Anda di halaman 1dari 28

3.

LANDASAN TEORI

3.1. Lumpur Pemboran


Untuk mengangkat serbuk bor ke permukaan pada mulanya hanya digunakan air
saja. Kemudian sejalan dengan perkembangan teknologi pemboran maka lumpur
mulai dikembangkan dengan bahan dasar bentonite dan air, kemudian
ditambahkan beberapa jenis additive untuk memberikan sifat fisik dan kimia yang
diperlukan. Jenis lumpur yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik
formasi yang dibor untuk menjaga kestabilan lubang bor (hole stability), juga sifat
lumpur harus sesuai dengan karakteristik dan kondisi formasi yang dibor agar
fungsi lumpur dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain lumpur pemboran
merupakan faktor yang penting dalam pelaksanaan pemboran, kecepatan
pemboran, efisiensi pemboran, keselamatan dan biaya pemboran sangat
tergantung dari lumpur pemboran.
3.1. 1 . Fungsi Lumpur Pemboran
3.1.1.1. Mendinginkan dan Melumasi Pahat dan Rangkaian Pipa Bor
Karena adanya gesekan akibat putaran pahat dan rangkaian pipa bor maka akan
timbul panas. Makin lama panas yang timbul akibat putaran pahat dan rangkaian
pipa bor akan semakin tinggi, sehingga panas tersebut harus dibuang. Untuk
mengurangi panas itu temyata tidak cukup dengan konduksi formasi. Lumpur
pemboran akan menyerap panas yang terjadi serta sekaligus melumasi pahat dan
rangkaian pipa bor. Pelumasan akan mengurasi gesekan dan juga mengurangi
timbulnya panas.
Laju perpindahan panas dapat dinyatakan dengan persamaan 9):
Q = A Kc (Ts - Tf) ............................................................................................ (3.1)
Keterangan :
A = Luas permukaan, ft2

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-1

Kc = Konduktan konversi thermal


Tf = Temperatur fluida lumpur, F
Ts = Temperatur rangkaian pipa bor, bit F
Q = Laju aliran panas, kal/detik.
3.1.1.2. Mengangkat Serbuk Bor Kepermukaan
Serbuk bor (cutting) cenderung untuk tidak terbawa oleh arus karena beratnya
sendiri sehingga terjadi penumpukan cutting pada dasar lubang bor.
Jadi pengangkatan cutting tergantung pada kecepatan fluida diannulus serta
kemampuan menahan dari fluida dimana kedua hal tersebut tergantung pada
densitas dan viskositas fluida. Bila kecepatan lumpur terlalu rendah maka cutting
juga cenderung untuk tidak terbawa kepermukaan sehingga cutting akan
mengumpul pada dasar lubang bor. Untuk mencegah hal ini maka dijaga agar
kecepatan fluida di annulus lebih besar dari slip velocity dari cutting.
3.1.1.3. Membentuk Wall Cake Pada Formasi Yang Permeabel
kemampuan untuk membersih kan serbuk bor ini didapat karena adanya tenaga
hidrolic (hydrolic horse power). Satu disain program hidrolic yang tepat akan
memberikan satu flow rate yang cukup untuk meciptakan satu aliran yang dapat
mengangkat cutting yang sedang dib or. Kalau dasar lubang tidak bersih maka
akan terjadi pemboran ulang terdapat serbuk bor tersebut yang akan
mengakibatkan buruk terhadap kecepatan pemboran (rate of penetration )
Pada formasi yang permeabel, fraksi air dari lumpur mengalir masuk kedalam
formasi sehingga akibatnya lumpur akan meninggalkan padatan dan membentuk
dinding pada lubang bor. Wall cake ini apabila terlalu tebal akan mengakibatkan
sempitnya lubang bor. Sedangkan bila lapisan cake ini tipis berarti ia impermeable
sehingga ia mampu menahan aliran filtrat yang masuk kemudian. Pembentuk Wall
cake ini dapat diperbaiki dengan ; (1) menambah bentonite (2) menambah zat-zat
kimia, seperti starch, CMC dsb.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-2

3.1.1.4. Mengontrol Tekanan Formasi


Mengetahui tekanan formasi adalah sangat penting untuk menghindari kick atau
loss. Umumny. pressure gradient dari formasi adalah 0,435 psi/ft kedalam dan
maximum 0.54 psi/ft kedalam. Pada tekanan normal air dan padatan (lumpur bor
dengan campuran air dan bentonit) operasi pemboran sudah cukup untuk menahan
tekanan formasi ini, untuk tekanan yang lebih kecil dari normal (sub-normal) SG
lumpur harus dikecilkan agar tidak terjadi hilang lumpur kedalam lapisan.
Bila tekanan formasi terlalu tinggi maka lumpur diberi bahan pemberat misalnya
seperti barit.
Untuk menghitung tekanan formasi dapat dilihat pada persamaan berikut :
Tekanan formasi (Ph) = 0.052 (h x w2 ) ........................................................... (3.2)
Keterangan :
h = Selang kedalaman ( m )
w2 = Berat jenis lumpur
3.1.1.5. Pensuspensi Cutting dan Bahan Pemberat Selama Sirkulasi Berhenti
Karena sifat tixotropik dari lumpur (gel strength) maka ia dapat menahan partikelpartikel dari cutting sewaktu sirkulasi berhenti. Bila partikel fluida dan cutting
turun kebawah maka dapat mengakibatkan terjepitnya pipa bor. Gel strength yang
besar sukar untuk memisahkan cutting dipermukaan. Padahal pasir harus
dipisahkan karena ia abrasive terhadap pompa, sambungan-sambungan dan pahat
dan peralatan bor lainnya.
3.1.1.6. Membantu Rangkaian Pipa Bor Atau Casing
Lumpur bor membantu mensupport (mengurangi) berat rangkaian pipa bor atau
casing yang merupakan beban bagi peralatan dan struktur permukaan (menara).
Besamya support yang diberikan oleh lumpur tergantung pada densitas serta
volume lumpur yang didesak oleh DP, DC atau casing (hukum Archimedes).

