Anda di halaman 1dari 14

BAHAN KULIAH BLOK VII

K1
PENGANTAR IMUNOLOGI

OLEH:
Prof.Dr.Eddy Mart Salim, SpPD,K-AI
2013

IMUNOLOGI DASAR
Karnen Garna Baratawidjaja, Iris Rengganis

PENDAHULUAN

Imunologi dasar pada tulisan berikut ini diuraikan dalam 3 hal, yaitu sistem imun, antigen dan
antibodi, dan reaksi hipersensitivitas.
SISTEM IMUN

Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem pertahanan yang terdiri atas sistem imun nonspesifik
(natural/innate) dan spesifik (adaptive/acquired). Komponen-komponen sistem imun nonspesifik dan
spesifik terlihat dalam Gambar 1.

SISTEM IMUN NONSPESIFIK


Sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai
mikroorganisme, karena sistem imun spesifik memerlukan waktu sebelum memberikan responsnya. Sistem
tersebut disebut nonspesifik, karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.
Pertahanan Fisik
Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin dapat mencegah berbagai kuman patogen
masuk ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh
karena asap rokok akan meningkatkan risiko infeksi.
Pertahanan Larut
Pertahanan Biokimia. Bahan yang disekresi mukosa saluran napas, kelenjar sebaseus kulit, kelenjar
kulit, telinga, spermin dalam semen merupakan bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Asam
hidroklorik dalam cairan lambung, lisosim dalam keringat, ludah, air mata dan air susu dapat

melindungi tubuh terhadap kuman Gram


positif dengan jalan menghancurkan dinding kuman tersebut. Air susu ibu mengandung pula laktoferin
dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial terhadap E. coli dan stafilokok.
Lisozim yang dilepas makrofag dapat menghancurkan kuman negatif-Gram dengan bantuan
komplemen. Laktoferin dan transferin dalam serum dapat mengikat zat besi yang dibutuhkan untuk
hidup kuman pseudomonas

Udara yang kita hirup, kulit dan saluran cerna, mengandung banyak mikroba, biasanya berupa

bakteri dan virus, kadang jamur atau parasit. Sekresi kulit yang bakterisidal, asam lambung,
mukus dan silia di saluran napas membantu menurunkan jumlah mikroba yang masuk tubuh,
sedang epitel yang sehat biasanya dapat mencegah mikroba masuk ke dalam tubuh. Dalam
darah dan sekresi tubuh, enzim lisosom membunuh banyak bakteri dengan mengubah dinding
selnya. IgA jugs merupakan pertahanan permukaan mukosa.
Pertahanan Humoral
Komplemen. Komplemen mengaktifkan fagosit dan

membantu destruksi bakteri dan parasit dengan jalan opsonisasi (Gambar 3).

1. Komplemen dapat menghancurkan sel membran banyak bakteri (C8-9)


2. Komplemen dapat berfungsi sebagai faktor kemotaktik yang mengerahkan makrofag
ke tempat bakteri (C5-6-7)
3. Komplemen dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan makrofag untuk
mengenal (opsonisasi) dan memakannya (C3b, C4b).
Kejadian-kejadian tersebut di atas adalah fungsi sistem imun nonspesifik, tetapi dapat pula
terjadi atas pengaruh respons imun spesifik.
Interferon. Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia yang
mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat
antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus tersebut. Di camping itu,
interferon dapat pula mengaktifkan natural killer cell/ sel NK untuk membunuh virus dan sel neoplasma
(Gambar 4).

Sel NK membunuh sel terinfeksi virus intraselular. sehingga dapat menyingkirkan reservoir
infeksi.
Sel NK memberikan respons terhadap IL-12 yang diproduksi makrofag dan melepas IFN-y yang
mengaktifkan makrofag untuk membunuh mikroba yang sudah dimakannya.
C-Reactive Protein (CRP). CRP dibentuk tubuh pada infeksi. Peranannya ialah sebagai opsonin dan dap
a: mengaktifkan komplemen (Gambar 5).
Gambar 5. C-Reactive Protein (CRP)

