Anda di halaman 1dari 31

Thalasemia

1.
a. Definisi dan Etiologi
Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut, dan anemia,
yang berarti berhubungan dengan darah. Yang dimaksud dengan laut tersebut ialah Laut
Tengah, oleh karena penyakit ini pertama kali dikenal di daerah sekitar Laut Tengah.
Penyakit ini pertama sekali ditemukan oleh seorang dokter di Detroit USA yang bernama
Thomas B. Cooley pada tahun 1925.
Thalassemia adalah penyakit yang diturunkan secara autosomal resesif akibat
dari berkurangnya pembuatan salah satu dari rantai asam amino yang membentuk
hemoglobin. Yaitu ditandai dengan ditandai dengan penurunan sintesis rantai atau rantai
dari globin. Yang normalnya adalah 2 rantai- dan 2 rantai-.
Kelainan gen ini akan mengakibatkan berkurang atau tidak terbentuknya rantai
globin pembentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin tidak terbentuk sempurna.
mengakibatkan sel darah merah mudah lisis. Karena butir darah merah lisis, seseorang
mengalami anemia hemolitik sehingga biasanya ditandai dengan anemia hipokrom
mikrositik herediter.
2. Klasifikasi Thalassemia
Thalassemia merupakan penyakit yang timbul karena penderitanya tidak
memiliki cukup rantai dalam hemoglobinnya, dimana produksi rantai dalam
hemoglobin diatur oleh autosom 16 dan terdiri dari 2 gen globin (terdiri dari 4 lokus).
Thalassemia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: tipe delesi dan tipe nondelesi
1) Thalassemia Tipe Delesi,Ditandai oleh delesi pada lokus yang berada pada gen
globin . . Karena terdapat empat gen -globin fungsionalmaka klasifikasinya
adalah :
a) Delesi pada 1 lokus / (silent carriers), tidak ada gejala
b) Delesi pada 2 lokus /- (trait thalassemia), gambaran klinis mirip dengan
thalassemia minor mengalami anemia ringan, dengan sel darah merah pucat
(hipokrom) dan lebih kecil (mikrositik)
c) Delesi pada 3 lokus -/- terdapat Hb H dan hanya terdapat 1 gen globin yang
normal dan disertai anemia sedang sampai berat dan splenomegali, kadar Hb 810gr%

d) Delesi pada 4 lokus -/- (hydrops fetalis), ditemukan adanya Hb Barts (tetramer
gama) sehingga memiliki afinitas yang tinggi terhadap oksigen dan tidak ada
oksigen pada jaringan dan fetus mengalami anemia pada awal kehamilan dan
membengkak karena mengalami kelebihan cairan disertai hepatosplenomegaly
dan biasanya keguguran atau meninggal setelah dilahirkan (minggu 36-40)
2) Thalassemia Tipe Nondelesi
Pada bentuk ini tidak dijumpai delesi gen , namun terjadi mutasi pada gen
tersebut

sehingga

menyebabkan

gangguan

pada

rantai

globin

Pada -thalassemia sintesis tantai berkurang atau tidak ada sama sekali, karena
terdapat gangguan pada mRNA.
Thalasemia merupakan penyakit thalasemia yang timbul karena penderitanya
tidak cukup memiliki rantai dalam Hbnya ( gen pengkode rantai globin terletak pada
kromosom 11)5.
1) Thalasemia mayor 0 / 0(Cooleys Anemia)
a) Pada kondisi ini rantai globin tidak diproduksi sama sekali. Biasanya gejala
muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat.
b) Bentuk homozigot merupakan anemia hipokrom mikrositik yang berat dengan
hemolisis di dalam sumsum tulang dimulai pada tahun pertama kehidupan dan
kedua orang tua merupakan carier. Gejala gejala bersifat sekunder akibat
anemia dan meliputi pucat, wajah yang karakteristik akibat pelebaran tulang
pada

kranium,

ikterus

dengan

derajat

yang

bervariasi,

dan

hepatosplenomegali. Kadar Hb 3-6gr% dan butuh transfusi secara berkala


2) Thalasemia intermedia 0 /
a) Penderita ini secara genetik bersifat heterogen.
b) Penyakit ini berat tetapi tidak perlu transfusi darah terarur. (derajat anemia
bergantung pada derajat mutasi gen yang terjadi
3) Thalasemia minor/trait + /
a) Adanya 1 gen normal pad individu heterozigot memungkinkan sintesis rantai
-globin yang memadai sehingga penderita biasanya asimtomatik dengan
anemia ringan (kadar Hb 7-10gr%)
b) Apusan darah tepi yakni abnormalitas minor termasuk hipokromia,
mikrositosis, basophilic strippling, dan sel target
c) Tanda khasnya ialah meningkatnya HbA2 sebesar 4-8% dari Hb total.
Keterangan :
0 : sintesis rantai terhenti sama sekali

+ : masih ada sintesis rantai


3. Epidemiologi
Gen thalassemia sangat luas tersebar, dan kelainan ini diyakini merupakan penyakit
genetik manusia yang paling prevalen. Distribusi utama meliputi daerah-daerah perbatasan
Laut Mediterania, sebagian besar Afrika, Timur Tegah, sub benua India dan Asia Tenggara.

Gambar 6.Sabuk/ikat pinggang Thalassemia


Di beberapa daerah Asia Tenggara sebanyak 40% dari populasi mempunyai satu
atau lebih gen thalassemia. di IndonesiaTalasemia merupakan salah satu jenis anemia
hemolitik dan merupakan penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal yang
paling banyak dijumpai. Enam sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa
gen penyakit ini
Khusus untuk prevalensi etnik melayu di Palembang:
1) Thalasemia : 13,4 % ( liliani, 2004)
2) Thalasemia : 8,0 % ( safyudin, 2003)
Pada kasus ini, kayu agung merupakan daerah endemik malaria. Daerah geografi
di mana thalssemia merupakan prevalen yang sangat paralel dengan daerah di mana
Plasmodium falciparum dulunya merupakan endemik. Resistensi terhadap infeksi malaria
yang mematikan pada pembawa gen thalassemia agaknya menggambarkan kekuatan
selektif yang kuat untuk menolong ketahanan hidupnya pada daerha endemik penyakit
ini.
4. Patofisiologi
Mekanisme ekspresi gen globin terdiri dari beberapa tahap, mulai dari transkripsi, proses
RNA, seleksi mRNA untuk translasi dan degradasi mRNA. Ekspresi setiap gen pada kelompok
gen -like globin dikontrol melalui kompleks interaksi antara sekuens regulator lokal (regio