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-3

3.1.1.7. Melindungi Rangkaian Pipa Bor dan Casing Dari Korosi


Rangkaian pipa bor, casing dan peralatan sirkulasi dapat mengalami korosi
sehingga memperpendek umur pakainya. Gas-gas seperti Oxigen, karbon oksida,
dan H2S merupakan gas-gas yang sangat korosif. Disamping itu Ph yang asam
penyebab korosi. Untuk itu pemboran yang akan menembus formasi yang
mengandung gas-gas tersebut lumpur bor harus diberi scavenger dan Ph
dipertahankan basa.
Pengkaratan adalah mrrupakan kerusakan logam disebab kan oleh reaksi kimia
oleh electrokimia dengan lingkungannya. Penyebab utama korosi dalam
pemboran minyak adalah oksigen, karbon dioksida dan hydrogen sulfida (H2S)
yang terdapat pada Lumpur. Terdapatnya gas pada Lumpur pemboran akan
mempercepat proses pengkaratan.Untuk menghindari hal hal tersebut diatas,
kedalam Lumpur dapat dimasukkan bahan bahan pencegah korosi dan atau di
korosi dan atau diusahakan untuk mencegah pencemaran pencemaran menjadi
bersipat kondusif.
3.1.1.8. Media Untuk Transmisi Tenaga Hidrolik Dari Permukaan ke Pahat
Pada pemboran memakai turbo drill (pada waktu membelokkan lubang) maka
lumpur bor meneruskan tenaga pompa dari permukaan ke dasar lubang untuk
memutar pahat.
3.1.1.9. Mencegah Terjadinya Caving dan Kontaminasi Pada Formasi
Terjadinya kontaminasi pada formasi akan mempersulit pemboran serta
menyebabkan kerusakan formasi. Untuk ini digunakan lumpur yang tidak bereaksi
dengan batuan formasi. Terutama untuk formasi yang mempunyai permeabilitas
100- 150 md. Selain caving dapat terjadi pada formasi shale yang mudah
menghidrasi.
Adanya formasi yang berlapis-lapis memperbesar kemungkinan hal ini terjadi,
yang rnengakibatkan formasi menjadi rontok. Untuk menghindari hal ini gel
strength dan viskositas harus tinggi sedang filtrasi diusahakan rendah serta
bersifat inhibit,

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-4

Tekanan hidrostaik juga memberikan tekanan terhadap dinding lubang bor


sehingga dapat menahan dinding agar tidak runtuh. Pada daerah daerah tertentu
diperlukan suatu sipat dari Lumpur pemboran dimana air tapisan harus di
usahakan sekecil kecilnya untuk menjaga kemungkinan runtuhnya lapisan shale
kedalam lubang bor.
3.1.1.10. Media Untuk Mendapatkan Informasi-lnformasi Yang Ditembus
Lumpur bor membawa cutting serta fluida formasi ke permukaan, dan akan
membawa informasi mengenai informasi yang ditembus (jenis batuan, kandungan
gas, adanya minyak, dsb). Selain itu lumpur juga sebagai media untuk
mendapatkan informasi dengan alat-alat electric logging.
3.2 Sifat-Sifat lumpur
Semua fungsi lumpur bor dapat berjalan dengan baik, jika sifat-sifat lumpur dijaga
dan selalu diamati secara kontiniu dalam setiap tahap operasi pemboran. Sifatsifat penting lumpur pemboran adalah sebagai berikut:
3.2.1. Berat jenis dan gradient lumpur (SG, ppg, psi/fit)
berat jenis lumpur sangat penting dalam mengontrol tekanan formasi, mencegah
runtuhnya formasi, hilangnya aliran dan mengontrol semburan liar.
Padatan yang digunakan untuk menaikan berat jenis lumpur adalah Barite.
Umumnya berat jenis lumpur dinyatakan dalam Spesifik Gravity (SG), yaitu
perbandingan berat jenis lumpur bor dengan berat jenis air tawar, menurut
persamaan sebagai berikut:
SG = / w.(3.3)
Keterangan : SG

= Spesifik Gravity
= Berat jenis

w = Berat jenis air tawar, (8,33 ppg ; 1 gr /cc atau 1,0 kg/liter)
Alat untuk mengukur berat jenis lumpur bor disebut mud balance.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-5

Gambar 3.1. Mud Balance

3.2.2. Viscometer
Viscometer adalah menunjukan sifat kekentalan relatif dan memberikan gambaran
mengenai pengangkatan serpih atau serbuk bor. Viscometer dipakai untuk
mengukur plastik viscosity, yield point dan Gel Strength.
Pada prinsipnya, lumpur yang akan diukur kekentalannya dimasukkan diantara
dua silinder, untuk mendapatkan suatu tetapan bahwa perhitungan besarnya
plastic viscosity dan yield point didapat dari hasil pembacaan pada lempengan
pengukur dengan kecepatan putaran rotor 600 rpm dan 300 rpm.

