Sinode
Klasis
Pendeta
Majelis

Ekklesiologi

30

Kasiatin Widianto, M.Th.

b. Contoh: Gereja Presbyterian. Beberapa gereja Sinode yang lain.


c. Evaluasi:
(1). Dukungan:
(a). Pengurusan gereja dilaksanakan oleh para penatua (Kis. 15:22, 23;
1 Tim. 3:4, 5).
(b). Disebutkan dalam Alkitab para penatua yang mengajar dan yang
mengurus (1 Tim. 5:17).
(c). Disebutkan satu dasar badan wewenang atas gereja-gereja lokal
pada sidang di Yerusalem (Kis. 15:1-35). Tampaknya para penatua
mewakili gereja masing-masing.
(2). Kritik:
(a). Tidak ada perbedaan antara penatua yang mengajar dan yang
mengatur (1 Tim. 5:17).
(b). Tidak ada dasar badan yang berwenang atas gereja-gereja lokal.
Walaupun gereja-gereja mengutus wakilnya ke Yerusalem, mereka
melibatka diri sebagai sukarelawan bukan karena memenuhi
peraturan. Mereka berkumpul secara sukarela untuk membicarakan
doktrin bersama.
(c). Wewenang akhir terletak pada gereja lokal.
Jemaat dilibatkan dalam pemilihan pemimpin (Kis. 6:6).
Jemaat bertanggung jawab terhadap disiplin gereja (Mat. 18; 1
Kor. 5).
Jemaat dilibatkan dalam menerima dan mengutus orang untuk
pelayanan (Kis. 14:26; 15:4).
(d). Para sarjana setuju bahwa gereja mula-mula bersifat independent.

5. Bentuk Pemerintah Jemaat (Konggregasional)


a. Definisi:
Jemaat lokal bersifat otonom. Wewenang tertinggi terletak pada anggota
jemaat. Gembala tidak mempunyai wewenang lebih tinggi daripada anggota
jemaat lainnya. Ia adalah kaum awam yang melayani penuh waktu.
(1). Konggregasional murni.
Gembala dan diaken dipilih jemaat.
(2). Konggregasional tak murni (dimodifikasi).
Para penatua dan diaken dipilih sejumlah keputusan di tangani mereka.

Ekklesiologi

31

Kasiatin Widianto, M.Th.

Contoh: Baptis, Injili, Pentakosta.

KONGGREGASIONAL

Kekepalaan Kristus
Autonomi Lokal
Keimanan Orang
Percaya
Pendeta/Gembala
Diaken

b. Contoh:
Gereja-gereja Baptis, sejumlah gerej-gereja Injili, gereja-gereja Pentakosta,
gereja-gereja Kristus, gereja-gereja Alkitab yang lain.
c. Evaluasi:
(1). Dukungan:
(a). Tidak ada badan yang berwenang di atas gereja lokal.
(b). Gereja lokal adalah demokrasi.

Kristus adalah Kepala, dan Ia telah memberikan karunia kepada


setip orang untuk kepentingan bersama. Semua anggota harus
menjaga ketertiban. (1 Kor. 14:40).

Karena semua anggota adalah imamat rajani (1 Ptr. 2:9), maka


tidak ada kelompok yang ditempatkan di antara orang-orang
percaya dengan Allah. Setiap orang percaya memiliki jalan
masuk ke hadirat Allah (Ibr. 10:19-22). Persamaan di hadapan
Allah menuntut suatu bentuk pemerintahan yang demokrasi.

Praktek gereja Perjanjian Baru adalah demokrasi. Disiplin


diputuskan oleh semua anggota (2 Kor. 2:6-7), seluruh anggota
memilih utusan (Kis. 15:22).

(2). Kritik:
(a). Walaupun seluruh anggota memikul tanggung jawab menjaga
ketertiban, pelaksanaan disiplin, menutus utusan, tetapi tidak
semua orang harus dilibatkan dalam proses. Sebenarnya, para rasul
dan jemaat ambil bagian (Kis. 6:1-5; 15:2). Pemimpin
mengorganisasi sehingga mempertinggi pelayanan bersama.
(b). Para penatua sebenarnya melaksanakan wewenangnya atas
jemaatnya (Kis. 13:17).

