Anda di halaman 1dari 38

Tanda-tanda

Senin, 19 Januari 2015

"Hidup adalah lautan petunjuk, dalam setiap tetesnya rasa asin mengarahkan kita ke dalam
misteri di belakangnya."---Orhan Pamuk, Kara Kitap

Galip, tokoh dalam novel Orhan Pamuk Kara Kitap (Kitab Hitam), agaknya menyadari
bahwa manusia--seperti dirinya--tak akan berhenti-hentinya membaca tanda-tanda. Pada saat
yang sama, misteri Tuhan tak putus-putusnya membayangi.
Karena tanda ada di mana-mana dan ada di dalam tiap hal, misteri itu pun di mana-mana
dan di dalam tiap hal. Seperti wajah kekasih dalam sajak, mutiara, mawar, gelas anggur,
burung bulbul, rambut keemasan, malam, dan lidah api.
Di hadapan semua itu, manusia membuat sejarah--dan iman dan keyakinan lahir.
Sejarah itu panjang, beribu-ribu tahun, dan panjang dan beribu-ribu pula tafsir yang ditulis.
Dan seperti yang dikatakan dalam paragraf itu, selama tanda-tanda tampak, misteri itu pun
tampak. Tanda-tanda dan misteri itu tak terpisahkan akhirnya. Galip merasakan itu: "bendabenda di sekitarnya sekaligus menandai diri mereka sendiri dan misteri yang pelan-pelan ia
dekati."
Novel Kitab Hitam dimulai seperti sebuah cerita detektif.
Syahdan, Galip, seorang pengacara yang hidup di Istanbul, pulang dari kantor dan
mendapatkan istrinya, Rueya, telah meninggalkannya. Dengan segera ia berangkat mencari.
Ia yakin, ia akan menemukan Rueya (dalam bahasa Turki nama ini berarti "mimpi") bila ia
berhasil menemukan Jelal, sepupunya, yang juga raib. Ia yakin kedua orang ini berpacaran.
Dalam pencarian itu ia temukan jejak-jejak Jelal: seorang penulis kolom yang penuh teka-teki
untuk sebuah majalah yang tak jelas. Kolom-kolom itu agaknya berisi isyarat. Untuk
mengetahui lebih dalam, Galip memutuskan ia harus jadi Jelal. Ia tinggal di kamar sepupu
itu, mengenakan bajunya, bahkan menulis seakan-akan ia sang kolumnis yang terus bekerja.
Ketika novel berakhir, melalui perjalanan dan tamasya yang beragam, menemukan catatancatatan yang detail dan majemuk, Rueya tetap tak kembali. Perempuan yang tak pernah hadir
itu tetap tak hadir. Ia terbunuh. Jelal demikian juga: ada yang menafsirkan ia dibunuh
penggemarnya sendiri. Seorang pensiunan kolonel yang membaca kolom-kolom Jelal selama
bertahun-tahun akhirnya menyimpulkan bahwa teka-teki dan isyarat rahasia yang ditulisnya
ternyata tak punya makna apa pun. Ia merasa ditipu. Baginya sang kolumnis, Jelal, ibarat nabi

yang mengecewakan, guru palsu yang mewartakan ajaran agama yang seakan-akan mahadalam.
Suasana murung membayang dalam Kitab Hitam. Tapi tanpa kecewa. Manusia tetap tak
berhenti. Iman dan keyakinan mencoba terus menjawab, dengan sejarah yang mirip sebuah
cerita detektif yang mempertarungkan dugaan yang benar atau salah.
Atau mirip kisah seorang sufi yang tak putus-putusnya dirundung rindu kepada Tuhan.
Tak mengherankan bila Kitab Hitam menampilkan Rumi, pencinta yang mengembara untuk
menemui Yang Maha-Lain.
Dalam pengembaraan itu sang Maulana memilih menyamar, memakai pelbagai identitas,
karena ia tak mau diikuti terus murid-muridnya yang taklid. Tapi sebagaimana Galip yang
menyulap diri jadi Jelal, kian lama kian tak terjawab, juga oleh dirinya sendiri, siapa
sebenarnya dia--dan perlukah "identitas"? Dalam kisah para sufi, ada pengertian fana,
leburnya diri dalam Allah. Identitas adalah pos sementara atau bahkan penghambat. Tapi jika
demikian, mengapa pencarian berlangsung terus--dan mengapa misteri tetap membayang?
Suasana murung yang tersirat dalam karya Pamuk adalah suasana bertanya--dan terasa letih.
Di balik tanda-tanda itu jangan-jangan tak ada suatu apa pun yang berarti. Kita hanya
ketagihan makna.
Meskipun demikian Pamuk, dalam Kitab Hitam, seperti dalam novelnya yang lain, tak
meniadakan agama; dalam hal ini, di sebuah cerita dengan latar Turki, agama itu berarti
Islam. Islam mampu menyuguhkan dua hal yang bertaut dan mempesona: tanda-tanda dan
misteri. Jelal dan Galip mengasyiki hidup karena itu.
Memang ada yang kadang-kadang meniadakan pesona itu dan menjadikan agama hanya buku
pedoman aksi yang jelas. Mereka mirip tentara yang tiap kali menunggu aba-aba. Tapi ada
sepotong kalimat yang ditemukan Galip di antara catatan-catatan Jelal, konon dari
sebuah hadith yang mengumandangkan Tuhan: "Aku adalah harta yang tersembunyi, dan aku
rindu untuk diketahui."

Goenawan Mohamad

Goro-goro

Sabtu, 17 Januari 2015


Putu Setia

Pergelaran wayang kulit Jawa mengenal adegan "goro-goro". Seperti itulah situasi saat ini
setelah DPR menyetujui calon Kapolri Budi Gunawan. Presiden Joko Widodo dihadapkan
pada sesuatu yang sulit karena kapolri terpilih itu menjadi tersangka Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).
Budi Gunawan bisa mendapat penghargaan MURI, predikat unik yang digagas pengusaha
Jaya Suprana. Kalau Jokowi melantiknya, Budi menjadi kapolri dengan status tersangka,
pertama kali dalam sejarah negeri ini. Apalagi kalau sudah ditahan, lalu diadili, dan dihukum.
Untunglah, Jokowi menunda pelantikannya. Karena Kapolri Jenderal Sutarman otomatis
berhenti setelah Budi Gunawan disetujui DPR, Wakil Kapolri dijadikan Pelaksana Tugas (Plt)
Kapolri.
Berapa lama Wakapolri menyandang Plt Kapolri? Bisa bertahun-tahun sampai pensiun.
Kapolri terpilih akan diperiksa KPK, mungkin pula ditahan, lalu diadili di Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi, lantas menanti keputusan banding dan akhirnya menunggu kasasi. Bisa jadi
Budi Gunawan akan mendapat piagam MURI kedua sebagai Kapolri terpilih yang tak pernah
dilantik.
Bisakah Budi lolos dari hukuman? Jika yang dimaksudkan bebas karena tak terbukti bersalah,
tentu saja mungkin setelah melewati proses persidangan di pengadilan tingkat pertama.
Sebelum masuk pengadilan, sudah pasti tak bisa lolos karena KPK tak punya surat sakti yang
bernama SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Semua tersangka, cepat atau lambat,
pasti disidangkan. Bahkan, ada "tradisi" tak ada terdakwa KPK yang lolos dari jerat hukum.
Sudah terang benderang nasib Budi Gunawan, calon kapolri yang akan mengenakan rompi
oranye KPK, toh para politikus ingin dia dilantik secepatnya. Kenapa? Konon DPR merasa
dihina jika Budi Gunawan tidak dilantik. Presiden mengirim surat minta persetujuan ke DPR
dan parlemen sudah bekerja keras menyetujuinya. Kurang apa lagi?
Goro-goro ini berawal dari Jokowi yang mengajukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal
Kapolri, padahal seharusnya Jokowi tahu kasus yang melilit calonnya itu. Komisi Hukum
DPR menjadwalkan fit and proper test pada Rabu pekan lalu. Jadwal tak diundur, meski
Selasa kemarinnya KPK memberi status tersangka kepada Budi. Uniknya, seperti grasagrusu, pleno paripurna DPR langsung digelar esok hari, Kamis. Budi Gunawan pun disetujui
DPR.

Nasi sudah jadi bubur, kata pepatah. Padahal, Jokowi punya waktu menyelamatkan "nasi",
kalau saja dia menarik surat pencalonan itu dengan lekas. Tapi "bubur" kayaknya memang
dinanti, entah disengaja atau kecerobohan. Coba tanya, kenapa Jokowi mencalonkan Budi
yang sudah bermasalah sejak awal? Kenapa DPR cepat-cepat menyetujui calon bermasalah
itu, padahal undang-undang memungkinkannya lebih lama? Kenapa pula KPK mentersangka-kan Budi hanya sehari menjelang tes? Kenapa Koalisi Merah Putih yang
berseberangan dengan Jokowi justru menjadi penyokong utama Budi Gunawan? Kenapa elite
partai Koalisi Indonesia Hebat tiba-tiba ingat asas praduga tak bersalah, padahal untuk kasus
Andi Mallarangeng, Suryadharma Ali, atau Jero Wacik, mereka minta "sebaiknya mundur
secepatnya"?
Goro-goro ini seperti digiring banyak tangan. Analisis penggemar wayang pun bisa beragam:
dalangnya kurang pengalaman, dalangnya tak punya pakem jelas, dalangnya diintervensi
orang sekitarnya, entah itu pesinden atau penabuh gong. Yang pasti penonton banyak yang
kecewa, meski ada yang tertawa. Syukurlah, goro-goro berakhir. Tapi agaknya sang dalang
harus tetap introspeksi diri.