Gambar 3.2 Viscometer

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-6

3.2.3. Gelstrength
Gelstrength merupakan gaya agar yang diakibatkan gaya tarik-menarik antar
partikel dalam lumpur pemboran, apabila didiamkan (dalam kondisi statis)
diwaktu lumpur tidak bersikulasi, lumpur harus mempunyai gelstrength yang
dapat menahan cutting dan material pemberat lumpur agar jangan turun kedasar
lubang. Tetapi gelstrength yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerja pompa
terlalu berat untuk memulai sirkulasi kembali.
3.2.4. Air Tapisan
Indikasi jumlah cairan yang masuk keformasi tergantung pada temperatur,
tekanan, padatan, dan permeabilitas formasi. Formasi harus dikontrol dengan
baik, tidak boleh terlalu kecil dan tidak boleh terlalu besar karena akan
menyebabkan kesulitan dalam pemboran. Pada kondisi temperatur yang berbeda,
air tapisan juga akan mempunyai harga yang berbeda, sesuai dengan persamaan
berikut :

1
F2 = F1 2 0,5 .(3.4)
Keterangan : F1 = air tapisan pada kondisi T1, cm3
F2 = air tapisan pada kondisi T2, cm3
1 viskositas air tapisan pada kondisi T1, cps
1 viskositas air tapisan pada kondisi T2, cps

a. Api Standart
Pengukuran air tapisan menurut standart api adalah dilakukan dengan tekanan 100
psi dan pada suhu ruangan. Air tapisan pada sifat-sifat pembentukan dinding
lumpur dilakukan dengan suatu alat yang disebut filter press.
Filter press ini terdiri dari sebuah tabung slindris tempat lumpur yang akan diukur
garis tengah dalam 3,0 inchi (76,2 mm) yang tingginya 2,5 inchi (64). Tabung ini
terbuat dari bahan yang tahan dari larutan alkali dan dilengkapi dengan regulator
tekanan untuk memberikan dan mengeluarkan tekanan.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-7

b. HTHP (High Temperatur High Pressure)


HTHP ini lebih ditekankan untuk mengetahui sifat-sifat lumpur dasar lubang
dimana suhu dan tekananya tinggi seperti pada Api filter press, HTHP filter fress
ini terdiri dari sebuah tabung untuk tempat lumpur yang akan diperiksa.
3.2.5. Kandungan Pasir (Sand Content)
Kandungan pasir dapat diperkirakan jumlahnya dengan menggunakan peralatan
sand screen set. Peralatan ini terdiri dari saringan 200 mesh, garis tengah 2,5 inchi
(63,5 mm), corong bisa dipasangkan pada saringan tersebut dan gelas ukuran
tersebut diberi tanda beberapa lumpur yang harus diukur sehingga hasilnya dapat
dibaca langsung beberapa persen pasir yang terkandung.
3.2.6. Emulsi Tester
Pengetasan eletrikal stability menunjukan kesetabilan emulsi air didalam minyak.
Pengetesan ini hanya dikerjakan dalam pemeriksaan lumpur minyak. Emulsi tester
terdiri dari suatu sirkuit listrik dengan menggunakan tenaga AC atau DC yang
dihubungkan dalam suatu eletroda. Tegangan (Voltage) yang dibebankan pada
eletroda dapat dinaikkan atau diperbesar sampai jumlah arus listrik yang telah
diperhitungkan sebelumnya.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-8

Gambar 3.3 Marsh Funnel

Gambar 3.4. Filter Fress

3.2.7. PH
PH adalah suatu ukuran yang menyatakan derajat kebebasan dari suatu cairan . PH
dari lumpur perlu diketahui bahwa kita tidak menghendaki lumpur yang bersifat
asam (korosif). Derajat keasaman (acidity) atau kebebasan (alkalinity) dari suatu
larutan, umumnya ditentukan dengan nilai PH, PH= - log H +. lumpur bor yang
bersifat asam (PH 7) akan menyebabkan korosi dan gumpalan dari lubanglubang bor. Apabila lumpur terlampau basa, akan menaikan viscositas dan gel
streangh dari lumpur. Selain itu lumpur bor sendiri sudah mengalami flokulasi
pada PH lumpur yang digunakan harus berkisar antara PH 8-11.
Pengukuran PH lumpur dilakukan dengan mencelupkan PH paper ( kertas lakmus)
dalam air tapisan. Perubahan warna pada kertas lakmus menunjukan harga PHnya setelah dibandingkan dengan warna standard yang ada.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-9

3.3. Sistem Lumpur Pemboran


Secara garis besar,lumpur pemboran dapat digolongkan menjadi tiga golongan
yaitu :
-

Lumpur Air (water base mud)

Lumpur minyak (oil base mud)

Lumpur gas (pneumatik)