promoter) pada masing-masing gen -like globin dan regio kontrol lokus- (-LCR) melalui
competitive fashion. -LCR merupakan suatu serial situs hipersensitif DNAase yang berlokasi
pada 6-18kb upstream dari gen globin dan berfungsi sebagai elemen regulator utama dalam
pengaturan transkripsi gen -like globin.
Terdapat lebih dari 210 mutasi thalassemia- yang meliputi substitusi basa tunggal, delesi
1 hingga beberapa nukleotida, delesi besar, insersi kecil, inversi dan rearrangement sekuens
DNA. Mutasi ini menyebabkan menurunnya produksi rantai globin (pada thalassemia- +) atau
tidak ada sama sekali(pada thalassemia-0) dan semua tergantung pengaruhnya terhadap tingkat
fungsi gen globin (tergantung tahap pengaruhnya).
Dari pengklasifikasian tipe thalassemia dapat dilihat bahwa rantai globin dewasa yang
terbentuk adalah tidak stabil dan larut seperti dengan adanya tetramer 4 (berkurangnya sintesis
rantai globin ) maupun yang lainnya. Sehingga dengan adanya rantai globin yang bebas ini
akan membentuk presipitat intraseluler (menumpuk) baik pada eritrosit muda maupun eritrosit
matur, yang dapat terlihat berupa sel target, mengakibatkan ketidakefektifan eritropoiesis
(pembentukan SDM) di sumsum tulang (mempengaruhi maturasi eritroblast pada sumsum tulang
dan bertanggung jawab terhadap kerusakan intramedula dari prekursor SDM) serta menyebabkan
kerapuhan pada SDM ini sehingga dapat terjadi hemolisi prematur di sirkulasi perifer (terutama
saat SDM yang mengandung bahan inklusi melewati mikrosirkulasi dan trabekula pulpa merah
di limpa) yang nantinya akan berakibat pada :
a. Dibentuknya banyak SDM yang belum matur yang nanti bersirkulasi di darah dan
memiliki afinitas terhadap O2 yang lebih rendah juga. Sehingga penderita biasanya
mengalami anemia dengan ciri-ciri kulit yang pucat.
b. Dengan terjadinya anemia hemolitik ( penghancuran

SDM

melebihi

pembentukannya) yang parah, akan semakin membendung di limpa sehingga kerja


limpa memberat dan membesar (splenomegaly).Selain itu, dengan ketidakstabilan
rantai Hb yang membuat eritrosit rapuh dan kehilangan sifat fleksibelnya semakin
menambah hemolisis. Sebab di trabekula ukurannya hanya 3 mikrometer yang
harusnya dapat dilewati eritrosit yang berukuran 8 mikrometer.6
c. Dengan kondisi anemia hemolitik ini, maka eritrosit yang dirombak oleh hati akan
semakin banyak. Saat dirombak, Hb dikeluarkan dari eritrosit dan dipecah menjadi
heme dan globin. Heme dipecah menjadi Fe untuk disimpan di hati dan digunakan

kembali, dan protoporfirin. Dimana protoporfirin ini akan diubah menjadi pirol yang
akan diubah menjadi biliverdin dan direduksi menjadi bilirubin bebas. (sehingga
biasanya penderita mengalami peningkatan bilirubin dengan manifes fesesnya
berwarna kehijauan). Peningkatan bilirubin bisa berakibat terjadi ikterus hemolitik
dan perubahan warna kulit menjadi kekuningan.(indirect bilirubin tidak larut dalam
air tetapi larut dalam lemak dan dibawah kulit banyak terdapat lemak6
d. Selain itu hati juga berfungsi membantu pembentukan eritrosit yang juga
memperberat

kerja

&

kerusakan

hati.

Sehingga

lama-lama

membesar

(hepatomegaly)
e. Hiperplasia dari sumsum tulang maupun tulang kranium karena berperan dalam
eritropoiesis (perubahan struktur tulang muka)
5. Teori Genetik (Penurunan)
Thalassemia diturunkan secara kodominan autosomal ,artinya bentuk thalassemia
heterozigot (thalassemia minor / sifat thalassemia) mungkin asimptomatik (bergejala ringan),
bentuk thalassemia homozigot / thalassemia mayor berkaitan dengan hemolitik yang berat.
Serta

digolongkan pada penyakit anemia hemolitik bawaan yang ditandai oleh anemia

mikrositik hipokromik. Homozigot dominan ThTh berfenotip thalassemia mayor, sedangkan


heterozigot Thth berfenotip thalassemia minor, dan resesif thth bararti normal.

Gambar 7. Skema Penurunan Gen Thalassemia Menurut Hukum Mendel.


Pada kasus ini, karena pada Anamnesis tidak disebutkan bahwa Ayah atau Ibunya
mengalami yang sama dengan dia atau tidak, maka diduga Ayah dan Ibunya adalah Carrier
(pembawa) / Heterozigot. Adik laki-lakinya (3 tahun) kemungkinan Normal atau juga

seorang Carrier. Pamannya yang meninggal pada usia 17 tahun dengan gejala yang sama
dengannya juga kemungkinan merupakan penderita Homozigot

6. Manifestasi Klinis
Gejala thalassemia beta sangat bervariasi, tergantung keparahan atau kerusakan gen
yang terjadi, mulai dari tanpa gejala (seakan normal) hingga yang butuh transfusi darah
seumur hidup.
a. Thalassemia Mayor
Thalassemia mayor menjadi bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang
progresif selama 6 bulan kedua kehidupan anak. Transfusi darah reguler diperlukan pada
penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang
disebabkan oleh anemia. Tanpa transfusi harapan hidup penderita tidak lebih dari
beberapa tahun.7
Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima
transfusi pada waktu anemia berat, terjadi hipertrofi jaringan erotropoetik di sumsum
tulang maupun diluar sumsum tulang. Warna merah dari darah manusia disebabkan oleh
hemoglobin yang terdapat di dalam darah merah.
Hemoglobin terdiri atas zat besi dan protein yang dibentuk oleh rantai globin alfa
dan rantai globin beta. Pada penderita thalassemia beta, produksi rantai globin beta tidak
ada atau berkurang. Sehingga hemoglobin yang dibentuk berkurang. Selain itu
berkurangnya produksi rantai globin beta mengakibatkan rantai globin alfa relatif
berlebihan dan akan saling mengikat membentuk suatu benda yang menyebabkan sel
darah merah mudah rusak. Berkurangnya produksi hemoglobin dan mudah rusaknya sel
darah merah mengakibatkan penderita menjadi pucat atau anemia atau kadar Hbnya
rendah.8
Anemia berat menjadi nyata pada usia 3-6 bulan setelah kelahiran ketika
seharusnya terjadi pergantian dari produksi rantai ke rantai .
Tabel 1. Gambaran Hematologi Thalassemia Mayor4,13
Thalassemia