Ekklesiologi

32

Kasiatin Widianto, M.Th.

(c). Berdasarkan Alkitab kesepakatan adalah lebih baik dari pada


voting dalam mengambil keputusan. Cara mengangkat tangan tidak
pernahdisebutkan (bentuk ini cenderung pada budaya Amerika).
(d). Kisah Para Rasul 15 menunjukkan bahwa perwakilan pengurus
regional secara periodik diperlukan untuk menjamin kemurnian
doktrin. Dari pada berdiri sendiri-sendiri (independent), lebih baik
saling bergantung (interpendent) dan bekerjasama dalam kesatuan
(1 Kor. 1:2), dalam memelihara doktrin yang murni, mengatur
sumbangan-sumbangan dan pelayan-pelayan (Kis. 11:27-30; 2 Kor.
8:24; 9:1-2; Rm. 16:4).
(e). Keimanan orang percaya adalah argumen yang digaris bawahi
penganut demokrasi. Sekalipun benar semua orang sama di
hadapan Allah, tetapi keliru jika semua fungsi anggota sama.
Semua anggota mempunyai fungsi yang terpisah. Gambaran
terbaik adalah suami-istri. Suami istri sama di hadapan Allah,
tetapi suami sebagai kepaa dalam hubungan itu. Argumen yang
mengatakan semua sama mengacauka posisi di hadapan Allah
dengan fungsi yang berkenan dengan manusia.

6. Ringkasan

Pemahaman yang benar tentang sifat, tujuan, pemimpin dan prinsip-prinsip


kepemimpinan gereja diperlukan untuk membentuk pemerintahan gereja
yang benar. Gereja adalah milik Allah, tujuannya untuk memberitakan
Injil demi kemuliaan-Nya, pendewasaan dan ibadah. Pemimpinpemimpinnya adalah para penatua dan diaken, dan prinsip
kepemimpinannya adalah hamba, kebersamaan pelayanan, keputusan
diambil secara mufakat oleh anggota-anggotanya.

Bentuk pemerintahan gereja ada pada gereja mula-mula dan masih


diperlukan di masa sekarang.

Tidak ada suksesi politik.

Tidak ada perbedaan antara penatua yang mengajar dan yang


memerintah/mengatur.

Wewenang tertinggi terletak pada jemaat lokal.

Kerjasama dan saling bergantung (interpendent) ada di antara gereja-gereja


lokal.

Tiap-tiap gereja lokal ada penatua-penatua (jamak).

Para penatua bertanggung jawab untuk memimpin dalam gereja lokal.

Ekklesiologi

33

Kasiatin Widianto, M.Th.

Para penatua ditunjuk oleh jemaat karena memiliki kualifikasi moral dan
dipilih oleh Roh Kudus.

Tidak ditentukan cara pemilihan para penatua, maka gereja lokal bebas
menentukan caranya.

Para penatua membuat keputusan atas beberapa hal.

Seringkali seluruh jemaat dilibatkan dalam membuat keputusan. Para


penatua mengarahkan.

Para penatua mewakili jemaatdalam pertemuan regional.

Cara-cara membuat keputusan atas dasar musyawarah mufakat merupakan


cara yang terbaik.

Oleh karena banyak perhatian tidak berfokus pada pemerintahan gereja, kita
sebaiknya mengutamakan apa yang menjadi fokus Allah, yaitu kualifikasi
pemimpin, kepemimpinan yang berprinsip hamba, dan pelayanan bersama.

Ekklesiologi

34

Kasiatin Widianto, M.Th.

