Anda di halaman 1dari 13

MATERI BU TITIN ANTICIPATORY GUIDANCE, TOILET

TRAINING DAN DAMPAK HOSPITALISASI


PENGERTIAN
Anticipatory guidance merupakan petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui terlebih dahulu
agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya secara bijaksana, sehingga anak
dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan
sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan
usia anak

ANTICIPATORY GUIDANCE TIAP TAHAPAN USIA


1. Anticipatory guidance pada masa bayi (0-12 bulan)
a. Usia 6 (enam) bulan pertama
Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan bayinya,
terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan pada masa setelah
melahirkan
Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang
mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi
mengekspresikan apa yang diinginkan melalui tangisan
Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja dengan
adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama
Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan orang
tuanya
Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi
lingkungan
Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan
perkembangan bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati respon
social anak misalnya dengan tertawa/tersenyum
Menyipkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan kesehatan
bagi bayi misalnya imunisasi
Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan padat
b. Usia 6 (enam) bulan kedua
Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang belum
dikenal (stranger anxiety)
Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan ayah dan
ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama dengan anak
tersebut

Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan


semakin meningkatnya mobilitas (pergerakan si bayi)
Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak mata
daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak berhasil,
gunakan 1 pukulan pada kaki atau tangannya
Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian ketika
bayinya berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis
Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan motorik
dan rasa ingin tahu bayi meningkat
Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat dengan
pengganti ibu yang menyusui
Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan
Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya

2. Anticipatory guidance pada masa toddler (1-3 tahun)


a. Toilet training
Merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia toddler
Latihan untuk bekemih dan defekasi adalah tugas anak usia toddler
Pada tahap usia toddler , kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol
rasa ingin beerkemih dan sfingter ani untuk mengontrol rasa ingin
defekasi mulai berkembang
Wong (2000) mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan anak
mampu berjalan, kedua sfingter tersebut semakin mampu mengontrol rasa
ingin berkemih dan defekasi
Sensasi untuki defekasi lebih besar dirasakan oleh anak, dan kemampuan
untuk mengkomunikasikannya lebih dahulu dicapai oleh anak, sedangkan
kemampuan untuk mengontrol berkemih biasanya baru akan tercapai
sampai usia 4-5 tahun
Toilet training pada anak merupakan usaha untuk melatih anak agar
mampu mengontrol dalm melakukan buang air kecil dan buang air besar.
Tolet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak: 18 bulan-2
tahun.
Keberhasilan toilet training tergantung pada: Persiapan fisik, Persiapan
psikologis, Persiapan intelektual
Toilet training sebagai sex education
Dalam proses toilet training diharapkan terjadi pengaturan impuls atau
rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air besar atau buang
air kecil.

Defekasi merupakan suatu alat pemuasan untuk melepaskan ketegangan


toilet training
usaha penundaan pemuasan
Suksesnya toilet training tergantung kesiapan yng ada pada diri anak &
keluarga, seperti kesiapan fisik, dimana kemampuan anak secara fisik
sudah kuat dan mampu
Indikator anak kesiapan fisik: anak mampu duduk atau berdiri
Indikator kesiapan psikologis: adanya rasa nyman sehingga anak mampu
mengotrol dan konsentrasi dalam merangsang BAK dan BAB
Indiklator kesiapan intelektual: anak paham arti BAK atau BAB
memudahkan pengontrolan anak dapat mengetahui kapan saatnya harus
BAB & BAK
anak memiliki kemandirian dalam mengontrol BAB &
BAK
Pelaksanaan toilet training sejak dini
melatih respon terhadap
kemampuan ubtuk BAK/BAB

b. Cara toilet training pada anak:


Teknik lisan
Cara:pemberian instruksi pada anak dengan kata-kata sebelum & setelah
BAK/BAB
Teknik ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan
rangsangan untuk BAK/BAB
mengapa???
persiapan psikologis anak semakin matang
mampu dengan baik
BAB/BAK
Teknik modeling
Cara: meniru untuk buang air besar atau memberikan contoh
Dampak jelek cara ini apabila contoh yang diberikan salah
kebiasaan
yang salah pada anak
Indikasi Kesiapan Orang Tua Untuk Toilet Training
Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih/defekasi
Ada keinginan untuk meluangkan waktu yang diperlukan untuk latihan
berkemih atau defekasi
Tidak mengalami konflik atau stres kluarga yang berarti
Kesiapan anak :
1) Fisik
Usia 18 24 bulan, Pengontrolan saraf volunter spinkter ani dan
uretra
Mampu untuk tetap kering (menahan BAK) selama 2 jam.
Perkembangan ketrampilan motorik kasar : duduk, jongkok,
berjalan.

