Anda di halaman 1dari 30

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
JANUARI 2015

KERATOPLASTI

OLEH :
Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked
10542 0059 09

PEMBIMBING :
dr. Purnamanita Syawal, Sp.M.,MARS

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked

NIM

: 10542 0059 09

Judul Referat

: Keratoplasti

Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada


bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, Januari 2015


Pembimbing

(dr. Purnamanita Syawal, Sp.M.,MARS)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan
hamba-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Referat ini dengan judul
Keratoplasti. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata.
Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan referat ini. Namun berkat
bantuan saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman
sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih banyak
kepada dr. Purnamanita Syawal, Sp.M.,MARS, selaku pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing,
memberikan arahan, dan koreksi selama proses penyusunan tugas ini hingga
selesai.
Penulis menyadari bahwa Referat ini masih jauh dari yang diharapkan oleh
karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan saran
demi perbaikan dan kesempurnaan Referat ini.
Semoga Referat ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara
khusus.

Makassar, Januari 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Istilah donor mata yang sering kita dengar dalam masyarakat mempunyai
pengertian suatu tindakan seseorang untuk memberikan matanya kepada orang
yang membutuhkan setelah mereka meninggal atas dasar kemanusiaan dengan
niat berasal dari diri sendiri tanpa dipengaruhi orang lain yang disetujui dan
diwasiatkan kepada keluarga dimana ketika meninggal nanti keluarganyalah yang
akan mengurus prosedur pelaksanaannya agar Bank Mata Indonesia dapat
melakukan proses pengambilan mata untuk diberikan pada orang yang
membutuhkan.1
Dalam dunia medis sebenarnya donor mata lebih tepat untuk disebut donor
kornea, karena kornea dari pendonorlah yang akan didonorkan atau diberikan
pada resipien. Perlu diketahui bahwa sampai sekarang dunia medis baru bisa
melakukan donor kornea saja, yang tindakannya disebut keratoplasti atau
transplantasi kornea. Jadi, donor mata hanya dapat dilakukan apabila gangguan
pengelihatan atau kebutaan disebabkan karena kerusakan kornea mata.1
Transplantasi kornea juga dikenal sebagai pencangkokan kornea adalah
prosedur pembedahan di mana kornea yang rusak atau berpenyakit digantikan
oleh disumbangkan jaringan kornea (graft) secara keseluruhan (keratoplasti
penetrasi) atau sebagian (keratoplasti lamellar). Cangkok diambil dari individu
yang baru saja meninggal tanpa penyakit yang diketahui atau faktor-faktor lain

yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup jaringan disumbangkan atau


kesehatan penerima.2
Kornea merupakan lapisan paling luar dari bola mata yang warna bening dan
jernih yang bisa kita lihat.Fungsi utama kornea adalah sebagai pelindung dari
kondisi luar (debu, kotoran dan lain-lain) dan pengatur refleksi cahaya yang
masuk kedalam mata. Jadi kornea mempunyai fungsi yang sangat vital pada
pengelihatan kita. Namun kornea berada pada bagian paling luar dari mata kita,
sehingga kornea sangat rentan mengalami gangguan (infeksi, trauma, dll) yang
dapat menyebabkan kornea rusak sehingga berpengaruh pada kemampuan
penglihatan kita dan dapat juga menyebabkan kebutaan.2
Transplantasi kornea pertama dilakukan pada tahun 1905 oleh Eduard Zirm
(Olomouc Eye Clinic, sekarang Republik Ceko), membuatnya menjadi salah satu
jenis operasi transplantasi pertama yang berhasil dilakukan. Pelopor lain operasi
ini adalah Ramon Castroviejo. Upaya mata ahli bedah Rusia bernama Vladimir
Filatov mentransplantasi kornea dimulai dengan percobaan pertama pada tahun
1912 dan dilanjutkan, secara bertahap hingga mencapai peningkatan sampai Pada
tanggal 6 Mei 1931 ia berhasil melakukan transplantasi pada pasien menggunakan
jaringan kornea dari orang yang meninggal. Ia dilaporkan secara luas melakukan
transplantasi lainnya di tahun 1936, mengungkapkan tekniknya secara detail. Pada
tahun 1936, Castroviejo melakukan transplantasi pertama dalam kasus lanjutan
dari keratoconus, mencapai peningkatan yang signifikan dalam penglihatan
pasien.2

