Anda di halaman 1dari 7

Mikrofiltrasi

Teknologi membran telah tumbuh dan berkembang secara dinamis khususnya untuk
membran mikrofiltrasi. Pengembangan dan aplikasi teknologi ini semakin beragam dan
penemuan-penemuan baru pun semakin banyak dipublikasikan. Teknologi membran pada
akhirnya menjadi salah satu teknologi alternatif yang paling kompetitif saat ini dan telah
memberikan beragam solusi bagi umat manusia dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Proses
mikrofiltrasi merupakan salah satu proses berbasis membran yang berkembang sangat pesat di
awal perkembangan teknologi membran. Pertumbuhan dan perkembangannya pada tahun-tahun
terakhir hanya mampu disaingi oleh reverse osmosis, akibat adanya permintaan yang sangat
besar terutama untuk aplikasi proses desalinasi. Secara umum mikrofiltrasi diaplikasikan dalam
proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari larutannya. Aplikasi proses mikrofiltrasi
diantaranya adalah untuk proses sterilisasi obat-obatan dan produksi minuman, klarifikasi
ekstrak juice, pemrosesan air ultramurni pada industri semi konduktor, metal recovery, dan
sebagainya.
Proses mikrofiltrasi merupakan proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari dalam
larutannya. Proses ini berlangsung dan difasilitasi oleh membran mikrofiltrasi. Membran
mikrofiltrasi dapat memiliki baik struktur simetrik maupun asimetrik, dengan rentang ukuran
diameter pori antara 0,02-10 m, sehingga akan sangat efektif dalam pemisahan baik padatan
tersuspensi maupun emulasi. Penggolongan proses-proses membran pada saat ini sangat luas.
Membran mikrofiltrasi dapat dibedakan dari membrane reverse osmosis dan ultrafiltrasi
berdasarkan ukuran partikel yang dapat dipisahkannya. Pada membran mikrofiltrasi, garam tidak
dapat direjeksi membran. Proses filtrasi dapat dilaksanakan pada tekanan relatif rendah yaitu di
bawah 2 bar. Membran mikrofiltrasi dapat dibuat dari berbagai macam material baik organic
maupun anorganik. Membran anorganik banyak digunakan untuk membuat membrane
mikrofiltrasi antara lain sintering, track etching, stretching, dan inversi fasa.
Teknologi membrane mikrofiltrasi adalah proses membran dengan menggunakan tekanan
sebagai gaya dorong. Teknologi Membran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai
10 m dan tebal antara 10 sampai 150 m. Mikrofiltrasi digunakan pada berbagai macam
aplikasi di industri, terutama untuk pemisahan partikel berukuran lebih dari 0,1 m dari

larutannya. Membran ini dapat menahan koloid, mikroorganisme, dan padatan tersuspensi.
Mikrofiltrasi juga dapat menahan bahan-bahan yang ukurannya lebih kecil daripada rata-rata
ukuran pori karena penahan adsorptif. Mikrofiltrasi juga dapat digunakan untuk memisahkan
partikel selama proses pembuatan air ultramurni pada industri semi konduktor. Aplikasi terbaru
adalah di bidang bioteknologi, yaitu pengambilan sel dan bioreaktor membran, serta teknologi
biomedik yaitu pemisahan plasma dari sel darah. Membran mikrofiltrasi biasanya beroperasi
pada tekanan 0,5-5 atmosfer, dan membran yang digunakan pada umumnya berstruktur simetrik.
Proses ini cocok untuk melakukan fraksionasi atau penyisihan makromolekul dari suspensi atau
emulsi. Hal yang paling membatasi mikrofiltrasi khususnya untuk umpan berupa suspensi adalah
apa yang disebut polarisasi konsentrasi dan fouling. Kedua fenomena tersebut diasosiasikan
dengan penurunan flux terhadap waktu. Mikrofiltrasi (MF), Membran jenis ini beroperasi pada
tekanan berkisar 0,1-2 Bar dan batasan permeabilitas-nya lebih besar dari 50 L/m2.jam.bar
Keuntungan mikrofiltrasi diantaranya mampu menghilangkan semua partikel dan
mikroorganisme yang lebih besar dari ukuran pori, dan perawatan yang dibutuhkan minimal.
Sementara kerugiannya tidak mampu menghilangkan (hanya mengurangi) senyawa anorganik
terlarut, senyawa kimia, pirogen, dan semua koloid. Selain itu mikrofiltrasi tidak dapat
diregenerasi. Mikrofiltrasi tidak berbeda secara fundamental dengan reverse osmosis, ultrafiltrasi
ataupun nanofiltrasi kecuali dalam hal ukuran partikel yang dihilangkannya. Penggunaan
membran mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dapat memisahkan partikel yang mempunyai berat
molekul lebih besar dari ukuran pori kapiler membran. Unit filtrasi teknologi membran terdiri
atas modul membran, pompa diafragma, dan peralatan bantu lainnya. Unit filtrasi membran
dapat berfungsi baik jika dirakit dengan memenuhi persyaratan teknis yang sesuai dengan
tahapan proses filtrasi, yaitu pengumpanan, penyaringan, dan pencucian. Tekanan pada proses
filtrasi maksimum 2 bar agar serat kapiler tidak putus. Sebaiknya membran tidak digunakan
untuk larutan dengan pH ekstrem dan suhu lebih dari 40C. Teknologi membran mikrofiltrasi
dan ultrafiltrasi dapat digunakan untuk filtrasi jus buah, minyak kelapa murni, dan minyak
tumbuh-tumbuhan lainnya, dan menghasilkan cairan yang lebih jernih.
Mikrofiltrasi banyak digunakan dalam berbagai aplikasi khususnya pada pemurnian
larutan koloid yang memiliki ukuran partikel antara 0,1 20 m. Sebagai contoh air distilat
biasanya berisi 100.000 macam partikel /cm3, namun dengan proses mikroelektronik