VIII. PERATURAN (ORDONANSI) GEREJA


A. Pendahuluan
1. Dalam sejarah gereja terdapat banyak kontravesi berhubungan dengan praktek
ini. Kesalahpahaman tentang sakramen, lambang atau sesuatu di antaranya.
2. Ada perintah dalam Alkitab yang menuntun kita kepada pemahaman peraturan
gereja, dari pada memakai tradisi sebagai sumber.
3. Pendefinisian atas kunci istilah itu, atau pengertian tambahan yang tidak jelas
telah menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu perlu dibuat definisi dari
istilah itu secara jelas:
a. Sakramen
Kata Sakramen (Latin:sacramentum) tidak kita jumpai dalam Alkitab, di
mana awalnya menunjukk kepada dua hal: Pertama, uang muka yang
dibayar oleh dua belah pihak yang berpekara di pengadilan. sakramen
merupakan jaminan bahwa pihak yang kalah sudah membayar kepada
pengadilan semua ongkos perkara. Uangnya tidak dikembalikan. Kedua,
sumpah prajurit kepada panglimanya bahwa mereka akan setia
kepadanya.13
Kata Latin itu kemudian digunakan dalam Vulgata untuk menerjemahkan
musterion dari bahasa Yunani, yang biasa diartikan sesuatu yang misterius
atau magis. Berkhof mendefinikan sakramen sebagai peraturan kudus
yang ditetapkan oleh Kristus, di mana tanda-tanda yang bisa dilihat dan
dirasa dari anugerah Allah di dalam Kristus, dan keuntungan dari
perjanjian anugerah dilambangkan, dimeteraikan, dan diterapkan untuk
orang percaya, dan pada gilirannya menyatakan iman dan kesetiaan
mereka kepada Tuhan.14 Hal senada dikemukakan pula oleh R.J. Porter:
Sakramen adalah tanda yang kelihatan akan anugerah Allah kepada
kita.15
Adanya sakramen-sakramen dalam gereja adalah sesuai dengan perintah
Tuhan Yesus. Dialah sendiri yang menetapkan Baptisan Kudus (Mat.
28:19-20). Dan Dia pulalah yang menetapkan Perjamuan Kudus supaya
dirayakan sebagai peringatan akan Dia sampai kedatangan-Nya kembali (1
Kor. 11:23).
13

R.J. Porter, Katekisasi Masa kini. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1987, h.

180.
14

Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Volume 5. Surabaya: Lembaga Reformed Injili Indonesia,
1997, h. 125.
15
R. J. Porter, Ibid. h. 178.

Ekklesiologi

35

Kasiatin Widianto, M.Th.

b. Ordonansi
Ordonansi (walaupun dalam kamus sebagai sinonim dari sakramen) tidak
mengandung arti tentang pemberian anugerah, tetapi hanya merupakan
suatu suatu lambang.16 Kata ordinansi adalah kata dari bahasa Latin
ordinare yang berarti sesuatu yang diperintahkan.17
c. Gereja Roma Katolik percaya tujuh sakramen: Baptisan, Perjamuan Kudus,
Penahbisan imam, Peneguhan (adalah pendahuluan beptisan bayi ke
dalam persekutuan yang penuh dalam Gereja), Pengurapan (perminyakan
orang yang meninggal), Pernikahan dan Penebusan dosa (Hukuman untuk
penebusan dosa [Penance] termasuk penyesalan yang sungguh-sungguh,
pengakuan dan penyusian di hadapan imam.
d. Beberapa gereja Protestan percaya dua sakramen, yakni Baptisan dan
Perjamuan Kudus. Gereja-gereja Protestan yang lain menyebutnya
ordonansi (peraturan) untuk menghindari kesalahpahaman. Ordonansi
(peraturan) ini tidak diperlukan untuk keselamatan pribadi atau
memperoleh anugerah Allah.

B. Baptisan
1. Ketetapan
a. Perintah
Perintah membaptis merupakan bagian dari Amanat Agung:
Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu, baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Mat. 28:19).
b. Teladan Tuhan Yesus
Tuhan Yesus sendiri dibaptiskan (Mat. 3:13-17). Untuk menggenapkan
segala syariat Taurat.
c. Para Rasul melakukan baptisan (Tuhan sendiri tidak melakukan) (Yoh. 4:12).
d. Baptisan dilakukan secara universal oleh gereja mula-mula pertama-tama
pada hari pentakosta: oleh Petrus (Kis. 2:38, 41), juga bagi Kornelius
(10:47,48); Filipus membaptis jemaat Samaria (8:12), juga bagi sida-sida
(8:36-38); Paulus membaptiskan Lydia (16:14-15), juga bagi kepala
penjara (16:33); juga bagi Krispus dan Gayus dari Korintus (1 Kor. 1:14).