Kemajuan ilmu pengetahuan kalangan medis ini berupa transplantasi


(pemindahan) kornea mata dari seseorang yang telah meninggal, kepada
seseorang cacat mata. Kepandaian ini di Indonesia baru dimengerti dan dikenal
oleh kalangan medis dan para terpelajar yang berminat. Untuk pertama kali usaha
pencangkokan kornea mata di Indonesia dipelopori oleh Prof. Dr. Isak Salim
dengan kornea sumbangan dari Bank Mata Internasional Srilanka. Pratek ini
dilakukan pada pertengahan tahun 1967 dan peristiwa ini merupakan riwayat
dimulainya kegiatan transplantasi kornea di Indonesia.1
Berperan dalam keberhasilan transplantasi kornea adalah pendirian bank
mata. Bank Mata merupakan badan yang tidak mencari keuntungan dan berperan
terutama untuk mendapatkan donor mata yang memberikannya kepada dokterdokter yang memerlukannya untuk transplantasi dan keperluan penelitian. Di
Indonesia telah terdapat bentuk organisasi klub donor yang terdiri atas calon
donor mata yang dapat membantu kegiatan Bank Mata.1
Prognosis untuk pemulihan visual dan pemeliharaan kesehatan mata dengan
transplantasi kornea umumnya sangat baik. Risiko bagi kegagalan adalah
multifaktorial. Jenis transplantasi, keadaan penyakit yang membutuhkan prosedur,
kesehatan bagian lain dari mata penerima, dan bahkan kesehatan jaringan donor
semua dapat memberikan prognosis yang lebih atau kurang menguntungkan.2
Keberhasilan tindakan transplantasi kornea bersifat individual. Kegagalan
tindakan

transplantasi

kornea

pertama

akan

menurunkan

kemungkinan

keberhasilan tindakan keratoplasti berikutnya. Secara umum keberhasilan operasi


cangkok kornea tanpa penyulit berkisar 80 90 % dan turun menjadi sekitar 40%

pada mata yang sedang meradang. Beberapa jenis kelainan kornea yang
diturunkan, dapat berulang kembali setelah jangka waktu tertentu pada kornea
donor.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Keratoplasti merupakan operasi untuk mengganti sebagian kornea,
mungkin seluruh ketebalan kornea (keratoplasti penetrans) atau hanya lapisan
superfisialnya (keratoplasti lamellar), dengan donor kornea dari orang yang sama
(autograft), orang lain (homograft), atau spesies lain (heterograft).3
B. Anatomi Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding
dengan Kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke dalam sklera
pada limbus, lekukan melingkar pada sambungan disebut sulcus scleralis. Dari
anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda. Lapisan
epitel (yang berbatasan dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan
bowman, membran descement, lapisan endotel. Lapisan epitel mempunyai lima
atau enam lapis sel. Lapisan bowman merupakan lapisan jernih aselular, yang
merupakan bagian stroma yang berubah. Stroma kornea menyusun sekitar 90
persen ketebalan kornea. Bagian ini tersusun atas jalinan lamellaserat-serat
kolagen dengan lebar sekitar 10-250 m yang mencakup hampir seluruh diameter
kornea Lamella ini berjalan sejajar dengan permukaan kornea, dan karena ukuran
dan kerapatannya menjadi jernih secara optis. Lamella terletak di dalam suatu zat
dasar. Membran descemet yang merupakan lamina basalis endotel kornea,

memiliki tampilan yang homogen dengan mikroskop cahaya

tetapi tampak

berlapis-lapis dengan mikroskop elektron.3


Endotel hanya memiliki satu satu lapis sel. Tetapi lapisan ini berperan
besar dalam mempertahankan deturgesensi stroma kornea. Endotel kornea cukup
rentan terhadap trauma dan kehilangan sel-selnya seiring dengan penuaan.
Reparasi endotel terjadi hanya dalam wujud pembesaran dan pergeseran sel-sel.
Dengan sedikit pembelahan sel, kegagalan fungsi endotel akan menimbulkan
edema kornea.3,4
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh pembuluh darah
dari limbus, humor aqueous dan air mata. Kornea superficial juga mendapatkan
sebagian besar oksigen dan atmosfer. Saraf-saraf sensoris kornea didapat dari
cabang pertama (ophtalmicus) nervus cranialis V (trigeminus) Transparansi
kornea

disebabkan

oleh

strukturnya

yang

seragam,

avascularitas,

dan

deturgensinya.3
Perbedaan antara kapasitas regenerasi epitel dan endotel penting.
Kerusakan lapisan epitel , misalnya karena abrasi, dengan cepat diperbaiki.
Endotel yang rusak karena penyakit atau pembedahan misalnya, tidak dapat
berdegenerasi. Hilangnya fungsi sawar dan pompa menyebabkan hidrasi
berlebihan, distorsi bentuk regular serat kolagen, dan keruhnya kornea.3
Fungsi Kornea adalah merefraksikan cahaya dan bersama dengan lensa
memfokuskan cahaya ke retina dan melindungi struktur mata internal.4