Gambaran

mayor

hematologis

Ekspresi klinis

Temuan
Hemoglobin

Homozigot 0

Anemiaberat,

Anemia Cooley

normoblatemia

Hb F > 90% Tidak


ada Hb A Hb A2

Homozigot +

Anisositosis,poikilositos

Talasemia

meningkat
Hb A 20-40%

Heterozigot 0

is, anemia sedang berat


Mikrositosis,

intermedia
Mungkin

Hb F 60-80%
Peningkatan

anemia menderita

A2 dan Hb F

hipokromia,

Heterozigot +

ringan sampai sedang

splenomegali,

Mikrositosis,

ikterus
Normal

hipokromia,
Penyandang

Peningkatan

anemia

Hb

Hb

A2 dan Hb F

ringan
Normal

Normal

Normal

Mikrositosis,

Biasanya normal

Hb F 5-20%

tenang
heterozigot
Heterozigot

hipokromia,
Heterozigot

anemia

Hb A2 normal atau

ringan
rendah
Bayi baru lahir : anemia Bayi baru lahir : Normal
hemolitik,

mikrositik anemia

normoblastemia

hemolitik

dengan

Dewasa : Mikrositosis, splenomegali


hipokromia,
ringan

anemia Dewasa : Biasanya


normal

Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi. Ekspansi masif
dari sumsum tulang maupun di muka dan tengkorak menghasilkan wajah yang khas.
Muka pucat, hemosiderosis, dan ikterus bersama-sama membentuk kesan coklat-kuning.
Limfa dan hati membesar karena hematopoesis ekstramedular dan hemosiderosis.
Sumsum tulang pipih adalah tempat memproduksi sel darah. Tulang muka adalah
salah satu tulang pipih, Pada thalassemia karena tubuh selalu kekurangan darah, maka
pabrik sel darah daiam hal ini sumsum tulang pipih akan berusaha memproduksi sel
darah merah sebanyak-banyaknya. Karena pekerjaannya yang meningkat maka sumsum

tulang ini akan membesar, pada tulang muka pembesaran ini dapat dilihat dengan jelas
dengan adanya penonjolan dahi, jarak antara kedua mata menjadi jauh, tulang pipi
menonjol.8

Gambar 8.
Thalassemic facies
Penipisan korteks di banyak tulang, dengan suatu kecenderumgan terjadinya
fraktur dan penonjolan tengkorak dengan suatu gambaran rambut berdiri (hair on end)
pada foto Rontgen.9

Gambar 9. Hhair-on-end akibat ekspansi sumsum tulang ke dalam tulang kortikal


Pada penderita yang lebih tua, pembesaran limfa menimbulkan rasa
ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder. Limpa berfungsi membersihkan
sel darah yang sudah rusak. Selain itu limpa juga berfungsi membentuk sel darah pada
masa janin. Pada penderita thalassemia, sel darah merah yang rusak sangat berlebihan
sehingga kerja limpa sangat berat. Akibatnya limpa menjadi membengkak. Selain itu
tugas limpa lebih diperberat untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak.10

Gambar 10. hepatosplenomegali pada Thalassemia


Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua,. pubertas terlambat atau tidak
terjadi karena kelainan endokrin sekunder. Diabetes melitus yang disebabkan siderosis
pankreas mungkin terjadi.Pada kasus ini, adik pasien lebih tinggi darinya kemungkina
karena pertumbuhan pasien yang terhambat. Pertumbuhan terhambat terjadi akibat:
a. Pada pasien thalasemia, terjadi destruksi dini eritrosit sehingga sumsum tulang
merah berkompensasi dengan cara meningkatkan eritropoiesis. Sumsum tulang
merah terdapat di tulang pipih seperti os maxilla, os frontal, dan os parietal. Hal ini
mengakibatkan tulang-tulang tersebut mengalami penonjolan dan pelebaran.
Namun, destruksi dini sel darah merah terus berlanjut sehingga sumsum tulang
putih yang normalnya berfungsi untuk membangun bentuk tubuh dan pertumbuhan
berubah fungsi menjadi sumsum tulang merah yang menghasilkan eritrosit.
Sumsum tulang putih terdapat pada tulang-tulang panjang seperti os tibia, os
fibula, os femur, os radius, dan os ulna. Perubahan fungsi tulang-tulang ini dari
pembangun tubuh menjadi pembentuk eritrosit mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan pasien.
b. Massa jaringan eritropetik yang membesar tetapi inefektif bisa menghabiskan
nutrient sehingga menyebabkan retardasi pertumbuhan12
c. Penimbunan besi pada pasien thalassemia dapat merusak organ endokrin sehingga
terjadi kegagalan pertumbuhan dan gangguan pubertas.
b.

Thalassemia Intermedia
Merupakan kondisi antara mayor dan minor, dapat mengakibatkan anemia berat

dan masalah lain seperti deformitas tulang dan pembengkakan limpa. Rentang keparahan
klinis pada thalassemia intermedia ini cukup lebar, dan batasnya dengan kelompok
thalassemia mayor tidak terlalu jelas sehingga, keduanya dibedakan berdasarkan