16

Charles C. Ryrie, Teologi Dasar, Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002, h. 222.
Dr. W.A. Criswell dan Dr. Eddy Peter Purwanto. Aku akan Membangun Jemaat-Ku. Kuta Bumi
Tangerang: Sekolah Tinggi Teologi Injili Philadelphia, Cetakan Pertama: 2007
17

Ekklesiologi

36

Kasiatin Widianto, M.Th.

2. Arti Baptisan
Makna baptisan adalah pengakuan iman dalam Kristus (Roma 6:3-4; 1 Pet.
3:21; Kis. 8:37), yang berhubungan dengan pengakuan di depan umum bahwa
Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat (Kis. 2:38; 10:48; 8:16). Calon
baptisan dihubungkan oleh iman dengan Tuhan yang atas nama-Nya ia
dibaptis, supaya dalam pengertian tertentu ia ikut serta dalam kematian dan
kebangkitan Kristus (Kol. 2:12).
Di dalam perintah Tuhan Yesus yang terdapat dalam Mat. 28:18-20; Mrk.
16:15,16, yaitu membaptis mereka atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Di
dalam bahasa asli yang terpenting ialah masuk ke dalam (eis:eis). Masuk ke
dalam berarti menjadi milik yang kekal dari Allah Tritunggal. Ini meliputi
tiga arti18, yakni: a) upacara masuk ke dalam Kristus, masuk ke dalam gereja.
b) ke luar dari dunia, hanya untuk Tuhan dan c) mempunyai arti disucikan
secara rohani.
a. Penyatuan dengan Kristus
Seorang yang dibaptis, ia dibaptis dalam nama Yesus Kristus (1 Kor.
6:3) artinya mengenakan Kristus (Gal. 3:27). Kesatuan dalam kematian
dan kebangkitan-Nya (Rm. 6:1-4; Kol. 2:12). Manusia lama telah mati dan
manusia baru terbit dilambangkan dengan kematian dan kebangkitan
rohani orang percaya. Dengan dibaptis, orang menyatakan kepada kalayak
akan imannya kepada Kristus.
b. Kesatuan dengan orang percaya
Ketika kita disatukan dengan Kristus, kita disatukan pula dengan tubuhNya, yaitu gereja. Ketika seorang disatukan dengan Kepala, ia disatukan
juga dengan tubuh. Ia disatukan dengan persekutuan orang percaya. Ia
menjadi bagian tubuh-Nya (1 Kor. 12:13).
3. Pengaruh Baptisan
Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa keselamatan hanya dengan iman (Ef.
2:8-9). Baptisan tidak mempengaruhi secara rohani/bukti kedewasaan rohani
dan juga tidak mengampuni dosa (Kis. 2:38). Ajaran baptisan yang
mengakibatkan kelahiran baru adalah keliru. Oleh karena itu, baptisan tanpa
iman, sia-sia (Kol. 2:12). Jadi keselamatan melalui iman, baptisan sebagai
ungkapan iman/proklamasi. Baptisan hanyalah pertanda keselamatan.19

18

Peter Wongso, Theologia Penggembalaan, cetakan V. Malang: Seminari Alkitab Asia


Tenggara, 1996, h. 61.
19
R. J. Porter, Katekisasi Masa Kisi. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1987, h.
186.

Ekklesiologi

37

Kasiatin Widianto, M.Th.