Penggolongan ini didasarkan pada continuos phasa atau media dasarnya misalnya
yang disebut lumpur yang media dasarnya adalah air, demikian juga adalah yang
dibuat dengan dasarnya minyak.
3.3.1. Lumpur Air
Bahwa dalam kegiatan pemboran, yang paling banyak dijumpai adalah lumpur air.
Karena air boleh dikatakan terdapat dimana-mana. Yang disebut dengan lumpur
air adalah lumpur dengan media dasar air, baik air tawarmaupun air laut.
Perbedaan antara lumpur air tawar dan air laut kecuali media dasar yang dipakai
adalah perbedaan jumlah pemakaian bahan-bahan pembutan lumpur yang
ditambahkan. Pada lumpur air laut jumlah pemakain bahan-bahan pembuatan
akan lebih banyak dibandingkan pada lumpur air tawar, karena diketahui bahwa
dalam air laut sudah terkandung bermacam-macam garam yang sifatnya
mengurangi keaktifan bahan-bahan pembuat lumpur, seperti halnya yang
dilakukan di lapangan adalah digunakan lumpur air pada awal pemboran dimana
kedalaman yang akan dibor mulai dari dasar sampai kedalaman 0 - 1350 meter.
Dan seterusnya pada kedalaman tersebut digunakan lumpur air.
3.3.2. Lumpur Minyak
Oil base mud adalah suatu lumpur yang terdiri dari minyak serta dicampur dengan
zat kimia lainnya, diman komposisi oil base mud adalah minyak 75 85 %, air 5
15 %, zat aditive 5 10%.
Lumpur minyak dibagi dua golongan yaitu :
- True Oil Mud
- Invert Emulsion

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-10

- True oil mud


Yang disebabkan oil true mud adalah lumpur yang terdiri dari 80% atau lebih
minyak
- Invert Emulsion
Dimana pembentukan emulsi terbaik ini adalah kerena pada mulanya pada lumpur
air, minyak diemulsikan kedalam air.
3.3.3. Lumpur Gas (Pneumatik)
Lumpur pneumatik ini jarang dipergunakan hanya dipakai untuk daerah-daerah
yang amat sensitif terhadap tekanan hydrostatic. Jadi untuk daerah-daerah yang
membutuhkan berat jenis yang sangat rendah.
Macam-macam lumpur tersebut adalah :
- Lumpur Udara
- Lumpur Gas
- Lumpur Buih
Pada kedua lumpur diatas, udara atau gas dipompakan kedalam lubang untuk
membersihkan serbuk bor dari suatu kompresor. Sedangkan lumpur buih, dapat
dibuat dari air atau minyak dengan menambahkan bahan-bahan pembuih sehingga
bisa dicapai lumpur dengan berat jenis rendah.
3.4. Macam/Type Formasi
Macam formasi yang akan dibor sebaiknya diketahui lebih duhulu untuk
menemtukan macam lumpur yang akan diigunakan misalnya, untuk lapisan shale
yan sangat sensitif

terhadap air dan dapat ter-dispersi (terhambur) kedalam

lumpur sehingga mengakibatkan tingginya kandungan padatan di dalam lumpur


dan

menyebabkan

kekentalan

lumpur

bertambah.

Hal

tersebut

dapat

mengakibatkan kelajuan pemboran akan berkurang. Pada lapisan-lapisan shale


yang lebih tua akan rapuh dan runtuh kedalam lubang menyebabkan penyempitan
pada lubang bor. Untuk melindungi lumpur dari kejadian tersebut dapt dipakai
lumpur minyak (oil base mud).
Shale adalah batuan sedimen yang terjadi akibat endapan-andapan lempung
(clay).

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-11

Adapun jenis-jenis shale adalah:


- Sandy Shale
Lapiasan shale ini menandung pasir yang mempunyai sifat kelulusan air
(Permeabel) yang besar sehingga kemungkinan Water Loss besar pula. Yang
termasuk Shale type ini adalah batuan pasir lempungan.
- Bentonitic Shale
Shale type ini mempunyai kemampuan hidrasi (mengambang) menyerupai
Bentonite Hidrasi ini akan menyebabkan lapisan shale termuai kedalam lubang
bor. Yang termasuk Shale type ini adalah bantuan lempung pasir dan batuan
lempung.
3.4.1. Anniline Number
Anniline Numbe adalah angka yang menunjukkan kemampuan minyak melarutkan
karet. Makin tinggi annikine number suatu minyak, maka kemampuan melarutkan
karet semakin kecil. Dalam operasi minyak pomboran dan gas bumi, peralatan
yang digunakan sebagian ada yang terbuat dari karet seperti delivery hose,
packer dan lain-lain.
3.4.2. Flash Point Yang Tinggi
Flash point adalah angka yang menunjukan dimana minyak mudah terbakar.
Makin rendah flash point suatu minyak makin cepat terjadi pembakaran.
3.4.3. Four Point Yang Rendah
Four Point adalah angka yang menunjukan pada temparatur beberapa minyak
akan membeku. Dalam pemboran water base mud yang digunakan sebagai
lumpur tidak diinginkan lumpur yang cepat membeku.
3.4.4. Plastic Viscosity
plastic viscosity water base mud dipengaruhi oleh :

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-12

- Besarnya solid (padatan) yang terdapat pada lumpur.