ketergantungan sang penderita pada tranfusi darah.12

Thalasemia

intermedia jarang dijumpai. Pada varian yang lebih berat didapatkan gangguan gangguan
pertumbuhan, perubahan tulang dan gagal tumbuh sejak awal, penatalaksaannya tidak
dibedakan dengan thalassemia yang tergantung transfuse. Pada kasus lain didapatkan
pasien dengan tumbuh kembang yang baik, keadaan yang hamper stabil dan splenomegali
ringan maupun sedang. Pada pasien ini komplikasi bisa timbul dengan bertambahnya
umur. Termasuk perubahan tulang, osteoporosis progresif sampai fraktur spontan, luka di
kaki, defisiensi folat, hipersplenisme, anemia progresif, dan efek penimbunan zat besi
karena peningkatan absorpsi di saluran cerna. Sering dijumpai gene yang bervariasi,
dapat homozygote untuk thalassemia F atau A2F, atau heterozygote campuran A2F
dengan Hb lepore.13
c. Thalassemia Minor
Kerusakan gen yang terjadi umumnya ringan. Penderitanya hanya menjadi
pembawa gen thalas-semia, dan umumnya tidak mengalami masalah kesehatan, kecuali
gejala anemia ringan yang ditandai dengan lesu, kurang nafsu makan, sering terkena
infeksi dan sebagainya. Kondisi ini sering disalah artikan sebagai anemia karena
defisiensi (kekurangan) zat besi.13
Orang dengan talasemia minor telah (paling) anemia ringan (dengan sedikit
menurunkan tingkat hemoglobin dalam darah). Situasi ini dapat sangat erat menyerupai
dengan anemia kekurangan zat besi ringan. Namun, orang dengan talasemia minor
memiliki kadar besi normal (kecuali mereka memiliki kekurangan besi untuk alasan lain).
Tidak ada perawatan diperlukan untuk talasemia minor. Secara khusus, besi tidak perlu
dan tidak dianjurkan.
7. Cara diagnosis
a. Anamnesis:
1) Keluhan:
Pucat (Biasanya sejak lahir / usia bayi / usia anak-anak) -> Herediter
Perut membesar akibat hepatosplenomegali
Mudah letih / lemas
Pertumbuhannya lambat
Mudah terkena infeksi
2) Riwayat:
Tinggal di daerah Endemik Thalassemia- (contoh: Sumsel)

Ada salah satu atau lebih keluarga yang juga menderita penyakit yang sama
Riwayat pucat yang berlangsung kronis
Pernah / sering menerima transfusi darah
b. Pemeriksaan Fisik:
Pucat / anemia
Facies Cooley pada anak yang lebih besar
Hepatosplenomegali tanpa limfadenopati
Gizi kurang /buruk
Gangguan pertumbuhan
Hiperpigmentasi kulit
Pubertas terlambat
Ikterik ringan
c.

Pemeriksaan penunjang
1) Darah tepi :

Gambar 11. Hapusan Darah Thalassemia


Pada talasemia mayor hasil pemeriksaan darah tepi sebagai berikut:

Eritrosit terlihat hipokrom dengan berbagai bentuk dan ukuran, beberapa makrosit
yang hipokromik, mikrosit dan fragmentosit. Didapatkan basophilic stippling,
anisositosis, target sel (akan meninggi setelah splenektomi), cabot ring cell,
Howell-Jolli bodies, SDM berinti.

Anemia sangat berat dengan RBC kurang dari 2 juta/m3

Hb berkisar 2-8 gram%

MCV, MCH turun, MCT (mean cell thickmess) turun, MCD (Mean Corpus
Diameter) normal

Pada thalassemia intermedia hasil pemeriksaan darah tepi sebagai berikut:

Gambaran darah lebih nyata daripada thalassemia minor, tetapi lebih ringan
daripada thalassemia mayor

Hb antara 7-10 gram%

Retikulosit 2-10%

Pada thalassemia minor hasil pemeriksaan darah tepi sebagai berikut:

Eritrosit hipokrom, mikrositik, polikromasi, basophillic stippling, anisositosis,


poikilositosis ringan, target sel

Retikulosit naik sedikit atau normal

MCV, MCH, dan hematokrit turun

Serum Fe dan IBC normal atau naik sedikit

Kenaikan kadar Hb F ringan 2-6%, Hb A2 naik 3-7%

Hb normal atau turun sedikit

2) Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) :

Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil.

Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat

rasio M : E terbalik

kadar besi serum normal atau meninggi

kadar bilirubin serum meninggi

SGOT SGPT dapat meninggi

Asam urat darah meninggi

d. Pemeriksaan khusus :

Hb F meningkat : 20%-90% Hb total

Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.

Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien talasemia mayor merupakan


trait(carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb total).

e. Pemeriksaan lain :
1)

Foto Ro tulang kepala :


Gambaran hair on end, korteks menipis, diploe melebar dengan trabekula tegak
lurus pada korteks.Pada kranium ditandai dengan pelebaran ruang diploe dan garis-

garis vertikal trabekula akan memberi gambaran hair on end. Abnormalitas


gambaran radiologik lainnya pada kranium yaitu sinus paranasalis tampak tidak
berekmbang sempurna, terutama sinus maksilaris.17 Hal ini disebabkan karena
penebalan dari tulang sinus akibat hyperplasia yang akan memberi gambaran
thalassemia facies dengan maloklusi. Korpus vertebra mengalami deminerlisasi
yang ditandai dengan trabekulasi yang kasar disekelilingnya. Pada stadium lanjut,
tepi superior dan inferior corpus vertebra berbentuk bikonkaf atau dapat terjadi
fraktur kompresi. Kadang pula massa hemopoesis ekstramedulla tampak pada
mediastinum memberi gambaran bayangan jaringan lunak di antara kosta depan
dan belakang pada posisi posteroanterior. Jantung tampak pula mengalami
pembesaran. Pada kosta tampak bayangan densitas radiopak didalam kosta (a rib
within a rib appearance).14

Gambar 12.Foto Polos Kepala posisi anteroposterior dan lateral14


2) Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang :
Perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.
Pada tulang-tulang pendek tangan dan kaki terbentuk trabekulasi kasar, tulang
menjadi berbetuk pipa serta tampak adanya abnormalitas kistik. Pelebaran kavitas
medull pada metacarpal, metatarsal dan phalanges memberi gambaran bentuk
rectangular dengan konkavitas normal menghilang. Pada tulang panjang dan
ekstremitas memperlihatkan korteks yang menipis dan dilatasi kavitas medulla
sehingga mengakibatkan tulang-tulang tersebut sangat rapuh dan mudah
mengalami fraktur patologik.

Gambar 13.Foto polos tangan & kaki posisi anteroposterior


8.

Penatalaksanaan
a. Transfusi darah :
Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan kedaan ini akan
memberikan supresi sumsum tulang yang adekuat, menurunkan tingkat akumulasi
besi,

dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan penderita.

Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB untuk setiap
kenaikan Hb 1 g/dl.
b. Medikamentosa
1) Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpanjang
umur sel darah merah.
2) Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
3) Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk meningkatkan
efek kelasi besi.
4) Bila kadar ferritin serum atau serum iron meningkat:
Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar feritin
serum sudah mencapai 1000 mg/l atau saturasi transferin lebih 50%, atau sekitar
10-20 kali transfusi darah.Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari
subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama 5
hari berturut setiap selesai transfusi darah. Atau desferopron oral.

Gambar 14. Lokasi untuk menggunakan pompa portable deferoksamin

c. Bedah
Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan pada pasien
dengan thalassemia. Limpa diketahui mengandung sejumlah besar besi nontoksik (yaitu,
fungsi penyimpanan). Limpa juga meningkatkan perusakan sel darah merah dan
distribusi besi. Fakta-fakta ini harus selalu dipertimbangkan sebelum memutuskan
melakukan splenektomi.. Limpa berfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik,
sehingga melindungi seluruh tubuh dari besi tersebut. Pengangkatan limpa yang terlalu
dini dapat membahayakan.
Sebaliknya,

splenektomi

dibenarkan

apabila

limpa

menjadi

hiperaktif,

menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan dengan demikian
meningkatkan kebutuhan transfusi darah, menghasilkan lebih banyak akumulasi besi.
Imunisasi pada penderita ini dengan vaksin hepatitis B, vaksin H.Influenzae tipe B, dan
vaksin polisakarida pneumokokus diharapkan, dan terapi profilaksis penisilin juga
dianjutkan.
Splenektomi, dengan indikasi:

Anak usia >6 tahun


Limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita, menimbulkan
peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur. Hipersplenisme
ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah atau kebutuhan suspensi

eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam 1 tahun.


d. Transplantasi sumsum tulang (TST)
Pengobatan thalassemia yang berat dengan transplantasi sumsum tulang
allogenik pertama kali dilaporkan lebih dari satu dekade yang lalu, sebagai alternatif dari
pelaksanaan klinis standar dan saat ini diterima dalam pengobatan thalassemia .
Keberhasilan trasplantasi allogenik pada pasien thalassemia membebaskan pasien dari
transfusi kronis, namun tidak menghilangkan kebutuhan terapi pengikat besi pada semua
kasus. Pengurangan konsentrasi besi hati hanya ditemukan pada pasien muda dengan
beban besi tubuh yang rendah sebelum transplantasi, kelebihan besi pada parenkim hati
bertahan sampai 6 tahun setelah transplantasi sumsum tulang, pada kebanyakan pasien
yang tidak mendapat terapi deferoksamin setelah transplantasi.

Prognosis

yang buruk pasca TST berhubungan dengan adanya hepatomegali, fibrosis portal, dan
terapi khelasi yang inefektif sebelum transplantasi dilakukan. Prognosis bagi penderita

yang memiliki ketiga karakteristik ini adalah 59%, sedangkan pada penderita yang tidak
memiliki ketiganya adalah 90%. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan setelah
transplantasi sukses dilakukan, individu tertentu perlu terus mendapat terapi khelasi untuk
menghilangkan zat besi yang berlebihan. Waktu yang optimal untuk memulai pengobatan
tersebut adalah setahun setelah TST.
e. Supportif
1) Thalassaemia Diet
Diet Talasemia disiapkan oleh Departemen diit, Di Rumah sakit umum
Sarawak pasien dinasehati untuk menghindari makanan yang kaya akan zat besi,
seperti daging berwarna merah, hati, ginjal, sayur-mayur bewarna hijau, sebagian
dari sarapan yang mengandung gandum, semua bentuk roti dan alkohol.
Tabel 2. Daftar makanan dan kandungan zat besi
FOOD TO AVOID
Foods with high content of Iron
Organ meat (liver, kidney, spleen)
Beef
Chicken gizzard and liver
Ikan pusu (with head and entrails)
Cockles (kerang)
Hen eggs
Duck eggs
Dried prunes / raisins, Peanuts (without shell), other nuts
Dried beans (red, green, black, chickpeas, dhal)
Baked beans
Dried seaweed
Dark green leafy vegetables bayam, spinach, kailan,
cangkok manis, kangkung, sweet potato shoots, ulam
leaves, soya bean sprouts, bitter gourd, paku, midi,
parsley,
Food Allowed
Foods with moderate content of Iron
Chicken, pork
Soya bean curd (towkwa, towhoo, hookee)
Light coloured vegetables (sawi, cabbage,
long beans and other beans, ketola, ladys
fingers)
Ikan pusu
Onions
Oats

Iron Content
5 14 mg / 100 g
2.2 mg / 100 g
2 10mg / 100 g
5.3 mg / 100 g
13.2 mg / 100 g
2.4 mg / whole egg
3.7 mg / whole egg
2.9 mg / 100 g
4 8 mg / 100 g
1.9 mg / 100 g
21.7 mg / 100 g
> 3 mg 1 100 g

allow one small serving a day (= 2 matchbox


size)
allow one serving only (= one piece)
1 -2 servings a day (= 1/2 cup)
head and entrails removed
use moderately

Foods with small amount of Iron


Rice and Noodles
Bread, biscuits
Starchy
Root
vegetables
(
tapioca, pumpkin, bangkwang, lobak)
Fish (all varieties)
Fruits (all varieties except dried fruits)
Milk, cheese
Oils and Fats

carrot,

yam,

f. Monitoring
1) Terapi
Pemeriksaan kadar feritin setiap 1-3 bulan, karena kecenderungan kelebihan besi
sebagai akibat absorbsi besi meningkat dan transfusi darah berulang.Efek samping
kelasi besi yang dipantau: demam, sakit perut, sakit kepala, gatal, sukar bernapas.
Bila hal ini terjadi kelasi besi dihentikan
2) Tumbuh Kembang
Anemia kronis memberikan dampak pada proses tumbuh kembang, karenanya
diperlukan perhatian dan pemantauan tumbuh kembang penderita.
3) Gangguan jantung, hepar dan endokrin
Anemia kronis dan kelebihan zat besi dapat menimbulkan gangguan fungsi jantung
(gagal jantung), hepar (gagal hepar), gangguan endokrin (diabetes melitus,
hipoparatiroid) dan fraktur patologis.
Kontrol rutin setiap 3 bulan :

Tes fungsi hati


Tes fungsi ginjal
kadar ferritin

Pada penderita > 10 tahun evaluasi setiap 6 bulan :