4. Calon Baptisan
a. Perintah Kristus adalah agar membaptis murid.(Mat. 28:19)
Menjadi murid terlebih dahulu diselamatkan melalui iman.
b. Contoh-contoh dalam Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa baptisan
dilakukan untuk orang-orang yang telah percaya (Kir. 2:41; 8:12; 8:36-38;
9:18; 10:44-48; 18:18; 19:5).
c. Baptisan Anak-anak
Pendapat yang menyetujui baptisan anak antara lain sebagai berikut:
(1) Pendapat Sunat. Anak-anak dari orang percaya harus dibaptiskan
karena mereka terhisab umat yang menerima anugerah Allah.20
Untuk jelasnya marilah meneliti PL. Ketika Allah memilih Abraham,
Ia mengadakan perjanjian anugerah dengan Abraham dan anakanaknya. Dalam PL bukan hanya orang dewasa yang terhisab umat
perjanjian anugerah itu. Selalu ditekankan bahwa janji-janji Tuhan
adalah antara Aku dan engkau serta keturunanmu (Kej. 17:7; Ul.
4:40). Sama seperti orang-orang dewasa, anak-anak juga ada dalam
Perjanjian Allah dan termasuk umat-Nya (Kej. 17:7; Mat. 19:14).
Mareka, tidak kurang dari orang dewasa, dijanjikan akan menerima
pengampunan dosa melalui darah Kristus dan Roh Kudus yang
menumbuhkan iman (Yes. 44:1-3; Kis. 2:38,39; Kis. 16:31). Oleh
karena itu dengan Baptisan, tanda perjanjian itu, anak-anak harus
diterima ke dalam gereja Kristen dan harus dibedakan dari anak-anak
orang yang tidak percaya (Kis. 10:47; 1 Kor. 7:14). Hal ini telah
dilaksanakan dalam Perjanjian Lama dengan Sunat (Kej. 17:9-14) dan
kemudian diganti dengan Baptisan dalam Perjanjian Baru (Kol. 2:1113).21
Janji kepada anak-anak ditekankan lagi dalam PB, Bagi kamulah . . .
dan bagi anak-anakmu (Kis. 2:30). Dalam PB semua orang beriman
merupakan anak-anak Abraham, (Gal. 3:15-17). Maka sebagaimana
anak Israel terhisab umatNya. Tanda masuk bangsa Israel adalah
sunat. Tanda masuk umat Kristen adalah baptisan.
(2) Tanda keanggotaan. Bayi dari seorang jemaat yang berada di dalam
lingkungan gereja. Anak seorang jemaat bersama-sama dengan
orang tuanya adalah dipandang sebagai umat Allah. Sebagai tanda
masuk dalam keanggotaan gereja harus dibaptis.
(3) Anak orang percaya. Baptisan pada usia bayi hanyalah untuk anak
dari orang yang sudah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan
20
21

Ibid.
Katekismus Heidelberg. Terjemahan Departemen Dogma dan Penelitian Sinode GKT, h. 52.

Ekklesiologi

38

Kasiatin Widianto, M.Th.

Juruselamat (yaitu anak dari orang yang sudah sidi). Pada


pembaptisan anak, orang tua berjanji untuk mendidik si anak percaya
kepada Tuhan Yesus dan membesarkannya sesuai dengan Firman
Allah. Jelas bahwa orang tua tidak mungkin dapat membesarkan anak
untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kalau
orang tua sendiri belum mengenal Dia. Janji-janji Tuhan diberikan
kepada orang yang takut akan Dia dan melakukan titahNya (Mzm.
103:17, 18).
(2) Pendapat Seisi Rumah. Mungkin sekali bahwa beberapa bayi setidaktidaknya termasuk dalam seisi rumah tersebut (Kis. 11:14; 16:15,31;
18:8; 1 Kor. 1:16). Ada yang berpendapat juga bahwa menurut 1
Kor. 7:14 bukan saja mengizinkan, namun mengharapkan baptisan
bayi dalam suatu rumah tangga di mana salah satu orang tuanya telah
menjadi percaya.
5. Baptisan Ulang
Hanya ada satu contoh yang jelas tentang orang yang dibaptis dua kali (Kis.
19:1-5). Kedua belas orang ini, yang telah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis,
dibaptis kembali oleh Paulus setelah mereka mempercayai berita tentang
Kristus. Hal ini memberikan suatu contoh tentang perlunya konseling bagi
mereka yang telah dibaptis entah sebagai bayi, remaja, atau orang dewasa
yang belum percaya kepada Kristus, demikian kata Ryrie.22
6. Cara Baptisan
Dewasa ini terdapat tiga cara untuk membaptis orang: diselam, dipercik, dan
dituangkan. Bagi yang berpegang pada baptis selam, beranjak dari istilah
dibaptis berarti dicelupkan, dengan demikian mereka menegaskan bahwa
cara selam adalah yang paling cocok dengan makna istilah itu. Tetapi mereka
pun tidak menutup kemungkinan diperlakukan baptis dengan dengan cara
dipercik atau dituangkan; yakni bila ada hal-hal yang mengharuskan demikian.
Misalnya kekurangan air atau sebagai penyesuaian terhadap orang yang sakit,
dan sudah lanjut usia.
Sedangkan yang berpegang baptisan percik, memberikan beberapa argumen
sebagai berikut:23
(1) Di dalam agama Yahudi melakukan penyiraman baptiso. (Lihat Kel.
29:4; 40:12; Im. 14:8,9; 15:5, 10; 6:4, 28; Bil. 19:7), sebagai tanda
penyucian, dan semua ini digolongkan sebagai baptisan dalam Ibr.
9:10.
(2) Pemercikan dengan jelas menggambarkan penyucian yang dilakukan
oleh Roh Kudus seperti tercatat dalam Yeh. 36:25. arti kata baptisma,
baptismos (kata benda). Kata kerjanya baptiso bukan hanya berarti
selam, tetapi juga mencuci.
Kata kerja yang lain bapto
22
23