- Besarnya viscositas yang digunakan dalam water base mud.
- Temperatur
Untuk membentuk plastic viscosity ditambah geltone air dan padatan lainnya.
Untuk mengontrol plastic viscosity lumpur, harus digunakan saringan yang baik
untuk menyaring kemudian membuang serbuk bor yang bercampur dengan
lumpur semasa lumpur masih bersirkulasi.
3.4.5. Funnel Viscosity
Umumnya pembuatan Funnel viscosity dari oil base mud sama atau hampir sama
dengan pembuatan viscositas water base mud. Pada kondisi bawah permukaan,
funnel viscosity dipengaruhi oleh temperatur. Penurunan temperatur secara tibatiba dapat merubah keseimbangan temperatur pada lumpur.
Mempunyai rumus kimia H2O merupakan komponen utama penyusun lumpur,
walaupun digunakan oil base mud sebagai komponen dasar. Karena air digunakan
sebagai pelarut bahan campuran lumpur. Keuntungan pemakaian air, karena air
tersedia cukup banyak terdapat dipermukaan dan harganya murah. Air digunakan
hampir 60% dari volume lumpur pada suatu sisitem pemboran.
3.4.6.Peralatan Sirkulasi Lumpur
Peralatan sirkulasi lumpur (The Circulating Equipment) merupakan peralatan
peralatan yang digunakan untuk mensirkulasikan lumpur dari permukaan kedalam
lubang sumur dan kembali lagi ke permukaan. Permukaan ini mutlak harus ada
pada suatu unit pemboran. Peralatan ini khusus berpungsi untuk mensirkulasikan
lumpur. Beberapa peralatan sirkulasi yang ada.
3.4.6.1. Tangki Isap
Tangki isap (Suction pit) adalah salah satu dari beberapa tangki yang dimiliki oleh
satu unit pemboran dimana lumpur mulai di isap oleh pompa untuk disirkulasikan
kedalam sumur dan dapat ditampung kembali untuk di pelihara atau di perbaiki
sifat-sifatnya untuk selanjutnya dapat dipakai kembali. Disamping itu tangkitangki tersebut harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk menampung

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-13

volume lumpur pada saat operasi pemboran dilakukan dimana jika terjadi Lost
circulation maka tangki lumpur menyediakan tempat cadangan lumpur yang
cukup memadai.
3.4.6.2. Pompa Lumpur
Pompa

lumpur

(mud

pomps)

adalah

pompa

yang

digunakan

untuk

mensirkulasikan lumpur. Pompa ini merupakan pompa yang mempunyai


kemampuan untuk bekerja pada tekanan tinggi, pada setiap unit pemboran
umumnya dipergunakan dua pompa lumpur. Ada kalanya kedua pompa itu
dipergunakan bersama - sama tetapi ada kalanya hanya dipergunakan sebuah saja
sedang kan yang lain dipergunakan sebagai cadangan.
3.4.6.3. Pipa Saluran Tegak Dan Pipa Karet Kelly
Dari saluran tekan, lumpur yang mengalir melalui pipa saluran tegak (stand
pipe)dan pipa karet Kelly (rotary hoese) sebelum ke rangkayan pipa bor. Pipa
saluran tegak ini dipasang dan di clamp secara vertical di menara bor. Pada ujung
atas pipa tengah ini dihubung kan atau dipasangkan salah satu ujung dari pipa
karet Kelly, sedang ujung lainnya di hubungkan ke swivel yang digantungkan
pada alat penggantung (hook) yang berada pada block penggerak (traveling block)
yang merupakan bagiaan teratas dari rangkaian pipa bor.
3.4.6.4. Alat Pengaduk
Alat pengaduk lumpur disebut juga dengan aqitator yang berpungsi sebagai :
- untuk mencegah bahan bahan pemberat lumpur agar tidak mengendap.
- untuk mencegah naik nya gel strength pada lumpur
- untuk mengurangi gelembung gelembung gas yang terdapat pada lumpur
- Untuk meningkatkan mutu pencampuran yang baik
3.4.6.5. Mud Hopper

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-14

Material lumpur yang di masukkan ke dalam tangki lumpur terlebih dahulu di


masukkan kedalam suatu alat yang disebut mud hopper kemudian di alirkan ke
dalam melalui pipa pipa tangki.
3.5. Pola Aliran
Ada dua jenis pola aliran di dalam lumpur pemboran yaitu laminar dan aliran
turbulent. Aliran fluida yang di pompakan ke dalam sumur pemboran akan
mempunyai bentuk aliran fluida sebagai berikut ( lihat gambar 3.5.)
Aliran laminar adalah aliran yang teratur. Partikel-partikel aliran lumpur yang
mengalir sejajar dengan dinding pipa. Aliran laminar diharapkan terjadi di
annulus (lihat Gambar 3.6) Aliran turbulent adalah aliran yang tidak beraturan.

Gambar 3.5. Bentuk aliran fluida

Untuk menentukan jenis aliran lumpur dapat di lihat dari harga :


-

Bilangan Reynold

Kecepatan aliran kritis

Untuk menentukan aliran turbulent atau laminar digunakan Reynold Number9) :

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-15

Nre

15,47 dv

(3.5)

Keterangan :
Nre = Reynold Number
V = Kecepatan aliran, fpm
D

= Diameter Pipa, in

= Viscositas, cps

Gambar 3.6. sirkulasi normal system rotary drilling

Jika bilangan Reynold Number lebih besar dari 2000, maka jenis aliran adalah
turbulent dan sebaliknya apabila bilangan Reynold Number lebih kecil dari 2000,
maka jenis aliran adalah laminar.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-16

3.5.1. Jenis Fluida


Jenis Fluida pemboran dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
- Newtonian fluids
- Non Newtonian fluids
Perbedaan dari kedua fluida ini terletak pada variable viscositasnya yaitu
perbandingan shear stress dan shear rate. Fluida Newtonian viscositasnya tetap
terhadap perubahan shear rate sedangkan fluida Non Newtonian viscositasnya
selalu berubah viskositasnya.
3.5.2. Newtonian Fluids
Dalam dunia perminyakan viscositas didefinisakan sebagai tahanan untuk
mengalirnya suatu fluida, yaitu shear stress, SS, dengan berbanding lurus dengan
shear rate, SR 9) :
SS = kostanta x SR .(3.6)
Newtonian didefinisikan kostanta dalam persamaan 4.2. sebagai koofisien
viscositas u, jadi 9) :
SS = u SR (3.7)
Persamaan ini berlaku untuk newtonian fluid yaitu air, air garam, glyserin, tinta,
minyak silicon, madu, dan lain-lain.
Newtonian merupakan fluida yang viskositasnya hanya dipengaruhi oleh tekanan
dan temperature. Dalam hal ini perbandingan antara shear rate dan shear stress
adalah konstan yaitu sebesar viskositasnya. (Lihat Gambar 4.3) dan viskositas ini
dapat dihitung berdasarkan rumus 9)
U=