Perkembangan ketrampilan motorik halus : mampu membuka celana


dan berpakaian.
2) Psikologis
Mengenai adanya dorongan untuk miksi dan defikasi.
Kemampuan berkomunikasi : verbal dan non verbal
mengindikasikan dorongan untuk miksi atau defikasi.
Kemampuan kognitif : meniru dengan tepat tingkah laku dan
mengikuti pengarahan.
Mengekspresikan keinginan untuk menyenangkan orang tua.
Mampu duduk atau jongkok diatas toilet 5 10 menit tanpa cerewet
atau turun.
Mengikuti tingkat kesiapan anak.
Keinginan untuk meluangkan waktu : perlu kesabaran dan
pengertian.
Tidak ada stress keluarga atau perubahan seperti : perceraian, pindah
rumah, mendapat adik baru atau akan berlibur.
Memberi pujian jika anak berhasil.
3) Kesiapan mental
Mengenal rasa yang dating
Komunikasi secara verbal dan nonverbal
Ketrampilan kognitif untuk mengikuti perintah atau mengikuti orang
lain
4) Persaingan dengan saudara kandung (sibling rivalry)
Keluarga mendapat bayi baru : dapat menimbulkan krisis bagi toddler.
Toddler tidak membenci atau marah pada bayi, tetapi karena :
Perubahan merasa ada saingan.
Perhatian ibu terbagi.
Kebiasaan rutin menjadi berubah menyebabkan anak bertingkahlaku
invantil
Perlu persiapan toddler untuk menerima kehadiran saudara
kandungnya mulai sejak bayi dalam kandungan.
Petunjuk bimbingan usia toddler
1) Petunjuk bimbingan usia 12-18 bulan
Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkah laku dari
toddler, terutama negativistic dan ritualisme. Negativistic adalah perilaku yang
bertentangan dengan kebiasaaan.

Mengkaji kebiasaan makan sekarang dan menganjurkan penyapihan dari botol


secara bertahap, serta meningkatkan pemasukan makanan padat.
Menyediakan makanan kecil/selingan diantara 2 waktu makan dengan rasa yang
disukai, serta adanya jadwal waktu makan yang rutin.
Mengkaji pola tidur malam, terutama kebiasaan minum malam memakai botol
yang merupakan penyebab utama gigi berlubang dan perilaku menunda yang
memperlambat jam tidur.
Menyiapakan orang tua untuk mencegah bahaya yang potensial terjadi di rumah,
seperti kecelakaan kendaraan bermotor dan bahaya/kecelakaan jatuh. Berikan
saran yang sesuai untuk pengamanan di rumah.
Mendiskusikan kebutuhan akan adanya ketentuan-ketentuan atau aturan yang
disertai dengan disiplin yang lembut dan cara-cara yang mengatasi negativistic
dan tempertantrum, serta menekankan pada keuntungan yang positif dari disiplin
yang tepat atau sesuai.
Mendiskusikan mainan baru yang dapat mengembangkan motorik halus, motorik
kasar, bahasa, pengetahuan dan keterampilan social.

2) Petunjuk bimbingan usia 18-24 bulan


Menekankan pentingnya persahabatan sebaya dalam bermain.
Menggali kebutuhan untuk menyiapan kehadiran saudara kandung/adiknya dan
menekankan tentang pentingnya persiapan anak terhadap kehadiran bayi baru.
Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap gigi dan tipe kebersihan di
rumah, serta kebiasaan makan yang merupakan factor penyebab gigi berlubang
dan menyarankan pentingnya penambahan fluoride untuk memperkuat
pertumbuhan tulang.
Mendiskusikan metode disiplin yang ada dan keaktifannya serta menggali
perasaan orang tua mengenai negativistic anaknya dengan menekankan bahwa
negativistic adalah aspek penting dari perkembangan self assertion
(penonjolan/tntutan diri) dan independensi dan bukan merupakan tanda
kemanjaan.
Mendiskusikan tanda-tanda kesiapan untuk toilet training dan menekankan
pentingnya menunggu kesiapan fisik dan psikologi anak.
Mendiskusikan berkembangnya rasa takut, seperti yang timbul ketika ada
kegelapan atau suara keras, dan kebiasaan seperti membawa selimut atau
mengisap jari. Menekankan bahwa hal ini normal dan merupakan perilaku yang
bersifat sementara.
Menyiapkan orang tua akan adanya tanda-tanda regresi ketika anak mengalami
stress.
Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah sesaat dengan mudah dari orang
tuanya di bawah asuhan keluarga.

Memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengekspresikan perasaan


lelah, frustasi dan jengkel dalam merawat balita.
Menunjukkan harapan akan adanya perubahan pada anak di tahun mendatang
seperti lingkup perhatian anak yang semakin luas dan berkurangnya negativistic
serta adanya perhatian yang menyenangkan orang lain.
3) Petunjuk bimbingan usia 24-36 bulan
Mendiskusikan pentingnya kebutuhan anak untuk meniru dan dilibatkan dalam
kegiatan.
Mendiskusikan kegiatan yang dilakukan dalam toilet training terutama dengan
harapan-harapan dan sikap yang realistis dalam menghadapi keadaan-keadaan,
seperti mengompol dan buang air besar di celana.
Menekankan keunikan dari proses berpikir anak toddler, terutama melalui bahasa
yang ia gunakan, pemahamannya terhadap waktu, dan ketidakmampuannya untuk
melihat kejadian dari perspektif yang lain.
Menekankan disiplin dengan tetap terstruktur secara benar dan nyata, ajukan alas
an yang rasional, serta hindari kebingungan dan salah pengertian.
Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau pusat penitipan anak pada siang
hari (play group).

ANTICIPATORY GUIDANCE PADA MASA PRESCHOOL (3-5 TAHUN)


Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun kesulitannya jauh lebih
sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pencegahan kecelakaan dipusatkan pada
pengamatan lingkungan terdekat, dan kurang menekankan pada alas an-alasannya. Sekarang
proteksi pagar, penutup stop kontak disertai dengan penjelasan secara verbal dengan alas an
yang tepat dan dapat dimengerti.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua maupun anak.
Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam melakukan penyesuaian terhadap
perubahan ini, terutama bagi Ibu yang tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk
taman kanak-kanak, maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga, seperti
keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier. Bimbingan terhadap orang tua
pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5 tahun.
1. Usia 3 tahun
Menyiapkan orang tua untu meningkatkan minat anak terhadap hubungan
yang luas
Menganjurkan orang tua untuk mendaftarkan anak ke taman kanak-kanak.
Menekankan pentignya batas-batas/tata cara/peraturan-peraturan.
Menyiapakan orang tua untu mengantisipasi tingkah laku yang berlebihan
sehingga dapat menurunkan tension/ketegangan.

Menganjurkan ornga tua untuk menawarkan kepada anaknya alternativealternatif pilihan ketika anak dalam keadaan bimbang.
Memberikan gambaran mengenai perubahan pada usia 3.5 tahun katika anak
berkurang koordinasi motorik dan emosiaonalnya, merasa tidak aman serta
menunjukkan emosi dan perkembangan tingkah laku yang ekstrim seperti
gagap.
Menyiapkan orang tua untuk mengekspetasi tuntutan-tuntutan akan perhatian
ekstra dari anak, yang merupakan refleksi dari emosi tidak aman dan
ketakutan akan kehilangan cinta.
Mengingatkan kepada orang tua bahwa keseimbangan pada usia 3 tahun akan
berubah ke tingkah laku agresif di luar batas pada usia 4 tahun.
Mengantisipasi selera makan yang menjadi tetap dengan pemilihan makanan
yang lebih luas.
2. Usia 4 tahun
Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk aktifitas
motorik dan bahasa yang mengejutkan
Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap kekuasaan
orang tua.
Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu
seksual pada anak.
Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
Mendiskusikan disiplin
Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun, dimana
anak mengikuti kata hatinya dalam ketinggian bicaranya (bedakan dengan
kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan yang membutuhkan
imajinasi.
Menyarankan pelajaran berenang.
Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak laki-laki
biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan dengan ayahnya.
Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah dengan orang tuanya.
Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan
menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari mimpi
yang menakutkan.
3. Usia 5 tahun
Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang relative
lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya
Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.

Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.

PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN PADA ANAK


Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada anak.
Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan.
Orang tua bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku yang
menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang mengancam
keamanan anak.
Factor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan
Jenis kelamin
biasanya
lebih
banyak
pada
laki-laki
karena
lebih
aktif
di
rumah.
Usia pada kemampuan fisik dan kognitif, semakin besar akan semakin tahu mana yang bahaya.
Lingkungan
Adanya penjaga atau pengasuh.
Cara Pencegahan :
1.
Pemahaman tingkat perkembangan dan tingkahlaku anak.
2.
Kualitas asuhan meningkat.
3.
Lingkungan aman.
Bahaya umum yang harus diperhatikan ortu:
1.
Lantai rumah yang basah atau licin
2.
Rumah dengan tangga yang curam 7 tidak ada pegangan
3.
Alat makan dari bahan pecah belah
4.
Penyimpanan zat berbahaya yang terbuka & dapat dijangkau anak
5.
Adanya sumur yang terbuka
6.
Adanya parit di depan/samping rumah
7.
Rumah yang letaknya di pinggir jalan raya
8.
Kompor/alat memasak yang dijangkau anak
9.
Kabel listrik yang berantakan
10. Stop kontak yang tidak tertutup
Upaya yang dapat dilakukan ortu di rumah:
1.
Benda tajam disimpan di tempat yang aman
2.
Benda kecil disimpan dalam laci yang tertutup
3.
Zat yang berbahaya disimpan dalam almari terkunci
4.
Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
5.
Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
6.
Apabila ada tangga, pasang pintu di bagian bawah atau atas tangga

7.
8.
9.
10.
11.

Sekring listrik harus tertutup


Apabila ada parit, tutup dengan papan atau semen
Bagi yang rumahnya di tepi jalan raya, sebaiknya da pintu pagar yang tertutup rapat
Apabila ada sumur, tutup sehingga tidak bisa dibuka anak
Bila bayi tidur, berikan p[engaman di pinggir tempat tidur

Pencegahan Terhadap Kecelakaan ;


1. Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.
c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.
2. Masa Toddler
Jenis kecelakaan :
Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
Tenggelam.
Keracunan atau terbakar.
Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
Aspirasi dan asfiksia
Pencegahan :
Awasi jika dekat sumber air.
Ajarkan berenang.
Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
Cek air mandi sebelum dipakai.
Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
Jangan biarkan kabel listrik menggantung mudah ditarik.
Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.
3. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya : obyek panas, benda
tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil bola/layangan,
menyeberang jalan.
Pencegahan ada 2 cara ;
Mengontrol lingkungan.

Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.


Jauhkan korek api dari jangkauan.
Mengamankan tempat-tempat yang secara potensial dapat membahayakan anak.
Mendidik anak :
o Cara menyeberang jalan.
o Arti rambu-rambu lalulintas
o Cara mengendarai peran orang tua = perlu belajar mengontrolsepeda
yang aman lingkungan.
4. Usia Sekolah
a. Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
b. Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
c. Perawat mengajarkan keamanan:
o Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
o Aturan yang aman dalam berenang
o Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat
listrik.
o Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.
5. Remaja
a. Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada kepala.
b. Kecelakaan karena olah raga.
Pencegahan:
a. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada negosiasi
antara orang tua dengan remaja.
b. Menggunakan alat pengaman yang sesuai.
c. Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.
Pengkajian masalah toilet training
Pengkajian fisik
o Perhatikan kemampuan motorik kasar: berjalan, duduk meloncat
o Perhatikan motorik halus: mampu melepas celana sendiri
o Lancar tidaknya kemampuan BAB ditunjang keaiapan fisik
o Yang perlu dikaji: pola buang air basar yang sudah teratur, sudah tidak ngompol setelah
tidur dll
Pengkajian psikologis
o Mengkaji gambaran psikologis pada anak ketika akan BAK/BAB (tidak rewel, tidak
menangis, gembira, keinginan BAB/BAK secara mandiri, anak sabar dan sudah mau
tinggal di toilet selama 5-10 menit tanpa rewel, keingintahuan kebiasaan toilet training
pada orang dewasa, ekspresi untuk menyenangkan orang tuanya)