Pertahanan Selular
Fagosit/makrofag, sel NK dan sel mast berperan dalam sistem imun nonspesifik selular. Fagosit. Me
skipun berbagai sel dalam tubuh dap at melakukan fagositosis, sel utama yang berperan pada
pertahanan nonspesifik adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear
seperti neutrofil. Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang sama.
Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman, akan dapat mencegah timbulnya penyakit. Proses
fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis, menangkap, membunuh dan

mencerna.
Natural Killer cell (selNK). Sel NK adalah sel limfosit tanpa ciri-ciri sel limfoid sistem imun

spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebut juga sel non B non T atau
sel populasi ke tiga atau null cell. Morfologis, sel NK merupakan limfosit dengan granul
besar, oleh karena itu disebut juga Large Granular Lymphocyte/LGL. Sel NK dapat
menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma. Interferon mempercepat
pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel NK.
Sel mast. Sel mast berperan dalam reaksi alergi dan juga dalam pertahanan pejamu yang
jumlahnya menurun pada sindrom imunodefisiensi. Sel mast juga berperan pada imunitas
terhadap parasit dalam usus dan terhadap invasi bakteri. Berbagai faktor nonimun seperti
latihan jasmani, tekanan, trauma, panas dan dingin dapat pula mengaktifkan dan
menimbulkan degranulasi sel mast
SISTEM IMUN SPESIFIK

Berbeda dengan sistem imun nonspesifik, sistem imun spesifik mempunyai kemampuan
untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama timbul
dalam badan yang segera dikenal sistem imun spesifik, akan mensensitasi sel-sel sistem imun
tersebut. Bila sel sistem tersebut terpajan ulang dengan benda asing yang sama, yang akhir
akan dikenal lebih cepat dan dihancurkannya. Oleh karena itu sistem tersebut disebut spesifik.
Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi
badan, tetapi pada umumnya terjalin kerja sama yang baik antara antibodi, komplemen, fagosit dan antara
sel T-malcrofag. Komplemen turut diaktifkan dan ikut berperan dalam menimbulkan inflamasi yang
terjadi pada respons imun.
Sistem Imun Spesifik Humoral
1. Sistem imun spesifik humoral. Berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah

limfosit B atau sel B. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten dalam sumsum tulang.
Pada unggas sel asal tersebut berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat yang disebut Bursa
Fabricius yang letaknya dekat cloaca. Bila sel B dirangsang benda asing, sel tersebut akan
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi
yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan
tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan menetralisasi toksin.
2. Sistem imun spesifik selular. Berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T
atau sel T. Fungsi sel T umumnya ialah:
- membantu sel B dalam memproduksi antibodi
- mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
- mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
- mengontrol ambang dan kualitas sistem imun
Sel T juga dibentuk dalam sumsum tulang, tetapi diferensiasi dan proliferasinya terjadi dalam
kelenjar timus atas pengaruh berbagai faktor asal timus. Sembilan puluh sampai sembilan puluh lima
persen semua sel timus tersebut mati dan hanya 5-10% menjadi matang dan meninggalkan timus
untuk masuk ke dalam sirkulasi dan kelenjar getah bening. Fungsi utama sistem imun selular ialah
pertahanan terhadap mikroorganisme yang hidup intraselular seperti virus, jamur, parasit dan
keganasan. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa sel subset seperti sel T naif, Th 1 ,
Th2, T Delayed Type Hypersensitivity (Tdth), Cytotoxic T Lymphocyte (CTL) atau T cytotixic atau T
cytolytic (TO dan T supresor (Ts) atau T regulator (Tr).
Sel T Naif (virgin). Sel T naif adalah sel limfosit yang meninggalkan timus, namun belum

berdiferensiasi, belum pernah terpajan dengan antigen dan menunjukkan molekul permukaan
CD45RA. Sel ditemukan dalam organ limfoid perifer. Sel T naif yang terpajan dengan
antigen akan berkembang menjadi sel Th0 yang selanjutnya dapat berkembang menjadi sel

efektor Th 1 dan Th2 yang dapat dibedakan atas dasar jenis-jenis sitokin yang diproduksinya .
Sel Th0 memproduksi sitokin dari ke 2 jenis sel tersebut seperti IL-2, IFN dan IL-4.
Sel T CD4+ (Thl dan Th2). Sel T naifCD4+ masuk sirkulasi dan menetap di dalam organ limfoid
seperti kelenjar getah bening untuk bertahun-tahun sebelum terpajan dengan antigen atau mati. Sel
tersebut mengenal antigen yang dipresentasikan bersama molekul MHC-II oleh APC dan berkembang
menjadi subset sel Thl atau sel Tdth (Delayed Type Hypersensitivity) atau Th2 yang tergantung dari
sitokin lingkungan. Dalam kondisi yang berbeda dapat dibentuk dua subset yang berlawanan
(Gambar 6).
IFN-y dan IL-12 yang diproduksiAPC seperti makrofag dan sel dendritik yang diaktifkan mikroba
merangsang diferensiasi sel CD4+ menjadi Th 1 /Tdth yang berperan dalam reaksi hipersensitivitas
lambat (reaksi tipe 4 Gell dan Coombs). Sel Tdth berperan untuk mengerahkan makrofag dan sel
inflamasi lainnya ke tempat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