Pantau pertumbuhan dan perkembangan


Pemeriksaan status pubertas
Tes fungsi jantung / echocardiogram
Tes fungsi paru
Tes fungsi endokrin

Skrining hepatitis dan HIV


g. Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll)
Bila perlu, rujuk ke divisi Tumbuh kembang, kardiologi, gizi, endokrinologi,
radiologi, dan dokter gigi.
9. Komplikasi
Komplikasi jantung, termasuk aritmia yang membandel dan gagal jantung kongestif
kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium, sering merupakan kejadian terminal.
Dengan regimen modern dalam penanganan komprehensif untuk penderita ini, banyak dari
komplikasi ini dapat dicegah dan yang lainnya diperbaiki dan ditunda awitannya. 10
Terjadi kerusakan gen yang berat, sehingga jantung penderita mudah berdebar-debar.
Berkurangnya hemoglobin berakibat pada kurangnya oksigen yang dibawa, sehingga
jantungnya terpaksa bekerja lebih keras. Selain itu, sel darah merahnya cepat rusak sehingga
harus senantiasa dibantu suplai dari luar melalui transfusi.13
Transfusi yang berulang mengakibatkan penumpukan besi pada organ-organ tubuh.
Yang terlihat dari luar kulit menjadi kehitaman , sementara penumpukan besi di dalam tubuh
umumnya terjadi pada jantung, kelenjar endokrin, sehingga dapat megakibatkan gagal
jantung, pubertas terlambat, tidak menstruasi, pertumbuhan pendek, bahkan tidak dapat
mempunyai keturunan.7
Pada thalassemia mayor komplikasi lebih sering didapatkan daripada thalassemia
intermedia. Komplikasi neuromuskular tidak jarang terjadi. Biasanya penderita baru bisa
berjalan setelah usia 18 tahun. Sindrom miopati terjadi dengan kelemahan otot-otot
proksimal, terutama ekstremitas bawah. Akibat iskemia serebral dapat timbul episode
kelainan neurologik fokal ringan.
Gangguan pendengaran mungkin pula terjadi seperti pada kebanyakan anemia
hemolitik atau diseritropoetik lain ada peningkatan kecenderungan untuk terbentuknya batu
pigmen dalam kandung empedu.
Serangan pirai sekunder dapat timbul akibat cepatnya turn over sel dalam sumsum
tulang. Hemosiderosis akibat transfusi darah yang berulang-ulang atau salah pemberian
obat-obat yang mengandung besi. Pencegahan untuk ini adalah desferal (chelating
agent).Dapat terjadi tukak menahun pada kaki, deformitas otot skelet, tulang dan sendi,

mungkin pula terjadi deformitas pada muka, kadang-kadang begitu berat sehingga
memberikan gambaran yang menakutkan dan memerlukan operasi untuk mengoreksinya.

10. Prognosis
Prognosis thalassemia tergantung pada tipe dan derajat keparahan thalassemia.
Perjalanan klinis thalassemia sangat bervariasi mulai dari yang ringan atau terkadang
asimptomatik sampai keadaan yang berat dan mengancam jiwa.
Thalassemia beta homozigot umumnya meninggal pada usia muda dan jarang
mencapai usia dekade ke 3, walaupun digunakan antibiotik untuk mencegah infeksi dan
pemberian chelating agent untuk mengurangi hemosiderosis.
11. Pencegahan
Kelahiran penderita thalassemia dapat dicegah dengan 2 cara. Pertama adalah
mencegah perkawinan antara 2 orang pembawa sifat thalassemia. Kedua adalah memeriksa
janin yang dikandung oleh pasangan pembawa sifat, dan menghentikan kehamilan bila janin
dinyatakan sebagai penderita thalassemia (mendapat kedua gen thalassemia dari ayah dan
ibunya).VSebaiknya semua orang Indonesia dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan
membawa sifat thalassemia beta. Karena frekuensi pembawa sifat thalassemia beta di
Indonesia berkisar antara 6-10%, artinya setiap 100 orang ada 6 sampai 10 orang pembawa
sifat thalassemia beta. Terlebih lagi apabila ada riwayat seperti di bawah ini, pemeriksaan
pembawa sifat thalassemia sangat dianjurkan: Ada saudara sedarah yang menderita
thalassemia beta.Kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl, walaupun sudah minum
obat penambah darah seperti zat besi. Ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal
walaupun keadaan Hb normal.
Diagnosis prenatal melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pemeriksaan ibu
janin yang meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap dan analisis hemoglobin. Bila ibu
dinyatakan pembawa sifat thalassemia beta maka pemeriksaan dilanjutkan ke tahap kedua
yaitu suami diperiksa darah tepi lengkap dan analisis hemoglobin. Bila suami juga

membawa sifat thalassemia maka suami-isteri ini diperiksa DNAnya untuk menentukan
jenis kelainann pada gen globin beta. Selanjutnya diambil jaringan janin (villi choriales atau
jaringan ari-ari) pada saat janin berumur 10-12 minggu untuk diperiksa DNAnya. Bila janin
ternyata hanya membawa satu belah gen globin beta yang mengalami kelainan (gen
thalassemia beta) atau sama sekali tidak membawa gen thalassemia beta maka kehamilan
dapat diteruskan dengan aman. Tetapi bila janin ternyata membawa kedua belah gen
thalassemia yang artinya janin akan menderita thalassemia beta maka penghentian
kehamilan dapat menjadi pilihan.
Pengambilan jaringan janin dari ari-ari dilakukan dengan menusukkan jarum melalui
jalan lahir atau dinding perut ke dalam alat kandungan clan menembus ke ari-ari, kemudian
pada daerah ari-ari yang disebut villi choriales diambil dengan cara aspirasi sejumlah
jaringan tersebut untuk bahan pemeriksaan DNA.

Gambar 15. Chorionic Villi Sampling


Prosedur ini dilakukan oleh dokter ahli kandungan yang sudah berpengalaman melakukan
tindakan ini. Prosedur ini dilakukan pada kehamilan 11 minggu. Tindakan ini mempunyai risiko
keguguran sebesar 2-3%. Cara lain untuk mendapat sel dari janin adalah dengan pengambilan
cairan amnion yang baru dapat dilakukan pada kehamilan 15 minggu. Risiko abortus pada
prosedur ini adalah 1%.

Indikasi transfuse
Transfusi darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari seseorang (donor)
kepada orang lain (resipien).