kensentrainya bisa dikurangi hingga 500 dan dalam beberapa kasus dampai 2 partikel/cm 3.
Selama mikrofiltrasi, hambatan hidrodinamik dari membran mikrofiltrasi meningkat (dan flux air
menurun) disebabkan adanya blocking pori membran dari larutan feed dan penyumbatan pada
membran. Mikrofiltrasi juga merupakan proses dengan driving force beda tekanan dimana koloid
tersuspensi dan partikel dengan ukuran 0.1-20

dapat ditahan oleh membran mikropori.

MF biasanya dioperasikan pada TMP (Trans Membrane Pressure) yang relative rendah ( < 50 psi
atau 3,3 bar atau 0.35 Mpa) dan fluks permeatnya sangat tinggi ( 10 -4 -10-2 m/s untuk membrane
tanpa fouling ) (Scott, 1995). Mikrofiltrasi merupakan membrane dengan poros asimetrik,
dengan ketebalan 10-150

m . Dengan ukuran pori 0.05-10

m, driving force yang

diijinkan < 2 bar (Mulder, 1996).


1.

Mekanisme Transpor Cross Flow pada Membran Mikrofiltrasi


Pemisahan dengan membran dilakukan dengan mengalirkan feed ke dalam membran
kemudian akan terpisah sesuai driving force yang digunakan. Proses pemisahan dengan
membran menghasilkan dua aliran yaitu permeate dan retentate. Permeate merupakan hasil
pemisahan yang diinginkan sedangkan retentate merupakan hasil sisa.

Kinerja membran dapat dilihat dari besarnya selektivitas yang dihasilkan. Persamaan
yang digunakan yaitu:

dimana, A dan B merupakan komponen - komponen yang terdapat pada campuran yang
akan dipisahkan. Pada membran mikrofiltrasi driving force yang biasa digunakan adalah gradien

tekanan ( P ). Kinerja instalasi membran berupa fluks (J) dan rejeksi (R) dapat dihitung melalui
persamaan

Dimana :
Jv = volume fluks (liter/m2.sec)
QP = laju alir permeate (liter/sec)
Am = luas permukaan membran (m2)
R = rejeksi / retensi (span = 01)
CP = konsentrasi permeate
CF = konsentrasi umpan
Besarnya fluks dihitung dari besarnya laju alir yang melewati setiap luas permukaan
membran. Semakin besar laju alir permeate dan semakin kecil luas permukaan membran maka
fluks yang dihasilkan semakin besar. Rejeksi merupakan ukuran perbandingan konsentrasi
permeate dan retentate yang berhasil dipisahkan.
Mekanisme transpor cross-flow pada membran mikrofiltrasi serupa dengan mekanisme
yang terjadi pada membran ultrafiltrasi, sehingga model konsentrasi polarisasi yang digunakan
dalam ultrafiltrasi merupakan percobaan pertama untuk memperkirakan fluks pada crossflow
mikrofiltrasi. Berdasarkan model ini, gaya tarikan diberikan secara vertikal pada permukaan
membran, ini desebabkan karena driving force nya (tekanan transmembran) seimbang pada
keadaan tunak, oleh difusitas Brownian partikel. Penerapan dari model ini memberikan nilai orde
satu atau orde dua pada jaraknya dibawah pengamatan eksperimental. Ketidak sesuaian ini
disebut dengan flux paradox. Upaya untuk memecahkan flux paradox menyebabkan
perkembangan pada berbagai model, yang menyarankan mekanisme yang berbeda yang
bertanggung jawab pada transpor balik dari partikel untuk meneyeimbangkan gaya tarikan (drag
force). Beberapa mekanisme disarankan antara lain teori deposisi. Bedasarkan teori ini, fluks
permeat pada keadaan tunak, J, ekual dengan kecepatan angkat (lift velocity,UL) :
J = UL