Atas pengaruh sitokin IL-4, IL-5, IL-10, IL-13 yang dilepas sel mast yang terpaj an
dengan antigen atau cacing, Th0 berkembang menjadi sel Th2 yang merangsang sel B untuk
meningkatkan produksi antibodi. Kebanyakan sel Th adalah CD4+ yang mengenal antigen
yang dipresentasikan di permukaan sel APC yang berhubungan dengan molekul MHC-II.
Sel T CDS+ (Cytotoxic T Lymphocyte /CTL / Tcytotoxic /Tcytolytic/ Tc). Sel T CD8+ naif
yang keluar dari timus disebut juga CTL/Tc. Sel tersebut mengenal antigen yang
dipresentasikan bersama molekul MHC-I yang ditemukan pada semua sel tubuh yang
bernukleus. Fungsi utamanya ialah menyingkirkan sel yang terinfeksi virus dengan

menghancurkan sel yang mengandung virus tersebut. Sel CTL/Tc akan juga menghancurkan
sel ganas dan sel histoimkompatibel yang menimbulkan penolakan pada transplantasi. Dalam
keadaan tertentu, CTL/Tc dapat juga menghancurkan sel yang terinfeksi bakteri intraselular.
Istilah sel T inducer digunakan untuk menunjukkan aktivitas sel Th dalam mengaktifkan sel subset T
lainnya.
Sel Ts (T supresor) atau sel Tr (T regulator). Sel Ts (supresor) yang juga disebut sel Tr (regulator)
atau Th3 berperan menekan aktivitas sel efektor T yang lath dan sel B. Menurut fungsinya, sel

Ts dapat dibagi menjadi sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel Ts nonspesifik.Tidak
ada petanda unik pada sel ini, tetapi penelitian menemukan adanya petanda molekul CD8+.
Molekul CD4+ kadang dapat pula supresif.
Kerja sel T regulator diduga dapat mencegah respons sel Thl. APC yang mempresentasikan
antigen ke sel T naif akan melepas sitokin IL-12 yang merangsang diferensiasi sel T naif menjadi
set efektor Thl. Sel Th 1 memproduksi IFN-y yang mengaktifkan makrofag dalam fase efektor. Sel T
regulator dapat mencegah aktivasi sel T melalui mekanisme yang belum jelas (kontak yang
diperlukan antara sel regulator dan sel T atau APC). Beberapa sel T regulator melepas sitokin
imunosupresif seperti IL-10 yang mencegah fungsi APC dan aktivasi makrofag dan TGF -I3
yang mencegah proliferasi sel T dan aktivasi makrofag.
ANTIGEN DAN ANTIBODI
Antigen
Antigen poten alamiah terbanyak adalah protein besar dengan berat molekul lebih dan 40.000 dalton
dankomplelcs polisalcarida mikrobial. Glikolipid dan lipoprotein dapat juga ber-sifat imunogenik,
tetapi tidak demikian halnya dengan lipid yang dimurnikan. Asam nukleat dapat bertindak
sebagaiimunogen dalam penyakit autoimun tertentu, tetapi tidak dalam keadaan normal.

Pembagian Antigen
1. Pembagian antigen menurut epitop
a. Unideterminan, univalen. Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan, multivalen. Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut
ditemukan pada satu molekul.
c. Multideterminan, univalen. Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari
setiap macamnya (kebanyakan protein).
d. Multideterminan, multivalen. Banyak macam determinan dan banyak dan setiap macam
pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara
kimiawi). (Gambar 7)
2. Pembagian antigen menurut spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu
c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T

a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat
menimbulkan respons antibodi. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini
b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibodi.

Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar polimerik yang dipecah di dalam
tubuh secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficol, dekstran, levan, flagelin polimerik
bakteri
4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi
a. Hidrat arang (polisakarida). Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang

merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan respons


imun terutama pembentukan antibodi. Contoh lain adalah respons imun yang
ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen dan spesifisitas imunnya berasal dari
polisakarida pada permukaan sel darah merah
b. Lipid. Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein
pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten, contohnya adalah sfingolipid
c. Asam nukleat. Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat
protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik.
Respons imun terhadap DNA terjadi pada pasien dengan Lupus Eritematosus Sistemik
(LES)
d. Protein. Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan
univalen.
Imunogen dan Hapten. Antigen yang juga disebut imunogen adalah bahan yang dapat

merangsang respons imun atau bahan yang dapat bereaksi dengan antibodi yang sudah ada
tanpa memperhatikan kemampuannya untuk merangsang produksi antibodi. Secara
fungsional antigen dibagi menjadi imunogen dan hapten. Bahan kimia ukuran kecil seperti
dinitrofenol dapat diikat antibodi, tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat mengaktifkan sel
B (tidak imunogenik). Untuk memacu respons antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh
molekul besar. Kompleks yang terdiri atas molekul kecil (disebut hapten) dan molekul besar
(disebut carrier atau molekul pembawa) dapat berperan sebagai imunogen. Contoh hapten
ialah berbagai golongan antibiotik dan obat lainnya dengan berat molekul kecil. Hapten
biasanya dikenal oleh sel B, sedangkan molekul pembawa oleh sel T. Molekul pembawa
sering digabung dengan hapten da-lam usaha memperbaiki imunisasi . Hapten membentuk
epitop pada molekul pembawa yang dikenal sistem imun dan merangsang pembentukan
antibodi (Gambar 8).

Respons sel B terhadap hapten yang memerlukan protein pembawa (carrier) untuk dapat
dipresentasikan ke sel Th.
Epitop.

Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat membuat kontak fisik
dengan reseptor antibodi, meng-induksi pembentukan antibodi; dapat diikat dengan spesifik oleh
bagian dari antibodi atau oleh reseptor antibodi. Makromolekul dapat memiliki berbagai epitop yang
masing-masing merangsang produksi antibodi spesifik yang berbeda. Paratop ialah bagian dari

antibodi yang mengikat epitop. Respons imun dapat terjadi terhadap semua golongan bahan
kimia seperti hidrat arang, protein dan asam nukleat (Gambar 9).
Lokasi epitop dan paratop (bagian dari antibodi) dalam interaksi antara antigen dan TCR dan
reseptorselB

Epitop adalah bagian dari antigen yang membuat kontak fisik dengan reseptor Ab = antibodi;
Ag = antigen.
Superantigen. Superantigen (Gambar 10) adalah molekul yang sangat poten terhadap mitogen sel T.
Mungkin lebih baik bila disebut supermitogen, oleh karena dapat memacu mitosis sel CD4+ tanpa
bantuan APC. Superantigen berikatan dengan berbagai regio dari rantai f3 -reseptor sel T. Ikatan
tersebut merupakan sinyal poten untuk mitosis, dapat mengaktifkan sejumlah besar populasi sel T.
Sampai 20% dari semua sel T dalam darah dapat diaktifkan oleh satu molekul superantigen. Contoh
superantigen adalah enterotoksin dan toksin yang menimbulkan sindrom syok toksin yang diproduksi
stafilokokus aureus. Molekul tersebut dapat memacu penglepasan sejumlah besar sitokin seperti IL1 dan TNF dari sel T yang berperan dalam patologi jaringan lokal pada syok anafilaktik oleh
stafilokokus.

ANTIBODI

Antibodi atau imunoglobulin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B)
setelah terjadi kontak dengan antigen. Antibodi ditemukan dalam serum dan jaringan dan mengikat
antigen secara spesifik. Bila serum protein dipisahkan secara elektroforetik, Ig ditemukan terbanyak
dalam fraksi globulin g meskipun ada beberapa yang ditemukan juga dalam fraksi globulin a dan b.
Semua molekul Ig mempunyai 4 polipeptid dasar yang teridiri atas 2 rantai berat (heavy chain) dan 2
rantai ringan (light chain) yang identik, dihubungkan satu dengan lainnya oleh ikatan disulfida
(Gambar 11).