Selera Calon Kapolri Partai Islam

Senin, 19 Januari 2015


Arfanda Siregar, Pengamat Gerakan dan Politik Islam

Sayang beribu sayang, partai-partai Islam yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih dan
Koalisi Indonesia Hebat berselera sama dengan partai nasionalis dalam memilih calon Kepala
Kepolisian Republik Indonesia, yaitu menerima Komjen Budi Gunawan yang telah
ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka.
Secara telanjang hal tersebut sama saja mengiklankan kepada khalayak bahwa partai Islam
tak mempunyai identitas keislaman yang seharusnya menjadi brand mereka di belantika
perpolitikan nasional. Mengapa tak istikamah menjalankan nilai Islam dalam berpolitik?
Syarat-syarat menjadi pemimpin sesuai dengan ajaran Islam seharusnya menjadi referensi
menilai siapa pun calon Kapolri. Islam mensyaratkan bahwa pemimpin harus amanah.
Bagaimana mungkin seorang yang dinyatakan cacat moral karena korupsi masih dianggap
layak menjadi calon Kapolri.
Memang harus diakui, mencari pemimpin amanah di tubuh Polri sangat sulit. Bukan rahasia
lagi bahwa institusi tersebut merupakan "sarang" koruptor. Berdasarkan hasil survei Global
Corruption Barometer 2013, yang melibatkan 114 ribu responden di 107 negara, terungkap
bahwa kepolisian Indonesia menduduki peringkat pertama terkorup, disusul oleh parlemen
dan pengadilan.
Data tersebut seharusnya menjadi dasar partai Islam tak berselera sama dengan partai
nasionalis ketika memilih calon Kapolri. Sudah tahu di tubuh Polri miskin pemimpin amanah,
masih juga asal-asalan memilih calon Kapolri. Mencari pemimpin amanah di tubuh Polri
ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, memerlukan kerja keras, selektif, dan independen.
Bukan sekadar menyenangkan partai koalisi.
Apakah kepentingan politik yang membuat partai Islam melupakan identitas keislamannya?
Pada zaman Sukarno, partai-partai Islam, seperti Masyumi, NU, Syarikat Islam, dan Perti,
yang berada di Konstituante, sangat menjunjung tinggi identitas keislamannya. Di parlemen,
mereka selalu berbeda dengan partai nasionalis, seperti PNI, PKI, dan Sosialis. Partai Islam,
yang dipelopori Partai Masyumi, menjadi "partner tanding" partai nasionalis di Konstituante
dengan perjuangan menegakkan nilai Islam atas berbagai persoalan kenegaraan, termasuk
memilih pemimpin. Sementara itu, partai nasionalis, yang dipelopori PNI dan PKI,
memperjuangkan nilai Pancasila terhadap berbagai persoalan kenegaraan.

Para politikus partai Islam saat itu tak sekadar jualan ayat demi menangguk dukungan
konstituen. Mereka argumentatif manakala menggambarkan Islam sebagai sistem nilai yang
sempurna, menyeluruh, dan solutif. Mereka tak segan-segan menolak para pemimpin yang
cacat moral.
Tokoh Masyumi memiliki integritas dan komitmen tinggi terhadap cita-cita perjuangan.
Mereka kerap berbeda pendapat dengan Sukarno dan sering berujung pada pemenjaraan.
Meski demikian, mereka tetap konsisten mengusung nilai-nilai Islam.
Tidak seperti partai Islam zaman sekarang, bukan saja tak jelas identitas keislamannya,
terlebih lagi dengan sadar memilih calon Kapolri yang berlawanan dengan keislaman.

Bencana Alam dan Pembangunan

Senin, 19 Januari 2015


Helen Clark, Mantan Perdana Menteri Selandia Baru, Administrator Program Pembangunan
PBB (UNDP)

Ketika topan Hagupit melanda Filipina pada 6 Desember 2014, masih segar dalam ingatan
orang akan topan Haiyan, yang sebelumnya menewaskan lebih dari 6.300 orang. Menurut
Perserikatan Bangsa-Bangsa, 227 ribu keluarga--lebih dari sejuta orang--berhasil dievakuasi
sebelum Hagupit tiba--yang kemudian menewaskan tidak lebih dari 30 orang. Semua korban
bencana merupakan tragedi, tapi fakta bahwa sedikitnya jumlah korban ini menunjukkan
upaya yang telah dilakukan Filipina dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana alam
seperti ini.
Sebagai Administrator Program Pembangunan PBB, saya telah menyaksikan sendiri keporakporandaan dan kesedihan akibat bencana-bencana yang terjadi di seantero dunia. Sejak awal
abad ini, lebih dari sejuta orang tewas akibat badai seperti Hagupit dan bencana-bencana
besar lainnya, seperti gempa bumi di Haiti pada 2010 yang menimbulkan kerusakan ekonomi
senilai hampir US$ 2 triliun.
Kerugian-kerugian ini tragis, tapi kerugian itu juga bisa dihindarkan. Ini merupakan
peringatan bahwa kesiapan menghadapi bencana alam bukan suatu pilihan kemewahan. Ini
merupakan suatu proses yang intensif dan konstan yang perlu dilakukan untuk
menyelamatkan nyawa manusia, melindungi infrastruktur, dan menjaga hasil pembangunan.
Argumentasi perlunya investasi dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana itu
sebenarnya sederhana. Jika suatu negara sadar bakal mengalami bencana alam seperti badai
atau gempa bumi yang besar, investasi berupa waktu dan sumber daya yang dicurahkan
dalam mempersiapkan diri terhadap kejutan-kejutan yang akan terjadi itu bakal
menyelamatkan nyawa dan melindungi masyarakat dari kerugian-kerugian lainnya.
Sayangnya, pemerintah di banyak negara sering menempatkan prioritas yang berbeda dalam
persiapan menghadapi bencana alam. Investasi di bidang-bidang lainnya sering lebih
didahulukan, sementara lembaga-lembaga donor secara historis lebih siap menyumbang pada
upaya darurat membantu para korban ketimbang upaya pra-bencana yang perlu dilakukan.
Langkah-langkah yang dilaksanakan sifatnya cenderung terpisah-pisah, bukan bagian dari
suatu rencana mengurangi risiko yang sistematis.
Semua ini perlu diubah. Negara-negara seperti Filipina menunjukkan manfaat

mempersiapkan diri, terutama dilakukan sebagai bagian dari suatu upaya mengurangi risiko
yang lebih besar. Topan Hagupit merupakan peristiwa paling akhir untuk menunjukkan
semua ini.
Respons yang cepat dan efektif pemerintah Filipina telah menyelamatkan nyawa banyak
orang. Tapi penting dicatat bahwa upayanya ini bukan semata-mata reaksi seketika dalam
menghadapi badai yang akan tiba. Ini merupakan upaya nasional yang komprehensif yang
telah lama dipersiapkan. Para pejabat Filipina dengan bijaksana mengakui kerentanan negeri
mereka dan mencurahkan sumber daya serta modal yang diperlukan untuk membangun
ketahanan menghadapi bencana.
Persiapan diri Filipina ini sebagai satu komponen inti dalam keseluruhan strategi mengurangi
risiko bencana. Selama dekade yang lalu, pejabat-pejabat negeri itu telah meningkatkan
kesadaran masyarakat, menerapkan dan memperkuat lembaga-lembaga manajemen bencana,
serta melakukan upaya pemulihan sarana-sarana yang rusak akibat bencana-bencana yang
lalu, termasuk topan Haiyan. Rencana-rencana menghadapi bencana nasional dan lokal telah
ditingkatkan, prosedur operasi standar telah dikembangkan, dan sistem peringatan dini telah
dioperasikan. Hasil akhirnya tidak kurang dari suatu transformasi bagaimana Filipina bakal
bereaksi terhadap terjadinya bencana di kemudian hari.
UNDP, serta sistem-sistem pembangunan PBB yang lebih luas, mendukung pemerintahpemerintah meletakkan tekanan yang lebih besar pada upaya mengurangi risiko bencana,
termasuk kesiapan menghadapi bencana, dan memperkuat kapasitas kelembagaan
merencanakan dan bertindak ketika diperlukan.
Di samping bantuan darurat, masyarakat internasional juga perlu membantu terbentuknya
prosedur dasar merespons bencana jauh sebelum tibanya bencana itu. Mereka-lah yang
pertama kali harus merespons, misalnya, perlu pelatihan dan peralatan. Bangunan-bangunan
pengungsian darurat dan rute-rute evakuasi harus direncanakan serta ditetapkan sesuai
dengan perkiraan risiko dan simulasi sebenarnya. Jika masyarakat hendak diharapkan
memanfaatkan sumber daya yang ada, mereka perlu dilibatkan dalam perancangan dan
pengembangan rencana darurat. Pengurangan risiko, termasuk kesiapan terutama, juga
penting tercantum dalam tata kelola yang responsif.
Pada Maret 2015, suatu kerangka global baru bakal disepakati di Sendai, Jepang. Para
delegasi diharapkan mendorong transformasi yang memungkinkan kesiapan diri dalam
menyelamatkan nyawa manusia. Lagi pula, pengurangan risiko perlu menjadi bagian integral
dari strategi pembangunan yang berkelanjutan. Filipina bisa menjadi contoh.

Falsafah Kedaifan
Selasa, 20 Januari 2015
Agus M. Irkham, Pegiat Literasi

Jonan marah besar. Demikian banyak media (online) menulis untuk melansir peristiwa
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan saat datang ke kantor PT AirAsia Indonesia. Namun
tidak lama kemudian berita tersebut diralat: Jonan tidak marah. Kesalahan pemberitaan
tersebut terjadi karena wartawan tidak secara langsung melihat Jonan melakukan sidak,
melainkan hanya didasarkan pada keterangan dari staf khusus Menteri Perhubungan, Hadi M.
Djuraid. Padahal aslinya Jonan tidak marah. Hanya membentak atau berbicara dengan nada
tinggi kepada salah satu pemimpin AirAsia Indonesia.
Menteri Anies melarang berdoa di sekolah. Begitu bunyi headline beragam terbitan. Kontan
saja berita tersebut tersebar secara viral menghiasi timeline media sosial mayoritas orang.
Belakangan, pemberitaan tersebut dikoreksi. Menteri Anies tidak melarang berdoa di sekolah.
Lagi-lagi, wartawan dinilai gagal paham, yang berakibat pada kesalahan pengutipan.
Bagaimana dua hal di atas bisa berlangsung?
Paling kurang, ada tiga penyebab. Pertama, wartawan yang memang salah mengutip atau
terlalu lateral dalam menginterpretasikan isi pembicaraan narasumber. Kedua, berita yang
dilansir menuai banyak kontroversi pada masyarakat, bahkan perlawanan, sehingga buruburu direvisi. Pernyataan ditempatkan sebagai bagian dari test the water kebijakan dan
wartawan (media) sebagai tumbalnya. Ketiga, menulis berita tidak berdasarkan sumber
primer (fakta), melainkan sekunder (persepsi atas suatu fakta).
Entah, dari ketiga hal tersebut yang paling tepat yang mana, dan bisa jadi ada penyebab lain
yang mempengaruhinya. Terlepas dari kebenaran musababnya, saya khawatir di masyarakat
muncul mosi tidak percaya terhadap media. Lebih parah lagi jika diam-diam ada simpulan di
dalam benak mereka masing-masing bahwa, dari dua berita yang diturunkan, salah satunya
bisa salah atau kedua-duanya. Ujungnya orang akan lari, minimal tidak lagi menjadikan
media sebagai sumber utama informasi yang patut dipercaya dan dijadikan rujukan
pertimbangan saat akan mengambil keputusan atau sikap.
Membaca menjadi pintu awal untuk tidak membaca lagi. Ini kan ironi. Media justru menjadi
penyebab munculnya sikap illiteracy. Koreksi pemberitaan yang dilakukan oleh media tidak
melalui mekanisme hak jawab juga telah meletakkan media di bargaining position yang
rendah.