SS
(3.8)
SR

Karena satuan dari shear stress adalah dyne/cm2 atau lb/100 ft2 dan satuan shear
rate dalam sec-1, maka viskositasnya dalam dyne-sec/cm2 atau lb sec/100 ft2 . 1
poise (P) = 1 dyne-sec/cm2.
Persamaan berikut mengubah dari lb/100 ft2 menjadi dyne/cm2
5.1 x lb/100 ft2 = dyness/cm2(3.9)

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-17

SS
SS = M x Sr

100

300

600

SR.rpm

Gambar 3.7. Grafik Newtonian Fluid

3.5.3. Non Newtonian Fluids


Lumpur pemboran termasuk fluida Non Newtonian yaitu merupakan fluida yang
bersifat adanya perbandingan tetap antara shear rate dan shear stress. Fluida Non
Newtonian dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :
- Bingham Plastic Model
- Power Law Model
3.5.4. Bingham Plastic Model
Untuk menggerakkan fluida dari keadaan diam harus melewati harga minimum
Shear stress (yield point), kemudian setiap penambahan Shear stress akan
menghasilkan Shear rate yang sebanding dengan dengan viskositas plastik.
Hubungan antara Shear stress dan Shear rate adalah sebagai berikut 6)
SS = (YP) + (PV) (SR).(3.10)
Keterangan :
SS = Shear stress , rpm
SR = Shear rate, rpm
YP = Yield Point, cps

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-18

PV = Plastic Viskosity, cps


Model Bingham Plastic digambarkan secara grafik (Lihat Gambar 4.5). Bingham
plastic model didasarkan pada pengukuran dengan Fann VG meter pada 600 dan
300 rpm, dan menggambarkan hasil-hasilnya dalam skala linear. Model Bingham
Plastic yang menghasilkan Plastic viscosity (PV) dan Yield Point (YP) adalah
model paling umum dan sederhana untuk dipakai menginterpretasikan keadaaan
Lumpur dan memberikan treatment yang sesuai.
Plastic viscosity adalah tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh gesekan
antara sesama benda padat. Yield Point adalah tahanan terhadap aliran yang
disebabkan gaya tarik antara partikel- partikel di dalam lumpur bor.

F 600 F 300 lbs


Tan =
100
600 300rpm

F 600 F 300 lbs


100
300rpm

Jadi tan = PV = 300 x

ft 2

ft 2

F 600 F 300
300

PV = F 600 F 300
YP = F 300- (F 600- F 300)...(3.11)
3.5.5. Power Law Model
Walaupun PV dan YP sangat baik dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk
mengkondisi lumpur, tetapi pada Shear rate rendah Shear stress yang
digambarkan oleh Bingham Plastic sangat menyimpang dari Shear stress yang
sebenarnya. Pada Power Law Model dimana diagram SS- SR digambar dengan
skala log, Shear stress tersebut lebih mendekati angka Shear stress yang
sebenarnya.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-19

Tan =

log F 600 log F 300


F 600
log

=
log 1022 log 511
F 300

: log 2

F 600
...
F 300

Tan = 3.32 log


(3.12)
Tan = n =

log F 300 log k


log 511

F 300

n x log 511 = log

F 300

log 511n = log

F 300
F 600
Atau k =
n
n .
511
1022

k =
(3.13)

Faktor n disebut dengan Power Law indeks yang dipakai menunjukkan velocity
profiles diannulus. Makin kecil harga n, makin datar profilnya. Faktor K disebut
dengan viskositas dari Lumpur.
3.6. Kecepatan Kritis
Pola aliran fluida dalam pipa adalah uniform dan bulat seperti halnya dalam DP
dan DC, dapat ditentukan dengan membandingkan kecepatan fluida rata-rata
dengan kecepatan kritisnya. Kecepatan kritis suatu fluida adalah kecepatan
transisi dari suatu pola alir yang lain. Jika kecepatan rata-rata melewati kecepatan
kritis maka pola alirnya adalah turbulen sedang jika kecepatan rata rata kurang
dari kecepatan kritis maka pola alirannya adalah laminar. kecepatan kritis fluida
lumpur pemboran melewati DP dan DC adalah 6) :
-

Bingham Plastik

Vc =

64.68( PV 12.34( MW )(YP)( D H D P ) 2 )


( MW )( D H D P )

..

(3.14)
-

Power Law

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-20

Vc

3.878 x10 4 xk

( MW )

1
2 n

2.4
2n 1
x
x

3n
DH DP

n
2n

..

(3.15)
Keterangan :
Vc

= Critical Velocity, fpm

MW

= Mud Weight, ppg

DH

= Casing ID atau Hole diameter, in

DP

= OD dari pipa, in

PV

= plastic viscocity

YP

= yield point, lbs/100 ft2

= factor-faktordaro power law model

= Kosistensi indeks

3.6.1. Kecepatan Annulus


Kecepatan di annulus dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut6) :

AV

24.5 x GPM
2

DH D P

..