Gambar 1. Anatomi bola mata3

\
Gambar 2 Lapisan Kornea4

10

C. Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui
oleh cahaya menuju retina. Sifatnya yang tembus cahaya disebabkan oleh struktur
kornea yang uniform, avaskuler dan deturgensi. Deturgensi atau keadaan dehidrasi
relative jaringa kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar dari epitel dan endotel. Endotel merupakan lapisan yang
lebih penting dibandingkan epitel dalam mekanisme dehidrasi kornea dan
kerusakan dari lapisan endotelium mempunya dampak yang lebih besar
dibandingkan kerusakan pada lapisan epitel. Kerusakan dari sel endotel dapat
mengakibatkan terjadinya edema kornea dan menghilangnya sifat transparansi
dari kornea. Sedangkan pada kerusakan epitel biasanya bersifat sementara dan
menyebabkan terjadinya edema lokal yang hilang dengan cepat dikarenakan
regenerasi dari sel epitel. Penguapan air dari film air mata prakornea berakibat
film air mata menjadi hipertonik yang mengakibatkan penarikan air dari stroma
kornea superfisial untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.5

Gambar 3 Proses deturgensi kornea5

11

Penetrasi obat pada kornea yang utuh bersifat bifasik. Substansi larut
lemak dapat melalui epitel yang utuh dan substansi larut air dapat melalui stroma
yang utuh. Maka dari itu jenis obat yang bersifat laruk lemak dan air adalah jenis
obat yang dipakai untuk dapat menembus kornea.5
D. Transplantasi kornea (keratoplasti)
Transplantasi atau keratoplasti merupakan tindakan yang diindikasikan
untuk beberapa kelainan kornea dengan derajat keparahan yang tinggi seperti
distorsi, penipisan atau terbentuknya jaringan parut yang luas. Pertama dilakukan
pada tahun 1905, transplantasi kornea adalah prosedur pembedahan di mana
kornea yang rusak atau berpenyakit digantikan oleh jaringan kornea sumbangan.
Dengan prosedur tradisional, dokter mata menghilangkan kornea mata dari donor
menggunakan pisau trephine kecil, instrumen bedah khusus. Kornea baru
kemudian ditanamkan dalam mata pasien melalui proses yang sama dengan
jahitan kecil untuk mempertahankan kornea baru di tempatnya. Pada tahun 2007,
menurut Asosiasi Bank Mata Amerika, sekitar 50.000 kornea transplantasi
dilakukan di Amerika Serikat.6
Indikasi
Indikasi transplantasi kornea, antara lain :1,7
Jaringan parut kornea akibat infeksi, seperti herpes dan keratitis jamur
Kelainan kornea, seperti keratokonus
Kerusakan kornea akibat trauma mata, trauma kimia, dan lain-lain
Kelainan mata karena faktor bawaan (genetik), misal: distrofi kornea
12

Tujuan dilakukan transplantasi kornea adalah sebagai berikut untuk


transplantasi kornea adalah sebagai berikut2
1. Optik: Untuk meningkatkan ketajaman visual dengan mengganti jaringan
host yang buram atau terdistorsi oleh jaringan donor yang sehat. Indikasi
yang paling umum dalam kategori ini adalah keratopati bulosa
pseudophakia, diikuti oleh keratokonus, degenerasi kornea, keratoglobus
dan distrofi, serta jaringan parut akibat keratitis dan trauma.
2. Tektonik / rekonstruktif: Untuk melestarikan anatomi kornea dan integritas
pada pasien dengan penipisan stroma dan descemetoceles, atau untuk
merekonstruksi anatomi mata, misalnya setelah perforasi kornea.
3. Terapi: Untuk menghapus jaringan kornea meradang yang tidak responsif
terhadap pengobatan dengan antibiotik atau anti-viral.
4. Kosmetik: Untuk memperbaiki penampilan pasien dengan bekas luka

kornea yang telah meninggalkan warna keputihan atau buram ke kornea


Syarat Untuk Menjadi Donor
Terdapat beberapa indikasi dan prasyarat untuk menjadi donor maupun
resipien pada proses transplantasi kornea. Bank mata menetapkan prioritas
penerima donor kornea mata. Biasanya diprioritaskan bagi mereka yang masih
produktif dan masih muda. Dengan keterbatasan tadi setelah dilakukan
transplantasi kornea, maka kinerja mereka akan kembali seperti semula atau
meningkat.1
Syarat menjadi donor adalah sebagai berikut:

13

1. Sudah di atas 17 tahun dan ikhlas tanpa paksaan dari pihak lain
2. Disetujui keluarga / ahli waris
3. Kornea calon donor jernih
4. Tidak menderita penyakit: Hepatitis, HIV, Tumor mata, Septikhemia, Sipilis,
Glaukoma, Leukimia, serta tumor-tumor yang menyebar seperti: kanker
payudara dan kanker leher rahim.
5. Penyebab dan waktu kematian diketahui.
6. Mata harus diambil kurang dari 6 jam setelah meninggal dunia
7. Endothelial vitality Minimal 2000/mm2
8. To preserve clarity: 850/mm2
9. Kornea donor harus digunakan dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam untuk
tingkat keberhasilan lebih baik
10. Kornea donor diawetkan dengan: Pendinginan, gliserin anhidrat, ruang
lembab, media kultur, McKaufmann medium, atau pengawetan krio.
Syarat Resipien
Adapun Syarat dari resipien adalah1
1. Letak kerusakan kornea dibagian tengah.
2. Tidak ada bentukan pembuluh darah.
3. Relatif dalam keadaan tenang.
4. Jaringan kornea yang keruh bebas dari perlekatan dengan jaringan lain di
dalam bola mata.
5. Tekanan bola mata normal.
6. Kondisi air mata dan konjungtiva relatif normal