(4)

Dimana UL dapat diberikan dengan berbagai persamaan. Kesesuaian yang buruk antara
teori deposisi dengan hasil percobaan menyebabkan Medsen menyarankan kombinasi antara
model polarisasi konsentrasi dengan teori deposisi, yakni:
J = UL + k ln cw/cb

(5)

Persamaan ke-5 tersebut sesuai untuk suspensi terlarut. Baik pengembangan yang
diberikan oleh Madsen maupun Belfort, model yang didasarkan pada mekanisme gaya tarikan
dengan atau tanpa difusitas partikel tidak menghindari beberapa ketidaksesuaian , antara lain
kegagalan untuk memperkirakan nilai tekanan independen untuk fluks ataupun ketergantungan
pada konsentrasi partikel (Gekas dan Hallstrom, 1990). Ada beberapa hal yang mempengaruhi
transpr pada membran mikrofiltrasi. Salah satu yang paling penting adalah segregasi ukuran
partikel. Segregasi ukuran partikel ini menyebabkan perbedaan pengaruh pada karakterisasi
pemisahan antara lain ukuran partikel dan kandungan permeat ( Kromkamp, 2006)
2.

Mekanisme Penyaringan pada Membran Mikrofiltrasi


Jika suatu partikel yang mendekati pori memiliki diameter lebih kecil daripada diameter pori
pada membran maka partikel akan melewati membran tersebut. Sementara jika partikel memiliki
diameter lebih besar daripada diameter pori maka partikel akan tertahan oleh membran, pori akan
tertutup dan hambatan hidrodinamik pada membran akan meningkat. Istilah mendekati pori
didefinisikan sebagai istilah daerah pengaruh pori. Dalam hal ini, jika diameter pori adalah d
dengan cross section d2/4, maka semua partikel yang ada di silinder di atas membran dengan
area bawah d2/4, dimana > 1, baik yang melalui maupun tertahan oleh pori tergantung pada
diameternya; jika partikel berada di luar silinder, pori dibawah pertimbangan ini tidak akan
mempengaruhi perilaku partikel.

Gambar 1. Gambar skematik proses mikrofiltrasi:


(1)
(2)
(3)
(4)

Partikel melekat pada permukaan membran


Partikel tertahan oleh pori kecil
Partikel kecil melewati pori besar
Partikel akan menutupi pori.
Lingkaran disekitar pori menggambarkan bagian bawah dari daerah pengaruh pori dengan area
(Id)2/4

3. Model Teoritis
Pada mikrofiltrasi ded-end, aliran feed larutan koloidal berjalan normal pada permukaan
membran. Diameter seluruh partikel dan diameter pori membran d dibuat tidak berdimensi: D
= / l dan d = /l , dimana l adalah skala karakteristik (misalnya

min

atau

min

). Probabilitas fungsi

distribusi diameter partikel daimeter pori membran adalah fp (D) dan fm (d). Biasanya untuk
mikrofiltrasi log-normal, bilog-normal dan fungsi gausian digunakan untuk fungsi distribusi
diameter pori membran, fm (d). Dmin, Dmax,dmin, dan dmax adalah diameter partikel minimum dan
maksimum (pada feed) serta diameter pori. Hal ini diasumsikan:

dan

Koefisien difusi partikel dapat diperkirakan sebagai ~kT/(3D) (dimana k adalah


tetapan boltzman dan T adalah temperatur dalam K) dan dengan partikel dengan karakteristik
diameter ~1 m nilai koefisien difusinya adalah ~10-9 cm2/s. Sebenarnya koefisien difusi harus
lebih rendah karena seiring dengan penurunan mobilitasd hidrodinamik partikel di dekat dinding
(Filipov, 1994).

DAFTAR PUSTAKA
http://dunia-wahyu.blogspot.com/2011/11/prinsip-mekanisme-transpor-pada-membran.html
http://nanosmartfilter.com/tag/filter-air-membran-mikrofiltrasi/
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=mikrofiltrasi&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCIQFjAB&url=http
%3A%2F%2Feprints.undip.ac.id
%2F39331%2F1%2F44._POTENSI_MEMBRAN_MIKROFILTRASI_295307.pdf&ei=CJPHVPIpy7ryBZXigPgN&usg=AFQjCNEWC2Qnx37KfoYjxJ2KwY_gLxf_Q&bvm=bv.84349003,bs.1,d.dGY