(3.16)
Keterangan :
AV

= Kecepatan Diannulus, frm

GPM

= Debit Pompa, Gpm

DH

= Diameter lubang bor

DP

= Diameter luar pipa, in

3.6.2. Pressure loss pada system sirkulasi


Pressure loss adalah kehilangan tekanan pada saat fluida mengalir. Dalam
hidrolika lumpur pemboran pressure loss merupakan tekanan yang diperlukan
untuk mensirkulasikan lumpur. Maksudnya dengan mengetahui pressure loss total
maka horse power pompa dapat ditentukan untuk menggunakan operasi

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-21

pemboran. Pressure loss total dihitung dari pressure loss pada peralatan yang
dilalui lumpur saat bersirkulasi.
Gambar peralatan yang dilalui lumpur saat bersirkulasi dapat dilihat pada gambar
4.7 berikut ini.

Gambar 3.8. Peralatan Sirkulasi Lumpur

3.7. Minyak
Lumpur dengan komposisi minyak dikembangakan untk menanggulangi problema
pada lumpur dasar air. Karena itu digunakan lumpur dasar minyak yang
mempunyai keuntungan antara lain : mempunyai sifat lubrikasi yag lebih tinggi,
dapat melepaskan rangakaian pipa yang terjepit, juga karena kerusakan lubang
bor, dapat juga disebabkan oleh pengaruh air (pada daerah serpih / lempung, maka
penggunaan oil base mud diharapkan dapat mengatasi terjadinya shale problem.
3.7.1. Komposisi Padatan
3.7.1.1. Reaktif Solid
Biasanya padatan ini dikenal sebagai clay, yaitu suatu padatan anorganik yang
berbentuk koloid. Padatan ini berasal dari serpih yang disengaja ditambahkan

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-22

untuk membentuk kekentalan dan pelicin lumpur. Seperti diketahui bahwa sifatsifat aliran dan banyaknya air tapisan sangat dipengaruhi oleh banyaknya padatan,
ukurannya dan kemampuannya menghidrat. Jenis padatan yang berasal dari clay
ini biasanya bentonite yang apabila bercampur dengan air tawar akan berbentuk
koloid. Bila sebagai bahan dasar campurannya air asin (laut), maka sebagai reaktif
solidnya adalah attapulgita dapat bereaksi dengan air tawar maupun air asin.

3.7.1.2.. Inert Solid


Yang dimaksud dengan Inert Solid adalah semua padatan yang tidak ikut bereaksi
atau terdispersi dengan bagian cairan dari lumpur pemboran, misalnya : barite,
pasir, silt, bahan penahan loss sirkulasion dan bahan-bahan yang ditambahkan
sebagai pelumas dan sebagainya.
3.7.2. Bahan Campuran Oil Base Mud
Untuk pemboran dilapangan X, digunakan bahan-bahan dasar solar serta
dicampur oleh bahan kimia seperti :
- Primery Emulsifier (Invermul)
- Secondary emulsifier (Ezmul)
- Filtrate Reduser (Duratone HT)
- Viscosifier (Geltone)
- Build Up Spaser (EZ spot)
- Conditioner (Ditrate, OMC)
- Salinity Source (Calsium Clorida)
1. Invermul
Invermul adalah campuran emulsifier yang digunakan untuk blinding up
mengikat air kedalam minyak sehingga terbentuk dan terjadi kestabilan lumpur
selama pemboran.
Invermul merupakan komponen dasar dari sistim oli base mud yang dijadikan
dasar pembuatan utama. Pengemulsian dan kestabilan lumpur tergantung dari
jumlah konsentarasi yang dipakai dari invermul.

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-23

2. EZ mul
EZ mul terdiri dari polymide surfactan dan emulsifier untuk mengemulsi air
kedalam emulsi minyak.
Dalam oil base mud EZ mul digunakan dengan invermul untuk memberikan
kestabilan lumpur.

3. Duratone HT
Duratone HT adalah zat organik yang bersifat koloid yang digunakan dalam
sistem invermul sebagai pengontrol filtrasi. Duratone HT juga membantu
mencegah terjadinya gumpalan serta menjaga kestabilan lumpur terhadap
temperatur yang tinggi.
4. Geltone II
Geltone II adalah suatu bahan campuran yang mempunyai struktur bentonite yang
dimaksudkan untuk membentuk gelstrength. Bahan ini memerlukan zat pelarut
seperti air untuk membentuk yield yang maksimum. Geltone II juga mempunyai
sistem yang tahan temperatur tinggi.
5. EZ Spot
EZ Spot adalah suatu konsentrasi yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan
spacer. Spacer adalah cairan yang digunakan pada saat akan dilakukan penggatian
lumpur water base mud ke oil base mud agar tidak terjadi kontaminasi.
6. Driltreate
Driltreate adalah cairan sulfactant yag berfungsi untuk menjaga kestabilan oil
base mud. Dalam penggunaannya, driltreate dicampur air dan minyak serta
digunakan pada konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya gelembung air
dalam lumpur. Driltreate juga berfungsi untuk menurunkan viscositas lumpur
apabila kadar padatan yang terdapat dalam lumpur terlalu banyak.
3.7.3. Cara Mencampurkan Oil Base Mud

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-24

Pada dasarnya cara mencampurnya adalah sebagai berikut.:


1. Minyak
Dimasukkan sejumlah volume minyak yang telah dihitung menurut kebutuhan
kedalam bak lumpur.
2. Komponen lain
Penambahan komponen-komponen lain, seperti Emulsifer, lime, Organophilic
Clay, Filtrate Reduser dan Lewat Hopper.
3. Air
Dicampurkan dengan sejumlah air yang telah dihitung dan yang telah
mengandug sedikit elektrolit yang diperlukan, dimana perbandingan minyak
dengan air adalah
85% : 15%.
4. Bahan Pemberat
Kaemudian dimaskkan bahan-bahan yang pemberat lumpur yang diperlukan.
Disini bahan pemberat oil base mud adalah barite.
Pengadukan dengan mud bisa dilakukan terus-menerus untuk mendapatkan emulsi
yag stabil. Setelah selesai semua pencampuran, maka oil base mud tersebut harus
diperiksa apakah sudah memenuhi sifat-sifat yang diminta. Pada umumnya cara
pemeriksaan oil base mud sama dagean lumpur air. Hanya karena lumpur minyak
adalah suatu emulsi maka diperlukan suatu bahan pemecah emulsi. Yang harus
diperhatikan adalah kestabilan emulsi, oil water ratio dan kandungan solid. Oil
water ratio dan kandungan solid akan berpengaruh terutama pada flow propeties
(Plastic Viscosity, Yield Point)
3.8. Salinity
Penggunaan sifat lumpur yang kurang sesuai dengan keadaan formasi dapat juga
menyebakan runtuhnya dinding lubang, misalnya SG lumpur perlu dinaikan untuk
dapat menahan keseimbangan tekanan formasi sehingga mencegah runtuhnya
formasi, dan menaikan viscisitas agar mampu mengakat serbuk bor. Didalam
program salinity untuk pemboran tersebut 250.000 ppm. Kadar salinity
dilapangan rata-rata 260.000 sampai 300.000 ppm kondisi diatas menunjukan

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-25

kandungan salinity masi kurang sehingga belum efektif utuk menghindari


problema. Adanya kadar salinity yang tinggi dalam larutan bulk akan membuat
lapisan ganda tersebut mengecil, sehingga memperkecil terjadinya Dispersi dan
Swelling. Tetapi bila kadar salinity kurang, maka konsentrasi kation dalam larutan
ikut berkurang, sehigga menyebabkan lapisan-lapisan ganda, partikel akan lebih
mudah terdisfusi dalam larutan yang menyebabkan dispersi.

3.9. Lifting Capacity


Lifting capacity adalah kemampuan dari suatu lumpur untuk dapat mengangkat
serbuk bor kepermukaan. Serbuk bor yang diangkut semestinya secara
keseluruhan naik kepermukaan. Pada kenyataaannya hanya sebagian saja yang
terangkut, sedangkan sisanya turun kembali kedasar sumur. Salah satu
penyebabnya adalah perbedaan ukuran lubang bor seperti ukuran casing dan
formasi yang belum dipasang selubung. Kemampuan pengangkatan dari serbuk
bor dari suatu lumpur dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Rumus lifting capasity :
L.C

AV SV
x100% ...(3.17)
AV

Keterangan : AV = Annular Velocity (fpm)


SV = Slip Velocity (fpm)
Dimana karakteristik pengangkatan serbuk bor dapat dibandingkan dengan indeks
kapasitas pengangkatan (Carryng Capacity Indeks) CCI, untuk baik atau tidaknya
kapasitas pengangkatan serbuk bor permukaan sebagai berikut :
- CCI = 50-60 %

Pengangkatan Serbuk Bor Kurang Baik

- CCI = 60-65 %

Pengangkatan Serbuk Bor sedang

- CCI = 65-70 %

Pengangkatan Serbuk Bor Baik

- CCI > 70 %

Sangat Baik

Lifting Capasity (lc) Tergantung Pada Annular Velocity, Equivalent Viscosity Dan
Slip Velosity. Ketiga parameter itu dapat dihitung dengan rumus :
3.10. Annular Velocity

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-26

Annualar Velocity digunakan untuk mengetahui laju pemompaan lumpur yang


didapat dalam aliran pipa sebanding supaya aliran laminar karena aliran turbulen
dapat menyebabkan erosi pada dinding lubang bor.
dangan rumus sebagai berikut,
24,5Q

AV = Dh 2 Dp 2 ...(3.18)
dimana : Q

= Laju pemompaan ( gpm )

Dh2 = Outside Diameter = 12, 1725 inchi dan


Inside Diameter = 13 3/8 inchi
Dp2 = Outside Diamater = 4,000 inchi dan
Inside Diameter = 4 inchi
3.11. Slip Velocity
Slip velocity merupakan kecepatan minimum dimana serbuk bor mulai terangkat
atau dalam pratek pengurangan antara kecepatan Lumpur dengan kecepatan dari
serbuk bor.
dengan rumus sebagai berikut,
SV

175( 21 Mw) 0, 667 xd

( MwxEq.Vis ) 0 ,333

(3.19)
keterangan :

MW

= Berat jenis Lumpur (ppg)

= diameter cutting

3.12. Equivalen Viscosity


Equivalen Viscosity adalah untuk mengetahui kandungan soil dan kenaikan yield
point yang berlebih dapat ditafsirkan bagus dengan membersihkan lubang dengan
perbandingan annular velocity dengan rumus sebagai berikut,
Eq. Visc =

PV 267(YP)( Dh Dp )
..............................................(3.20.)
AV

Keterangan : PV

= plastic viscosity (cps)

YP

= yieid point (lb/100 ft2)

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-27

Dh

= kapasitas casing standart API

Dp

= kapasitas drill pipe standart API

AV

= annular velocity (fpm)

Studi Pengangkatan serbuk Bor


( Cutting ) ....................................................................................
Edi Suprayetno - 99306002

3-28