14

Pemeriksaan Pre-Operatif
Dalam kebanyakan kasus, pasien akan bertemu dengan dokter mata
mereka untuk pemeriksaan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum
operasi. Selama pemeriksaan, dokter mata akan memeriksa mata dan mendiagnosa
kondisi. Dokter kemudian akan membahas kondisi dengan pasien, termasuk
pilihan pengobatan yang tersedia. Dokter juga akan mendiskusikan risiko dan
manfaat dari berbagai pilihan. Jika pasien memilih untuk melanjutkan dengan
operasi, dokter akan meminta pasien menandatangani formulir informed consent.
Dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium, seperti
lab darah, X-ray, atau EKG.2
Tanggal dan waktu operasi juga akan diatur, dan pasien akan diberitahu di
mana operasi akan berlangsung. Di Amerika Serikat, pasokan kornea cukup untuk
memenuhi permintaan untuk operasi dan tujuan penelitian. Oleh karena itu, tidak
seperti jaringan lain untuk transplantasi, keterlambatan dan kekurangan tidak akan
menjadi masalah.2
Prosedur Keratoplasti
Pada hari operasi, pasien datang ke salah satu rumah sakit atau pusat bedah
rawat jalan, di mana prosedur operasi akan dilakukan. Pasien diberikan
pemeriksaan fisik singkat oleh tim bedah dan dibawa ke ruang operasi. Pada
kamar operasi, pasien berbaring di meja operasi dan baik diberikan anestesi
umum, atau anestesi lokal dan obat penenang.2
Dengan diinduksi anestesi, tim bedah mempersiapkan mata yang akan
dioperasi dan tirai wajah di sekitar mata. Sebuah spekulum kelopak mata

15

ditempatkan untuk menjaga tutup terbuka, dan pelumas beberapa ditempatkan


pada mata untuk mencegah pengeringan. Pada anak-anak, cincin logam dijahit ke
sclera yang akan mempertahankan sclera selama prosedur.2
Terdapat tiga tipe keratoplasti yaitu8
1. Penetrating keratoplasty (PK)
Di mana seluruh bagian kornea perlu diganti.
2. Deep anterior lamellar keratoplasty (DALK)
menggantikan bagian depan kornea untuk memperbaiki kerusakan
superficial pada permukaan kornea.
3. Intralase Enabled Keratoplasty (IEK) yaitu teknologi transplantasi
kornea dengan menggunakan Intralase Femtosecond Laser.
4. Endothelial keratoplasty (EK)
menggantikan bagian belakang kornea. Untuk memperbaiki kondisi yang
mempengaruhi kornea bagian dalam atau endothelium.
Penetrating Keratoplasty (PK)
Sebuah trephine (perangkat pemotong berbentuk melingkar) yang
digunakan oleh ahli bedah untuk memotong kornea donor, untuk memotong disc
sirkular dari kornea. Sebuah trephine kedua kemudian digunakan untuk
memotong bagian berukuran serupa dari kornea pasien. Jaringan donor kemudian
dijahit di tempat dengan jahitan.2
Obat tetes mata antibiotik ditempatkan, mata ditutup, dan pasien dibawa
ke ruang pemulihan sementara efek anestesi hilang. Pasien biasanya pulang

16

setelah ini dan diperiksa dokter hari berikutnya untuk pengangkatan pertama
pasca operasi.2

Gambar 4. Penetrating Keratoplasty1

Deep anterior lamellar keratoplasty (Partial thickness grafts)


Indikasi yang paling umum untuk DALK adalah keratoconus mungkin
karena endotelium pasien masih baik sehingga dapat dipertahankan. Hasil yang
baik pada pasien keratoconic telah menyebabkan ahli bedah kornea untuk
menerapkan teknik lainnya dalam menghemat endotelium kornea. Oleh karena
itu, indikasi untuk DALK harus diperluas untuk ektasia kornea lain (pellucid
marginal degeneration dan post-LASIK ectasia), stroma dystrophies, kekeruhan
stroma, skar dan ulkus yang aktif serta perforasi pada kornea. Secara umum,
DALK dapat dipertimbangkan untuk semua kornea yang patologi selain yang
mempengaruhi patologi endotelium (keratopati bulosa aphakic dan pseudophakic,
distrofi endotel Fuchs, sindrom endotel iridocorneal dan distrofi polymorphous
posterior).9
DALK merupakan prosedur yang relatif baru dengan tujuan optik yang
lebih baik. DALK memiliki kelebihan yang lebih baik di bandingkan dengan
penetrating

