Anda di halaman 1dari 10

REFRESHING

PERSALINAN NORMAL

DISUSUN OLEH :
MIRA M UMANAILO
2010730070
PEMBIMBING:
Dr. H. M. Natsir Nugroho, SP.OG

KEPANITERAAN KLINIK KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


RSIJPK
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2014

PERSALINAN NORMAL
Definisi
Partus adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam
uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Usia kehamilan yang dianggap normal
(matur / aterm) untuk melahirkan adalah berkisar 38-42 minggu. Jika partus terjadi di
usia kehamilan <38 minggu disebut preterm (prematur), sebaliknya jika partus terjadi saat
usia kehamilan >42 minggu dinamakan posterm (postmatur).
Partus immaturus kurang dari 28 minggu lebih dari 20 minggu dengan berat janin
antara 1000 500 gram.
Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil. Primigravida adalah seorang
wanita yang hamil untuk pertama kali. Para adalah seorang wanita yang pernah
melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Nullipara adalah seorang wanita yang belum
pernah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kali. Multipara atau pleuripara adalah
seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali.
Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable, berat janin dibawah
500 gram, atau tua kehamilan di bawah 20 minggu. In partu adalah seorang wanita yang
sedang salam keadaan persalinan.
Partus biasa atau partus normal atau partus spontan adalah jika bayi lahir melalui
vagina dengan letak belakang kepala, tanpa memakai alat pertolongan istimewa (forceps,
vacum) serta tidak melukai ibu dan janin, dan umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
Partus luar biasa atau partus abnormal ialah Bayi lahir melalui vagina dengan
bantuan tindakan atau alat seperti versi / ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi,
embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio cesarea.
Sebab Terjadinya Proses Persalinan
Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks.
Faktor-faktor humoral, pengaruh prostagalndin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh
saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partus mulai.

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya proses persalinan, yakni


1. Penurunan fungsi placenta diakhir usia kehamilan menyebabkan kadar estrogen
dan progesteron menurun mendadak sehingga nutrisi untuk janin dan placenta
berkurang.
2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser menjadi stimulasi
bagi kontraksi otot polos rahim.
3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin
merangsang terjadinya kontraksi.
4. Peningkatan beban/stress pada calon ibu maupun janin dan peningkatan estrogen
menyebabkan peningkatan aktivasi kortison, prostaglandin dan oksitosin menjadi
pencetus rangsangan pada proses persalinan.
Proses persalinan mengandung tiga komponen utama: Power (kontraksi teratur otot
polos rahim atau yang disebut HIS, Passage (jalan lahir) dan Passenger (janin). Agar
proses persalinan berjalan lancar, ketiga komponen tersebut harus dalam kondisi baik,
power harus teratur dan efektif sehingga bisa membuka jalan lahir serta bayi tidak terlalu
besar. Dengan begitu, partisipasi aktif ibu dalam proses melahirkan tak kalah penting.
Dorongan kuat dari ibu akan membantu bayi keluar melalui jalan lahir dengan baik.
Proses mendorong bayi keluar biasanya sangat singkat, 10 menit. Tapi adakalanya perlu
waktu antara setengah sampai satu jam. Bahkan jika terjadi komplikasi, bisa mencapai 3
jam.
Mengejan sekuat mungkin, tapi tetap seirama dengan instruksi dokter. Makin efisien
dorongan dari ibu, makin memudahkan bayi keluar. Dorongan yang panik dan tak teratur
hanya akan menghamburkan tenaga dan hanya sedikit kemajuan yang dicapai. Tarik
beberapa kali nafas dalam, sementara kontraksi terjadi. Tarik nafas sekali lagi dan tahan,
saat kontraksi mencapai puncaknya (nyeri hebat dan ada refleks untuk mengejan)
mengejanlah sekuat mungkin. Saat mengejan, lemaskan seluruh tubuh karena ketegangan
akan melawan usaha mengejan.

Posisi calon ibu saat melahirkan turut membantu lancarnya persalinan. Posisi
setengah duduk atau setengah jongkok mungkin posisi terbaik, karena posisi ini
memanfaatkan gaya berat dan menambah daya mengejan ibu.
Tanda-tanda Persalinan :
1. Timbulnya His (kontraksi) persalinan dengan sifat : nyeri melingkar dari
punggung memancar ke perut bagian depan, teratur, makin lama makin pendek
intervalnya dan makin kuat intensitasnya, kalau dibawa berjalan makin sakit serta
mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan cerviks (leher rahim).
2. Keluarnya lendir bercampur darah dari jalan lahir (show), dengan pendataran dan
pembukaan cerviks, lendir dalam kanalis servikalis keluar disertai dengan sedikit
darah.
3. Keluarnya cairan banyak dengan sekonyong-konyong dari jalan lahir, terjadi jika
ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban akan pecah saat pembukaan
lengkap atau hampir lengkap.
Berlangsungnya Persalinan Normal
Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi
pembukaan 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut pula kala
pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong ke
luar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan
dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu
diamati, apakah tidak terjadi perdarahan postpartum.
Kala I
Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan
lendir yang bersemu darah (bloody show). Lendir yang sersemu darah ini berasal dari
lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Sedangkan
darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar kanalis
servikalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka.

Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase.


1. Fase laten : berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm.
2. Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi, yakni :
a. Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm.
b. Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangung sangat cepat,
dari 4 cm menjadi 9 cm.
c. Fase deselerasi. Pembukaan menjadi lambat kembali. Dalam waktu 2 jam
pembukan dari 9 menjadi lengkap.
Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi demikian,
akan tetapi fase laten, fase aktif dan fase deselerasi terjadi lebih pendek.
Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan
multigravida. Pada yang pertama ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu,
sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Baru kemudian ostium uteri eksternum
membuka. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri
internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi saat yang sama.
Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau telah lengkap.
Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau sudah
lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm disebut ketuban
pecah dini.
Kala I selesai apabila pembukaan seviks uteri telah lengkap. Pada primigravida
kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam.

Kala II
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan cepat, kira 2 sampai 3 menit sekali.
Karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk di ruang panggul, maka pada his
dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris yang
menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa pula tekanan pada rektum dan hendak
buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus
membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam
vulva pada waktu his, dan dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin
dilahirkan dengan suboksiput di bawah simfisis dan dahi, muka dan dagu melewati
perineum. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan, dan
anggota bayi. Para primigravida kala II berlangsung rat-rata 1,5 jam dan pada multipara
rata-rata 0,5 jam.
Kala III
Dimulai setelah lahirnya bayi secara lengkap dan berakhir dengan lahirnya
plasenta. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta
pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari
sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (MatthewsDuncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat
adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal,
kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Biasanya
plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan
tekanan fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.
Kala IV
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu diamati,
apakah tidak terjadi perdarahan postpartum.

7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :


1) kontraksi uterus harus baik,
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan
7) resume keadaan umum ibu.
Mekanisme Persalinan Normal
Hampir 96% janin berada dalam uterus dengan presentasi kepala dan pada
presentasi kepala ini ditemukan 56% ubun-ubun kecil terletak di kiri depan, 23% di
kanan depan, 11% di kanan belakang dan 8% di kiri belakang oleh sigmoid dan
rektum. Keadaan ini mungkin disebabkan karena kepala relatif lebih besar dan lebih
berat. Seperti telah dijelaskan 3 faktor penting yang memegang peranan pada persalinan,
ialah power, pasage dan passenger.
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai
dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang
tersebut didapat dari pacemaker yang terdapat di dinding uterus di daerah tersebut.
Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke
daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk
mendorong isi uterus ke luar.
Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

His yang baik dan ideal meliputi :


1. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot
Gerakan utama Pengeluaran Janin pada Persalinan dengan Letak Belakang Kepala
Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan
pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu
atas panggul (asinklitismusanterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari
daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi
otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi
dan menegang.
1.

3.

Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari
diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipitobregmatikus (belakang kepala).

4.

Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran
ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala
melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.

5.

Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput


melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput,
bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.

6.

Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan
sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior
sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.

7.

Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan
mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter
depan dan belakang, tungkai dan kaki.

Bila mekanisme partus yang fisiologik ini difahami dengan sungguh-sungguh maka pada
hal-hal yang menyimpang dapat segera dilakukan koreksi secara manual jika mungkin,
sehingga tindakan-tindakan operatif tidak perlu dikerjakan.
Apabila bayi telah lahir, segera jalan napas dibersihkan. Tali pusat dijepit diantara 2 klem
pada jarak 5 dan 10 cm. Kemudian di gunting di antara kedua klem lalu diikat. Tunggul
tali pusat diberi antiseptik. Umumnya bila telah lahir lengkap, bayi segera akan menarik
napas dan menangis.
Bila bayi telah lahir, uterus mengecil. Partus berada dalam kala III (kala uri). Walaupun
bayi telah lahir, kala uri ini tidak kalah pentingnya daripada kala I dan II. Kematian ibu
karena perdarahan pada kala uri tidak jarang terjadi sebab pimpinan kala III kurang
cermat dikerjakan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mochtar,R.Sinopsis obstetri jilid 1.EGC;Jakarta,1998.
2. Cunningham, Mac Daonald. Obstetri Williams edisi 18.EGC :Jakarta.
3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta..
4. www.google.com