Tidak hanya itu, plinplan isi pemberitaan juga dapat melahirkan pengambangan sikap
masyarakat terhadap suatu masalah. Atas nama falsafah kedaifan, tiap melihat sebuah
ke(tidak)benaran selalu ditempatkan pada timbangan-timbangan relativisme boleh-boleh saja.
Ada praduga tak bersalah. Bahkan diperlukan terutama jika ke(tidak)benaran itu berasal dari
media (sosial).
Meskipun begitu, tetap harus berhati-hati. Jangan sampai jatuh pada nihilisme yang
menyebabkan kita abai terhadap ukuran-ukuran umum keadaban. Akhirnya, kita jadi sulit
mengapresiasi prestasi orang, juga sukar menempatkan kesalahan sebagai sebuah kelalaian.

Hukuman Mati
Selasa, 20 Januari 2015
Soe Tjen Marching, komponis dan aktivis

Masih banyak yang mendukung keputusan Jokowi mempertahankan hukuman mati dengan
alasan ketegasan serta pencegahan tindakan kriminal. Tapi, benarkah hal ini?
Beratus tahun yang lalu, hukuman tak bisa dipisahkan dari unsur ekonomi. Para raja bisa
mendapat keuntungan dengan mendenda mereka yang dianggap bersalah atau menetapkan
kerja paksa atas mereka, sehingga kerajaan mendapat tenaga gratis. Dan tidak kebetulan bila
hukum kemudian banyak dimanipulasi demi keuntungan penguasa dan mempergemuk
kantong mereka.
Tentu saja, zaman berubah. Hukuman seperti ini dikritik habis-habisan. Hukum seharusnya
dibuat untuk melindungi yang lemah, bukan untuk memperkukuh kedudukan penguasa.
Hukum seharusnya dibuat untuk menjamin bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang
sama. Karena pandangan ini, bentuk hukuman pun berubah: hukuman-hukuman yang
melibatkan penyiksaan, yang dulu sempat merajalela pada zaman kerajaan-kerajaan kuno,
mulai ditiadakan.
Hukuman ditujukan untuk mencegah sang pelaku mengulang tindakannya, sekaligus
memperbaiki dan menyadarkan si pelaku, bukan melampiaskan dendam atau amarah semata.
Hukuman adalah sebuah bentuk rehabilitasi, terutama karena masyarakat juga semakin sadar
bahwa individu yang melanggar hukum tidak bisa dipisahkan dari sistem atau keadaan sosial
yang mendorongnya.
Hukuman seberat apa pun sering kali tak akan menghentikan tindakan tersebut, karena
hukuman mungkin akan menjerat individu yang tertangkap, namun sering kali alpa pada
pangkal penyebab atau pemicunya, sehingga akar permasalahan terus berkembang biak.
Salah satu contohnya adalah hukuman berat yang dijatuhkan terhadap pencopet di Inggris
pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Karena merajalelanya pencopetan saat itu, hukum
gantung dijatuhkan terhadap pencopet. Tapi, apa yang terjadi? Saat hukuman gantung
dilaksanakan di alun-alun, saat itu jugalah para pencopet paling aktif beraksi. Karena
kebutuhan mereka untuk mencopet jauh lebih besar daripada rasa takut akan hukuman mati
tersebut.

Kemiskinan dan ketimpangan sosial telah menyebabkan maraknya geng-geng copet. Inilah
yang seharusnya ditanggulangi oleh pemerintah. Ditambah pula dengan kecilnya
kemungkinan bahwa para pencopet akan tertangkap, karena yang berwajib lebih sibuk
mengawasi keamanan anggota kerajaan daripada mengurus rakyat.
Alasan dilaksanakannya hukuman mati untuk mencegah kriminal adalah ambigu. Dengan
hukuman mati, kita memotong tali komunikasi terhadap pelaku dan tak bisa lagi mempelajari
akar dari kriminalitas tersebut dari pelaku ini.
Selain itu, proses hukum tak selalu sempurna. Amnesty International mencatat bahwa di AS
ada 130 orang yang dijatuhi hukuman mati sejak 1973, ternyata terbukti tidak bersalah dan
hukuman mati mereka dibatalkan. Namun bagaimana dengan kasus George Stinney, manusia
termuda yang pernah dijatuhi hukuman mati pada abad ke-20 di AS? Dengan tuduhan
membunuh dua gadis belia, ia dieksekusi pada 16 Juni 1944. Setelah kasus ini dibuka
kembali, Stinney dinyatakan tak bersalah pada 17 Desember 2014, 70 tahun setelah
kematiannya.
Hukuman mati dalam hal ini adalah sebuah pernyataan kecongkakan bahwa tidak akan ada
kesalahan atau hal yang perlu direvisi dalam keputusannya. Sebuah bentuk kekerasan
tersendiri yang seharusnya ditiadakan dalam zaman modern ini.

Menyoal Keselamatan Penerbangan


Selasa, 20 Januari 2015
Abdul Salam Taba, Alumnus School of Economics The University of Newcastle, Australia

Penetapan tarif batas bawah tiket pesawat minimal 40 persen dari tarif batas atas dan
penghapusan tarif promo murah telah menimbulkan pro-kontra. Pemerintah sebagai pihak
yang pro beranggapan kebijakan hal itu sudah tepat. Sebab, tidak hanya menjamin
keselamatan penumpang, tapi juga menjaga kelangsungan industri penerbangan nasional.
Sebaliknya, yang kontra menilai aturan itu hanya merugikan maskapai berbiaya murah (low
cost carrier/LCC) dan menguntungkan penerbangan berbasis layanan penuh (full service
carrier/FSA). Selain itu, merugikan konsumen dan berakibat menimbulkan persaingan usaha
tidak sehat.
Larangan penjualan tiket pesawat kurang dari 40 persen dari tarif batas atas dan penghapusan
tarif promo murah, sepintas lalu ada benarnya. Sebab, maskapai LCC kerap menjual tiket
sangat murah, bahkan lebih rendah daripada batas bawah yang ditetapkan Kementerian
Perhubungan, selaku regulator. Alias, harga tiket yang dijual terkadang lebih rendah daripada
komponen biaya normal.
Belum lagi peningkatan nilai kurs dolar terhadap rupiah juga memicu tingginya biaya
operasional maskapai, seperti fuel, sewa pesawat, asuransi, pemakaian pelumas dan oli, serta
pemeliharaan pesawat dan jasa bandara. Pun, sekitar 80 persen komponen yang ada
menggunakan dolar.
Secara hand in hand, penetapan tarif kurang dari batas bawah dan peningkatan nilai kurs
dolar itu berpotensi mempengaruhi tingkat keselamatan dan keamanan penerbangan.
Dikatakan berpotensi, sebab maskapai akan "tergoda" memangkas biaya yang berkaitan
dengan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.
Namun, kecelakaan pesawat (termasuk tragedi jatuhnya AirAsia penerbangan QZ8501)
sejatinya bukan disebabkan oleh tarif yang murah, dengan beberapa alasan. Pertama, fakta
menunjukkan tarif murah yang lazim diterapkan maskapai LCC tidak berkorelasi dengan
tingkat atau jumlah kecelakaan pesawat yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Indikasinya, data insiden penerbangan dalam kurun 2003-2013 yang dikumpulkan Airline
Profiler menunjukkan insiden serius yang menimpa penerbangan berbasis layanan penuh

(FSA) berjumlah 818 insiden. Sedangkan insiden serupa yang dialami LCC pada periode
yang sama hanya 112 kali. Juga, jumlah insiden bersifat fatalities yang dialami LLC hanya
330 insiden, sedangkan FSA sebanyak 509 kali.
Kedua, meski menetapkan tarif supermurah, secara keseluruhan model bisnis yang diterapkan
LCC sejak awal 1988--semula dinilai konyol oleh jaringan penerbangan global (maskapai
umum)--tetap menguntungkan dan berkembang. Terbukti, pasar LCC yang pada 2005 baru
berkisar 17 persen, delapan tahun kemudian atau tepatnya pada 2013, sudah menjadi 32
persen.
Ketiga, tarif supermurah yang ditawarkan LCC ke penumpang lazimnya hanya diterapkan
pada musim sepi penumpang (low season).
Keempat, keberhasilan LCC dipicu oleh kemampuannya memangkas biaya penerbangan
jarak jauh dan biaya lain yang tidak perlu (no frill), tanpa meniadakan jaminan pelayanan,
keamanan, dan keselamatan penerbangan dengan beberapa strategi.
Jadi, penetapan batas bawah tarif pesawat minimal 40 persen dari harga tiket terendah tarif
batas atas dan penghapusan tarif promo murah tidak berkorelasi atas terjadinya kecelakaan
pesawat. Sebab, harga tiket LCC bisa dijual murah bukan karena mengurangi biaya teknis
perawatan dan biaya lain terkait keamanan dan keselamatan penerbangan, melainkan
meniadakan kemewahan dalam penerbangan yang dilayaninya.
Dengan demikian, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2014 tentang
mekanisme formulasi penghitungan dan penetapan tarif batas atas penumpang pelayanan
kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri perlu dikaji ulang.
Secara yuridis, berbagai fenomena itu berpotensi melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, khususnya Pasal 1,
2, 17, dan 19. Sebab, penerapan Permen Perhubungan Nomor 91 Tahun 2014 mencegah
terwujudnya iklim usaha yang kondusif dan memicu timbulnya praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat dalam industri penerbangan.
Lagi pula, insiden penerbangan berbiaya murah bisa dicegah (diminimalkan) jika standar
pelayanan penerbangan diawasi secara ketat dan diterapkan tanpa kompromi oleh regulator,
sebagaimana diatur dalam Permen Perhubungan Nomor 49 Tahun 2012 tentang Standar
Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri.
Karena itu, upaya kaji ulang Permen Perhubungan Nomor 91 Tahun 2014 harus berefek
ganda, selain bisa mencegah terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat,
menciptakan iklim usaha penerbangan yang kondusif. Kemampuan regulator mewujudkan
kedua hal itu akan berimplikasi positif bagi konsumen, maskapai, dan keberlangsungan
industri penerbangan secara nasional.