keratoplasty

dan

lamellar

keratoplasty. DALK

memberikan
17

penyembuhan luka yang lebih cepat, menurunkan insiden reaksi allograft dan
mengurangi astigmatisme post transpantasi. Terapi DALK telah digunakan untuk
mengobati berbagai ulkus kornea resisten (bakteri, virus, dan jamur), trauma
kimia pada kornea , ulkus kornea dengan perforasi maupun tanpa perforasi.
Banyak ahli bedah mata lebih menyukai DALK dengan menggunakan teknik
diseksi manual lapis demi lapis pada kasus ulkus cornea baik yang belum
perforasi maupun perforasi.10
Teknik modifikasi diseksi lamellar lapis demi lapis digunakan pada kasus
ulkus kornea dengan perforasi dan belum perforasi pada gambar di bawah ini.
Sayatan kecil yang digunakan untuk melakukan diseksi secara manual. Peralatan
yang digunakan untuk diseksi lamelar adalah standard lamellar dissectors dan
modifikasi lainnya. Setelah dibuat tempat sayatan, sayatan lembut tersebut
diperdalam. Setelah dibuat alur sayatan, kemudian sayatan lamelar tersebut di
lakukan. Selanjutnya, lapisan stroma dipisahkan dengan spatula tumpul.
Pembedahan lamelar dilakukan sampai ke tepi sayatan. Dilakukan paracentesis
secara hati-hati. Bagian yang paling penting adalah pemisahan membran
descement dilakukan dengan memasukkan spatula blunt round melalui
descemetocoel antara sisa stroma dan membran descement.10
Setelah mendapatkan pemisahan yang lengkap dan menghapus sisa stroma
maka stroma dari donor dikaitkan diatas membrane descement . Kemudian dijahit
terputus dengan menggunakan nylon 100. Terapi DALK berhasil digunakan
sebagai alternatif dalam mengobati perforasi kornea dibandingkan penetrating
keratoplasty. Laporan terbaru DALK juga telah digunakan untuk indikasi optik,
terapi dan teknik di mata sebelum penetrasi graf. Dengan teknik yang berevolusi,

18

ahli bedah kornea diharapkan dapat menemukan indikasi baru untuk dilakukannya
DALK di masa yang akan datang.9,10
Keuntungan DALK9

Memelihara endotelium utuh menyingkirkan atau mengurangi beberapa


tantangan utama dan kerentanan yang terkait dengan transplantasi kornea.
Secara teoritis, DALK menyebabkan pasien dengan luka yang tidak dalam
karena belum merusak membrane dscement yang merupakan lapisan terkuat
dari kornea.

Dan pemulihan yang lebih baik. Keuntungan lain dari DALK, yaitu
pemulihannya lebih cepat. Selain itu, mengurangi ancaman penolakan graft
donor sehingga kurang perlu untuk pemberian steroid dan pada gilirannya lebih
sedikit efek samping steroid yang terkait.

Tahan trauma. Laporan anekdotal juga menyarankan bahwa transplantasi


kornea yang dilakukan dengan DALK dapat bertahan pada trauma ringan
sampai trauma sedang. Lebih baik daripada transplantasi kornea seutuhnya
yang rentan karena kelemahan bekas luka.

Gambar 5 Deep Lamellar Keratoplasty9

19

Intralase Enabled Keratoplasty (IEK)


Teknologi terbaru Transplantasi (cangkok) kornea dengan menggunakan
sinar laser di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Jakarta Eye Center (JEC)
pada bulan Januari 2010. Teknologi ini dikenal sebagai Intralase Enabled
Keratoplasty (IEK), yaitu teknologi transplantasi kornea dengan menggunakan
Intralase Femtosecond Laser, yang sebelumnya sering digunakan untuk
penanganan kelainan refraktif mata dengan LASIK.11
Intralase Enabled Keratoplasty (IEK) merupakan teknologi terbaru dari
teknik operasi transplantasi (cangkok) kornea dengan menggunakan Intralase
Femtosecond Laser. Teknik operasi pada IEK berbeda dengan teknik operasi
keratoplasty konvensional. Pada teknik IEK adalah kombinasi antara refractive
dan cornea surgery.11
Keunggulan dari Intralase Enabled Keratoplasty (IEK)11

Hasil pemotongan kornea dengan akurasi fitting lebih tinggi dibandingkan


dengan teknik konvensional.

Stabilitas dan kekuatan kornea donor yang ditransplantasi lebih tinggi.

Membutuhkan jumlah jahitan di kornea yang lebih sedikit dibanding


dengan teknik konvensional.

Minimnya jumlah jahitan juga mengurangi resiko peradangan pasca


operasi.

Astigmatism lebih kecil dan efeknya terhadap perbaikan penglihatan cepat


tercapai.

Proses penyembuhan relatif lebih cepat.