Indikasi transfusi darah dan komponen-komponennya adalah :


1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume dengan cairan.
2. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain.
3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen.
4. Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma subtitute atau
larutan albumin.
5. Penurunan kadar Hb disertai gangguan hemodinamik

Metabolisme Hemoglobin
Struktur dan bentuk
Sel darah merah normal, berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter rata-rata kira-kira 7,8
mikrometer dan ketebalan 2,5 mikrometer pada bagian yang paling tebal serta 1 mikrometer di
bagian tengahnya. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90 sampai 95 mikrometer kubik.
Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah per milimeter kubik adalah 5.200.000 (
300.000) dan pada wanita normal, 4.700.000 ( 300.000).
Sel darah merah terdiri dari komponen berupa membran, sistem enzim, dan hemoglobin.
Hemoglobin inilah yang berperan dalam pengangkutan oksigen dari paru-paru ke jaringan.
Hemoglobin tersusun atas heme (gugus nitrogenosa non protein-Fe) dan globin (protein dengan
empat rantai polipeptida). Dengan struktur tersebut, hemoglobin dapat mengangkut empat
molekul oksigen. (Guyton, et.al, 2007)

b.

Peranan besi dalam pembentukan sel darah merah (eritropoiesis)

Pembentukan sel darah merah (eritropoiesis) terjadi di susmsum tulang dada, iga, panggul,
pangkal tulang paha, dan lengan atas. Mekanisme ringkasnya sebagai berikut:
Sel stem hematopoietik pluripoten commited stem cell (disebut juga CFU-E) diatur
penginduksi pertumbuhan, misal IL-3 memicu pertumbuhan penginduksi diferensiasi,
misal oksigen eritrosit.
Sedangkan perkembangan sel dari proeritroblas adalah sebagai berikut:

Proeritroblas eritroblas basofil eritroblas polikromatofil eritroblas ortokromatik


retikulosit eritrosit.
Besi merupakan salah satu elemen penting dalam metabolisme tubuh, terutama dalam
pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Selain itu juga terlibat dalam berbagai proses di
dalam sel (intraseluler) pada semua jaringan tubuh. Mitokondria mengandung suatu sistem
pengangkutan elektron dari substrat dalam sel ke mol O 2 bersamaan dengan pembentukan ATP.
Jumlah besi di dalam tubuh seseorang yang normal berkisar antara 3 5 g tergantung dari jenis
kelamin, berat badan dan hemoglobin. Besi di dalam tubuh terdapat dalam hemoglobin sebanyak
1,5 3 g dan sisa lainnya terdapat di dalam plasma dan jaringan. Di dalam plasma besi terikat
dengan protein yang disebut transferin sebanyak 3 4 g. Sedangkan di dalam jaringan berada
dalam status esensial (nonavailable) dan bukan esensial (available).
Jumlah besi yang dibutuhkan setiap hari juga tergantung dari umur, jenis kelamin, dan berat
badan. Laki-laki dewasa normal memerlukan 1 2 mg besi setiap hari, sedangkan anak dalam
masa pertumbuhan dan wanita dalam masa menstruasi perlu penambahan 0,5 1 mg dari
kebutuhan normal lelaki dewasa. Wanita hamil dan menyusui memerlukan rata-rata 3 4 mg besi
setiap hari. (Bakta, et. al, 2006)

a.

Pembentukan hemoglobin

Sintesis hemoglobin mulai dalam eritroblast dan terus berlangsung sampai tingkat normoblast.
2-ketoglutaric acid + glisin pirol
4 pirol

b.

protoporfirin

Protoporfirin+Fe

heme

4 heme +globin

hemoglobin (Guyton, et. al, 2007).

Oksigenasi jaringan

Setiap keadaan yang menyebabkan penurunan transportasi jaringan biasanya akan meningkatkan
eritropoiesis. Jadi, bila seseorang menjadi begitu anemis akibat adanya perdarahan atau kondisi
lainnya, sehingga menurunya oksigenasijaringan maka sumsum tulang akan segera memulai
produksi eritrosit.
Oksigenasi jaringan yang menurun disebabkan karena volume darah yang menurun, anemia,
hemoglobin yang menurun, penurunan kecepatan aliran darah, dan penyakit paru-paru. (Guyton,
et. al, 2007).

Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk mengangkut
hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju jaringan. Jika hemoglobin
ini bebas dalam plasma, kurang lebih 3 persennya bocor melalui membran kapiler masuk ke
dalam ruang jaringan atau melalui membran glomerolus pada ginjal terus masuk dalam saringan
glomerolus setiap kali darah melewati kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada
dalam aliran darah, maka ia harus tetap berada dalam sel darah merah. Dalam minggu-minggu
pertama kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk sac.
Selama pertengahan trimester masa gestasi, hepar dianggap sebagai organ utama untuk
memproduksi eritrosit, walaupun terdapat juga eritrosit dalam jumlah cukup banyak dalam limpa
dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah
hanya diproduksi sumsum tulang.
Pada sumsum tulang terdapat sel-sel yang disebut sel stem hemopoietik pluripoten, yang
merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. Sel pertama yang dapat dikenali dari
rangkaian sel darah merah adalah proeritroblas. Kemudian setelah membelah beberapa kali, sel
ini menjadi basofilik eritroblas pada saat ini sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Pada
tahap selanjutnya hemoglobin menekan nukleus sehingga menjadi kecil, tetapi masih memiliki
sedikit bahan basofilik, disebut retikulosit. Kemudian setelah bahan basofilik ini benar-benar
hilang, maka terbentuklah eritrosit matur (Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi 9:529).
Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polpeptida globin yang berikatan secara non-kovalen, yang
masing-masing mengandung sebuah grup heme (molekul yang mengandung Fe) dan sebuah
oxygen binding site. Dua pasang rantai globin yg berbeda membtk struktur tetramerik dengan
sebuah heme moiety di pusat (center). Molekul heme penting bagi RBC untuk menangkap O2
diparu-paru dan membawanya keseluruh tubuh. Protein Hb lengkap dapat membawa 4 molekul

O2 sekaligus. O2 yang berikatan dengan Hb memberi warna darah merah cerah. Konsentrasi selsel darah merah dalam darah pada pria normal 4,6-6,2 juta/mm3, pada perempuan 4,2-5,4
juta/mm3, pada anak-anak 4,5-5,1 juta/mm3. Dan konsentrasi hemoglobin pada pria normal 1318 g/dL, pada perempuan 12-16 g/dL, pada anak-anak 11,2-16,5 g/dL (Kamus Kedokteran
Dorland, edisi 29).
Dalam keadaan normal, sel darah merah atau eritrosit mempunyai waktu hidup 120 hari didalam
sirkulasi darah, Jika menjadi tua, sel darah merah akan mudah sekali hancur atau robek sewaktu
sel ini melalui kapiler terutama sewaktu melalui limpa. penghancuran sel darah merah bisa
dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti :genetik, kelainan membran, glikolisis, enzim, dan
hemoglobinopati, sedangkan faktot ekstrinsik : gangguan sistem imun, keracunan obat, infeksi
seperti akibat plasmodium Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum
waktunya

(hemolisis),

sumsum

tulang

berusaha

menggantinya

dengan

mempercepat

pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel
darah merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.