Bencana dan Hukum


Rabu, 21 Januari 2015
Firoz Gaffar, Chairman Figa Institute of Law and Economics (FILE) dan Dosen Analisis Ekonomi
atas Hukum

Bencana selalu dipersepsikan sebagai kesedihan, sehingga Kamus Besar Bahasa Indonesia
mengartikannya sebagai sesuatu yang menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan.
Buat manusia yang berakal budi, bencana bukan hanya diselidiki pencetusnya yang bersifat
alami ataupun artifisial, tapi juga implikasinya yang berupa fisik dan non-fisik.
Kita agak terkejut saat politik dihubungkan dengan implikasi bencana. Analisis Azyumardi
Azra yang bertajuk "Bencana dan Politik" (Kompas, 23/12/2014) mencatat adanya kontribusi
bencana bagi perpolitikan, seperti terwujudnya rekonsiliasi politik yang "dipaksa" saat
tsunami di Aceh (2004) serta absennya kampanye partai politik yang "memanfaatkan" tanah
longsor di Banjarnegara (2014).
Kalau politik menaruh bencana sebagai obyek kekuasaan, hukum meletakkan bencana
sebagai sasaran pengaturan. Kontribusi hukum masuk melalui dua sisi. Pada sisi hulu, hukum
menancapkan alas pembenar dan memasang pagar pembatas sehingga upaya penanggulangan
bencana berjalan secara legitimate dan legalistis. Di sini, law making mengarahkan institusi
pelaksananya. Pada sisi hilir, hukum mengembalikan hak kepada yang berhak agar kondisi
awal pulih. Di sini, law enforcement meluruskan pihak yang menyimpang.
Perjalanan panjang bencana lumpur Sidoarjo selama delapan tahun menyisakan dua problem
hukum.
Pertama, apakah lumpur Sidoarjo merupakan bencana alam? Pemerintah merupakan
penanggung jawab penanggulangan bencana sesuai dengan Pasal 5 Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Faktanya, tidak pernah ada penetapan
pemerintah soal bencana alam, non-alam, atau bencana sosial. Selain itu, Perpres Nomor 14
Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) tidak menyebutnya
sebagai bencana. Kevakuman ini terang-benderang, sehingga kasus lumpur Sidoarjo menjadi
tidak jelas atau absurd.
Ironisnya, dalam rapat pleno pada 30 September 2009, DPR mendeklarasikan tragedi ini
sebagai bencana alam. Padahal, pemerintah sebagai satu-satunya otoritas penetap status dan

tingkat bencana menurut UU Nomor 24 Tahun 2007. Menurut buku The Pure Theory of Law,
produk hukum berupa keputusan lembaga ini jelas tidak berlaku secara yuridis karena
bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi (Hans Kelsen, 1960).
Kedua, siapa penanggung jawab timbulnya semburan lumpur Sidoarjo? Sampai saat ini,
sedikitnya ada 10 regulasi yang terkait dengan hal ini, dari Keppres Nomor 13/2006 tentang
Pembentukan Timnas Lumpur Sidoarjo sampai UU Nomor 15/2013 tentang APBN. Semua
regulasi tersebut mengatur tupoksi dan mekanisme institusi yang menangani penanggulangan
bencana. Tidak ada satu pun pasal yang menyebutkan siapa pihak yang bersalah.
Selain itu, ada 10 putusan/kebijakan hukum yang berkaitan dengan law enforcement. Dalam
lingkup perdata, putusan MA pada 2009 atas gugatan YLBHI dan putusan Pengadilan Tinggi
Jakarta pada 2008 atas gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyatakan PT
Lapindo Brantas Inc (PT LBI) serta pemerintah tidak bersalah. Sebab, lumpur Sidoarjo
merupakan fenomena (baca: bencana) alam.
Dalam lingkup pidana, Surat Perintah Penghentian Penyidikan dikeluarkan oleh Polda Jawa
Timur pada 2009 bagi para tersangka karena tidak ditemukan perbuatan melawan hukum.
Adapun putusan Pengadilan Negeri Surabaya pada 2010 menolak gugatan pra-peradilan atas
SP3 Polda Jawa Timur. Dalam lingkup administrasi, putusan MA pada 2007 menolak
permohonan hak uji materi atas Pasal 15 Perpres Nomor 14/2007 tentang BPLS.
Dalam lingkup konstitusi, putusan MK pada 2012 menolak permohonan pengujian undangundang atas Pasal 18 UU Nomor 4/2012 tentang APBN-P dan Pasal 19 UU Nomor 22/2011
tentang APBN. Namun putusan MK pada 2014 mengabulkan permohonan pengujian undangundang atas Pasal 9 ayat 1 UU Nomor 15/2013 tentang APBN-P.
Semua putusan/kebijakan hukum tadi menunjukkan bahwa PT LBI tidak bersalah karena
kejadian ini merupakan bencana alam. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pihak yang
bertanggung jawab secara yuridis. Bahkan, putusan MK pada 2014 semakin mempertegas hal
tersebut. Putusan MK ini memposisikan pemerintah sebagai penggaransi pelunasan ganti rugi
oleh PT LBI dalam peta area terdampak. Hal ini jelas menghapus tanggung jawab hukum,
ekonomi, dan sosial PT LBI dalam PAT sesuai dengan kesepakatan pada 22 Maret 2007, yang
dikukuhkan lewat Keppres 13/2006.
Dengan sudut legal, hukum tidak sekadar alat pembenar setelah peristiwa (ex-post), tapi juga
instrumen pengarah sebelum peristiwa (ex-ante). Regulasi dan putusan semestinya koheren
dan konsisten di dalam kepala semua orang, terutama para pengambil kebijakan dan penegak
hukum. Di satu sisi, tidak lagi relevan untuk menyebut kasus "lumpur Sidoarjo" sebagai
"lumpur Lapindo" karena sebutan itu berarti menuduh PT LBI tanpa dasar. Namun, di sisi
lain, proses hukum tak boleh lunglai mengejar keadilan: apa betul itu bencana alam dan siapa
pelaku sesungguhnya? Pepatah mengatakan, keadilan ditegakkan agar dunia tidak hancur
(fiat justitia, ne pereat mundus).

Jokowi di Simpang Jalan


Rabu, 21 Januari 2015
Putu Setia, @mpujayaprema

Tidak ada makan siang yang gratis. Ini ungkapan populer di Barat. Kalau di sini, yang
populer sekarang adalah"tak ada kandidat Presiden yang gratis".
Siapa yang disindir? Tentu Joko Widodo, Presiden ketujuh negeri ini. Ia menjadi calon
Presiden dalam pemilu pada tahun lalu karena ditunjuk oleh Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri. Padahal Jokowi--begitu nama Presiden ini disingkat--bukan kader
yang menjadi pengurus pusat PDIP. Bahkan, ia belum pernah menjadi anggota DPR. Ia
menelikung sejumlah kader partai, termasuk Megawati sendiri. Kongres PDIP sudah
menetapkan bahwa calon Presiden hanya bisa keluar dari saku Megawati, dan banyak orang
menduga ia sendirilah yang bakal maju. Ternyata Mega menyerahkan prospek tersebut
kepada Jokowi.
Memang betul Jokowi berhasil merangkul banyak relawan. Namun, tanpa tiket dari partai
politik, tak ada orang sehebat apa pun di negeri ini yang bisa menjadi calon Presiden. Sebab,
calon Presiden independen tak dibolehkan undang-undang.
Jokowi memang beruntung. Namun tidak ada yang gratis. Ia harus membayarnya. Bukan
hanya kepada PDI Perjuangan, tapi juga kepada partai politik yang berkoalisi dengan PDIP.
Dengan cara apa Jokowi membayar? Sudah pasti dengan barter jabatan, baik suka maupun
tak suka, diakui maupun tidak.
Jadi, sesungguhnya Jokowi tak bisa berjalan secara independen. Hak prerogatif Presiden
hanya ada dalam kata-kata formal. Cara Jokowi menunjuk menteri jelas merupakan upaya
membayar utang. Puan Maharani, anak Megawati, menjadi salah satu menteri koordinator.
Tentu sulit dibantah bahwa sejatinya Jokowi memang "tak bisa membantah". Repotnya lagi,
Jokowi tak punya basis di partai mana pun. Ia juga harus membayar utang kepada partaipartai koalisi. Tong kosong berbunyi nyaring kalau Jokowi mengatakan menteri yang ia
angkat jauh dari urusan transaksional, apalagi tanpa syarat.
Sepanjang orang yang diangkat tak tercela, publik masih bisa bertenggang rasa sambil
berharap mudah-mudahan kinerjanya baik. Namun tidak demikian ketika Jokowi mengajukan

calon Kepala Polri ke DPR. Komisaris Jenderal Budi Gunawan sudah diketahui secara umum
punya kasus rekening gendut. Budi Gunawan adalah mantan ajudan Megawati, dan tak
seujung kuku pun orang bisa percaya bahwa ia bukan titipan Megawati. Hal ini bisa dilihat
dari ngototnya Megawati dan kader-kader PDI Perjuangan membela Budi Gunawan, bahkan
ketika Budi sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan
Jokowi membatalkan pelantikannya, meski DPR tetap setuju.
Jokowi berada di simpang jalan. Melantik Budi Gunawan berarti menghina korps polisi.
Seorang Kapolri aktif kelak akan mengenakan baju oranye KPK. Jika Budi tidak dilantik,
Jokowi bakal terus digoyang DPR, baik oleh koalisi PDIP yang mendukungnya maupun
koalisi Gerindra yang beroposisi. Sebagai jawaban atas dua pilihan sulit itu, Jokowi
menunjuk Wakil Kapolri sebagai pelaksana tugas Kapolri, padahal Kapolri-nya tidak ada.
Bagaimana mungkin pejabat yang belum dilantik tiba-tiba "dianggap bermasalah" sehingga
harus digantikan oleh pelaksana tugas?
Ke mana menteri-menteri politik dan hukum Jokowi? Tak ada tanda-tanda mereka
menyarankan agar Jokowi menarik pencalonan Budi Gunawan begitu KPK memberikan
status tersangka. Para menteri itu terjebak dalam pilihan membela partai atau menyelamatkan
Jokowi. Dengan kondisi ini, Jokowi lebih baik mulai menata basis politik yang riil. Sulit
memang, tapi boleh dicoba dengan kesabaran.

Membangkitkan Pergulaan Kita


Rabu, 21 Januari 2015
Agus Pakpahan, Ekonom Kelembagaan

Bank Dunia memperkirakan bahwa harga riil gula di pasar dunia (dolar Amerika 2010) pada
2025 akan turun dari US$ 0,37 per kilogram pada 2013 menjadi US$ 0,28 per kilogram.
Dengan nilai kurs US$ 1 sama dengan Rp 12.605 saat tulisan ini disusun, harga gula per
kilogram di pasar internasional pada 2025 adalah Rp 3.529. Sangat murah!
Tahun 1975 perlu dijadikan tahun bersejarah bagi Indonesia. Pada tahun itu, harga gula
mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, dan Indonesia melahirkan kebijakan baru, yaitu
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Salah satu
tujuannya adalah mencapai swasembada gula, tujuan yang sekarang juga menjadi pedoman.
Sayang sekali, Inpres Nomor 9 Tahun 1975 akhirnya dicabut dan diganti dengan Inpres
Nomor 5 Tahun 1998 setelah gagal mencapai tujuan. Saat itu, produksi gula Indonesia, selain
berada di posisi terendah, terkena dampak tekanan dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Setelah Reformasi 1998, terjadi hal menarik, yaitu lahirnya model kebijakan ekonomi
dualistik pada ekonomi pergulaan.Model ini mendikotomikan gula kristal putih (GKP)
dengan gula kristal rafinasi (GKR). GKR, yang berbahan baku gula mentah impor, dianggap
lebih superior ketimbang GKP, yang berbahan baku tebu yang ditanam di Tanah Air.
Apa implikasinya? Cara pandang tersebut akan membuat GKP hasil dari tebu yang ditanam
di dalam negeri hilang secara permanen. Apakah kita menghendaki kehilangan kesempatan
ekonomi akibat matinya industri gula di dalam negeri? Bagaimana dengan referensi di luar
negeri?
Referensi yang paling nyata adalah pilihan AS dalam menetapkan sirup manis yang dibuat
dari jagung (high fructose corn syrup/HFCS) sebagai balasan terhadap kenaikan harga gula
yang tajam pada awal 1970-an. Mengapa kita tidak memilih sagu, aren, kelapa,atau singkong,
plus tetap mengembangkan tebu, misalnya?
Apa sih sebenarnya potensi besar kita? Pertama, Indonesia harus memiliki strategi untuk

menjaga pasar dalam negeri.