20

Kelainan yang dapat ditangani dengan Intralase Enabled Keratoplasty


(IEK) berupa Kelainan bawaan / genetik : distrofi kornea (fuchs dystrophy,
stromal dystrophy, dll), Edema kornea pasca operasi (bullous keratopathy), dan
Jaringan parut kornea (corneal scar)11
Kandidat untuk IEK antara lain kebanyakan pasien dengan penglihatan
yang buruk oleh karena kornea tidak jernih atau berkabut, tetapi saraf dan retina di
bagian belakang mata masih sehat. Luka, infeksi atau pembengkakan kornea
akibat kerusakan dari lapisan paling dalam (endotel).11
Prosedur tindakan Intralase Enabled Keratoplasty (IEK)11

Donor dan resipien kornea di potong dengan menggunakan IntraLase


femtosecond Laser dengan ukuran yang sudah diprogram sebelumnya.

Tipe kornea yang dipotong dengan laser

disesuaikan dengan kondisi

kelainan kornea pasien.

Stabilitas dan kekuatan dari kornea donor yang ditransplantasi lebih


besar dan umumnya hanya membutuhkan jumlah jahitan yang lebih sedikit
dibandingkan cara lama/konvensional.

Setelah dilakukan operasi IEK, pasien harus konsultasi kembali 1 hari


setelah pasca operasi. Hal ini bertujuan untuk melihat perkembangan dari
kornea yang telah ditransplantasi cangkok.
Tingkat keberhasilan IEK Umumnya memberikan hasil yang baik. Namun,

tindakan

transplantasi

mempunyai

risiko

untuk

terjadinya

reaksi

penolakan/rejection. Jika terjadi rejection maka dapat dilakukan transplantasi


ulang. Tidak seperti transplantasi organ lainnya, transplantasi kornea dapat

21

dilakukan berulang kali. Namun, tingkat keberhasilan transplantasi yang berulang,


lebih rendah dari pertama.

Gambar 6 Intralase-Enabled Keratoplasty11

Endothelial keratoplasty (EK) Partial thickness grafts


Keratoplasti endotel adalah cara yang lebih disukai untuk mengembalikan
penglihatan ketika lapisan sel bagian dalam kornea berhenti bekerja dengan baik
oleh karena Fuchs 'distrofi, keratopati bulosa, endotel iridokornea (ICE) sindrom,
atau gangguan endotel lainnya. EK selektif menggantikan hanya lapisan rusak saja
pada kornea. Dibandingkan dengan transplantasi traditional dengan ketebalan
penul, endotel keratoplasti memberikan keuntungan yaitu Mata tetap jauh lebih
kuat dan kurang rentan terhadap cedera, Pemulihan Visual jauh lebih cepat,
Pembatasan aktivitas minimal yang diperlukan, Perubahan minimal yang
diperlukan dalam resep kacamata.12
Mengganti endotelium pasien dengan disc transplantasi dari stroma
posterior / Descements/endotelium (DSEK) atau Descemets/endotelium (DMEK).
Prosedur ini relatif baru dan telah merevolusi pengobatan gangguan dari lapisan
paling dalam dari kornea (endotelium). Tidak seperti transplantasi kornea
penetrasi, operasi dapat dilakukan dengan satu atau tanpa jahitan. Pasien dapat

22

pulih penglihatan fungsionalnya dalam hitungan minggu, dibandingkan sampai


satu tahun dengan transplantasi penetrasi.2
Selama operasi, endothelium kornea pasien akan dihilangkan dan diganti
dengan jaringan donor. Dengan DSEK, yang didonorkan termasuk lapisan tipis
stroma, serta endotelium, dan umumnya 100-150 mikron tebalnya. Dengan
DMEK hanya endotelium saja yang ditransplantasikan. Segera pada pada periode
pasca operasi jaringan donor dipertahankan di posisinya dengan gelembung udara
ditempatkan di dalam mata (ruang anterior). Jaringan tersebut dengan sendirinya
akan melekat dalam waktu yang singkat dan udara diserap ke dalam jaringan
sekitarnya.2
Komplikasi termasuk displacement dari jaringan donor sehingga
memerlukan reposisi ('refloating'). Hal ini lebih umum pada DMEK dibandingkan
DSEK. Lipatan dalam jaringan donor dapat mengurangi kualitas perbaikan visi
yang membutuhkan perbaikan segera. Penolakan dari jaringan donor mungkin
memerlukan pengulangan prosedur. Pengurangan bertahap dari kepadatan sel
endothelial dari waktu ke waktu dapat menyebabkan hilangnya kejelasan dan
membutuhkan pengulangan prosedur.2
Pasien dengan transplantasi endotel sering mencapai penglihatan
terkoreksi terbaik dalam kisaran 20/30 ke 20/40, meskipun beberapa mencapai
20/20. Penyimpangan optik pada pertemuan graft/host dapat membatasi visi di
bawah 20/20.2