Hematopoiesis pada anak umur 9 tahun

Hematopoiesis adalah proses pembentukan sel darah. Hematopoiesis = proses produksi dan
perkembangan sel darah. Induk sel darah = stem sel Hematopoitik steam sel. Fungsi : memproduksi sel
darah

untuk

TEORI PEMBENTUKAN

mengganti

sel

yang

rusak/mati.

1. TEORI MONOFILATIK
Di mana sel darah berasal dari satu sel induk. Dimana sel-sel mesenkim berubah menjadi hemohistioblast
bergranula (hemahitioblast myeloid) : mieloblast, eritroblast, megakarioblast. Tidak bergranula
(hemohistioblast limfoid) : limfoblast, monoblast. Neomonofilaktik (monofiletik yang baru); Oleh
Dounrey, dimana sel mesenkim Mieloblast, megakarioblast, promegakariosit, limfoblast, pronormobast.

2.

POIFILEKTIK
Masing-masing sel darah mempunyai induk steam sel yang tertentu dan terpisah satu sama lain.

Sel2 mesenkim itu masing-masing : mieloblast, proeritrosit, eritroblast, megakarioblast, RES (Retikulo
Endotelial Sytem)

3.

TEORI KOMBINASI ANTARA MONOFILEKTIK DAN POLIFILEKTIK


a. Duofilektik (oleh Erlich) : Sel Mesenkim mieloblast dan limfoblast
b. Triofilektik

(Nargali)

Sel

Mesenkim

mieloblast,

pronormoblast,

limfoblast.

Masing-masing dari ketiga teori di atas, steam sel mengalami regulasi (pengaturan) dengan
proliferasi

dan

deferensiasi

menjadi

Eritropoietin,

Lekopoietein,

Trombipoietin.

TEMPAT PEMBUATAN

Janin

0-2 bulan (kantung kuning telur)


2-7 bulan (hati dan limpa)
5-9 bulan (sumsum tulang)

Bayi

Sumsum tulang (pada semua tulang)

Dewasa

Vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum dan pelvis, ujung
proximal femur

HEMOPOIESIS PRENATAL
1. Stadium Mesoblastik.
Tampak kelompok2 pada yolk sac dan jaringan mesenkim embrional smpai minggu ke 10
kehamilan. Bagian dalam mengalami hematogen, eritrosit yang awal sekali (eritrosit primitif). Bagian
luar mengalami maturasi (pematangan sel-sel eritrosit) minggu ke 3-10
2. Stadium Hepatik. Merupakan kelanjutan dari ibu hamil 1,5 bulan.

Keterangan:
Minggu

ke

Mesenkim

>>> parenkim

kasar,

dst

sampai

bayi

lahir.

Pada bulan ke 4, lien, hepar, kelenjar limfe & sumsum tulang sudah memproduksi darah
Ketika sudah dilahirkan, yang berperan dalam pembentukan darah : kelenjar limfe, sumsum tulang.

HEMATOPOIESIS POSTNATAL
Hematopoiesis moduler, dimulai dari kelahiran normal sumsum tulang aktif membentuk sel. Organ yang
Berperan :
1.

Sumsum Tulang (Born Marrow)


a.

Sumsum merah, aktif hematopoiesis

b.

Kuning

aktif (Sel endotel, retikulum, lemak)

2.

Kelenjar Getah Bening (Nodulus Limfaticus) Jarinagn Limfa Limfosit

3.

Lien, fungsi :

4.

a.

Proliferasi Limfosit

b.

Destruksi limfosit yag tak terpakai

Gaster / Lambung

Menyediakan faktor-faktor intrinsik (Vit. B12) membantu pematangan sel darah. Asam lambung
mempermudah absorbsi Fe di dalam darah.

5.

Hepar

Perombakan pigmen empedu

Depo Vit. B12

Detosifikasi

Proses Pembentukan Darah

6.

Enteropoietin

Hormon yang terdapat di dalam ginjal sehingga segala penyakit ginjal terlebih yang berat akan
berpengaruh terhadap hormon enteropoietin. Bila hormon ini berkurang, eritrosit juga berkurang
meskipun di temapt-tempat produksi yang lain masih baik, tapi karena hormon tersebut diproduksi di
ginjal jadi tetap akan berkurang.

7.

Kelenjar Endokrin

Mampu mempengaruhi perkembangan & pertumb. eritrosit

Menstimulasi eritropoiesis : tipoid

Hormon Esterogen : bersifat menghambat. Makin banyak jumlahnya dalam darah makin berkurang

proses pembentukan eritrosit

8.

Nutrisi

Makanan (KH, protein, lemak, vitamin, mineral, molekul, as. folat, dll) untuk maturasi/pematangan sel

9.

RES (Retikulo Endotelia System).

Daftar Pustaka

Bakta, I Made. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. EGC: Jakarta.


Hoffbrand, A. V. , J.E. Pettit, P. A. H. Moss. Kapita Selekta Hematologi. 2005. Jakarta: EGC
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. 2005. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI
Ilmu Penyakit dalam Jakarta: Penerbit Buku Univertas Indonesia
Jones, C.Hughes dkk. Catatan Kuliah Hematologi Edisi 5. EGC: Jakarta.
Robbins, Kumar Cotran. Buku Ajar Patologi Vol.2. 2005. Jakarta: EGC
Sutedjo, AY. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalaui Hasil Pemeriksaan Lab.
Wahab, A. Samik (editor). IKA Nelson Vol. 2 Ed. 15. 1999. Jakarta: EGC