Pengkajian Intelektual
o Meliputi kemampuan anak untuk mengerti BAK/BAB, kemampuan mengkomunikasikan
BAB/BAK, anak menyadari timbulnya BAK/BAB, mempunyai kemampuan kognitif
untuk meniru perilaku yang tepat seprti BAK/BAB pada tempatnya serta etika dalam
BAK dan BAB
o Hal yang perlu diperhatikan selama toilet training:
1) Hindari pemakaian popok sekali pakai atau diaper dimana anak akan merasa aman
2) Ajari anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan dengan BAB
3) Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun
tidur, cuci tangan, cuci kaki dll
4) Jangan marah jika anak gagal dalam melakukan toilet training
Dampak toilet training
o Dampak paling umum dalam kegagalan toilet training seperti adanya perlakuan atau
aturan yang ketat bagi orang tua kepada anaknyayang dapt mengganggu kepribadian anak
atau cenderung bersifat retentif dimana anak cenderung bersikap keras kepala bahkan
kikir. Hal ini dapat dilakukan orang tua apabila sering memarhi anak pada saat buang air
besar atau kecil, atau melarang anak saat berpergian.
o Bila orang tua santai dalam memberikan aturan dalm toilet training maka anak akan dapat
mengalami kepribadian akspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka
membuat gara-gara, emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Pendidikan kesehatan untuk orang tua
o Upaya pencegahan kecelakaan pada anak orang tua harus diberikan bimbingan dan
antisipasi
pendidikan kesehatan
o Prinsip pendidikan kesehatan:
1. Diberikan berdasrkan kebutuhan spesifik klien
2. Pendidikan kesehatan yang diberikan harus bersifat menyeluruh
3. Hanya terjadi interaksi timbal balik antara perawat dan orang tua dan bukan hanya
perawat sefihak yang aktif memberikan materi pendidikan kesehatan
4. Pendidikan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan usia klien yang
menerimanya
5. Proses pendidikan kesdehatan harus memperhatikan prinsip belajar dan mengajar
6. Perubahan perilaku pada orang tua menjadi tujuan utama pendidikan kesehatan yang
diberikan

A. Dampak Hospitalisasi Pada Anak


Hospitalisasi adalah perasaan yang sering muncul pada anak, yaitu cemas, marah,
sedih, dan rasa bersalah (Wong :2000, cit Supartini : 2004)
Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang tua mengalami kecemasan yang
tinggi saat perawatan anaknya di rumah sakit walaupun beberapa orang tua juga di
laporkan tidak mengalaminya karena perawatan anak dirasakan dapat mengatasi
permasalahanya (Hallstrom dan Elander, 1997, Brewis, E, 1995, cit Supartini : 2004)
Dari beberapa pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa hospitalisasi
merupakan suatu proses yang karena suatu ontrol yang berencana atau darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah.
a. Masa bayi (0 sampai 1 tahun)
Masalah yang utama terjadi adalah karena dampak dari perpisahan dengan
orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang.
Pada anak usia lebih dari enam bulan terjadi stranger anxiety atau cemas apabila
behadapan dengan orang yang tidak dikenalnya dan cemas karena perpisahan.
Reaksi yang sering muncul pada anak usia ini adalah menangis, marah, dan
banyak melakukan gerakan sebagai sikap stranger anxiety.
b. Masa Todler (2 sampai 3 tahun)
Anak usia toddler bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumber
stresnya. Sumber ontro yang utama adalah cemas akibat perpisahan.Respon
perilaku anak sesuai dengan tahapannya, yaitu tahap protes, putus asa, dan
pengingkaran (denial).
c. Masa Prasekolah (3 sampai 6 tahun)
Perawatan anak di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari
lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan,
yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap
perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah adalah dengan menolak
makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif
terhadap petugas kesehatan. Perawatan di rumah sakit juga membuat anak
kehilangan kontrol terhadap dirinya, mengharuskan adanya pembatasan aktivitas
anak sehingga anak merasa kehilangan kekuatan diri, sering kali dipersepsikan
sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu, bersalah, atau takut.

Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak mengganggap tindakan


dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya.
d. Masa Sekolah (6 sampai 12 tahun)
Perawatan anak di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dengan
lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga dan terutama kelompok sosialnya
dan menimbulkan kecemasan. Kehilangan ontrol berdampak pada perubahan
peran dalam keluarga, anak kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa
melakukan kegiatan bermain atau pergaulan ontro, perasaan takut mati, dan
adanya kelemahan fisik. Anak usia sekolah sudah mampu mengontrol
perilakunya jika merasa nyeri, yaitu dengan menggigit bibir dan/atau menggigit
dan memegang sesuatu dengan erat.
e. Masa Remaja (12 sampai 18 tahun)
Anak usia remaja mempresepsikan

perawatan

di

rumah

sakit

menyebabkan timbulnya perasaan cemas karena harus berpisah dengan teman


sebayanya. Perbatasan aktivitas di rumah sakit membuat anak kehilangan ontrol
terhadap dirinya dan menjadi bergantung pada keluarga atau petugas kesehatan di
rumah sakit.Reaksi yang sering muncul terhadap pembatasan aktivitas ini adalah
dengan menolak perawatan atau tindakan yang dilakukan padanya atau anak
tidak mau kooperatif dengan petugas kesehatan atau menarik diri dari keluarga,
pasien dan pertugas kesehatan (isolasi).(Supartini, 2004)