23

Gambar 7. Endotelial Keratoplasti. Dalam prosedur EK, ahli bedah menghilangkan lapisan sakit
dalam sel kornea (Gambar 1 kiri ) dan implan jaringan donor yang sehat melalui sayatan kecil
(Gambar 2 tengah ). Gelembung udara yang digunakan untuk membuka dan posisi jaringan kornea
donor pasien (Gambar 3 kanan). Sayatan kecil dan dapat ditutup dengan beberapa jahitan.12

Perawatan medis Post Operasi


Pasien akan diberikan steroid / tetes antibiotik topikal yang secara
berangsur angsur ditapering namun dapat dilanjutkan pada dosis rendah selama
satu tahun atau lebih. Jjuga dapat diberikan mydriatil (memperbesar pupil). Jika
sebelumnya ada herpes simplex keratitis, diberikan asiklovir oral. Acetazolamide
Oral mungkin diberikan jika ada glaukoma. Follow up sesering mungkin
tertutama pada awal setelah operasi. Sebuah protokol yang umum adalah follow
up satu hari, satu minggu, satu bulan dan 2-3 bulan setelahnya. Hilangnya jahitan
bersifat progresif jika ada jahitan terganggu dan biasanya akan hilang sekitar 12
bulan pasca-prosedur. Beberapa pasien membutuhkan pakaian lensa kontak.13
Perawatan non medis Post Operasi
Di Rumah, mandi seperti biasa tetapi perawatan agar mata tidak terkena
air selama satu bulan. Jika make-up terutama untuk kelopak mata juga harus
dihindari

selama

perawatan.

Kacamata

hitam

dapat

meminimalkan

ketidaknyamanan. Lensa kontak harus dihindari selama delapan minggu - pasien


harus berbicara dengan dokter bedah mereka sebelum melanjutkan untuk
memakainya. Hal ini sangat penting bahwa pasien tidak menggosok mata mereka
24

di minggu-minggu awal pasca operasi. Selain itu, pelindung pada mata akan
diberikan kepada pasien untuk memakai setiap kali mereka tidur selama beberapa
minggu, untuk menghindari menggosok mata dengan tidak sengaja. Berenang
harus dihindari selama satu bulan. Pekerjaan ringan dapat dilanjutkan pada 2-3
minggu.13
Risiko
Risiko mirip dengan prosedur intraokular lainnya, tapi beberapa
tambahannya termasuk penolakan graft (seumur hidup), pelepasan atau
perpindahan dari transplantasi lamelar dan kegagalan graft primer.2
Ada juga risiko infeksi. Karena kornea tidak memiliki pembuluh darah
(dibutuhkan nutrisi dari aqueous humor) penyembuhan jauh lebih lambat dari luka
di kulit. Sementara luka masih dalam proses penyembuhan, ada kemungkinan
terinfeksi oleh berbagai mikroorganisme. Risiko ini diminimalkan dengan
profilaksis antibiotik (menggunakan obat tetes mata antibiotik, bahkan ketika
tidak ada infeksi).2
Kegagalan graft dapat terjadi setiap saat setelah kornea ditransplantasikan,
bahkan bertahun-tahun atau dekade kemudian. Penyebabnya bisa bermacammacam, meskipun biasanya akibat cedera atau penyakit baru. Pengobatan dapat
berupa medis atau bedah, tergantung pada kasus individu.2
Komplikasi
Tindakan operasi untuk mengganti kornea resipien yang sakit dengan
kornea donor yang sehat kadang-kadang mengalami kegagalan oleh adanya reaksi
penolakan dari resipien terhadap kornea donor. Reaksi ini dapat terjadi paling

25

awal 2 atau 3 minggu sampai beberapa tahun pasca bedah. Diagnosis reaksi
penolakan ditegakkan berdasarkan hal-hal berikut: pengurangan visus, mata
merah, rasa yang tidak enak di mata dan silau. Pada pemeriksaan terdapat injeksi
perikornea graft yang udem, flare positif. Angka keberhasilan pencangkokan
kornea tinggi, karena kornea yang avaskuler dan di kornea tidak ada saluran limfe.
Kalau hal ini terdapat kemudahan peningkatan reaksi imunologik maka akan
menimbulkan reaksi tipe IV, yang berupa reaksi penolakan.14,15
Penolakan allograf penetrasi. Keratoplasti, transplantasi allograf kornea
benda asing, memberikan angka keberhasilan sangat tinggi (>90%) meskipun
dalam keadaan tidak adanya imodulasi imun sistemik. Angka ini berbanding
terbalik dengan nilai transplantasi pada bagian jaringan lain. Dalam bentuk
percobaan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penolakan termasuk:14,15
Adanya vaskularisasi kornea sentral
Induksi ekspresi molekul MHC oleh stroma, biasanya (normal) cukup rendah
Kontaminasi dari graf donor dengan APC si penerima donor karena
transplantasi
Ketidaksuksesan MHC antara penerima dengan pendonor
Preimunisasi resepien terhadap antigen-antigen transplantasi pemberi donor
Prognosis
Prognosis untuk pemulihan visual dan pemeliharaan kesehatan mata
dengan transplantasi kornea umumnya sangat baik. Risiko bagi kegagalan adalah
multifaktorial. Jenis transplantasi, keadaan penyakit yang membutuhkan prosedur,
kesehatan bagian lain dari mata penerima, dan bahkan kesehatan jaringan donor
semua dapat memberikan prognosis yang lebih atau kurang menguntungkan.2