Charles C. Ryrie, Teologi Dasar, Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002, h. 226.
Ibid., h. 226.

Ekklesiologi

39

Kasiatin Widianto, M.Th.

(membenamkan, mencelup), mencelupkan (Luk. 16:24; Yoh 13:26;


Why 19:23). Kata benda baptismos dimaksudkan sebagai mandi
menurut Taurat Musa (Mrk 7:4, 8; Ibr. 6:2; 9:10).
(3) Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan
tertentu (Kis. 2:41), terlalu banyak orang; 8:38, terlalu sedikit air di
padang gurun; 16:33, terlalu sedikit air di dalam rumah.
Justinus Martir, filsuf Kristen yang lahir pada tahun 95 di Flavia (Nablus),
Smirna, mengemukakan tentang tempat dan cara baptisan yang telah
dilakukan pada tiga abad pertama, yaitu sebagai berikut:24
(1) Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus
(2) Dalam sungai yang mengalir kalau ada
(3) Kalau tidak ada sungai yang mengalir, lakukan di kolam yang dingin
(4) Bila tidak ada (2 &3), boleh disiram tiga kali dalam nama (1)
Pokok ini paling sering diperdebatkan. Tetapi jika arti baptisan dipahami
dengan benar, maka cara baptisan bukan merupakan pokok utama. Dalam hal
ini Thiessen mengingatkan: Kita harus selalu berhati-hati untuk tidak
menjadikan cara baptisan itu lebih penting dari kebenaran yang
dilambangkannya.25

C. Perjamuan Kudus
1. Arti dan Maknanya
Perjamuan kudus adalah ordonansi kedua dalam Alkitab (Kis. 11:20).
Perjamuan kudus adalah makan roti dan minum anggur.
a. Sebagai peringatan akan Kristus (Luk. 22:19; 1 Kor. 11:24). Roti
mengingatkan akan kehidupan-Nya, cawan mengingatkan akan
kematian-Nya, pelayanan itu sendiri mengingatkan akan kebangkitan
dan kehadiran-Nya yang sungguh-sungguh hidup.
b. Sebagai penyataan (proklamasi) tentang kematian-Nya (1 Kor. 11:26).
Pelayanan itu sendiri menyatakan berita Injil dan juga tuntutan Injil bagi
orang yang telah ditebus.
c. Sebagai jaminan akan kedatangan-Nya yang kedua kali (Mat. 26:29;
Mrk. 14:25; 1 Kor. 11:26).
d. Sebagai saat untuk bersekutu dengan Kristus dan umat-Nya (1 Kor.
10:21).

24

Phillip Schaff, History of the Christian Church. Grand Rapids, ML: W.B. Berdmans, 1988, II,

247.
25

Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2003, h. 501.

Ekklesiologi

40

Kasiatin Widianto, M.Th.