Unit dasar antibodi yang terdiri atas 2 rantai berat dam 2 rantai ringan yang identik, diikat menjadi satu
oleh disulfida yang dapat dipisah-pisah dalam berbagai fragmen.
A = rantai berat (berat molekul: 50.000-77.000)
B = rantai ringan (berat molekul: 25.000)
C = ikatan disulfida
Ada 2 jenis rantai ringan (kappa dan lambda) Yling" terdiri atas 230 asam amino serta 5 jenis rantai
berat tergantung pada kelima jenis imunoglobulin, yaitu
IgG, IgE, IgA dan IgD (Gambar 12).

IgG
IgG merupakan komponen utama (terbanyakl imunoglobulin serum, dengan berat molekul
160.000_ Kadarnya dalam serum yang sekitar 13 mg/ml merupakan 75% dari semua Ig. IgG ditemukan
juga dalam herbal:nu cairan lain antaranya cairan saraf sentral (CSF) dan jup urin. IgG dapat
menembus plasenta dan masuk ke jamdan berperan pada imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan. IgG
dapat mengaktifkan komplemen, meningkatkan pertahanan badan melalui opsonisasi dan reaksi
inflamasi IgG mempunyai sifat opsonin yang efektif oleh karena monosit dan makrofag memiliki
reseptor untuk fraksi Fc dari IgG yang dapat mempererat hubungan antara fagosit dengan sel sasaran.
Selanjutnya opsonisasi dibantu reseptor untuk komplemen pada permukaan fagosit. IgG terdiri atas 4
subkelas yaitu Igl, Ig2, Ig3 dan Ig4. Ig4 dapat diikat oleh sel mast dan basofil.

373
IgA
IgA ditemukan dalam jumlah sedikit dalam serum, tetapi kadarnya dalam cairan sekresi saluran napas, saluran
cema, saluran kemih, air mata, keringatjudah dan kolostrum lebih tinggi sebagai IgA sekretori
(sIgA). Baik IgA dalam serum maupun dalam sekresi dapat menetralisir toksin atau virus dan atau
mencegah kontak antara toksin/virus dengan alat sasaran. sIgA diproduksi lebih dulu dari pada

IgA dalam serum dan tidak menembus plasenta. sIgA melindungiu.buh dari patogen oleh
karena dapat bereaksi dengan adhesi dan patogen potensial sehingga mencegah idherens dan
kolonisasi patogen tersebut dalam sel pejamu.
IgA juga bekerja sebagai opsonin, oleh karena aeutrofil, monosit dan makrofag memiliki

reseptor untuk Far (Fca-R) sehingga dapat meningkatkan efek bakteriolitik komplemen dan
menetralisir toksin. IgA juga diduga berperan pada imunitas cacing pita.
IgM
IgM (M berasal dari makroglobulin) mempunyai rumus bangun pentamer dan merupakan Ig
terbesar. Kebanyakan sel B mengandung IgM pada permukaannya sebagai reseptor antigen.
IgM dibentuk paling dahulu pada respons imun primer tetapi tidak berlangsung lama, karena
itu kadar IgM yang tinggi merupakan tanda adanya infeksi dini.
Bayi yang barn dilahirkan hanya mempunyai IgM 10% dan kadar IgM dewasa oleh karena
IgM tidak menembus plasenta. Fetus umur 12 minggu sudah dapat membentuk IgM bila sel
B nya dirangsang oleh infeksi intrauterin seperti sifilis kongenital, rubela, toksoplasmosis dan
virus sitomegalo. Kadar IgM anak mencapai kadar IgM dewasa pada us ia satu tahun.
Kebanyakan antibodi alamiah seperti isoaglutinin, golongan darah AB, antibodi heterofil
adalah IgM. IgM dapat mencegah gerakan mikroorganisme patogen, memudahkan fagositosis
dan merupakan aglutinator kuat terhadap butir antigen. IgM juga merupakan antibodi yang
dapat mengikat komplemen dengan kuat dan tidak menembus plasenta.
IgD

IgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah dalam darah (1% dan total imunoglobulin
dalam serum). IgD tidak mengikat komplemen, mempunyai aktivitas antibodi terhadap
antigen berbagai makanan dan autoantigen seperti komponen nukleus. Selanjutnya IgD
ditemukan bersama IgM pada permukaan sel B sebagai reseptor antigen pada aktivasi sel B.
IgE
IgE ditemukan dalam serum dalam jumlah yang sangat sedikit. IgE mudah diikat mastosit, basofil,
eosinofil, makrofag dan trombosit yang pada permukaannya memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari
IgE. IgE dibentuk juga setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran napas dan cerna. Kadar
IgE serum yang tinggi ditemukan pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid,
trikinosis. Kecuali pada alergi, IgE diduga juga berperan pada imunitas parasit. IgE pada alergi
dikenal sebagai antibodi reagin.
REAKSI HIPERSENSITIVITAS
Hipersensitivitas adalah respons imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi tersebut oleh Gell dan Coombs dibagi dalam 4 tipe

reaksi menurut kecepatannya dan mekanisme imun yang terjadi. Reaksi ini dapat terjadi
sendiri-sendiri, tetapi di dalam klinik dua atau lebih jenis reaksi tersebut sering terjadi bersamaan.
Reaksi Tipe I atau Reaksi Cepat
Reaksi Tipe I yang disebut juga reaksi cepat, reaksi anfilaksis atau reaksi alergi dikenal sebagai reaksi

yang segera timbul sesudah alergen masuk ke dalam tubuh. Istilah alergi yang pertama kali
digunakan Von Pirquet pada tahun 1906 diartikan sebagai "reaksi pejamu yang berubah" bila terjadi
kontak dengan bahan yang sama untuk kedua kali atau lebih.

Antigen yang masuk tubuh akan ditangkap oleh fagosit, diprosesnya lalu dipresentasikan ke
sel Th2. Sel yang akhir melepas sitokin yang merangsang sel B untuk membentuk IgE. IgE
akan diikat oleh sel yang memiliki reseptor untuk IgE (Fce-R) seperti sel mast, basofil dan
eosinofil. Bila tubuh terpajan ulang dengan alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh
akan diikat IgE (spesifik) pada permukaan sel mast yang menimbulkan degranulasi sel mast.
Degranulasi tersebut mengeluarkan berbagai mediator antara lain histamin yang didapat dalam granulgranul sel dan menimbulkan gejala pada reaksi hipersensitivitas tipe I (Gambar 13).

Penyakit-penyakit yang timbul segera sesudah tubuh terpajan dengan alergen adalah
asma bronkial, rinitis, urtikaria dan dermatitis atopik. Di samping histamin, mediator lain seperti
prostagladin dan leukotrin (SRS-A) yang dihasilkan metabolisme asam arakidonat, berperan pada fase
lambat dari reaksi tipe I yang sering timbul beberapa jam sesudah kontak dengan alergen.
Reaksi Tipe II atau Reaksi Sitotoksik Reaksi tipe II yang disebut juga reaksi sitotoksik terjadi
penyakit autoimun yang terjadi melalui mekanisme selular, biasanya ditemukan baik sel CD4+

maupun CD8+ spesifik untuk self antigen dan kedua jenis sel tersebut dapat menimbulkan
kerusakan.

REFERENSI

Abbas AK, Lichtman AH. Basic immunology. 2nd edition. Philadelphia: WB Saunders Company; 2004.
Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and molecular immunology. Philadelphia: WB Saunders Company; 2003.
Altman LC, Becker JW, Williams PV. Allergy in primary care. Philadelphia: WB Saunders Company; 2000.
Anderson
WL.
Immunology.
Madison:
Fence
Creek
Publishing;
1999.
Austen KF, Burakoff SJ, Rosen FS, Strom TB. Therapeutic immunology. 2nd edition. Oxford: Blackwell Science; 2001. Baratawidjaja KB. Sistem imun. Imunologi
dasar. Edisi ke-6. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 1-31.
Baratawidjaja KB. Sistem imun nonspesifik. Imunologi dasar. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 32-50. Baratawidjaja KB. Sistem imun spesifik.
Imunologi dasar. Edisi ke-(t.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 51-72.
Baratawidjaja KB. Antigen dan antibodi. Imunologi dasar. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p.73-91. Baratawidjaja KB. Reaksi hipersensitivitas.
Imunologi dasar. Ediv
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 171-90.
Decker JM. Introduction to immunology. Oxford: Blackwell
Science; 2000.
Kreier, JP. Infection, resistance and immunity. Edisi ke-2. An Arbor: Taylor and Francis; 2002.
Male D. Immunology, an illustrated outline. 3rd edition. London: M Mosby; 1998.
Playfair JHL, Lydyard PM. Medical immunology. 2nd Edition. Edinburgh: Churchill Livingstone;
2000.
Roitt I, Rabson A. Really essential medical immunology. Oxford: Blackwell Science; 2000.