26

Mayoritas transplantasi kornea menghasilkan perbaikan yang signifikan


dalam fungsi penglihatan selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Dalam kasus
penolakan atau kegagalan transplantasi, pembedahan umumnya dapat diulang.2

BAB III
KESIMPULAN
27

Transplantasi kornea juga dikenal sebagai pencangkokan kornea adalah


prosedur pembedahan di mana kornea yang rusak atau berpenyakit digantikan
oleh disumbangkan jaringan kornea (graft) secara keseluruhan (keratoplasti
penetrasi) atau sebagian (keratoplasti lamellar). Cangkok diambil dari individu
yang baru saja meninggal tanpa penyakit yang diketahui atau faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup jaringan disumbangkan atau
kesehatan penerima.
Terdapat beberapa indikasi dan prasyarat untuk menjadi donor maupun
resipien pada proses transplantasi kornea. Bank mata menetapkan prioritas
penerima donor kornea mata. Biasanya diprioritaskan bagi mereka yang masih
produktif dan masih muda.
Tindakan operasi untuk mengganti kornea resipien yang sakit dengan
kornea donor yang sehat kadang-kadang mengalami kegagalan oleh adanya reaksi
penolakan dari resipien terhadap kornea donor. Diagnosis reaksi penolakan
ditegakkan berdasarkan hal-hal berikut: pengurangan visus, mata merah, rasa yang
tidak enak di mata dan silau. Angka keberhasilan pencangkokan kornea tinggi,
karena kornea yang avaskuler dan di kornea tidak ada saluran limfe. Prognosis
untuk pemulihan visual dan pemeliharaan kesehatan mata dengan transplantasi
kornea umumnya sangat baik.

DAFTAR PUSTAKA

28

1. Pejuang donor mata Bang Mata Indonesia Supported by Bank Mata Indonesia
diakses dari http://www.pejuangdonormata.com/beranda/ tanggal 22 januari
2015.
2. Corneal Transplantation 2015 (diakses dari www.wikipedia.com tanggal 10
Januari 2015).
3. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum edisi 17. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007
4. James, Bruce dkk 2013. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke Sembilan. Dalam
Anatomi dan Fisiologi mata. Penerbit Erlangga. Hal 114
5. Derek W delmonte, Terry Kim MD. Anatomy and physiology of the cornea
from Journal Catarac and Refractive Surgery March 2011 volume 3. Diunduh
dari http://www.jcrsjournal.org/article/ pada 20 januari 2015.
6. Brian Boxer MD. Corneal Transplants. Diunduh pada 10 januari 2015 dari
http://www.allaboutvision.com/conditions/cornea-transplant.htm
7. Eye care america The foundation of the American Academy of Ophtalmology
diunduh dari http://eyecareamerica.org/eyecare/treatment/corneal-transplant/
pada 20 Januari 2015.
8. Corneal

Transplant NHS choices diunduh tanggal 20 Januari 2015 pada

http://www.nhs.uk/conditions/corneatransplant/Pages/Introduction.aspx
9. Farid karimian. Deep anterior lamellar keratoplasty: Indications, surgical,
Techniques and Complications. Diunduh tanggal 17 januari 2015 pada
http://www.meajo.org/article.asp?
issn=09749233;year=2010;volume=17;issue=1;spage=28;epage=37;aulast=Kar
imian.

29

10. By Vishak John, MD, Kenneth M. Goins, MD, dkk . Deep Anterior Lamellar
Keratoplasty

diunduh

pada

tanggal

20

Januari

2015

dari

http://www.aao.org/publications/eyenet/200709/pearls.cfm
11. Jakarta Eye Center. Intralase enabled keratoplasty. (Diakses dari www.jeconline.com tanggal 21 Januari 2015)
12. Endothelial keratoplasty From Corneal Research foundation of America
diunduh

20

Januari

2015

pada

http://www.cornea.org/index.php/research/corneal_transplant/endothelial_kera
toplasty_ek/
13. Olivia Scot MD. corneal transplant diunduh pada tanggal 20 januari 2015
pada http://www.patient.co.uk/doctor/Keratoplasty.htm
14. Surendar Dwarakanathan MD, Corneal Allograft Rejection and Failure
diunduh

pada

20

januari

2015

pada

http://eyewiki.aao.org/Corneal_Allograft_Rejection_and_Failure
15. USU Repository. Occular Immune Response. Diunduh pada 20 januari 2015
dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3504/1/09E01374.pdf

30