Kedua, kemampuan yang belum dimanfaatkan dengan baik serta lahan yang tersedia harus
lebih disorot. Kemampuan kita di bidang pergulaan cukup besar mengingat sejarah Indonesia,
tapi hal ini berada dalam bayang-bayang budaya yang melahirkan inefisiensi. Efisiensi ini
bukan sekadar hasil dari kebun atau pabrik, tapi juga merupakan resultante dari seluruh
komponen terkait. Untuk mengejar efisiensi ini, kita harus rela belajar dari perkebunan tebu
dan pabrik gula milik swasta yang berhasil.
Hanya, pada masa mendatang, model korporasi perlu diperbaiki, tepatnya sedikit meniru
model Thailand, yaitu usaha perkebunan dilakukan oleh petani, sedangkan usaha pabrik gula
dikelola oleh pabrik gula. Supaya bisa bersaing, skala usaha petani tebu dapat mengikuti
reformasi agraria model Abraham Lincoln (Homestead Act 1862), yaitu luas lahan per petani
sekitar 65 hektare. Hal ini penting mengingat 70-80 persen biaya investasi dikeluarkan untuk
mendukung industri gula yang berada di perkebunan, Adapun 20-30 persen komponen
investasi pabrik gula dipikul oleh perusahaan (swasta atau BUMN). Dengan demikian, hasil
dari peningkatan efisiensi ini dapat digunakan untuk investasi jangka panjang, khususnya
dalam bidang penelitian dan pengembangan serta infrastruktur.
Pola inilah yang semestinya menjadi kelanjutan Reformasi Politik 1998, yaitu Reformasi
Agribisnis, termasuk pergulaan.

Penegak Hukum Merangkap Tersangka?


Kamis, 22 Januari 2015
Feri Amsari, Peneliti Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universitas Andalas

Tidak mungkin kucing dipercaya menjaga ikan. Sebagaimana tidak masuk akalnya jika
pencuri diminta melindungi barang berharga.
Namun, dalam politik, semuanya "mungkin", terutama jika hasrat kepentingan
menghendakinya demikian. Kemungkinan itu kuat tercium pada proses pencalonan Kepala
Kepolisian Republik Indonesia. Meskipun berstatus tersangka kasus korupsi, Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui nama tunggal yang diajukan Presiden tersebut. Dapat
dipastikan bahwa Indonesia akan menjadi negara pertama yang menjadikan tersangka pidana
sebagai pemimpin tertinggi untuk melawan kejahatan.
Presiden (juga orang-orang di sekitar istana) dan DPR berpendapat tersangka bukanlah
terpidana berdasarkan asas praduga tidak bersalah (presumption of innocent). Sebagaimana
dipahami kebanyakan ilmuwan hukum, asas praduga tidak bersalah merupakan sebuah
landasan yang digunakan untuk melindungi siapa pun yang dianggap melakukan kejahatan
sampai terbukti bersalah di pengadilan. Asas praduga tidak bersalah diterapkan sebagai
"tameng" bagi tersangka untuk menghindari asumsi awal penegak hukum tanpa pembuktian.
Shima Baradaran menyebutkan bahwa penggunaan praduga tidak bersalah hanya berlaku
pada ranah peradilan saja (Restoring Presumption of Innocent, Ohio State Law Journal, 2011,
hlm. 3). Menurut Baradaran, penggunaan asas itu bertujuan menghindari hakim
menggunakan asumsi tanpa bukti. Sehingga harus dipahami bahwa asas praduga tidak
bersalah bukanlah legal maxim yang diterapkan sebelum proses peradilan berlangsung.
Terhadap pelaku yang diduga melakukan kejahatan, sebelum proses peradilan tetap
"diberikan" kepadanya asas praduga bersalah (presumption of guilt). Itu sebabnya,
penyebutan "tersangka" dilekatkan kepada seseorang yang diduga melakukan kejahatan.
Bahkan lebih jauh, seorang tersangka dapat ditahan sebelum proses peradilan dimulai. Hal itu
mengindikasikan penerapan asas praduga bersalah kepada seorang tersangka (baca Michael J.
Saks dan D Michael Risinger, Baserates, The Presumption of Guilt, Admissibility Rulings,
and Erroneous Conviction, Michigan State DCL Law Review, 2003, hlm. 1.061). Artinya,
seorang tersangka (atau terdakwa) adalah penjahat "sementara" yang pada proses peradilan

diberikan perlindungan hak sebagai orang yang tidak bersalah kecuali alat bukti dan
keyakinan hakim menyatakannya bersalah. Ketika hakim memutuskannya bersalah, status
penjahat "sementara" berganti sebagai terpidana.
Berdasarkan pemahaman asas tersebut di atas, mustahil orang yang diduga melakukan
kejahatan (baca: tersangka) diberikan amanah mengelola jabatan publik hingga proses
peradilan menyatakan dirinya bersih dari segala perbuatan jahat. Menjadikan tersangka
sebagai pejabat publik merupakan kebijakan berisiko besar terhadap keselamatan umum. Itu
sebabnya pilihan Presiden Jokowi merupakan "perjudian besar" dalam sejarah kehidupan
bernegara.
Perjudian Presiden itu juga mengabaikan semangat Reformasi yang termaktub dalam UU
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Dalam Pasal 5 angka 4 UU tersebut ditentukan
bahwa penyelenggara negara berkewajiban untuk tidak melakukan perbuatan KKN. Sebagai
seorang tersangka kasus korupsi, potensi sang calon Kepala Polri melakukan tindakan KKN
sangat besar. Wajar jika langkah Jokowi memberikan tanggung jawab besar kepada figur
yang bermasalah merupakan pilihan berisiko.
Bahkan, jika disimak asas-asas penyelenggaraan negara yang dimaktub dalam Pasal 3 UU
Nomor 28/1999, pilihan Jokowi menjadikan seorang tersangka sebagai Kepala Polri adalah
tindakan yang tidak profesional, tidak tertib penyelenggaraan negara, tidak memperhatikan
kepentingan umum, dan tidak akuntabel (bertanggung jawab). Jika Jokowi memaksakan
kehendak, bukan tidak mungkin pemerintahannya dianggap melanggar semangat Reformasi
penyelenggara negara yang menjadi dasar perubahan UUD 1945. Jokowi dapat diduga
melanggar "jiwa konstitusi".
Jokowi (juga orang-orang di sekelilingnya) harus mampu berpikir bahwa ada "pergerakan"
tak wajar di parlemen terkait dengan pengajuan calon Kepala Polri. Dua kubu parlemen yang
selalu berseteru tiba-tiba berjabat tangan menyetujui pilihan Jokowi. Bahkan sebelum proses
fit and proper test di parlemen, sebagian anggota DPR "sowan" ke rumah calon Kepala Polri.
Bagi saya, sulit dihindari dugaan bahwa terdapat langkah tersembunyi DPR (terutama oposisi
pemerintah) yang mengabaikan kepentingan rakyat. Jika langkah DPR itu "bersih", mestinya
tuntutan calon Kepala Polri bebas KKN tentu lebih kuat. Namun desakan itu tak terjadi
sebagaimana kubu oposisi biasanya. Itu sebabnya, bukan tidak mungkin persetujuan DPR
adalah "jebakan" untuk menjerumuskan pemerintah Jokowi kepada masalah besar di
kemudian hari.

Bob Sadino
Kamis, 22 Januari 2015
Flo. K. Sapto W, praktisi pemasaran

Selama ini, agaknya orang salah mengira. Om Bob--panggilan akrab Bob Sadino--dianggap
sebagai pelaku bisnis yang hanya bermodal nekat. Tindakan-tindakan bisnis yang sering dia
katakan sendiri sebagai kebodohan sepertinya perlu dimaknai lagi. Sebab, di balik
keluguannya sebagai pebisnis produk-produk perishable (telur, daging, sayuran), Om Bob
ternyata adalah praktisi teori bisnis paling riil.
Dalam memulai bisnis, Om Bob hanya mendasarkan pada kesulitan para ekspatriat dalam
mendapatkan telur dan sayuran segar berkualitas. Secara teoretis hal ini adalah sebuah
kemampuan melihat demand. Operasi bisnis yang digerakkan demand ini, oleh Cravens &
Piercy (2006), dipaparkan sebagai strategi market driven. Konsep teorinya adalah
mendasarkan pergerakan bisnis melulu pada apa yang dimaui pasar.
Langkah konkret yang dilakukan oleh Om Bob adalah meminta dikirimkan anak ayam
petelur dan pedaging dari koleganya di Belanda. Kalau sudah begini, lokasi usaha di Kemang
adalah sebuah pilihan jenius. Area ini dihuni oleh banyak ekspatriat yang notabene adalah
konsumen paling potensial. Kotler & Keller (2006) mendeskripsikan strategi ini sebagai
geographical segmentation sekaligus niche market segmentation. Kecerdikannya
membungkus telur dengan plastik dan menyematkan setangkai bunga anggrek telah
memberikan added value pada produknya.
Secara berbeda, Om Bob tidak merilis produknya dengan iklan jor-joran. Calon konsumen
dipersilakan mencoba langsung. Jaminan kualitas adalah satu-satunya cara untuk terus
berbisnis dan mendapatkan profit. Kotler & Keller bahkan menjadikan kualitas sebagai satusatunya cara untuk bertahan dalam kompetisi. Testimonial konsumen terbukti efektif.
Hawkins, et. al, (2007) mendeskripsikan strategi ini sebagai word of mouth atau promosi
getok tular.
Diferensiasi dan inovasi adalah strategi ampuh lain yang dilakukan Om Bob. Salah satu tool
untuk menciptakan inovasi--dan dengan demikian juga diferensiasi--adalah dengan
mendengarkan keluhan pelanggan. Om Bob dalam hal ini bahkan sudah melewati tahapan
dicaci maki oleh konsumen. Berdasarkan ketidakpuasan pelanggan itulah Om Bob kemudian
menyajikan berbagai produk inovatif. Terong warna-warni, sayuran hidroponik, dan jagung

manis adalah beberapa produk yang saat itu bahkan belum pernah dilihat dan dirasakan oleh
konsumen lokal.
Supply chain management dilakukan oleh Om Bob dengan menanam dan menernakkan
sendiri sayuran, telur, dan ayam. Sehingga kelangsungan pasokan produknya terjamin aman.
Manajemen human capital telah dilakukan oleh Om Bob sehingga karyawan kerasan dan
tekun bekerja. Om Bob memang tidak berteori karena Om Bob adalah teori itu sendiri. Rest
in peace, Om Bob.