Istilah Perjamuan Kudus biasanya menunjuk pada roti dan anggur saja (1 Kor.
10:16). Kata ekaristi (eucharist) diuraikan dari kata Yunani yang berarti
mengucap syukur atas perjamuan (Mat. 26:27; 1 Kor. 11:24). Upacara ini juga
dikenal dengan memecahakan roti (Kis. 2:42; 20:27) dan Perjamuan Tuhan
(1 Kor. 10:21).
2. Penetapan Perjamuan Kudus
a. Perjamuan Kudus ditetapkan oleh Kristus (Mat. 26:26-29; Mrk. 14:22-25;
Luk. 22; 17-20; 1 Kor. 11:23-26).
b. Perjamuan Kudus dilaksanakan oleh gereja mula-mula.
Paulus menyatakan bahwa Perjamuan Kudus itu dari Tuhan (1 Kor.
11:23). Gereja mulai memecahkan roti merupakan kebiasaan gereja
mula-mula.
3. Pandangan Tentang Perjamuan Kudus
Berikut berbagai pandangan dalam pengertian seperti apa Kristus hadir dalam
Perjamuan Kudus.
(1) Pandangan Roma Katolik (transubsiasi):
Doktrin yang mengatakan bahwa roti dan anggur pada waktu
Perjamuan berubah menjadi daging (tubuh) dan darah Kristus yang
sesungguhnya.
(2) Pandangan Lutheran (konsubstansiasi):
Disebut demikian dengan alasan substansi dari tubuh dan darah
Kristus hadir dengan (kon) substansi dari roti dan anggur, tetapi tidak
hadir menurut kwantitas atau secara lokal.
(3) Pandangan Zwingli (peringatan):
Perjamuan Kudus hanya peringatan, di mana kehadiran Kristus tidak
berbeda dengan kehadiran-Nya yang biasa melalui Roh Kudus.
(4) Pandangan Revormed/Calvin (hadir secara rohani):
Roti dan anggur tidak bisa dianggap sama dengan tubuh dan darah
Kristus yang berada di sorga. Pada saat seseorang makan roti dan
minum anggur, pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh
Roh Kudus dengan tubuh dan darah Kristus yang di sorga
4. Persyaratan Mengikuti Perjamuan Kudus
a. Lahir Baru. Hanya orang percaya yang boleh menerima Perjamuan
Tuhan.
b. Menjadi anggota jemaat dalam suatu gereja lokal. Orang percaya
yang belum bertobat sehingga masih terkena tindakan disiplin tertentu
dilarang mengikuti Perjamuan (1 Kor. 5:11-13; 2 Tes. 3:6, 11-15).
c. Pengudusan sebelum mengambil bagian (1 Kor. 11:27-32).

Ekklesiologi

41

Kasiatin Widianto, M.Th.

6. Cara Perjamuan Kudus


a. Prosedur
(1). Mendoakan, mengucap syukur atas roti dan anggur.
(2). Membagikan roti dan anggur.
(3). Mengingat Firman Yesus.
(4). Makan roti dan minum anggur
b. Orang-orang yang akan melaksanakan Perjamuan Kudus tidak ditemukan
oleh Alkitab.
c. Frekuensi Perjamuan tidak dijelaskan secara, kecuali disebut sering,
mungkin setiap minggu (Kis. 20:7).

IX. PELAYANAN GEREJA YANG LAIN


A. Pelayanan Disiplin
1. Tujuan disiplin
a. Untuk menghilangkan pengaruh noda dan ragi yang dibawa oleh dosa (1
Kor. 5:6-8).
b. Untuk menjaga orang percaya lainnya agar tidak berbuat dosa dan
mendorong mereka untuk hidup suci (Gal. 6:1; 1 Tim. 5:20).
c. Untuk memproduksi iman yang sehat (Tit. 1:13).
d. Untuk menegur dan memulihkan saudara seiman yang berbuat dosa.
2. Sikap dalam mendisiplin
a. Lemah lembut (Gal. 6:1).
b. Tidak berkompromi terhadap dosa (Tit. 1:13).
c. Kasih (2 Tes. 3:9-15).
d. Mengampuni bagi yang bertobat (2 Kor. 2:5-11).
3. Prinsip-prinsip
a. Tidak bersikap memihak (1 Tim 5:21).
b. Tidak tergesa-gesa (Mat. 18:15-20).
c. Mengingat tujuan: perbaikan dan pemulihan (2 Kor. 2:6-8).
4. Orang-orang yang harus didisiplin
a. Penatua yang tertuduh (1 Tim. 5:19-20).
b. Saudara yang berdosa (Mat. 18:15-20)
c. Saudara yang melakukan pelanggaran (Gal. 6:1).