Pro-Kontra Hukuman Mati


Kamis, 22 Januari 2015
Tom Saptaatmaja, Alumnus Seminari St. Vincent de Paul

Enam orang terpidana mati dipastikan sudah dieksekusi oleh satuan Brimob Kepolisian
Daerah Jawa Tengah.
Sepanjang sejarah umat manusia, hukuman mati memang selalu mengundang pro-kontra.
Sebelum keenam orang di atas dieksekusi, juga muncul pro-kontra di Tanah Air.
Yang kontra antara lain berargumen, hukuman mati tak menimbulkan efek jera; Indonesia
akan kesulitan membela WNI yang divonis mati di luar negeri; hukuman mati bertentangan
dengan prinsip hak asasi manusia (HAM); hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawa
seseorang; tanpa dieksekusi pun pada akhirnya toh orang akan mati dengan sendirinya; dan
lain sebagainya.
Sedangkan yang pro berargumen, hukuman mati adalah konstitusional; mandat Tuhan untuk
mengambil nyawa sudah diberikan kepada negara; adil untuk para perusak mental bangsa
seperti penjahat narkotik; demi penegakan hukum; dan lain sebagainya.
Umur hukuman ini sudah setua peradaban manusia sendiri. Codex Hammurabi (tahun 2000
sebelum Masehi) sudah mencantumkan hukuman mati, bukan hanya untuk manusia, tapi juga
untuk binatang yang membunuh manusia (Dr J.A. Drossaart Bentfort, Tijdschrift voor
Strafrecht 1940, Deep I p 308-309).
Dalam sejarah, ada dua kasus pidana mati terbesar yang juga penuh kontroversi. Pertama,
menimpa Socrates yang dihukum mati sekitar tahun 400 sebelum Masehi. Dia dianggap
menyesatkan kaum muda karena mengajari mereka berfilsafat (berasal dari "filosofein",
berarti mencintai kebenaran) sehingga terhindar dari kedangkalan berpikir. Tapi Socrates
justru dituduh memurtadkan banyak orang muda oleh pengadilan para sofis, dan dijatuhi
hukuman mati. Meski dibujuk untuk melarikan diri, Socrates tetap memilih meminum racun.
Tubuh Socrates mati oleh racun itu, tapi anehnya, pemikiran-pemikirannya terus hidup
hingga kini.
Yang kedua, kasus pidana mati yang menimpa Yesus, yang dicatat oleh Tacitus, sejarawan

sekuler pada era Romawi. Yesus dihukum mati dengan disalib. Hukuman salib adalah
hukuman hina. Yesus sebagai orang Yahudi justru disalib oleh bangsanya sendiri, dengan
mengambil tangan penguasa Romawi. Sayangnya, sepanjang 2.000 tahun ini, salib justru
banyak dipakai untuk membunuh, bahkan menghukum mati (zaman inkuisisi).
Tapi gereja menyadari kekeliruannya sehingga dalam Konsili Vatikan II kembali
mengajarkan kecintaan kepada kehidupan dengan melarang hukuman mati. Tidak
mengherankan, Konferensi Wali Gereja Indonesia paling lantang menentang hukuman mati,
termasuk untuk kelima terdakwa kasus narkoba. Padahal Majelis Ulama Indonesia justru
setuju atas hukuman itu.
Dan, gara-gara eksekusi atas warganya, Brasil dan Belanda menarik dubesnya dari Jakarta.
Kejaksaan pun minta negara lain menghormati hukum Indonesia. Memang, seiring dengan
nilai-nilai HAM, banyak negara sudah menghapus hukuman mati. Bahkan sudah ada Hari
Penghapusan Hukuman Mati setiap 10 Oktober (sejak 2007). Namun pro-kontra hukuman
mati akan terus hidup.

Ulah Migran di Negeri Voltaire


Jum'at, 23 Januari 2015
Aboeprijadi Santoso, wartawan di Amsterdam

Penjaga pompa bensin asal Aljazair di Desa Dumartin, dekat Bandara Charles de Gaulle, itu
ogah diwawancarai koran Le Parisien. "Aku tak peduli ulah mereka," ujarnya tentang tiga
teroris yang membantai sepuluh redaktur dan dua agen polisi pada mingguan satire Charlie
Hebdo. Lalu, dengan nada keras, dia mengumpat: "Dua belas mati?! Anda tahu berapa ribu
orang mati setiap hari di Libya, berapa ratus ribu di Suriah, dan entah berapa lagi di tempat
lain."
Ungkapan itu bak sepotong cermin dari sebuah gambar besar. Paris juga ibu kota dari sebuah
imperium dengan tangan-tangan kuasa yang ikut bermain di berbagai pergolakan di Timur
Tengah dan Afrika utara. Nasib Palestina dan Gaza, aniaya ala Abu Ghraib, dan--yang
terbaru--lautan pengungsi Suriah dan Libya menjadi simbol-simbol tragedi kekinian yang
berkontras tajam dengan kejayaan peradaban masa silam. Kontras-kontras yang dihayati
seperti itulah yang, menurut sejarawan Karen Armstrong, mengendap dalam sanubari dan
melatarbelakangi ulah kekerasan kelompok-kelompok muslim radikal--seperti juga di
kalangan migran di Eropa.
Di atas semua itu, Aljazair merupakan pengalaman pasca-kolonial tersendiri. Di Prancis
mereka merupakan warisan dari perang pembebasan pada 1950-an dan kemelut politik pascakolonial yang traumatik. Bukan kebetulan, empat dari lima pelaku teror di Paris itu, termasuk
seorang perempuan yang lolos, adalah asal Aljazair. Kaum Aljir-Prancis inilah bagian terbesar
(5 juta) dari migran muslim terbesar (6 juta dari 60 juta penduduk Prancis) di Eropa.
Tujuh tahun silam, sosiolog Prancis, Olliver Roy--yang saya tulis di kolom ini (Tempo, 7
April 2008)--mencari latar belakang rangkaian teror di Eropa pada proses akulturasi migran
yang gagal. Kini, krisis Suriah dan Irak menjadi pukulan balik, memusnahkan harapan yang
tersisa pada "Musim Semi Arab", menyulut api baru di Afrika Utara dan Tengah, serta
mengakibatkan dua juta pengungsi tumpah-ruah di seluruh kawasan. Dalam kurun hanya dua
tahun, semua itu memperkenalkan sebuah fenomena baru: Eropa yang "merapat" ke kancah
pergolakan membuat penguasa Eropa pusing dan masalah integrasi migran jadi kedaluwarsa.
Ratusan dari mereka memilih menjadi mujahidin--dalam istilah Barat: jihadist--, yang hilir-

mudik dari Eropa lewat Turki menuju ajang perang di Alepo, Suriah Utara, serta ladang
minyak Kurdi dan Irak. Eropa dengan demikian menyediakan sumber daya baru yang
menciptakan kekuatan politik sejak para migran muslim radikal menukar kegalauan mereka
selaku minoritas dalam penghidupan yang marginal di Eropa, dengan komitmen juang dan
aksi untuk kelompok-kelompok Al-Qaidah, Al-Nusra atau demi cita-cita dari suatu
konglomerat politik yang mereka namakan "Khilafah ISIS" (Negara Islam Suriah dan
Levant). Paling sedikit 900-an sukarelawan-cum-mujahidin dari Jerman, Belanda, Belgia,
Inggris, dan Prancis telah terjun ke medan perang. Sebagian kembali, sebagian tewas di sana.
Keempat pelaku teror di Paris itu pun semuanya terlibat persiapan dan infrastruktur "misi"
tersebut.
Walhasil, kelompok migran itu tak lagi terbenam dan terhina di satu dunia, melainkan bangkit
serentak di dua dunia. Apa boleh buat, selaku minoritas besar, mereka tak terwakili di parpol,
di parlemen, maupun melalui media massa Prancis. Tapi mereka menyimpan kepedulian di
kedua dunia mereka. Mirip kakak-adik Tsarnaev yang mencium sikon Chechnia dan
Dagestan sebelum mengguncang maraton di Boston, Amerika Serikat, dua tahun silam,
Kouachi bersaudara di Paris itu pun bukan serigala-serigala liar yang bergerak sorangan
(lone wolves), melainkan bagian dari suatu keterlibatan berjarak-jauh (long-distance
engagement) yang intens. Boleh jadi, mereka bukan bagian dari gerakan sektarian dan
ekstremis yang sama. Namun, meski dibesarkan di Eropa, keterlibatan berjarak itu
"membebaskan" mereka dari kemarginalan di bawah ketiak Republik Prancis.
Mingguan Charlie Hebdo, yang hidup dengan satire, mengolok-olok penguasa, politikus, dan
setiap figur otoritas, termasuk paus, nabi, dan siapa pun yang diperlakukan "sakral" berkat
otoritasnya, menjadi sasaran. Bagi anak-cucu Voltaire dan Emile Zola, kemerdekaan itu tak
bisa ditawar-tawar--sekalipun asas yang sakral bagi yang satu bisa melahirkan provokasi bagi
yang lain, meski itu pun tak selalu (dan tak perlu) bermakna penghinaan. Tragisnya, benturan
antara kartunis yang berdalih kebebasan berekspresi dan mereka yang membajak nama
agama itu menjadi niscaya ketika kedua pihak berimajinasi tentang sebuah sosok simbolik
yang sama, "Mahomet", yang sesungguhnya tak seorang pun tahu seperti apa wujud
sebenarnya. Dengan kata lain, benturan itu tak perlu terjadi karena dia sebenarnya terjadi atas
dasar ilusi belaka.
Dunia tak serta-merta menyamakan ulah para teroris itu dengan "Islam" dan waspada bahwa
parade "kebebasan berbicara" itu menyimpan banyak hipokrisi. Hipokrisi dari seruan "Je Suis
Charlie" (Saya Charlie) di Paris, tapi membiarkan teror negara, menindas demokrasi dan
kemerdekaan berbicara di negeri sendiri, hingga hipokrisi yang mengabaikan tangan-tangan
mereka yang memainkan intervensi politik dan bisnis senjata di kawasan-kawasan Timur
Tengah dan Afrika, yang pada gilirannya turut menyulut bara di Paris.

Memilih Dirjen Pajak Baru


Jum'at, 23 Januari 2015
Chandra Budi, bekerja di Ditjen Pajak, alumnus Pascasarjana IPB

Hampir sebulan, otoritas pajak Indonesia--Direktorat Jenderal Pajak--tidak memiliki orang


nomor satu yang definitif. Setelah pensiunnya Fuad Rahmany pada akhir Desember 2014,
praktis Ditjen Pajak hanya dipimpin seorang pelaksana tugas.
Walaupun proses pencarian sosok Direktur Jenderal Pajak melalui seleksi terbuka telah
berakhir, Presiden Jokowi belum juga menerbitkan keputusan presiden tentang pengangkatan
Dirjen Pajak yang baru. Padahal Panitia Seleksi Dirjen Pajak telah menyerahkan empat nama
kandidat kepada Presiden Jokowi sejak beberapa hari yang lalu. Lambatnya proses ini
membuat publik mereka-reka, siapa yang akan diangkat oleh Presiden Jokowi sebagai Dirjen
Pajak yang baru nanti. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi.
Sebenarnya, kalau Presiden Jokowi percaya pada sistem seleksi terbuka, penentuan nama
Dirjen Pajak baru tidaklah sulit. Apalagi, proses seleksi terbuka Dirjen Pajak sudah didesain
sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Pansel setidaknya telah menguji kompetensi, integritas, dan visi semua calon yang mendaftar.
Keterlibatan aktif PPATK dan KPK dalam seleksi ini seharusnya menjadi nilai tambah
kualitas kandidat yang dihasilkan. Tak ketinggalan, media massa dan pegiat LSM pun turut
aktif mengawal proses seleksi ini. Jadi, sepatutnya tidak diperlukan waktu lama bagi Tim
Penilai Akhir (TPA) dan Presiden Jokowi untuk memilih satu nama dari kandidat yang
disodorkan Menteri Keuangan tersebut sebagai Dirjen Pajak yang baru.
Dari empat kandidat hasil seleksi terbuka, tiga pria dan satu wanita, semuanya pasti memiliki
karakteristik masing-masing. Ibarat menu yang disajikan, Presiden Jokowi tinggal memilih
menu mana yang sesuai dengan visi beliau untuk membangun negeri ini. Cara mudah,
Presiden Jokowi dapat memilih kandidat dengan skor kumulatif hasil seleksi tertinggi.
Tentunya, dapat saja kandidat yang terpilih memiliki skor yang paling tinggi namun minim
pengalaman lapangan, tidak pernah menjadi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak, misalnya.
Cara ini sangat adil tapi cukup riskan karena laju gerak Dirjen Pajak yang baru nantinya akan
sedikit lambat. Dirjen Pajak yang baru memerlukan waktu untuk adaptasi dan mempelajari

kondisi lapangan. Pengalaman manajerial di lapangan tentunya tidak ada di buku-buku teori
manajemen mana pun.
Kalau Presiden Jokowi memilih kandidat Dirjen Pajak baru dengan pertimbangan lebih
kepada pengalamannya, menu yang disediakan juga telah tersedia. Dari tujuh kandidat yang
lolos dan diumumkan resmi oleh Pansel, ada beberapa orang yang pernah dan/atau masih
menjabat Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak. Tentunya, beberapa dari mereka ini diyakini
masuk daftar pendek empat kandidat Dirjen Pajak yang telah ada di tangan Presiden Jokowi.
Dengan bekal pengalaman memimpin pasukan pajak di lapangan, Dirjen Pajak baru ini
nantinya akan lebih cepat bergerak, paham kondisi lapangan, bekerja keras, dan cerdas.
Siapa pun Dirjen Pajak yang nantinya ditunjuk dan diangkat oleh Presiden Jokowi, dia
mempunyai tanggung jawab superberat. Target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp 1.300
triliun atau naik 44 persen dari realisasi pajak tahun 2014 tidak boleh gagal lagi-sebagaimana terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Siklus Kekerasan di Papua


Jum'at, 23 Januari 2015
Amiruddin al-Rahab, analis sosial-politik Papua

Di Paniai, menjelang Natal 2014, empat nyawa warga melayang karena ditembak. Belum lagi
ditemukan pelaku penembakan itu, pada awal 2015 kembali terjadi penembakan di Deyai,
dekat Paniai. Kali ini, seorang polisi korbannya.
Siklus kekerasan yang tak kunjung usai di Papua bermula dari aksi kelompok-kelompok
bersenjata yang menyerang atau menghadang secara mendadak anggota TNI atau polisi.
Merebut senjata adalah tujuan penyerangan-penyerangan ini. Menurut data Polda Papua, pada
2014 saja ada 20 pucuk senjata polisi yang berhasil direbut oleh kelompok-kelompok
bersenjata di berbagai lokasi.
Ketika pengejaran dilakukan terhadap kelompok-kelompok itu, warga kerap mendapat
perlakuan yang kurang enak, bahkan cenderung kasar. Muncullah aksi balasan yang
dilancarkan secara acak dan vigilante oleh oknum kelompok bersenjata--polisi dan TNI
sering menyebutnya unsur TPN/OPM--dengan menyergap anggota TNI atau polisi yang
lengah.
Dari aksi-aksi kekerasan itu, ketika korbannya warga biasa, maka opini mengenai
pelanggaran HAM segera pula berkembang. Pemerintah dan aktor keamanan langsung
menjadi pihak tertuduh. Perhatian dunia pada Papua itu pada gilirannya membuat aktor-aktor
keamanan di Papua dan pemerintah jengah serta marah. Sepanjang 2012-2014 terjadi lebih
dari 40 kasus kekerasan bersenjata dengan hampir lebih dari 50 orang korban jiwa di Papua,
baik aparat maupun warga.
Sepertinya perlu evaluasi mendalam tentang kinerja aktor-aktor keamanan di Papua. Ketika
Presiden menetapkan pendekatan kesejahteraan terhadap Papua, diperlukan doktrin baru
pertahanan dan keamanan dalam kerangka pendekatan kesejahteraan itu. Jika Kodam baru
dibentuk, menurut saya doktrin baru belum ada. Kalau cara memandang, menganalisis, dan
bertindak dalam menghadapi aktor-aktor politik dan kelompok bersenjata di Papua juga tidak
ada yang baru, siklus kekerasan pun akan selalu terjadi.
Evaluasi juga diperlukan di tataran operasi. Pangdam dan Kapolda menyampaikan bahwa

kekuatan-kekuatan personel dan persenjataan serta pimpinan kelompok bersenjata di Papua


telah dikenali. Namun, tahun berganti tahun, kelompok itu bukannya susut, melainkan justru
menguat dengan persenjataan yang kian baik. Artinya, dalam tataran operasi, seperti terjadi
keragu-raguan dalam bertindak di satu sisi, di lain sisi seakan tak berdaya. Ini akan
menihilkan capaian-capaian positif pemerintah di Papua, dan menaikkan moril kelompok
perlawanan bersenjata.
Evaluasi juga perlu di tataran komando dan pengendalian. Diperlukan keterpaduan komando
dan pengendalian dalam menangani gangguan bersenjata di Papua. Mengingat Papua dalam
kondisi tertib sipil, komando dan pengendali pengamanan Papua haruslah Polri. TNI dan
unsur intelijen lainnya berperan membantu ketika dibutuhkan. Kejelasan komando dan
pengendalian ini akan meminimalkan aktor yang main sendiri-sendiri. Jika ada anggota Polri
atau TNI yang bersalah kepada warga, penegakan hukum juga dilakukan seterbuka mungkin.
Untuk ini, Polri, TNI, dan BIN harus duduk bersama.
Berlanjutnya kekerasan bersenjata di Papua adalah residu dari permasalahan politik yang
belum tuntas. Mengevaluasi kinerja aktor-aktor keamanan adalah satu langkah untuk
meminimalkan kekerasan, langkah yang lain adalah dibutuhkan kejelasan kebijakan politik
yang baru dari Presiden Jokowi dalam menghadapi dinamika politik Papua. Semoga.

Kamu, Anda, dan Jangkar


Sabtu, 24 Januari 2015
Antyo Rentjoko, bekas narablog (@pamantyo)

Dear BOLT!ers, pembelian paket sukses. Setiap saat kamu bisa," demikian isi e-mail
otomatis dari Bolt! (ya, bertanda seru). Lihatlah cara menyebutkan nama pelanggan dan cara
menyapa konsumen dengan "kamu".
Ihwal sebutan untuk pelanggan ada dua tilikan. Pertama: penulisan ejaan "BOLT!ers" adalah
upaya pengukuhan jenama (brand) melalui teks. Perihal eksklamasi dalam Bolt!, itu seperti
yang Yahoo! Inc tempuh akhir abad lalu dan khalayak pun akhirnya tak menganggap aneh.
Jenama eksklamatoris itu juga serupa nama rubrik dalam majalah Jakarta Jakarta medio
1980-an: "Klik!".
Kedua: penggunaan "BOLT!ers" (= konsumen Bolt!) memang impersonal sekaligus sok
akrab dan sok komunal, namun juga aman: mengurangi kekikukan memanggil nama
pelanggan.
Bolt! tak perlu pakai "Bapak Dian" maupun "Sdr. Dian". Mesin e-mail tak perlu info dari
basis data ihwal jenis kelamin pelanggan. Dengan basis data, kalau ada "Yth. Bapak Dian"
pasti untuk pria. Tapi misalkan pembeli pulsa adalah seorang remaja pria 15 tahun, sapaan
"bapak" tak lazim. Gaya formal lama bahasa Inggris memang memungkinkan guru SD
menyapa murid pria "mister", tapi hal itu tak lumrah dalam bahasa Indonesia.
Ketika orang Indonesia mengenal toko daring (online) asing medio 1990-an, sapaan dalam email yang cuma "Dear Dian" bisa ditenggang. Lebih semanak (friendly) padahal menjangkar.
Eh, Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah memuat lema "jangkar" sebagai verba serapan
Jawa untuk "memanggil seseorang dengan nama kecilnya saja".
Kini bisnis daring kian marak. Bagaimana perusahaan menyapa pelanggan via teks? Mesin
penyebar tagihan dan nawala (newsletter) kartu kredit CIMB Niaga memakai "Bapak Dian".
Telkomsel dan Mizan Store masih meniru surat edaran zaman stensil: "Bapak/Ibu Dian"--ada
garis miring, seolah coretlah yang tak sesuai. DeMajors.com, label musik, malah pakai "Sdr/i
Dian". Kalau Indonetwork.co.id sejak dulu arkais: "Tn. Dian" (Tuan Dian).