Ekklesiologi

d.
e.
f.
g.

42

Kasiatin Widianto, M.Th.

Saudara yang tidak mentaati ajaran (2 Tes. 3:6).


Guru-guru palsu (Tit. 1:10-16).
Bidah (Tit. 3:8-11).
Saudara yang tidak bermoral (1 Kor. 5).

5. Juklak
Berikut Sabda Tuhan Yesus yang terkait dengan hal ini:
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika
ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali. Jika ia
tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya
atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika
ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.
Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai
seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. (Mat.
18:15-17).
Terkait dengan hal ini, berikut nasihat Robert Cowles kepada gembala jemaat,
tentang bagaimana harusnya yang dilakukan kepada jemaatnya:
Tugas saudara sebagai pendeta atau gembala sidang ialah untuk mengawasi
dan memelihara kawanan domba serta memimpin mereka agar taat kepada
Kristusbetapun hebatnya kesalahan seseorang, saudara masih tetap
berkewajiban untuk melayani si pelanggar serta membawa dia kepada
pertobatan. 26
6. Ayat-ayat terkait lainnya
Selain ayat-ayat yang tersebut di atas, ayat-ayat lain yang terkait ialah 2 Kor.
13:2; 1 Tim. 1:20; Luk. 17:3; 2 Tim. 4:2dan Titus 2:15.

B. Pelayanan Kepada Para Janda (Yak. 1:27; 1 Tim. 5:4, 8, 16, 5, 14, 9, 10)
C. Pelayanan Kasih (Yak. 2:2-3, 15-16; 1 Yoh. 3:17; kis. 11:27-30; 2 Kor. 8:18-22;
Flp. 4:16; 1 kor. 9:4-14; Gal. 6:10)

26

Robert Cowles, Gembala Sidang. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993, h. 89.

Ekklesiologi

43

Kasiatin Widianto, M.Th.

X. DAFTAR PUSTAKA
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika Volume 5. Surabaya: Lembaga Reformed Injili
Indonesia, 1997.
Brill, J. Wesley, Dasar Yang Teguh. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, tt.
Calvin, Yohanes, Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.
Cowles, Robert, Gembala Sidang. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993.

Guthrie, Donald, Theologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi, Eskatologi, Etika. Jakarta:


BPK Gunung Mulia, 1996.
Kuhl, Dieter, Sejarah Gereja Bagian Umum, Diktat.
Komunikasi YPPII Bidang Literatur, 1981.

Malang: Depertamen

Lane, Tony, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1996.
Marantika, Chris, Kristologi. Yogyakarta: Iman Press, 2008.
Menzies, William W. dan Horton, Stanley N., Doktrin Alkitab. Malang: Gandum
Mas, 1998.
Milne, Bruce, Mengenali Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
R.J Porter, Katekisasi Masa Kini. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
1987.
Ryrie, Charles C., Teologi Dasar, Buku 2. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002.
Schaff, Phillip History of the Christian Church. Grand Rapids, ML: W.B. Berdmans,
1988
Thiessen, Henry Clarence, Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2003.
_______ Ketekismu Heidelberg.
Sinode GKT., tt.

Terjemahan Departemen Dogma dan Penelitian

Willem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1987.
Wongso, Peter, Theologia Penggembalaan, Cetakan V. Malang: Seminari Alkitab
Asia Tenggara, 1996.

Ekklesiologi

44

Kasiatin Widianto, M.Th.

W.A. Criswell dan Dr. Eddy Peter Purwanto. Aku Akan Membangun Jemaat-Ku. Kuta
Bumi Tangerang: Sebagai Bahan Pendidikan Intern, Sekolah Tinggi Teologi Injili
Philadelphia, Cetakan Pertama: 2007.