Lain lagi FirstMedia, langsung menjangkar "Kepada Dian". Mesin-mesin toko lain, seperti
Grazera.com, Kutukutubuku.com, Demajors.com, dan Bukalapak.com, juga menjangkar-diawali dengan "hi", "dear", atau "hello", dan berlaku untuk e-mail berbahasa Indonesia.
Adapun Elevenia.co.id formal dan kaku: "Kepada Yth. Pelanggan Dian". Dari sisi
kebahasaan hal itu membingungkan. Apa bedanya "pelanggan Dian" dan "pelanggan
Elevenia"? Apakah Dian itu toko sehingga punya pelanggan?
Adapun e-mail notifikasi KlikBCA dan Internet Banking Mandiri tak perlu menyapa nama
nasabah. Hemat karakter. Tiada risiko keliru sapa.
Tentang panggilan "kamu"? Bolt! kadang berkamu, kadang ber-Anda. Umumnya bisnis
daring yang mengarah kaum belia memang kerap meng-kamu-kan pelanggan--setidaknya
dalam tajuk e-mail. Misalnya Tees.co.id, Lamido.co.id, VipPlaza.com, Dinomarket.com, dan
Groupon.co.id. Semua konsumen dianggap sebaya, karib, atau lebih muda.
Dari rasa bahasa, kamu dan Anda itu berbeda. Megawati dalam dua kali pidato tanpa teks
pernah menyebutkan cara Surya Paloh, yang dipanggilnya Abang, dalam menyapa dirinya:
kamu.

Cicak Versus Buaya, Lagi


Sabtu, 24 Januari 2015
Hifdzil Alim, Peneliti di PUKAT FH UGM

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat serangan. Kata serangan ini tak
menggunakan tanda kutip. Artinya, serangan dalam arti yang sebenarnya. Tanpa basa-basi,
Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menangkap Bambang Widjojanto, pemimpin KPK,
sesaat setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, Jumat pagi (23/1/2015).
Padahal, belum berselang lama, sudah ada serangan dari Mabes Polri. Bukan satu, tapi dua
sekaligus. Pra-peradilan atas kebijakan KPK diajukan karena Komisaris Jenderal Budi
Gunawan ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh
pimpinan KPK.
Sekarang sedang terjadi lagi pentas Cicak versus Buaya jilid ketiga. Dan, eskalasinya
semakin besar. Setidaknya ada tiga indikasinya. Pertama, konflik kelembagaan yang saat ini
muncul dibawa dari konflik personal secara pribadi. Sejarah sudah lama mengajarkan.
Tengok saja kasus Anggodo Widjojo (2009) dan Djoko Susilo (2012). Koran Tempo (21/1),
misalnya, memberikan informasi. Pada kasus Anggodo, dua anggota KPK waktu itu, Bibit
Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, pernah dipersangkakan dalam kasus dugaan suap Rp
5,1 miliar. Hubungan Mabes Polri dan KPK hampir retak. Dugaan kasus tersebut ternyata
abal-abal. Sebab, Presiden SBY membentuk Tim Delapan guna memeriksa kasus terkait.
Hasilnya, pimpinan KPK tak terbukti terima duit haram dari Anggodo. Kasus selesai.
Pada kasus Djoko Susilo, Mabes Polri--melalui Polda Lampung dan Metro Jaya--seperti
unjuk kekuatan ke KPK dengan dalih ingin menahan penyidiknya, Novel Baswedan. Suasana
panas. Pemicunya, KPK keukeuh memeriksa jenderal bintang dua atas dugaan korupsi
pengadaan alat simulasi kemudi roda empat dan roda dua. Berdasarkan hasil pemeriksaan,
mantan Kakorlantas itu terbukti melakukan korupsi.
Dari dua kasus spesifik tersebut, meski ada sistem (antibodi) kelembagaan antar-penegak
hukum dalam menyelesaikan konflik antar-kelembagaan, kali ini eskalasinya sangat besar.
Pernyataan Presiden pun tak memberi ketenangan. Hanya normatif belaka. Konflik yang
dipicu urusan personal tak boleh dibiarkan menghancurkan langkah pemberantasan korupsi.

Kedua, serangan ini kelihatannya buntut dari adonan politik. Bagaimana bisa? Hal ini dimulai
dari langkah Presiden Jokowi menyodorkan nama Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai
calon tunggal Kapolri ke Komisi III DPR, lalu KPK menetapkannya sebagai tersangka.
Namun, DPR tetap mengafirmasi mantan Kapolda Bali itu. Terakhir, Presiden menerbitkan
keputusan untuk menunda pelantikan--bukan mencabut--calon Kapolri.
Jika dicermati dengan saksama, semua alur di atas--kecuali penetapan tersangka--adalah alur
politik. Ditambah lagi dengan ancaman DPR yang ingin menginterpelasi Presiden bila gagal
melantik Budi Gunawan. Semua tampak seperti adonan politik. Drama Cicak versus Buaya
saat ini lebih besar karena mengikutsertakan kekuasaan politik di dalamnya. Tak hanya
urusan hukum seperti drama dua dan empat tahun lalu.
Ketiga, seperti terdapat friksi dalam tubuh Mabes Polri. Sempat muncul isu soal keberadaan
mereka yang dianggap "pengkhianat" dalam tubuh Trunojoyo. Kemudian, muncul isu
tandingan bahwa yang menuduh "pengkhianat" itu adalah pengkhianat sebenarnya. Beberapa
aib seakan membuka jendela dalam tubuh Polri bahwa sedang terjadi friksi yang sangat kuat
di antara para jenderal. Ditambah dengan mutasi jenderal yang terkesan sangat mendadak,
keadaan yang kurang harmonis semakin terasa.
Suasana tak bahagia dalam tubuh Mabes Polri dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk
sekaligus memberi kode bahwa pilihan mengusik kekuasaan mahal harganya. Dengan
menangkap Bambang Widjojanto, pada bagian ini, pesannya samar mengarah ke kejelasan.
Pihak eksternal sekelas KPK saja bisa dihantam, apalagi internal, apalagi hanya
perseorangan. Di samping itu, ada rasa politik dalam penangkapan komisioner KPK itu.
Tiga hal di atas menunjukkan bahwa potensi tumbuhnya benih Cicak versus Buaya kali ini
sangat dahsyat. Benih ini tak bisa dibiarkan terlalu lama. Gerakan publik pemberantasan
korupsi masih sangat kuat untuk mengubur lagi benih terkutuk itu. Lihat saja, rakyat
berbondong-bondong datang ke Jalan Rasuna Said, berdiri di belakang pemberantasan
korupsi. Mereka mengecam langkah keliru polisi dalam menangkap Bambang Widjojanto.
Tidak hanya di Jakarta, di daerah seperti di Yogyakarta, rakyat tak tinggal diam. Rakyat
melawan kriminalisasi yang ditujukan ke pemberantasan korupsi.
Terlepas dari itu, rakyat tetap berhak memiliki asa untuk mendapatkan penegak hukum,
khususnya polisi, yang jujur dan berintegritas. Jenderal Hoegeng Iman Santoso mengajarkan,
"Polisi adalah polisi, bukan politisi." Polisi perlu tahu tentang politik, tapi tak harus ber(main)
politik.

Selamatkan KPK
Sabtu, 24 Januari 2015
Bambang Arianto, Peneliti Bulaksumur Empat

Penangkapan terhadap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang


Widjojanto, oleh aparat Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri menjadi tanda tanya
besar bagi publik. Apa gerangan yang sedang terjadi? Mengapa penangkapan itu terjadi
secara kebetulan bersama kisruh antara KPK dan Polri? Disadari bila penangkapan terhadap
Bambang Widjojanto berpangkal pada bola panas Jokowi, yang menetapkan Budi Gunawan
sebagai calon tunggal Kapolri--karena terindikasi menerima hadiah dan gratifikasi.
Selepas kegaduhan itu, publik dibuat miris ketika Bambang Widjojanto dinilai memberi
kesaksian palsu atas kasus pilkada Kabupaten Kotawaringin Barat beberapa tahun silam.
Padahal, menurut pernyataan Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar, perkara kasus saksi
palsu yang diajukan rivalnya saat pemilihan kepala daerah 2010, yakni pasangan SugiantoEko Soemarno, sudah dicabut pelaporannya di Badan Reserse Kriminal. Mengenai saksi
palsu, dia mengungkapkan, dari 68 saksi yang diajukan ke sidang sengketa pilkada di
Mahkamah Konstitusi, tidak ada satu pun yang diminta memberi keterangan palsu, baik oleh
dirinya maupun kuasa hukum (Banjarmasin Post, 23/1).
Identifikasi ini semakin menegaskan bahwa penangkapan tersebut murni merupakan aksi
balas dendam korps Polri terhadap institusi KPK. Apalagi, sebelumnya juga tengah beredar
foto mesra Ketua KPK Abraham Samad. Hal ini diperparah oleh lemahnya dukungan politik,
baik dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun dari parlemen, apalagi partai politik. Tentu
saja hal ini membuat penyebab sindrom korupsi semakin menggurita. Padahal, dalam konteks
ini, dukungan politik akan mampu menjadi faktor kunci dalam upaya memutus rantai
sindrom amoralitas. Bahkan, bagi negara-negara yang praktek korupsinya sangat masif,
dukungan politik, terutama dari kelompok kritis dan parlemen, menjadi modal utama.
Hadirnya lembaga antirasuah seperti KPK setidaknya dapat menjadi ujung tombak terpenting
dalam pemberantasan sindrom korupsi, dengan catatan lembaga terkait tetap berada dalam
koridor independensi, bersih, dan tentunya imparsial. Namun, dengan banyaknya pihak yang
mencoba menyerang KPK, terbuktilah bahwa institusi ini tengah berada dalam situasi
darurat. Padahal, mengutip Jon ST. Quah dalam Curbing Corruption in Asian Countries
(2013), perjuangan lembaga antirasuah seperti KPK inilah yang mampu memberantas korupsi

di Singapura dan Hong Kong.


Presiden Jokowi harus segera mengambil langkah taktis untuk penyelamatan KPK. Langkah
taktis ini akan menyelamatkan KPK dari kehancuran, meskipun Jokowi masih memiliki
ketergantungan yang sangat tinggi pada Megawati dan kaum oligarki. Apalagi masih lekang
dalam ingatan publik betapa Presiden Jokowi kemenangannya dirayakan dengan kirab
gempita oleh rakyat. Meskipun demikian, mengapa kali ini Jokowi gagal memberikan
dukungan politik kepada KPK dalam mewujudkan demokrasi tanpa korupsi?
Walhasil, publik juga dituntut untuk tampil all-out memberi dukungan politik bagi upaya
penyelamatan KPK. Seperti melalui tagar #SaveKPK. Ke depan, jika Jokowi tidak segera
mengambil langkah penyelamatan buat KPK, bisa jadi kepercayaan publik terhadap Jokowi
akan semakin tergerus--dan bukan tidak mungkin keinginan agar Jokowi mundur dari jabatan
Presiden akan terus bergema di republik ini.